Rabu Wekasan: Saat Tradisi, Agama, dan Kearifan Lokal Bertemu

Penulis: Wildan Nur Mardotillah, Editor: Nehayatul Najwa

Setiap kali bulan Safar mendekati penghujung, warga Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, kembali menjalankan tradisi “Rabu Wekasan”. Bagi masyarakat setempat, hari itu bukan sekadar penanda bahwa satu bulan dalam kalender Hijriah akan berakhir. Rabu Wekasan menjadi ruang pertemuan antara keyakinan agama, warisan leluhur, dan kehangatan kehidupan bersama. Di tengah kesibukan sehari-hari, tradisi ini mengajak warga berhenti sejenak, berkumpul, berdoa, dan mengingat kembali hal-hal yang sering terlupakan: rasa syukur, kepedulian, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.

Secara bahasa, Rabu Wekasan berasal dari kata “Rebo” yang berarti hari Rabu dan “wekasan” yang bermakna akhir atau penghujung. Dengan demikian, Rabu Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Tradisi ini dikenal di sejumlah masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura, meskipun bentuk pelaksanaan serta kebiasaan yang menyertainya tidak selalu sama. Perbedaan itu menunjukkan bahwa tradisi tumbuh mengikuti pengalaman dan kebudayaan masyarakat yang menjaganya.

Dalam kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, Rabu terakhir bulan Safar kerap dikaitkan dengan datangnya ujian atau marabahaya. Sebagian cerita dan rujukan tradisional menyebut hari tersebut sebagai waktu yang perlu disikapi dengan doa dan kehati-hatian. Keyakinan seperti ini perlu dipahami secara bijak, tanpa menjadikannya alasan untuk hidup dalam ketakutan. Bagi warga yang menjalankannya, doa, sedekah, dan kegiatan keagamaan menjadi ikhtiar untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. sekaligus mengingatkan diri bahwa manusia memiliki keterbatasan. Nilai pentingnya bukan semata-mata pada kekhawatiran terhadap hari tertentu, melainkan pada kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan berbuat baik.

Baca Juga: Perspektif Islam tentang Tradisi Lokal dan Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan

Di Desa Bunikasih, suasana Rabu Wekasan terasa melalui kegiatan yang dilakukan bersama. Warga biasanya berkumpul di masjid atau musala untuk melaksanakan salat sunah yang dikenal sebagai salat tolak bala, kemudian mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah rangkaian kegiatan selesai, sebagian warga membawa makanan untuk dinikmati bersama. Ada yang menyiapkan hidangan dari rumah, ada yang membantu menata tempat, dan ada pula yang memastikan kegiatan berjalan dengan tertib. Hal-hal sederhana ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya berlangsung melalui doa, tetapi juga melalui kerja sama dan kesediaan untuk saling membantu.

Makanan yang dibawa warga bukan sekadar pelengkap acara. Di dalamnya terdapat semangat berbagi dan sedekah sesuai kemampuan masing-masing. Tidak harus mewah atau berlimpah, yang utama adalah ketulusan untuk ikut mengambil bagian. Warga yang mungkin jarang berbincang karena kesibukan sehari-hari mendapat kesempatan untuk saling menyapa, bertukar kabar, dan mempererat silaturahmi. Dalam suasana seperti itu, hubungan sosial tidak dibangun melalui sesuatu yang besar, melainkan melalui perjumpaan sederhana yang dilakukan berulang kali.

Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana ajaran Islam dan kearifan lokal Sunda dapat berjumpa dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran Islam di suatu daerah tidak selalu membuat kebiasaan lama hilang begitu saja. Sebagian tradisi mengalami penyesuaian, diberi pemaknaan baru, lalu diteruskan dengan nilai-nilai yang dianggap selaras dengan ajaran agama. Dalam pelaksanaan Rabu Wekasan, misalnya, doa dan sedekah dipahami sebagai ikhtiar manusia, sedangkan perlindungan dan pertolongan pada akhirnya tetap dimohonkan kepada Allah Swt. Dengan pemahaman tersebut, budaya menjadi jalan untuk merawat kebersamaan, sementara agama memberi arah agar tradisi tidak kehilangan nilai ketauhidan dan kebaikannya.

Baca Juga: Moderasi Beragama dalam Tradisi Syawalan Masyarakat Krapyak Pekalongan

Meski demikian, tradisi juga perlu dijalankan dengan pemahaman yang jernih. Menghormati kebiasaan leluhur bukan berarti semua cerita yang menyertainya harus diterima tanpa pertimbangan. Masyarakat dapat menjaga Rabu Wekasan sebagai kesempatan berdoa, bersedekah, dan memperkuat silaturahmi, sembari tetap berhati-hati dalam menyampaikan klaim tentang waktu tertentu sebagai sumber kesialan. Sikap ini penting agar tradisi tidak berubah menjadi ketakutan berlebihan atau membuat orang merasa bahwa keselamatan hanya ditentukan oleh satu hari dan satu ritual. Justru, nilai yang dapat terus dirawat ialah keyakinan kepada Allah, kepedulian kepada sesama, serta kesadaran untuk menjalani hidup dengan ikhtiar dan tanggung jawab.

Bagi generasi muda, Rabu Wekasan dapat menjadi ruang belajar yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Anak-anak yang ikut menghadiri doa bersama atau membantu menyiapkan makanan bisa mengenal arti berbagi secara langsung, bukan hanya melalui nasihat. Mereka juga dapat belajar menghormati orang yang lebih tua, bekerja sama dengan tetangga, dan memahami bahwa kehidupan desa bertumpu pada kepedulian bersama. Peran orang tua dan tokoh masyarakat penting untuk menjelaskan makna tradisi dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga generasi muda tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi juga mengerti nilai yang ingin diwariskan.

Baca Juga: Kearifan Lokal sebagai Jembatan Tradisi dan Modernitas

Di tengah modernisasi dan perubahan cara hidup, tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap relevan. Kesibukan, perkembangan teknologi, dan perubahan pola pergaulan dapat membuat ruang perjumpaan warga semakin berkurang. Karena itu, kegiatan seperti Rabu Wekasan memiliki arti lebih luas: tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan kedekatan sosial. Tradisi dapat terus dipelihara selama dijalankan secara terbuka, tidak memaksa, dan tetap memberi ruang bagi pemahaman yang berkembang. Warisan budaya bukan benda mati yang harus disimpan persis seperti masa lalu, melainkan pengalaman bersama yang dapat dirawat sambil terus dimaknai ulang.

Fenomena Rabu Wekasan di Desa Bunikasih memperlihatkan bahwa tradisi tahunan dapat berfungsi sebagai sarana penguatan identitas keagamaan sekaligus perekat sosial. Di dalamnya terdapat doa, sedekah, gotong royong, dan kesempatan untuk memperbarui hubungan antarwarga. Makna tradisi pada akhirnya tidak hanya terlihat dari rangkaian acaranya, tetapi juga dari sikap yang tumbuh setelahnya: apakah warga menjadi lebih peduli, lebih bersyukur, dan lebih bersedia membantu satu sama lain. Jika nilai-nilai itu tetap hidup, Rabu Wekasan bukan sekadar seremoni yang datang sekali setahun. Ia menjadi pengingat bahwa iman dan budaya dapat berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan menjaga keharmonisan masyarakat dari generasi ke generasi.

Referensi
Setya, Devi. Sejarah dan Asal-usul Rebo Wekasan, Tradisi Rabu Terakhir Bulan Safar. detikHikmah. Diakses pada 15 Agustus 2026. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8613643/sejarah-dan-asal-usul-rebo-wekasan-tradisi-rabu-terakhir-bulan-safar

Ketika Pengajian Mengajarkan Lebih dari Sekadar Mengaji

Penulis: Nailul Uly Emiliana, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah derasnya arus digital yang sering menyita perhatian masyarakat, masih ada ruang-ruang kecil yang menjadi oase bagi tumbuhnya semangat belajar agama. Salah satunya dapat ditemukan di RW 09, Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Setiap Sabtu selepas salat Asar, puluhan ibu-ibu berkumpul dalam sebuah majelis taklim sederhana. Tidak hanya untuk membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ceramah, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi dan saling menguatkan dalam menjalani kehidupan.

Menariknya, pengajian ini memiliki tradisi yang mungkin belum banyak dijumpai di tempat lain. Sebelum kajian dimulai, seluruh jamaah diajak melakukan peregangan otot selama beberapa menit. Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, kegiatan ini mungkin terasa tidak biasa. Namun, justru dari kebiasaan sederhana itulah tersimpan pesan yang mendalam. Para jamaah diajak menjaga kesehatan tubuh agar tetap bugar sehingga dapat mengikuti pengajian dengan lebih fokus, nyaman, dan khusyuk. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari bentuk syukur atas nikmat yang Allah titipkan kepada manusia.

Setelah tubuh dipersiapkan, hati pun diisi dengan ilmu. Pada pertemuan kali ini, kajian berfokus pada Surah Al-Wāqi’ah, surah ke-56 dalam Al-Qur’an yang termasuk golongan Makkiyah. Surah ini sangat akrab di telinga umat Islam. Banyak orang membacanya setiap malam, bahkan ada yang menjadikannya amalan harian karena berharap memperoleh keberkahan dari Allah Swt.

Namun, ustaz yang menyampaikan kajian mengajak jamaah melihat Surah Al-Wāqi’ah dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, persoalan utama bukanlah seberapa sering seseorang membaca surah tersebut, melainkan “seberapa benar ia membacanya”. Sebab, dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan makhraj huruf dan tajwid yang benar. Jangan sampai semangat mengulang bacaan justru membuat kita lupa memperbaiki kualitasnya.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan beberapa ayat yang sering keliru dibaca. Misalnya, pada ayat pertama, huruf ‘ain di akhir lafaz harus keluar dari makhrajnya dengan jelas. Pada ayat keenam, sifat hams perlu terdengar sehingga karakter huruf tetap terjaga. Di ayat ketujuh, huruf zā’ tidak boleh dibaca memantul seperti qalqalah. Jamaah juga diingatkan tentang pentingnya membaca ghunnah secara sempurna pada ayat ke-12 dan ke-35, membedakan pelafalan huruf ḥa dan kha pada ayat ke-65, serta membaca tasydid dengan mengalir tanpa terputus pada ayat ke-79. Penjelasan tersebut membuat para jamaah menyadari bahwa memperbaiki satu huruf saja merupakan bagian dari memuliakan firman Allah.

Kajian ini juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai keutamaan Surah Al-Wāqi’ah. Selama ini, banyak orang mengenalnya sebagai surah pembuka pintu rezeki dan pelindung dari kemiskinan. Harapan tersebut tentu boleh dimiliki sebagai bentuk doa kepada Allah. Namun, ustaz mengingatkan bahwa yang lebih utama adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar membacanya karena mengharapkan manfaat duniawi. Keberkahan Al-Qur’an akan terasa ketika ia dibaca dengan benar, dipahami maknanya, lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana pengajian sore itu terasa begitu hangat. Tidak ada kesan menggurui, apalagi membuat jamaah takut karena banyak kesalahan. Sebaliknya, kajian berlangsung dengan penuh semangat belajar. Sesekali terdengar tawa ketika ustaz mencontohkan kesalahan bacaan yang sering dilakukan, lalu para jamaah bersama-sama memperbaikinya. Dari suasana seperti inilah tumbuh kesadaran bahwa belajar agama adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Apa yang dilakukan ibu-ibu di RW 09, Desa Maleber, memberikan pelajaran bahwa pengajian tidak hanya menjadi tempat mendengar ceramah, tetapi juga ruang untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Dimulai dengan menjaga kesehatan melalui peregangan, dilanjutkan dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, kemudian ditutup dengan semangat mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari. Semua rangkaian itu membentuk harmoni antara kesehatan jasmani, ketenangan rohani, dan penguatan ukhuwah.

Pada akhirnya, pengajian bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang tumbuh bagi masyarakat. Dari majelis sederhana inilah lahir kesadaran bahwa mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan sering membacanya, tetapi juga dengan terus belajar membacanya secara benar, memahami kandungannya, dan menghadirkannya dalam setiap langkah kehidupan. Barangkali, inilah makna keberkahan yang sesungguhnya: ketika ilmu tidak berhenti di telinga, melainkan mengubah cara seseorang memandang dan menjalani hidup.

PORSI JAWARA II dalam Semangat Al-Muwathanah di Kalangan Mahasiswa

Penulis: Fatma Fauziyah, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II se-Jawa dan Madura 2026 telah sukses diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Tentu saja, acara ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan biasa. Di balik riuhnya berbagai pertandingan, tercipta sebuah ruang yang menyatukan mahasiswa dari pelbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam balutan semangat persaudaraan dan kebangsaan. Kegiatan yang berlangsung pada 9–13 September 2026 ini seyogianya tidak hanya dipandang sebagai kompetisi antarmahasiswa, tetapi juga sebagai momentum berharga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai moderasi beragama.

Mengusung tema “Energi Juara Harmoni Nusantara”, PORSI JAWARA II mempertemukan delegasi dari 18 PTKIN se-Jawa dan Madura. Terdapat 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam tiga bidang utama: olahraga, seni, dan keilmuan. Cabang-cabang ini sangat variatif, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, futsal, dan e-sport, hingga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), kaligrafi, film pendek, debat bahasa, karya tulis ilmiah, rencana bisnis (business plan), dan peradilan semu. Keberagaman cabang lomba ini membuktikan bahwa prestasi mahasiswa tidak melulu diukur dari kekuatan fisik, melainkan juga lewat kehalusan seni, kedalaman spiritualitas, kreativitas, dan kerja sama tim. Pada dasarnya, sebuah kompetisi memang dirancang untuk mempertemukan banyak pihak demi mencari pemenang. Namun, persaingan tidak seharusnya melahirkan permusuhan. Sebaliknya, kompetisi justru menjadi sarana krusial untuk belajar menghargai perbedaan, berlapang dada menerima kekalahan, dan terus merawat persaudaraan setelah pertandingan usai.

Semangat tersebut beresonansi kuat dengan nilai-nilai dalam moderasi beragama. Kementerian Agama merumuskan bahwa moderasi beragama mencakup sejumlah pilar esensial, salah satunya adalah al-muwathanah (komitmen kebangsaan). Nilai ini menyadarkan kita bahwa praktik beragama tidak hanya berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap tanggung jawab horizontal sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dalam konteks PORSI JAWARA II, rasa cinta tanah air tidak selalu harus diekspresikan melalui simbol-simbol formal, melainkan hadir lewat tindakan-tindakan nyata di lapangan. Atlet yang menjunjung tinggi kejujuran, mahasiswa yang menaruh hormat pada lawannya, juri yang memberikan penilaian secara objektif, panitia yang melayani peserta dengan baik, hingga suporter yang tertib tanpa provokasi, adalah potret konkret perwujudan cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II

Mengapa hal-hal yang tampak sepele tersebut dapat dikategorikan sebagai wujud cinta tanah air? Sebab, sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia tidak hanya dibangun oleh kaum pemenang atau pemegang kekuasaan, tetapi oleh masyarakat yang mampu hidup berdampingan di tengah perbedaan. Bangsa ini dianugerahi kekayaan suku, bahasa, dan budaya yang luar biasa. Berbagai perbedaan itu tidak pantas dijadikan pembenaran untuk saling menjauh. Sebaliknya, ketika dikelola dengan rasa dan sikap saling menghargai, perbedaan justru bermetamorfosis menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa ini.

Nilai al-muwathanah juga tecermin dari determinasi para peserta dalam membawa nama baik perguruan tinggi masing-masing. Setiap delegasi tentu berambisi memberikan prestasi terbaik bagi kampusnya. Upaya mengharumkan nama almamater ini senapas dengan komitmen menjaga nama baik bangsa dan menjunjung tinggi sportivitas. Terlebih lagi, beberapa cabang lomba secara langsung memfasilitasi mahasiswa untuk mengasah ketajaman intelektual dan kreativitas mereka. Oleh karena itu, makna kata “juara” perlu diperluas. Juara sejati bukanlah eksklusif milik mereka yang berhasil membawa pulang medali atau berdiri di peringkat pertama, melainkan juga milik mereka yang mampu bertanding secara sportif, menghargai rivalnya, menjaga tutur kata, ikhlas menerima hasil pertandingan, dan tak lelah merajut persaudaraan.

Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Pada akhirnya, pemilihan tema “Energi Juara Harmoni Nusantara” jelas bukan sekadar slogan pemanis acara. Tema ini membawa pesan fundamental bahwa meraih gelar juara dan menjaga harmoni sosial bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kesadaran untuk saling menghargai tersebut benar-benar dihidupkan sepanjang pergelaran PORSI JAWARA II. Harapannya, ajang ini tidak sekadar mencetak para jawara di bidang olahraga, seni, dan ilmiah, tetapi juga melahirkan generasi muda PTKIN yang sadar penuh akan makna mencintai tanah airnya.

Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak hanya merindukan generasi yang lihai memenangkan pertandingan, tetapi juga generasi yang mampu menjadi pemenang tanpa merendahkan, yang berani tampil berbeda tanpa memelihara permusuhan, dan yang teguh beragama tanpa sedikit pun kehilangan rasa kebangsaannya.

Ketika Puisi Menjadi Jembatan Perbedaan di PORSI JAWARA II

Penulis:  M. Fauzan Amanulloh, Editor: Dwi Selma Fitriani

Apa yang terjadi ketika seseorang yang tidak tumbuh dengan bahasa Indonesia justru memilih bahasa ini untuk menciptakan dan membacakan sebuah puisi? Bagi saya, jawabannya melampaui sekadar kemampuan linguistik. Terdapat hal yang jauh lebih menarik di baliknya, yakni bagaimana bahasa dan sastra mampu mempertemukan individu-individu dari latar belakang yang berlainan.

Fenomena tersebut saya temukan dalam salah satu cabang perlombaan Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yaitu Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing. Meskipun tidak menyaksikan perlombaan tersebut secara langsung, saya berkesempatan melihat cuplikan penampilan salah satu peserta yang berhasil meraih juara kedua. Dari rekaman tersebut, ada satu hal yang memikat perhatian saya: keberanian dan kemampuan seorang mahasiswa asing dalam membawakan puisi berbahasa Indonesia.

Pembawaan puisinya sangat memukau. Nada dan intonasinya tertata dengan baik, sehingga puisi yang dilantunkan tidak terdengar kaku seperti sekadar membaca teks. Meskipun aksen asingnya masih kentara, justru di situlah letak daya tariknya. Perbedaan aksen ternyata tidak menjadi penghalang dalam menyampaikan nyawa dari karya tersebut, serta tetap mampu membuat pendengarnya meresapi pesan yang ingin diutarakan.

Baca juga: Belajar Moderasi dan Adab dari PORSI JAWARA II UIN Gus Dur

Dari peristiwa sederhana ini, saya menyadari bahwa sastra sejatinya adalah ruang perjumpaan. Kita tidak harus berasal dari negara yang sama, memiliki akar budaya yang serupa, atau menggunakan bahasa ibu yang identik untuk dapat menikmati sebuah karya. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan gagasan dan perasaannya, sementara pihak lain belajar untuk mendengarkan dan memahami. Sastra tidak meniadakan perbedaan, tetapi justru memberikan kita kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Jika dikorelasikan dengan moderasi beragama, fenomena ini memiliki keterikatan yang erat dengan nilai toleransi. Moderasi beragama bukan berarti menyeragamkan semua orang atau menghapus keragaman yang ada. Sebaliknya, moderasi mengajarkan kita cara untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan seraya tetap saling menghargai. Dalam konteks PORSI JAWARA, kebinekaan tersebut tecermin dari para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang, termasuk mahasiswa asing yang percaya diri mengikuti perlombaan menggunakan bahasa Indonesia.

Menurut pandangan saya, hal ini menjadi sangat esensial karena perbedaan tidak diposisikan sebagai suatu ancaman atau masalah. Perbedaan bahasa, budaya, maupun penampilan fisik tidak lantas menjadi alasan untuk mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Kita mungkin tidak memiliki pengalaman hidup yang sama dengan peserta dari mancanegara. Kita juga mungkin tidak sepenuhnya memahami latar belakang kultural mereka. Akan tetapi, kita tetap dapat memberikan ruang, waktu, dan apresiasi untuk mendengarkan karya yang mereka ciptakan.

Di sisi lain, penampilan mahasiswa asing tersebut juga menjadi autokritik bagi saya sebagai warga negara Indonesia, khususnya sebagai mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Timbul sebersit rasa malu ketika melihat individu yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia justru berani mencipta dan mendeklamasikan puisi menggunakan bahasa kebanggaan kita. Mereka harus mengerahkan upaya ekstra untuk mempelajari bahasa asing, lalu menggunakannya untuk menelurkan karya sastra. Sementara itu, kita yang telah menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil tak jarang masih dihinggapi keraguan untuk sekadar menulis atau membacakan puisi.

Baca juga: MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Fakta ini bukan berarti mahasiswa asing tersebut lebih superior dibandingkan mahasiswa Indonesia. Bagi saya, hal ini lebih kepada sebuah pengingat bahwa hal-hal yang sudah terlampau dekat dengan kita terkadang justru kurang mendapat apresiasi. Lantaran bahasa Indonesia telah menjadi bagian lekat dari rutinitas sehari-hari, kita sering kali menganggapnya biasa saja. Padahal, bagi orang lain, bahasa kita merupakan subjek yang dipelajari dengan sungguh-sungguh hingga mampu dialihwujudkan menjadi karya yang mengagumkan.

Dari titik ini, saya mulai merenungi bahwa wacana mengenai moderasi beragama tidak selalu harus digaungkan dalam forum-forum keagamaan yang kaku. Nilai-nilai moderasi juga dapat bersemi melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita bersedia mendengarkan orang yang berbeda, menghargai gaya tutur mereka, dan memberikan apresiasi tulus terhadap karya mereka tanpa memandang asal-usulnya, sesungguhnya kita sedang mempraktikkan cara hidup di tengah keberagaman secara nyata.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA bukan semata soal siapa yang berhak mengangkat trofi kemenangan. Di balik euforia perlombaan, terdapat perjumpaan antarmanusia dengan latar belakang yang majemuk. Dalam Lomba Cipta dan Baca Puisi Mahasiswa Asing, perjumpaan itu terasa makin bermakna karena bahasa Indonesia hadir sebagai jembatannya. Bahasa yang mungkin bagi kita terasa lumrah, justru bertransformasi menjadi medium bagi mahasiswa asing untuk mengenal, menggunakan, dan mengekspresikan jati dirinya melalui sastra.

Barangkali, inilah salah satu manifestasi moderasi beragama yang kerap luput dari pandangan kita. Moderasi dapat mewujud dalam gestur yang sederhana, termasuk ketika kita bersedia menajamkan telinga untuk mendengarkan suara yang berbeda dari suara kita sendiri. Sebuah pembacaan puisi mungkin hanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi dari momen singkat tersebut, kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus diberi jarak. Perbedaan justru dapat menjadi alasan kuat bagi kita untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling memahami.

Sebab pada hakikatnya, tunas moderasi tidak hanya tumbuh dari mimbar-mimbar keagamaan, tetapi juga dapat mekar dengan indah melalui bait-bait sastra.

Olahraga sebagai Panggung Moderasi Beragama

Penulis: Dafa Hermafahriza, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) PTKIN se-Jawa dan Madura yang diselenggarakan pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukan sekadar ajang olahraga biasa, melainkan ajang tahunan untuk mengukur siapa yang tercepat, terkuat, atau paling kreatif. Di balik semua ajang perlombaan PORSI JAWARA II dengan tema “Energi Juara, Harmoni Nusantara”, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam bahwa kampus-kampus Islam negeri di Jawa dan Madura sedang belajar bersama merawat kebinekaan melalui bahasa yang paling universal, yaitu olahraga dan seni.

Moderasi beragama, dalam kerangka yang selama ini digaungkan oleh Kementerian Agama, tidak cukup diajarkan lewat mimbar dan ruang kelas semata. Oleh karena itu, butuh ruang perjumpaan nyata, tempat mahasiswa dari berbagai UIN dengan latar belakang daerah, mazhab pemikiran, dan tradisi keislaman yang beragam, dapat bertemu, berkompetisi, lalu berjabat tangan setelahnya. PORSI JAWARA II menghadirkan ruang itu. Ketika mahasiswa UIN Gus Dur bertanding melawan mahasiswa dari UIN se-Jawa dan Madura lainnya, yang terjadi bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan juga simulasi kecil dari kehidupan berbangsa: berbeda, tetapi tetap satu barisan; bersaing, tetapi tetap menjunjung sportivitas. Dalam konteks ini, nilai tawasuth dan tasamuh merupakan dua dari sekian prinsip inti moderasi beragama yang justru paling mudah dipahami lewat pengalaman konkret semacam ini. Ada seorang atlet yang menerima kekalahan di ajang perlombaan dengan lapang dada karena sedang mempraktikkan tawazun (keseimbangan), tidak larut dalam euforia kemenangan maupun dendam kekalahan.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

“Harmoni Nusantara” yang menjadi subtema acara ini, sejatinya adalah cita-cita besar bagi moderasi beragama itu sendiri: keberagaman yang tidak dipertentangkan, melainkan dirayakan. UIN-UIN se-Jawa dan Madura membawa warna lokal dan ciri khasnya masing-masing, mulai dari Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Surabaya, hingga Madura, disatukan dalam satu gelanggang yang sama. Hal ini merupakan miniatur Indonesia; walaupun berbeda pulau dan berbeda dialek, tetap memiliki satu semangat ukhuwah, baik ukhuwah islamiah, wathaniah, maupun basyariah. Kehadiran unsur ilmiah dalam PORSI JAWARA II ini juga patut untuk diapresiasi. Moderasi beragama bukan hanya soal sikap, melainkan juga soal cara berpikir yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Dengan memasukkan kompetisi ilmiah berdampingan dengan olahraga dan seni, PTKIN menegaskan bahwa Islam merangkul akal sehat, bukan anti-intelektualisme.

Kehadiran para pemimpin PTKIN dalam pembukaan PORSI JAWARA II se-Jawa dan Madura, lengkap dengan seragam olahraga dan semangat yang sama seperti para atlet yang mereka dampingi, juga membawa pesan tersendiri. Ketika rektor dan pejabat kampus turun langsung mengangkat tinju sebagai tanda semangat bersama mahasiswanya, itu bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan bentuk keteladanan bahwa moderasi beragama harus dimulai dari pucuk pimpinan, bukan hanya dituntut dari mahasiswa. Pemimpin yang mau berbaur dan tidak berjarak dengan yang dipimpinnya, sesungguhnya sedang mempraktikkan salah satu nilai penting dalam Islam, yaitu rahmatan lil ‘alamin (kepemimpinan yang penuh kasih dan tidak eksklusif). Dukungan dari Kementerian Agama melalui program Kemenag Berdampak, serta sinergi dengan mitra perbankan syariah dan konvensional sebagai sponsor, juga menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan proyek yang berdiri sendiri. Moderasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor pemerintah, kampus, dan dunia usaha untuk benar benar terwujud dalam praktik, bukan sekadar wacana normatif di dalam ruang seminar.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Mahasiswa PTKIN yang berlaga di PORSI JAWARA II adalah representasi generasi muda muslim Indonesia yang kelak akan menjadi dai, guru agama, birokrat, hingga tokoh masyarakat di berbagai penjuru negeri. Dalam konteks ilmiah, ajang seperti ini memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar prestasi olahraga. Bangsa Indonesia tengah menikmati apa yang disebut bonus demografi, dan sebagian besar dari bonus itu berasal dari kampus-kampus keagamaan seperti UIN, IAIN, dan STAIN se-Jawa dan Madura. Jika generasi ini dibekali bukan hanya ilmu agama yang mendalam, melainkan juga pengalaman langsung merawat kebinekaan melalui kompetisi yang sehat, kita sedang menyiapkan calon pemimpin umat yang tidak gagap menghadapi keberagaman.

Semangat ini tidak boleh berhenti di panggung penutupan. Nilai-nilai yang dipraktikkan selama lima hari kompetisi sportivitas, penghormatan pada perbedaan, dan kerja sama lintas kampus harus dibawa pulang oleh setiap mahasiswa ke almamaternya masing-masing, lalu ditularkan ke lingkungan yang lebih luas. Di sinilah letak ujian sesungguhnya, apakah “Energi Juara, Harmoni Nusantara” hanya menjadi jargon di atas spanduk, atau benar-benar menjelma menjadi karakter mahasiswa PTKIN yang moderat, toleran, dan cinta ilmu. PORSI JAWARA II di UIN Gus Dur Pekalongan, dengan segala hiruk-pikuknya, telah menunjukkan satu hal penting: moderasi beragama paling efektif diajarkan lewat pengalaman hidup bersama, termasuk di lapangan olahraga.

Belajar Moderasi dan Adab dari PORSI JAWARA II UIN Gus Dur

Penulis: Desy Farecha, Editor: Dwi Selma Fitriani

Kamis, 10 September 2026, Gedung Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan menjadi saksi dibukanya PORSI JAWARA II, ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura yang mempertemukan mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Ribuan atlet, ofisial, wasit, dan juri berkumpul dalam satu wadah pertandingan, membawa identitas kampus masing-masing sekaligus harapan untuk berprestasi. Namun, di balik hiruk-pikuk pertandingan itu, ada suasana yang tetap terjaga tanpa gesekan, tanpa provokasi, dan tanpa kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun verbal.

Belasan kontingen dari berbagai daerah berkumpul dalam satu gedung, masing-masing membawa kebanggaan almamater. Dalam banyak kasus, situasi semacam ini rawan memicu gesekan, entah karena rasa kompetitif yang berlebihan atau sekadar euforia yang tidak terkendali. Akan tetapi, hal yang terjadi justru sebaliknya. Suasana pertandingan berlangsung tertib, hangat, dan penuh rasa saling menghormati antarkontingen. Tidak ada ejekan yang dilontarkan untuk merendahkan kampus lain, apalagi gesekan fisik yang mewarnai euforia pembukaan.

Momen ini, bagi saya, bukan sekadar seremoni belaka, melainkan cerminan nyata dari salah satu pilar penting dalam moderasi beragama, yakni sikap antikekerasan. Dalam kerangka moderasi beragama, antikekerasan tidak hanya berarti tidak melakukan tindakan fisik yang merugikan orang lain, tetapi juga mencakup penolakan terhadap kekerasan verbal, seperti ujaran kebencian, ejekan, atau sikap merendahkan pihak lain atas nama identitas kelompok maupun kampus.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Sebagai mahasiswa dari lingkungan PTKIN yang notabene bergelut dengan nilai-nilai keislaman setiap hari, sikap yang ditunjukkan di Gedung Student Center pada hari pertama itu semestinya bukan kebetulan. Hal tersebut lahir dari pemahaman keagamaan yang telah tertanam dalam keseharian mahasiswa PTKIN, bahwa Islam senantiasa mengedepankan cara-cara damai dalam menghadapi perbedaan, termasuk perbedaan dalam konteks kompetisi. Terlebih lagi, sebagai ajang yang digelar di kampus yang menyandang nama Gus Dur, nilai-nilai kedamaian dan keteladanan beliau seolah menemukan ruang praktiknya secara nyata. Semangat untuk menang tidak semestinya mengorbankan adab, dan kebanggaan terhadap almamater tidak semestinya diwujudkan dengan merendahkan pihak lain.

Hal yang menarik, suasana tertib ini terjadi bukan tanpa alasan. Adanya arahan dari pihak penyelenggara maupun tuan rumah yang menekankan pentingnya kejujuran dan sportivitas dalam setiap pertandingan tampaknya turut membentuk suasana kondusif sejak hari pertama. Ketika nilai-nilai semacam itu ditanamkan sejak momen pembukaan, wajar apabila suasana kompetitif yang muncul kemudian tetap berada dalam koridor yang sehat dan saling menghargai.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Momen di Gedung Student Center pada Kamis pagi itu mungkin hanya bagian kecil dari rangkaian panjang PORSI JAWARA II. Namun, dari momen singkat tersebut, tergambar jelas bagaimana ribuan mahasiswa PTKIN mampu menahan diri dari kecenderungan untuk saling menjatuhkan dan memilih jalan yang lebih beradab dalam mengekspresikan kebanggaan serta semangat berkompetisi. Hal ini adalah bukti kecil, tetapi konkret, bahwa nilai moderasi beragama bukan sekadar wacana yang diajarkan di ruang kelas, melainkan sesuatu yang dapat dan telah dipraktikkan secara nyata, bahkan di tengah keramaian sebuah pertandingan.

Semoga suasana yang terjaga sejak hari pertama ini menjadi fondasi bagi keberlangsungan PORSI JAWARA II secara keseluruhan, dan menjadi pengingat bahwa kompetisi sejatinya bukan ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan ruang untuk saling menghargai perbedaan sambil tetap menjunjung tinggi prestasi.

MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Penulis: Rifki Farhani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu momentum penting dalam mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Pulau Jawa dan Madura. Dengan 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam bidang olahraga, seni, dan ilmiah, kegiatan ini berlangsung pada 10–12 September 2026. Namun, di balik semarak kompetisi tersebut, PORSI JAWARA II menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar perebutan prestasi.

Pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus tidak hanya menghadirkan persaingan, tetapi juga membuka ruang silaturahmi dan perjumpaan lintas daerah. Setiap peserta datang dengan latar belakang budaya, pengalaman pendidikan, serta kebiasaan yang beragam. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan mempererat hubungan antarmahasiswa. Dalam konteks ini, PORSI JAWARA II dapat dipandang sebagai ruang nyata untuk mempraktikkan moderasi beragama melalui interaksi yang terbuka, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang persaudaraan.

Salah satu cabang yang memiliki kedekatan kuat dengan nilai-nilai tersebut adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Sebagai cabang perlombaan yang berlandaskan kecintaan terhadap Al-Qur’an, MTQ tidak semestinya dimaknai hanya sebagai ajang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing peserta. Lebih dari itu, MTQ menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa yang memiliki minat dan semangat yang sama dalam mempelajari serta mengembangkan kemampuan tilawah.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Di tengah pelaksanaan lomba, peserta dari berbagai kampus memiliki kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh dari daerah maupun lembaga masing-masing. Pengalaman seorang peserta tentu tidak selalu sama dengan peserta lainnya. Ada yang memiliki pengalaman pembinaan lebih lama, ada pula yang baru memperoleh kesempatan untuk tampil dalam ajang tingkat regional. Perbedaan pengalaman tersebut tidak seharusnya menjadi jarak, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar dan menguatkan.

Pada titik inilah nilai tasamuh atau toleransi dalam moderasi beragama menemukan bentuknya secara nyata. Toleransi tidak selalu harus diwujudkan dalam persoalan besar, tetapi juga dapat hadir melalui kesediaan menghargai perbedaan kemampuan, kebiasaan, dan cara belajar orang lain. Dalam lingkungan MTQ, peserta dapat belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Sikap saling menghormati dan tidak merasa paling unggul menjadi bagian penting dari pembentukan karakter beragama yang moderat.

Selain tasamuh, MTQ juga menghadirkan nilai ukhuwah, yakni persaudaraan yang tumbuh melalui pertemuan dan pengalaman bersama. Para peserta yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal dapat membangun hubungan baru melalui percakapan, latihan, maupun berbagi pengalaman seputar tilawah. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, perlombaan dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara mahasiswa PTKIN.

PORSI JAWARA II juga mengajarkan pentingnya tawazun, yaitu keseimbangan antara semangat berprestasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Keinginan untuk menjadi yang terbaik merupakan hal yang wajar dalam sebuah perlombaan. Akan tetapi, semangat tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa peserta lain bukan sekadar pesaing, melainkan sesama pembelajar yang sedang menempuh proses yang sama. Dengan demikian, prestasi tidak kehilangan makna sosial dan spiritualnya.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

MTQ pada akhirnya bukan hanya tentang lantunan ayat suci yang terdengar indah dari atas panggung. Di dalamnya terdapat proses perjumpaan, pembelajaran, dan pembentukan sikap yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta. Ketika peserta mampu saling berbagi pengalaman tanpa merendahkan, menerima perbedaan tanpa memperdebatkannya secara berlebihan, serta membangun hubungan baik di tengah kompetisi, nilai moderasi beragama telah hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi bermakna.

Oleh karena itu, PORSI JAWARA II 2026 perlu dipandang lebih dari sekadar agenda perlombaan antarkampus. Khususnya melalui cabang MTQ, kegiatan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dipelajari melalui bacaan dan hafalan, tetapi juga melalui sikap yang lahir dari interaksi antarsesama. Lantunan Al-Qur’an menjadi semakin bermakna ketika mampu mengantarkan para peserta untuk merawat toleransi, mempererat persaudaraan, dan membangun cara beragama yang terbuka serta menghargai keberagaman.

Satu Panggung, Beragam Logat: Wajah Moderasi Beragama di PORSI JAWARA II

Penulis: Nia Himatul Ulfa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 9-13 September akhirnya resmi ditutup. Lebih dari 1.495 mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura berkumpul untuk berkompetisi di berbagai cabang olahraga, seni, dan karya ilmiah. Di balik hitungan medali emas, perak, dan perunggu yang diperebutkan, kegiatan ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih substansial, yaitu perjumpaan lintas kampus, daerah, bahkan negara, yang sarat dengan nilai moderasi beragama.

Selama empat hari penyelenggaraan, lingkungan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjadi tuan rumah berubah menjadi ruang perjumpaan lintas kampus PTKIN se-Jawa dan Madura. Ribuan peserta yang hadir membawa logat bicara yang beragam: ada yang kental dengan dialek Jawa Tengah, ada yang membawa logat khas Madura, ada pula logat Sunda dari kontingen asal Bandung, hingga gaya bicara khas Jakarta Selatan yang bercampur istilah-istilah kekinian. Di antara keragaman tersebut, sesekali dijumpai pula peserta dari luar negeri yang kebetulan sedang menempuh studi di salah satu PTKIN peserta dan turut hadir bersama kontingen kampusnya, sehingga menambah warna dari perjumpaan lintas budaya ini.

Interaksi lintas logat dan bahasa semacam ini tidak selalu berjalan mulus. Terdapat momen ketika sebuah kalimat perlu diulang beberapa kali agar dapat dipahami lawan bicara. Sebaliknya, terdapat pula momen ketika seseorang harus menafsirkan maksud dari logat yang asing di telinganya. Kondisi ini menegaskan bahwa PORSI JAWARA tidak sekadar mempertemukan mahasiswa PTKIN se-Jawa dan Madura dalam pengertian administratif, tetapi juga menghadirkan keragaman bahasa dan budaya yang jauh lebih kaya dari yang semula dibayangkan.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Menariknya, di balik keragaman logat dan bahasa tersebut, terdapat satu benang merah yang menyatukan seluruh peserta, yaitu identitas bersama sebagai mahasiswa PTKIN. Identitas ini membawa nilai-nilai keislaman yang moderat sebagai muruah bersama. Dengan demikian, meskipun logat dan cara berbicara berbeda-beda, terdapat kerangka nilai yang relatif sama dalam memandang bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama. Kesamaan nilai inilah yang pada akhirnya mempermudah proses saling mengenal di antara peserta yang datang dari latar belakang kedaerahan yang berbeda-beda.

Dalam suasana kompetisi, perbedaan semacam itu berpotensi menimbulkan jarak apabila tidak disikapi dengan baik. Sejumlah momen menunjukkan bahwa semangat bertanding yang berlebihan dapat memunculkan sindiran atau ejekan antarkontingen. Hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian yang wajar dari dinamika kompetisi. Namun, apabila dibiarkan, kecenderungan tersebut berisiko mengaburkan esensi pertemuan yang sesungguhnya jauh lebih bernilai daripada sekadar hasil kalah-menang. Di sisi lain, terdapat fenomena yang berlawanan. Setelah pertandingan usai, pihak-pihak yang sebelumnya berhadapan sebagai lawan tanding tampak berbaur dan berbincang. Peserta dari kontingen yang berbeda-beda itu tampak akrab satu sama lain karena adanya rasa ingin tahu yang sama-sama muncul di antara mereka mengenai asal daerah, kebiasaan, hingga cara masing-masing menjalankan ibadah di tengah kesibukan kompetisi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan semata konsep normatif yang berhenti pada tataran wacana. Sikap menghargai pihak lain yang berbeda logat, bahasa, maupun kebiasaan; tidak berlebihan ketika meraih kemenangan; tidak merendahkan pihak yang kalah; serta tetap menjalin komunikasi meski baru saling mengenal dalam waktu singkat—semua itu tampak nyata dalam interaksi sehari-hari selama kegiatan berlangsung, bukan semata dalam forum seminar atau kajian keagamaan. Keragaman logat dan bahasa yang muncul dalam kegiatan yang secara administratif berlingkup “se-Jawa dan Madura” ini turut menegaskan bahwa perbedaan dapat hadir bahkan di antara daerah-daerah yang secara geografis relatif berdekatan. Selama terdapat kemauan untuk saling mengenal, jarak yang semula terasa jauh dapat dipersempit, dan hal yang semula asing dapat menjadi akrab.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah PORSI JAWARA II turut memberikan konteks yang relevan bagi keseluruhan gambaran ini. Nama besar yang disandang kampus tersebut, yang diambil dari sosok yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh toleransi di Indonesia, secara tidak langsung menjadi pengingat mengenai semangat apa yang seharusnya melandasi pertemuan lintas kampus semacam ini. Kompetisi yang berlangsung dengan sportif, tanpa menghilangkan sikap saling menghormati, sejatinya merupakan wujud paling sederhana dari nilai-nilai yang selama ini identik dengan nama tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan PORSI JAWARA II di kampus ini bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan dapat dibaca sebagai penegasan arah nilai yang ingin dihidupkan dalam kegiatan tersebut.

Keberhasilan PORSI JAWARA II sepatutnya tidak diukur semata dari jumlah medali yang diperoleh setiap kontingen, melainkan juga dari sejauh mana pihak-pihak yang bertemu dalam kegiatan tersebut tetap dapat menjalin komunikasi yang baik setelah kegiatan berakhir. Apabila perbedaan logat, bahasa, kampus, daerah, bahkan negara asal dapat dilalui tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh, kegiatan ini telah menjalankan fungsinya yang sesungguhnya, yaitu menumbuhkan generasi PTKIN yang memahami moderasi beragama bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sikap yang hidup dalam setiap pertemuan dengan mereka yang berbeda.

Kebersamaan Membawa Kejuaraan dengan Berlandaskan Moderasi Beragama

Penulis: Sabrina Maharani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Sering kali, menjadi pemenang dipahami sebagai hasil dari bakat, usaha, dan strategi. Namun, satu hal yang sangat penting dan sering diabaikan adalah kebersamaan. Sebuah keberhasilan tidak selalu berasal dari individu yang paling unggul, melainkan dari mereka yang mampu menyatukan perbedaan dan bergerak ke arah tujuan yang sama. Semangat ini tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam hal ini, kebersamaan memiliki hubungan yang erat dengan sikap moderat dalam beragama.

Indonesia dikenal dengan berbagai agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman ini adalah sebuah kekayaan yang patut disyukuri. Namun, pada saat yang sama, hal ini juga dapat menjadi tantangan. Ketidakharmonisan manusia dalam menghadapi perbedaan dapat menyebabkan prasangka negatif, konflik, bahkan perpecahan. Oleh karena itu, sikap moderasi dalam beragama menjadi sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang baik. Moderasi dalam beragama mengajarkan kita semua untuk menjalankan keyakinan dengan baik dan tidak lupa menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya bisa kita temukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berkompetisi. Salah satunya dalam pertandingan olahraga tim, setiap atlet memiliki keahlian dan perannya masing-masing. Ada yang andal dalam menyerang, bertahan, merancang strategi, atau memberikan dukungan kepada rekannya. Perbedaan inilah yang seharusnya tidak menghalangi tim untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, ketika setiap anggota saling menghargai dan melengkapi, sebuah tim akan menjadi lebih kokoh.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Hal tersebut berkaitan erat dengan moderasi beragama. Kejuaraan yang sesungguhnya bukan hanya tentang mendapatkan medali atau piala. Kejuaraan dapat dimaknai sebagai keberhasilan dalam membangun persatuan dan menciptakan lingkungan yang damai serta harmonis. Ketika seseorang mampu bekerja sama dengan orang lain, ataupun dalam tim, mereka telah menunjukkan sikap moderat dalam kehidupan nyata.

Kebersamaan juga mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam sebuah kelompok, perbedaan kemampuan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi. Begitu pula dalam kehidupan beragama. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan toleransi, sikap saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Kebersamaan juga dapat dimulai dari lingkungan kampus, misalnya pada perlombaan olahraga, seni, dan ilmiah yang diselenggarakan oleh PORSI JAWARA II pada tahun 2026. Mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga Madura, hadir dengan latar belakang dan pengalaman hebat yang berbeda-beda. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk membentuk kelompok yang saling menjauh. Sebaliknya, mahasiswa dapat bekerja sama dalam kegiatan ini tanpa menjadikan perbandingan atau persaingan yang mencolok dalam pertandingan.

Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus selalu diselesaikan dengan perdebatan. Ada kalanya perbedaan perlu disikapi dengan mendengarkan, tidak harus selalu memenangkan pendapat sendiri. Terkadang, kemenangan yang lebih besar justru terjadi ketika kita mampu mengesampingkan ego demi kepentingan bersama. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara, tetapi juga kemauan untuk mendengarkan dan memahami. Moderasi beragama menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan moderasi, seseorang dapat tetap teguh terhadap keyakinannya sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Dengan bersatu, kita belajar menerima keberadaan orang lain; dengan kerja sama, kita mengubah perbedaan menjadi kekuatan; dan dengan kebersamaan, tujuan yang sebelumnya sulit untuk dicapai dapat diwujudkan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Oleh karena itu, ungkapan “kebersamaan membawa kejuaraan dengan berlandaskan moderasi beragama” seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kalimat di suatu perlombaan, tetapi dapat dijadikan prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. Moderasi beragama menjadi jembatan yang menyatukan berbagai perbedaan untuk tetap berada dalam semangat persatuan. Pada akhirnya, komunitas yang tangguh bukanlah komunitas yang bebas dari perbedaan, melainkan komunitas yang terbiasa saling berkolaborasi, menyelesaikan perbedaan dengan jalan musyawarah, serta saling menghormati. Kita tidak hanya memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, tetapi juga memiliki kesempatan besar untuk meraih tujuan yang lebih luas: menciptakan kehidupan yang damai dan selaras. Sebab, juara sejati adalah mereka yang tidak hanya berhasil mengalahkan lawan, tetapi juga mampu menang tanpa mengorbankan rasa persatuan.

Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Penulis: Annissa Meilasari, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menyaksikan lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, saya melihat sesuatu yang sangat menarik. Para peserta tidak datang dengan pendapat yang sama. Mereka justru berada di posisi yang berbeda dan harus mempertahankan argumen masing-masing. Salah satu mosi yang dibahas adalah “This House, as a Syrian transitional government, would do long-term security with Israel”. Menurut saya, perdebatan bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumen paling bagus dan kuat, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menyampaikan pendapat ketika berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dalam sebuah debat, perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Setiap tim memiliki alasan, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang mendukung sebuah gagasan, sementara yang lain berusaha menyanggah dan menunjukkan kelemahan dari gagasan tersebut. Perbedaan seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita. Kita sering menemukan orang yang tidak sepemikiran dengan kita, baik dalam lingkungan perkuliahan, organisasi, maupun masyarakat.

Menurut saya, beberapa hal tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan moderasi beragama. Moderasi beragama tidak berarti membuat semua orang memiliki pendapat yang sama. Justru, salah satu hal yang paling penting dalam bermoderasi adalah kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijak. Kita boleh tidak setuju dengan suatu pendapat, tetapi ketidaksetujuan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Melalui lomba debat, saya melihat bahwa peserta dituntut untuk menyampaikan pendapat mereka berdasarkan argumen, bukan sekadar emosi. Ketika berada dalam posisi yang berbeda, seseorang perlu mendengarkan apa yang disampaikan lawan sebelum memberikan tanggapannya. Dari sini, debat sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: berbeda pendapat tidak harus saling merendahkan satu sama lain.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Hal ini menjadi sangat menarik ketika topik yang dibahas berkaitan dengan persoalan politik dan hubungan antarnegara yang cukup sensitif. Ketika membicarakan konflik dan hubungan antarnegara, tentu banyak sekali sudut pandang yang dapat muncul. Jika perbedaan pandangan tidak disikapi dengan baik, pembicaraan mengenai isu tersebut dapat dengan mudah berubah menjadi saling menyalahkan. Namun, dalam ruang debat, perbedaan tersebut justru diarahkan menjadi sebuah diskusi yang memiliki aturan.

Dari situlah, nilai moderasi dapat terlihat. Moderasi tidak harus ditunjukkan dengan kegiatan keagamaan secara langsung. Sikap moderat juga dapat muncul dari cara seseorang berbicara, mendengarkan, ataupun menghargai orang lain. Ketika seseorang mampu menyampaikan pendapatnya dengan tegas tanpa menghina pihak lain, ia sedang belajar untuk menempatkan perbedaan secara proporsional.

Saya juga melihat bahwa debat mengajarkan pentingnya berpikir kritis. Peserta tidak cukup hanya mengatakan bahwa pendapatnya benar. Mereka harus memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjawab argumen dari pihak lain. Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut tentu sangat penting karena kehidupan akademik juga tidak terlepas dari perbedaan pemikiran.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Namun, kemampuan berpikir kritis juga harus berjalan bersama dengan sikap menghargai. Seseorang boleh kritis terhadap suatu gagasan, tetapi tetap perlu menghormati orang lain yang menyampaikan gagasan tersebut. Inilah yang terkadang sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering kali terlalu cepat menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai orang yang salah, bahkan sebelum mencoba memahami alasan di balik pendapatnya.

PORSI JAWARA II menjadi ruang yang sangat menarik karena kegiatan perlombaan dapat mempertemukan orang dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda. Para peserta memang datang untuk menjadi juara, tetapi proses untuk menuju kemenangan seharusnya dilakukan dengan cara yang sehat. Dalam lomba debat, kemenangan tidak seharusnya diperoleh dengan menjatuhkan lawan, melainkan dengan menunjukkan kualitas argumen yang baik.

Menurut saya, semangat berkompetisi dan moderasi sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kita tetap boleh memiliki ambisi untuk menang, tetapi ambisi tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Kita boleh mempertahankan pendapat, tetapi tetap harus membuka ruang untuk mendengarkan. Kita juga boleh merasa yakin dengan argumen sendiri, tetapi tetap menyadari bahwa sudut pandang orang lain memiliki maksud dan alasan tersendiri.

Hal tersebut menjadi pelajaran yang cukup penting bagi saya sebagai mahasiswa. Kampus bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan, melainkan juga tempat untuk belajar hidup bersama dengan berbagai pendapat dan pemikiran. Akan ada perbedaan pendapat dalam berdiskusi, berorganisasi, maupun kehidupan sosial. Jika setiap perbedaan selalu dianggap sebagai ancaman, akan sulit membangun lingkungan yang nyaman dan saling menghargai.

Saya merasa bahwa lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II menunjukkan bahwa kegiatan perlombaan dapat menjadi lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk berbicara, mendengarkan, berpikir kritis, menerima perbedaan, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat dekat dengan semangat moderasi beragama.