Indahnya Berprasangka Baik Dalam Kehidupan

Penulis: Mohammad Rizqi Fathurrohman, Editor: Muslimah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai keadaan yang belum tentu sesuai dengan harapan. Terkadang seseorang tidak membalas pesan kita, teman tiba-tiba menjauh, guru memberikan teguran, atau seseorang melakukan sesuatu yang membuat kita merasa tidak dihargai. Dalam situasi seperti itu, kita sering kali langsung berpikiran negatif tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Padahal, bisa jadi ada hal lain yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, berprasangka baik atau husnuzan merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam menjalani kehidupan.

Berprasangka baik berarti berusaha melihat sesuatu dari sisi positif dan tidak terburu-buru menuduh atau menilai seseorang berdasarkan dugaan. Sikap ini bukan berarti kita harus mengabaikan kesalahan atau menerima semua hal tanpa pertimbangan. Berprasangka baik berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memiliki alasan yang mungkin belum kita ketahui. Dengan begitu, kita tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa tidak semua dugaan yang muncul dalam pikiran kita dapat dibenarkan. Jika kita terus mengikuti prasangka buruk, kita dapat terjerumus ke dalam kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain, membicarakan keburukannya, bahkan menimbulkan permusuhan.

Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya tentang bahaya prasangka, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa prasangka yang tidak didasarkan pada fakta dapat membawa seseorang kepada kesimpulan yang salah. Bayangkan jika kita melihat seorang teman berjalan bersama orang yang tidak kita kenal lalu kita langsung berpikir bahwa ia sedang membicarakan kita. Padahal bisa saja mereka sedang membicarakan tugas sekolah atau urusan lainnya. Jika kita langsung mempercayai pikiran negatif tersebut, kita bisa menjadi marah dan menjauhi teman tanpa alasan yang jelas.

Berprasangka baik juga dapat membuat hati menjadi lebih tenang. Ketika kita terbiasa melihat sisi positif dari suatu keadaan, kita tidak akan mudah merasa kecewa, marah atau curiga. Misalnya ketika seseorang belum membalas pesan kita, daripada langsung berpikir bahwa ia sengaja mengabaikan kita, kita dapat berpikir bahwa mungkin ia sedang sibuk atau tidak melihat ponselnya atau memiliki keperluan lain. Pikiran yang lebih positif seperti ini membuat kita tidak terbebani oleh sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar.

Selain itu, husnuzan dapat mempererat hubungan antarmanusia. Hubungan pertemanan, keluarga, maupun lingkungan masyarakat membutuhkan rasa percaya. Jika setiap tindakan orang lain selalu dicurigai, hubungan tersebut akan mudah dipenuhi kesalahpahaman. Sebaliknya, ketika kita membiasakan diri untuk berprasangka baik, kita akan lebih mudah memaafkan, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Namun, berprasangka baik bukan berarti menjadi seseorang yang mudah percaya kepada semua hal. Kita tetap perlu bersikap bijaksana dan menggunakan bukti ketika menghadapi suatu masalah. Jika seseorang melakukan kesalahan, kita boleh mengingatkan dan mencari kebenaran. Bedanya, kita tidak langsung memberikan tuduhan sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Dengan demikian, husnuzan harus berjalan bersama sikap tabayun, yaitu mencari dan memeriksa kebenaran suatu informasi.

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, berprasangka baik merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan pengaruh besar dalam kehidupan. Dunia akan terasa lebih damai jika manusia tidak mudah menghakimi satu sama lain. Banyak konflik sebenarnya bermula dari kesalahpahaman dan dugaan yang tidak pernah diperiksa kebenarannya. Oleh karena itu, sebelum menilai seseorang, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar mengetahui apa yang terjadi, atau aku hanya sedang menebak?”

Pada akhirnya, berprasangka baik bukan hanya tentang bagaimana kita memandang orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati dan pikiran kita sendiri. Dengan husnuzan, kita belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi, belajar memahami keadaan orang lain, serta belajar menyerahkan hal-hal yang belum kita ketahui kepada Allah Swt. Berprasangka baik memang tidak selalu mudah, tetapi jika dibiasakan, hati akan menjadi lebih tenang dan hubungan dengan sesama akan menjadi lebih harmonis.

Indahnya berprasangka baik terletak pada kemampuannya untuk menghadirkan kedamaian di tengah kehidupan yang penuh dengan perbedaan dan ketidakpastian. Karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk mencari alasan yang baik sebelum menyimpulkan sesuatu yang buruk. Sebab, terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dipahami adalah salah satu bentuk akhlak mulia.

 

Bukan Kurang Waktu, Mungkin Kita yang Terlalu Banyak Menunda

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

“Besok aja.”

Kalimat sederhana itu mungkin sering kita ucapkan. Besok mengerjakan tugas, besok belajar, besok membaca Al-Qur’an, besok memperbaiki diri, atau bahkan besok mulai serius beribadah. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal tidak pernah ada yang menjamin bahwa “besok” benar-benar akan datang.

Kita sering mengeluh bahwa 24 jam sehari terasa tidak cukup. Kuliah, pekerjaan, organisasi, tugas, hingga media sosial membuat waktu terasa cepat berlalu. Namun, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu, melainkan karena kita belum mampu menggunakannya dengan baik.

Semua orang memiliki waktu yang sama. Tidak ada yang mendapatkan 30 jam sehari sementara orang lain hanya 20 jam. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut digunakan. Ada yang menggunakannya untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berkembang. Ada juga yang tanpa sadar menghabiskannya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Baca juga: Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah Swt. bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr. Surah tersebut mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu memang berbeda dengan harta. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali, barang yang rusak bisa dibeli lagi. Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap hari yang kita lewati sebenarnya adalah bagian dari umur yang berkurang.

Sayangnya, kita sering baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan hilang. Kita baru belajar ketika ujian sudah dekat, baru meminta maaf ketika hubungan sudah rusak, atau baru ingin memperbaiki ibadah ketika sedang menghadapi masalah.

Menunda memang terasa nyaman. Ketika ada tugas, membuka media sosial terasa lebih menyenangkan. Ketika harus belajar, menonton film terasa lebih menarik. Ketika ingin membaca Al-Qur’an, kita berkata, “Nanti setelah selesai main HP.” Tetapi “nanti” sering berubah menjadi “besok”, dan akhirnya tidak pernah dilakukan.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan Allah Swt. Kita mengatakan tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an atau belajar agama, tetapi masih mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk hiburan. Bukan berarti hiburan itu salah. Kita tetap membutuhkan istirahat. Namun, jangan sampai sesuatu yang hanya untuk kesenangan mendapatkan waktu terbaik kita, sementara ibadah selalu mendapat sisa tenaga.

Karena itu, kita perlu belajar menentukan prioritas. Tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari hal sederhana. Luangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, kerjakan tugas sebelum mendekati tenggat, kurangi waktu bermain media sosial, atau sekadar menghubungi orang tua yang sudah lama tidak kita kabari.

Kita juga tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu Ramadan untuk memperbaiki ibadah, atau menunggu motivasi untuk belajar. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa manusia hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirinya juga ikut pergi. Pesan ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar angka di kalender. Waktu adalah kehidupan kita sendiri.

Pada akhirnya, kita bukan benar-benar kekurangan waktu. Kita hanya terlalu sering memberikan waktu kepada hal-hal yang tidak penting dan menunda hal-hal yang sebenarnya berarti. Kita boleh beristirahat, menikmati hiburan, dan bersantai. Tetapi jangan sampai “nanti” menjadi kebiasaan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak “besok” yang masih Allah berikan.

Jika ada kebaikan yang bisa dilakukan hari ini, mengapa harus menunggu besok?

Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, menjaga salat lima waktu menjadi sebuah tantangan bagi sebagian Umat Islam. Kesibukan kuliah, pekerjaan, organisasi, keluarga, hingga aktivitas di media sosial terkadang membuat seseorang lupa waktu dan menunda salat. Bahkan, ada yang sengaja meninggalkan salat karena merasa masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan. Padahal, sebagai seorang muslim, salat merupakan kewajiban yang tidak seharusnya ditinggalkan hanya karena kesibukan dunia.

Menurut saya, menjaga salat lima waktu bukan hanya tentang menjalankan kewajiban agama, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu mendisiplinkan dirinya. Salat mengajarkan kita untuk mengatur waktu dan menempatkan kewajiban kepada Allah Swt. sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan. Sesibuk apa pun seseorang, seharusnya tetap berusaha menyediakan waktu untuk melaksanakan salat.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salat memiliki waktu yang telah ditentukan. Artinya, salat bukan ibadah yang dapat dilakukan sesuka hati atau hanya ketika kita sedang memiliki waktu luang. Ada waktu-waktu tertentu yang harus dijaga oleh setiap muslim. Karena itu, kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan salat.

Baca juga: Al-Wasathiyah dalam Keseharian Rasulullah

Rasulullah saw. juga menjelaskan pentingnya melaksanakan salat pada waktunya. Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud ra. bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. Rasulullah saw. menjawab:

“Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat tepat waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Menurut saya, hal ini menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh selalu menempatkan salat sebagai kegiatan yang bisa dilakukan setelah semua urusan dunia selesai. Justru, aktivitas sehari-hari yang seharusnya disesuaikan dengan waktu salat.

Masalah yang sering terjadi adalah kebiasaan menunda. Seseorang mungkin berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.” Namun, kalimat sederhana tersebut bisa menjadi awal dari kebiasaan buruk. Ketika terlalu sering menunda, seseorang bisa menjadi terbiasa menganggap salat sebagai sesuatu yang tidak mendesak. Padahal, waktu terus berjalan dan terkadang kesibukan membuat kita benar-benar lupa hingga waktu salat berakhir.

Salat lima waktu juga sebenarnya memberikan kesempatan kepada manusia untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan. Dalam sehari, kita memiliki waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Lima waktu tersebut dapat menjadi momen untuk mengingat Allah Swt. sekaligus melakukan introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan. Setelah beraktivitas sejak pagi, misalnya, salat Zuhur dapat menjadi waktu untuk menenangkan diri dan kembali mengingat tujuan hidup.

Rasulullah saw. juga memberikan perumpamaan mengenai salat lima waktu. Beliau bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?”

Para sahabat menjawab bahwa tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Kemudian Rasulullah saw. bersabda bahwa demikianlah perumpamaan salat lima waktu, yang dengannya Allah Swt. menghapus kesalahan-kesalahan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi sarana bagi seorang muslim untuk terus memperbaiki dirinya. Setiap kali melaksanakan salat, kita memiliki kesempatan untuk mengingat Allah Swt., memohon ampun, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjaga salat memang tidak selalu mudah. Rasa malas, lelah, pekerjaan yang menumpuk, atau terlalu asyik dengan kegiatan lain dapat membuat seseorang lalai. Namun, justru di situlah pentingnya membangun kebiasaan. Kita dapat menggunakan alarm sebagai pengingat, segera mengambil wudhu ketika waktu salat tiba, dan tidak membiasakan diri menunda-nunda. Jika sedang berada di luar rumah, kita juga dapat mencari tempat yang memungkinkan untuk melaksanakan salat.

Menurut saya, menjaga salat juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. kita sering kali sibuk mengejar berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, uang, kesuksesan, dan keinginan lainnya. Semua itu memang penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa kepada Allah Swt. yang telah memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan tersebut.

Pada akhirnya, menjaga salat lima waktu merupakan tanggung jawab setiap muslim. Kesibukan tidak akan pernah berhenti karena selalu ada pekerjaan dan urusan lain yang datang silih berganti. Jika kita menunggu sampai benar-benar tidak sibuk untuk melaksanakan salat, mungkin kita tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat. Oleh karena itu, salat harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang dilakukan ketika kita sedang memiliki waktu luang.

Sesibuk apa pun kehidupan kita, jangan sampai salat menjadi hal pertama yang dikorbankan. Justru ketika kehidupan semakin sibuk, kita harus semakin berusaha menjaga salat. Dengan menjaga salat lima waktu, kita bukan hanya menjalankan kewajiban kepada Allah Swt., tetapi juga belajar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan selalu mengingat bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

 

Menjaga Pergaulan Sebagai Benteng Diri Dan Akhlak

Penulis: Mohammad Rizqi Fathurrohman, Editor: Muslimah

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, tetangga, dan masyarakat. Pergaulan menjadi bagian penting dalam kehidupan karena melalui pergaulan seseorang dapat belajar, bertukar pengalaman, serta membangun hubungan dengan orang lain. Namun, pergaulan juga perlu dijaga agar tidak membawa pengaruh buruk. Oleh karena itu, menjaga pergaulan merupakan salah satu hal penting, terutama bagi generasi muda.

Pergaulan yang baik dapat memberikan banyak manfaat. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan, memberi semangat ketika menghadapi kesulitan, dan mengajak kepada kegiatan yang positif. Sebaliknya, pergaulan yang tidak sehat dapat membuat seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Seseorang yang awalnya tidak memiliki kebiasaan buruk bisa saja terpengaruh karena terlalu sering mengikuti perilaku teman-temannya.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Dalam Islam, memilih teman dan menjaga pergaulan merupakan hal yang sangat diperhatikan. Rasulullah saw. bersabda:

“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap diri seseorang. Jika kita berteman dengan orang-orang yang memiliki akhlak baik, rajin belajar, menghormati orang lain, dan senang melakukan kebaikan, kemungkinan besar kita juga akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika seseorang sering berada dalam lingkungan yang menganggap perilaku buruk sebagai sesuatu yang biasa, ia dapat lebih mudah terbawa oleh kebiasaan tersebut.

Menjaga pergaulan bukan berarti kita harus menjauhi semua orang yang berbeda dari kita. Kita tetap harus bersikap ramah dan menghormati siapa pun. Hal yang perlu dijaga adalah batasan dalam berinteraksi serta kemampuan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita boleh berteman dengan banyak orang, tetapi tidak harus mengikuti semua perilaku mereka. Prinsip yang penting adalah tetap memiliki pendirian dan tidak mudah terpengaruh.

Di zaman sekarang, menjaga pergaulan juga tidak hanya dilakukan dalam kehidupan nyata, tetapi juga di dunia digital. Media sosial memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan banyak orang tanpa harus bertemu secara langsung. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih konten yang ditonton, akun yang diikuti, dan percakapan yang dilakukan. Jangan sampai lingkungan pergaulan di dunia maya justru membuat kita terbiasa dengan perkataan kasar, penghinaan, perundungan, atau perilaku negatif lainnya.

Selain memilih teman yang baik, menjaga pergaulan dapat dilakukan dengan mengisi waktu melalui kegiatan yang positif. Belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan keagamaan, membantu keluarga, mengikuti organisasi sekolah, dan mengembangkan hobi merupakan contoh kegiatan yang dapat membentuk kebiasaan baik. Dengan memiliki kegiatan yang bermanfaat, kita tidak mudah menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Menurut saya, menjaga pergaulan bukan sekadar aturan untuk membatasi kebebasan seseorang. Justru, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita memiliki hak untuk menentukan siapa yang dekat dengan kita dan bagaimana kita ingin menjalani kehidupan. Pertemanan yang sehat seharusnya membuat seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya kehilangan prinsip dan melakukan sesuatu hanya demi diterima oleh kelompok.

Oleh karena itu, generasi muda perlu belajar menjadi pribadi yang tegas dalam memilih pergaulan. Jangan takut dianggap berbeda ketika kita memilih melakukan hal yang benar. Teman yang baik seharusnya menghargai keputusan kita dan tidak memaksa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama, keluarga, maupun aturan yang berlaku.

Pada akhirnya, pergaulan dapat menjadi jalan menuju kebaikan ataupun sebaliknya, tergantung bagaimana kita memilih dan menjalaninya. Menjaga pergaulan berarti menjaga diri, akhlak, masa depan, dan hubungan kita dengan orang lain. Dengan memilih lingkungan yang positif, memiliki pendirian, serta berpegang pada ajaran agama, kita dapat membangun kehidupan yang lebih baik. Sebagaimana pesan Rasulullah saw., kita perlu memperhatikan siapa yang menjadi teman dekat kita karena lingkungan pertemanan dapat memberi pengaruh besar terhadap diri dan perilaku kita.

 

Antara Produktif dan Sibuk: Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Kesibukan?

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kesibukan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Seseorang yang memiliki jadwal padat, banyak kegiatan, tugas yang menumpuk, dan berbagai pencapaian terkadang dipandang lebih produktif daripada orang yang memiliki waktu luang. Tidak jarang pula kita merasa bersalah ketika sedang beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Padahal, apakah seseorang yang terlalu sibuk benar-benar lebih produktif?

Sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk berarti seseorang melakukan banyak aktivitas, sedangkan produktif lebih berkaitan dengan seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Seseorang dapat menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut penting atau memberikan manfaat. Sebaliknya, seseorang yang hanya menyelesaikan beberapa hal penting dengan baik justru dapat disebut lebih produktif. Oleh karena itu, ukuran produktivitas seharusnya bukan sekadar seberapa penuh jadwal kita, melainkan apakah waktu yang digunakan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3. Allah bersumpah demi masa dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan, melainkan bagaimana waktu digunakan. Banyaknya kegiatan tidak otomatis membuat hidup seseorang lebih bernilai. Waktu menjadi berarti ketika digunakan untuk keimanan, amal kebajikan, menuntut ilmu, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penggunaan waktu, Islam juga mengajarkan pentingnya niat. Aktivitas yang dilakukan seorang muslim tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian duniawi. Belajar, bekerja, membantu keluarga, dan melakukan kegiatan sosial dapat menjadi aktivitas yang bernilai jika dilakukan dengan tujuan yang baik. Dengan demikian, produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari niat dan manfaatnya.

Namun, mengejar produktivitas secara berlebihan juga dapat menjadi masalah. Kesibukan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang mengabaikan ibadah, keluarga, kesehatan, maupun kebutuhan untuk beristirahat. Padahal, istirahat tidak selalu berarti malas. Tubuh dan pikiran juga memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan agar seseorang dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan manusia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 6412. Oleh karena itu, produktivitas seharusnya berjalan bersama keseimbangan. Seorang muslim perlu memberikan waktu untuk belajar atau bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, bersosialisasi, dan beristirahat. Tidak semua waktu harus dipenuhi dengan aktivitas. Ada kalanya berhenti sejenak justru membantu seseorang kembali melakukan kewajibannya dengan lebih baik. Hal yang perlu dihindari bukanlah waktu luang, melainkan menyia-nyiakan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat.

Baca juga: Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Hal ini menjadi penting bagi generasi muda. Banyak pelajar mengikuti berbagai kegiatan karena ingin berkembang, tetapi terkadang kesibukan tersebut justru dilakukan karena takut tertinggal dari orang lain. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kegiatan yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat? Apakah kita masih memiliki waktu untuk belajar dengan baik, beribadah, keluarga, dan beristirahat? Ataukah kita hanya ingin terlihat sibuk dan produktif?

Pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang dipenuhi sebanyak mungkin aktivitas, melainkan hidup yang waktunya digunakan untuk hal-hal yang bermakna. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengejar kesibukan tanpa batas. Islam mengajarkan agar waktu digunakan untuk keimanan, kebaikan, tanggung jawab, dan kemanfaatan. Maka, sebelum mengatakan “saya sangat sibuk”, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah kesibukan saya benar-benar membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?” Sebab, produktif bukan tentang menjadi manusia yang paling sibuk, melainkan tentang menjadi manusia yang mampu menggunakan waktunya dengan bijaksana.

Sumber:

Kementerian Agama RI

Al-Qur’an Surah Al-‘Asr ayat 1–3

Sahih al-Bukhari No. 6412

Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Penulis: Velisah Intan Editriya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Persoalan sampah sering kali dipandang semata-mata sebagai persoalan perilaku masyarakat. Ketika sampah menumpuk, pembakaran terbuka terjadi, atau lahan kosong berubah menjadi tempat pembuangan, masyarakat kerap hanya diminta untuk lebih sadar dan lebih peduli terhadap lingkungan. Padahal, kesadaran saja tidak selalu cukup. Masyarakat yang memiliki keinginan untuk hidup bersih tetap membutuhkan sistem, sarana, dan dukungan bersama agar kepedulian tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 selama melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Dusun 2, Desa Bunikasih. Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat bukan sekadar untuk menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, mendengar, dan memahami persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Melalui observasi, wawancara, diskusi, serta kegiatan rembuk warga, mahasiswa bersama masyarakat berupaya mengidentifikasi kebutuhan yang paling mendesak dalam mendukung kebersihan lingkungan.

Dari proses tersebut, ditemukan bahwa keterbatasan sarana transportasi menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pengumpulan dan pengangkutan sampah. Sebelum program pengadaan sarana dilaksanakan, pengelolaan sampah masih dilakukan secara swadaya dan belum terjadwal secara optimal. Sebagian warga memilih membakar sampah secara terbuka atau membuangnya di lahan kosong karena proses membawa sampah menuju lokasi pembuangan cukup berat dan belum didukung alat angkut yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kesadaran masyarakat, tetapi juga dengan ketersediaan sarana yang mendukung pengelolaan sampah.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Berangkat dari persoalan tersebut, KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 bersama masyarakat Dusun 2 Desa Bunikasih berupaya menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, yaitu melalui pengadaan sarana transportasi atau gerobak sampah. Program ini dirancang bukan hanya sebagai bentuk pemberian bantuan, melainkan sebagai upaya membangun fondasi pengelolaan sampah yang dapat terus berjalan setelah kegiatan KKN berakhir.

Di sinilah program KKN memiliki arti yang lebih luas. KKN seharusnya tidak hanya meninggalkan kegiatan seremonial atau program yang selesai bersamaan dengan berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Program yang dilaksanakan perlu memiliki keberlanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Gerobak sampah yang diadakan melalui program ini diharapkan menjadi salah satu sarana yang tetap dapat digunakan masyarakat untuk mendukung proses pengumpulan dan pengangkutan sampah secara rutin.

Pengadaan sarana tersebut juga didukung oleh gagasan wakaf produktif. Namun, dalam program ini, wakaf bukan satu-satunya fokus utama. Wakaf produktif menjadi salah satu pendekatan yang memperkuat gagasan bahwa sebuah aset sosial seharusnya tidak hanya diberikan untuk sesaat, tetapi harus mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan. Gerobak sampah menjadi wujud nyata dari pemanfaatan aset yang dapat digunakan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Nilai penting dari program ini tidak hanya terletak pada gerobak sebagai benda fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana gerobak tersebut dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah masyarakat. Jika digunakan secara rutin, dirawat bersama, dan didukung oleh jadwal pengangkutan yang jelas, gerobak tersebut dapat membantu mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka dan pembuangan sampah di lahan kosong. Dengan kata lain, keberhasilan program tidak berhenti pada saat gerobak diserahkan, tetapi justru dimulai setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdiannya.

Pengalaman awal pelaksanaan program menunjukkan adanya perubahan positif. Dalam dua minggu pertama, frekuensi pengangkutan sampah meningkat, titik sampah liar dan praktik pembakaran terbuka mulai berkurang, serta muncul keterlibatan relawan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan pengelolaan sampah. Hasil ini memang masih bersifat awal dan belum dapat dijadikan bukti keberhasilan jangka panjang. Namun, perubahan tersebut memberikan harapan bahwa penyediaan sarana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Keberlanjutan program tentu tidak dapat dibebankan kepada mahasiswa KKN. Mahasiswa hanya menjadi penggerak awal dan fasilitator dalam proses perubahan. Setelah program dilaksanakan, masyarakat menjadi pihak utama yang menentukan keberlanjutan gerobak sampah dan sistem pengelolaannya. Karena itu, keterlibatan RT, RW, tokoh masyarakat, karang taruna, relawan, dan warga menjadi sangat penting. Pembagian tanggung jawab, jadwal pengangkutan, mekanisme pemeliharaan, dan kesepakatan bersama perlu terus dijaga agar sarana yang telah tersedia benar-benar memberikan manfaat.

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Tantangan juga tetap ada. Persoalan iuran, pembagian tanggung jawab, hingga potensi kesalahpahaman antarwarga dapat memengaruhi keberlanjutan program. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa membangun program lingkungan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Keberadaan sarana harus diikuti dengan komunikasi, tata kelola, dan rasa memiliki dari masyarakat. Sebuah gerobak sampah yang dikelola bersama akan memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan sarana yang hanya digunakan sesekali tanpa sistem yang jelas.

Pada akhirnya, program pengadaan gerobak sampah yang dilakukan melalui KKN Sisdamas Kolaborasi Kelompok 251 di Dusun 2 Desa Bunikasih membawa pesan sederhana: persoalan lingkungan dapat dimulai penyelesaiannya dari langkah-langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak semua persoalan harus dijawab dengan program besar atau teknologi yang mahal. Terkadang, sebuah sarana sederhana yang tepat sasaran dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Gerobak sampah tersebut bukan sekadar alat untuk mengangkut sampah. Lebih dari itu, gerobak menjadi simbol dari harapan agar program KKN tidak berhenti ketika mahasiswa pulang dari lokasi pengabdian. Keberlanjutan program terletak pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan, merawat, dan mengembangkan apa yang telah dimulai bersama.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan KKN bukan hanya tentang berapa banyak program yang telah dilaksanakan, melainkan tentang seberapa jauh program tersebut tetap hidup dan memberi manfaat setelah mahasiswa selesai menjalankan pengabdiannya. Dari sebuah gerobak sampah, tumbuh harapan sederhana: lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang semakin peduli, dan program KKN yang benar-benar meninggalkan kebermanfaatan secara berkelanjutan.

Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang keluarga, daerah, budaya, cara berpikir, bahkan keyakinan yang berbeda. Di lingkungan kampus misalnya, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan dan pandangan yang tidak selalu sama dengan kita. Begitu juga di lingkungan masyarakat. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Salah satu dasar penting mengenai hal ini terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah S.W.T. adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman manusia merupakan bagian dari kehendak Allah S.W.T. Manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. 

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, bagian “agar kamu saling mengenal” ini menarik untuk direnungkan. Sebab, dalam kehidupan sekarang, kita terkadang justru lebih mudah mengenali perbedaan daripada mengenali manusianya. Kita melihat seseorang dari kelompok mana, berasal dari daerah mana, memiliki pandangan seperti apa, atau memiliki keyakinan apa, kemudian buru-buru memberikan penilaian. Padahal, sebelum melihat perbedaannya, kita sedang berhadapan dengan seorang manusia yang juga ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan baik.

Akhlak Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa menghormati manusia tidak harus berarti menyamakan semua keyakinan atau menghilangkan prinsip yang kita miliki. Menghormati orang lain adalah persoalan sikap dan kemanusiaan. Hal tersebut juga dapat dilihat dalam QS Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Bahkan, ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah S.W.T. mencintai orang-orang yang berlaku adil. Artinya, berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, selama berada dalam hubungan yang damai, Islam mengajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil.

Contoh yang paling sederhana sebenarnya ada di sekitar kita. Ketika memiliki teman yang berbeda pandangan, kita tidak harus selalu setuju dengan pendapatnya. Namun, ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita bisa mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa harus mengatakan, “Pendapatmu bodoh.” Begitu pula ketika berada di media sosial. Perbedaan pendapat sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik layar terdapat manusia lain yang juga memiliki perasaan. Hanya karena tidak bertemu secara langsung, seseorang merasa bebas menulis komentar kasar, mengejek, bahkan merendahkan orang lain. 

Di sinilah akhlak menjadi penting. Akhlak bukan hanya terlihat ketika kita sedang berada di masjid, mengikuti pengajian, atau berbicara tentang agama. Akhlak justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Rasulullah saw. juga memberikan contoh penghormatan terhadap manusia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdiri ketika sebuah jenazah lewat. Para sahabat kemudian memberitahukan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. Dalam riwayat lain, ketika diberitahu bahwa jenazah itu milik seorang Yahudi, Rasulullah saw. mempertanyakan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”  Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Perbedaan keyakinan tidak membuat beliau kehilangan rasa hormat terhadap manusia.

Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti harus memusuhi setiap orang yang berbeda. Justru, salah satu bentuk kekuatan akhlak adalah kemampuan untuk tetap bersikap baik tanpa kehilangan prinsip. Pada akhirnya, perbedaan memang akan selalu ada. Kita tidak harus membuat semua orang menjadi sama dengan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Karena bisa jadi, ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sukai, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya. Dan jika Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., maka meneladani sikap beliau terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk nyata dari kecintaan tersebut.

Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

PEKALONGAN — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggelar kegiatan doa bersama antarumat beragama. Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus memperkuat persatuan dan kerukunan umat beragama di wilayah tersebut.

Kegiatan doa bersama ini diikuti oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Pekalongan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai agama. Acara berlangsung khidmat dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan, Imam Teguh Wibowo, menuturkan bahwa kegiatan doa bersama ini merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus perjalanan panjang Kabupaten Pekalongan.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia dan memperingati ke-404 Hari Jadi Kabupaten Pekalongan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama,” ujar Imam di Pekalongan, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Ia menambahkan, keberagaman agama dan keyakinan di Kabupaten Pekalongan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, semangat saling menghormati dan menghargai perlu terus dijaga.

“Kami berharap melalui kegiatan ini semakin terjalin kebersamaan, persaudaraan, dan toleransi di antara masyarakat. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan agar semakin maju dan masyarakatnya makin sejahtera,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, doa disampaikan oleh perwakilan umat beragama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh penghormatan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur, doa bersama tersebut juga menjadi sarana untuk memanjatkan harapan bagi Kabupaten Pekalongan. Masyarakat berharap daerah ini senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, keberkahan, serta kelancaran dalam melaksanakan pembangunan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan semangat gotong royong dan toleransi, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan Kabupaten Pekalongan yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera.

Refleksi Al-Qur’an dalam Kolaborasi Pendidikan Anak

Penulis: Vina Virginia Hendrawati, Penyunting: Rahmawati Arditia

Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah mengikuti kegiatan yang bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini beriringan dengan program pemerintah yang bernama GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi pengingat penting atas fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis. Di tengah masyarakat Indonesia, masih terdapat pandangan bahwa tugas ayah adalah bekerja dan mencari nafkah, sedangkan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tugas ibu. Pembagian peran dalam pengasuhan hingga saat ini masih menjadi pembahasan yang serius. Lantas, siapa yang bertanggung jawab dalam pengasuhan anak: ibu, ayah, atau guru di sekolah? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita renungkan bersama peran masing-masing dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Apakah Ibu Berperan dalam Pengasuhan Anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali berinteraksi secara intensif dengan anak di rumah. Secara psikologis, ibu berperan dalam mengajarkan kasih sayang, kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu sering diidentikkan dengan istilah madrasatul ula (sekolah pertama), terutama dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual. Hal ini dapat direfleksikan melalui Q.S. Ali ‘Imran ayat 35:

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya: “(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”

Ayat tersebut dapat menjadi refleksi bahwa pendidikan anak perlu memiliki visi yang baik sejak dini. Orang tua diharapkan memiliki harapan dan ikhtiar agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berkarakter, serta bermanfaat bagi agama dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Apakah Bapak Hanya Bertugas Mencari Nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai teladan, pelindung, pendidik, dan mitra yang setara bagi ibu. Dalam kehidupan berumah tangga, ayah memiliki peran penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam Al-Qur’an, keteladanan pengasuhan juga dapat dilihat melalui nasihat Luqman kepada putranya. Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Q.S. Luqman [31]: 13).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan anak dapat dimulai melalui dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga membangun komunikasi yang penuh kasih sayang. Hal tersebut menjadi teladan bahwa ayah memiliki peran penting dalam membentuk akidah, karakter, dan mental anak.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Seberapa Penting Guru dalam Mendidik Anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan sekadar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua dapat membantu keduanya memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh. Hal ini sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carl Rogers, yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan mencapai aktualisasi diri apabila berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan tersebut, guru yang berperan sebagai konselor bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami dirinya dan mengembangkan potensinya.

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah seyogianya tidak dipahami hanya sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan, karakter, dan potensi peserta didik. Dengan kolaborasi antara ayah, ibu, dan guru, anak memiliki dukungan yang lebih utuh untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter serta mampu menyikapi kemajuan zaman secara bijaksana.

Melestarikan Tradisi ngaliwet Desa Bunikasih di Tengah Arus Modernisasi

Penulis: Sofiatul Afidah, Editor: Mohammad Rizqi Fathurrohman

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup yang serba praktis, kebiasaan berkumpul bersama perlahan mulai memudar. Kesibukan bekerja, aktivitas di dunia digital, hingga budaya makanan cepat saji membuat banyak orang lebih memilih menikmati makanan sendiri daripada meluangkan waktu untuk berbincang bersama keluarga maupun tetangga. Padahal, di berbagai daerah di Indonesia masih terdapat tradisi yang mampu menjaga kehangatan hubungan antar manusia. Salah satunya adalah tradisi ngaliwet yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Bunikasih, Kecamatan Warung kondang, Kabupaten Cianjur.

Dahulu, nasi liwet dimasak oleh para petani menggunakan tungku kayu bakar untuk bekal atau santapan setelah bekerja di sawah. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat, seperti syukuran, pengajian, kerja bakti, musyawarah warga, hingga acara kebersamaan lainnya.

Baca Juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Di Desa Bunikasih, tradisi ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam berbagai kegiatan, warga berkumpul untuk menyiapkan hidangan bersama. Ada yang mencuci beras, membersihkan lauk, mengulek sambal, menyalakan api, hingga menata makanan. Tidak ada pembagian tugas yang kaku; semua bekerja dengan sukarela demi terciptanya kebersamaan. Dari proses sederhana inilah nilai gotong royong tumbuh dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keistimewaan Ngaliwet tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung dalam setiap unsurnya. Salah satunya adalah penggunaan daun pisang sebagai alas makan. Selain memberikan aroma alami yang khas pada makanan, penggunaan daun pisang melambangkan kesederhanaan, kebersihan, dan persatuan. Seluruh hidangan disajikan di atas satu hamparan daun pisang sehingga setiap orang duduk sejajar tanpa membedakan usia, kedudukan, maupun latar belakang sosial. Hal ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dan kebersamaan akan terjalin ketika setiap orang saling menghargai.

Nasi liwet dimasak dengan berbagai rempah, seperti serai, daun salam, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya. Perpaduan rempah tersebut tidak hanya menghasilkan aroma harum dan cita rasa khas, tetapi juga mengandung filosofi tentang keberagaman. Setiap rempah memiliki rasa dan karakter yang berbeda, namun ketika dipadukan mampu menghasilkan hidangan yang lezat. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang dapat menciptakan keharmonisan apabila di satukan dalam semangat kebersamaan.

Keunikan lainnya terlihat pada penggunaan kastrol, yaitu wadah memasak tradisional berbahan logam yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk memasak nasi liwet di atas tungku kayu bakar. Memasak dengan kastrol membutuhkan kesabaran dan ketelitian karena api harus dijaga agar tetap stabil hingga nasi matang dengan sempurna. Proses tersebut mengajarkan bahwa hasil yang baik memerlukan waktu, kerja sama, dan kesungguhan. Sama halnya dalam kehidupan bermasyarakat, keharmonisan hanya dapat terwujud apabila setiap orang saling membantu dan menghargai peran satu sama lain.

Setelah matang, nasi liwet disajikan memanjang di atas daun pisang dan dinikmati bersama menggunakan tangan. Cara makan seperti ini menciptakan suasana hangat dan akrab. Tidak ada meja kehormatan ataupun tempat duduk khusus. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua duduk dalam satu barisan, menikmati hidangan yang sama sambil berbagi cerita dan tawa. Momen sederhana tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan kebersamaan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bunikasih, kami melihat langsung bahwa tradisi ngaliwet masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kehangatan yang tercipta sejak proses memasak hingga makan bersama menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai yang masih hidup dan terus dijaga. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, meskipun perkembangan zaman terus bergerak begitu cepat.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ngaliwet memiliki makna yang semakin penting. Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi bukan berarti nilai budaya harus ditinggalkan. Justru generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan kembali tradisi ini melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, maupun media sosial agar tetap dikenal oleh masyarakat luas.

Melestarikan tradisi ngaliwet bukan sekadar mempertahankan cara memasak atau menikmati makanan bersama. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan upaya menjaga nilai gotong royong, persaudaraan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang telah diwariskan oleh para leluhur. Desa Bunikasih menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Semoga semangat kebersamaan yang lahir dari tradisi ngaliwet terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya, serta mengingatkan kita bahwa warisan paling berharga bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat, melainkan juga nilai-nilai luhur yang terus dijaga bersama.