Tradisi Megengan dalam Memperkuat Toleransi dan Kebersamaan Antarumat Beragama

Penulis: Farakh Indina, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya, suku, dan agama yang luar biasa. Di tengah keberagaman ini, tradisi lokal menjadi jembatan penting dalam merawat harmoni sosial. Salah satunya adalah Megengan, sebuah ritual menyambut bulan Ramadan yang kental dengan nilai kebersamaan dan toleransi, khususnya di wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

Megengan berasal dari kata “megeng” dalam bahasa Jawa yang berarti “menahan”. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa menjelang Ramadan sebagai bentuk simbolis untuk menahan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Sebagai persiapan memasuki bulan suci, rangkaian kegiatan Megengan biasanya meliputi doa bersama, pembacaan tahlil untuk leluhur, serta pembagian makanan kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Hidangan khas yang wajib ada dalam tradisi ini adalah kue apem, yang melambangkan permohonan maaf (afuan) dan harapan akan keberkahan.

Baca juga: Tradisi Lomba Dayung Tradisional dalam Memperkokoh Kearifan Lokal serta Persaudaraan Antarnelayan di Klidang Lor, Batang

Walaupun Megengan erat kaitannya dengan umat Islam, pelaksanaannya sering kali melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang keyakinan. Dalam konteks ini, Megengan bertransformasi dari sekadar ritual keagamaan menjadi simbol kebudayaan inklusif. Warga dari berbagai latar belakang agama dapat berbaur dan membangun relasi sosial yang harmonis. Hal ini membuktikan bahwa tradisi lokal memiliki kekuatan untuk merangkul perbedaan, memperkuat rasa saling menghormati, dan mempererat tali persaudaraan antarumat beragama.

Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi yang efektif. Sering kali, tetangga nonmuslim turut diundang untuk makan bersama atau menerima hantaran makanan. Praktik ini menciptakan ruang interaksi sekaligus mengikis sekat-sekat sosial akibat perbedaan keyakinan. Semangat berbagi dalam Megengan menumbuhkan empati sosial; umat Islam diajarkan untuk memberi kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang agama, usia, maupun status sosial.

Baca juga: Tradisi Ruwatan Sebagai Akulturasi dan Moderasi Beragama Dalam Masyarakat Jawa

Lebih jauh lagi, Megengan menunjukkan bahwa nilai-nilai agama yang dibumikan melalui konteks budaya dapat menjadi alat pemersatu yang kuat. Melestarikan tradisi ini bukan sekadar menjaga warisan leluhur, melainkan juga memperkuat fondasi toleransi di tengah masyarakat pluralistik. Upaya menciptakan kerukunan tidak selalu harus melalui kebijakan formal negara, tetapi bisa tumbuh secara organik dari akar budaya masyarakat itu sendiri.

Megengan memberi ruang bagi masyarakat untuk mempraktikkan nilai sosial secara nyata. Ketika warga saling mengunjungi dan bergotong royong, mereka sedang memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi perdamaian. Di tengah dunia yang kerap dilanda konflik identitas, Megengan menjadi pengingat sederhana bahwa kedamaian bisa dibangun melalui aksi nyata: saling menyapa, memberi, dan menghormati.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Sebagai penutup, tradisi Megengan adalah instrumen sosial yang sangat relevan untuk memperkuat solidaritas bangsa. Tradisi ini membuktikan bahwa kebersamaan dan saling menghargai bukanlah sekadar idealisme, melainkan praktik hidup yang membumi dan mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Wajah Sejuk Islam: Menemukan Spirit Moderasi Dalam Jejak Sunnah

Penulis: Muhammad Hamdi Yahya*; Penyunting: Nafis Mahrusah

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang kian terpolarisasi, agama sering kali ditampilkan dengan wajah yang tegang, kaku, dan penuh sekat. Narasi keberagamaan kita hari ini kerap terjebak dalam dua ekstremitas, antara semangat konservatisme yang tertutup atau liberalisme yang tercerabut dari akar tradisi. Padahal, jika kita bersedia menepi sejenak dari kegaduhan tersebut, kita akan menemukan sebuah oase spiritual yang menawarkan kesejukan luar biasa, sebuah jalan tengah yang pernah diletakkan fondasinya oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Namun, ironisnya, pemahaman kita terhadap Sunnah Nabi sering kali tereduksi hanya sebatas pada simbol-simbol lahiriah atau rutinitas ritual yang mekanistis. Kita sibuk mendebat panjang pendeknya jubah atau jenis makanan, namun sering kali alpa menyentuh substansi terdalam dari perilaku beliau, yaitu kasih sayang (rahmah) dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan. Sunnah bukan sekedar artefak masa lalu yang statis, melainkan energi hidup yang seharusnya mampu mencairkan kebekuan sosial yang terjadi saat ini.

Membicarakan “Wajah Sejuk Islam” berarti mencoba membedah kembali lembar demi lembar sejarah kenabian dengan kacamata yang lebih jernih. Di sana, kita tidak akan menemukan sosok yang memaksakan kehendak dengan kekerasan, melainkan pribadi yang merangkul musuh dengan keluhuran budi. Inilah spirit moderasi atau wasathiyah yang sejati, sebuah posisi tegak di tengah badai ekstremisme yang mampu merangkul semua pihak tanpa kehilangan jati diri keimanannya.

Moderasi beragama dalam jejak Sunnah bukanlah sebuah upaya untuk mendangkalkan akidah atau berkompromi dengan prinsip-prinsip dasar ibadah. Sebaliknya, ia adalah puncak dari pemahaman agama yang matang, di mana seseorang mampu bersikap tegas pada diri sendiri namun tetap luwes dan inklusif kepada orang lain. Jejak-jejak langkah Nabi di Madinah adalah bukti nyata bahwa ruang publik yang damai hanya bisa dibangun dengan fondasi saling menghormati, bukan dengan penghakiman yang bertubi-tubi.

Artikel ini akan mengajak kita untuk menelusuri kembali lorong-lorong sejarah dan teks-teks hadis, bukan untuk mencari pembenaran atas kelompok sendiri, melainkan untuk menemukan kembali “ruh” moderasi yang mungkin tertutup debu prasangka. Dengan memahami Sunnah secara kontekstual, kita akan menyadari bahwa menjadi pengikut Nabi yang setia berarti menjadi pelopor perdamaian yang menghadirkan kesejukan bagi semesta, menjadikan Islam bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rumah yang teduh bagi kemanusiaan.

Rekonstruksi Makna Sunnah: Lebih dari Sekedar Ritual

Upaya mendefinisikan kembali Sunnah di era kontemporer menuntut kita untuk berani melampaui batas-batas formalisme yang selama ini memenjara makna agama sebatas pada kulit luar dan simbol-simbol lahiriah belaka. Rekonstruksi makna ini bukan bertujuan untuk mendegradasi nilai ritual, melainkan untuk menggali kembali “intan terpendam” dari setiap gerak-gerik kenabian yang sejatinya adalah manifestasi dari transformasi karakter dan etika sosial yang luhur. Sunnah bukanlah artefak sejarah yang statis, yang hanya kita tiru cara berpakaian atau pola makannya secara mekanistis, namun ia adalah energi spiritual yang dinamis, sebuah peta jalan bagi kemanusiaan untuk menghadirkan kembali wajah Tuhan yang penuh cinta dan keadilan di tengah gersangnya moralitas dunia modern. Dengan membedah Sunnah sebagai respons etis terhadap problematika zaman, kita akan menemukan bahwa esensi terpenting dari warisan Nabi adalah kemampuan untuk bersikap proporsional, cerdas dalam bertindak, dan senantiasa menjadi oase bagi kegelisahan sosial di sekitarnya.

Sering kali, kesalehan seseorang dalam ber-Sunnah secara sempit hanya diukur dari sejauh mana ia mampu mereplikasi atribut lahiriah yang menempel pada fisik sang Nabi. Kita terjebak dalam romantisme estetika masa lalu, mulai dari gaya berpakaian hingga gaya rambut, namun kerap melupakan bahwa di balik jubah dan sorban tersebut bersemayam sebuah kekuatan etika yang mampu mengubah peradaban jahiliah menjadi peradaban yang beradab. Menjadikan Sunnah sebatas urusan busana adalah sebuah reduksi yang menyedihkan, sebab esensi sejati dari mengikuti langkah Rasulullah bukan terletak pada bagaimana kita terlihat di depan cermin, melainkan bagaimana kita bersikap di hadapan perbedaan dan penderitaan sesama manusia.

Transformasi karakter (character building) merupakan jantung dari setiap gerak-gerik kenabian yang seharusnya menjadi fokus utama setiap Muslim. Nabi Muhammad SAW tidak diutus sekedar untuk mengubah mode pakaian bangsa Arab, melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak yang menjadi fondasi bagi hubungan sosial yang harmonis. Dalam konteks ini, Sunnah harus dipahami sebagai proses internalisasi nilai-nilai kejujuran (shiddiq), tanggung jawab (amanah), dan kecerdasan sosial (fathanah) ke dalam ruang batin kita. Ketika nilai-nilai ini telah mendarah daging, maka dengan sendirinya perilaku kita akan memancarkan spirit moderasi yang meneduhkan, tanpa perlu lagi berteriak paling benar hanya karena merasa telah serupa secara visual.

Oleh karena itu, mengedepankan keluhuran budi pekerti di atas formalisme estetika adalah kunci untuk menghadirkan kembali “Wajah Sejuk Islam” di panggung dunia. Seseorang yang benar-benar menghidupkan Sunnah akan lebih sibuk menata keikhlasan niat dan kelembutan tutur kata daripada sekedar memamerkan simbol-simbol keagamaan yang kering dari empati. Inilah substansi dari moderasi, sebuah kesadaran bahwa integritas moral dan transformasi perilaku jauh lebih mendesak untuk diperjuangkan daripada sekedar mengejar pengakuan lewat atribut luar. Dengan cara inilah, Islam tidak lagi dipandang sebagai agama yang sibuk dengan urusan kulit, melainkan agama yang menawarkan solusi etis bagi krisis kemanusiaan universal.

Semangat transformasi etika tersebut secara organik bertautan dengan salah satu pilar fundamental dalam metode beragama Nabi, yaitu prinsip Taisir atau kemudahan. Dalam setiap helaan nafas dakwahnya, Rasulullah SAW bukanlah sosok yang gemar mempersulit keadaan atau menciptakan jeratan hukum yang menyesakkan dada umatnya. Sebaliknya, beliau adalah arsitek kemudahan yang selalu mencari celah solusi di tengah himpitan persoalan, selama hal itu tidak melanggar batas-batas sakralitas akidah. Prinsip ini menjadi antitesis yang sangat tajam bagi kelompok yang sering kali menampilkan wajah agama dengan kening berkerut, penuh ancaman, dan cenderung memilih jalan yang paling membebani sebagai tolok ukur “kebenaran”.

Rekam jejak Nabi dalam urusan kemasyarakatan menunjukkan bahwa moderasi beragama justru terletak pada kemampuan untuk memahami batasan kemampuan manusia. Beliau sangat menyadari bahwa keberagaman kapasitas intelektual dan kondisi sosial menuntut fleksibilitas, bukan kekakuan yang membatu. Ketika dihadapkan pada dua pilihan dalam urusan duniawi maupun muamalah, sejarah mencatat bahwa Nabi hampir selalu memilih opsi yang paling ringan dan paling mungkin dijalankan oleh orang banyak. Filosofi “memudahkan bukan mempersulit” ini bukan berarti meremehkan syariat, melainkan sebuah bentuk kasih sayang profetik agar agama tetap menjadi rumah yang nyaman dan relevan bagi semua kalangan, bukan menjadi beban psikologis yang menjauhkan umat dari Tuhannya.

Dengan menghidupkan kembali spirit Taisir ini, kita secara langsung sedang meruntuhkan tembok-tembok radikalisme yang sering kali dibangun di atas fondasi keberagamaan yang kaku dan hitam-putih. Sikap beragama yang memudahkan adalah kunci untuk menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat yang majemuk, karena ia mengedepankan substansi maslahat di atas formalitas yang memberatkan. Di sinilah wajah sejuk Islam benar-benar nampak nyata, yaitu ketika para pemeluknya mampu menyederhanakan yang rumit, mendamaikan yang berselisih, dan memberikan harapan bagi mereka yang hampir putus asa karena merasa tidak mampu memikul beban agama yang dibuat-buat oleh manusia.

Prinsip memudahkan (Taisir) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sejatinya bukanlah sebuah ruang hampa, melainkan sebuah respons cerdas terhadap denyut nadi kehidupan masyarakat pada masanya. Jika kita bersedia menggali lebih dalam, kita akan menyadari bahwa setiap tindakan dan ketetapan Nabi bukanlah sekedar dogma yang turun dari langit tanpa alasan, melainkan sebuah jawaban solutif atas berbagai problematika sosiologis yang tengah melanda jazirah Arab kala itu. Sunnah, dalam perspektif ini, tampil sebagai entitas yang sangat dinamis, sebuah gerakan perubahan yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman dengan kecerdasan emosional dan sosial yang luar biasa tinggi.

Memahami Sunnah sebagai respons sosial berarti kita harus berani keluar dari cara pandang yang melihat warisan Nabi sebagai doktrin yang membeku dan kaku. Rasulullah adalah seorang pemimpin yang sangat kontekstual, beliau tidak pernah memaksakan sebuah aturan tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis dan kemaslahatan publik yang ada di hadapannya. Oleh karena itu, mengikuti Sunnah bukan berarti kita harus memindahkan seluruh realitas abad ketujuh ke masa kini secara mentah, melainkan kita harus mampu menangkap “ruh” atau pesan utama di balik setiap tindakan beliau untuk kemudian kita formulasikan kembali sebagai solusi atas krisis sosial di era modern.

Karakteristik Sunnah yang solutif ini memberikan kita ruang bernafas untuk menjadikan agama sebagai inspirasi yang selalu relevan, bukan sebagai beban sejarah yang menghambat kemajuan. Ketika Nabi melakukan sebuah tindakan, di sana terdapat pertimbangan matang mengenai keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. Inilah yang membuat Islam mampu bertahan dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, bukan karena kekakuan ajarannya, melainkan karena kelenturan energinya dalam beradaptasi dengan berbagai kebudayaan tanpa harus kehilangan identitas asasinya.

Menjadikan Sunnah sebagai pijakan dalam merespons isu-isu sosial masa kini, seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, hingga krisis ekologi, adalah bentuk moderasi beragama yang paling nyata. Kita tidak lagi sibuk mempertengkarkan teks secara harfiah, melainkan sibuk menghadirkan peran agama sebagai “pendingin” di tengah panasnya gesekan sosial. Dengan cara pandang yang luas ini, wajah sejuk Islam tidak hanya menjadi slogan puitis, tetapi menjadi gerakan nyata yang mampu menyentuh luka-luka kemanusiaan dengan balutan kearifan nabawi yang abadi.

Diplomasi Madinah: Masterpiece Moderasi Nabi

Setelah kita memahami bahwa Sunnah adalah gerakan etika yang dinamis, mata kita perlu tertuju pada satu titik balik sejarah yang menjadi bukti paling gemilang dari kecerdasan sosial Rasulullah, yakni tatanan masyarakat di Madinah. Kota ini bukan sekedar menjadi tempat migrasi fisik, melainkan sebuah laboratorium sosial berskala besar di mana Nabi Muhammad SAW mendemonstrasikan bagaimana sebuah keberagaman yang sangat kontras dapat dirajut menjadi satu kekuatan yang kohesif. Diplomasi Madinah bukan hanya sebuah strategi politik untuk bertahan hidup, melainkan sebuah masterpiece atau karya agung moderasi yang menunjukkan bahwa Islam tidak hadir untuk menghapus entitas lain, melainkan untuk membangun sebuah rumah bersama yang berlandaskan pada keadilan dan penghormatan setara. Di sinilah, konsep kewargaan modern pertama kali diletakkan, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi terciptanya harmoni dan kerja sama dalam bingkai kemanusiaan yang inklusif.

Pilar utama dari diplomasi yang dibangun di Madinah adalah lahirnya sebuah dokumen revolusioner yang melampaui zamannya, yakni Piagam Madinah. Kontrak sosial ini bukan sekedar perjanjian damai yang bersifat sementara atau transaksional, melainkan sebuah deklarasi kemanusiaan yang meletakkan dasar bagi sistem kewarganegaraan inklusif. Dalam dokumen tersebut, komunitas non-Muslim tidak dipandang sebagai kelompok pinggiran yang sekedar ditoleransi keberadaannya, melainkan diakui sebagai subjek hukum yang berdaulat. Langkah ini merupakan lompatan besar dalam sejarah peradaban, di mana identitas keagamaan tidak lagi menjadi satu-satunya parameter untuk mendapatkan perlindungan dan hak-hak sipil di ruang publik.

Transformasi status dari objek menjadi subjek hukum ini memberikan pesan kuat bahwa dalam bingkai moderasi Nabi, setiap individu memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga stabilitas dan keamanan negara. Piagam Madinah menegaskan bahwa umat Islam, Yahudi, dan kelompok lainnya adalah satu kesatuan komunitas (ummah wahidah) dalam urusan pertahanan nasional. Kesetaraan ini bukan hanya soal hak untuk beribadah secara bebas, tetapi juga tentang hak untuk berdiri tegak membela tanah air dengan kedudukan yang setara di mata hukum. Inilah bentuk nyata dari spirit moderasi yang mengakui pluralitas bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai aset yang harus diikat dalam komitmen kebangsaan yang adil.

Melalui narasi inklusivitas ini, Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kerukunan beragama hanya bisa dicapai jika ada pengakuan tulus terhadap eksistensi pihak lain. Tidak ada upaya pemaksaan asimilasi identitas, melainkan sebuah konsensus untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati batas-batas keyakinan masing-masing. Strategi diplomasi ini membuktikan bahwa wajah sejuk Islam mampu merangkul keberagaman dengan cara memberikan ruang yang aman bagi setiap kelompok untuk berkontribusi secara nyata bagi kemaslahatan bersama. Dengan demikian, moderasi bukan lagi sekedar retorika, melainkan sebuah sistem sosial yang operasional dan teruji secara historis.

Puncak dari kematangan diplomasi Nabi Muhammad SAW tidak hanya terlihat saat beliau membangun koalisi di Madinah, tetapi justru terpancar paling terang ketika beliau berada di posisi pemenang. Peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekkah menjadi panggung sejarah yang memperlihatkan bagaimana etika berkonflik dalam Islam jauh melampaui logika penaklukan pada umumnya. Di saat para panglima perang biasanya merayakan kemenangan dengan pertumpahan darah atau pembersihan etnis terhadap lawan politik yang pernah menyiksa mereka, Rasulullah justru menghadirkan narasi yang kontradiktif, sebuah rekonsiliasi akbar yang berbasis pada pengampunan massal tanpa syarat.

Keputusan Nabi untuk membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi penduduk Mekkah yang dahulu menjadi musuh bebuyutannya adalah bentuk nyata dari dekonstruksi terhadap budaya balas dendam politik. Beliau tidak memilih jalur hukuman kolektif, melainkan mengedepankan martabat kemanusiaan dengan kalimat ikonik, “Pergilah, kalian semua bebas.” Sikap ini membuktikan bahwa spirit moderasi dalam jejak Sunnah bukan lahir dari kelemahan, melainkan dari kekuatan moral yang luar biasa untuk memutus rantai kebencian. Dengan memilih persaudaraan di atas dendam, Nabi menunjukkan bahwa tujuan akhir dari perjuangan agama adalah transformasi musuh menjadi kawan, bukan penghancuran pihak yang berbeda haluan.

Secara sosiologis, strategi rekonsiliasi ini merupakan kunci stabilitas jangka panjang yang sangat efektif dalam merawat kemajemukan. Melalui kebijakan “tanpa darah” di Mekkah, Rasulullah berhasil menyatukan kepingan-kepingan fanatisme kesukuan yang terpecah menjadi satu kesatuan yang solid di bawah naungan keadilan. Wajah sejuk Islam dalam momen ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika pihak yang kuat bersedia meletakkan egonya demi kemaslahatan yang lebih besar. Inilah masterpiece moderasi yang menjadikan Sunnah sebagai mercusuar bagi siapa pun yang ingin menyelesaikan konflik tanpa harus meninggalkan luka di hati lawan.

Etika rekonsiliasi yang diperagakan Rasulullah di panggung politik kemudian mewujud secara konkret dalam keseharian masyarakat melalui penciptaan ruang publik yang dialogis. Di Madinah, moderasi bukan hanya menjadi teks dalam piagam, melainkan menjadi udara yang dihirup warga saat mereka bertemu di pusat-pusat keramaian. Nabi Muhammad SAW berhasil menyulap masjid dan pasar, dua kutub utama kehidupan manusia, menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang sangat cair, di mana interaksi antarindividu terjadi tanpa sekat diskriminasi identitas yang kaku.

Masjid Nabawi pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah yang tertutup bagi umat Islam semata, melainkan menjelma sebagai pusat diplomasi dan dialog kemanusiaan. Sejarah mencatat bagaimana Nabi dengan kelapangan hati menerima delegasi Nasrani dari Najran di dalam masjid, bahkan mempersilakan mereka melaksanakan prosesi doa menurut keyakinannya di sudut bangunan suci tersebut. Fenomena ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa dalam jejak Sunnah, kesucian tempat ibadah tidak menghalangi keterbukaan untuk menjalin komunikasi yang bermartabat dengan mereka yang berbeda iman.

Sementara itu, pasar di Madinah tumbuh menjadi laboratorium sosial di mana etika ekonomi Islam bersentuhan langsung dengan keragaman tradisi masyarakat. Di ruang niaga ini, transaksi tidak didasarkan pada latar belakang etnis atau agama, melainkan pada kejujuran dan kepercayaan timbal balik. Nabi memastikan bahwa keadilan pasar adalah milik semua orang, tidak boleh ada monopoli yang menindas kaum minoritas maupun diskriminasi harga yang berbasis pada kebencian personal. Suasana pasar yang inklusif ini menciptakan ketergantungan ekonomi yang sehat, yang secara perlahan mengikis prasangka sosial dan memperkuat kohesi di tengah masyarakat heterogen.

Keberhasilan Nabi dalam merawat ruang publik yang dialogis ini memberikan pelajaran penting bahwa harmoni sosial hanya bisa tumbuh di atas fondasi interaksi yang jujur dan tanpa rasa takut. Ketika ruang publik tidak lagi dipenuhi oleh curiga dan penghakiman, maka “Wajah Sejuk Islam” akan nampak dengan sendirinya melalui sikap-sikap santun para pemeluknya. Sunnah dalam konteks ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang terbuka, yang mampu menjadikan setiap tempat pertemuan sebagai sarana untuk menebar rahmat dan memperluas cakrawala persaudaraan manusia, melampaui batas-batas primordial yang sering kali memecah belah.

*Mahasiswa Informatika UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Cinta Sebagai Kurikulum, Cara Baru Mengajarkan Moderasi Tanpa Menggurui

Penulis: Chilya Aghnis Shalicha*, Penyunting: Muslimah

Selama ini, moderasi beragama sering kali hadir di ruang-ruang kelas sebagai tumpukan teks kaku dan hafalan dogma yang kering. Kita terjebak dalam ambisi untuk membuat siswa hafal apa itu toleransi, namun sering kali lupa membuat mereka merasakan esensi dari kebersamaan itu sendiri. Akibatnya, moderasi hanya menjadi komoditas akademik yang diujikan di atas kertas, sementara di dunia nyata, sekat-sekat prasangka tetap berdiri kokoh karena pesan damai tersebut tidak pernah benar-benar menyentuh ruang batin pembelajar.

Pendekatan instruksional yang bersifat top-down dan cenderung menggurui justru kerap melahirkan resistensi tersembunyi. Saat keberagaman diajarkan dengan telunjuk yang menuding atau aturan yang mengancam, nilai-nilai moderasi tidak akan tumbuh sebagai kesadaran, melainkan sebagai beban kepatuhan. Kita butuh cara baru yang lebih subtil namun mendalam, sebuah metode yang mampu meruntuhkan tembok ego tanpa harus melukai keyakinan pribadi seseorang.

Di sinilah “Kurikulum Cinta” menawarkan diri sebagai paradigma alternatif. Alih-alih membebani otak dengan definisi teoretis yang rumit, pendekatan ini mengutamakan keterhubungan rasa dan empati yang mendasar. Cinta dalam konteks pedagogi bukan sekedar afeksi sentimental, melainkan sebuah desain pendidikan yang menempatkan kemanusiaan sebagai titik temu di atas segala perbedaan identitas. Inilah kurikulum yang bekerja melalui frekuensi hati, bukan sekedar transmisi informasi.

Menjadikan cinta sebagai kurikulum berarti mengubah cara kita berbicara tentang Tuhan dan sesama. Ia menuntut sebuah keberanian untuk mengajar tanpa mendikte dan mendidik tanpa menghakimi. Melalui artikel ini, kita akan membedah bagaimana moderasi beragama dapat tumbuh secara organik ketika kasih sayang dijadikan kompas utama dalam ruang pendidikan, menciptakan sebuah harmoni yang lahir dari ketulusan, bukan sekedar tuntutan kurikulum formal.

Dekonstruksi Metode Konvensional, Mengapa “Menggurui” Tak Lagi Relevan?

Selama puluhan tahun, sistem pendidikan kita terjebak dalam labirin formalisme yang menganggap bahwa nilai-nilai luhur dapat dipindahkan begitu saja melalui instruksi satu arah yang kaku. Moderasi beragama sering kali diposisikan sebagai objek hafalan di atas mimbar, di mana guru berbicara dan siswa sekedar menjadi penampung suara, menciptakan sebuah ruang kelas yang sunyi dari dialektika. Pendekatan “menggurui” ini gagal menyadari bahwa toleransi tidak tumbuh dari jari yang menunjuk atau perintah yang memaksa, melainkan dari hati yang merasa dihargai. Ketika perbedaan hanya dijabarkan dalam bentuk daftar larangan dan keharusan, ia kehilangan daya magisnya, moderasi pun berubah menjadi sekedar topeng kepatuhan formalitas yang rentan retak saat berhadapan dengan provokasi nyata di luar tembok sekolah.

Ketimpangan antara kognisi dan perilaku sering kali memuncak pada fenomena paradoksial di mana kecerdasan di atas kertas tidak berbanding lurus dengan kearifan di ruang digital. Kita sering menyaksikan seorang pelajar mampu meraup skor sempurna dalam ujian pendidikan agama, menghafal seluruh dalil tentang persaudaraan, namun di saat yang sama menjadi jempol yang paling tajam dalam menebar narasi eksklusi di media sosial. Ketidaksinkronan ini membuktikan bahwa sistem evaluasi kita selama ini mungkin hanya berhasil mengukur daya ingat, namun gagal menjangkau ruang nurani tempat karakter itu berakar dan tumbuh.

Penyebab utama dari anomali ini adalah pemisahan antara teks dan konteks dalam proses belajar-mengajar. Ketika moderasi hanya dipelajari sebagai materi hafalan untuk mengejar angka, siswa cenderung memperlakukan nilai-nilai tersebut sebagai pengetahuan yang bersifat “luaran” saja, bukan sebagai prinsip hidup yang terinternalisasi. Di ruang ujian, mereka bisa menjadi sosok yang paling toleran demi memenuhi ekspektasi kurikulum, namun di balik layar ponsel, identitas asli mereka yang belum tersentuh oleh edukasi emosional kembali muncul ke permukaan dengan segala prasangka yang belum tuntas dibedah.

Oleh karena itu, mengukur keberhasilan pendidikan moderasi hanya dari lembar jawaban pilihan ganda adalah sebuah kesia-siaan sosiologis. Skor tinggi tersebut sering kali hanyalah “fatamorgana prestasi” yang menutupi kekosongan empati di dalam jiwa pembelajar. Tanpa adanya jembatan yang menghubungkan hafalan tersebut dengan kesadaran batin, pendidikan agama hanya akan melahirkan individu yang terampil secara teoretis tetapi gagap dalam mempraktikkan kasih sayang di tengah riuhnya keragaman dunia maya yang penuh provokasi.

Kegagalan transformasi nilai moderasi sering kali berakar pada model komunikasi satu arah yang masih mendominasi ruang-ruang kelas kita. Ketika guru menempatkan diri sebagai satu-satunya pemegang otoritas kebenaran dan siswa dianggap sebagai bejana kosong yang siap diisi, pendidikan berubah menjadi proses mekanis yang melelahkan. Dalam ekosistem yang serba instruksional ini, pesan-pesan tentang kerukunan disampaikan layaknya instruksi baris-berbaris, kaku, dingin, dan tanpa ruang untuk bertanya. Akibatnya, alih-alih meresap sebagai nutrisi jiwa, nilai moderasi justru dirasakan sebagai beban kognitif yang ingin segera diselesaikan oleh para siswa.

Model pembelajaran yang terlalu didominasi oleh ceramah monolog menciptakan sebuah “dinding kebosanan” yang menghalangi keterikatan emosional. Saat moderasi beragama dipaksakan sebagai agenda formal, ia kehilangan sifat sakralnya dan mulai terbaca sebagai sekedar “doktrin”. Siswa kehilangan kesempatan untuk menemukan alasan spiritual mengapa mereka harus menghargai perbedaan. Padahal, moderasi sejati seharusnya lahir dari penemuan personal akan keindahan keberagaman, bukan dari rasa takut terhadap teguran guru atau kewajiban memenuhi standar kurikulum yang terasa asing bagi realitas mereka.

Kondisi ini pada akhirnya melahirkan sebuah generasi yang apatis terhadap narasi perdamaian. Ketika pendidikan agama hanya menjadi rutinitas transmisi informasi tanpa sentuhan rasa, nilai-nilai tersebut akan menguap begitu bel pulang berbunyi. Kita butuh keberanian untuk meruntuhkan menara gading instruksional ini dan menggantinya dengan ruang dialog yang setara. Hanya ketika moderasi dirasakan sebagai kebutuhan spiritual untuk mencapai ketenangan hidup bersama, barulah nilai tersebut akan mengakar kuat dan tidak lagi dianggap sebagai doktrin yang membosankan dan menjemukan.

Ketika nilai moderasi disampaikan dengan tekanan atau intimidasi intelektual, yang terbangun di pikiran siswa bukanlah jembatan pemahaman, melainkan benteng pertahanan. Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk melindungi identitas dan keyakinannya saat merasa diserang oleh narasi yang dianggap asing atau mengancam. Pendekatan yang terlalu agresif dalam “memaksakan” toleransi justru sering kali memicu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), di mana individu dengan pandangan eksklusif akan semakin menarik diri ke dalam kelompoknya dan menutup rapat pintu dialog karena merasa sedang dipojokkan oleh sistem.

Fenomena ini menjelaskan mengapa retorika moderasi yang kaku sering kali gagal menjangkau mereka yang justru paling membutuhkannya. Alih-alih melunakkan kekakuan berpikir, instruksi yang bernada menghakimi hanya akan menciptakan polarisasi di dalam kelas. Siswa yang memiliki kecenderungan pandangan konservatif mungkin akan tampak patuh secara lahiriah, namun di dalam batin mereka tumbuh benih kebencian terhadap otoritas yang dianggap berusaha “mencuci otak” mereka. Inilah yang kita sebut sebagai tembok resistensi psikologis, sebuah sekat tak kasat mata yang membuat pesan-pesan perdamaian terpental bahkan sebelum sempat dipertimbangkan.

Oleh karena itu, upaya membangun moderasi tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang represif secara mental. Kita harus menyadari bahwa merubah cara pandang seseorang adalah proses navigasi emosional yang halus, bukan perang urat syaraf. Jika kita terus menggunakan pendekatan yang menekan, kita sebenarnya hanya sedang memendam api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Transformasi sejati memerlukan kerendahan hati untuk mendekati tanpa melukai, memastikan bahwa setiap individu merasa aman untuk membuka diri tanpa harus merasa kehilangan identitas asasinya.

Membedah Anatomi “Kurikulum Cinta”, Kasih Sayang sebagai Fondasi Pedagogi

Setelah kita membedah kegagalan metode lama yang cenderung kaku dan instruksional, kini saatnya kita melangkah ke sebuah terobosan paradigma yang lebih menyentuh akar kemanusiaan. Membedah Anatomi “Kurikulum Cinta” bukanlah upaya untuk mendaur ulang teori pendidikan yang sudah ada, melainkan sebuah ikhtiar untuk menempatkan kasih sayang sebagai sumbu utama dalam seluruh gerak pedagogi. Di sini, cinta tidak lagi dipandang sebagai sekedar luapan emosi yang abstrak, melainkan sebuah struktur berpikir dan fondasi metodis yang mampu mencairkan kebekuan dogma. Dengan menjadikan kasih sebagai arsitektur utama dalam ruang belajar, kita sebenarnya sedang membangun sebuah ekosistem di mana perbedaan tidak lagi dilihat sebagai ancaman yang harus diperangi, melainkan sebagai simfoni yang harus dirayakan dengan penuh ketulusan.

Dalam lanskap pendidikan yang sering kali kering, kita perlu melakukan lompatan radikal dengan menempatkan kasih bukan sekedar sebagai luapan afeksi, melainkan sebagai instrumen pengetahuan atau lensa epistemologi. Selama ini, kebenaran sering kali dicari melalui perdebatan logika yang dingin dan kaku, yang sering kali justru berakhir pada penghakiman terhadap pihak yang berbeda. Dengan menggunakan kacamata cinta, cara kita memandang “yang lain” berubah secara fundamental, kita tidak lagi melihat perbedaan sebagai kesalahan yang harus dikoreksi, melainkan sebagai manifestasi dari kebenaran yang lebih luas yang mungkin belum sempat kita selami.

Memposisikan kasih sebagai fondasi cara berpikir berarti kita memberikan ruang bagi keberadaan orang lain untuk berbicara secara utuh tanpa interupsi prasangka. Cinta dalam konteks ini berfungsi sebagai alat pembedah yang meruntuhkan tembok bias, memungkinkan kita untuk menangkap kilau kebenaran di balik keragaman tradisi dan keyakinan. Ketika seorang pembelajar mampu melihat sesamanya melalui lensa ini, ia tidak lagi merasa terancam oleh perbedaan teologis. Sebaliknya, ia akan menemukan bahwa di balik setiap dogma dan ritual yang tampak asing, terdapat kerinduan manusiawi yang sama terhadap kedamaian dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Epistemologi berbasis cinta ini mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling tinggi bukanlah kepakaran dalam memenangkan argumen, melainkan kematangan dalam merangkul keragaman. Ia menantang kita untuk mengakui bahwa “kebenaran” tidak pernah menjadi milik tunggal yang eksklusif, melainkan sebuah mozaik besar yang potongan-potongannya tersebar di seluruh wajah kemanusiaan. Dengan cara pandang seperti ini, moderasi beragama tumbuh bukan karena kita terpaksa bersikap toleran, melainkan karena kita telah sampai pada kesadaran intelektual bahwa mencintai sesama adalah jalan paling jujur untuk mengenali kebenaran itu sendiri.

Transformasi cara pandang hanya mungkin terjadi apabila ruang belajar menjelma menjadi sebuah suaka yang memberikan keamanan psikologis (psychological safety) bagi setiap penghuninya. Dalam banyak kurikulum konvensional, kelas sering kali menjadi panggung sandiwara di mana siswa merasa harus tampil “sempurna” dan menyembunyikan segala keraguan atau prasangka mereka demi menghindari label negatif. Namun, kurikulum cinta justru membuka pintu bagi kejujuran yang paling rapuh sekalipun. Di sini, desain kelas yang inklusif bukan hanya soal tata letak kursi, melainkan tentang penciptaan atmosfer di mana siswa merasa berani untuk bertanya dan mengutarakan kegelisahan mereka tanpa dibayangi ketakutan akan penghakiman atau sanksi sosial.

Ketika seorang siswa merasa aman untuk mengakui adanya benih prasangka dalam dirinya, itulah titik awal dari penyembuhan sosial. Ruang aman ini memungkinkan terjadinya dialog yang autentik, di mana ketidaktahuan tidak lagi dianggap sebagai aib, melainkan sebagai undangan untuk belajar bersama. Dengan meniadakan budaya menghakimi, kita sebenarnya sedang meruntuhkan mekanisme pertahanan diri yang selama ini membuat siswa menutup diri dari nilai-nilai moderasi. Di dalam kelas yang beralaskan kasih sayang, “pertanyaan yang sulit” atau pandangan yang menyimpang tidak akan dibalas dengan bentakan teologis, melainkan dirangkul sebagai bahan diskusi yang mencerahkan.

Keamanan psikologis adalah pupuk bagi tumbuhnya empati yang organik. Saat rasa takut hilang dari ruang kelas, yang tersisa adalah rasa ingin tahu yang murni terhadap sesama. Siswa akan belajar bahwa mereka bisa berbeda pendapat tanpa harus saling membenci, dan mereka bisa saling mengkritik tanpa harus menjatuhkan martabat. Inilah esensi dari kurikulum cinta, menciptakan sebuah laboratorium kemanusiaan di mana setiap individu merasa memiliki ruang untuk tumbuh, berbuat salah, dan akhirnya kembali menemukan jalan moderasi melalui interaksi yang penuh rasa hormat dan penerimaan.

Keberhasilan kurikulum berbasis cinta pada akhirnya bertumpu pada pundak sang pendidik, yang harus bertransformasi dari sekedar penyampai informasi menjadi seorang arsitek empati. Dalam ekosistem pendidikan lama, guru sering kali merasa tugasnya usai setelah materi moderasi disampaikan dan lembar ujian dikumpulkan. Namun, dalam paradigma cinta, peran tersebut bergeser secara radikal, guru bukan lagi sekedar pemegang buku teks, melainkan seorang fasilitator emosional yang mampu mendesain ruang-ruang kelas sebagai jembatan yang menghubungkan hati yang terpisah oleh sekat prasangka.

Sebagai seorang arsitek, guru bertugas merancang skenario belajar yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga membedah emosi yang mendasari kebencian atau ketakutan terhadap perbedaan. Keteladanan menjadi perangkat utama dalam rancangan ini. Saat seorang guru mampu menunjukkan sikap mendengarkan yang tulus, bahkan terhadap pandangan siswa yang paling kontroversial sekalipun, ia sedang mengajarkan moderasi secara visual dan nyata. Di sini, nilai-nilai damai tidak lagi diajarkan sebagai teori yang jauh di awang-awang, melainkan dipraktikkan sebagai napas harian dalam interaksi di dalam kelas.

Pergeseran peran ini menuntut kerendahan hati seorang pendidik untuk menanggalkan jubah kemahatahuannya dan berani masuk ke dalam labirin kegelisahan siswa. Guru sebagai fasilitator emosional bertugas menyediakan telinga untuk mendengar keresahan dan tangan untuk merangkul perbedaan, tanpa terburu-buru melakukan penghakiman moral. Ia menciptakan suasana di mana kasih sayang menjadi bahasa pertama sebelum logika kebenaran diperdebatkan. Dengan cara ini, guru tidak hanya sedang mentransfer pengetahuan, tetapi sedang menyemai karakter moderat melalui getaran kasih yang autentik dan tak terhapus oleh waktu.

Guru yang berperan sebagai arsitek empati akan meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada sekedar nilai ujian. Ia adalah sosok yang membantu siswa meruntuhkan tembok bias dalam diri mereka sendiri melalui kekuatan keteladanan yang inklusif. Ketika siswa melihat guru mereka mampu menghargai keragaman dengan penuh kasih, mereka tidak akan lagi melihat moderasi sebagai beban instruksional, melainkan sebagai sebuah gaya hidup yang indah untuk ditiru. Inilah puncak dari kurikulum cinta, saat pendidikan agama tidak lagi menghasilkan “ahli dalil” yang kaku, melainkan manusia-manusia yang kaya akan kasih sayang dan luas dalam memandang kemanusiaan.

Dialektika Inklusif, Mengajarkan Toleransi Melalui Dialog, Bukan Monolog

Memasuki jantung dari Kurikulum Cinta, kita beralih dari fondasi filosofis menuju praktik komunikasi yang membebaskan melalui Dialektika Inklusif. Pada tahap ini, ruang kelas tidak lagi dibiarkan menjadi panggung monolog di mana satu suara mendominasi kebenaran, melainkan diubah menjadi gelanggang dialog yang setara dan dinamis. Mengajarkan toleransi bukan berarti menuangkan narasi damai ke dalam kepala siswa yang pasif, melainkan mengundang mereka untuk terlibat dalam percakapan yang jujur, berani, dan terbuka. Di sini, moderasi beragama ditemukan kembali melalui pertukaran gagasan yang saling menghargai, di mana setiap perbedaan pendapat tidak lagi dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai bahan baku utama untuk merajut pemahaman yang lebih utuh dan manusiawi.

Dalam kerangka Dialektika Inklusif, kecakapan pertama yang harus diasah bukanlah kemampuan untuk berdebat dengan tangkas, melainkan “Seni Mendengar Aktif”. Selama ini, pendidikan kita lebih banyak melatih siswa untuk berbicara, berargumen, dan mempertahankan posisi, namun sangat jarang mengajarkan bagaimana cara menyimak dengan seluruh keberadaan. Mendengar aktif dalam Kurikulum Cinta berarti melampaui sekedar menangkap suara, ia adalah upaya untuk menyelami lapisan emosi yang tersembunyi di balik kata-kata, memungkinkan siswa untuk menyadari bahwa setiap pernyataan teologis atau pandangan sosial sering kali berakar pada sejarah personal yang mendalam.

Melalui praktik ini, siswa diajak untuk menjadi “detektif empati” yang mampu menangkap spektrum kecemasan dan harapan di balik argumen orang yang berbeda keyakinan. Sering kali, sikap eksklusif atau pernyataan tajam dari seseorang sebenarnya hanyalah manifestasi dari rasa takut akan kehilangan identitas atau kecemasan terhadap ketidakpastian masa depan. Dengan melatih telinga untuk mendengar suara hati, bukan sekedar menyerang logika luar, siswa belajar bahwa di balik setiap perbedaan yang tampak tajam, terdapat kerinduan manusiawi yang universal untuk merasa aman, diakui, dan dicintai.

Kemampuan mendengar aktif ini akan meruntuhkan tembok prasangka jauh lebih efektif daripada debat kusir mana pun. Saat seorang pembelajar mulai mampu menangkap frekuensi harapan dari mereka yang berbeda, moderasi tidak lagi menjadi konsep yang dipaksakan, melainkan sebuah kewajaran emosional. Inilah inti dari dialog yang menghidupkan, sebuah proses di mana kita berhenti sibuk menyusun sanggahan di dalam kepala saat orang lain bicara, dan mulai membuka ruang di dalam hati untuk benar-benar memahami posisi mereka. Dengan cara ini, moderasi beragama tumbuh dari pengakuan tulus atas kemanusiaan sesama, bukan sekedar kesepakatan politik yang rapuh.

Sering kali, upaya membangun moderasi beragama kandas di tengah jalan karena kita terlalu sibuk bertarung di wilayah dogma yang kaku dan abstrak. Debat teologis yang mencari “siapa yang paling benar” biasanya hanya akan berakhir pada jalan buntu yang memperlebar jurang pemisah. Dalam Kurikulum Cinta, kita diajak untuk menurunkan tensi ketegangan tersebut dengan mengganti perdebatan doktrinal menjadi pertukaran narasi personal. Alih-alih mendiskusikan konsep ketuhanan melalui definisi yang kering, siswa diajak untuk berbagi cerita tentang bagaimana iman mereka membantu mereka melewati masa sulit, atau bagaimana nilai agama menggerakkan mereka untuk membantu sesama.

Ketika sebuah cerita personal dituturkan, batas-batas identitas yang sebelumnya tampak angkuh mulai mencair dan menyingkap sisi kemanusiaan universal. Di balik perbedaan simbol dan ritual, kita akan menemukan bahwa air mata kesedihan dan tawa kebahagiaan memiliki rasa yang sama bagi semua pemeluk agama. Narasi-narasi hidup ini berfungsi sebagai jembatan emosional yang jauh lebih kokoh daripada argumen intelektual mana pun. Saat seorang siswa mendengar rekan sekelasnya yang berbeda keyakinan bercerita tentang kasih sayang ibunya atau perjuangannya melawan ketakutan, ia tidak lagi melihat temannya sebagai ancaman teologis, melainkan sebagai saudara dalam kemanusiaan.

Narasi di Balik Dogma ini mengajarkan kita bahwa persaudaraan tidak harus menunggu kesepakatan dalam seluruh aspek akidah. Kita bisa tetap berbeda dalam cara menyembah, namun tetap satu dalam cara mengasihi. Dengan memprioritaskan cerita hidup di atas perdebatan hukum, moderasi beragama tumbuh menjadi sebuah pengalaman batin yang kaya akan empati. Inilah kekuatan dari sebuah kesaksian hidup, ia mampu menembus tembok prasangka yang paling tebal sekalipun dan menyisakan sebuah kesadaran bahwa di atas segala perbedaan bahasa doa, kita semua sedang mendambakan dunia yang lebih hangat dan penuh kedamaian.

Dialektika tidak boleh hanya berhenti pada meja diskusi, ia harus mewujud dalam tindakan nyata yang melampaui sekat-sekat primordial. Kolaborasi Lintas Identitas menjadi laboratorium hidup di mana teori moderasi diuji oleh realitas. Dalam Kurikulum Cinta, siswa tidak hanya diminta untuk bertoleransi dalam jarak, melainkan bekerja sama dalam kedekatan. Melalui rancangan proyek aksi sosial bersama, seperti gerakan menanam pohon atau kampanye kemanusiaan, siswa dipaksa untuk keluar dari zona nyaman identitas mereka dan melebur dalam satu tujuan mulia yang melampaui simbol-simbol keagamaan masing-masing.

Saat tangan-tangan yang berbeda cara berdoa itu mulai bekerja sama membersihkan lingkungan atau mendistribusikan bantuan, terjadilah proses dekonstruksi prasangka secara alami. Di tengah peluh dan kerja keras, identitas teologis yang sebelumnya dianggap sebagai tembok pemisah perlahan memudar, digantikan oleh identitas sebagai sesama penggerak kebaikan. Dalam konteks ini, kerja sama bukan lagi soal sekedar menyelesaikan tugas kelompok, melainkan sebuah latihan spiritual untuk melihat bahwa kontribusi terhadap kemanusiaan tidak mengenal warna keyakinan. Siswa belajar bahwa kerja nyata jauh lebih fasih dalam menyuarakan kedamaian daripada seribu slogan di atas kertas.

Kekuatan dari kolaborasi lintas identitas ini terletak pada kemampuannya menciptakan ketergantungan yang sehat. Ketika siswa diberi tantangan besar yang hanya bisa diselesaikan jika mereka bersatu, mereka akan dipaksa untuk mencari titik temu dan mengesampingkan perbedaan periferal. Dalam proses inilah, moderasi beragama bukan lagi menjadi materi yang diajarkan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Mereka menemukan bahwa di balik kerudung, salib, atau atribut keagamaan lainnya, terdapat tekad yang sama untuk menciptakan dampak positif bagi dunia yang mereka tempati bersama.

Kolaborasi ini akan meninggalkan memori kolektif yang mendalam bahwa keberagaman adalah aset, bukan beban. Siswa yang telah terbiasa berkeringat bersama untuk tujuan kemanusiaan akan memiliki imunitas alami terhadap upaya-upaya adu domba berbasis sentimen agama di masa depan. Mereka tidak lagi mudah diprovokasi karena mereka telah membuktikan sendiri bahwa kebaikan itu universal. Inilah puncak dari dialektika inklusif, saat cinta tidak lagi dibicarakan melalui kata-kata, tetapi dibuktikan melalui derap langkah yang serempak dalam melayani sesama.

*Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ibu: Pejuang Tanpa Pedang, Pahlawan Tanpa Panggung

Penulis: Intan Diana Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Jika ada pertanyaan tentang siapa makhluk paling kuat di dunia ini, jawabannya bukanlah pahlawan super dalam komik, bukan atlet beladiri, bukan pula mereka yang sanggup bekerja siang malam tanpa lelah. Makhluk paling kuat itu adalah… Ibu.

Terkadang, Allah memberikan bukti nyata akan kekuatan itu, bukti yang membuat kita merinding, merenung, hingga menangis penuh syukur. Salah satunya tecermin dalam kisah perjuangan seorang ibu yang nyawanya benar-benar dipertaruhkan saat melahirkan. Sebuah kondisi langka membuatnya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Ia harus menempuh perjalanan medis yang panjang: operasi besar, peralatan canggih yang menopang tubuh, koma, hingga akhirnya harus merelakan sebagian tubuhnya diamputasi.

Namun, tahukah apa yang membuat situasi pelik itu tetap terasa hangat? Cinta seorang ibu yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya terbaring lemah tak berdaya.

Cinta yang Tak Pernah Takut Terluka

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa proses melahirkan bukan sekadar momen “bayi lahir lalu semua bahagia”. Di balik tangisan pertama bayi, ada rasa sakit luar biasa yang sering digambarkan setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan. Ada ketegangan yang memuncak, ada doa yang dipanjatkan sembari menahan perih, dan ada keberanian yang mungkin tak sanggup ditanggung oleh lelaki terkuat sekalipun.

Dalam kisah nyata ini, sang ibu memasuki ruang bersalin dengan harapan sederhana: melahirkan anak ketiganya dengan selamat. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya mendadak menurun drastis (drop), napas melemah, dan jantung nyaris berhenti berdetak. Dalam hitungan menit, seluruh tim medis harus bergerak cepat demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Alhamdulillah, bayinya selamat. Namun, sang ibu harus berjuang melawan badai komplikasi yang sangat langka. Setelah melewati masa kritis pascaoperasi, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan salah satu kakinya. Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan kerasnya skenario perjuangan hidup yang Allah bentangkan untuknya.

Luka itu menyakitkan, tentu saja. Namun, justru dari luka-luka itulah kekuatan seorang ibu memancar. Ia tetap ingin hidup. Ia tetap ingin bangkit. Ia tetap ingin memeluk anaknya.

Islam dan Kemuliaan Seorang Ibu

Jika kita menelaah Al-Qur’an, Allah seakan tak pernah bosan mengangkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bahkan ketika Allah melukiskan perjuangan ibu, kata yang digunakan bukanlah kata-kata manis, melainkan kata yang jujur, keras, dan mendalam:

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqmān: 14)

Bayangkan, Allah menegaskan bahwa ibu adalah pejuang. Bukan sekadar lemah, tetapi “lemah yang bertambah-tambah”. Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap maju. Tetap menggendong harapan.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Siapa orang yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.” “Lalu siapa?” “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Tiga kali. Bukan sekali. Seolah Rasulullah ingin memastikan: “Wahai manusia, jangan main-main dengan kemuliaan seorang ibu.”

Melihat kisah nyata ini, kita menjadi makin paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita. Perjuangan mereka bukan sekadar teori. Nyata. Berdarah-darah. Ada air mata, ada taruhan nyawa, dan ada cinta tulus yang tak pernah menuntut balas.

Ketika Pengorbanan Mengubah Cara Kita Memandang Ibu

Hal yang paling menyentuh dari kisah ini adalah bagaimana “lingkaran cinta” Allah bekerja. Mulai dari dokter yang sigap, keluarga yang menangis dalam doa, teman-teman yang setia menjaga, hingga orang-orang yang membantu tanpa diminta. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.

Dan sang ibu sendiri… meski kehilangan satu bagian tubuhnya, ia tidak kehilangan harapan. Ia belajar berdiri lagi. Belajar berjalan lagi. Semangatnya tumbuh bak cahaya kecil yang kian lama kian terang.

Dalam Islam, ada satu janji Allah yang sering kita dengar:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji pasti. Ibu dalam kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memberikan ujian besar pada bahu yang meski terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kokoh.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Jangan pernah meremehkan pengorbanan ibu. Terkadang kita sibuk dan abai, merasa “Ah, Ibu kan kuat.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit apa yang telah ia lalui demi menghadirkan kita di dunia.

  2. Ujian hidup bukan akhir, melainkan awal babak baru. Kehilangan fisik mungkin memperlambat langkah kaki, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan langkah hati.

  3. Kasih ibu adalah bentuk cinta Allah di bumi. Itulah sebabnya rasanya selalu hangat, selalu sabar, dan selalu memaafkan.

Peluklah Ibu Selagi Bisa

Kita sering lupa bahwa setiap kali ada manusia lahir, ada seorang ibu yang bertarung nyawa demi membuka pintu dunia untuk anaknya. Kita hidup karena ia rela sakit. Kita tumbuh karena ia rela lelah. Maka, jika hari ini ibumu masih ada: Peluk dia. Cium tangannya. Ucapkan terima kasih.

Karena di balik setiap napas yang kita hirup hari ini, ada doa dan perjuangan seorang ibu yang mungkin tak terlihat mata, namun tak pernah berhenti mengalir sepanjang hidup kita.

Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Penulis: Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Bulan Muharram adalah salah satu waktu istimewa dalam Islam yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tahun ini 1 Muharram 1447 H jatuh pada hari Kamis, 26 Juni 2025. Muharram termasuk dalam deretan empat bulan mulia atau asyhurul hurum, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun, ada empat bulan yang dimuliakan—yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hal ini juga disebutkan dalam sebuah hadis,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia). Tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharram, lalu Rajab (yang selalu diagungkan) Bani Mudhar, yaitu antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa disebut “bulan haram” karena setiap bentuk maksiat di bulan tersebut akan dibalas lebih berat. Sebaliknya, amal ketaatan yang dilakukan juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Salah satu alasan utama Muharram dimuliakan adalah karena di dalamnya terdapat hari Asyura (10 Muharram). sebuah hari yang menyimpan jejak sejarah luar biasa, seperti kisah diselamatkannya Nabi Musa as dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Yahudi yang memuliakan hari itu dengan berpuasa. Dalam catatan Imam Fakhruddin ar-Razi, puasa Asyura bahkan menjadi satu-satunya puasa tahunan bagi mereka, sebagaimana kaum Muslim memiliki puasa Ramadhan.

Menariknya, puasa Asyura juga dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Dalam pandangan Syekh Musa Lasyin, mereka kemungkinan besar melakukannya untuk menghormati tradisi Nabi Ibrahim as, atau sebagai ekspresi penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan selama masa Jahiliyah. Bahkan sebelum Rasulullah bertemu kaum Yahudi di Madinah, penduduk Makkah telah mengenal dan melaksanakan puasa ini.

Baca juga: Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Rasulullah SAW sendiri menunaikan puasa Asyura. Menurut beberapa ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi yang dikutip oleh Syekh Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani, tindakan Nabi itu juga memiliki dimensi dakwah. Dengan berpuasa Asyura, beliau ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki titik temu dengan ajaran sebelumnya. Ini menjadi cara halus Nabi dalam meluluhkan hati Ahlul Kitab, khususnya Yahudi, agar melihat kesamaan dan akhirnya terbuka terhadap kebenaran risalah Islam.

Namun kemudian, untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu’a). Dengan demikian, puasa Asyura tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga identitas umat Islam.

Keutamaan Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Puasa Asyura sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, No. 1162)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura bisa menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa kecil yang dilakukan dalam setahun terakhir—selama tidak termasuk dosa besar, sebagaimana dijelaskan para ulama.

Di samping Asyura, Nabi juga sangat menganjurkan puasa pada hari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau puasa Tasu’a. Beliau bersabda:

ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

“Jika tahun depan masih ada kesempatan, insyaAllah aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, No. 1134)

Dengan berpuasa dua hari, yakni pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita tidak hanya mengikuti sunnah Rasulullah, tetapi juga menunjukkan identitas keislaman yang khas dan berbeda. Sehingga Puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan keutamaan ibadah di bulan Muharram ini.

Menyambut tanggal 4 dan 5 Juli 2025 sebagai momentum pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, mari kita siapkan diri dengan niat tulus, menjauhi hal-hal yang membatalkan pahala puasa, dan memperbanyak ibadah seperti zikir, doa, serta amal kebaikan lainnya.

Terlebih Kini, kita hidup di zaman yang tak kalah gaduh dari masa lalu. Beragam peristiwa silih berganti, kadang membingungkan, bahkan menyesakkan. Maka Asyura bisa menjadi jeda, waktu untuk menarik napas, menengok ke belakang, dan merencanakan langkah ke depan. Ia adalah momen untuk mengenang, merenung, dan memperbarui komitmen spiritual kita. Semoga Asyura tahun ini menjadi titik balik dari lalai menuju sadar, dari rutin menuju ikhlas, dari dosa menuju pengampunan.

Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Penulis: Avini Fitriani, Editor: Najwa

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan kehidupan beragama yang selaras dan penuh kedamaian. Dalam konteks keislaman, prinsip moderasi atau wasathiyah menjadi dasar penting yang perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam menghadapi keragaman sosial dan budaya yang begitu kompleks. Nilai-nilai ini mencakup perbedaan agama, budaya, suku, dan adat istiadat yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia (Dawing, 2017, hlm. 231).

Agama memiliki peranan sentral dalam kehidupan individu maupun masyarakat, Ibarat pondasi sebuah bangunan yang menentukan kekuatan dan ketahanan struktur sosial. Ketika pemahaman keagamaan seseorang kokoh dan benar, maka perilaku dan sikap keberagamaannya pun akan terarah dan stabil. Namun, bila pemahaman tersebut lemah, keyakinan pun mudah goyah, membuka peluang bagi konflik dan intoleransi. Oleh karena itu, dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, penting sekali untuk menanamkan sikap saling menghargai antar umat beragama.

Toleransi menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan dalam kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk dukungan sosial antar kelompok masyarakat yang berbeda keyakinan, baik dalam lingkup pribadi maupun publik. Alah satu contoh nyata dari keberhasilan praktik toleransi ini adalah kehidupan di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Rembang, sebuah kabupaten di pesisir utara Pulau Jawa, terletak di jalur utama Pantai Utara (Pantura) yang strategis. Di wilayah ini, terdapat Desa Karangturi yang menjadi simbol keberagaman, dengan populasi yang didominasi oleh warga keturunan Tionghoa. Letaknya dekat dengan kawasan Pecinan Lasem dan berbatasan dengan beberapa desa lainnya seperti Soditan di utara, Jolotundo di selatan, Babagan di barat, dan Sumbergirang di timur (Kurnianto & Iswari, 2019, hlm. 45).

Keberadaan komunitas Tionghoa di Lasem tidak terlepas dari sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho yang pernah berlabuh di sekitar Sungai Babagan. Peninggalan sejarah seperti Klenteng Cu An Kiong yang diyakini sebagai salah satu yang tertua di Jawa dan terletak di Desa Soditan menjadi bukti kuat jejak awal peradaban Tionghoa di kawasan ini (Fahri & Zainuri, 2019, hlm. 98). Klenteng tersebut kini menjadi simbol penting yang turut mempererat ikatan antara warga lokal dengan komunitas Tionghoa.

Masyarakat Desa Karangturi mempertahankan tradisi serta budaya leluhur mereka secara turun-temurun. Nilai-nilai kultural yang hidup di tengah masyarakat menjadi bagian dari etika sosial yang turut membentuk identitas kolektif mereka. Tingkat toleransi yang tinggi di desa ini tidak lepas dari warisan budaya tersebut, yang telah membentuk sikap saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai (Fitriani, 2020, hlm. 188).

Kegiatan keagamaan di Desa Karangturi berjalan secara rutin dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga. Misalnya, umat Islam secara konsisten mengadakan pengajian, shalat berjamaah, tahlilan, dan manakiban yang dilaksanakan setiap malam Jumat. Namun, hal yang menarik adalah, walaupun berbeda keyakinan, warga desa tetap bisa hidup rukun, tanpa adanya rasa curiga atau sikap eksklusif yang memisahkan (Mubit, 2016, hlm. 175).

Toleransi juga tercermin jelas dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Saat Tahun Baru Imlek, misalnya, seluruh warga, baik Muslim maupun non-Muslim, turut serta dalam perayaan. Mereka bersama-sama menyaksikan pertunjukan barongsai dan acara budaya lainnya. Partisipasi aktif ini mencerminkan semangat kebersamaan yang tinggi dan hubungan antar warga yang harmonis (Kurnianto & Iswari, 2019, hlm. 50).

Hal serupa juga terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Komunitas non-Muslim turut menyampaikan ucapan selamat, bahkan membuka pintu rumah mereka untuk menerima kunjungan silaturahmi dari tetangga Muslim. Tidak ada batasan yang menghambat interaksi sosial mereka. Justru, suasana saling kunjung dan berbagi kebaikan semakin mempererat solidaritas antar umat beragama (Fahri & Zainuri, 2019, hlm. 99).

Sikap inklusif ini menjadi kekuatan utama masyarakat Desa Karangturi dalam membangun kehidupan sosial yang damai. Mereka tidak hanya saling menghargai, tetapi juga aktif menciptakan ruang-ruang interaksi yang sehat antar kelompok agama. Keteladanan mereka patut menjadi model yang bisa diterapkan di daerah lain.

Masyarakat Desa Karangturi berhasil menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya sekadar wacana, melainkan bisa diwujudkan dalam tindakan nyata. Keragaman latar belakang budaya, etnis, dan agama bukanlah hambatan bagi terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis. Selama prinsip saling menghargai dan menghormati tetap dipelihara, perdamaian akan senantiasa hadir dalam kehidupan bermasyarakat.

Moderasi beragama menjadi pilar penting dalam membentuk masyarakat yang adil dan seimbang. Penerapannya yang konsisten, seperti yang terlihat di Desa Karangturi, membuktikan bahwa keberagaman dapat dirayakan, bukan ditakuti. Dalam era yang semakin pluralistik, pendekatan moderat dalam beragama sangat relevan dan diperlukan.

Mengembangkan Moderasi Beragama melalui Interaksi Sosial yang Inklusif dan Toleran

Penulis : Pujiwati, Editor : Nafis Mahrusah

Desa Linggo Asri ialah desa yang memiliki perbedaan agama antar umat beragama, salah satunya yaitu moderasi beragama. Prinsip moderasi beragama berfokus dengan  dua hal, yakni memahami teks (kitab suci) keagamaan harus sesuai dengan konteks dan meyakini dari agama itu sendiri. Seorang non-Muslim di Desa Linggo Asri, baik individu maupun institusi agama lain, perlu mengambil bagian dalam menghidupi moderasi beragama.

Moderasi beragama adalah pendekatan yang seimbang dan moderat dalam menjalankan keyakinan agama, yang melibatkan toleransi, pemahaman, dan penghormatan terhadap keyakinan dan praktik agama lain. Keragaman budaya dan keyakinan di Linggo Asri memerlukan interaksi sosial yang harmonis. Islam memiliki konsep toleransi yang jelas, yaitu tidak ada paksaan dalam agama. Toleransi ini dapat diwujudkan dengan membina kerukunan hidup beragama.

Moderasi beragama dengan toleransi perlu dibangun kepada masyarakat untuk menghormati perbedaan dan mempersatukan masyarakat. Moderasi beragama dapat ditunjukkan melalui sikap tawazun (berkeseimbangan), i’tidal (lurus dan tegas), tasamuh (toleransi), musawah (egaliter), syura (musyawarah), ishlah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), serta tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif). Oleh karena itu, desa ini disebut desa moderasi beragama.

Baca juga : Moderasi Beragama sebagai Pendorong Mobilitas Sosial di Era Modern

Konsepsi moderasi bukanlah hal yang baru bagi umat Islam karena semangat moderasi merupakan salah satu ajaran yang bersumber pada Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, moderasi disebut sebagai al-wasatiyyah. Secara etimologis, kata ini berasal dari akar kata al-wasath yang memiliki arti “di antara”. Kata ini memiliki beberapa makna, yaitu: (1) berada di antara dua posisi; (2) pilihan, utama, dan terbaik; (3) adil; dan (4) berada di antara hal buruk dan hal baik. Raghib al-Ashfahani memaknai kata wasathiyyah sebagai titik tengah yang tidak condong ke kanan maupun ke kiri dan juga bermakna keadilan, persamaan, dan kemuliaan.

Yusuf Al-Qardhawi mendefinisikan wasathiyyah sebagai usaha menyeimbangkan dua sisi yang bertolak belakang (at-tawazun), misalnya egoisme dengan altruism. At-tawazun berarti memberikan proporsi secara proporsional. Misalnya, kata “dermawan”, sebagai sikap antara boros dan kikir, atau “pemberani”, sebagai sikap antara nekad (tahawur) dan penakut (al-jubn). Adapun lawan kata moderasi adalah tatharruf atau berlebihan, yang berarti ekstrim atau radikal.

Baca juga : Moderasi Beragama dalam Perspektif Hadis: Studi atas Konsep Wasathiyah

Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah disebut wasith, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “wasit” yang artinya penengah, pemimpin, dan pemisah. Orang yang adil akan menjaga keseimbangan dan berada di tengah. Pertengahan itu dalam bahasa Arab disebut wasath. Kata wasath seringkali dilekatkan dengan kebaikan. Dalam hadits Nabi disebutkan “sebaik-baik urusan adalah yang ada di pertengahan”. Dalam Al-Qur’an kata wasatha disebutkan sebanyak lima kali antara lain:

  • Dalam surat al-Adiyat (100): masuknya pasukan ke tengah-tengah medan perang.
  • Dalam surat al-Qalam (68): 28 dan al-Baqarah (2): 238, yang berarti lebih adil dan berakal. 
  • Dalam surat al-Maidah (5): 89, berarti antara boros dan bakhil.

Pengarusutamaan moderasi beragama mengutamakan pada pembentukan paham maupun sikap sosial keberagamaan yang moderat, yakni menghormati kemajemukan sosial serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pola interaksi mencerminkan komitmen kebangsaan dan akomodatif terhadap kearifan lokal. Moderasi menekankan pada nasionalisme dan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan agama. Isolasi sosial di kalangan individu religius seringkali dipicu oleh fanatisme agama dan sikap individualisme yang berlebihan.

Baca juga : Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Budaya Halal Bihalal

Bertujuan untuk menyoroti pentingnya keseimbangan ibadah ritual dan interaksi sosial. Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan pendidikan berperan penting dalam memfasilitasi interaksi sosial dan memperkuat nilai kebersamaan. Kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, dakwah, dan peringatan hari besar Islam, serta kegiatan sosial seperti kerja bakti, zakat, dan buka puasa bersama, semuanya berkontribusi pada pembentukan hubungan sosial yang kuat dan harmonis. Moderasi beragama penting dalam masyarakat Indonesia yang beragam. Tokoh agama bersama pemerintah berupaya mencegah radikalisme dan intoleransi, salah satunya melalui moderasi lintas agama.

Konsep Islam moderat relevan dalam konteks keberagaman di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, moderasi menjadi topik yang sangat menarik. Moderasi diyakini sebagai kunci menghindari ekstremisme. Namun, seringkali konsep ini disalahartikan sehingga memicu kontroversi. Kerukunan antar umat beragama penting dalam menjaga keharmonisan sosial di Indonesia yang majemuk. Di Desa Linggo Asri, Kabupaten Pekalongan, tingkat toleransinya sangat tinggi melalui kegiatan dialog interaktif dan partisipatif. Hasilnya meliputi terbentuknya persepsi yang lebih baik tentang toleransi, terwujudnya kerukunan, dan meningkatnya modal sosial masyarakat.

Langkah-langkah yang melibatkan pembina formal dan nonformal, meningkatkan pemahaman masyarakat, serta menyosialisasikan peraturan yang mendukung kerukunan telah membentuk lingkungan sosial yang harmonis dan toleran. Kesimpulannya, kerukunan antar umat beragama di Desa Linggo Asri menjadi modal sosial penting dalam menjaga kesatuan dan kedaulatan Indonesia.

Menelisik Sisi Historis Penyebutan Gelar “Haji” di Indonesia

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Saat ini, umat Islam memasuki bulan Dzulqa’dah yang mana menjadi salah satu bulan dilaksanakannya ibadah haji. Sebagaimana dalam Quran surat al-Baqarah ayat 197, Allah swt. berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS Al-Baqarah [2]: 197)

Sebagian besar Ulama menafsirkan bahwa bulan-bulan yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Dalam hal ini Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, maksud ayat di atas adalah waktu pelaksanaan ihram, bukan semua rangkaiaan haji. Karena pada dasarnya pelaksanaan haji tidak sampai berbulan-bulan.

Disisi lain, ada fenomena menarik yang berkaitan dengan ibadah Haji ini, dimana sebagian masyarakat Indonesia yang telah selesai melaksanakan ibadah haji, kerap kali dipasangkan dengan gelar “haji”. Namun bagaimana sebenarnya sejarah penyematan gelar haji ini?

Gelar “Haji” mulai dikenal secara luas dan digunakan secara resmi di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda. Gelar ini disematkan kepada umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pada masa itu, perjalanan ke tanah suci sangat sulit, memakan waktu lama, dan membutuhkan biaya besar. Karena itu, hanya orang-orang tertentu yang mampu melakukannya, dan mereka pun memperoleh status sosial yang tinggi di mata masyarakat. Gelar “Haji” kemudian menjadi lambang kehormatan, keberagamaan, serta kesuksesan finansial.

Melihat sebagian masyarakat Indonesia yang melaksanakan ibadah haji, pemerintah kolonial Belanda menyadari meningkatnya jumlah jamaah haji dan merasa khawatir terhadap kemungkinan masuknya gagasan-gagasan politik Islam dari Timur Tengah yang dapat memicu perlawanan terhadap kolonialisme. Sebagai bentuk pengawasan, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Konsulat Jenderal di Arab Saudi pada tahun 1872. Konsulat ini berperan dalam mendata aktivitas jamaah asal Hindia Belanda dan mewajibkan mereka mengenakan atribut khusus, termasuk gelar “Haji,” guna memudahkan proses pemantauan, termasuk melalui izin resmi dan pencatatan administratif. Dalam hal ini, gelar “Haji” juga berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial dan politik, karena pemerintah bisa memantau individu-individu yang berpotensi menjadi pemimpin berpengaruh di kalangan umat Islam.

Sementara itu, masyarakat memaknai gelar “Haji” sebagai simbol kemuliaan sosial dan religius. Mereka yang menyandang gelar ini sering dijadikan teladan dan dianggap memiliki tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Di tengah situasi kolonial, gelar ini juga menjadi bentuk perlawanan budaya terhadap dominasi Barat, karena umat Islam tetap mempertahankan identitas keagamaannya melalui ibadah dan simbol keislaman seperti gelar “Haji”. Dengan demikian, gelar ini bukan hanya mencerminkan aspek religius, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan politik dalam konteks penjajahan.

Sehingga berkaitan dengan hal ini, ibadah haji tidak hanya menjadi kewajiban spiritual bagi umat Islam, tetapi juga memiliki makna sosial, budaya, dan politik yang kuat, terutama dalam konteks sejarah Indonesia. Gelar “Haji” yang disematkan kepada mereka yang telah menunaikannya, mencerminkan perjalanan panjang umat Islam dalam menjaga identitas, kehormatan, dan keteguhan iman di tengah tekanan kolonialisme. Kini, meskipun akses terhadap ibadah haji jauh lebih terbuka dibanding masa lalu, makna simbolis dan spiritual dari gelar tersebut tetap hidup dan menjadi bagian penting dari konstruksi sosial umat Islam Indonesia. Ibadah haji pun terus menjadi jembatan yang menghubungkan antara nilai-nilai keagamaan dan dinamika masyarakat dalam lintasan sejarah.

*Source: BPKH Sejarah Penyematan Gelar Haji di Indonesia
Sumber ilustrasi: blitar.inews.id (haji zaman kolonial belanda)

Mengupas Film Bidaah: Fanatisme dan Realitas Poligami dalam Bingkai Religiusitas

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Tegar Rifqi

Film Bidaah merupakan karya film yang masuk dalam kategori drama serial dan masih kerap diperbincangkan karena alur cerita yang penuh kontroversi. Film ini disutradarai oleh Ellie Suriaty, dan mulai tayang pada 6 Maret 2025. Dengan jumlah 15 episode dan durasi 30 menit dalam setiap episodenya, film asal negeri Jiran tersebut berhasil membawa penonton berpikir kritis, hingga menjadi viral di berbagai platform media sosial. Bagaimana tidak? Film Bidaah ini mengangkat isu tentang fanatisme terhadap seorang tokoh agama, poligami, serta tindakan pelecehan yang dibungkus dalam ajaran-ajaran agama Islam. Berikut pemaparan singkat terkait sinopsis film Bidaah.

Sinopsis

Alur cerita Bidaah diawali dengan penggambaran tokoh Baiduri (Riena Diana), seorang perempuan muda yang tumbuh di keluarga yang sangat taat beragama. Suatu hari, ibunya, Kalsum (Fazlina Ahmad Daud), meminta Baiduri untuk mengikuti pengajian yang diadakan di dalam sebuah Jamaah bernama  Jihad Ummah, sebuah kelompok keagamaan yang dipimpin oleh pria karismatik bernama Walid Muhammad Mahdi Ilman (Faizal Hussein).

Awalnya, Baiduri mengikuti permintaan ibunya dan bergabung dengan kelompok tersebut. Tapi setelah beberapa waktu, Baiduri mulai curiga karena melihat banyak hal aneh di sana, seperti adanya pernikahan paksa, kewajiban untuk selalu patuh pada pemimpin, dan ritual-ritual yang tampaknya tidak sesuai dengan ajaran agama.

Cerita semakin memuncak ketika Hambali (Fattah Amin), seorang anak dari orang kepercayaan Walid, yang pulang setelah sekian lama belajar di Mesir. Hambali mulai menyadari bahwa sekte yang dipimpin Walid, telah menyimpang dari ajaran agama yang sebenarnya. Hambali dibantu Baiduri berusaha untuk melindungi keluarga mereka dan membongkar praktik ajaran agama yang keliru dalam sekte tersebut. Ancaman dan bahaya pun tak terelakkan, namun hal tersebut tak menyurutkan niat Hambali dan Baiduri untuk mengungkap kebenaran.

Baca juga: Seniman Artwork Sragen Go Internasional: Karyanya Tembus Jadi Poster Film Kelas Box office

Menyorot Ajaran Agama yang Kontroversial dalam Film Bidaah

Ada beberapa hal yang menjadi catatan jika mengamati film Bidaah dengan seksama. Yakni, penggambaran tokoh Walid sebagai pemimpin jamaah Jihad Ummah, adalah seseorang yang ahli agama, bahkan hafal ayat-ayat al-Quran dan Hadits. Namun, yang menjadi persoalan adalah penafsiran yang keliru terhadap ayat-ayat al-Quran dan Hadits. Seperti ketika Walid membawakan dalil Q.S. An-Nisa ayat 59 sebagai landasan untuk mewajibkan jamaahnya untuk taat kepada pemimpin serta mursyidnya, dan ketaatan ini bersifat mutlak. Jika melanggar apa yang diperintahkan atau yang telah diatur oleh mursyidnya, maka termasuk dalam perbuatan dosa. Ayat tersebut juga dikaitkan dengan berkah yang dimiliki seorang Mursyid, hingga membuat murid-murid Walid rela meminum air bekas rendaman kaki Walid dan air bekas mandi Walid. Disisi lain, murid-murid perempuan di jamaah Jihad Ummah juga dinikahkan secara paksa melalui penunjukkan langsung oleh Walid, yang mana perempuan tersebut sebetulnya belum cukup umur untuk menikah, terlebih dinikahkan dengan orang yang sudah tua, atau senior di jamaah Jihad Ummah dan dijadikan istri kedua, ketiga atau keempat, tanpa adanya wali dari perempuan yang dinikahkan.

Praktik poligami ini semakin buruk ketika salah satu murid perempuan yang dinikahkan dengan senior jamaah Jihad Ummah ingin meminta cerai karena perlakuan suaminya yang tidak manusiawi. Permintaan cerai tersebut justru ditolak mentah-mentah oleh istri kedua Walid, dengan dalil Hadits Rasulullah saw., yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah bersabda: “Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (H.R. Bukhari, no. 2226).

Disamping itu, ketika Hambali menanyakan lebih jauh kepada ayahnya tentang ajaran yang ada di dalam Jihad Ummah yang menurutnya bid’ah, ayahnya menggunakan dalil Q.S. Al-Kahfi, tentang kisah nabi Musa bertemu nabi Khidir as.

Adapun praktik keagamaan yang paling menonjol dalam film ini adalah “Malam Berkah” dan “Malam Bahtera Melayu.” Malam berkah diadakan pada hari-hari yang telah ditentukan dan menjadi rutinitas jamaah Jihad Ummah. Murid-murid Walid disuruh mencium dan bahkan dianjurkan untuk meminum air rendaman kaki Walid. Sedangkan Malam Bahtera Melayu adalah malam terakhir yang diceritakan dalam film, dengan diisi praktik “Nikah Batin.” Pernikahan secara batin, tanpa Ijab Qabul dan prosesi pernikahan pada umumnya, namun berdalih “pernikahan disaksikan langsung oleh Allah, Rasulullah dan Malaikat.” Setelah praktik nikah batin, Walid dapat berhubungan badan dengan perempuan yang dinikahinya secara batin. Hal ini diperburuk dengan kejadian salah satu perempuan yang dinikahi Walid secara batin, hamil hingga mengalami pendaharan.

Baca juga: Harmoni dalam Animasi: Peran Sinema Upin Ipin dalam Membawa Pesan Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam Wasatiyyah

Berbagai praktik keagamaan yang ada pada film Bidaah ini merepresentasikan situasi yang juga kerap terjadi di realitas. Dimana seorang guru atau mursyid terlalu dikultuskan, dan menganggap apapun yang dilakukan dan diucapkan oleh gurunya adalah sesuatu yang benar, tanpa berpikir kembali apakah pesan tersebut berlawanan dengan syariat Islam atau tidak. Meski ada sebagian orang yang menganggap bahwa praktik keagamaan dalam film Bidaah adalah bentuk kecintaan murid kepada gurunya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Praktik fanatisme dan poligami yang ada dalam film ini sepatutnya menjadi refleksi bagi para da’i, dan pondok pesantren di Nusantara. Sehingga Islam dapat terus ditegakkan dengan semangat yang murni, berpegang pada ajaran yang moderat, toleran, tanpa tercampur oleh kepentingan pribadi ataupun penyimpangan yang membahayakan umat. Film ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam beragama, akal sehat dan ilmu syar’i harus selalu berjalan beriringan, agar kecintaan kepada guru tetap dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Matematika: Suatu Alternatif Membentuk Sikap Toleransi

Penulis: Ahmad Faridh Ricky Fahmy, Editor: Tegar Rifqi

Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang sering dianggap sebagai ilmu mutlak. Karena setiap rumus hitungan akan memiliki hasil penyelesaian yang sama bagaimanapun caranya. Namun, ternyata ada cabang ilmu matematika yang membuktikan bahwa di dalam ilmu pengetahuan yang dianggap selalu memiliki hasil mutlak pun tidak selamanya demikian. Dalam geometri misal, Matematika membagi geometri menjadi dua yaitu geometri Euclid dan non-Euclide. Dalam geometri Euclide berlaku jumlah sudut dalam sebarang segitiga adalah 1800. Kebenaran konsep tersebut dapat dibuktikan secara deduktif berdasarkan aksioma atau postulat pada geometri Euclid.

Sedangkan dalam geometri non-Euclide berlaku jumlah sudut sebarang segitiga tidak sama dengan 1800. Artinya bisa kurang atau lebih dari 1800. Konsep tersebut juga dapat dibuktikan secara deduktif berdasarkan aksioma pada geometri non-Euclide. Secara historis, penemuan geometri non-Euclide merupakan pengembangan dari aksioma Euclide yang kelima yaitu tentang garis sejajar.

Baca juga: Peran Pendidikan dalam Memperkuat Moderasi dan Multikulturalisme di Kalangan Siswa

Sedangkan dalam geometri non-Euclide berlaku jumlah sudut sebarang segitiga tidak sama dengan 1800. Artinya bisa kurang atau lebih dari 1800. Konsep tersebut juga dapat dibuktikan secara deduktif berdasarkan aksioma pada geometri non-Euclide. Secara historis, penemuan geometri non-Euclide merupakan pengembangan dari aksioma Euclide yang kelima yaitu tentang garis sejajar.

Pemeluk agama Islam mendasarkan kebenaran dan keyakinannya berdasarkan struktur aksiomatis yaitu Al Qur’an dan Hadist, dan tidak memaksakan kebenaran itu berlaku di struktur agama lainnya. Begitu pula dengan agama yang lain tidak memaksakan kebenaran yang diyakini diterima oleh agama lainnya. Berdasarkan pemehaman tersebut, tentunya sikap toleransi dan hidup rukun antar umat beragama dapat dengan mudah kita jalani. Masing-masing agama mempunyai struktur kebenaran berdasarkan kitab suci atau sumber hukum yang mereka yakini kebenarannya.

Baca juga: Peran Bimbingan Konseling Dalam Mengembangkan Sikap Toleransi Beragama Pada Siswa Sekolah Menengah

Matematika adalah mata pelajaran fundamental yang wajib diajarkan pada semua jenjang di tingkat sekolah. Belajar matematika tidak hanya belajar tentang angka, tetapi juga dapat berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir logis, analitis, serta mendukung pemecahan masalah secara sistematis pada peserta didik. Banyak nilai-nilai dasar yang terkandung dalam matematika selaras dengan nilai-nilai dalam agama islam. Dasar hukum dalam matematika diawali dari aksioma atau postulat dan definisi (undefined term & defined term). Dasar hukum yang tidak terbantahkan dan tidak perlu dibuktikan kebenarannya. Kemudian berlanjut berbagai hukum seperti teorema dan sifat yang memerlukan pembuktian dalam kebenarannya. Konsep yang dipakai dalam matematika sama dengan yang diterapkan dalam agama Islam yaitu suatu kebenaran dapat diterima kebenaranya berdasarkan kebenaran yang telah ada sebelumnya yaitu Al Qur’an dan Hadist (tidak ada keragu-raguan kebenarannya) dan berlanjut perundang-undangan seperti Ijma’ dan Qiyas (yang perlu disandarkan kebenarannya pada Al Qur’an dan Hadist).

Dapat disimpulkan bahwa nilai kebenaran dalam matematika dan beragama, tergantung pada struktur yang dibangun. Keduanya sama-sama mengajarkan nilai-nilai toleransi. Pada dasarnya Islam dan agama yang lain hadir untuk menjunjung tinggi nilai perdamaian dan kerukunan. Sedikit contoh tentang matematika di atas dapat memberikan gambaran bahwa matematika dapat dijadikan sebuah contoh dalam implementasi untuk membentuk sikap toleransi pada diri sendiri dan dapat disebarluaskan kepada orang lain. Oleh karena itu matematika juga mempunyai potensi yang besar dalam membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.