Membersamai Si Kecil dengan Keteladanan di Era Digital

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Muslimah

Rutinitas orang tua seperti bekerja, mengejar target untuk karir dan ekonomi keluarga, serta menyelesaikan kewajiban, terkadang membuat sebagian orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, tanpa disadari ada sosok-sosok kecil yang setiap hari memperhatikan, meniru, dan memahami perilaku yang terkadang tidak diberitahu apakah itu baik atau buruk. Sedangkan orang tua dalam hal ini memiliki peran besar dalam mengarahkan si Kecil yang kelak akan tumbuh menjadi khalifah di bumi.

Baca juga: Kode Etik vs Kode Program: Menjembatani Prinsip Al-Qur’an dan Dilema Kecerdasan Buatan

Situasi lain yang juga terkadang dijumpai bahwa orang tua hanya terlalu fokus pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis, seperti ranking kelas, sertifikat lomba, atau seberapa cepat mereka bisa mengoperasikan gadget. Sedangkan aspek yang terkadang dilupakan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mendidik anak-anak di sekitarnya untuk cerdas, tetapi juga lembut hati, jujur, dan penuh kasih. Beliau mencontohkan pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sederhana saja, seperti menurunkan badan ketika berbicara dengan anak kecil, memanggil dengan panggilan yang baik sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak, bahkan mengajarkan doa-doa yang sederhana namun penuh makna. Sehingga perlu menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan sejati bukan hanya untuk mencetak “anak pintar”, tetapi “anak beradab”.

Terlebih di era digital, anak-anak lebih mudah menemukan tokoh panutan melalui layar ketimbang dalam kehidupan nyata. Mereka meniru apa yang viral, bukan apa yang benar. Padahal dalam Islam, keteladanan hidup (uswah) lebih kuat dari sekadar nasihat panjang. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua, karena banyak penelitian membuktikan bahwa wujud teknologi di era digital yang salah satunya adalah gadget, dapat memberikan dampak negatif jika tanpa pengawasan dari orang tua dan apabila hanya dimanfaatkan untuk hiburan semata. Penelitian terbaru di sebuah desa menunjukkan bahwa 41,2% penggunaan gadget dapat mempengaruhi etika anak dalam berkomunikasi dengan orang tua dan teman. Melihat fenomena ini, orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas yang menuntut kesempurnaan, tetapi sebagai pelindung dan penuntun yang hadir secara utuh. Sebab, anak akan belajar tentang kasih sayang dan etika melalui komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungannya. Mereka juga akan belajar tentang amanah melalui kejujuran yang diajarkan oleh orang tuanya, bahkan mereka juga belajar tentang Allah melalui cara orang tuanya dalam beribadah dan bersyukur, bukan hanya melalui perintah lisan.

Langkah-langkah demikian dapat menjadi upaya untuk meninjau ulang lingkungan tumbuh anak-anak yang orang tua bangun di keluarganya. Karena ironi yang seringkali nampak adalah, banyak dari orang tua ingin anaknya saleh dan memiliki adab, tapi terkadang mereka melihat orang tuanya mencaci orang lain di jalan, atau melihat temannya berkata kotor di sekolah. Selain itu, ketika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, namun anak-anaknya jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan sekadar instruksi, tetapi ia adalah cermin yang akan membentuk karakter anak-anak. Jika orang tua memahami ini, maka mereka bukan hanya akan membentuk anaknya menjadi versi ideal menurut standar dunia, tetapi pasti akan membersamai anaknya untuk tumbuh menjadi insan yang mengenal Tuhannya dan memiliki akhlak yang mulia. Karena ketika anak-anak dapat tumbuh menjadi khalifah yang cerdas dan beradab, bukan hanya keluarga yang bangga, tetapi bumi pun akan bernafas lebih lega.

 

Ibu: Pejuang Tanpa Pedang, Pahlawan Tanpa Panggung

Penulis: Intan Diana Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Jika ada pertanyaan tentang siapa makhluk paling kuat di dunia ini, jawabannya bukanlah pahlawan super dalam komik, bukan atlet beladiri, bukan pula mereka yang sanggup bekerja siang malam tanpa lelah. Makhluk paling kuat itu adalah… Ibu.

Terkadang, Allah memberikan bukti nyata akan kekuatan itu, bukti yang membuat kita merinding, merenung, hingga menangis penuh syukur. Salah satunya tecermin dalam kisah perjuangan seorang ibu yang nyawanya benar-benar dipertaruhkan saat melahirkan. Sebuah kondisi langka membuatnya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Ia harus menempuh perjalanan medis yang panjang: operasi besar, peralatan canggih yang menopang tubuh, koma, hingga akhirnya harus merelakan sebagian tubuhnya diamputasi.

Namun, tahukah apa yang membuat situasi pelik itu tetap terasa hangat? Cinta seorang ibu yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya terbaring lemah tak berdaya.

Cinta yang Tak Pernah Takut Terluka

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa proses melahirkan bukan sekadar momen “bayi lahir lalu semua bahagia”. Di balik tangisan pertama bayi, ada rasa sakit luar biasa yang sering digambarkan setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan. Ada ketegangan yang memuncak, ada doa yang dipanjatkan sembari menahan perih, dan ada keberanian yang mungkin tak sanggup ditanggung oleh lelaki terkuat sekalipun.

Dalam kisah nyata ini, sang ibu memasuki ruang bersalin dengan harapan sederhana: melahirkan anak ketiganya dengan selamat. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya mendadak menurun drastis (drop), napas melemah, dan jantung nyaris berhenti berdetak. Dalam hitungan menit, seluruh tim medis harus bergerak cepat demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Alhamdulillah, bayinya selamat. Namun, sang ibu harus berjuang melawan badai komplikasi yang sangat langka. Setelah melewati masa kritis pascaoperasi, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan salah satu kakinya. Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan kerasnya skenario perjuangan hidup yang Allah bentangkan untuknya.

Luka itu menyakitkan, tentu saja. Namun, justru dari luka-luka itulah kekuatan seorang ibu memancar. Ia tetap ingin hidup. Ia tetap ingin bangkit. Ia tetap ingin memeluk anaknya.

Islam dan Kemuliaan Seorang Ibu

Jika kita menelaah Al-Qur’an, Allah seakan tak pernah bosan mengangkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bahkan ketika Allah melukiskan perjuangan ibu, kata yang digunakan bukanlah kata-kata manis, melainkan kata yang jujur, keras, dan mendalam:

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqmān: 14)

Bayangkan, Allah menegaskan bahwa ibu adalah pejuang. Bukan sekadar lemah, tetapi “lemah yang bertambah-tambah”. Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap maju. Tetap menggendong harapan.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Siapa orang yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.” “Lalu siapa?” “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Tiga kali. Bukan sekali. Seolah Rasulullah ingin memastikan: “Wahai manusia, jangan main-main dengan kemuliaan seorang ibu.”

Melihat kisah nyata ini, kita menjadi makin paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita. Perjuangan mereka bukan sekadar teori. Nyata. Berdarah-darah. Ada air mata, ada taruhan nyawa, dan ada cinta tulus yang tak pernah menuntut balas.

Ketika Pengorbanan Mengubah Cara Kita Memandang Ibu

Hal yang paling menyentuh dari kisah ini adalah bagaimana “lingkaran cinta” Allah bekerja. Mulai dari dokter yang sigap, keluarga yang menangis dalam doa, teman-teman yang setia menjaga, hingga orang-orang yang membantu tanpa diminta. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.

Dan sang ibu sendiri… meski kehilangan satu bagian tubuhnya, ia tidak kehilangan harapan. Ia belajar berdiri lagi. Belajar berjalan lagi. Semangatnya tumbuh bak cahaya kecil yang kian lama kian terang.

Dalam Islam, ada satu janji Allah yang sering kita dengar:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji pasti. Ibu dalam kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memberikan ujian besar pada bahu yang meski terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kokoh.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Jangan pernah meremehkan pengorbanan ibu. Terkadang kita sibuk dan abai, merasa “Ah, Ibu kan kuat.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit apa yang telah ia lalui demi menghadirkan kita di dunia.

  2. Ujian hidup bukan akhir, melainkan awal babak baru. Kehilangan fisik mungkin memperlambat langkah kaki, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan langkah hati.

  3. Kasih ibu adalah bentuk cinta Allah di bumi. Itulah sebabnya rasanya selalu hangat, selalu sabar, dan selalu memaafkan.

Peluklah Ibu Selagi Bisa

Kita sering lupa bahwa setiap kali ada manusia lahir, ada seorang ibu yang bertarung nyawa demi membuka pintu dunia untuk anaknya. Kita hidup karena ia rela sakit. Kita tumbuh karena ia rela lelah. Maka, jika hari ini ibumu masih ada: Peluk dia. Cium tangannya. Ucapkan terima kasih.

Karena di balik setiap napas yang kita hirup hari ini, ada doa dan perjuangan seorang ibu yang mungkin tak terlihat mata, namun tak pernah berhenti mengalir sepanjang hidup kita.

Ibu: Kasih Sayang Tak Terbatas, Pengorbanan Tanpa Pamrih

Penulis: Bambang Sri Hartono*
Editor: Syam

Ibu adalah sosok luar biasa yang tak tergantikan dalam kehidupan setiap manusia. Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan istimewa—bahkan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Ia adalah perempuan tangguh yang dengan penuh cinta mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya tanpa pernah meminta imbalan apa pun.

Kasih sayang ibu sering digambarkan sebagai cinta yang paling tulus, tanpa syarat dan tanpa batas. Sejak dalam kandungan, ibu telah berbagi segalanya: dari makanan, tenaga, hingga rasa aman. Ia menahan rasa mual, kelelahan, bahkan nyeri yang tak terkira demi menjaga kehidupan yang sedang ia bawa dalam rahimnya.

Setelah anak lahir, ibu menjadi madrasah pertama. Dari lisan ibulah anak belajar kata pertama, dari pelukannya anak memahami rasa aman, dan dari teladannya anak mengenal nilai-nilai kehidupan. Semua ini dijalani dengan penuh keikhlasan, bahkan sering kali pengorbanannya luput dari perhatian.

Tak jarang, ibu rela terjaga malam demi menenangkan tangis bayi, menahan lapar demi anaknya makan lebih dulu, atau menunda keinginan pribadi demi kebutuhan keluarga. Gambaran ini tertuang indah dalam bait lagu klasik:
“Tak pernah kau minta apa-apa, hanya doa yang kau panjatkan…”
Begitu pula dalam syair Iwan Fals:
“Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu…”

Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah mengharukan dari Salamah Al-Farisi yang menggendong ibunya menempuh perjalanan panjang untuk menunaikan ibadah haji. Ia tidak mengeluh, tidak pula merasa terbebani. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, ini adalah bentuk rasa syukur dan bakti kepada ibunya yang telah menjaganya sejak kecil.

Sayangnya, kita sering menyadari betapa berharganya seorang ibu justru setelah kepergiannya. Padahal, membahagiakan ibu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: menyapanya melalui telepon, pulang menemuinya, atau sekadar mendengarkan ceritanya. Jangan tunggu sampai terlambat, karena kesempatan bisa hilang kapan saja.

Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan:
“Sehebat apa pun dirimu, jangan pernah lupa bahwa ada seorang perempuan yang melahirkanmu dengan perjuangan.”

Ibu adalah anugerah terbesar dalam hidup. Kasihnya tak terhingga, doanya selalu menyertai, dan harapannya sederhana: melihat anak-anaknya tumbuh dalam kebaikan. Sebagai anak, meski tak akan pernah sebanding, kita tetap punya tanggung jawab moral dan spiritual untuk berbakti, mendoakan, dan menyayanginya.

Terima kasih, Ibu. Aku tak akan pernah menjadi apa-apa tanpamu. Semoga Allah SWT senantiasa memberikanmu kesehatan, kebahagiaan, dan tempat terbaik di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*Dosen FEBI UIN Gus Dur Pekalongan

Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Anak

Penulis : Musyarofah Khoirunnisa, Editor : Amarul Hakim

Istilah “gadget” mengacu pada perangkat elektronik portabel atau perangkat elektronik kecil dengan fungsi khusus. Gadget biasanya berukuran kecil, portabel, dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk produktivitas, komunikasi, hiburan, dan akses informasi. Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah negara Cina, India, dan Amerika. Penggunaan gadget tidak hanya dinikmati oleh orang dewasa saja, tetapi anak-anak. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2022-2023, pengguna internet mencapai 215,63 juta pengguna, sedangkan jumlah penduduk Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik hingga pertengahan 2023 adalah 278,93 juta jiwa. Hal ini berarti sekitar 77% masyarakat Indonesia telah menggunakan internet. Dengan adanya internet, penyebaran informasi dan pendidikan ilmu pengetahuan lebih mudah dilakukan dan dapat menjangkau sasaran yang lebih luas. Sayangnya, dibalik dampak-dampak baik tersebut, muncul pula dampak buruk internet jika penggunaan tidak dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurut penelitian, saat ini anak berusia 8-10 tahun rata-rata menghabiskan waktu hampir 8 jam sehari menggunakan gadget. Sementara anak-anak dan remaja lebih besar usianya menghabiskan sekitar 11 jam per hari dengan media. Pengenalan gadget pada anak- anak yang terlalu cepat dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Seorang anak tidak akan peduli pada lingkungannya jika mereka sering menggunakan perangkat elektronik secara berlebihan dan tidak sesuai. Sifat tidak peduli seseorang terhadap keadaan di sekitarnya dapat menyebabkan mereka jauh dari temannya atau bahkan terasing di lingkungan sekitar.

Dilansir dari orangtuahebat.id (25 September 2023), BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2022 secara total ada 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget. Dengan pengguna anak berusia 0-4 tahun sebanyak 25,5% dan usia 5-6 tahun sebanyak 52,76%. Sedangkan total anak yang telah mengakses internet adalah 24,96% dengan pengakses usia 0-4 tahun sebanyak 18,79% dan anak usia 5-6 sebanyak 39,97%. Contoh kasus dari dampak negatif penggunaan gadget terhadap perkembangan anak yang dapat disebutkan adalah seorang anak berusia sekitar 6 tahun yang dibawa kerumah sakit karena tidak bisa membuka matanya akibat nonstop bermain gadget (suarabekaci.id, 26 Februari 2022), dalam kasus tersebut anak itu meringis kesakitan diatas tempat tidur IGD dengan mata terpejam, anak tersebut bermain gadget setiap hari secara nonstop tanpa henti bahkan setiap bangun tidur anak tersebut langsung mencari hp. 

Baca juga : Melindungi Anak dari Jerat Kekerasan: Dampak Penganiayaan dan Upaya Pencegahannya

Adapun kasus lainnya yaitu pada bulan Februari 2021, siswa SMP kelas 1 di Subang meninggal dunia karena kecanduan game dan jumlah pasien anak yang kecanduan gadget di RS Jiwa Cisarua Bandung Barat meningkat (detik.com, Minggu, 21 Maret 2021). Raden Tri Sakti (12), siswa SMP kelas 1 asal Desa Alam Jaya, Subang meninggal dunia dengan diagnosa mengalami gangguan syaraf. Pihak keluarga menyebutkan bahwa anak itu kecanduan bermain game online. Raden sempat dirawat selama di RS Siloam. Dokter yang merawatnya mengatakan gangguan saraf yang dideritanya itu karena radiasi telepon seluler. Sementara itu berdasarkan catatan RSJ Cisarua, Jawa Barat. Pada bulan Januari hingga Februari 2021 ada 14 anak mengalami kecanduan gawai yang menjalani rawat jalan. Sementara tahun 2020 dari bulan Januari sampai Desember total ada 98 anak yang menjalani rawat jalan gara-gara kecanduan gawai. Spesialis Psikiater Anak dan remaja RSJ Cisarua Lina Budianti mengatakan anak paling muda yang pernah menjalani perawatan jalan karena kecanduan gawai yakni usia 7 tahun. Dari kedua kasus ini kita bisa melihat bahwa orang tua perlu memberi pengawasan agar anak tidak terkena potensi bahaya dari gadget. Tanpa pengawasan orang tua, gadget dapat memengaruhi perkembangan anak.

Ada pro dan kontra yang tak kunjung selesai mengenai gadget dan anak. Di satu sisi, orang tua tidak ingin ketinggalan dalam hal teknologi. Namun di sisi yang lain, ada banyak dampak negatif secara fisik dan mental untuk perkembangan anak. Oleh karena itu, penggunaan gadget pada anak harus diimbangi dengan aktivitas lainnya seperti bermain diluar ruangan dan juga bersosialisai dengan orang di sekitar. Orang tua juga harus mengatahui bahwa gadget memiliki pengaruh berbeda-beda terhadap anak, sehingga orang tua harus lebih selektif dalam memberikan gadget pada anak mereka. Dengan melakukan hal tersebut, orang tua dapat membantu anak dalam menghindari beberapa efek dari penggunaan gadget yang berlebihan. Dampak positif dari penggunaan gadget :

Baca juga : Pentingnya Memilih Pondok Pesantren: Banyak Orang Tua Takut Memasukan Anak di Pondok Pesantren

  1. Mengasah keterampilan motorik anak

Anak-anak memperoleh keterampilan motorik saat bermain game di tablet atau gadget lainnya, yang melibatkan gerakan jari tangan, pergelangan tangan, lidah, bibir, dan jari kaki. Ini merupakan latihan bermanfaat bagi pertumbuhan mereka tanpa risiko cedera seperti bermain di luar.

2. Instrumen atau kelengkapan sekolah

Guru-guru modern menggunakan teknologi untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan menciptakan pengalaman baru bagi siswa. Hal ini meliputi cara- cara untuk menjangkau siswa, memperluas konsep, dan memotivasi mereka.

3. Peningkatan Keterampilan Kognitif melalui Teknologi

Berbagai permainan dan program edukatif di perangkat elektronik membantu meningkatkan keterampilan kognitif anak-anak, seperti memproses informasi, mengingat, dan memecahkan masalah, melalui teka-teki, gambar, dan program edukatif.

Baca juga : Mengupas Dampak Kasus Bullying pada Kesehatan Mental Anak: Tantangan dan Solusi

4. Pengembangan Kemampuan Pemecahan Masalah

Penggunaan teknologi kadang memunculkan masalah yang mengharuskan anak-anak mencari solusi, membantu mereka belajar membuat keputusan dan memecahkan masalah dengan bijaksana, yang pada gilirannya menghasilkan prestasi yang signifikan.

Dampak negatif dari penggunaan gadget:

  1. Gangguan Konsentrasi akibat Gadget

Penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan bisa memicu gangguan konsentrasi, seperti ADHD, membuat anak sulit fokus dan mudah terganggu. Hal ini dapat mengganggu kinerja di sekolah atau lingkungan sekitar.

2. Masalah Interaksi Sosial

Anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial secara langsung, lebih suka berkomunikasi melalui pesan teks atau media sosial daripada berbicara langsung.

3. Gangguan dalam Proses Belajar

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu waktu belajar anak, mengakibatkan kurangnya waktu untuk belajar dan mempengaruhi hasil akademis mereka.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

4. Bullying dan Depresi

Anak-anak rentan terhadap cyberbullying dan risiko depresi akibat penggunaan gadget yang berlebihan dan akses mudah ke media sosial, memerlukan intervensi kesehatan mental yang tepat.

5. Peningkatan Risiko Obesitas

Anak-anak yang banyak bermain gadget cenderung kurang bergerak dan beraktivitas fisik, meningkatkan risiko obesitas pada mereka.

6. Keterlambatan Bicara

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan keterlambatan bicara pada anak-anak karena kurangnya interaksi sosial dan komunikasi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitar.

Sangat penting untuk mempertimbangkan dengan cermat dampak yang berbeda dari penggunaan gadget pada anak-anak. Alat ini memungkinkan pembelajaran interaktif, pengembangan fungsi adaptif, dan perkembangan motorik dan kognitif, tetapi juga dapat menghambat perkembangan bicara dan bahasa anak. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam mengawasi penggunaan perangkat oleh anak-anak mereka. Pemahaman bahwa perangkat elektronik adalah alat yang dapat digunakan dengan benar sangat penting di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital. Melakukan pemantauan, mengatur waktu layar, dan mengawasi konten yang sesuai dapat meningkatkan manfaat penggunaan perangkat sambil mengurangi hambatan dan dampak negatifnya.

Tren Crosshijaber di Media Sosial dalam Perspektif Agama Islam

Penulis: Rizqi Lutfiyani, Editor: Ryuu Pangestu

Busana merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang bahannya terbuat dari bahan-bahan tertentu untuk menutupi sekujur tubuh atau segala sesuatu dipakai, dari  bagian atas kepala hingga ujung kaki. Juga memberikan sebuah kenyamanan serta tampilkan keindahan bagi pemakai seperti pakaiann, aksesoris, atapun riasan wajah. Adapun fungsinya diantaranya ada bisa melingdungi dari berbagai macam cuaca, benda berbahaya, menutupi aurat sesuai ajaran gama atau budaya masing-masing, meningkatkan kepercayaan diri agar tampil lebih baik, dan utamanya membedakan identitas gender antara laki-laki maupun perempuan.

Ditambah seiringnya kemajuan pesat teknologi yang tak bisa dikendalikan, salah satunya media sosial. Saat ini apa saja untuk mencari sebuah informasi dan lain sebagainya sangatlah cepat dengan menggunakan ponsel kemudian bisa berselancar di dalamnya seluasa mungkin. Trend sekarang ini tentunya banyak sekali bermuculan mulai dari trend fashion, trend konten dan lainnya. Semua platform memiliki trendnya berbeda-beda bahkan akan muda di ikuti oleh kalangan lain. Pengguna media yang banyak lantas membawa berbagai trend baru yang mulai bermunculan. Namun tak selamanya trend itu berdampak positif ada pula trend yang membawa dampak negatif bagi diri sendiri atau bahkan orang lain.

Diantaranya ada trend yang sedang marak tersebar yaitu crosshijaber, mungkin sebagai kalangan tidak sadar telah mengikuti trend tersebut. Crosshijaber memiliki arti dimana lelaki memakai pakaian perempuan dengan menutupi wajahnya dengan menggunakan cadar agar tidak diketahui identitasnya. Perlu diingat kembali tujuan dari menyerupai hal-hal tersebut. Padahal Crossshijaber yang dilakukan bisa menyebabkan seseorang secara tidak langsung berbuat yang tidak diinginkan, seperti melecehkan perempuan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Menguak Misi Terselubung: Strategi Israel dalam Konflik Palestina

Hal itu berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang sekitar, dengan lelaki menyerupai perempuan bisa menjadi faktor masalah lain. Bisa saja seorang perempuan akan merasa tidak nyaman disekitarnya. Selain itu, dengan Crosshijaber seorang lelaki akan mudah melecehkan perempuan. Oleh karena itu kita harus waspada dan hati-hati kepada penampilan seseorang. Jangan biarkan hal itu menjadi kebiasaan.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tentang larangan menyerupai lawan jenis:

Surat An-nisa ayat 119

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلْأَنْعَـٰمِ وَلَـَٔامُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيْطَـٰنَ وَلِيًّۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًۭا مُّبِينًۭا

Artinya: Dan aku pasti akan menyesatkan mereka, dan pasti akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan pasti akan menyuruh mereka (untuk memotong telinga binatang ternak; dan pasti akan menyuruh mereka (untuk mengubah ciptaan allah).

Dengan adanya peringatan dari surat yang ada di Al-Qur’an tersebut, perlu kita belajar lagi agar bisa memahami kaidah-kaidah penting dalam islam. Mana yang baik dan buruk agar tidak salah dalam bertindak. Boleh-boleh saja jika lelaki memakai gamis (koko gamis), tetapi tidak dengan hijab dan cadar karena itu akan membuat ketidak nyamanan seorang perempuan.

Baca Juga: Semarak Tren Fashion Muslimah di Era Digital: Memadukan Gaya Modern dengan Nilai Syar’i

Selain itu, fenomena crosshijabers ini menuai banyak kritikan dari masyarakat luas. Ada pula orang-orang tak bertanggung jawab memanfaatnya untuk hal-hal negatif atau hanya sekedar memuaskan nafsu akan penasaran sama busana wanita muslim, juga beberapa kasus yang memviralkan jagat maya seperti berita seorang laki-laki menyamar menjadi seorang wanita hanya untuk bisa masuk ke toilet wanita, ikut sholat barisan perempuan hingga parahnya menerobos masuk ke salah satu pondok pesantren. Dengan hal ini, banyak sekali dari mereka menjadi selalu waspada terutama di tempat umum agar tidak terjadi yang tak diinginkan.

Menyoroti Bahaya Bermain Game Online Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Dan Sosial

Penulis: Muhammad Nadhiful Akmal, Editor: Tegar Dwi Pangestu

Seperti yang kita ketahui bermain game sangat menghibur dikala sedang istirahat namun ada satu kasus berada dikalangan anak-anak yang bermain game online hingga mengakibatkan kekerasan. Termasuk salah satunya kejadian yang dialami siswi SMK di bogor berinisial AYNCR biasa dipanggil N. (TribunNewsBogor.com., Senin, 3 Juni 2024 11:27 WIB).

Kasus ini masih menjadi bahan perbincangan warga bogor. Berdasarkan ceritanya, Polisi pernah menjemput salah satu mahasiswa di Malang, Jawa Timur yang diduga ternyata menemukan percakapan N dengan mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut bahkan sempat menjadi saksi dalam kasus N bogor. Mahasiswa itu diperiksa atas hubungannya dengan korban. Korban yang berusia 18 tahun ini tewas ditusuk di gang kecil arah Jalan Riau. Sampai saat itu polisi sama sekali tak menangkap pelakunya. Padahal menurut ayah korban, polisi telah menyita HP, laptop, hingga buku harian korban. Ayah korban mengatakan polisi telah menemukan percakapan jejak korban di sebuah game onlinenya. Korban melakukan percakapan dengan seseorang yang berasal dari Malang, Jawa Timur.

Polisi menemukan percakapan antara N dan seseorang dari Malang di game tersebut sebelum kematiannya. Orang tersebut ternyata pernah ke Bogor untuk menemui pacarnya di Cibinong, bukan N. Hingga kini, polisi tidak menemukan bukti lain di ponsel korban yang mengarah pada keterlibatan orang itu sebagai pelaku. Kasat Reskrim Polresta Bogor menyatakan bahwa mereka masih mencari bukti tambahan untuk menguatkan penyelidikan dan menetapkan tersangka. Selama lima tahun, polisi telah memeriksa 34 saksi, tetapi belum ada bukti kuat untuk menetapkan tersangka.

Baca Juga: Program Sekolah Ramah Anak (SRA) Dan Kontribusi Pemerintah Dalam Menurunkan Tingkat Kekerasan Terhadap Anak Di Indonesia

Dari kasus diatas ada keterkaitan dengan informasi yang dikutip dari detiknews.com satu bulan yang lalu bahwa pemerintah ancam blokir game yang mengandung kekerasan. Dalam hal ini pemerintah memberikan solusi seperti mengancam akan diblokir game yang mengandung kekerasan dengan mengatakan “bisa saja ada pemblokiran jika tidak sesuai dengan klasifikasi permenkominfo tersebut. Terutama untuk konten-konten yang mengandung kekerasan, perilaku konten yang mengandung kekerasan, perilaku seksual yang menyimpang, bahkan judi online,” ujar Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nahar dalam keterangan yang diterima, Senin (22/4/2024)

Bermain game online dapat menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi kita juga perlu menyadari bahayanya. Dampaknya terhadap kesehatan mental dan sosial bisa sangat merugikan jika tidak diatur dengan baik. Ketergantungan pada game online dapat mengganggu keseimbangan hidup, memicu isolasi sosial, dan bahkan menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk membatasi waktu bermain, menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline, serta memastikan bahwa permainan yang dimainkan tidak mengandung konten yang merusak.

Selain itu, bermain game online juga dapat menimbulkan risiko keamanan dan privasi. Banyak game online yang meminta informasi pribadi dari pemain, dan jika tidak diatur dengan hati-hati, informasi tersebut bisa disalahgunakan. Selain itu, ada risiko terlibat dalam perilaku yang tidak etis atau ilegal dalam game online, seperti penipuan atau pelecehan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mempertimbangkan dampak potensial dan mengambil langkah- langkah perlindungan yang tepat saat bermain game online.

Juga bisa mempengaruhi fisik. Terlalu banyak duduk dan kurang aktivitas fisik dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri punggung, dan gangguan postur. Dari sisi perkembangan pribadi, waktu yang berlebihan di depan layar dapat menghambat keterampilan hidup penting seperti manajemen waktu, tanggung jawab, dan produktivitas. Pendekatan yang seimbang dan bijaksana dalam bermain game sangat diperlukan, termasuk batasan waktu dan diversifikasi aktivitas harian untuk memastikan kesehatan mental, sosial, dan fisik yang optimal.

Baca Juga: Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di ambil pelajaran bahwa masyarakat dan keluarga harus lebih sadar akan tanda-tanda ketergantungan dan menyediakan dukungan yang diperlukan untuk mendorong interaksi sosial yang sehat dan keterlibatan dalam kegiatan fisik. Program pendidikan dan kampanye kesadaran dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang bahaya potensial dan cara mengelolanya. Pemerintah dan penyedia layanan game juga memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan penggunaan yang sehat melalui regulasi dan fitur yang membatasi penggunaan berlebihan. Dengan demikian, kita dapat menikmati manfaat hiburan dari game online tanpa mengorbankan kesehatan mental dan sosial. Dalam lingkungan sekolah perlu menyediakan guru bk yang berada dalam sekolah tersebut ikut serta mengamati kegiatan yang dilakukan oleh siswa siswinya agar hal ini tidak menimbulkan kejadian itu terulang kembali.

Meniti Cahaya Kesetaraan Perjalanan Anak-Anak dalam Memahami Ajaran Islam

Penulis : Hilda Rara Sari, Editor : Kharisma Shafrani

Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan bagi setiap individu, termasuk anak-anak dan dalam konteks gender. Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan dianggap setara di hadapan Allah dalam hal nilai, hak, dan kewajiban. Meskipun ada perbedaan biologis, Islam menegaskan bahwa perbedaan gender tidak menjadikan seseorang lebih superior atau inferior dari sisi spiritual atau keadilan. Kedua jenis kelamin memiliki hak yang sama dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, dan berbagai aspek kehidupan.

Cerita ini mengisahkan tentang sekelompok anak-anak yang tumbuh di Desa Al-Hikmah, tempat nilai-nilai Islam sangat kental. Di antara mereka ada Amir, seorang anak laki-laki yang penuh semangat, penasaran tentang ajaran agama. Ada juga Aisha, seorang anak perempuan yang cerdas dan bermimpi tinggi. Desa Al-Hikmah terletak di lereng bukit yang hijau, dikelilingi oleh sawah yang subur dan hamparan pegunungan yang indah. Masjid megah dan pesantren adalah pusat kegiatan pendidikan dan keagamaan bagi anak-anak di desa ini. Budaya dan tradisi Islam tercermin dalam setiap sudut kehidupan sehari-hari mereka.

Cerita dimulai saat Amir dan Aisha terinspirasi dari pelajaran agama, mereka mulai mempertanyakan peran gender dalam Islam. Mereka berdiskusi dengan guru-guru mereka, melakukan riset, dan berbicara dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk memahami lebih dalam tentang kesetaraan yang diajarkan oleh agama mereka. Di sepanjang perjalanan ini, mereka menemukan pandangan masyarakat yang terkadang keliru tentang hak-hak gender. Melalui interaksi mereka dengan tokoh-tokoh desa, kedua anak ini mulai memahami bahwa ajaran Islam menekankan kesetaraan hak dan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan. Mereka menyadari bahwa perbedaan gender tidak boleh menjadi alasan untuk ketidakadilan, dan bahwa nilai-nilai agama menekankan pentingnya perlakuan yang adil bagi semua.

Akhir cerita menampilkan Amir dan Aisha berkomitmen untuk menjadikan pemahaman baru mereka sebagai pedoman hidup. Mereka memimpin inisiatif untuk menciptakan lingkungan di desa yang menerapkan nilai-nilai kesetaraan gender yang diajarkan oleh agama mereka. Bersama teman-teman mereka, mereka memulai kampanye pendidikan dan kegiatan sosial yang mempromosikan kesetaraan dan keadilan bagi semua. Naskah ini menggambarkan perjalanan anak-anak dalam memahami ajaran Islam tentang kesetaraan gender. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga bertindak sebagai agen perubahan dalam masyarakat mereka, mempraktikkan nilai-nilai agama mereka dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua.

Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Penulis: Mufidatul ‘Ulya, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Kesehatan mental dan kesehatan fisik menjadi dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kedua kondisi ini tetap dalam keadaan optimal, misalnya dengan rutin berolahraga atau mengelola stres dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental, nyatanya dapat terjadi akibat kondisi stres yang tidak dapat diatasi dengan baik, salah satunya adalah gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi dimana pengidapnya memiliki pola pikir dan juga perilaku yang tidak sehat serta berbeda dengan kebanyakan orang lain. Gangguan ini termasuk dalam kategori penyakit mental, sehingga menyebabkan pengidapnya akan kesulitan dalam berinteraksi dengan sosial. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kepribadian?

Mulai dari trauma hingga adanya gangguan pada otak. Umumnya, gejala gangguan kepribadian akan sering dialami oleh para remaja hingga orang-orang yang baru saja memasuki usia dewasa. Pengidap gangguan kepribadian biasanya akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan sosial, membuat interaksi dengan banyak orang, sering memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, hingga mengalami gangguan kecemasan.

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang alami gangguan kepribadian? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang alami kondisi ini, misalnya adanya riwayat keluarga dengan kondisi gangguan ini, sehingga kamu akan rentan mengalami hal yang serupa. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan kepribadian.

Trauma masa lalu adalah pengalaman emosional, yaitu ketidakmampuan seseorang, untuk melepaskan diri dari memori negatif di masa lalu. Umumnya, trauma masa lalu terjadi karena sejumlah kejadian yang tidak menyenangkan. Contohnya, yaitu masa kecil yang tidak bahagia, kecelakaan, kematian anggota keluarga, hingga mengalami perundungan dari orang lain.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Apalagi jika hal-hal tertentu membuat seseorang merasa terpicu akan trauma masa lalunya. Akibatnya, seseorang yang memiliki trauma masa lalu dapat mengalami syok, sedih, panik, sebagai respons dari pikirannya. Kondisi ini memang tidak dapat disepelekan, dan perlu segera mendapatkan penanganan.

Tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi trauma masa lalu:
1. Menceritakannya kepada orang terdekat. tips pertama, yaitu menceritakan trauma masa lalu kepada orang terdekat ketika sudah siap.

2. Hadapi perasaanmu, menghindari pemicu atau ingatan tentang peristiwa traumatis di masa lalu dengan tidur sepanjang waktu, mengisolasi diri, memang hal yang wajar. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Sebab, semakin lama seseorang menghindar, hal ini dapat memperpanjang stres dan membuat seseorang tak kunjung pulih. Karena itu, secara bertahap, hadapilah perasaan yang dimiliki. Selain itu, cobalah untuk kembali ke rutinitas normal secara bertahap, dan meminta dukungan orang terdekat, atau psikolog.

3. Bersabar, tips selanjutnya yang perlu kamu terapkan adalah bersabar. Ingatlah bahwa memiliki reaksi atau respon keras terhadap peristiwa traumatis sangatlah normal. Namun, kamu juga perlu menghadapinya agar hal tersebut tidak membuatmu terpuruk. Lakukan secara perlahan, meskipun memang tidak mudah. Artinya, kamu perlu bersabar dan berdamai dengan diri sendiri, karena seiring waktu keadaanmu akan membaik. Untuk melakukannya, hal pertama adalah mengidentifikasi teman atau anggota keluarga yang dapat kamu percaya, untuk mencari dukungan. Ketika sudah merasa siap untuk menceritakannya, kamu bisa memberitahu pengalaman dan perasaanmu terkait trauma. Selain menceritakan, kamu juga dapat mencari dukungan kepada orang terdekat untuk membantu menyelesaikan kewajiban atau tugas rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres yang timbul. Trauma juga bisa datang akibat kekerasan dalam rumah tangga dalam usia terlalu dini.

4. Menerapkan perawatan diri, Cara ini membantu mengurangi tingkat stres, sehingga perlu dapat membantu pemulihan dari trauma masa lalu. Nah, perawatan diri dapat diterapkan melalui hal-hal yang terasa baik dan mencintai diri sendiri. Contohnya, yaitu melakukan ‘me time’, mandi lebih lama, hingga melakukan berbagai kegiatan positif yang kamu sukai, seperti membaca buku atau menonton film.

Pendidikan Inklusif: Membuka Peluang Kesetaraan Gender Sejak Dini

Penulis: Zahwa Ananda Rizti, editor: Faiza Nadilah

Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Dalam kamus Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.” Women’s Studies menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep budaya yang berupaya membuat perbedaan dalam peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Kesetaraan gender sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini, karena hal ini membentuk pola pikir dan perilaku mereka di masa depan.

Jika lingkungan anak-anak dipenuhi dengan stereotip gender, maka mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda dalam masyarakat. Sebagai contoh, stereotip yang menyatakan bahwa perempuan lemah dan laki-laki harus kuat dapat menghambat anak perempuan untuk mengekspresikan diri. Gender lebih menekankan aspek sosial, budaya, psikologis, dan non-biologis. Oleh karena itu, perbedaan gender pada dasarnya merupakan konstruksi yang dibentuk, disosialisasikan, dan diperkuat oleh aspek-aspek tersebut, hingga melahirkan ketidakseimbangan perlakuan jenis kelamin.

Nilai-nilai kesetaraan dalam Islam juga mencakup konsep keseimbangan, keadilan, menolak ketidakadilan, keselarasan, dan keutuhan bagi manusia. Saat ini, masalah gender menjadi isu yang sering dibahas dalam semua aspek kehidupan. Meskipun istilah gender tidak hanya berkaitan dengan perempuan, pembahasan faktual lebih sering menyoroti hak-hak perempuan.

Setiap anak memiliki keunikan dan dinamika tersendiri, terutama pada usia dini. Oleh karena itu, pendidikan gender harus mencakup upaya pemberian kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki. Pembongkaran stereotip terhadap perempuan yang diidentifikasi dengan kelemahan atau kedisiplinan harus menjadi langkah awal dalam proses pendidikan. Misalnya, guru dalam pendidikan nonformal juga perlu menghindari perilaku memilih-milih antara siswa laki-laki dan perempuan.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam membentuk pandangan anak terkait gender. Mereka sering memberikan stimulasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin, seperti pengawasan ekstra ketat untuk anak perempuan dan mainan yang bersifat feminin. Untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara, perlu mengubah pola pikir masyarakat terhadap perspektif gender. Taman Pendidikan Al-Qur’an dapat berperan dengan memberikan kesempatan yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan untuk belajar dan berkembang.

Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi melibatkan anak-anak dalam kegiatan pengembangan keterampilan tanpa memandang jenis kelamin, memberikan penghargaan yang sama terhadap prestasi dan perilaku anak laki-laki dan perempuan, melibatkan anak-anak dalam kegiatan tanpa batasan gender, menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender, dan menentang diskriminasi gender di tempat pendidikan.

Islam juga mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah
SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa“.

Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari asal yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Allah SWT juga menciptakan mereka sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar saling mengenal dan menghormati. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT.

Menyikapi Tantangan Kesehatan Mental: Perspektif Al-Qur’an dan Realitas Sosial

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Windi Tia Utami

Isu Kesehatan mental tengah menjadi pembicaraan hangat di media pemberitaan. Kesehatan mental seseorang kadang kala menjadi problematika baru yang muncul karena banyaknya problematika kehidupan. Tak hanya menyerang orang dewasa, semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan lansia baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama untuk terganggu kesehatan mentalnya.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), peninjau kesehatan mental nasional pertama di Indonesia, mencatat bahwasanya terdapat banyak kejadian gangguan mental pada remaja usia 10 – 17 tahun. I-NAMHS menyatakan ada satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Faktor yang memicu terganggunya Kesehatan mental dapat berupa banyak hal, seperti tekanan keluarga, pendidikan, lingkungan, bahkan ekonomi. Sehingga tak heran, belakangan ini banyak kasus bunuh diri dengan alasan gangguan kesehatan mental yang kian merajalela.

Sejatinya dalam kehidupan, manusia akan selalu mendapatkan sebuah cobaan berupa masalah. Masalah itu Allah Swt. Turunkan sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengingat bahwasanya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan untuk menjalankan kehidupannya. Namun, dewasa ini justru masalah dijadikan sebagai alasan untuk menyerah, banyak manusia yang mengaku terbebani dan akhirnya mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah. Padahal Allah Swt. telah jelas berfirman pada surat Asy-Syarh (94): 5-6 yang artinya ’’Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya besertakesulitan itu ada kemudahan’’. Ayat ini memberi semangat agar setiap manusia selalu ikhlas dan percaya bahwa bahwa kesulitan, kesengsaraan, kemalangan, dan kesakitan adalah pintu untuk memasuki jalan kebenaran, kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Diharapkan seorang manusia dapat mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan kesulitan. Sehingga, ia memiliki semangat agar selalu mencari celah supaya dapat memetik hikmah dari tantangan, dan kesulitan yang menimpa.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah problem solving yang kualitasnya dipegaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah Adversity Quotient. Faktor yang memengaruhi seseorang dalam problem solving  tidak hanya kercerdasan intelektual dan emosional saja. Dengan Adversity Quotient kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena faktor ini merupakan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Psikologi Barat dalam situasi pengendalian diri dikenal dengan istilah selfcontrol atau kontrol diri, sehingga factor terpenting Ketika menghadapi masalah adalah mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat diluar kendali dan agar tetap berpikir jernih.

Al Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan juga didalamnya banyak ayat-ayat yang bersangkutan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia

Dalam Q.S. ali-Imran (3): 186, Allah menegaskan bahwa manusia sugguh diuji dengan harta dan diri/jiwa. Dalam ayat ini diperintahkan juga agar bersabar dalam sesuatu yang mereka katakan. Dalam Q.S. Muhammad (47): 31, Allah juga menegaskan tujuan ujian yang diberikan Allah, yaitu bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menguji manusia agar bisa diketahui mana orang-orang yang berjihad dan bersabar. Bahkan Allah mengatakan bahwa apakah manusia mengira masuk surga sebelum diketahui mana manusia yang bersungguh-sungguh dan bersabar al-Qur’ān Tentang Kesehatan Mental Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah Swt.

Sebagai kitab suci yang berisi petunjuk, Al-Qur’an mengemukakan ada penyakit mental yang disebabkan oleh seseorang jauh dari Al-Qur’ān diantaranya sebagai berikut : (i) Riya’ adalah bertingkah laku karena tujuan ingin dipuji atau dapat perhatian orang lain; (ii) asad dan dengki atau iri hati; (iii) Rakus (berlebih-lebihan dalam makan); (iv) Waswas merupakan bisikan hati, akan nafsu dan kelezatan; (v) Ingkar janji; (vi) Membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tentang permasalahan manusia beserta dengan solusinya sekaligus, tugas manusia adalah tetap menghamba dan berpegang teguh pada jalan Allah Swt. niscaya Ketika manusia dapat mencerna penjelasan Allah Swt. dalam Al-Qur’an tidak akan ada lagi permasalahan tentang Kesehatan mental hanya karena tertimpa musibah.