Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Karimatul Afiah, Editor: Ibnu Salim.

Pada hari Rabu, tanggal 3 April 2024, sebuah langkah penting dalam memperkuat toleransi agama dan kepercayaan di balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, terwujud melalui sebuah kegiatan dialog interaktif yang diprakarsai oleh Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Gusdur Pekalongan.

Kegiatan ini menjadi panggung harmoni yang melibatkan mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta perwakilan tokoh agama dan kepercayaan dari berbagai keyakinan, dengan tujuan mencapai kesepakatan dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat.

Partisipasi yang luas dari berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam mencapai hasil yang diharapkan. Mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan hadir dengan semangat untuk berkontribusi dalam membangun kedamaian dan toleransi di tengah masyarakat. Mereka membawa energi segar dan gagasan kreatif untuk menjalin hubungan harmonis antarumat beragama dan kepercayaan di Desa Kutorojo.

Dialog ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga merupakan bagian dari persyaratan pengajuan status Kampung Moderasi Beragama Desa Kutorojo kepada Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan. Dialog ini menjadi sarana utama untuk memperoleh dukungan dan kesepakatan bersama dalam mewujudkan visi kampung yang inklusif dan moderat dalam hal keagamaan dan kepercayaan.

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, dan perwakilan tokoh agama serta kepercayaan. Melalui diskusi yang terbuka dan konstruktif, berbagai perbedaan dan perspektif diperhitungkan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan inklusif.

Apresiasi yang tinggi diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Dukungan dan kolaborasi dari mahasiswa KKN, pemerintah desa, serta tokoh agama dan kepercayaan menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun toleransi dan keberagaman di Desa Kutorojo.

Dengan berakhirnya kegiatan dialog interaktif ini, harapan baru pun muncul untuk Desa Kutorojo. Langkah-langkah konkret dalam memperkuat toleransi dan keberagaman akan terus dilakukan, demi terwujudnya visi sebagai Kampung Moderasi Beragama yang menjadi contoh bagi desa-desa lainnya.

Semangat untuk terus berkolaborasi dan berkomitmen dalam membangun kedamaian serta harmoni antarumat beragama dan kepercayaan harus terus dijaga dan diperkuat, sehingga Desa Kutorojo dapat menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Dalam dialog interaktif ini, terjadi pertukaran gagasan dan pengalaman antara mahasiswa KKN dengan masyarakat Desa Kutorojo. Mahasiswa KKN membawa pengetahuan akademis dan semangat pemuda, sementara masyarakat setempat memberikan wawasan dan kearifan lokal yang sangat berharga.

Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, Riayana, Eva Novitasari. Editor: M. Khairul Anam

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa Kutorojo bersama KKN UIN GusDur Pekalongan telah berlangsung sejak tanggal 28 Maret hingga 3 April 2024. Kegiatan ini menjadi sorotan utama masyarakat Desa Kutorojo karena melibatkan pemerintah desa dan institusi pendidikan tinggi. Pelaksanaan kegiatan ini tersebar di beberapa tempat ibadah, seperti Pura Satya Bakhti Yoga, Masjid Baiturrahman, Musholla Baitul Mu’minin, dan tempat ibadah lainnya di Desa Kutorojo. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di lingkungan desa.

Rangkaian kegiatan meliputi sholat berjamaah, pembukaan acara dengan sambutan dari berbagai pihak, pemberian uang intensif kepada pendidik keagamaan, serta pemberian kenang-kenangan berupa karpet untuk tempat ibadah. Kegiatan ini bukan hanya untuk mempererat hubungan antarwarga desa, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah desa terhadap pendidikan keagamaan dan pendidikan anak usia dini.

Nilai toleransi antarumat beragama sangat dijunjung tinggi dalam kegiatan ini. Bapak Turijo selaku Kasi Kesra dan Pelayanan dengan tegas menyampaikan pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman agama dan kepercayaan yang ada di Desa Kutorojo. Contohnya, saat umat Hindu merayakan Nyepi, umat Muslim diharapkan menghormati dan tidak mengganggu kegiatan tersebut. Semoga dengan pemahaman ini, akan tercipta lingkungan yang harmonis dan penuh dengan saling menghormati di Desa Kutorojo.

Kegiatan monitoring keagamaan dan pendidikan anak usia dini ini merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan anak usia dini di desa mereka. Masyarakat Desa Kutorojo memberikan respon positif terhadap program ini, menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya pemerintah desa dalam memajukan pendidikan.

Diharapkan kegiatan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga mampu memberikan dampak yang nyata dalam peningkatan pemahaman agama dan pendidikan anak usia dini di Desa Kutorojo. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat, diharapkan akan terciptanya generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, sehingga siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sinergi dan Komitmen Bersama: Rakornas Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni

Pewarta: Nanang, Editor: Kharisma Shafrani

 

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (Balitbang Kemenag RI) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Moderasi Beragama pada tanggal 6-8 Maret 2024 yang bertempat di Hotel Mercure Jakarta. Rakornas kali ini mengusung tema “Sinergi Memperkuat Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju dan Harmoni.” Rakornas ini dihadiri oleh peserta yang cukup beragam. Ada perwakilan kampus, baik di bawah naungan Kemenag maupun Kemendikbud Ristek, perwakilan Kanwil, perwakilan Kesbangpol, perwakilan tokoh lintas agama, bahkan perwakilan lintas kementerian.

Pemilihan waktu pelaksanaan rakornas ini cukup tepat, di tengah hiruk pikuk Pemilu 2024, juga pasca munculnya Perpres No. 58 Tahun 2023 tentang penguatan moderasi beragama. Berbagai konflik berkepanjangan antar anak bangsa, yang menghancurkan negara, karena perbedaan agama, bahkan karena perbedaan pandangan dalam internal agama, yang terjadi di banyak negara lain merupakan persoalan serius yang harus segera ditindaklanjuti. Maka dari itu moderasi beragama hadir sebagai salah satu upaya untuk meneguhkan persatuan.

Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disama Gus Men menyampaikan sambutannya bahwa komitmen harus terus kuat untuk menggelorakan isu-isu moderasi beragama bagi keharmonisan Bangsa. Rakornas menjadi ajang strategis untuk menggandeng semua pihak dalam menyukseskan program moderasi beragama.

Alisa Wahid, putri mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, juga turut menghadiri rakornas ini. Dirinya menuturkan bahwa moderasi beragama tidak cukup hanya dengan sosialisasi, namun perlu komunikasi intensif, kerja sama dan kerja nyata yang melibatkan pihak lintas agama, untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari. Alisa juga mengusulkan, agar setiap kementerian baik pusat hingga daerah agar memiliki kader moderasi beragama untuk mempermudah sinergitas pada tataran teknik pelaksanaan dalam rangka memperkuat moderasi beragama.

Seluruh peserta rakornas, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, baik budaya, agama, profesi, bahkan politik pilihan, semuanya larut dalam semangat moderasi beragama. Moderasi beragama seolah-olah menjadi “karomah” sebagai gerakan yang secara fitrah menyatukan, meneduhkan, merajut harmoni atas berbagai perbedaan untuk mewujudkan cita-cita keumatan dan kebangsaan.

Tradisi Malam Likuran: Esensi Keharmonisan dan Syukur dalam Kebudayaan Desa Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman, M. Syukron Ni’am, M. Fathul Huda dan Rudi Riyanto. Editor: Lulu Salsabilah.

Di tengah kesibukan bulan Ramadhan yang penuh kegiatan. Di Desa Kutorojo, tradisi yang dijalankan bukan hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kesatuan masyarakat. Tiap malam 21 Ramadhan, sebuah tradisi bernama Malam Likuran merayapi setiap sudut perdukuhan, menumbuhkan semangat gotong-royong dan persatuan yang telah mengakar dalam budaya lokal. Tradisi ini, meliputi Dusun Kutorojo, Purwodadi, Gunung Telu, dan Silawan, memiliki makna mendalam yang meleburkan spiritualitas dengan kebersamaan sosial.

Tradisi Likuran merupakan ekspresi kekaguman dan rasa syukur kepada Allah SWT menjelang malam Lailatul Qadar, yang disebut sebagai malam lebih baik dari 1.000 bulan. Dengan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, seperti kepala Dusun, ketua RW, ketua RT, dan masyarakat masing-masing dukuh, tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah semata, tetapi juga melibatkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Ancak, dibuat oleh setiap rumah dengan nasi dan lauk pauk yang dikemas dalam tempat anyaman bambu dan pelapah pisang, menjadi simbol kesediaan untuk berbagi rezeki dengan sesama.

Rangkaian kegiatan yang mengiringi Tradisi Likuran menjadi momentum bagi masyarakat untuk saling menguatkan dan mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dalam menjalani kehidupan. Suasana pembukaan yang hangat, sambutan yang membangkitkan semangat dari kepala dusun, doa bersama yang mengalirkan harapan, dan penutup yang penuh dengan rasa syukur, semuanya menjadi bukti akan kekuatan komunitas yang memperkuat ikatan batin setiap individu.

Antusiasme masyarakat dalam mengikuti Tradisi Likuran mencerminkan kekuatan spiritual dan sosial yang mengalir dalam setiap darah mereka. Ustadz Syekh, seorang tokoh agama di Desa Kutorojo, dengan keyakinan penuh menyatakan bahwa Tradisi Likuran bukan hanya sebuah kegiatan rutin, tetapi merupakan implementasi nyata dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Malam Lailatul Qadar, dengan segala keutamaannya, tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Dalam cahaya petunjuk agama, Tradisi Likuran tidak hanya menjadi ritual yang hampa makna, tetapi simbol kebesaran nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong yang menjadi landasan kuat sebuah masyarakat yang maju. Dalam setiap hidangan yang disajikan, bukan hanya nasi dan lauk pauk yang tersaji, tetapi juga nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan rasa syukur yang mengalir dalam setiap irama kehidupan.

Desa Kutorojo, melalui setiap warisan tradisinya, tidak hanya menumbuhkan rasa bangga akan warisan budaya. Tetapi juga memperkokoh ikatan kebersamaan yang menjadi dasar utama dalam menjalani kehidupan bersama. Di tengah gejolak modernitas, Tradisi Likuran tetap menjadi cerminan dari kekuatan spiritual dan sosial yang masih relevan dan berharga dalam menjaga kesatuan dan keharmonisan masyarakat Desa Kutorojo.

Menyelami Kebudayaan Desa Kutorojo Melalui Program Kerja Study Tour Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan

Pewarta: Esa Fitrotul Maulidiyyah dan Akhmad Dalil Rohman, Editor: M. Nurul Fajri

 

Desa Kutorojo, yang terletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, memiliki sebuah kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh desa ini adalah kerajinan anyaman bambu yang dikenal sebagai reyeng. Reyeng bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutorojo. Dengan hampir 98% rumah tangga di desa ini menghasilkan kerajinan reyeng, dapat dikatakan bahwa pembuatan reyeng telah menjadi mata pencaharian utama bagi penduduknya.

Dalam upaya untuk menggali lebih dalam tentang proses pembuatan kerajinan reyeng serta memperkenalkannya kepada masyarakat luas, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Gusdur Pekalongan menginisiasi sebuah program kerja yang bertujuan untuk menelisik lebih jauh tentang pembuatan reyeng khas Desa Kutorojo.

Program ini tidak hanya melibatkan mahasiswa KKN, tetapi juga bekerja sama dengan pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kutorojo. Dengan kolaborasi ini, diharapkan program dapat berjalan dengan lebih efektif dan berkelanjutan. Pada tanggal 16 Maret 2024, program kerja ini dilaksanakan di rumah salah satu pengrajin reyeng terbaik di desa, Ibu Surati.

Ibu Surati bukanlah sosok yang asing dalam dunia kerajinan reyeng. Sejak tahun 90-an, beliau telah mengabdikan dirinya dalam menghasilkan kerajinan anyaman bambu ini. Dengan pengalamannya yang luas, Ibu Surati menjadi mentor bagi para mahasiswa KKN UIN Gusdur Pekalongan dalam mempelajari proses pembuatan reyeng secara langsung. Para mahasiswa tidak hanya diajari teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan reyeng dengan bimbingan langsung dari Ibu Surati.

Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulajat, turut memberikan apresiasi terhadap program kerja ini. Baginya, inisiatif ini tidak hanya membantu mengenalkan keunikan budaya desa kepada masyarakat luas, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Reyeng khas Desa Kutorojo telah menjadi produk unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga diekspor hingga ke luar Jawa Tengah.

Melalui program kerja ini, para mahasiswa KKN tidak hanya belajar tentang proses pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga memahami pentingnya melestarikan budaya lokal serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat desa. Dengan demikian, program kerja ini bukan hanya sekadar kegiatan belajar-mengajar biasa, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.

Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif dalam hal pengembangan keterampilan dan pengetahuan bagi mahasiswa KKN. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam pembuatan kerajinan reyeng, tetapi juga belajar tentang kerjasama tim, komunikasi lintas budaya, dan pentingnya memahami konteks sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Ini semua merupakan pembelajaran yang sangat berharga di luar ruang kelas.

Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat desa Kutorojo, tetapi juga bagi para mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Sebagai bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antara universitas dan masyarakat, program ini menjadi contoh nyata dari kolaborasi yang berdampak positif bagi semua pihak yang terlibat. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan akan semakin banyak inisiatif lain yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Mengukir Harapan Bersama: Kisah Sukses Program Kerja Kuliah Senja KKN UIN GusDur dengan Santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo

Pewarta: Inul, Susi, & Rudi Riyanto,  Editor: Tegar Dwi Pangestu

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang berarti bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dengan masyarakat. Pada tahun ini, Mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan yang bertugas di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan meluncurkan inisiatif program kerja yang menggembirakan dengan melibatkan para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, program kerja ini dikenal dengan nama “Kuliah Senja”. Karena bukan hanya tentang memberikan pengalaman berharga, dan juga belajar menanamkan harapan dan membangun komunitas yang lebih kuat.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Jumat, 22 Maret sampai Minggu, 24 Maret 2024. Pada hari pertama, suasana penuh semangat terasa di udara ketika mahasiswa KKN UIN GusDur Pekalongan dengan antusias menyampaikan materi kepada para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo. Dalam suasana yang hangat itu, cerita-cerita yang dibagikan tidak hanya menjadi pembelajaran, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam hati para santri.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman masing-masing kelompok. Bagi santri Sekolah Dasar, pembahasan tentang kalimat tayyibah disampaikan dengan cara yang menarik dan interaktif, sementara para santri SMP mendengarkan kisah menarik mengenai Ashabul Kahfi secara khusyuk. Hal ini tidak hanya membangun pemahaman, juga menginspirasi para santri untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hari berikutnya, kebersamaan terasa semakin erat. Permainan dan ice breaking berhasil mempererat ikatan antara mahasiswa dan santri. Mereka tertawa, bermain, dan belajar bersama dengan semangat yang tinggi. Review materi memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari, sedangkan quiz berhadiah menjadi momen yang sangat dinantikan oleh semua.

aktifnya partisipasi dari para santri MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo menjadi pemandangan yang menggembirakan bagi semua yang telah hadir. Selain itu, terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk menyerap ilmu serta berinteraksi dengan mahasiswa KKN. Ustadz Syekh, salah satu guru dari MDA Sulamut Taufiq Desa Kutorojo, turut menyampaikan kegembiraannya atas keberhasilan acara ini. Baginya, kehadiran mahasiswa KKN bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat dan motivasi bagi masa depan para santri.

Lebih, dari sekadar pertukaran pengetahuan. Kegiatan ini membuka pintu untuk membangun hubungan yang lebih dalam antara mahasiswa KKN UIN GusDur dengan masyarakat Desa Kutorojo. Di setiap tawa, pelajaran, dan momen kebersamaan, terciptalah ikatan yang kuat dan bermakna. Harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik ditanamkan dalam masing-masing langkah, menjadi bekal bagi kedua belah pihak untuk terus maju bersama.

Melalui program kerja kuliah senja ini, bukan hanya ilmu yang disebarkan, tetapi juga cahaya harapan yang menerangi setiap sudut hati. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, program ini membuktikan bahwa melalui kolaborasi dan komitmen, kita dapat menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat. Kegiatan ini telah mengukir cerita sukses yang akan dikenang oleh semua yang terlibat, dan menjadi landasan untuk upaya-upaya lebih lanjut dalam memperkuat hubungan antarwarga masyarakat.

Menginspirasi Masa Depan: KKN UIN GusDur Turut Perangi Kenakalan Remaja dan Bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman dan Maulana Ichsan, Editor: Faiza Nadilah

Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan perilaku individu, terutama di usia remaja yang rentan terhadap berbagai tantangan sosial. Mengakui pentingnya hal tersebut, Kamis (21/3), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN GusDur Pekalongan Angkatan 58 Desa Kutorojo melaksanakan kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menanggulangi kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN 1 Atap Kutorojo, dengan peserta siswa-siswi kelas 7, 8, dan 9.

Kegiatan tersebut dimulai dari pembukaan dengan perkenalan para mahasiswa KKN, disusul dengan ice-breaking dan permainan edukasi untuk menciptakan suasana yang nyaman dan interaktif. Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pemutaran film pendek yang menyoroti tema kenakalan remaja dan perilaku bullying. Setelah itu, materi disampaikan secara langsung kepada peserta dengan implementasi bermain peran untuk memperjelas contoh perilaku kenakalan remaja, dampaknya, dan cara penyelesaiannya. Dan ditutup dengan doa penutup, sehingga memberikan kesan spiritual yang mendalam.

Dasar dari kegiatan ini adalah implementasi konsep tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi kepada siswa SMP agar mampu memahami dan menghindari perilaku kenakalan remaja. Respons dan apresiasi yang baik dari pihak guru SMPN 1 Atap Kutorojo menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pendidikan formal dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Menurut Pak Arfi, guru SMPN 1 Atap Kutorojo, kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendukung program Polsek Kajen dalam menanggulangi bahaya perilaku bullying. Kegiatan ini dianggap positif karena memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada siswa-siswi tentang dampak negatif dari perilaku bullying serta pentingnya mengembangkan sikap empati dan menghormati satu sama lain.

Dengan demikian, kegiatan pendidikan tentang kenakalan remaja dan perilaku bullying di SMPN Satu Atap Kutorojo merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik di kalangan generasi muda. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, guru, dan pihak kepolisian merupakan contoh sinergi yang efektif dalam membentuk lingkungan pendidikan yang aman dan berdaya. Melalui upaya ini, diharapkan akan tercipta generasi yang lebih berkualitas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Pewarta: Akhmad Dalil Rohman & Muhammad Harits, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Pentingnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan generasi muda sudah tidak diragukan lagi. Namun demikian, perlu ada tahapan untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan relevan dengan tuntutan zaman. Untuk itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Angkatan 58 mengambil langkah nyata dengan menggelar kegiatan edukasi di SDN 01 Kutorojo pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2024. Lokasi ini dipilih sebagai titik awal untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 kepada siswa-siswi.

Kegiatan ini bukan hanya rutinitas biasa, tetapi juga merupakan implementasi dari salah satu pilar penting perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melibatkan siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Terlebih dengan ketatnya persaingan untuk mencapai karir, maka anak-anak juga perlu dilatih agar memereka memiliki daya kreativitas tinggi dengan didukung kemampuan tertentu yang harus dikuasai. Oleh karenanya, mahasiswa sebagai pilar penerus bangsa, maka mereka juga diharapkan dapat memberikan contoh nyata dan pengajaran bagi anak-anak, khususnya dalam hal ini pada jenjang sekolah dasar.

Menyadari pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan contoh nyata, para mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai role model bagi para siswa. Mereka memulai kegiatan dengan memperkenalkan diri dan tujuan dari kehadiran mereka di sekolah tersebut. Mereka menggabungkan cerita, contoh kasus, dan gambar untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang disampaikan.

Didukung dengan sesi ice breaking dan permainan edukasi menjadi magnet awal untuk membangun keakraban antara para mahasiswa dan siswa. Metode interaktif yang diterapkan dalam penyampaian materi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Hal ini sangat penting mengingat keberagaman latar belakang dan tingkat pemahaman siswa yang berbeda.

Highlight dari kegiatan ini adalah praktik keterampilan abad 21, dimana siswa diajak untuk berkreasi dan mengekspresikan ide-ide mereka. Mereka diberi kesempatan untuk membuat gantungan kunci atau gelang menggunakan bahan tali kur, yang tidak hanya melatih keterampilan kreatif mereka tetapi juga belajar untuk bekerja sama dalam sebuah tim. Hasil dari praktik ini tidak hanya menjadi bukti keterampilan siswa, tetapi juga mengidentifikasi bakat dan minat mereka.

Tak hanya itu saja, siswa-siswi juga turut mendapat pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pendidikan abad 21. Keberhasilan kegiatan ini juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Dengan melihat hasil positif yang diperoleh oleh SDN 01 Kutorojo melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan sekolah-sekolah lain juga akan tertarik untuk melakukan hal serupa. Hal ini tentu akan membawa dampak positif yang lebih luas bagi peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.

Dengan demikian, kegiatan edukasi tentang pentingnya pendidikan dan pembelajaran abad 21 di SDN 01 Kutorojo telah memberikan dampak positif bagi para siswa dan sekolah itu sendiri. Semoga kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan dengan percaya diri dan kompeten.

Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.

Harmoni Menuju Kemajuan: Inisiatif Koperasi Moderasi Beragama di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Pewarta: M. Syukron Ni’am dan Eva Novitasari, Editor: Ika Amiliya N.

Pada Kamis, tanggal 7 Maret 2024, sebuah kegiatan penyuluhan pendirian koperasi moderasi beragama diadakan di Balai Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bekerjasama dengan Pusat Moderasi Beragama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian dan menyatukan keberagaman agama serta kepercayaan masyarakat di Desa Kutorojo.

Pada kesempatan tersebut, Bani Prayogi, S.Psi. dari Dinas Koperasi Kabupaten Pekalongan, hadir sebagai pemateri. Peserta yang hadir adalah masyarakat Desa Kutorojo yang beragam dari segi agama dan kepercayaan. Latar belakang diadakannya penyuluhan ini antara lain adalah belum adanya koperasi di Desa Kutorojo, serta kebutuhan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal.

Penyuluhan ini bertujuan untuk menyatukan elemen masyarakat Desa Kutorojo, memenuhi kebutuhan mereka, dan menyediakan lapangan pekerjaan. Dalam penyuluhan tersebut, Bani Prayogi menjelaskan secara rinci tentang pembentukan koperasi, termasuk dasar hukum, definisi, jenis-jenis koperasi, prinsip-prinsipnya, struktur kepengurusannya, dan mekanisme pembentukannya.

Dengan informasi yang disampaikan oleh Bani Prayogi, diharapkan masyarakat Desa Kutorojo dapat lebih memahami pentingnya mendirikan koperasi dan bagaimana cara melakukannya. Melalui koperasi, diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kutorojo dapat ditingkatkan secara signifikan. Pengurus koperasi nantinya terdiri dari masyarakat lintas agama dan organisasi masyarakat (Ormas).

Kegiatan penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesejahteraan bersama di Desa Kutorojo. Dengan kerja sama antara Mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan Desa Kutorojo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan koperasi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, sambil tetap memperhatikan dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan.