Wujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik UIN Gus Dur MoU dengan BPN Jawa Tengah

Pewarta: Noorma

Pekalongan (2/10/2025). – Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur), Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. melakukan penandatangan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jawa Tengah guna mewujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik. Penandatanganan MoU ini berlangsung di Gedung Perpustakaan Lantai 3 Kampus 2 Kajen Kabupaten Pekalongan pada hari Selasa 2/10/2025 yang dihadiri oleh jajaran BPN Kantor Wilayah Jawa Tengah, BPN Kota Pekalongan dan BPN Kabupaten Pekalongan.

Dalam sambutannya Kepala BPN Kanwil Jawa Tengah Lampri A,Ptnh. SH, MH. mengatakan bahwa Program Sertifikasi Wakaf KKN Tematik ini merupakan Pilot Projek BPN Jawa Tengah dan Kampus UIN Gusdur ini merupakan kampus yang pertama mendapatkan program. Dalam kegiatan kedepan para mahasiswa peserta KKN Sertifikasi Wakaf ini akan di bekali oleh BPN dengan teknis sesuai ketentuan regulasi pemerintah agar tanah wakaf menjadi legal dan berfungsi sesbagaimana harapan wakif. Menurutnya Pilot Projek ini memberi peluang sekitar 600 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan tersebut sehingga pemanfaatannya dapat langsung digunakan untuk musolla, masjid termasuk wakaf produktif.

Pemaparan Materi oleh BPN (Meeting Room Perpus UIN K.H. Abdurrahman Wahid, 2 Oktober 2025)

Dalam sambutannya Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menyampaikan apresiasi dan berterima kasih kepada ATR/BPN Jawa Tengah yang telah memilih UIN Gusdur sebagai mitra KKN Tematik karena hal ini sesuai dengan misi Menteri Agama yaitu Ekoteologi,  Menurutnya saat ini agama tidak hanya membahas fikih saja termasuk didalamnya adalah membahas lingkungan karena menurutnya korban dari lingkungan ini jumlahnya banyak sekitar dua jutaan orang.  Rektor menceritakan kedepan sertifikasi wakaf ini menjadikan sebagai KKN terdampak yang awal bulan September lalu telah mengadakan ekspose hasil kegiatan KKN. Dari hasil ekspose tersebut ternyata menarik kementerian untuk bersinergi terutama ATR/BPN pusat.

Acara ini dihadiri segenap jajaran structural BPN Kanwil Jawa Tengah para Kasi, Kepala BPN Kota  Pekalongan Bapak Dr. Joko Wiyono, S.P. M.AP. QRMP dan Kepala BPN Kabupaten Pekalongan Bambang Irianto, A.Ptnh., M.M, QRMP. (M.Izza)

Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Penulis: Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag*), Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Di tengah perubahan iklim dan krisis lingkungan global kian mengkhawatirkan, dunia pendidikan dituntut untuk menghadirkan solusi yang bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh akar spiritual dan etis manusia. Tokoh teolog Leonardo Boff, dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of the Poor, menyatakan bahwa “krisis ekologis sejatinya adalah krisis spiritual dan etika.” Menurut Boff, manusia telah memutus relasi suci dengan alam karena sistem pendidikan dan ekonomi yang terlalu antroposentris, memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.

Kerap kali trilogi dalam ajaran Islam yang ditekankan adalah rukun Iman dan Rukun Islam. Kedua aspek ini memang menjadi fondasi utama keislaman seorang Muslim. Namun, kita sering melupakan dimensi yang ketiga, yakni Ihsan. Padahal, Ihsan adalah puncak dari spiritualitas Islam, sebagaimana sabda Nabi: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ihsan menuntut kehadiran rasa cinta, kedalaman rohani, dan kesadaran etis dalam setiap tindakan manusia. Tanpa Ihsan, iman dan Islam berpotensi berhenti pada formalitas, sekadar keyakinan dan ritual, tanpa menyentuh makna terdalamnya. Ihsan inilah yang memberi ruh, menumbuhkan kepedulian, dan menjadikan agama hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Dalam konteks pelestarian lingkungan, Ihsan dapat dimaknai sebagai sikap menghadirkan Allah dalam relasi kita dengan alam. Menjaga kebersihan, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, hingga merawat bumi adalah bagian dari ibadah ihsaniyyah. Dengan demikian, tindakan merusak lingkungan bukan sekadar persoalan sosial yang tidak terpuji, melainkan juga cermin dari hilangnya kesadaran rohani dalam menjaga amanah Allah terhadap bumi.

Hal ini selaras dengan pesan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam pembukaan MTQ 2025. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an melalui ayat-ayatnya memberikan perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. “Sebagai umat Islam, kita harus membuktikan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sebagai sebuah keharusan,” ujarnya. Lebih lanjut Menag Nasaruddin mengungkapkan bahwa , Al-Qur’an sejak awal telah menjelaskan jika segala sesuatu yang ada di alam bertasbih dan memuji Allah. Dengan begitu tidak ada benda mati di alam ini.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Di sinilah letak relevansinya dengan Kurikulum Cinta. Kurikulum ini tidak sekadar menekankan aspek kecerdasan intelektual, melainkan juga menumbuhkan rasa, empati, dan kesadaran ekologis yang berlandaskan pada nilai-nilai Ihsan. Menurut Haidar Bagir Ihsan menuntun manusia untuk melihat kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya, sehingga hubungan dengan alam bukan lagi sebatas interaksi fungsional, melainkan wujud ibadah yang penuh kesadaran.

Cinta, dalam tradisi Islam, bukan hanya urusan rasa antar manusia, tetapi juga melibatkan dauq Rohani pengalaman batin yang menumbuhkan kesadaran holistik tentang keberadaan. Cinta adalah rasa, bukan semata pengetahuan. Karena itu, mengajarkan cinta tidak cukup melalui teori, melainkan harus melalui pengalaman langsung (dauq cinta) yang menumbuhkan kepekaan, empati, dan kepedulian.

Mengajarkan cinta dalam pendidikan berarti menuntun peserta didik untuk tidak hanya memahami teori ekologi di ruang kelas, tetapi juga mengalami langsung keindahan, kerapuhan, dan keterhubungan alam. Misalnya melalui kegiatan menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, merawat taman, atau melakukan riset kecil tentang keberlanjutan lingkungan. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses dauq cinta belajar dengan rasa, bukan sekadar dengan nalar.

Jika ilmu diibaratkan sebagai cahaya, maka cinta adalah panas yang menghangatkannya. Ilmu tanpa cinta berisiko menjadi kering, reduktif, bahkan eksploitatif. Sementara ilmu yang disertai cinta akan melahirkan kesadaran etis. Inilah yang dalam perspektif ilmu ushul Fiqh menjadi fondasi maqāṣid al-sharī‘ah menjaga kehidupan, akal, keturunan, harta, agama, dan pada akhirnya menjaga alam semesta sebagai amanah Allah. Ia adalah ekspresi dari dauq rohani yang menjadikan manusia bagian dari ekosistem kasih sayang Tuhan.

Dengan cara ini, cinta terhadap alam tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi kesadaran iman yang terinternalisasi. Cinta terhadap lingkungan harus ditanamkan lewat pengalaman merasakan keindahan alam, praktik peduli lingkungan, dan pembiasaan etika ekologis. Cinta berfungsi sebagai energi rohani yang menumbuhkan kesadaran peserta didik belajar bahwa mencintai dan melestarikan lingkungan adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta. Kurikulum Cinta, dengan demikian, hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, pengalaman spiritual, dan tanggung jawab ekologis, sehingga pendidikan benar-benar melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berihsan dalam menjaga bumi.

Maka, pendidikan berbasis cinta bukan hanya melahirkan manusia yang berempati pada sesama, tetapi juga manusia yang peduli pada kelestarian bumi. Sebab, tanpa cinta, lingkungan akan terus dieksploitasi. Namun dengan cinta, manusia melihat alam sebagai bagian dari dirinya, sehingga pelestarian lingkungan bukan kewajiban eksternal, melainkan kebutuhan ruhaniyah.

*) Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Perkuat Pemikiran Gus Dur, Para Dosen UIN Pekalongan Turut Serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025

Penulis: Aris Priyanto

Editor: Fajri Muarrikh

Pasca terselenggaranya Sekolah Pemikiran Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, pada tanggal 8-9 Juli 2025. Para dosen kemudian mengikuti acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari yaitu mulai 29-31 Agustus 2025 yang bertempat di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.500-2.000 peserta dari berbagai daerah dan bebagai kalangan mulai dari komunitas GUSDURian, individu, lembaga, jejaring tokoh agama, masyarakat sipil dan para akademisi.

Acara TUNAS GUS DURian tahun ini mengusung tema “Meneladani Gus Dur, Merawat Indonesia”. Kegiatan tersebut terdiri dari 3 agenda besar yaitu Konferensi Pemikiran Gus Dur, Forum Gerakan dan Festival Gerakan. Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG) dibuka langsung oleh Alissa Wahid selaku Direktur Jaringan GUS DURian. Sebelum membuka acara, Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa memulai dulu dengan orasi ilmiah untuk menambah semangat dan antusias peserta. KPG merupakan ruang untuk mendiskusikan dan memperdalam warisan intelektual Gus Dur dalam konteks pemikiran tentang keindonesiaan, keagamaan, sosial dan politik yang dikontekskan pada persoalan demokrasi dan ekologi yang saat ini masih menjadi isu nasional.

 

Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG)

Dewi Anggraeni atau biasa dipanggil Mbak Dewi, selaku koordinator dosen UIN K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan dalam mengikuti kegiatan TUNAS GUSDURian mengatakan bahwa konferensi ini dihadiri oleh Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Sebagai salah satu narasumber dari materi Demokrasi dan Supremasi Masyarakat Sipil. Mahfud MD menjelaskan bahwa persoalan besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia bukan hanya soal kualitas demokrasi, melainkan juga rapuhnya kedaulatan hukum. Ia menegaskan, demokrasi tidak boleh berjalan sendiri tanpa hukum, begitu juga sebaliknya. Bahkan menurutnya “Negara yang sehat itu memadukan demokrasi dan nomokrasi. Itulah yang dulu diperjuangkan Gus Dur”, Jelas Mahfud MD.

Forum Gerakan

Menurut Dewi, forum ini menjadi forum yang sangat luar biasa karena yang dibahas termasuk isu-isu nasional yang sedang terjadi di negeri ini yaitu Demokrasi Hukum dan HAM, Toleransi dan Perdamaian, Keadilan Teologi. Toleransi dan perdamaian mengkaji terkait regulasi diskriminatif berbasis agama dan keyakinan, penolakan beribadah dan tempat ibadah dengan kekerasan, ujaran kebencian, dan lembaga pendidikan yang mengajarkan paham monopoli kebenaran dan mengingkari pluralisme.

Festival Gerakan

Festival gerakan memiliki tujuan untuk mempromosikan dan merefleksikan gerakan yang telah dilakukan oleh para GUSDURian yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Indonesia yang tergabung dalam jaringan GUSDURian. Festival ini berupa community space (ruang bazar dan pameran gerakan), learning space (ruang untuk berbagi berbagai pengetahuan, skill para penggerak GUSDURian, lembaga dan jejaring GUSDURian, yang diperuntukkan untuk peserta TUNAS GUSDURian dan khalayak umum.

Penutupan dan Gusdurian Awards

Dalam acara penutupan dibacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Alissa mengatakan bahwa adanya para dosen yang merupakan akademisi mau mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur tentunya mereka mau menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus yang nantinya akan mereka sampaikan kepada para mahasiswa. Alissa juga berharap perguruan tinggi lain juga mau mengikuti jejak UIN Gus Dur dalam menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus.

Gus Dur Center UIN Pekalongan Ikuti Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian 2025 di Jakarta

Sebagai upaya membangun jejaring Gusdurian, Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berpartisipasi dalam acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari, yaitu tanggal 29-31 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Para Dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam jaringan Gusdurian UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan tersebut mulai dari konferensi pemikiran Gus Dur, Forum gerakan dan festival gerakan.

Ade Gunawan, sebagai salah satu dosen penggerak Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengatakan bahwa kegiatan TUNAS Gusdurian merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk membangun jejaring Gusdurian dan sebagai media untuk belajar dalam mengembangkan kualitas dan mutu dari Gusdurian yang ada di UIN Gus Dur.

Kegiatan TUNAS Gusdurian menjadi gerbang awal bagi Gus Dur Center UIN Gus Dur untuk bisa berdiri tegak dan maju sebagaimana Gusdurian yang lain. Apalagi kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari komunitas Gusdurian, akademisi, tokoh lintas agama dan kepercayaan, individu, dan juga masyarakat sipil.

Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa, selaku Direktur Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa TUNAS Gusdurian ini merupakan wadah bagi siapa saja yang mau meneladani Gus Dur dan Pemikirannya. Melalui forum ini, diharapkan semua kalangan mampu menjaga dan meneladani apa yang sudah digagas oleh Gus Dur.

Acara TUNAS Gusdurian dihadiri dan diisi oleh para tokoh penting negeri ini seperti Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Mahfud MD mengatakan bahwa “Gus Dur pernah bilang, kekuasaan itu bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Gus Dur tidak pernah mengorbankan rakyat demi mempertahankan jabatan”.

Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi tanpa hukum akan melahirkan anarki karena aturan kehilangan daya ikatnya. Sebaliknya, hukum tanpa demokrasi hanya akan memperkuat kesewenang-wenangan penguasa.

Dalam acara penutupan TUNAS Gusdurian, Alissa membacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia berharap supaya seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini dapat menjaga apa yang sudah diwariskan oleh Gus Dur dan melanjutkan pemikirannya.

 

Editor: Fajri Muarrikh

 

Gus Dur Center for Humanitarian Studies Persembahkan Buku Islam Garis Jenaka pada Acara Tunas Gusdurian 2025

Jakarta | Kehadiran buku Islam Garis Jenaka dalam gelaran Temu Nasional (TUNAS) Jaringan Gusdurian 2025 (31/08/2025) menjadi penanda penting bagi lahirnya kesadaran akademik untuk merawat dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Buku ini merupakan karya kolektif dosen-dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) yang sebelumnya mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang merupakan sekolah pemikiran pertama di Indonesia yang secara khusus diikuti para akademisi.

Kesadaran akademik tersebut lahir sebagai amanah: bahwa UIN Gus Dur sebagai kampus yang mengusung nama besar Gus Dur harus mampu menjaga, merawat, dan menghidupkan pemikiran serta perjuangannya di ranah pendidikan tinggi. Persembahan buku ini menjadi wujud konkret komitmen tersebut.

Proses lahirnya Islam Garis Jenaka tidaklah singkat. Ia berawal dari pendalaman intensif terhadap gagasan dan pemikiran Gus Dur yang didampingi langsung oleh tim dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian: Jay Akhmad, Aulia Abdurrahman Saleh (Leak), Sarjoko, serta Marzuki Wahid sebagai salah satu murid sekaligus senior intelektual Gus Dur. Setelah tahap pendalaman, proses penulisan buku ini didampingi oleh para mentor sekaligus penulis berpengalaman di media online nasional dan internasional, seperti Muhammad Pandu, Supriansyah, Autad Nasir, dan Suhairi.

Sampul buku "Islam Garis Jenaka"

Koordinator Sekolah Pemikiran Gus Dur, Dewi Anggraeni, menegaskan bahwa karya ini hadir bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kesungguhan dan semangat para dosen UIN Gus Dur. “Ada spirit besar dari para dosen untuk mengejawantahkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur di dunia kampus. Semangat itulah yang menjadikan karya ini bukan sekadar buku, tetapi juga bentuk nyata dedikasi akademisi dalam merawat warisan intelektual Gus Dur,” ungkapnya.

Buku ini kemudian mendapat pengantar dari Rektor UIN Gus Dur yang menegaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga dituliskan. “Tulisan-tulisan tentangnya menjadi jembatan untuk menghidupkan dan menginternalisasikan pemikiran serta perjuangannya. Dari goresan tinta lahir gagasan-gagasan yang menembus batas ruang dan waktu, kemudian membentuk kesadaran kolektif yang terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Nur Kholis, menambahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang melampaui zamannya. “Gus Dur adalah simbol kemerdekaan sekaligus keterhubungan. Lampauan yang dilakukan Gus Dur memerdekakan dirinya, sekaligus memberinya super connectivity yang mampu menjangkau lintas batas”, jelasnya.

Sebagai penutup, Maghfur menulis epilog yang menggarisbawahi peran humor dalam kepemimpinan Gus Dur. “Di tangan Gus Dur, humor menjadi instrumen kontrol politik, sarana menarik massa, sekaligus jalur diplomasi tingkat tinggi. Humor juga menjadi pintu masuk kajian Islam yang diharapkan dapat melahirkan pemikiran, pemahaman, dan tindakan keagamaan yang ramah, santai, menyegarkan, dan kerap tak terduga.”

Hadirnya buku Islam Garis Jenaka di Tunas Gusdurian 2025 adalah sumbangsih dosen-dosen UIN Gus Dur dalam menghidupkan nilai-nilai Gus Dur di dunia akademik yang menjadi inspirasi bahwa pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus dikaji, ditulis, dan diwariskan sebagai nafas dalam pengetahuan lintas generasi.

 

Penulis : Dewi Anggraeni

Editor: Fajri Muarrikh

KKN Nusantara 2025 Resmi Berakhir, Kontingen UIN Gus Dur Sabet Juara Beberapa Lomba

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Amarul Hakim

Kulonprogo – Tepat 45 hari sejak diterjunkan pada 6 Juli 2025, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta secara resmi melakukan penarikan terhadap 322 mahasiswa KKN Nusantara 2025 dari 34 Universitas Islam Negeri di Indonesia di Halaman Kantor Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo, pada Selasa, (19/08).

Bukan sekedar seremonial penarikan, panitia juga menyelenggarakan pameran hasil program kerja bagi 25 kelompok KKN Nusantara yang juga disambut dengan baik oleh mahasiswa, dosen, serta Camat Kalibawang. Kontingen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan turut serta dalam penarikan. Beberapa dari mereka berhasil menyabet juara dalam berbagai kategori lomba.

Baca juga: KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Moh. Alwi Andiansyah Saputra, perwakilan kelompok 22 Dukuh Jurang Depok telah berhasil mendapatkan juara 2 kategori video dokumenter dengan tema “Profil Dukuh Jurang Depok,” dan Dimas Adi Pangestu perwakilan kelompok 10 Dukuh Kriyan telah berhasil mendapatkan juara 2 kategori postraksi dengan judul “Kriyan Harmoni Menyemai Toleransi Menuai Perdamaian.”

Dalam kesempatan tersebut, Risdiyanto Nugroho selaku Camat Kalibawang menyampaikan sambutannya, bahwa selama KKN, tidak ada laporan negatif dari kelurahan maupun padukuhan.

“KKN berjalan dengan baik, tidak ada laporan negatif dari kelurahan maupun padukuhan,” ujarnya.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan Kampung Moderasi Beragama di Linggoasri

Syamsul selaku Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Pekalongan yg turut hadir dalam penarikan menyampaikan, “Syukur alhamdulillah 2 dari 6 mahasiswa UIN Gus Dur yang mewakili KKN Nusantara memperoleh prestasi yang membanggakan, semua 6 mahasiswa kontingen UIN Gus Dur sangat baik dalam mengikuti KKN Nusantara dan kegiatan ini memberikan pengalaman yang baik kepada mahasiswa dalam praktik moderasi beragama di masyarakat.”

Turut hadir dalam penarikan tersebut perwakilan Kementerian Agama Nur Khafid serta jajaran LPPM universitas lain yang mengirimkan kontingen.

Semarak Kemerdekaan Kampung Moderasi Beragama di Linggoasri

Pekalongan – Dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, Desa Linggoasri, menggelar rangkaian acara meriah pada Minggu, 17 Agustus 2025. Kegiatan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat Linggoasri, mulai dari perangkat desa Linggoasri, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, sekolah TK hingga SD, dan segenap masyarakat Linggoasri.

Acara diawali dengan upacara HUT RI di lapangan Peluang Jaya, Linggoasri, pada pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB. Sebagaimana tema Kemerdekaan RI Ke-80, yakni Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju, Bapak Imam Nuryanto selaku Kepala Desa Linggoasri dalam pidatonya menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman sebagai kekuatan yang dapat mempererat persatuan. “Jangan biarkan perbedaan agama, hingga adat istiadat memecah belah kita, tetapi jadikan keberagaman sebagai kekuatan yang mempersatukan kita,” tuturnya.

Setelah upacara kemerdekaan, acara dilanjutkan dengan karnaval kemerdekaan yang diikuti oleh perwakilan masyarakat dari masing-masing dukuh di Linggoasri. Peserta karnaval menunjukan kreativitasnya dengan tema kemerdekaan, seperti salah satunya dari Dukuh Sadang yang menampilkan motor yang dihias seperti gergaji, dan pesertanya yang menggunakan kostum matapencaharian masyarakat.

Dok. HijrAtunaa Karnaval Kemerdekaan RI Ke-80 (Linggoasri, 17/8)

Kemeriahan Karnaval dengan rute dari lapangan Peluang Jaya menuju Balai Desa Linggoasri yang juga sekaligus acara jalan sehat dimana warga mendapatkan kupon undian berhadiah. Acara dilanjutkan dengan perlombaan yel-yel dari 8 kelompok masyarakat. Adapun juara 1 dari perlombaan ini adalah Yosorejo-Cokrah, juara 2 diraih oleh Rejosari RT 2, dan juara 3 diraih oleh Yosorejo-Tandon. Ditengah-tengah berlangsungnya lomba, adapula pembagian kupon undian doorprize

Selain lomba yel-yel, dilanjutkan lomba karaoke yang meriah dan menarik perhatian. Adapun pengumuman lomba karaoke dilaksanakan pada malam resepsi sekaligus acara pentas seni yang menampilkan seni menyanyi, serta tari kreasi dari anak-anak Sekolah Dasar Negeri 01 Linggoasri, kelas 2 hingga kelas 6, dan seni tari dari warga desa Linggoasri. Setelah pertunjukkan pentas seni berlangsung, kemudian dilanjutkan acara pengumuman undian doorprize jalan sehat, dan acara Karawitan dari Ibu-Ibu WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia). Sebagai penutup, pemenang lomba karaoke menghibur masyarakat Desa Linggoasri di malam kemeriahan HUT RI Ke-80. Serangkaian acara malam resepsi ini berlangsung dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

 

Rangkaian acara ini menjadi bentuk perwujudan sikap moderasi beragama yang dapat memperkuat kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama, dimana berbagai umat beragama saling bergotong royong membantu memeriahkan acara perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 di Desa Linggoasri.

Sambut Kemerdekaan, Desa Linggoasri Gelar Doa Bersama Antarumat Beragama

Penulis : Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Pekalongan – Daalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-80, Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, mengadakan acara malam renungan dan doa bersama antarumat beragama, Sabtu 16 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Balai Desa Linggoasri yang telah menjadi agenda rutinan tahunan setiap malam menjelang perayaan Dirgahayu Republik Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan ini dihadiri oleh segenap perangkat desa, tokoh agama serta tokoh masyarakat Desa Linggoasri. Kepala Desa Linggoasri, Imam Nuryanto pada sambutannya menekankan bahwa acara malam renungan dan doa bersama bukan hanya sebuah seremonial semata, namun juga menjadi sarana instropeksi diri dan selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik demi menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)
Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang diawali doa dari agama Hindu dengan dipimpin oleh Pemangku Agama Hindu, bapak Taswono, kemudian dilanjutkan doa dari agama Islam yang dipandu oleh Bapak Kyai Mustajirin Toyib. Lantunan doa-doa yang dipanjatkan agama Hindu dan Islam merupakan bentuk rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga persatuan dan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun ke-80 hingga tahun-tahun berikutnya.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, makan bersama nasi tumpeng yang merupakan simbol dari rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui rangkaian acara ini, warga desa linggoasri berharap semangat persatuan dan kerukunan warga dan antarumat beragama terus terjaga sebagai wujud nyata dalam menyambut kemerdekaan Rebuplik Indonesia.

KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Penulis:Moh. Alwi Ardiansyah ,Editor: Muslimah

Kulon Progo — Rabu, (13/8) KKN Nusantara V yang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, menggelar kegiatan sosialisasi NAPZA di Posyandu Bina Sehat. Mengusung tema “Remaja Berprestasi Tanpa NAPZA, Masyarakat Kuat Bersatu Melawan Penyalahgunaan”, acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, sekaligus mengajak seluruh warga menjadi pionir pencegahan di lingkungannya.

Kegiatan ini menghadirkan Moh. Alwi Andiansyah Saputra, mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Alwi menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA tidak hanya merusak fisik dan mental individu, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda dan ketahanan sosial masyarakat. Ia juga memaparkan berbagai tanda-tanda penyalahgunaan NAPZA, faktor penyebab, hingga strategi pencegahan yang bisa dilakukan keluarga dan masyarakat.

Baca juga:  Memerangi Narkoba, Menyelamatkan Bangsa: Belajar dari Fredy Pratama

“Remaja harus memiliki orientasi masa depan yang jelas dan kegiatan positif yang membangun. Jika lingkungan dan keluarga hadir sebagai pendukung, maka peluang terjerumus ke NAPZA akan jauh lebih kecil,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri dari remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat setempat.

Acara ini dipandu oleh moderator Natasya Herliani, mahasiswa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang membawakan sesi tanya jawab secara interaktif. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara mengenali tanda awal kecanduan dan langkah konkret yang bisa dilakukan bersama untuk mencegah peredaran NAPZA di tingkat pedukuhan.

Bu Sutiyem, salah satu tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dan bermanfaat, terutama di tengah maraknya kasus penyalahgunaan narkoba yang menyasar generasi muda. “Pencegahan harus dimulai dari pengetahuan. Sosialisasi ini membuka wawasan kami bahwa melawan NAPZA adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, KKN Nusantara V berharap masyarakat Dukuh Jurang Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif berperan sebagai agen perubahan. Edukasi, kepedulian, dan sinergi antarwarga diharapkan menjadi benteng kuat yang mampu melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

Eksklusif, Kelompok I KKN Nusantara Resmi Rilis Film Pendek “Pulang Sebelum Gelap”

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Kelompok I KKN Nusantara yang bertempat di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo secara resmi merilis film pendek berjudul “Pulang Sebelum Gelap” di halaman rumah Kepala Dukuh Tumijo pada Senin malam, (11/08).

“Pulang Sebelum Gelap” mengangkat tema bahaya narkoba dan judi online dengan durasi 11 menit. Film ini memakan 16 hari proses pengerjaan, yaitu 2 hari untuk pengambilan gambar, dan 14 hari untuk penyuntingan. Semua tahapan pembuatan film pendek ini melibatkan peran aktif mahasiswa Kelompok I KKN Nusantara dan Karang Taruna Kanoman I.

Produser sekaligus penulis naskah film Pulang Sebelum Gelap, Ika Amiliya Nurhidayah mengungkapkan, bahwa ditinjau dari sisi religius, film ini juga menyimpan makna yang cukup dalam, bahwa pintu taubat itu selalu terbuka untuk siapapun yang bersedia untuk kembali pada jalan-Nya.

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Delapan puluh warga Kanoman I telah menyaksikan penayangan perdana film pendek ini. Mereka mengaku kagum dengan film yang ditampilkan meskipun berdurasi singkat.

Tidak sekadar penayangan film, forum ini juga diisi dengan edukasi bahaya narkoba dan judi online oleh Aiptu Suharyatno selaku Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Kalibawang.

Beliau mengimbau kepada warga agar tidak takut untuk melaporkan penyalahgunaan narkoba kepada pihak yang berwajib, karena sering kali warga merasa takut untuk menjadi saksi.

Baca juga: Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

“Yang sering jadi masalah itu warga takut melapor, takut menjadi saksi, padahal pak, buk, saksi oleh kami itu dilindungi, jadi tidak perlu takut” ujarnya.

Kelompok I berharap, warga Kanoman I dapat mengambil pelajaran yang berharga dari film ini.