Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Penulis: Roro Lintang Aningtyas, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menonton suatu pertandingan, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah jalannya permainan, bukan? Siapa yang mendapat poin, siapa yang melakukan kesalahan, atau siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan. Padahal, ada momen kecil yang justru menarik untuk dicermati, salah satunya ketika pemain tidak sepakat dengan keputusan wasit.

​Hal ini terjadi dalam pertandingan bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat pertandingan berlangsung, ada pihak yang mengajukan protes terhadap keputusan wasit. Protes tersebut diterima oleh wasit dengan baik. Wasit kemudian menjelaskan alasan mengapa keputusan itu diambil. Setelah mendengarkan penjelasan wasit, pihak tersebut akhirnya menerima keputusan yang diberikan.

​Sekilas, kejadian seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam pertandingan, protes terhadap keputusan wasit merupakan hal yang wajar. Pemain kerap melihat kejadian hanya dari sudut pandangnya, sementara wasit memiliki pertimbangannya sendiri. Namun, dari kejadian sederhana itu terdapat satu pelajaran menarik: tidak semua hal yang berjalan di luar harapan harus berakhir menjadi perselisihan.

Baca  juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Dalam konsep moderasi beragama, nilai yang berkaitan erat dengan hal tersebut adalah keadilan. Adil bukan berarti semua orang harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil lebih kepada menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melihat persoalan secara seimbang. Di lapangan, wasit memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan aturan permainan. Pemain tentu boleh merasa tidak setuju dan menyampaikan keberatan jika merasa ada keputusan yang kurang tepat. Hal itu merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Akan tetapi, sebuah keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada siapa yang paling keras meluapkan protesnya.

​Kita memang kerap menganggap sesuatu tidak adil saat berada di pihak yang merasa dirugikan. Sebaliknya, jika keputusan itu menguntungkan, kita cenderung tidak mempersoalkannya. Pada pertandingan bola voli tersebut, pihak yang dirugikan sempat menilai keputusan wasit keliru, padahal mereka belum tentu memahami seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.

​Salah satu kuncinya terletak pada kerelaan untuk mendengarkan penjelasan wasit. Dalam pertandingan tadi, pihak yang memprotes tidak terus mempertahankan keberatannya setelah wasit memberi penjelasan secara jernih. Keputusan wasit pun akhirnya diterima. Dari sini terlihat bahwa menyampaikan ketidaksetujuan dan menerima keputusan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

​Sikap ini berakar pada nilai tasamuh atau toleransi. Toleransi memang kerap dikaitkan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, toleransi juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan dengan orang yang berpandangan beda. Kita tidak perlu terburu-buru menganggap orang lain salah hanya karena sudut pandang yang tidak sejalan. Dalam pertandingan, setiap pemain memiliki perspektifnya, sedangkan wasit memiliki wewenang serta pertimbangannya. Perbedaan pandangan itu nyata, tetapi tetap bisa dijembatani secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan.

​Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengendalian emosi. Setiap pertandingan sarat dengan tensi tinggi. Saat berjuang mengejar kemenangan, keputusan yang dianggap merugikan tentu memicu kekecewaan. Namun, rasa kecewa inilah yang tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan maupun ucapan yang melukai. Di sinilah nilai antikekerasan hadir secara nyata. Keberatan boleh diutarakan, tetapi penyelesaiannya harus tetap melalui dialog. Dalam insiden tersebut, keberatan disampaikan, wasit memberi argumen, dan akhirnya keputusan dihormati. Persoalan selesai di tempat tanpa memicu perselisihan yang berlarut-larut.

​Sebagai mahasiswa, kita sering menemui dinamika serupa. Misalnya saat kerja kelompok, perbedaan pendapat hampir selalu mewarnai diskusi. Ada yang menginginkan tugas diselesaikan dengan metode tertentu, sementara anggota lain memiliki gagasan yang berbeda. Jika masing-masing bersikukuh merasa paling benar, kerja bersama justru akan jalan di tempat.

​Satu hal yang kerap terlupakan: menghargai orang lain bukan berarti harus selalu menuruti apa yang mereka mau. Kita tetap berhak mempertahankan pemikiran sendiri dan mempertanyakan hal yang dirasa kurang pas. Hanya saja, ada etika dan batasan yang perlu dijaga agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

​Dari laga bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II ini, pelajaran berharga yang dipetik melampaui urusan kalah atau menang. Kita diajak belajar menyikapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan. Moderasi beragama sejatinya tidak selalu berkutat pada isu-isu besar; nilai-nilainya hadir dari peristiwa sederhana di sekitar kita setiap hari. Dari sebuah protes di lapangan voli, kita belajar tentang arti keadilan, penghargaan atas perbedaan, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Hidup memang tidak selalu berjalan seturut kehendak kita, tetapi kedewasaan kita diuji dari cara kita menyikapinya.

Menghargai Keberagaman Bakat Tanpa Menghakimi

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Dwi Selma Fitriani

Di tengah masyarakat majemuk, ada satu kebiasaan yang sudah mengakar begitu lama: mengukur kualitas seseorang hanya dari satu tolok ukur, yaitu prestasi akademik. Nilai rapor tinggi, juara olimpiade, atau gelar akademis kerap dijadikan patokan utama untuk menilai siapa yang “berhasil” dan siapa yang “biasa saja”. Padahal, kehidupan nyata jauh lebih kompleks dari sekadar angka di atas kertas.

Dalam sebuah wawancara, seorang narasumber menyampaikan refleksi sederhana, tetapi mendalam. Tidak semua orang pintar di bidang akademik, tetapi banyak yang justru berbakat di ranah non-akademik, entah itu seni, olahraga seperti silat, organisasi, atau keterampilan lain yang jarang mendapat sorotan. Ia menegaskan bahwa dalam kehidupan nyata, tidak semuanya harus mengandalkan akademik semata. Ada banyak pegangan atau kekuatan lain yang sama pentingnya untuk menopang kehidupan bermasyarakat.

Pernyataan ini, jika direnungkan lebih jauh, sesungguhnya bukan sekadar curahan pengalaman pribadi. Hal tersebut menyimpan pesan yang sangat relevan dengan salah satu nilai penting dalam moderasi beragama, bahwa memaksakan satu standar keunggulan sebagai satu-satunya ukuran kebenaran atau kesuksesan adalah cara pandang yang tidak seimbang, bahkan berpotensi bertentangan dengan prinsip keseimbangan hidup yang diajarkan agama.

Baca juga: Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau

Fakta bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan dan kemampuan yang berbeda-beda bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sunatullah, hukum alam yang sengaja diciptakan agar kehidupan berjalan dengan seimbang. Ada yang unggul dalam logika dan hitungan, ada yang lihai dalam seni dan estetika, ada pula yang tangguh secara fisik dan mental sehingga menonjol di bidang olahraga. Semua ini adalah bentuk keberagaman yang seharusnya dirayakan, bukan dipertentangkan.

Di sinilah nilai tasamuh atau toleransi menemukan relevansinya yang paling mendasar. Dalam konteks moderasi beragama, tasamuh bukan hanya berbicara tentang toleransi antarumat beragama, melainkan juga tentang sikap saling menghargai perbedaan dalam jangkauan yang lebih luas, termasuk perbedaan potensi dan bakat antarindividu. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk tidak menghakimi nilai atau harkat seseorang hanya dari satu sudut pandang yang sempit.

Ketika seorang anak lebih menonjol dalam seni lukis dibandingkan matematika, atau seorang remaja lebih bersinar di atas panggung debat organisasi dibandingkan di ruang ujian, itu bukan berarti ia memiliki nilai yang lebih rendah sebagai manusia. Menghormati perbedaan bakat semacam ini sesungguhnya sama halnya dengan menghargai keberagaman ciptaan Allah Swt.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Poin kedua yang tak kalah penting dari refleksi wawancara tersebut adalah pernyataan bahwa tidak semua hal di kehidupan nyata mesti mengandalkan akademik. Pernyataan ini membuka mata kita pada satu kenyataan sederhana: dunia tidak dijalankan oleh satu jenis peran saja. Seorang dokter memang dibutuhkan, tetapi begitu pula petani, seniman, atlet, perajin, dan penggerak organisasi masyarakat. Semua peran ini saling melengkapi dan menopang keberlangsungan hidup bersama.

Konsep ini selaras betul dengan prinsip tawazun atau keseimbangan, salah satu pilar utama dalam moderasi beragama. Tawazun mengajarkan pentingnya sikap pertengahan, tidak berat sebelah, dan tidak ekstrem dalam memandang segala hal, termasuk dalam menilai jalan hidup dan pencapaian seseorang. Moderasi beragama menekankan bahwa keseimbangan bukan hanya soal ibadah dan muamalah, melainkan juga soal cara kita memandang kontribusi manusia dalam kehidupan sosial.

Coba bayangkan jika seluruh anggota masyarakat dipaksa menjadi akademisi. Siapa yang akan mengurus pertanian, mengembangkan seni budaya, menjaga tradisi bela diri, atau menggerakkan roda organisasi kemasyarakatan? Sektor-sektor tersebut akan lumpuh karena kehilangan tenaga dan semangat dari mereka yang justru memiliki keahlian di bidang itu. Masyarakat yang harmonis justru lahir dari keseimbangan antara dunia akademik dan dunia non-akademik. Keduanya bukan kompetitor, melainkan dua bidang yang sama-sama dibutuhkan.

Sayangnya, kita masih sering menyaksikan budaya labeling yang timpang. Anak-anak yang berprestasi secara akademik kerap ditempatkan pada posisi yang lebih terhormat, sementara mereka yang unggul di bidang non-akademik dipandang sebelah mata, seolah-olah pencapaiannya “kurang bergengsi”. Sikap superioritas semacam ini, jika dibiarkan, akan menumbuhkan rasa rendah diri pada anak-anak berbakat non-akademik, padahal bakat mereka sama sekali tidak kalah berharga.

Sikap seperti ini, dalam kacamata moderasi beragama, dapat disejajarkan dengan sikap berlebih-lebihan dan fanatik terhadap satu pandangan sambil merendahkan pandangan lain. Sebagaimana moderasi beragama secara tegas menolak kebenaran sepihak yang menyisihkan kelompok lain, sistem penilaian terhadap manusia pun semestinya tidak boleh merendahkan satu jalur prestasi demi mengagungkan jalur lainnya.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Oleh karena itu, akademik dan non-akademik bukanlah dua bidang yang harus dipertentangkan, melainkan dua unsur yang saling melengkapi dalam menopang keberlangsungan kehidupan bersama. Seorang ilmuwan membutuhkan seniman untuk memperindah dunia yang ia teliti, dan seorang atlet membutuhkan sistem pendidikan yang baik untuk memahami strategi dan kesehatan tubuhnya. Keduanya berjalan beriringan, bukan berlomba untuk saling mengungguli.

Nilai-nilai moderasi beragama seperti tawazun, tasamuh, dan penolakan terhadap sikap fanatik sesungguhnya mengajarkan kita satu hal yang sangat sederhana, tetapi sering terlupakan: keberagaman potensi manusia adalah anugerah, bukan masalah yang harus diseragamkan. Menerapkan nilai moderasi beragama tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar dan rumit. Hal ini bisa dimulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yaitu memandang dan menghargai setiap individu dengan adil.

Sudah saatnya kita berhenti menempatkan satu jenis prestasi di atas takhta, sementara jenis prestasi lainnya dipandang sebelah mata. Sebab, pada hakikatnya, dunia ini dibangun bukan oleh keseragaman, melainkan oleh harmoni dari perbedaan yang saling melengkapi.

Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau

Penulis: Sauqi Arifatu Anissa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama terkadang dipahami sebagai konsep yang rumit, dipelajari melalui buku tebal, atau didiskusikan dalam seminar formal. Sejatinya, esensi moderasi beragama seperti toleransi, antikekerasan, menghargai tradisi, dan komitmen kebangsaan dapat diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ruang yang efektif dalam praktik nilai-nilai tersebut ada di lapangan olahraga, khususnya melalui pertandingan futsal.

​Dalam permainan futsal, ruang gerak yang terbatas dan tempo permainan yang cepat menuntut adanya interaksi fisik yang intens. Di sinilah dinamika sosial terjadi. Namun, ada satu momen krusial dalam pertandingan futsal yang secara sempurna menjadi manifestasi moderasi beragama. Momen tersebut ialah saat seorang pemain tanpa sengaja menjatuhkan lawan, kemudian secara spontan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

​Momen mengulurkan tangan ini merupakan implementasi nilai toleransi dan antikekerasan. Bayangkan, di tengah kompetisi dengan intensitas begitu tinggi, tidaklah sulit bagi seorang pemain untuk terbawa emosi saat terjadi benturan dengan lawan. Berbagai dorongan untuk menjadi egois atau bahkan membalas pelanggaran sering kali muncul. Namun, ketika seorang pemain memilih untuk meredam emosi, menekan ego, dan mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh, ia sedang mempraktikkan prinsip dasar moderasi beragama. Ia mengedepankan kemanusiaan di atas perselisihan.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

​Toleransi beragama tidak diartikan sebatas mengorbankan keyakinan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan. Di lapangan futsal, berbagai perbedaan hadir dalam bentuk warna jersey, asal instansi, hingga latar belakang suku atau agama para pemain. Mengulurkan tangan kepada lawan yang jatuh diartikan sebagai penegasan bahwa, meski berada di pihak yang berbeda dalam sebuah pertandingan, kita tetap terikat oleh norma moral dan kemanusiaan yang sama. Lawan bertanding bukanlah musuh yang harus dihancurkan, melainkan kawan berolahraga yang saling membutuhkan untuk menciptakan permainan yang utuh.

​Jika berbicara lebih jauh, olahraga futsal menanamkan nilai komitmen kebangsaan melalui penghormatan terhadap aturan bersama. Lapangan hijau bertindak sebagai ruang inklusif tempat semua perbedaan identitas melebur di bawah naungan aturan main yang adil. Ketika peluit dibunyikan, setiap pemain tunduk pada aturan pertandingan tanpa memandang status sosial, agama, maupun latar belakang daerahnya. Kepatuhan pada kesepakatan bersama ini sejalan dengan cara warga negara yang moderat dalam menghormati hukum dan konsensus nasional demi menjaga ketertiban bersama.

​Di samping itu, pertandingan futsal sering kali menjadi arena ujian bagi sikap tawasut (berada di tengah-tengah) dan pengendalian diri. Di tengah cepatnya tensi permainan, gesekan fisik kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu konflik yang lebih besar jika tidak disikapi dengan kepala dingin. Ketika para pemain cerdas dalam mengolah emosi, mengarahkan energi pada permainan yang bersih, serta menerima keputusan wasit dengan lapang dada, mereka sedang mengintegrasikan karakter moderat ke dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana belaka. Lapangan futsal kemudian dapat menjadi laboratorium sosial mini tempat kerukunan diuji dan dibentuk secara alami.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Pembelajaran karakter berbasis lapangan seperti ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih membumi bagi generasi muda. Moderasi tidak selamanya harus disampaikan melalui narasi persuasif yang formal dan kaku. Lewat riuhnya sorak penonton dan dinamika di atas lapangan, peserta kompetisi secara tidak langsung dilatih untuk mengelola perbedaan pendapat, menghargai ruang hidup orang lain, serta menumbuhkan rasa empati terhadap kawan maupun lawan bertanding.

​Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam turnamen futsal bukanlah sekadar mengangkat piala. Kemenangan yang paling bermakna adalah ketika setiap individu mampu mengendalikan emosi, menghormati aturan permainan, dan menjaga rasa persaudaraan. Momen mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai moderasi beragama telah meresap ke dalam tindakan sehari-hari, serta membuktikan bahwa kedamaian dan toleransi bisa diukir dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis: Nayla Su’ada, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Se-Jawa Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tanggal 9 hingga 13 September 2026 akhirnya resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut bukan hanya sekadar panggung bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk beradu bakat, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemeriahan PORSI JAWARA II hingga detik-detik penutupan juga menyuguhkan sebuah refleksi penting mengenai esensi moderasi beragama di Indonesia.

Suasana hangat, meriah, sekaligus haru begitu terasa di lokasi closing ceremony yang dihadiri oleh para kontingen dari berbagai PTKIN di Indonesia. Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menciptakan kebersamaan yang luar biasa. Rangkaian acara closing ceremony sendiri juga dikemas secara apik dan sistematis, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga pengumuman juara umum, penyerahan piala, dan sambutan sekaligus penutupan resmi oleh Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Di sela-sela susunan acara tersebut, kemeriahan semakin memuncak ketika panitia menghadirkan sesi pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta. Tawa dan sorak kegembiraan dari berbagai sudut arena sukses meleburkan rasa lelah selama berhari-hari berjuang, serta mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antarkontingen PTKIN.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Dari semaraknya suasana dan rangkaian acara penutupan tersebut, tampak jelas bagaimana sekat-sekat perbedaan suku, daerah, tradisi, maupun pandangan keagamaan seolah runtuh. Nilai dasar moderasi beragama tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan) tercipta secara alami ketika para kontingen saling menghargai dan menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Keberhasilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sebagai tuan rumah juga membuktikan PTKIN sebagai laboratorium moderasi beragama yang hidup. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memadati arena penutupan, menunjukkan bahwa PTKIN mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang inklusif, terbuka, serta menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam beragama maupun kehidupan sosial.

Closing ceremony PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menciptakan kebersamaan yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Selain itu, acara ini juga menjadi jejak inspiratif yang membuktikan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwariskan lewat ceramah, melainkan dihidupkan melalui keringat di arena olahraga, keindahan di panggung seni, dan ketulusan dalam menjalin persaudaraan. Semoga semangat harmoni dari Pekalongan ini terus dibawa pulang oleh para mahasiswa ke kampus masing-masing yang menjadi energi positif untuk terus merawat Indonesia yang damai, majemuk, dan bertoleransi.

Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Editor: Muslimah

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh gegap gempita di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan. Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan yang berlangsung dengan sangat megah dan tertata pada Rabu malam, 9 September 2026, di Gedung Student Centre UIN Gusdur Pekalongan. Momen bersejarah ini diawali dengan prosesi kedatangan rombongan delegasi dari berbagai kampus yang memasuki area upacara dengan penuh kebanggaan. Terdapat 1.495 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Pulau Jawa dan Madura yang berkumpul membawa semangat juang serta kebanggaan almamater masing-masing.

Suasana kental akan kekayaan budaya Nusantara langsung terasa ketika para tamu undangan dan peserta disambut dengan persembahan tari tradisional yang memukau. Keindahan gerak tari tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbol keramahan tuan rumah dalam menerima keberagaman yang hadir. Setelah itu, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi muruah institusi keagamaan diteguhkan melalui lantunan syahdu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ayat-ayat suci tersebut menyiratkan pesan mendalam bahwa segala ikhtiar, kekuatan, dan kecerdasan yang diadu dalam kompetisi ini senantiasa bertaut pada rida Ilahi. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap institusi kian bergelora saat ribuan peserta berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul oleh Nyanyian Mars UIN Gus Dur yang menggema di seluruh penjuru Gedung Student Centre.

Di balik keriuhan dan sorak-sorai kompetisi yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini, terdapat sebuah nilai fundamental yang melampaui sekadar perebutan medali emas, perak, maupun perunggu. Acara berskala masif ini sejatinya merupakan manifestasi nyata dari praktik moderasi beragama di kalangan sivitas akademika. Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini tentu memiliki makna filosofis yang mendalam. Sebagaimana yang masyarakat ketahui, sosok Gus Dur merupakan bapak bangsa sekaligus ikon toleransi di Indonesia. Mempertemukan ribuan mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan tradisi di kampus yang menyandang nama besar beliau adalah sebuah langkah yang sangat strategis. Perjumpaan lintas budaya ini mengajak generasi muda untuk merayakan perbedaan secara elegan di dalam arena.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

PORSI JAWARA II mempertandingkan 27 cabang perlombaan yang mencakup bidang olahraga, seni, dan ilmiah. Mulai dari cabang yang mengandalkan ketangkasan fisik seperti futsal, bola voli, dan panjat tebing; cabang seni yang membutuhkan kehalusan budi seperti kaligrafi dan film pendek, hingga cabang ilmiah yang memeras daya nalar seperti debat konstitusi dan Business Plan. Apabila ditelisik lebih jauh, esensi dari setiap perlombaan tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama. Moderasi beragama atau wasathiyah mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengambil jalan tengah, bersikap adil, seimbang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Di dalam arena kompetisi, prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut diimplementasikan melalui sikap sportivitas para peserta. Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag.,  dalam berbagai kesempatan telah berpesan agar seluruh pihak senantiasa menjaga integritas. Ketika seorang mahasiswa bertanding, ia dituntut untuk tunduk pada peraturan yang berlaku dan menghormati keputusan wasit. Menerima kekalahan dengan dada yang lapang dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan merupakan wujud paling konkret dari akhlak mulia dan sikap moderat. Kompetisi ini mengajarkan kepada peserta didik bahwa lawan di lapangan pada hakikatnya adalah kawan dalam berproses.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Lebih lanjut, pada cabang seni dan ilmiah, moderasi beragama tecermin secara gamblang melalui keterbukaan pikiran dan keluwesan dalam berinteraksi. Dalam perlombaan debat konstitusi, misalnya, para delegasi mahasiswa dilatih untuk beradu gagasan secara rasional tanpa harus bermusuhan secara personal. Mereka diajarkan untuk menghargai kelogisan argumen pihak lain. Begitu pula dalam cabang seni, mahasiswa diberi panggung untuk mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang indah, damai, merangkul, dan sarat akan pesan humanisme. Pendekatan budaya dan keilmuan ini menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap paham-paham radikal yang cenderung kaku dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Pada akhirnya, gegap gempita pembukaan PORSI JAWARA II 2026 bukanlah sekadar ajang unjuk kekuatan belaka. Perhelatan ini adalah panggung pembuktian yang sesungguhnya bagi mahasiswa PTKIN untuk membumikan konsep moderasi beragama. Melalui olahraga, seni, dan karya ilmiah, ribuan mahasiswa ini tengah merajut tali persaudaraan kebangsaan yang lebih erat. Harapannya, ketika kompetisi ini usai, piala dan medali bukanlah satu-satunya hal yang dibawa pulang, melainkan juga karakter yang inklusif, pikiran yang terbuka, dan semangat persatuan yang terus menyala.

 

Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Sebanyak 1.495 atlet dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (Porsi Jawara) II. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini mempertemukan mahasiswa dalam berbagai bidang kompetisi, mulai dari olahraga, seni, hingga ilmiah.

Pembukaan Porsi Jawara II digelar di Gedung Student Center UIN Gus Dur dan dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, M.Ag., serta Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Rabu (9/9). Dalam kesempatan tersebut, Amien mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa perkuliahan sebagai ruang mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.

“Mumpung masih kuliah, masa di mana kalian mengukir prestasi,” ujar Amien.

Porsi Jawara II diikuti 1.495 atlet, 626 official, serta 147 wasit dan juri. Sebanyak 27 cabang dipertandingkan, terdiri atas 10 cabang olahraga, 8 cabang seni, dan 9 cabang ilmiah. Beragamnya cabang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang mereka tekuni.

Sebagai tuan rumah, UIN Gus Dur Pekalongan mengirimkan 120 atlet untuk mengikuti seluruh rangkaian kompetisi. Ketua Kontingen UIN Gus Dur, Lutfi Maulana, mengatakan persiapan telah dilakukan secara intensif sejak Agustus, termasuk melalui training center (TC) dan latihan rutin menjelang pertandingan.

“Secara persiapan kita selalu intens melakukan TC, baik dari bulan Agustus sampai bulan ini dan ketika H-10 hari kita juga tetap tiap hari latihan. Artinya ini bagian dari modal besar kita,” kata Lutfi.

UIN Gus Dur menargetkan masuk lima besar dalam klasemen akhir. Meski demikian, Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., menegaskan bahwa status sebagai tuan rumah tidak menjadi alasan bagi kampus untuk mengejar gelar juara umum.

“UIN Pekalongan walaupun menjadi tuan rumah, tidak menargetkan untuk juara umum,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan Porsi Jawara II lebih penting dijaga melalui kejujuran, semangat, dan sportivitas. Untuk mendukung hal tersebut, sebanyak 147 wasit dan juri telah melalui proses pengujian, termasuk sejumlah juri yang didatangkan dari luar Jawa Tengah.

Nilai-nilai tersebut membuat kompetisi dalam Porsi Jawara II tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah bertemu dalam ruang yang sama, berkompetisi secara sehat, sekaligus belajar menghargai perbedaan dan menjaga sportivitas.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam, sikap tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama yaitu mampu berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat, menerima perbedaan, serta menjunjung keadilan dalam prosesnya. Dengan demikian, prestasi yang dikejar tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kompetisi dijalankan secara jujur dan bermartabat.

Belajar Qanaah: Menemukan Ketenangan dalam Rasa Syukur

Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah

Pernahkah kita membuka media sosial, lalu melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, nongkrong di tempat yang sedang viral, atau mengikuti tren terbaru? Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi tanpa sadar muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama. Padahal, sebelumnya kita tidak terlalu membutuhkan hal tersebut. Perasaan takut tertinggal dari orang lain inilah yang sering disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Media sosial membuat kita dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Kita melihat pencapaian, gaya hidup, perjalanan, hingga kebahagiaan orang lain melalui layar. Akibatnya, terkadang kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain.

Baca juga: Ketika Spiritualitas Tak Perlu Dipamerkan: Belajar Esensi Waisak dari Aliran Theravada

Misalnya, ketika melihat teman membeli pakaian baru, kita ikut ingin membeli. Ketika ada tempat makan yang sedang viral, kita merasa harus mencobanya. Bahkan, ketika melihat teman-teman berkumpul tanpa kita, muncul perasaan takut ketinggalan momen. Padahal, belum tentu semua hal yang dilakukan orang lain memang kita butuh kan.

Di sinilah konsep qanaah dalam Islam menjadi menarik untuk direnungkan. Qanaah dapat dipahami sebagai sikap merasa cukup terhadap apa yang telah diberikan Allah Swt., disertai dengan rasa syukur dan tetap berusaha. Qanaah bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan atau bercita-cita. Sebaliknya, kita tetap boleh berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran kebahagiaan kita. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang muslim. Ketika kita terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, kita bisa lupa memperhatikan nikmat yang sebenarnya sudah kita miliki.

Menurut saya, FOMO tidak selalu buruk. Keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika FOMO membuat kita kehilangan kendali. Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Kita pergi ke suatu tempat bukan karena ingin menikmati pengalaman, tetapi hanya karena ingin mengunggahnya ke media sosial. Bahkan, terkadang kita memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara kita memandang kebahagiaan. Kita mulai menganggap bahwa bahagia berarti memiliki barang terbaru, pergi ke tempat tertentu, atau mendapatkan banyak perhatian. Padahal, kebahagiaan tidak selalu harus terlihat di media sosial.

Qanaah mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Bukan berarti kita harus berhenti memiliki impian, tetapi kita belajar menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Kita boleh ingin memiliki ponsel baru, tetapi tidak perlu merasa rendah diri hanya karena ponsel kita berbeda dengan milik teman. Kita boleh ingin berlibur, tetapi tidak perlu merasa kehidupan kita gagal hanya karena belum bisa mengunjungi tempat yang sedang viral.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan. Kita hanya melihat bagian yang ingin ditampilkan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri sebelum mengikuti sesuatu, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Menjadi qanaah di tengah budaya FOMO memang tidak mudah. Kita hidup di zaman ketika tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa belajar untuk merasa cukup. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menggunakan media sosial dengan bijak, dan memperbanyak rasa syukur dapat menjadi langkah sederhana untuk melatih qanaah.

Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa bahagia. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Sebab, terkadang kebahagiaan bukan tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang belajar menghargai apa yang sudah ada.

Jadi, ketika FOMO mulai muncul, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mengingat kembali qanaah. Bukan karena kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi karena kita tidak ingin kehilangan rasa syukur hanya demi mengejar apa yang dimiliki orang lain.

 

Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghargai. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu sikap penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Sebagian orang masih menganggap bahwa moderasi beragama berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Ada pula yang menganggap bahwa bersikap toleran berarti mencampuradukkan ajaran agama. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Moderasi beragama bukan berarti menjadi ragu terhadap ajaran agama sendiri atau mengorbankan keyakinan demi menghormati orang lain. Moderasi beragama justru mengajarkan seseorang untuk menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghargai keberadaan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui sikap yang baik, bukan melalui tindakan yang memaksakan kehendak. Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinannya. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari toleransi.

Moderasi beragama juga penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan. Di sekolah, misalnya, peserta didik dapat bertemu dengan teman yang berbeda agama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan beribadah, perayaan keagamaan, atau tradisi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman dan bekerja sama. Dalam kegiatan kelompok, semua peserta didik dapat saling menghargai dan memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjalankan kewajiban keagamaannya.

Selain di lingkungan sekolah, tantangan moderasi beragama juga semakin besar di media sosial. Informasi mengenai agama dapat tersebar dengan cepat, termasuk informasi yang belum tentu benar. Tidak jarang perbedaan pendapat mengenai persoalan keagamaan berubah menjadi perdebatan yang disertai penghinaan dan ujaran kebencian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial secara bijaksana juga merupakan bagian dari sikap moderat. Sebelum membagikan informasi, seseorang perlu memeriksa kebenarannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Sikap sederhana seperti tidak mengejek agama lain, tidak menyebarkan kebencian, menghormati teman yang sedang beribadah, serta bersedia bekerja sama dengan siapa pun dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, moderasi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus mengubah atau meninggalkan keyakinan sendiri. Kita dapat menghargai seseorang sebagai manusia tanpa harus mengikuti keyakinannya. Dengan kata lain, toleransi tidak menuntut setiap orang menjadi sama. Toleransi justru mengajarkan bahwa perbedaan dapat diterima selama setiap pihak mampu menjaga batas dan menghormati hak satu sama lain.

Pada akhirnya, teguh dalam keyakinan dan hidup damai dalam perbedaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Justru, keyakinan yang dijalankan dengan penuh pemahaman seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan menjaga kedamaian.

Moderasi beragama bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan, melainkan cara untuk menjaga agar kehidupan beragama berjalan secara seimbang dan tidak menimbulkan permusuhan. Di tengah keberagaman Indonesia, sikap tersebut sangat diperlukan. Kita tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menciptakan kedamaian. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Dengan demikian, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan harmonis.

Hijrah di Era Digital: Antara Tren dan Kesadaran

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di era digital seperti sekarang, istilah hijrah semakin sering kita dengar, terutama di kalangan anak muda. Kata hijrah tidak hanya muncul dalam kajian atau ceramah, tetapi juga banyak ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten tentang hijrah, mulai dari cara berpakaian, memperbaiki ibadah, hingga meninggalkan kebiasaan buruk, semakin mudah ditemukan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan, apakah hijrah yang dilakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri atau hanya mengikuti tren?

Pada dasarnya, hijrah memiliki makna yang luas. Hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, tetapi juga tentang usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Swt. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, menjaga perkataan, menghormati orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, serta berusaha menjaga hubungan dengan sesama.

Baca juga:

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu seseorang dalam proses hijrah. Saat ini banyak ustaz, pendakwah, dan kreator konten Islam yang membagikan ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi muda. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat mendengarkan kajian, membaca ayat Al-Qur’an, maupun mendapatkan pengingat tentang ibadah.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain. Tren hijrah di media sosial terkadang membuat seseorang lebih fokus pada penampilan daripada perubahan sikap. Misalnya, seseorang terlihat lebih religius dari luar, tetapi masih mudah marah, suka merendahkan orang lain, atau tidak menjaga perkataannya. Padahal, perubahan dalam hijrah seharusnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan usaha dari dalam diri. Hijrah seharusnya dilakukan karena kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan hanya karena ingin mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tren hijrah selama tren tersebut membawa seseorang kepada kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niat dan prosesnya. Jangan sampai hijrah hanya menjadi identitas di media sosial, tetapi tidak memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.

Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa hijrah harus dilakukan secara langsung dan sempurna. Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mulai dengan memperbaiki salat, ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang mulai belajar agama secara perlahan. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Di tengah perkembangan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial, generasi muda perlu menjadikan media digital sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Hijrah seharusnya bukan sekadar tren yang muncul dan hilang, tetapi sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah Swt. Karena perubahan yang paling penting bukan hanya yang terlihat oleh manusia, melainkan perubahan yang tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.