Serap Aspirasi Lintas Agama, LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Susun Naskah Akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama  

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

KABUPATEN PEKALONGAN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus Dur) gelar Forum Group Discussion (FGD) penyusunan naskah akademik dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penguatan Moderasi Beragama Kabupaten Pekalongan, Rabu (17/6).

Kegiatan yang melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi ruang untuk menghimpun aspirasi dari berbagai organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, dan perwakilan umat beragama, guna memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca juga: Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Alghiffary, M.Hum., mengatakan bahwa forum tersebut bertujuan mendengarkan berbagai persoalan dan keresahan masyarakat terkait kehidupan beragama. Menurutnya, masukan yang diperoleh akan menjadi bahan penting dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda, agar mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat serta menjamin hak-hak setiap pemeluk agama.

Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jahirin, M.H., dalam sambutannya berharap keberadaan Raperda Penguatan Moderasi Beragama nantinya dapat menjadi payung hukum yang mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat.

“Harapannya, naskah hukum ini nantinya dapat disusun secara komprehensif dan menjadi payung hukum yang bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Andi Eswoyo, S.Ag., dari LP2M menjelaskan bahwa penyusunan naskah akademik harus didasarkan pada tiga landasan utama, yakni filosofis, sosiologis, dan yuridis. Ia menegaskan bahwa regulasi yang disusun tidak dimaksudkan untuk bertentangan dengan peraturan yang sudah ada, melainkan mengatur secara lebih spesifik mengenai penguatan moderasi beragama.

Berbagai masukan disampaikan oleh peserta yang berasal dari MUI, Muslimat NU, LDII, Rifaiyah, FKUB, perwakilan umat Hindu, penghayat kepercayaan, umat Buddha, hingga berbagai organisasi masyarakat lainnya. Perwakilan MUI mengingatkan agar penyusunan Raperda dilakukan secara hati-hati, sedangkan Muslimat NU mendorong agar draf yang telah disusun dapat dibagikan kepada berbagai pihak sehingga dapat disempurnakan bersama.

Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya mencampuradukkan ajaran agama, melainkan membangun sikap saling menghormati dan toleransi di tengah keberagaman. Ia juga menyoroti masih terbatasnya dukungan anggaran untuk program-program penguatan moderasi beragama yang selama ini telah dilakukan FKUB.

Dari diskusi tersebut, sejumlah persoalan krusial berhasil dihimpun, meliputi pengaturan penggunaan pengeras suara dan waktu kegiatan keagamaan, pemakaman umum, pendidikan moderasi beragama, pernikahan, kerja sama antarumat beragama, administrasi kependudukan, anggaran, penguatan FKUB, serta rumah ibadah. Kesembilan isu tersebut akan menjadi bahan kajian dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama.

Misa Sura di Gereja Paroki Santo Yohanes: Menjadi Katolik dengan Nilai-Nilai Jawa

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah

Pekalongan — Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Rasul menyelenggarakan Misa Sura pada Senin (15/6), sebuah perayaan liturgi yang memadukan tradisi Katolik dengan kearifan lokal nilai-nilai Jawa. Acara ini dihadiri puluhan umat dari berbagai usia dan latar belakang, serta tokoh masyarakat setempat.

Misa Sura, yang digelar setiap tahunnya menjelang Tahun Baru Jawa, menerapkan serangkaian ibadat liturgis yang tetap berpegang pada tata Gereja Katolik namun menggabungkan nilai-nilai budaya Jawa. Dalam melihat maknanya, Sartono, selaku Panitia acara menekankan pentingnya harmoni antara iman dan budaya lokal.

Baca juga: Melacak Jejak Pemikiran Islam: Pribumisasi, Inklusif, dan Transformatif sebagai Jalan Damai dan Toleran

“Menjadi Katolik tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru dalam Katolik, kita mengartikan budaya kristus, yaitu dengan menggunakan budaya jawa, ” ujarnya.

Salah satu momen khas pada Misa Sura ini adalah pembacaan doa syukur yang dilantunkan dengan iringan gamelan serta tembang berbahasa Jawa. Umat mengenakan pakaian batik dan kebaya sebagai bentuk kentalnya tradisi nilai-nilai jawa yang terkandung dalam Misa kali ini.

Tak hanya itu, ada juga iring-iringan gunungan hasil bumi dari masyarakat yang nantinya dibagikan kembali, setelah diberi percikan air suci yang sudah di doakan oleh pastor.

Dalam pemaknaan Misa Sura Ekaristi sendiri, pastor Teguh memberikan pemaknaan mengenai bagaimana sebagai katolik dan sekaligus sebagai orang jawa.

“Dalam malam satu suro ini gereja mengajak untuk kembali menjadi hakekatnya orang jawa. Dan kemudian disatukan dengan nilai-nilai kristiani. Karena kita hidup dan tinggal diajak, yang mendapat ajaran dari leluhur dan orang tua kita,” ujarnya.

Puncaknya para umat katolik menerima komuni (tubuh kristus dalam bentuk Hosti), yang menjadi arti bahwa umat adalah bagian dari gereja dan dipersatukan dengan Tuhan sebagai pengampunan dosa. Kegiatan Misa Sura diakhiri dengan doa bersama untuk perdamaian, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Panitia juga mengimbau agar bentuk-bentuk inkulturasi budaya dalam ibadat dijalankan dengan tetap menghormati norma liturgi dan otoritas gereja.

Mahasiswa KKN 64 UIN Gus Dur Pekalongan Manfaatkan Pipa Sebagai Reflektor Jalan

Penulis: Retno Alfianti, Editor: Muslimah

Mahasiswa  Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 3 dari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan melaksanakan kegiatan pemasangan reflektor jalan di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga saat melintasi jalan antar-dusun, khususnya pada malam hari.

Reflektor ini dibuat sederhana namun cukup efektif. Dengan menggunakan Pipa paralon berdiameter 2 inci, pipa tersebut dipotong, ditanam ke tanah kemudian dicor dengan semen supaya kokoh. Setelah kering, bagian atas pipa ditempeli stiker reflektif yang memantulkan cahaya ketika terkena sorotan lampu kendaraan, sehingga memberi tanda visual bagi pengguna jalan yang melintasi jalur minim penerangan.

Baca juga:KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Pemasangan reflektor difokuskan pada jalan penghubung antar-dusun yang minim penerangan, tepatnya di jalan penghubung Dusun Jatirejo dengan Dusun Bangunadi. Kedua dusun tersebut memiliki jalur yang minim penerangan serta jalanan yang masih dikelilingi kebun. Sehingga, adanya reflektor ini sangat dibutuhkan sebagai penanda jalan sekaligus alat bantu visual bagi pengguna jalan pada malam hari.

Pemasangan reflektor ini dilakukan secara bertahap dikarenakan kendala cuaca, mulai pada tanggal 24 Mei pemasangan tiang kemudian dilanjutkan kembali pada tanggal 28 Mei guna pemasangan stiker reflektor. Kegiatan tersebut dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh anggota KKN kelompok 3, dengan saling membantu dalam proses pengangkutan, penentuan titik, penggalian lubang serta pemasangan stiker. Kebersamaan dalam kegiatan ini memperkuat solidaritas antar anggota, sekaligus mempererat hubungan dengan warga desa yang turut mendukung dan membantu di lapangan.

Program ini menuai pujian dari Kepala Desa Pododadi Bapak Achwan Samiaji, menyampaikan ucapan terima kasih serta harapannya agar reflektor jalan ini memberi manfaat langsung bagi keselamatan masyarakat setempat.

“Memang kondisi jalan tersebut turunan curam, begitupun kondisi sekitar yang masih kebun semu serta minim penerangan. Adanya program ini, kami berterima kasih karena sangat membantu guna keselamatan masyarakat” ujar Achwan Samiaji.

Program sederhana ini menjadi contoh nyata bahwa kepedulian terhadap keselamatan berlalu lintas bisa dimulai dari skala lokal dengan biaya yang minim, namun berdampak luas. Kehadiran reflektor buatan mahasiswa kini menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan penerangan jalan desa.

Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Penulis: Kamaludin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang sarat akan makna dan nilai kebersamaan adalah Larung Sesaji, yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir, termasuk di Banyuwangi. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan bagi berbagai elemen warga. Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan Larung Sesaji ini dapat dilihat dari teori sosiologi masyarakat.

Masyarakat adalah suatu sistem hubungan antara manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, serta memiliki kebudayaan, norma, dan nilai-nilai yang sama (KBBI). Karakteristik masyarakat dicirikan oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang mereka anut bersama. Namun, hal yang luar biasa adalah setiap masyarakat memiliki nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak ada dua masyarakat yang persis sama. Peristiwa ini menggambarkan bahwa sifat moderat sangat diterapkan oleh masyarakat Banyuwangi, yang saling bergotong royong dan tidak membedakan satu sama lain, khususnya terkait kepercayaan yang dianut.

Apa itu kegiatan Larung Sesaji dan apa saja isi dari acara tersebut sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan bermoderasi beragama?

Baca juga : Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Larung Sesaji merupakan kegiatan bermoderasi beragama. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang agama dan kepercayaan masing-masing. Larung Sesaji adalah sebuah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia, yang pada praktiknya mungkin memiliki sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai permohonan keselamatan dan kemakmuran. Hal ini sangat mencerminkan moderasi beragama karena pelaksanaannya tidak memandang latar belakang agama masyarakat.

Rangkaian kegiatan Larung Sesaji terdiri atas beberapa tahapan. Pertama adalah persiapan, di mana masyarakat menyiapkan sesajen berupa berbagai jenis makanan, buah-buahan, dan bunga. Kedua, dilakukan prosesi larung dengan membawa sesajen tersebut ke pantai atau laut. Ketiga, masyarakat memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Tahap terakhir adalah pelepasan sesajen ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.

Baca juga : Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

  1. Makna moderasi beragama yang bisa diambil dari tradisi Larung Sesaji ini sangat beragam. Pertama, sebagai wujud menghormati Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada-Nya selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Kedua, tradisi ini mengajarkan untuk menghargai keberagaman. Pelaksanaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan mampu memupuk rasa toleransi. Ketiga, kegiatan ini mengembangkan kesadaran sosial tentang pentingnya menghargai lingkungan dan alam. Keempat, Larung Sesaji mampu mengintegrasikan unsur agama dan budaya sehingga tercipta harmoni dan keselarasan. Pada akhirnya, tradisi ini terus menumbuhkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap Sang Pencipta beserta lingkungan sekitarnya.

 

Vihara Bodhi Dharma Maknai Waisak dengan Ketenangan Jiwa dan Perdamaian Semua Makhluk

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah

Pekalongan – Minggu (31/5), Vihara Bodhi Darma gelar Hari Raya Tri Suci Waisak 2570/2026 dengan penuh suka cita. Perayaan yang berlangsung dengan khidmat ini, menjadi pemantik bagi umat Buddha dalam menjaga kedamaian batin di tengah hiruk pikuk dan tantangan dunia.

Ibadah berpusat di Dhammasala Vihara, umat Buddha diajak untuk bermeditasi dengan merenungkan diri sebagai penggambaran empat ajaran Buddha—cinta kasih, keseimbangan, kegembiraan, dan welas asih—yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan perdamaian semua makhluk.

Vihara Bodhi Dharma sendiri termasuk dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia. Dalam prosesi ibadah di hari—H Waisak yang dihadiri sekitar 70 jemaat ini, menjadi ibadah utama dari detik-detik Waisak sampai pembacaan Paritta, meditasi, serta ceramah dari Bhikkhu, dan diakhiri dengan doa bersama sembari pemercikan air paritta oleh Bhikkhu. Prosesi terakhir yaitu para umat melakukan tali asih kepada Bhikkhu dengan tertib dan khidmat.

Baca juga: Potret Keharmonisan Agama di Indonesia : Surabaya Suguhkan 6 Tempat Ibadah yang Berdampingan

Dalam ajaran Buddha khususnya Theravada sendiri di Vihara Bodhi Dharma, para umat ditekankan mengenai hati yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Dalam Buddha hal tersebut menjadi kunci utama dalam kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh Bambang, selaku pengurus vihara setempat.

“Dari agama Buddha sendiri, yang ditekankan adalah pikiran yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Yang bisa menyelamatkan kita hanya itu, sebab orang yang masih terkungkung hanya tentang duniawi, berarti mereka masih dalam taraf belajar,” Jelasnya.

Dalam melihat keadaan zaman sekarang, penekanan ajaran para Buddha sangat ditekankan di Vihara Bodhi Dharma. Seperti fokus peribadatan yaitu pada penyucian diri dari segala yang kotor dalam diri tiap umat.

“Buddha selalu mengajarkan untuk tidak melihat ke luar, tapi melihat ke dalam. Melihat ke diri sendiri. Hal yang tidak baik perlu dikikis, agar terhindar dari karma buruk,” Ujar Daisy, selaku panitia altar vihara.

Hal tersebut juga sejalan dengan ajaran Buddha yang selalu mengajarkan akan pentingnya menyebar kebaikan. Seperti acara sebelumnya, di pagi hari yaitu Fangseng—melepaskan hewan seperti ikan sebagai lambang pembebasan makhluk hidup dari ancaman.

Dalam prosesi ibadah Waisak, ketenangan menjadi kunci utama dalam khidmat berlangsungnya acara. Dalam sesi wawancara Daisy menjelaskan keramaian anak-anak menjadi kendala saat ini dalam kegiatan. Hal tersebut dikarenakan jemaat dewasa serta anak-anak tidak dipisah menjadi faktor sulitnya untuk membangun ketenangan. Daisy juga menambahkan, harapannya Waisak tiap tahunnya mampu memberikan kebaikan, kesejahteraan, serta kedamaian bagi semua makhluk. Serta mampu menambah antusiasme para umat untuk merayakan Waisak.

Menjaga Bumi sebagai Amanah: Mulyorejo Festival 2026 Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir

Penulis : Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui slogan dan kampanye. Kesadaran tersebut yang sedang dibangun melalui Mulyorejo Festival 2026 di Desa Mulyorejo, Jumat (29/05). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan untuk merespons berbagai persoalan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir.

Baca juga: Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam

Muhammad Abdul Razak, selaku Marketing dan Admin Media Sosial Mangrove Mulyoasri, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan yang berkembang di sekitar desa. Menurutnya, pemerintah desa ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghijauan di wilayah tempat tinggal mereka.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, baik menjaga kebersihan maupun melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan dimulai pada pagi hari, dengan kerja bakti yang melibatkan warga Desa Mulyorejo. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup yang mereka tempati. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir dan malam hari seremonial dengan menyuguhkan live music dan sharing session.

Penanaman mangrove diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lingkungan, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan seperti UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Pekalongan, dan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tercatat sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan melalui pendaftaran resmi, ditambah sekitar 37 peserta dari kalangan pelajar madrasah tsanawiyah. Adapun materi edukasi lingkungan disampaikan oleh Ki Suryo Joko Carito, SP. dari Pemalang.

Di balik kegiatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar yang sedang dihadapi masyarakat pesisir, yakni abrasi dan penurunan muka tanah yang terus mengancam kawasan pantai utara. Razak menilai bahwa penanaman mangrove menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Di daerah pesisir, peningkatan abrasi sangat luar biasa. Dengan adanya penghijauan dan menjaga lingkungan, diharapkan dapat meminimalisir penurunan tanah serta memperlambat laju abrasi di kawasan pesisir utara,” katanya.

Semangat yang dibawa dalam Mulyorejo Festival juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah atau penjaga bumi. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut sering kali merupakan akibat dari tindakan manusia sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Meski, keberhasilan festival ini tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau bibit mangrove yang ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kesadaran tersebut terus hidup setelah acara berakhir. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah apakah kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi budaya sehari-hari masyarakat, atau justru berhenti sebagai agenda tahunan semata. Dengan demikian, Mulyorejo Festival tidak hanya menjadi perayaan lingkungan, tetapi juga momentum refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga alam untuk generasi yang akan datang.

Solusi Kurban bagi yang Tidak Mampu: Penjelasan Fikih dan Teladan Sahabat Ibnu Abbas

Penulis: Muhammad Robba Masula, Penyunting: Dwi Selma F

Tahun ini, pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada tanggal 27 Mei 2026. Momen ini menjadi kebahagiaan yang dinantikan oleh umat Islam. Pada hari istimewa ini, kaum muslim dianjurkan untuk menyisihkan rezekinya guna melaksanakan ibadah kurban. Secara syariat, ibadah kurban atau udhiyah memiliki aturan yang mengikat, terutama terkait jenis dan usia hewan sembelihan.

Namun, bagaimana jika seorang muslim belum memiliki rezeki yang cukup untuk melaksanakan ibadah kurban secara ideal?

Banyak masyarakat yang masih keliru memahami anjuran ibadah kurban saat momentum Idul Adha, sehingga berujung pada kebiasaan yang kurang baik secara fikih. Penjelasan mendalam terkait hal ini disampaikan dalam sebuah potongan video dari Gus Baha yang membedah solusi bagi umat Islam yang belum mampu menyembelih ternak secara ideal.

Baca juga: Kritik Kebijakan Gerbong Khusus Perempuan dalam Perspektif Kitab Assulam

Sebagaimana diketahui, syarat untuk melaksanakan kurban atau udhiyah memang sangat ketat, mencakup kriteria usia dan jenis hewan ternaknya. Namun, ketidakmampuan memenuhi syarat tersebut bukan berarti seseorang harus pasrah tanpa usaha di hari raya.

“Saya fatwakan di sini, sing jenenge udhiyah iku kudu wedus kibas umure setahun, nak sapi rong tahun ditandai tanggal gigine. Itu benar, itu udhiyah,” terang Gus Baha dalam video tersebut.

Meski membenarkan standar ideal tersebut, ia menekankan bahwa tanggal 10 Zulhijah pada prinsipnya adalah hari raya untuk makan dan minum (yaumul-akl wasy-syurb). Oleh karenanya, terdapat sunah untuk tetap menyembelih hewan yang halal bagi yang tidak mampu membeli kambing atau sapi.

Lebih lanjut, dalam videonya, dikisahkan pula teladan dari salah satu sahabat Nabi, yakni Ibnu Abbas, yang mengambil jalan tengah agar tetap bisa menghidupkan sunah pada hari raya tanpa memaksakan diri. Hal ini merupakan bentuk menjaga kehormatan diri dari sifat tamak.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

“Tapi sebetulnya kalau tanggal 10 itu kesunatan nyembelih apa saja asal halal, asal gak tikus. Sehingga Ibnu Abbas itu tiap tanggal 10 nggih nyembelih pitik, nggih pitik tenan, supaya menghilangkan tomak (sifat serakah/mengharap pemberian orang lain). Mergo iku yaumu aqlin wa syurbin, hari makan-makan,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti fenomena dan kebiasaan yang sering terjadi di tengah masyarakat Jawa. Banyak warga yang akhirnya berdiam diri dan menggantungkan harapan pada pembagian daging dari panitia karena merasa belum mampu berkurban.

“Lah wong Jowo itu salah kaprah, berhubung gak kelar (mampu) wedus, gak nyembelih blas. Akhirnya tomak (menunggu) ngungkit-ungit panitia, itu keliru. Atau tuku daging minimal keluarga itu ndak tomak,” tegasnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa dalam pandangan fikih, tidak mampunya seseorang mencapai sesuatu yang ideal tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau kebaikan tersebut sama sekali (blas-blasan).

“Coro fekihe, nak gak iso ideal ojo blas-blasan. Larangane Islam, nek gak iso kurban wedus, minimal tuku daging sekilo,” pungkasnya.

Kunjungan dan Dialog Aspiratif Desa Kutorojo

Penulis: Muhammad Wafiq Farhan, Editor: Nahla Asyfiyah

Pada Kamis, 23 April 2026, telah dilaksanakan kunjungan silaturahmi dan dialog aspiratif yang bertempat di Wisata Gua Macan, Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen. Pertemuan ini dihadiri oleh Dr. Nur Khafid, S.Th.I., M.Sc., selaku perwakilan dari Kementerian Agama, beberapa dosen UIN Gus Dur, yaitu: Dr. Nanang Hasan Susanto, M.Pd.I., Syamsul Bahri, M.Sos, dan Muhammad Alghiffary, M.Hum. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulhajat, beserta jajaran kepala dusun setempat. Pemilihan lokasi di Gua Macan menjadi latar belakang penting dalam mendiskusikan kembali sejarah serta identitas desa yang dahulu bernama Desa Kutomulyo.

Sejarah Desa Kutomulyo ini berkaitan erat dengan kisah Mbah Mulyo dan putrinya yang melarikan diri ke wilayah ini untuk menghindari paksaan orang Belanda. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Desa Kutorojo yang mengandung filosofi dan harapan agar desa ini tumbuh menjadi sebuah kota kecil (kota mini) yang mandiri serta makmur. Secara geografis, Desa Kutorojo terletak pada ketinggian 450–500 meter di atas permukaan laut (mdpl), posisi yang sangat mendukung potensi pertanian, terutama pada komoditas kopi yang melimpah.

Baca juga: Menanam Harapan, Menumbuhkan Ekoteologi, LP2M UIN Gus Dur Bersama Desa Linggoasri Tanam 1.000 Bibit Kopi di Tanah Wakaf

Selain potensi kopi, kekuatan ekonomi Desa Kutorojo bertumpu pada sektor kehutanan seperti pinus, persawahan, serta industri kreatif berupa kerajinan bambu atau reyeng. Kerajinan ini merupakan mata pencaharian mayoritas warga yang pemasarannya telah menembus pasar ibu kota Jakarta. Desa ini juga memiliki kekayaan alam unik berupa mata air yang mengalir dari batu berlubang di atas bukit sebagai sumber kehidupan warga. Keberadaan sumber daya ini terus didorong pengembangannya guna mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi desa yang ada.

Dalam dialog yang berlangsung di Gua Macan tersebut, dipaparkan mengenai keragaman tata cara peribadatan dari berbagai agama dan kepercayaan yang ada di desa. Mulai dari Islam, Hindu, hingga Kapitayan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua Agama Hindu setempat yang memperkuat potret nyata kerukunan antarumat beragama di Desa Kutorojo. Kehidupan sosial di desa ini memang menjadi teladan moderasi, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang dan organisasi kemasyarakatan dapat hidup berdampingan dengan rukun.

Melalui pertemuan di lokasi wisata ini, muncul harapan besar agar Desa Kutorojo dapat dikenal luas sebagai “Desa Moderasi”, menyamai reputasi desa-desa moderasi lainnya yang sudah terkenal di Indonesia. Harmoni sosial yang ditunjukkan oleh warga dalam keseharian mereka menjadi pondasi utama bagi pembangunan desa ke depannya. Dengan demikian, perpaduan kekayaan alam serta kuatnya nilai toleransi, Desa Kutorojo optimis dapat bertransformasi menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lebih lanjut, potensi pertanian kopi di ketinggian 450–500 mdpl diproyeksikan dapat diintegrasikan dengan pengembangan wisata untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Dialog ini menekankan pentingnya penguatan sektor ekonomi lokal agar selaras dengan identitas budaya dan nilai-nilai religius masyarakat setempat. Optimalisasi pasar lokal menjadi salah satu rekomendasi strategis untuk memasarkan potensi-potensi unik tersebut secara lebih luas.

Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk terus menjaga warisan sejarah dan harmoni lintas agama yang telah mengakar sejak zaman Desa Kutomulyo. Sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah desa menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Desa Kutorojo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Pekalongan. Melalui semangat kebersamaan, Desa Kutorojo siap melangkah menjadi destinasi yang unggul baik dari segi agrikultur maupun kemasyarakatan.

Tingkatkan Kapasitas Pengelolaan Website: Hijratunaa Berikan Pelatihan Intens Selama 2 Hari

Penulis: Muslimah, Editor: Atika Puspita Rini, Foto: Luthfi

Kamis (23/4), Hijratunaa sebagai sindikasi media berikan pelatihan intens selama 2 hari, Kamis-Jumat 23-24 April 2026 untuk tim pengelola, dengan tujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan webbsite. Pelatihan ini bertempat di meeting room lantai 3 Gedung Perkuliahan Terpadu (GPT) Kampus 2 UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola webbsite, mulai dari pengenalan dasar hingga optimalisasi distribusi tulisan. Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi terkait manajemen konten & redaksi digital, praktik langsung pembuatan opini esai, hingga berkenalan dengan budaya lokal di ranah digital.

Baca juga:Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Dengan menghadirkan narasumber Dr. Nur Khafid, S.Th.I, M.Sc. (Islam Santun), Bambang Suryantoro S, S.H., M.Si. (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang), dan Zaimuddin Ahya, M.Ag. Nur Khafid sendiri menjelaskan bahwa daya tarik sebuah webbsite merupakan hal yang penting dalam pengelolaan media,
“Nah, yang berikutnya adalah daya tarik. Nah, kalian daya tarik ini daya tarik website-nya, daya tarik gaya tulisannya, maupun daya tarik dirimu. Jangan sampai kalian itu mau membranding Hijratunaa tetapi kalian aja enggak membuat orang tertarik.”

Pimpinan Redaksi Hijratunaa Alghiffary, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat pengelola dalam mengembangkan webbsite Hijratunaa,
“IslamSantun.org pengelolaannya dihadirkan di sini karena beliau memiliki banyak sekali pengalaman dari pahitnya mengelola web hingga sampai sekarang beliau menjadi orang besar. Nah, itu bisa menjadi pemantik semangat teman-teman pengelola Hijratunaa seperti itu.” Jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi yang diberikan oleh narasumber. Diharapkan melalui pelatihan ini, peserta mampu mengelola webbsite secara mandiri dan memanfaatkannya sebagai media informasi yang efektif.

Nyai Sinta Nuriyah: Puasa Adalah Fondasi untuk Selamatkan Demokrasi yang Goyah

Penulis: Muhammad Robba Masula, Editor: Ika

PEKALONGAN (22/2/2026) Di saat sebagian besar orang masih terlelap, suasana di Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan justru menghangat oleh nyala api persaudaraan. Kehadiran Ibu Negara ke-4 RI, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, membawa kesejukan bagi ratusan jiwa yang berkumpul dalam sahur bersama bertajuk “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi.”

Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Gus Dur beserta segenap sivitas akademika, tokoh lintas agama, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pekalongan, mulai dari Ketua DPRD, Asisten Bupati, Kapolres, perwakilan PC NU Kabupaten Pekalongan, PC NU Kota Pekalongan, PD Muhammadiyah Pekalongan, serta masyarakat desa di sekitar wilayah kampus.

Kehadiran Dr. (H.C) Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam rangkaian Safari Sahur Ramadan 2026 menjadi momentum refleksi bersama atas berbagai persoalan kebangsaan. Dikenal konsisten selama lebih dari dua dekade menggelar sahur kebangsaan lintas daerah, tahun ini UIN Gus Dur Pekalongan menjadi titik ketiga dari rangkaian kegiatan tersebut.

Baca juga: Menggugat “Serakahnomic”: Banjir Sumatera Aceh dan Urgensi Taubat Ekologis Bangsa

Dalam orasinya yang lembut namun sarat makna, beliau mengingatkan bahwa puasa adalah madrasah akhlak.

“Puasa itu jalan menjadi pribadi takwa yang berkelanjutan,” tutur beliau. “Bukan hanya menahan lapar, tapi membasuh hati dengan kejujuran, kesabaran, dan saling menolong. Inilah fondasi yang bisa menyelamatkan demokrasi kita yang tengah goyah.”

Pesan paling menyentuh dari Nyai Sinta adalah tentang bagaimana kita memandang perbedaan. Beliau menekankan bahwa menghormati manusia adalah bentuk tertinggi dari menghormati Sang Pencipta.

Rektor UIN Gus Dur Pekalongan mengungkapkan kekagumannya atas keteguhan Nyai Sinta yang selama 20 tahun istiqamah merawat nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kampus ini memikul beban moral untuk menjadi representasi gagasan Gus Dur: Kesetaraan (Equalitas).

“Kita memiliki hak yang sama dan kesempatan berkembang yang sama. Equalitas, kesamaan, tidak boleh dibeda-bedakan sebagaimana yang digagas Gus Dur,” tegas Rektor.

Memilih waktu sahur sebagai momen refleksi adalah simbol harapan. Di waktu yang mustajab ini, doa bersama dipanjatkan agar Indonesia tetap kokoh di tengah badai zaman.

Menutup dialog kebangsaan, beliau mengajak hadirin mengenang Gus Dur melalui lantunan syiir Munajat Abu Nawas, sebagaimana kebiasaan almarhum Gus Dur saat menutup pidatonya. Suasana pun kian khidmat dan reflektif.