Meraih Keberkahan Ramadhan Warga Desa Rowolaku: Tradisi dan Kebiasaan Menyucikan Jiwa

Penulis: Amma Chorida, Editor: Amarul Hakim

Bagi umat muslim Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan. Sehingga kedatangan bulan Ramadhan ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Seperti halnya bergotong-royong membersihkan masjid, ada juga sebagian daerah yang mengadakan tradisi nyekar (mendoakan sanak keluarga dimakam), mengenggan (ziarah ke makam wali), dan ada juga yang menyusun agenda kegiatan di bulan Ramadahan. Ketika sudah ditetapkan awal Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan hati umat muslim bersuka cita.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyampaikan doa Rasulullah menyambut bulan Ramadhan. Rasulullah meminta kepada Allah keberkahan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Menghidupkan malam Ramadhan bagian dari ibadah menyucikan diri. Secara bahasa Ramadhan mempunyai arti panas yang membakar. Jika ditelisik makna tersebut rupanya memberi kiasan membakar dosa-dosa umat muslim. Dikutip dari kajian dari KH Ahmad Misbah, sebagaimana yang terkandung dalam hadis “ Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu istimewanya, moment-moment tertentu saja yang hanya ada di bulan Ramadhan. Istilah BukBer (buka bersama) selalu melekat dibenak masyarakat. Adanya bukber dari sanak keluarga, saudara, teman hingga tetangga pun mampu menjadi pelekat rasa kebersamaan. Belum lagi sebagian masyarakat yang enggan ke masjid, sholat tarawih menjadi keharusan untuk sholat berjama’ah. Selain itu, ada tong-tonglek yaitu membangunkan orang sahur dengan menabuh ketongan oleh anak-anak. Masih banyak moment-moment yang menjadi tradisi di bulan Ramadhan. Fenomena ini mengajarkan ukhuwwah, mendidik diri sendiri supaya saling mencintai dan peduli.

Keteladan Rasulullah mengugah seluruh umat menjalani Ramadhan dengan ibadah spesial. Termasuk warga Desa Rowolaku mempunyai ciri khas kemaslahatan berbalut nilai agama. Desa Rowolaku berada di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Semenjak berdirinya UIN K.H Abdurrahman Wahid mengubah peradaban desa Rowolaku. Tersebarnya pondok pesantren yang bermitra dengan pihak UIN memberi label desa Rowolaku sebagai kawasan mahasantri. Pondok pesantren Bustanul Masuriyah menjadi induk pesantren di desa Rowolaku. Dari hal tersebut juga mempengaruhi lingkungan warga, apalagi moment bulan Ramadhan.

Menggemakan Lantunan Al Qur’an

Dalam bulan Ramadhan tadarus dimaknai sebagai ritual membaca dan menyimak al-Qur’an. Umumnya tadaraus tidak harus dilakukan di masjid, karena Ramadhan ternyata menuai kesadaran masyarakat untuk menghidupi masjid. Masjid di desa Rowolaku sebagai tempat utama menggemakan tadarus al-Qur’an dan pengajian rutinan. Warga Desa Rowolaku dari berbagai kalangan menganggap masjid tempat untuk menggalih ilmu agama. Adapaun waktu utama melakukan tadarus menurut An-Nawawi dalam kitab al-Adzkar yaitu malam hari. Disunnahkan membaca Al-Qur’an setelah shalat subuh dan antara waktu maghrib menuju isya. Namun, pada prinsipnya kapan saja diperbolehkan untuk melakukan tadarus. Seperti halnya di kawasan mahasantri desa Rowolaku, hampir setiap waktu santri-santri di pondok pesantren melantunkan Al-Qur’an. Pondok Itihadus Syafi’iyah Rowolaku memulai tadarus setelah waktu sahur menunggu waktu subuh. Kemudian pada malam harinya setelah sholat tarawih baik mushola Assalam, mushola Al-Qodir, mushola Nurul Dholam, masjid Usuludin, dan masjid jami’ Nurul Amal tadarus diisi oleh remaja. Umumnya mereka yang tergabung dalam organisasi IPNU-IPPNU Desa Rowolaku.

Lantunan Al-Qur’an menggema desa Rowolaku mulai menjelang subuh sampai pukul 24.00 WIB. Hal inilah menandakan amaliyah tadarus menjadi sebuah kebiasaan dalam bulan Ramadhan. Sehingga dalam satu bulan hampir semua mushola dan masjid bisa khatam 3-4 kali menyesuaikan jumlah warga yang mengikuti tadarus. Penelitian dr Ahmed Al-Qadhi memberi informasi bahwa lantunan Al-Qur’an menimbulkan frekuensi energi positif. Bagi yang menyimak maupun sekedar mendengarkan saja ternyata latunan tadarus berperan menurunkan rasa kesedihan, memenangkan jiwa, memunculkan kebahagiaan dan menangkal berbagai macam penyakit. Dikutip dari artikel Universitas Islam Indonesia, dr Ahmed Al-Qadhi merupakan Direktur Utama Islamic Medicine Institute for Education and Research. Hasil penelitian menunjukan bahwa 65% lantunan Al-Qur’an berpengaruh merelaksasi ketegangan saraf manusia. Terlepas itu, kemaslahatan warga Desa Rowolaku tergambar memberi makanan riangan beserta minuman yang disebut dengan zaburan untuk para tadarus.

 

Mengalab Barokah Ngaji pasanan

Ramadhan sering dianggap sebagai ladang pahala bagi yang gemar mencari keberkahan Ilahi. Dengan dibekali keimanan dan niat kuat karena Allah ta’ala maka segala bentuk perbuatan akan bernilai ibadah. Tidak terkecuali meskipun sekedar duduk mendengarkan pengajian keagamaan atau ngaji pasanan (pasaran). Masyarakat jawa mengucapkan kata puasa dengan sebutan pasa, lalu pengajian selama bulan puasa Ramadhan dikenal dengan istilah pasanan. Tradisi ngaji pasanan yaitu ngaji kitab kuning bersama kiai atau ustadz melalui metode ceramah. Kitab kuning yang disampaikan merupakan karya ulama-ulama terdahulu terutama kalangan Nahdlatul Ulama. Selain itu, lamanya ngaji pasanan tidak lama sekitar 60-90 menit. Inilah sebagai jembatan warga Rowolaku untuk mendalami ilmu agama baik praktik maupun makna kitab

Pelaksanaan kegiatan ngaji pasanan di desa Rowolaku cukup sederhana yakni di pelataran masjid, pondok pesantren, dan tempat majelis. Pondok pesantren Jombang dan Lirboyo sudah lama mengadakan ngaji pasanan, konsistensai pengadaan dari kedua pondok tersebut membuat semua pondok salaf mengikuti untuk menyelengarakan ngaji pasanan setiap Ramadhan. Sebagaimana  “jadikanlah ilmu sebagai pegangan mengahadapi semua permasalahan. Karena surah al-alaq dan al-qolam bentuk pentih Allah supaya umat muslim membaca dan menulis yang mempunyai makna carilah ilmu” pesan ustadz Arif Chasanul Muna pengasuh ponpes Griya Santri Mahabah ketika pengajian Nuzulul Qur’an.

Semua kalangan baik anak-anak, remaja dan orang dewasa yang bukan santri mukim pondok pesantren bisa mengikuti ngaji pasanan. Pondok pesantren di desa Rowolaku mempersilahkan warga untuk menjadi santri kalong selama ngaji pasanan bulan Ramadhan. Keharmonisan memperoleh ridho Allah, menjadikan hampir seluruh santri kalong desa Rowolaku bisa menulis Arab pegon dan memaknai isi kitab. Selama bulan Ramadhan pondok pesantren membuka tiga waktu ngaji pasanan yakni setelah sholat subuh, sholat ashar dan setelah beberapa jam setelah sholat tarawih.

Selain pondok pesantren, tidak ketinggalan semua mushola dan masjid di desa Rowolaku membuka ngaji pasanan setelah selesai shalat subuh. Berhubung jama’ah ngaji pasanan mayoritas orang tua, para kiai menggunakan bahasa jawa. Perbedaan ngajai pasanan untuk orang tua ini cenderung seperti kultum. Akan tetapi, tetap saja mengunakan landasan kitab yang dimaknai per kata yang diterjemahkan dalam bahasa jawa. Dalam penyampaiannya diawal maupun diakhir ngaji pasanan, kiai juga menuntut para jama’ah untuk bersholawat supaya tidak mengatuk. Pada lingkup yang lebih kecil seperti oraganisasi khusus ibu-ibu fatayat juga mengadakan ngaji pasanan, hanya saja tempatnya bergilir dari rumah ke rumah setiap hari Jum’at pagi hari. Sebelum pengajian diisi sholawat burdah dilanjut  ceramah kitab Syafinatun Najah.

Dari sini keberkahan Ramadhan selalu tercurah bagi siapa saja yang sengan dengan ikhlas mengumpulkan amaliyah. Perkembangan zaman akan terus mengeser tradisi Ramadhan, bisa saja pemicu faktornya banyak mahasiswa dan pendatang di desa Rowolaku. Sehingga konsep ngaji pasanan yang sekarang, para kiai ataupun ustadz menyelingi dengan bahasa Indonesia dan mempadukan permasalahan masa kini. Kemudian adanya tadarus memberi nuansa kenikmatan bulan Ramadhan. Karena sepanjang jalan lantunan Al-Qur’an memberi ketenangan jiwa.  Pembagian takjil gratis dan bersedekah terhadap sesama juga bisa menjadi alternatif berburu keberkahan di bulan Ramadhan. Tetapi menjadi sangat penting ilmu yang melandasi amal ibadah tersebut.

Ramadhan di Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Waktu Refleksi dan Integrasi

Penulis: Agus Arwani, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Ramadhan merupakan bulan suci umat Islam yang membawa suasana spiritual yang mendalam dan berkesan, khususnya dalam lingkungan kampus. Kehadiran kampus dan peranannya dalam bulan Ramadhan dapat dimanfaatkan menjadi ruang bagi pertumbuhan personal dan pemahaman lintas budaya. Sehingga, selain menjadi tempat pembelajaran akademis, kedatangan bulan Ramadhan dalam keseharian civitas akademika kampus turut berperan dalam mempromosikan keberagaman dan kesadaran spiritual. Hal ini nampaknya telah diterapkan di kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menuntut pemahaman tentang bagaimana institusi tersebut menyatukan nilai-nilai Islam (Islamic values) dengan pendidikan modern. Sebagai Universitas Islam Negeri, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tidak hanya menyediakan pendidikan akademik yang berkualitas (quality education), tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan (religious values) dan kebudayaan Islam dalam kegiatan sehari-hari, termasuk selama bulan Ramadhan.

Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui tiga hal. Pertama, sebagai kampus dengan mahasiswa yang mayoritas Muslim, mereka mendapatkan kesempatan unik untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial. Di bulan suci ini, aktivitas akademik dan keagamaan berjalan beriringan, menciptakan keseimbangan antara pencarian ilmu duniawi dan ukhrawi. Beberapa perwujudannya ialah melalui pengajaran dan praktik ibadah seperti sholat tarawih bersama, tadarus Al-Quran, dan pengajian ramadhan guna meningkatkan suasana keberkahan dan kebersamaan di kampus.

Kedua, Ramadhan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berfungsi sebagai platform untuk memperkuat jaringan sosial (social networking) dan dukungan antar mahasiswa. Kegiatan berbuka puasa bersama, baik yang diselenggarakan oleh universitas atau inisiatif mahasiswa, membantu membentuk komunitas yang erat. Melalui kegiatan-kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, dan dukungan emosional.

Ketiga, selain kegiatan-kegiatan sosial tersebut, di bulan Ramadhan ini pihak kampus membuka kesempatan untuk diadakannya sebuah dialog dan pemahaman lintas budaya. Kegiatan dialog atau diskusi tersebut didasarkan atas adanya keberagaman dalam hal praktik keagamaan, latar belakang etnis, serta perspektif keislaman dari setiap mahasiswa. Hal tersebut tentu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pemahaman keislaman serta rasa toleransi antar mahasiswa. Melalui kegiatan seperti seminar dan diskusi tentang Islam dan praktik Ramadhan bisa menjadi sumber informasi bagi mahasiswa non-Muslim dan sarana pertukaran budaya bagi semua.

Ramadhan memberi kesempatan bagi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan untuk mengekspresikan komitmennya pada keberlanjutan (development) dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti pengumpulan dan distribusi zakat fitrah dan kegiatan amal lainnya tidak hanya mendukung mereka yang membutuhkan di dalam dan di luar kampus, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial (social values) dan kepedulian dalam diri mahasiswa.

Namun demikian, untuk dapat memanfaatkan kesempatan ini bukanlah suatu hal yang mudah. Ada beberapa tantangan yang muncul, seperti menyesuaikan jadwal kuliah dengan waktu ibadah dan berbuka puasa. Ini membutuhkan fleksibilitas dan pengertian dari pihak universitas serta upaya proaktif untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung bagi mahasiswa yang menjalankan ibadah puasa. Dan kegiatan-kegiatan lainya yang juga harus menyesuaikan jadwal perkuliahan.

Sehingga di bulan Ramadhan ini, kampus UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi Islam dapat menyelaraskan nilai keagamaan dengan kebutuhan pendidikan modern. Hal ini menunjukkan bagaimana institusi dapat menggunakan waktu khusus ini untuk mengajarkan nilai-nilai penting seperti solidaritas, empati, dan toleransi, serta mendukung pengembangan pribadi dan spiritual mahasiswa. Sebab, bukan hanya tentang tradisi atau ritual keagamaan saja, tetapi membangun karakter, masyarakat, dan persiapan untuk kehidupan di dunia yang serba cepat dan multikultural juga merupakan suatu hal yang penting untuk di wujudkan. Dengan demikian, bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi sebuah kesempatan yang tak ternilai bagi civitas akademika (dosen dan mahasiswa)  dan pegawai kampus untuk terlibat dalam dialog, memahami perbedaan, dan membangun lingkungan yang inklusif dan harmonis.

Isra Mi’raj: Bentuk Keistimewaan Turunnya Perintah Shalat

Penulis: Aisyah Nurul Aini ,Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Dewasa ini semakin banyak orang muslim yang mulai meninggalkan kewajiban mereka dalam melakukan ibadah shalat. Padahal ibadah shalat yang diwajibkan sebanyak lima waktu dalam sehari ini merupakan ibadah yang memiliki banyak keistimewaan. Diantara keistimewaan shalat yaitu dapat dilihat dari segi penurunan perintahnya yang berkaitan erat dengan peristiwa Isra Mi’raj. IsraMi’raj merupakan perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil haram sampai ke Masjidil Aqsa, kemudian dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra Mi’raj ini terjadi pada tahun kesedihan atau yang biasa disebut ‘am al-khusni karena pada tahun itu Rasulullah ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam dakwah Islam yaitu Khadijah istri Rasulullah dan Abu Thalib paman Rasulullah.

Shalat menjadi ibadah yang diwajibkan baik dalam Al-Qur’an maupun teks-teks keagamaan Islam lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban shalat lima waktu. Namun dalam pelaksanaannya, masih saja banyak umat muslim yang meninggalkan ibadah shalat. Rasa malas dan jenuh menjadi fenomena umum dikalangan kaum muslimin terlebih mereka yang masih menginjak usia remaja. Di antara penyebab malasnya seseorang melaksanakan ibadah shalat yaitu pertama, terjadinya perkembangan teknologi yang kerap membuat lalai akan ibadah. Kedua, kurangnya pemahaman masyarakat terkait keistimewaan ibadah shalat dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai Isra Mi’raj yaitu Q.S. Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Mayoritas Ulama tafsir menyatakan bahwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat istimewa. Hal tersebut ditunjukkan melalui pengunaan lafadz Subhana pada awal ayat yang menerangkan Isra Mi’raj. Lafadz Subhana yang berarti “Maha Suci” ini hanya terdapat pada awal Surah Al-Isra dan tidak terdapat pada 113 surah lainnya. Dengan adanya hal tersebut nyata bahwa Isra Mi’raj ini merupakan peristiwa dahsyat sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap hamba-Nya yang paling istimewa yaitu Rasulullah SAW.

Puncak dari peristiwa IsraMi’raj yaitu diperintahkannya shalat lima waktu. Shalat menjadi ibadah yang istimewa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, karena perintahnya datang bersamaan dengan peristiwa agung yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah kehidupan manusia. Shalat menjadi cara spiritual bagi seorang hamba untuk naik derajat spiritual menuju Sang Maha Spiritual. Shalat juga dapat menjadi benteng yang mencegah perbuatan keji terhadap sesama mahluk hidup yang mana hal tersebut hanya bisa dimiliki oleh manusia yang memiliki derajat spiritual.

Dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah yang jelas disebutkan kewajibannya dalam Al-Qur’an dan teks-teks keagamaan Islam lainnya. Namun sayangnya masih banyak orang-orang yang mengaku muslim namun enggan melaksanakan shalat. Salah satu penyebab keengganan mereka dalam melaksanakan shalat adalah karena kurangnya pemahaman mereka terhadap pemaknaan shalat. Mereka kurang memperhatikan bahwa shalat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW langsung tanpa adanya perantara. Perintah ibadah shalat diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra Mi’raj. Isra’ Mi’raj menjadi cara Allah untuk menghibur Nabi yang ketika itu baru saja ditinggal wafat oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, juga sebagai cara Allah menunjukkan keagungan kuasanya. Hal itu sebagai bukti anugerah dan kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW juga sebagai bentuk kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya.

Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Rekonstruksi Paradigma Isra’ Mi’raj Melalui Pendekatan Harmonisasi Sains dan Agama Bagi Anak Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dalam sejarah Islam, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang sarat akan makna spiritual. Masyarakat muslim pada umumnya mengetahui peristiwa Isra’ Mi’raj ialah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atas perintah Allah swt. Dengan didampingi malaikat Jibril, Rasulullah melakukan perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerusalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha, dan menerima perintah shalat.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Seperti diantaranya nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang yang dimiliki Rasulullah dan diberikan kepada umatnya dengan negosiasi Rasulullah kepada Allah swt. terkait perintah shalat. Selain itu, melalui peristiwa ini Allah swt. memberikan anugerah bagi umat-Nya yang dicontohkan kepada diri Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Hingga tahun terjadinya peristiwa tersebut dinamakan sebagai ‘Amul Khusni. Atas kejadian tersebut, Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang berduka. Dengan terjadinya peristiwa isra’ mi’raj yang kemudian menjadi tonggak atas turunnya perintah sholat lima waktu, serta menjadikan sholat sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan umat Islam dan akan menjadi sebuah pertanggung jawaban yang ditanyakan di yaumil kiyamah kelak.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut ternyata bukan hanya sebuah kejadian yang memiliki makna spiritual saja. Namun, Isra’ Mi’raj juga bisa dikaji melalui paradigma sains. Kajian inilah yang kemudian dapat menjadi bahan berpikir kritis anak muda kedepannya mengenai peristiwa-peristiwa bernuansa agamis yang tidak hanya dipandang dari segi agamanya saja, namun juga dapat dipandang melalui kacamata sains atau ilmu pengetahuan umum.

Apabila ditinjau dari Firman Allah swt. Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalam) saja? Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbesit dibenak umat islam yang memiliki pemikiran kritis. Oleh karena itu, pendekatan sains merupakan salah satu langkah dalam menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.

Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga seseorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Darisinilah kemudian paradigma harmonisasi sains dan agama diperlukan dalam memahami sebuah peristiwa yang bersifat spiritual yang kemudian dapat membuka pola pikir baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Pandangan sains memberikan perspektif kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadikan agama dan sains, yang sebelumnya dikatakan saling bertentangan beralih menjadi sebuah sudut pandang yang harmonis dan saling melengkapi. Pendekatan harmonisasi sains dan agama juga membantu umat Islam, khususnya generasi muda, untuk merancang pola pikir kritis dan analitis. Dengan demikian anak muda akan menjadi lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama dan memperlancar pemahaman yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.

Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990

Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48

Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.

Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641

Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35

Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa

Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373

Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143

Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.

Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.

Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Rekonstruksi Pemahaman Isra’ Mi’raj: Perspektif Interdisipliner Al-Qur’an dan Sains Untuk Generasi Muda

Penulis: Nadira Sya’baniyah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Dewasa ini pemahaman mayoritas muslim, khususnya generasi muda mengenai isra’ mi’raj masih sebatas pemahaman dogmatis bersifat transendental yang pengkajiannya hanya melalui pendekatan agama saja. Padahal sudah banyak teori-teori sains yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut sangat saintifik, tidak hanya transendental.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri merupakan suatu peristiwa penting sepanjang sejarah Islam yang sarat akan makna spiritual dan sudah mendarah daging dalam tradisi keagamaan masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Peristiwa isra’ mi’raj bagi masyarakat umumnya identik dengan peristiwa dimana Nabi Muhammmad saw. yang didampingi malaikat Jibril melakukan suatu perjalanan malam dengan mengendarai Buraq dari Masjidil Haram yang terletak di Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di Yerussalem (Sekarang Palestina), kemudian dilanjut naik ke langit menuju Sidratul Muntaha.

Kita bisa memetik hikmah dan ibrah (pelajaran) dari peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Nilai-nilai yang diantaranya bisa dijadikan ibrah mulai dari nilai kejujuran yang selalu melekat dalam diri Rasulullah, nilai musyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik yang beliau contohkan dengan Nabi Musa as., serta nilai kasih sayang. Nilai kasih sayang disini bukan hanya bisa dilihat dari sikap Rasulullah yang mau bolak-balik bernegosiasi dengan Allah untuk meminta keringanan bagi umat beliau.

Namun, nilai kasih sayang itu juga bisa dilihat dari bagaimana Allah memberikan anugerah bagi umat-Nya yang Ia contohkan kepada diri Muhammad saw. Saat itu Rasulullah sedang menghadapi ujian berat karena ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah (disebut ‘amul khusni). Sehingga Allah menjadikan peristiwa isra’ mi’raj ini sebagai penghibur Rasulullah yang sedang dirundung duka lara. Selain itu, peristiwa isra’ mi’raj ini juga menjadi bukti sekaligus penguat betapa penting dan utamanya ibadah salat 5 waktu ini. Bahkan salat diibaratkan sebagai tiangnya agama, dan salat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di yaumul qiyamah kelak.

Hanya sebatas itulah peristiwa isra’ mi’raj dipahami oleh sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Padahal jika kita resapi dan pahami lebih dalam, kajian ilmiah terkait peristiwa isra’ mi’raj ini tidak melulu berkutat pada pembahasan mengenai salat dan keutamannya saja. Tetapi bisa lebih luas dari pada itu. Terlebih bagi generasi muda yang saat ini hidup dalam realitas modern dan harus menghadapi tantangan dari pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Maka, dalam konteks saat ini dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang lebih relevan untuk menyingkap makna lain dibalik peristiwa isra’ mi’raj yang notabene-nya wajib diimani oleh setiap muslim. Pendekatan sains dengan berbagai metode dan teori dipandang dapat mengungkap realitas bagaimana fenomena alam yang pernah ada bisa terjadi, bahkan fenomena alam yang sulit dicerna akal sekalipun. Hal ini menyebabkan banyak fenomena alam yang pernah terjadi dan sebelumnya hanya dianggap sebagai sebuah mitos belakangan ini menemukan titik terang karena ternyata bisa dijelaskan melalui pendekatan sains.

Peristiwa isra’ mi’raj ini termasuk dalam peristiwa yang secara tidak langsung bersinggungan dengan sains. Bagaimana tidak, apabila kita cermati Qs. Al- Isra ayat 1 yang membahas mengenai peristiwa isra’, jelas Allah sebutkan dalam firman-Nya peristiwa luar biasa tersebut terjadi pada malam hari. Mengapa harus malam hari? Dan bagaimana mungkin perjalanan jauh semacam itu bisa ditempuh dalam waktu singkat (hanya semalaman) saja? Mungkin di benak sebagian orang yang berpikiran kritis akan muncul pertanyaan seperti yang telah disebutkan diatas. Nah, pertanyaan-pertanyaan tadi di era pesatnya ilmu pengetahuan seperti sekarang ini bisa dicarikan jawabannya melalui pendekatan sains.

Dalam ilmu fisika modern, kecepatan cahaya menjadi kecepatan paling tinggi. Teori-teori fisika mengenai cahaya menyebut tidak akan pernah ada benda yang bergerak dengan kecepatan setara atau bahkan melebihi kecepatan cahaya. Suatu benda yang mana benda tersebut bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perubahan waktu dan massa. Jika merujuk pada teori relativitas cahaya, massa benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami penambahan massa dari massa semula. Massa suatu benda berubah menjadi tidak terhingga dari semula keadaan diam hingga bergerak dengan kecepatan gerak mendekati kecepatan cahaya.
Dalam al-Qur’an ada beberapa peristiwa luar biasa yang apabila diamati ternyata berkaitan dengan teori relativitas ini. Salah satu peristiwa mengenai hal tersebut yang Qur’an ceritakan adalah peristiwa isra’ dan mi’raj. Pada Qs. Al-Isra’ ayat 1 terdapat kata asraa’ yang memiliki arti telah diperjalankan. Peristiwa isra’ ini tidak serta merta terjadi atas dasar kemampuan Rasulullah, namun ada campur tangan kehendak dan kekuasaan dari Allah. Dengan begitu, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghadap Nabi dan mengajak beliau untuk melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai Buraq.

Kita sebagai umat Islam percaya bahwa malaikat itu terbuat dari cahaya, begitu-pun dengan Buraq yang juga terbuat dari cahaya. Maka tidak heran, jika Jibril mampu membawa Rasulullah dengan perantara Buraq melintasi ruang dan waktu dalam sekejap saja karena kecepatannya mendekati atau bahkan bisa dianggap setara dengan kecepatan cahaya.

Dalam ayat pertama surat al-Isra’ tersebut juga terdapat kata lailan yang mempunyai makna malam. Jadi, peristiwa isra’ disini terjadi pada waktu malam hari. Bisa dibayangkan apabila Nabi melakukan isra’ di siang hari dengan keadaan besarnya radiasi sinar matahari. Hal ini tentu sangat membahayakan diri Rasulullah yang bukan terbuat dari cahaya. Sehingga pemilihan waktu pada malam hari dirasa sangat tepat.

Adapun yang menarik untuk dikulik juga dari dua peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah tersebut ialah Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika peristiwa tersebut berlangsung. Jika kita mengadopsi teori Heisenberg untuk menganalisis keterkaitan antara peristiwa isra’ dan mi’raj dengan teori fisika dalam sains, maka ditemukan batasan ketidakpastian pada saat mengukur dan memahami Buraq sebagai entitas energi.

Sehingga apabila kita mengukur Buraq sebagai sebuah entitas, bisa saja melebihi batasan yang sudah ada dalam fisika konvensional. Jadi, prinsip ketidakpastian ini mengakui bahwa kita sebagai manusia biasa punya keterbatasan pemahaman dalam upaya memahami entitas energi seperti Buraq, sebab keberadaannya dan unsur-unsur yang meliputinya bisa jadi melebihi pemahaman kita yang sifatnya terbatas dalam memahami fenomena-fenomena ghaib.

Terakhir, apabila kita mengacu pada konsep time travel Stephen Hawking yang berbicara mengenai kemungkinan melakukan perjalanan lintas waktu, sebagaimana yang sering kita lihat pada film-film bernuansa fiksi. Menurut Hawking, terdapat jalur yang bisa menghubungkan lintas ruang dan waktu, sehingga sesorang mungkin bisa berpindah dari satu waktu ke waktu lain.

Tetapi dalam hal ini, tetap saja kita memerlukan bantuan teknologi yang sangat canggih untuk bisa mencapai hal tersebut. Bahkan, sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa menghantarkan umat manusia untuk berpindah ke lintas waktu. Alhasil, konsep ini masih dianggap hanya spekulasi yang sulit direalisasikan. Ini membuktikan bagaimana kebesaran dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hamba terkasihnya Muhammad saw. dengan waktu yang begitu singkat.

Dari penjabaran diatas, bisa kita ketahui bersama bahwa peristiwa isra’ mi’raj mengandung unsur-unsur metaforis yang menjadi simbol kasih sayang dan kebesaran Allah Swt. Mengkaji isra’ mi’raj dengan kaca mata lain menghilangkan paradigma dogmatis kita yang secara serta merta menerima segala hal yang berasal dari agama, dan menganggap mengakaji atau mengkritisi hal tersebut sesuatu yang menyalahi dan dilarang.
Padahal kita sebagai generasi muda harus mampu menyelaraskan antara pemahaman agama yang berasal dari al-Qur’an dengan pemahaman umum, sesuai dengan jargon al-Qur’an yang dianggap shalih li kulli zaman wa makan. Dengan begitu, al-Qur’an bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan problem umat masa kini yang lebih kompleks ketimbang problem yang terjadi pada zaman dahulu.

Melakukan upaya rekonstruksi terhadap pemahaman mengenai isra’ mi’raj melalui perspektif sains dinilai penting untuk dilakukan guna membuka paradigma baru yang lebih holistik, komprehensif, dan kontekstual. Perspektif sains memberikan pandangan kritis yang lebih rasional dalam membaca fenomena-fenomena alam yang bersifat transendental.

Selain itu, bukan hanya memperluas pemahaman dan membuka paradigma baru saja, tetapi upaya pengkaitan interdisipliner tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa agama dan sains bukanlah dikotomi yang saling bertentangan, sebab bisa diintegrasikan. Dengan demikian, keraguan yang mungkin muncul pada saat melakukan upaya untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama bisa dihindari dan ditemukan jawabannya.
Pendekatan interdisipliner yang mengkaitkan antara al-Qur’an dan Sains juga membantu umat Islam, terutama bagi generasi mudanya untuk mengembangkan pola pikir kritis dan analitis mereka. Dengan begitu, mereka akan lebih mantap dalam meyakini hal-hal yang berkaitan dengan agama, yang sebelumnya sukar dinalar.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, D. (2023). MEMAHAMI ISRA ’ MI ’ RAJ MELALUI KONSEP TIME TRAVEL.
Albayrak, I., & Shueily, S. Al. (2022). Re-Evaluating the Notion of Isrâ and Mi’râj in Ibadi Tradition: With Special References to the Modern Sirah Readings. Religions, 13(10), 1–17. https://doi.org/10.3390/rel13100990
Celina, F. M., & Suprapto, N. (2020). Study of Relativity Theory of Einstein: The Story of Ashabul Kahf and Isra’ Mi’raj. Studies in Philosophy of Science and Education, 1(3), 118–126. https://doi.org/10.46627/sipose.v1i3.48
Devira Ul’ya Nafisa. (20 C.E.). ANALISIS WACANA KRITIS ATAS PENAFSIRAN RUANG ANGKASA DALAM TAFSIR RAHMAT KARYA OEMAR BAKRY. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology., 1–18.
Febri, I. W. N., & Muttaqien, M. (2023). Peradaban Islam Era Nabi Muhammad S.A.W. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 5(3), 2417–2428. https://doi.org/10.34007/jehss.v5i3.1641
Fitri, A., Aprida, D., Susanty, N., Fadhila Maulidah, N., Santi, N., & Nuriyah, S. (2023). Telaah Teori Relativitas Khusus Dalam Perpsektif Sains Dan Al-Qur’an. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 1(2), 348–359. https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index
Herdianti, D., Nisa, D. M. U., Kusniah, K., Puadah, D., Alviandi, R., Suhendi, A., Rahmatillah, A. M., & Muhria, L. (2023). Peringatan Hari Besar Islam Dalam Meningkatkan Sikap Keberagaman Masyarakat Di Desa Cidenok. MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 83–87. https://doi.org/10.58184/mestaka.v2i2.35
Indah Fitriya, N., Rahmawati, N., Syamsul Arifin, A., Bahasa Asing, J., Bahasa dan Seni, F., & Negeri Semarang, U. (2021). PEMAHAMAN ISRO’ MI’ROJ DALAM AL-QURAN. 10(2), 89–95. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa
Istiqomah, H., & Sholeh, M. I. (2020). The Concept of Buraq in the Events of Isra’ Mi’raj: Literature and Physics Perspective. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 5(1), 53. https://doi.org/10.29240/ajis.v5i1.1373
Rahmati, R. (2018). The Journey of Isra’ and Mi’Raj in Quran and Science Perspective. Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies, 4(2), 323. https://doi.org/10.20859/jar.v4i2.143
Shihab, Q. (2009). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Viera Valencia, L. F., & Garcia Giraldo, D. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peristiwa Isra Mikraj Perspektif Al Qur’an Dan Hadis Sahih. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2(2), 40–73.
Yunita, Y. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Pembelajarannya. Dewantara, 11(1), 125–131.
Zuhaili, W. (2014). Tafsir al Munir. Dar al Fikr.

Moderasi Beragama: Harmoni dalam Kehidupan Desa Linggoasri

Penulis: Dhimas Nur Afif Adji, Editor: Ika Amiliya N, Amarul Hakim

Indonesia, dengan kekayaan budaya dan keberagaman etnis serta agama yang dimilikinya, telah menjadi laboratorium unik bagi praktek moderasi beragama. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan rumah bagi berbagai komunitas agama lainnya seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya. Dalam konteks ini, moderasi beragama bukan hanya menjadi konsep teoretis, tetapi juga realitas sosial yang harus dihadapi dan diterapkan. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat terungkap bagaimana moderasi beragama menjadi kunci penting dalam memastikan keberlanjutan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Desa Linggoasri, salah satu desa di Kabupaten Pekalongan menjadi miniatur Indonesia karena keberagamannya, terutama keberagaman dalam hal agama. Hal tersebut tentu sangat menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui keberadaannya. Salah satunya oleh sekelompok mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjalankan studi riset di desa tersebut. Harmoni dan keindahan moderasi beragama menjadi ciri khas kehidupan sehari-hari warganya. Para mahasiswa berinteraksi dengan narasumber yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menanamkan prinsip moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat Linggoasri. Salah satunya adalah Taswono, seorang penganut Hindu, dan Mustajirin, seorang pemeluk agama Islam. Keduanya dengan tulus berbagi pandangan mereka tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan dan tetap terjaga di setiap tradisi keagamaan yang ada di Linggoasri.

Dalam tradisi Hindu, seperti dalam banyak tradisi keagamaan lainnya, moderasi atau kedamaian dalam beragama sering kali diterapkan melalui ajaran moral dan etika yang mendalam. Salah satu konsep yang mendasari moderasi beragama dalam konteks Hindu adalah Catur Pramita, yang berarti “empat kemuliaan sempurna” atau “empat kualitas yang luhur”. Catur Pramita ini mencakup:

  1. Maitri: Maitri diterjemahkan sebagai “kasih sayang” atau “cinta kasih”. Ini adalah perasaan kasih sayang tanpa pamrih yang diperluas kepada semua makhluk tanpa terkecuali. Dengan mengembangkan Maitri seseorang berupaya untuk mengembangkan perasaan kebaikan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
  2. Karuna: Karuna diterjemahkan sebagai “belas kasih” atau “kasih sayang mendalam”. Ini adalah empati yang mendalam terhadap penderitaan makhluk lain dan keinginan kuat untuk mengurangi atau mengakhiri penderitaan tersebut. Karuna mendorong seseorang untuk bertindak dengan kebaikan dan membantu orang lain dalam kesulitan.
  3. Mudita: Mudita diterjemahkan sebagai “kesenangan atas keberuntungan orang lain” atau “kegembiraan bersama”. Ini adalah perasaan sukacita yang timbul ketika seseorang melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kebaikan orang lain. Mudita mengajarkan seseorang untuk merasa gembira dan bersyukur atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain, tanpa rasa iri atau dengki.
  4. Upeksha: Upeksha diterjemahkan sebagai “ketenangan pikiran” atau “keseimbangan”. Ini adalah sikap pikiran yang stabil dan tenang dalam menghadapi berbagai keadaan, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Upeksha mengajarkan seseorang untuk tetap netral dan tidak terjebak dalam emosi yang berlebihan, sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Selanjutnya, dari perspektif keagamaan Islam, warga Desa Linggoasri berpegang teguh pada empat prinsip utama Alhu sunnah wal Jamaah, yakni:

  1. Tasamuh (Keterbukaan): Tasamuh merujuk pada sikap terbuka dan menerima keberagaman pendapat serta kepercayaan dalam komunitas. Hal ini menegaskan penghormatan terhadap variasi dalam agama, budaya, dan pandangan dunia.
  2. Tawasuth (Ketengah-tengahan): Tawasuth menandakan pentingnya memelihara ketengahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, pekerjaan, dan interaksi sosial, tanpa terjerumus ke dalam ekstremisme atau perilaku berlebihan.
  3. Taadul (Keadilan): Taadul berbicara tentang prinsip keadilan yang memastikan bahwa setiap individu diberikan hak yang sama dan semua keputusan diambil berdasarkan prinsip keadilan, tanpa adanya diskriminasi atau ketidakadilan.
  4. Tawazun (Keseimbangan): Tawazun mengajak untuk menjaga harmoni dalam setiap aspek kehidupan. Ini mengingatkan kita untuk memiliki pendekatan yang seimbang terhadap tuntutan agama, tugas, dan interaksi sosial, serta menghindari ekstremisme atau perilaku yang berlebihan.

Di tiap sudut Desa Linggoasri, nuansa damai selalu terasa. Melalui nuansa ini, kita diajak untuk menghargai keberagaman dan mempromosikan semangat persatuan. Bersama-sama, Desa Linggo Asri menjadi simbol di mana moderasi keagamaan bukan hanya konsep, tetapi juga menjadi prinsip hidup yang dijalankan dengan kasih sayang.

Menelisik Moderasi Beragama Dalam Perspektif Islam dan Hindu di Desa Linggoasri

Penulis: Ikmalina Rokhmah, Editor: Azzam Nabil Hibrizi

Desa Linggoasri merupakan miniatur nusantara. Bagaimana tidak? Desa ini memiliki berbagai macam agama yang hidup berdampingan. Dalam kesehariannya, mereka jarang sekali menjumpai konflik ataupun pertikaian antar agama. Hal ini menjadi bentuk kerukunan antar agama, dan tentu tidak akan terwujud apabila tidak menerapkan sikap yang moderat. Sehingga dengan demikian, moderasi beragama merupakan sebuah hal yang penting untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Apabila ditinjau dari berbagai macam sudut pandang keagamaan, moderasi beragama memiliki pemaknaan yang berbeda, namun intinya adalah bagaimana sikap moderat tersebut dapat menjadi pondasi dalam mengimplementasikan sikap toleransi dan semacamnya dalam bermasyarakat.

Menurut Bapak Taswono, tokoh agama Hindu, beliau menjelaskan dasar-dasar moderasi beragama dalam Agama Hindu, yang digambarkan seperti sebuah bangunan rumah, dengan pondasi, tiang, dan atap yang harus bersinergi. Beliau menyampaikan, sebagai pondasinya, dalam agama Hindu ada kaidah “Catur Parama Arta”, meliputi: 1. Darma (kewajiban), 2. Jenana (pengetahuan) dan Wijnana (kebijaksanaan), 3. Ahimsa Parama Darma (tidak melakukan kekerasan), 4. Bakti Rukyata (bakti dengan rasa tulus ikhlas didedikasikan untuk Sang Hyang Widi, yakni Tuhan).

Selanjutnya, ada pilar-pilar moderasi beragama yang mana juga digambarkan sebagai tiang suatu rumah: 1. Maitri (sifat untuk menumbuhkan kasih sayang), 2. Karuna (toleransi), 3. Upeksa, dan 4. Udita (sikap simpatik). Sementara atapnya, menurut beliau: 1. Satwam, 2. Siwam sundaram, dan 3. Syastu. Kemudian isinya: 1. Darma (kebajikan), 2. Artha (kebutuhan hidup) 3. Muksa. Menurut Bapak Taswono, tujuan dari konsep moderasi beragama dalam agama Hindu adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Bapak Taswono juga menekankan pentingnya sikap terbuka, menghargai perbedaan, rendah hati, dan saling memaafkan dalam mendasari sikap moderasi.
Kemudian, tokoh agama Islam, Bapak Kiai Mustajirin, juga menyampaikan bahwa moderasi beragama dalam ajaran islam yang diantaranya 1. I’tidal (tegak lurus), 2. Tawazun (Seimbang), 3. Tasamuh (Toleransi) 5. Ukhuwah wathaniyah (persaudaraan), yang berarti menekankan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap sesama saudara. Terlebih Allah swt. juga sudah menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berdasarkan ayat tersebut, Islam juga mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah menjadi sebuah rintangan untuk dapat hidup damai berdampingan. Bahkan apabila ingin menyampaikan dakwah mengenai ajaran Islam pun, dilarang untuk memakai kekerasan atau paksaan. Sehingga Islam dalam hal ini juga mengutamakan sikap moderat, yang salah satunya adalah toleransi.

Dari kedua ajaran tersebut saja sudah dapat dilihat bahwa semua ajaran keagamaan tentu sudah seharusnya menjunjung tinggi sikap moderat. Hal ini sangat penting, karena mewujudkan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama, apabila tidak diiringi dengan sikap moderat, maka akan mudah terpecah belah karena perbedaan pendapat, sudut pandang, serta ajaran dari setiap agama yang dapat memicu konflik dan pertikaian atau bahkan perang saudara.

Pilpres 2024: Pendidikan Sebagai Panglima, Tantangan yang Terabaikan dalam Visi-Misi Pendidikan

Penulis: Nanang Hasan Susanto, Editor: Amarul Hakim

Hiruk pikuk Pilpres 2024 mulai berakhir dengan munculnya hasil Quick Count. Untuk Pemilihan Presiden, hasil Quick Count dari berbagai Lembaga survey menunjukkan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran dalam satu putaran. Meskipun demikian, masih banyak pernak-pernik pemilu yang dapat menjadi bahan renungan dan evaluasi. Diantaranya adalah konten debat Capres terakhir.

Debat Capres terakhir yang berlangsung tanggal 4 Februari 2024 mengusung tema Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Berbagai tema yang diusung ini saling berkaitan antara satu dan lainnya.

Tulisan ini mengelaborasi dari aspek pendidikan. Banyak pihak menyebut, pendidikan merupakan aspek penting yang sangat berpengaruh bagi kehidupan sebuah Bangsa. Akan dibawa kemana arah perjalanan Bangsa, sangat ditentukan oleh sistem pendidikan yang dijalankan.

Contoh yang sering disebutkan untuk menggambarkan pentingnya pendidikan pada sebuah Negara adalah Jepang. Setelah Negaranya hancur akibat serangan bom Atom di Kota penting Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menata ulang pembangunan Negaranya melalui pendidikan.

Kaisar Hirohito menata ulang sekaligus melakukan reformasi besar-besaran di bidang pendidikan. Diantara klausul reformasi itu adalah penghapusan doktrin keagamaan, membebaskan pendidikan dari pengaruh militerisme serta nasionalisme, mendorong pendidikan yang inklusif, serta berorientasi pada kemajuan individu. Hasilnya, meskipun hingga saat ini reformasi kebijakan Hirohito mengundang kontroversi, faktanya, dalam waktu relatif singkat, Jepang mengalami masa yang disebut sebagai “keajaiban ekonomi”, menjadi Negara yang disegani, bersaing dengan Negara yang dulu mengalahkannya pada perang dunia ke-2.

Sayangnya, debat terakhir yang disampaikan Capres, lebih banyak menyinggung aspek pendidikan pada tataran teknis, ketimbang menyelesaikan problem pendidikan yang fundamental. Misalnya saja, pasangan Anis-Muhaimin menjanjikan semua siswa lulusan SD dipastikan harus melanjutkan sekolah hingga SMA, sekaligus menekan angka putus sekolah. Paslon ini juga menjanjikan akan memperluas akses sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, meningkatkan kesejahteraan Guru dan tenaga Pendidikan, serta pengangkatan tenaga kependidikan honorer secara meritokrasi. Terkait Pendidikan agama, paslon ini menjanjikan revitalisasi fasilitas fisik sekolah dan madrasah berbasis agama.

Paslon Prabowo-Gibran berjanji meningkatkan kwalitas guru, merenovasi sekolah, pengembangan fasilitas pendidikan, menyediakan dana abadi pendidikan dan pesantren, serta membangun berbagai sekolah unggul yang terintegrasi di setiap kabupaten. Paslon Ganjar-Mahfud berjanji sekolah dapat gaji, lulus jaminan kerja, kuliah gratis untuk anak TNI dan POLRI, guru Agama digaji, satu keluarga miskin satu sarjana serta mendorong disabilitas untuk mandiri dan berprestasi.

Berbagai visi pendidikan yang disampaikan ketiga Paslon diatas, mayoritas diarahkan pada aspek kesejahteraan, serta pembangunan fisik. Tidak ada yang dapat memungkiri, aspek tersebut memang penting. Namun demikian, aspek tersebut belum menyinggung problem fundamental pendidikan di Indonesia. Ada beberapa problem fundamental yang harus dipikirkan secara serius. Diantaranya adalah:

  1. Independensi Pendidikan

Saat ini, independensi pendidikan ternodai dengan adanya Permenristekdikti No. 19 Tahun 2017 tentang pengangkatan dan pemberhentian pemimin Perguruan Tinggi Negeri. Regulasi tersebut menetapkan, bahwa penentuan pemilihan, sekaligus pemberhentian pimpinan Perguruan Tinggi dilakukan oleh Menteri terkait.

Pimpinan kampus memiliki peran penting dalam pengembangan keilmuan. Mereka memiliki hak kuasa anggaran untuk menentukan berbagai program kampus. Jika pimpinan Kampus dipilih sekaligus bisa diberhentikan oleh Menteri, maka aspek pengembangan keilmuan terancam disandera oleh kepentingan politik. Menteri sendiri merupakan jabatan politik. Maka, bukannya fokus pada pengembangan keilmuan, fokus pimpinan kampus terancam hanya mengikuti “pesanan” dari Menteri.

Kondisi diatas diperparah dengan kebijakan baru mengenai aturan kepangkatan Dosen. Berdasarkan aturan Permenpan RB No. 1 Tahun 2023, kenaikan kepangkatan Dosen ditentukan oleh penilaian atasan. Seharusnya, jika fokus pada pengembangan keilmuan, kepangkatan Dosen ditentukan berdasarkan karya ilmiah yang memastikan berkembangnya keilmuan. Jika berdasarkan penilaian atasan, sangat berpotensi terjebak pada aspek politik atau like and dislike. Terlebih, pimpinan tertinggi kampus dipilih oleh Menteri.

Selain itu, otonomi pendidikan juga perlu dilakukan dengan memberikan aakses seluas-luasnya bagi temuan keilmuan untuk dikembangkan. Alasan kepentingan, termasuk bisnis, berpotensi membonsai pengembangan keilmuan, menjadi hanya sekedar formalitas belaka. Harus ada regulasi yang memastikan temuan keilmuan anak Bangsa dapat dikembangkan oleh pelaku industri, jasa, pertanian, perdagangan dst.  Tentu pengembnagan tersebut setelah melalui pertimbangan para ahli di bidangnya, dengan memperhatikan berbagai aspek.

Jika mau menjadi Bangsa yang besar, pendidikan harus steril dari kepentingan dan politik dalam bentuk apapun. Berbagai temuan dalam pengembangan keilmuan yang dihasilkan dari pendidikan, harus didorong untuk berkembang seluas-luasnya. Jangan sampai karena tersandera oleh birokrasi, berbagai temuan keilmuan hanya disimpan di laci akademik. Pendidikan dan pengembangan keilmuan harus independen. Tugas Negara adalah mendorong serta menfasilitasi, agar pendidikan dan pengembangan keilmuan terus berkembang. Bukannya malah mengintervensi secara politis.

  1. Diskriminasi pendidikan agama

Di Indonesia, pendidikan agama merupakan salah satu pelajaran wajib yang harus ada pada semua lembaga pendidikan formal. Hal ini sesuai regulasi UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, khususnya pasal 37 ayat 2. Masalahnya, tidak semua sekolah menyediakan guru agama, sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa, khususnya dari kalangan minoritas.

Penulis pernah melakukan wawancara kepada beberapa penganut agama lokal seperti Agama Djawa Soenda di Kuningan. Parmalim di Toba dan Sapta Dharma di Jogja. Hasil wawancara menyebutkan, bahwa untuk pendidikan agama di sekolah formal, mereka kerap mengalami diskriminasi. Misalnya harus mengikuti pelajaran agama mayoritas, bahkan terkadang harus mengikuti ritual dan perayaan hari besar mereka.

Indonesia merupakan Negara besar. Agama yang mayoritas pun, bisa jadi pada sebuah daerah tertentu menjadi agama minoritas. Misalnya, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, di Papua, dia menjadi agama minoritas. Jika pendidikan agama warga tertentu mengalami diskriminasi pada sebuah daerah, bisa jadi dia akan membalas ketika berada pada wilayah yang mayoritas. Kondisi saling balas ini bisa jadi akan berlangsung terus-menerus, tanpa ada habisnya.

Indonesia merupakan Negara yang multi agama dan kepercayaan. Maka, dibutuhkan regulasi sekaligus upaya serius untuk menjaga kaum minoritas dari diskriminasi pendidikan agama.

  1. Efektivitas Kurikulum

Filosofi pendidikan sederhananya membekali siswa untuk bisa hidup. Untuk bisa hidup, Pendidikan perlu mengenali potensi peserta didik, sekaligus mendorongnya berkembang. Masalahnya, kurikulum pendidikan saat ini terlalu banyak. Ada tuntutan pemerintah, pesanan pasar, norma agama dst, tanpa memperdulikan potensi, karakteristik dan kecenderungan siswa.

Kurikulum, idealnya bersifat praktis, sekaligus sesuai dengan minat dan bakat siswa. Bukannya terlalu banyak titipan yang yang justru malah membingungkan. Catatan Kompas tanggal 27 Nopember 2023 yang mengangkat tema “Pengangguran Lulusa Perguruan Tinggi Meningkat”, menyebutkan, angka pengangguran terdidik di Indonesia meningkat, meskipun angka pengangguran secara umum turun karena pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya angka pengangguran terdidik ini menunjukkan, kurikulum pendidikan kita belum mampu membekali mahasiswa untuk bisa “hidup”. Jika Pendidikan membekali siswa untuk bisa hidup, maka, idealnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah dia dapat bekerja atau berwiraswasta.

Sayangnya, ketiga problem pendidikan diatas belum tersentuh pada debat terakhir Capres. Padahal, ketiganya merupakan aspek fundamental. Mayoritas visi Pendidikan yang disampaikan Capres hanya berada pada tataran teknis, terkesan cari aman, untuk mendapatkan simpati pemilih secara pragmatis. Padahal, perlu pemikiran yang kritis, mendalam dan komprehensif, untuk mengurai berbagai problem pendidikan di Indonesia.

Pada demokrasi langsung, dimana tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, mengangkat isu sensitif memang sangat beresiko bagi para kandidat. Isu seperti pendidikan agama dan perombakan kurikulum, bisa jadi bukan isu seksi, sehingga dapat mengancam elektabilitas kandidat. Diperlukan pengawalan bersama untuk membentuk sistem pendidikan yang kritis dan komprehensif, menuju Indonesia yang lebih baik.

Perspektif Tasawuf: Menganalisis Pemahaman Islam yang Dangkal dan Radikalisasi Generasi Muda

Penulis: Imam Kanafi, Editor: Nanang

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melalui penelitian mereka menyimpulkan bahwa pemahaman Islam garis keras yang kini menyerang generasi muda berkembang karena pembelajaran agama yang bersifat instan dan dangkal. Mayoritas generasi muda belajar Islam melalui internet dan sumber-sumber lain yang bukan naskah asli, seperti edisi terjemahan, sehingga menimbulkan kesalahan penafsiran. Padahal, Islam, jika dipahami dengan benar, adalah agama yang membawa kedamaian dan keharmonian.

Abdul Muta’ali mengungkapkan bahwa banyak kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an, yang pada gilirannya memicu radikalisme dan tindakan teroris atas nama agama. Kesalahan tersebut sering kali terletak pada aspek gramatikal dan budaya Arab yang menjadi bahasa Al-Qur’an.

Contohnya, kata “qaatilu al musyrikiina” seringkali diterjemahkan sebagai “bunuhlah orang-orang musyrik.” Namun, Abdul Muta’ali menyoroti bahwa secara gramatikal, kata “qaatilu” seharusnya diartikan sebagai “berperanglah.” Ini memiliki dampak signifikan karena menggeser persepsi dari tindakan sadis dan barbar menjadi tindakan manusiawi, yang mungkin saja merupakan bentuk pembelaan diri.

Penafsiran yang lebih kontroversial terjadi pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 191, di mana kata “waqtuluuhum khaytsu tasqiftumuuhum” diartikan sebagai “Bunuhlah mereka dimanapun kamu jumpai mereka.” Muta’ali menekankan bahwa seharusnya kata “bunuhlah” digantikan dengan “berperanglah” dan kata “tsaqiftumuuhum” diartikan sebagai “yang menyerang kamu.” Ini memperjelas konteks, mengubah pesan dari serangan tanpa alasan menjadi pertahanan terhadap serangan.

Dari segi budaya, penafsiran yang keliru juga sering terjadi pada istilah “kafir.” Di Indonesia, kata ini sering dimaknai sebagai lawan kata “Mukmin” dengan sentimen penghakiman. Namun, dalam budaya Arab, “kafir” lebih mengacu pada tindakan mengingkari dan mendustakan. Misalnya, pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 28, kalimat “Kaifa takfuruuna billahi wakuntum amwaatan…” sering kali disalahartikan sebagai “kenapa kamu kafir kepada Allah, padahal dulunya kamu mati.” Padahal, jika dimaknai sebagai mengingkari nikmat Allah, pesan akan lebih mengajak dialog dan refleksi.

Dari segi gramatikal, penggunaan “kafir” sebagai Isim Fa’il (pelaku) yang diidentifikasi sebagai identitas yang melekat pada seseorang dianggap salah. Sebagai gantinya, “kafir” seharusnya diartikan sebagai fi’il mudhori (kata kerja), memungkinkan perubahan sesuai dengan niat dan kondisi yang melatarbelakangi.

Jika ajaran Islam dikaji secara mendalam dan komprehensif, inti ajarannya sebenarnya menolak kekerasan dan mendorong kedamaian serta keharmonian. Islam, yang berasal dari kata Aslama yang berarti menyelamatkan dan mendamaikan, seharusnya mengarah pada terwujudnya kedamaian dan keharmonian di muka bumi. Oleh karena itu, perlunya pemahaman yang lebih mendalam dan kritis terhadap Al-Qur’an dan ajaran Islam untuk mencegah pemahaman yang salah dan radikalisasi.