Dakwah Humanis tanpa Ceramah: Menebarkan Nilai-nilai Islam melalui Karya Sastra

Penulis: Wirayudha Pramana Bhakti, editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Selama ini banyak khalayak yang mengganggap bahwa dakwah identik dengan ceramah yang dilakukan di masjid maupun di majelis taklim pengajian. Anggapan tersebut sebenarnya tidak salah namun sangat sempit jika dakwah selalu identik dengan kegiatan ceramah di mimbar. Islam memberi banyak pilihan untuk umatnya dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan berbagai cara, bukan hanya melalui lisan (bil lisan) saja tetapi juga dengan perbuatan (bil hal) bahkan malalui tulisan (bil qalam). Dalam konteks dakwah bil qalam atau melalui tulisan, karya sastra baik yang berbentuk prosa maupun puisi hadir sebagai media dakwah yang mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan ke ruang yang lebih luas bahkan melintasi batas ruang dan waktu.

Dakwah bil lisan atau melalui ceramah di mimbar pengajian atau majelis taklim biasanya hanya mampu didengar oleh khalayak yang hadir di tempat tersebut. Setelah kegiatan ceramah selesai, apa yang disampaikan oleh da’i terkadang menguap bersama dengan ingatan khalayak yang memudar. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, sebenarnya dakwah dengan ceramah dapat diabadikan melalui beberapa platform media sosial. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai otoritas maupun kompetensi untuk menjadi penceramah yang baik dan diakui oleh khalayak umum. Berbeda dengan karya sastra di media cetak atau di media digital yang bisa ditulis dan dibaca oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Pesan dan nilai kebaikan yang tertulis memiliki daya jangkauan dan daya tahan yang lebih panjang dibandingkan dengan pesan dan nilai yang diucapkan.

Karya sastra yang berbentuk prosa, misalnya cerpen dan novel dapat berfungsi sebagai media dakwah yang bil hikmah (dengan kebijaksanaan) serta mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik). Pesan dan nilai kebaikan yang disampaikan dapat dikemas melalui alur cerita yang menarik, tokoh yang mampu menjadi teladan, serta penyelesaian konflik yang menyentuh hati pembaca. Karya sastra tersebut mampu memberi ruang empati maupun refleksi sehingga para pembaca sebagai mad’u dapat merasa terlibat secara emosional dalam alur cerita, bukan hanya sekedar menerima nasihat langsung secara pasif.

Baca juga: Strategi Dakwah dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Hal tersebut sejalan dengan potongan ayat QS An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Selain itu, kekuatan tulisan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan maupun kebenaran juga diisyaratkan dalam QS Al-Qalam ayat 1:

نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.”

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pena dan tulisan dianggap sebagai media komunikasi yang baik dalam menyampaikan dan merekam nilai-nilai kebenaran. Dalam konteks dakwah bil qalam, karya sastra dianggap mampu menjadi media yang menggabungkan antara nilai estetika, kekuatan bahasa, sekaligus nilai kebaikan dan kebenaran. Nilai dan pesan dalam ajaran Islam mampu dikemas melalui keindahan diksi, sentuhan imajinasi, serta kedalaman makna sehingga lebih mudah meresap di hati dan pikiran pembaca. Karya sastra dapat bekerja melalui sugesti yang disampaikan sehingga pembaca dapat melakukan perenungan. Hal tersebut berbeda dengan ceramah yang biasanya bersifat intruksi secara langsung.

Karya sastra sebagai media dakwah merupakan salah satu wujud kreatif dari ajaran Islam. Melalui alur cerita dalam sastra, pembaca sebagai mad’u diajak untuk mengalami dan mengikuti perjalanan batin para tokoh, merasakan kegelisahan serta konflik, sampai pada pencerahan akhir yang didapatkan. Dengan demikian, tidak ada paksaan dialami pembaca dalam merenung dan mengambil hikmah. Hal tersebut merupakan salah satu kekuatan dakwah tanpa ceramah, yaitu melalui karya sastra. Nilai dan pesan kebaikan disampaikan dengan cara bijak, hikmah, serta lembut namun dampaknya dapat memberi kesan lebih lama.

Karya sastra bekerja bukan hanya menggunakan bahasa logika tetapi juga bahasa rasa. Pembaca tidak hanya diajak untuk memahami tetapi juga merasakan sehingga pembaca tidak merasa sedang diajari atau diceramahi, melainkan diajak untuk mengalami apa yang ada pada alur cerita. Dalam proses tersebut, semua pesan dan nilai ajaran Islam baik yang berupa aqidah, syariah, maupun akhlak mampu hadir secara alami. Pendekatan dakwah tersebut sesuai dengan konsep dakwah humanis atau dakwah yang memanusiakan manusia, yaitu dakwah yang mengutamakan empati dan perasaan dengan cara memahami latar belakang mad’u. Sehingga ajaran yang disampaikan tidak menimbulkan konflik maupun penolakan. Karya sastra mampu hadir untuk menjadi media yang ideal dalam menerapkan konsep tersebut.

Baca juga: Dakwah No Ribet: Antara Pahala Views dan Moderasi Beragama di TikTok 

Dakwah melalui ceramah di mimbar sebenarnya tetap sesuai dan relavan, namun penyampaikan pesan dan nilai ajaran Islam melalui karya sastra mampu membuka pintu dialog yang lebih luas dalam bidang dakwah. Media dakwah yang beragam dan fleksibel menjadi hal yang penting di tengah masyarakat yang memiliki pola pikir, latar belakang, serta kondisi yang juga semakin beragam. Mungkin ada beberapa mad’u yang enggan untuk mendengarkan ceramah tetapi justru mampu tersentuh oleh nilai dan pesan ajaran Islam yang tersirat di balik kisah cerita yang menarik serta inspiratif. Selain itu, tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kenyamanan untuk berdakwah melalui ceramah di mimbar. Ada sebagian yang mungkin merasakan minder bahkan insecure jika harus ceramah di depan khalayak.

Di sisi lain, ada khalayak dari kalangan non muslim yang mungkin belum bersedia menerima ajaran Islam secara langsung. Maka karya sastra memberi kesempatan bagi semua khalayak untuk mengakses nilai kebaikan dan kebenaran dalam ajaran Islam tanpa sekat apapun. Novel, cerpen, maupun puisi dapat dibaca kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja melampaui batas waktu, geografis, sosial, budaya maupun agama. Dengan demikian, karya sastra sebagai media dakwah tidak hanya menjangkau lebih banyak khalayak, tetapi juga mampu menjangkau hati yang mungkin belum mampu tersentuh melalu dakwah ceramah secara konvensional.

Ajaran Islam atau nilai dakwah yang bersumber dari Al Quran maupun Hadits mencakup tiga pokok utama, yaitu aqidah, syariah, serta akhlak. Ketiga pokok utama ajaran tersebut dapat diimplementasikan secara kreatif melalui unsur intrinsik karya sastra. Kemampuan untuk membungkus ajaran Islam dalam alur cerita yang menarik, memikat, dan inspiratif merupakan kekuatan utama karya sastra sebagai media dakwah. Pada dasarnya manusia senang dengan cerita, bahkan dalam Al Quran sendiri banyak memuat kisah untuk menyampaikan ajaran Islam. Misalnya kisah para nabi dan rosul, kisah umat terdahulu, serta kisah peristiwa penting. Ajaran Islam dalam kisah tersebut bukan hanya disampaikan melalui perintah langsung, tetapi juga melalui rangkaian alur cerita yang menarik dan menyentuh hati. Oleh sebab itu, penulis muslim sebagai da’i dapat menggunakan cara yang sama yaitu menggunakan alur cerita untuk mengimpementasikan nilai dakwah tersebut.

Akan tetapi, manjadikan karya sastra sebagai media dakwah bukan suatu hal yang mudah. Ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kualitas cerita dengan nilai dakwah yang ingin disampaikan agar karya sastra menjadi media dakwah yang estetis sekaligus efektif. Jika penulis terlalu fokus pada pesan dakwah secara eksplisit maka karya terasa kaku dan kehilangan daya tarik serta kehilangan estetika. Sebaliknya, jika penulis hanya mengutamakan daya tarik dan estetika maka pesan dakwah menjadi tidak jelas. Maka dibutuhkan keterampilan untuk menulis sastra sebagai media dakwah. Penulis muslim sebagai da’i harus memiliki pengetahuan tentang ajaran Islam agar pesan yang disampaikan tidak keliru. Di saat yang bersamaan, penulis juga harus menguasai keterampilan menulis kreatif sastra agar memiliki teknik untuk mengembangkan alur yang menarik, membangun penokohan, serta dialog yang terkesan hidup.

Kertas dan layar komputer atau gadget merupakan mimbar dakwah yang mampu menjangkau lebih banyak khalayak daripada mimbar fisik secara langsung. Melalui sastra, penulis sebagai da’i dapat menghadirkan wajah Islam yang ramah, santun, serta penuh kasih sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Dakwah melalui karya sastra tidak akan menyakiti, tidak terkesan menggurui, dan tidak menghakimi. Dakwah yang humanis menjadi suatu kebutuhan di tengah derasnya arus informasi maupun fenomena polarisasi dan perpecahan sosial. Dalam menyerukan kebaikan dan kebenaran tidak selalu membutuhkan suara yang lantang tetapi juga bisikan yang lembut menyentuh hati. Maka karya sastra hadir menjadi bisikan yang membawa ajaran sekaligus wajah Islam yang damai dan memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, dakwah humanis tanpa ceramah yang salah satunya melalui karya sastra bukan hanya mungkin tetapi juga semakin relevan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Penulis: Said Kosim, Editor: Azzam Nabil H.

Sebagai upaya menyebarkan ajaran agama yang moderat, dakwah dapat berperan penting dalam membentuk masyarakat dan memajukan nilai-nilai moral dan toleransi. Namun, memperkenalkan dakwah ke dalam masyarakat modern seringkali menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Salah satu tantangan terbesar dalam melaksanakan dakwah di masyarakat adalah ketidakmampuan dalam memahami ajaran agama yang kemudian menimbulkan salah tafsir sehingga membuat masyarakat jadi mudah menilai salah dan benar tanpa ada landasan yang kuat dari ilmu agama itu sendiri. Kesalahan dalam menafsirkan pesan agama yang dibawa oleh Rasulullah, melalui Al-Quran dan Hadits, seringkali timbul karena kesalahpahaman dan tidak adanya bimbingan dari guru yang mumpuni.

Selain itu, masalah lain yang sering dihadapi oleh pelaku dakwah adalah resistensi terhadap perubahan. Masyarakat sering kali memiliki kecenderungan untuk mempertahankan status quo dan menolak ide-ide baru, termasuk ajaran agama yang diusulkan oleh para dai. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidaknyamanan terhadap hal-hal yang tidak familiar atau rasa takut akan kehilangan identitas budaya mereka. Untuk mengatasi resistensi ini, pelaku dakwah perlu membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta menjelaskan dengan bijak bagaimana ajaran agama yang diajarkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.

Baca juga: Dakwah No Ribet: Antara Pahala, Views, dan Moderasi Beragama di TikTok

Selanjutnya, dalam masyarakat yang semakin pluralistik seperti saat ini, dakwah sering kali menghadapi persaingan dengan berbagai pemahaman agama dan kepercayaan lainnya. Hal ini dapat mengaburkan pesan yang disampaikan oleh pelaku dakwah dan membuat sulit bagi masyarakat untuk memilih di antara berbagai opsi yang tersedia. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang inklusif dan dialog antaragama yang membawa pemahaman yang lebih baik tentang kesamaan dan perbedaan antara berbagai keyakinan. Melalui dialog yang terbuka dan rasa saling menghormati, masyarakat dapat belajar untuk hidup berdampingan dengan damai meskipun memiliki perbedaan dalam keyakinan agama atau kepercayaan.

Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan sosial dan budaya yang terus menerus. Masyarakat modern sering mengalami perubahan yang cepat dan kompleks, termasuk perubahan nilai-nilai dan norma-norma sosial. Hal ini dapat menyebabkan ketegangan antara ajaran agama dan tuntutan-tuntutan kehidupan modern, seperti gender, teknologi, dan konsumerisme. Untuk mengatasi tantangan ini, pelaku dakwah perlu memahami konteks sosial dan budaya tempat mereka berada, serta menafsirkan ajaran agama dengan cara yang relevan dan bermakna bagi masyarakat modern. Fleksibilitas dan keterbukaan terhadap perubahan adalah kunci untuk menjaga relevansi dakwah dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.

Selain tantangan internal, pelaku dakwah juga sering menghadapi tantangan eksternal, termasuk tekanan politik, hukum, dan sosial. Di beberapa negara, dakwah dapat dibatasi oleh undang-undang atau aturan yang membatasi kebebasan beragama, sementara di tempat lain, dakwah dapat menjadi sasaran intoleransi dan kekerasan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan dukungan dan advokasi dari masyarakat lokal maupun internasional untuk memastikan kebebasan beragama dan hak asasi manusia yang dijamin oleh hukum internasional. Selain itu, pelaku dakwah perlu membangun jejaring yang kuat dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kebebasan beragama dan toleransi, serta memperkuat kapasitas mereka dalam memperjuangkan hak-hak tersebut.

Baca juga: Media Sosial dan Moderasi Beragama: Antara Dakwah Digital dan Polarisasi

Dalam menghadapi berbagai tantangan yang kompleks ini, penting bagi pelaku dakwah untuk tetap mempertahankan integritas, kesabaran, dan semangat untuk berbuat kebaikan. Meskipun jalan menuju perubahan mungkin sulit dan penuh dengan rintangan, kesungguhan dan keteguhan hati dalam menyampaikan pesan agama dengan berlandaskan pada sikap moderat akan membawa dampak positif dalam membentuk masyarakat yang lebih baik dan lebih bermartabat. Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan toleran sebagai bentuk penguatan nilai-nilai moderasi beragama.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan dakwah yang beragam, dai diharapkan mampu menyusun strategi yang jelas agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan baik, seperti diantaranya:

  1. Pendidikan Agama yang Terintegrasi.
    Salah satu strategi utama dalam menghadapi tantangan dakwah adalah dengan menyediakan pendidikan agama yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Ini mencakup pendekatan holistik dalam penyampaian ajaran agama yang tidak hanya berfokus pada aspek teologis, tetapi juga memperhatikan konteks sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Para dai dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan, seperti sekolah dan universitas, untuk mengembangkan kurikulum yang relevan dan menarik bagi siswa agar mereka dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Pembangunan Hubungan yang Kuat dengan Masyarakat.
    Pembangunan hubungan yang kuat dengan masyarakat adalah kunci dalam mengatasi resistensi terhadap dakwah. Para dai perlu berusaha untuk menjadi bagian dari komunitas, mendengarkan kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta membangun hubungan saling percaya. Dengan demikian, para dai dapat lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sambil memperhitungkan konteks budaya dan sosial yang ada.

    Baca juga: Membangun Masyarakat Moderat melalui Komunikasi Dakwah

  3. Dialog Antaragama yang Membawa Pemahaman Lebih Baik.
    Para dai dapat mengadopsi strategi dialog antaragama sebagai cara untuk mengatasi persaingan antar keyakinan dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang kesamaan dan perbedaan antara agama-agama. Dengan terlibat dalam dialog yang terbuka dan rasa saling menghormati, para dai dapat membantu membangun jembatan antara berbagai komunitas agama dan mempromosikan perdamaian serta toleransi di antara mereka.
  4. Penafsiran Agama yang Relevan dan Bermakna.
    Dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya, para dai perlu mampu menafsirkan ajaran agama dengan cara yang relevan dan bermakna bagi masyarakat modern. Ini melibatkan kemampuan untuk membaca dan memahami konteks sosial dan budaya tempat mereka berada, serta mengadaptasi pesan-pesan agama untuk merespons tantangan dan aspirasi yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Dengan demikian, dakwah tetap relevan dan memiliki dampak yang positif dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai masyarakat.
  5. Dukungan dan Advokasi untuk Kebebasan Beragama.
    Para dai juga perlu bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kebebasan beragama dan hak asasi manusia untuk memastikan bahwa mereka memiliki dukungan dan advokasi yang memadai dalam menghadapi tantangan eksternal, seperti tekanan politik, hukum, dan sosial. Dengan memperkuat kapasitas mereka dalam memperjuangkan hak-hak tersebut, para dai dapat memastikan bahwa mereka memiliki lingkungan yang mendukung untuk melaksanakan tugas dakwah mereka.
  6. Keterbukaan terhadap Perubahan dan Inovasi.
    Para dai perlu memiliki keterbukaan terhadap perubahan dan inovasi dalam metode dan strategi dakwah mereka. Masyarakat modern terus berubah, dan para dai perlu dapat beradaptasi dengan cepat untuk tetap relevan dan efektif dalam menyampaikan pesan agama. Ini melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), seperti media sosial dan platform digital lainnya, untuk mencapai audiens yang lebih luas dan mempromosikan pesan-pesan agama dengan cara yang menarik dan mudah diakses.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, para dai diharapkan dapat mengatasi berbagai tantangan dalam melakukan dakwah dalam masyarakat. Meskipun jalan menuju perubahan mungkin penuh dengan rintangan, kesungguhan dan keteguhan hati para dai dalam memperjuangkan pesan-pesan agama yang baik dan benar akan membawa dampak positif dalam membentuk masyarakat yang lebih baik dan lebih bermartabat.

*Sumber ilustrasi: Dribble.com (Muslim Man giving Religious Lectures by ianmikraz on Dribbble)