Moderasi Beragama sebagai Landasan Kehidupan Multireligi di Desa Linggoasri

Penulis : Zakya Qory’ Alfaatih, Editor : Ika Amiliya Nurhidayah

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam budaya, bahasa, dan agama. Di Indonesia juga terdapat perbedaan antar agama, yang dari keberagaman ini  dapat mengacu keberadaan berbagai agama dan tradisi kepercayaan. Hal ini mencakup beragam keyakinan, praktik keagamaan, dan tradisi kepercayaan yang diikuti oleh masyrakat. Dan dari semua perbedaan dan keberagaman itu tidak menjadi suatu alasan bagi masyarakat Indonesia untuk saling membedabedakan dan saling menimbulkan perpecahan satu sama lain.

Dalam perbedaan tersebut ada prinsip moderasi beragama pada masingmasing agama, yang mana moderasi sangat penting dimiliki oleh setiap masyarakat beragama dalam mewujudkan masyarakat yang damai dan negara yang makmur. 

Mahasiswi dan mahasiswa UIN.K.H Abdurrahman Wahid melakukan study riset yang bertempatkan di desa Linggoasri. Moderasi beragama di Linggoasri, sebuah desa multireligi dengan empat agama, yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Budha, telah mewarnai kehidupan sehari-hari. Dari hasil riset, salah satunya berdasarkan penuturan Taswono sebagai penganut agama Hindu dan Mustajirin sebagai penganut agama Islam, mereka memberikan penjelasan tentang bagaimana bentuk moderasi beragama pada masyarakat Linggoasri, dimana konsep moderasi beragama tetap tertanamkan pada setiap agama.

Moderasi beragama pada agama Hindu menggunakan Catur Paramita sebagai suatu landasan untuk menerapkan moderasi beragama, landasan itu antara lain:

  • Maitri, yakni setiap manusia harus bersikap lemah lembut dan berlaku sopan santun kepada seluruh makluk hidup. Maitri juga berarti bahwa manusia harus selalu menghormati orang yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda sebagai budi pekerti yang luhur.
  • Karuna,  yaitu memiliki sifat welas asih atau saling menyayangi kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan serta menghindarkan diri dari tindakan yang bisa menyakiti orang lain .
  • Mudita, yaitu manusia baiknya selalu tersenyum dan bersikap ceria ataupun ramah dan bersahabat. Mudita juga bisa diartikan bahwa manusia perlu memiliki rasa simpati kepada siapa saja dan harus menjauhkan dirinya dari rasa iri dengki dengan selalu berbagi kegembiraan ke sekitarnya.
  • Upeksa, yaitu manusia harus memiliki sikap mau mengalah demi kebaikan serta tidak diperkenankan untuk menyimpan dendam. Upeksa juga diartikan sebagai sifat yang manusia yang perlu mengendalikan hawa nafsu agar tidak menimbulkan konflik.

Kemudian dari sisi agama Islam, masyarakat Desa Linggoasri menggunakan 4 dasar utama ahlussunnah waljamaah  yaitu:

  •  Tasamuh (Toleransi): Tasamuh mengacu pada sikap toleransi, yaitu kesediaan untuk menerima perbedaan dan pandangan yang berbeda dalam masyarakat. Ini mencakup penghargaan terhadap keberagaman dalam keyakinan, budaya, dan pandangan hidup.
  • Tawasuth (Moderasi): Tawasuth adalah konsep keseimbangan atau moderasi. Ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, pekerjaan, dan hubungan sosial, tanpa melibatkan diri dalam ekstremisme atau perilaku berlebihan.
  • Taadul (Keadilan): Taadul mengacu pada konsep keadilan. Ini menuntut agar setiap individu diperlakukan dengan adil dan setiap keputusan dibuat berdasarkan prinsip keadilan, tanpa diskriminasi atau penyelewengan.
  • Tawazun (Keseimbangan): Tawazun berarti menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Ini melibatkan pendekatan seimbang terhadap tuntutan agama, pekerjaan, dan hubungan sosial, serta menghindari sikap ekstrem atau berlebihan.

Di setiap sudut desa Linggoasri, tersirat pesan perdamaian, dan dengan pesan itu mengajak kita untuk merangkul keberagaman dan menumbuhkan semangat persatuan. Bersama-sama, kita membentuk komunitas yang menghargai perbedaan, menjadikan Linggoasri sebagai tempat di mana moderasi beragama bukan hanya menjadi konsep, tetapi gaya hidup yang diterapkan dengan penuh kasih sayang.

Tradisi Lokal dan Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan Perspektif Islam

Penulis : Ahmada Ghina Ghoniah, Editor : Tegar Dwi Pangestu

Pastinya kita tidak asing dengan istilah “rebo wekasan” orang pekalongan biasanya ada yang menyebutnya “rebu pungkasan”. Rebo Wekasan merupakan “hari keramat” yang dipercaya Masyarakat pada hari itu akan diturunkan bencana dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Rabu wekasan berakar dari dua kata yaitu rabu artinya hari rabu dan wekasan atau pungkasan yang artinya terakhir artinya hari rabu terakhir pada bulan safar. Tradisi “Rabu Wekasan” merupakan tradisi yang dimulai sejak para waliyullah dan dilestraikan sampai saat ini, masyarakat setempat biasanya merayakan ini agar mensyukuri nikmat Allah SWT serta menolak berbagai musibah, bahkan akan diturunkan sebanyak 3200 musibah. 

Abu Hurairah berkata, Rasullah Bersabda “tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tida pula ramalan sial, tidak ada burung dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarilah dari peyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” H. R. Imam Al- Bukhari dan Muslim). Tasa’um (anggapan sial) ini sudah terkenal pada umat jahiliyah dan sisa-sisanya masih ada pada kalangan muslimin saat ini. 

Ungkapan hadits la ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat ,enular dengan sendirinya, tanapa bersadar pada ketentuan takdir Allah.  

Masyarakat jawa dikenal sebagai masyarakat yang kental dengan ritua-ritual atau berdasarkan tradisi suatu komunitas tertentu, sebagai salah satu ciri masyarakat jawa yaitu melestarikan budaya nenek moyangnya. Terlepas dari ciri masyarakat jawa, masyarakat jawa juga sangat mendambakan hubungan dinamis antara manusia, alam dan Tuhan

Di tanah Jawa, ada ritual rebo wekasan yaitu ritual tolak bala. Biasanya kegiatan rebo wekasan diisi dengan puasa sunnah, sholat sunnah, pembacaan doa, membaca Al-Quran dan membaca Berzanji. Di Kota Pekalongan saat rebo wekasan banyak masyarakaat yang melakukan tradisi yaitu yang biasa dilakukan oleh para kyai dan orang yang tahu tentang rebo wekasan ini mereka setiap malam rebo wekasan selalu mengadakan membaca sholawat tolak bala’, Tahlilan, dan melakukan Shalat Mutlak dengan harapan semua dihindarkan dari bencana yang sudah disebutkan oleh waliyullah bahwa allah akan menurunkan 320.000 bala’ dalam satu malam. 

Kemudian ada juga masyarakat yang melakukan tradisi udik-udik atau udik-udikan, tradisi ini adalah sebuah kegiatan sedekah dengan cara melakukan penebaran uang recehan di kerumunan massa yang berkumpul yang bertujuan untuk Selamatan, sedekah, silaturrahim dan berbuat baik kepada sesama. Tradisi Rebo Wekasan pada mulanya berawal dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid”, yang disebut dengan “Mujarrabat ad-Dairobi”.Pemahaman lain mengenai Rebo Wekasan berasal dari Islam. Biasanya uang recehan itu dicampur dengan beras kuning dan kembang. Selanjutnya Masyarakat Pekalongan biasanya melakukan tradisi ini mulai dari pagi setelah sholat subuh dari sebelum fajar muncul sampai terbenamnya matahari, tujuannya agar mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang recehan. Tradisi ini biasanya tersebar dibeberapa desa di Kota Pekalongan seperti, desa Jenggot, Krapyak, Setono, Gamer, dan beberapa desa lainnya. 

Masyarakat kota Pekalongan sangat antusias menyambut rebo wekasan mulai dari anak kecil sampai orang dewasa mereka berbondong-bondong mencari rumah warga yang akan melakukan tradisi udik-udikan. Biasanya, para Masyarakat sudah mulai mencari tradisi ini dari pagi hari hingga sore hari, dengan berkeliling ke tetangga, gang-gang sebelah, bahkan sampai ke tetangga desa.

Dengan begitu, tradisi ini juga memiliki dampak negatif di lingkungan Masyarakat seperti, terjadinya kerusuhan karena  berdesak-desakan dengan warga sekitar yang bisa menyebabkan luka bahkan korban jiwa. Walaupun begitu, tradisi ini juga memiliki dampak positif seperti, menjaga kelestarian tradisi rebo wekasan di Kota Pekalongan. 

Melalui adanya tradisi rebo wekasan kita dapat mengetahui bagaimana antusias masyarkat saat menyambut tradisi tersebut, kemudia kita juga tau bagaiman rebo wekasan dalam islam, serta kita tahu bahwa Masyarakat masih menjunjung tinggi nilai ketuhanan, sosial hingga moral, dengan begitu kita sebagai Masyarakat harus bisa melestarikan tradisi tersebut.

Pandangan Islam dan Hukum Indonesia tentang Pernikahan Beda Agama

Penulis : M. Ady Fairuzabadi, Editor : Lulu Salsabilah

Disetap penjuru kampus islami pasti terus menggema soal moderasi. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mencari pasangan non-muslim atas dasar tersebut. Dalam artikel ini membahas bolehkah kita menikah dengan insan non-muslim? Dan apa saja dasarnya?

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT mengharamkan bagi orang mukmin menikah dengan orang musyrik yang menyembah berhala. Kemudian ayat ini memukul rata hukum haramnya menikah dengan orang musyrik dari kitabiyah (Yahudi dan Nasrani) dan Watsaniyah (penyembah berhala). Meskipun demikian, Ibnu Katsir mengecualikan pernikahan muslim dengan perempuan Ahli Kitab berdasarkan Surat al-Maidah ayat 5:

‎اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ  

“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi”

 Menurut Syekh at-Thanthawi dalam Kitab Al-Wasith, yang dimaksud Ahli Kitab dalam ayat ini ialah Yahudi dan Nasrani. Meskipun demikian, menurut Imam Nawawi, Imam al-Syafi’i berfatwa, laki-laki muslim boleh menikahi wanita kitabiyah apabila mereka beragama menurut Taurat dan Injil sebelum diturunkannya al-Qur’an, dan mereka tetap beragama menurut kitab sucinya. Sementara menurut tiga mazhab lainnya sebaliknya, meskipun agama Ahli Kitab tersebut telah dinasakh (diubah).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT menerangkan bahwa haram hukumnya seorang muslim menikah dengan orang kafir. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 10 sebagai berikut:

‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا جَاۤءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّۗ اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ 

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. (QS. Al-Mumtahanah: 10).

Menurut Imam At-Thabari ayat di atas memaparkan tentang perjanjian Nabi s.a.w dengan kaum musyrik Mekkah di Hudaibiyah, dengan salah satu isinya: setiap orang yang datang dari mereka harus dikembalikan kepada kaum musyrik Mekkah. Lalu ketika ada perempuan yang datang dari musyrik Mekkah dikecualikan jika setelah diuji ternyata ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka perempuan itu tidak boleh dikembalikan kepada kaum musyrikin Mekkah. Sebab orang mukmin tidak halal menikah dengan perempuan orang kafir dan orang muslimah tidak halal dinikahi oleh laki-laki kafir. 

Surat al-Baqarah ayat 221 Allah SWT melarang pernikahan beda agama dan sama sekali tak membuka peluang disahkan:

 

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْن – ٢٢١

Artinya, “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sehingga mereka beriman. Sesungguhnya seorang budak perempuan yang mu’min itu lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu dan janganlah kalian menikahkan laki-laki musyrik (dengan Wanita Muslimah) sehingga mereka beriman. Sesungguhnya budak laki-laki yang beriman itu lebih baik dari pada orang musyrik sekalipun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya, dan Allah menjelaskan ayat-ayatnya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran” (QS Al-Baqarah: 221).

Adapun  ashabul nuzul ayat ini, menurut riwayat dari Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Wahidi bersumber dari al-Muqatil adalah ketika Ibnu Abi Martsad al-Ghanawi meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menikahi anak seorang  wanita Quraisy yang miskin namun cantik yang dulu pernah menjadi kekasihnya sebelum masuk Islam, tatapi masih musyrikah. Sedangkan beliau seorang Muslim. Rasulullah SAW melarangnya, kemudian Allah menurunkan ayat ini. (Tafsir Al-Baghawi). Dan dalam tafsir yang lain, adanya aib bila seseorang menikah dengan budak perempuan dan menyukai dalam pernikahan wanita merdeka musyrik (Tafsir Jalalain). Seseorang tersebut adalah Abdullah bin Rawahah atau Hudhayfah bin Al-Yaman. Beliau memiliki budak perempuan maka dimerdekakannya dan diperistri. Akhirnya mereka dipandang rendah (Tafsir Showi: 112).

 

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 2 ayat (1) disebutkan: “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” Dalam rumusan ini diketahui bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Nomor 1 Tahun 1991 Pasal 4 tentang Kompilasi Hukum Islam menjelaskan bahwa, “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan”. Pasal 40 menyebutkan, dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu; seorang wanita yang tidak beragam Islam. Lebih tegas lagi larangan menikah beda agama pada Pasal 44: “Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam”. Pasal 61 disebutkan: “Tidak sekutu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali tidak sekufu karena perbedaan agama atau ikhtilaf al-dien.”

Dalam Islam, hukum menikah dengan orang non-Muslim telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan tafsir. Meskipun Allah melarang pernikahan dengan orang musyrik yang menyembah berhala, terdapat pengecualian untuk perempuan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) berdasarkan Surat al-Maidah ayat 5. Pendapat ulama berbeda terkait boleh tidaknya menikahi perempuan Ahli Kitab setelah diubahnya agama mereka. Selain itu, larangan menikah beda agama juga ditegaskan dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 10 dan Surat Al-Baqarah ayat 221.

Dalam konteks hukum Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam mengatur bahwa perkawinan sah jika dilakukan sesuai dengan hukum agama yang dianut. Larangan menikah beda agama juga dijelaskan secara tegas, seperti pada Pasal 44 yang melarang seorang wanita Islam menikah dengan pria non-Muslim. Keseluruhan, artikel ini menggambarkan pandangan Islam terkait pernikahan dengan fokus pada keabsahan dalam agama dan mencatat ketentuan hukum di Indonesia.

Potret Keharmonisan Toleransi dalam Keberagaman Agama di Desa Linggoasri

Penulis : Aznita Putri Kurnia, Editor : Faiza Nadilah

Sebelumnya izinkan saya menyampaikan sedikit hasil mini riset saya ketika berada di Desa linggo asri, desa yang berada di kec. Kajen kab. Pekalongan ini memiliki keragaman suku dan agama. Umumnya, setiap masyarakat lokal itu pastinya memiliki adat, ritual, dan tradisi unik mereka sendiri. 

Seperti masyarakat desa linggo asri, yang mempunyai adat dan tradisi tersendiri, contohnya adat dari agama islam, masyarakat Linggo Asri yang biasa melakukan ibadah sholat 5 waktu di masjid, berpuasa pada bulan ramadhan, mengeluarkan zakat untuk fakir miskin, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Dan terdapat beberapa tradisi lain disana seperti merayakan hari raya idul fitri dan idul adha, menyantuni anak yatim pada 10 muharrom, merayakan tahun baru islam, dll. 

Sedangkan agama hindu, mereka biasa melakukan ibadah² di pura, seperti pembaptisan atau upacara, pemujaan terhadap berbagai dewa, serta perayaan hari raya seperti Diwali. Pelaksanaan tradisi ini bisa berupa pelaksanaan upacara yajna atau persembahan, serta konsep karma dan reinkarnasi juga menjadi bagian penting dalam keyakinan Hindu. 

Harmonisasi antar umat beragama di Desa Linggo Asri sangat bagus, misalnya pada dialog antar agama, saling pengertian satu sama lain dan saling menghormati. Sehingga, hubungan antara islam dan hindu atau dengan agama lain menjadi rukun dan harmonis.

Masyarakat Desa Linggo Asri juga sudah sangat bertoleran baik dari segi apapun. Seperti dalam segi pendidikan, anak-anak disana akan diajarkan untuk memahami tentang berbagai macam agama, dan tidak membeda-bedakan antar agama satu dengan yang lainnya, serta menyediakan peluang bagi individu  untuk belajar satu sama lain secara langsung.

Kerukunan dalam berdialog tercermin pada saat salah satu warga mengadakan hajatan, dimana warga lain akan saling membantu saling tolong menolong. Selain itu, mereka juga membangun kesadaran multikultural agar tercipta toleransi. Kesadaran ini dibangun melalui kurikulum pendidikan dan media yang mendorong media untuk memunculkan pemberitaan yang memicu konflik keagamaan, dan menyoroti kisah-kisah positif tentang kerja sama antaragama.

Masyarakat Linggo Asri juga membangun jiwa sosial, agar selalu bekerja sama dalam mendorong proyek-proyek yang melibatkan berbagai kelompok agama untuk membangun keharmonian, dan saling mengutamakan kesejahteraan bersama di atas perbedaan keagamaan. 

Selain itu, kerukunan dan toleransi antar umat beragama lestrasi berkat peran dari para pemimpin agama yang mengajarkan nilai-nilai toleransi dan kerukunan kepada semua masyarakatnya, serta menggalang dukungan masyarakat untuk mempromosikan keharmonian.

Contoh-contoh toleransi yang mereka lakukan dalam sehari-hari seperti saling membantu dengan bergotong-royong, saling menghargai dan menghormati satu sama lain, dan jika salah satu agama melakukan perayaan maka agama lain pun ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut. 

Dengan implementasi langkah-langkah ini, masyarakat Linggo Asri pun dapat menciptakan lingkungan yang mendukung toleransi dan keharmonian serta kerukunan antar berbagai perbedaan keagamaan tanpa disertai konflik.

Menjelajah Makna dan Hikmah: Pemahaman Al-Quran dalam Kehidupan Umat Islam

Penulis : Gina Arum Riski, Editor : Kharisma Shafrani

Pemahaman Al-Quran, sebagai tonggak utama dalam kehidupan umat Islam, menandai perjalanan spiritual dan intelektual yang mendalam. Al-Quran, sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar sebarisan teks, melainkan petunjuk hidup yang penuh dengan makna dan hikmah yang melingkupi seluruh dimensi kehidupan. Memahami Al-Quran bukanlah sekadar membaca dan mentafsirkan kata-kata, tetapi merupakan upaya mendalam untuk meresapi nilai-nilai, norma-norma, dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Dalam meneliti dan menyelami kandungan suci Al-Quran, umat Islam dipandu untuk memahami ajaran moral, etika, dan tata cara hidup yang Islami. Ayat-ayat yang diungkapkan tidak hanya mengajarkan tentang ketaatan kepada Tuhan, tetapi juga memberikan panduan dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari. Pemahaman mendalam ini mencakup penafsiran yang memperhitungkan konteks sejarah, sosial, dan budaya pada saat wahyu tersebut diturunkan.

Hikmah Al-Quran, yang melampaui ruang dan waktu, membawa manfaat abadi bagi umat Islam. Memahami hikmah-hikmah ini memberikan kedalaman dan kekayaan spiritual, menjembatani hubungan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Al-Quran memberikan pandangan holistik tentang keberagaman manusia, keadilan sosial, dan keharmonisan dalam hubungan antar sesama. Selain itu, pemahaman terhadap Al-Quran juga menghadirkan dimensi bahasa Arab yang indah dan makna yang mendalam. Struktur bahasa yang luar biasa dari setiap ayat menciptakan kekayaan nilai estetika dan literer yang tak terhingga. Memahami bahasa Al-Quran membuka pintu bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman, termasuk ilmu tafsir, ilmu hadis, dan ilmu-ilmu yang memahami konteks sejarah serta linguistik.

Pemahaman Al-Quran melibatkan sikap kritis, reflektif, dan kontemplatif terhadap setiap ayat. Ini bukan hanya sekadar pencarian makna, tetapi juga penerapan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menyelami kandungan suci dan hikmah Al-Quran menciptakan kesadaran spiritual yang mendorong individu untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, dan empati terhadap sesama manusia. Dengan menggali pemahaman Al-Quran secara mendalam, umat Islam dapat meresapi petunjuk hidup yang membawa kedamaian, keberkahan, dan ketenangan jiwa. Pemahaman ini menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan penuntun bagi setiap langkah dalam perjalanan hidup, membimbing umat Islam untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai agama Islam dalam keberagaman dan kemajemukan dunia modern. Sehingga, melalui pemahaman Al-Quran yang mendalam, umat Islam dapat merangkul serta mengimplementasikan ajaran-ajaran suci ini dalam segala aspek kehidupan, membentuk pribadi yang tercerahkan, masyarakat yang adil, dan dunia yang penuh dengan cinta kasih dan kedamaian.

Pemahaman Al-Quran merupakan aspek sentral dalam kehidupan umat Islam, mengingat Al-Quran dianggap sebagai kitab suci yang merupakan petunjuk hidup bagi umat manusia. Proses pemahaman Al-Quran tidak sekadar sebatas membaca teks, tetapi melibatkan pemahaman mendalam terhadap ayat-ayatnya serta aplikasi nilai-nilai moral dan etika yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kunci utama dalam pemahaman Al-Quran adalah konteks historis dan linguistiknya. Oleh karena itu, memahami makna kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab serta mengetahui latar belakang sejarah saat ayat-ayat tersebut diungkapkan, membantu pengikut Al-Quran untuk menafsirkan pesan-pesan Allah dengan lebih tepat. Selain itu, pemahaman Al-Quran juga melibatkan pemahaman terhadap konsep-konsep dasar Islam, seperti tauhid (keyakinan pada keesaan Allah), risalah (kepercayaan pada rasul-rasul Allah), akhirat (keimanan pada hari kiamat), dan lain sebagainya. Selaras dengan itu, pemahaman akan ajaran-ajaran moral dan etika Islam dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, menciptakan masyarakat yang dipandu oleh nilai-nilai kebajikan dan keadilan.

Pentingnya pemahaman Al-Quran juga tercermin dalam praktik ibadah harian umat Islam, seperti shalat, puasa, dan zakat, yang merupakan tindakan konkret sebagai respons terhadap ajaran-ajaran Al-Quran. Selain itu, Al-Quran juga memberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan sosial, politik, dan ekonomi dengan penuh kebijaksanaan. Pemahaman Al-Quran yang mendalam juga mencakup konsep-konsep seperti jihad, yang seringkali disalahpahami, namun sebenarnya mengandung makna perjuangan untuk kebenaran, keadilan, dan keteguhan moral.

Dalam konteks kekinian, penting bagi umat Islam untuk menggabungkan pemahaman Al-Quran dengan ilmu pengetahuan dan konteks zaman, agar nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran dapat diaplikasikan secara relevan dalam kehidupan modern. Dengan demikian, pemahaman Al-Quran tidak hanya menjadi warisan spiritual, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan, harmonis, dan penuh kasih sayang di tengah dinamika perubahan zaman. Seiring dengan itu, kontinuitas dalam memperdalam pemahaman Al-Quran melalui studi, refleksi, dan aplikasi praktis menjadi suatu kewajiban bagi setiap individu Muslim guna mencapai keselarasan antara ajaran agama dan kehidupan sehari-hari. Pemahaman Al-Quran adalah perjalanan spiritual dan intelektual yang mengajak individu untuk menyelami kandungan suci kitab Allah ini. Al-Quran, sebagai wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW, merupakan petunjuk hidup komprehensif yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Proses menyelami kandungan suci Al-Quran tidak terbatas pada sekadar membaca dan menghafal ayat-ayatnya, melainkan melibatkan penghayatan yang mendalam terhadap makna-makna yang tersembunyi di dalamnya.

Salah satu kunci utama dalam menyelami kandungan suci Al-Quran adalah membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, konteks sejarah, dan tafsir yang mendalam. Ini melibatkan pemahaman terhadap bahasa Arab, konteks sosial, dan peristiwa sejarah saat ayat-ayat tersebut diwahyukan. Penyelamatan dalam konteks ini menciptakan fondasi pemahaman yang kuat dan relevan dalam menghadapi permasalahan zaman modern. Pentingnya menyelami kandungan suci Al-Quran juga tercermin dalam kemampuan untuk menghubungkan nilai-nilai abstrak dengan aplikasi konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bagaimana konsep tauhid dapat menjadi landasan untuk memahami persatuan dalam kehidupan bermasyarakat, atau bagaimana ajaran tentang sabar dan tawakal dapat diaplikasikan dalam menghadapi cobaan dan kesulitan hidup.

Selain itu, menyelami kandungan suci Al-Quran juga melibatkan refleksi diri dan introspeksi mendalam. Memahami pesan moral dan etika yang terkandung dalam setiap ayat mengundang individu untuk mengevaluasi perilaku dan tindakan mereka, serta berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan spiritual dan moral. Pentingnya menyelami kandungan suci Al-Quran juga tercermin dalam praktik ibadah harian, seperti shalat, puasa, dan zakat. Ibadah-ibadah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menyelami kandungan suci Al-Quran, individu Muslim dapat mencapai kedalaman spiritual yang memberikan pandangan yang jelas terhadap tujuan hidup dan makna eksistensi. Selain itu, pemahaman yang mendalam terhadap Al-Quran juga dapat menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalam menghadapi tantangan hidup, menciptakan kehidupan yang penuh makna, dan berkontribusi positif dalam masyarakat secara lebih luas. Pemahaman Al-Quran tidak hanya sebatas memahami teks secara harfiah, tetapi juga mengandung dimensi mendalam yang penuh hikmah. Hikmah-hikmah ini merangkum sejumlah nilai dan ajaran yang bersifat universal, memberikan panduan untuk mencapai kebijaksanaan hidup dan kesuksesan abadi. Salah satu hikmah utama dari Al-Quran adalah penekanan pada keesaan Allah (tauhid), membangun fondasi iman yang kokoh dan memberikan arah hidup yang jelas. Dalam menyelami kandungan Al-Quran, seseorang akan menemukan hikmah-hikmah tentang keadilan, kasih sayang, dan perdamaian. Kandungan suci Al-Quran juga memberikan hikmah terkait dengan tata cara beribadah, seperti shalat, puasa, dan zakat, yang bukan hanya sekadar kewajiban, melainkan sarana untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Allah dan meningkatkan kualitas moral serta etika individu. Hikmah ini meresap dalam setiap ajaran, mengajak umat Islam untuk hidup bermasyarakat dengan penuh kasih sayang, toleransi, dan keadilan.

Dalam hal konflik dan tantangan kehidupan, Al-Quran memberikan hikmah tentang kesabaran, tawakal, dan keteguhan dalam menghadapi cobaan. Hikmah ini memberikan ketenangan pikiran dan kekuatan batin, memungkinkan individu untuk melewati ujian hidup dengan penuh keyakinan dan harapan. Pentingnya berusaha mencapai keberkahan dalam segala aspek kehidupan juga termaktub dalam hikmah Al-Quran. Pemahaman terhadap konsep rezeki, keadilan ekonomi, dan tanggung jawab sosial menciptakan masyarakat yang adil dan berkeadilan.

Melalui pemahaman Al-Quran, individu juga diajak untuk memahami hikmah keberagaman dan toleransi antarumat beragama. Konsep pluralisme dan perdamaian di dalam Islam menjadi hikmah yang membangun jembatan antara umat beriman dari berbagai latar belakang. Dengan menyelami kandungan hikmah Al-Quran, seseorang dapat membentuk karakter yang mulia, penuh kebijaksanaan, dan bertanggung jawab. Pemahaman ini tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang harmonis dan beradab. Keseluruhan, pemahaman Al-Quran dan hikmah-hikmahnya membentuk landasan yang kokoh untuk membimbing individu menuju kehidupan yang bermakna dan penuh nilai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ishaq, Z., & Hamid, I. M. (2021). Konsep dan Metode Tadabbur dalam Al-Qur’an. Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan16(2), 132-141.

Sholihin, R. (2018). Munasabah Al-Quran: Studi Menemukan Tema Yang Saling Berkorelasi Dalam Konteks Pendidikan Islam. Journal of Islamic and Law Studies2(1), 1-20.

Zakaria, R. B., Fuad, Z., & Rasdi, M. N. A. (2014, December). Implikasi tadabbur Al-Quran dalam pembentukan insan yang berkualiti di sudut akhlak. In International Conference on Postgraduate Research.

Istianah, I. (2016). DINAMIKA PENERJEMAHAN AL-QURAN: Polemik Karya Terjemah Al-Quran HB Jassin dan Tarjamah Tafsiriyah Al-Quran Muhammad Thalib. Maghza: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir1(1), 41-56.

Hosen, N. (2019). Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (REPUBLISH). Bentang Pustaka.

Pahala, A. A. (2018). Resepsi Estetik Pada Lukisan Kaligrafi Sakban Yadi. Jurnal Tarbiyatuna9(1), 1-17.

Penguatan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Masyarakat Desa Linggoasri

Penulis: Devina Ayu Nafisah, Editor: Lulu Salsabilah

Indonesia adalah negara yang memliki berbagai macam budaya yang menarik pada masing-masing daerahnya, mulai dari tarian, rumah adat, lagu daerah, dan masih banyak lagi lainnya. Keaneka ragaman tersebut merupakan suatu anugrah dari Tuhan yang Maha Esa.  Salah satu dari banyaknya tradisi budaya yang masih berjalan yaitu sedekah bumi. Sedekah bumi bukan sekadar ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, melainkan juga simbol moderasi beragama. Para pemangku tradisi meyakini bahwa  sedekah bumi mengajarkan kepada kita arti keseimbangan dalam hidup yakni antara kebutuhan duniawi dan spiritual. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari ekstremisme dalam beragama.

Melalui tradisi sedekah bumi kita juga dapat belajar mengenai beberapa nilai kehidupan seperti nilai ketuhanan, sosial, hingga nilai moral. Nilai ketuhanan tertuang pada ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan kepada kita. Nilai sosial yaitu kita dapat belajar untuk merangkai kerukunan dengan masyarakat lewat upacara sedekah bumi ini. Nilai moral yaitu dapat kita implementasikan pada sikap kita yang berusaha untuk melestarikan budaya ini agar tetap terjaga. Sedekah bumi yang diakomodasi dalam semangat moderasi beragama tidak hanya menjadi warisan budaya lokal, tetapi juga tonggak penting dalam menjaga harmoni sosial. Dengan merawat tradisi ini, kita berinvestasi pada masa depan yang penuh keharmonisan.

Selanjutnya kita akan membahas mengenai moderasi beragama. Salah seorang tokoh agama Hindu di Desa Linggoasri, Bapak Taswono, mengungkapkan bahwa Moderasi beragama adalah pendekatan dalam praktik agama yang menekankan pada keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Ini melibatkan sikap yang moderat, tidak ekstrem, serta mengedepankan dialog dan pemahaman antar umat beragama. Hal ini disampaikan beliau dalam acara seminar dan riset pengarusutamaan moderasi beragama di Desa tersebut.

Dalam Desa Linggoasri sendiri terdapat 4 agama yaitu Hindu, Budha, Islam, dan kristen. Walaupun terdapat perbedaan kepercayaan yang dianutnya, masyarakat disana selalu hidup damai berdampingan dalam kerukunan dan kebersamaan. Mereka tidak pernah membeda-bedakan agama, sehingga mereka hidup saling membantu dan tolong-menolong. Seperti yang di ungkapkan bapak Taswono, beliau juga menegaskan lagi bahwa, “Kita rawan konflik dan pertikaian antar kelompok jika saja tidak ada upaya untuk menjaga kerukunan dalam bersikap moderat antar kelompok, terutama oleh kelompok antar agama.”  Bapak Taswono juga menyampaikan tetang dasar-dasar moderasi yang diajarkan oleh Agama Hindu. Di dalam Agama Hindu, moderasi diibaratkan sebagai sebuah bangunan rumah yang memiliki pondasi, tiang, hingga atap, yang semuanya itu harus  bersinergi.

Kata beliau, sebagai pondasinya dalam agama Hindu ada kaidah “Catur Parama Arta”, meliputi: Darma, Jenana (pengetahuan) dan Wijnana (kebijaksanaan), Ahimsa Parama Darma (tidak melakukan kekerasan), Bakti Rukyata (bakti dengan rasa tulus ikhlas didedikasikan untuk Sang Hyang Widi, yakni Tuhan).  Selanjutnya, ada pilar-pilar moderasi beragama yang mana juga digambarkan sebagai tiang suatu rumah: Maitri (sifat untuk menumbuhkan kasih sayang), Karuna (toleransi), Upeksa, dan Udita (sikap simpatik). Sementara atapnya, menurut beliau: Satwam, Siwam sundaram, dan Syastu.

Keseluruhannya itu, menurut Bapak Taswono, bertujuan tidak lain untuk mencapai sebuah kebahagiaan, di dalam Islam sendiri menggunakan istilah duniawi dan ukhrawi. Konsep moderasi beragama dalam Hindu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan lahir (duniawi) dan batin (ukhrawi). Dan menurut beliau, masih banyak lagi dalam ajaran Hindu yang jelas-jelas esensinya ialah untuk saling menjaga kerukunan antar umat seagama dan antar agama.

Juga dikatakan sama halnya dengan agama yang lainnya. “Dalam agama Hindu sendiri ada istilah: Sang Hyang Widi (hablun minallah), Pawongan (hablun minan nas), Palaman (hablun minal alam), yang kira-kira pasti sama dengan agama-agama yang lain,” tambah Bapak Taswono. Beliau juga mengatakan “Kita, dalam mendasari sikap moderasi, terdapat beberapa sikap untuk mencapainya: sikap terbuka, sikap bersedia menghargai dan menerima perbedaan, sikap rendah hati, sikap saling memaafkan.”

Materi terkait moderasi beragama juga turut disampaikan oleh tokoh agama Islam di Desa Linggoasri, yaitu Kyai Mustajirin. Tapi kali ini Kyai Mustajirin hanya menyampaikan sedikit tentang moderasi beragama, karena menurut beliau sudah dijelaskan panjang lebar oleh Bapak Taswono. Dalam Islam, konsep moderasi beragama dikenal dengan istilah “wasatiyyah” yang berasal dari kata Arab “وَسَطِيَّة” yang artinya tengah-tengah atau seimbang. Pemahaman wasatiyyah ini tercermin dalam berbagai aspek praktik keagamaan dan etika.

Beberapa prinsip moderasi beragama dalam Islam melibatkan:

  1. Tengah-Tengah (Tawassut): Menjauhi sikap ekstrem dan menempatkan diri pada jalur yang seimbang.
  2. Keadilan (Adl): Memiliki sikap adil dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam menjalankan ajaran agama.
  3. Keseimbangan (I‘tidāl): Menjaga keseimbangan antara tuntunan agama dan kebutuhan duniawi.
  4. Toleransi (tasamuh): Menerima perbedaan pendapat dan keyakinan tanpa merendahkan atau mengecilkan.
  5. Keteladanan (uswatun hasanah): Menjadi teladan yang baik dalam perilaku sehari-hari, mencerminkan nilai-nilai Islam secara positif.

Berdasarkan penuturan dari Kyai Mustajirin, kita dapat melihat bahwa untuk menekankan upaya yang relevan dengan suatu maqalah “khoir al-umur awsatuha”, yang artinya “sebaik-baiknya segala perkara ialah tengah-tengahnya”.

Moderasi beragama merupakan pendekatan yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan, seperti yang diterapkan di Desa Linggoasri. Pengajaran dari tokoh agama setempat, seperti Bapak Taswono dari agama Hindu dan Kyai Mustajirin dari Islam, menegaskan pentingnya sikap moderat dan penerapan prinsip-prinsip keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merawat tradisi dan mengamalkan moderasi beragama, Desa Linggoasri mampu menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis, menjadi teladan bagi kerukunan antar umat beragama.

Moderasi Beragama: Harmoni Islam dan Budaya Lokal di Desa Linggoasri

Penulis : Tsabita Hilwa Imanika, Editor : Lulu Salsabilah

Desa Linggoasri yang terletak di Jawa Tengah merupakan penduduk yang mayoritas beragama Islam. Namun, kebudaya lokal di desa ini yang kuat dan kaya sehingga harus dihormati dan dilestarikan dalam menjalankan ajaran  Islam. Perpaduan antara Islam dan budaya lokal memberikan Desa Linggoasri mempunyai karakter sendiri untuk tetap mempertahankan budaya lokal dengan berpegang teguh dengan prinsip-prinsip Islam. Moderasi Beragama di Desa Linggoasri adalah tentang menjaga keseimbangan antara ajaran Islam  dan tradisi budaya lokal yang diturunkan dari nenek moyang. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan ibadah dan aktivitas keagamaan sehari-hari. Meski warga desa tetap menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, termasuk salat lima waktu dan berpuasa, namun mereka  tidak mengabaikan kearifan lokal  seperti tradisi gotong royong atau sembahyang  gunung. Salah satu contoh nyata dari moderasi di Desa Linggoasri adalah pengamalan Islam dan acara budaya lokal. Misalnya saja saat Hari Raya Idul Fitri tiba, warga tidak hanya merayakannya dengan salat Idul Fitri dan berkumpul  di masjid. Mereka juga menjadi tuan rumah Idul Fitri, sebuah acara yang memadukan tradisi Islam dan lokal. Selama perayaan Idul Fitri, penduduk desa merayakan idul Fitri berbagi ketupat dengan tetangga dan warga sekitar walaupun mereka non muslim.

Desa Linggoasri merupakan contoh nyata keharmonisan antara Islam dan budaya lokal. Dalam Desa Linggoasri menemukan bahwa masyarakat nya telah mengamalkan ajaran Islam dengan cara yang menyatu dengan budaya lokal. Kesatuan agama dan budaya terlihat dalam aktivitas sehari-hari seperti upacara adat yang tetap dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan ibadah Islam. Hal ini menunjukkan eratnya perpaduan nilai-nilai agama dan kearifan lokal sehingga terciptanya suasana toleransi dan keharmonisan sosial.

Perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Desa Linggoasri sebagai bentuk penerapan moderasi beragama di masyarakat. Desa Linggoasri adalah sebuah tempat yang kaya akan warisan budaya dan nilai-nilai Islam yang kuat. Masyarakat Desa Linggoasri menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan harmonis, menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tradisi budaya yang menjadi identitas mereka. Pentingnya memahami dan menerapkan konsep moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Tentang praktik keagamaan masyarakat Desa Linggoasri, termasuk rutinitas ibadah, pemahaman agama, dan hubungan mereka dengan budaya lokal. Bahwa masyarakat Desa Linggoasri telah berhasil menciptakan keharmonisan antara Islam dan budaya lokal mereka. Mereka menjalankan praktik keagamaan dengan cara yang tidak hanya mematuhi ajaran agama, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Contohnya, pada saat perayaan keagamaan, masyarakat tidak hanya melaksanakan ibadah, tetapi juga mempertahankan tradisi budaya seperti tari dan musik tradisional. Dalam praktik moderasi beragama di Desa Linggoasri. Masyarakat memiliki sikap yang terbuka terhadap perbedaan dan menjunjung tinggi rasa saling menghormati antar umat beragama.

Selain itu, aspek moderasi beragama juga terlihat pada penggunaan bahasa  lokal dan budaya. Dalam komunikasi agama, pendeta atau kyai di Desa Linggoasri  ini selalu menggunakan bahasa Jawa dalam ceramah nya agar masyarakat desa lebih memahami dan menyikapinya secara positif. Hal ini menunjukkan bahwa budaya lokal dihormati dan diintegrasikan dalam penerapan ajaran agama. Selain itu, masyarakat Desa Linggoasri juga menjalankan praktek-praktik islami yang sesuai dengan budaya lokal mereka . Mereka menghormati tradisi kematian yang dibawa oleh nenek moyang mereka. seperti menyelenggarakan tahlilan dan pengajian untuk mendoakan arwah orang yang meninggal. Praktik-praktik tersebut sejalan dengan ajaran Islam, menunjukkan pentingnya moderasi beragama untuk memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Desa Linggoasri moderasi beragama menjadi landasan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama keberadaan umat Islam dan persatuan antar umat beragama lainnya dalam satu  lingkungan desa harus saling menghormati dan memahami. Melalui praktik moderasi beragama. Masyarakat Desa Linggoasri dapat menciptakan landasan yang kokoh dalam kerjasama pembangunan desa untuk membangun kerukunan warganya, menghindari konflik agama dan mengelola agama dengan lebih baik. Di Desa Linggoasri, peran tokoh masyarakat sangat penting, tokoh desa dan  agama harus bekerja sama untuk memastikan nilai-nilai Islam tidak bertentangan dengan budaya lokal. Namun prinsip agama yang benar tetap ada. Kita harus terus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya meningkatkan keimanan. Moderasi beragama penting dilakukan di Desa Linggoasri untuk mencapai keselarasan antara ajaran Islam dan budaya lokal. Masyarakat desa mengamalkan agamanya dengan penuh keyakinan, sambil tetap menghormati dan mencerminkan nilai-nilai  lokal. Dalam era globalisasi ini menjaga identitas lokal sambil mengikuti ajaran agama adalah hal yang relevan dan hal ini penting bagi Desa Linggoasri.

Desa Linggoasri terdiri dari masyarakat dengan latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Meskipun demikian Desa Linggoasri dikenal sebagai tempat yang damai dan penuh toleransi. Hal ini terlihat dari upacara keagamaan yang diadakan di desa di mana warga dengan beragam latar belakang keagamaan mereka berpartisipasi dengan saling menghormati. salah satu contoh nyata moderasi beragama di Desa Linggoasri adalah dalam pelaksanaan ibadah salat meskipun mayoritas penduduk desa beragama Islam, mereka memberikan kebebasan dan dukungan penuh bagi warga yang beragama lain untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka. Misalnya di wilayah desa terdapat masjid yang kokoh dan indah yang menjadi tempat beribadah bagi umat Islam tetapi juga terdapat gereja dan kuil yang menjadi tempat ibadah bagi umat Kristen dan Budha. Tidak hanya itu dalam kehidupan sehari-hari warga Desa Linggoasri menerapkan nilai-nilai bertoleran dan Sikap saling menghargai. mereka saling membantu dalam merayakan hari keagamaan masing-masing dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang diajarkan agama mereka. selain itu mereka juga sering mengadakan kegiatan bersama antara warga dengan latar belakang agama yang berbeda. Seperti kegiatan gotong royong bakti sosial bersama dan acara perayaan keagamaan. Pendidikan di Desa Linggoasri juga memainkan peran penting dalam memupuk moderasi beragama di sekolah-sekolah desa anak-anak diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan agama yang ada di sekitar mereka mereka diajarkan untuk memahami landasan agama orang lain tanpa merendahkan atau memperkuat klaim agama mereka sendiri hal ini membantu menciptakan generasi muda yang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang moderasi beragama.

Adanya Desa  Linggoasri ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat berhasil dengan memadukan ajaran Islam dengan tradisi budaya lokal. Pemahaman yang jelas terhadap prinsip-prinsip agama, penghormatan terhadap warisan, peran aktif umat dan tradisi beragama, serta moderasi beragama merupakan kunci persatuan dalam keberagaman. Desa ini menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dengan menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya bisa menjadi moderator, namun juga mendukung hidup berdampingan secara damai dan toleran.

Kunjungan Mahasiswa UIN Gusdur ke Desa Linggoasri, Dalam Rangka Menjaga Utuhnya NKRI Dalam Beragama

Penulis : M. Raihan Kumala Putra, Editor : Choerul Bariyah

Mahasiswa sebagai seorang pribadi yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, memerlukan pemahaman lebih dalam tentang segala sesuatu hal. Salah satu hal yang harus dapat dipahami lebih dalam adalah tentang pentingnya menjaga kerukunan beragama. Selain itu mahasiswa juga merupakan para penerus perjuangan bangsa yang paling dekat dengan periode yang akan digantikannya. Tak heran jika mahasiswa seringkali disebut sebagai penerus masa depan bangsa. Perkembangan Teknologi agaknya, akan membuat nilai-nilai penting yang harus dipahami mahasiswa mulai hilang, dan ini pulalah tugas mereka untuk menjaganya.

Kunjungan Mahasiswa UIN Gusdur ke desa Linggoasri, merupakan salah satu kegiatan untuk menjaga nilai-nilai yang harus dapat dipahami mahasiswa. Melalui kerjasama antara kampus, mahasiswa, dan pemerintah desa Linggoasri acara ini dapat terlaksana dengan baik. Perkembangan teknologi yang sebenarnya dapat menghilangkan nilai-nilai pemahaman, justru diharapkan dapat menjadi sebaliknya, yaitu untuk pengembangan nilai-nilai yang lebih baik, dan lebih mudah dipahami lagi melalui kegiatan-kegiatan seperti ini.

Dengan kegiatan seperti ini pula, diharapkan nilai-nilai yang dipahami mahasiswa tidak hanya sampai paham, melainkan di praktekkan juga. Sebagaimana yang diketahui desa Linggoasri sudah hidup saling berbeda-beda agama sejak lama sekali. Meskipun berbeda agama mereka dapat hidup dengan baik, saling menjaga, membantu, dan menyayangi tanpa memandang agama apapun. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara mereka hidup yang tidak pernah mengusik agama satu sama lainnya. Tidak heran jika desa ini masuk dalam jajaran desa ter-moderasi di Indonesia. Taswono seorang warga Li nggoasri menuturkan bahwa pada mulanya ia dan masyarakat sekitar tidak mengerti tentang apa itu moderasi, ia hanya menjalani kehidupan normal layaknya masyarakat yang saling menghargai. Namun sejak UIN Gusdur masuk dan memberi pengarahan, sedikit banyaknya menambah pradigma masyarakat tentang moderasi yang selama ini telah mereka jalani. 

Pengenalan saling menghormati, menjaga, dan saling menyayangi antar sesama makhluk hidup, masih menjadi salah satu nilai penting yang harus dapat dipahami mahasiswa. Karena nilai-nilai ini bisa saja hilang, sehingga memicu kehancuran hasil didikan di perguruan tinggi. Mengingat mahasiswa sudah merupakan pribadi-pribadi yang dewasa, yang dapat berpikir dengan kritis, dan langsung men-praktekan apa yang dipahaminya. Diharapkan apa yang dipelajari di acara ini dapat menjaga keutuhan NKRI dalam hal beragama.

Urgensi Memahami Darah Kewanitaan dalam Perspektif Islam

Penulis : Selvi Helena Putri, Editor : Windi Tia Utami

Sudah menjadi fitrah, bahwa perempuan dan laki-laki adalah dua pribadi yang memiliki karakteristik berbeda baik secara mental maupun fisik. Secara mental, kebanyakan perempuan lebih lemah lembut dan cenderung mengedepankan perasaan. Sedangkan dari segi fisik, perempuan memiliki organ yang berbeda dengan laki-laki terutama pada organ reproduksi. Perbedaan lainnya terletak pada beberapa siklus yang tidak dialami oleh  laki-laki seperti menstruasi, melahirkan, dan menyusui.

Salah satu siklus yang hanya dialami oleh perempuan ialah keluarnya beberapa jenis darah secara alamiah dari organ kewanitaan. Akan tetapi, realita di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang belum mengetahui dan tidak dapat membedakan jenis-jenis darah tersebut. Banyak dari mereka yang selalu menghukumi bahwa setiap darah yang keluar adalah darah haid atau menstruasi. Padahal jika dicermati secara lebih teliti, tidak semua darah yang keluar secara alami dari organ kewanitaan merupakan darah haid. Sekilas terlihat sepele, namun bagi umat Islam hal tersebut dapat berimplikasi sangat luas terutama dalam hal sah atau tidaknya suatu ibadah. 

Islam telah mengatur hukum yang berkaitan dengan darah organ kewanitaan. Tiga jenis darah tersebut adalah darah haid (menstruasi), istihadhah, dan nifas. Pembahasan mengenai ketiga jenis darah tersebut merupakan persoalan penting bagi seorang muslim utamanya perempuan. Sebab, hal tersebut berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari para perempuan serta ibadah yang mereka lakukan. Sebagai contoh, darah haid dan nifas merupakan darah kotor yang menjadikan seorang perempuan tidak boleh mendirikan shalat, masuk masjid, dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Sedangkan ketika istihadah, seorang wanita tetap wajib shalat dan boleh melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Perkara ini sangat penting untuk dipahami demi kesempurnaan ibadah. Karena dalam sebagian besar ibadah, umat Islam diwajibkan untuk suci dari najis, serta bebas dari hadats, baik hadats besar maupun kecil. 

Salah satu tanda baligh perempuan adalah keluarnya darah haid. Dalam Islam, batasan waktu haid paling sedikit adalah sehari semalam dan paling lama adalah lima belas hari lima belas malam. Namun, umumnya haid terjadi selama enam sampai tujuh hari. Dalam kondisi haid, perempuan tidak diperbolehkan untuk shalat, thawaf, puasa, menyentuh mushaf Al-qur’an, masuk masjid, hingga berhubungan suami istri. Ciri-ciri darah haid ditandai dengan warnanya yang merah terang di hari-hari awal menstruasi. Apabila siklusnya lebih singkat, maka warnanya berubah menjadi merah muda. Sementara itu, ada juga darah haid yang pekat agak kehitaman. Hal ini disebabkan darah tersimpan di rahim, mengalami oksidasi, hingga perlahan-lahan berubah warna menjadi agak kehitaman. 

Ketika masa haid sudah selesai, maka diwajibkan untuk mandi besar atau menyucikan diri. Urutan mandi wajib setelah haid yaitu niat, sebelum mengguyurkan air ke seluruh tubuh harus dimulai dengan niat mandi untuk menghilangkan hadats besar atau hadats kecil. Lalu membersihkan farji dan bagian tubuh lainnya yang terkena kotoran, disunahkan berwudhu terlebih dahulu sebelum mandi. Kemudian yang terakhir adalah menyiramkan air dengan rata ke seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki dengan seksama, karena tidak boleh ada sehelai rambutpun yang tertinggal tak tersiram air.

Adapun jenis darah yang kedua adalah darah istihadhah. Temen-temen udah tau belum sih apa itu darah istihadhah? Darah istihadhah dapat keluar sewaktu-waktu dan bisa jadi disebabkan karena penyakit atau sebagainya. Sebagai contoh, para ulama menyatakan bahwa masa haid paling lama yaitu lima belas hari lima belas malam. Apabila darah masih keluar dari rahim melebihi kurun waktu tersebut maka sisa darah setelah hari itu dihukumi darah istihadhah. Perempuan yang keluar darah istihadhah tetap diperbolehkan untuk  berpuasa, wudhu, shalat, thawaf, masuk masjid dan memegang mushaf Al-Qur’an. Tetapi harus menggunakan syarat-syarat wajib bersuci untuk melakukan ibadah shalat fardhu. 

Syarat bersuci bagi perempuan istihadhah yaitu dengan cara membersihkan najis pada organ kewanitaan, beristinja’ dengan benar, meminimalisir darah yang keluar menggunakan pembalut bersih dengan celana dalam yang ketat, berwudhu dengan catatan memasuki waktu adzan dan melakukannya untuk satu shalat fardhu, dan yang terakhir yaitu mengerjakan shalat dan tidak boleh menunda waktu shalat setelah berwudhu. Untuk perempuan yang mengalami istihadhah, jika waktu melakukan satu shalat fardhu merasakan darahnya keluar dari organ tubuh, tidak perlu mengulangi bersuci dari awal, dengan catatan telah melakukan langkah-langkah syarat bersuci dengan benar.  

Adapun jenis darah yang terakhir adalah darah nifas. Ketika perempuan melahirkan, banyak darah yang keluar dari rahimnya. Lazimnya, masa nifas adalah sekitar empat puluh hari dan paling lama enam puluh hari. Adapun ketentuan perempuan nifas tidak berbeda dengan perempuan haid. Perempuan yang sedang mengalami nifas tidak diperbolehkan untuk shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an, hingga berhubungan suami istri. Perbedaan darah haid dan nifas ialah darah nifas lebih banyak dan lebih deras jika dibandingkan darah haid. Selain itu, warna darah nifas tidak terlalu pekat (tidak terlalu hitam), namun baunya lebih tajam daripada darah haid. 

Melalui uraian di atas, dapat dipahami bahwa pengetahuan terkait jenis-jenis darah yang keluar dari organ kewanitaan merupakan hal yang sangat krusial, karena berkaitan erat dengan sah atau tidaknya ibadah seorang muslimah. Untuk itu, penting bagi setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk memperdalam pemahaman terkait permasalahan tersebut melalui berbagai forum kajian fiqh muslimah atau bisa juga dengan mengakses berbagai sumber hukum Islam kredibel yang tersedia di internet, agar keilmuan dan ibadah sebagai seorang muslim semakin kaffah. Wallahu A’lam.

Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Penulis : Chikal Sasmita Sari, Editor : Choerul Bariyah

Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbaruan dengan ajaran islam. Hubungan islam dalam budaya Islam dan budaya lokal merupakan dua komponen yang saling mendukung terhadap perkembangannya, dimana Islam berkembang karena menghargai budaya lokal, begitu pula budaya lokal tetap eksis karena mengalami perbauran dengan ajaran Islam.

Kegiatan adab istiadat di desa lingo asri memiliki tradisi seperti saling membantu dalam perayaan hari raya nyepi, Melasti, dan bagi umat yang muslim melakukan hari raya 10 muharram, dan ketika ada yang hajatan atau nikahan warga masyarakat lingo asri ikut membantu nya. Apa kaitannya islam dengan budaya? Agama Islam turun bersentuhan dengan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Budaya lokal sendiri memiliki arti  nilai-nilai lokal hasil budidaya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal dapat berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat. Contoh Budaya-budaya yang ada di Indonesia;

  1. Upacara Adat.
  2. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Debus.
  3. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Karapan Sapi.
  4. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Merarik.
  5. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Makepung.
  6. Contoh Kebudayaan di Masyarakat Indonesia Melasti

contoh kebudayaan Islam Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu kalian ketahui;

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  3. Tradisi Grebeg di Jawa.
  4. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  5. Sesaji Rewanda di Semarang.
  6. Njimbungan di Klaten.
  7. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan. Salah satu contoh sederhana adalah tentang mitos. Adanya kepercayaan tentang roh, baik roh baik maupun roh jahat. Lalu ada kepercayaan pada banyak dewa yang mempunyai kekuasaan dan tugas masing-masing.

Selain itu, juga sudah ada budaya lokal masyarakat yang sudah terkondisikan dengan baik seiring perkembangan zaman. Budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat sudah tertanam dengan kuat dalam kehidupan sehari- hari. Toleransi antar umat beragama dapat kita maknai sebagai salah satu sikap kita untuk saling dapat bersama-sama dalam masyarakat yang menganut agama lain, untuk bisa saling menghargai, menghormati serta memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) tanpa adanya paksaan. Sikap toleransi antar umat beragama bisa kita mulai dari hidup bertetangga baik tetangga yang seiman dengan kita atau pun yang tidak seiman dengan kita. Sikap toleransi tersebut tentunya dengan cara menghargai, menolong, serta menghormati.

Bisa kita lihat contoh sikap toleransi, menghargai, dan menghormati perayaan hari besar keagamaan umat agama lain. Sebagai umat beragama kita harus menghormati perayaan hari besar agama lain secara proporsional dan tetap tidak boleh. Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu diketahui:

  1. Tradisi Halal Bihalal.
  2. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)
  3. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta.
  4. Tradisi Grebeg di Jawa.
  5. Tradisi Grebeg Besar di Demak.
  6. Sesaji Rewanda di Semarang.
  7. Njimbungan di Klaten.
  8. Grebeg Syawal Yogyakarta

Harmoni Islam dalam Kehidupan  ini dapat di lihat dari Sebelum Islam masuk di Nusantara, sudah terdapat kepercayaan atau agama masyarakat setempat. Agama yang dianut masyarakat Nusantara sebelum Islam adalah Hindu-Budha. Selain itu ada juga, Animisme dan Dinamisme. Berbaurnya kepercayaan Budha dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, karena watak dan karakter kepercayaan tersebut mempunyai banyak kesamaan.