Moderasi Beragama sebagai Pendorong Mobilitas Sosial di Era Modern

Penulis: Syahrum Maulidal F., Editor: Azzam Nabil H.

Masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan memiliki kepentingan bersama. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat mengalami perubahan sosial yang tak terhindarkan. Perubahan ini tidak hanya menyangkut aspek struktural, tetapi juga menyentuh nilai-nilai budaya, ekonomi, dan religius yang membentuk wajah masyarakat modern. Dalam konteks ini, perubahan sosial tidak terjadi begitu saja. Ia bisa berasal dari dalam masyarakat sendiri seperti pertumbuhan jumlah penduduk, munculnya penemuan baru, konflik sosial, hingga revolusi budaya. Sementara dari luar, perubahan dapat didorong oleh peperangan, kondisi alam, maupun pengaruh budaya asing yang masuk melalui arus globalisasi. Di tengah dinamika ini, masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat tanpa kehilangan identitas dasarnya. Perubahan yang terjadi, cepat atau lambat, akan membentuk ulang struktur masyarakat, memengaruhi sistem nilai, dan membuka peluang bagi setiap individu untuk berpindah dalam struktur sosial.

Baca juga: Dakwah No Ribet: Antara Pahala, Views, dan Moderasi Beragama di TikTok

Berkaitan dengan ini, mobilitas sosial yang berkembang menjadi salah satu bentuk perubahan sosial dimana terdapat gejala yang mencerminkan keinginan alami manusia untuk memperbaiki status hidupnya. Ada dua bentuk utama mobilitas sosial, yaitu horizontal dan vertikal. Mobilitas horizontal terjadi ketika seseorang atau kelompok berpindah dalam satu lapisan sosial yang sejajar, tanpa mengubah kedudukan status sosialnya. Misalnya, seorang guru agama yang kemudian memutuskan menjadi pengusaha, namun tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang moderat dalam praktik usahanya. Contoh ini menunjukkan bahwa perpindahan peran sosial dapat berlangsung harmonis, tanpa harus menanggalkan prinsip-prinsip beragama yang inklusif dan toleran.

Sementara itu, mobilitas sosial vertikal menyangkut perubahan status sosial ke arah yang lebih tinggi (naik) atau lebih rendah (turun). Faktor-faktor yang memengaruhi mobilitas vertikal meliputi kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Seseorang yang memiliki akses pendidikan tinggi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk naik status sosialnya. Di sinilah moderasi beragama memainkan peran penting. Ketika seseorang menginternalisasi nilai-nilai agama yang moderat, terbuka terhadap perubahan, namun tetap teguh dalam prinsip moral, maka peluang untuk sukses secara sosial-ekonomi akan semakin terbuka. Seorang pemuda dari keluarga sederhana yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan konsisten dalam belajar, misalnya, dapat meraih pendidikan tinggi dan menjadi manajer di perusahaan besar. Ini adalah bukti bahwa semangat moderasi dalam beragama tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga mendukung pencapaian sosial yang lebih tinggi.

Baca juga: Peran Pendidikan dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Indonesia

Moderasi beragama menempatkan nilai-nilai seperti toleransi, keseimbangan, dan keadilan sebagai landasan dalam hidup bermasyarakat. Prinsip-prinsip ini sangat relevan di era globalisasi, di mana perbedaan keyakinan, budaya, dan gaya hidup semakin tampak. Dengan menerapkan sikap moderat, masyarakat tidak hanya mampu meredam potensi konflik, tetapi juga mendorong terciptanya ruang sosial yang adil dan inklusif. Dalam lingkungan yang demikian, mobilitas sosial menjadi lebih terbuka bagi siapa pun, tanpa diskriminasi berdasarkan agama atau latar belakang sosial.

Secara keseluruhan, perubahan sosial adalah keniscayaan yang diikuti oleh mobilitas dalam struktur masyarakat. Moderasi beragama berperan sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai tradisional dengan realitas modern yang dinamis. Dalam masyarakat yang plural dan terus berubah, moderasi tidak hanya menjadi ajaran, tetapi menjadi kebutuhan dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkemajuan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama yang moderat ke dalam proses sosial, setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh, berkembang, dan berpindah ke posisi sosial yang lebih baik dalam struktur masyarakat.

*Sumber ilustrasi: Artificial Intellegence

Menelisik Sisi Historis Penyebutan Gelar “Haji” di Indonesia

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Saat ini, umat Islam memasuki bulan Dzulqa’dah yang mana menjadi salah satu bulan dilaksanakannya ibadah haji. Sebagaimana dalam Quran surat al-Baqarah ayat 197, Allah swt. berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS Al-Baqarah [2]: 197)

Sebagian besar Ulama menafsirkan bahwa bulan-bulan yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Dalam hal ini Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, maksud ayat di atas adalah waktu pelaksanaan ihram, bukan semua rangkaiaan haji. Karena pada dasarnya pelaksanaan haji tidak sampai berbulan-bulan.

Disisi lain, ada fenomena menarik yang berkaitan dengan ibadah Haji ini, dimana sebagian masyarakat Indonesia yang telah selesai melaksanakan ibadah haji, kerap kali dipasangkan dengan gelar “haji”. Namun bagaimana sebenarnya sejarah penyematan gelar haji ini?

Gelar “Haji” mulai dikenal secara luas dan digunakan secara resmi di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda. Gelar ini disematkan kepada umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pada masa itu, perjalanan ke tanah suci sangat sulit, memakan waktu lama, dan membutuhkan biaya besar. Karena itu, hanya orang-orang tertentu yang mampu melakukannya, dan mereka pun memperoleh status sosial yang tinggi di mata masyarakat. Gelar “Haji” kemudian menjadi lambang kehormatan, keberagamaan, serta kesuksesan finansial.

Melihat sebagian masyarakat Indonesia yang melaksanakan ibadah haji, pemerintah kolonial Belanda menyadari meningkatnya jumlah jamaah haji dan merasa khawatir terhadap kemungkinan masuknya gagasan-gagasan politik Islam dari Timur Tengah yang dapat memicu perlawanan terhadap kolonialisme. Sebagai bentuk pengawasan, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Konsulat Jenderal di Arab Saudi pada tahun 1872. Konsulat ini berperan dalam mendata aktivitas jamaah asal Hindia Belanda dan mewajibkan mereka mengenakan atribut khusus, termasuk gelar “Haji,” guna memudahkan proses pemantauan, termasuk melalui izin resmi dan pencatatan administratif. Dalam hal ini, gelar “Haji” juga berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial dan politik, karena pemerintah bisa memantau individu-individu yang berpotensi menjadi pemimpin berpengaruh di kalangan umat Islam.

Sementara itu, masyarakat memaknai gelar “Haji” sebagai simbol kemuliaan sosial dan religius. Mereka yang menyandang gelar ini sering dijadikan teladan dan dianggap memiliki tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Di tengah situasi kolonial, gelar ini juga menjadi bentuk perlawanan budaya terhadap dominasi Barat, karena umat Islam tetap mempertahankan identitas keagamaannya melalui ibadah dan simbol keislaman seperti gelar “Haji”. Dengan demikian, gelar ini bukan hanya mencerminkan aspek religius, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan politik dalam konteks penjajahan.

Sehingga berkaitan dengan hal ini, ibadah haji tidak hanya menjadi kewajiban spiritual bagi umat Islam, tetapi juga memiliki makna sosial, budaya, dan politik yang kuat, terutama dalam konteks sejarah Indonesia. Gelar “Haji” yang disematkan kepada mereka yang telah menunaikannya, mencerminkan perjalanan panjang umat Islam dalam menjaga identitas, kehormatan, dan keteguhan iman di tengah tekanan kolonialisme. Kini, meskipun akses terhadap ibadah haji jauh lebih terbuka dibanding masa lalu, makna simbolis dan spiritual dari gelar tersebut tetap hidup dan menjadi bagian penting dari konstruksi sosial umat Islam Indonesia. Ibadah haji pun terus menjadi jembatan yang menghubungkan antara nilai-nilai keagamaan dan dinamika masyarakat dalam lintasan sejarah.

*Source: BPKH Sejarah Penyematan Gelar Haji di Indonesia
Sumber ilustrasi: blitar.inews.id (haji zaman kolonial belanda)

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Penulis: Said Kosim, Editor: Azzam Nabil H.

Sebagai upaya menyebarkan ajaran agama yang moderat, dakwah dapat berperan penting dalam membentuk masyarakat dan memajukan nilai-nilai moral dan toleransi. Namun, memperkenalkan dakwah ke dalam masyarakat modern seringkali menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Salah satu tantangan terbesar dalam melaksanakan dakwah di masyarakat adalah ketidakmampuan dalam memahami ajaran agama yang kemudian menimbulkan salah tafsir sehingga membuat masyarakat jadi mudah menilai salah dan benar tanpa ada landasan yang kuat dari ilmu agama itu sendiri. Kesalahan dalam menafsirkan pesan agama yang dibawa oleh Rasulullah, melalui Al-Quran dan Hadits, seringkali timbul karena kesalahpahaman dan tidak adanya bimbingan dari guru yang mumpuni.

Selain itu, masalah lain yang sering dihadapi oleh pelaku dakwah adalah resistensi terhadap perubahan. Masyarakat sering kali memiliki kecenderungan untuk mempertahankan status quo dan menolak ide-ide baru, termasuk ajaran agama yang diusulkan oleh para dai. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidaknyamanan terhadap hal-hal yang tidak familiar atau rasa takut akan kehilangan identitas budaya mereka. Untuk mengatasi resistensi ini, pelaku dakwah perlu membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta menjelaskan dengan bijak bagaimana ajaran agama yang diajarkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.

Baca juga: Dakwah No Ribet: Antara Pahala, Views, dan Moderasi Beragama di TikTok

Selanjutnya, dalam masyarakat yang semakin pluralistik seperti saat ini, dakwah sering kali menghadapi persaingan dengan berbagai pemahaman agama dan kepercayaan lainnya. Hal ini dapat mengaburkan pesan yang disampaikan oleh pelaku dakwah dan membuat sulit bagi masyarakat untuk memilih di antara berbagai opsi yang tersedia. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang inklusif dan dialog antaragama yang membawa pemahaman yang lebih baik tentang kesamaan dan perbedaan antara berbagai keyakinan. Melalui dialog yang terbuka dan rasa saling menghormati, masyarakat dapat belajar untuk hidup berdampingan dengan damai meskipun memiliki perbedaan dalam keyakinan agama atau kepercayaan.

Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan sosial dan budaya yang terus menerus. Masyarakat modern sering mengalami perubahan yang cepat dan kompleks, termasuk perubahan nilai-nilai dan norma-norma sosial. Hal ini dapat menyebabkan ketegangan antara ajaran agama dan tuntutan-tuntutan kehidupan modern, seperti gender, teknologi, dan konsumerisme. Untuk mengatasi tantangan ini, pelaku dakwah perlu memahami konteks sosial dan budaya tempat mereka berada, serta menafsirkan ajaran agama dengan cara yang relevan dan bermakna bagi masyarakat modern. Fleksibilitas dan keterbukaan terhadap perubahan adalah kunci untuk menjaga relevansi dakwah dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.

Selain tantangan internal, pelaku dakwah juga sering menghadapi tantangan eksternal, termasuk tekanan politik, hukum, dan sosial. Di beberapa negara, dakwah dapat dibatasi oleh undang-undang atau aturan yang membatasi kebebasan beragama, sementara di tempat lain, dakwah dapat menjadi sasaran intoleransi dan kekerasan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan dukungan dan advokasi dari masyarakat lokal maupun internasional untuk memastikan kebebasan beragama dan hak asasi manusia yang dijamin oleh hukum internasional. Selain itu, pelaku dakwah perlu membangun jejaring yang kuat dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kebebasan beragama dan toleransi, serta memperkuat kapasitas mereka dalam memperjuangkan hak-hak tersebut.

Baca juga: Media Sosial dan Moderasi Beragama: Antara Dakwah Digital dan Polarisasi

Dalam menghadapi berbagai tantangan yang kompleks ini, penting bagi pelaku dakwah untuk tetap mempertahankan integritas, kesabaran, dan semangat untuk berbuat kebaikan. Meskipun jalan menuju perubahan mungkin sulit dan penuh dengan rintangan, kesungguhan dan keteguhan hati dalam menyampaikan pesan agama dengan berlandaskan pada sikap moderat akan membawa dampak positif dalam membentuk masyarakat yang lebih baik dan lebih bermartabat. Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan toleran sebagai bentuk penguatan nilai-nilai moderasi beragama.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan dakwah yang beragam, dai diharapkan mampu menyusun strategi yang jelas agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan baik, seperti diantaranya:

  1. Pendidikan Agama yang Terintegrasi.
    Salah satu strategi utama dalam menghadapi tantangan dakwah adalah dengan menyediakan pendidikan agama yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Ini mencakup pendekatan holistik dalam penyampaian ajaran agama yang tidak hanya berfokus pada aspek teologis, tetapi juga memperhatikan konteks sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Para dai dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan, seperti sekolah dan universitas, untuk mengembangkan kurikulum yang relevan dan menarik bagi siswa agar mereka dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Pembangunan Hubungan yang Kuat dengan Masyarakat.
    Pembangunan hubungan yang kuat dengan masyarakat adalah kunci dalam mengatasi resistensi terhadap dakwah. Para dai perlu berusaha untuk menjadi bagian dari komunitas, mendengarkan kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta membangun hubungan saling percaya. Dengan demikian, para dai dapat lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sambil memperhitungkan konteks budaya dan sosial yang ada.

    Baca juga: Membangun Masyarakat Moderat melalui Komunikasi Dakwah

  3. Dialog Antaragama yang Membawa Pemahaman Lebih Baik.
    Para dai dapat mengadopsi strategi dialog antaragama sebagai cara untuk mengatasi persaingan antar keyakinan dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang kesamaan dan perbedaan antara agama-agama. Dengan terlibat dalam dialog yang terbuka dan rasa saling menghormati, para dai dapat membantu membangun jembatan antara berbagai komunitas agama dan mempromosikan perdamaian serta toleransi di antara mereka.
  4. Penafsiran Agama yang Relevan dan Bermakna.
    Dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya, para dai perlu mampu menafsirkan ajaran agama dengan cara yang relevan dan bermakna bagi masyarakat modern. Ini melibatkan kemampuan untuk membaca dan memahami konteks sosial dan budaya tempat mereka berada, serta mengadaptasi pesan-pesan agama untuk merespons tantangan dan aspirasi yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Dengan demikian, dakwah tetap relevan dan memiliki dampak yang positif dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai masyarakat.
  5. Dukungan dan Advokasi untuk Kebebasan Beragama.
    Para dai juga perlu bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kebebasan beragama dan hak asasi manusia untuk memastikan bahwa mereka memiliki dukungan dan advokasi yang memadai dalam menghadapi tantangan eksternal, seperti tekanan politik, hukum, dan sosial. Dengan memperkuat kapasitas mereka dalam memperjuangkan hak-hak tersebut, para dai dapat memastikan bahwa mereka memiliki lingkungan yang mendukung untuk melaksanakan tugas dakwah mereka.
  6. Keterbukaan terhadap Perubahan dan Inovasi.
    Para dai perlu memiliki keterbukaan terhadap perubahan dan inovasi dalam metode dan strategi dakwah mereka. Masyarakat modern terus berubah, dan para dai perlu dapat beradaptasi dengan cepat untuk tetap relevan dan efektif dalam menyampaikan pesan agama. Ini melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), seperti media sosial dan platform digital lainnya, untuk mencapai audiens yang lebih luas dan mempromosikan pesan-pesan agama dengan cara yang menarik dan mudah diakses.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, para dai diharapkan dapat mengatasi berbagai tantangan dalam melakukan dakwah dalam masyarakat. Meskipun jalan menuju perubahan mungkin penuh dengan rintangan, kesungguhan dan keteguhan hati para dai dalam memperjuangkan pesan-pesan agama yang baik dan benar akan membawa dampak positif dalam membentuk masyarakat yang lebih baik dan lebih bermartabat.

*Sumber ilustrasi: Dribble.com (Muslim Man giving Religious Lectures by ianmikraz on Dribbble)

Cahaya Cinta dan Teladan dari Emha (Cak Nun)

Penulis: Said Kosim, Editor: Fajri Muarrikh

Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, adalah tokoh yang tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di dunia internasional sebagai seorang budayawan, penyair, penulis, pemikir Islam, dan tokoh masyarakat.

Kehidupannya mencerminkan perjalanan panjang seorang intelektual yang senantiasa berpihak pada keadilan, kesetaraan, dan kedamaian.

Lahir pada 27 Mei 1953 di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Cak Nun tumbuh di lingkungan pesantren dan keluarga santri. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Mohammad Abdul Latief, adalah seorang guru agama yang dikenal taat. Tradisi Islam yang kuat di keluarganya menjadi pondasi bagi pemikiran Cak Nun di kemudian hari.

Silsilah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berkaitan dengan garis keturunan keluarga yang berasal dari lingkungan religius di Jawa Timur, khususnya daerah Jombang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pesantren dan tokoh-tokoh ulama besar. Cak Nun berasal dari keluarga yang sederhana namun religius dan penuh nilai-nilai luhur. Ayahnya, seorang guru agama, menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter Cak Nun. Dari lingkungan pesantren dan tradisi keislaman di Jombang inilah, Cak Nun tumbuh menjadi seorang tokoh yang membawa pesan perdamaian, cinta, dan harmoni melalui karya, pemikiran, dan dakwah budaya.

Baca juga: KH. Abdul Hamid Pasuruan Sosok Ulama Sufi dan Tokoh-Panutan/

Pada usia remaja, Cak Nun mengalami pergolakan batin dan mencari makna kehidupan. Ia meninggalkan pesantren Gontor untuk mengembara ke Yogyakarta, kota yang kemudian membentuk sebagian besar kepribadiannya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan para seniman, intelektual, dan aktivis yang membentuk wawasannya.

Meskipun ia sempat kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia memilih jalur pendidikan otodidak dan berguru kepada banyak tokoh besar, seperti Umar Kayam, Umbu Landu Paranggi, dan WS Rendra. Persentuhannya dengan komunitas sastra dan seni Yogya menjadikannya seorang pemikir yang tidak hanya religius, tetapi juga artistik.

Pada masa ini, ia mulai menulis puisi, esai, dan cerpen yang dimuat di media nasional seperti Kompas dan Tempo. Tulisannya sering kali sarat kritik sosial dan bernada spiritual, mencerminkan keresahannya terhadap ketimpangan sosial dan dekadensi moral masyarakat.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin Pembawa Obor Toleransi Ala Gus Dur Muda

Cak Nun menonjol sebagai seorang sastrawan yang menghasilkan banyak karya monumental, seperti:
99 Untuk Tuhanku: Kumpulan puisi yang menjadi refleksi spiritual dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Indonesia Bagian dari Desa Saya: Esai kritis tentang kondisi sosial-politik Indonesia.
Markesot Bertutur: Kisah filsuf desa yang memberikan pandangan mendalam namun sederhana tentang kehidupan.
Arus Bawah: Kumpulan tulisan yang membahas dinamika sosial masyarakat kecil di Indonesia.
Cak Nun menggunakan sastra sebagai media untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, mengkritik kekuasaan yang tidak adil, serta menyampaikan pesan spiritual secara humanis.

Cak Nun menjadi lebih dikenal luas melalui Maiyah, sebuah komunitas diskusi yang ia dirikan. Maiyah bukan hanya sekadar forum intelektual, tetapi juga sebuah ruang spiritual, budaya, dan sosial yang terbuka untuk semua kalangan.

Melalui Maiyah, ia menyampaikan pesan-pesan yang inklusif terhadap berbagai keyakinan dan pandangan; enekankan pentingnya cinta kasih, keadilan, dan keberpihakan kepada kaum marginal; menggugah umat untuk tidak sekadar beragama secara ritual, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Maiyah sering kali dikemas dengan pengajian budaya dan musik yang melibatkan Kiai Kanjeng, kelompok musik yang ia bentuk. Musik mereka menggabungkan elemen tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang unik dan menyentuh hati berbagai kalangan.

Pemikiran Cak Nun tidak hanya tentang agama, tetapi juga kritik terhadap politik, ekonomi, dan sosial. Ia sering menyerukan: kejujuran dan keadilan dalam kepemimpinan; kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa diskriminasi; pentingnya merawat kebudayaan sebagai identitas bangsa.

Ia sering hadir di tengah konflik untuk menjadi mediator, seperti dalam kasus konflik sosial di Ambon, Poso, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Perannya sebagai penyejuk di tengah ketegangan menjadikannya tokoh yang dihormati oleh berbagai golongan, baik Islam maupun non-Islam.

Cak Nun memiliki peran yang sangat penting dan unik dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama melalui pendekatan budaya, seni, dan dialog kemanusiaan. Berbeda dengan pendekatan formal yang sering bersifat doktrinal, Cak Nun menyampaikan nilai-nilai Islam secara inklusif, damai, dan membumi, menjadikannya mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Cak Nun menggunakan seni dan budaya sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam yang penuh cinta, kedamaian, dan toleransi. Salah satu contoh konkret adalah melalui KiaiKanjeng, kelompok musik yang ia bentuk.

KiaiKanjeng menggabungkan unsur musik tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang merefleksikan ajaran Islam sebagai agama yang merangkul keberagaman. Musik mereka sering dijadikan sebagai pengantar refleksi ajaran Islam dalam suasana yang lebih santai namun mendalam. Contohnya, dalam pengajian budaya, Cak Nun menyelipkan nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan pentingnya kebersamaan sambil diiringi oleh lantunan musik dari KiaiKanjeng.

Hal ini membuat dakwahnya lebih “menghidupkan” dibandingkan ceramah formal.
Cak Nun mendirikan Maiyah, yaitu forum pengajian budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Maiyah bukan hanya tempat pengajian, tetapi juga ruang terbuka untuk diskusi spiritual, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Forum ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kelas sosial.

Cak Nun mendorong dialog dua arah, sehingga masyarakat merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya. Cak Nun juga mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang merangkul semua, bukan memecah belah. Pesan-pesan tentang keadilan, kemanusiaan, dan kasih sayang sering kali menjadi inti dari diskusinya.

Dengan pendekatan ini, Cak Nun berhasil menyebarkan pemahaman Islam yang ramah, terbuka, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Cak Nun selalu menekankan bahwa Islam harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan atau dimaknai secara simbolis.

Beberapa poin penting dalam penyebaran nilai Islam menurut Cak Nun adalah: menjunjung tinggi keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan menjauhi sifat-sifat merusak; Cak Nun mengkritik cara beragama yang hanya menekankan ritual tanpa memahami esensi dan nilai spiritual di baliknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Cak Nun sering menyampaikan hal ini dalam konteks ekonomi, politik, dan sosial.

Di tengah situasi global dan nasional yang sering kali dipenuhi konflik atas nama agama, Cak Nun tampil sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Cak Nun sering hadir di tengah masyarakat yang berkonflik, seperti saat kerusuhan Ambon atau Poso, untuk menjadi penengah dan menyampaikan pesan kedamaian dari perspektif Islam.

Melalui pendekatan bahasa yang sederhana, lugas, dan penuh hikmah, Cak Nun berhasil menjangkau generasi muda dalam memahami Islam. Ia mengemas dakwah dengan bahasa modern dan relevan dengan kehidupan anak muda. Pesan-pesan spiritualnya menyentuh sisi emosional, sosial, dan rasional, sehingga mudah dicerna dan diaplikasikan. Generasi muda tidak hanya melihat Islam sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang menyejukkan dan memberi makna.

Cak Nun juga sering mengkritik ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik sebagai bagian dari dakwahnya. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk mengingatkan bahwa Islam mengajarkan keadilan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Misalnya: Mengingatkan pemimpin agar amanah dalam mengemban tugas. Menyerukan kepedulian terhadap kaum miskin dan tertindas sebagai bagian dari kewajiban umat Islam.

Peran Cak Nun dalam penyebaran agama Islam tidak hanya terbatas pada dakwah konvensional, tetapi melalui pendekatan yang lebih inklusif, dan humanis. Beliau berhasil menggabungkan seni dan budaya sebagai media dakwah, mendirikan forum Maiyah sebagai ruang dialog terbuka, menanamkan Islam sebagai ajaran yang praktis dan hidup dalam keseharian, menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Pendekatan Cak Nun menjadikan Islam lebih dekat dengan hati masyarakat, lintas generasi, dan lintas golongan, sehingga nilai-nilainya mampu menginspirasi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

Peran Remaja Masjid dalam Memperkokoh Moderasi Beragama

Penulis: Rama Galih Manunggal, Editor: Azzam Nabil H.

Moderasi beragama merupakan pendekatan dalam beragama yang menekankan keseimbangan antara keyakinan dan toleransi terhadap keberagaman. Tujuan utama dari moderasi beragama adalah mencegah ekstremisme serta menciptakan keharmonisan dalam masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

Dalam hal ini, Ikatan Remaja Masjid (Irma) berperan penting dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang moderat di kalangan pemuda Muslim. Peran ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai Islam, tetapi juga mendorong interaksi positif dengan masyarakat non-Muslim.

Beragam aktivitas yang dilakukan Irma, seperti peringatan hari besar Islam, kajian keagamaan, serta kegiatan sosial seperti sedekah bumi dan megengan, menjadi contoh  bagaimana moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya membantu memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan pemuda Muslim, tetapi juga menciptakan ruang  interaksi  dengan umat beragama lain. Sikap saling menghormati dalam aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan pembuat perpecahanperpecahan. Dari sudut pandang sosiologi, moderasi beragama berperan dalam membangun hubungan sosial yang baik di tengah masyarakat.

Baca juga: Desain Masjid: Simbol Iman atau Keberagamaan?

Konsep ini menekankan bahwa pemahaman agama tidak boleh hanya didasarkan pada pengetahuan biasa, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks sosial agar tidak menimbulkan masalah yang berpotensi menimbulkan perpecahan atau sikap ekstrem. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya toleransi, memberikan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, serta menyelenggarakan diskusi atau kajian tentang Islam yang moderat menjadi langkah penting dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Selain itu, moderasi beragama juga terlihat dalam cara umat Islam menyikapi perayaan agama lain.

Sikap yang disarankan adalah menghormati dan menjaga hubungan baik dengan pemeluk agama lain tanpa harus terlibat dalam  ibadah mereka. Di tengah masyarakat yang multikultural, menjaga keharmonisan dengan sesama, baik Muslim maupun non-Muslim, merupakan salah satu bentuk  dari sikap moderat dalam beragama. Dengan demikian, peran Remaja Masjid sangatlah penting dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama, baik di lingkungan mereka sendiri maupun di tengah masyarakat yang lebih luas. Dengan pemahaman yang lebih luas, mereka dapat membantu mengurangi sikap eksklusif dan ekstrem dalam beragama, serta memperkuat hubungan sosial yang lebih harmonis. Oleh sebab itu, moderasi beragama diharapkan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang damai, saling menghormati, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga: Masjid Lerabaing Alor : Keunikan, Misteri, dan Saksi Bisu Toleransi di Nusa Tenggara Timur

*Ilustrasi dibuat oleh Artificial Intellegence

Peran Pendidikan dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Indonesia

Penulis : Ziatul Fakhiroh , Editor : Amarul Hakim

Sebagai negara dengan beragam agama, kelompok etnis dan budaya, Indonesia sering menghadapi tantangan dalam mempertahankan harmoni sosial. Dalam konteks ini, moderasi agama adalah salah satu kunci terpenting untuk mencegah konflik agama dan memperkuat persatuan nasional. Salah satu faktor yang dapat memainkan peran penting dalam mencapai moderasi agama adalah pendidikan. Pendidikan memiliki kekuatan, pola pikir, sikap dan perilaku individu yang pada akhirnya mempengaruhi dinamika masyarakat.

Pendidikan dapat berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pemahaman yang lebih besar tentang toleransi, penghargaan atas perbedaan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang pengajaran agama sedang. Pendekatan terintegrasi memungkinkan pendidikan untuk mengurangi kemungkinan radikalisasi karena memperkenalkan konsep moderasi agama sebagai jalan tengah untuk menghormati keragaman. Di sekolah, pesan toleransi dan moderasi agama dapat diajarkan tidak hanya pada masalah agama tetapi juga pada topik lain yang menyentuh kemanusiaan dan etika sosial.

Moderasi agama didasarkan pada pendidikan. Melalui kurikulum yang memprioritaskan pemahaman tentang pengajaran agama dan mengajarkan pentingnya rasa terima kasih atas perbedaan, generasi yang lebih muda memiliki dasar yang kuat untuk berkembang menjadi individu terbuka dan hidup dengan pihak lain. Misalnya, siswa dapat mengajarkan prinsip -prinsip moderasi agama seperti sekitar (seimbang), I’stidal (adil), dan tazamuh (toleransi) pada mata pelajaran kelas agama. Dengan cara ini, tidak hanya mempelajari agama dari perspektif doktrinal, tetapi juga dari aspek sosial yang lebih luas.

Baca juga : Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025: Mencerdaskan Bangsa dengan Budaya Moderasi Beragama

Selain itu, pendidikan juga berperan dalam pengenalan nilai-nilai pluralisme di Indonesia. Program pendidikan yang memprioritaskan keanekaragaman agama dan budaya tidak hanya dapat mengajarkan siswa untuk menghormati, tetapi juga merayakan perbedaan. Ini penting bagi kita untuk tumbuh dengan kesadaran bahwa Indonesia adalah negara berbasis perbedaan dan bahwa persatuan dicapai dengan mengakui perbedaan-perbedaan ini. Pembentukan universitas sama pentingnya untuk realisasi moderasi agama.

Lembaga pendidikan tinggi dapat mengundang siswa untuk memperdalam konsep moderasi agama dari perspektif sosiologis, politik dan antropologi. Mereka diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari–hari. Dengan demikian, moderasi agama dapat menjadi semacam “arus utama” yang diterima dan diterapkan tidak hanya oleh konsep teoretis tetapi juga oleh komunitas yang lebih luas.

Untuk mengakui hal ini, kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat sangat penting. Pemerintah harus memastikan bahwa dukungan untuk kurikulum dan pedoman yang dijadwalkan di sekolah dan lembaga pendidikan tinggi mencakup dukungan untuk nilai-nilai dan pedoman moderat agama yang menciptakan ruang yang aman untuk kebebasan beragama. Sementara itu, masyarakat juga harus aktif dalam mendukung pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

Baca juga : Mencegah Perundungan di Sekolah Melalui Penguatan Pendidikan Keagamaan

Secara keseluruhan, pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam mencapai moderasi agama di Indonesia. Melalui pendidikan berdasarkan pemahaman yang benar tentang agama dan apresiasi untuk perbedaan, kita dapat menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Moderasi agama tidak hanya menghindari ekstremisme, tetapi juga menciptakan keseimbangan dalam hidup, menghormati kebebasan beragama, dan memprioritaskan perdamaian di tengah keragaman. Dengan pelatihan yang tepat, Indonesia bisa lebih padat sebagai media, toleran dan PBB.

Analisa Sosiologi terhadap Toleransi dan Ekstremisme Agama Islam

Penulis: Mutiara Fitri Rahmadani, Editor: Sirli Amry

Agama Islam, merupakan agama yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai kebaikan, kasih sayang, dan juga toleransi antar sesama umat manusia. Tetapi, akhir-akhir ini kita sering mendengar maupun melihat didalam berita tentang tindakan ekstrem yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai umat Islam. Dengan adanya kasus tersebut tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan, seperti bagaimana bisa terjadi perbedaan sikap antar sesama umat Islam? Dan mengapa ada yang memilih sikap toleran, sedangkan sebagian lainnya malah terjerumus ke dalam sikap ekstremisme? 

Nah dari konflik diatas kita akan membahas dan mencoba untuk menyelesaikannya tetapi dalam konteks sosiologi, karena kita juga perlu mempelajari bahwa sikap dan perilaku manusia itu tidak bisa dipisahkan dari lingkungan sekitarnya. Sosiologi juga membahas tentang interaksi sosial, norma, dan nilai-nilai dalam masyarakat yang dapat mengubah cara pandang kita untuk melihat dunia, termasuk dalam hal agama. Sikap toleransi dan juga ekstremisme itu bukan hanya masalah bagi satu orang saja, tetapi juga dapat memengaruhi dinamika sosial yang ada. 

Baca Juga:  Kuatkan Toleransi dan Kerukunan, FKUB Kabupaten Pekalongan Gelar Dialog Lintas Agama

Pendidikan, lingkungan keluarga, dan komunitas yang ada disekitar kita itu juga dapat memengaruhi sikap kita terhadap perbedaan yang ada. Contohnya jika seorang anak dibesarkan di lingkungan yang harmonis dan saling menghormati satu sama lain, maka sang anak akan cenderung memiliki sikap toleran. Nah sebaliknya, jika seorang anak tumbuh di lingkungan yang isi nya orang-orang yang suka melakukan kekerasan dan juga diskriminasi, maka itu dapat memengaruhi sikap mereka dan akan terpikirkan ide-ide yang ekstrem.

Apa itu toleransi?

Toleransi menurut KBBI yaitu sesuatu yang bersifat menghargai, membiarkan, dan membolehkan pendirian atau keyakinan yang bertentangan dengan pendirian ataupun keyakinan kita. Sedangkan dalam Islam, kata toleransi biasa disebut dengan nama tasamuh. Tasamuh menurut Ibnu Faris berasal dari kata Samaha yang artinya mudah. Toleransi dijelaskan oleh Abu A’la Maududi secara terminologi, yaitu sikap menghargai kepercayaan dan juga perbuatan orang lain meskipun hal tersebut merupakan sesuatu yang melenceng menurut keyakinan kita. Kita tidak menggunakan kekerasan dan juga pemaksaan untuk mengubah keyakinannya atau pun dengan cara menghalang-halangi nya. Jika kita ingin mewujudkan toleransi beragama di masyarakat saat ini, maka seluruh masyarakat harus ikut andil termasuk tokoh agama dan pemerintah, supaya kita dapat mewujudkan lingkungan yang aman dan damai dari permasalahan esktremisme. 

Baca Juga:  Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Secara sosiologis, toleransi merupakan hasil interaksi sosial yang positif antara individu dan kelompok yang berbeda pendirian atau keyakinan. Pendidikan dasar dapat mengajarkan manusia tentang nilai-nilai toleransi yang dapat membentuk sifat kita supaya bisa menerima perbedaan. Selain itu, dengan mengikuti banyak organisasi juga dapat meningkatkan pengalaman maupun pengetahuan kita terhadap perbedaan yang ada. Terakhir, peran tokoh agama dalam menumbuhkan rasa toleransi juga sangat penting melalui ceramahnya yang membahas tentang toleransi dan dapat memengaruhi masyarakat untuk memiliki hubungan yang harmonis antar sesamanya.

Memahami Makna Ekstrimisme

Menurut pengertian terminologis, ekstremisme yaitu sikap berlebihan dalam memahami dan menjalani keyakinan yang dipercayainya. Orang-orang ekstremisme itu tidak mau mengakui pendapat atau keyakinan orang lain dan menganggap pendapatnya sendirilah yang paling benar. Faktor seseorang dapat memiliki sifat ekstremisme bisa terjadi karena adanya emosional-psikologis tertentu, atau bisa juga dengan mengikuti organisasi yang salah atau menyesatkan dan malah mendoktrin anggota nya dengan nilai-nilai esktremisme. Ciri-ciri dari ekstremisme sendiri yaitu cenderung mengabaikan aturan hukum yang ada dan menolak pluralitas dalam masyarakat.

Dalam analisis sosiologis, ekstremisme merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni adanya sekelompok yang merasa dirinya diabaikan dan tidak mendapatkan hak-hak nya sebagai warga negara. Kelompok ini akhirnya memilih jalan yang lebih ekstrem untuk menyuarakan ketidakpuasannya. Selain itu, ekstremisme dapat muncul karena adanya pengaruh dari lingkungan, ideologi, dan juga pengalaman yang dia dapat. Media sosial juga dapat menyebarkan berbagai macam paham ekstremis dan akhirnya dapat memengaruhi publik untuk bersifat ekstremisme.

Baca Juga:  Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Cara untuk mengatasi ekstremisme dan mempererat toleransi dalam masyarakat muslim bisa dilakukan dengan cara membuat forum diskusi antar agama supaya dapat membangun pengetahuan masing-masing pihak dan bisa saling menghormati satu sama lain, serta pemerintah maupun guru juga dapat memasukkan nilai-nilai toleransi ke dalam semua mata pelajaran baik itu pendidikan formal maupun non formal, dan juga kita dapat memanfaatkan para influencer muda untuk mempromosikan atau menjelaskan kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi.

Toleransi mengajarkan kita untuk tidak memaksakan keyakinan kita kepada orang lain dan juga menghormati keyakinan yang berbeda dari keyakinan kita, sehingga kita dapat hidup dengan harmonis dan damai. Sedangkan ekstremisme sering kali mengabaikan peraturan hukum dan menolak pluralitas yang ada di negara kita, dan akhirnya berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat.

Untuk mengatasi ekstremisme dan memperkuat toleransi, kita perlu melakukan beberapa langkah penting. Pertama, pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai toleransi harus ditanamkan sejak dini, baik di sekolah formal maupun non-formal. Kedua, dialog antaragama dapat menjadi sarana untuk membangun pemahaman dan saling menghormati di antara pemeluk agama yang berbeda. Ketiga, peran tokoh agama dan masyarakat sangat penting dalam menyebarkan pesan toleransi dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya ekstremisme.

Dengan upaya bersama kita dapat menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan harmonis. Toleransi bukan hanya sekadar kata, tetapi merupakan tindakan nyata yang harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita jaga kerukunan dan saling menghormati, agar kita bisa hidup dalam masyarakat yang lebih baik dan lebih beradab.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025: Mencerdaskan Bangsa dengan Budaya Moderasi Beragama

Penulis: Muhlisin*
Editor: Ika Amiliya Nurhidayah.

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan dan peletak dasar sistem pendidikan nasional semenjak Indonesia merdeka. Pada tahun 2025, tema yang diusung oleh Pemerintah adalah “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema tersebut menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab negara atau satuan pendidikan semata, melainkan merupakan tanggung jawab semua unsur masyarakat—keluarga, komunitas, pemerintah, dunia usaha, tokoh agama, dan media. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif dan kolaboratif, yang menjamin setiap anak mendapatkan hak atas pendidikan tanpa diskriminasi, termasuk dalam hal kepercayaan, budaya, dan keyakinan agama. Pendidikan bermutu bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga mencakup pembangunan karakter yang toleran, inklusif, dan menghargai perbedaan. Di sinilah nilai-nilai moderasi beragama menjadi penting, karena moderasi beragama mengajarkan siswa untuk menghormati perbedaan keyakinan, sekaligus dapat mendorong dialog antarumat beragama dalam suasana yang egaliter dan konstruktif. Dengan demikian, pengembangan moderasi beragama merupakan bagian integral dari tujuan “pendidikan bermutu untuk semua.”

Moderasi beragama tidak berarti memoderasi keyakinan agama itu sendiri, tetapi lebih pada cara beragama yang mengedepankan sikap toleran, adil, dan menghormati perbedaan. Moderasi beragama menolak segala bentuk ekstrimisme dan kekerasan atas nama agama serta mendorong pemahaman bahwa agama, dalam bentuk apapun, pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini sangat relevan dan mendesak untuk diarusutamakan demi menciptakan lingkungan pembelajaran yang harmonis, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai kebangsaan.

Baca juga: Peran Pendidikan dalam Memperkuat Moderasi dan Multikulturalisme di Kalangan Siswa

Pendidikan sebagai Pilar Pemersatu Bangsa

Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa—baik dari segi agama, suku, bahasa, hingga budaya. Lembaga pendidikan menjadi miniatur dari realitas kebangsaan tersebut. Dalam satu ruang kelas, siswa dari latar belakang yang berbeda berkumpul untuk belajar bersama. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap perbedaan. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sarana pembentukan karakter. Semangat moderasi beragama dapat menjadi ruh dalam pembentukan karakter siswa, khususnya dalam mencegah tumbuhnya benih-benih intoleransi yang belakangan marak mengemuka. Moderasi beragama bukan sekadar jargon, melainkan strategi kebudayaan dan kebangsaan yang harus ditanamkan sejak dini.

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, wawasan, dan semangat kebangsaan warga negara. Di tengah keragaman suku, agama, bahasa, dan budaya yang dimiliki Indonesia, pendidikan berperan sebagai pilar pemersatu bangsa. Melalui proses pendidikan, nilai-nilai dasar seperti Pancasila, toleransi, keadilan, serta cinta tanah air ditanamkan secara sistematis dan berkelanjutan kepada generasi muda. Satuan pendidikan bukan hanya tempat untuk mengasah kemampuan akademik, tetapi juga menjadi arena pembentukan identitas kebangsaan. Di sana, anak-anak diajarkan untuk menghargai perbedaan, memahami sejarah perjuangan bangsa, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap Indonesia. Kurikulum yang inklusif dan guru yang inspiratif memiliki andil besar dalam menciptakan generasi yang tidak mudah terpecah oleh isu-isu SARA dan radikalisme. Dalam era disrupsi informasi dan polarisasi sosial yang kian tajam, pendidikan harus mampu menjadi benteng yang kokoh terhadap pengaruh yang merusak persatuan. Melalui pendidikan yang merata, adil, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, bangsa ini akan tetap utuh dan kuat menghadapi berbagai tantangan zaman. Dalam konteks ini, pendidikan bukan sekadar proses belajar, melainkan sarana strategis untuk menjaga dan memperkuat integrasi nasional.

Peran Guru dalam Menanamkan Moderasi Beragama

Salah satu elemen penting dalam penerapan moderasi beragama di satuan pendidikan adalah peran guru. Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pembimbing moral dan panutan dalam bersikap. Guru harus mampu menjadi model nyata dalam bersikap moderat, tidak mudah terprovokasi, menghargai keberagaman keyakinan siswanya, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Guru memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan cara pandang peserta didik terhadap keragaman, termasuk dalam aspek keagamaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi agen perdamaian dan penanam nilai-nilai moderasi beragama. Moderasi beragama menekankan pentingnya sikap toleran, menghindari sikap ekstrem, serta menghargai perbedaan keyakinan dengan tetap berpegang pada ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Melalui pembelajaran di kelas, guru dapat menanamkan nilai moderasi beragama dengan pendekatan dialogis, inklusif, dan kontekstual. Pendidikan agama tidak semata-mata menjadi ruang dogmatis, melainkan juga wadah untuk membangun kesadaran hidup bersama secara damai. Guru juga dapat menghadirkan keteladanan dalam berperilaku, menunjukkan sikap terbuka, serta membimbing siswa agar mampu berpikir kritis dan empatik terhadap perbedaan. Di tengah maraknya polarisasi sosial dan konten keagamaan yang provokatif, peran guru menjadi sangat penting untuk memperkuat narasi kebangsaan yang moderat. Maka, menanamkan moderasi beragama sejak dini melalui pendidikan adalah investasi jangka panjang demi terciptanya generasi yang toleran, damai, dan cinta tanah air.

Baca juga: Teaching Religious Moderation in English Language Education: A Strategy for Promoting Tolerance among Students

Tantangan Moderasi Beragama pada Satuan Pendidikan

Meski semangat moderasi beragama telah menjadi bagian dari kebijakan negara melalui Kementerian Agama dan lintas kementerian, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah masih adanya pemahaman sempit tentang keberagamaan, baik dari kalangan pendidik maupun peserta didik. Di beberapa daerah, praktik pendidikan masih didominasi oleh pendekatan eksklusif yang memandang agama secara hitam-putih, membangun dikotomi “kami” dan “mereka,” serta menolak dialog antaragama. Ini tentu bertentangan dengan nilai-nilai dasar pendidikan nasional yang inklusif dan humanis.

Selain itu, tantangan lain datang dari pengaruh media sosial dan digital yang kerap menjadi ladang subur bagi penyebaran paham keagamaan yang ekstrem dan tidak toleran. Lembaga pendidikan harus mampu bertransformasi menjadi benteng moderasi dengan membekali siswa kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta sikap bijak dalam menyikapi arus informasi yang masif. Untuk memperkuat semangat moderasi beragama dalam pendidikan, diperlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, tokoh agama, hingga orang tua harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang toleran dan inklusif. Satuan pendidikan dapat bekerja sama dengan pesantren, tempat ibadah, dan komunitas lintas iman dalam menyelenggarakan program pendidikan karakter berbasis keberagaman. Program pertukaran pelajar antarwilayah atau antaragama juga bisa menjadi wahana konkret untuk memperluas perspektif siswa dalam melihat perbedaan sebagai anugerah, bukan ancaman. Dialog antaragama dan kegiatan lintas budaya harus terus didorong agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga arif secara sosial dan spiritual.

Satuan Pendidikan sebagai Laboratorium Moderasi Beragama

Sudah sepatutnya satuan pendidikan harus menjadi laboratorium perdamaian, tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan universal diuji, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Pendidikan harus menjadi jalan panjang menuju masyarakat yang adil, damai, dan berkeadaban. Semangat moderasi beragama adalah bekal penting dalam perjalanan panjang itu. Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini hendaknya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum reflektif untuk menilai kembali sejauh mana lembaga pendidikan telah memainkan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa secara holistik—tidak hanya dari aspek intelektual, tetapi juga moral dan spiritual. Pendidikan yang mencerdaskan tanpa membangun karakter adalah bangunan kosong tanpa fondasi.

Satuan pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi merupakan ruang strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam sikap sosial dan spiritual. Dalam konteks keberagaman Indonesia, satuan pendidikan idealnya berfungsi sebagai laboratorium moderasi beragama, tempat siswa belajar hidup berdampingan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan semangat toleransi. Sebagai laboratorium, satuan pendidikan menyediakan ruang praktik bagi peserta didik untuk mengalami langsung nilai-nilai moderasi: dari kegiatan pembelajaran lintas agama, diskusi terbuka, hingga kegiatan kebersamaan lintas latar belakang. Dalam suasana pendidikan yang sehat, siswa belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama. Lebih dari itu, budaya satuan pendidikan yang inklusif, kepemimpinan guru yang visioner, serta kurikulum yang kontekstual berperan penting dalam menanamkan sikap anti-ekstremisme dan cinta damai. Ketika satuan pendidikan mampu membangun suasana yang adil dan harmonis, maka ia berkontribusi nyata dalam mencetak generasi yang tidak hanya toleran, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan. Menjadikan satuan pendidikan sebagai laboratorium moderasi beragama adalah langkah strategis dalam memperkuat keutuhan sosial dan menyiapkan masa depan Indonesia yang damai dan beradab.

Dengan demikian refleksi atas Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025 harus menjadi titik tolak bagi semua pihak untuk memperkuat komitmen dalam mencerdaskan bangsa melalui pendekatan yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadaban. Moderasi beragama bukan hanya kebutuhan zaman, tetapi keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman Indonesia. Mari kita jadikan lembaga pendidikan sebagai oase pengetahuan, ruang tumbuhnya toleransi, dan benteng terakhir dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

*Guru Besar FTIK UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Sumber gambar: hariane.com

Hari Buruh: Memaknai Keadilan Sosial dalam Bingkai Moderasi

Sumber Gambar: mediatani.co;
Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Tegar Rifqi

Setiap 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pekerja dalam meraih keadilan dan kesejahteraan. Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga ajakan untuk merefleksikan kondisi buruh di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Di Indonesia sendiri refleksi ini menjadi semakin bermakna ketika dikaitkan dengan semangat moderasi beragama, sebuah nilai penting yang digaungkan demi menjaga kerukunan dan keadilan di tengah keberagaman agama yang ada.

Moderasi beragama mengajarkan umat beragama untuk bersikap adil, seimbang, dan menghindari sikap ekstrem dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Dalam konteks Hari Buruh, prinsip ini menjadi relevan untuk membangun solidaritas tidak hanya lintas agama saja, tetapi juga suku, ras, dan golongan demi memperjuangkan hak-hak pekerja tanpa memandang latar belakang keyakinan. Baik itu buruh Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, maupun kepercayaan lainnya memiliki hak yang sama atas upah layak, perlindungan kerja, dan martabat sebagai manusia.

Baca juga: Spirit Agama pada Pembangunan Desa Ramah Perempuan dan Anak

Isslam sendiri sangat menekankan pentingnya keadilan sosial dan perlakuan yang baik terhadap para pekerja. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya saudara-saudaramu adalah tanggunganmu; berilah mereka makan dari apa yang kamu makan, dan pakaian dari apa yang kamu pakai; dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mampu mereka pikul.” (HR. Bukhari). Pesan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan buruh bukan hanya isu ekonomi, tapi juga nilai moral dan spiritual.

Dalam praktiknya, moderasi beragama mendorong semua pihak, baik pemerintah, pemberi kerja, maupun masyarakat luas untuk memperjuangkan hak pekerja tanpa diskriminasi. Hari Buruh menjadi ruang bersama untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh semua agama.

Baca juga: Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Oleh karena itu, memperingati Hari Buruh dengan semangat moderasi beragama berarti memperkuat komitmen kita untuk membela hak-hak buruh sebagai bagian dari ibadah sosial (ibadah muamalah), membangun sistem kerja yang berkeadilan, serta mempererat persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) di tengah masyarakat yang majemuk.

Hari Buruh bukan hanya perayaan perjuangan ekonomi, tetapi juga panggilan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari setiap agama. Dengan semangat moderasi, kita wujudkan masyarakat yang adil, damai, dan berperikemanusiaan.

Dakwah No Ribet: Antara Pahala, Views, dan Moderasi Beragama di TikTok

Penulis: Safina, Editor: Nehayatul Najwa

Dakwah di era digital tidak akan pernah pudar, selalu berkembang pesat, apalagi sekarang  sudah ada media sosial yang sangat sering digunakan seperti Tik Tok. Saat ini, orang bisa belajar agama hanya dengan menonton video berdurasi 30 detik. Namun, tidak semua konten dakwah di media sosial benar-benar memberikan pemahaman yang mendalam. Banyak di antaranya yang lebih berfokus pada engagement, mendapatkan like, comment, dan share daripada menyampaikan ajaran agama secara utuh.

Baca juga: Tips & trik Bermedia (Tangkal Berita Hoax)

Kebiasaan penonton hanya share dakwah tanpa dicari kebenarannya dulu. Begitu juga content creator yang hanya asal buat konten, penting konten itu FYP walau belum pasti kebenarannya dalam syariat islam. Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan, apakah dakwah digital benar-benar membawa manfaat bagi pemahaman agama masyarakat, atau justru menyesatkan ajaran agama demi masuk FYP?

Dalam artikel ini, akan dibahas bagaimana media sosial mengubah pola dakwah, bagaimana moderasi beragama bisa berperan dalam menyeimbangkan trend ini, serta bagaimana pendekatan sosiologi agama dan media membantu memahami fenomena ini secara lebih luas.

Media sosial, terutama Tik Tok, bisa memberikan konten agama tersebar luas hanya dalam hitungan detik. Siapa saja bisa menjadi influencer dakwah. bahkan tanpa latar belakang pendidikan agama yang baik dan mendalam. Banyak akun yang menggunakan strategi clickbait seperti “like sekarang or masuk neraka” atau “Comment Aamiin biar masuk surga.”

Mayoritas manusia sekarang sangat menyukai hal yang instan, sampai dakwah pun instan no ribet. Dakwah yang dulunya memberikan kajian mendalam kini lebih sering dikaji dalam bentuk video pendek yang lebih menarik perhatian, tetapi sering kali kehilangan esensi pembelajarannya.

Algoritma Tik Tok bekerja dengan cara menampilkan konten yang paling banyak mendapat interaksi, seperti FYP, dan views hingga jutaan, sehingga banyak kreator lebih fokus membuat konten yang mengundang engagement daripada menyampaikan ajaran agama dengan benar. Orang lebih sering tertarik konten dakwah dan nonton hingga detik terakhir itu minimal dengan views ribuan sehingga masuk FYP.

Dalam sosiologi media, fenomena ini dikenal dengan mediatization of religion (Hjarvard, 2011), bahwa agama sekarang dipengaruhi oleh logika media. Dakwah tidak hanya berfungsi sebagai penyebaran nilai-nilai agama, tetapi juga harus bersaing dengan kreator lain agar tetap FYP dan views ribuan bahkan jutaan.

Dalam sosiologi agama, moderasi beragama didefinisikan sebagai praktik keberagamaan yang tidak ekstrem, inklusif, dan toleran (Kemenag RI, 2019). Moderasi ini juga berlaku dalam konteks dakwah digital. Dakwah yang baik seharusnya membantu memperluas wawasan keagamaan, bukan justru menyesatkan pemahaman agama demi popularitas.

Namun, ada banyak kasus, dakwah digital justru memperlihatkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ada influencer dakwah yang menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang ringan, mudah dipahami, dan relate dengan kehidupan modern, bahkan disesuaikan juga dengan generasi sekarang yaitu Gen Z dan Gen Alpha. Dalam pendekatan ini, mayoritas penonton dari kalangan Gen Z dan Gen Alpha karena mereka lebih pintar memilih dan tidak mudah percaya mengenai dakwah hoaks.

Di sisi lain, ada pula yang menggunakan pendekatan sensasional dengan menyebarkan narasi ekstrem, hoaks keagamaan, atau bahkan memanfaatkan ketakutan akan dosa agar mendapat views banyak. Pendekatan ini dengan target penonton itu mayoritas para Gen Milenial dan atasnya, karena mereka dari kalangan yang masi tergolong gaptek dan hanya percaya percaya saja.

Moderasi agama dalam dakwah digital berarti mencari keseimbangan antara penyampaian yang menarik dengan konten yang tetap edukatif dan tidak menyesatkan. Namun, influencer dakwah sekarang mayoritas lebih mementingkan followers dan views untuk mendapat keuntungan semata. Pendakwah seharusnya tidak hanya mengikuti trend, tetapi juga memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang moderat.

Dalam konteks dakwah digital, adanya ulama dan pendakwah berperan penting untuk membentuk pemahaman agama yang lebih moderat dan inklusif. Para tokoh agama yang memiliki latar belakang pendidikan formal seharusnya lebih aktif dalam dunia digital untuk menyeimbangkan narasi yang berkembang.

Selain itu, content creator yang bukan berlatar belakang keagamaan juga seharusnya lebih bijak dalam menyebarkan konten religius. Banyak kasus di mana informasi agama yang tidak akurat menjadi viral dan dipercaya masyarakat tanpa adanya verifikasi. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi tentang literasi digital keagamaan agar masyarakat bisa memilah mana konten dakwah yang benar-benar terpercaya dan mana yang hanya mencari sensasi.

Para viewers dan followes juga seharusnya lebih bijak dalam menangkap dakwah yang FYP. Percayai influencer dakwah yang sudah berpengalaman dalam berdakwah, contohnya seperti ustaD Hannan Attaki, jangan malah hanya karena dakwah itu FYP ikut-ikutan.

Dalam perkembangan zaman sekarang, dakwah digital adalah hal yang tidak bisa dihindari. Penyebaran ajaran agama kini memiliki peluang yang sangat besar melalui Tik Tok dan platfrom media sosial lainnya. Namun, di sisi lain, fenomena dakwah instan ini memiliki tantangan tersendiri yang bisa mengubah kualitas ajaran yang disampaikan.

Moderasi agama berperan penting dalam menyeimbangkan trend ini, supaya influencer dakwah tidak hanya menjadi ajang mencari viralitas, tetapi juga tetap memberikan pemahaman agama yang mendalam, toleran, dan inklusif. Dengan  memberikan literasi digital yang baik dan keterlibatan ulama di dunia digital, diharapkan dakwah di media sosial bisa menjadi sarana edukasi yang tetap menjaga esensi agama, tanpa terjebak dalam sekadar FYP semata atau “like, comment, dan share.”