Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

PEKALONGAN — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggelar kegiatan doa bersama antarumat beragama. Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus memperkuat persatuan dan kerukunan umat beragama di wilayah tersebut.

Kegiatan doa bersama ini diikuti oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Pekalongan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai agama. Acara berlangsung khidmat dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan, Imam Teguh Wibowo, menuturkan bahwa kegiatan doa bersama ini merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus perjalanan panjang Kabupaten Pekalongan.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia dan memperingati ke-404 Hari Jadi Kabupaten Pekalongan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama,” ujar Imam di Pekalongan, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Ia menambahkan, keberagaman agama dan keyakinan di Kabupaten Pekalongan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, semangat saling menghormati dan menghargai perlu terus dijaga.

“Kami berharap melalui kegiatan ini semakin terjalin kebersamaan, persaudaraan, dan toleransi di antara masyarakat. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan agar semakin maju dan masyarakatnya makin sejahtera,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, doa disampaikan oleh perwakilan umat beragama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh penghormatan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur, doa bersama tersebut juga menjadi sarana untuk memanjatkan harapan bagi Kabupaten Pekalongan. Masyarakat berharap daerah ini senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, keberkahan, serta kelancaran dalam melaksanakan pembangunan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan semangat gotong royong dan toleransi, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan Kabupaten Pekalongan yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera.

Melestarikan Tradisi ngaliwet Desa Bunikasih di Tengah Arus Modernisasi

Penulis: Sofiatul Afidah, Editor: Mohammad Rizqi Fathurrohman

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup yang serba praktis, kebiasaan berkumpul bersama perlahan mulai memudar. Kesibukan bekerja, aktivitas di dunia digital, hingga budaya makanan cepat saji membuat banyak orang lebih memilih menikmati makanan sendiri daripada meluangkan waktu untuk berbincang bersama keluarga maupun tetangga. Padahal, di berbagai daerah di Indonesia masih terdapat tradisi yang mampu menjaga kehangatan hubungan antar manusia. Salah satunya adalah tradisi ngaliwet yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Bunikasih, Kecamatan Warung kondang, Kabupaten Cianjur.

Dahulu, nasi liwet dimasak oleh para petani menggunakan tungku kayu bakar untuk bekal atau santapan setelah bekerja di sawah. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat, seperti syukuran, pengajian, kerja bakti, musyawarah warga, hingga acara kebersamaan lainnya.

Baca Juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Di Desa Bunikasih, tradisi ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam berbagai kegiatan, warga berkumpul untuk menyiapkan hidangan bersama. Ada yang mencuci beras, membersihkan lauk, mengulek sambal, menyalakan api, hingga menata makanan. Tidak ada pembagian tugas yang kaku; semua bekerja dengan sukarela demi terciptanya kebersamaan. Dari proses sederhana inilah nilai gotong royong tumbuh dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keistimewaan Ngaliwet tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung dalam setiap unsurnya. Salah satunya adalah penggunaan daun pisang sebagai alas makan. Selain memberikan aroma alami yang khas pada makanan, penggunaan daun pisang melambangkan kesederhanaan, kebersihan, dan persatuan. Seluruh hidangan disajikan di atas satu hamparan daun pisang sehingga setiap orang duduk sejajar tanpa membedakan usia, kedudukan, maupun latar belakang sosial. Hal ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dan kebersamaan akan terjalin ketika setiap orang saling menghargai.

Nasi liwet dimasak dengan berbagai rempah, seperti serai, daun salam, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya. Perpaduan rempah tersebut tidak hanya menghasilkan aroma harum dan cita rasa khas, tetapi juga mengandung filosofi tentang keberagaman. Setiap rempah memiliki rasa dan karakter yang berbeda, namun ketika dipadukan mampu menghasilkan hidangan yang lezat. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang dapat menciptakan keharmonisan apabila di satukan dalam semangat kebersamaan.

Keunikan lainnya terlihat pada penggunaan kastrol, yaitu wadah memasak tradisional berbahan logam yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk memasak nasi liwet di atas tungku kayu bakar. Memasak dengan kastrol membutuhkan kesabaran dan ketelitian karena api harus dijaga agar tetap stabil hingga nasi matang dengan sempurna. Proses tersebut mengajarkan bahwa hasil yang baik memerlukan waktu, kerja sama, dan kesungguhan. Sama halnya dalam kehidupan bermasyarakat, keharmonisan hanya dapat terwujud apabila setiap orang saling membantu dan menghargai peran satu sama lain.

Setelah matang, nasi liwet disajikan memanjang di atas daun pisang dan dinikmati bersama menggunakan tangan. Cara makan seperti ini menciptakan suasana hangat dan akrab. Tidak ada meja kehormatan ataupun tempat duduk khusus. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua duduk dalam satu barisan, menikmati hidangan yang sama sambil berbagi cerita dan tawa. Momen sederhana tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan kebersamaan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bunikasih, kami melihat langsung bahwa tradisi ngaliwet masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kehangatan yang tercipta sejak proses memasak hingga makan bersama menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai yang masih hidup dan terus dijaga. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, meskipun perkembangan zaman terus bergerak begitu cepat.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ngaliwet memiliki makna yang semakin penting. Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi bukan berarti nilai budaya harus ditinggalkan. Justru generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan kembali tradisi ini melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, maupun media sosial agar tetap dikenal oleh masyarakat luas.

Melestarikan tradisi ngaliwet bukan sekadar mempertahankan cara memasak atau menikmati makanan bersama. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan upaya menjaga nilai gotong royong, persaudaraan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang telah diwariskan oleh para leluhur. Desa Bunikasih menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Semoga semangat kebersamaan yang lahir dari tradisi ngaliwet terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya, serta mengingatkan kita bahwa warisan paling berharga bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat, melainkan juga nilai-nilai luhur yang terus dijaga bersama.

 

Belajar Moderasi Beragama dari Pengajian Kampung Babakan Haur, Banten

Penulis: Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal, Editor: Muslimah

Ketika mendengar istilah moderasi beragama, yang sering terbayang adalah seminar, diskusi akademik atau forum-forum resmi yang membicarakan toleransi dan kerukunan. Padahal, menurut saya, moderasi beragama justru akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai konsep yang dibicarakan di ruang-ruang formal. Moderasi beragama seharusnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah disebut sebagai praktik moderasi.

Pandangan itu semakin saya rasakan ketika mengikuti pengajian di Kampung Babakan Haur, Kabupaten Lebak, Banten, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI. Di kampung tersebut, saya mengikuti pengajian rutin yang diasuh K.H. Dahlan Ghojali. Jamaah bersama-sama melakukan tawasul dan istighasah, kemudian mendengarkan kajian tafsir Surah Yasin ayat 10–11.

Baca Juga: Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Namun, yang paling menarik perhatian saya bukan hanya materi pengajiannya. Justru suasana setelah pengajian membuat saya banyak berpikir. Jamaah duduk bersama, menikmati kopi dan makanan ringan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Tidak ada kesan bahwa kegiatan keagamaan harus selalu berlangsung dalam suasana yang formal dan kaku. Pengajian menjadi ruang bertemu, berbagi cerita, dan mempererat hubungan antar sesama.

Dari situ saya bertanya kepada diri sendiri: bukankah suasana seperti inilah salah satu wajah moderasi beragama?

Kementerian Agama menjelaskan bahwa moderasi beragama memiliki empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Konsep tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang memahami agamanya, tetapi juga bagaimana pemahaman itu diwujudkan dalam kehidupan sosial.

Apa yang saya lihat di Babakan Haur menunjukkan bahwa nilai tersebut sebenarnya dapat tumbuh tanpa harus menggunakan istilah yang rumit. Masyarakat duduk bersama dalam satu majelis, saling menghargai, mendengarkan nasihat, dan membangun keakraban. Perbedaan usia, pekerjaan, maupun latar belakang sosial tidak menjadi alasan untuk membuat jarak.

Bagi saya, inilah bentuk tasamuh yang sering kali lebih mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat daripada dalam definisi-definisi akademik. Toleransi tidak selalu harus berupa tindakan besar. Terkadang ia hadir dalam kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, menghargai, dan tidak merasa paling benar sendiri dalam kehidupan sosial. Hal lain yang menarik adalah keberadaan tradisi membawa kopi dan makanan dari rumah. Tradisi semacam ini memang bukan bagian dari ritual ibadah. Akan tetapi, justru di situlah budaya lokal menemukan ruangnya sebagai bagian dari kehidupan keberagamaan masyarakat. Kebiasaan berbagi makanan menjadi sarana membangun silaturahmi dan mempererat persaudaraan.

Menurut saya, sikap seperti ini penting dalam memahami hubungan antara agama dan budaya. Moderasi beragama bukan berarti menjadikan agama tunduk kepada budaya, tetapi juga bukan berarti agama harus selalu berhadapan dengan budaya. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama dan membawa kemaslahatan, budaya dapat menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan.

Cara Kiai Dahlan menyampaikan pengajian juga memberikan pelajaran tersendiri. Nasihat agama disampaikan dengan bahasa yang santun dan menyejukkan. Tidak ada kebutuhan untuk merendahkan kelompok lain agar ajaran yang disampaikan terlihat paling benar. Bagi saya, cara berdakwah semacam ini justru menunjukkan kekuatan agama: mampu menyampaikan kebenaran tanpa harus menggunakan kekerasan. Di tengah masyarakat yang semakin mudah ter polarisasi oleh perbedaan pilihan, identitas, dan pemahaman keagamaan, cara-cara dakwah yang menyejukkan menjadi semakin penting. Agama seharusnya menjadi ruang untuk menemukan kedamaian, bukan sumber pertengkaran.

Pengalaman di Babakan Haur akhirnya membuat saya melihat moderasi beragama dari sudut pandang yang berbeda. Moderasi tidak selalu berbentuk slogan, program pemerintah, ataupun materi seminar. Ia dapat hadir dalam pengajian kampung, dalam secangkir kopi yang diminum bersama, dalam makanan yang dibagikan, dalam nasihat seorang kiai, dan dalam kesediaan masyarakat untuk terus menjaga silaturahmi. Justru di situlah letak kekuatan moderasi beragama. Ia tidak selalu perlu disebut, tetapi harus dirasakan.

Tidak selalu harus diajarkan secara teoritis, tetapi perlu dicontohkan melalui kehidupan. Dari Babakan Haur saya belajar bahwa keberagamaan yang kuat bukanlah keberagamaan yang gemar membangun jarak. Sebaliknya, keberagamaan yang matang adalah keberagamaan yang mampu menghadirkan kedamaian, menjaga persaudaraan, menghormati budaya yang baik, dan menempatkan perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Sebab pada akhirnya, moderasi beragama bukan tentang menjadi kurang religius. Moderasi justru tentang bagaimana keberagamaan yang kita yakini mampu melahirkan sikap yang lebih menghargai sesama.

Kenduren: Merawat Tradisi, Menumbuhkan Moderasi Beragama

Penulis: Tara Septiarani, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama tidak selalu dipahami melalui ruang-ruang akademik atau seminar. Dalam banyak kesempatan, nilai-nilai tersebut justru hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Pengalaman saya mengikuti tradisi kenduren di Dusun Karangjambu, Desa Tunjungseto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, memberikan pemahaman bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang tumbuhnya sikap beragama yang moderat sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Tradisi kenduren dilaksanakan setiap bulan Sura pada hari Jumat Kliwon. Sejak pagi, masyarakat bergotong royong membersihkan area makam sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Setelah itu, warga berkumpul sambil membawa tenongan berisi makanan dan hasil bumi dari rumah masing-masing. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin kepala dusun, kemudian seluruh makanan dinikmati bersama tanpa membedakan status sosial, usia, maupun latar belakang ekonomi. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antartetangga sekaligus menumbuhkan rasa syukur kepada Allah Swt.

Bagi masyarakat setempat, kenduren merupakan ikhtiar memohon keselamatan agar kampung terhindar dari berbagai musibah. Namun, di balik makna spiritual tersebut, saya melihat nilai-nilai sosial yang sangat kuat. Semangat ta’awun tampak melalui gotong royong sejak persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, sedangkan nilai musawah tercermin ketika seluruh warga duduk bersama menikmati hidangan tanpa sekat sosial. Pada malam harinya, masyarakat kembali berkumpul menyaksikan pertunjukan wayang. Kehadiran anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia dalam satu ruang budaya menunjukkan bahwa tradisi juga berfungsi sebagai media mempererat hubungan antargenerasi.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Pengalaman tersebut selaras dengan konsep moderasi beragama yang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan serta menghargai keberagaman. Dalam tradisi kenduren, setidaknya tampak dua indikator moderasi beragama. Pertama, akomodasi terhadap budaya lokal, yakni kemampuan masyarakat memelihara tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai pokok ajaran Islam. Doa bersama menjadi bentuk spiritualitas, sedangkan kenduren dan wayangan menjadi media memperkuat solidaritas sosial. Kedua, komitmen kebangsaan terlihat melalui keterlibatan pemerintah desa dalam mendukung pelestarian tradisi sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Fenomena tersebut sejalan dengan gagasan K.H. Abdurrahman Wahid tentang pribumisasi Islam. Gus Dur menegaskan bahwa Islam tidak harus mencabut masyarakat dari akar budayanya, tetapi hadir memberi makna dan nilai pada tradisi yang hidup di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh M. Quraish Shihab yang menjelaskan bahwa keberagamaan yang moderat ditandai oleh sikap tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan), sehingga hubungan kepada Allah berjalan selaras dengan hubungan harmonis antarsesama manusia.

Kenduren mengajarkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan praktik sosial yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada pada posisi yang saling berhadapan, tetapi dapat berjalan berdampingan dalam membangun persaudaraan, gotong royong, dan harmoni sosial. Dari Dusun Karangjambu, saya belajar bahwa merawat tradisi lokal juga berarti merawat ruang kebersamaan dan memperkuat persatuan dalam keberagaman Indonesia.

Referensi

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama. Lentera Hati.

Dari Makam Menggerakkan Resonansi Ekonomi Masyarakat

Penulis: Abdul Basid*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Ziarah ke makam ulama dan aulia acap kali diliputi kekhilafan dalam memaknai aktivitas tersebut, yang sering dikaitkan dengan kesyirikan. Padahal, ziarah ke makam para salihin bertujuan untuk mengenang, mengenal sejarah (manaqib), meneladaninya, mengingatkan pada kematian, serta menyambung batiniah kita kepada orang-orang yang sejatinya tidak meninggal. Kita tidak meminta sesuatu terhadap maqbarah (makam), melainkan meminta kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada orang-orang saleh.

Di Pekalongan, ada makam Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas yang tak pernah sepi diziarahi peziarah, apalagi pada bulan Muharam dan menjelang haul di pertengahan bulan Syakban. Posisi makam yang dekat dengan jalur Pantura memudahkan peziarah Walisongo untuk mampir sejenak beristirahat sambil berbelanja kain batik. Masuk di Batang, terdapat situs Wonobodro yang sangat ramai pada bulan Muharam. Bila di Sapuro banyak dijajakan kain batik, di Wonobodro banyak dijual olahan hasil bumi seperti opak, keripik singkong, emping melinjo, dan dagangan lain yang berasal dari luar daerah.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Kita bisa mengamati makam-makam Walisongo mulai dari Surabaya (Sunan Ampel Raden Rahmat), Tuban (Sunan Bonang), Lamongan (Sunan Drajat Raden Qasim), Gresik (Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri Raden Paku), Demak (Sunan Kalijaga Raden Said), Kudus (Sunan Kudus Ja’far Shadiq), Muria (Sunan Muria Raden Umar Said), hingga Cirebon (Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah) tidak pernah sepi peziarah sepanjang tahun.

Dari keramaian pengunjung makam, kita melihat perputaran miliaran uang di sekitar makam-makam tersebut. Di sana ada warung makan, pedagang oleh-oleh, suvenir, pedagang bunga tabur, pedagang minyak, pakaian, penginapan, layanan WC umum, ojek, peminta-minta, dan jasa lainnya. Andaikata situs tersebut ditutup, ribuan orang yang bergantung pada perputaran roda ekonomi berbasis makam akan terkena PHK. Dampak ekonomi dari situs makam tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga para pemandu wisata religi, kiai pemimpin ziarah, perusahaan autobus beserta sopir dan kernetnya yang turut memperoleh keberkahan.

Masyarakat yang mengagendakan diri untuk berziarah pun bersemangat berusaha dan menabung agar setiap tahun bisa mendatangi maqbarah para ulama dan aulia. Dengan kata lain, makam Sunan Ampel di Surabaya mampu menggerakkan tali perekonomian masyarakat hingga ke ujung barat Pulau Jawa. Dari situs makam ulama dan aulia, mengalir resonansi perekonomian yang menggetarkan masyarakat sekitar makam hingga ke pelosok daerah.

Fenomena ini bisa menjadi penyebab munculnya makam-makam aulia yang diduga palsu. Dengan mengelola makam palsu secara terpusat, dapat dikumpulkan pundi-pundi kotak amal (sedekah) peziarah, uang parkir dan keamanan, pungutan pedagang, serta jasa-jasa lainnya. Fenomena makam ini bukan lagi menunjukkan menggeliatnya kesadaran spiritualitas masyarakat, melainkan kesadaran tentang keberhasilan makam dalam menggerakkan perekonomian sebagai bentuk karamah dan berkah aulia, yang ditangkap secara negatif sebagai bisnis berbasis makam.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Kemurnian berkah dan karamah aulia sahibulmakam dikuantifikasi, kemudian dijadikan sebagai peluang bisnis berbasis makam. Bisnis berbungkus (berbau) syariah juga bisa kita lihat pada transaksi “syariah” di bank syariah, bisnis properti, asuransi, haji dan umrah, serta lain sebagainya sebagai peluang usaha. Semangat untuk beragama dengan baik dan meniru teladan Nabi Muhammad saw. akan ditangkap secara berbeda oleh pebisnis, ulama, dan masyarakat awam.

Nah, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang tersebar di seluruh penjuru tanah air—dengan penamaan lembaga berbasis tokoh, ulama, dan pejuang Islam—bisa menangkap peluang bisnis makam ini dengan pelurusan akidah islamiah. PTKI dapat melakukan riset mengenai ulama, kiai, dan aulia di wilayahnya; membuat peta wisata religi; serta menyiapkan para pemandu wisata santun, berwawasan luas, dan siap menjadi imam ziarah. Pemandu wisata juga bertugas melakukan edukasi agar peziarah bisa mengambil nilai-nilai wisata tanpa terjebak pada kesyirikan.

Bila Sunan Ampel yang berada di Surabaya dapat menggerakkan masyarakat di ujung Pulau Jawa, maka Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatra Barat, Syekh Abdurrauf As-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Wahab Rokan di Riau, dan para masyaikh penyebar Islam di Sumatra juga bisa menggerakkan masyarakat Madura untuk berziarah.

*Analis Kebijakan Ahli muda

Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Penulis: Ahmad Izzadin, Penyunting : Dwi Selma Fitriani

Dalam literatur Islam, tahun baru dimulai pada bulan Muharam atau dalam khazanah kebudayaan Jawa disebut sebagai bulan Suro. Untuk menyemarakkan momen tersebut, masyarakat Indonesia biasa mengadakan peringatan seremonial, di antaranya adalah pawai obor.

Di salah satu daerah di Jawa Tengah, tepatnya di Kelurahan Kuripan Kidul, Kota Pekalongan, masyarakat mengadakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H. Acara ini diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Kuripan Kidul pada tanggal 15 Juni 2026. Peringatan yang rutin diadakan setahun sekali pada malam 1 Suro ini diawali dengan sambutan dari Lurah Kuripan Kertoharjo. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kirab pawai keliling kelurahan yang menampilkan berbagai kreasi warga. Iring-iringan pawai ini diikuti oleh masyarakat umum dan sekolah-sekolah yang ada di kawasan Kuripan Kidul.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

Pawai kali ini menampilkan enam kreasi dari warga Kuripan Kidul, yaitu paguyuban warga Gang 1-2, Gang 4, Gang 8, Gang 11-12, Gang 16-17, dan siswa SDN 1 Kuripan Kidul. Berbagai kreasi tersebut dilombakan dan dimenangkan oleh warga Gang 4. Posisi kedua diraih oleh warga Gang 11-12, disusul oleh warga Gang 8 di posisi ketiga. Dalam sebuah wawancara, Ketua IPNU Kuripan Kidul, Zimam Chanifush Shidqi, mengungkapkan, “Menjadi panitia kegiatan ini sangat melelahkan karena ini termasuk acara besar di Kuripan Kidul, disorot satu kelurahan, dan melibatkan banyak orang. Namun, melihat antusiasme para warga—baik penonton maupun peserta—rasa lelah tersebut akhirnya terbayarkan dan menimbulkan sukacita tersendiri.”. Peringatan 1 Suro ini turut dihadiri oleh Lurah setempat yang juga bertindak sebagai juri untuk menilai kreativitas warga. Barisan pawai pada kegiatan ini mengular hingga kurang lebih 1 kilometer. Selain penampilan warga, barisan pawai juga dimeriahkan oleh marching band Bintara asal Batang dan marching band Medika asal Kota Pekalongan. Para pengibar bendera yang mayoritas berasal dari IPNU-IPPNU Kertoharjo juga ikut menyemarakkan peringatan tersebut.

Peringatan Tahun Baru Islam di Kuripan Kidul ini menjadi ajang silaturahmi yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Meskipun penyelenggara acara berasal dari organisasi keagamaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama, partisipan kegiatan ini juga mencakup warga Muhammadiyah. Selain itu, warga setempat bergotong royong untuk menyukseskan jalannya acara. Ada yang memberikan donasi berupa uang dan makanan ringan untuk para peserta pawai. Pihak kepolisian dan warga lain yang tidak tergabung dalam kepanitiaan pun turut membantu menjaga keamanan selama peringatan berlangsung.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Acara ditutup dengan pertunjukan kreasi dari setiap paguyuban di hadapan juri untuk proses penilaian lomba. Setelah seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing, para panitia bergotong royong membersihkan jalanan di sepanjang kelurahan dari tumpukan sampah selama pawai berlangsung.

Curug Blanten dan Sendang Luhur: Harapan Baru Wisata Alam di Kajen

Penulis: Najwa Aisha Mohandis, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

  Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kini memiliki potensi wisata alam yang semakin berkembang melalui wisata canyoneering di Curug Blanten, Dusun Gunungtelu. Wisata ini menawarkan pengalaman petualangan yang berbeda, yaitu menyusuri sungai, menuruni tebing air terjun, dan menikmati keindahan alam secara langsung. Kehadiran wisata canyoneering menjadi langkah positif dalam mengembangkan potensi wisata desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

​      Salah satu dampak yang paling terlihat adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi para pemuda Desa Kutorojo. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan wisata, mulai dari menjadi pemandu, tim keamanan, tim dokumentasi, hingga pengelola kegiatan. Keterlibatan pemuda dalam pengelolaan wisata ini menunjukkan bahwa potensi desa dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

​      Selain membuka peluang kerja, wisata canyoneering juga menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi warga sekitar. Kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil, seperti penjual makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan wisata lainnya. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di lingkungan sekitar Dusun Gunungtelu.

​     Menariknya, wisata ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan maupun dari kota-kota lain di Jawa Tengah untuk merasakan sensasi canyoneering yang masih tergolong baru dan unik. Tingginya minat pengunjung dari luar daerah menunjukkan bahwa Curug Blanten memiliki daya tarik yang kuat dan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pekalongan. Kehadiran wisatawan tersebut juga turut memperkenalkan Desa Kutorojo, #Wisata, #DesaKutorejo, #KKN #hijratunaa, #curugkepada masyarakat yang lebih luas.

​     Sistem pengelolaan wisata yang diterapkan juga cukup baik karena menggunakan sistem booking terlebih dahulu dan hanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan sistem tersebut, jumlah peserta dapat dikendalikan sehingga pelayanan, kenyamanan, dan keselamatan tetap terjaga. Biaya yang dikenakan sebesar Rp185.000 per orang sudah mencakup makan, perlengkapan canyoneering yang lengkap dan aman, dokumentasi foto serta video, dan pendampingan langsung oleh petugas yang berpengalaman.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

      ​Aspek keselamatan menjadi salah satu keunggulan wisata ini. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti briefing atau pengarahan mengenai tata cara kegiatan, penggunaan peralatan, teknik dasar canyoneering, serta prosedur keselamatan yang harus dipatuhi selama berada di area wisata. Setelah briefing selesai, peserta dibekali perlengkapan keselamatan yang sesuai standar dan didampingi oleh pemandu selama kegiatan berlangsung. Dengan adanya pengarahan dan pendampingan tersebut, wisatawan dapat menikmati aktivitas canyoneering dengan lebih aman, nyaman, dan percaya diri.

​      Selain memperhatikan aspek keselamatan, pengelola juga telah berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui perbaikan akses menuju lokasi wisata. Jalan menuju Curug Blanten berupa jalan setapak yang kini telah dipermudah dan ditata dengan lebih baik sehingga lebih aman dan nyaman untuk dilalui. Perbaikan jalur setapak ini memudahkan wisatawan saat menuju lokasi kegiatan tanpa menghilangkan keasrian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Dengan akses yang semakin baik, pengunjung dapat menikmati perjalanan menuju curug dengan lebih nyaman sambil menikmati pemandangan alam khas Dusun Gunungtelu.

   Perkembangan wisata canyoneering di Dusun Gunungtelu pun terus berlanjut. Setelah Curug Blanten mulai dikenal oleh banyak wisatawan, kini telah resmi dibuka lokasi canyoneering baru di Curug Sendang Luhur pada 6 Juni 2026. Kehadiran destinasi baru ini menjadi bukti bahwa potensi wisata alam di Desa Kutorojo masih sangat besar untuk dikembangkan. Dengan adanya dua lokasi canyoneering, pilihan wisata bagi pengunjung menjadi lebih beragam dan peluang ekonomi masyarakat pun semakin terbuka.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

​  Keberadaan Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya mampu menghadirkan pengalaman rekreasi dan petualangan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Melalui pengelolaan yang melibatkan warga lokal, khususnya para pemuda desa, manfaat wisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar.

    ​Ke depannya, diharapkan minat pengunjung, terutama dari luar Desa Kutorojo, luar Kabupaten Pekalongan, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, terus meningkat sehingga wisata canyoneering ini semakin dikenal luas. Diharapkan pula wisata ini dapat menjadi salah satu ikon wisata petualangan unggulan Kabupaten Pekalongan yang mampu mengangkat nama Desa Kutorojo di tingkat yang lebih luas. Selain itu, semakin berkembangnya wisata ini diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi pemuda desa, mendorong tumbuhnya usaha-usaha lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, promosi yang berkelanjutan, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah, wisata canyoneering di Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Kutorojo.

Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

Penulis: Ulia Anjumi, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang di kota-kota besar, meninggalkan narasi desa-desa terpencil sebagai catatan kaki yang samar. Padahal, jika kita mau menelisik lebih dalam ke daerah perbukitan Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kita akan menemukan Desa Kutorojo, sebuah tempat di mana nama bukan sekadar identitas, melainkan sebuah prasasti berasitektur lokal yang menyimpan teka-teki masa lalu.

Asal Usul dan Cerita Rakyat

Desa di kawasan perbukitan ini dikenal dengan adanya Gua Putri. Berdasarkan cerita warga setempat, Gua Putri ini menjadi salah satu tempat wisata yang penuh dengan sejarah. Konon, nama Gua Putri ini diambil dari nama salah seorang putri Kerajaan Mataram pada zaman dahulu. Kisah ini berkaitan juga dengan asal-usul Desa Kutorojo itu sendiri. Berikut sedikit kisah tentang asal-usul Desa Kutorojo.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

Kisah diawali dengan datangnya putri dari Kerajaan Mataram pada abad ke-17 yang bersembunyi di gua di wilayah tersebut, dengan dijaga seorang pengawal pribadinya yang bernama Ki Gedhe Kutomoyo. Karena putri tersebut tinggal di gua tadi, maka hingga sekarang nama gua tersebut adalah Gua Putri. Di sekitar Gua Putri terdapat sebuah air terjun dengan dua cabang sumber air yang digunakan oleh sang putri untuk mandi, yang dinamakan Curug Luhur.

Setiap hari Ki Gedhe Kutomoyo menjaga sang putri dari kejauhan, tepatnya di sebuah batu raksasa. Batu ini berdiri di atas sebuah batu lebih kecil yang menyerupai sebuah payung, batu ini kemudian dinamakan Batu Payung. Sekian waktu berlalu, sang putri akhirnya tertangkap oleh Belanda dengan menggunakan jala sutra dan dibawa ke Batavia. Ki Gedhe Kutomoyo kebingungan karena ia tidak berdaya saat sang putri dibawa ke Batavia oleh tentara Belanda dan ia tidak bisa kembali ke Keraton Mataram. Ia duduk termangu di sebuah pasiten atau petilasan yang kemudian dinamakan Candi Kutomoyo. Di dekat pasiten tersebut terdapat sumber air yang dinamakan Telaga Pakis yang biasa digunakan oleh Ki Gedhe Kutomoyo untuk mandi.

Tatkala Ki Gedhe Kutomoyo kebingungan dan duduk termangu, datanglah tiga orang, yaitu Ki Gedhe Wangsaraga, Ki Gedhe Caturaga, dan Ki Gedhe Kertasari. Mereka berempat lalu bermusyawarah dan mendapatkan kesimpulan. Selanjutnya, Ki Gedhe Wangsaraga, Ki Gedhe Caturaga, dan Ki Gedhe Kertasari diberikan mandat oleh Ki Gedhe Kutomoyo untuk membentuk sebuah tempat untuk penduduk tinggal atau sebuah dusun.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

Ki Gedhe Wangsaraga membuat Desa Gunung Telu. Dinamakan Gunung Telu karena dikelilingi oleh tiga gunung. Di sebelah timur laut ada Gunung Munggang Asem, di barat daya ada Gunung Simangli, dan di sebelah tenggara ada Gunung Kruas.

Sementara itu, Ki Gedhe Caturaga membuat Desa Kutorojo. Nama Kutorojo sendiri diambil dari mandat yang diberikan oleh Kutomoyo, yaitu Kuto (mangkuto putri rojo atau tempat yang pernah ditinggali putri raja) dan Rojo, sehingga menjadi Kutorojo.

Sedangkan Ki Gedhe Kertasari membuat Dusun Binangun. Di Dusun Binangun tersebut pernah ada kejadian ketiban lintang dan di sana selama 35 hari tidak pernah gelap, sehingga akhirnya dusun tadi disebut Desa Silawan.

Setelah mereka selesai membuat sebuah dusun atau tempat tinggal penduduk, mereka bertiga kembali ke tempat Ki Gedhe Kutomoyo untuk duduk di petilasannya, namun beliau sudah tidak ditemukan lagi. Dengan menyebarnya kabar tentang adanya desa di daerah tersebut, maka datanglah penduduk-penduduk dari daerah lain, yang salah satunya bernama Ki Gedhe Singawangsa yang sakti. Ki Gedhe Singawangsa tadi diberi mandat untuk menjaga Desa Kutorojo dan sekitarnya oleh Ki Gedhe Kutomoyo setelah ia bersemedi di petilasan Candi Kutomoyo tadi.

Setelah diberi mandat untuk menjaga desa, Ki Gedhe Singawangsa menjaga desa di atas sebuah bukit di sebuah petilasan yang sekarang diberi nama Petilasan Candi Singawangsa. Itulah sedikit kisah tentang asal-usul Desa Kutorojo.

Lokasi menuju Gua Putri dari pusat desa berjarak sekitar 500 meter, namun dengan rute yang menantang. Untuk mencapai teras gua, pengunjung harus menaiki tebing dengan menggunakan akar-akar pohon besar. Maklum, gua itu berada di tebing yang tinggi. Sebuah cekungan di tebing itu dengan panjang sekitar 200 meter diyakini warga sebagai teras Gua Putri. Lokasi Gua Putri sendiri hanya beberapa orang yang mampu mengetahuinya. Selain medannya yang sulit, hanya orang-orang yang memiliki kelebihan yang bisa melihat Gua Putri. Di sekitar Gua Putri, beberapa benda sejarah pun masih ada, di antaranya sebuah batu payung berukuran besar, air terjun Kali Luhur, dan Gua Sibedil.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Batu Payung diyakini warga merupakan menara yang digunakan oleh para wali dan pasukan Mataram untuk mengamati pertempuran melawan penjajah Belanda. Sedangkan air terjun Kali Luhur digunakan untuk mandi putri Mataram dan pengikutnya saat bersembunyi di Gua Putri. “Gua Sibedil merupakan gua yang digempur pasukan Belanda. Banyak bekas-bekas tembakan di dinding-dinding gua, makanya diberi nama Gua Sibedil (Gua Senjata).” Selain beberapa tempat bersejarah tersebut, di Desa Kutorojo terdapat tiga candi atau petilasan dan makam keramat Singo Wongso yang hingga kini masih dijaga.

Romantisme Sejarah yang Terlupakan

Masyarakat lokal meyakini bahwa Kutorojo dulunya bukanlah sekadar permukiman biasa. Cerita tutur (folklor) yang diwariskan turun-temurun mengisyaratkan bahwa wilayah ini pernah menjadi tempat singgah, benteng pertahanan, atau bahkan petilasan tokoh-tokoh penting era kerajaan—baik dari masa Mataram Islam, Pengging, atau bahkan jauh sebelum itu. Topografi Kutorojo yang berada di ketinggian memberikan keuntungan strategis: tempat yang aman untuk mengintai musuh sekaligus wilayah yang subur untuk bertahan hidup.

Bukti bahwa Kutorojo bukan desa sembarangan tidak hanya hidup di awang-awang. Jika kita berjalan ke batas desa atau area yang dikeramatkan, kita masih bisa menemukan jejak fisik masa lalu, mulai dari batu-batu alam yang tersusun tak biasa mirip fondasi kuno, pohon-pohon besar berusia ratusan tahun yang menjadi saksi bisu, hingga keberadaan makam sesepuh penemu desa (babad alas) yang hingga kini masih diziarahi. Situs-situs fisik ini adalah jangkar nyata yang membuktikan bahwa mitos Kutorojo berakar pada realitas sejarah.

“Kutorojo itu bukan sekadar tempat tinggal, ini tanah petilasan. Dulu para pemimpin dan ksatria lari ke sini untuk menyusun strategi karena tempatnya tersembunyi dan aman,” ujar salah satu sesepuh desa dalam sebuah obrolan santai di pos ronda. Kalimat sederhana itu merangkum segalanya: ada harga diri dan nilai perjuangan yang tertanam di tanah ini.

Namun, ironi melanda ketika kita menyadari bahwa kebesaran sejarah Kutorojo saat ini lebih banyak hidup dalam ingatan para orang tua yang mulai rapuh. Generasi muda desa hari ini mungkin mengenal Kutorojo sebagai rumah yang asri dengan potensi pertaniannya, tetapi mulai kehilangan ikatan batin dengan “roh” sejarah yang melekat pada tanah kelahiran mereka.

Lebih dari Sekadar Dongeng Pengantar Tidur

Mengapa kita harus peduli pada sejarah sebuah desa?

Sejarah desa adalah jangkar identitas. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, masyarakat desa akan kehilangan arah di tengah gempuran modernisasi. Ketika warga Kutorojo memahami bahwa tanah yang mereka pijak memiliki nilai historis yang tinggi—entah itu sebagai bekas pusat pemerintahan lokal atau wilayah pertahanan—akan tumbuh rasa bangga (sense of pride) dan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi.

Kesadaran sejarah ini bukan untuk membuat kita terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan sebagai bahan bakar pembangunan. Desa yang menghargai sejarahnya tidak akan dengan mudah menjual tanahnya untuk kepentingan sesaat; mereka akan membangun dengan basis kelestarian alam dan budaya.

Kesimpulan

Kutorojo adalah pengingat bahwa Indonesia dibangun dari fondasi desa-desa yang kuat. Nama “Kutorojo” bukan sekadar warisan kata, melainkan sebuah amanah. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, didukung oleh pemerintah daerah, mulai meneliti, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai historis desa ini. Jangan biarkan Kutorojo hanya menjadi nama megah di atas peta, sementara kisah para “raja” di dalamnya hilang ditelan zaman. Menjaga sejarah Kutorojo adalah cara kita menghormati masa lalu sekaligus cara terbaik untuk merajut masa depan desa yang bermartabat.

Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

Penulis: Azza Fadlillah, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi yang semakin pesat, keberadaan kerajinan tradisional sering kali menghadapi berbagai tantangan untuk tetap bertahan. Salah satu kerajinan tradisional yang masih eksis hingga saat ini adalah kerajinan reyeng yang terdapat di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Reyeng merupakan wadah berbentuk anyaman bambu yang umumnya digunakan untuk mengemas ikan pindang, buah-buahan, maupun berbagai kebutuhan lainnya. Kerajinan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kutorojo secara turun-temurun dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian warga.

Kerajinan reyeng bukan sekadar produk anyaman biasa, melainkan mencerminkan keterampilan, ketekunan, dan kreativitas masyarakat desa dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar. Bambu sebagai bahan baku utama mudah ditemukan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi apabila diolah dengan baik. Melalui proses pemotongan, penjemuran, penghalusan, hingga penganyaman, masyarakat mampu menghasilkan produk yang memiliki fungsi praktis sekaligus nilai jual yang cukup menjanjikan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutorojo, penulis melihat secara langsung bagaimana kerajinan reyeng masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak pengrajin yang menjadikan usaha reyeng sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Selain itu, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran di desa.

Tidak hanya bernilai ekonomi, kerajinan reyeng juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Kemampuan menganyam reyeng yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Kutorojo. Apabila tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin keterampilan tersebut akan hilang seiring berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha kerajinan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama bahwa melestarikan kerajinan reyeng berarti turut menjaga warisan budaya daerah.

Namun demikian, perkembangan zaman juga menghadirkan tantangan yang cukup besar bagi para perajin reyeng. Produk berbahan plastik yang lebih murah dan mudah diperoleh sering kali menjadi pilihan masyarakat dibandingkan produk anyaman bambu. Selain itu, pemasaran yang masih terbatas menyebabkan produk reyeng belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kondisi ini mengakibatkan pendapatan perajin sering kali tidak stabil dan bergantung pada permintaan pasar lokal.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan berbagai upaya pengembangan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan mengenai inovasi produk, manajemen usaha, serta pemasaran digital agar para perajin mampu mengikuti perkembangan pasar. Selain itu, promosi melalui pameran UMKM, media sosial, dan platform perdagangan elektronik dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kerajinan reyeng kepada masyarakat yang lebih luas.

Inovasi produk juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kerajinan reyeng. Jika selama ini reyeng lebih banyak digunakan sebagai wadah ikan pindang, ke depan perajin dapat mengembangkan berbagai produk lain seperti tempat buah, wadah suvenir, keranjang hias, atau produk dekorasi rumah berbahan anyaman bambu. Dengan demikian, nilai jual produkdapat meningkat dan mampu menarik minat konsumen dari berbagai  kalangan.

Pada akhirnya, kerajinan reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan merupakan aset budaya sekaligus aset ekonomi yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Keberadaan kerajinan ini perlu mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar tetap lestari di tengah perubahan zaman. Melalui pelestarian, inovasi, dan pengembangan yang berkelanjutan, kerajinan reyeng tidak hanya mampu mempertahankan identitas budaya masyarakat Desa Kutorojo, tetapi juga dapat menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Penulis: Kamaludin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang sarat akan makna dan nilai kebersamaan adalah Larung Sesaji, yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir, termasuk di Banyuwangi. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan bagi berbagai elemen warga. Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan Larung Sesaji ini dapat dilihat dari teori sosiologi masyarakat.

Masyarakat adalah suatu sistem hubungan antara manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, serta memiliki kebudayaan, norma, dan nilai-nilai yang sama (KBBI). Karakteristik masyarakat dicirikan oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang mereka anut bersama. Namun, hal yang luar biasa adalah setiap masyarakat memiliki nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak ada dua masyarakat yang persis sama. Peristiwa ini menggambarkan bahwa sifat moderat sangat diterapkan oleh masyarakat Banyuwangi, yang saling bergotong royong dan tidak membedakan satu sama lain, khususnya terkait kepercayaan yang dianut.

Apa itu kegiatan Larung Sesaji dan apa saja isi dari acara tersebut sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan bermoderasi beragama?

Baca juga : Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Larung Sesaji merupakan kegiatan bermoderasi beragama. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang agama dan kepercayaan masing-masing. Larung Sesaji adalah sebuah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia, yang pada praktiknya mungkin memiliki sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai permohonan keselamatan dan kemakmuran. Hal ini sangat mencerminkan moderasi beragama karena pelaksanaannya tidak memandang latar belakang agama masyarakat.

Rangkaian kegiatan Larung Sesaji terdiri atas beberapa tahapan. Pertama adalah persiapan, di mana masyarakat menyiapkan sesajen berupa berbagai jenis makanan, buah-buahan, dan bunga. Kedua, dilakukan prosesi larung dengan membawa sesajen tersebut ke pantai atau laut. Ketiga, masyarakat memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Tahap terakhir adalah pelepasan sesajen ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.

Baca juga : Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

  1. Makna moderasi beragama yang bisa diambil dari tradisi Larung Sesaji ini sangat beragam. Pertama, sebagai wujud menghormati Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada-Nya selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Kedua, tradisi ini mengajarkan untuk menghargai keberagaman. Pelaksanaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan mampu memupuk rasa toleransi. Ketiga, kegiatan ini mengembangkan kesadaran sosial tentang pentingnya menghargai lingkungan dan alam. Keempat, Larung Sesaji mampu mengintegrasikan unsur agama dan budaya sehingga tercipta harmoni dan keselarasan. Pada akhirnya, tradisi ini terus menumbuhkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap Sang Pencipta beserta lingkungan sekitarnya.