Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Hijrah di Era Digital: Antara Tren dan Kesadaran

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di era digital seperti sekarang, istilah hijrah semakin sering kita dengar, terutama di kalangan anak muda. Kata hijrah tidak hanya muncul dalam kajian atau ceramah, tetapi juga banyak ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Berbagai konten tentang hijrah, mulai dari cara berpakaian, memperbaiki ibadah, hingga meninggalkan kebiasaan buruk, semakin mudah ditemukan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan, apakah hijrah yang dilakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri atau hanya mengikuti tren?

Pada dasarnya, hijrah memiliki makna yang luas. Hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, tetapi juga tentang usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Swt. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki salat, menjaga perkataan, menghormati orang tua, meninggalkan kebiasaan buruk, serta berusaha menjaga hubungan dengan sesama.

Baca juga:

Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu seseorang dalam proses hijrah. Saat ini banyak ustaz, pendakwah, dan kreator konten Islam yang membagikan ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi muda. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat mendengarkan kajian, membaca ayat Al-Qur’an, maupun mendapatkan pengingat tentang ibadah.

Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain. Tren hijrah di media sosial terkadang membuat seseorang lebih fokus pada penampilan daripada perubahan sikap. Misalnya, seseorang terlihat lebih religius dari luar, tetapi masih mudah marah, suka merendahkan orang lain, atau tidak menjaga perkataannya. Padahal, perubahan dalam hijrah seharusnya tidak hanya terlihat dari luar, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan usaha dari dalam diri. Hijrah seharusnya dilakukan karena kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan hanya karena ingin mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tren hijrah selama tren tersebut membawa seseorang kepada kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niat dan prosesnya. Jangan sampai hijrah hanya menjadi identitas di media sosial, tetapi tidak memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.

Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa hijrah harus dilakukan secara langsung dan sempurna. Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mulai dengan memperbaiki salat, ada yang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang mulai belajar agama secara perlahan. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Di tengah perkembangan teknologi dan kuatnya pengaruh media sosial, generasi muda perlu menjadikan media digital sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Hijrah seharusnya bukan sekadar tren yang muncul dan hilang, tetapi sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah Swt. Karena perubahan yang paling penting bukan hanya yang terlihat oleh manusia, melainkan perubahan yang tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Harmoni Islam dan Budaya: Refleksi Pemikiran Bung Karno dan Gus Kautsar

Penulis: Zinatul Maulida, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Islam masuk di tanah Jawa sekitar abad ke-6 dan baru masuk pada abad ke-10. Salah satu buktinya adalah dengan adanya makam Fatimah binti Maimun di Leran, Kabupaten Gresik. Islam merupakan salah satu agama yang mudah diterima di tanah Jawa karena melalui akulturasi budaya. Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno bahwa jika menjadi orang Hindu, maka jangan menjadi orang India, Kristen, Yahudi, dan jika menjadi orang Islam jangan pula menjadi orang Arab. Tetaplah menjadi orang nusantara dengan adat budaya yang kaya raya, membangun etika, budi pekerti, kebudayaan, dan memiliki kepekaan terhadap sesama.

Melalui dialog Bung Karno di atas, memperlihatkan harmoni toleransi dalam pandangan Islam. Agama Islam bukan untuk saling meleburkan keyakinan dan bukan juga untuk saling bertukar keyakinan, tetapi untuk muamalah (interaksi sosial). Toleransi beragama sendiri merupakan toleransi yang mencakup pada keyakinan diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau ketuhanan.

Setiap orang berhak atas pilihanya dalam memluk agama yang diyakininya. Allah Swt. berfirman: “Dan jika tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi

Ada juga penjelasan dari ayat yang lain: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Pada acara kajian dakwah Gus Kautsar, ia mengatakan pernyataan Bung Karno mengenai keyakinan, ada beberapa hal yang tidak bisa lepas satu sama lain. Ulama sepakat agama membangun budi pekerti, memiliki kepekaan bagi sesama, dan kebudayaan. “Jika kita berbicara tetapi tidak memiliki etika, maka itu hanya omong kosong. Mengaku memiliki etika tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap sesama, itu jelas jauh dari nilai-nilai keislaman. Dan jika ketiganya tidak dilandasi oleh kebudayaan, maka itu sulit untuk melebur, membaur, dan mengajak (dakwah). Sejatinya ruh Islam itu bisa tegak dengan perjuangan, memiliki perilaku yang simpati, menarik, dan kemudian tertarik dengan Islam”.

Penerapan perkataan Bung Karno, Gus Kautsar sepakat apa yang dibagun dengan sepenuh hati, pembawaan beliau, karakter, bahkan atribut beliau mencerminkan kebudayaan. Gus Kautsar hanya menginginkan nilai-nilai ketauhidan, keimanan, dan ketakwaan dimiliki oleh setiap insan. Rasulullah tidak pernah merubah keyakinan sahabat-sahabatnya yang ada di samping beliau, mengingat mereka juga memiliki latar belakang, wilayah, dan budaya yang berbeda. Maka, apa yang disampaikan oleh Bung Karno tidak jauh berbeda dengan Rosulullah. Karakter Indonesia harus menjadi warna sebagai umat muslim yang lahir dan bertanggung jawab di Indonesia.

Baca juga: Al-Wasathiyah dalam Keseharian Rasulullah

Menurut Gus Kautsar, jika sudah membahas toleransi, semua santri paham dan mengerti bahwa Al-Qur’an tidak pernah membeda-bedakan agama, ras, warna kulit, jenis kelamin, lalu terkait dengan memuliakan seseorang, dan dalilnya sudah jelas ada di Al-Qur’an. Allah Swt. memang memuliakan kita sebagai keturunan Nabi Adam utuk menjadi khalifah di bumi. Kita memang diutus menjadi khalifah dan diciptakan secara istimewa, untuk bertanggung jawab mengelola daratan dan lautan. Allah sudah menyiapkan segala kebutuhan, kita perlu mengembangkan kemampuan dengan segala keterbatasan, dengan begitu kita sudah menjadi makhluk yang istimewa.

Pada perbincangan selanjutnya, Gus Kautsar menyebut salah satu tantangan seorang santri, yaitu ketika menghadapi politik identitas. Politik identitas bisa dimaknai secara positif dengan contoh: “Kami santri, maka setiap langkah, perilaku, ucapan, pikiran, harus tetap menunjukan karakter identitas sebagai seorang santri”. Namun, bisa menjadi negatif karena adanya sifat radikalisme kekanan-kananan, ataupun sebaliknya.

Maka dari itu, seorang santri penting memahami secara utuh betapa lengkap dan solutifnya Al-Qur’an. “Jadi, jika ada seseorang yang tidak mampu untuk benar-benar mengamalkan Islam karena ada Al-Qur’an, hadis, dan kalam ulama, yang salah bukan Al-Qur’an ataupun hadisnya, tetapi karena belum cukup memahami ajaran pondok,” ujar Gus Kautsar.

Baca juga: Nasionalisme Digital: Menjaga Kedaulatan Data Di Tengah Gencarnya Artificial Intelligence

Dengan demikian, santri harus terlibat secara utuh dalam dunia digital karena sangat penting untuk sarana dakwah. Pesan Gus Kautsar untuk para santri dari pesantren mana pun yang ingin memasuki dunia digital harus menyiapkan mental dengan matang, entah untuk sarana hiburan ataupun lainya. Pastikan bahwasanya apa yang kita posting adalah cerminan dari kebaikan diri sendiri.

Setiap langkah seseorang pasti ingin selalu mendapatkan restu serta keberkahan dari Allah. Seperti yang disampaikan oleh salah satu sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib yang kemudian disampaikan oleh Gus Kautsar: “Kita sebagai orang Islam harus memiliki kemampuan untuk terus bergaul dan berbaur dengan semua kalangan. Kita boleh berinteraksi dengan siapa saja, tetapi senantiasa menjaga karakter santri agar tidak pudar”.

Membersamai Si Kecil dengan Keteladanan di Era Digital

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Muslimah

Rutinitas orang tua seperti bekerja, mengejar target untuk karir dan ekonomi keluarga, serta menyelesaikan kewajiban, terkadang membuat sebagian orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, tanpa disadari ada sosok-sosok kecil yang setiap hari memperhatikan, meniru, dan memahami perilaku yang terkadang tidak diberitahu apakah itu baik atau buruk. Sedangkan orang tua dalam hal ini memiliki peran besar dalam mengarahkan si Kecil yang kelak akan tumbuh menjadi khalifah di bumi.

Baca juga: Kode Etik vs Kode Program: Menjembatani Prinsip Al-Qur’an dan Dilema Kecerdasan Buatan

Situasi lain yang juga terkadang dijumpai bahwa orang tua hanya terlalu fokus pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis, seperti ranking kelas, sertifikat lomba, atau seberapa cepat mereka bisa mengoperasikan gadget. Sedangkan aspek yang terkadang dilupakan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mendidik anak-anak di sekitarnya untuk cerdas, tetapi juga lembut hati, jujur, dan penuh kasih. Beliau mencontohkan pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sederhana saja, seperti menurunkan badan ketika berbicara dengan anak kecil, memanggil dengan panggilan yang baik sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak, bahkan mengajarkan doa-doa yang sederhana namun penuh makna. Sehingga perlu menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan sejati bukan hanya untuk mencetak “anak pintar”, tetapi “anak beradab”.

Terlebih di era digital, anak-anak lebih mudah menemukan tokoh panutan melalui layar ketimbang dalam kehidupan nyata. Mereka meniru apa yang viral, bukan apa yang benar. Padahal dalam Islam, keteladanan hidup (uswah) lebih kuat dari sekadar nasihat panjang. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua, karena banyak penelitian membuktikan bahwa wujud teknologi di era digital yang salah satunya adalah gadget, dapat memberikan dampak negatif jika tanpa pengawasan dari orang tua dan apabila hanya dimanfaatkan untuk hiburan semata. Penelitian terbaru di sebuah desa menunjukkan bahwa 41,2% penggunaan gadget dapat mempengaruhi etika anak dalam berkomunikasi dengan orang tua dan teman. Melihat fenomena ini, orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas yang menuntut kesempurnaan, tetapi sebagai pelindung dan penuntun yang hadir secara utuh. Sebab, anak akan belajar tentang kasih sayang dan etika melalui komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungannya. Mereka juga akan belajar tentang amanah melalui kejujuran yang diajarkan oleh orang tuanya, bahkan mereka juga belajar tentang Allah melalui cara orang tuanya dalam beribadah dan bersyukur, bukan hanya melalui perintah lisan.

Langkah-langkah demikian dapat menjadi upaya untuk meninjau ulang lingkungan tumbuh anak-anak yang orang tua bangun di keluarganya. Karena ironi yang seringkali nampak adalah, banyak dari orang tua ingin anaknya saleh dan memiliki adab, tapi terkadang mereka melihat orang tuanya mencaci orang lain di jalan, atau melihat temannya berkata kotor di sekolah. Selain itu, ketika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, namun anak-anaknya jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan sekadar instruksi, tetapi ia adalah cermin yang akan membentuk karakter anak-anak. Jika orang tua memahami ini, maka mereka bukan hanya akan membentuk anaknya menjadi versi ideal menurut standar dunia, tetapi pasti akan membersamai anaknya untuk tumbuh menjadi insan yang mengenal Tuhannya dan memiliki akhlak yang mulia. Karena ketika anak-anak dapat tumbuh menjadi khalifah yang cerdas dan beradab, bukan hanya keluarga yang bangga, tetapi bumi pun akan bernafas lebih lega.

 

Peran Guru dalam Menghadapi Tantangan di Era Digital

Penulis: M. Haeron Nafi, Editor: Azzam Nabil H.

Guru adalah sosok penting yang tidak dapat digantikan oleh teknologi canggih. Guru berperan dalam membimbing murid-murid di tengah kemajuan teknologi. Selain itu, guru juga menjadi ujung tombak dalam mendidik generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, tugas guru sangat kompleks karena mencakup berbagai aspek, seperti pengetahuan, moral, dan keterampilan.

Perlu disadari bahwa guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran atau mentransfer pengetahuan kepada siswa. Guru juga berperan sebagai teladan yang baik (uswatun khasanah) bagi mereka. Selain itu, guru memiliki tanggung jawab utama untuk membentuk akhlak, membangun karakter, dan membantu siswa mengembangkan potensi diri. Tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu agar siswa menjadi pintar (ta’lim), tetapi juga mendidik mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi, paradigma pendidikan juga mulai bergeser. Jika dulu guru menjadi sumber utama informasi, kini informasi bisa diakses dengan mudah hanya melalui genggaman. Karena itu, peran guru kini lebih difokuskan pada pembimbingan dan pengembangan keterampilan berpikir kritis. Yang paling penting, guru tetap menjadi teladan (uswah) dalam membentuk pola pikir dan karakter siswa.

Baca juga: Akankah AI dapat Menggantikan Peran Seorang Guru dalam Pendidikan?

Oleh sebab itu, untuk menjadi guru yang relevan dengan perkembangan zaman, guru perlu memperbarui tugas dan fungsinya. Peran guru tidak boleh terjebak hanya pada tugas administratif, karena hal itu dapat mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk membantu siswa dan mengembangkan potensi diri. Setidaknya ada 3 kompetensi yang perlu diasah oleh para guru yakni, pertama kompetensi pedagogik dimana guru harus terus meningkatkan pemahaman terhadap metode mengajar yang efektif, memahami berbagai kebutuhan individual siswa, dan mampu mengadaptasi strategi pembelajaran sesuai perkembangan Teknologi.

Kedua, kompetensi sosial yakni membangun hubungan yang positif dengan berbagai elemen terkait. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi kepada siswa adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Ketiga, kompetensi kepribadian yang memberi teladan dan panutan bagi siswa dengan menunjukkan kepribadian seperti integritas dan empati yang dapat memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa untuk mengembangkan karakter yang positif.

Baca juga: Harmoni Pendidikan dan Peradaban: Peran Guru dalam Membentuk Masyarakat yang Berbudaya dan Moderat

Teknologi memudahkan transfer pengetahuan, tetapi peran guru tetap tak tergantikan dalam mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan membimbing siswa membangun karakter. Di era digital, tantangan utama guru adalah mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran tanpa mengorbankan interaksi sosial. Guru juga memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi siswa dari dampak negatif dunia maya yang dapat memengaruhi moral, sopan santun, dan emosi mereka.

Remaja saat ini menghadapi tantangan kesehatan mental yang semakin meningkat, seperti yang tercermin dalam data Kementerian Kesehatan RI. Meskipun secara fisik masa remaja adalah periode paling sehat, mereka sering mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku dan emosi. Ketidakmampuan ini menyebabkan degradasi moral hingga masalah kesehatan yang serius. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus berperan aktif dalam membimbing remaja untuk mengambil keputusan yang tepat, menjaga kecerdasan emosional, dan mendorong aktivitas yang sehat.

Guru ideal masa depan adalah mereka yang mampu menyelaraskan pendidikan dengan perkembangan teknologi tanpa melupakan nilai-nilai moral dan psikologis siswa. Selain menjadi pengajar yang kompeten, guru harus terus belajar, beradaptasi, dan memberikan dampak positif yang membentuk karakter siswa. Dengan peran ini, guru akan tetap relevan dan berkontribusi pada kemajuan masyarakat dan bangsa di tengah perubahan zaman.