‎Tak Cuma Kitab Kuning, Santri PP Al-Aziziyyah Kajen Digembleng Jadi Pelopor ‘Green Pesantren’ ‎

‎Penulis: M. Ribkhi Zuhri, Editor: Nehayatul Najwa

‎PEKALONGAN — Peran pondok pesantren di era modern tidak lagi sebatas benteng pertahanan moral dan tempat menimba ilmu keagamaan. Menjawab tantangan krisis lingkungan daerah, Pondok Pesantren (PP) Putra Putri Al-Aziziyyah Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan melangkah lebih jauh dengan menggembleng para santrinya menjadi pelopor kelestarian ekologi pada Selasa (4/8/2026).

Melalui Pelatihan Manajemen Sampah Terpadu yang memanfaatkan masa liburan santri, kompleks pesantren disulap menjadi pusat edukasi lingkungan. Langkah ini digagas sebagai respons konkret atas tingginya volume limbah domestik harian di dalam pondok yang selama ini masih bergantung pada pola pembuangan konvensional ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

‎Ketergantungan pada pembuangan akhir tanpa adanya tata kelola di tingkat tapak dinilai berpotensi memperparah krisis penumpukan sampah di Kabupaten Pekalongan. Berangkat dari kesadaran tersebut, PP Al-Aziziyyah menggandeng Departemen Lingkungan Hidup (DLH) Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pekalongan untuk meredefinisi peran santri.

‎‎Melalui kolaborasi lintas sektor ini, para santri diajak menggeser sudut pandang lama. Sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan dinas kebersihan pemerintah semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial yang wajib diselesaikan mandiri sejak dari hulu.

Baca Juga:Dari Sampah Ke Harapan: Ikhtiar Kampus Menjawab Krisis Iklim, Dari Diskusi Ke Refleksi Dan Aksi

‎‎Guna memberikan pemahaman yang komprehensif dan aplikatif, pelatihan dibagi ke dalam tiga sesi materi teknis yang disampaikan langsung oleh para praktisi:

Krisis dan Dampak Sampah: Najmuddin, S.H.I. membuka wawasan peserta mengenai ancaman nyata ekosistem akibat penumpukan limbah, sekaligus menanamkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari kepedulian sosial.

‎Pemilahan Sampah Anorganik: Ilham Hasan memberikan pembekalan teknis mengenai pemisahan material plastik, kardus, dan kertas agar memiliki nilai guna ulang serta siap disalurkan ke rantai daur ulang.

‎Pengolahan Sampah Organik: Didik Komaruddin, S.P. memandu teknik konversi sisa makanan dapur dan sampah daun kering menjadi pupuk kompos produktif yang bermanfaat bagi sektor pertanian pondok.

‎Tidak berhenti pada pemaparan teori, para santri langsung diterjunkan dalam simulasi lapangan di area kompleks pesantren. Dipandu oleh para narasumber, santri mempraktikkan secara langsung pemilahan sampah anorganik serta memasukkan limbah organik ke dalam wadah pengomposan.

Baca Juga:Mengelola Sampah di Pekalongan: Solusi atau Sekadar Sanksi?

‎‎Ketua Panitia Kegiatan, Arif Rusda Dimaski, S.H., menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar para santri memiliki keseimbangan antara keunggulan spiritual dan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan kontemporer.

‎‎”Kegiatan ini bertujuan mencetak santri yang peduli lingkungan. Harapan besar kami adalah mentransformasi pesantren menjadi Green Pesantren, di mana pengelolaan sampah menjadi budaya harian sekaligus mendorong kemandirian ekonomi hijau pondok,” tegas Arif.

Melalui komitmen berkelanjutan ini, PP Al-Aziziyyah Kajen tidak hanya berupaya menjaga lingkungan pesantren tetap bersih dan sehat, tetapi juga membuktikan bahwa basis komunitas keagamaan mampu menjadi aktor utama dalam mewujudkan kemandirian ekologis di tingkat daerah.

KKN Nusantara Kelompok 11 Tanamkan Kesadaran Kelola Sampah Sejak Dini dengan Gelar Sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi

Penulis: M. Luthfi Maulana, Editor: Muslimah

Banten — Kelompok 11 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Desa Sangkanwangi mengadakan sosialisasi Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Replant (5R) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sangkanwangi, Jum’at (31/7). Sosialisasi ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman para siswa terhadap proses pemilahan sampah. Kegiatan ini disambut antusias oleh siswa-siswi kelas 4-6, selaku peserta.

Baca Juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Sosialisasi 5R yang diinisiasi oleh kelompok 11 KKN Nusantara Desa Sangkanwangi merupakan implementasi dari tema KKN Nusantara, “Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam.”

Artikasari selaku pemateri sekaligus perwakilan kelompok 11 KKN Nusantara Desa Sangkanwangi menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan sosialisasi 5R ini ialah para siswa dapat menerapkan perilaku 5R di kehidupan sehari-hari mereka.

“Tujuan yang ingin dicapai dari sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi itu tentu saja untuk menerapkan perilaku baik dari 5R tersebut. Jadi, diharapkan siswa-siswi itu bisa menjaga lingkungan dari perilaku 5R tersebut,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi 5R dibuka dengan menonton bersama video kampanye mengenai pengelolaan sampah. Selanjutnya, kegiatan berlanjut dengan pemaparan materi oleh Artikasari dan Sabrina Intan Salsabilla selaku perwakilan dari kelompok 11 KKN Nusantara Desa Sangkanwangi. Pemaparan materi turut dilaksanakan menggunakan bahan sampah sebagai contoh pemilahan sampah. Bahan sampah yang dipakai di antaranya sampah dedaunan untuk kategori sampah organik, sampah botol plastik untuk kategori sampah non organik, serta sampah gelas kaca untuk kategori sampah B3.

Setelah pemaparan materi, dilakukan sesi tanya jawab antar siswa dan pemateri. Siswa-siswi turut antusias dalam mengajukan pertanyaan pada sesi ini. Sebagai rewarding, pada sesi ini turut dilakukan penyerahan hadiah untuk siswa-siswi yang aktif dalam kegiatan sosialisasi 5R.

Mesa Tourin selaku perwakilan guru SDN 1 Sangkanwangi menuturkan bahwa kegiatan sosialisasi 5R dari kelompok 11 KKN Nusantara Desa Sangkanwangi ini sangat bermanfaat bagi para siswa karena turut memupuk pengetahuan para siswa mengenai proses pemilahan sampah. Siswa juga turut mendapatkan pengetahuan baru mengenai metode pengelolaan sampah melalui kegiatan sosialisasi 5R.

“Anak memang jadi mengerti bahwasanya sampah itu bermanfaat. Anak jadi mengerti hal baru seperti ecoprint tadi. Jadi oh iya, jadi ilmu baru. Sebetulnya kan sudah dipelajari, namun selama ini beda, sekarang ada praktik langsung juga, jadi bermanfaat sekali,” tuturnya.

Mesa Tourin berharap kedepannya, siswa-siswi dapat menerapkan dan sadar mengenai pengelolaan sampah tak hanya di lingkungan sekolah namun juga di kehidupan sehari-hari.

Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Penulis: Muslimah, Editor: Najwa

Pekalongan — Jumat, (24/7) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) kembali menyelenggarakan Pelatihan Moderasi Beragama bagi seluruh sivitas akademika di hari ke-2. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai 23-24 Juli, bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Perpustakaan UIN Gus Dur.

Baca Juga: LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama untuk Sivitas Akademika dalam Rangka Memperkuat Toleransi

Pelatihan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan sebagai upaya memperkuat pemahaman serta implementasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan kampus.

Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M sekaligus Ketua Pelaksana, Muhammad Alghiffary, M. Hum. menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali cara pandang, sikap, dan perilaku beragama sivitas akademika agar selaras dengan nilai-nilai dasar ajaran agama.

“Tujuan diselenggarakannya Pelatihan Moderasi Beragama ini adalah untuk me-refresh kembali cara pandang, sikap, dan perilaku beragama civitas akademika, khususnya dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan UIN Gus Dur. Harapannya, mereka dapat menjalankan dan mengimplementasikan ajaran-ajaran yang sesuai dengan esensi agama yang sesungguhnya, yakni memanusiakan manusia,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu narasumber pelatihan, Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA., Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang mengapresiasi semangat peserta dalam mengikuti setiap sesi.

“Saya melihat peserta begitu antusias selama dua hari ini. Dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, semuanya tetap semangat. Wawasan mereka juga bertambah, terlihat dari berbagai pertanyaan yang mereka ajukan. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tampak keinginan mereka untuk mendalami moderasi beragama. Harapan saya, setiap dosen dan tenaga kependidikan yang telah mengikuti pelatihan ini dapat mengimplementasikan sekaligus menyosialisasikan moderasi beragama dalam berbagai kegiatan di kampus,” jelasnya.

Sebagai peserta Dewi Puspitasari juga mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan bekal teoritis yang selama ini belum mereka peroleh, meskipun telah lama terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

“Kami sudah cukup lama terlibat dalam pengabdian masyarakat, termasuk di beberapa sekolah terkait moderasi beragama. Namun secara teori keilmuan kami memang masih sangat minim. Melalui kegiatan yang dijembatani LP2M UIN Gus Dur ini, kami memperoleh berbagai kajian teori yang sangat membantu. Dengan bekal tersebut, kami berharap dapat menjadi agen moderasi, baik di lingkungan internal kampus maupun di masyarakat,” terangnya.

Melalui pelatihan ini, LP2M UIN Gus Dur berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi maupun kehidupan bermasyarakat, sehingga tercipta lingkungan akademik yang inklusif, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Mahasiswa KKN Kolaborasi Usung Program Eco Masjid Melalui Sedekah Sampah di Desa Jajarwayang

Penulis : Reza Aprilia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

PEKALONGAN — Sebanyak 15 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 8 KKN Kolaborasi antara UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara resmi diterima oleh pihak Pemerintah Desa Jajarwayang pada Senin, 20 Juli 2026. Acara penyambutan dan penerimaan mahasiswa KKN ini dilaksanakan secara khidmat di Balai Desa Jajarwayang.

Dalam acara penerimaan tersebut, sambutan dari pihak pemerintah desa disampaikan oleh perwakilan Kepala Desa, Bapak Irzuddin, yang menyambut hangat kehadiran para mahasiswa untuk menjalankan program pengabdian masyarakat di Desa Jajarwayang.

Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 8, Ibu Rahmi Anekasari, M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa fokus utama program KKN kali ini adalah pengembangan Eco Masjid melalui gerakan Sedekah Sampah.

“Bukan sekadar menjaga kebersihan lingkungan, hasil pengelolaan sedekah sampah ini diharapkan akan menjadi sumber pendanaan yang berkelanjutan,” tutur Ibu Rahmi Anekasari.

Baca juga: KEBERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN: REFLEKSI KKN DI DESA KUTOROJO, KABUPATEN PEKALONGAN

Beliau menyampaikan bahwa dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional kemakmuran masjid, salah satunya digunakan untuk kemaslahatan marbot masjid, takmir masjid, dan guru mengaji.

“Jadi, kita mengajak untuk mengubah sampah yang semula tidak bernilai menjadi bernilai ibadah untuk kemaslahatan umat, salah satunya adalah pendanaan untuk kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Marbot, takmir, dan guru ngaji ini mungkin belum tersentuh program BPJS Ketenagakerjaan dan belum memiliki jaminan masa depan. Dengan adanya pengelolaan sampah menjadi sedekah sampah ini, kita gunakan untuk memberikan jaminan kepada beliau-beliau yang sudah mendedikasikan dirinya untuk agama kita,” jelasnya.

Ibu Rahmi Anekasari juga mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Jajarwayang untuk bersama-sama menyukseskan program tersebut.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dari Pak Lurah beserta jajarannya, Ketua BPD Desa Jajarwayang, serta Ketua RW dan RT untuk bersama-sama menjadikan gerakan ini sebagai budaya yang terus hidup bahkan setelah masa KKN ini berakhir. Esensi dari Eco Masjid ini menghadirkan masjid sebagai pusat transformasi yang memadukan nilai ibadah, kepedulian lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan perlindungan sosial,” tambahnya.

Pihak dosen pembimbing dan mahasiswa KKN berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan yang bisa direplikasi di desa-desa lain serta membawa keberkahan bagi masyarakat Desa Jajarwayang.

Acara penyambutan diakhiri dengan komitmen bersama untuk menyukseskan seluruh rangkaian program KKN Kolaborasi demi mewujudkan kemandirian dan kemaslahatan masyarakat Desa Jajarwayang.

LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama untuk Sivitas Akademika dalam Rangka Memperkuat Toleransi

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Muslimah

Pekalongan — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan menggelar Pelatihan Moderasi Beragama yang diikuti oleh sivitas akademika, mulai dari profesor, magister, sarjana, hingga tenaga pendidik. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 23-24 Juli 2026 di Aula Perpustakan UIN Gus Dur Lantai 3 dengan menghadirkan dua narasumber ahli di bidang moderasi beragama, Kamis (23/7).

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Alghiffary, M.Hum., menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menguatkan cara pandang tenaga pendidik dalam praktik kerja sama, sehingga ketika diimplementasikan kepada masyarakat dapat berjalan lebih moderat. “Pelatihan ini bukan untuk memoderasikan mereka agar moderat, tetapi untuk menguatkan,” ujarnya.

Baca Juga: Kuatkan Semangat Moderasi Beragama di Kalangan Dosen dan Tendik, LP2M UIN Gus Dur Adakan Pelatihan

Dua narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini, yakni Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag. dan Prof. Dr. Usep Dedi Rustandi, M.A., keduanya berasal dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kesempatan tersebut, para narasumber menyampaikan empat materi utama.

Materi pertama bertajuk Udar Asumsi dan Bangun Perspektif, materi kedua mengangkat Konsep Moderasi Beragama, dan materi ketiga membahas Analisis Sosial dengan Konsep Gunung Es, sementara materi keempat menyampaikan Sembilan Kata Kunci Moderasi Beragama.

Setiap materi yang disampaikan dilengkapi dengan sesi Forum Group Discussion (FGD), di mana peserta yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diminta menyampaikan pendapat melalui studi kasus yang telah disiapkan panitia. Studi kasus tersebut mengangkat topik-topik moderasi beragama yang masih marak terjadi di lingkungan sekitar, dengan tujuan FGD yang berbeda-beda pada setiap sesinya. Selain pemaparan materi dan diskusi kelompok juga menyisipkan sesi ice breaking guna memecah kejenuhan dan mengembalikan fokus peserta selama pelatihan berlangsung.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Usep Dedi Rustandi, M.A., menyebut bahwa moderasi beragama bukan untuk agama tertentu saja, melainkan perlu disosialisasikan dan dipahami. Sebagai umat yang baik jangan sampai melihat suatu kejadian dari dasarnya saja, tetapi melihat dari latar belakangnya juga.

“Bukan agama yang dimoderasi, melainkan umatnya,” ungkapnya dalam sesi pemaparan inti materi.

Selanjutnya Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag. menyebut bahwa dalam teori pendidikan dikenal dua pendekatan, yaitu pedagogis dan andragogis. Menurutnya, penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam pelatihan ini menggunakan metode andragogis, yakni metode pembelajaran bagi orang dewasa di mana setiap peserta didorong untuk mencari dan merumuskan sendiri pemahamannya.

“Semua peserta yang mengikuti sudah membawa ilmu masing-masing, tetapi ilmu-ilmu itu belum membentuk satu kesatuan. Yang merumuskan adalah diri sendiri, dan dari situlah akan terbangun kesadaran secara pribadi tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama,” Uelasnya.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Nasrudin Rahmat, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan yang diinisiasi oleh LP2M tersebut. Ia menegaskan bahwa esensi moderasi beragama bukan terletak pada upaya memoderatkan agama, melainkan memoderatkan cara pandang umatnya.

“Moderasi agama ini bukan kita memoderatkan agamanya, tetapi memoderatkan umatnya untuk menjaga kemoderatan terutama di UIN Gusdur. Harapannya acara ini tidak berhenti pada kegiatan saja, tetapi peserta juga bisa mengamalkan. Selanjutnya perlu adanya follow up praktik bagaimana moderasi beragama di masyarakat,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, pihak penyelenggara berharap nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar terinternalisasi dan diamalkan oleh sivitas akademika dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Penulis: Muslimah, Editor: Nehayatul Najwa

PEKALONGAN – Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI), Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., meresmikan Gedung Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur Pekalongan), Jumat (26/6). Peresmian ini menandai komitmen UIN Gus Dur dalam memperkuat sarana pendidikan, penelitian, dan sekaligus menghadirkan pusat administrasi dan pelayanan akademik universitas.

Secara simbolis, peresmian ini ditandai dengan pemotongan pita ronce melati kemudian dilanjutkan penandatanganan prasasti oleh Menag RI, Nasaruddin Umar. Dalam pembinaannya, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengapresiasi langkah UIN Gus Dur Pekalongan yang menjadikan nama Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai identitas kampus. Menurutnya, penggunaan nama tersebut mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan toleransi yang diwariskan Gus Dur. Ia pun mengajak seluruh sivitas akademika UIN Gus Dur Pekalongan untuk terus percaya diri dalam membangun kampus yang unggul dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi mana pun.

“UIN ini telah mengambil langkah yang sangat tepat dengan mengabadikan nama Gus Dur sebagai identitas kampus. Saya memahami bahwa proses penetapan nama tersebut bukanlah hal yang mudah dan melalui berbagai tantangan. Karena itu, saya ingin menyampaikan kepada seluruh sivitas akademika agar tidak pernah merasa rendah diri hanya karena berada di Pekalongan. Alumni UIN memiliki potensi yang besar dan mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi mana pun,” tegas.

Dalam laporannya, Rektor Zaenal Mustakim memaparkan sejumlah capaian UIN Gus Dur Pekalongan. Saat ini, kampus tersebut telah memiliki lima fakultas dengan 33 program studi yang terdiri dari 25 program sarjana (S1), lima program magister (S2), dan tiga program doktor (S3). Dari total program studi tersebut, sebanyak 16 program studi telah meraih akreditasi unggul.

“Dari 35 prodi ini alhamdulillah 16 prodi sudah unggul. Dan insyaallah bulan ini 2 lagi prodi kelulusan,” terangnya.

Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Penulis: Ahmad Izzadin, Penyunting : Dwi Selma Fitriani

Dalam literatur Islam, tahun baru dimulai pada bulan Muharam atau dalam khazanah kebudayaan Jawa disebut sebagai bulan Suro. Untuk menyemarakkan momen tersebut, masyarakat Indonesia biasa mengadakan peringatan seremonial, di antaranya adalah pawai obor.

Di salah satu daerah di Jawa Tengah, tepatnya di Kelurahan Kuripan Kidul, Kota Pekalongan, masyarakat mengadakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H. Acara ini diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Kuripan Kidul pada tanggal 15 Juni 2026. Peringatan yang rutin diadakan setahun sekali pada malam 1 Suro ini diawali dengan sambutan dari Lurah Kuripan Kertoharjo. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kirab pawai keliling kelurahan yang menampilkan berbagai kreasi warga. Iring-iringan pawai ini diikuti oleh masyarakat umum dan sekolah-sekolah yang ada di kawasan Kuripan Kidul.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

Pawai kali ini menampilkan enam kreasi dari warga Kuripan Kidul, yaitu paguyuban warga Gang 1-2, Gang 4, Gang 8, Gang 11-12, Gang 16-17, dan siswa SDN 1 Kuripan Kidul. Berbagai kreasi tersebut dilombakan dan dimenangkan oleh warga Gang 4. Posisi kedua diraih oleh warga Gang 11-12, disusul oleh warga Gang 8 di posisi ketiga. Dalam sebuah wawancara, Ketua IPNU Kuripan Kidul, Zimam Chanifush Shidqi, mengungkapkan, “Menjadi panitia kegiatan ini sangat melelahkan karena ini termasuk acara besar di Kuripan Kidul, disorot satu kelurahan, dan melibatkan banyak orang. Namun, melihat antusiasme para warga—baik penonton maupun peserta—rasa lelah tersebut akhirnya terbayarkan dan menimbulkan sukacita tersendiri.”. Peringatan 1 Suro ini turut dihadiri oleh Lurah setempat yang juga bertindak sebagai juri untuk menilai kreativitas warga. Barisan pawai pada kegiatan ini mengular hingga kurang lebih 1 kilometer. Selain penampilan warga, barisan pawai juga dimeriahkan oleh marching band Bintara asal Batang dan marching band Medika asal Kota Pekalongan. Para pengibar bendera yang mayoritas berasal dari IPNU-IPPNU Kertoharjo juga ikut menyemarakkan peringatan tersebut.

Peringatan Tahun Baru Islam di Kuripan Kidul ini menjadi ajang silaturahmi yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Meskipun penyelenggara acara berasal dari organisasi keagamaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama, partisipan kegiatan ini juga mencakup warga Muhammadiyah. Selain itu, warga setempat bergotong royong untuk menyukseskan jalannya acara. Ada yang memberikan donasi berupa uang dan makanan ringan untuk para peserta pawai. Pihak kepolisian dan warga lain yang tidak tergabung dalam kepanitiaan pun turut membantu menjaga keamanan selama peringatan berlangsung.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Acara ditutup dengan pertunjukan kreasi dari setiap paguyuban di hadapan juri untuk proses penilaian lomba. Setelah seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing, para panitia bergotong royong membersihkan jalanan di sepanjang kelurahan dari tumpukan sampah selama pawai berlangsung.

Curug Blanten dan Sendang Luhur: Harapan Baru Wisata Alam di Kajen

Penulis: Najwa Aisha Mohandis, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

  Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kini memiliki potensi wisata alam yang semakin berkembang melalui wisata canyoneering di Curug Blanten, Dusun Gunungtelu. Wisata ini menawarkan pengalaman petualangan yang berbeda, yaitu menyusuri sungai, menuruni tebing air terjun, dan menikmati keindahan alam secara langsung. Kehadiran wisata canyoneering menjadi langkah positif dalam mengembangkan potensi wisata desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

​      Salah satu dampak yang paling terlihat adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi para pemuda Desa Kutorojo. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan wisata, mulai dari menjadi pemandu, tim keamanan, tim dokumentasi, hingga pengelola kegiatan. Keterlibatan pemuda dalam pengelolaan wisata ini menunjukkan bahwa potensi desa dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

​      Selain membuka peluang kerja, wisata canyoneering juga menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi warga sekitar. Kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil, seperti penjual makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan wisata lainnya. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di lingkungan sekitar Dusun Gunungtelu.

​     Menariknya, wisata ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan maupun dari kota-kota lain di Jawa Tengah untuk merasakan sensasi canyoneering yang masih tergolong baru dan unik. Tingginya minat pengunjung dari luar daerah menunjukkan bahwa Curug Blanten memiliki daya tarik yang kuat dan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pekalongan. Kehadiran wisatawan tersebut juga turut memperkenalkan Desa Kutorojo, #Wisata, #DesaKutorejo, #KKN #hijratunaa, #curugkepada masyarakat yang lebih luas.

​     Sistem pengelolaan wisata yang diterapkan juga cukup baik karena menggunakan sistem booking terlebih dahulu dan hanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan sistem tersebut, jumlah peserta dapat dikendalikan sehingga pelayanan, kenyamanan, dan keselamatan tetap terjaga. Biaya yang dikenakan sebesar Rp185.000 per orang sudah mencakup makan, perlengkapan canyoneering yang lengkap dan aman, dokumentasi foto serta video, dan pendampingan langsung oleh petugas yang berpengalaman.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

      ​Aspek keselamatan menjadi salah satu keunggulan wisata ini. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti briefing atau pengarahan mengenai tata cara kegiatan, penggunaan peralatan, teknik dasar canyoneering, serta prosedur keselamatan yang harus dipatuhi selama berada di area wisata. Setelah briefing selesai, peserta dibekali perlengkapan keselamatan yang sesuai standar dan didampingi oleh pemandu selama kegiatan berlangsung. Dengan adanya pengarahan dan pendampingan tersebut, wisatawan dapat menikmati aktivitas canyoneering dengan lebih aman, nyaman, dan percaya diri.

​      Selain memperhatikan aspek keselamatan, pengelola juga telah berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui perbaikan akses menuju lokasi wisata. Jalan menuju Curug Blanten berupa jalan setapak yang kini telah dipermudah dan ditata dengan lebih baik sehingga lebih aman dan nyaman untuk dilalui. Perbaikan jalur setapak ini memudahkan wisatawan saat menuju lokasi kegiatan tanpa menghilangkan keasrian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Dengan akses yang semakin baik, pengunjung dapat menikmati perjalanan menuju curug dengan lebih nyaman sambil menikmati pemandangan alam khas Dusun Gunungtelu.

   Perkembangan wisata canyoneering di Dusun Gunungtelu pun terus berlanjut. Setelah Curug Blanten mulai dikenal oleh banyak wisatawan, kini telah resmi dibuka lokasi canyoneering baru di Curug Sendang Luhur pada 6 Juni 2026. Kehadiran destinasi baru ini menjadi bukti bahwa potensi wisata alam di Desa Kutorojo masih sangat besar untuk dikembangkan. Dengan adanya dua lokasi canyoneering, pilihan wisata bagi pengunjung menjadi lebih beragam dan peluang ekonomi masyarakat pun semakin terbuka.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

​  Keberadaan Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya mampu menghadirkan pengalaman rekreasi dan petualangan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Melalui pengelolaan yang melibatkan warga lokal, khususnya para pemuda desa, manfaat wisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar.

    ​Ke depannya, diharapkan minat pengunjung, terutama dari luar Desa Kutorojo, luar Kabupaten Pekalongan, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, terus meningkat sehingga wisata canyoneering ini semakin dikenal luas. Diharapkan pula wisata ini dapat menjadi salah satu ikon wisata petualangan unggulan Kabupaten Pekalongan yang mampu mengangkat nama Desa Kutorojo di tingkat yang lebih luas. Selain itu, semakin berkembangnya wisata ini diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi pemuda desa, mendorong tumbuhnya usaha-usaha lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, promosi yang berkelanjutan, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah, wisata canyoneering di Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Kutorojo.

Serap Aspirasi Lintas Agama, LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Susun Naskah Akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama  

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

KABUPATEN PEKALONGAN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus Dur) gelar Forum Group Discussion (FGD) penyusunan naskah akademik dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penguatan Moderasi Beragama Kabupaten Pekalongan, Rabu (17/6).

Kegiatan yang melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi ruang untuk menghimpun aspirasi dari berbagai organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, dan perwakilan umat beragama, guna memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca juga: Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Alghiffary, M.Hum., mengatakan bahwa forum tersebut bertujuan mendengarkan berbagai persoalan dan keresahan masyarakat terkait kehidupan beragama. Menurutnya, masukan yang diperoleh akan menjadi bahan penting dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda, agar mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat serta menjamin hak-hak setiap pemeluk agama.

Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jahirin, M.H., dalam sambutannya berharap keberadaan Raperda Penguatan Moderasi Beragama nantinya dapat menjadi payung hukum yang mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat.

“Harapannya, naskah hukum ini nantinya dapat disusun secara komprehensif dan menjadi payung hukum yang bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Andi Eswoyo, S.Ag., dari LP2M menjelaskan bahwa penyusunan naskah akademik harus didasarkan pada tiga landasan utama, yakni filosofis, sosiologis, dan yuridis. Ia menegaskan bahwa regulasi yang disusun tidak dimaksudkan untuk bertentangan dengan peraturan yang sudah ada, melainkan mengatur secara lebih spesifik mengenai penguatan moderasi beragama.

Berbagai masukan disampaikan oleh peserta yang berasal dari MUI, Muslimat NU, LDII, Rifaiyah, FKUB, perwakilan umat Hindu, penghayat kepercayaan, umat Buddha, hingga berbagai organisasi masyarakat lainnya. Perwakilan MUI mengingatkan agar penyusunan Raperda dilakukan secara hati-hati, sedangkan Muslimat NU mendorong agar draf yang telah disusun dapat dibagikan kepada berbagai pihak sehingga dapat disempurnakan bersama.

Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya mencampuradukkan ajaran agama, melainkan membangun sikap saling menghormati dan toleransi di tengah keberagaman. Ia juga menyoroti masih terbatasnya dukungan anggaran untuk program-program penguatan moderasi beragama yang selama ini telah dilakukan FKUB.

Dari diskusi tersebut, sejumlah persoalan krusial berhasil dihimpun, meliputi pengaturan penggunaan pengeras suara dan waktu kegiatan keagamaan, pemakaman umum, pendidikan moderasi beragama, pernikahan, kerja sama antarumat beragama, administrasi kependudukan, anggaran, penguatan FKUB, serta rumah ibadah. Kesembilan isu tersebut akan menjadi bahan kajian dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama.

Misa Sura di Gereja Paroki Santo Yohanes: Menjadi Katolik dengan Nilai-Nilai Jawa

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah

Pekalongan — Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Rasul menyelenggarakan Misa Sura pada Senin (15/6), sebuah perayaan liturgi yang memadukan tradisi Katolik dengan kearifan lokal nilai-nilai Jawa. Acara ini dihadiri puluhan umat dari berbagai usia dan latar belakang, serta tokoh masyarakat setempat.

Misa Sura, yang digelar setiap tahunnya menjelang Tahun Baru Jawa, menerapkan serangkaian ibadat liturgis yang tetap berpegang pada tata Gereja Katolik namun menggabungkan nilai-nilai budaya Jawa. Dalam melihat maknanya, Sartono, selaku Panitia acara menekankan pentingnya harmoni antara iman dan budaya lokal.

Baca juga: Melacak Jejak Pemikiran Islam: Pribumisasi, Inklusif, dan Transformatif sebagai Jalan Damai dan Toleran

“Menjadi Katolik tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru dalam Katolik, kita mengartikan budaya kristus, yaitu dengan menggunakan budaya jawa, ” ujarnya.

Salah satu momen khas pada Misa Sura ini adalah pembacaan doa syukur yang dilantunkan dengan iringan gamelan serta tembang berbahasa Jawa. Umat mengenakan pakaian batik dan kebaya sebagai bentuk kentalnya tradisi nilai-nilai jawa yang terkandung dalam Misa kali ini.

Tak hanya itu, ada juga iring-iringan gunungan hasil bumi dari masyarakat yang nantinya dibagikan kembali, setelah diberi percikan air suci yang sudah di doakan oleh pastor.

Dalam pemaknaan Misa Sura Ekaristi sendiri, pastor Teguh memberikan pemaknaan mengenai bagaimana sebagai katolik dan sekaligus sebagai orang jawa.

“Dalam malam satu suro ini gereja mengajak untuk kembali menjadi hakekatnya orang jawa. Dan kemudian disatukan dengan nilai-nilai kristiani. Karena kita hidup dan tinggal diajak, yang mendapat ajaran dari leluhur dan orang tua kita,” ujarnya.

Puncaknya para umat katolik menerima komuni (tubuh kristus dalam bentuk Hosti), yang menjadi arti bahwa umat adalah bagian dari gereja dan dipersatukan dengan Tuhan sebagai pengampunan dosa. Kegiatan Misa Sura diakhiri dengan doa bersama untuk perdamaian, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Panitia juga mengimbau agar bentuk-bentuk inkulturasi budaya dalam ibadat dijalankan dengan tetap menghormati norma liturgi dan otoritas gereja.