“Nguri-Uri Budaya,” Tradisi Baritan di Kanoman I Kembali Digelar

Penulis dan Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Kulonprogo – Tradisi Baritan kembali digelar di Lapangan Sekaran, Dusun Kanoman I, Banjararum, Kulonprogo pada Minggu, (20/07). Tradisi ini merupakan perayaan tahunan yang dilakukan pada masa panen sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan.

Perwakilan warga Kanoman I Wiji Sutarma menjelaskan sejarah singkat perayaan Baritan, bahwa tidak ada sejarah konkret mengenai tradisi ini, namun yang pasti Baritan merupakan representasi rasa syukur warga atas hasil alam yang melimpah pada masa panen. Menurutnya, Kecamatan Kalibawang merupakan penghasil padi yang melimpah. Bahkan dahulu dikatakannya, salah satu kecamatan di Kabupaten Kulonprogo ini memiliki banyak lumbung padi.

“Mboten enten sejarah sing pesti tentang Baritan niki. Tapi sing jelas Baritan iku mbubarke peri lan setan lan dedongo marang Gusti Allah. Mediane kupat lan pelas, (Tidak ada sejarah pasti mengenai Baritan. Tapi yang jelas Baritan itu mengusir ‘peri’ dan setan dan berdoa kepada Allah. Medianya ketupat dan pelas),” jelas Sutarma.

Baca juga: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Baritan dimulai pada pukul 9 pagi dengan kirab ketupat dan hasil alam. Acara kedua diisi dengan penampilan warok oleh bapak-bapak Kanoman I. Acara selanjutnya adalah perebutan gunungan ketupat dan hasil alam oleh masyarakat sekitar. Baritan kemudian dilanjutkan pada pukul 1 siang dengan penampilan kesenian Jathilan Tradisional dan Kreasi Baru oleh Turonggo Aji Pamekar.

Animo masyarakat sangat tinggi terhadap acara ini. Masyarakat dari berbagai kalangan memadati Lapangan Sekaran sejak pukul 10 pagi.

Baca juga: Korelasi Antara Tradisi Nyadran dengan Nilai-Nilai Moderasi Beragama

Turut hadir dalam perayaan Baritan Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho, Lurah Banjararum Warudi, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta tokoh-tokoh Kanoman I dan II.

Menanam Nilai Kerukunan Melalui Peringatan Hari Koperasi: Refleksi KKN Nusantara Kelompok 22 di Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Muslimah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya tentang pengabdian di desa, tetapi juga tentang membumikan nilai-nilai strategis kebangsaan. Salah satu refleksi nyata dari semangat tersebut tampak dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Koperasi Indonesia ke-78 yang diikuti oleh KKN Nusantara Kelompok 22 di Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, pada 17 Juli 2025. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perangkat kecamatan setempat.

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas—bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen pembangun harmoni masyarakat. Selaku inspektur upacara, Camat Kalibawang, Bapak Tukidi, menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kerukunan dan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari arah pembangunan yang inklusif.

Pesan tersebut sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 244 Tahun 2025. Dari delapan prioritas tersebut, yang paling relevan dengan konteks kegiatan ini adalah poin pertama, yaitu Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan serta poin keenam berbunyi Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Koperasi dan Kerukunan sebagai Dua Pilar Saling Menguatkan

Koperasi tidak hanya diposisikan sebagai entitas ekonomi, melainkan juga sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Dalam ruang koperasi, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu tanpa membedakan agama, etnis, maupun status sosial. Inilah nilai-nilai kerukunan yang sesungguhnya, yang terwujud dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Mahasiswa KKN yang terlibat dalam peringatan Hari Koperasi diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat dikonkretkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi. Ini merupakan pelajaran kontekstual yang tidak bisa didapat di ruang kelas, tetapi sangat krusial dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa.

Arahan Camat sebagai Titik Tekan Misi Sosial KKN

Selain mengikuti upacara, Tim KKN Kelompok 22 juga mendapatkan arahan langsung dari Camat Kalibawang. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kerukunan selama masa pengabdian berlangsung. Mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa program kerja teknis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Arahan ini menjadi penegas bahwa KKN bukan sekadar agenda tahunan akademik, melainkan bagian dari gerakan sosial berbasis kesadaran multikulturalisme dan inklusi. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mediator dialog dan harmoni sosial dalam lingkup lokal, yang akan berdampak nasional jika dilakukan secara kolektif.

Kerukunan dan Kemandirian sebagai Visi Bersama

Pengalaman KKN Nusantara Kelompok 22 dalam mengikuti peringatan Hari Koperasi menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh bersamaan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga turut membentuk masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.

Dengan membumikan Asta Protas dalam praktik nyata, KKN Nusantara tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi juga platform transformasi sosial yang berkelanjutan.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Dalam rangka mematangkan persiapan program kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara yang berlokasi di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan praktik pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanoman I pada Selasa (15/07).

Kegiatan ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan salah satu program kerja “Desa Rumaket” (Rumah Alam dan Ekoteologi) yang diimplementasikan dengan membuat IMO dan penanaman sayur guna mendukung ketahanan pangan warga Kanoman I.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris KWT Kanoman I, Sri mengajari tim KKN membuat IMO. Mulai dari menggali tanah khusus yang berada di bawah pohon bambu, kemudian menaburinya dengan bekatul, lalu melapisinya dengan daun-daun bambu yang sudah mengering, kemudian menaburinya lagi dengan bekatul, dan terakhir ditutup dengan plastik.

Setelah memastikan campuran tanah, bekatul, dan daun bambu tertutup sempurna dengan plastik, tahap selanjutnya adalah mendiamkannya hingga 14 hari.

“Fungsinya bekatul untuk memakai mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kemudian ditutup biar nggak diganggu ayam. Tunggu 14 hari. kalau udah, untuk memperbanyak biar irit tanahnya diayak biar kotorannya tersisihkan,” jelas Sri.

Kelompok 1 KKN Nusantara menyimak dengan seksama dan mempraktikkan langsung tahapan-tahapan tersebut.

Bekerja sama dengan KWT, Kelompok 1 KKN Nusantara akan melaksanakan edukasi pembuatan IMO dan penanaman bibit sayur pada 24 Juli mendatang.

Kelompok 1 berharap, warga Kanoman I mampu mempertahankan kebutuhan pangannya dengan bertani mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan lahan yang terbatas.

Ilmu Hidup: Santri Fathimah Albatul Ikuti Praktik Pemulasaran Jenazah

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Santri Pondok pesantren mahasiswa Fathimah Albatul tampak antusias mengikuti kegiatan pemulasaran jenazah setiap sesi, terutama saat praktik simulasi pemulasaran pada Jumat, (11/07).

Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali memahami secara menyeluruh tata cara menangani jenazah secara syar’i. Kegiatan ini sebagai implementasi nyata dari ilmu fikih serta upaya membentuk karakter santri berlandaskan ajaran Islam.

Ahmad Taufiq selaku Khodimul Ma’had Ponpes Mahasiswa Fathimah Albatul menyampaikan dalam sambutanya, “Harapan saya anak-anak paham bagaimana cara ngulesi mayit apa saja yang harus dilakukan ketika mendengar orang meninggal mulai memandikan, mengkafani, menyolati, dan mengubur agar tidak keliru, yang diperlukan tidak hanya teori tetapi juga praktik. Ilmu yang seperti ini adalah ilmu hidup. Ilmu ini akan selalu dibutuhkan di tengah masyarakat, dan menjadi bentuk pengabdian santri kepada umat, bahkan hingga akhir hayat seseorang,” jelasnya.

Kegiatan ini bertujuan membekali santri dengan pengetahuan serta praktik langsung mengenai tata cara mengurus jenazah sesuai syariat, mulai dari menyobek kain kafan, memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkannya. Dibimbing langsung oleh M. Abdul Halim selaku Lebeh Wangandowo, santri diajak memahami betapa pentingnya menghormati jenazah sebagai bagian dari fardhu kifayah.

Kegiatan ini meliputi penyampaian materi terkait jenazah, simulasi praktik, serta menanamkan sikap rendah hati dan empati. Harapannya, santri tidak hanya memahami teori, namun juga siap dan berani melayani masyarakat saat dibutuhkan.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulllah saw bersabda: مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَ مَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، قِيْلَ : وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ : (( مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ)) . (متفق عليه) “Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga disholatkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 1(satu)qirath. Dan Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga dikuburkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 2(dua) qirath. Dikatakan: ‘apakah 2 qirath itu?’ Nabi saw menjawab: ‘seperti ukuran dua gunung yang besar” (H.R. al-Bukhori dan Muslim).

Perkuat Kerukunan Umat, Kemenag Kabupaten Pekalongan Gelar Event Implementasi Kampung Moderasi Beragama

Pewarta: Azzam Nabil H., Editor : Fajri Muarrikh

Paninggaran, — Dalam rangka memperkuat semangat hidup rukun dalam keberagaman, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pekalongan kembali menggelar kegiatan “Implementasi Kampung Moderasi Beragama” yang berlokasi di Aula Agroedu Wisata Kali Paingan Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran, Selasa (15/7/2025).

Kegiatan ini dihadiri 50 peserta dari berbagai unsur, seperti Bakesbangpol, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Plt. Camat, penyuluh agama, hingga tokoh agama dan perwakilan masyarakat setempat.

Dalam pembukaan acara, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pekalongan, Ahmad Farid, menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya memahami agama secara komprehensif sebagai jalan menuju kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan di masyarakat.

“Agama adalah jalan untuk mewujudkan ketertiban, kedamaian, dan keharmonisan. Tidak cukup hanya beribadah, tetapi juga menjalani ajaran agama dengan perilaku yang baik kepada sesama manusia,” ujarnya. Selain itu, Beliau juga menegaskan bahwa implementasi moderasi beragama di kehidupan bermasyarakat merupakan tugas utama Kemenag dalam menjaga kerukunan umat di tengah tantangan intoleransi dan radakilsme.

Baca juga: Nilai-Nilai Asta Protas Kemenag Dalam Tradisi “Umbah Terpal” Warga Mushala Al-Asdiqa’ Kauman Batang

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari beberapa narasumber yang mewakili lembaga pemerintah maupun keagamaan. Pak Agus Alamsyah, dari Bakesbangpol, memaparkan materi pentingnya membangun keamanan berbasis kerukunan. Ia menegaskan bahwa tantangan keberagaman harus dijawab dengan kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong antarwarga.

Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan, M. Solahudin, menyampaikan urgensi moderasi beragama sebagai pendekatan untuk menjaga keseimbangan dalam beragama dan menghindari sikap ekstrem. Dalam pemaparannya, ia menyoroti prinsip-prinsip moderasi beragama seperti anti kekerasan, komitmen kebangsaan, keadilan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.

“Moderasi beragama harus mulai diperkenalkan kepada generasi muda. Jika tidak, maka ruang-ruang kosong akan diisi oleh narasi-narasi yang memecah belah. FKUB ke depan merencanakan kemah lintas agama sebagai sarana edukasi dan penguatan kebangsaan,” jelas Solahudin.

Baca juga: Menteri Agama Ajak Bangun Fondasi Bangsa dengan Nilai Spiritual di Refleksi dan Proyeksi Kemenag 2025

Materi penutup disampaikan oleh Plt. Camat Kajen, Mustofa, yang menyoroti peran kearifan lokal dalam memperkuat kerukunan. Ia mengungkapkan bahwa tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat Paninggaran yang menjunjung toleransi sejatinya telah menjadi modal sosial untuk menghidupkan moderasi beragama secara nyata.

“Melalui pelestarian budaya, dialog antarumat, dan pendidikan multikultural, masyarakat bisa tumbuh dalam lingkungan yang harmonis tanpa harus kehilangan identitas budaya maupun agama,” tuturnya.

Doc. Humas Kemenag Kabupaten Pekalongan (15/7 2025)

Setelah materi, kegiatan dilanjutkan dengan forum diskusi yang membahas kelanjutan dari kegiatan implementasi kampung moderasi beragama. Hasil dari diskusi ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar moderasi beragama bukan hanya digaungkan melalui acara formal saja, namun melalui wujud nyata dalam memvisualisasikan kampung moderasi beragama sebagai kampung yang moderat.

Adapun harapan dari kemenag, perlu adanya keberlanjutan dari event implementasi kampung moderasi beragama ini. Sebab, kegiatan yang berkaitan dengan moderasi beragama bukan hanya dilakukan dalam jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.

Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Pewarta: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan — Dalam rangka menyambut Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025, Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar Forum 17-an dengan mengangkat tema “Pekalongan Darurat Lingkungan: Agama sebagai Solusi atau Masalah?”

Forum yang digelar di Kedai Kopi Bumi Suja, Kota Pekalongan, pada Rabu (09/07/2025) ini diisi oleh Aulia Abdurrahman Soleh selaku Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian; Pdt. Dwi Argo Mursito, Pemimpin Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kota Pekalongan; dan Shinta Nurani, M.A., selaku dosen akademisi UIN Gus Dur Pekalongan. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas, lembaga, dan masyarakat sipil di Pekalongan.

Acara yang diikuti sekitar 40-an peserta ini bertujuan untuk menjawab isu lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Pekalongan.

Sebagai salah satu narasumber, Argo mengatakan bahwa dalam agama Kristen dijelaskan, menjaga lingkungan adalah wujud dari tanggung jawab sebagai pengelola ciptaan Tuhan dan ekspresi iman yang aktif.

“Alkitab, khususnya Kitab Kejadian, menekankan pentingnya memelihara dan mengurus bumi, bukan hanya menguasainya. Umat Kristen dipanggil untuk menjaga kelestarian alam sebagai bentuk penghargaan terhadap Tuhan dan sesama manusia, serta untuk memastikan keberlangsungan hidup bagi generasi mendatang,” ujar Argo.

Baca juga: Mengawal Kemerdekaan dengan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman Indonesia

Sepakat dengan Argo, akademisi UIN Gus Dur Pekalongan, Shinta Nurani, juga menyampaikan perihal darurat lingkungan yang terjadi di Pekalongan. Hampir setiap hari, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Pekalongan mendapat kiriman sampah sebanyak 220 ton per hari. Pengelolaan sampah yang tidak maksimal, rob, dan limbah pabrik sampai detik ini belum teratasi.

“Melihat latar belakang tersebut, penanganan masalah lingkungan perlu dilakukan oleh semua pihak. Dalam hal ini, peran agama menjadi penting. Agama jangan hanya mengedepankan doktrin ritualistik, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai ekologis,” jelas Shinta.

Aulia Abdurrahman Soleh, Seknas GUSDURian, menjelaskan tentang sembilan nilai utama Gus Dur. Memang, sembilan nilai utama Gus Dur tidak secara spesifik membahas pentingnya merawat lingkungan.

Baca juga: Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

“Tetapi nilai-nilai tersebut, seperti kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan kearifan lokal, dapat diimplementasikan untuk mendukung pelestarian lingkungan,” ujar Aulia.

Menurut Ade Gunawan, salah satu peserta Forum 17-an ini, persoalan lingkungan, khususnya sampah, bisa disebut sampah ketika tercampur dan tidak dikelola dengan baik. Jika dipilah dan dikelola, maka disebut komoditas.

“Sampah, dalam sudut pandang ekonomi parsial, bisa kita manfaatkan. Karena di beberapa tempat yang kami berdayakan, masih banyak orang hidup dengan mencari sampah. Bahkan sampai impor (mengambil) dari desa lain, karena desanya sudah bersih dari sampah,” jelasnya.

Talkshow semakin hangat dengan dimoderatori oleh Dina Nur Amilah dan adanya sesi diskusi. Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” tiga stanza, pembacaan puisi oleh Fajri Muarrikh, dan ditutup dengan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” secara bersama-sama.

Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Penulis: Ahmad fawwaz rizka, Editor: Nehayatul Najwa

Kehidupan sebagai mahasiswa muslim di Nanjing, Cina merupakan perpaduan antara tantangan dalam menjaga identitas keagamaan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial yang majemuk. Sebagai salah satu kota besar di China dengan sejarah panjang dan populasi yang beragam, Nanjing menawarkan pengalaman yang unik bagi mahasiswa muslim, baik lokal maupun internasional.

Di tengah keberagaman tersebut, Nanjing memiliki beberapa komunitas religi yang aktif sampai sekarang. Contohnya adalah Komunitas muslim etnis Hui, salah satu kelompok etnis minoritas muslim yang diakui di Cina. Terdapat beberapa masjid bersejarah, seperti masjid jingjue yang dibangun pada abad ke 14 dengan arsitektur Cina kuno yang khas, membuatnya menjadi pusat kegiatan keagamaan. Mahasiswa muslim dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk salat berjamaah atau merayakan hari besar islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Tampak Depan Masjid Jingjue (Sumber: Wikipedia.org)

Salah satu tantangan utama bagi mahasiswa muslim di Nanjing adalah menemukan makanan halal. Meskipun tidak sebanyak di kota-kota besar seperti Beijing dan Xi’an, Nanjing memiliki restoran halal yang dikelola oleh komunitas etnis Hui. Beberapa kampus juga sudah mengantisipasi hal ini dengan menyediakan kantin khusus muslim dan menu halal. Namun, mahasiswa sering kali harus lebih teliti dalam memilih makanan, atau dengan cara mudahnya yakni memasak sendiri untuk memastikan kehalalannya. Biasanya masakan halal ditandai dengan penjual yang memakai peci khas Uyghur dan kata “清真菜” (qingzhencai) di atas papan nama restoran.

Baca juga: Batik Sebagai Simbol Moderasi Beragama (Studi Kasus Fenomena Batik Tiga Negara)

Restoran Halal di Nanjing (Sumber: thenanjinger.com)

Meskipun mahasiswa muslim diperbolehkan beribadah, pemerintah Cina mengatur kegiatan keagamaan secara ketat. Aktivitas keagamaan dan hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha harus terorganisir dan sesuai dengan peraturan setempat. Contohnya, untuk salat Ied, calon jamaah diwajibkan memindai Qr Code yang disediakan oleh pengurus masjid).

Sebagai mahasiswa di Nanjing, integrasi dengan budaya lokal menjadi bagian penting dari pengalaman hidup. Terlebih, Nanjing adalah salah satu kota yang memiliki nilai historis dan budaya yang panjang. Banyak mahasiswa muslim belajar bahasa mandarin dan berpartisipasi dalam kegiatan kampus maupun luar kampus untuk membangun jalinan pertemanan. Namun, mereka juga harus menjaga keseimbangan antara nilai-nilai Islam dan norma sosial setempat, khususnya dalam hal pergaulan dan gaya hidup.

Meskipun Nanjing relatif lebih terbuka dibandingkan wilayah lain di China dikarenakan banyaknya mahasiswa, mahasiswa muslim terkadang menghadapi tantangan seperti stereotip atau kurangnya pemahaman masyarakat tentang Islam. Beberapa mahasiswa memilih untuk lebih rendah profil dalam mengekspresikan keyakinanya demi menghindari prasangka. Bahkan beberapa kampus juga menyarankan agar tidak berpakaian serba hitam seperti jubah & kerudung untuk menghindari prasangka.

Kehidupan mahasiswa muslim di Nanjing membutuhkan adaptasi dan ketahanan dalam menjaga identitas keagamaan di tengah lingkungan yang sekuler. Namun, dengan dukungan komunitas muslim setempat dan kemauan untuk terlibat dalam kehidupan kampus, mereka bisa menjalankan studi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam.

Memperkuat Keimanan dalam Menjalani Kehidupan yang Sibuk

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Nehayatul Najwa

Semua orang sering merasa waktu berputar dengan cepat, bukan hanya kalian, tetapi aku juga merasakannya. Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka melainkan ini sudah menjadi hal yang wajar. Perubahan waktu membuat kita merasa tidak pernah melakukan apapun, ini tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari Channel News Asia, Dr Kimberly Chew mengatakan, “Banyak dari kita juga terbiasa dengan rutinitas, ketika hidup menjadi rutinitas, hari-hari kita mulai bercampur, membuat waktu terasa kurang jelas dan seolah pergi begitu saja.” Hal ini menunjukkan seseorang harus menjalani aktivitas yang berbeda dari biasanya agar dapat merasakan kenikmatan dari waktu.

Sering kali kita menjalani aktivitas yang berulang mulai dari menjalani kegiatan pendidikan, bekerja, dan sebagainya. Tanpa disadari, rutinitas ini dapat membuat seseorang merasa jenuh. Namun, bagaimana dengan umat muslim yang diharuskan mengikuti kegiatan keagamaan di setiap waktu? Tentu ini menjadi masalah yang patut dibahas, karena apabila umat muslim tidak mengikutinya ini akan berdampak pada dosa. Oleh karen itu, umat muslim memerlukan pendekatan baru untuk menjalani kehidupan beragama di tengah kesibukan.

Baca juga: Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Untuk menjalani kehidupan agama yang menarik, umat muslim memiliki beragam pendekatan. Ini dapat dimulai dalam lingkup individu seperti introspeksi dan lingkup kelompok seperti membangun forum diskusi untuk mengajarkan dan mendalami keagamaan. Dalam lingkup individu, manusia akan diminta untuk mengintrospeksi diri mereka mengenai apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya. Ini meliputi pemahaman atas tindakan yang dilakukan manusia seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18).

Baca juga: Menjelajah Makna dan Hikmah: Pemahaman Al-Quran dalam Kehidupan Umat Islam

Ayat ini menyinggung pentingnya evaluasi pada diri manusia. Ayat ini tidak hanya memerintahkan umat muslim untuk mempertimbangkan semua tindakan yang dilakukan karena semua tindakan umat muslim akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di Akhirat. Berdasarkan tafsir Al-Wasith yang dikutip dari NU Online, ayat ini menjelaskan manusia harus melakukan Muhasabah dan koreksi diri. Dengan muhasabah dan koreksi diri, manusia dapat memahami dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Selain itu, ini dapat menjadi acuan bagi manusia dalam menghindari kesalahan agar setiap manusia dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya.

Umat muslim dapat mengintrospeksi dengan merenungi pertanyaan sederhana: “apakah ibadahku diterima?” atau “Tugasku kebanyakan nih, kira-kira masih bisa sholat gak ya?” dan “apakah aku masih bisa bertaubat setelah jarang sholat dan ngaji?” Pertanyaan seperti ini akan membantu manusia untuk memperkuat keimanan di tengah kesibukan hari, karena ini akan menjadi refleksi diri atas kesalahan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh sebab itu, introspeksi mampu memberikan peluang bagi setiap muslim untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Karena dengan adanya introspeksi, manusia akan mengakui semua kesalahannya dan memohon ampunan di hadapan Allah SWT.

Baca juga: Muslimah Berkarir: Refleksi Keadilan Dalam Benturan Norma dan Realitas

Selain berintrospeksi, ada kegiatan lain yang juga dapat memperkuat keimanan dalam kesibukan sehari-hari yaitu memperdalam pengetahuan agama. Di kehidupan, kita diminta untuk mempelajari dan mengkaji ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan sebuah aktivitas penting yang berpotensi membuat kehidupan manusia menjadi berkembang. Salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dituntut oleh umat muslim yaitu ilmu agama islam. Ilmu agama islam merupakan aspek penting dalam kehidupan umat muslim karena ilmu agama islam memainkan peran penting sebagai panduan bagi umat muslim dalam menjalani kehidupan beragama. Salah satu ayat yang menyebutkan pentingnya mendalami pengetahuan yaitu Q.S. At-Taubah ayat 122 yang berbunyi:

وَمَا كَا نَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 122).

Ayat ini menjabarkan peran dari setiap orang mukmin. Salah satu bagian penting dari ayat ini yaitu pengkajian ilmu agama oleh umat muslim. Berdasarkan tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh yang dilansir dari Tafsirweb, ayat ini menegaskan untuk membagi tugas orang mukmin berupa sebagian mukmin memiliki tugas untuk berperang dan sebagian mukmin memiliki tugas untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengetahuan agama dan mengajarkannya ke umat muslim yang mengikuti peperangan. Tafsir ini juga menyebutkan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan agama, umat muslim yang pergi berperang dapat perintah dan larangan sehingga terhindar dari azab dan hukuman. Dengan demikian, mendalami ilmu agama menjadi aspek penting bagi umat islam.

Baca juga: cahaya-cinta-dan-teladan-dari-emha-cak-nun

Umat muslim memiliki tiga cara dalam mengkaji ilmu agama, cara pertama yaitu dengan mengikuti berbagai kajian agama yang diisi oleh ustadz atau ustadzah, baik itu di masjid atau melalui aplikasi streaming. Ini dapat menjadi langkah yang baik karena mempelajari ilmu melalui tokoh dengan latar belakang yang kuat. Kedua, aktif dalam forum diskusi islam. Langkah ini dapat memperkuat pemahaman agama islam karena diskusi memiliki proses bertukar pikiran sehingga kita memahami agama melalui berbagai perspektif. Terakhir, dengan membaca buku pengetahuan agama. Langkah ini hampir sama dengan langkah pertama.

Melalui introspeksi dan mendalami ilmu agama dapat menjadi sarana bagi umat muslim untuk mendalami ilmu agama. Langkah-langkah di atas dapat diterapkan di sela-sela padatnya aktivitas sehingga tidak ada alasan bagi setiap orang untuk tidak melakukannya. Apabila mampu diterapkan dengan baik, keimanan umat muslim akan semakin kuat dan tak gampang tergoyahkan. Jadi, jangan lupa untuk terus berintrospeksi dan memperdalam ilmu agama karena kehidupan terus berubah.

Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Penulis: Bambang Sri Hartono*; Editor: Azzam Nabil H.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan tantangan lingkungan yang semakin kompleks, peran santri sebagai agen perubahan (agent of change) menjadi semakin vital. Sebagai penuntut ilmu agama, santri tidak hanya dibekali dengan pemahaman keislaman yang mendalam, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah kesadaran akan pengelolaan sampah yang bijak, disertai dengan akhlak mulia berupa senyuman yang tulus. Ini selaras dengan falsafah Jawa “Memayu Hayuning Bawana” (memelihara keindahan dunia) yang mengandung makna kosmologis yang dalam. Prinsip ini menempatkan manusia sebagai pamong (penjaga) yang bertanggung jawab menjaga harmoni antara jagad gedhe (alam semesta) dan jagad cilik (diri manusia). Dan bagi santri, konsep ini juga selaras dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

Dalam hal ini, sampah adalah masalah besar yang membutuhkan solusi kecil. Sampah telah menjadi isu global yang mengancam ekosistem bumi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah per tahun, dengan sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan mengotori laut. Jika tidak ditangani, dampaknya akan merusak kesehatan, keindahan alam, dan keseimbangan ekologi. Sebagai santri, selalu diajarkan untuk tidak hanya fokus pada urusan ukhrawi (akhirat), tetapi juga duniawi. Rasulullah SAW bersabda: “Bersihkanlah halaman rumahmu, dan jangan menyerupai orang Yahudi (yang mengabaikan kebersihan).” (HR. At-Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan, termasuk pengelolaan sampah. Seorang santri harus menjadi contoh dalam: memilah sampah (organik, anorganik, dan B3), mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler, tas kain, atau kotak makan sendiri, mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai, seperti kompos dari sampah organik atau kerajinan dari plastic, menggalakkan program zero waste di lingkungan pesantren.

Baca juga: Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Disamping menjaga kebersihan lingkungan, seorang santri juga perlu bersikap murah senyum di segala aktivitas. Sebab, senyum merupakan sedekah yang menyempurnakan amal, yang mana setiap santri dapat menghiasi diri dengan akhlak mulia, yang salah satunya adalah dengan senyuman. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).

Melihat sabda Rasulullah saw. tersebut, ada beberapa keutamaan dari senyuman yang diberikan seseorang kepada orang lain. Pertama, senyum bisa meringankan Beban. Ketika membersihkan lingkungan bersama, senyuman bisa membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Kedua, menyalurkan energi positif. Senyum adalah bahasa universal yang bisa memecah kebekuan dan mempererat ukhuwah. Ketiga, senyum dapat mendatangkan pahala. Dalam Islam, senyum tulus dianggap sebagai ibadah sosial yang berpahala. Bayangkan jika setiap santri tersenyum saat mengingatkan temannya untuk membuang sampah pada tempatnya, niscaya teguran akan lebih diterima dengan hati yang lapang.

Integrasi kebersihan dan senyuman dalam kehidupan santri adalah miniatur masyarakat yang ideal untuk menerapkan konsep “Green and Happy Islamic Boarding School“. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan gerakan Jumat bersih, setiap hari Jumat, santri bergotong-royong membersihkan lingkungan pesantren sambil diiringi dzikir dan canda tawa. Membuat Bank Sampah di pesantern. Sampah yang terkumpul bisa dikelola menjadi tabungan amal untuk kegiatan sosial. Selajutnya memberikan senyum sapa salam (3S). Membudayakan senyum, sapa, dan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Serta yang terakhir dengan Eco-Jihad Program, Menggiatkan gerakan lingkungan sebagai bagian dari jihad bil-‘amal (perbuatan nyata).

Baca juga: Pohon Mangrove: Penjaga Lingkungan, Penguat Keimanan

Seorang santri sejati bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan penebar kebahagiaan. Kebersihan adalah cermin iman, senyuman adalah cermin hati. Dengan memadukan keduanya, santri bisa menjadi teladan bagi masyarakat dalam menjaga bumi sekaligus menyebarkan kedamaian. Mari kita buktikan bahwa “Santri Bisa, Bumi Lestari, Dunia Tersenyum!” Kecilkan volume sampahmu, besarkan senyumanmu, karena dunia butuh lebih banyak pahlawan lingkungan yang ramah terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap aktivitas kebersihan sebagai ibadah. Ketika memungut sampah, lakukan dengan ikhlas. Ketika melihat teman membuang sampah sembarangan, ingatkan dengan lembut dan senyuman. Jadilah santri yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga peduli lingkungan dan penuh keramahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

*Dosen FEBI UIN Gus Dur Pekalongan