Awas Keliru! Bolehkah Berkurban Satu Ekor Kambing untuk Satu Keluarga?

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Hari ini, umat muslim seluruh dunia sedang merayakan euforia Idul Adha yang telah lama dinanti. Di momen ini, ibadah kurban menjadi satu amalan yang diimpi-impikan semua umat muslim. Bagaimana tidak? Ibadah kurban menjanjikan keutamaan yang tidak main-main.

Salah satu keutamaannya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. dalam kitab Al-Firdaus karya Imam Ad-Dailami, bahwa hewan kurban akan menjadi tunggangan bagi yang mengurbankannya untuk melewati shirath. Rasulullah Saw. pun tidak pernah meninggalkan ibadah satu ini.

Namun di balik keutamaan tersebut, tidak semua umat muslim mampu menunaikannya. Beberapa dari mereka belum berkesempatan menunaikan ibadah kurban karena keterbatasan finansial atau kendala lain.

Baca juga: Puasa Qada Ramadhan di Hari Arafah, Bagaimana Hukumnya?

Salah satu hewan yang paling umum dan paling ringan untuk berkurban adalah kambing. Selama ini, ketentuan berkurban dengan kambing menurut jumhur ulama adalah untuk satu orang. Namun jika suatu saat terkendala finansial, bolehkah berkurban satu ekor kambing untuk satu keluarga?

Sebelum menyelam lebih jauh, terdapat kerancuan redaksi yang perlu diluruskan, yaitu penggunaan kata “untuk” dan “oleh.” Dikutip dari rumahfiqih.com, Jika berkurban untuk satu keluarga, maka maksud redaksi tersebut adalah berkurban yang pahalanya diperuntukkan kepada satu keluarga. Sedangkan jika berkurban oleh satu keluarga, maka maksud redaksi tersebut adalah berkurban yang dipersembahkan oleh satu keluarga.

Dikutip dari nu.or.id, Ketentuan berkurban satu ekor kambing sendiri telah disepakati oleh jumhur ulama, bahwa satu ekor kambing adalah hanya boleh dipersembahkan oleh satu orang, tidak boleh lebih. Lain halnya dengan menghadiahkan pahala hewan kurban kepada keluarga maka hukumnya boleh, dan itu tidak terbatas pada berapa pun jumlah anggota keluarganya.

Baca juga: MAKNA DAN HIKMAH PUASA TARWIYAH DAN PUASA ARAFAH

Itu artinya, kurban satu ekor kambing tetap dilakukan oleh satu orang, namun pahalanya untuk satu keluarga. Hal tersebut sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Hadist ini mengungkapkan doa Rasulullah Saw. ketika berkurban.

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta umat Muhammad.”

Doa tersebut bukan berarti Rasulullah dan seluruh umatnya berkurban satu ekor kambing, melainkan atas nama Rasulullah namun pahalanya diperuntukkan kepada seluruh umatnya.

Dikutip dari baznas.id, berdasarkan salah satu kitab Madzhab Maliki yaitu At-Taj Wa Iklil dijelaskan bahwa boleh-boleh saja berkurban satu ekor kambing untuk mewakili satu keluarga asalkan memenuhi 3 syarat, yaitu:

  1. Keluarga tersebut tinggal bersama
  2. Memiliki hubungan kekerabatan
  3. Memiliki pemberi nafkah yang sama.

Dengan demikian, sebelum memperdebatkan boleh atau tidaknya berkurban satu ekor kambing untuk satu keluarga, perlu diluruskan dahulu kerancuan redaksi yang bisa saja menimbulkan kekeliruan. Intinya, berkurban satu ekor kambing boleh diperuntukkan pahalanya kepada satu keluarga.

Peran Remaja Masjid dalam Memperkokoh Moderasi Beragama

Penulis: Rama Galih Manunggal, Editor: Azzam Nabil H.

Moderasi beragama merupakan pendekatan dalam beragama yang menekankan keseimbangan antara keyakinan dan toleransi terhadap keberagaman. Tujuan utama dari moderasi beragama adalah mencegah ekstremisme serta menciptakan keharmonisan dalam masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

Dalam hal ini, Ikatan Remaja Masjid (Irma) berperan penting dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang moderat di kalangan pemuda Muslim. Peran ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai Islam, tetapi juga mendorong interaksi positif dengan masyarakat non-Muslim.

Beragam aktivitas yang dilakukan Irma, seperti peringatan hari besar Islam, kajian keagamaan, serta kegiatan sosial seperti sedekah bumi dan megengan, menjadi contoh  bagaimana moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya membantu memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan pemuda Muslim, tetapi juga menciptakan ruang  interaksi  dengan umat beragama lain. Sikap saling menghormati dalam aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan pembuat perpecahanperpecahan. Dari sudut pandang sosiologi, moderasi beragama berperan dalam membangun hubungan sosial yang baik di tengah masyarakat.

Baca juga: Desain Masjid: Simbol Iman atau Keberagamaan?

Konsep ini menekankan bahwa pemahaman agama tidak boleh hanya didasarkan pada pengetahuan biasa, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks sosial agar tidak menimbulkan masalah yang berpotensi menimbulkan perpecahan atau sikap ekstrem. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya toleransi, memberikan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, serta menyelenggarakan diskusi atau kajian tentang Islam yang moderat menjadi langkah penting dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Selain itu, moderasi beragama juga terlihat dalam cara umat Islam menyikapi perayaan agama lain.

Sikap yang disarankan adalah menghormati dan menjaga hubungan baik dengan pemeluk agama lain tanpa harus terlibat dalam  ibadah mereka. Di tengah masyarakat yang multikultural, menjaga keharmonisan dengan sesama, baik Muslim maupun non-Muslim, merupakan salah satu bentuk  dari sikap moderat dalam beragama. Dengan demikian, peran Remaja Masjid sangatlah penting dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama, baik di lingkungan mereka sendiri maupun di tengah masyarakat yang lebih luas. Dengan pemahaman yang lebih luas, mereka dapat membantu mengurangi sikap eksklusif dan ekstrem dalam beragama, serta memperkuat hubungan sosial yang lebih harmonis. Oleh sebab itu, moderasi beragama diharapkan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang damai, saling menghormati, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga: Masjid Lerabaing Alor : Keunikan, Misteri, dan Saksi Bisu Toleransi di Nusa Tenggara Timur

*Ilustrasi dibuat oleh Artificial Intellegence