Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

Penulis: Azza Fadlillah, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi yang semakin pesat, keberadaan kerajinan tradisional sering kali menghadapi berbagai tantangan untuk tetap bertahan. Salah satu kerajinan tradisional yang masih eksis hingga saat ini adalah kerajinan reyeng yang terdapat di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Reyeng merupakan wadah berbentuk anyaman bambu yang umumnya digunakan untuk mengemas ikan pindang, buah-buahan, maupun berbagai kebutuhan lainnya. Kerajinan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kutorojo secara turun-temurun dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian warga.

Kerajinan reyeng bukan sekadar produk anyaman biasa, melainkan mencerminkan keterampilan, ketekunan, dan kreativitas masyarakat desa dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar. Bambu sebagai bahan baku utama mudah ditemukan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi apabila diolah dengan baik. Melalui proses pemotongan, penjemuran, penghalusan, hingga penganyaman, masyarakat mampu menghasilkan produk yang memiliki fungsi praktis sekaligus nilai jual yang cukup menjanjikan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutorojo, penulis melihat secara langsung bagaimana kerajinan reyeng masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak pengrajin yang menjadikan usaha reyeng sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Selain itu, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran di desa.

Tidak hanya bernilai ekonomi, kerajinan reyeng juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Kemampuan menganyam reyeng yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Kutorojo. Apabila tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin keterampilan tersebut akan hilang seiring berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha kerajinan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama bahwa melestarikan kerajinan reyeng berarti turut menjaga warisan budaya daerah.

Namun demikian, perkembangan zaman juga menghadirkan tantangan yang cukup besar bagi para perajin reyeng. Produk berbahan plastik yang lebih murah dan mudah diperoleh sering kali menjadi pilihan masyarakat dibandingkan produk anyaman bambu. Selain itu, pemasaran yang masih terbatas menyebabkan produk reyeng belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kondisi ini mengakibatkan pendapatan perajin sering kali tidak stabil dan bergantung pada permintaan pasar lokal.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan berbagai upaya pengembangan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan mengenai inovasi produk, manajemen usaha, serta pemasaran digital agar para perajin mampu mengikuti perkembangan pasar. Selain itu, promosi melalui pameran UMKM, media sosial, dan platform perdagangan elektronik dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kerajinan reyeng kepada masyarakat yang lebih luas.

Inovasi produk juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kerajinan reyeng. Jika selama ini reyeng lebih banyak digunakan sebagai wadah ikan pindang, ke depan perajin dapat mengembangkan berbagai produk lain seperti tempat buah, wadah suvenir, keranjang hias, atau produk dekorasi rumah berbahan anyaman bambu. Dengan demikian, nilai jual produkdapat meningkat dan mampu menarik minat konsumen dari berbagai  kalangan.

Pada akhirnya, kerajinan reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan merupakan aset budaya sekaligus aset ekonomi yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Keberadaan kerajinan ini perlu mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar tetap lestari di tengah perubahan zaman. Melalui pelestarian, inovasi, dan pengembangan yang berkelanjutan, kerajinan reyeng tidak hanya mampu mempertahankan identitas budaya masyarakat Desa Kutorojo, tetapi juga dapat menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

KEBERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN: REFLEKSI KKN DI DESA KUTOROJO, KABUPATEN PEKALONGAN

Penulis: Rois Sidik, Editor: Nehayatul Najwa

Desa Kutorojo, yang terletak di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menyimpan kekayaan sosial-budaya yang tidak tampak dari luar. Selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa ini, saya mendapati sebuah pelajaran berharga yang tidak diajarkan di bangku kuliah: bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan fondasi kokoh kehidupan bermasyarakat. Desa Kutorojo terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Purwadadi, Kutorojo, Silawan, dan Gunung Telu. Masing-masing dusun memiliki karakter dan keunikannya tersendiri, namun tetap terikat dalam satu identitas desa yang harmonis. Keempat dusun ini tidak hanya berbeda secara geografis, tetapi juga memperlihatkan warna kehidupan beragama yang berbeda-beda, sesuatu yang langka dan patut untuk dirayakan.

Hal yang paling mengesankan selama KKN di Desa Kutorojo adalah realitas kehidupan keberagamaan yang ada. Di sini, tiga keyakinan hidup berdampingan, yakni Islam, Hindu, dan Kapitayan. Ketiganya bukan sekadar corak demografis di atas kertas, melainkan benar-benar hadir dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Baca Juga: Mengawal Kemerdekaan dengan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman Indonesia

Di Dusun Purwadadi dan Kutorojo, terdapat warga yang memeluk ajaran Hindu dan Islam secara berdampingan. Meski Islam tetap menjadi keyakinan mayoritas, kehadiran Hindu di tengah komunitas ini justru menciptakan dinamika sosial yang hangat. Warga dari dua keyakinan berbeda ini tetap saling menyapa, bergotong royong, dan berbagi ruang hidup tanpa sekat yang berarti.

Di Dusun Gunung Telu, terdapat sesuatu yang lebih langka lagi, yaitu kehadiran Kapitayan. Kapitayan adalah kepercayaan asli Jawa yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Nusantara. Meskipun Islam mendominasi dusun ini, keberadaan Kapitayan di tengah modernitas adalah pengingat bahwa akar budaya lokal masih dijaga dan dihormati. Ini bukan kemunduran, melainkan bentuk kearifan lokal yang patut dilestarikan.

Sementara itu, Dusun Silawan seluruh warganya memeluk agama Islam, namun keseragaman keyakinan ini tidak membuat mereka menutup diri terhadap perbedaan yang ada di dusun-dusun tetangga. Salah satu hal yang paling mengesankan adalah bahwa toleransi di Desa Kutorojo bukan sesuatu yang perlu dikampanyekan atau diajarkan melalui program-program formal. Toleransi di sini tumbuh alami dari keseharian, dari sapaan di jalan setapak, dari keikutsertaan bersama dalam kegiatan desa, dan dari rasa saling menghargai yang sudah mengakar sejak lama. Warga tampaknya telah memahami bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk menjadi tetangga yang baik, bahkan menjadi saudara dalam satu komunitas.

Baca Juga: Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Mengakhiri masa KKN di Desa Kutorojo, saya membawa pulang lebih dari sekadar laporan kegiatan dan dokumentasi program kerja. Saya membawa pulang perspektif baru tentang Indonesia yang sesungguhnya: negeri yang di dalamnya Islam, Hindu, dan Kapitayan bisa hidup dalam satu desa, bahkan dalam satu dusun, tanpa konflik dan tanpa perlu ada yang mengalah.

Sebelum menyelesaikan KKN ini, kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu Pura di Desa Kutorojo ini, ditemani oleh penjaga Pura yang menyambut baik kedatangan kami. Beliau bercerita bahwa salah satu contoh toleransi di Desa Kutorojo ketika hari raya Hindu dan Islam berdekatan, mereka saling bantumembantu dalam menyambut hari raya. Cerita uniknya ternyata masih ada satu KK yang berbeda agama, bahkan terkadang terjadi pernikahan beda agama. Ini menjadi bahwa perbedaan agama tidak bisa menjadi alasan untuk perpecahan.

Desa Kutorojo mengajarkan bahwa keberagaman adalah warisan, bukan beban. Dan tugas generasi muda, termasuk para mahasiswa KKN seperti kami, adalah memahami, menghormati, dan menjaga warisan itu agar tetap hidup untuk generasi berikutnya. Bagi saya pribadi, inilah pelajaran terbesar selama KKN di Desa Kutorojo: bahwa toleransi sejati tidak perlu diajarkan, ia cukup dihidupi. Desa ini adalah bukti nyata bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan perpecahan.

Baca Juga: Toleransi Bukan Sekadar Seremoni: Menggeser Narasi Simbolis Ke Aksi Substansial

Besar harapan agar keharmonisan dan toleransi ini tertanam pada generasigenerasi selanjutnya. Anak-anak tumbuh dengan pandangan bahwa perbedaan bukan pembeda, melainkan memandang perbedaan sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian Desa Kutorojo diharapkan tidak hanya maju secara pembangunan fisik, tetapi juga unggul dalam pembangunan karakter dan peradaban. Seperti dalam Pancasila “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” -Berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua.

Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Penulis: Zumrotul Muna, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan tradisi dan adat istiadat menjadi salah satu unsur penting yang harus tetap dijaga oleh masyarakat. Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya dari generasi terdahulu, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya. Desa Kutorojo, Kabupaten Pekalongan, merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan berbagai tradisi adat yang diwariskan oleh leluhur, seperti nyadran, sedekah bumi, dan ancaan. Tradisi-tradisi tersebut hingga saat ini masih dilaksanakan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa. Menurut saya, keberlangsungan tradisi tersebut merupakan hal yang sangat positif karena menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kutorojo masih memiliki kesadaran untuk menjaga warisan budaya secara turun-temurun. Tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.

Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kutorojo adalah nyadran. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan membersihkan makam para leluhur, berziarah, dan memanjatkan doa bersama. Bagi sebagian masyarakat, nyadran merupakan bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah mendahului, sekaligus sebagai pengingat bahwa setiap manusia memiliki keterikatan dengan sejarah dan asal-usul keluarganya. Selain memiliki nilai religius, nyadran juga mengandung nilai sosial yang sangat kuat. Melalui kegiatan ini, masyarakat berkumpul, saling berinteraksi, dan bekerja sama dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan acara. Kebersamaan yang tercipta dalam tradisi nyadran menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat gotong royong yang masih terjaga di Desa Kutorojo.

Baca Juga: Tradisi Nyadran Laut Masyarakat Wonokerto di era Modern dalam Pandangan Moderasi Beragama

Tradisi lain yang tidak kalah penting adalah sedekah bumi. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen, rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang diberikan kepada warga desa. Sedekah bumi biasanya dilakukan dengan doa bersama dan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Menurut saya, sedekah bumi memiliki makna yang sangat mendalam karena mengajarkan masyarakat untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diperoleh. Di era sekarang, ketika banyak orang lebih fokus pada pencapaian material, tradisi sedekah bumi menjadi pengingat bahwa keberhasilan dan kesejahteraan juga harus disertai dengan rasa syukur serta kepedulian terhadap sesama.

Selain nyadran dan sedekah bumi, masyarakat Desa Kutorojo juga masih melestarikan tradisi ancaan. Tradisi ini biasanya dilakukan dalam rangka doa bersama atau sebagai ungkapan rasa syukur atas suatu peristiwa tertentu. Dalam pelaksanaannya, warga membawa makanan yang kemudian dinikmati bersama setelah kegiatan doa selesai. Meskipun terlihat sederhana, ancaan memiliki nilai sosial yang sangat besar karena mampu mempererat hubungan antarwarga. Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan, kesederhanaan, dan sikap saling berbagi yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan. Melalui ancaan, masyarakat diajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kemewahan, tetapi juga dapat ditemukan dalam kebersamaan dan rasa kekeluargaan.

Baca Juga: Merawat Tradisi Kuda Renggong dalam Penguatan Budaya Lokal di Sumedang

Keberadaan ketiga tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kutorojo masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur. Meskipun demikian, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga agar tradisi tersebut tetap lestari di tengah perubahan zaman. Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pelestarian budaya. Jika generasi muda tidak lagi mengenal dan memahami makna dari tradisi yang ada, bukan tidak mungkin tradisi tersebut akan perlahan menghilang. Oleh karena itu, keterlibatan pemuda dalam setiap kegiatan adat perlu terus didorong agar mereka dapat menjadi penerus yang menjaga keberlangsungan budaya desa. Sebagai mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutorojo, saya melihat bahwa tradisi nyadran, sedekah bumi, dan ancaan bukan sekadar kegiatan seremonial yang dilakukan setiap tahun. Lebih dari itu, tradisi tersebut merupakan media untuk mempererat persaudaraan, memperkuat nilai gotong royong, serta menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial penting bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa pelestarian tradisi nyadran, sedekah bumi, dan ancaan harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda perlu bekerja sama untuk menjaga dan memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat luas. Dengan demikian, Desa Kutorojo tidak hanya mampu mempertahankan warisan budayanya, tetapi juga dapat menjadikan tradisi tersebut sebagai identitas dan kebanggaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Mahasiswa KKN 64 UIN Gus Dur Pekalongan Manfaatkan Pipa Sebagai Reflektor Jalan

Penulis: Retno Alfianti, Editor: Muslimah

Mahasiswa  Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 3 dari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan melaksanakan kegiatan pemasangan reflektor jalan di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga saat melintasi jalan antar-dusun, khususnya pada malam hari.

Reflektor ini dibuat sederhana namun cukup efektif. Dengan menggunakan Pipa paralon berdiameter 2 inci, pipa tersebut dipotong, ditanam ke tanah kemudian dicor dengan semen supaya kokoh. Setelah kering, bagian atas pipa ditempeli stiker reflektif yang memantulkan cahaya ketika terkena sorotan lampu kendaraan, sehingga memberi tanda visual bagi pengguna jalan yang melintasi jalur minim penerangan.

Baca juga:KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Pemasangan reflektor difokuskan pada jalan penghubung antar-dusun yang minim penerangan, tepatnya di jalan penghubung Dusun Jatirejo dengan Dusun Bangunadi. Kedua dusun tersebut memiliki jalur yang minim penerangan serta jalanan yang masih dikelilingi kebun. Sehingga, adanya reflektor ini sangat dibutuhkan sebagai penanda jalan sekaligus alat bantu visual bagi pengguna jalan pada malam hari.

Pemasangan reflektor ini dilakukan secara bertahap dikarenakan kendala cuaca, mulai pada tanggal 24 Mei pemasangan tiang kemudian dilanjutkan kembali pada tanggal 28 Mei guna pemasangan stiker reflektor. Kegiatan tersebut dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh anggota KKN kelompok 3, dengan saling membantu dalam proses pengangkutan, penentuan titik, penggalian lubang serta pemasangan stiker. Kebersamaan dalam kegiatan ini memperkuat solidaritas antar anggota, sekaligus mempererat hubungan dengan warga desa yang turut mendukung dan membantu di lapangan.

Program ini menuai pujian dari Kepala Desa Pododadi Bapak Achwan Samiaji, menyampaikan ucapan terima kasih serta harapannya agar reflektor jalan ini memberi manfaat langsung bagi keselamatan masyarakat setempat.

“Memang kondisi jalan tersebut turunan curam, begitupun kondisi sekitar yang masih kebun semu serta minim penerangan. Adanya program ini, kami berterima kasih karena sangat membantu guna keselamatan masyarakat” ujar Achwan Samiaji.

Program sederhana ini menjadi contoh nyata bahwa kepedulian terhadap keselamatan berlalu lintas bisa dimulai dari skala lokal dengan biaya yang minim, namun berdampak luas. Kehadiran reflektor buatan mahasiswa kini menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan penerangan jalan desa.

Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Penulis: Kamaludin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang sarat akan makna dan nilai kebersamaan adalah Larung Sesaji, yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir, termasuk di Banyuwangi. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan bagi berbagai elemen warga. Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan Larung Sesaji ini dapat dilihat dari teori sosiologi masyarakat.

Masyarakat adalah suatu sistem hubungan antara manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, serta memiliki kebudayaan, norma, dan nilai-nilai yang sama (KBBI). Karakteristik masyarakat dicirikan oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang mereka anut bersama. Namun, hal yang luar biasa adalah setiap masyarakat memiliki nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak ada dua masyarakat yang persis sama. Peristiwa ini menggambarkan bahwa sifat moderat sangat diterapkan oleh masyarakat Banyuwangi, yang saling bergotong royong dan tidak membedakan satu sama lain, khususnya terkait kepercayaan yang dianut.

Apa itu kegiatan Larung Sesaji dan apa saja isi dari acara tersebut sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan bermoderasi beragama?

Baca juga : Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Larung Sesaji merupakan kegiatan bermoderasi beragama. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang agama dan kepercayaan masing-masing. Larung Sesaji adalah sebuah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia, yang pada praktiknya mungkin memiliki sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai permohonan keselamatan dan kemakmuran. Hal ini sangat mencerminkan moderasi beragama karena pelaksanaannya tidak memandang latar belakang agama masyarakat.

Rangkaian kegiatan Larung Sesaji terdiri atas beberapa tahapan. Pertama adalah persiapan, di mana masyarakat menyiapkan sesajen berupa berbagai jenis makanan, buah-buahan, dan bunga. Kedua, dilakukan prosesi larung dengan membawa sesajen tersebut ke pantai atau laut. Ketiga, masyarakat memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Tahap terakhir adalah pelepasan sesajen ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.

Baca juga : Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

  1. Makna moderasi beragama yang bisa diambil dari tradisi Larung Sesaji ini sangat beragam. Pertama, sebagai wujud menghormati Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada-Nya selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Kedua, tradisi ini mengajarkan untuk menghargai keberagaman. Pelaksanaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan mampu memupuk rasa toleransi. Ketiga, kegiatan ini mengembangkan kesadaran sosial tentang pentingnya menghargai lingkungan dan alam. Keempat, Larung Sesaji mampu mengintegrasikan unsur agama dan budaya sehingga tercipta harmoni dan keselarasan. Pada akhirnya, tradisi ini terus menumbuhkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap Sang Pencipta beserta lingkungan sekitarnya.

 

Ketika Spiritualitas Tak Perlu Dipamerkan: Belajar Esensi Waisak dari Aliran Theravada

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Nehayatul Najwa

Saat ini, pemisahan antara yang suci dan yang biasa tampaknya semakin kabur. Di zaman di mana keberadaan diukur berdasarkan jumlah tayangan dan suka di layar gadget, perayaan spiritual sering kali terlihat di platform media sosial. Terlihat megah dari luar, tetapi minim makna di dalam. Spiritualitas yang sebenarnya adalah perjalanan mendalam ke dalam diri, perlahan berubah menjadi barang yang dipamerkan. Fenomena “pamer spiritual” ini kadang membuat kita kehilangan inti dari ibadah itu sendiri. Ibadah tidak lagi menjadi waktu untuk merenung, tetapi lebih menjadi panggung untuk menunjukkan diri.

Namun, hingar-bingar dunia tersebut seolah pudar dan kehilangan kekuatannya saat memasuki Vihara yang mengikuti aliran Theravada untuk merayakan Hari Raya Waisak. Di tempat itu, tidak terdapat keindahan yang mencolok atau hiasan yang berlebihan. Yang terasa di sana adalah kesederhanaan yang mendalam. Aroma dupa yang lembut, suara bacaan Paritta dalam bahasa Pali yang terdengar berirama, serta jubah oranye Bhikkhu yang sederhana, secara langsung menyadarkan kita: beginilah seharusnya makna dari perayaan spiritual itu terwujud.

Waisak, yang mengingatkan tiga peristiwa penting dalam hidup Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan kematian-Nya (Parinibbana), bukanlah perayaan atas kemenangan material. Hari suci ini mengingatkan kita akan inti dari ajaran Buddhisme: sebuah jalan menuju kesadaran sejati. Buddha tidak mengajarkan pengikut-Nya untuk mencari pengakuan dari dunia, tetapi untuk melepaskan ego dan keterikatan yang ada dalam diri manusia.

Esensi dari seluruh perjalanan spiritual ini dijelaskan secara jelas dalam Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani), yang merupakan dasar filosofis yang diterapkan oleh Sang Buddha.

  • Pertama, hidup ini tidak terlepas dari penderitaan (dukkha). Segala hal yang tidak kekal, termasuk kesenangan semu yang kita kejar di media sosial, pada akhirnya akan membawa kekecewaan.
  • Kedua, penderitaan itu memiliki akar, yaitu nafsu keinginan (tanha) dan ketidaktahuan (avijja). Keinginan untuk selalu terlihat suci, hebat, dan dipuji oleh orang lain adalah wujud nyata dari nafsu yang mengikat kita pada lingkaran penderitaan.
  • Ketiga, penderitaan itu bisa diakhiri, yakni dengan mencapai kedamaian tertinggi atau Nirwana.
  • Keempat, ada jalan konkret untuk mengakhiri penderitaan tersebut, yang termanifestasi dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Salah satu Vihara di Kota Pekalongan ini, menganut aliran Theravada atau yang dikenal sebagai Vihara Bodhi Dharma. Sebagai aliran tertua yang masih bertahan, Theravada secara ketat memelihara dan mempertahankan ajaran murni para sesepuh (Thera). Fokus utama yang diusung sangat bersifat pribadi dan disiplin: pencapaian kebebasan individu untuk menjadi seorang Arahat, individu yang telah berhasil membersihkan semua kotoran batinnya melalui usaha yang sungguh-sungguh dan praktik meditasi yang mendalam.

Inilah tepatnya relevansi yang tajam dari aliran Theravada dalam konteks kehidupan modern saat ini. Di tengah kehidupan yang cepat, gaduh, dan penuh kepalsuan, Theravada menjadi sumber “ketenangan yang menyembuhkan”. Karakteristiknya yang menekankan penggalian batin, bukan sekadar ritual megah, menjadi kontras yang jelas dengan gaya hidup modern yang cenderung dangkal.

Dalam keheningan ritual Waisak dari Theravada, kita belajar untuk kembali mengasah kejujuran kepada diri sendiri. Ketika jemaah duduk bersila dalam meditasi tenang menjelang momen Waisak, tidak ada kamera yang perlu dihidupkan, tidak ada pengaturan estetik yang harus dilakukan demi pengakuan publik. Yang ada hanyalah percakapan tenang antara individu dengan dirinya sendiri, memperhatikan napas, serta menyadari sifat sementara dari kehidupan.

Pada akhirnya, pelaksanaan Waisak di Vihara Bodhi Dharma memberikan sebuah refleksi emosional yang mendalam. Spiritualitas yang sejati tidak memerlukan panggung, tidak butuh pengakuan, dan sama sekali tidak perlu dipamerkan. Sebab, pada saat kita memamerkan kesalehan kita kepada orang lain, di situlah ego kita tumbuh, dan inti kesucian itu sendiri justru hilang. Dari ketenangan jemaah Theravada, kita memahami bahwa untuk mendengar suara kebijaksanaan yang sebenarnya, kita sering kali harus berani memasuki kesunyian dan melepaskan semua topeng kehidupan duniawi kita.

Ketika Pajak Tempat Dugem Ikut Jadi Sapi Kurban

Penulis: Ibnu Salim, Editor: Muslimah

Idul Adha tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, ada fenomena yang lumayan bikin garuk-garuk kepala. Presiden Prabowo membagikan 1.098 ekor sapi kurban yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai sekitar Rp 100 miliar. Pemerintah menyebut anggaran itu diambil dari pos Bantuan Kemasyarakatan Presiden (Banmaspres).

Baca juga: Pesan Moderasi Beragama dalam Ibadah Kurban: Ketaatan, Solidaritas, dan Toleransi

Nah, masalahnya bukan di sapinya. Apalagi di dagingnya. Yang bikin banyak orang bertanya-tanya justru narasinya. Sebab APBN itu bukan rekening pribadi presiden. APBN adalah duit rakyat yang dikumpulkan dari berbagai macam sumber pajak. Mulai dari restoran, hotel, pusat hiburan, tempat karaoke, tempat dugem, penjualan minuman beralkohol, sampai setoran warga negara dari berbagai agama dan keyakinan.

Dalam Islam memang ada konsep baitul mal, yaitu kas negara yang digunakan untuk kemaslahatan rakyat. Bahkan Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

Artinya, negara memang punya hak mengelola uang publik untuk kepentingan masyarakat. Tapi persoalannya jadi beda ketika program negara dibungkus seolah-olah menjadi kemurahan hati seorang tokoh politik. Di sinilah kritik mulai masuk akal.

Indonesia juga bukan negara yang isinya umat Islam doang. Data Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) 2024 menunjukkan sekitar 87,08% penduduk beragama Islam, 7,40% Kristen, 3,07% Katolik, 1,68% Hindu, 0,71% Buddha, 0,03% Konghucu, dan 0,03% penghayat kepercayaan.

Makanya muncul pertanyaan yang wajar: apakah semua pembayar pajak benar-benar ikhlas kalau uang yang mereka setor dipakai untuk ritual agama tertentu?

Misalnya umat Hindu yang memuliakan sapi. Mereka mungkin nggak akan demo sambil bawa toa. Tapi bukan berarti pertanyaannya hilang. Jangan-jangan mereka cuma bisa nyengir sambil bilang, “Ya udahlah, kami mah kebagian job jadi sponsor. Bayar iya, disebut enggak.”

Di titik ini, teori Moderasi Beragama dari Nasaruddin Umar jadi menarik buat dipakai membaca fenomena ini. Moderasi beragama bukan cuma soal hidup rukun dan saling senyum pas hari raya. Moderasi beragama juga bicara soal keadilan, keseimbangan, dan kemampuan negara menjaga jarak yang sama terhadap semua pemeluk agama.

Dalam pandangan Nasaruddin Umar, ada empat pilar utama moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Dari sini kita bisa melihat bahwa toleransi bukan cuma tugas warga negara, tapi juga tugas negara.

Negara yang moderat bukan sekadar membiarkan semua orang beribadah. Negara juga harus memastikan kebijakannya nggak menimbulkan kesan bahwa ada agama yang dapat fasilitas VIP sementara yang lain cukup duduk di bangku reguler.

Karena itu, ketika dana APBN yang berasal dari seluruh rakyat digunakan untuk pengadaan hewan kurban lalu dilekatkan pada identitas seorang presiden, pertanyaannya bukan lagi soal boleh atau tidak boleh. Pertanyaannya bergeser menjadi: apakah negara sedang memfasilitasi kehidupan beragama, atau justru terlihat ikut menjadi panitia salah satu agama?

Kalau logika ini dianggap wajar, maka secara teori agama-agama lain juga punya hak yang sama untuk memperoleh dukungan negara terhadap ritual keagamaannya. Kalau tidak, maka prinsip keadilan yang menjadi ruh moderasi beragama terasa agak pincang.

Lalu bagaimana status daging kurbannya? Apakah halal?

Mayoritas ulama akan menjawab halal. Selama sapi diperoleh secara sah, bukan hasil curian atau perampasan, dan proses penyembelihannya sesuai syariat, maka dagingnya halal untuk dimakan. Bahkan ada yang mengqiyaskan APBN sebagai bentuk baitul mal modern yang boleh digunakan untuk kemaslahatan umat.

Tapi halal secara fikih belum tentu menyelesaikan semua pertanyaan. Sebab polemik ini bukan berhenti di urusan perut yang makan daging. Yang dipersoalkan adalah etika penggunaan uang publik dalam masyarakat yang majemuk.

Karena pada akhirnya, yang sedang diperdebatkan bukan soal sapi. Bukan juga soal daging. Melainkan soal bagaimana negara memperlakukan keberagaman.

Jangan sampai toleransi cuma jadi teori belaka, sementara dalam praktiknya yang diminta mengalah terus-menerus justru mereka yang jumlahnya lebih sedikit. Sebab ukuran keberhasilan moderasi beragama bukan seberapa nyaman mayoritas menjalankan agamanya, melainkan seberapa dihargai minoritas ketika mayoritas sedang merayakan agamanya.

Menanam Masa Depan di Sela Akar Bakau: Karena Manusia dengan Edukasi Jauh Lebih Bermakna

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Dwi Selma Fitriani

Di tengah gempuran modernitas dan kecemasan global terhadap krisis lingkungan, sekolah formal sering kali kebingungan untuk mengajarkan siswa-siswi tentang pelestarian lingkungan. Mereka sekadar menghafal definisi “pelestarian” dari teori yang diajarkan, bukan dari peran aktif siswa. Di sisi lain, dunia pariwisata menjadi tujuan utama para konten kreator media sosial yang terkadang meninggalkan jejak kerusakan pada alam itu sendiri. Di titik jenuh inilah, gagasan mengenai ekowisata atau wisata berbasis edukasi hadir bukan lagi sebagai alternatif, melainkan sebagai sebuah kebutuhan baru.

Salah satu manifestasi nyata dari kesadaran ini lahir di pesisir melalui kehadiran Sekolah Mangrove di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Berawal dari sekadar sarasehan dan ruang kumpul swadaya kelompok tani, ruang ini bertransformasi menjadi ekowisata minat khusus yang secara spesifik berfokus pada rehabilitasi lingkungan. Tempat ini bukan sekadar destinasi untuk berswafoto di atas jembatan kayu, melainkan laboratorium hidup tempat anak-anak usia dini, siswa sekolah dasar, hingga mahasiswa belajar mengenai ekosistem pesisir.

Menanamkan kepedulian lingkungan jauh lebih baik jika dimulai sejak usia dini. Kehadiran Sekolah Mangrove telah terbukti melampaui batas wisata konvensional dengan menjadi ruang internalisasi nilai-nilai konservasi. Esensi dari gerakan ini bukanlah seberapa banyak pohon bakau yang berhasil ditanam di lokasi wisata, melainkan seberapa dalam nilai-nilai tersebut terbawa pulang oleh anak-anak ke rumah dan sekolah mereka masing-masing. Tempat wisata hanyalah hamparan benda mati jika tanpa sentuhan pengetahuan; karena manusia dengan edukasi akan jauh lebih bermakna.

Sekolah Mangrove di Desa Mulyorejo awalnya hanya berupa kegiatan sarasehan atau berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar mengenai pelestarian lingkungan. Keberadaannya kini berperan penting dalam tumbuh kembang anak-anak. Berinteraksi langsung dengan alam, seperti menanam bakau dan mengamati ekosistem secara langsung, memberikan dampak psikologis yang jauh lebih kuat dan membekas pada anak-anak dibandingkan sekadar membaca buku teks.

Dalam sudut pandang Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, umat ditegaskan untuk senantiasa menjaga lingkungan demi kemaslahatan di bumi. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun Muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya” (HR Bukhari).

Dengan demikian, mangrove memiliki peranan krusial dalam melindungi pantai dari erosi, menyerap gas karbon, dan menyediakan tempat tinggal bagi kehidupan laut. Mangrove juga berkontribusi pada perekonomian masyarakat pesisir serta menjaga kebersihan air laut. Selain itu, Sekolah Mangrove memperkenalkan jenis-jenis mangrove yang biasa dibudidayakan, di antaranya yaitu Rhizophora (bakau), Avicennia (api-api), Sonneratia (pedada/bogem), dan Bruguiera (lindur/tanjang). Keempat jenis mangrove ini sukses mendorong rasa penasaran pengunjung, terutama anak-anak.

Pengajaran di Sekolah Mangrove telah membawa manfaat baik bagi pengunjung. Adanya edukasi tentang pelestarian lingkungan dan praktik langsung menanam dengan benar diharapkan dapat menjadi kebiasaan di sekolah atau di rumah masing-masing. Sekolah Mangrove juga memberikan pengalaman berharga tentang bagaimana masa depan bumi seharusnya dirawat. Tempat ini membuktikan bahwa investasi terbaik dalam isu konservasi lingkungan bukanlah teknologi yang mahal, melainkan pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia mengemban tugas sebagai khalifah (pemimpin dan pemelihara) di bumi. Oleh karena itu, kita harus kembali meyakini prinsip mendasar yang lahir dari ketulusan akar rumput ini: bahwa bentang alam seluas apa pun akan menjadi sia-sia jika manusia yang berpijak di atasnya abai, karena hanya manusia dengan edukasi yang akan membuat semesta ini jauh lebih bermakna.

Vihara Bodhi Dharma Maknai Waisak dengan Ketenangan Jiwa dan Perdamaian Semua Makhluk

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah

Pekalongan – Minggu (31/5), Vihara Bodhi Darma gelar Hari Raya Tri Suci Waisak 2570/2026 dengan penuh suka cita. Perayaan yang berlangsung dengan khidmat ini, menjadi pemantik bagi umat Buddha dalam menjaga kedamaian batin di tengah hiruk pikuk dan tantangan dunia.

Ibadah berpusat di Dhammasala Vihara, umat Buddha diajak untuk bermeditasi dengan merenungkan diri sebagai penggambaran empat ajaran Buddha—cinta kasih, keseimbangan, kegembiraan, dan welas asih—yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan perdamaian semua makhluk.

Vihara Bodhi Dharma sendiri termasuk dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia. Dalam prosesi ibadah di hari—H Waisak yang dihadiri sekitar 70 jemaat ini, menjadi ibadah utama dari detik-detik Waisak sampai pembacaan Paritta, meditasi, serta ceramah dari Bhikkhu, dan diakhiri dengan doa bersama sembari pemercikan air paritta oleh Bhikkhu. Prosesi terakhir yaitu para umat melakukan tali asih kepada Bhikkhu dengan tertib dan khidmat.

Baca juga: Potret Keharmonisan Agama di Indonesia : Surabaya Suguhkan 6 Tempat Ibadah yang Berdampingan

Dalam ajaran Buddha khususnya Theravada sendiri di Vihara Bodhi Dharma, para umat ditekankan mengenai hati yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Dalam Buddha hal tersebut menjadi kunci utama dalam kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh Bambang, selaku pengurus vihara setempat.

“Dari agama Buddha sendiri, yang ditekankan adalah pikiran yang bersih, ucapan yang benar, dan perbuatan yang baik. Yang bisa menyelamatkan kita hanya itu, sebab orang yang masih terkungkung hanya tentang duniawi, berarti mereka masih dalam taraf belajar,” Jelasnya.

Dalam melihat keadaan zaman sekarang, penekanan ajaran para Buddha sangat ditekankan di Vihara Bodhi Dharma. Seperti fokus peribadatan yaitu pada penyucian diri dari segala yang kotor dalam diri tiap umat.

“Buddha selalu mengajarkan untuk tidak melihat ke luar, tapi melihat ke dalam. Melihat ke diri sendiri. Hal yang tidak baik perlu dikikis, agar terhindar dari karma buruk,” Ujar Daisy, selaku panitia altar vihara.

Hal tersebut juga sejalan dengan ajaran Buddha yang selalu mengajarkan akan pentingnya menyebar kebaikan. Seperti acara sebelumnya, di pagi hari yaitu Fangseng—melepaskan hewan seperti ikan sebagai lambang pembebasan makhluk hidup dari ancaman.

Dalam prosesi ibadah Waisak, ketenangan menjadi kunci utama dalam khidmat berlangsungnya acara. Dalam sesi wawancara Daisy menjelaskan keramaian anak-anak menjadi kendala saat ini dalam kegiatan. Hal tersebut dikarenakan jemaat dewasa serta anak-anak tidak dipisah menjadi faktor sulitnya untuk membangun ketenangan. Daisy juga menambahkan, harapannya Waisak tiap tahunnya mampu memberikan kebaikan, kesejahteraan, serta kedamaian bagi semua makhluk. Serta mampu menambah antusiasme para umat untuk merayakan Waisak.

Menjaga Bumi sebagai Amanah: Mulyorejo Festival 2026 Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir

Penulis : Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui slogan dan kampanye. Kesadaran tersebut yang sedang dibangun melalui Mulyorejo Festival 2026 di Desa Mulyorejo, Jumat (29/05). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan untuk merespons berbagai persoalan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir.

Baca juga: Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam

Muhammad Abdul Razak, selaku Marketing dan Admin Media Sosial Mangrove Mulyoasri, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan yang berkembang di sekitar desa. Menurutnya, pemerintah desa ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghijauan di wilayah tempat tinggal mereka.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, baik menjaga kebersihan maupun melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan dimulai pada pagi hari, dengan kerja bakti yang melibatkan warga Desa Mulyorejo. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup yang mereka tempati. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir dan malam hari seremonial dengan menyuguhkan live music dan sharing session.

Penanaman mangrove diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lingkungan, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan seperti UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Pekalongan, dan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tercatat sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan melalui pendaftaran resmi, ditambah sekitar 37 peserta dari kalangan pelajar madrasah tsanawiyah. Adapun materi edukasi lingkungan disampaikan oleh Ki Suryo Joko Carito, SP. dari Pemalang.

Di balik kegiatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar yang sedang dihadapi masyarakat pesisir, yakni abrasi dan penurunan muka tanah yang terus mengancam kawasan pantai utara. Razak menilai bahwa penanaman mangrove menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Di daerah pesisir, peningkatan abrasi sangat luar biasa. Dengan adanya penghijauan dan menjaga lingkungan, diharapkan dapat meminimalisir penurunan tanah serta memperlambat laju abrasi di kawasan pesisir utara,” katanya.

Semangat yang dibawa dalam Mulyorejo Festival juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah atau penjaga bumi. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut sering kali merupakan akibat dari tindakan manusia sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Meski, keberhasilan festival ini tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau bibit mangrove yang ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kesadaran tersebut terus hidup setelah acara berakhir. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah apakah kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi budaya sehari-hari masyarakat, atau justru berhenti sebagai agenda tahunan semata. Dengan demikian, Mulyorejo Festival tidak hanya menjadi perayaan lingkungan, tetapi juga momentum refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga alam untuk generasi yang akan datang.