Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Penulis: Annisa Nuruz Zahra, Editor: Choerul Bariyah

K.H.Mas’ud Abdul Qodir beliau adalah pendiri dan pimpinan pondok pesantren Darul Amanah(Islamic Boarding School).Pondok Pesantren ini berada di Jawa Tengah tepatnya berada di Sukorejo-Kendal.Beliau juga salah satu ulama’ di Jawa Tengah yang mewakafkan diri,tidak hanya untuk kemajuan Agama Islam saja.Tetapi,juga untuk Masyarakat.Bangsa,dan Negara.Beliau mempunyai strategi pengembangan ponpes,yaitu menerapkan Panca Jiwa dan Panca Jangka Pesantren.Panca Jiwa yang diterapkan di pondok pesantren Darul Amanah,yaitu:

  • Jiwa Keikhlasan
  • Jiwa Kesederhanan
  • Jiwa Berdikari
  • Jiwa Ukhuwah Islamiyah
  • Jiwa Kebebasan

 

K.H.Mas’ud Abdul Qodir lahir pada hari senin wage tanggal 20 Juni 1949 yang bertepatan dengan Sya’ban (Ruwah)1368.Beliau belatar belakang dari keluarga yang sangat sederhana.Ayah dan ibunya adalah seorang pedagang desa yang berjualan dengan hasil perkebunan.Beliau tinggal di Dukuh Gondoriyo Desa Gondoharum Pageruyung Kendal.Sejak Kecil,Abah Mas’ud memang sudah disiplin dalam beribadah.Ketika memasuki usia SLTP,Beliau selalu berjamaah subuh setiap hari,kadang yang Adzan,kadang juga yang memukul kentongan.K.H Mas’ud Abdul Qodir sebagai anak pertama dari lima bersaudara yaitu:

  • H.Nasroh
  • H.Saib,B.A.
  • Hj.Masiti
  • H.Abdul Haris Qodir,S.Mn.

 

PENDIDIKAN K.H MAS’UD ABDUL QODIR

Pada masa itu,banyak orang yang belum memikirkan pendidikandan yang minat sekolah juga masih jarang,akan tetapi ia mempunyai kemauan tersendiri untuk bersekolah,dan juga dari keluarga yang memang memikir kan pendidikan dan juga agamanya.Beliau mempunyai kemauan yang kuat dalam menuntut ilmu(bersekolah)dibandingkan dengan teman sebayanya ,beliau juga orang yang sangat disiplin.Sepuluh tahun pasca Indonesia merdeka,masih banyak masalah yang harus dibenahi negara,yaitu keamanan,ekonomi,dan pendidikan.Di masa itu,di kecamatan Pageruyung hanya untuk wilayah selatan hanya ada satu Sekolah Rakyat(SR),dan itupun untuk beberapa desa;Gondoharum,Getas Blawong,dan Parakan Sebaran.Hikmah dari sekolah didesa lain,tentu memperluas wawasan dan pergaulan.Di Kota Kewedanan Sukorejo waktu itu belum ada SMP Negeri atau SMP Islam,yang ada hanya SMPK Argokiloso.Sekolah yang didirikan pada tahun 1953 itu menerapkan disiplin sebagaimana sekolah Belanda pada umumnya.Beliau melanjutkan pendidikan SMP Kanisius Sukorejo tahun 1961-1962,dan hanya satu tahun di SMPK Sukorejo.Dan melanjutkan pendidikannya di Pesantren Luhur,Wonosari Ngaliyan Mangkang,Semarang.Saat itu disebutnya pesantren Dondong,karena berlokasi di Kampung Dondong.

Di Mangkang,beliau hanya empat tahun ,karena mendapat informasi tentang Pondok Modern Darussalam Gontor.Awalnya dia kagum kepada salah satu ustadz pengajar Bahasa Arab saat menjadi santri di Pondok Pesantren Dondomg Mangkang yang bernama Ustadz Nurul Anwar.Ustad Anwar mahir dalam Bahasa Arab,ilmu Aljabar,dan Bahasa Inggris,karena lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor yang kemudian melanjutkan studi ke Madinah.

K.H Mas’ud Abdul Qodir dididik oleh generasi pertama Trimurti,yaitu tiga serangkai yang mendirikan pondok pesantren,yang terdiri dari K.H.Ahmad Sahal sebagai pendiri pertama Pondok Gontor 1926,K.H.Zainudin Fannani yang tinggal di Jakarta dan membantu dari jauh,,sertta K.H.Imam Zarkasyi yang memberikan warna baru metode Gontor sejak 1936.

Pondok Modern Gontor mempunyai Motto yang menekankan pada pembentukan pribadi Muslim yang Berbudi luhur,Bebadan sehat,Berpengetahuan luas,dan Berpikiran bebas.

Saat menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor,Abah Mas’ud hanya dijenguk sekali selama 9 tahun selama menjadi santri dan guru di Gontor.Karena beliau memahami Ayahnya yang sedang berjuang kerja keras untuk biaya pendidikannya hingga tidak punya cukup waktu untuk menjenguk putranya.

Sebelum menyelesaikan pendidikanya di Gontor beliau di nikahkan dengan perempuan dari anak adik ipar Kiai Muhsin yaitu Haji Nur Said,Kiai Muhsin adalah kakak beradik dengan Abdul Qodir(ayah K.H.Mas’ud).Perempuan tersebut bernama Nur Halimah yang saat itu baru tamat SD.

Pada tahun 1971-1972 Mas’ud Abdul Qodir mendapat amanah menjadi ketua Organisasi Pelajar Pondok Modern(OPPM).saat menjabat menjadi ketua OPPM,beliau mendapat sentuhan dan arahan langsung dari pendiri dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,K.H.Ahmad Sahal dan K.H.Imam Zarkasyi selaku Pembina pengurus OPPM.”Kami dididik dengan baik dan kami juga melihat sosok kiai imam zarkasyi seperti orang tua sendiri,”kenangnya.”SIAP MEMIMPIN DAN MAU DIPIMPIN”.

Selama menjadi guru di Pondok Modern Darussalam Gontor,beliau melanjutkan Pendidikannya di Institut Pendidikan Darussalm (IPD) memgambil fakultas Ushuludin.memulai pendidikannya di IPD pada tanggal 25 Januari 1974-1 Februari 1974.

Setamat dari Gontor ,Mas’ud Abdul Qodir fokus untuk memulai membina rumah tangga.Cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Al Azhar Kairo sementara dilupakan dulu.Doanya, mudah-mudahan di kemudian hari ada anak-cucu yang merealisasikan cita-cita itu.Dan diwujudkan oleh putra pertama beliau bernama  H.Muhammad Adib,Lc,M.A sebagai wakil Pimpinan Pesantren Darul Amanah..Abah Mas’ud mempunyai dua putra dan putra kedua bernama H.Muhammad Fatwa,M.Pd.sebagai Direktur TMI Pondok Pesantren Darul Amanah.

Pada tanggal 1976,sebelum mendirikan Pondok Pesantren Darul Amanah,Kiai Mas’ud Abdul Qodir pernah mengadakan Kelas Bahasa Arab dirumah mertuanya H. Nur Said di Dusun Kemloko Ds.Mojojagung Kec.Plantungan Kab,Kendal.jumlah siswa kelas Bahasa Arab pada waktu itu sekitar 30 santri putra dan 30 santri putri.

Pondok Pesantren Darul Amanah,Berdiri pada tanggal 23 Mei 1990.Yayasan Darul Amanah yang bergerak di bidang pendidikan dan social keagamaan mendirikan Pondok Pesantran Darul Amanah yang dipelopori oleh:

  • K.H. Jamhari Abdul Jalal,Lc. (Cipining Bogor)
  • K.H. Mas’ud Abdul Qodir (Kabunan Ngadiwarno Sukorejo Kendal).
  • Bpk Slamet Parwiro (Parakan Sebaran Pageruyung)
  • Ust. Junaedi Abdul Jalal (Parakan Sebaran Pageruyung)

 

Keempat peloporpendirian Pondok Pesantren Darul Amanah bersepakat bahwa K.H. Mas’ud Abdul Qodir yang menjadi Pimpinan Pesantren Darul Amanah.Beliau merupakan alumni Gontor tahun 1972 .Dan pondok ini disebut pondok Alumni Gontor.dan Pondok Pesantren Darul Amanah kini memiliki Dua Ribu lebih santri dan Dua Ratus tenaga pengajar.memiliki empat tingkatan yaitu;MTS,MA,SMK,dan KMI.

K.H. Mas’ud Abdul Qodir menerapkan konsep kepemimpinan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang meliputi :Ing ngarso sung tuldha,Ing madya mangun karsa ,Tut Wuri Handayani.

“JANGAN BERHENTI BERDOA KARENA TAKDIR BISA DIUBAH DENGAN DOA”.K.H. Mas’ud Abdul Qodir.

Pemikiran dan Kepemimpinan KH. Ahmad Rifa’I BIN Raden Muhammad Marhum Chilmy Munazil

Penulis : Chilmy Munazil, Editor : Tegar Dwi Pangestu

Ahmad Rifa’i beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan. Beliau lahir pada tanggal 9 Muharram 1200 H, bertepatan dengan tahun 1786 di Desa Tempuran, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dan wafat pada umur 84 tahun di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1895 dan di makamkan di pekuburan Jawa Tondano di kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara Indonesia.

Sedari kecil beliau sudah dididik oleh ayahnya yang Bernama KH. Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja pula beliau sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, beliau menunaikan ibadah haji kemudian memperdalam ilmu agama di Makkah dan Madinah kurang lebih selama 8 tahun. Selain itu juga beliau menimba ilmu di Mesir.

Ahmad Rifa’i adalah seorang juru dakwah yang pandai, beliau mengemas ajarannya dalam kitab-kitab yang berbahasa Jawa menggunakan huruf Arab ( Arab Pegon ) dan berbentuk syair yang menarik bagi orang Jawa, sehingga pada masa itu Masyarakat Jawa mudah memahami dan menghafal ajaran Islam. Dalam berdakwah beliau juga mengobarkan semangat anti kafir, anti penjajah dan gagasannya bisa dikategorikan tajdid ( pembeharuan ) atau pemurnian.

Pemikiran beliau juga dapat dikatakan sebagai pemikiran yang moderat, pemikirannya telah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam kepada Masyarakat Indonesia.

Pemikiran dan kepemimpinan beliau yang telah meninggalkan jejak dalam sejarah keislaman diantaranya ada :

  • Pemikiran Keagamaan yang Mendalam

KH Ahmad Rifai dikenal sebagai pemikir keagamaan yang mendalam. Pemikirannya mencakup berbagai aspek kehidupan, dari hubungan manusia dengan Tuhan hingga tata cara ibadah. Beliau mengajarkan nilai-nilai keimanan dan keislaman yang bersifat inklusif, mendorong umat untuk memahami esensi ajaran agama secara komprehensif.

  • Toleransi dan Kemanusiaan

Salah satu poin penting dalam pemikiran KH Ahmad Rifai adalah nilai toleransi antar umat beragama. Beliau mengajarkan agar umat Islam menjalin hubungan yang baik dengan penganut agama lain, menciptakan harmoni dan perdamaian dalam Masyarakat. Pemikirannya mencerminkan semangat kemanusiaan yang mengedepankan persatuan di atas perbedaan.

  • Kepemimpinan yang Adil dan Bijaksana

Sebagai seorang pemimpin spiritual, KH Ahmad Rifai menunjukkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Beliau memimpin dengan teladan, memberikan orientasi moral, dan menjaga keadilan dalam segala tindakan. Kepemimpinannya tidak hanya terfokus pada kepentingan kelompoknya sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan umat dan masyarakat secara luas.

  • Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat

KH Ahmad Rifai juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pemikirannya merangkul konsep pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Beliau melihat bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang berkualitas dan beradab.

Meskipun beliau mungkin telah tiada, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Pengaruhnya meluas dari aspek agama hingga tatanan sosial. Warisan ini terus menerus diteruskan oleh para pengikutnya, menciptakan pondasi yang kuat bagi pengembangan masyarakat dan kehidupan beragama yang harmonis.

Dengan demikian, pemikiran dan kepemimpinan KH Ahmad Rifai tetap menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin menggali nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kepemimpinan yang berlandaskan pada keadilan dan kebenaran.

  • Ahmad Rifa’i mempunyai beberapa karya salah satunya kitab agama yang ditulis beliau yaitu dalam bentuk : syair, puisi tembang jawa, bentuk nastrah sebanyak 65 judul.

Sementara yang berbentuk tanbi ( semacam risalah singkat yang membahas satu topik ) ada 500 karya dan terdapat 700 berupa nadzom doa. Jumlah kitab tersebut yang ditulis sebelum KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon Maluku, yaitu saat masih bermukim di desa Kalisalak.

Secara umuum kitab- kitab diatas mengupas tentang 3 bidang ilmu syari’at islam yang meliputi Fiqih, Usuluddin, dan tasawuf.

Beberapa kitab karya KH Ahmad Rifa’I yang masih disimpan di universitas Leiden Belanda antara lain :

  • No.1139 Riayatal Himmah, tahun 1849 M
  • No. 6617 Nadzom Kaifiyah, tahun 1845 M
  • No. 7520 Tanbih Bahasa Jawa
  • No 7521 Husnul Mitholab, tahun 1842 M
  • No. 7524, Nadzam Irfaq, tahun 1845 M
  • No. 8489, Munawirul Himmah, tahun 1856 M
  • No. 5865, Athlab, tahun 1842 M
  • No. 8566, Nadzam Tazkiyah, tahun 1852 M
  • No. 8567, Tasyrihatal Muhtaj, tahun 1849 M
  • No. 8568, Syarihul Iman, tahun 1839 M
  • No. 8569, Tasfiyah, tahun1849 M
  • No. 11001, Bayan, tahun1839 M
  • No. 11001, Imdad, tahun 1845 M
  • No. 11004, Thariqat, tahun 1840
  • No. 7523 Abyanal Khawaij, tahun 1849 M

 

Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Penulis: Salma Mustafidah, Editor: Muhamad Nurul Fajri, Amarul Hakim

Pendidikan adalah sebuah investasi yang paling strategis untuk kemajuan negara di masa mendatang. Negara-negara maju biasanya mengirimkan kader penerus terbaiknya unuk dapat mempelajari ilmu pengetahuan ataupun teknologi di negara lain yang lebih maju agar ketika mereka kembali dengan segala ilmu yang sudah didapatkan dan dapat membangun negaranya menjadi bangsa yang produktif dan kompetitif. Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga: formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal seringkali disebut sebagai pendidikan yang paling unggul. Padahal sudah terbukti dalam sebuah sejarah bahwa pendidikan informal dan nonformal mampu membangun karakter yang kokoh sebagai tempat bersemayamnya ilmu tunas bangsa yang berkualitas tinggi. Pesantren masuk kedalam kategori pendidikan nonformal yang telah mampu melahirkan banyak tokoh dan ulama bangsa yang mempunyai peran besar dalam merebut kemerdekaan dan mengisi pembangunan dari berbagai aspek kehidupan.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan sosial keagamaan. Dalam sejarah lahirnya pesantren, unsur pertamanya adalah seorang kyai karena kyai inilah tokoh utama dalam berdirinya pesantren. Dalam pesantren juga mampu melahirkan tokoh bangsa yang berkualitas tinggi. Harapan terbesar pesantren adalah santrinya menjadi kyai di tengah masyarakat. Ilmu yang telah diajarkan di pesantren lalu diamalkan atau diajarkan kepada masyarakat dengan keteladanan dan ketekunan sehingga dapat memikat daya tarik masyarakat dan menyuruh anaknya untuk belajar kepedanya. Pengakuan masyarakat terhadap keilmuan dan perjuanagan yang dimiliki seseorang tersebutlah yang akan melahirkan label ‘kyai’, karena kyai tidak berlabel dari pesantren tetapi dari masyarakat.

Keunggulan pendidikan pesantren terdapat pada banyak aspek : Pertama, internalisasi pendidikan karakter. Karakter merupakan pondasi mental seseorang, sehingga pembangunan karakter adalah sebuah prioritas agar bangunan diatasnya tidak goyah serta terombang-ambing oleh cobaan kehidupan. Kedua, membangun mental ‘self study’ (belajar secara otodidak). Di pesantren diajarkan ilmu nahwu sharaf supaya santri mampu dapat mengkaji sendiri kitab-kitab yang besar tanpa dibimbing langsung oleh guru. Ketiga, memberikan wawasan social. Pesantren pasti memiliki visi yang dapat membangun masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan lain sebagainya. Keempat, memperkuat aspek transedensi bahwa segala kegiatan yang dilakukan manusia bertujuan dalam rangka menggapai Ridha Allah SWT. Kelima, memberikan kemampuan berkolaborasi dalam kebaikan. Keenam, melatih ‘riyadhoh’ (tirakat). Ketujuh, membangun alaqah bathiniyah (hubungan antara kyai dan santri selam-lamanya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah wafat).

Taufiqul Hakim adalah sosok kyai yang hidup di era keterbukaan, sehingga sangat memungknkan menyerap berbagai perubahan modern yang terjadi. Beliau bukanlah sosok pasif yang hanya menunggu datangnya perubahan, justru beliau adalah sosok yang sangat aktif yang menyerap dan mempelopori segala perubahan agar perubahan tersebut dapat sesuai dengan syari’at Islam. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan gagasan modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan diaplikasikan oleh beliau KH. Taufiqul Hakim sehingga dikenal oleh kalangan publik dan menjadi salah satu solusi stagnasi pendidikan dalam bidang pembangunan karakter, kompetensi keilmuan, dan dedikasi sosial. Pemikiran modernisasi pendidikan pesantren oleh KH. Taufiqul Hakim diantaranya dengan : membangun sistem yang kuat, pendidikan karakter secara berkelanjutan, kekuatan fokus, menggunakan metode syiir, gradualisasi dalam pendidikan, akselerasi kualitas serta kaderisasi.

Taufiqul Hakim tidak hanya sekedar berteori. Justru kekuatan utama beliau adalah turun langsung melakukan modernisasi pendidikan pesantren di pesantren yang beliau rintis. Beliau menawarkan kurikulum unggulan yang telah terbukti dapat mencetak kader-kader muda yang berkualitas. Kurikulum ini telah diuji coba dan didemonstrasikan kepada orang lain sehunga dapat terlihat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya ditingkatkan dan kelemahannya dihilangkan. Proses inilah yang membuat ide-ide orisional KH. Taufiqul Hakim terus berjalan seiring berkembangnya zaman. Salah satu dari bukti praktek modernisasi pendidikan pesantren beliau adalah “Amstilati”. Amtsilati adalah buah pemikiran KH. Taufiqul Hakim yang menjadi branding keilmuannya. Amtsilati adalah gerakan pertama modernisasi pendidikan yang menjadikan kualitas dengan waktu yang  sangat efisien. Dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah seribu bait dibuat ringkas hingga delapan puluh tiga bait dan dilengkapi dengan contoh-contoh dari Al-Qur’an. Untuk memahami lebih praktis Amtsilati ini, KH. Taufiqul Hakim membuat dua alat bantu. Pertama, rumus dan kaidah yang diberi nama Qaidati. Kedua, praktek penerapan rumus yang diberi nama Tatimmatun.

Modernisasi pendidikan pesantren yang digagas dan dipraktekkan oleh KH. Taufiqul Hakim mampu menarik perhatian publik. Publik menilai terobosan modernisasi pendidikan pesantren KH. Taufiqul Hakim mampu menggabungkan dimensi salaf dan kholaf sekaligus. Amtsilati dan terobosan KH. Taufiqul Hakim yang lain relevan dengan tuntutan era kekinian yang mengedepankan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas dalam mengambil dan mengambangkan ilmu. Terdapat beberapa indicator, diantaranya : embangun karakter, membangun kompetensi, berbasis kualitas, berbasis kreativitas, dan integrasi ilmu, amal dan dakwah. Karena semakin besar dan banyak orang yang merasakan manfaat ilmu dan perjuangannya, maka semakin besar pula nilainya di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. Semua proses tersebut harus dilandasi dengan nilai keikhlasan karena hanya mengharap Ridha Allah SWT sebagai syarat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.  Wallahu a’lam……

Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Penulis: Aiyida Indana Sohiha, Editor: Faiza Nadilah

Biografi K. H. Abdurrahman Wahid

K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memiliki nama kecil Abdurrahman Ad-dakhil yang berarti “Sang Penakluk”. Dilahirkan pada tanggal 4 Sya’ban atau 7 September 1940, di Denanyar Jombang, Jawa Timur. Gus Dur berasal dari keluarga yang memiliki keterlibatan penting dalam gerakan nasionalis dan pendidikan Islam.

Ayah Gus Dur yaitu Wahid Hasyim, seorang menteri terkenal di pemerintahan Jakarta. Meskipun ayahnya menginginkan Gus Dur bersekolah tinggi, Gus Dur lebih suka sekolah normal dan mulai pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar KRIS di Jakarta. Walaupun mulanya pendidikan yang ditempuh bersifat sekular, Gus Dur kemudian secara sistematis mempelajari bahasa Arab dan Al-Qur’an. Setelah beberapa kali pindah sekolah, Beliau menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Munawir Yogyakarta.

Gus Dur melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan dan pesantren, belajar di bawah bimbingan ulama seperti KH. Ali Mashum dan Kiai Khudori. Setelah menyelesaikan studi formalnya di Yogyakarta, ia pergi ke Kairo (Mesir) dengan beasiswa Departemen Agama. Meskipun awalnya senang, Gus Dur kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar dan lebih suka menjelajah dan membaca buku. Pada tahun 1966, ia melanjutkan studinya ke Irak dan kemudian pindah ke Eropa, namun kekecewaan menghampirinya.

Setelah berusaha mencari kesempatan lain Gus Dur mendapatkan peluang untuk belajar di Universitas McGill (Kanada), dan setelah pulang dari luar negeri ia menjadi guru di Jombang. Pada tahun 1971, Beliau bergabung dengan Fakultas Ushuluddin di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Gus Dur menjadi Presiden keempat Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999.

Pemikiran K. H. Abdurrahman Wahid

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memahami dan menerima pluralitas sosial Indonesia. Meskipun dianggap nyeleneh dan eksentrik, Beliau menunjukkan kebijaksanaan dalam berbagai masalah dan menggabungkan elemen sufistik dalam komunikasinya. Tidak hanya sebagai pribadi spiritual, dia juga mendukung pluralisme sosial dan budaya yang menjadikannya seorang demokrat liberal. Meskipun memiliki latar belakang tradisional Islam, kontribusinya mencerminkan pemahaman mendalam tentang teori sosial modern dan toleransi. walaupun terkadang dianggap aneh, pemikiran dan tindakan Gus Dur memainkan peran signifikan dalam kehidupan publik dan religius Indonesia.

Gus Dur mendasarkan pemikirannya pada komitmen kemanusiaan dalam ajaran Islam, mengedepankan toleransi, dan kepedulian terhadap keharmonisan sosial. Beliau menolak formalitas Islam dalam negara dan mengadvokasi civil society sebagai paradigma baru untuk umat Islam. Pemikirannya juga mencakup neo-tradisional Islam yang menggabungkan modernisme dengan pijakan transendental kepada Tuhan. Gus Dur memandang Islam sebagai agama toleransi dan berusaha menciptakan kehidupan keagamaan yang inklusif. Konsep toleransinya didasarkan pada sikap hati dan perilaku, menghindari eksklusivisme agama. Beliau menekankan pentingnya saling menyantuni dan keadilan tanpa pandang agama.

Inklusivisme, sebagai sikap terbuka dan menghargai perbedaan, merupakan prasyarat utama bagi dialog antar agama dan peradaban. Dalam konteks Islam, inklusifitas teologis bertentangan dengan eksklusif. Mencerminkan paradigma neo-modernisme dan keinginan untuk menghindari monopoli kebenaran oleh suatu agama. Gus Dur menafsirkan kata “Al-Islam” sebagai sikap menyerah kepada Tuhan, mendukung pentingnya inklusivitas dalam membangun keharmonisan sosial.

Dalam menghadapi persoalan terorisme di Indonesia, Gus Dur mengidentifikasi akar permasalahan pada pemikiran radikal dan pendangkalan agama. Beliau menekankan perlunya deradikalisasi pemahaman Islam, menyebarkan pemahaman moderat, dan menghilangkan kesalahpahaman yang menjadi akar terorisme. Toleransi dianggap sebagai kunci untuk mengatasi ekstremisme.

Terkait dengan keputusan MUI tentang pengucapan salam Natal, Gus Dur mengecam keputusan tersebut. Dan menyatakan bahwa hal itu menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kebebasan beragama dan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan. Beliau menekankan pentingnya menghormati setiap keyakinan dan memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memicu intoleransi dan merugikan keutuhan NKRI.

Dengan tingginya toleransi selama hidupnya, Gus Dur diakui sebagai bapak pluralisme Indonesia. Julukan tersebut pantas, mengingat pandangan inklusifnya. Salah satu kata bijaknya yang mencolok adalah, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai, dan ekstremis memutarbalikkannya. Kita butuh Islam ramah, bukan marah”.

Meneladani Sikap Patriotisme Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro.

Oleh Shofi Nur Hidayah

Tidak hanya berasal dari kalangan prajurit dan tokoh politik saja, pahlawan nasional Indonesia banyak yang berasal dari lulusan pondok pesantren. Karena pondok pesantren sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam proses kemerdekaan Indonesia. Salah satu pahlawan yang merupakan santri lulusan pondok pesantren adalah Pangeran Diponegoro. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No 8/TK/1973, gelar tersebut diberikan untuk menghormati dan mengapresiasi perjuangan Pangeran Diponegoro semasa Perang Jawa atau Perang Diponegoro sebagai bentuk usaha mempertahankan tanah air dari kolonial Belanda. Pangeran Diponegoro juga dikenal dengan sebutan kesatria Piningit atau kesatria tersembunyi.

Pangeran Diponegoro sendiri lahir di Yogyakarta tepatnya pada hari Jum’at, 11 November 1785 dari seorang ibu yang merupakan selir bernama R.A Mangkarawati dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Surojo, yang kemudian naik tahta dan bergelar Hamengkubuwono III. Saat lahir Pangeran Diponegoro diberi nama Raden Mas Mustahar yang akhirnya diberi gelar pangeran dengan nama Pangeran Diponegoro pada 1812 ketika sang ayah naik tahta. Masa kecil Pangeran Diponegoro diasuh oleh nenek buyutnya, yakni GKR Ageng Tegalreja yang merupakan putri dari salah satu ulama terkenal yakni Ki Ageng Deproyudo.

Menurut sejarawan Peter Carey dalam bukunya yang berjudul Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro pernah belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo dan diasuh langsung oleh Kiai Hasan Besari. Sepanjang hidupnya, Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, gemar membaca, dan ahli dalam bidang hukum Islam. Beliau juga lebib tertarik pada masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah politik keraton, dan lebih senang membaur langsung dnegan rakyat.

Beliau bukanlah seseorang yang gila jabatan, hal ini dibuktikan dengan penolakannya ketika hendak diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dikarenakan menyadari bahwa dia lahir bukan dari seorang ibu permaisuri. Dari sejarah panjang kehidupannya, ada sikap-sikap yang patut untuk diteladani generasi muda dari sang pangeran. Sikap tersebut adalah patriotisme, yakni sifat rela dan berani berkorban atas segala yang dimiliki termasuk nyawa demi tanah airnya. Dalam konteks ini, Pangeran Diponegoro semasa hidupnya berani dan tegas berjuang membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan Belanda. Kedua ada sifat cinta tanah air, dimana pernah suatu ketika Pangeran Diponegoro marah besar terhadap Belanda karena tidak menghargai adat istiadat setempat. Setidaknya dari sekian banyak sifat dan sikap positif beliau, kita mampu mencontoh dua sifat tersebut agar menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Ibrah Perjalanan Panjang Pendidikan Mbah Moen Dalam Memecut Semangat Generasi Muda

Oleh Shofi Nur Hidayah

Kiai Haji Maimun Zubair, atau yang kerap dipanggil dengan sebutan Mbah Moen adalah seorang ulama sekaligus politikus Indonesia. Mbah Moen merupakan pengasuh tertinggi di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga akhir hayatnya. Beliau lahir di Karangmangu, pada 28 Oktober 1928 dan wafat pada 16 Agustus 2019 di Makkah, Arab Saudi. Mbah Moen merupakan putra sulung dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Dari jalur kakek, nasab Mbah Moen sampai kepada Sunan Giri.

Sejak kecil Mbah Moen sudah dibimbing langsung oleh orang tuanya dalam hal pendidikan. Beliau dibekali ilmu agama yang kuat, mulai dari menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan macam-macam ilmu Syara’ lainnnya. Di usia muda beliau sudah menghafal beberapa kitab diantaranya Al-jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotul Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah Fil Faroidl. Beliau juga menghafal kitab fiqih madzhab Syafi’i , seperti Fathul Qorib, fatul muin, Fathul Wahhab dan sebagainya.

Pada tahun 1945 Mbah Moen memulia pendidikan lainnya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dibawah bimbingan K.H Abdul Karim atau yang akrab disapa Mbah Manaf. Selain pada Mbah Manaf beliau juga menimba ilmu dari K.H Mahrus Ali dan K.J Marzuqi. Setelahnya kemudian kembali ke kampung halamannya mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Lalu ditahun 1950, beliau berangkat ke Makkah bersama sang Kakek, K.H Ahmad bin Syu’aib untuk melanjutkan pendidikannya menimba ilmu dari ulama di Makkah.

Guru-guru Mbah Moen di tanah Jawa antara lain Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abui Fadhil Senori (Tuban), dan beberapa Kiai lainnya. Dari kisah perjalanan kehidupan Mbah Moen, kita dapat mengambil hikmah untuk semangat dan senantiasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menimba ilmu. Mbah Moen juga senantiasa bertawadhu  kepada para guru-gurunya, beliau tetap rendah hati dan menghormati orang yang pernah mengajarkannya suatu keilmuan. Hal itu lah yang perlu di tiru oleh generasi muda zaman sekarang agar tetap menghormati seorang guru dan tetap semangat menimba ilmu dimana pun dan kapanpun. Sebab tidak ada batasan dalam mencari ilmu, selain itu ada hal penting yang perlu diingat. Dalam mencari ilmu, bukan dilihat dimana kita menimba ilmu tapi bagaimana kita menerapkan keilmuan yang telah didapatkan.

The Grand Old Man: K.H Agus Salim Sang kyai dan Diplomat Indonesia

Oleh Shofi Nur Hidayah

Nama K.H Agus Salim tentu tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia, beliau merupakan mantan Menteri Luar Negeri Indonesia tahun 1947-1949. Sekaligus salah satu delegasi Indonesia dalam sidang PBB 14 Agustus tahun 1947 di Lake Success, New York, Amerika Serikat. Lahir dengan nama Masyudul Haq yang berarti “Pembela Kebenaran”, beliau lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Agus Salim merupakan salah satu dari segelintir anak pribumi yang dapat mengenyam pendidikan elit di era kolonial. Tepatnya di Hogere Burger School (HBS) dan lulus dengan predikat lulusan terbaik.

Pasca kelulusannya di HBS, Agus Salim sempat bekerja sebagai staf konsulat Belanda di Jeddah. Atas dorongan dari sang ayah dan setelah mendapatkan surat keterangan kesamaan status dengan warga negara Belanda Agus Salim bekerja di Jeddah. Pada kesempatan itu pula Agus Salim belajar agama dengan pamannya sendiri yang merupakan imam di Masjidil Haram, yakni Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Setelah pulang dari Jeddah ke Indonesia Agus Salim tak hanya membawa ilmu agama saja, melainkan ilmu barat dan timur yang dia dapat dari buku-buku bacaannya saat berada di Jeddah.

Pemikirannya yang kritis juga diwarnai oleh filsafat-filsafat barat dan gerakan reformis yang digagas oleh Syekh Jamaluddin Al-Afghani yang dilanjutkan oleh muridnya, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Saat di Indonesia Agus Salim masuk dalam Pergerakan Nasional melalui Sarekat Islam, setelah mengenal Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto. Kemudian beliau masuk dalam Jong Islamieten Bond, dan Gerakan Penyandar. Atas kesadarannya tentang betapa pentingnya menyebarkan pemikirannya pada khalayak luas, Agus Salim kemudian menjalankan profesinya sebagai jurnalis dan menjadi redaktur di Neratja.

Perjalanan Agus Salim tidak berhenti sampai disitu saja, beliau juga sempat masuk ke Volksraad (Dewan rakyat bentukan Belanda) pada tahun 1921-1924. Kemudian Volksraad mulai tidak koorperatif dengan Hindia Belanda. Lalu pada era kemerdekaan, Agus Salim ikut serta dalam perumusan UUD 1945 bersama 18 orang lainnya yang dipimpin langsung oleh Ir. Soekarno. Salah satu jasa penting dari Agus Salim adalah keberhasilanya dalam misi diplomasi yang berpangkal pada perjanjian persahabatan dengan Mesir di tahun 1947.

Bakatnya dalam bidang diplomasi mengantarkan Agus Salim menjadi menteri luar negeri pada masa kabinet Sjahrir, Kabinet Amir Sjarifuddin, dan Kabinet Hatta. Beliau juga menguasai setidaknya 9 bahasa asing, yakni Bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Latin, Arab, Mandarin, Jepang, dan Turki. Kemampuannya dalam berbahasa asing, diplomasi, hingga public speaking membuatnya dijuluki The Grand Old Man dikalangan para tokoh perjuangan bangsa. Beliau terkenal sebagai pribadi yang pantang menyerah dan berpegang teguh pada prinsip. Sikap seperti itu kah yang patut untuk ditiru oleh generasi muda di zaman sekarang, agar tidak terjebak dalam pragmatisme dan hedonisme yang merajalela di era globalisasi ini.

The Grand Old Man: K.H Agus Salim Sang kyai dan Diplomat Indonesia

Nusaibah binti Ka’ab, sang Perisai Rasulullah

Oleh Shofi Nur Hidayah

Sahabat Rasulullah SAW sangat banyak yang terkenal sebagai pahlawan dengan keberania yang luar biasa baik laki-laki maupun perempuan. Salah satunya adalah Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah dia adalah seorang sahabat wanita Rasulullah SAW yang agung dan pemberani dalam berperang. Ia kerap dipanggil dengan nama Ummu Imarah dan dijuluki Sang Perisai Rasulullah. Julukan tersebut juga dia dapatkan atas keberaniannya melindungi Rasullullah di Medan perang

Beliau juga di juluki sebagai Hamra’ul As’ad yang berarti singa merah. Julukan tersebut juga dia dapatkan atas keberaniannya melindungi Rasullullah di Medan perang. Saat perang Uhud berlangsung, dan pasukan muslim dipaksa mundur pasukan musuh justru maju hendak melukai Rasulullah. Nusaibah yang melihatnya pun segera berlari untuk melindungi Rasullullah, tanpa pedang dan perisai. Hanya dengan segenap keberanian yang dia miliki untuk melindungi sang utusan Allah SWT bahkan ketika tubuhnya penuh luka sebab melindungi Rasullullah, Nusaibah malah tersenyum karena Rasulullah SAW berada dalam keadaan baik-baik saja.

Nusaibah merupakan sosok pahlawan yang tak pernah absen meninggalkan kewajibannya untuk berjihad ketika ada panggilan untuknya. Ia tidak takut mati di jalan Allah SWT dan seluruh perjuangannya ditujukan untuk kemuliaan dunia dan akhirat. Kisah tentang keberanian Nusaibah binti Ka’ab dalam melindungi Rasullullah merupakan salah satu kisah dari sekian banyak keberanian para sahabat. Di lansir dari buku 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah karya Teguh Pramono, Nusaibah binti Ka’ab pernah bercerita tentang kejadian Perang Uhud.

“Aku melihat orang-orang yang sudah menjauhi Rasulullah SAW hingga tinggal sekelompok kecil yang tidak sampai sepuluh orang. Aku, kedua anakku, dan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya. Kala itu, pasukan berkuda dari pihak musuh menyerang kami. Seandainya mereka berjalan kaki sebagaimana kami, insya Allah kami dapat mengalahkan mereka dengan mudah. Ketika ada seorang laki-laki berkuda mendekat dan memukulku, aku menangkisnya dan ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia hendak merunduk untuk memukulkan pedangnya kepadaku, aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh terguling.

Melihat hal itu, Rasulullah SAW berseru, ‘Wahai putra Ummu Imarah! Bantulah ibumu! Bantulah ibumu!’ Kemudian, putraku membantuku untuk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya.Ketika Rasulullah SAW wafat, ada beberapa kabilah yang murtad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar kemudian mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang tersebut.

Saat itu juga, bersegeralah Nusaibah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin untuk bergabung bersama pasukan lainnya. Dalam Perang tersebut, Nusaibah mendapatkan ujian yang berat. Putranya yang bernama Habib tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan disiksa dengan memotong anggota tubuhnya sampai mati syahid. Pada perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, juga ikut memerangi Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua. Beberapa tahun usai Perang Yamamah, Nusaibah dinyatakan wafat.

Dari kisah keberanian Nusaibah binti Ka’ab diatas kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk senantiasa berani untuk membela apapun dan siapapun yang berada di jalan yang benar. Karena Allah SWT pasti akan memberikan jalan pada siapapun yang memiliki niat mulia. Di zaman sekarang memang perang jarang terjadi, akan tetapi kita semua bisa berjuang dan berjihad membela kebenaran dengan kompetensi atau keahlian yang kita miliki. Semoga kita bisa seberani Nusaibah binti Ka’ab, sang perisai Rasulullah SAW yang membela Islam, kebenaran dan kemanusiaan, hingga akhir hayat.

Fatima Al Fihri : Muslimah Inspiratif Pertama Pendiri Sistem Universitas

Oleh : Khanifah Auliana

 

    Seorang ilmuan memiliki banyak pengaruh besar bukan hanya saat zaman dulu saja namun pengaruhnya hingga sampai saat ini. Salah satu ilmuan yang sangat berpengaruh dalam peradaban dunia hingga era sekarang ini adalah Fatima Al Firhi, ia juga ilmuan wanita muslim pertama yang mencetuskan berdirinya universitas. Di lansir dari Republika.com Fatima Al Firhi lahir di abad ke 9 sekitar 800 Masehi, ia juga seorang putri dari saudagar kaya raya Tunisia. Ia juga biasa dipanggil dengan nama Oum Al-banine. Dari kotanya yaitu Tunisia, Fatima menjadi pengusaha dan hidup dalam keluarga bangsawan. Kemudian ia berpindah ke maroko bersama keluarganya, setelah pindah Fatima yang memang terlahir dari keluarga kaya raya sejak kecil dirinya dan kakak perempuan mengenyam ilmu pendidikan dari mulai agak hingga sains hingga mereka hidup dan tumbuh dengan kecintaan ilmu.

    Di Maroko yang memang terkenal dengan kota pusat perdagangan mampu membuat Fatima melebarkan sayap ke dunia bisnis. Tak butuh waktu lama bisnis keluarganya itu langsung sukses, sebab tepatnya di kota Fes, Maroko memang cepat berkembang pesat. Namun di saat bisnisnya di masa kejayaan, Fatima harus menerima kenyataan bahwa ayah serta suaminya meninggal dunia. Fatima dan kakaknya lalu memiliki rencana untuk menyumbangkan harta waris dari ayah mereka untuk kesejahteraan rakyat. Dari situ Fatima membangun masjid yang di beri nama Al-Qarawiyyin, sementara kakaknya yang bernama Maryam membangun masjid di Spanyol dengan nama masjid Al-Andalus. Pembangunan masjid Al-Qarawiyyin tersebut membawa dampak yang cukup besar. Setelah Masjid Al-Qarawiyyin berhasil berdiri dan mulai digunakan, Fatima kemudian berencana untuk membuat sistem pendidikan. Satu persatu terbangun ruang kelas yang digunakan untuk pembelajaran formal setingkat universitas sekarang ini. Bahkan sudah ada ribuan orang yang menjadi siswa, tak hanya itu perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat di kota Fes Maroko. Hingga akhirnya Masjid Al-Qarawiyyin menjadi pusat pesohor keilmuan dunia karena banyak terlahir ilmuan muslim hebat dan terkemuka.

    Dari berdirinya masjid Al-Qarawiyyin tersebut menjadikan Fatima Al Firhi sebagai pencetusnya yang dinobatkan ilmuan wanita muslim pertama yang mendirikan universitas. Sistem pendidikan yang ada di masjid Al-Qarawiyyin hingga saat ini jadi pedoman universitas yang saat ini ada. Bahkan penggunaan toga dan jubah wisuda juga terinspirasi dari Fatima Al Firhi yang saya ini masih jadi pakaian khas mahasiswa lulus kuliah. Untuk itu betapa besar dampak Fatima Al Firhi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan. Ia sosok wanita yang gigih memperjuangkan pendidikan yang setara antara laki-laki dan perempuan. Kini ia telah mendirikan sebuah karya yang tak lekang dari waktu dari masa ke masa keoada perubahan dunia.

Tokoh Islam Inspiratif : Dr. Yusri Rusydi Jabr

Info Tokoh Islam Inspiratif:

Penulis: Ali Burhan

Alamat: Setono  Kota Pekalongan, Jawa Tengah Indonesia

Email: aliburhan@uingusdur.ac.id

Dr. Yusri Rusydi Jabr

            Nama tokoh ini sudah tidak asing bagi pelajar non pribumi di Bumi Kinanah (Mesir) khususnya dari Asia Tenggara. Dalam Lima thun terakhir sudah beberapa kali mengadakan safari dakwah ke Indonesia, Malaysia dan Singapura. Antusias muhibbin sangat besar menyambut kehadirannya di berbagai kota yang beliau singgahi, mulai safari pertama pada Januari 2017 silam sampai kunjungan terakhir yang tercatat pada akhir Februari sampai 17 Maret 2023 kemarin.

Dr. Yusri Rusydi Jabr lahir di Distrik Raudl al Faraj salah satu wilayah di Kairo, 23 September 1954. Sosok moderat multitalenta ini melanjutkan pendidikan akademiknya di Kuliah Kedokteran Cairo University Mesir dan tamat tahun 1978. Kemudian lanjut studi S2 dengan spesialis bedah tahun 1983 dan dilanjutkan S3 Kedokteran bedah tahun 1991 pada almameter yang sama. Dilansir dari Chanel youtube Qonah An-Nas yang mengulas tentang wawancara pribadi dengan Dr Yusri: https://bit.ly/40i7n8p Setelah gelar Doktor diraih beliau mengambil kuliah di Fakultas Syariah wa Qanun Al Azhar University tahun 1992 hingga 1998 menyelesaikan jenjang S1 ilmu Syariah dengan gelar Lc.

Dr. Yusri hafal al-Quran pada  tahun 1985 dengan sanad nyambung ke Imam Ashim, ulama di bidang qiraat Al-Qur’an. Kecerdasannya yang luar biasa menjadikannya seolah tidak pernah cukup dengan teori-teori kedokteran yang dipelajari di bangku kuliah, beliau juga sangat rajin dan mendalami kitab-kitab turats keislaman yang disampaikan oleh para guru ternama di masjid-masjid kota Kairo seperti Syaikh Hafidz al-Tijani, Syaikh Muhammad Najib Muthií, Syaikh Abdullah Siddiq al-Ghumary, Syaikh Ismail Sadiq al Adawy, Syaikh Muhammad Zaky Ibrahim, Syaikh Muhammad Alawy al-Maliki Mekah dan masih banyak ulama kenamaan lainnya. Sehingga tidak heran jika beliau juga mendapat ijazah irsyad (untuk menjadi seorang mursyid) pada tarekat syadziliyah.

Kecintaan beliau pada ilmu agama sempat menggoyahkannya untuk meninggalkan kuliah kedokteran supaya bisa lebih mendalam belajar di bidang agama, namun oleh sang guru Syaikh al-Ghumary beliau diarahkan untuk tidak meninggalkan kedokteran dengan prinsip: ‘’dimana saja Allah menempatkanmu, disitulah kamu dapat  beribadah kepada Allah. Buatlah hal itu dengan baik, karena itulah pilihan Allah buatmu’’. Atas dasar motivasi tersebut akhirnya Syaikh Yusri kembali menekuni  pelajaran kedokteran hingga selesai level S3 bahkan terlibat aktif dalam asosiasi dokter bedah internasional.

Beberapa kitab klasik tentang keislaman dengan variasi disiplin keilmuannya seperti hadits, fikih, akhlak, sirah nabawiyah (Sejarah Nabi) dan sebagainya disampaikan oleh beliau secara rutin dan berkesinambungan di beberapa masjid Kota Kairo dengan ulasan yang tajam dan mendalam. misalnya kitab al-Syifa’ bita’rif Huquq al Musthafa yang disampaikan di Masjid Qatbay Kairo, juga disampaikan di masjid Abu Bakar al-Shiddiq wilayah Muqathtam Kairo, Sahih Bukhari dan Risalah Qusyairiyah yang disampaikan di Masjid al-Azhar kota Kairo, Syarh Hikam Ibnu Athoillah yang disampaikan di Masjid Muqathtam selepas salat tarawih disamping Syarh Sahih Muslim Imam Nawawi, Syarh Sunan Turmudzi, Syarh Sunan Abu Daud dan kitab-kitab lainnya. Sepanjang yang penulis saksikan biasanya pengajian beliau di Masjid Al-Azhar dimulai tepat pukul 09.00 dan berakhir 10.30, selepas itu pergi menunaikan tugasnya sebagai dokter bedah.

Sebuah pengalaman spiritual yang penulis alami ketika penulis bergabung dalam rombongan bus ziarah ke Makam Syaikh Abu Hasan al-Syadzili di Wilayah Humaitsarah Mesir pada era 2006-an, sepanjang perjalanan yang jaraknya hampir 500 km itu tidak pernah sepi dari bayan (penjelasan) tentang hadits-hadits yang ada di Sunan Turmudzi. Hal yang menunjukkan tingkat kepedulian dan antusias beliau dalam menyampaikan  risalah tarbiyah ruhiyah

Murid dan muhibbin beliau tersebar di seluruh dunia. Metode yang diterapkan dalam tarbiyah yang diajarkannya dibangun atas dasar ilmu,dzikir dan taálluq (selalu mengingat ajaran) akan Rasulullah Saw. Dengan tuntunan ilmu manusia menyembah Allah dengan benar, menjauhkannya dari radikalisme beragama yang cenderung menjerumuskannya untuk mengangkat orang lain sesat bahkan sampai kepada tingkatan menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengannya. Channel Youtube dan Facebook yang menyiarkan session bayan beliau juga banyak mendapat follower mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu bahkan jutaan banyaknya.

Dr. Yusri ini mungkin menjadi tokoh representatif dari kalangan tasawuf dan tarekat yang selama ini identik dengan hanya memperbanyak wirid dan riyadhah pembersihan jiwa di masjid-masjid tanpa menangani masalah sosial masyarakat. Beliau bukan hanya seorang mursyid tarekat yang mumpuni, namun juga seorang dokter bedah yang sukses memberikan pelayanan kepada para pasien. Terbukanya pintu-pintu rizki tidak menggoyahkannya untuk tetap hidup konsisten dalam beribadah, tawadhu, dekat dengan semua pihak dan tetap berusaha memberikan bimbingan ruhiyah bagi para murid dan muhibbin baik secara langsung di forum-forum pengajian ataupun online melalui canel-canelnya yang mudah digoogling di internet.