Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Menyambut tahun baru Hijriah menjadi hal yang penuh suka cita bagi setiap umat muslim. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Kota Pekalongan, khususnya wilayah Krapyak dalam menyambut acara tahunan ini.

Setiap memasuki bulan Muharram (Suro) masyarakat Kelurahan Krapyak mengadakan acara tahunan berupa Festival Bubur Suro. Sebuah acara yang kental akan tradisi ini lahir dari kebiasaan dan spiritual masyarakat. Sesuai penamaannya, Festival Bubur Suro diambil dari bulan pertama dalam kalender Jawa yaitu Suro.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 2019 ini bukan hanya perayaan, namun menjadi wujud dari rasa syukur, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang maknanya sangat mendalam bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan tradisinya, masyarakat Krapyak membagikan ribuan porsi bubur. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan sedekah atas karunia Allah SWT. Ditinjau dari sisi historis, tradisi bubur suro ini merupakan interpretasi dari kisah Nabi Nuh dan pengikutnya, di mana kapal yang ditumpangi selamat dari bencana banjir bandang, kemudian mereka memasak makanan dengan bahan seadanya untuk dinikmati bersama. Seperti wadah yang digunakan untuk bubur tersebut yaitu takir yang berbentuk melengkung menyerupai kapal Nabi Nuh.

Tentunya bubur suro ini menggambarkan keberagaman, sebagaimana yang terdapat di dalam bubur yang terdiri dari macam-macam bahan, rempah, kacang-kacangan, dan diolah dengan tujuh toping lainnya. Dalam proses pembuatannya pun melibatkan banyak orang, tentunya tergambarkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Keunikan juga tergambarkan dari rangkaian acara Festival Bubur Suro yang kental akan pelestarian budayanya. Seperti terselenggaranya acara tahun ini yang mengusung tema “Merawat Jejak Luhur” dengan menonjolkan nilai-nilai tradisi, serta kearifan lokal. Ornamen yang digunakan dalam dekorasi acara pun dirancang penuh dengan sentuhan lokal yang menggunakan bambu dan kayu sebagai konsep dekorasi utama. Rangkaian acara pun menjadi simbol betapa masih kuatnya pelestarian budaya yang tersaji dalam acara ini. Seperti Kirab Gunungan Bubur Suro yang memiliki simbol harapan dan doa, pentas budaya seni yang menghadirkan musik keroncong, hingga bazar makanan dari berbagai jenis generasi baik tradisional maupun modern. Kegiatan ini pastinya memberikan banyak peluang bagi masyarakat baik perekonomian serta rasa gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Krapyak.

Tradisi ini mengundang banyak antusiasme masyarakat serta menjadi kebanggaan lokal yang tentunya memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menjaga tradisi setempat. Festival Bubur Suro ini menjadi cerminan kearifan lokal serta semangat gotong royong masyarakat Krapyak Kota Pekalongan. Di balik pemaknaan sebuah bubur tersimpan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan masyarakat yang selalu dirayakan secara turun-temurun.

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra

Editor: Fajri Muarrikh

Kulon Progo –  Dalam suasana hening yang sarat makna spiritual, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Kelompok 22 Tahun 2025 turut ambil bagian dalam tradisi Mendak Pindo, sebuah ritual doa mengenang dua tahun wafatnya seseorang. Kegiatan ini berlangsung di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo pada hari Sabtu (19/07/2025). Rangkaian acara mencakup sembahyang, kenduri, dan yang paling menarik perhatian, yaitu Selawatan Katolik, dikenal juga sebagai Slaka.

Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan lintas iman ini tidak hanya menjadi pengalaman budaya, tetapi juga bagian dari implementasi Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. KKN Nusantara tahun ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Asta Protas, terutama pada poin pertama berbunyi “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan”. Sinergi antara kampus dan masyarakat dukuh seperti inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.

Slawatan Katolik sebagai Simfoni Doa dan Tradisi Jawa

Slaka menjadi elemen kultural yang paling menonjol dalam acara Mendak Pindo ini. Tradisi ini memadukan unsur musikal Jawa dengan spiritualitas Katolik. Irama yang digunakan dalam Slaka memiliki kemiripan dengan shalawat dalam Islam—merdu, mengalun, penuh khidmat. Namun, lirik-liriknya berisi pujian kepada Allah, Yesus Kristus, dan kisah-kisah tokoh Katolik yang dibawakan dalam bahasa Jawa dengan nada-nada yang khas.

Tradisi ini berkembang di wilayah-wilayah pedesaan seperti Kalibawang dan sekitarnya, mencerminkan akulturasi yang kaya antara iman Katolik dan budaya lokal. Dalam perspektif seni, Slaka adalah ekspresi iman yang dibumikan dalam bentuk tembang.

“Shalawat Katolik ini merepresentasikan iman yang kita hayati, tanpa mempermasalahkan aqidah ataupun perbedaan ritual. Ini adalah cara kami menyembah Tuhan melalui seni,” ujar salah satu tokoh masyarakat, ibu Lumiyati.

Media Pewartaan dan Jembatan Dialog Lintas Agama

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Slaka menjadi media pewartaan dan penguatan nilai-nilai moral. Syair-syairnya berisi ajaran Yesus Kristus, pesan-pesan kasih, penguatan iman, hingga seruan perdamaian antarumat beragama. Slaka di Dukuh Jurang Depok percaya bahwa kesenian ini mampu menyentuh hati lintas generasi, lintas agama.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan ini pun menjadi bentuk pembelajaran sosial yang luar biasa. Mereka menyaksikan bagaimana nilai-nilai iman tidak harus dipertentangkan, melainkan bisa dijadikan jembatan untuk memahami sesama.

“Sebagai mahasiswa dari latar belakang berbeda, kami merasa kegiatan ini memberikan pelajaran penting tentang toleransi dan ekspresi iman yang kreatif,” tutur salah satu peserta KKN Nusantara, Royhan.

Implementasi Asta Protas melalui Kerukunan yang Membumi

Asta Protas mendorong mahasiswa untuk merancang kegiatan KKN yang relevan dengan isu-isu strategis Kementerian Agama, termasuk kerukunan beragama dan cinta kemanusiaan. Keterlibatan dalam Mendak Pindo dan Slaka menjadi bagian dari upaya itu—mendorong interaksi bermakna antara mahasiswa dan komunitas lintas agama.

Tak hanya menjadi penonton, mahasiswa juga membantu dokumentasi kegiatan, mendampingi teknis acara, dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini memastikan bahwa program pengabdian yang mereka jalani memberikan dampak berkelanjutan dan memperluas wawasan keberagaman.

Iman yang Mengalun dalam Nada

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh perbedaan, apa yang terjadi di Kalibawang adalah angin segar, suara-suara iman dinyanyikan bukan untuk menghakimi, tapi untuk merangkul. Slaka bukan hanya bentuk seni, melainkan perwujudan iman sejati yang merangkul manusia secara universal.

KKN Nusantara V 2025 telah menunjukkan bahwa membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana: hadir, mendengar, dan menghargai. Lewat nada-nada syahdu dari Slaka, mahasiswa dan masyarakat menemukan harmoni—di mana iman dan seni berjalan berdampingan.

 

 

 

 

 

 

Menanam Nilai Kerukunan Melalui Peringatan Hari Koperasi: Refleksi KKN Nusantara Kelompok 22 di Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Muslimah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya tentang pengabdian di desa, tetapi juga tentang membumikan nilai-nilai strategis kebangsaan. Salah satu refleksi nyata dari semangat tersebut tampak dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Koperasi Indonesia ke-78 yang diikuti oleh KKN Nusantara Kelompok 22 di Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, pada 17 Juli 2025. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perangkat kecamatan setempat.

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas—bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen pembangun harmoni masyarakat. Selaku inspektur upacara, Camat Kalibawang, Bapak Tukidi, menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kerukunan dan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari arah pembangunan yang inklusif.

Pesan tersebut sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 244 Tahun 2025. Dari delapan prioritas tersebut, yang paling relevan dengan konteks kegiatan ini adalah poin pertama, yaitu Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan serta poin keenam berbunyi Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Koperasi dan Kerukunan sebagai Dua Pilar Saling Menguatkan

Koperasi tidak hanya diposisikan sebagai entitas ekonomi, melainkan juga sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Dalam ruang koperasi, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu tanpa membedakan agama, etnis, maupun status sosial. Inilah nilai-nilai kerukunan yang sesungguhnya, yang terwujud dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Mahasiswa KKN yang terlibat dalam peringatan Hari Koperasi diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat dikonkretkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi. Ini merupakan pelajaran kontekstual yang tidak bisa didapat di ruang kelas, tetapi sangat krusial dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa.

Arahan Camat sebagai Titik Tekan Misi Sosial KKN

Selain mengikuti upacara, Tim KKN Kelompok 22 juga mendapatkan arahan langsung dari Camat Kalibawang. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kerukunan selama masa pengabdian berlangsung. Mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa program kerja teknis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Arahan ini menjadi penegas bahwa KKN bukan sekadar agenda tahunan akademik, melainkan bagian dari gerakan sosial berbasis kesadaran multikulturalisme dan inklusi. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mediator dialog dan harmoni sosial dalam lingkup lokal, yang akan berdampak nasional jika dilakukan secara kolektif.

Kerukunan dan Kemandirian sebagai Visi Bersama

Pengalaman KKN Nusantara Kelompok 22 dalam mengikuti peringatan Hari Koperasi menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh bersamaan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga turut membentuk masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.

Dengan membumikan Asta Protas dalam praktik nyata, KKN Nusantara tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi juga platform transformasi sosial yang berkelanjutan.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Penulis: Bambang Sri Hartono*; Editor: Azzam Nabil H.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan tantangan lingkungan yang semakin kompleks, peran santri sebagai agen perubahan (agent of change) menjadi semakin vital. Sebagai penuntut ilmu agama, santri tidak hanya dibekali dengan pemahaman keislaman yang mendalam, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah kesadaran akan pengelolaan sampah yang bijak, disertai dengan akhlak mulia berupa senyuman yang tulus. Ini selaras dengan falsafah Jawa “Memayu Hayuning Bawana” (memelihara keindahan dunia) yang mengandung makna kosmologis yang dalam. Prinsip ini menempatkan manusia sebagai pamong (penjaga) yang bertanggung jawab menjaga harmoni antara jagad gedhe (alam semesta) dan jagad cilik (diri manusia). Dan bagi santri, konsep ini juga selaras dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

Dalam hal ini, sampah adalah masalah besar yang membutuhkan solusi kecil. Sampah telah menjadi isu global yang mengancam ekosistem bumi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah per tahun, dengan sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan mengotori laut. Jika tidak ditangani, dampaknya akan merusak kesehatan, keindahan alam, dan keseimbangan ekologi. Sebagai santri, selalu diajarkan untuk tidak hanya fokus pada urusan ukhrawi (akhirat), tetapi juga duniawi. Rasulullah SAW bersabda: “Bersihkanlah halaman rumahmu, dan jangan menyerupai orang Yahudi (yang mengabaikan kebersihan).” (HR. At-Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan, termasuk pengelolaan sampah. Seorang santri harus menjadi contoh dalam: memilah sampah (organik, anorganik, dan B3), mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler, tas kain, atau kotak makan sendiri, mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai, seperti kompos dari sampah organik atau kerajinan dari plastic, menggalakkan program zero waste di lingkungan pesantren.

Baca juga: Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Disamping menjaga kebersihan lingkungan, seorang santri juga perlu bersikap murah senyum di segala aktivitas. Sebab, senyum merupakan sedekah yang menyempurnakan amal, yang mana setiap santri dapat menghiasi diri dengan akhlak mulia, yang salah satunya adalah dengan senyuman. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).

Melihat sabda Rasulullah saw. tersebut, ada beberapa keutamaan dari senyuman yang diberikan seseorang kepada orang lain. Pertama, senyum bisa meringankan Beban. Ketika membersihkan lingkungan bersama, senyuman bisa membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Kedua, menyalurkan energi positif. Senyum adalah bahasa universal yang bisa memecah kebekuan dan mempererat ukhuwah. Ketiga, senyum dapat mendatangkan pahala. Dalam Islam, senyum tulus dianggap sebagai ibadah sosial yang berpahala. Bayangkan jika setiap santri tersenyum saat mengingatkan temannya untuk membuang sampah pada tempatnya, niscaya teguran akan lebih diterima dengan hati yang lapang.

Integrasi kebersihan dan senyuman dalam kehidupan santri adalah miniatur masyarakat yang ideal untuk menerapkan konsep “Green and Happy Islamic Boarding School“. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan gerakan Jumat bersih, setiap hari Jumat, santri bergotong-royong membersihkan lingkungan pesantren sambil diiringi dzikir dan canda tawa. Membuat Bank Sampah di pesantern. Sampah yang terkumpul bisa dikelola menjadi tabungan amal untuk kegiatan sosial. Selajutnya memberikan senyum sapa salam (3S). Membudayakan senyum, sapa, dan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Serta yang terakhir dengan Eco-Jihad Program, Menggiatkan gerakan lingkungan sebagai bagian dari jihad bil-‘amal (perbuatan nyata).

Baca juga: Pohon Mangrove: Penjaga Lingkungan, Penguat Keimanan

Seorang santri sejati bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan penebar kebahagiaan. Kebersihan adalah cermin iman, senyuman adalah cermin hati. Dengan memadukan keduanya, santri bisa menjadi teladan bagi masyarakat dalam menjaga bumi sekaligus menyebarkan kedamaian. Mari kita buktikan bahwa “Santri Bisa, Bumi Lestari, Dunia Tersenyum!” Kecilkan volume sampahmu, besarkan senyumanmu, karena dunia butuh lebih banyak pahlawan lingkungan yang ramah terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap aktivitas kebersihan sebagai ibadah. Ketika memungut sampah, lakukan dengan ikhlas. Ketika melihat teman membuang sampah sembarangan, ingatkan dengan lembut dan senyuman. Jadilah santri yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga peduli lingkungan dan penuh keramahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

*Dosen FEBI UIN Gus Dur Pekalongan

Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Penulis: Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Bulan Muharram adalah salah satu waktu istimewa dalam Islam yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tahun ini 1 Muharram 1447 H jatuh pada hari Kamis, 26 Juni 2025. Muharram termasuk dalam deretan empat bulan mulia atau asyhurul hurum, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun, ada empat bulan yang dimuliakan—yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hal ini juga disebutkan dalam sebuah hadis,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia). Tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharram, lalu Rajab (yang selalu diagungkan) Bani Mudhar, yaitu antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa disebut “bulan haram” karena setiap bentuk maksiat di bulan tersebut akan dibalas lebih berat. Sebaliknya, amal ketaatan yang dilakukan juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Salah satu alasan utama Muharram dimuliakan adalah karena di dalamnya terdapat hari Asyura (10 Muharram). sebuah hari yang menyimpan jejak sejarah luar biasa, seperti kisah diselamatkannya Nabi Musa as dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Yahudi yang memuliakan hari itu dengan berpuasa. Dalam catatan Imam Fakhruddin ar-Razi, puasa Asyura bahkan menjadi satu-satunya puasa tahunan bagi mereka, sebagaimana kaum Muslim memiliki puasa Ramadhan.

Menariknya, puasa Asyura juga dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Dalam pandangan Syekh Musa Lasyin, mereka kemungkinan besar melakukannya untuk menghormati tradisi Nabi Ibrahim as, atau sebagai ekspresi penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan selama masa Jahiliyah. Bahkan sebelum Rasulullah bertemu kaum Yahudi di Madinah, penduduk Makkah telah mengenal dan melaksanakan puasa ini.

Baca juga: Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Rasulullah SAW sendiri menunaikan puasa Asyura. Menurut beberapa ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi yang dikutip oleh Syekh Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani, tindakan Nabi itu juga memiliki dimensi dakwah. Dengan berpuasa Asyura, beliau ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki titik temu dengan ajaran sebelumnya. Ini menjadi cara halus Nabi dalam meluluhkan hati Ahlul Kitab, khususnya Yahudi, agar melihat kesamaan dan akhirnya terbuka terhadap kebenaran risalah Islam.

Namun kemudian, untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu’a). Dengan demikian, puasa Asyura tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga identitas umat Islam.

Keutamaan Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Puasa Asyura sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, No. 1162)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura bisa menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa kecil yang dilakukan dalam setahun terakhir—selama tidak termasuk dosa besar, sebagaimana dijelaskan para ulama.

Di samping Asyura, Nabi juga sangat menganjurkan puasa pada hari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau puasa Tasu’a. Beliau bersabda:

ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

“Jika tahun depan masih ada kesempatan, insyaAllah aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, No. 1134)

Dengan berpuasa dua hari, yakni pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita tidak hanya mengikuti sunnah Rasulullah, tetapi juga menunjukkan identitas keislaman yang khas dan berbeda. Sehingga Puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan keutamaan ibadah di bulan Muharram ini.

Menyambut tanggal 4 dan 5 Juli 2025 sebagai momentum pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, mari kita siapkan diri dengan niat tulus, menjauhi hal-hal yang membatalkan pahala puasa, dan memperbanyak ibadah seperti zikir, doa, serta amal kebaikan lainnya.

Terlebih Kini, kita hidup di zaman yang tak kalah gaduh dari masa lalu. Beragam peristiwa silih berganti, kadang membingungkan, bahkan menyesakkan. Maka Asyura bisa menjadi jeda, waktu untuk menarik napas, menengok ke belakang, dan merencanakan langkah ke depan. Ia adalah momen untuk mengenang, merenung, dan memperbarui komitmen spiritual kita. Semoga Asyura tahun ini menjadi titik balik dari lalai menuju sadar, dari rutin menuju ikhlas, dari dosa menuju pengampunan.

New Year New Me: Refleksi Diri di Tahun Baru Islam

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Tegar Rifqi

Saat ini, kehidupan masyarakat muslim telah memasuki bulan Muharram. Bulan Muharram menjadi penanda bahwa tahun dalam kalender hijriah telah berganti. Di awal tahun baru Islam, pada bulan Muharram sering diwarnai dengan beragam tradisi Masyarakat muslim seperti pawai obor atau mubeng beteng di Jogja, ini dikarenakan bulan muharram berperan sebagai pembuka tahun baru islam. Sebagai seorang muslim, tentunya ini menjadi awal yang baru untuk merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Namun, mengapa setiap manusia perlu melakukan refleksi diri?

Sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah, tentunya kita tak bisa bebas dari yang namanya pertanggungjawaban, baik itu dari tindakan kecil, tindakan besar, tindakan yang baru dilakukan, dan tindakan yang sudah lama dilakukan. Meski begitu, bukan berarti kita dapat melepaskannya begitu saja karena apa yang kita perbuat akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Pernyataan ini juga dapat ditemui di Al-Qur’an yaitu Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 18 yang berbunyi.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٨

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menekankan pentingnya berintrospeksi, ini tidak hanyak berlaku bagi diri pribadi tetapi semua orang. Dengan berintrospeksi, setiap orang dapat menyadari segala kekurangan yang ada dan dapat memperbaikinya dengan bertahap. Ini dapat membantu setiap orang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Lantas, bagaimana cara melakukannya?

Karena sebelumnya kita diminta untuk berintrospeksi maka kita akan membahas dua cara yang dapat dilakukan.

Merenungi segala perbuatan

Ini adalah cara yang paling dasar dalam melakukan introspeksi diri. Kenapa begitu? Karena ini akan membantu seseorang untuk menilai sesuatu yang ada pada orang tersebut seperti kepribadian, sikap, dan lain-lain. Dengan renungan, pikiran seseorang akan lebih terbuka mengenai segala kejadian yang dialami.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Memaafkan diri sendiri

Ini merupakan langkah berikutnya setelah melakukan langkah pertama. Kenapa begitu? Karena ini merupakan bentuk kesadaran atas renungan yang telah dilakukan. Seperti sebelumnya, ketika pikiran lebih terbuka itu akan membantu seseorang untuk menilai segala apa yang sudah terjadi. Apabila orang tersebut merasa melakukan kesalahan, cukup memaafkan diri sendiri karena ini dapat membantu orang tersebut untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan.

Dengan cara ini, seseorang dapat berintrospeksi diri terhadap apa yang sudah berlalu dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah itu, kita dapat melakukan aksi untuk memperbaiki semuanya. Namun, pernahkah terpikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki segala kesalahan yang dilakukan?

Ini adalah pertanyaan utama karena untuk berintrospeksi dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik dibutuhkannya sebuah tindakan. Karena tanpa adanya tindakan semuanya tidak akan berjalan dengan sempurna dan hanya sebatas niat saja. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan.

Bertaubat

Langkah yang pertama yaitu dengan bertaubat. Sama seperti sebelumnya, langkah ini juga sebagai bentuk dari pengakuan kesalahan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan shalat taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Langkah ini dilakukan guna sebagai penetapan niat untuk memperbaiki kesalahan dan menghindarinya.

Mulailah dengan tindakan kecil

Langkah yang kedua yaitu dengan tindakan kecil. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengucapkan basmalah di setiap tindakan, bersedekah, dan lain-lain. Ini diperlukan guna sebagai pijakan pertama dalam perubahan hidup.

Baca juga: Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Melatih sikap waspada

Langkah yang ketiga yaitu dengan sikap waspada. Langkah ini dapat dilakukan dengan menganalisis situasi yang ada dan memprediksi apa yang akan terjadi. Ketika seseorang telah merasa akan kembali melakukan kesalahan, Ia dapat menghindarinya.

Mempertahankan aktivitas

Langkah terakhir yaitu mempertahankan aktivitas atau biasa disebut sebagai istiqomah. Langkah ini dapat dilakukan setelah beradaptasi dalam memulai hal baru. Langkah ini memerlukan konsistensi dan kedisiplinan dari seseorang karena ini menjadi penentu apakah seseorang dapat mengubah kehidupannya atau kembali ke kehidupan yang lama.

Setelah melakukan beberapa cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menjalani kehidupannya yang baru. Kehidupan manusia cenderung relatif yang mana selalu tidak pasti. Jadi, apabila seseorang melakukan kesalahan maka itu hal yang wajar. Tak masalah jika merasa salah sekali atau dua kali, tetapi yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita menyadari dan memperbaikinya. Selagi masih bulan muharrom, kita bisa memulainya dengan apa yang dipelajari sebelumnya.

*Sumber ilustrasi: Artur Aldyrkhanov on Unsplash 

Tradisi Nyadran Laut Masyarakat Wonokerto di era Modern dalam Pandangan Moderasi Beragama

Penulis: Ashrofil Anam, Editor: Nehayatul Najwa

Tradisi Nyadran Laut yang ada di kalangan masyarakat Wonokerto merupakan tradisi tahunan yang di adakan sebagai betuk rasa syukur dan permohonan mendapatkan keselamatan dalam mencari nafkah di laut. Bentuk rasa syukur di dalam tradisi Nyadran Laut ini adalah dengan menghias perahu yang akan digunakan untuk ritual membuang atau mengarungkan sesaji ke tengah laut. Sesaji teesebut biasanya berupa kepala kerbau, hasil bumi, dan jajan pasar.

Tradisi Nyadran Laut ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat karena ketidakjelasan kepada siapa ritual itu di tujukan, serta pola ritual yang tidak pernah di ajarkan dalam agama Islam. Menurut Sri Widati, masyarakat Wonokerto percaya bahwa nenek moyang mereka juga berperan dengan kemakmuran serta ketentraman warga masyarakat Wonokerto yang mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai nelayan karena secara geografis letak wilayah desa Wonokerto di pesisir laut Utara Pulau Jawa. Dengan demikian, dapat kesimpulan bahwa masyarakat Wonokerto melakukan ritual Nyadran Laut ini ditujukan kepada nenek moyang mereka.

Di sisi lain, eksistensi Tradisi Nyadran Laut di kalangan warga masyarakat Wonokerto mengalami perubahan di era modern. Pada era modern masyarakat wonokerto memandang tradisi ini sebagai adat acara tahuanan saja. Perubahan ini di tandai dengan adanya acara seperti pertunjukan wayang golek dan lomba dayung. Menurut Sri Widati, tradisi sedekah laut telah mengalami perubahan bentuk dengan perkembangan pelaksanaan sedekah laut berupa perubahan bentuk kegiatan atau acara inti berupa pengarungan sesaji dan pergelaran wayang golek berkembang dengan penambahan beberapa bentuk kegiatan pendukung tradisi sedekah laut.

Pada era modern masyarakat Wonokerto tidak lagi memandang tradisi mereka sebagai tradisi sakral yang di tujukan pada nenek moyang mereka, tetapi mereka berusaha mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk kerja sama, gotong royong, dan mempererat hubungan sesama warga yang melaut. Perubahan ini terjadi karena faktor perkembangan sosial dan budaya, serta pemahan tentang nilainilai ajaran agama Islam pada masyarakat Wonokerto. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Sri Widati yang menyatakan bahwa masyarakat Wonokerto berusaha memperbaiki dan memperbaharui baik motivasi individu maupun pola budaya dengan menciptakan dan mempertahankan tradisi sedekah laut. Lebih lanjut lagi Sri Widati megungkapkan bahwa perubahan tradisi sedekah laut dipengaruhi oleh perubahan sosial budaya masyarakat yaitu perubahan sistem ilmu pengetahuan dan pendidikan, sistem perekonomian, dan sistem teknologi.

Menanggapi hal tersebut, moderasi beragama memandang tradisi Nyadran Laut dengan menjunjung empat hal indikator moderasi yaitu: komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan akomondasi terhadap budaya lokal. Dari hal ini, dapat di ambil kesimpulan bahwa moderasi beragama memandang tradisi Nyadran Laut sebelum perubahan di era modern adalah sebuah penyimpangan terhadap nilai-nilai agama dan indikator moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan.

Hal ini dikarekanan tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern yang mempercayai bahwa nenek moyang merekalah yang memberikan kemakmuran dan keentraman sehingga eksistensi tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern adalah menyembah kepada nenek moyang mereka. Sedangkan jika di ambil dari sudut pandang komitmen kebangsaan, tradisi Nyadran Laut juga merupakan bentuk penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila sila pertama yang berbunyi ketuhanan yang maha esa. Dengan demikian, tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern bertentangan dengan nilai dari sila pertama Pancasila karena menyembah bukan kepada tuhan melainkan kepada nenek moyang mereka.

Akan tetapi, pandangan moderasi beragama akan berbeda jika memandang tradisi Nyadran Laut yang berubah di era modern. Dengan berlandaskan indikator toleransi dan akomondasi terhadap budaya lokal, moderasi mendukung pelaksanaan tradisi Nyadran Laut sebagai bentuk mempertahankan warisan kebudayaan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai toleransi, kerjasama, gotong royong, dan mempererat hubungan antar sesama pelaut.

KB Vasektomi sebagai Syarat Penerima Bantuan Sosial. Bagaimana Pandangan Islam?

Penulis: Said Kosim, Editor: Fajri Muarrikh

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kelahiran di beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat masih tergolong tinggi, terutama di wilayah-wilayah dengan tingkat kemiskinan yang signifikan seperti Kabupaten Garut, Cianjur, Indramayu, dan Tasikmalaya. Fenomena ini memperlihatkan korelasi yang erat antara tingginya angka kelahiran dengan rendahnya tingkat kesejahteraan keluarga.

Dalam berbagai studi sosial, keluarga miskin di Jawa Barat cenderung memiliki lebih dari tiga anak, bahkan dalam kondisi ekonomi yang belum stabil. Hal ini sering dipengaruhi oleh rendahnya literasi keluarga terhadap perencanaan hidup dan kurangnya akses terhadap informasi dan layanan Keluarga Berencana (KB), khususnya metode kontrasepsi jangka panjang atau permanen seperti vasektomi. Akibatnya, beban sosial dan ekonomi pemerintah daerah dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sebagai respon terhadap persoalan  ini, gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengusulkan bahwa vasektomi atau kontrasepsi pria harus menjadi syarat untuk penerima bantuan sosial bagi masyarakat prasejahtera. Ia menyarankan insentif Rp.500.000 bagi warga yang bersedia menjalani vasektomi. Dedi menjelaskan banyaknya permintaan bantuan biaya kelahiran yang mencapai Rp.25 juta, terutama untuk kelahiran caesar. Dia menekankan pentingnya tanggung jawab dalam pernikahan terkait kehamilan, kelahiran, dan pendidikan anak. Jika seseorang tidak mampu membiayai hal tersebut, ia menyarankan agar tidak perlu menjadi orang tua. Dedi menginginkan penerima bantuan sosial, seperti untuk biaya kelahiran dan pendidikan, harus melakukan vasektomi sebagai bentuk tanggung jawab. Usulan ini bertujuan untuk mendorong pengendalian angka kelahiran di kalangan masyarakat miskin, serta sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam pemutusan mata rantai kemiskinan melalui keluarga kecil yang sejahtera.

Baca juga: NU Urus Tambang: Mandiri Secara Ekonomi, Tapi Gimana dengan Amanah Menjaga Alam?

Vasektomi merupakan prosedur kontrasepsi pria yang memutus saluran sperma dari testis, sehingga air mani tidak mengandung sperma dan kehamilan bisa dicegah. Prosedur ini dilakukan melalui operasi kecil dengan bius lokal dan memiliki risiko komplikasi yang rendah serta pemulihan yang cepat. Vasektomi bisa disebut juga sebagai sterilisasi atau kontrasepsi permanen pada pria.

Dalam pandangan Islam, penggunaan alat kontrasepsi diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, vasektomi, yang bersifat permanen, menuai perdebatan di kalangan ulama. Mayoritas ulama menganggapnya haram jika dilakukan tanpa alasan darurat, karena dianggap memutus keturunan. Islam mendorong pengaturan kelahiran demi kesehatan keluarga. Jika vasektomi dilakukan karena faktor medis mendesak, maka hukumnya bisa berubah menjadi boleh dengan pertimbangan medis dan fatwa dari ulama. Keputusan ini harus diambil dengan hati-hati. Hal ini sesuai dengan kutipan yang ada di dalam kitab Asy Syarqowi, juz 2, halaman 332 yang berbunyi “Adapun jika menggunakan sesuatu untuk memutus kehamilan secara permanen maka hukumnya haram. Berbeda jika tidak memutus kehamilan secara permanen, tetapi hanya membatasinya sementara waktu karena ada udzur seperti untuk menyiapkan pendidikan anak maka hukumnya tidak haram dan tidak makruh. Kalau tidak ada udzur maka hukumnya makruh.”

Keharaman vasektomi ini berlaku selama tidak dalam kondisi darurat. Jika dalam keadaan darurat, maka diperbolehkan melakukan vasektomi dengan menerapkan kaidah fiqih: “Jika dua mafsadah bertentangan, maka yang diperhatikan adalah yang paling berbahaya dengan melakukan yang kecil risikonya.” Hal ini sesuai dengan pendapat pada Muktamar NU ke-28 di Krapyak Yogyakarta, menegaskan bahwa sterilisasi hukumnya diperbolehkan selama dapat dipulihkan kembali kemampuan berketurunannya dan tidak sampai merusak atau menghilangkan bagian tubuh yang berfungsi. Sehingga untuk sterilisasi permanen seperti vasektomi, hukumnya tidak diperbolehkan. Berikut kutipan pendapat Muktamar NU yang ada di dalam Ahkamul Fuqaha, halaman 448-350. “Begitu pula menggunakan obat yang menunda atau memutus kehamilan sama sekali (sehingga tidak hamil selamanya), maka dimakruhkan dalam kasus pertama dan diharamkan dalam kasus kedua. Dan ketika terdapat kondisi darurat, maka berlaku kaidah fiqhiyah, ‘Jika dua mafsadah bertentangan, maka yang diperhatikan adalah yang paling berbahaya dengan melakukan yang kecil resikonya.”

Baca juga: Kontroversi Iklan Candi Borobudur: Ketika Simbol Agama Dijadikan Gimmick, di Mana Letak Etika?

Masyarakat perlu mendukung upaya pemerintah untuk mengatasi kemiskinan demi keadilan sosial dan kesejahteraan. Namun, kebijakan harus mengedepankan hak-hak seksual dan reproduksi. Hak asasi manusia termasuk hak atas tubuh dan layanan kesehatan reproduksi tidak boleh dilanggar. Peran penyuluh dan pendamping sangat penting dalam perubahan sosial di tingkat keluarga. Data tahun 2020 menunjukkan bahwa ada lebih dari 300 ribu tenaga pendamping dan penyuluh di Indonesia yang bekerja di berbagai sektor. Ini merupakan kekuatan sosial yang luar biasa yang membantu keluarga mempersiapkan diri untuk hidup sendiri.