Dari Makam Menggerakkan Resonansi Ekonomi Masyarakat

Penulis: Abdul Basid*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Ziarah ke makam ulama dan aulia acap kali diliputi kekhilafan dalam memaknai aktivitas tersebut, yang sering dikaitkan dengan kesyirikan. Padahal, ziarah ke makam para salihin bertujuan untuk mengenang, mengenal sejarah (manaqib), meneladaninya, mengingatkan pada kematian, serta menyambung batiniah kita kepada orang-orang yang sejatinya tidak meninggal. Kita tidak meminta sesuatu terhadap maqbarah (makam), melainkan meminta kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada orang-orang saleh.

Di Pekalongan, ada makam Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas yang tak pernah sepi diziarahi peziarah, apalagi pada bulan Muharam dan menjelang haul di pertengahan bulan Syakban. Posisi makam yang dekat dengan jalur Pantura memudahkan peziarah Walisongo untuk mampir sejenak beristirahat sambil berbelanja kain batik. Masuk di Batang, terdapat situs Wonobodro yang sangat ramai pada bulan Muharam. Bila di Sapuro banyak dijajakan kain batik, di Wonobodro banyak dijual olahan hasil bumi seperti opak, keripik singkong, emping melinjo, dan dagangan lain yang berasal dari luar daerah.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Kita bisa mengamati makam-makam Walisongo mulai dari Surabaya (Sunan Ampel Raden Rahmat), Tuban (Sunan Bonang), Lamongan (Sunan Drajat Raden Qasim), Gresik (Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri Raden Paku), Demak (Sunan Kalijaga Raden Said), Kudus (Sunan Kudus Ja’far Shadiq), Muria (Sunan Muria Raden Umar Said), hingga Cirebon (Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah) tidak pernah sepi peziarah sepanjang tahun.

Dari keramaian pengunjung makam, kita melihat perputaran miliaran uang di sekitar makam-makam tersebut. Di sana ada warung makan, pedagang oleh-oleh, suvenir, pedagang bunga tabur, pedagang minyak, pakaian, penginapan, layanan WC umum, ojek, peminta-minta, dan jasa lainnya. Andaikata situs tersebut ditutup, ribuan orang yang bergantung pada perputaran roda ekonomi berbasis makam akan terkena PHK. Dampak ekonomi dari situs makam tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga para pemandu wisata religi, kiai pemimpin ziarah, perusahaan autobus beserta sopir dan kernetnya yang turut memperoleh keberkahan.

Masyarakat yang mengagendakan diri untuk berziarah pun bersemangat berusaha dan menabung agar setiap tahun bisa mendatangi maqbarah para ulama dan aulia. Dengan kata lain, makam Sunan Ampel di Surabaya mampu menggerakkan tali perekonomian masyarakat hingga ke ujung barat Pulau Jawa. Dari situs makam ulama dan aulia, mengalir resonansi perekonomian yang menggetarkan masyarakat sekitar makam hingga ke pelosok daerah.

Fenomena ini bisa menjadi penyebab munculnya makam-makam aulia yang diduga palsu. Dengan mengelola makam palsu secara terpusat, dapat dikumpulkan pundi-pundi kotak amal (sedekah) peziarah, uang parkir dan keamanan, pungutan pedagang, serta jasa-jasa lainnya. Fenomena makam ini bukan lagi menunjukkan menggeliatnya kesadaran spiritualitas masyarakat, melainkan kesadaran tentang keberhasilan makam dalam menggerakkan perekonomian sebagai bentuk karamah dan berkah aulia, yang ditangkap secara negatif sebagai bisnis berbasis makam.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Kemurnian berkah dan karamah aulia sahibulmakam dikuantifikasi, kemudian dijadikan sebagai peluang bisnis berbasis makam. Bisnis berbungkus (berbau) syariah juga bisa kita lihat pada transaksi “syariah” di bank syariah, bisnis properti, asuransi, haji dan umrah, serta lain sebagainya sebagai peluang usaha. Semangat untuk beragama dengan baik dan meniru teladan Nabi Muhammad saw. akan ditangkap secara berbeda oleh pebisnis, ulama, dan masyarakat awam.

Nah, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang tersebar di seluruh penjuru tanah air—dengan penamaan lembaga berbasis tokoh, ulama, dan pejuang Islam—bisa menangkap peluang bisnis makam ini dengan pelurusan akidah islamiah. PTKI dapat melakukan riset mengenai ulama, kiai, dan aulia di wilayahnya; membuat peta wisata religi; serta menyiapkan para pemandu wisata santun, berwawasan luas, dan siap menjadi imam ziarah. Pemandu wisata juga bertugas melakukan edukasi agar peziarah bisa mengambil nilai-nilai wisata tanpa terjebak pada kesyirikan.

Bila Sunan Ampel yang berada di Surabaya dapat menggerakkan masyarakat di ujung Pulau Jawa, maka Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatra Barat, Syekh Abdurrauf As-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Wahab Rokan di Riau, dan para masyaikh penyebar Islam di Sumatra juga bisa menggerakkan masyarakat Madura untuk berziarah.

*Analis Kebijakan Ahli muda

Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Penulis: Nalim*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Fajar selalu datang pada waktunya. Matahari terbit dari ufuk timur tanpa pernah terlambat, lalu perlahan bergerak menuju titik tertingginya sebelum tenggelam di barat. Bulan mengitari bumi dalam lintasan yang teratur. Laut mengenal pasangnya, pepohonan mengenal musimnya, dan tubuh manusia bekerja mengikuti irama yang nyaris tak pernah keliru. Alam semesta seolah membaca naskah yang sama setiap hari, tanpa salah satu huruf pun tertukar.

Kita sering menyebut semua itu sebagai hukum alam. Seorang ilmuwan mungkin menjelaskannya melalui hukum-hukum fisika. Seorang matematikawan melihatnya sebagai pola yang dapat dihitung. Seorang mukmin memandangnya sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di seluruh penjuru ciptaan.

Barangkali di situlah matematika menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang memenuhi halaman buku pelajaran. Matematika merupakan bahasa yang membantu manusia membaca keteraturan alam. Lewat bahasa itu, manusia belajar mengenali pola, mengukur ketepatan, memahami hubungan, lalu menyadari bahwa alam tidak bergerak secara acak.

Alquran berkali-kali mengajak manusia mengarahkan pandangan ke langit dan bumi. Pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan, hujan yang menghidupkan tanah, hingga penciptaan manusia sendiri disebut sebagai ayat-ayat bagi orang yang mau berpikir. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 190 mengingatkan, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Ayat ini tidak mengajarkan rumus matematika, tetapi menumbuhkan cara pandang bahwa alam semesta layak diamati, direnungkan, dan dipelajari.

Baca juga: Pesona Ekosistem Kutorojo: Menjaga Satwa, Merawat Masa Depan

Menariknya, semakin jauh ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak keteraturan yang berhasil disingkap. Gerak planet dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya. Gerhana dapat dihitung hingga hitungan detik. Aliran air, pertumbuhan populasi, bahkan penyebaran penyakit dapat dimodelkan melalui persamaan matematika. Semuanya menunjukkan bahwa alam bekerja mengikuti hukum-hukum yang konsisten.

Konsistensi semacam itu mengingatkan kita pada satu ayat yang sangat singkat, tetapi sarat makna. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49). Kata qadar dalam ayat tersebut mengandung makna ukuran, ketentuan, dan proporsi. Alam semesta tidak diciptakan secara serampangan. Setiap ciptaan memiliki tempat, fungsi, dan keteraturannya masing-masing.

Kesadaran seperti ini pernah menjadi napas peradaban Islam. Mempelajari alam bukan dipandang sebagai aktivitas yang menjauhkan manusia dari agama, melainkan salah satu jalan untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang ciptaan-Nya, semakin banyak alasan untuk bertakbir. Keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan kekhusyukan spiritual.

Cara pandang tersebut terasa berbeda dengan apa yang sering kita jumpai sekarang. Matematika kerap dipersempit menjadi pelajaran yang identik dengan angka-angka rumit, lembar ujian, dan nilai rapor. Banyak siswa belajar agar mampu menjawab soal, bukan agar mampu memahami keteraturan yang mengelilingi hidupnya. Rumus dihafal, prosedur diikuti, lalu semuanya perlahan terlupakan setelah ujian berakhir.

Sayang sekali jika matematika berhenti pada ruang kelas. Padahal, ilmu ini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Ia mengiringi arsitek ketika merancang bangunan, membantu dokter membaca hasil pemeriksaan pasien, menjadi dasar teknologi yang kita gunakan setiap hari, bahkan bekerja diam-diam di balik aplikasi yang menunjukkan arah perjalanan atau memprediksi cuaca. Dunia modern bergerak di atas fondasi matematika, meskipun tidak semua orang menyadarinya.

Islam sendiri tidak pernah menempatkan akal sebagai lawan dari iman. Alquran justru berulang kali mengundang manusia untuk berpikir. Ungkapan seperti afalā ta’qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir), dan ulul albab (orang-orang yang memiliki kejernihan akal) tersebar di banyak ayat. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa keimanan yang kokoh tidak tumbuh dari sikap menutup mata terhadap realitas, melainkan dari kesediaan mengamati, merenungi, lalu mengambil hikmah.

Di sinilah matematika memiliki tempat yang istimewa. Ilmu ini melatih manusia berpikir runtut, menghargai bukti, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Setiap jawaban lahir melalui proses yang dapat diuji. Setiap langkah menuntut kejujuran. Satu kekeliruan kecil saja dapat mengubah hasil akhirnya. Bukankah kehidupan juga mengajarkan hal yang sama? Keputusan yang baik lahir dari pertimbangan yang matang, bukan sekadar dugaan atau emosi sesaat.

Baca juga: Pelajaran Al-Qur’an tentang Korupsi dan Kehancuran Negara

Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat matematika sebagai pelajaran berhitung. Padahal, jauh sebelum angka-angka ditulis di atas papan tulis, Allah telah lebih dahulu “menuliskannya” di alam semesta. Orbit planet, bentuk kepingan salju, susunan sarang lebah, gelombang laut, hingga pola tumbuh dedaunan adalah halaman-halaman terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang bersedia memperhatikan.

Maka, mempelajari matematika sesungguhnya bukan hanya belajar mencari jawaban yang benar. Ada latihan kesabaran ketika menyelesaikan persoalan yang rumit. Ada kejujuran saat memeriksa kembali setiap langkah. Ada kerendahan hati ketika menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Semua itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: angka memang tidak dapat menggantikan iman, tetapi melalui angka kita dapat belajar mengagumi keteraturan yang Allah bentangkan di hadapan manusia sejak alam semesta pertama kali diciptakan.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Mengapa azan Magrib hari ini lebih lambat daripada kemarin?”

Pertanyaan sederhana itu sering dianggap sepele. Padahal, dari rasa ingin tahu seperti itulah lahir kesadaran bahwa waktu ternyata bukan sesuatu yang diam. Matahari terus bergerak menurut ketentuan Allah. Posisi bumi berubah setiap saat. Durasi siang dan malam bergeser sedikit demi sedikit. Azan yang terdengar dari masjid bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan penegasan bahwa alam semesta sedang berjalan mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Kita menikmati semua itu hampir tanpa pernah memikirkannya.

Jadwal salat yang tersimpan di telepon genggam muncul tepat setiap hari. Arah kiblat dapat diketahui hanya dengan membuka sebuah aplikasi. Kalender Hijriah tersedia jauh sebelum Ramadan tiba. Semua terasa begitu mudah. Di balik kemudahan itu bekerja ilmu yang panjang sejarahnya: pengamatan langit, astronomi, geometri, trigonometri, dan tentu saja matematika.

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa ketika seorang Muslim berdiri menghadap kiblat, sesungguhnya ada perjalanan ilmu selama berabad-abad yang ikut mengantarkannya ke arah yang benar.

Hal yang sama terjadi ketika seseorang menghitung zakat. Angka yang muncul bukan sekadar hasil operasi hitung. Di sana ada amanah yang harus dijaga agar hak orang lain tidak berkurang sedikit pun. Pembagian waris pun demikian. Alquran memberikan ketentuan yang sangat rinci mengenai bagian setiap ahli waris. Ketelitian menjadi syarat mutlak. Kesalahan kecil dalam menghitung dapat menggeser hak seseorang dan mengubah keadilan yang hendak diwujudkan syariat. Rupanya, matematika hadir dalam banyak ruang ibadah, meskipun sering luput dari perhatian.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Jika sejak awal Islam begitu akrab dengan ilmu hitung, mengapa sebagian umat justru merasa matematika adalah sesuatu yang asing? Jawabannya mungkin dapat ditemukan ketika kita menoleh ke belakang, pada masa ketika dunia Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.

Sekitar seribu tahun yang lalu, Baghdad bukan hanya dikenal sebagai kota perdagangan. Di kota itu berdiri pusat-pusat ilmu yang mempertemukan para penerjemah, filsuf, ahli fikih, dokter, astronom, dan matematikawan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, membawa manuskrip dari Yunani, Persia, India, dan berbagai wilayah lain. Karya-karya itu tidak berhenti sebagai terjemahan. Para ilmuwan Muslim mengkritik, menyempurnakan, lalu melahirkan gagasan-gagasan baru yang kemudian mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara nama besar yang lahir pada masa itu adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Namanya mungkin tidak sepopuler para tokoh teknologi masa kini. Akan tetapi, hampir semua perangkat digital yang kita gunakan bekerja dengan prinsip yang berutang pada gagasan yang ia wariskan. Dari nama Al-Khwarizmi lahir istilah algorithm (algoritma), serangkaian langkah logis untuk menyelesaikan persoalan. Dunia modern berdiri di atas fondasi itu. Mesin pencari, media sosial, transaksi digital, kecerdasan buatan, hingga navigasi satelit memanfaatkan algoritma dalam bentuk yang terus berkembang.

Menariknya, Al-Khwarizmi tidak pernah mempelajari matematika demi mengejar ketenaran. Baginya dan banyak ilmuwan Muslim pada zamannya, mencari ilmu merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Alam dipandang sebagai kitab terbuka yang harus dibaca. Semakin banyak rahasia alam tersingkap, semakin tampak kebesaran Sang Pencipta.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan memudar. Kita hidup pada zaman ketika ilmu sering dipisahkan ke dalam kotak-kotak yang saling berjauhan. Agama ditempatkan di ruang ibadah. Sains ditempatkan di laboratorium. Matematika berada di ruang kelas. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, seolah tidak pernah saling menyapa.

Padahal, alam tidak pernah mengenal sekat-sekat seperti itu. Matahari tetap terbit dengan hukum yang sama, baik ketika diamati oleh seorang astronom maupun ketika disaksikan oleh seorang yang sedang berzikir selepas Subuh. Bulan tetap bergerak pada orbitnya, baik ketika dihitung oleh ahli falak maupun ketika dipandang oleh seorang anak yang menunggu datangnya Idulfitri. Objeknya sama. Sudut pandangnya saja yang berbeda.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Kesadaran inilah yang dahulu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dalam peradaban Islam. Mereka tidak merasa harus memilih menjadi seorang yang saleh atau menjadi seorang ilmuwan. Meneliti alam justru menjadi salah satu cara untuk mensyukuri nikmat akal yang Allah anugerahkan.

Pandangan itu terasa begitu relevan hari ini. Dunia sedang menghadapi ledakan informasi yang luar biasa. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Kecerdasan buatan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu memerlukan waktu berhari-hari. Semua kemajuan itu bertumpu pada matematika. Angka-angka bekerja diam-diam di balik layar, mengatur lalu lintas data, membantu dokter mendiagnosis penyakit, memprediksi cuaca, mengendalikan pesawat, hingga menerjemahkan bahasa dari berbagai penjuru dunia.

Ironisnya, di saat matematika hadir hampir dalam setiap aspek kehidupan, banyak orang masih melihatnya sebatas kumpulan rumus yang harus dihafal.

Barangkali yang hilang bukanlah matematikanya. Yang hilang adalah rasa takjub. Begitu rasa takjub menghilang, angka berubah menjadi beban. Rumus kehilangan cerita. Belajar tinggal mengejar nilai. Padahal setiap konsep matematika sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperoleh jawaban benar. Ketelitian melatih amanah. Konsistensi mendidik istiqamah. Keseimbangan mengingatkan pada keadilan. Kesabaran dalam menyelesaikan persoalan perlahan membentuk kerendahan hati. Semua nilai itu tumbuh tanpa perlu diumumkan sebagai “pelajaran akhlak”. Ia hadir secara alami di sepanjang proses belajar.

Barangkali di situlah keindahan matematika bertemu dengan keindahan Islam. Keduanya sama-sama mengajak manusia mencintai keteraturan, menghargai kebenaran, dan menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki makna.

Semangat seperti itulah yang agaknya perlu dihidupkan kembali dalam dunia pendidikan kita. Bukan dengan menjadikan setiap pelajaran matematika sebagai ceramah agama, melainkan dengan menghadirkan kesadaran bahwa ilmu selalu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar angka di buku atau nilai di rapor.

Seorang guru matematika tentu tidak harus mengawali setiap pertemuan dengan ayat Alquran. Rumus pun tidak perlu dipaksakan agar selalu memiliki padanan dalil. Upaya seperti itu sering kali justru membuat peserta didik merasa bahwa agama dan sains sedang “dipertemukan” secara artifisial. Padahal keduanya sejak awal memang tidak pernah saling berjauhan.

Yang jauh lebih penting ialah menghadirkan pengalaman belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Ketika seorang siswa bertanya mengapa gerhana dapat diprediksi jauh sebelum terjadi, ketika ia penasaran mengapa sarang lebah berbentuk segi enam, atau ketika ia takjub melihat keteraturan bilangan yang muncul di alam, sesungguhnya saat itulah benih-benih kecintaan terhadap ilmu mulai tumbuh. Dari rasa ingin tahu lahir pencarian. Dari pencarian lahir pengetahuan. Dari pengetahuan yang disertai perenungan lahir rasa syukur.

Rasa syukur inilah yang sering kali luput dari pembelajaran kita. Kita begitu sibuk mengejar jawaban yang benar sehingga lupa menikmati proses menemukannya. Kita bangga ketika mampu menyelesaikan soal yang sulit, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa alam semesta dapat dipahami melalui bahasa yang begitu teratur? Mengapa hukum-hukum itu dapat dipelajari? Mengapa akal manusia diberi kemampuan mengenali pola-pola yang tersembunyi di balik berbagai peristiwa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang panjang. Cukup dijadikan ruang untuk merenung. Sebab, dari sanalah ilmu berubah menjadi hikmah.

Barangkali itulah pelajaran yang diwariskan oleh para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap kecanggihan ilmu. Kekaguman itu selalu mengarah kepada Zat yang menciptakan hukum-hukum alam. Semakin luas pengetahuan mereka, semakin dalam pula kerendahan hati mereka. Ilmu tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa masih terbentang lautan pengetahuan Allah yang tidak akan pernah habis dijelajahi manusia.

Sikap seperti ini terasa semakin penting pada zaman sekarang. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Informasi mengalir tanpa henti dari layar-layar kecil yang kita genggam. Dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Kemampuan menghitung tentu tetap dibutuhkan, tetapi itu saja tidak cukup. Yang jauh lebih berharga ialah kemampuan menggunakan ilmu dengan arif, memadukan nalar dengan nurani, serta menempatkan pengetahuan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Di sinilah matematika dan Islam saling menguatkan. Matematika melatih ketelitian, konsistensi, dan keberanian berpikir berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Islam memberi arah agar seluruh kemampuan itu digunakan untuk menebarkan keadilan, kejujuran, dan kemanfaatan bagi sesama. Akal menjadi semakin tajam, sementara hati tetap terjaga.

Alquran memperkenalkan manusia pada dua cara membaca. Cara pertama ialah membaca wahyu yang diturunkan melalui firman-Nya. Cara kedua ialah membaca alam yang dibentangkan di hadapan mata. Keduanya saling melengkapi. Wahyu memberi petunjuk tentang tujuan hidup, sedangkan alam menyajikan tanda-tanda yang menguatkan keyakinan bagi siapa saja yang mau memperhatikannya. Matematika membantu kita membaca sebagian dari tanda-tanda itu.

Setiap orbit yang teratur, setiap pola yang berulang, setiap ukuran yang presisi, dan setiap hukum yang konsisten seakan mengingatkan bahwa alam semesta ini tidak berjalan tanpa arah. Ada kebijaksanaan yang bekerja di balik seluruh keteraturan tersebut. Ada sunatullah yang menjaga langit tetap berada pada porosnya dan bumi tetap menjadi tempat yang layak dihuni.

Mungkin karena itulah Albert Einstein pernah berkata, “Hal yang paling sulit dipahami tentang alam semesta adalah kenyataan bahwa alam semesta dapat dipahami.” Ungkapan itu menarik untuk direnungkan. Mengapa akal manusia mampu membaca hukum-hukum alam? Mengapa keteraturan itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa matematika? Bagi seorang mukmin, pertanyaan itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: Allah bukan hanya menciptakan alam semesta yang teratur, tetapi juga menganugerahkan akal agar manusia mampu mengenali keteraturan tersebut.

Baca juga: Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari ketika membuka buku matematika? Barangkali kita memang sedang belajar menghitung. Barangkali kita sedang berlatih memecahkan persoalan. Namun, jauh di balik semua itu, kita sedang belajar membaca sebagian kecil dari ayat-ayat kauniah yang Allah bentangkan di seluruh penjuru alam.

Setiap rumus yang dipahami mungkin tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih beriman. Akan tetapi, setiap rasa takjub yang lahir ketika menyaksikan keteraturan ciptaan-Nya dapat menjadi jembatan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Bukankah rasa kagum sering menjadi awal dari rasa syukur?

Maka, matematika layak dipandang sebagai lebih dari sekadar ilmu tentang angka. Ia adalah bahasa keteraturan. Bahasa yang mengajarkan manusia berpikir jernih, bersikap jujur, menghargai keseimbangan, dan menyadari bahwa alam semesta tidak pernah kehilangan arah karena seluruhnya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Mengatur.

Barangkali itulah makna terdalam belajar matematika dalam perspektif Islam. Bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, melainkan belajar menjadi manusia yang lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Sebab, setiap kali akal berhasil menangkap keteraturan alam, hati seharusnya semakin mudah mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhanallah.

*Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Solusi Kurban bagi yang Tidak Mampu: Penjelasan Fikih dan Teladan Sahabat Ibnu Abbas

Penulis: Muhammad Robba Masula, Penyunting: Dwi Selma F

Tahun ini, pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada tanggal 27 Mei 2026. Momen ini menjadi kebahagiaan yang dinantikan oleh umat Islam. Pada hari istimewa ini, kaum muslim dianjurkan untuk menyisihkan rezekinya guna melaksanakan ibadah kurban. Secara syariat, ibadah kurban atau udhiyah memiliki aturan yang mengikat, terutama terkait jenis dan usia hewan sembelihan.

Namun, bagaimana jika seorang muslim belum memiliki rezeki yang cukup untuk melaksanakan ibadah kurban secara ideal?

Banyak masyarakat yang masih keliru memahami anjuran ibadah kurban saat momentum Idul Adha, sehingga berujung pada kebiasaan yang kurang baik secara fikih. Penjelasan mendalam terkait hal ini disampaikan dalam sebuah potongan video dari Gus Baha yang membedah solusi bagi umat Islam yang belum mampu menyembelih ternak secara ideal.

Baca juga: Kritik Kebijakan Gerbong Khusus Perempuan dalam Perspektif Kitab Assulam

Sebagaimana diketahui, syarat untuk melaksanakan kurban atau udhiyah memang sangat ketat, mencakup kriteria usia dan jenis hewan ternaknya. Namun, ketidakmampuan memenuhi syarat tersebut bukan berarti seseorang harus pasrah tanpa usaha di hari raya.

“Saya fatwakan di sini, sing jenenge udhiyah iku kudu wedus kibas umure setahun, nak sapi rong tahun ditandai tanggal gigine. Itu benar, itu udhiyah,” terang Gus Baha dalam video tersebut.

Meski membenarkan standar ideal tersebut, ia menekankan bahwa tanggal 10 Zulhijah pada prinsipnya adalah hari raya untuk makan dan minum (yaumul-akl wasy-syurb). Oleh karenanya, terdapat sunah untuk tetap menyembelih hewan yang halal bagi yang tidak mampu membeli kambing atau sapi.

Lebih lanjut, dalam videonya, dikisahkan pula teladan dari salah satu sahabat Nabi, yakni Ibnu Abbas, yang mengambil jalan tengah agar tetap bisa menghidupkan sunah pada hari raya tanpa memaksakan diri. Hal ini merupakan bentuk menjaga kehormatan diri dari sifat tamak.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

“Tapi sebetulnya kalau tanggal 10 itu kesunatan nyembelih apa saja asal halal, asal gak tikus. Sehingga Ibnu Abbas itu tiap tanggal 10 nggih nyembelih pitik, nggih pitik tenan, supaya menghilangkan tomak (sifat serakah/mengharap pemberian orang lain). Mergo iku yaumu aqlin wa syurbin, hari makan-makan,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti fenomena dan kebiasaan yang sering terjadi di tengah masyarakat Jawa. Banyak warga yang akhirnya berdiam diri dan menggantungkan harapan pada pembagian daging dari panitia karena merasa belum mampu berkurban.

“Lah wong Jowo itu salah kaprah, berhubung gak kelar (mampu) wedus, gak nyembelih blas. Akhirnya tomak (menunggu) ngungkit-ungit panitia, itu keliru. Atau tuku daging minimal keluarga itu ndak tomak,” tegasnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa dalam pandangan fikih, tidak mampunya seseorang mencapai sesuatu yang ideal tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau kebaikan tersebut sama sekali (blas-blasan).

“Coro fekihe, nak gak iso ideal ojo blas-blasan. Larangane Islam, nek gak iso kurban wedus, minimal tuku daging sekilo,” pungkasnya.

Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Penulis: Izzati Amaliya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, dan agama. Dalam hal ini, moderasi beragama menjadi esensial untuk mempertahankan harmoni dan ketenangan. Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menguatkan prinsip-prinsip moderasi adalah melalui pendekatan spiritual yang sudah ada dan berkembang di masyarakat Pekalongan. Tradisi manakiban yang tumbuh di berbagai kelompok Muslim, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan tarekat-tarekat, menyimpan ajaran-ajaran mulia yang selaras dengan nilai moderasi beragama.

Manakiban berasal dari kata manaqib, yang bermakna cerita-cerita atau biografi para wali dan ulama terkemuka, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Aktivitas manakiban umumnya dilakukan melalui pengajian, zikir, dan bacaan kisah-kisah teladan tokoh Sufi yang dikenal dengan moralnya yang luhur, toleran, dan rendah hati dalam Islam. Dalam komunitas Muslim tradisional, termasuk di Pekalongan, manakib telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem sosial dan budaya. Ia bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai sarana penguatan sosial, pelestarian adat, dan simbol identitas kelompok. Pelaksanaan manakib di Majalengka, seperti di daerah lain, dilakukan dalam bentuk majelis keluarga, komunitas RT/RW, hingga tingkat pesantren atau masjid desa, dan biasanya dikaitkan dengan peringatan hari besar Islam atau haul ulama.

Baca juga: Tradisi Pasar Jajan dalam Menjaga Keberagaman dan Persatuan Antarumat Beragama Pada Peringatan 17 Agustus di Pekalongan

Manakib tidak hanya menyampaikan cerita-cerita inspiratif, tetapi juga berfungsi sebagai medium penyebaran nilai-nilai sufistik seperti zuhud, tawakal, sabar, ikhlas, dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya. Dalam bidang pendidikan spiritual, manakib berperan sebagai metode pembentukan karakter melalui teladan, yaitu dengan meniru kehidupan dan akhlak para wali. Lebih lanjut, manakib membantu menciptakan suasana batin yang religius dan introspektif. Saat masyarakat mengikuti bacaan manakib, mereka secara tidak langsung masuk ke ruang simbolik yang memperkuat ikatan spiritual dengan Tuhan dan ulama.

Dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan seperti Pekalongan, tradisi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan spiritual, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai ideologis dan kultural. Salah satu bentuk tradisi yang masih bertahan hingga sekarang adalah manakib, yaitu bacaan kisah-kisah teladan para wali, terutama Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang telah menjadi bagian dari ritual keagamaan yang hidup di masyarakat Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Nalar Kritis Pemikiran Gus Baha

Tradisi manakib bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga alat pendidikan karakter dan moral. Melalui bacaan manakib, masyarakat diperkenalkan pada figur-figur yang hidupnya mencerminkan nilai-nilai tawadhu’ (rendah hati), tasamuh (toleransi), ta’awun (tolong-menolong) dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di Pekalongan, banyak pesantren dan tokoh agama yang terus menjaga tradisi ini, bahkan menjadikannya bagian dari kurikulum pembinaan akhlak santri. Ulama juga bertindak sebagai pembawa budaya, yang menekankan pentingnya spiritualitas dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan demikian, manakib tidak hanya bertahan sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi dakwah kultural yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Namun demikian, kelangsungan tradisi manakib dihadapkan pada tantangan masa kini, seperti pengaruh kelompok puritan yang memandang manakib sebagai bidah, dampak gaya hidup individualistik yang mengurangi partisipasi sosial, serta kemajuan teknologi digital yang mengalihkan perhatian generasi muda dari tradisi keagamaan lokal.

Baca juga: Saat Doa Bertemu Adat: Merajut Harmoni di Tanah Pusaka

 Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah revitalisasi dan inovasi dalam pengembangan tradisi manakib. Pemerintah daerah bersama lembaga keagamaan diharapkan dapat berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara. Pengemasan manakib dalam format digital seperti video dakwah, narasi kisah inspiratif di media sosial, atau konten edukasi berbasis aplikasi, bisa menjadi strategi untuk menjangkau generasi muda tanpa kehilangan esensi nilainya. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang dampak manakib terhadap perilaku keagamaan, sosial, dan ideologis masyarakat, sehingga kontribusi tradisi ini dalam membentuk masyarakat yang religius dan moderat dapat dibuktikan secara ilmiah dan dijadikan acuan dalam kebijakan keagamaan yang inklusif.

Gus Mus: Sang Kyai yang Memeluk Bumi Dan Nurani

Penulis: Faliqul Isbah*, Penyunting: Muslimah

Di tengah deru modernitas yang sering kali menempatkan alam sebagai komoditas dan manusia sebagai angka, hadir sebuah suara yang tak berteriak, namun getarannya menembus hingga ke palung nurani. Ialah KH. Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab kita sapa Gus Mus, sosok kyai yang tidak hanya fasih melafalkan teks suci di atas podium, tetapi juga mahir membaca denyut nadi bumi melalui kanvas dan bait-bait puisi. Kehadirannya seolah menjadi oase di tengah padang pasir kebencian, menawarkan kesejukan di saat agama sering kali diseret ke dalam panggung konflik kekuasaan yang gersang.

Bagi Gus Mus, kesalehan spiritual tidak pernah berdiri sendiri di dalam ruang hampa atau terisolasi di balik dinding pesantren yang tebal. Baginya, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah sajadah panjang yang menuntut penghormatan dan penjagaan. Melalui pandangan dunia yang integratif, beliau mengajak kita untuk melihat bahwa merusak alam adalah bentuk pengingkaran terhadap Sang Pencipta, dan menyakiti sesama manusia adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. Inilah esensi dari keberagamaan yang tidak hanya mengejar langit, tapi juga memeluk bumi dengan penuh kasih.

Pendekatan beliau yang “lembut” bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi diplomasi hati yang luar biasa kuat. Di saat banyak orang memilih pedang untuk membela Tuhan, Gus Mus justru memilih kuas lukis dan pena sastra untuk membela hamba-hamba-Nya. Estetika yang beliau tawarkan mampu meluruhkan sekat-sekat ego yang kaku, mengubah kemarahan menjadi perenungan, dan mengganti penghakiman dengan dialog yang memanusiakan. Sastra dan seni di tangan beliau menjadi jembatan yang menghubungkan realitas ketuhanan dengan realitas sosial yang sering kali retak.

Artikel ini mencoba menelusuri lebih dalam bagaimana konsep “Memeluk Bumi dan Nurani” bukan sekedar metafora indah, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam yang kontekstual dan humanis. Kita akan melihat bagaimana Gus Mus mengonstruksi pemahaman bahwa menjaga ekologi dan menegakkan hak asasi manusia adalah dua sisi dari keping mata uang yang sama. Di tangan sang Kyai, agama kembali pada fitrahnya sebagai rahmat, bukan sebagai sekat, sebagai penyembuh luka semesta, bukan sebagai penabur garam di atas duka lara dunia.

Melalui empat pilar pembahasan utama, kita akan menyelami kedalaman pemikiran beliau, mulai dari semangat ekosufisme yang menjaga kelestarian hayati, hingga pembelaan konsistennya terhadap kaum yang terpinggirkan. Membedah pemikiran Gus Mus berarti belajar kembali cara menjadi manusia yang utuh, yang mampu bersujud dengan khusyuk di hadapan Tuhan, sembari tangan tetap merangkul alam dan mendekap sesama dengan kehangatan nurani yang tak kunjung padam.

Ekosufisme: Spiritualitas yang Membumi

Dalam lanskap pemikiran Gus Mus, agama tidak dipahami sebagai dogma yang melangit dan asing dari realitas material, melainkan sebuah energi spiritual yang membumi dalam rupa Ekosufisme. Konsep ini menegaskan bahwa denyut nadi keberagamaan seseorang seharusnya bergetar selaras dengan nafas alam semesta, sebuah kesadaran bahwa merawat bumi bukanlah sekedar aktivisme lingkungan semata, melainkan manifestasi dari sujud yang paling dalam kepada Sang Pencipta. Melalui kacamata ini, Gus Mus mengajak kita untuk menanggalkan ego antroposentris yang rakus dan menggantinya dengan empati ekologis, di mana setiap jengkal tanah, tetesan air, dan hembusan angin dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis namun wajib dijaga kesuciannya dari tangan-tangan destruktif.

Bagi Gus Mus, alam semesta bukanlah sekedar panggung bisu tempat manusia memuaskan hasrat konsumsinya, melainkan sebuah “Sajadah Hijau” yang terbentang luas tanpa batas. Dalam perspektif ini, setiap rimbun pepohonan, aliran sungai yang jernih, hingga hamparan tanah yang subur, memiliki derajat kesakralan yang setara dengan ruang-ruang ibadah formal. Beliau memposisikan lingkungan sebagai manifestasi nyata dari keagungan Ilahiyah, di mana merusak ekosistem sama hinanya dengan menodai kesucian rumah Tuhan, karena keduanya merupakan tempat manusia bersimpuh dan mengenali hakikat penciptaan.

Relasi antara manusia dan bumi dalam pandangan beliau bukanlah hubungan antara subjek dan objek, melainkan sebuah persaudaraan eksistensial yang diikat oleh ruh yang sama. Ketika Gus Mus berbicara tentang menjaga keasrian lingkungan, beliau sebenarnya sedang mengajak kita untuk melakukan “shalat ekologis”, sebuah bentuk pengabdian yang tidak hanya berhenti pada gerakan ruku dan sujud di dalam masjid, tetapi berlanjut pada tindakan nyata melindungi setiap makhluk hidup. Kesadaran akan “Sajadah Hijau” ini menuntut integritas moral yang tinggi, bahwa iman yang kokoh harus tercermin dari tangan yang menanam, bukan tangan yang merambah hutan demi keuntungan sesaat.

Dengan menjadikan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus berhasil meruntuhkan tembok pemisah antara yang profan dan yang suci. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga kehormatannya layaknya menjaga sebuah amanah besar. Penjagaan terhadap alam bukan lagi sekedar urusan birokrasi atau kebijakan aktivis lingkungan, melainkan sebuah panggilan iman yang mendalam. Di bawah bimbingan nurani yang jernih, kita diajak untuk melihat bahwa dalam setiap tarikan nafas dan keindahan cakrawala, terdapat jejak-jejak Tuhan yang hanya bisa kita rasakan jika kita memperlakukan bumi dengan penuh khidmat dan rasa cinta yang tulus.

Berangkat dari kesadaran akan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus membawa visi ekologis tersebut ke dalam lokus pendidikan yang paling intim, yakni pesantren. Di bawah atap-atap teduh bangunan pesantren, nilai-nilai abstrak tentang penjagaan semesta tidak hanya berhenti menjadi hafalan teks, melainkan diartikulasikan menjadi Fikih Lingkungan yang praktis dan hidup. Di sini, etika ekologi diterjemahkan ke dalam laku keseharian para santri, di mana ketaatan kepada Tuhan diuji melalui cara mereka memperlakukan air yang mereka gunakan untuk bersuci dan tanah yang mereka pijak untuk mengabdi.

Kedisiplinan dalam “Fikih Hijau” ini tampak nyata pada hal-hal yang sering dianggap sepele namun memiliki dampak sistemik, seperti budaya hemat air. Gus Mus sering menekankan bahwa penggunaan air yang berlebihan, bahkan untuk keperluan wudhu sekalipun, adalah bentuk pemborosan yang dibenci agama. Dalam bilik-bilik wudhu, para santri diajarkan untuk memandang setiap tetes air sebagai rezeki yang terbatas, sebuah latihan spiritual untuk mengikis sifat rakus manusia. Pengajaran ini membentuk karakter manusia yang sadar akan keterbatasan sumber daya alam, menanamkan prinsip bahwa kesalehan sejati harus berjalan beriringan dengan efisiensi ekologis.

Lebih jauh lagi, penghormatan terhadap tanaman dan ekosistem di lingkungan pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum cinta yang diajarkan beliau. Santri dididik untuk melihat pohon dan tumbuhan bukan sebagai benda mati, melainkan sesama makhluk yang terus bertasbih kepada Sang Pencipta. Menyakiti dahan pohon tanpa alasan yang benar dipandang sebagai tindakan yang mencederai harmoni alam. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh kasih ini, Gus Mus berhasil menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan, di mana setiap individu yang keluar darinya membawa bekal kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari rukun iman yang diaplikasikan dalam setiap tarikan nafas.

Puncak dari bangunan spiritualitas ekologi Gus Mus adalah keberanian untuk membenturkan nafsu eksploitatif manusia dengan prinsip Qana’ah. Beliau menganalisis bahwa krisis lingkungan yang melanda bumi saat ini bukanlah sekedar masalah kegagalan teknologi atau kebijakan pemerintah, melainkan gejala dari penyakit batin yang kronis, hilangnya rasa syukur. Dalam pandangan beliau, kerusakan hutan, polusi sungai, dan eksploitasi lahan yang brutal berakar dari syahwat kepemilikan yang tak pernah kenyang, di mana manusia merasa menjadi pemilik mutlak semesta, bukan sekedar penjaga atau khalifah yang diberi amanah.

Gus Mus secara tajam mengkritik gaya hidup modern yang menuhankan akumulasi materi tanpa batas. Bagi beliau, beragama yang benar seharusnya melahirkan pengendalian diri (self-control) yang kuat, bukan justru menjadi legitimasi untuk menguasai sumber daya alam secara sepihak. Konsep Qana’ah atau merasa cukup yang beliau tawarkan bukanlah sebuah sikap pasif atau kemalasan, melainkan sebuah bentuk perlawanan radikal terhadap konsumerisme. Merasa cukup adalah sebuah kemenangan spiritual atas keserakahan, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak kita mengambil dari alam, tetapi pada seberapa bijak kita mengelolanya.

Kritik beliau juga menyasar pada hilangnya dimensi asketis dalam praktik beragama kontemporer. Beliau menyayangkan jika simbol-simbol kesalehan hanya tampil di permukaan, sementara perilaku ekonominya tetap destruktif terhadap lingkungan. Gus Mus mengajak kita untuk kembali merenungkan makna syukur yang substantif, bahwa bersyukur atas nikmat oksigen berarti menanam pohon, dan bersyukur atas nikmat air berarti tidak mencemarinya. Tanpa kendali diri yang berakar pada nurani, agama hanya akan menjadi instrumen pemuas ego yang justru mempercepat laju kerusakan bumi yang kita huni.

Pemikiran Gus Mus tentang Qana’ah menjadi antitesis bagi kerakusan korporasi maupun individu yang abai terhadap keberlanjutan masa depan. Beliau menawarkan sebuah “etika kecukupan” sebagai jalan keluar dari kiamat ekologis. Dengan meneladani sikap hidup beliau yang sederhana namun kaya makna, kita diajak untuk menyadari bahwa bumi memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan satu orang saja. Di titik inilah, spiritualitas yang membumi menemukan bentuknya yang paling nyata, sebuah keberanian untuk berkata “cukup” demi lestarinya semesta dan kemanusiaan.

Diplomasi Puisi dan Lukisan: Menyentuh Nurani Tanpa Menghakimi

Beranjak dari komitmen teologis terhadap alam, Gus Mus memperluas spektrum dakwahnya melalui medium yang jauh lebih cair dan universal, yakni Diplomasi Puisi dan Lukisan. Di tangan beliau, kesenian tidak hanya tampil sebagai dekorasi estetik, melainkan bertransformasi menjadi bahasa kalbu yang mampu menembus tembok-tembok dogmatis yang sering kali memisahkan manusia. Melalui goresan kuas yang penuh makna dan bait-bait puisi yang sarat akan kejujuran, Gus Mus melakukan navigasi spiritual untuk menyentuh relung nurani yang paling dalam tanpa sedikit pun kesan menghakimi. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi profetik yang memilih untuk “mengetuk pintu” daripada “mendobrak meja”, membuktikan bahwa keindahan sering kali memiliki kekuatan persuasif yang jauh lebih dahsyat daripada sekedar deretan argumen yang kaku dan penuh amarah.

Dalam kanvas-kanvas Gus Mus, Garis dan Warna yang Meluruhkan Sekat bukan sekedar ungkapan artistik, melainkan sebuah jembatan visual yang melintasi jurang perbedaan identitas. Saat bahasa verbal sering kali terjebak dalam sekat-sekat sektarian dan terminologi yang memicu perdebatan, bahasa rupa beliau justru hadir dengan kejujuran yang telanjang. Lukisan-lukisannya menjadi ruang pertemuan yang inklusif, di mana mereka yang berbeda iman, ideologi, maupun latar belakang sosial dapat duduk bersama dan menemukan titik temu dalam apresiasi keindahan yang bersifat universal.

Kekuatan diplomasi rupa ini terletak pada kemampuannya untuk mengomunikasikan pesan-pesan kemanusiaan yang sering kali terlalu berat jika disampaikan lewat khotbah formal. Gus Mus menggunakan sapuan warna yang intuitif untuk menggambarkan realitas sosial, mulai dari potret rakyat kecil yang tulus hingga kritik terhadap keangkuhan kekuasaan, dengan cara yang lembut namun menggugah. Di titik inilah, lukisan beliau melampaui batasan linguistik, ia tidak memerlukan terjemahan bahasa untuk dipahami, karena nurani manusia memiliki frekuensi yang sama saat berhadapan dengan keindahan dan kebenaran yang tulus.

Melalui medium ini, Gus Mus membuktikan bahwa seni adalah “bahasa ibu” kemanusiaan yang mampu meruntuhkan tembok prasangka. Ketika seseorang menatap karya beliau, yang mereka lihat bukanlah identitas seorang kyai dari kalangan tertentu, melainkan cerminan dari jiwa yang mencintai perdamaian. Goresan kuasnya tidak mendikte, melainkan mengajak penikmatnya untuk berdialog dengan diri sendiri, meluruhkan ego kelompok, dan akhirnya menyadari bahwa di balik segala atribut lahiriah, kita semua menghuni rumah batin yang sama.

Jika lukisan adalah jembatan visual, maka puisi-puisi Gus Mus adalah “Cermin Retak” masyarakat yang sengaja diletakkan di hadapan kita untuk menyingkap keganjilan-keganjilan sosial. Dalam bait-bait sastranya, beliau tidak menggunakan kata-kata sebagai martil untuk memukul kepala lawan bicara, melainkan sebagai pisau bedah yang sangat halus untuk menyayat lapisan kemunafikan yang kerap menyelimuti perilaku kolektif kita. Sastra di tangan Gus Mus menjadi alat autokritik yang memaksa setiap pembaca untuk berhenti menunjuk telunjuknya ke arah orang lain dan mulai berani menatap pantulan wajah batinnya sendiri yang mungkin penuh debu.

Narasi sastra yang beliau bangun selalu memiliki daya magis untuk membungkus kritik tajam dalam balutan diksi yang jenaka namun getir. Beliau sering kali menyindir fenomena keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, sementara esensi kemanusiaan terabaikan. Melalui metafora yang akrab dengan keseharian, puisi beliau mengajak kita merenung, apakah kita sedang membela Tuhan, atau sebenarnya hanya sedang memuja ego kita sendiri yang dibungkus dengan jubah agama? Kekuatan “Cermin Retak” ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa tersindir tanpa merasa dihina, sebuah metode persuasif yang melahirkan kesadaran emosional daripada pembangkangan intelektual.

Puisi-puisi tersebut berfungsi sebagai terapi sosial untuk menyembuhkan penyakit “merasa paling benar” yang kian mewabah. Gus Mus mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki keberanian untuk mengakui kerapuhannya sendiri. Dengan membaca karya sastranya, kita tidak sedang didikte untuk menjadi orang lain, melainkan diajak untuk “pulang” ke dalam kejujuran nurani. Inilah bentuk diplomasi sastra yang paripurna, sebuah kritik yang tidak menyisakan luka kemarahan, melainkan menyemai benih kerendahan hati untuk memperbaiki retakan-retakan dalam cermin kehidupan bersama.

Puncak dari diplomasi seni Gus Mus bermuara pada sebuah paradigma yang kita sebut sebagai Estetika Dakwah: Mengajak tanpa Mengejek. Dalam ruang publik yang sering kali bising dengan orasi yang penuh penghakiman, beliau memilih jalur sunyi yang indah, menyampaikan kebenaran melalui pintu estetika. Bagi Gus Mus, dakwah bukanlah sebuah ajang untuk menunjukkan supremasi moral atau memamerkan keshalehan pribadi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menaburkan benih kebaikan dengan cara yang paling terhormat, sehingga nurani penerimanya terbuka secara sukarela tanpa merasa terancam atau direndahkan.

Metode ini berakar pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecintaan alami terhadap keindahan. Ketika sebuah pesan moral dibungkus dengan bahasa sastra yang memukau atau goresan lukisan yang menyentuh, ego defensif manusia cenderung meluruh. Gus Mus memahami bahwa kritik yang disampaikan dengan amarah sering kali hanya akan melahirkan pembangkangan, namun ajakan yang disampaikan dengan kelembutan estetis akan meresap seperti air yang membasahi tanah kering. Di sinilah letak kecerdasan emosional beliau, mengganti diksi yang memukul dengan diksi yang merangkul, serta mengubah narasi yang memisahkan menjadi narasi yang menghubungkan.

Lebih jauh lagi, estetika dakwah ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap martabat kemanusiaan. Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai guru yang berdiri di atas mimbar tinggi sementara audiensnya dianggap sebagai pendosa di bawah. Sebaliknya, beliau sering kali menggunakan metafora “kita”, sebuah kata ganti yang meruntuhkan hierarki dan menempatkan beliau dalam gerbong yang sama dengan pembaca atau pendengarnya. Dengan cara ini, pesan-pesan beliau tidak terasa seperti “serangan” dari luar, melainkan seperti “bisikan” dari dalam nurani sendiri, yang mengajak untuk kembali pada jalur kearifan tanpa harus menyisakan luka rasa malu.

Gaya dakwah Gus Mus membuktikan bahwa keindahan adalah instrumen perubahan sosial yang paling tangguh. Beliau telah berhasil mengembalikan wajah agama yang ramah, yang tidak perlu berteriak untuk didengar, dan tidak perlu mencaci untuk dihormati. Estetika dakwah ini adalah sebuah antitesis terhadap radikalisme verbal yang kian marak, sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap pesan ketuhanan adalah untuk memanusiakan manusia. Di tangan beliau, agama kembali menjadi oase yang menyejukkan, di mana setiap jiwa merasa diterima, dihargai, dan perlahan dibimbing menuju cahaya tanpa harus merasa dikecilkan.

Pada akhirnya, warisan pemikiran Gus Mus adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk kembali pulang ke rumah nurani yang jernih sebagai solusi atas segala krisis peradaban. Dengan memadukan etika kecukupan (qana’ah) dan empati yang inklusif, kita diajak untuk melihat bahwa merawat bumi dan membela mereka yang terpinggirkan adalah satu nafas ibadah yang tak terpisahkan. Melalui teladan beliau, kita belajar bahwa di balik segala riuh rendah perbedaan dan kecanggihan teknologi, perdamaian dunia yang abadi hanya bisa tumbuh dari hati yang telah selesai dengan egonya sendiri. Meneladani Gus Mus berarti berani untuk terus menenun cinta di atas retakan-retakan perbedaan, demi lestarinya semesta dan tegaknya nurani kemanusiaan yang abadi.

*Dosen UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Kiai Nur Khalik dan Produktivitas Menulis

Penulis : M Fatih Qosdana, Editor : Amarul Hakim

Sore itu sekitar pukul setengah lima kami sampai di rumah Kiai Nur Khalik Ridwan, Kiai yang enggan di sapa Kiai, “Kalau saya K-nya itu Kang bukan Kiai, sebab lebih muda dari Kiai Jadul Maula yang lebih senior dari saya, sudah haji pula,” kelekarnya. “Berarti kita doakan sama-sama semoga sebentar lagi naik haji.” Tandas Kiai Jadul Maula yang diamini seketika oleh santri-santri dan audiens pada saat itu (29/04/25) dalam perjumpaan bedah buku, “Waringin Sungsang Jawa” yang diadakan oleh Ngaji Dewaruci dibawah naungan Ponpes Budaya Kaliopak Yogyakarta, di asuh KH. Jadul Maula sekaligus ketua LESBUMI NU setelah KH. Agus Sunyoto.

Kiai Nur Khalik, Kiai yang menganut paham Malamatiyah, tarekat yang mengedepankan kebersahajaan ditengah-tengah masyarakat disertai dengan sikap andap ashor, tawadhu, dan mengikis terus-menerus kesombongan yang ada dalam diri. Setiba kami dirumah beliau, tampak dari depan rumah Kiai Nur Khalik berdindingkan joglo yang dihiasi ornamen ukiran kriya seni jawa, dipedesaan asri yang masih terdengar cuitan burung dikala senja bergantikan malam. Tepat sesaat setelah kami parkirkan motor dihalaman rumah, beliau hengkang berdiri dari tempat duduk didepan laptop yang bersikan kalimat demi kalimat yang tersusun rapi memberikan manfaat, adalah ilmu. Ilmu yang Allah ajarkan pada Nabi Adam melalui nama-nama-Nya yang pusatnya adalah Nur Muhammad.

Hampir dan bahkan semua orang yang berkunjung dan bersilaturahmi kepada beliau, dijumpainya Kiai Nur Khalik sedang mengetik, menulis buku, dan menghasilkan karya. Inilah rutinitas yang dilakukan beliau setiap hari sejak pagi, siang, sore, hingga malam hari. Kecintaannya terhadap ilmu tidak hanya dibuktikan dengan perpustakaan pribadi yang berisikan berbagai koleksi buku-buku akan tetapi karya-karya beliau yang hampir dan bahkan lebih dari lima puluh buku diusianya yang sudah tidak muda lagi.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Kiai Nur Khalik menyambut kami dan mempersilahkan duduk diruang tamunya, dengan segala ubo rampen dan makanan ringan, “silahkan dibuka, jangan sungkan-sungkan, dipaceti (dimakan, dicicipi) tak tinggal sek, delot,” kata beliau, masuk kedalam rumahnya. Tak lama kemudian dua gelas kopi hitam dibawakannya kepada kami; panas, hitam membaur menjadi satu dalam gelas berukir. Kopi hitam, laksana sufi yang ditempatkan, berbaur dimanapun akan menyesuaikan tempatnya, tanpa menghilangkan esensinya, terus menerus bersama Tuhannya.

Tepat berada didepan kami, diatap dinding rumah yang yang berukir, bertempelkan tuliskan, “NDiko Publishing-Joglo Kesengsem”. Dengan logo, awak telu ndas siji – awak telu sirah sanunggal berbentuk ikan. Sebagaimana lambang kacirebonan dan ilustrasi daripada ajaran Tarekat Syattariyah yang bermakna, ora pecah (kebersatuan), baik antara adam (manusia), Muhammad (syariat), dan Allah. Antara jasad, ruh, dan Allah maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat, dan af’al. Atau bisa diartikan dengan wihdatul wujud sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Babon Petarekatan.

“Baru selesai kuliah?” kata beliau kepada kami, “mboten yai habis selesai ngopi ini, diwarkop.” Jawab kami pada beliau. “Temanmu, den?” “nggeh, yai, alumni Ma’had Aly piyambake,” “Nggeh, yai; alumni Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin asuhan KH. Luqman Hakim.” Jawabku pada beliau. “Saya dulu pernah bertemu Kiai Luqman Hakim sewaktu di UII sewaktu memanggil beliau sebagai pembicara, jurusannya apa disana?” tanya Kiai Nur Khalik kepadaku, “tasawuf, yai,” kataku. “sudah ngajuin judul tesis?” “sampun, yai; kemarin pakai konsep tajrid dan asbab Ibn Athaillah ditinjau menggunakan pemikiran Ibn Ajibah tapi dereng ditampi.”

“Sekarang lagi pakai syatahat sufi ditinjau dari dekonstruksi Derrida,” sambungku. “Seharusnya pakai hermeneutika, bukan dekonstruksi Derrida karena syatahat itu memang bukan kehendak sufi itu sendiri, itu kehendak Allah dan sang sufi tidak kuat untuk mengendalikannya sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang seakan menyalahi aturan syariat, sehingga terjadilah perbedaan satu sama lain; karenanya paling pasnya itu saya kira pakai hermeneutika, tapi dicoba saja pakai Derrida barangkali bisa.” Imbuhnya meyakinkanku. “atau bisa juga syatahat sebagai etika publik, sebab telah menggoncangkan tatanan dunia, iya kan?, bagaimana ada sesuatu yang telah disepakati kemudian digoncangkan oleh sesuatu yang lain.”

“Syatahat itukan manifestasi asma-asma Allah yang terimplementasikan dalam ucapan seorang sufi tersebut, sehingga keluarlah nama Allah assubbuh, alquddus, alhannan, dan yang lainnya; sesuai yang ada dalam diri sufi cocoknya apa, dalam diri ini ya keluar ini; seperti subhaani-nya Abu Yazid al-Bustami.” “Abu Yazid itukan tokoh agung yang kemudian dari keturunannya (nasab bil’ilmi) turunlah Syekh Allaudaulah al-Simnani dari Tarekat Kubrawi, konon disebutkan dalam al-Risalah al-Ghautsiyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, suatu ketika Allaudaulah al-Simnani juga layaknya Abu Yazid al-Bustami hanya saja dengan kalimat dan tampilan syatahat yang berbeda.”

Atau bisa juga kemudian menggunakan Malamatiyah sebagai etika publik, sebab malamatiyah itukan memendam dirinya (self-criticism dan self-blance) guna kedekatan kepada Tuhannya, seperti kata Ibn Athaillah, “idfin wujudaka fi ardzilhumuul famanabata mimma lamyudfan layatimmu nitaajuhu” pendamlah reputasi dan ambisimu pada tanah kerendahan, sebab segala yang tumbuh dan bermekaran tanpa ditanam takkan sempurna hasilnya. Sedangkan banyak sekarang orang-orang mencari popularitas akan tetapi kehilangan eksistensinya. Lalu beliau Kiai Nur Khalik bertanya, “asalmu mana, mas?” “pekalongan, yai,” “saya itu dulu pernah dipanggil ke pekalongan, ke UIN,” tandasnya.

“Aku itu tipikal orang yang gak mau berpindah pembahasan sebelum yang ini (sedang ditulis) selesai, barat itu tatanan perjalanannya lumayan runyam dari hindu, sehingga seperti sekarang ini, karenanya dibutuhkan kerja ekstra untuk menelitinya.” Jawaban Kiai Nur Khalik, saat kami tanya kiat agar senang menulis. Begitu juga amaliyah, ketika kalian masih dalam fase belajar tugas kalian adalah belajar, mendalami dengan benar ilmu-ilmu tersebut. Barangkali seperti inilah rasa para pecinta ilmu yang menghidupkan hari-harinya, dicurahkan untuk ilmu. Bagaimana tidak, setelah kemarin menerbitkan buku, “Waringin Sungsang Jawa” kini berkutit dan berfokus pada pemikiran tantanan barat. “Wallahu a’lam.”  

Cahaya Cinta dan Teladan dari Emha (Cak Nun)

Penulis: Said Kosim, Editor: Fajri Muarrikh

Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, adalah tokoh yang tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di dunia internasional sebagai seorang budayawan, penyair, penulis, pemikir Islam, dan tokoh masyarakat.

Kehidupannya mencerminkan perjalanan panjang seorang intelektual yang senantiasa berpihak pada keadilan, kesetaraan, dan kedamaian.

Lahir pada 27 Mei 1953 di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Cak Nun tumbuh di lingkungan pesantren dan keluarga santri. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Mohammad Abdul Latief, adalah seorang guru agama yang dikenal taat. Tradisi Islam yang kuat di keluarganya menjadi pondasi bagi pemikiran Cak Nun di kemudian hari.

Silsilah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berkaitan dengan garis keturunan keluarga yang berasal dari lingkungan religius di Jawa Timur, khususnya daerah Jombang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pesantren dan tokoh-tokoh ulama besar. Cak Nun berasal dari keluarga yang sederhana namun religius dan penuh nilai-nilai luhur. Ayahnya, seorang guru agama, menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter Cak Nun. Dari lingkungan pesantren dan tradisi keislaman di Jombang inilah, Cak Nun tumbuh menjadi seorang tokoh yang membawa pesan perdamaian, cinta, dan harmoni melalui karya, pemikiran, dan dakwah budaya.

Baca juga: KH. Abdul Hamid Pasuruan Sosok Ulama Sufi dan Tokoh-Panutan/

Pada usia remaja, Cak Nun mengalami pergolakan batin dan mencari makna kehidupan. Ia meninggalkan pesantren Gontor untuk mengembara ke Yogyakarta, kota yang kemudian membentuk sebagian besar kepribadiannya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan para seniman, intelektual, dan aktivis yang membentuk wawasannya.

Meskipun ia sempat kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia memilih jalur pendidikan otodidak dan berguru kepada banyak tokoh besar, seperti Umar Kayam, Umbu Landu Paranggi, dan WS Rendra. Persentuhannya dengan komunitas sastra dan seni Yogya menjadikannya seorang pemikir yang tidak hanya religius, tetapi juga artistik.

Pada masa ini, ia mulai menulis puisi, esai, dan cerpen yang dimuat di media nasional seperti Kompas dan Tempo. Tulisannya sering kali sarat kritik sosial dan bernada spiritual, mencerminkan keresahannya terhadap ketimpangan sosial dan dekadensi moral masyarakat.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin Pembawa Obor Toleransi Ala Gus Dur Muda

Cak Nun menonjol sebagai seorang sastrawan yang menghasilkan banyak karya monumental, seperti:
99 Untuk Tuhanku: Kumpulan puisi yang menjadi refleksi spiritual dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Indonesia Bagian dari Desa Saya: Esai kritis tentang kondisi sosial-politik Indonesia.
Markesot Bertutur: Kisah filsuf desa yang memberikan pandangan mendalam namun sederhana tentang kehidupan.
Arus Bawah: Kumpulan tulisan yang membahas dinamika sosial masyarakat kecil di Indonesia.
Cak Nun menggunakan sastra sebagai media untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, mengkritik kekuasaan yang tidak adil, serta menyampaikan pesan spiritual secara humanis.

Cak Nun menjadi lebih dikenal luas melalui Maiyah, sebuah komunitas diskusi yang ia dirikan. Maiyah bukan hanya sekadar forum intelektual, tetapi juga sebuah ruang spiritual, budaya, dan sosial yang terbuka untuk semua kalangan.

Melalui Maiyah, ia menyampaikan pesan-pesan yang inklusif terhadap berbagai keyakinan dan pandangan; enekankan pentingnya cinta kasih, keadilan, dan keberpihakan kepada kaum marginal; menggugah umat untuk tidak sekadar beragama secara ritual, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Maiyah sering kali dikemas dengan pengajian budaya dan musik yang melibatkan Kiai Kanjeng, kelompok musik yang ia bentuk. Musik mereka menggabungkan elemen tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang unik dan menyentuh hati berbagai kalangan.

Pemikiran Cak Nun tidak hanya tentang agama, tetapi juga kritik terhadap politik, ekonomi, dan sosial. Ia sering menyerukan: kejujuran dan keadilan dalam kepemimpinan; kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa diskriminasi; pentingnya merawat kebudayaan sebagai identitas bangsa.

Ia sering hadir di tengah konflik untuk menjadi mediator, seperti dalam kasus konflik sosial di Ambon, Poso, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Perannya sebagai penyejuk di tengah ketegangan menjadikannya tokoh yang dihormati oleh berbagai golongan, baik Islam maupun non-Islam.

Cak Nun memiliki peran yang sangat penting dan unik dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama melalui pendekatan budaya, seni, dan dialog kemanusiaan. Berbeda dengan pendekatan formal yang sering bersifat doktrinal, Cak Nun menyampaikan nilai-nilai Islam secara inklusif, damai, dan membumi, menjadikannya mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Cak Nun menggunakan seni dan budaya sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam yang penuh cinta, kedamaian, dan toleransi. Salah satu contoh konkret adalah melalui KiaiKanjeng, kelompok musik yang ia bentuk.

KiaiKanjeng menggabungkan unsur musik tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang merefleksikan ajaran Islam sebagai agama yang merangkul keberagaman. Musik mereka sering dijadikan sebagai pengantar refleksi ajaran Islam dalam suasana yang lebih santai namun mendalam. Contohnya, dalam pengajian budaya, Cak Nun menyelipkan nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan pentingnya kebersamaan sambil diiringi oleh lantunan musik dari KiaiKanjeng.

Hal ini membuat dakwahnya lebih “menghidupkan” dibandingkan ceramah formal.
Cak Nun mendirikan Maiyah, yaitu forum pengajian budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Maiyah bukan hanya tempat pengajian, tetapi juga ruang terbuka untuk diskusi spiritual, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Forum ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kelas sosial.

Cak Nun mendorong dialog dua arah, sehingga masyarakat merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya. Cak Nun juga mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang merangkul semua, bukan memecah belah. Pesan-pesan tentang keadilan, kemanusiaan, dan kasih sayang sering kali menjadi inti dari diskusinya.

Dengan pendekatan ini, Cak Nun berhasil menyebarkan pemahaman Islam yang ramah, terbuka, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Cak Nun selalu menekankan bahwa Islam harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan atau dimaknai secara simbolis.

Beberapa poin penting dalam penyebaran nilai Islam menurut Cak Nun adalah: menjunjung tinggi keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan menjauhi sifat-sifat merusak; Cak Nun mengkritik cara beragama yang hanya menekankan ritual tanpa memahami esensi dan nilai spiritual di baliknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Cak Nun sering menyampaikan hal ini dalam konteks ekonomi, politik, dan sosial.

Di tengah situasi global dan nasional yang sering kali dipenuhi konflik atas nama agama, Cak Nun tampil sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Cak Nun sering hadir di tengah masyarakat yang berkonflik, seperti saat kerusuhan Ambon atau Poso, untuk menjadi penengah dan menyampaikan pesan kedamaian dari perspektif Islam.

Melalui pendekatan bahasa yang sederhana, lugas, dan penuh hikmah, Cak Nun berhasil menjangkau generasi muda dalam memahami Islam. Ia mengemas dakwah dengan bahasa modern dan relevan dengan kehidupan anak muda. Pesan-pesan spiritualnya menyentuh sisi emosional, sosial, dan rasional, sehingga mudah dicerna dan diaplikasikan. Generasi muda tidak hanya melihat Islam sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang menyejukkan dan memberi makna.

Cak Nun juga sering mengkritik ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik sebagai bagian dari dakwahnya. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk mengingatkan bahwa Islam mengajarkan keadilan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Misalnya: Mengingatkan pemimpin agar amanah dalam mengemban tugas. Menyerukan kepedulian terhadap kaum miskin dan tertindas sebagai bagian dari kewajiban umat Islam.

Peran Cak Nun dalam penyebaran agama Islam tidak hanya terbatas pada dakwah konvensional, tetapi melalui pendekatan yang lebih inklusif, dan humanis. Beliau berhasil menggabungkan seni dan budaya sebagai media dakwah, mendirikan forum Maiyah sebagai ruang dialog terbuka, menanamkan Islam sebagai ajaran yang praktis dan hidup dalam keseharian, menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Pendekatan Cak Nun menjadikan Islam lebih dekat dengan hati masyarakat, lintas generasi, dan lintas golongan, sehingga nilai-nilainya mampu menginspirasi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

Ngaji Filsafat: Menyebarkan Kesejukan dan Kebijaksanaan Bersama Fahrudin Faiz

Penulis: M. Fatih Qosdana, Editor: Sirli Amry

Fahrudin Faiz, nama yang tidak asing dikalangan pemuda, orangtua, dan bagi mereka penggemar gadget di era globalisasi sekarang ini. Pasalnya tak satupun orang yang tidak mengenal beliau meski di pelosok desa sekalipun. Akses internet yang menjangkau terhadap semua lapisan masyarakat menjadikan beliau banyak dikenal melalui kajiannya yang unik. Berbagai kajiannya menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat. Salah satunya adalah kajian youtube ”Ngaji Filsafat”.

Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., adalah seorang filsuf Muslim kelahiran Mojokerto, 16 Agustus 1975. Dengan keahlian dan dedikasi yang luar biasa dalam bidang filsafat, beliau menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mendalami filsafat, terutama filsafat Islam. Perjalanan pendidikannya dimulai di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat beliau meraih gelar Sarjana (S1) di jurusan Aqidah dan Filsafat pada tahun 1998. Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan pendidikannya di program Magister (S2) pada bidang Agama dan Filsafat di universitas yang sama dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2001. Kecintaannya pada ilmu membawanya meraih gelar Doktor (S3) dalam Studi Islam pada tahun 2014.

Baca Juga:  Refleksi Pemikiran Politik Menurut Imam Al Ghazali dalam Konteks Nilai-Nilai Islam dan Relevansinya pada Era Modern

Dedikasi dan keilmuan yang mendalam dari Dr. Fahruddin Faiz tidak hanya tercermin di ruang akademik, tetapi juga melalui program Ngaji Filsafat yang kini telah memasuki 457 sesi.  Kajian yang beliau usung bersama tim ini pertama kali digelar pada malam Senin sejak tahun 2013, sebelum akhirnya bergeser ke malam Kamis. Salah satu keunikan Ngaji Filsafat ini adalah menghadirkan berbagai macam pemikiran (filosof) barat, timur, asia, nusantara dan lainnya. Dilaksanakan setiap satu minggu sekali menjadikan kajian ini terasa dikangeni dan digandrungi banyak orang. Tema kajian filsafat (banner, pamflet YouTube, instagram, facebook, dan media lainnya) biasanya di share beberapa hari sebelum kajian berlangsung.

”Saya sering mendapat tanggapan dari teman-teman dari media-media mengatakan ada juga yang berharap semoga suatu saat bisa bertemu Pak Faiz. Kemudian ada juga yang mengatakan barangkali Pak Faiz terima aku jadi muridmu dan seterusnya-seterusnya. Sebenarnya yang dapat keuntungan, manfaat daripada itu semua itu adalah saya. Sebab, sebelum kalian tahu tentang pemikiran sebuah tokoh ataupun tema-tema yang akan dikaji maka saya harus lebih tahu dulu daripada kalian, sehingga saya harus mencari referensi terlebih dahulu ini, itu, dan sebagainya. Sehingga seringkali saya tekankan, mari belajar bersama-sama; saya belajar kepada kalian, kalian belajar kepada saya. Sebab hakikatnya seorang guru itu yang mau belajar sebagaimana murid yang mau mengajarkan. Sehingga terus-menerus adanya korelasi yang berkesinambungan.” ungkap beliau Pak Faiz dengan nada rendah yang menenangkan dalam kajiannya.

Pak Faiz, dalam kajiannya seringkali menyelipkan jokes-jokes atau candaan ringan. Hal ini dimaksudkan agar ngaji filsafat terasa menyenangkan dan tidak terkesan berat. Meskipun sejatinya filsafat itu susah, namun ditangan beliau, ngaji filsafat menjadi mudah untuk dipahami baik bagi pendengar secara langsung (mereka yang hadir di MJS pada malam rabu) maupun tidak langsung (mendengarnya dari channel MJS). Tamu yang datang kepada beliau pun tak terhitung jumlah dan asalanya. Mereka tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari berbagai mancanegara. Bahkan karena cara mengkaji filsafat oleh beliau itu tergolong unik dan mudah dipahami, seorang suami istri dari luar negeri rela datang mengaji dan kuliah di jurusan filsafat.

Baca Juga:   Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Salah satu kutipan pernyataan beliau yang pernah beliau sampaikan yakni ”Ketika orientasimu menolong orang lain dikarenakan kasihan terhadap orang tersebut, maka sejatinya engkau sedang melangkahi Allah. Karenanya, sadarilah bahwa kemampuan kita dalam menolong orang lain itu sebab Allah memampukan diri kita untuk menolong orang lain. Sehingga jadilah kita menolong terhadap orang lain. Meskipun hal ini kadang tidak masuk akal akan tetapi memang seperti itulah sejatinya, adanya Allah dibalik seluruh aktivitas kita”.

Dalam kajian ngaji filsafat seri awal memasuki tahun baru 2025 tepatnya hari rabu tanggal 1 januari, kanal ini menghadirkan tema tentang bagaimana menetapkan resolusi yang bermakna. Dengan harapan, resolusi yang dirancang dapat menjadi pijakan untuk memperbaiki diri dan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Semoga channel ngaji filsafat yang dibawa oleh Pak Faiz beserta crew bisa membawakan kesejukan-kesejukan untuk Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Mengenal Syekh Nujumudin : Ulama Sufi Pembabad dan Penyebar Islam di Watusalam

Penulis: Muhammad Irfan, Editor: Fajri Muarrikh

Desa Watusalam terletak di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dan berbatasan dengan Desa Warungasem Kabupaten Batang disebelah timur, dan berbatasan dengan Kota Pekalongan di sebelah utara.

Di desa Watusalam terdapat seorang punden atau leluhur yang membabad tanah Watusalam, bernama Syekh Nujumuddin dari Cirebon, lahir pada tahun 1690 M, dan wafat pada tahun 1771 M, pada bulan safar. Beliau adalah seorang murid dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Jawa Barat. Setelah membuka perguruan atau pesantren di Gua Safarwadi, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan banyak kedatangan murid-murid, salah satunya Syekh Nujumuddin. Kurang lebih tujuh tahun beliau menimba ilmu dan mengambil sanad tarekat Syattariyah, setelah itu Syekh Abdul Muhyi memerintahkan kepada Syekh Nujumuddin untuk menyebarkan Agama Islam dan berdakwah dari Cirebon menuju ke pesisir utara Jawa.

Dalam menuju ke pesisir utara laut jawa, beliau bersama dengan rombongan Syekh Faqih Ibrahim, putra dari Syekh Abdul Muhyi untuk menuju ke Mataram, akan tetapi Syekh Nujumuddin memisahkan diri karena dalam perjalanan beliau teringat pesan gurunya bahwa ada murid tua dari gurunya bernama Syekh Tholabuddin di Batang, yang saat itu sudah menjabat menjadi penghulu di Batang. Akhirnya, Syekh Nujumuddin berpisah dari rombongan dan menuju ke murid tertua Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Dalam perjalanannya, beliau beberapa kali bertemu dengan orang untuk menanyakan tempat tinggal Syekh Tholabuddin, akhirnya setelah mengetahui keberadaan Syekh Tholabuddin, Syekh Nujumuddin mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Syekh Tholabuddin, dikarenakan Syekh Tholabuddin sudah menjadi penghulu. Beliau singgah di suatu daerah untuk meminta petunjuk sebelum menemui Syekh Tholabuddin, daerah itu dipenuhi pohon salam dan bambu, kemudian beliau memilih dibawah pepohonan bambu dan mendirikan gubuk untuk tempat tinggal tepatnya di pinggir kali kupang. Orang yang mengetahui ada gubuk di pinggir kali kupang dan mengetahui beliau seorang ulama, akhirnya banyak yang mendatangi untuk berguru kepadanya. Pada tahun 1740 M, beliau mendirikan gubuk atau pesantren untuk menampung murid-murid yang belajar dengan beliau.

Baca Juga : Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Setelah mendapat petunjuk dan sudah lama mengajar murid-muridnya, beliau menemui Syekh Tholabuddin di Masin. Serampung menemuinya, Syekh Nujumuddin kembali ke tempat padepokannya yang di pinggiran kali kupang, yang nantinya tempat itu dinamakan Watujoyo. Disana syekh Nujumuddin mendirikan perkampung yang bernama Watujoyo, sehingga beliau dikenal Buyut Watujoyo. Beliau lah yang pertama kali membabad tanah yang tadinya alas menjadi perkampungan. Di era Belanda desa Watujoyo nantinya di pecah menjadi dua, pertama menjadi desa Kertoharjo dan kedua bernama Watusalam. Makam Syekh Nujumuddin berada dikompek pemakaman seklayu desa Watusalam. Dalam catatan naskah Cirebon berkode KBG 628 PNRI, dari bagus ihram, ditulis pada kertas Eropa. Terdapat dua jenis bahasa yaitu bahasa Arab dan pegon. Bahasa Arab berjumlah 120 halaman dan 30 halaman menggunakan pegon, tertulis silislah sanad keilmuan Syekh Nujumuddin. Untuk silsislahnya, secara berurutan sebagia berikut.

Rasulullah saw.

Ali kang putra Abi Thalib

Husein al-Syahid

Zainal Abidin

Muhammad Baqir

Ja‟far al-Sidiq

Sultan Arifin Abi Yazid al-Bistami

Muhammad Magrib

Arabi Yazid al-Isyqi

Abu Mugafir Maulana Ihram Tusi

Abi Hasani Harqani

Hadaqili Madri al-Nahrini

Muhammad Asyiq

Muhammad Arif

Hidayat Allah Sarmusun

Hasur

Muhammad Gaus kang putra Hatib al-Din

Wajih al-Din

Sibgat Allah kang putra Sayyid Ruh Allah

Sayyidina Abi Muwahid Abd Allah Ahmad kang putra Abbas

Syaikh Ahmad kang putra Muhammad ing Madina, Syaikh Ahmad Qasyasi

Syaikh Abd al-Rauf kang putra Ali kang bangsa Syaikh Hamzah Fansuri

Syaikh Abd al-Muhyi Safarwadi

Syaikh Nujum al-Din

Kanjeng Kyai Haji Muhammad Yunus Saferwedi

Kyai Bagus Muhammad Taraju Cisarua

Bagus Ihram Carebon Babakan

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial 

Demikianlah biografi dari Syekh Nujumudin yang bisa penulis ceritakan. Syekh Nujumuddin meninggalkan warisan yang tak hanya berupa perkampungan dan pesantren, tetapi juga jejak spiritual yang terus hidup melalui para murid dan silsilah keilmuannya. Hingga kini, Desa Watusalam tetap mengenang beliau sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut, dengan makamnya menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati.  Jika ada kekeliruan, bisa dikoreksi bersama.

Wallahu a’lam..

Mengenal Lebih Dekat Sam’ani Sya’roni: Sang Pembawa Petuah Sejak Muda

Pewarta: Hilma, Rista, Danny, Editor: Azzam Nabil H.

Prof. Dr. K.H. Sam’ani Sya’roni, M.Ag, adalah pria kelahiran 5 mei 1973 yang lahir di desa Ketas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, anak ke 9 dari pasangan K.H Nur Sya’roni dan ibu Hj. Istiqomah. Prof. K.H Sam’ani tinggal bersama istri tercinta Izza Kamila, S.Pd dan anak tersayang Aisya Maila Shofya di desa Wangandowo Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan.

Prof. K.H Sam’ani mengawali pendidikannya di MI Wonopringgo III sembari mengaji di madrasah diniyah yang berada di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di MTs YMI Wonopringgo sambil memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Miftakhul Huda yang bertempatkan di daerah Pesantunan, Kedungwuni. Pondok pesantren ini berada di bawah asuhan K.H. Fakhrurozi.

Selepas tamat dari MTS, Prof. K.H. Sam’ani melanjutkan memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, dan menempuh pendidikan formal di MAN Tambak Beras. Namun pada saat naik ke kelas 2 Aliyah, Prof. K.H Sam’ani pindah belajar ke MAS Simbang Kulon, Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, dan juga meneruskan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Nurul Huda, Simbang Kulon, yang di Asuh oleh K.H. Chudhori Tabri.

Baca Juga: Menyingkap Kehidupan dan Ajaran Gus Baha: Antara Fikih, Tasawuf, dan Muhasabah Diri

Setelah tamat dari MAS Simbang Kulon, Prof. K.H Sam’ani kemudian menempuh pendidikan tinggi dengan berkuliah di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Pekalongan yang menjadi cikal bakal Kampus UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama menempuh kuliah S1 ini, Prof. K.H Sam’ani nyantri di ponpes Al Aribiyah yang di asuh oleh Pondok Pesantren Al Arifiyah yang diasuh oleh K.H. Zaenal Arifin.

Prof. K.H Sam’ani mendapatkan gelar S1 Fakultas Syariah IAIN Pekalongan jurusan Qadla’ / Peradilan Agama pada tahun 1996. Kemudian pria yang sejak kecil gemar berpidato ini memutuskan hijrah ke Jakarta untuk mencari pengalaman baru di ibu kota. Dengan modal do’a dari kedua orang tua dan rasa percaya diri Prof. K.H sam’ani mengikuti Pendidikan kader ulama MUI DKI angkatan ke 3. Setelah menyelesaikan Pendidikan kader ulama, Prof K.H Sam’ani mengikuti kuliah lagi di Pendidikan bahasa Arab, Qism Diblum LIPIA, Jakarta.

Kemudian di tahun 1999, Prof. K.H Sam’ani diangkat sebagai dosen STAIN Pekalongan. Dua tahun setelahnya, Prof. K.H Sam’ani mendapatkan tugas dari STAIN mengikuti pendidikan Short Course Daurah Tadribiyyah fi al – Lughah al – ‘Arabiyyah di Jami’ah Qanat Swiss Ismailiyyah, Mesir. Adapun dalam menempuh pendidikan S2 dan S3, beliau mendalami studinya dengan mengambil konsentrasi bidang hukum-hukum Islam di UIN Walisongo Semarang, hingga akhirnya mendapatkan gelar megister dan doctor studi islam pada tahun 2017.

Dengan penuh semangat dalam menuntut ilmu dan giat melakukan penelitian di bidang studi terkait, kini anak yang berasal dari desa Ketas, kecamatan Wonopringgo, kabupaten Pekalongan ini telah mencapai gelar akademik tertinggi yakni sebagai guru besar atau professor dalam bidang ilmu hukum islam di UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama perjalanan karirnya sebagai seorang dosen, Prof. K.H Sam’ani pernah di amanati beberapa tugas tambahan, yaitu menjadi kepala program studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah STAIN Pekalongan, menjadi Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan kelembagaan Fakultas Syariah IAIN Pekalongan, dan saat ini beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Disisi lain, karena keuletan dan etos kerja yang tinggi, Prof. K.H. Sam’ani juga diberikan amanah sebagai mediator non-hakim di pengadilan agama Kajen, Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), Ketua dewan pengawas syariah KSPPS BMT Bahtera Pekalongan dan pengasuh beberapa majlis ta’lim yang terdiri dari pengajian rutin tafsir Al quran di masjid agung  kabupaten Batang, majlis ta’lim masjid Asy sya’roni Limbangan, kecamatan Karanganyar, majlis ta’lim Attawab, Karang asem Batang, majlis ta’lim musholla Anshori Simbang wetan Buaran, Pekalongan, kajian rutin KSPPS Bahtera, serta pengasuh ngaji Al quran untuk anak2 kecil di rumahnya.

Dalam bidang akademik, Prof. K.H Sam’ani Sya’roni, M.Ag juga telah menghasilkan berbagai macam karya-karya ilmiah seperti jurnal, prosiding, buku, haki, makalah seminar nasional dan internasional. Salah satu karyanya berbentuk buku yang berjudul “Tafkirah Ulum Al -Qur’an, Pekalongan: Al-Ghotasi Putra, 2013”

Disamping itu, dalam mengajarkan ilmunya atau ketika berdakwah, beliau juga terjun langsung di lingkungan masyarakat mulai dari pelosok desa, ibu kota, bahkan internasional. Tak heran, karena usahanya yang gigih dalam berdakwah, Prof K.H Sam’ani juga sering diundang dalam acara- acara penting, dan bahkan sering melintang di staisun televisi seperti BATIK TV, TVRI, dan bahkan di acara siraman qolbu bersama ustad danu yang tayang pada stasiun televisi MNCTV. Namun setelah menjadi dosen di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Peklongan, akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti tampil di stasiun televisi dan fokus pada karirnya menjadi dosen serta memberikan kontribusi penuh kepada kampus.