Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Memasuki masa penghujung pengabdian KKN Nusantara 2025 di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Nusantara 2025 di Halaman Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro, Kalibawang, Kulonprogo pada Rabu, (06/07).

Bersama 140 perwakilan mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara ini mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri” dengan menggandeng beberapa narasumber penting di antaranya Kasubtim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementrian Agama Republik Indonesia Adimin Diens, kreator konten dan dosen Universitas Gadjah Mada I Made Andi Arsana, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY) Sih Utami, dan perwakilan Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro Yohanes Adventodi.

Baca juga: Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Sebelum membahas ekoteologi, Adimin Diens menyoroti keberagaman di Indonesia, bahwa menurutnya keberagaman menjadi potensi sekaligus tantangan bagi bangsa.

“Keberagaman adalah sebuah potensi sekaligus tantangan bagi kita,” ujarnya.

Selain itu, Sih Utami juga menyoroti keberagaman di Yogyakarta, menurutnya, sebagai daerah dengan kondisi masyarakat yang majemuk, Kesbangpol DIY selalu berusaha merawat keberagaman.

“Kami tentunya berusaha selalu merawat keberagaman, beberapa kegiatan kami lakukan seperti sinau Pancasila dan wawasan kebangsaan, kita keliling di seluruh DIY, ada juga sinau Bhinneka Tunggal Ika, dan program pembauran budaya,” jelasnya.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Andi Arsana, ia menekankan bahwa pengetahuan menjadi dasar dari proses penghormatan terhadap keberagaman.

“Interaksi antaragama adalah keniscayaan. Toleransi, menghormati itu dasarnya pengetahuan dulu, pemahaman kita adalah kunci,” ujarnya.

Berbicara mengenai ekoteologi, Yohannes sebagai perwakilan Gereja Boro mengungkapkan, bahwa merawat bumi adalah kewajiban sekaligus tanggung jawab manusia.

“Kewajiban kita sebagai umat untuk senantiasa merawat bumi sebagai tanggung jawab untuk merawat hati kita, tidak sekedar menyembah Tuhan tapi juga merawat bumi. Dalam ajaran kami, ada porsi besar yang diajarkan untuk senantiasa merawat bumi, dan bagaimana menjaga kerukunan antaragama. Apapun agamanya apapun sukunya bisa menjadi teman kami,” jelasnya.

Turut hadir dalam Dialog Nusantara Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho.

Dari Lingkungan Bersih ke UMKM Naik Kelas: KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tunjukkan Program Berdampak Nyata

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Senin 21 Juli 2025, bertempat di Aula Kelurahan Simbang Kulon, telah dilaksanakan kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto. Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. Suasana kegiatan berlangsung dengan khidmat dan tenang. Acara diawali dengan sambutan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kemudian dilanjutkan sambutan dari Sekretaris Kelurahan Simbang Kulon.

Program kerja yang disampaikan mencakup empat fokus utama, yaitu Bank Sampah, Penanganan Stunting, Koperasi Merah Putih, dan Pemberdayaan UMKM. Program ini dirancang berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi dengan masyarakat setempat, dengan harapan mampu memberikan kontribusi nyata selama masa pengabdian. Pemaparan program kerja ini bertujuan agar perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta masyarakat mengetahui secara rinci rencana kegiatan mahasiswa selama masa pengabdian KKN, serta untuk menerima arahan dan saran dari para tamu undangan yang hadir.

“Kami merancang program berdasarkan kondisi nyata yang kami temui di lapangan, dengan harapan kegiatan ini bisa memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ilham Sholihan, salah satu perwakilan mahasiswa.

Baca Juga:Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Setelah penyampaian program kerja selesai, para tamu undangan diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran, tanggapan, serta masukan yang berkaitan dengan berbagai macam program kerja yang telah disampaikan. Berdasarkan hasil diskusi bersama, seluruh program kerja yang telah disampaikan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 37 secara umum mendapat respon positif, dan disetujui oleh seluruh tamu undangan yang hadir, serta dapat segera ditindaklanjuti selama masa pelaksanaan KKN di Kelurahan Simbang Kulon.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan berharap mahasiswa bisa berbaur serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat Simbang Kulon,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Sebagai penutup, seluruh peserta kegiatan melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kebersamaan antara mahasiswa, perangkat kelurahan, serta tamu undangan yang hadir.

Dokumentasi ini sekaligus menjadi catatan resmi atas terselenggaranya kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tahun 2025. Besar harapan kami agar program-program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat Kelurahan Simbang Kulon.

Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM: Pemantik Kegiatan KKN di Kelurahan Simbang kulon

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran para pelaku UMKM terhadap pentingnya labelisasi halal, Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto bersama DPL, Bapak Muh. Izza, M.S.I., menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2025, di Aula Kelurahan Simbang Kulon dan dihadiri oleh sejumlah pelaku UMKM setempat dari berbagai jenis usaha.

Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Muh. Izza, M.S.I., yang menekankan pentingnya legalitas dan sertifikasi halal sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus strategi peningkatan daya saing produk di pasar.

“Dengan sertifikasi halal, pelaku UMKM tidak hanya memenuhi aspek syariah, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar,” ujar beliau.

Baca Juga :Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lurah Simbang Kulon, Bapak R. Agatha Franky Irawan, S.E., yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN dalam mendampingi UMKM lokal agar lebih siap menghadapi tantangan pasar modern yang menuntut transparansi dan kualitas produk.

Sesi inti diisi oleh narasumber dari PPH (Pendamping Proses Produk Halal) yang memberikan pemaparan komprehensif mengenai proses labelisasi halal.

“Halal itu tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus dibuktikan melalui proses yang sistematis dan terdokumentasi,” jelas narasumber.

Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan urgensi label halal, tahapan pengajuan sertifikasi, persyaratan administrasi dan alur pengajuan sertifikasi. Narasumber juga menekankan pentingnya integritas pelaku usaha dalam memastikan bahwa seluruh bahan baku dan proses produksi sesuai dengan standar kehalalan yang ditetapkan.

Baca Juga: Jangan mudah terlena Makanan dan Minuman Enak Cek dulu Kehalalannya

Peserta sosialisasi tampak antusias dan aktif dalam sesi tanya jawab, yang mencakup berbagai permasalahan teknis dan administratif yang akan dihadapi dalam proses produksi dan pengurusan sertifikasi halal. Salah satu peserta, mengungkapkan,“Selama ini saya ragu mengurus halal karena merasa rumit, tapi setelah dijelaskan ternyata bisa kami lakukan asal tahu tahapannya.”

Peringati Hari Anak Nasional, Mahasiswa KKN Nusantara Dukuh Brajan Ajak Siswa MI Ma’arif Belajar Pancasila

Penulis: Nanda Kartika Putri, Editor: Muslimah

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Rabu (23/7), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara di Dukuh Brajan, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, menggelar kegiatan edukatif bertemakan “Belajar Bersama tentang Pancasila” bersama siswa-siswi MI Ma’arif Brajan pada Kamis (24/7).

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa. Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menyanyi, bermain kuis interaktif, dan menggambar simbol-simbol Pancasila. Suasana kelas berubah menjadi ruang penuh tawa, semangat, dan kebersamaan.

Dalam hal ini, Novella Citra menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pendidikan karakter anak sejak dini.

“Kami ingin Hari Anak Nasional ini menjadi momen bermakna bagi adik-adik. Melalui kegiatan sederhana ini, kami berusaha menyalurkan sedikit ilmu yang kami miliki agar mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mencintai bangsa dan negaranya,” ujarnya.

Selain itu, siswa juga diajak berdiskusi ringan mengenai contoh-contoh sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling tolong-menolong, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga kebersihan.

Tak hanya di dalam kelas, mahasiswa KKN juga mengajak siswa bermain permainan edukatif di halaman sekolah. Salah satu permainan favorit anak-anak adalah “Tebak Sila,” di mana peserta harus menebak sila Pancasila berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh teman-temannya. Aktivitas ini tidak hanya melatih daya ingat dan pemahaman, tetapi juga membangun kerja sama dan kepercayaan diri anak-anak.

Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi mahasiswa KKN Nusantara. Mereka merasakan langsung betapa pentingnya mendekatkan nilai-nilai dasar kebangsaan kepada generasi muda dengan pendekatan yang sesuai usia dan menyenangkan.

“Kami belajar banyak dari semangat anak-anak hari ini. Ternyata, ketika kita hadir dengan niat tulus dan metode yang tepat, nilai-nilai besar seperti Pancasila bisa ditanamkan dengan sangat efektif,” ujar salah satu mahasiswa.

Pihak sekolah mengapresiasi langkah mahasiswa KKN yang telah ikut serta meramaikan Hari Anak Nasional dengan kegiatan yang bermanfaat. Kepala MI Ma’arif Brajan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Melalui momentum Hari Anak Nasional ini, mahasiswa KKN Nusantara Brajan berharap kontribusi mereka bisa menjadi bagian dari upaya membentuk karakter anak-anak yang cinta tanah air dan berjiwa Pancasila. Mereka pun berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan positif lainnya selama masa pengabdian di Dukuh Brajan, demi mendampingi masyarakat dalam tumbuh dan berkembang bersama.

Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Menyambut tahun baru Hijriah menjadi hal yang penuh suka cita bagi setiap umat muslim. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Kota Pekalongan, khususnya wilayah Krapyak dalam menyambut acara tahunan ini.

Setiap memasuki bulan Muharram (Suro) masyarakat Kelurahan Krapyak mengadakan acara tahunan berupa Festival Bubur Suro. Sebuah acara yang kental akan tradisi ini lahir dari kebiasaan dan spiritual masyarakat. Sesuai penamaannya, Festival Bubur Suro diambil dari bulan pertama dalam kalender Jawa yaitu Suro.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 2019 ini bukan hanya perayaan, namun menjadi wujud dari rasa syukur, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang maknanya sangat mendalam bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan tradisinya, masyarakat Krapyak membagikan ribuan porsi bubur. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan sedekah atas karunia Allah SWT. Ditinjau dari sisi historis, tradisi bubur suro ini merupakan interpretasi dari kisah Nabi Nuh dan pengikutnya, di mana kapal yang ditumpangi selamat dari bencana banjir bandang, kemudian mereka memasak makanan dengan bahan seadanya untuk dinikmati bersama. Seperti wadah yang digunakan untuk bubur tersebut yaitu takir yang berbentuk melengkung menyerupai kapal Nabi Nuh.

Tentunya bubur suro ini menggambarkan keberagaman, sebagaimana yang terdapat di dalam bubur yang terdiri dari macam-macam bahan, rempah, kacang-kacangan, dan diolah dengan tujuh toping lainnya. Dalam proses pembuatannya pun melibatkan banyak orang, tentunya tergambarkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Keunikan juga tergambarkan dari rangkaian acara Festival Bubur Suro yang kental akan pelestarian budayanya. Seperti terselenggaranya acara tahun ini yang mengusung tema “Merawat Jejak Luhur” dengan menonjolkan nilai-nilai tradisi, serta kearifan lokal. Ornamen yang digunakan dalam dekorasi acara pun dirancang penuh dengan sentuhan lokal yang menggunakan bambu dan kayu sebagai konsep dekorasi utama. Rangkaian acara pun menjadi simbol betapa masih kuatnya pelestarian budaya yang tersaji dalam acara ini. Seperti Kirab Gunungan Bubur Suro yang memiliki simbol harapan dan doa, pentas budaya seni yang menghadirkan musik keroncong, hingga bazar makanan dari berbagai jenis generasi baik tradisional maupun modern. Kegiatan ini pastinya memberikan banyak peluang bagi masyarakat baik perekonomian serta rasa gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Krapyak.

Tradisi ini mengundang banyak antusiasme masyarakat serta menjadi kebanggaan lokal yang tentunya memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menjaga tradisi setempat. Festival Bubur Suro ini menjadi cerminan kearifan lokal serta semangat gotong royong masyarakat Krapyak Kota Pekalongan. Di balik pemaknaan sebuah bubur tersimpan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan masyarakat yang selalu dirayakan secara turun-temurun.

GUSDURian Makassar dan PMII UIM Gelar Diskusi: Menyoal Ironi Keterlibatan Ormas dalam Konsesi Tambang

Penulis: Afrijal*

Editor: Fajri Muarrikh

MAKASSAR | Komunitas GUSDURian Makassar bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Makassar (UIM) Cabang Metro Makassar menggelar Roadshow Pojok GUSDURian Kampus pada Senin (28/07/2025). Diskusi kali ini mengangkat tema “Wahabi Lingkungan dan Konsesi Tambang: Ironi di Tubuh Ormas Keagamaan” yang bertujuan membedah keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam industri tambang, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

 

Kegiatan dibuka oleh Megawati, penggerak Komunitas GUSDURian Makassar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa GUSDURian berfokus pada tiga isu utama: Demokrasi, Ekologi, dan Pendidikan Berkualitas. “Ekologi menjadi salah satu isu yang paling sering kami suarakan. Persoalan mendasar saat ini adalah kerusakan lingkungan, dan Pojok GUSDURian ini menjadi salah satu cara kami untuk terus menyuarakan keprihatinan itu,” jelasnya.

 

Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan mendalam mengenai sejarah dan kondisi pertambangan di Indonesia, keterlibatan organisasi keagamaan dalam konsesi sumber daya alam, serta kajian etis dan teologis dari perspektif Islam terhadap eksploitasi lingkungan.

 

Salah satu narasumber, Danial, menyatakan bahwa “Tambang pada hakikatnya pasti mengarah pada ketimpangan struktural.” Ia menekankan bahwa kegiatan ekstraktif bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial.

 

Sementara itu, Fahri Fajar dari Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam regional Makassar, menyoroti bahwa strategi kapitalisme menghancurkan ruang hidup masyarakat agar mereka terpaksa menjadi buruh tambang. “Tambang bukan hanya merusak alam, tetapi juga melumpuhkan komunitas lokal yang bergantung pada keberlanjutan ekologis,” tegasnya.

 

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang kampus dan organisasi. Mereka diharapkan mampu membangun kesadaran kritis dan refleksi kolektif sebagai bentuk advokasi moral berbasis agama terhadap isu eksploitasi lingkungan.

 

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Salah satu peserta, Apri mengungkapkan antusiasmenya, “Saya sangat senang bisa mendapatkan wawasan baru tentang isu lingkungan. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut agar mahasiswa terus mengawal isu-isu hangat di tengah masyarakat dan memberi perspektif baru.”

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.

Menjejak Sunyi Sejarah di Gereja Boro: Napak Tilas Misi Katolik di Jantung Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kalibawang, Kulon Progo di antara lebatnya pepohonan dan udara sejuk pegunungan Menoreh, berdiri sebuah bangunan tua yang kokoh menantang waktu, yaitu Gereja Santa Theresia Lisieux, Boro. Bagi masyarakat sekitar Kalibawang, nama “Gereja Boro” bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang penyebaran ajaran Katolik dan kehidupan sosial masyarakat sejak masa kolonial.

Langkah kaki kami dari Tim KKN Nusantara V yang sedang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, terasa ringan namun penuh rasa ingin tahu saat menginjakkan kaki di Komplek Misi Boro. Sebuah kawasan yang ternyata menyimpan lebih dari sekadar bangunan gereja, di sinilah sejarah, iman, dan pelayanan berpadu erat dalam satu ruang dan waktu.

Menurut hasil wawancara kami dengan pengelola setempat, Gereja Boro mulai dibangun pada 31 Agustus 1931, ketika wilayah ini masih merupakan bagian dari stasi Kalibawang yang dilayani oleh Paroki Muntilan, Magelang. Kehadiran Romo J. Prenthaler, S.J. menjadi titik balik yang membangkitkan kehidupan rohani di Boro, sekaligus menjadi penggerak utama berdirinya kompleks ini.

Baca Selengkapnya: Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Namun, gereja hanyalah satu bagian dari mosaik besar bernama Komplek Misi Boro. Kami mendapati bahwa di sekeliling gereja terdapat pastoran, rumah sakit, susteran, bruderan, panti asuhan, hingga sekolah-sekolah Katolik seperti Pangudi Luhur dan Marsudirini. Pembangunan kompleks ini berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938, menggambarkan betapa seriusnya misi Katolik dalam mengakar di tanah Kulon Progo, bukan hanya untuk menyebarkan ajaran, tetapi juga melayani umat lewat pendidikan dan kesehatan.

Yang membuat hati terenyuh, bangunan-bangunan tua itu masih tegak berdiri. Dinding-dinding gereja dengan ornamen khas Eropa awal abad ke-20, jendela kaca patri yang menyaring cahaya mentari pagi, hingga aroma kayu tua yang menenangkan, semuanya membawa imajinasi kami menyusuri lorong-lorong waktu. Namun yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana nuansa budaya lokal terasa begitu kuat di dalam gereja ini.

Baca Selengkapnya: Moderasi Beragama: Harmoni Islam dan Budaya Lokal di Desa Linggoasri

Ornamen-ornamen ukiran kayu bermotif batik dan tokoh-tokoh wayang menghiasi bagian dalam gereja. Kehadiran elemen-elemen budaya lokal tersebut seolah menjadi bentuk dialog harmonis antara iman dan tradisi, antara universalitas Katolik dan kearifan lokal. Ukiran yang halus dan penuh makna itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bagaimana kekristenan merangkul budaya setempat, bukan menggantikannya.

“Komplek ini bukan hanya milik umat Katolik. Ini bagian dari sejarah Kulon Progo,” ungkap salah satu pengurus gereja yang kami temui.

Ucapannya seperti menegaskan bahwa di balik nilai religiusnya, Gereja Boro menyimpan warisan lintas budaya yang layak dihormati dan dilestarikan.

Baca selengkapnya: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Di tengah modernisasi yang semakin cepat, tempat seperti Gereja Boro menjadi pengingat akan akar-akar sejarah yang tak boleh tercerabut. Kunjungan ini bukan hanya menjadi bagian dari agenda observasi KKN kami, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam—mengajarkan bahwa bangunan tua bisa menyampaikan kisah, jika kita tidak hanya diam dan mendengarnya.

Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra

Editor: Fajri Muarrikh

Kulon Progo –  Dalam suasana hening yang sarat makna spiritual, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Kelompok 22 Tahun 2025 turut ambil bagian dalam tradisi Mendak Pindo, sebuah ritual doa mengenang dua tahun wafatnya seseorang. Kegiatan ini berlangsung di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo pada hari Sabtu (19/07/2025). Rangkaian acara mencakup sembahyang, kenduri, dan yang paling menarik perhatian, yaitu Selawatan Katolik, dikenal juga sebagai Slaka.

Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan lintas iman ini tidak hanya menjadi pengalaman budaya, tetapi juga bagian dari implementasi Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. KKN Nusantara tahun ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Asta Protas, terutama pada poin pertama berbunyi “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan”. Sinergi antara kampus dan masyarakat dukuh seperti inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.

Slawatan Katolik sebagai Simfoni Doa dan Tradisi Jawa

Slaka menjadi elemen kultural yang paling menonjol dalam acara Mendak Pindo ini. Tradisi ini memadukan unsur musikal Jawa dengan spiritualitas Katolik. Irama yang digunakan dalam Slaka memiliki kemiripan dengan shalawat dalam Islam—merdu, mengalun, penuh khidmat. Namun, lirik-liriknya berisi pujian kepada Allah, Yesus Kristus, dan kisah-kisah tokoh Katolik yang dibawakan dalam bahasa Jawa dengan nada-nada yang khas.

Tradisi ini berkembang di wilayah-wilayah pedesaan seperti Kalibawang dan sekitarnya, mencerminkan akulturasi yang kaya antara iman Katolik dan budaya lokal. Dalam perspektif seni, Slaka adalah ekspresi iman yang dibumikan dalam bentuk tembang.

“Shalawat Katolik ini merepresentasikan iman yang kita hayati, tanpa mempermasalahkan aqidah ataupun perbedaan ritual. Ini adalah cara kami menyembah Tuhan melalui seni,” ujar salah satu tokoh masyarakat, ibu Lumiyati.

Media Pewartaan dan Jembatan Dialog Lintas Agama

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Slaka menjadi media pewartaan dan penguatan nilai-nilai moral. Syair-syairnya berisi ajaran Yesus Kristus, pesan-pesan kasih, penguatan iman, hingga seruan perdamaian antarumat beragama. Slaka di Dukuh Jurang Depok percaya bahwa kesenian ini mampu menyentuh hati lintas generasi, lintas agama.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan ini pun menjadi bentuk pembelajaran sosial yang luar biasa. Mereka menyaksikan bagaimana nilai-nilai iman tidak harus dipertentangkan, melainkan bisa dijadikan jembatan untuk memahami sesama.

“Sebagai mahasiswa dari latar belakang berbeda, kami merasa kegiatan ini memberikan pelajaran penting tentang toleransi dan ekspresi iman yang kreatif,” tutur salah satu peserta KKN Nusantara, Royhan.

Implementasi Asta Protas melalui Kerukunan yang Membumi

Asta Protas mendorong mahasiswa untuk merancang kegiatan KKN yang relevan dengan isu-isu strategis Kementerian Agama, termasuk kerukunan beragama dan cinta kemanusiaan. Keterlibatan dalam Mendak Pindo dan Slaka menjadi bagian dari upaya itu—mendorong interaksi bermakna antara mahasiswa dan komunitas lintas agama.

Tak hanya menjadi penonton, mahasiswa juga membantu dokumentasi kegiatan, mendampingi teknis acara, dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini memastikan bahwa program pengabdian yang mereka jalani memberikan dampak berkelanjutan dan memperluas wawasan keberagaman.

Iman yang Mengalun dalam Nada

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh perbedaan, apa yang terjadi di Kalibawang adalah angin segar, suara-suara iman dinyanyikan bukan untuk menghakimi, tapi untuk merangkul. Slaka bukan hanya bentuk seni, melainkan perwujudan iman sejati yang merangkul manusia secara universal.

KKN Nusantara V 2025 telah menunjukkan bahwa membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana: hadir, mendengar, dan menghargai. Lewat nada-nada syahdu dari Slaka, mahasiswa dan masyarakat menemukan harmoni—di mana iman dan seni berjalan berdampingan.