Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghargai. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu sikap penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Sebagian orang masih menganggap bahwa moderasi beragama berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Ada pula yang menganggap bahwa bersikap toleran berarti mencampuradukkan ajaran agama. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Moderasi beragama bukan berarti menjadi ragu terhadap ajaran agama sendiri atau mengorbankan keyakinan demi menghormati orang lain. Moderasi beragama justru mengajarkan seseorang untuk menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghargai keberadaan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui sikap yang baik, bukan melalui tindakan yang memaksakan kehendak. Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinannya. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari toleransi.

Moderasi beragama juga penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan. Di sekolah, misalnya, peserta didik dapat bertemu dengan teman yang berbeda agama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan beribadah, perayaan keagamaan, atau tradisi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman dan bekerja sama. Dalam kegiatan kelompok, semua peserta didik dapat saling menghargai dan memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjalankan kewajiban keagamaannya.

Selain di lingkungan sekolah, tantangan moderasi beragama juga semakin besar di media sosial. Informasi mengenai agama dapat tersebar dengan cepat, termasuk informasi yang belum tentu benar. Tidak jarang perbedaan pendapat mengenai persoalan keagamaan berubah menjadi perdebatan yang disertai penghinaan dan ujaran kebencian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial secara bijaksana juga merupakan bagian dari sikap moderat. Sebelum membagikan informasi, seseorang perlu memeriksa kebenarannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Sikap sederhana seperti tidak mengejek agama lain, tidak menyebarkan kebencian, menghormati teman yang sedang beribadah, serta bersedia bekerja sama dengan siapa pun dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, moderasi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus mengubah atau meninggalkan keyakinan sendiri. Kita dapat menghargai seseorang sebagai manusia tanpa harus mengikuti keyakinannya. Dengan kata lain, toleransi tidak menuntut setiap orang menjadi sama. Toleransi justru mengajarkan bahwa perbedaan dapat diterima selama setiap pihak mampu menjaga batas dan menghormati hak satu sama lain.

Pada akhirnya, teguh dalam keyakinan dan hidup damai dalam perbedaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Justru, keyakinan yang dijalankan dengan penuh pemahaman seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan menjaga kedamaian.

Moderasi beragama bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan, melainkan cara untuk menjaga agar kehidupan beragama berjalan secara seimbang dan tidak menimbulkan permusuhan. Di tengah keberagaman Indonesia, sikap tersebut sangat diperlukan. Kita tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menciptakan kedamaian. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Dengan demikian, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan harmonis.

Hijrah di Era Digital: Antara Tren dan Kesadaran

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di era digital seperti sekarang, istilah hijrah semakin sering kita dengar, terutama di kalangan anak muda. Kata hijrah tidak hanya muncul dalam kajian atau ceramah, tetapi juga banyak ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten tentang hijrah, mulai dari cara berpakaian, memperbaiki ibadah, hingga meninggalkan kebiasaan buruk, semakin mudah ditemukan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan, apakah hijrah yang dilakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri atau hanya mengikuti tren?

Pada dasarnya, hijrah memiliki makna yang luas. Hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, tetapi juga tentang usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Swt. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, menjaga perkataan, menghormati orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, serta berusaha menjaga hubungan dengan sesama.

Baca juga:

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu seseorang dalam proses hijrah. Saat ini banyak ustaz, pendakwah, dan kreator konten Islam yang membagikan ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi muda. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat mendengarkan kajian, membaca ayat Al-Qur’an, maupun mendapatkan pengingat tentang ibadah.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain. Tren hijrah di media sosial terkadang membuat seseorang lebih fokus pada penampilan daripada perubahan sikap. Misalnya, seseorang terlihat lebih religius dari luar, tetapi masih mudah marah, suka merendahkan orang lain, atau tidak menjaga perkataannya. Padahal, perubahan dalam hijrah seharusnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan usaha dari dalam diri. Hijrah seharusnya dilakukan karena kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan hanya karena ingin mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tren hijrah selama tren tersebut membawa seseorang kepada kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niat dan prosesnya. Jangan sampai hijrah hanya menjadi identitas di media sosial, tetapi tidak memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.

Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa hijrah harus dilakukan secara langsung dan sempurna. Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mulai dengan memperbaiki salat, ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang mulai belajar agama secara perlahan. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Di tengah perkembangan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial, generasi muda perlu menjadikan media digital sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Hijrah seharusnya bukan sekadar tren yang muncul dan hilang, tetapi sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah Swt. Karena perubahan yang paling penting bukan hanya yang terlihat oleh manusia, melainkan perubahan yang tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Menebar Senyum, Menanamkan Kebaikan

Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah

Kehidupan sosial manusia tidak pernah lepas dari berbagai macam perilaku, baik yang mencerminkan kebaikan maupun sebaliknya. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kemampuan untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap orang mampu menghadirkan suasana yang positif dalam kehidupan bersama. Sikap ramah, sopan, dan santun kepada teman, keluarga, maupun orang lain merupakan salah satu bentuk sederhana dalam menciptakan hubungan sosial yang harmonis.

Berbuat baik pun sebenarnya tidak terbatas kepada sesama manusia. Kebaikan juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap hewan, tumbuhan, serta lingkungan sekitar. Ketika seseorang mampu memperlakukan berbagai makhluk dengan baik, akan tercipta kehidupan yang lebih seimbang dan penuh dengan hubungan yang harmonis.

Salah satu bentuk kebaikan yang sangat sederhana adalah tersenyum. Selama ini, senyum sering kali dipahami sebagai ekspresi seseorang ketika merasa bahagia, memperoleh kenikmatan, atau sedang berada dalam suasana hati yang menyenangkan. Padahal, dalam ajaran Islam, senyum memiliki nilai yang lebih dari sekadar ekspresi kebahagiaan. Senyum bahkan dapat menjadi sebuah sedekah yang mudah dilakukan oleh siapa saja.

Baca juga: Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Senyum merupakan bentuk ekspresi yang dapat menggambarkan perasaan seseorang. Wajah yang tersenyum biasanya menunjukkan adanya ketenangan, kebahagiaan, dan rasa nyaman dalam diri seseorang. Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada berbagai peristiwa yang menghadirkan kebahagiaan, kesedihan, haru, maupun pengalaman yang menjadi pelajaran. Di tengah berbagai keadaan tersebut, senyum menjadi salah satu cara sederhana untuk menghadirkan energi positif dalam kehidupan.

Dalam Islam, memberikan senyuman kepada orang lain termasuk perbuatan yang bernilai sedekah. Ketika bertemu dengan teman, saudara, atau orang lain, memberikan senyum dengan tulus merupakan sebuah kebaikan yang tidak membutuhkan biaya ataupun tenaga yang besar. Meskipun sederhana, perbuatan tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah Swt. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam hadis:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi No. 1956)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai berbagai bentuk kebaikan, termasuk kebaikan yang terlihat kecil dalam pandangan manusia. Tersenyum kepada orang lain dapat menjadi awal dari munculnya sikap ramah dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Senyum juga tidak seharusnya diberikan hanya kepada orang yang memiliki kedudukan tertentu. Setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang baik tanpa membedakan status sosial, latar belakang, maupun keyakinannya.

Berbuat baik hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan bukan demi memperoleh pujian. Terlalu mengejar pujian dari orang lain justru dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain dan pada akhirnya menumbuhkan sifat sombong. Kebaikan akan memiliki makna yang lebih besar apabila dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan dari manusia.

Selain memiliki nilai dalam ajaran agama, tersenyum juga diketahui memberikan dampak positif bagi kondisi psikologis seseorang. Ketika seseorang tersenyum, tubuh dapat merespons dengan menghasilkan neurotransmitter seperti endorfin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan suasana hati. Senyum juga dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan mengurangi ketegangan. Karena itu, membiasakan diri tersenyum dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan suasana hati yang lebih positif.

Senyuman juga memiliki kemampuan untuk menular. Ketika seseorang memberikan senyum yang tulus kepada orang lain, orang yang menerima senyuman tersebut sering kali secara spontan membalasnya dengan senyuman. Dari hal sederhana tersebut dapat muncul interaksi yang lebih positif. Satu senyuman mungkin terlihat kecil, tetapi dapat menjadi awal dari terciptanya hubungan yang lebih baik antara satu orang dengan orang lainnya.

Pada akhirnya, membiasakan diri untuk tersenyum bukan hanya tentang menunjukkan bahwa kita sedang bahagia. Senyum dapat menjadi bentuk penghormatan, keramahan, dan kepedulian kepada orang lain. Bahkan, dalam perspektif Islam, senyum merupakan sedekah sederhana yang dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.

Oleh karena itu, mari membiasakan diri menghadirkan senyuman dalam setiap pertemuan. Barangkali senyum sederhana yang kita berikan dapat membuat seseorang merasa dihargai, mengurangi jarak dengan orang lain, bahkan menjadi awal dari hubungan yang lebih baik. Jangan pernah menganggap kecil sebuah kebaikan, karena sesuatu yang sederhana di mata manusia bisa saja memiliki nilai yang besar di hadapan Allah Swt.

Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang mampu menebarkan kebaikan, menjaga hubungan dengan sesama, serta selalu mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Mari terus berusaha memperbaiki diri, melawan hawa nafsu, dan meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Sabar dalam Menghadapi Masalah

Penulis: M. Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Setiap manusia pasti pernah menghadapi masalah. Masalah dapat datang dari berbagai hal, seperti keluarga, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Ketika masalah datang, terkadang seseorang merasa lelah, kecewa, bahkan ingin menyerah. Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk menghadapi berbagai ujian dengan sabar dan tetap percaya kepada Allah Swt.

Sabar bukan berarti hanya diam dan pasrah terhadap keadaan. Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri, tetap tenang, terus berusaha, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Seseorang yang sabar tetap boleh merasa sedih dan kecewa, tetapi ia tidak membiarkan perasaan tersebut membuatnya kehilangan harapan kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sabar memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. memerintahkan orang beriman untuk memohon pertolongan-Nya dengan sabar dan salat. Sabar menjadi salah satu kekuatan bagi seseorang ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Baca juga: Sabar dan Dekatnya Kasih Sayang Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sabar dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana. Misalnya, ketika mendapatkan nilai yang kurang baik, seorang mahasiswa tidak seharusnya langsung menganggap dirinya gagal. Ia dapat menerima hasil tersebut, mengevaluasi kekurangannya, kemudian berusaha belajar lebih baik. Begitu juga ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga. Menahan emosi dan memilih menyelesaikan masalah dengan kepala dingin merupakan salah satu bentuk kesabaran.

Rasulullah saw. juga menjelaskan keutamaan sabar dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim seharusnya tidak hanya bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan, tetapi juga bersabar ketika mendapatkan kesulitan. Keduanya dapat menjadi kebaikan bagi seorang mukmin. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim No. 2999.

Namun, menjadi orang yang sabar bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Ada masalah yang terasa sangat berat sehingga membuat seseorang kehilangan semangat. Dalam keadaan seperti itu, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan. Salat, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan berzikir dapat membantu seseorang mengingat bahwa Allah selalu mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh hamba-Nya.

Allah Swt. juga memberikan harapan kepada manusia melalui QS. Al-Insyirah ayat 5–6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segalanya. Setiap masalah yang kita hadapi memiliki jalan keluar yang mungkin belum kita lihat saat ini. Karena itu, seseorang tidak seharusnya mudah berputus asa ketika menghadapi masalah.

Menurut saya, sikap sabar sangat penting bagi generasi muda saat ini. Kehidupan yang serba cepat terkadang membuat kita ingin mendapatkan sesuatu secara instan. Ketika keinginan tidak tercapai, kita mudah kecewa dan merasa gagal. Padahal, setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing.

Sabar juga bukan berarti berhenti berusaha. Justru kesabaran harus disertai dengan ikhtiar. Ketika mengalami kegagalan, kita perlu mengevaluasi diri dan mencoba kembali. Ketika menghadapi masalah, kita perlu mencari solusi, bukan hanya mengeluh. Dengan demikian, sabar dapat menjadi kekuatan untuk membuat kita terus melangkah.

Pada akhirnya, masalah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Kita mungkin tidak dapat menentukan masalah apa yang akan datang, tetapi kita dapat menentukan bagaimana cara menghadapinya. Sebagai seorang muslim, menghadapi masalah dengan sabar, berdoa, dan tetap berusaha merupakan salah satu bentuk kepercayaan kepada Allah Swt.

Jangan sampai masalah membuat kita kehilangan harapan. Bisa jadi, sesuatu yang saat ini kita anggap sebagai ujian justru menjadi jalan untuk membuat kita lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada Allah Swt. Sebab, bersama kesulitan, Allah Swt. telah menjanjikan adanya kemudahan.

 

Indahnya Berprasangka Baik Dalam Kehidupan

Penulis: Mohammad Rizqi Fathurrohman, Editor: Muslimah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai keadaan yang belum tentu sesuai dengan harapan. Terkadang seseorang tidak membalas pesan kita, teman tiba-tiba menjauh, guru memberikan teguran, atau seseorang melakukan sesuatu yang membuat kita merasa tidak dihargai. Dalam situasi seperti itu, kita sering kali langsung berpikiran negatif tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Padahal, bisa jadi ada hal lain yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, berprasangka baik atau husnuzan merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam menjalani kehidupan.

Berprasangka baik berarti berusaha melihat sesuatu dari sisi positif dan tidak terburu-buru menuduh atau menilai seseorang berdasarkan dugaan. Sikap ini bukan berarti kita harus mengabaikan kesalahan atau menerima semua hal tanpa pertimbangan. Berprasangka baik berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memiliki alasan yang mungkin belum kita ketahui. Dengan begitu, kita tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa tidak semua dugaan yang muncul dalam pikiran kita dapat dibenarkan. Jika kita terus mengikuti prasangka buruk, kita dapat terjerumus ke dalam kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain, membicarakan keburukannya, bahkan menimbulkan permusuhan.

Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya tentang bahaya prasangka, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa prasangka yang tidak didasarkan pada fakta dapat membawa seseorang kepada kesimpulan yang salah. Bayangkan jika kita melihat seorang teman berjalan bersama orang yang tidak kita kenal lalu kita langsung berpikir bahwa ia sedang membicarakan kita. Padahal bisa saja mereka sedang membicarakan tugas sekolah atau urusan lainnya. Jika kita langsung mempercayai pikiran negatif tersebut, kita bisa menjadi marah dan menjauhi teman tanpa alasan yang jelas.

Berprasangka baik juga dapat membuat hati menjadi lebih tenang. Ketika kita terbiasa melihat sisi positif dari suatu keadaan, kita tidak akan mudah merasa kecewa, marah atau curiga. Misalnya ketika seseorang belum membalas pesan kita, daripada langsung berpikir bahwa ia sengaja mengabaikan kita, kita dapat berpikir bahwa mungkin ia sedang sibuk atau tidak melihat ponselnya atau memiliki keperluan lain. Pikiran yang lebih positif seperti ini membuat kita tidak terbebani oleh sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar.

Selain itu, husnuzan dapat mempererat hubungan antarmanusia. Hubungan pertemanan, keluarga, maupun lingkungan masyarakat membutuhkan rasa percaya. Jika setiap tindakan orang lain selalu dicurigai, hubungan tersebut akan mudah dipenuhi kesalahpahaman. Sebaliknya, ketika kita membiasakan diri untuk berprasangka baik, kita akan lebih mudah memaafkan, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Namun, berprasangka baik bukan berarti menjadi seseorang yang mudah percaya kepada semua hal. Kita tetap perlu bersikap bijaksana dan menggunakan bukti ketika menghadapi suatu masalah. Jika seseorang melakukan kesalahan, kita boleh mengingatkan dan mencari kebenaran. Bedanya, kita tidak langsung memberikan tuduhan sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Dengan demikian, husnuzan harus berjalan bersama sikap tabayun, yaitu mencari dan memeriksa kebenaran suatu informasi.

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, berprasangka baik merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan pengaruh besar dalam kehidupan. Dunia akan terasa lebih damai jika manusia tidak mudah menghakimi satu sama lain. Banyak konflik sebenarnya bermula dari kesalahpahaman dan dugaan yang tidak pernah diperiksa kebenarannya. Oleh karena itu, sebelum menilai seseorang, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar mengetahui apa yang terjadi, atau aku hanya sedang menebak?”

Pada akhirnya, berprasangka baik bukan hanya tentang bagaimana kita memandang orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati dan pikiran kita sendiri. Dengan husnuzan, kita belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi, belajar memahami keadaan orang lain, serta belajar menyerahkan hal-hal yang belum kita ketahui kepada Allah Swt. Berprasangka baik memang tidak selalu mudah, tetapi jika dibiasakan, hati akan menjadi lebih tenang dan hubungan dengan sesama akan menjadi lebih harmonis.

Indahnya berprasangka baik terletak pada kemampuannya untuk menghadirkan kedamaian di tengah kehidupan yang penuh dengan perbedaan dan ketidakpastian. Karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk mencari alasan yang baik sebelum menyimpulkan sesuatu yang buruk. Sebab, terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dipahami adalah salah satu bentuk akhlak mulia.

 

Bukan Kurang Waktu, Mungkin Kita yang Terlalu Banyak Menunda

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

“Besok aja.”

Kalimat sederhana itu mungkin sering kita ucapkan. Besok mengerjakan tugas, besok belajar, besok membaca Al-Qur’an, besok memperbaiki diri, atau bahkan besok mulai serius beribadah. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal tidak pernah ada yang menjamin bahwa “besok” benar-benar akan datang.

Kita sering mengeluh bahwa 24 jam sehari terasa tidak cukup. Kuliah, pekerjaan, organisasi, tugas, hingga media sosial membuat waktu terasa cepat berlalu. Namun, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu, melainkan karena kita belum mampu menggunakannya dengan baik.

Semua orang memiliki waktu yang sama. Tidak ada yang mendapatkan 30 jam sehari sementara orang lain hanya 20 jam. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut digunakan. Ada yang menggunakannya untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berkembang. Ada juga yang tanpa sadar menghabiskannya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Baca juga: Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah Swt. bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr. Surah tersebut mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu memang berbeda dengan harta. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali, barang yang rusak bisa dibeli lagi. Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap hari yang kita lewati sebenarnya adalah bagian dari umur yang berkurang.

Sayangnya, kita sering baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan hilang. Kita baru belajar ketika ujian sudah dekat, baru meminta maaf ketika hubungan sudah rusak, atau baru ingin memperbaiki ibadah ketika sedang menghadapi masalah.

Menunda memang terasa nyaman. Ketika ada tugas, membuka media sosial terasa lebih menyenangkan. Ketika harus belajar, menonton film terasa lebih menarik. Ketika ingin membaca Al-Qur’an, kita berkata, “Nanti setelah selesai main HP.” Tetapi “nanti” sering berubah menjadi “besok”, dan akhirnya tidak pernah dilakukan.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan Allah Swt. Kita mengatakan tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an atau belajar agama, tetapi masih mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk hiburan. Bukan berarti hiburan itu salah. Kita tetap membutuhkan istirahat. Namun, jangan sampai sesuatu yang hanya untuk kesenangan mendapatkan waktu terbaik kita, sementara ibadah selalu mendapat sisa tenaga.

Karena itu, kita perlu belajar menentukan prioritas. Tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari hal sederhana. Luangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, kerjakan tugas sebelum mendekati tenggat, kurangi waktu bermain media sosial, atau sekadar menghubungi orang tua yang sudah lama tidak kita kabari.

Kita juga tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu Ramadan untuk memperbaiki ibadah, atau menunggu motivasi untuk belajar. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa manusia hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirinya juga ikut pergi. Pesan ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar angka di kalender. Waktu adalah kehidupan kita sendiri.

Pada akhirnya, kita bukan benar-benar kekurangan waktu. Kita hanya terlalu sering memberikan waktu kepada hal-hal yang tidak penting dan menunda hal-hal yang sebenarnya berarti. Kita boleh beristirahat, menikmati hiburan, dan bersantai. Tetapi jangan sampai “nanti” menjadi kebiasaan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak “besok” yang masih Allah berikan.

Jika ada kebaikan yang bisa dilakukan hari ini, mengapa harus menunggu besok?

Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, menjaga salat lima waktu menjadi sebuah tantangan bagi sebagian Umat Islam. Kesibukan kuliah, pekerjaan, organisasi, keluarga, hingga aktivitas di media sosial terkadang membuat seseorang lupa waktu dan menunda salat. Bahkan, ada yang sengaja meninggalkan salat karena merasa masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan. Padahal, sebagai seorang muslim, salat merupakan kewajiban yang tidak seharusnya ditinggalkan hanya karena kesibukan dunia.

Menurut saya, menjaga salat lima waktu bukan hanya tentang menjalankan kewajiban agama, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu mendisiplinkan dirinya. Salat mengajarkan kita untuk mengatur waktu dan menempatkan kewajiban kepada Allah Swt. sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan. Sesibuk apa pun seseorang, seharusnya tetap berusaha menyediakan waktu untuk melaksanakan salat.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salat memiliki waktu yang telah ditentukan. Artinya, salat bukan ibadah yang dapat dilakukan sesuka hati atau hanya ketika kita sedang memiliki waktu luang. Ada waktu-waktu tertentu yang harus dijaga oleh setiap muslim. Karena itu, kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan salat.

Baca juga: Al-Wasathiyah dalam Keseharian Rasulullah

Rasulullah saw. juga menjelaskan pentingnya melaksanakan salat pada waktunya. Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud ra. bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. Rasulullah saw. menjawab:

“Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat tepat waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Menurut saya, hal ini menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh selalu menempatkan salat sebagai kegiatan yang bisa dilakukan setelah semua urusan dunia selesai. Justru, aktivitas sehari-hari yang seharusnya disesuaikan dengan waktu salat.

Masalah yang sering terjadi adalah kebiasaan menunda. Seseorang mungkin berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.” Namun, kalimat sederhana tersebut bisa menjadi awal dari kebiasaan buruk. Ketika terlalu sering menunda, seseorang bisa menjadi terbiasa menganggap salat sebagai sesuatu yang tidak mendesak. Padahal, waktu terus berjalan dan terkadang kesibukan membuat kita benar-benar lupa hingga waktu salat berakhir.

Salat lima waktu juga sebenarnya memberikan kesempatan kepada manusia untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan. Dalam sehari, kita memiliki waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Lima waktu tersebut dapat menjadi momen untuk mengingat Allah Swt. sekaligus melakukan introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan. Setelah beraktivitas sejak pagi, misalnya, salat Zuhur dapat menjadi waktu untuk menenangkan diri dan kembali mengingat tujuan hidup.

Rasulullah saw. juga memberikan perumpamaan mengenai salat lima waktu. Beliau bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?”

Para sahabat menjawab bahwa tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Kemudian Rasulullah saw. bersabda bahwa demikianlah perumpamaan salat lima waktu, yang dengannya Allah Swt. menghapus kesalahan-kesalahan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi sarana bagi seorang muslim untuk terus memperbaiki dirinya. Setiap kali melaksanakan salat, kita memiliki kesempatan untuk mengingat Allah Swt., memohon ampun, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjaga salat memang tidak selalu mudah. Rasa malas, lelah, pekerjaan yang menumpuk, atau terlalu asyik dengan kegiatan lain dapat membuat seseorang lalai. Namun, justru di situlah pentingnya membangun kebiasaan. Kita dapat menggunakan alarm sebagai pengingat, segera mengambil wudhu ketika waktu salat tiba, dan tidak membiasakan diri menunda-nunda. Jika sedang berada di luar rumah, kita juga dapat mencari tempat yang memungkinkan untuk melaksanakan salat.

Menurut saya, menjaga salat juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. kita sering kali sibuk mengejar berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, uang, kesuksesan, dan keinginan lainnya. Semua itu memang penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa kepada Allah Swt. yang telah memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan tersebut.

Pada akhirnya, menjaga salat lima waktu merupakan tanggung jawab setiap muslim. Kesibukan tidak akan pernah berhenti karena selalu ada pekerjaan dan urusan lain yang datang silih berganti. Jika kita menunggu sampai benar-benar tidak sibuk untuk melaksanakan salat, mungkin kita tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat. Oleh karena itu, salat harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang dilakukan ketika kita sedang memiliki waktu luang.

Sesibuk apa pun kehidupan kita, jangan sampai salat menjadi hal pertama yang dikorbankan. Justru ketika kehidupan semakin sibuk, kita harus semakin berusaha menjaga salat. Dengan menjaga salat lima waktu, kita bukan hanya menjalankan kewajiban kepada Allah Swt., tetapi juga belajar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan selalu mengingat bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

 

Antara Produktif dan Sibuk: Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Kesibukan?

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kesibukan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Seseorang yang memiliki jadwal padat, banyak kegiatan, tugas yang menumpuk, dan berbagai pencapaian terkadang dipandang lebih produktif daripada orang yang memiliki waktu luang. Tidak jarang pula kita merasa bersalah ketika sedang beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Padahal, apakah seseorang yang terlalu sibuk benar-benar lebih produktif?

Sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk berarti seseorang melakukan banyak aktivitas, sedangkan produktif lebih berkaitan dengan seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Seseorang dapat menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut penting atau memberikan manfaat. Sebaliknya, seseorang yang hanya menyelesaikan beberapa hal penting dengan baik justru dapat disebut lebih produktif. Oleh karena itu, ukuran produktivitas seharusnya bukan sekadar seberapa penuh jadwal kita, melainkan apakah waktu yang digunakan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3. Allah bersumpah demi masa dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan, melainkan bagaimana waktu digunakan. Banyaknya kegiatan tidak otomatis membuat hidup seseorang lebih bernilai. Waktu menjadi berarti ketika digunakan untuk keimanan, amal kebajikan, menuntut ilmu, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penggunaan waktu, Islam juga mengajarkan pentingnya niat. Aktivitas yang dilakukan seorang muslim tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian duniawi. Belajar, bekerja, membantu keluarga, dan melakukan kegiatan sosial dapat menjadi aktivitas yang bernilai jika dilakukan dengan tujuan yang baik. Dengan demikian, produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari niat dan manfaatnya.

Namun, mengejar produktivitas secara berlebihan juga dapat menjadi masalah. Kesibukan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang mengabaikan ibadah, keluarga, kesehatan, maupun kebutuhan untuk beristirahat. Padahal, istirahat tidak selalu berarti malas. Tubuh dan pikiran juga memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan agar seseorang dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan manusia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 6412. Oleh karena itu, produktivitas seharusnya berjalan bersama keseimbangan. Seorang muslim perlu memberikan waktu untuk belajar atau bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, bersosialisasi, dan beristirahat. Tidak semua waktu harus dipenuhi dengan aktivitas. Ada kalanya berhenti sejenak justru membantu seseorang kembali melakukan kewajibannya dengan lebih baik. Hal yang perlu dihindari bukanlah waktu luang, melainkan menyia-nyiakan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat.

Baca juga: Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Hal ini menjadi penting bagi generasi muda. Banyak pelajar mengikuti berbagai kegiatan karena ingin berkembang, tetapi terkadang kesibukan tersebut justru dilakukan karena takut tertinggal dari orang lain. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kegiatan yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat? Apakah kita masih memiliki waktu untuk belajar dengan baik, beribadah, keluarga, dan beristirahat? Ataukah kita hanya ingin terlihat sibuk dan produktif?

Pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang dipenuhi sebanyak mungkin aktivitas, melainkan hidup yang waktunya digunakan untuk hal-hal yang bermakna. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengejar kesibukan tanpa batas. Islam mengajarkan agar waktu digunakan untuk keimanan, kebaikan, tanggung jawab, dan kemanfaatan. Maka, sebelum mengatakan “saya sangat sibuk”, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah kesibukan saya benar-benar membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?” Sebab, produktif bukan tentang menjadi manusia yang paling sibuk, melainkan tentang menjadi manusia yang mampu menggunakan waktunya dengan bijaksana.

Sumber:

Kementerian Agama RI

Al-Qur’an Surah Al-‘Asr ayat 1–3

Sahih al-Bukhari No. 6412

Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Penulis: Velisah Intan Editriya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Persoalan sampah sering kali dipandang semata-mata sebagai persoalan perilaku masyarakat. Ketika sampah menumpuk, pembakaran terbuka terjadi, atau lahan kosong berubah menjadi tempat pembuangan, masyarakat kerap hanya diminta untuk lebih sadar dan lebih peduli terhadap lingkungan. Padahal, kesadaran saja tidak selalu cukup. Masyarakat yang memiliki keinginan untuk hidup bersih tetap membutuhkan sistem, sarana, dan dukungan bersama agar kepedulian tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 selama melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Dusun 2, Desa Bunikasih. Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat bukan sekadar untuk menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, mendengar, dan memahami persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Melalui observasi, wawancara, diskusi, serta kegiatan rembuk warga, mahasiswa bersama masyarakat berupaya mengidentifikasi kebutuhan yang paling mendesak dalam mendukung kebersihan lingkungan.

Dari proses tersebut, ditemukan bahwa keterbatasan sarana transportasi menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pengumpulan dan pengangkutan sampah. Sebelum program pengadaan sarana dilaksanakan, pengelolaan sampah masih dilakukan secara swadaya dan belum terjadwal secara optimal. Sebagian warga memilih membakar sampah secara terbuka atau membuangnya di lahan kosong karena proses membawa sampah menuju lokasi pembuangan cukup berat dan belum didukung alat angkut yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kesadaran masyarakat, tetapi juga dengan ketersediaan sarana yang mendukung pengelolaan sampah.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Berangkat dari persoalan tersebut, KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 bersama masyarakat Dusun 2 Desa Bunikasih berupaya menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, yaitu melalui pengadaan sarana transportasi atau gerobak sampah. Program ini dirancang bukan hanya sebagai bentuk pemberian bantuan, melainkan sebagai upaya membangun fondasi pengelolaan sampah yang dapat terus berjalan setelah kegiatan KKN berakhir.

Di sinilah program KKN memiliki arti yang lebih luas. KKN seharusnya tidak hanya meninggalkan kegiatan seremonial atau program yang selesai bersamaan dengan berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Program yang dilaksanakan perlu memiliki keberlanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Gerobak sampah yang diadakan melalui program ini diharapkan menjadi salah satu sarana yang tetap dapat digunakan masyarakat untuk mendukung proses pengumpulan dan pengangkutan sampah secara rutin.

Pengadaan sarana tersebut juga didukung oleh gagasan wakaf produktif. Namun, dalam program ini, wakaf bukan satu-satunya fokus utama. Wakaf produktif menjadi salah satu pendekatan yang memperkuat gagasan bahwa sebuah aset sosial seharusnya tidak hanya diberikan untuk sesaat, tetapi harus mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan. Gerobak sampah menjadi wujud nyata dari pemanfaatan aset yang dapat digunakan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Nilai penting dari program ini tidak hanya terletak pada gerobak sebagai benda fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana gerobak tersebut dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah masyarakat. Jika digunakan secara rutin, dirawat bersama, dan didukung oleh jadwal pengangkutan yang jelas, gerobak tersebut dapat membantu mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka dan pembuangan sampah di lahan kosong. Dengan kata lain, keberhasilan program tidak berhenti pada saat gerobak diserahkan, tetapi justru dimulai setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdiannya.

Pengalaman awal pelaksanaan program menunjukkan adanya perubahan positif. Dalam dua minggu pertama, frekuensi pengangkutan sampah meningkat, titik sampah liar dan praktik pembakaran terbuka mulai berkurang, serta muncul keterlibatan relawan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan pengelolaan sampah. Hasil ini memang masih bersifat awal dan belum dapat dijadikan bukti keberhasilan jangka panjang. Namun, perubahan tersebut memberikan harapan bahwa penyediaan sarana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Keberlanjutan program tentu tidak dapat dibebankan kepada mahasiswa KKN. Mahasiswa hanya menjadi penggerak awal dan fasilitator dalam proses perubahan. Setelah program dilaksanakan, masyarakat menjadi pihak utama yang menentukan keberlanjutan gerobak sampah dan sistem pengelolaannya. Karena itu, keterlibatan RT, RW, tokoh masyarakat, karang taruna, relawan, dan warga menjadi sangat penting. Pembagian tanggung jawab, jadwal pengangkutan, mekanisme pemeliharaan, dan kesepakatan bersama perlu terus dijaga agar sarana yang telah tersedia benar-benar memberikan manfaat.

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Tantangan juga tetap ada. Persoalan iuran, pembagian tanggung jawab, hingga potensi kesalahpahaman antarwarga dapat memengaruhi keberlanjutan program. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa membangun program lingkungan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Keberadaan sarana harus diikuti dengan komunikasi, tata kelola, dan rasa memiliki dari masyarakat. Sebuah gerobak sampah yang dikelola bersama akan memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan sarana yang hanya digunakan sesekali tanpa sistem yang jelas.

Pada akhirnya, program pengadaan gerobak sampah yang dilakukan melalui KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 di Dusun 2 Desa Bunikasih membawa pesan sederhana: persoalan lingkungan dapat dimulai penyelesaiannya dari langkah-langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak semua persoalan harus dijawab dengan program besar atau teknologi yang mahal. Terkadang, sebuah sarana sederhana yang tepat sasaran dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Gerobak sampah tersebut bukan sekadar alat untuk mengangkut sampah. Lebih dari itu, gerobak menjadi simbol dari harapan agar program KKN tidak berhenti ketika mahasiswa pulang dari lokasi pengabdian. Keberlanjutan program terletak pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan, merawat, dan mengembangkan apa yang telah dimulai bersama.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan KKN bukan hanya tentang berapa banyak program yang telah dilaksanakan, melainkan tentang seberapa jauh program tersebut tetap hidup dan memberi manfaat setelah mahasiswa selesai menjalankan pengabdiannya. Dari sebuah gerobak sampah, tumbuh harapan sederhana: lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang semakin peduli, dan program KKN yang benar-benar meninggalkan kebermanfaatan secara berkelanjutan.