Rabu Wekasan: Saat Tradisi, Agama, dan Kearifan Lokal Bertemu

Penulis: Wildan Nur Mardotillah, Editor: Nehayatul Najwa

Setiap kali bulan Safar mendekati penghujung, warga Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, kembali menjalankan tradisi “Rabu Wekasan”. Bagi masyarakat setempat, hari itu bukan sekadar penanda bahwa satu bulan dalam kalender Hijriah akan berakhir. Rabu Wekasan menjadi ruang pertemuan antara keyakinan agama, warisan leluhur, dan kehangatan kehidupan bersama. Di tengah kesibukan sehari-hari, tradisi ini mengajak warga berhenti sejenak, berkumpul, berdoa, dan mengingat kembali hal-hal yang sering terlupakan: rasa syukur, kepedulian, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.

Secara bahasa, Rabu Wekasan berasal dari kata “Rebo” yang berarti hari Rabu dan “wekasan” yang bermakna akhir atau penghujung. Dengan demikian, Rabu Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Tradisi ini dikenal di sejumlah masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura, meskipun bentuk pelaksanaan serta kebiasaan yang menyertainya tidak selalu sama. Perbedaan itu menunjukkan bahwa tradisi tumbuh mengikuti pengalaman dan kebudayaan masyarakat yang menjaganya.

Dalam kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, Rabu terakhir bulan Safar kerap dikaitkan dengan datangnya ujian atau marabahaya. Sebagian cerita dan rujukan tradisional menyebut hari tersebut sebagai waktu yang perlu disikapi dengan doa dan kehati-hatian. Keyakinan seperti ini perlu dipahami secara bijak, tanpa menjadikannya alasan untuk hidup dalam ketakutan. Bagi warga yang menjalankannya, doa, sedekah, dan kegiatan keagamaan menjadi ikhtiar untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. sekaligus mengingatkan diri bahwa manusia memiliki keterbatasan. Nilai pentingnya bukan semata-mata pada kekhawatiran terhadap hari tertentu, melainkan pada kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan berbuat baik.

Baca Juga: Perspektif Islam tentang Tradisi Lokal dan Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan

Di Desa Bunikasih, suasana Rabu Wekasan terasa melalui kegiatan yang dilakukan bersama. Warga biasanya berkumpul di masjid atau musala untuk melaksanakan salat sunah yang dikenal sebagai salat tolak bala, kemudian mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah rangkaian kegiatan selesai, sebagian warga membawa makanan untuk dinikmati bersama. Ada yang menyiapkan hidangan dari rumah, ada yang membantu menata tempat, dan ada pula yang memastikan kegiatan berjalan dengan tertib. Hal-hal sederhana ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya berlangsung melalui doa, tetapi juga melalui kerja sama dan kesediaan untuk saling membantu.

Makanan yang dibawa warga bukan sekadar pelengkap acara. Di dalamnya terdapat semangat berbagi dan sedekah sesuai kemampuan masing-masing. Tidak harus mewah atau berlimpah, yang utama adalah ketulusan untuk ikut mengambil bagian. Warga yang mungkin jarang berbincang karena kesibukan sehari-hari mendapat kesempatan untuk saling menyapa, bertukar kabar, dan mempererat silaturahmi. Dalam suasana seperti itu, hubungan sosial tidak dibangun melalui sesuatu yang besar, melainkan melalui perjumpaan sederhana yang dilakukan berulang kali.

Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana ajaran Islam dan kearifan lokal Sunda dapat berjumpa dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran Islam di suatu daerah tidak selalu membuat kebiasaan lama hilang begitu saja. Sebagian tradisi mengalami penyesuaian, diberi pemaknaan baru, lalu diteruskan dengan nilai-nilai yang dianggap selaras dengan ajaran agama. Dalam pelaksanaan Rabu Wekasan, misalnya, doa dan sedekah dipahami sebagai ikhtiar manusia, sedangkan perlindungan dan pertolongan pada akhirnya tetap dimohonkan kepada Allah Swt. Dengan pemahaman tersebut, budaya menjadi jalan untuk merawat kebersamaan, sementara agama memberi arah agar tradisi tidak kehilangan nilai ketauhidan dan kebaikannya.

Baca Juga: Moderasi Beragama dalam Tradisi Syawalan Masyarakat Krapyak Pekalongan

Meski demikian, tradisi juga perlu dijalankan dengan pemahaman yang jernih. Menghormati kebiasaan leluhur bukan berarti semua cerita yang menyertainya harus diterima tanpa pertimbangan. Masyarakat dapat menjaga Rabu Wekasan sebagai kesempatan berdoa, bersedekah, dan memperkuat silaturahmi, sembari tetap berhati-hati dalam menyampaikan klaim tentang waktu tertentu sebagai sumber kesialan. Sikap ini penting agar tradisi tidak berubah menjadi ketakutan berlebihan atau membuat orang merasa bahwa keselamatan hanya ditentukan oleh satu hari dan satu ritual. Justru, nilai yang dapat terus dirawat ialah keyakinan kepada Allah, kepedulian kepada sesama, serta kesadaran untuk menjalani hidup dengan ikhtiar dan tanggung jawab.

Bagi generasi muda, Rabu Wekasan dapat menjadi ruang belajar yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Anak-anak yang ikut menghadiri doa bersama atau membantu menyiapkan makanan bisa mengenal arti berbagi secara langsung, bukan hanya melalui nasihat. Mereka juga dapat belajar menghormati orang yang lebih tua, bekerja sama dengan tetangga, dan memahami bahwa kehidupan desa bertumpu pada kepedulian bersama. Peran orang tua dan tokoh masyarakat penting untuk menjelaskan makna tradisi dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga generasi muda tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi juga mengerti nilai yang ingin diwariskan.

Baca Juga: Kearifan Lokal sebagai Jembatan Tradisi dan Modernitas

Di tengah modernisasi dan perubahan cara hidup, tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap relevan. Kesibukan, perkembangan teknologi, dan perubahan pola pergaulan dapat membuat ruang perjumpaan warga semakin berkurang. Karena itu, kegiatan seperti Rabu Wekasan memiliki arti lebih luas: tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan kedekatan sosial. Tradisi dapat terus dipelihara selama dijalankan secara terbuka, tidak memaksa, dan tetap memberi ruang bagi pemahaman yang berkembang. Warisan budaya bukan benda mati yang harus disimpan persis seperti masa lalu, melainkan pengalaman bersama yang dapat dirawat sambil terus dimaknai ulang.

Fenomena Rabu Wekasan di Desa Bunikasih memperlihatkan bahwa tradisi tahunan dapat berfungsi sebagai sarana penguatan identitas keagamaan sekaligus perekat sosial. Di dalamnya terdapat doa, sedekah, gotong royong, dan kesempatan untuk memperbarui hubungan antarwarga. Makna tradisi pada akhirnya tidak hanya terlihat dari rangkaian acaranya, tetapi juga dari sikap yang tumbuh setelahnya: apakah warga menjadi lebih peduli, lebih bersyukur, dan lebih bersedia membantu satu sama lain. Jika nilai-nilai itu tetap hidup, Rabu Wekasan bukan sekadar seremoni yang datang sekali setahun. Ia menjadi pengingat bahwa iman dan budaya dapat berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan menjaga keharmonisan masyarakat dari generasi ke generasi.

Referensi
Setya, Devi. Sejarah dan Asal-usul Rebo Wekasan, Tradisi Rabu Terakhir Bulan Safar. detikHikmah. Diakses pada 15 Agustus 2026. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8613643/sejarah-dan-asal-usul-rebo-wekasan-tradisi-rabu-terakhir-bulan-safar

Ketika Pengajian Mengajarkan Lebih dari Sekadar Mengaji

Penulis: Nailul Uly Emiliana, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah derasnya arus digital yang sering menyita perhatian masyarakat, masih ada ruang-ruang kecil yang menjadi oase bagi tumbuhnya semangat belajar agama. Salah satunya dapat ditemukan di RW 09, Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Setiap Sabtu selepas salat Asar, puluhan ibu-ibu berkumpul dalam sebuah majelis taklim sederhana. Tidak hanya untuk membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ceramah, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi dan saling menguatkan dalam menjalani kehidupan.

Menariknya, pengajian ini memiliki tradisi yang mungkin belum banyak dijumpai di tempat lain. Sebelum kajian dimulai, seluruh jamaah diajak melakukan peregangan otot selama beberapa menit. Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, kegiatan ini mungkin terasa tidak biasa. Namun, justru dari kebiasaan sederhana itulah tersimpan pesan yang mendalam. Para jamaah diajak menjaga kesehatan tubuh agar tetap bugar sehingga dapat mengikuti pengajian dengan lebih fokus, nyaman, dan khusyuk. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari bentuk syukur atas nikmat yang Allah titipkan kepada manusia.

Setelah tubuh dipersiapkan, hati pun diisi dengan ilmu. Pada pertemuan kali ini, kajian berfokus pada Surah Al-Wāqi’ah, surah ke-56 dalam Al-Qur’an yang termasuk golongan Makkiyah. Surah ini sangat akrab di telinga umat Islam. Banyak orang membacanya setiap malam, bahkan ada yang menjadikannya amalan harian karena berharap memperoleh keberkahan dari Allah Swt.

Namun, ustaz yang menyampaikan kajian mengajak jamaah melihat Surah Al-Wāqi’ah dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, persoalan utama bukanlah seberapa sering seseorang membaca surah tersebut, melainkan “seberapa benar ia membacanya”. Sebab, dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan makhraj huruf dan tajwid yang benar. Jangan sampai semangat mengulang bacaan justru membuat kita lupa memperbaiki kualitasnya.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan beberapa ayat yang sering keliru dibaca. Misalnya, pada ayat pertama, huruf ‘ain di akhir lafaz harus keluar dari makhrajnya dengan jelas. Pada ayat keenam, sifat hams perlu terdengar sehingga karakter huruf tetap terjaga. Di ayat ketujuh, huruf zā’ tidak boleh dibaca memantul seperti qalqalah. Jamaah juga diingatkan tentang pentingnya membaca ghunnah secara sempurna pada ayat ke-12 dan ke-35, membedakan pelafalan huruf ḥa dan kha pada ayat ke-65, serta membaca tasydid dengan mengalir tanpa terputus pada ayat ke-79. Penjelasan tersebut membuat para jamaah menyadari bahwa memperbaiki satu huruf saja merupakan bagian dari memuliakan firman Allah.

Kajian ini juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai keutamaan Surah Al-Wāqi’ah. Selama ini, banyak orang mengenalnya sebagai surah pembuka pintu rezeki dan pelindung dari kemiskinan. Harapan tersebut tentu boleh dimiliki sebagai bentuk doa kepada Allah. Namun, ustaz mengingatkan bahwa yang lebih utama adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar membacanya karena mengharapkan manfaat duniawi. Keberkahan Al-Qur’an akan terasa ketika ia dibaca dengan benar, dipahami maknanya, lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana pengajian sore itu terasa begitu hangat. Tidak ada kesan menggurui, apalagi membuat jamaah takut karena banyak kesalahan. Sebaliknya, kajian berlangsung dengan penuh semangat belajar. Sesekali terdengar tawa ketika ustaz mencontohkan kesalahan bacaan yang sering dilakukan, lalu para jamaah bersama-sama memperbaikinya. Dari suasana seperti inilah tumbuh kesadaran bahwa belajar agama adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Apa yang dilakukan ibu-ibu di RW 09, Desa Maleber, memberikan pelajaran bahwa pengajian tidak hanya menjadi tempat mendengar ceramah, tetapi juga ruang untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Dimulai dengan menjaga kesehatan melalui peregangan, dilanjutkan dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, kemudian ditutup dengan semangat mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari. Semua rangkaian itu membentuk harmoni antara kesehatan jasmani, ketenangan rohani, dan penguatan ukhuwah.

Pada akhirnya, pengajian bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang tumbuh bagi masyarakat. Dari majelis sederhana inilah lahir kesadaran bahwa mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan sering membacanya, tetapi juga dengan terus belajar membacanya secara benar, memahami kandungannya, dan menghadirkannya dalam setiap langkah kehidupan. Barangkali, inilah makna keberkahan yang sesungguhnya: ketika ilmu tidak berhenti di telinga, melainkan mengubah cara seseorang memandang dan menjalani hidup.

Hadirkan Gus Miftah, Mahasiswa Baru UIN Gus Dur Pekalongan Diajak Memahami Kebhinekaan dan Kemanusiaan

Penulis: Luthfi Maulana, Editor: Muslimah 

Mahasiswa baru UIN K.H. Abdurrahman Wahid  Pekalongan (UIN Gus Dur) menghadiri acara kuliah umum kebangsaan yang dilaksanakan di Gedung Student Center UIN Gus Dur, Jum’at (18/9/2026). Kuliah umum kebangsaan ini mengusung tema Merawat Kebhinekaan, Mengukuhkan Kemanusiaan, untuk Indonesia yang Humanis.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran para petinggi kampus serta menghadirkan narasumber utama K.H. Miftah Maulana Habiburrohman selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Kepresidenan bidang Kerukunan Beragama dan Pembinan Sarana Keagamaan. Menurut Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M. Ag., kehadiran Gus Miftah diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan mengenai aspek kebhinekaan melalui pengalaman-pengalaman yang dimiliki.

“Mahasiswa yang hadir pasti akan sangat beruntung karena akan dapat wawasan yang luas dari Gus Miftah juga mendapatkan perspektif yang berbeda terkait tema yang kita angkat,” ujarnya dalam sambutan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, terdapat tiga kata kunci yang menjadi poin utama dalam kuliah kebangsaan kali ini, yakni merawat kebhinekaan, mengukuhkan kemanusiaan, dan Indonesia humanis. Kebhinekaan yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia sudah seyogyanya dijaga bersama dengan penuh kesadaran. Kebhinekaan tersebut tidak bisa hanya dipandang dalam satu perspektif saja karena keragaman. Lebih dari itu, kebhinekaan tersebut seharusnya menjadi pemersatu bangsa terciptanya Indonesia yang harmonis.

Selanjutnya, kata kunci mengukuhkan kemanusiaan sebagai pengejawantahan dari nilai tauladan Gus Dur. Menurut Rektor UIN Gus Dur, membawa nama besar Gus Dur pada kampus berarti memiliki nilai yang sama dengan Gus Dur sebagai teladan. Aspek tersebut juga diharapkan tidak hanya menjadi retorika, namun menjadi nilai yang tumbuh dalam diri individu.

“Gus Dur adalah pembela kemanusiaan, oleh sebab itu kita harus sama dengan Gus Dur, apa yang diajarkan oleh Gus Dur, nilai-nilai gusdurian, keadilan, membela yang lemah, toleransi, nir kekerasan, saling menghargai dan sebagainya. Harus menjadi teladan bagi kita semua.”

Nilai kemanusiaan tersebut diharapkan mewujudkan kedamaian dalam Indonesia yang humanis. Menurutnya, Indonesia yang humanis ialah Indonesia yang memanusiakan manusia.

“Tidak ada satupun manusia yang hina di dunia ini karena sebetulnya semua makhluk adalah makhluk Allah.” tambahnya dalam sambutan.

Dengan berfokus pada tiga poin tersebut, Gus Miftah dihadirkan untuk memberikan pemahaman mengenai pluralitas kemanusiaan yang terjadi di Indonesia melalui pengalaman-pengalamannya. Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana kondisi nyata aspek kebhinekaan yang terjadi pada situasi sosial kemasyarakatan di Indonesia.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pemupuk nilai-nilai moderasi beragama yang perlu dimiliki oleh para mahasiswa baru sebagai penerus nilai-nilai ajaran Gus Dur. Dengan semangat moderasi beragama yang dimiliki oleh Gus Dur, para mahasiswa diharapkan menerapkan aspek-aspek keadilan, toleransi, dan saling menghargai terhadap sesama sebagai implementasi nyata mereka dalam kehidupan.

Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Sebanyak 1.495 atlet dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (Porsi Jawara) II. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini mempertemukan mahasiswa dalam berbagai bidang kompetisi, mulai dari olahraga, seni, hingga ilmiah.

Pembukaan Porsi Jawara II digelar di Gedung Student Center UIN Gus Dur dan dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, M.Ag., serta Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Rabu (9/9). Dalam kesempatan tersebut, Amien mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa perkuliahan sebagai ruang mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.

“Mumpung masih kuliah, masa di mana kalian mengukir prestasi,” ujar Amien.

Porsi Jawara II diikuti 1.495 atlet, 626 official, serta 147 wasit dan juri. Sebanyak 27 cabang dipertandingkan, terdiri atas 10 cabang olahraga, 8 cabang seni, dan 9 cabang ilmiah. Beragamnya cabang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang mereka tekuni.

Sebagai tuan rumah, UIN Gus Dur Pekalongan mengirimkan 120 atlet untuk mengikuti seluruh rangkaian kompetisi. Ketua Kontingen UIN Gus Dur, Lutfi Maulana, mengatakan persiapan telah dilakukan secara intensif sejak Agustus, termasuk melalui training center (TC) dan latihan rutin menjelang pertandingan.

“Secara persiapan kita selalu intens melakukan TC, baik dari bulan Agustus sampai bulan ini dan ketika H-10 hari kita juga tetap tiap hari latihan. Artinya ini bagian dari modal besar kita,” kata Lutfi.

UIN Gus Dur menargetkan masuk lima besar dalam klasemen akhir. Meski demikian, Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., menegaskan bahwa status sebagai tuan rumah tidak menjadi alasan bagi kampus untuk mengejar gelar juara umum.

“UIN Pekalongan walaupun menjadi tuan rumah, tidak menargetkan untuk juara umum,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan Porsi Jawara II lebih penting dijaga melalui kejujuran, semangat, dan sportivitas. Untuk mendukung hal tersebut, sebanyak 147 wasit dan juri telah melalui proses pengujian, termasuk sejumlah juri yang didatangkan dari luar Jawa Tengah.

Nilai-nilai tersebut membuat kompetisi dalam Porsi Jawara II tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah bertemu dalam ruang yang sama, berkompetisi secara sehat, sekaligus belajar menghargai perbedaan dan menjaga sportivitas.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam, sikap tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama yaitu mampu berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat, menerima perbedaan, serta menjunjung keadilan dalam prosesnya. Dengan demikian, prestasi yang dikejar tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kompetisi dijalankan secara jujur dan bermartabat.

Belajar Qanaah: Menemukan Ketenangan dalam Rasa Syukur

Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah

Pernahkah kita membuka media sosial, lalu melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, nongkrong di tempat yang sedang viral, atau mengikuti tren terbaru? Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi tanpa sadar muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama. Padahal, sebelumnya kita tidak terlalu membutuhkan hal tersebut. Perasaan takut tertinggal dari orang lain inilah yang sering disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Media sosial membuat kita dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Kita melihat pencapaian, gaya hidup, perjalanan, hingga kebahagiaan orang lain melalui layar. Akibatnya, terkadang kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain.

Baca juga: Ketika Spiritualitas Tak Perlu Dipamerkan: Belajar Esensi Waisak dari Aliran Theravada

Misalnya, ketika melihat teman membeli pakaian baru, kita ikut ingin membeli. Ketika ada tempat makan yang sedang viral, kita merasa harus mencobanya. Bahkan, ketika melihat teman-teman berkumpul tanpa kita, muncul perasaan takut ketinggalan momen. Padahal, belum tentu semua hal yang dilakukan orang lain memang kita butuh kan.

Di sinilah konsep qanaah dalam Islam menjadi menarik untuk direnungkan. Qanaah dapat dipahami sebagai sikap merasa cukup terhadap apa yang telah diberikan Allah Swt., disertai dengan rasa syukur dan tetap berusaha. Qanaah bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan atau bercita-cita. Sebaliknya, kita tetap boleh berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran kebahagiaan kita. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang muslim. Ketika kita terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, kita bisa lupa memperhatikan nikmat yang sebenarnya sudah kita miliki.

Menurut saya, FOMO tidak selalu buruk. Keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika FOMO membuat kita kehilangan kendali. Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Kita pergi ke suatu tempat bukan karena ingin menikmati pengalaman, tetapi hanya karena ingin mengunggahnya ke media sosial. Bahkan, terkadang kita memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara kita memandang kebahagiaan. Kita mulai menganggap bahwa bahagia berarti memiliki barang terbaru, pergi ke tempat tertentu, atau mendapatkan banyak perhatian. Padahal, kebahagiaan tidak selalu harus terlihat di media sosial.

Qanaah mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Bukan berarti kita harus berhenti memiliki impian, tetapi kita belajar menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Kita boleh ingin memiliki ponsel baru, tetapi tidak perlu merasa rendah diri hanya karena ponsel kita berbeda dengan milik teman. Kita boleh ingin berlibur, tetapi tidak perlu merasa kehidupan kita gagal hanya karena belum bisa mengunjungi tempat yang sedang viral.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan. Kita hanya melihat bagian yang ingin ditampilkan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri sebelum mengikuti sesuatu, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Menjadi qanaah di tengah budaya FOMO memang tidak mudah. Kita hidup di zaman ketika tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa belajar untuk merasa cukup. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menggunakan media sosial dengan bijak, dan memperbanyak rasa syukur dapat menjadi langkah sederhana untuk melatih qanaah.

Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa bahagia. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Sebab, terkadang kebahagiaan bukan tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang belajar menghargai apa yang sudah ada.

Jadi, ketika FOMO mulai muncul, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mengingat kembali qanaah. Bukan karena kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi karena kita tidak ingin kehilangan rasa syukur hanya demi mengejar apa yang dimiliki orang lain.

 

Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghargai. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu sikap penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Sebagian orang masih menganggap bahwa moderasi beragama berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Ada pula yang menganggap bahwa bersikap toleran berarti mencampuradukkan ajaran agama. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Moderasi beragama bukan berarti menjadi ragu terhadap ajaran agama sendiri atau mengorbankan keyakinan demi menghormati orang lain. Moderasi beragama justru mengajarkan seseorang untuk menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghargai keberadaan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui sikap yang baik, bukan melalui tindakan yang memaksakan kehendak. Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinannya. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari toleransi.

Moderasi beragama juga penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan. Di sekolah, misalnya, peserta didik dapat bertemu dengan teman yang berbeda agama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan beribadah, perayaan keagamaan, atau tradisi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman dan bekerja sama. Dalam kegiatan kelompok, semua peserta didik dapat saling menghargai dan memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjalankan kewajiban keagamaannya.

Selain di lingkungan sekolah, tantangan moderasi beragama juga semakin besar di media sosial. Informasi mengenai agama dapat tersebar dengan cepat, termasuk informasi yang belum tentu benar. Tidak jarang perbedaan pendapat mengenai persoalan keagamaan berubah menjadi perdebatan yang disertai penghinaan dan ujaran kebencian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial secara bijaksana juga merupakan bagian dari sikap moderat. Sebelum membagikan informasi, seseorang perlu memeriksa kebenarannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Sikap sederhana seperti tidak mengejek agama lain, tidak menyebarkan kebencian, menghormati teman yang sedang beribadah, serta bersedia bekerja sama dengan siapa pun dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, moderasi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus mengubah atau meninggalkan keyakinan sendiri. Kita dapat menghargai seseorang sebagai manusia tanpa harus mengikuti keyakinannya. Dengan kata lain, toleransi tidak menuntut setiap orang menjadi sama. Toleransi justru mengajarkan bahwa perbedaan dapat diterima selama setiap pihak mampu menjaga batas dan menghormati hak satu sama lain.

Pada akhirnya, teguh dalam keyakinan dan hidup damai dalam perbedaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Justru, keyakinan yang dijalankan dengan penuh pemahaman seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan menjaga kedamaian.

Moderasi beragama bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan, melainkan cara untuk menjaga agar kehidupan beragama berjalan secara seimbang dan tidak menimbulkan permusuhan. Di tengah keberagaman Indonesia, sikap tersebut sangat diperlukan. Kita tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menciptakan kedamaian. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Dengan demikian, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan harmonis.

Hijrah di Era Digital: Antara Tren dan Kesadaran

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di era digital seperti sekarang, istilah hijrah semakin sering kita dengar, terutama di kalangan anak muda. Kata hijrah tidak hanya muncul dalam kajian atau ceramah, tetapi juga banyak ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten tentang hijrah, mulai dari cara berpakaian, memperbaiki ibadah, hingga meninggalkan kebiasaan buruk, semakin mudah ditemukan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan, apakah hijrah yang dilakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri atau hanya mengikuti tren?

Pada dasarnya, hijrah memiliki makna yang luas. Hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, tetapi juga tentang usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Swt. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, menjaga perkataan, menghormati orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, serta berusaha menjaga hubungan dengan sesama.

Baca juga:

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu seseorang dalam proses hijrah. Saat ini banyak ustaz, pendakwah, dan kreator konten Islam yang membagikan ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi muda. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat mendengarkan kajian, membaca ayat Al-Qur’an, maupun mendapatkan pengingat tentang ibadah.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain. Tren hijrah di media sosial terkadang membuat seseorang lebih fokus pada penampilan daripada perubahan sikap. Misalnya, seseorang terlihat lebih religius dari luar, tetapi masih mudah marah, suka merendahkan orang lain, atau tidak menjaga perkataannya. Padahal, perubahan dalam hijrah seharusnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan usaha dari dalam diri. Hijrah seharusnya dilakukan karena kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan hanya karena ingin mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tren hijrah selama tren tersebut membawa seseorang kepada kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niat dan prosesnya. Jangan sampai hijrah hanya menjadi identitas di media sosial, tetapi tidak memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.

Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa hijrah harus dilakukan secara langsung dan sempurna. Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mulai dengan memperbaiki salat, ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang mulai belajar agama secara perlahan. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Di tengah perkembangan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial, generasi muda perlu menjadikan media digital sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Hijrah seharusnya bukan sekadar tren yang muncul dan hilang, tetapi sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah Swt. Karena perubahan yang paling penting bukan hanya yang terlihat oleh manusia, melainkan perubahan yang tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Menebar Senyum, Menanamkan Kebaikan

Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah

Kehidupan sosial manusia tidak pernah lepas dari berbagai macam perilaku, baik yang mencerminkan kebaikan maupun sebaliknya. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kemampuan untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap orang mampu menghadirkan suasana yang positif dalam kehidupan bersama. Sikap ramah, sopan, dan santun kepada teman, keluarga, maupun orang lain merupakan salah satu bentuk sederhana dalam menciptakan hubungan sosial yang harmonis.

Berbuat baik pun sebenarnya tidak terbatas kepada sesama manusia. Kebaikan juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap hewan, tumbuhan, serta lingkungan sekitar. Ketika seseorang mampu memperlakukan berbagai makhluk dengan baik, akan tercipta kehidupan yang lebih seimbang dan penuh dengan hubungan yang harmonis.

Salah satu bentuk kebaikan yang sangat sederhana adalah tersenyum. Selama ini, senyum sering kali dipahami sebagai ekspresi seseorang ketika merasa bahagia, memperoleh kenikmatan, atau sedang berada dalam suasana hati yang menyenangkan. Padahal, dalam ajaran Islam, senyum memiliki nilai yang lebih dari sekadar ekspresi kebahagiaan. Senyum bahkan dapat menjadi sebuah sedekah yang mudah dilakukan oleh siapa saja.

Baca juga: Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Senyum merupakan bentuk ekspresi yang dapat menggambarkan perasaan seseorang. Wajah yang tersenyum biasanya menunjukkan adanya ketenangan, kebahagiaan, dan rasa nyaman dalam diri seseorang. Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada berbagai peristiwa yang menghadirkan kebahagiaan, kesedihan, haru, maupun pengalaman yang menjadi pelajaran. Di tengah berbagai keadaan tersebut, senyum menjadi salah satu cara sederhana untuk menghadirkan energi positif dalam kehidupan.

Dalam Islam, memberikan senyuman kepada orang lain termasuk perbuatan yang bernilai sedekah. Ketika bertemu dengan teman, saudara, atau orang lain, memberikan senyum dengan tulus merupakan sebuah kebaikan yang tidak membutuhkan biaya ataupun tenaga yang besar. Meskipun sederhana, perbuatan tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah Swt. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam hadis:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi No. 1956)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai berbagai bentuk kebaikan, termasuk kebaikan yang terlihat kecil dalam pandangan manusia. Tersenyum kepada orang lain dapat menjadi awal dari munculnya sikap ramah dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Senyum juga tidak seharusnya diberikan hanya kepada orang yang memiliki kedudukan tertentu. Setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang baik tanpa membedakan status sosial, latar belakang, maupun keyakinannya.

Berbuat baik hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan bukan demi memperoleh pujian. Terlalu mengejar pujian dari orang lain justru dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain dan pada akhirnya menumbuhkan sifat sombong. Kebaikan akan memiliki makna yang lebih besar apabila dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan dari manusia.

Selain memiliki nilai dalam ajaran agama, tersenyum juga diketahui memberikan dampak positif bagi kondisi psikologis seseorang. Ketika seseorang tersenyum, tubuh dapat merespons dengan menghasilkan neurotransmitter seperti endorfin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan suasana hati. Senyum juga dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan mengurangi ketegangan. Karena itu, membiasakan diri tersenyum dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan suasana hati yang lebih positif.

Senyuman juga memiliki kemampuan untuk menular. Ketika seseorang memberikan senyum yang tulus kepada orang lain, orang yang menerima senyuman tersebut sering kali secara spontan membalasnya dengan senyuman. Dari hal sederhana tersebut dapat muncul interaksi yang lebih positif. Satu senyuman mungkin terlihat kecil, tetapi dapat menjadi awal dari terciptanya hubungan yang lebih baik antara satu orang dengan orang lainnya.

Pada akhirnya, membiasakan diri untuk tersenyum bukan hanya tentang menunjukkan bahwa kita sedang bahagia. Senyum dapat menjadi bentuk penghormatan, keramahan, dan kepedulian kepada orang lain. Bahkan, dalam perspektif Islam, senyum merupakan sedekah sederhana yang dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.

Oleh karena itu, mari membiasakan diri menghadirkan senyuman dalam setiap pertemuan. Barangkali senyum sederhana yang kita berikan dapat membuat seseorang merasa dihargai, mengurangi jarak dengan orang lain, bahkan menjadi awal dari hubungan yang lebih baik. Jangan pernah menganggap kecil sebuah kebaikan, karena sesuatu yang sederhana di mata manusia bisa saja memiliki nilai yang besar di hadapan Allah Swt.

Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang mampu menebarkan kebaikan, menjaga hubungan dengan sesama, serta selalu mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Mari terus berusaha memperbaiki diri, melawan hawa nafsu, dan meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Doa Bersama Antar Umat Beragama: Merawat Persatuan di Hari Kemerdekaan dan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026 bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali memperkuat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kegiatan yang memiliki makna penting adalah doa bersama antar umat beragama. Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan saling menghormati.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Kabupaten Pekalongan memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Dalam kondisi tersebut, untuk menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Imam Teguh Wibowo selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa doa bersama menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus memperkuat kerukunan antar umat beragama.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dan memperingati Hari Jadi Kabupaten Pekalongan yang ke-404. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antar umat beragama.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah peringatan tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat seremonial. Doa bersama memiliki pesan sosial yang lebih luas, yaitu mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari perjuangan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan saja. Karena itu, semangat persatuan harus terus dirawat dari generasi ke generasi.

Dalam konteks Kabupaten Pekalongan, peringatan Hari Jadi ke-404 juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan daerah. Usia 404 tahun merupakan perjalanan yang panjang. Tentunya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial masyarakatnya. Daerah yang maju membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan. Pembangunan akan lebih mudah dilakukan apabila masyarakat memiliki rasa saling percaya, menghormati perbedaan, dan ingin bekerja sama. Sebaliknya, konflik dan intoleransi dapat menjadi hambatan untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera. Oleh karena itu, doa bersama antar umat beragama seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Toleransi bukan hanya tentang menghormati ketika orang lain menjalankan ibadah. Toleransi juga berarti bersedia mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, tidak mudah menyebarkan keburukan, dan mau bekerja sama dalam berbagai bidang demi kepentingan bersama. Generasi muda juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, perbedaan terkadang mudah berubah menjadi pertentangan karena informasi yang tidak benar atau provokatif. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya persatuan dan kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijaksana.

Pada akhirnya, doa bersama antar umat beragama mengandung pesan sederhana tetapi sangat penting, kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat berjalan bersama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat semangat tersebut. Dengan menjaga toleransi, gotong royong, dan persaudaraan, masyarakat Kabupaten Pekalongan dapat bersama-sama mewujudkan daerah yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dan kerukunan bukan hanya sebuah slogan, melainkan nilai yang harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.