Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Penulis: Mufidatul ‘Ulya, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Kesehatan mental dan kesehatan fisik menjadi dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kedua kondisi ini tetap dalam keadaan optimal, misalnya dengan rutin berolahraga atau mengelola stres dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental, nyatanya dapat terjadi akibat kondisi stres yang tidak dapat diatasi dengan baik, salah satunya adalah gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan kondisi dimana pengidapnya memiliki pola pikir dan juga perilaku yang tidak sehat serta berbeda dengan kebanyakan orang lain. Gangguan ini termasuk dalam kategori penyakit mental, sehingga menyebabkan pengidapnya akan kesulitan dalam berinteraksi dengan sosial. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kepribadian?

Mulai dari trauma hingga adanya gangguan pada otak. Umumnya, gejala gangguan kepribadian akan sering dialami oleh para remaja hingga orang-orang yang baru saja memasuki usia dewasa. Pengidap gangguan kepribadian biasanya akan mengalami kesulitan untuk membangun hubungan sosial, membuat interaksi dengan banyak orang, sering memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, hingga mengalami gangguan kecemasan.

Lalu, apa yang menyebabkan seseorang alami gangguan kepribadian? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang alami kondisi ini, misalnya adanya riwayat keluarga dengan kondisi gangguan ini, sehingga kamu akan rentan mengalami hal yang serupa. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko seseorang alami gangguan kepribadian.

Trauma masa lalu adalah pengalaman emosional, yaitu ketidakmampuan seseorang, untuk melepaskan diri dari memori negatif di masa lalu. Umumnya, trauma masa lalu terjadi karena sejumlah kejadian yang tidak menyenangkan. Contohnya, yaitu masa kecil yang tidak bahagia, kecelakaan, kematian anggota keluarga, hingga mengalami perundungan dari orang lain.

Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, dan emosional. Apalagi jika hal-hal tertentu membuat seseorang merasa terpicu akan trauma masa lalunya. Akibatnya, seseorang yang memiliki trauma masa lalu dapat mengalami syok, sedih, panik, sebagai respons dari pikirannya. Kondisi ini memang tidak dapat disepelekan, dan perlu segera mendapatkan penanganan.

Tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi trauma masa lalu:
1. Menceritakannya kepada orang terdekat. tips pertama, yaitu menceritakan trauma masa lalu kepada orang terdekat ketika sudah siap.

2. Hadapi perasaanmu, menghindari pemicu atau ingatan tentang peristiwa traumatis di masa lalu dengan tidur sepanjang waktu, mengisolasi diri, memang hal yang wajar. Kendati demikian, hal ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Sebab, semakin lama seseorang menghindar, hal ini dapat memperpanjang stres dan membuat seseorang tak kunjung pulih. Karena itu, secara bertahap, hadapilah perasaan yang dimiliki. Selain itu, cobalah untuk kembali ke rutinitas normal secara bertahap, dan meminta dukungan orang terdekat, atau psikolog.

3. Bersabar, tips selanjutnya yang perlu kamu terapkan adalah bersabar. Ingatlah bahwa memiliki reaksi atau respon keras terhadap peristiwa traumatis sangatlah normal. Namun, kamu juga perlu menghadapinya agar hal tersebut tidak membuatmu terpuruk. Lakukan secara perlahan, meskipun memang tidak mudah. Artinya, kamu perlu bersabar dan berdamai dengan diri sendiri, karena seiring waktu keadaanmu akan membaik. Untuk melakukannya, hal pertama adalah mengidentifikasi teman atau anggota keluarga yang dapat kamu percaya, untuk mencari dukungan. Ketika sudah merasa siap untuk menceritakannya, kamu bisa memberitahu pengalaman dan perasaanmu terkait trauma. Selain menceritakan, kamu juga dapat mencari dukungan kepada orang terdekat untuk membantu menyelesaikan kewajiban atau tugas rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres yang timbul. Trauma juga bisa datang akibat kekerasan dalam rumah tangga dalam usia terlalu dini.

4. Menerapkan perawatan diri, Cara ini membantu mengurangi tingkat stres, sehingga perlu dapat membantu pemulihan dari trauma masa lalu. Nah, perawatan diri dapat diterapkan melalui hal-hal yang terasa baik dan mencintai diri sendiri. Contohnya, yaitu melakukan ‘me time’, mandi lebih lama, hingga melakukan berbagai kegiatan positif yang kamu sukai, seperti membaca buku atau menonton film.

Pendidikan Inklusif: Membuka Peluang Kesetaraan Gender Sejak Dini

Penulis: Zahwa Ananda Rizti, editor: Faiza Nadilah

Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Dalam kamus Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.” Women’s Studies menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep budaya yang berupaya membuat perbedaan dalam peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Kesetaraan gender sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini, karena hal ini membentuk pola pikir dan perilaku mereka di masa depan.

Jika lingkungan anak-anak dipenuhi dengan stereotip gender, maka mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda dalam masyarakat. Sebagai contoh, stereotip yang menyatakan bahwa perempuan lemah dan laki-laki harus kuat dapat menghambat anak perempuan untuk mengekspresikan diri. Gender lebih menekankan aspek sosial, budaya, psikologis, dan non-biologis. Oleh karena itu, perbedaan gender pada dasarnya merupakan konstruksi yang dibentuk, disosialisasikan, dan diperkuat oleh aspek-aspek tersebut, hingga melahirkan ketidakseimbangan perlakuan jenis kelamin.

Nilai-nilai kesetaraan dalam Islam juga mencakup konsep keseimbangan, keadilan, menolak ketidakadilan, keselarasan, dan keutuhan bagi manusia. Saat ini, masalah gender menjadi isu yang sering dibahas dalam semua aspek kehidupan. Meskipun istilah gender tidak hanya berkaitan dengan perempuan, pembahasan faktual lebih sering menyoroti hak-hak perempuan.

Setiap anak memiliki keunikan dan dinamika tersendiri, terutama pada usia dini. Oleh karena itu, pendidikan gender harus mencakup upaya pemberian kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki. Pembongkaran stereotip terhadap perempuan yang diidentifikasi dengan kelemahan atau kedisiplinan harus menjadi langkah awal dalam proses pendidikan. Misalnya, guru dalam pendidikan nonformal juga perlu menghindari perilaku memilih-milih antara siswa laki-laki dan perempuan.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam membentuk pandangan anak terkait gender. Mereka sering memberikan stimulasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin, seperti pengawasan ekstra ketat untuk anak perempuan dan mainan yang bersifat feminin. Untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara, perlu mengubah pola pikir masyarakat terhadap perspektif gender. Taman Pendidikan Al-Qur’an dapat berperan dengan memberikan kesempatan yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan untuk belajar dan berkembang.

Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi melibatkan anak-anak dalam kegiatan pengembangan keterampilan tanpa memandang jenis kelamin, memberikan penghargaan yang sama terhadap prestasi dan perilaku anak laki-laki dan perempuan, melibatkan anak-anak dalam kegiatan tanpa batasan gender, menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender, dan menentang diskriminasi gender di tempat pendidikan.

Islam juga mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah
SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa“.

Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari asal yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Allah SWT juga menciptakan mereka sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar saling mengenal dan menghormati. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT.

Menyikapi Tantangan Kesehatan Mental: Perspektif Al-Qur’an dan Realitas Sosial

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Windi Tia Utami

Isu Kesehatan mental tengah menjadi pembicaraan hangat di media pemberitaan. Kesehatan mental seseorang kadang kala menjadi problematika baru yang muncul karena banyaknya problematika kehidupan. Tak hanya menyerang orang dewasa, semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan lansia baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama untuk terganggu kesehatan mentalnya.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), peninjau kesehatan mental nasional pertama di Indonesia, mencatat bahwasanya terdapat banyak kejadian gangguan mental pada remaja usia 10 – 17 tahun. I-NAMHS menyatakan ada satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Faktor yang memicu terganggunya Kesehatan mental dapat berupa banyak hal, seperti tekanan keluarga, pendidikan, lingkungan, bahkan ekonomi. Sehingga tak heran, belakangan ini banyak kasus bunuh diri dengan alasan gangguan kesehatan mental yang kian merajalela.

Sejatinya dalam kehidupan, manusia akan selalu mendapatkan sebuah cobaan berupa masalah. Masalah itu Allah Swt. Turunkan sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengingat bahwasanya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan untuk menjalankan kehidupannya. Namun, dewasa ini justru masalah dijadikan sebagai alasan untuk menyerah, banyak manusia yang mengaku terbebani dan akhirnya mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah. Padahal Allah Swt. telah jelas berfirman pada surat Asy-Syarh (94): 5-6 yang artinya ’’Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya besertakesulitan itu ada kemudahan’’. Ayat ini memberi semangat agar setiap manusia selalu ikhlas dan percaya bahwa bahwa kesulitan, kesengsaraan, kemalangan, dan kesakitan adalah pintu untuk memasuki jalan kebenaran, kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Diharapkan seorang manusia dapat mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan kesulitan. Sehingga, ia memiliki semangat agar selalu mencari celah supaya dapat memetik hikmah dari tantangan, dan kesulitan yang menimpa.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah problem solving yang kualitasnya dipegaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah Adversity Quotient. Faktor yang memengaruhi seseorang dalam problem solving  tidak hanya kercerdasan intelektual dan emosional saja. Dengan Adversity Quotient kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena faktor ini merupakan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Psikologi Barat dalam situasi pengendalian diri dikenal dengan istilah selfcontrol atau kontrol diri, sehingga factor terpenting Ketika menghadapi masalah adalah mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat diluar kendali dan agar tetap berpikir jernih.

Al Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan juga didalamnya banyak ayat-ayat yang bersangkutan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia

Dalam Q.S. ali-Imran (3): 186, Allah menegaskan bahwa manusia sugguh diuji dengan harta dan diri/jiwa. Dalam ayat ini diperintahkan juga agar bersabar dalam sesuatu yang mereka katakan. Dalam Q.S. Muhammad (47): 31, Allah juga menegaskan tujuan ujian yang diberikan Allah, yaitu bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menguji manusia agar bisa diketahui mana orang-orang yang berjihad dan bersabar. Bahkan Allah mengatakan bahwa apakah manusia mengira masuk surga sebelum diketahui mana manusia yang bersungguh-sungguh dan bersabar al-Qur’ān Tentang Kesehatan Mental Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah Swt.

Sebagai kitab suci yang berisi petunjuk, Al-Qur’an mengemukakan ada penyakit mental yang disebabkan oleh seseorang jauh dari Al-Qur’ān diantaranya sebagai berikut : (i) Riya’ adalah bertingkah laku karena tujuan ingin dipuji atau dapat perhatian orang lain; (ii) asad dan dengki atau iri hati; (iii) Rakus (berlebih-lebihan dalam makan); (iv) Waswas merupakan bisikan hati, akan nafsu dan kelezatan; (v) Ingkar janji; (vi) Membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tentang permasalahan manusia beserta dengan solusinya sekaligus, tugas manusia adalah tetap menghamba dan berpegang teguh pada jalan Allah Swt. niscaya Ketika manusia dapat mencerna penjelasan Allah Swt. dalam Al-Qur’an tidak akan ada lagi permasalahan tentang Kesehatan mental hanya karena tertimpa musibah.

Budaya Patriarki vs Kesetaraan Gender Dalam Islam

Oleh : Khanifah Auliana

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia masih menjadi perbincangan yang sering diperdebatkan. Kemajuan teknologi dan modernisasi menjadi hal yang berpengaruh pada perubahan lingkungan hidup. Pola pikir masyarakat juga ikut berdampak dari adanya globalisasi tersebut. Budaya dan tradisi masyarakat yang dulu masih melekat tampaknya kembali di ulas untuk menyesuaikan ketimpangan yang ada. Salah satu budaya yang masih saja melekat di masyarakat yang perlu diubah yaitu patriarki. Budaya Patriarki dulunya kental dengan sistem kerajaan dimana pemimpin kerajaan harus di dominasi oleh laki-laki. Bahkan dulu banyak raja yang akhirnya memiliki banyak anak hanya karena supaya kerajaan yang dipimpin ada pewaris laki-lakinya.

Budaya Patriarki sangat condong menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan padahal di era sekarang justru laki-laki dan perempuan harus memiliki keseimbangan karena saling melengkapi. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan tak setuju dengan ada budaya Patriarki di era sekarang ini karena secara tidak langsung merendahkan posisi perempuan. Sebenarnya seorang pemimpin tidak hanya ditujukan untuk laki-laki saja namun bisa perempuan. Selain itu adanya patriarki menjadikan seorang laki-laki meremehkan segala yang ada di perempuan. Banyak dari mereka hanya memandang perempuan sebelah mata hanya karena dianggap lemah. Sejatinya Allah telah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna dan melengkapi satu sama lain. Bahkan dalam Al-Qur’an terlah disebutkan peranan manusia yang berbeda-beda namun tetap sama.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”

Oleh karena itu, kita harusnya saling menjunjung tinggi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Menghormati dan melaksanakan peran dari masing-masing tanpa memandang perbedaan. Peran perempuan dan laki-laki sangatlah penting untuk kemajuan suatu bangsa dan kemaslahatan umat. Tidak ada yang mendominasi karena sejatinya baik perempuan maupun laki-laki harus saling kerjasama.

 

Pengaruh Fatherless bagi Pertumbuhan Anak di Lingkungan Keluarga

Oleh : Khanifah Auliana

Kelurga menjadi tempat yang paling dibutuhkan ketika semua anggotanya berupa Ayah, Ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain. Anggota keluarga juga berperan penting untuk selalu bekerjasama dalam hal apapun entah itu di rumah atau hal-hal kedepan yang sudah di rencanakan. Semua anggota keluarga punya peran yang penting dari sisi masing-masing, terutama peran dari pemimpin keluarga atau kepala keluarga yaitu ayah. Bukan hanya sosok ibu yang memiliki pengaruh besar di keluarga namun sosok Ayah sama halnya seperti ibu.

 Keduanya penting untuk membina rumah tangga bersama anak-anak yang bertumbuh kembang seiring berjalannya waktu. Namun kadangkala tak semua anak memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga yang lengkap. Ada keluarga yang hanya memiliki ibu dan anak saja yang tinggal bersama atau sebaliknya. Anak-anak yang belum memiliki kesempatan memiliki keluarga lengkap biasanya memiliki dampak pada kehidupannya.

Salah satu fenomena yang jarang kita dengar saat ini terkait anak-anak yang tumbuh besar tanpa peran ayah yaitu Fatherless. Kata Fatherless mungkin masih asing di telinga sebagian orang dan belum tahu mengenai fenomena tersebut. Namun jika ditelisik dari kata Father jika diterjemahkan adalah ayah sedangkan less bisa diartikan ketidakhadiran atau kurang. Fatherless bisa dimaknai sebagai ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan seorang anak bisa dari ia baru lahir bahkan sampai ia sudah beranjak dewasa. Ketiadaan atau ketidakhadiran soso ayah memiliki pengaruh yang bisa membuat seorang anak akan berfikir beda terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengaruh Fatherless bisa membuat anak akan berjuang dan belajar memahami kehidupan mandiri sejak dini. Namun ada sisi lain yang tidak terisi, jika anak-anak lain akan di dukung dan kasih sayang penuh oleh ayahnya. Seorang anak Fatherless tidak bisa merasakan itu sehingga mungkin hal tersebut akan berpengaruh dari cara pandangnya tapi bisa juga tidak tergantung jika anak tersebut memang dalam ruang lingkup keluarga yang saling menyayangi meski tanpa sosok ayah. Oleh karena itu, Fatherless sebenarnya bisa berpengaruh baik dan tidak, disini peran keluarga harus saling melengkapi entah itu ibu, saudara dan anggota lainnya.

Lingkungan positif juga bisa jadi point’ penting bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah, peran lingkungan yang mendukung dan tanpa memojokkan. Jangan anggap remeh hal ini, sebab tidak semua anak menginginkan kondisi Fatherless. Meski tumbuh tanpa peran ayah, anak-anak tersebut masih punya hak untuk meraih mimpi mereka. Dukung dan berikan semangat, kalau Fatherless tidak memberikan pengaruh yang buruk atau penghalang untuk meraih masa depan kelak.

Upaya Lestarikan Budaya Lokal KKN 57 UIN Gusdur Ciptakan Wayang Animasi

Oleh : Intan Anggreaeni

Sebagai negara yang dianugerahi oleh beragam kekayaan tentunya Indonesia memiliki tantangan sendiri untuk melestarikannya. Terlebih lagi diera sekarang dimana gempuran gedget sangat pesat adanya sehingga generasi muda lebih suka berselencar di dunia maya alih alih bermain bersama teman sebayanya. Sebenarnya ada beragam cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk melestarikan budaya dimulai dari pembentukan UU, mengajarkan budaya lewat mata pelajaran di bangku sekolah, hingga membuat trobosan baru untuk mengenalkan budaya kepada generasi penerus bangsa.

Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa ada banyak cara yang dapat kita tempuh untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Misalnya saja dengan membuat membuat beberapa inovasi seperti yang dilakukan oleh mahasiswa KKN 57 UIN Gudsur kelompok 25, mereka membuat wayang dengan gaya yang modern. Mereka membuat inovasi dengan mengubah tokoh pewayangan menjadi animasi atau kartun yang anak anak kecil sukai, seperti doraemon, hello kitty, keropi. Dsb.

Hal tersebut dinilai jauh lebih efisien dibandingkan dengan mengenalkan wayang lewat tokoh yang aslinya. Karena biasanya nama tokoh pewayangan zaman dahalu lebih susah dihapalkan dibandingkan dengan tokoh tokon kartun yang biasa mereka tonton dilayar televisi. Tentunya hal tersebut juga akan memudahkan mereka dalam proses belajar wayang. Tidak hanya itu mereka juga melakukan inovasi pada bahan baku utama pembuatan wayang. Jika biasanya wayang dibuat menggunakan kulit namun kali ini mereka menggunakan kardus sebagai bahan utamanya.

Pemilihan kardus sebagai bahan utama karena kardus biasanya lebih gampang untuk dijumpai dan selain itu ini juga merupakan sebuah langkah mendaur ulang sampah. Adapaun tujuan Tujuan utama dari adanya inovasi permainan tradisional ini adalah untuk memfasilitasi, serta menjadi media untuk membantu dan mempermudah orang tua dalam mengawasi anak agar tidak terus menerus terpapar gadget dan juga bahaya media sosial yang anak-anak belum bisa memfilter hal tersebut. Selaij itu juga untuk melatih anak-anak agar lebih terampil serta kemahiran mereka dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Kekerasan anak akan jadi trauma yang sulit dihilangkan

Oleh : Khanifah Auliana

Akhir-akhir ini banyak pemberitaan tentang kasus kekerasan yang terjadi pada anak usia dini. Pelakunya bukan hanya dari orang luar saja, bahkan ada yang sampai dari keluarganya sendiri. Peristiwa itu begitu mengiris hati yang melihatnya ketika seorang anak yang seharusnya dijaga dengan baik malah diperlakukan dengan tidak manusiawi. Beredar pula berita tentang seorang anak yang meninggal karena dipukuli oleh ibunya sendiri, sungguh sangat tidak menyangka jika hal tersebut terjadi.

Sampai kapanpun orangtua adalah tiang penting bagi anak-anaknya untuk tumbuh kembang mereka hingga dewasa nanti. Namun sekarang banyak kejadian kekerasan anak yang seharusnya sangat dilarang. Kita memang tidak tahu sebab dari adanya tindakan kekerasan tersebut namun sebagai manusia yang diberi akal sehat sebaiknya memikirkan dengan logika bagaimana kondisi anak-anak jika mereka merasakan kekerasan yang tidak patut dilakukan. Orang dewasa saja akan merasakan sakit apabila mendapat kekerasan fisik apalagi anak-anak yang menerima kekerasa itu, dampaknya akan sangat berpengaruh sampai ia dewasa nanti.

Sebagai masyarakat yang berpedoman pada agama, seharusnya kita semua mengevaluasi satu sama lain terkait pentingnya menangani kekerasan pada anak. Sudah banyak terjadi dari mulai di perkotaan hingga desa terpencil sekalipun. Kekerasan tidak bisa dibenarkan dan harus di cegah jika tidak maka anak-anak akan dibayangi-bayangi rasa takut dan trauma luarbiasa karena sulit untuk melupakan memori yang kurang mengenakan. Sejatinya semua kekerasan memang di larang tidak hanya pada anak-anak maupun orang dewasa baik fisik atau pun perkataan. Majunya era globalisasi yang modern semakin menampakkan segala sudut berita yang ada di belahan dunia. Sampai-sampai kita semua tahu bahwa masih krisis kesadaran terhadap lingkungan dan antar sesama.

Kasus kekerasan anak yang baru-baru ini terjadi, saat anak berusia 5 tahun di ikat kaki dan tangannya lalu dipukuli oleh seluruh anggota  keluarganya sendiri. Mirisnya baru 2 tahun para tetangga dan orang-orang terdekat tahu mengenai kejadian itu. Betapa takutnya anak kecil yang tak berdosa diberi kekerasan yang membuat tubuhnya sampai lebam dan kurus. Dari kasus tersebut pentingnya kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk saling mengedukasi supaya tidak terjadi hal buruk sedemikian rupa. Bahkan dalam Al-Qur’an saja sudah diterangkan terkait dilarangnya kekerasan terhadap anak.

 عَلَيۡكُمۡ‌ اَلَّا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡـًٔـــا وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوۡۤا اَوۡلَادَكُمۡ مِّنۡ اِمۡلَاقٍ‌ؕ نَحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَاِيَّاهُمۡ‌ ۚ وَلَا تَقۡرَبُوا الۡفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوا النَّفۡسَ الَّتِىۡ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالۡحَـقِّ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ

” Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. ( Surat Al-Anam ayat 151)

Diterangkan setiap seorang anak yang lahir sudah ada rezekinya sendiri-sendiri yang diatur oleh Allah langsung bahkan sebelum anak itu lahir. Jadi jangan merasa takut kekurangan ekonomi jika sudah memiliki anak apalagi sampai membunuh karena itu perbuatan yang keji dan haram. Berharaplah hanya kepada Allah, jangan risau dan khawatir tentang apapun kalau kita percaya semua akan teratasi dengan baik. Semua masalah yang terjadi pasti ada solusinya, begitu pula bagi para orangtua, anak adalah anugerah yang Allah kasih. Jagalah anak-anak dengan baik, sayangi dengan sepenuh hati dan ajari mereka dengan agama. Jangan sekali-kali mengasari atau melakukan kekerasan kepada anak, jika mereka tumbuh dewasa rasa trauma itu pasti akan tetap melekat dibenaknya. Jadi mulai sekarang terapkan perkataan yang baik-baik ke anak, ucapan adalah doa.

Spirit Agama pada Pembangunan Desa Ramah Perempuan dan Anak

Oleh Shofi Nur Hidayah

Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan menjadi salah satu desa ramah perempuan dan anak berdasarkan keputusan dari pihak kecamatan setempat. Wacana tersebut sudah ada sejak tahun 2021 namun belum ada Peraturan Desa (Perdes) atau pembentukan kebijakan khusus yang mengatur hal tersebut. Sehingga hingga tahun ini belum ada progres dari wacana Desa Ramah Perempuan dan Anak. Rencananya Perdes akan segera di keluarkan pada akhir tahun 2023 ini.  Meski begitu Desa Kesesi terpilih menjadi salah satu Desa Ramah Perempuan dan Anak karena lingkungannya yang aman dari kekerasan baik pada perempuan maupun anak. Selain itu tidak ada juga pekerja di bawah umur di desa tersebut, sehingga memenuhi indikator desa ramah perempuan dan anak.

Setiap desa tentu memiliki masalahnya sendiri, sama seperti yang dihadapi oleh Desa Kesesi. Mayoritas penduduk di Desa Kesesi termasuk dalam usia produktif, sebab penduduk usia 25-50 tahun cukup banyak dan tersebar di 13 RW dan 50 RT. Taraf pendidikan masyarakat masih mayoritas SD dan SMP meskipun untuk generasi muda sudah banyak yang menempuh pendidikan SMA. Desa Kesesi termasuk dalam desa agraris, dimana banyak wilayah lahan dan sawah di Desa tersebut, akan tetapi petani maupun buruh tani di Desa Kesesi tidak beregenerasi. Hal ini dikarenakan penduduknya memilih merantau ke luar kota ketika lulus sekolah.

Sedangkan yang mendiami desa tersebut adalah orang-orang yang sudah berumahtangga, anak-anak dan remaja yang masih mengeyam pendidikan SMP maupun SMA. Hal ini tentu berdampak pada pemberdayaan masyarakat, sebab organisasi perempuan dan anak tidak bisa berjalan dengan maksimal. Ini juga menjadi tantangan terbesar dari Desa Kesesi dalam merealisasikan program kerja Desa yang telah direncanakan. Asma, selalu Sekertaris Desa Kesesi menyebutkan “Masyarakat di desa ini cenderung memprioritaskan kepentingan pribadi, dibanding dengan mengikuti kegiatan desa seperti PKK. Kader-kader yang ada memang banyak, tapi yang benar-benar mau terus aktif bisa dihitung jari,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kepala Desa Kesesi pada Rabu (18/10/2023).

Asma juga berharap dengan adanya KKN 57 UIN K.H Abdurrahman Wahid yang ada di Desa Kesesi tahun ini bisa membantu dalam membangun desa dan memberdayakan masyarakat. “Anak-anak KKN bisa memberikan contoh kegiatan di masyarakat yang nantinya bisa dilanjutkan oleh masyarakat setempat ketika KKN telah selesai,” ujarnya. Keterlibatan warga setempat dalam membangun desa merupakan hal yang sangat penting, sebab maju atau tidaknya suatu daerah bergantung pada penduduk yang mendiaminya. Lagi-lagi membentuk suatu daerah yang baik, nyaman, dan terberdaya tidak bisa dilakukan oleh satu dua pihak saja melainkan seluruh lapisan masyarakat. Baik dari warga setempat, pemerintah daerah, bahkan dinas-dinas terkait karena hal ini merupakan misi besar yang tidak bisa ditanggung oleh pemerintah atau masyarakat saja.

Dalam Islam membangun sebuah daerah juga telah dijelaskan dalam surah An-Nahl ayat 112 yang artinya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya daya kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; oleh karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebebabkan apa yang telah mereka perbuat”. (QS. An-Nahl: 112).

Ayat tersebut menyiratkan pentinya agama dan ketakwaan bagi Pembangunan sebuah daerah. Ketakwaan yang dimaksud bukanlah ketakwaan passif yang hanya terjebak pada simbol belaka. Ketakwaan yang membawa kesejahteraan adalah ketakwaan aktif. Misalnya, spirit agama menjadikan jiwa yang tenang, damai, harmoni dst. Dari jiwa yang tenang itu, kegiatan perekonomian dilakukan semata-hata mengharap Ridlo-Nya. Sehingga, tidak ada eksploitasi, keserakahan, saling sikut, saling menjatuhkan dst. Negeri atau daerah yang indah dengan sendirinya akan tercipta jika menjadikan agama dan ketakwaan dalam pengertian yang aktif, sebagai perhiasan dalam kehidupan sehari-hari

Edukasi Langkah Awal Mewujudkan Kesetaraan Gender

Oleh : Khanifah Auliana

 

Pembahasan gender tampaknya tak akan pernah habis untuk dikulik karena terkait dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Baik laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan sifat dan kondratnya sejak lahir. Oleh karena itu, perbedaan sifat gender tersebut menjadi salah satu hal yang sering dipermasalahkan. Tak heran banyak kasus yang terjadi akibat ketidakpahaman terkait gender terutama kekerasan dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Apalagi sekarang ini begitu bebas dalam hal bermedia sosial, kita semua bisa melihat bagaimana kasus kekerasan merajalela meskipun tidak secara langsung atau verbal. Kekerasan yang dimaksud buka hanya terfokus pada fisik saja melainkan verbal atau tulisan. Selain itu, kini maraknya kekerasan seksual terjadi kebanyakan pihak perempuan yang jadi korban.

Kekerasan seksual memiliki arti kekerasan yang mengacu pada seks atau sensitif, korban yang mengalami kekerasan seksual ini banyak dari kalangan perempuan. Mengapa demikian? Sebab gender perempuan mengarah pada sifat atau kodrat yang mengartikan bahwa perempuan lemah lembut oleh karena itu, dari gender laki-laki akan menganggap perempuan itu lemah dan kalah. Padahal Allah SWT telah menerangkan pada Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama yang membedakan hanya pada sisi sifat kondratnya saja.

Dalam surat Al Imran ayat 195 menerangkan :

” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain………”

Dari penggalan arti ayat diatas memiliki makna jika orang yang beramal tidak sia-sia, baik itu laki-laki atau perempuan. Dalam hal itu secara tidak langsung posisi antara laki-laki dan perempuan itu sama di mata Allah SWT. Kasus kekerasan seksual masih jadi masalah yang sampai saat ini perlu ditangani. Sayangnya beberapa pihak hanya menyudutkan korban atau dari sisi gender perempuan. Padahal pihak laki-laki juga perlu untuk sama-sama di edukasi agar tidak hanya menyalahkan terkait pakaian yang dikenakan perempuan. Dari sini kita bisa belajar untuk tidak menghakimi siapapun yang menjadi korban kekerasan seksual. Posisi menjadi korban tidaklah mudah apalagi untuk sekedar speak up pasti banyak pertimbangan karena takut dari tanggapan masyarakat.

Memberikan edukasi dari dini menjadi solusi yang cukup baik untuk laki-laki atau perempuan. Edukasi sejak dini akan menjadi kebiasaan, sekaligus dapat membentuk ruang bawah sadar seseorang. Terlebih bagi anak-anak yang sifat mereka suka mencontoh hal apapun dari melihat atau mendengar. Perlu diperhatikan bagi orangtua untuk membimbing anak-anaknya agar tidak salah mengambil tindakan. Edukasi tidak hanya pada contoh yang baik atau dilarang namun pembelajaran pada keagamaan juga sangat penting. Nilai-nilai agama perlu ditanamkan sejak dini supaya apapun bentuk aktivitas akan dipertimbangkan baik buruknya sehingga kekerasan seksual dapat dicegah. Nilai agama itu, muaranya adalah keadilan, kebaikan keharmonian, serta kesejahteraan bagi kemanusiaan.

Gagasan Sekolah Pukul 5 Pagi, Sudahkah Berpihak pada Anak?

Beberapa waktu lalu publik dibuat ramai atas regulasi yang dikeluarkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang mengharuskan jam masuk sekolah pukul 05.30 (sebelumnya diterapkan 05.00) pagi bagi satuan pendidikan SMA sederajat di wilayah administratif yang dipimpinnya. Hal tersebut lantas mengundang respon dari berbagai pihak. Warganet via jejaring sosial yang dimilikinya, media massa cetak dan daring dengan headlinenya, lembaga negara melalui komisi-komisi, pun komunitas yang konsen dengan pemenuhan hak-hak anak, kompak menyerbu regulasi tersebut. Fenomena demikian ini tentu menarik untuk disoroti. Sebab bukan semata dari gagasannya saja yang sukses menuai polemik, melainkan persoalan ini turut pula menyeret harkat anak setingkat SMA di Provinsi NTT yang totalnya mencapai lebih kurang 319.400 di Tahun Ajaran 2022/2023 (BPS, 2022).

Dalam sebuah rilis di media massa, Viktor Laiskodat menganggap bahwa kebijakan masuk sekolah pukul 05.30 pagi adalah upaya untuk mewujudkan peningkatan mutu pendidikan bagi peserta didik. Ia juga meyakini, pembiasaan beraktivitas sejak fajar dalam konteks ini pembentukkan kedisiplinan, menjadi salah satu jalan pembuka kesuksesan bagi diri pelajar. Lewat kebijakannya, ia mengilusikan jika suatu saat nanti anak-anak NTT bisa diterima di lembaga akademi atau universitas top nasional, lebih-lebih kelas dunia. Kemudian pascalulus studi, anak-anak itu akan menjadi generasi terbaik yang bakal memimpin negeri di masa depan. Sungguh, begitu menakjubkan gagasannya itu.

Sebagai insan yang berkhidmat di dunia pendidikan, penulis tentu mengapresiasi positif langkah kepala daerah yang konsen memajukan bidang tersebut. Sikap demikian ini ditunjukkan penulis bukan tanpa alasan. Penulis mengimani soal afwah pendidikan yang berbentuk sekolah, antara lain sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kalau kata orang kebanyakan, sekolah adalah wujud investasi untuk mengubah nasib manusia di masa depan. Begitulah orang-orang berharap penuh kepada tuah bernama sekolah ini. Namun begitu, menilik pada problem gagasan yang dicetuskan Gubernur Nusa Tenggara Timur, penulis tampaknya perlu memberi “pandangan lain” sebagai respon ketidaksepakatan atas penerapan regulasi tersebut.

Pendidikan di negara kita yang diwujudkan melalui sekolah, kiwari memang sudah dipayungi konstitusi yang kuat. Alih-alih mantap dalam pelaksanaannya, justru sering kali pendidikan kita terjebak pada peraturan di tingkat regional yang sifatnya kontraproduktif. Polemik masuk sekolah pukul 05.30 pagi ini misalnya. Dari kejadian ini tentu sebagai praktisi di bidang pendidikan kita patut bersikap skeptis dengan melontarkan pertanyaan, sudahkah para pemangku kebijakan merumuskan regulasi yang berbasis kajian ilmiah? Atau barangkali melalui pertanyaan lain yang muaranya identik, sudahkah mempertimbangkan kebijakan terdahulu seperti gagasan Sekolah Ramah Anak sebagai pijakan dalam perumusan kebijakan?

Islah Kebijakan

Adagium “Pengalaman adalah guru terbaik” bagi orang-orang kita sepertinya hanya dianggap mantra penghibur diri dan pelengkap kegagalan belaka. Toh, hal itu tidak berefek signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk bagi para pengambil kebijakan. Sebab, jika gagasan Gubernur Nusa Tenggara Timur itu sudah dipikirkan sungguh-sungguh dengan para pakar dan stakeholder sekolah, tentu tidak akan banyak mengundang polemik dari berbagai kalangan bukan? Bergayut dengan hal tersebut, hemat penulis, pemimpin yang hendak memajukan daerahnya sudah semestinya merumuskan kebijakan atau regulasi yang berbasis riset. Sebagai pengingat, di Tahun 2014 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPPA) membidani lahirnya Sekolah Ramah Anak (SRA) guna memenuhi hak dasar anak. Warisan inilah yang idealnya dijadikan sebagai dasar perumusan kebijakan sebelum regulasi ihwal jam masuk sekolah itu ketok palu di Provinsi NTT.

Kebijakan tentang Sekolah Ramah Anak (SRA) dalam tulisan ini menjadi penting posisinya. Sebab amanat yang termuat dalam kebijakan tersebut cukup komprehensif dalam mengakomodasi kebutuhan peserta didik dari tingkat prasekolah sampai tingkat atas. Artinya, pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga sekolah sudah sepatutnya memenuhi hak-hak dasar peserta didik tanpa terkecuali. Untuk mewujudkannya, para pemangku kebijakan dan pengelola sekolah bisa mulai memetakan potensi lembaga yang dipimpin dengan memahami gagasan Sekolah Ramah Anak (SRA) secara esensial. Selain itu, perlu pula mengubah perspektif terhadap anak dari yang semula objek belajar menjadi subjek belajar.

Sekolah Ramah Anak (SRA) menjadi tameng utama bagi negara untuk melindungi hak-hak dasar anak yang sedang menempuh pendidikan. Dalam buku Pedoman Sekolah Ramah Anak (SRA) terbitan Deputi Tumbuh Kembang Anak tahun 2020 lalu, termuat hal-hal mendasar dan menyeluruh. Dua di antaranya adalah prinsip-prinsip dan kondisi yang diharapankan. Sekolah Ramah Anak (SRA) memiliki prinsip yang diturunkan dari hak dasar anak, antara lain kepentingan terbaik bagi anak, non diskriminasi, partisipasi anak, kelangsungan hidup dan perkembangan, juga pengelolaan sekolah yang baik. Prinsip-prinsip utama tersebut tercermin dalam tagline BARIISAN yang sebetulnya merupakan perwujudan dari kondisi yang diharapkan. Tagline BARIISAN ini dibentuk dari akronim kata dasar Bersih, Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman, dan Nyaman.

Teori yang menyatakan bahwa orang dewasa tak perlu menarik masa lalunya agar kembali merasakan menjadi anak-anak, tampaknya harus dilaksanakan betul oleh para pemimpin bangsa ini. Kuncinya, cukup berperspektif dan berpihaklah saja kepada anak-anak ketika merumuskan sebuah kebijakan. Lantas, regulasi yang memaksa peserta didik sekalipun mereka sudah masuk pada fase remaja akhir untuk beraktivitas di luar batas kewajaran waktu, bukankah menyalahi prinsip dasar Sekolah Ramah Anak (SRA) yang diinisiasi oleh Kemen PPPA?

Sebagai wujud refleksi dan ikhtiar menuju islah kebijakan, adanya kasus demikian ini tentu membuka peluang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam proses pembangunan. Masyarakat dengan didukung masifnya penggunaan jejaring sosial, saat ini semakin leluasa untuk turut mengawasi, mengontrol, dan mendorong pemerintah daerah maupun pusat, agar semakin produktif dalam menelurkan kebijakan yang prorakyat. Sementara, sebagai civitas kampus UIN Gus Dur yang senantiasa menjunjung spirit kemanusiaan. Kita diharapkan oleh masyarakat luas untuk cerdas dan elegan dalam merespon keadaan jika terjadi anomali kebijakan; misalnya mengonter via tulisan.

Biodata Penulis:

*Abdul Mukhlis adalah dosen di FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat ini tinggal di Setono, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.