Curug Blanten dan Sendang Luhur: Harapan Baru Wisata Alam di Kajen

Penulis: Najwa Aisha Mohandis, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

  Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kini memiliki potensi wisata alam yang semakin berkembang melalui wisata canyoneering di Curug Blanten, Dusun Gunungtelu. Wisata ini menawarkan pengalaman petualangan yang berbeda, yaitu menyusuri sungai, menuruni tebing air terjun, dan menikmati keindahan alam secara langsung. Kehadiran wisata canyoneering menjadi langkah positif dalam mengembangkan potensi wisata desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

​      Salah satu dampak yang paling terlihat adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi para pemuda Desa Kutorojo. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan wisata, mulai dari menjadi pemandu, tim keamanan, tim dokumentasi, hingga pengelola kegiatan. Keterlibatan pemuda dalam pengelolaan wisata ini menunjukkan bahwa potensi desa dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

​      Selain membuka peluang kerja, wisata canyoneering juga menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi warga sekitar. Kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil, seperti penjual makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan wisata lainnya. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di lingkungan sekitar Dusun Gunungtelu.

​     Menariknya, wisata ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan maupun dari kota-kota lain di Jawa Tengah untuk merasakan sensasi canyoneering yang masih tergolong baru dan unik. Tingginya minat pengunjung dari luar daerah menunjukkan bahwa Curug Blanten memiliki daya tarik yang kuat dan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pekalongan. Kehadiran wisatawan tersebut juga turut memperkenalkan Desa Kutorojo, #Wisata, #DesaKutorejo, #KKN #hijratunaa, #curugkepada masyarakat yang lebih luas.

​     Sistem pengelolaan wisata yang diterapkan juga cukup baik karena menggunakan sistem booking terlebih dahulu dan hanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan sistem tersebut, jumlah peserta dapat dikendalikan sehingga pelayanan, kenyamanan, dan keselamatan tetap terjaga. Biaya yang dikenakan sebesar Rp185.000 per orang sudah mencakup makan, perlengkapan canyoneering yang lengkap dan aman, dokumentasi foto serta video, dan pendampingan langsung oleh petugas yang berpengalaman.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

      ​Aspek keselamatan menjadi salah satu keunggulan wisata ini. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti briefing atau pengarahan mengenai tata cara kegiatan, penggunaan peralatan, teknik dasar canyoneering, serta prosedur keselamatan yang harus dipatuhi selama berada di area wisata. Setelah briefing selesai, peserta dibekali perlengkapan keselamatan yang sesuai standar dan didampingi oleh pemandu selama kegiatan berlangsung. Dengan adanya pengarahan dan pendampingan tersebut, wisatawan dapat menikmati aktivitas canyoneering dengan lebih aman, nyaman, dan percaya diri.

​      Selain memperhatikan aspek keselamatan, pengelola juga telah berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui perbaikan akses menuju lokasi wisata. Jalan menuju Curug Blanten berupa jalan setapak yang kini telah dipermudah dan ditata dengan lebih baik sehingga lebih aman dan nyaman untuk dilalui. Perbaikan jalur setapak ini memudahkan wisatawan saat menuju lokasi kegiatan tanpa menghilangkan keasrian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Dengan akses yang semakin baik, pengunjung dapat menikmati perjalanan menuju curug dengan lebih nyaman sambil menikmati pemandangan alam khas Dusun Gunungtelu.

   Perkembangan wisata canyoneering di Dusun Gunungtelu pun terus berlanjut. Setelah Curug Blanten mulai dikenal oleh banyak wisatawan, kini telah resmi dibuka lokasi canyoneering baru di Curug Sendang Luhur pada 6 Juni 2026. Kehadiran destinasi baru ini menjadi bukti bahwa potensi wisata alam di Desa Kutorojo masih sangat besar untuk dikembangkan. Dengan adanya dua lokasi canyoneering, pilihan wisata bagi pengunjung menjadi lebih beragam dan peluang ekonomi masyarakat pun semakin terbuka.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

​  Keberadaan Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya mampu menghadirkan pengalaman rekreasi dan petualangan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Melalui pengelolaan yang melibatkan warga lokal, khususnya para pemuda desa, manfaat wisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar.

    ​Ke depannya, diharapkan minat pengunjung, terutama dari luar Desa Kutorojo, luar Kabupaten Pekalongan, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, terus meningkat sehingga wisata canyoneering ini semakin dikenal luas. Diharapkan pula wisata ini dapat menjadi salah satu ikon wisata petualangan unggulan Kabupaten Pekalongan yang mampu mengangkat nama Desa Kutorojo di tingkat yang lebih luas. Selain itu, semakin berkembangnya wisata ini diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi pemuda desa, mendorong tumbuhnya usaha-usaha lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, promosi yang berkelanjutan, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah, wisata canyoneering di Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Kutorojo.

Serap Aspirasi Lintas Agama, LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Susun Naskah Akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama  

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

KABUPATEN PEKALONGAN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus Dur) gelar Forum Group Discussion (FGD) penyusunan naskah akademik dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penguatan Moderasi Beragama Kabupaten Pekalongan, Rabu (17/6).

Kegiatan yang melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi ruang untuk menghimpun aspirasi dari berbagai organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, dan perwakilan umat beragama, guna memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca juga: Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Alghiffary, M.Hum., mengatakan bahwa forum tersebut bertujuan mendengarkan berbagai persoalan dan keresahan masyarakat terkait kehidupan beragama. Menurutnya, masukan yang diperoleh akan menjadi bahan penting dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda, agar mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat serta menjamin hak-hak setiap pemeluk agama.

Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jahirin, M.H., dalam sambutannya berharap keberadaan Raperda Penguatan Moderasi Beragama nantinya dapat menjadi payung hukum yang mampu mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat.

“Harapannya, naskah hukum ini nantinya dapat disusun secara komprehensif dan menjadi payung hukum yang bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Andi Eswoyo, S.Ag., dari LP2M menjelaskan bahwa penyusunan naskah akademik harus didasarkan pada tiga landasan utama, yakni filosofis, sosiologis, dan yuridis. Ia menegaskan bahwa regulasi yang disusun tidak dimaksudkan untuk bertentangan dengan peraturan yang sudah ada, melainkan mengatur secara lebih spesifik mengenai penguatan moderasi beragama.

Berbagai masukan disampaikan oleh peserta yang berasal dari MUI, Muslimat NU, LDII, Rifaiyah, FKUB, perwakilan umat Hindu, penghayat kepercayaan, umat Buddha, hingga berbagai organisasi masyarakat lainnya. Perwakilan MUI mengingatkan agar penyusunan Raperda dilakukan secara hati-hati, sedangkan Muslimat NU mendorong agar draf yang telah disusun dapat dibagikan kepada berbagai pihak sehingga dapat disempurnakan bersama.

Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya mencampuradukkan ajaran agama, melainkan membangun sikap saling menghormati dan toleransi di tengah keberagaman. Ia juga menyoroti masih terbatasnya dukungan anggaran untuk program-program penguatan moderasi beragama yang selama ini telah dilakukan FKUB.

Dari diskusi tersebut, sejumlah persoalan krusial berhasil dihimpun, meliputi pengaturan penggunaan pengeras suara dan waktu kegiatan keagamaan, pemakaman umum, pendidikan moderasi beragama, pernikahan, kerja sama antarumat beragama, administrasi kependudukan, anggaran, penguatan FKUB, serta rumah ibadah. Kesembilan isu tersebut akan menjadi bahan kajian dalam penyusunan naskah akademik dan Raperda Penguatan Moderasi Beragama.

Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Penulis: Izzati Amaliya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, dan agama. Dalam hal ini, moderasi beragama menjadi esensial untuk mempertahankan harmoni dan ketenangan. Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menguatkan prinsip-prinsip moderasi adalah melalui pendekatan spiritual yang sudah ada dan berkembang di masyarakat Pekalongan. Tradisi manakiban yang tumbuh di berbagai kelompok Muslim, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan tarekat-tarekat, menyimpan ajaran-ajaran mulia yang selaras dengan nilai moderasi beragama.

Manakiban berasal dari kata manaqib, yang bermakna cerita-cerita atau biografi para wali dan ulama terkemuka, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Aktivitas manakiban umumnya dilakukan melalui pengajian, zikir, dan bacaan kisah-kisah teladan tokoh Sufi yang dikenal dengan moralnya yang luhur, toleran, dan rendah hati dalam Islam. Dalam komunitas Muslim tradisional, termasuk di Pekalongan, manakib telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem sosial dan budaya. Ia bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai sarana penguatan sosial, pelestarian adat, dan simbol identitas kelompok. Pelaksanaan manakib di Majalengka, seperti di daerah lain, dilakukan dalam bentuk majelis keluarga, komunitas RT/RW, hingga tingkat pesantren atau masjid desa, dan biasanya dikaitkan dengan peringatan hari besar Islam atau haul ulama.

Baca juga: Tradisi Pasar Jajan dalam Menjaga Keberagaman dan Persatuan Antarumat Beragama Pada Peringatan 17 Agustus di Pekalongan

Manakib tidak hanya menyampaikan cerita-cerita inspiratif, tetapi juga berfungsi sebagai medium penyebaran nilai-nilai sufistik seperti zuhud, tawakal, sabar, ikhlas, dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya. Dalam bidang pendidikan spiritual, manakib berperan sebagai metode pembentukan karakter melalui teladan, yaitu dengan meniru kehidupan dan akhlak para wali. Lebih lanjut, manakib membantu menciptakan suasana batin yang religius dan introspektif. Saat masyarakat mengikuti bacaan manakib, mereka secara tidak langsung masuk ke ruang simbolik yang memperkuat ikatan spiritual dengan Tuhan dan ulama.

Dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan seperti Pekalongan, tradisi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan spiritual, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai ideologis dan kultural. Salah satu bentuk tradisi yang masih bertahan hingga sekarang adalah manakib, yaitu bacaan kisah-kisah teladan para wali, terutama Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang telah menjadi bagian dari ritual keagamaan yang hidup di masyarakat Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Nalar Kritis Pemikiran Gus Baha

Tradisi manakib bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga alat pendidikan karakter dan moral. Melalui bacaan manakib, masyarakat diperkenalkan pada figur-figur yang hidupnya mencerminkan nilai-nilai tawadhu’ (rendah hati), tasamuh (toleransi), ta’awun (tolong-menolong) dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di Pekalongan, banyak pesantren dan tokoh agama yang terus menjaga tradisi ini, bahkan menjadikannya bagian dari kurikulum pembinaan akhlak santri. Ulama juga bertindak sebagai pembawa budaya, yang menekankan pentingnya spiritualitas dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan demikian, manakib tidak hanya bertahan sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi dakwah kultural yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Namun demikian, kelangsungan tradisi manakib dihadapkan pada tantangan masa kini, seperti pengaruh kelompok puritan yang memandang manakib sebagai bidah, dampak gaya hidup individualistik yang mengurangi partisipasi sosial, serta kemajuan teknologi digital yang mengalihkan perhatian generasi muda dari tradisi keagamaan lokal.

Baca juga: Saat Doa Bertemu Adat: Merajut Harmoni di Tanah Pusaka

 Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah revitalisasi dan inovasi dalam pengembangan tradisi manakib. Pemerintah daerah bersama lembaga keagamaan diharapkan dapat berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara. Pengemasan manakib dalam format digital seperti video dakwah, narasi kisah inspiratif di media sosial, atau konten edukasi berbasis aplikasi, bisa menjadi strategi untuk menjangkau generasi muda tanpa kehilangan esensi nilainya. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang dampak manakib terhadap perilaku keagamaan, sosial, dan ideologis masyarakat, sehingga kontribusi tradisi ini dalam membentuk masyarakat yang religius dan moderat dapat dibuktikan secara ilmiah dan dijadikan acuan dalam kebijakan keagamaan yang inklusif.

Perkuat Pemikiran Gus Dur, Para Dosen UIN Pekalongan Turut Serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025

Penulis: Aris Priyanto

Editor: Fajri Muarrikh

Pasca terselenggaranya Sekolah Pemikiran Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, pada tanggal 8-9 Juli 2025. Para dosen kemudian mengikuti acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari yaitu mulai 29-31 Agustus 2025 yang bertempat di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.500-2.000 peserta dari berbagai daerah dan bebagai kalangan mulai dari komunitas GUSDURian, individu, lembaga, jejaring tokoh agama, masyarakat sipil dan para akademisi.

Acara TUNAS GUS DURian tahun ini mengusung tema “Meneladani Gus Dur, Merawat Indonesia”. Kegiatan tersebut terdiri dari 3 agenda besar yaitu Konferensi Pemikiran Gus Dur, Forum Gerakan dan Festival Gerakan. Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG) dibuka langsung oleh Alissa Wahid selaku Direktur Jaringan GUS DURian. Sebelum membuka acara, Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa memulai dulu dengan orasi ilmiah untuk menambah semangat dan antusias peserta. KPG merupakan ruang untuk mendiskusikan dan memperdalam warisan intelektual Gus Dur dalam konteks pemikiran tentang keindonesiaan, keagamaan, sosial dan politik yang dikontekskan pada persoalan demokrasi dan ekologi yang saat ini masih menjadi isu nasional.

 

Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG)

Dewi Anggraeni atau biasa dipanggil Mbak Dewi, selaku koordinator dosen UIN K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan dalam mengikuti kegiatan TUNAS GUSDURian mengatakan bahwa konferensi ini dihadiri oleh Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Sebagai salah satu narasumber dari materi Demokrasi dan Supremasi Masyarakat Sipil. Mahfud MD menjelaskan bahwa persoalan besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia bukan hanya soal kualitas demokrasi, melainkan juga rapuhnya kedaulatan hukum. Ia menegaskan, demokrasi tidak boleh berjalan sendiri tanpa hukum, begitu juga sebaliknya. Bahkan menurutnya “Negara yang sehat itu memadukan demokrasi dan nomokrasi. Itulah yang dulu diperjuangkan Gus Dur”, Jelas Mahfud MD.

Forum Gerakan

Menurut Dewi, forum ini menjadi forum yang sangat luar biasa karena yang dibahas termasuk isu-isu nasional yang sedang terjadi di negeri ini yaitu Demokrasi Hukum dan HAM, Toleransi dan Perdamaian, Keadilan Teologi. Toleransi dan perdamaian mengkaji terkait regulasi diskriminatif berbasis agama dan keyakinan, penolakan beribadah dan tempat ibadah dengan kekerasan, ujaran kebencian, dan lembaga pendidikan yang mengajarkan paham monopoli kebenaran dan mengingkari pluralisme.

Festival Gerakan

Festival gerakan memiliki tujuan untuk mempromosikan dan merefleksikan gerakan yang telah dilakukan oleh para GUSDURian yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Indonesia yang tergabung dalam jaringan GUSDURian. Festival ini berupa community space (ruang bazar dan pameran gerakan), learning space (ruang untuk berbagi berbagai pengetahuan, skill para penggerak GUSDURian, lembaga dan jejaring GUSDURian, yang diperuntukkan untuk peserta TUNAS GUSDURian dan khalayak umum.

Penutupan dan Gusdurian Awards

Dalam acara penutupan dibacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Alissa mengatakan bahwa adanya para dosen yang merupakan akademisi mau mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur tentunya mereka mau menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus yang nantinya akan mereka sampaikan kepada para mahasiswa. Alissa juga berharap perguruan tinggi lain juga mau mengikuti jejak UIN Gus Dur dalam menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus.

Gus Dur Center UIN Pekalongan Ikuti Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian 2025 di Jakarta

Sebagai upaya membangun jejaring Gusdurian, Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berpartisipasi dalam acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari, yaitu tanggal 29-31 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Para Dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam jaringan Gusdurian UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan tersebut mulai dari konferensi pemikiran Gus Dur, Forum gerakan dan festival gerakan.

Ade Gunawan, sebagai salah satu dosen penggerak Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengatakan bahwa kegiatan TUNAS Gusdurian merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk membangun jejaring Gusdurian dan sebagai media untuk belajar dalam mengembangkan kualitas dan mutu dari Gusdurian yang ada di UIN Gus Dur.

Kegiatan TUNAS Gusdurian menjadi gerbang awal bagi Gus Dur Center UIN Gus Dur untuk bisa berdiri tegak dan maju sebagaimana Gusdurian yang lain. Apalagi kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari komunitas Gusdurian, akademisi, tokoh lintas agama dan kepercayaan, individu, dan juga masyarakat sipil.

Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa, selaku Direktur Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa TUNAS Gusdurian ini merupakan wadah bagi siapa saja yang mau meneladani Gus Dur dan Pemikirannya. Melalui forum ini, diharapkan semua kalangan mampu menjaga dan meneladani apa yang sudah digagas oleh Gus Dur.

Acara TUNAS Gusdurian dihadiri dan diisi oleh para tokoh penting negeri ini seperti Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Mahfud MD mengatakan bahwa “Gus Dur pernah bilang, kekuasaan itu bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Gus Dur tidak pernah mengorbankan rakyat demi mempertahankan jabatan”.

Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi tanpa hukum akan melahirkan anarki karena aturan kehilangan daya ikatnya. Sebaliknya, hukum tanpa demokrasi hanya akan memperkuat kesewenang-wenangan penguasa.

Dalam acara penutupan TUNAS Gusdurian, Alissa membacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia berharap supaya seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini dapat menjaga apa yang sudah diwariskan oleh Gus Dur dan melanjutkan pemikirannya.

 

Editor: Fajri Muarrikh

 

Dari Lingkungan Bersih ke UMKM Naik Kelas: KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tunjukkan Program Berdampak Nyata

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Senin 21 Juli 2025, bertempat di Aula Kelurahan Simbang Kulon, telah dilaksanakan kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto. Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. Suasana kegiatan berlangsung dengan khidmat dan tenang. Acara diawali dengan sambutan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kemudian dilanjutkan sambutan dari Sekretaris Kelurahan Simbang Kulon.

Program kerja yang disampaikan mencakup empat fokus utama, yaitu Bank Sampah, Penanganan Stunting, Koperasi Merah Putih, dan Pemberdayaan UMKM. Program ini dirancang berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi dengan masyarakat setempat, dengan harapan mampu memberikan kontribusi nyata selama masa pengabdian. Pemaparan program kerja ini bertujuan agar perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta masyarakat mengetahui secara rinci rencana kegiatan mahasiswa selama masa pengabdian KKN, serta untuk menerima arahan dan saran dari para tamu undangan yang hadir.

“Kami merancang program berdasarkan kondisi nyata yang kami temui di lapangan, dengan harapan kegiatan ini bisa memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ilham Sholihan, salah satu perwakilan mahasiswa.

Baca Juga:Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Setelah penyampaian program kerja selesai, para tamu undangan diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran, tanggapan, serta masukan yang berkaitan dengan berbagai macam program kerja yang telah disampaikan. Berdasarkan hasil diskusi bersama, seluruh program kerja yang telah disampaikan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 37 secara umum mendapat respon positif, dan disetujui oleh seluruh tamu undangan yang hadir, serta dapat segera ditindaklanjuti selama masa pelaksanaan KKN di Kelurahan Simbang Kulon.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan berharap mahasiswa bisa berbaur serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat Simbang Kulon,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Sebagai penutup, seluruh peserta kegiatan melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kebersamaan antara mahasiswa, perangkat kelurahan, serta tamu undangan yang hadir.

Dokumentasi ini sekaligus menjadi catatan resmi atas terselenggaranya kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tahun 2025. Besar harapan kami agar program-program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat Kelurahan Simbang Kulon.

Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Pewarta: Akhmad Dalil Rahman, Editor: Azzam Nabil H.

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Remaja Masjid Jami’ Al Muttaqien Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Batang, menyelenggarakan kegiatan bertajuk Semarak Muharram: Pawai Obor pada Kamis malam, 26 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan yang dikemas meriah dan penuh makna, dengan tema “Bersatu dalam Cahaya, Harmoni dalam Perbedaan”.

Suasana religius menyelimuti awal acara dengan pembacaan doa bersama oleh K.H. Abdul Ghofar dan K.H. Maftukhin. Setelahnya, peserta pawai dilepas untuk mengelilingi kampung dengan membawa obor yang menyala sebagai simbol harapan dan semangat baru. Kegiatan ini melibatkan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang datang dari Dukuh Jemawu, Tembelang, dan Madureso.

Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan Marching Band MI Salafiyah Sidorejo yang turut mengiringi barisan pawai. Selain itu, terdapat pula pertunjukan kembang api, iringan musik, serta arakan dua gunungan yang berisi jajanan dan sayuran. Setelah pawai selesai, gunungan dibagikan kepada warga sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.

Baca juga: Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid, Bapak H. Susilo menyampaikan penghargaan kepada seluruh panitia dan remaja masjid atas kerja keras dan kreativitas mereka. Beliau menekankan pentingnya ruang-ruang positif seperti kegiatan pawai obor, terlebih di tengah era digital yang penuh distraksi, agar generasi muda tetap terarah dan dekat dengan lingkungan sosial serta nilai spiritual.

Agus Prasetiyo selaku ketua panitia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan warga dan seluruh elemen yang terlibat. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi tradisi tahunan yang tak hanya meriah, tetapi juga memberi makna lebih dalam tentang kebersamaan, toleransi, dan semangat perubahan di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar perayaan, pawai obor ini menjadi simbol persatuan dan optimisme. Sebuah pengingat bahwa dalam perbedaan, kita bisa tetap berjalan bersama, menyongsong tahun yang baru dengan cahaya harapan dan kebersamaan yang menyala.

Gandeng BPIP RI, PC ISNU Kabupaten Pekalongan Ajak Masyarakat Perkuat Semangat Moderasi Beragama

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pekalongan bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia selenggarakan Seminar Nasional Pancasila di Gedung Student Centre UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada Rabu, (18/06).

Seminar ini mengusung tema “Aktualisasi Nilai Ketuhanan dalam Kebangsaan: Menjaga Moderasi Beragama di Indonesia” yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengintegrasikan nilai-nilai Ketuhanan dengan semangat kebangsaan melalui praktik moderasi beragama.

Ketua PC ISNU Kabupaten Pekalongan Nasrudin menjelaskan alasan diangkatnya tema moderasi agama dalam seminar ini. Menurutnya, saat ini isu keberagaman seringkali rentan terhadap polarisasi dan konflik. Maka dari itu moderasi beragama menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa.

“Kami menyadari bahwa di tengah kompleksitas persoalan bangsa saat ini, isu keberagaman seringkali menjadi rentan terhadap polarisasi dan konflik. Moderasi beragama menjadi sangat urgen sebagai garda terdepan penjaga persatuan dan pilar keutuhan bangsa,” jelasnya.

Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya, mulai dari Kepala BPIP RI Yudian Wahyudi sebagai pembicara utama, serta beberapa pembicara seminar yaitu Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP RI Moh. Agus Najib, Ketua PW ISNU Provinsi Jawa Tengah Fakhruddin Aziz, Plt. Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Pekalongan Sri Lestari, dan Wakil Rektor III UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Shinta Dewi Rismawati.

Baca juga: Hari Buruh: Memaknai Keadilan Sosial dalam Bingkai Moderasi

Antusiasme peserta cukup tinggi dalam acara ini, di mana 500 peserta hadir dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, akademisi, tokoh agama, perwakilan organisasi masyarakat, hingga masyarakat umum.

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh penting mulai dari Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP RI Prakoso, Perwakilan Forkopimda Kabupaten Pekalongan, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan Baihaqi Anwar, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan Muslih Khudlori, Kepala Kemenag Kabupaten Pekalongan, Ketua MUI Kabupaten Pekalongan, dan Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan.

Foto bersama pasca kegiatan Seminar Nasional Pancasila, 18/6 2025 (Doc. Humas UIN)

Lebih lanjut, Nasrudin berharap nilai-nilai luhur Pancasila dapat dipahami, diinternalisasikan,dan diamalkan dengan baik, serta PC ISNU Kabupaten Pekalongan dapat menjadi agen Pancasila sejati.

“Pertama, kami berharap nilai-nilai luhur Pancasila dapat semakin dipahami, diinternalisasi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya di Kabupaten Pekalongan. Kedua, kami ingin PC ISNU Kabupaten Pekalongan dan seluruh pengurusnya, termasuk PAC ISNU yang baru dilantik, dapat menjadi duta-duta dan agen-agen Pancasila sejati, yang mampu hadir sebagai solusi di tengah kompleksitas persoalan bangsa,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya Seminar Nasional Pancasila ini, PC ISNU Kabupaten Pekalongan bersama BPIP RI menunjukkan komitmen nyata dalam merawat semangat kebangsaan melalui penguatan moderasi beragama. Kehadiran berbagai tokoh dan elemen masyarakat dalam acara ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

Toa Masjid Al-Hidayah, Simbol Moderasi Beragama di Dusun Purbo, Jolotigo, Pekalongan

Penulis: Muhamad Nurul Fajri, Editor: Azzam Nabil H.

Desa Jolotigo, merupakan sebuah desa yang secara geografis geografis masuk dalam wilayah Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan. Salah satu dusun yang menarik dari desa ini adalah dusun Purbo, yang mana di dusun itu terdapat masjid yang diapit oleh dua gereja sekaligus. Masjid Al-Hidayah ini diapit oleh Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbo di sebelah timur, dan Gereja Bettle Indonesia (GBI) di sebelah selatan masjid.

Mengingat bahwa penduduk di dusun ini lebih banyak yang beragama kristen, yakni kurang lebih sebanyak 60%, dan sisanya beragama muslim. Dibalik jumlah penduduk yang beragama kristen lebih banyak daripada muslim, uniknya adalah, ketika penulis berkunjung ke dusun Purbo, dan mewawancarai beberapa tokoh di sana, menurut mereka, rasa toleransi dan saling memahami sangatlah dijunjung tinggi.

Kata Suyanta, seorang jemaat Gereja Kristen Jawa, ketika penulis tanyai perihal apakah para umat Kristiani terganggu dengan adanya suara toa masjid yang selalu bersuara di setiap azan shalat 5 waktu. Menurut Suyanta, umat kristen di sana, khususnya dia, tidak pernah terganggu dengan suara azan yang berkumandang. Dan bahkan, ketika waktu subuh, Suyanta menuturkan bahwa ia malah merasa terbantu dengan adanya bunyi toa masjid, sehingga bisa bangun tidur lebih pagi.

Baca juga: Ngaji Budaya: Ruang Bertemunya Tradisi Dan Moderasi Beragama Di Desa Jetaklengkong

Pendeta Alfius Sokidi, seorang pendeta di GKJ Purbo ini juga turut membenarkan pernyataan dari Suyanta. Ia berkata bahwa dengan adanya toa Masjid Al-Hidayah ini tidaklah mengganggu waktu istirahat umat kristen, justru malah membantunya. Dan memang budaya warga di sana yang sudah terbiasa bangun pagi, karena dahulunya orang di sana bekerja di pabrik teh yang selalu berangkan pada pukul 5 pagi.

Selain toa Masjid Al-Hidayah digunakan untuk azan, puji-pujian, dan iqamah saja, toa masjid ini juga digunakan sebagai pengumuman ketika ada orang meninggal. Menariknya, bukan hanya orang islam yang diumumkan di situ, ketika ada orang kristen yang meninggal, pun diumumkan lewat toa Masjid Al-Hidayah ini.

Menurut Bukhori, selaku pengurus Masjid Al-Hidayah dusun Purbo ini, ia sering dimintai tolong oleh warga sekitar, khususnya umat kristen untuk mengumumkan warga yang meninggal di dusun tersebut.

Katanya, ada ciri khas tersendiri ketika mengumumkan. Misalkan yang meninggal adalah seorang muslim, maka diawali dengan kata ‘innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun’, dan jika yang meninggal adalah umat kristiani, maka kata yang diawali adalah ‘telah pulang ke rumah bapa’ atau ‘turut berduka cita’.  Hal ini menunjukkan betapa harmonisnya kehidupan dua agama di sebuah dusun, tanpa ada perselisihan satu sama lain.

Baca juga: Harmonisasi Kebudayaan dan Agama: Praktik Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Negeri di Atas Awan

Kondisi Sosial-Budaya 

Dalam konteks sosial-budaya, masyarakat di dusun purbo sendiri sudah terbiasa dalam kegiatan gotong-royong yang dilaksanakan setiap Jum’at Kliwon. Biasanya, untuk memberi pengumuman kepada masyarakat untuk mengikuti gotong-royong, diberitahukan melalui toa Masjid Al-Hidayah. Semua warga turut serta dalam kegiatan ini, tanpa melihat latar bekalang agama atau struktur sosialnya.

Disamping itu, ketika perayaan idul fitri maupun natal, warga saling memberi ucapan selamat, baik itu selamat natal maupun selamat hari raya idul fitri. Dan seringakali umat islam di Dusun Purbo diundang untuk menghadiri perayaan natal di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbo setiap tahunnya, tidak terkecuali penulis juga yang tahun lalu turut diundang oleh Pdt. Alfius Sokidi dalam perayaan natal. Bagi penulis itu adalah toleransi yang luar biasa. Mereka tidak menjadikan agama sebagai pembatas dalam menjalin kerukunan. Yang dilihat adalah ‘manusianya’.

Pemakaman Umat Islam-Kristen

Selain toa Masjid Al-Hidayah yang menjadi simbol moderasi beragama di Dusun Purbo, Desa Jolotigo, ada hal yang menarik lagi yang perlu penulis sampaikan di sini, yakni terkait pemakaman yang ada di Dusun Purbo.

Biasanya, yang sering terjadi di banyak daerah, sebuah pemakaman umum seringkali digunakan oleh umat muslim saja. Ketika ada salah satu warga yang meninggal, dan itu kebetulan adalah non muslim, di beberapa kasus sering ditolak jika akan dimakamkan di situ, salah satunya kasus di Desa Ngares Kidul, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.

Berbeda halnya dengan yang terjadi di Dusun Purbo, pemakaman di sini dicampur, antara orang Islam dengan Kristen—bahkan makam orang kristen tetap menggunakan nisan berbentuk salib.

Dari Dusun Purbo ini bisa kita ambil pelajaran bahwa sebelum munculnya istilah “moderasi beragama”, di dusun ini sudah menerapkan nilai-nilai moderat dan kerukunan antar umat beragama sejak puluhan tahun silam.

Maka, seyogyanya moderasi beragama bukan hanya diucapkan secara lisan dan dibicarakan dalam seminar di ruang-ruang kelas saja, akan tetapi juga dipraktikan dalam kehidupan nyata.

Lima Tahun Vakum, Umat Konghucu Kota Pekalongan Kembali Menggelar Peh Cun

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah

Pekalongan – Umat Konghucu Kota Pekalongan kembali menggelar tradisi Peh Cun setelah vakum sejak 2019. Tahun ini, Peh Cun dan sedekah laut diselenggarakan di Pantai Pasir Kencana, Kota Pekalongan pada hari Sabtu, 31 Mei 2025.

Sekretaris Majelis Agama Khonguchu Indonesia (MAKIN) Herman Mulyanto menyatakan, perayaan Peh Cun 2020 hingga 2024 tidak terlaksana karena beberapa kendala, mulai dari pandemi Covid-19 hingga Pemilu.

“Tahun 2019 itu terakhir, terus 2020 kan ada covid, terus pembangunan di daerah sini (Pantai Pasir Kencana), (dan) penanganan rob. Sebenarnya acara ini mau kita laksanakan 2024, tapi lagi-lagi ada kendala pemilu, setelah 5 tahun kita vakum, kita mulai lagi tahun ini,” ujarnya.

Terdapat berbagai rangkaian acara dalam tradisi ini, mulai dari ritual sembanhyang oleh MAKIN yang diikuti oleh umat Konghucu dan persembahan sesaji kepada Qu Yuan, lomba mendirikan telur, serta pembakaran replika kapal.

Hermanto kembali menjelaskan filosofi pembakaran replika kapal untuk peringatan Peh Cun dan sedekah laut di Kota Pekalongan. Menurutnya, kapal merupakan simbol khas Kota Pekalongan sebagai wilayah dengan penghasil ikan.

“Kota Pekalongan ini kan terkenalnya batik dan ikan. Di samping kita merayakan Peh Cun, kita juga melakukan sedekah laut, nah yang kita maksud sedekah laut itu supaya perikanan Pekalongan bisa tambah naik,” jelasnya.

Acara ini turut dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai, serta aneka stand UMKM. Tidak hanya umat Konghucu, masyarakat dari berbagai agama juga turut antusias menyaksikan acara ini. Perayaan Peh Cun ini menjadi bukti bahwa tradisi tersebut tetap relevan dan mampu menjadi perekat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk sebagai bentuk implementasi Moderasi Beragama.

Baca juga:Ngaji Budaya: Ruang Bertemunya Tradisi Dan Moderasi Beragama Di Desa Jetaklengkong

*Foto: Dok.hijratunaa (31/05)