Doa Bersama Antar Umat Beragama: Merawat Persatuan di Hari Kemerdekaan dan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026 bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali memperkuat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kegiatan yang memiliki makna penting adalah doa bersama antar umat beragama. Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan saling menghormati.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Kabupaten Pekalongan memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Dalam kondisi tersebut, untuk menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Imam Teguh Wibowo selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa doa bersama menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus memperkuat kerukunan antar umat beragama.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dan memperingati Hari Jadi Kabupaten Pekalongan yang ke-404. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antar umat beragama.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah peringatan tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat seremonial. Doa bersama memiliki pesan sosial yang lebih luas, yaitu mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari perjuangan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan saja. Karena itu, semangat persatuan harus terus dirawat dari generasi ke generasi.

Dalam konteks Kabupaten Pekalongan, peringatan Hari Jadi ke-404 juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan daerah. Usia 404 tahun merupakan perjalanan yang panjang. Tentunya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial masyarakatnya. Daerah yang maju membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan. Pembangunan akan lebih mudah dilakukan apabila masyarakat memiliki rasa saling percaya, menghormati perbedaan, dan ingin bekerja sama. Sebaliknya, konflik dan intoleransi dapat menjadi hambatan untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera. Oleh karena itu, doa bersama antar umat beragama seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Toleransi bukan hanya tentang menghormati ketika orang lain menjalankan ibadah. Toleransi juga berarti bersedia mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, tidak mudah menyebarkan keburukan, dan mau bekerja sama dalam berbagai bidang demi kepentingan bersama. Generasi muda juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, perbedaan terkadang mudah berubah menjadi pertentangan karena informasi yang tidak benar atau provokatif. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya persatuan dan kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijaksana.

Pada akhirnya, doa bersama antar umat beragama mengandung pesan sederhana tetapi sangat penting, kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat berjalan bersama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat semangat tersebut. Dengan menjaga toleransi, gotong royong, dan persaudaraan, masyarakat Kabupaten Pekalongan dapat bersama-sama mewujudkan daerah yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dan kerukunan bukan hanya sebuah slogan, melainkan nilai yang harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Antara Produktif dan Sibuk: Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Kesibukan?

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kesibukan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Seseorang yang memiliki jadwal padat, banyak kegiatan, tugas yang menumpuk, dan berbagai pencapaian terkadang dipandang lebih produktif daripada orang yang memiliki waktu luang. Tidak jarang pula kita merasa bersalah ketika sedang beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Padahal, apakah seseorang yang terlalu sibuk benar-benar lebih produktif?

Sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk berarti seseorang melakukan banyak aktivitas, sedangkan produktif lebih berkaitan dengan seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Seseorang dapat menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut penting atau memberikan manfaat. Sebaliknya, seseorang yang hanya menyelesaikan beberapa hal penting dengan baik justru dapat disebut lebih produktif. Oleh karena itu, ukuran produktivitas seharusnya bukan sekadar seberapa penuh jadwal kita, melainkan apakah waktu yang digunakan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3. Allah bersumpah demi masa dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan, melainkan bagaimana waktu digunakan. Banyaknya kegiatan tidak otomatis membuat hidup seseorang lebih bernilai. Waktu menjadi berarti ketika digunakan untuk keimanan, amal kebajikan, menuntut ilmu, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penggunaan waktu, Islam juga mengajarkan pentingnya niat. Aktivitas yang dilakukan seorang muslim tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian duniawi. Belajar, bekerja, membantu keluarga, dan melakukan kegiatan sosial dapat menjadi aktivitas yang bernilai jika dilakukan dengan tujuan yang baik. Dengan demikian, produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari niat dan manfaatnya.

Namun, mengejar produktivitas secara berlebihan juga dapat menjadi masalah. Kesibukan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang mengabaikan ibadah, keluarga, kesehatan, maupun kebutuhan untuk beristirahat. Padahal, istirahat tidak selalu berarti malas. Tubuh dan pikiran juga memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan agar seseorang dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan manusia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 6412. Oleh karena itu, produktivitas seharusnya berjalan bersama keseimbangan. Seorang muslim perlu memberikan waktu untuk belajar atau bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, bersosialisasi, dan beristirahat. Tidak semua waktu harus dipenuhi dengan aktivitas. Ada kalanya berhenti sejenak justru membantu seseorang kembali melakukan kewajibannya dengan lebih baik. Hal yang perlu dihindari bukanlah waktu luang, melainkan menyia-nyiakan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat.

Baca juga: Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Hal ini menjadi penting bagi generasi muda. Banyak pelajar mengikuti berbagai kegiatan karena ingin berkembang, tetapi terkadang kesibukan tersebut justru dilakukan karena takut tertinggal dari orang lain. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kegiatan yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat? Apakah kita masih memiliki waktu untuk belajar dengan baik, beribadah, keluarga, dan beristirahat? Ataukah kita hanya ingin terlihat sibuk dan produktif?

Pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang dipenuhi sebanyak mungkin aktivitas, melainkan hidup yang waktunya digunakan untuk hal-hal yang bermakna. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengejar kesibukan tanpa batas. Islam mengajarkan agar waktu digunakan untuk keimanan, kebaikan, tanggung jawab, dan kemanfaatan. Maka, sebelum mengatakan “saya sangat sibuk”, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah kesibukan saya benar-benar membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?” Sebab, produktif bukan tentang menjadi manusia yang paling sibuk, melainkan tentang menjadi manusia yang mampu menggunakan waktunya dengan bijaksana.

Sumber:

Kementerian Agama RI

Al-Qur’an Surah Al-‘Asr ayat 1–3

Sahih al-Bukhari No. 6412

Refleksi Al-Qur’an dalam Kolaborasi Pendidikan Anak

Penulis: Vina Virginia Hendrawati, Penyunting: Rahmawati Arditia

Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah mengikuti kegiatan yang bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini beriringan dengan program pemerintah yang bernama GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi pengingat penting atas fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis. Di tengah masyarakat Indonesia, masih terdapat pandangan bahwa tugas ayah adalah bekerja dan mencari nafkah, sedangkan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tugas ibu. Pembagian peran dalam pengasuhan hingga saat ini masih menjadi pembahasan yang serius. Lantas, siapa yang bertanggung jawab dalam pengasuhan anak: ibu, ayah, atau guru di sekolah? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita renungkan bersama peran masing-masing dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Apakah Ibu Berperan dalam Pengasuhan Anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali berinteraksi secara intensif dengan anak di rumah. Secara psikologis, ibu berperan dalam mengajarkan kasih sayang, kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu sering diidentikkan dengan istilah madrasatul ula (sekolah pertama), terutama dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual. Hal ini dapat direfleksikan melalui Q.S. Ali ‘Imran ayat 35:

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya: “(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”

Ayat tersebut dapat menjadi refleksi bahwa pendidikan anak perlu memiliki visi yang baik sejak dini. Orang tua diharapkan memiliki harapan dan ikhtiar agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berkarakter, serta bermanfaat bagi agama dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Apakah Bapak Hanya Bertugas Mencari Nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai teladan, pelindung, pendidik, dan mitra yang setara bagi ibu. Dalam kehidupan berumah tangga, ayah memiliki peran penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam Al-Qur’an, keteladanan pengasuhan juga dapat dilihat melalui nasihat Luqman kepada putranya. Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Q.S. Luqman [31]: 13).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan anak dapat dimulai melalui dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga membangun komunikasi yang penuh kasih sayang. Hal tersebut menjadi teladan bahwa ayah memiliki peran penting dalam membentuk akidah, karakter, dan mental anak.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Seberapa Penting Guru dalam Mendidik Anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan sekadar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua dapat membantu keduanya memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh. Hal ini sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carl Rogers, yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan mencapai aktualisasi diri apabila berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan tersebut, guru yang berperan sebagai konselor bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami dirinya dan mengembangkan potensinya.

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah seyogianya tidak dipahami hanya sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan, karakter, dan potensi peserta didik. Dengan kolaborasi antara ayah, ibu, dan guru, anak memiliki dukungan yang lebih utuh untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter serta mampu menyikapi kemajuan zaman secara bijaksana.

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam: Berkata Baik atau Diam

Penulis: Marchella Dika Aristawidya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Dalam kehidupan bermasyarakat, ucapan memiliki peran yang penting dalam membangun hubungan dengan sesama. Perkataan yang disampaikan dapat memberikan dampak yang besar terhadap perasaan seseorang. Berbeda dengan luka fisik yang dapat sembuh dalam waktu tertentu, luka yang disebabkan oleh perkataan terkadang dapat membekas dalam ingatan dan perasaan dalam waktu yang lama.

Kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi, mulai dari memilih kata yang tepat, memperhatikan intonasi, hingga menyesuaikan sikap dan gerak tubuh. Selain itu, memahami karakter serta latar belakang orang lain juga penting agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Dengan menjaga ucapan, kita dapat menghindari kesalahpahaman maupun perasaan tersinggung sehingga hubungan dengan sesama tetap terjaga dan tercipta kehidupan yang harmonis.

Ucapan dapat diibaratkan dua sisi mata pisau. Di satu sisi, perkataan yang baik dapat memberikan kebahagiaan dan menumbuhkan semangat bagi orang lain. Namun, di sisi lain, perkataan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan rasa sakit dan melukai perasaan seseorang. Pentingnya menjaga ucapan juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga lisan dan mempertimbangkan setiap perkataan yang akan disampaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Hadis tersebut mengajarkan bahwa menjaga ucapan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah Swt. dan Hari Akhir. Rasulullah saw. mengingatkan umatnya untuk selalu berkata dengan baik, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti perasaan orang lain. Apabila tidak ada perkataan yang baik untuk disampaikan, sebaiknya seseorang memilih untuk diam. Sikap diam dalam keadaan tersebut lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan keburukan atau menyakiti orang lain.

Terkadang, ucapan yang bernada menyindir, meremehkan, atau menyinggung kekurangan seseorang dianggap sebagai candaan dan dinormalisasi. Padahal, tidak semua orang dapat menerimanya dengan cara yang sama. Sebelum berbicara, kita perlu mempertimbangkan perasaan orang lain agar perkataan yang disampaikan tetap sopan dan tidak meninggalkan luka di hati.

Baca juga: KKN Nusantara Kelompok 11 Tanamkan Kesadaran Kelola Sampah Sejak Dini dengan Gelar Sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi

Anjuran untuk berkata baik juga dapat diterapkan ketika memberikan kritik dan nasihat. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak merendahkan sehingga orang yang menerimanya dapat memahami maksud yang disampaikan tanpa merasa disakiti. Dengan demikian, nasihat dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri, bukan justru menimbulkan perselisihan.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari perkataan yang menyakitkan, melainkan juga tentang membiasakan diri untuk menyampaikan ucapan yang baik dan bermanfaat. Setiap perkataan yang keluar hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan maupun luka di hati orang lain. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga berusaha menjalankan salah satu ajaran Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: rumaysho.com orami.co.id islam.nu.or.id

Mahasiswa KKN Kolaborasi Usung Program Eco Masjid Melalui Sedekah Sampah di Desa Jajarwayang

Penulis : Reza Aprilia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

PEKALONGAN — Sebanyak 15 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 8 KKN Kolaborasi antara UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara resmi diterima oleh pihak Pemerintah Desa Jajarwayang pada Senin, 20 Juli 2026. Acara penyambutan dan penerimaan mahasiswa KKN ini dilaksanakan secara khidmat di Balai Desa Jajarwayang.

Dalam acara penerimaan tersebut, sambutan dari pihak pemerintah desa disampaikan oleh perwakilan Kepala Desa, Bapak Irzuddin, yang menyambut hangat kehadiran para mahasiswa untuk menjalankan program pengabdian masyarakat di Desa Jajarwayang.

Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 8, Ibu Rahmi Anekasari, M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa fokus utama program KKN kali ini adalah pengembangan Eco Masjid melalui gerakan Sedekah Sampah.

“Bukan sekadar menjaga kebersihan lingkungan, hasil pengelolaan sedekah sampah ini diharapkan akan menjadi sumber pendanaan yang berkelanjutan,” tutur Ibu Rahmi Anekasari.

Baca juga: KEBERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN: REFLEKSI KKN DI DESA KUTOROJO, KABUPATEN PEKALONGAN

Beliau menyampaikan bahwa dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional kemakmuran masjid, salah satunya digunakan untuk kemaslahatan marbot masjid, takmir masjid, dan guru mengaji.

“Jadi, kita mengajak untuk mengubah sampah yang semula tidak bernilai menjadi bernilai ibadah untuk kemaslahatan umat, salah satunya adalah pendanaan untuk kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Marbot, takmir, dan guru ngaji ini mungkin belum tersentuh program BPJS Ketenagakerjaan dan belum memiliki jaminan masa depan. Dengan adanya pengelolaan sampah menjadi sedekah sampah ini, kita gunakan untuk memberikan jaminan kepada beliau-beliau yang sudah mendedikasikan dirinya untuk agama kita,” jelasnya.

Ibu Rahmi Anekasari juga mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Jajarwayang untuk bersama-sama menyukseskan program tersebut.

“Kami sangat mengharapkan dukungan dari Pak Lurah beserta jajarannya, Ketua BPD Desa Jajarwayang, serta Ketua RW dan RT untuk bersama-sama menjadikan gerakan ini sebagai budaya yang terus hidup bahkan setelah masa KKN ini berakhir. Esensi dari Eco Masjid ini menghadirkan masjid sebagai pusat transformasi yang memadukan nilai ibadah, kepedulian lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan perlindungan sosial,” tambahnya.

Pihak dosen pembimbing dan mahasiswa KKN berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan yang bisa direplikasi di desa-desa lain serta membawa keberkahan bagi masyarakat Desa Jajarwayang.

Acara penyambutan diakhiri dengan komitmen bersama untuk menyukseskan seluruh rangkaian program KKN Kolaborasi demi mewujudkan kemandirian dan kemaslahatan masyarakat Desa Jajarwayang.

Dari Makam Menggerakkan Resonansi Ekonomi Masyarakat

Penulis: Abdul Basid*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Ziarah ke makam ulama dan aulia acap kali diliputi kekhilafan dalam memaknai aktivitas tersebut, yang sering dikaitkan dengan kesyirikan. Padahal, ziarah ke makam para salihin bertujuan untuk mengenang, mengenal sejarah (manaqib), meneladaninya, mengingatkan pada kematian, serta menyambung batiniah kita kepada orang-orang yang sejatinya tidak meninggal. Kita tidak meminta sesuatu terhadap maqbarah (makam), melainkan meminta kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada orang-orang saleh.

Di Pekalongan, ada makam Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas yang tak pernah sepi diziarahi peziarah, apalagi pada bulan Muharam dan menjelang haul di pertengahan bulan Syakban. Posisi makam yang dekat dengan jalur Pantura memudahkan peziarah Walisongo untuk mampir sejenak beristirahat sambil berbelanja kain batik. Masuk di Batang, terdapat situs Wonobodro yang sangat ramai pada bulan Muharam. Bila di Sapuro banyak dijajakan kain batik, di Wonobodro banyak dijual olahan hasil bumi seperti opak, keripik singkong, emping melinjo, dan dagangan lain yang berasal dari luar daerah.

Baca juga: Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Kita bisa mengamati makam-makam Walisongo mulai dari Surabaya (Sunan Ampel Raden Rahmat), Tuban (Sunan Bonang), Lamongan (Sunan Drajat Raden Qasim), Gresik (Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri Raden Paku), Demak (Sunan Kalijaga Raden Said), Kudus (Sunan Kudus Ja’far Shadiq), Muria (Sunan Muria Raden Umar Said), hingga Cirebon (Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah) tidak pernah sepi peziarah sepanjang tahun.

Dari keramaian pengunjung makam, kita melihat perputaran miliaran uang di sekitar makam-makam tersebut. Di sana ada warung makan, pedagang oleh-oleh, suvenir, pedagang bunga tabur, pedagang minyak, pakaian, penginapan, layanan WC umum, ojek, peminta-minta, dan jasa lainnya. Andaikata situs tersebut ditutup, ribuan orang yang bergantung pada perputaran roda ekonomi berbasis makam akan terkena PHK. Dampak ekonomi dari situs makam tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitarnya, tetapi juga para pemandu wisata religi, kiai pemimpin ziarah, perusahaan autobus beserta sopir dan kernetnya yang turut memperoleh keberkahan.

Masyarakat yang mengagendakan diri untuk berziarah pun bersemangat berusaha dan menabung agar setiap tahun bisa mendatangi maqbarah para ulama dan aulia. Dengan kata lain, makam Sunan Ampel di Surabaya mampu menggerakkan tali perekonomian masyarakat hingga ke ujung barat Pulau Jawa. Dari situs makam ulama dan aulia, mengalir resonansi perekonomian yang menggetarkan masyarakat sekitar makam hingga ke pelosok daerah.

Fenomena ini bisa menjadi penyebab munculnya makam-makam aulia yang diduga palsu. Dengan mengelola makam palsu secara terpusat, dapat dikumpulkan pundi-pundi kotak amal (sedekah) peziarah, uang parkir dan keamanan, pungutan pedagang, serta jasa-jasa lainnya. Fenomena makam ini bukan lagi menunjukkan menggeliatnya kesadaran spiritualitas masyarakat, melainkan kesadaran tentang keberhasilan makam dalam menggerakkan perekonomian sebagai bentuk karamah dan berkah aulia, yang ditangkap secara negatif sebagai bisnis berbasis makam.

Baca juga: Perkemahan Ahmadiyah Dibubarkan, Setara Institut : Negara tak Boleh Tunduk pada Intoleransi

Kemurnian berkah dan karamah aulia sahibulmakam dikuantifikasi, kemudian dijadikan sebagai peluang bisnis berbasis makam. Bisnis berbungkus (berbau) syariah juga bisa kita lihat pada transaksi “syariah” di bank syariah, bisnis properti, asuransi, haji dan umrah, serta lain sebagainya sebagai peluang usaha. Semangat untuk beragama dengan baik dan meniru teladan Nabi Muhammad saw. akan ditangkap secara berbeda oleh pebisnis, ulama, dan masyarakat awam.

Nah, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang tersebar di seluruh penjuru tanah air—dengan penamaan lembaga berbasis tokoh, ulama, dan pejuang Islam—bisa menangkap peluang bisnis makam ini dengan pelurusan akidah islamiah. PTKI dapat melakukan riset mengenai ulama, kiai, dan aulia di wilayahnya; membuat peta wisata religi; serta menyiapkan para pemandu wisata santun, berwawasan luas, dan siap menjadi imam ziarah. Pemandu wisata juga bertugas melakukan edukasi agar peziarah bisa mengambil nilai-nilai wisata tanpa terjebak pada kesyirikan.

Bila Sunan Ampel yang berada di Surabaya dapat menggerakkan masyarakat di ujung Pulau Jawa, maka Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatra Barat, Syekh Abdurrauf As-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Wahab Rokan di Riau, dan para masyaikh penyebar Islam di Sumatra juga bisa menggerakkan masyarakat Madura untuk berziarah.

*Analis Kebijakan Ahli muda

Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Penulis: Nur Ahmad Syarif, Editor: Muslimah

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu akan berinteraksi dengan berbagai macam karakter dan latar belakang manusia. Dalam proses bersosialisasi dan menjalin hubungan baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat perbedaan pendapat, merupakan hal yang sulit dihindari. Oleh karena itu, sikap memaafkan menjadi salah satu nilai penting yang perlu diterapkan agar hubungan antar manusia tetap terjaga dengan baik serta tercipta kehidupan yang harmonis.

Memaafkan merupakan salah satu langkah penting dalam membangun kesehatan emosional dan memperbaiki hubungan antar manusia setelah terjadi konflik. Dengan memaafkan, seseorang dapat mengurangi berbagai perasaan negatif yang muncul akibat peristiwa yang menyakitkan. Namun, memaafkan bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang pernah mengalami kekecewaan atau luka batin karena kesalahan, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Ketika seseorang belum mampu memaafkan pengalaman yang menyakitkan, ia berisiko terus menyimpan rasa sakit hati dan dendam. Jika perasaan tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa diselesaikan, luka emosional dapat semakin mendalam dan pada akhirnya berkembang menjadi dendam yang berkepanjangan.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan?

Memaafkan tidak dapat diartikan sebagai pembenaran atau persetujuan terhadap kesalahan yang dilakukan orang lain. Sebaliknya, memaafkan adalah sikap menerima kenyataan yang sudah terjadi tanpa membiarkan luka batin dan amarah terus mendominasi diri. Seseorang tetap bisa menyadari bahwa suatu perbuatan adalah keliru, merugikan atau tidak dapat dibenarkan. Namun memilih untuk tidak menyimpan dendam maupun keinginan untuk membalas. Dengan demikian, memaafkan menjadi langkah yang menyehatkan bagi kondisi mental karena mampu meringankan beban emosional dan menurunkan stres.

Baca juga: Kasih yang Pilih Kasih dan Luka yang Diam dalam Keluarga

Masalah kesehatan di Indonesia masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi kesehatan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang dapat menjadi sumber kekuatan maupun kerentanan. Oleh karena itu, kesehatan perlu dipahami secara menyeluruh, mencakup kesehatan fisik dan kesehatan mental yang saling berkaitan.

Menurut riset Kesehatan mental remaja Indonesia dari Universitas Airlangga dalam websitenya. Hasil Survei Kesehatan Anak Nasional terbaru menunjukkan bahwa sekitar 31% remaja berusia 12–17 tahun mengalami gangguan yang berkaitan dengan kesehatan mental, emosional, perkembangan, atau perilaku pada periode 2022–2023. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan temuan sebelumnya yang berada pada kisaran 30%.

Bagaimana islam mendorong menjadi pribadi pemaaf?

Dalam ajaran Islam, memaafkan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghapus atau melupakan kesalahan. Memaafkan merupakan bentuk upaya untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. sekaligus membangun kembali hubungan yang baik dengan sesama manusia. Sikap memaafkan juga menjadi salah satu nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam karena mencerminkan kasih sayang, kelapangan hati, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan setelah terjadi kesalahan atau konflik.

Dalam ajaran Islam, memaafkan dan mengampuni merupakan perintah yang diberikan oleh Allah Swt. Perintah tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-A’raf ayat 199, Surah Al-Hijr ayat 85, Surah Asy-Syura ayat 40, serta Surah Asy-Syura ayat 43. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya memiliki sikap pemaaf sebagai bagian dari akhlak seorang muslim. Islam memandang bahwa memaafkan memberikan banyak manfaat bagi ketenangan batin, seperti mengurangi emosi negatif, rasa marah, sakit hati, dan dendam, sehingga hati menjadi lebih tenang serta bisa khusuk dalam beribadah menghadap sang pencipta.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari). Hadis tersebut mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari kemampuan fisik, melainkan dari kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi, terutama saat menghadapi kemarahan. Dengan mampu menahan amarah, seseorang akan lebih mudah bersikap bijaksana, memaafkan kesalahan orang lain, dan menjaga hubungan yang baik dengan sesama. (Azizah et al., 2024)

Manfaat sains dalam konteks memaafkan

Mengapa dendam dapat mengakibatkan masallah kesehatan mental?. Beberapa di antaranya adalah depresi, ganguan kecemasan, gangguan depresi pasca trauma, serta menurunkan imun tubuh. Dampak perundungan tidak terbatas pada luka fisik maupun tekanan emosional. Pengalaman buruk yang terus membekas dalam ingatan korban dapat memunculkan rasa dendam, yang pada akhirnya berisiko memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi kesehatan mental.

Dalam kajian psikologi, memaafkan dipandang sebagai salah satu strategi regulasi emosi yang sehat. Ketika seseorang menyimpan dendam, otak akan menganggap hal tersebut sebagai ancaman yang terus berlangsung. Akibatnya tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi. Jika ini terus terjadi, maka resiko gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan tidur, kecemasan, hingga depresi lebih meningkat. Sebaliknya berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang mampu memaafkan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Ada yanng menyebutkan juga bahwa kebiasaan memaafkan berhubungan dengan kesehatan jantung yang lebih baik. Karena dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi respon stress dalam tubuh.

Ada istilah psikologi positif, yaitu Psikologi positif berfokus pada pengembangan potensi dan kekuatan positif dalam diri individu. Salah satu konsep penting di dalamnya adalah memaafkan, yang berperan dalam menjaga kesehatan mental dengan membantu mengurangi emosi negatif, seperti marah, benci, kecewa, dan dendam, yang dapat berdampak buruk terhadap kesejahteraan psikologis. Psikologi positif berfokus pada pengembangan kekuatan dan potensi yang dimiliki setiap individu untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Tujuannya adalah mendorong perubahan positif dengan mengembangkan kualitas diri serta memperbaiki aspek-aspek yang masih kurang seimbang.(Ekaputra et al., 2024)

Membangun budaya saling memaafkan di tengah masyarakat bukan sekadar menjaga hubungan antar manusia, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih sehat dan harmonis. Dari perspektif sains, memaafkan terbukti membantu mengurangi stres, menjaga kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup. Sementara itu, dalam ajaran Islam, memaafkan merupakan akhlak mulia yang dicintai Allah Swt. dan menjadi salah satu jalan untuk meraih rahmat serta ampunannya. Dengan demikian, sains dan agama bertemu pada satu kesimpulan yang sama. Memaafkan membawa kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi kehidupan sosial.

Karena itu sudah saatnya kita menjadikan memaafkan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang benar, melainkan memilih untuk melepaskan beban yang selama ini mengikat hati. Mari belajar memaafkan karena Allah, bukan semata-mata karena manusia. Ketika niat tersebut menjadi landasan, hati akan lebih tenang, kesehatan mental lebih terjaga, hubungan antar sesama semakin erat, dan kehidupan masyarakat akan dipenuhi kedamaian serta keberkahan. Sebab, pada akhirnya, memaafkan bukan hanya menyembuhkan luka masa lalu, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih damai, sehat, dan diridai Allah swt.

 

Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Penulis: Nalim*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Fajar selalu datang pada waktunya. Matahari terbit dari ufuk timur tanpa pernah terlambat, lalu perlahan bergerak menuju titik tertingginya sebelum tenggelam di barat. Bulan mengitari bumi dalam lintasan yang teratur. Laut mengenal pasangnya, pepohonan mengenal musimnya, dan tubuh manusia bekerja mengikuti irama yang nyaris tak pernah keliru. Alam semesta seolah membaca naskah yang sama setiap hari, tanpa salah satu huruf pun tertukar.

Kita sering menyebut semua itu sebagai hukum alam. Seorang ilmuwan mungkin menjelaskannya melalui hukum-hukum fisika. Seorang matematikawan melihatnya sebagai pola yang dapat dihitung. Seorang mukmin memandangnya sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di seluruh penjuru ciptaan.

Barangkali di situlah matematika menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang memenuhi halaman buku pelajaran. Matematika merupakan bahasa yang membantu manusia membaca keteraturan alam. Lewat bahasa itu, manusia belajar mengenali pola, mengukur ketepatan, memahami hubungan, lalu menyadari bahwa alam tidak bergerak secara acak.

Alquran berkali-kali mengajak manusia mengarahkan pandangan ke langit dan bumi. Pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan, hujan yang menghidupkan tanah, hingga penciptaan manusia sendiri disebut sebagai ayat-ayat bagi orang yang mau berpikir. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 190 mengingatkan, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Ayat ini tidak mengajarkan rumus matematika, tetapi menumbuhkan cara pandang bahwa alam semesta layak diamati, direnungkan, dan dipelajari.

Baca juga: Pesona Ekosistem Kutorojo: Menjaga Satwa, Merawat Masa Depan

Menariknya, semakin jauh ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak keteraturan yang berhasil disingkap. Gerak planet dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya. Gerhana dapat dihitung hingga hitungan detik. Aliran air, pertumbuhan populasi, bahkan penyebaran penyakit dapat dimodelkan melalui persamaan matematika. Semuanya menunjukkan bahwa alam bekerja mengikuti hukum-hukum yang konsisten.

Konsistensi semacam itu mengingatkan kita pada satu ayat yang sangat singkat, tetapi sarat makna. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49). Kata qadar dalam ayat tersebut mengandung makna ukuran, ketentuan, dan proporsi. Alam semesta tidak diciptakan secara serampangan. Setiap ciptaan memiliki tempat, fungsi, dan keteraturannya masing-masing.

Kesadaran seperti ini pernah menjadi napas peradaban Islam. Mempelajari alam bukan dipandang sebagai aktivitas yang menjauhkan manusia dari agama, melainkan salah satu jalan untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang ciptaan-Nya, semakin banyak alasan untuk bertakbir. Keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan kekhusyukan spiritual.

Cara pandang tersebut terasa berbeda dengan apa yang sering kita jumpai sekarang. Matematika kerap dipersempit menjadi pelajaran yang identik dengan angka-angka rumit, lembar ujian, dan nilai rapor. Banyak siswa belajar agar mampu menjawab soal, bukan agar mampu memahami keteraturan yang mengelilingi hidupnya. Rumus dihafal, prosedur diikuti, lalu semuanya perlahan terlupakan setelah ujian berakhir.

Sayang sekali jika matematika berhenti pada ruang kelas. Padahal, ilmu ini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Ia mengiringi arsitek ketika merancang bangunan, membantu dokter membaca hasil pemeriksaan pasien, menjadi dasar teknologi yang kita gunakan setiap hari, bahkan bekerja diam-diam di balik aplikasi yang menunjukkan arah perjalanan atau memprediksi cuaca. Dunia modern bergerak di atas fondasi matematika, meskipun tidak semua orang menyadarinya.

Islam sendiri tidak pernah menempatkan akal sebagai lawan dari iman. Alquran justru berulang kali mengundang manusia untuk berpikir. Ungkapan seperti afalā ta’qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir), dan ulul albab (orang-orang yang memiliki kejernihan akal) tersebar di banyak ayat. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa keimanan yang kokoh tidak tumbuh dari sikap menutup mata terhadap realitas, melainkan dari kesediaan mengamati, merenungi, lalu mengambil hikmah.

Di sinilah matematika memiliki tempat yang istimewa. Ilmu ini melatih manusia berpikir runtut, menghargai bukti, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Setiap jawaban lahir melalui proses yang dapat diuji. Setiap langkah menuntut kejujuran. Satu kekeliruan kecil saja dapat mengubah hasil akhirnya. Bukankah kehidupan juga mengajarkan hal yang sama? Keputusan yang baik lahir dari pertimbangan yang matang, bukan sekadar dugaan atau emosi sesaat.

Baca juga: Pelajaran Al-Qur’an tentang Korupsi dan Kehancuran Negara

Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat matematika sebagai pelajaran berhitung. Padahal, jauh sebelum angka-angka ditulis di atas papan tulis, Allah telah lebih dahulu “menuliskannya” di alam semesta. Orbit planet, bentuk kepingan salju, susunan sarang lebah, gelombang laut, hingga pola tumbuh dedaunan adalah halaman-halaman terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang bersedia memperhatikan.

Maka, mempelajari matematika sesungguhnya bukan hanya belajar mencari jawaban yang benar. Ada latihan kesabaran ketika menyelesaikan persoalan yang rumit. Ada kejujuran saat memeriksa kembali setiap langkah. Ada kerendahan hati ketika menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Semua itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: angka memang tidak dapat menggantikan iman, tetapi melalui angka kita dapat belajar mengagumi keteraturan yang Allah bentangkan di hadapan manusia sejak alam semesta pertama kali diciptakan.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Mengapa azan Magrib hari ini lebih lambat daripada kemarin?”

Pertanyaan sederhana itu sering dianggap sepele. Padahal, dari rasa ingin tahu seperti itulah lahir kesadaran bahwa waktu ternyata bukan sesuatu yang diam. Matahari terus bergerak menurut ketentuan Allah. Posisi bumi berubah setiap saat. Durasi siang dan malam bergeser sedikit demi sedikit. Azan yang terdengar dari masjid bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan penegasan bahwa alam semesta sedang berjalan mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Kita menikmati semua itu hampir tanpa pernah memikirkannya.

Jadwal salat yang tersimpan di telepon genggam muncul tepat setiap hari. Arah kiblat dapat diketahui hanya dengan membuka sebuah aplikasi. Kalender Hijriah tersedia jauh sebelum Ramadan tiba. Semua terasa begitu mudah. Di balik kemudahan itu bekerja ilmu yang panjang sejarahnya: pengamatan langit, astronomi, geometri, trigonometri, dan tentu saja matematika.

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa ketika seorang Muslim berdiri menghadap kiblat, sesungguhnya ada perjalanan ilmu selama berabad-abad yang ikut mengantarkannya ke arah yang benar.

Hal yang sama terjadi ketika seseorang menghitung zakat. Angka yang muncul bukan sekadar hasil operasi hitung. Di sana ada amanah yang harus dijaga agar hak orang lain tidak berkurang sedikit pun. Pembagian waris pun demikian. Alquran memberikan ketentuan yang sangat rinci mengenai bagian setiap ahli waris. Ketelitian menjadi syarat mutlak. Kesalahan kecil dalam menghitung dapat menggeser hak seseorang dan mengubah keadilan yang hendak diwujudkan syariat. Rupanya, matematika hadir dalam banyak ruang ibadah, meskipun sering luput dari perhatian.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Jika sejak awal Islam begitu akrab dengan ilmu hitung, mengapa sebagian umat justru merasa matematika adalah sesuatu yang asing? Jawabannya mungkin dapat ditemukan ketika kita menoleh ke belakang, pada masa ketika dunia Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.

Sekitar seribu tahun yang lalu, Baghdad bukan hanya dikenal sebagai kota perdagangan. Di kota itu berdiri pusat-pusat ilmu yang mempertemukan para penerjemah, filsuf, ahli fikih, dokter, astronom, dan matematikawan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, membawa manuskrip dari Yunani, Persia, India, dan berbagai wilayah lain. Karya-karya itu tidak berhenti sebagai terjemahan. Para ilmuwan Muslim mengkritik, menyempurnakan, lalu melahirkan gagasan-gagasan baru yang kemudian mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara nama besar yang lahir pada masa itu adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Namanya mungkin tidak sepopuler para tokoh teknologi masa kini. Akan tetapi, hampir semua perangkat digital yang kita gunakan bekerja dengan prinsip yang berutang pada gagasan yang ia wariskan. Dari nama Al-Khwarizmi lahir istilah algorithm (algoritma), serangkaian langkah logis untuk menyelesaikan persoalan. Dunia modern berdiri di atas fondasi itu. Mesin pencari, media sosial, transaksi digital, kecerdasan buatan, hingga navigasi satelit memanfaatkan algoritma dalam bentuk yang terus berkembang.

Menariknya, Al-Khwarizmi tidak pernah mempelajari matematika demi mengejar ketenaran. Baginya dan banyak ilmuwan Muslim pada zamannya, mencari ilmu merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Alam dipandang sebagai kitab terbuka yang harus dibaca. Semakin banyak rahasia alam tersingkap, semakin tampak kebesaran Sang Pencipta.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan memudar. Kita hidup pada zaman ketika ilmu sering dipisahkan ke dalam kotak-kotak yang saling berjauhan. Agama ditempatkan di ruang ibadah. Sains ditempatkan di laboratorium. Matematika berada di ruang kelas. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, seolah tidak pernah saling menyapa.

Padahal, alam tidak pernah mengenal sekat-sekat seperti itu. Matahari tetap terbit dengan hukum yang sama, baik ketika diamati oleh seorang astronom maupun ketika disaksikan oleh seorang yang sedang berzikir selepas Subuh. Bulan tetap bergerak pada orbitnya, baik ketika dihitung oleh ahli falak maupun ketika dipandang oleh seorang anak yang menunggu datangnya Idulfitri. Objeknya sama. Sudut pandangnya saja yang berbeda.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Kesadaran inilah yang dahulu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dalam peradaban Islam. Mereka tidak merasa harus memilih menjadi seorang yang saleh atau menjadi seorang ilmuwan. Meneliti alam justru menjadi salah satu cara untuk mensyukuri nikmat akal yang Allah anugerahkan.

Pandangan itu terasa begitu relevan hari ini. Dunia sedang menghadapi ledakan informasi yang luar biasa. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Kecerdasan buatan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu memerlukan waktu berhari-hari. Semua kemajuan itu bertumpu pada matematika. Angka-angka bekerja diam-diam di balik layar, mengatur lalu lintas data, membantu dokter mendiagnosis penyakit, memprediksi cuaca, mengendalikan pesawat, hingga menerjemahkan bahasa dari berbagai penjuru dunia.

Ironisnya, di saat matematika hadir hampir dalam setiap aspek kehidupan, banyak orang masih melihatnya sebatas kumpulan rumus yang harus dihafal.

Barangkali yang hilang bukanlah matematikanya. Yang hilang adalah rasa takjub. Begitu rasa takjub menghilang, angka berubah menjadi beban. Rumus kehilangan cerita. Belajar tinggal mengejar nilai. Padahal setiap konsep matematika sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperoleh jawaban benar. Ketelitian melatih amanah. Konsistensi mendidik istiqamah. Keseimbangan mengingatkan pada keadilan. Kesabaran dalam menyelesaikan persoalan perlahan membentuk kerendahan hati. Semua nilai itu tumbuh tanpa perlu diumumkan sebagai “pelajaran akhlak”. Ia hadir secara alami di sepanjang proses belajar.

Barangkali di situlah keindahan matematika bertemu dengan keindahan Islam. Keduanya sama-sama mengajak manusia mencintai keteraturan, menghargai kebenaran, dan menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki makna.

Semangat seperti itulah yang agaknya perlu dihidupkan kembali dalam dunia pendidikan kita. Bukan dengan menjadikan setiap pelajaran matematika sebagai ceramah agama, melainkan dengan menghadirkan kesadaran bahwa ilmu selalu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar angka di buku atau nilai di rapor.

Seorang guru matematika tentu tidak harus mengawali setiap pertemuan dengan ayat Alquran. Rumus pun tidak perlu dipaksakan agar selalu memiliki padanan dalil. Upaya seperti itu sering kali justru membuat peserta didik merasa bahwa agama dan sains sedang “dipertemukan” secara artifisial. Padahal keduanya sejak awal memang tidak pernah saling berjauhan.

Yang jauh lebih penting ialah menghadirkan pengalaman belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Ketika seorang siswa bertanya mengapa gerhana dapat diprediksi jauh sebelum terjadi, ketika ia penasaran mengapa sarang lebah berbentuk segi enam, atau ketika ia takjub melihat keteraturan bilangan yang muncul di alam, sesungguhnya saat itulah benih-benih kecintaan terhadap ilmu mulai tumbuh. Dari rasa ingin tahu lahir pencarian. Dari pencarian lahir pengetahuan. Dari pengetahuan yang disertai perenungan lahir rasa syukur.

Rasa syukur inilah yang sering kali luput dari pembelajaran kita. Kita begitu sibuk mengejar jawaban yang benar sehingga lupa menikmati proses menemukannya. Kita bangga ketika mampu menyelesaikan soal yang sulit, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa alam semesta dapat dipahami melalui bahasa yang begitu teratur? Mengapa hukum-hukum itu dapat dipelajari? Mengapa akal manusia diberi kemampuan mengenali pola-pola yang tersembunyi di balik berbagai peristiwa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang panjang. Cukup dijadikan ruang untuk merenung. Sebab, dari sanalah ilmu berubah menjadi hikmah.

Barangkali itulah pelajaran yang diwariskan oleh para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap kecanggihan ilmu. Kekaguman itu selalu mengarah kepada Zat yang menciptakan hukum-hukum alam. Semakin luas pengetahuan mereka, semakin dalam pula kerendahan hati mereka. Ilmu tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa masih terbentang lautan pengetahuan Allah yang tidak akan pernah habis dijelajahi manusia.

Sikap seperti ini terasa semakin penting pada zaman sekarang. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Informasi mengalir tanpa henti dari layar-layar kecil yang kita genggam. Dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Kemampuan menghitung tentu tetap dibutuhkan, tetapi itu saja tidak cukup. Yang jauh lebih berharga ialah kemampuan menggunakan ilmu dengan arif, memadukan nalar dengan nurani, serta menempatkan pengetahuan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Di sinilah matematika dan Islam saling menguatkan. Matematika melatih ketelitian, konsistensi, dan keberanian berpikir berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Islam memberi arah agar seluruh kemampuan itu digunakan untuk menebarkan keadilan, kejujuran, dan kemanfaatan bagi sesama. Akal menjadi semakin tajam, sementara hati tetap terjaga.

Alquran memperkenalkan manusia pada dua cara membaca. Cara pertama ialah membaca wahyu yang diturunkan melalui firman-Nya. Cara kedua ialah membaca alam yang dibentangkan di hadapan mata. Keduanya saling melengkapi. Wahyu memberi petunjuk tentang tujuan hidup, sedangkan alam menyajikan tanda-tanda yang menguatkan keyakinan bagi siapa saja yang mau memperhatikannya. Matematika membantu kita membaca sebagian dari tanda-tanda itu.

Setiap orbit yang teratur, setiap pola yang berulang, setiap ukuran yang presisi, dan setiap hukum yang konsisten seakan mengingatkan bahwa alam semesta ini tidak berjalan tanpa arah. Ada kebijaksanaan yang bekerja di balik seluruh keteraturan tersebut. Ada sunatullah yang menjaga langit tetap berada pada porosnya dan bumi tetap menjadi tempat yang layak dihuni.

Mungkin karena itulah Albert Einstein pernah berkata, “Hal yang paling sulit dipahami tentang alam semesta adalah kenyataan bahwa alam semesta dapat dipahami.” Ungkapan itu menarik untuk direnungkan. Mengapa akal manusia mampu membaca hukum-hukum alam? Mengapa keteraturan itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa matematika? Bagi seorang mukmin, pertanyaan itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: Allah bukan hanya menciptakan alam semesta yang teratur, tetapi juga menganugerahkan akal agar manusia mampu mengenali keteraturan tersebut.

Baca juga: Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari ketika membuka buku matematika? Barangkali kita memang sedang belajar menghitung. Barangkali kita sedang berlatih memecahkan persoalan. Namun, jauh di balik semua itu, kita sedang belajar membaca sebagian kecil dari ayat-ayat kauniah yang Allah bentangkan di seluruh penjuru alam.

Setiap rumus yang dipahami mungkin tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih beriman. Akan tetapi, setiap rasa takjub yang lahir ketika menyaksikan keteraturan ciptaan-Nya dapat menjadi jembatan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Bukankah rasa kagum sering menjadi awal dari rasa syukur?

Maka, matematika layak dipandang sebagai lebih dari sekadar ilmu tentang angka. Ia adalah bahasa keteraturan. Bahasa yang mengajarkan manusia berpikir jernih, bersikap jujur, menghargai keseimbangan, dan menyadari bahwa alam semesta tidak pernah kehilangan arah karena seluruhnya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Mengatur.

Barangkali itulah makna terdalam belajar matematika dalam perspektif Islam. Bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, melainkan belajar menjadi manusia yang lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Sebab, setiap kali akal berhasil menangkap keteraturan alam, hati seharusnya semakin mudah mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhanallah.

*Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Meneguhkan Spiritualitas melalui Gagasan Ekoteologi Prof. Nasaruddin Umar

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Persoalan lingkungan hidup dewasa ini semakin menunjukkan bahwa kerusakan alam bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Berbagai bencana ekologis, mulai dari banjir, pencemaran, hingga perubahan iklim, menunjukkan adanya relasi yang tidak seimbang antara manusia dan alam. Dalam konteks tersebut, gagasan ekoteologi yang disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dalam pembinaan civitas akademika UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menarik untuk dikaji sebagai salah satu pendekatan untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan.

Dalam kesempatan tersebut tema yang diangkat adalah “Merawat Bumi, Meneguhkan Spiritualitas.” Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa konsep ekoteologi perlu dibicarakan secara luas, khususnya di kalangan umat Islam. Menurut beliau, persoalan lingkungan sesungguhnya juga merupakan persoalan teologi. Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan tanpa mengubah sistem nilai yang ada dalam masyarakat.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ekologis tidak dapat dibangun hanya melalui aturan, kampanye, atau teknologi. Diperlukan perubahan cara pandang yang berakar pada keyakinan dan nilai yang dianut masyarakat. Dalam hal ini, agama memiliki peran penting karena mampu membentuk perilaku melalui aspek keyakinan, moral, dan budaya. Lebih lanjut, Prof. Dr. KH. Nasaruddin menjelaskan bahwa manusia tidak seharusnya memandang alam hanya sebagai objek yang dapat dieksploitasi.

“Alam adalah makhluk, pasti ada khaliknya yaitu penciptanya, Allah yang menciptakan namanya Al-Khaliq. Alam semesta ada karena diciptakan oleh Allah. Kalau kita mengakui alam semesta ini dari Tuhan dan kita mengakui Tuhan Maha Sakral, sesuatu yang berasal dari Yang Maha Sakral apakah tidak sakral? Pastinya sakral. Masa Tuhan penciptanya sakral, makhluknya tidak sakral, lalu seenaknya dibakar dan dirusak. Siapa yang merusak kodrat ciptaan Tuhan yang Maha Indah, Maha Bersih, Maha Sakral menjadi tidak sakral lagi, maka itu adalah definisi dari dosa,” ujar Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.

Menurut penulis, gagasan tersebut menawarkan perspektif yang penting dalam menghadapi krisis lingkungan saat ini. Selama ini, pendekatan pelestarian lingkungan sering kali hanya berfokus pada aspek regulasi dan teknologi, sementara dimensi spiritual kurang mendapat perhatian. Padahal, bagi masyarakat yang religius seperti Indonesia, pendekatan berbasis nilai keagamaan dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membangun kesadaran ekologis.

Namun demikian, penulis berpandangan bahwa pendekatan ekoteologi tidak boleh berhenti pada tataran wacana normatif semata. Kesadaran bahwa merusak lingkungan merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai ketuhanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan kebijakan yang konkret. Tanpa implementasi yang berkelanjutan, konsep ekoteologi berpotensi menjadi sekadar slogan tanpa dampak yang signifikan terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Upaya konkret tersebut sebenarnya telah mulai diwujudkan oleh UIN Gusdur Pekalongan. Rektor UIN Gusdur, Zaenal Mustakim, menyampaikan bahwa kampus telah melaksanakan program penanaman mangrove selama enam tahun di Desa Mulyorejo dan berhasil menanam sekitar 140 ribu pohon mangrove. Selain itu, UIN Gusdur juga telah mengembangkan program KKN Tematik berbasis ekoteologi selama dua tahun terakhir dengan fokus pada penanganan sampah dan stunting. Langkah ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dapat diintegrasikan dengan aksi sosial dan pelestarian lingkungan secara nyata.

Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa ekoteologi merupakan gagasan yang relevan untuk menjawab tantangan lingkungan di era modern. Akan tetapi, keberhasilannya tidak cukup hanya bergantung pada kesadaran spiritual individu, melainkan juga memerlukan dukungan pendidikan, kebijakan publik, serta komitmen kolektif masyarakat. Sebab, merawat bumi bukan hanya persoalan menjaga lingkungan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Pelajaran Al-Qur’an tentang Korupsi dan Kehancuran Negara

Penulis: Misbakhudin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani
Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat sedang berada dalam situasi ekonomi yang dilematis. Di satu sisi, sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia, Indonesia memiliki modal besar untuk makmur. Namun, di sisi lain, realitas domestik justru menunjukkan kerentanan yang mengkhawatirkan. Ruang anggaran pemerintah yang kian menyempit dan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tata kelola sistem makro kita. Para ekonom dan ahli moneter melihat gejala ini bukan sekadar masalah teknis salah urus domestik, mirisnya, ini adalah akibat dari tekanan ekonomi global yang agresif. Indonesia sedang berhadapan dengan aksi oligarki global—jaringan korporasi multinasional dan institusi keuangan internasional—yang memiliki kekuatan besar untuk mendikte arah kebijakan negara berkembang demi keuntungan mereka sendiri.
Dalam lanskap dunia modern, penaklukan suatu bangsa tidak lagi berbentuk invasi militer. Senjata utama hari ini adalah kontrol keuangan, jebakan utang (debt trap), serta manipulasi pasar modal dan perdagangan internasional. Al-Qur’an sejak awal telah meletakkan garis batas yang tegas mengenai bagaimana perputaran uang harus dikelola dalam sebuah masyarakat. Dalam Surah Al-Hasyr (59): 7, Allah Swt. berfirman: “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu ….”. Ayat ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah aturan hukum ekonomi-politik yang melarang terjadinya penumpukan kekayaan pada segelintir elite. Skenario penjajahan gaya baru hari ini bekerja dengan cara yang persis dilarang oleh ayat tersebut: merancang sistem keuangan dunia yang memastikan kekayaan terus mengalir ke atas (pihak oligarki), sementara negara-negara berkembang dipaksa menjadi penonton yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan sistemik.
Baca juga:
Korupsi Akut dan Kebocoran Fantastis
Menumpahkan seluruh kesalahan pada pihak asing adalah bentuk pemikiran yang keliru. Oligarki global tidak akan pernah bisa mendikte sebuah bangsa jika fondasi di dalam negeri bangsa tersebut kokoh. Masalah terbesar Indonesia hari ini adalah kelemahan internal berupa korupsi sistemik dan lemahnya penegakan hukum.
Sebagai contoh, ketika kita berbicara tentang modus under-invoicing dan transfer pricing di sektor riil ekspor sumber daya alam (SDA) seperti pertambangan dan perkebunan, praktik culas ini tidak berjalan di ruang hampa. Semua ini bisa mulus terjadi karena adanya kolusi dan korupsi nyata antara oligarki domestik dan oknum penguasa atau birokrat yang memegang otoritas. Jual beli izin pertambangan, manipulasi dokumen volume ekspor, kongkalikong penetapan royalti, hingga pemberian uang pelicin untuk meloloskan komoditas ilegal ke luar negeri adalah bentuk nyata dari pengkhianatan ekonomi ini.
Akibat korupsi transaksional ini, Indonesia mengalami kebocoran anggaran negara dalam angka yang sangat fantastis, yakni mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Kekayaan yang seharusnya masuk ke kas negara justru bocor dan mengalir ke rekening-rekening pribadi para pemburu rente. Korupsi riil inilah yang menjadi karpet merah sekaligus pintu belakang yang memuluskan penjarahan oleh oligarki global. Ketika penguasa yang seharusnya bertindak sebagai benteng pertahanan justru dapat dibeli, kedaulatan ekonomi bangsa berada di ambang kehancuran. Al-Qur’an mengutuk keras persekongkolan antara keserakahan ekonomi dan manipulasi hukum ini dalam Surah Al-Baqarah (2): 188: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”.
Baca juga:
Ketika hukum bisa diperjualbelikan demi meloloskan penjarahan SDA, fungsi negara sebagai pelindung rakyat menjadi lumpuh. Kebocoran fantastis ini menghancurkan daya saing nasional, memperlemah ketahanan rupiah, dan membuat pemerintah kehilangan kemandirian finansial untuk memakmurkan rakyat kecil.
Pola Berulang Sejarah: Aliansi Penguasa dan Kelompok Al-Mutrafun
Jika kita membuka lembaran sejarah, aliansi tak suci antara penguasa yang korup dan pemilik modal yang serakah bukanlah fenomena baru. Sosiolog muslim terkemuka, Ibnu Khaldun, dalam mahakaryanya Muqaddimah, mengingatkan bahwa salah satu tanda paling nyata dari runtuhnya sebuah peradaban adalah ketika para penguasa mulai ikut berbisnis secara monopoli, memanipulasi hukum demi keuntungan, dan mengabaikan keadilan sosial demi menimbun kekayaan. Pola inilah yang dahulu merubuhkan dinasti-dinasti besar Islam dari dalam sebelum akhirnya dihancurkan oleh serangan luar.
Al-Qur’an merekam pola purba ini dengan sangat jelas melalui simbolisasi tiga figur dalam Surah Al-Ankabut (29): 39, yaitu Firaun (otoritas politik), Haman (birokrasi hukum), dan Qarun (oligarki ekonomi) secara berurutan. Ketika ketiga kekuatan ini bersekongkol, lahirlah kelompok yang diistilahkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra’ (17): 16 sebagai al-mutrafun.
Secara terminologi, para mufasir memberikan catatan mendalam mengenai karakter kelompok ini. Mufasir abad pertengahan, Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa al-mutrafun adalah mereka yang takabur, sewenang-wenang, dan gemar melampaui batas karena merasa diselimuti oleh kemewahan duniawi. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menekankan aspek strukturalnya: mereka adalah para pembesar, pemimpin, dan penguasa zalim yang menggunakan kekayaan serta kekuasaannya untuk melanggar aturan Allah demi kenyamanan mereka sendiri. Dalam konteks mufasir kontemporer Indonesia, M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Misbah menggarisbawahi bahwa kata mutraf berakar dari kata yang berarti ‘hidup mewah yang melengahkan’. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kemewahan yang mereka nikmati sering kali membuat mereka kehilangan kepekaan sosial, menjadi angkuh terhadap kebenaran, dan bertindak merusak (fasad) karena mengira kekayaan materi dapat membeli segalanya, termasuk hukum dan keadilan.
Dalam kacamata ekonomi politik modern, boleh jadi kelompok al-mutrafun inilah yang kita sebut sebagai aliansi penguasa-pengusaha korup. Krisis ekonomi yang menekan rakyat hari ini adalah akibat nyata dari kerusakan sistemik dan kebocoran fantastis yang mereka timbulkan.
Meneguhkan Nilai Moral Al-Qur’an
Melihat kerumitan tersebut, perjuangan melawan cengkeraman kapitalisme liberal—mulai dari mempertahankan kebijakan ekspor satu pintu hingga menghentikan kebocoran ekspor SDA—harus diletakkan dalam kerangka penegakan hukum tertinggi kita. Kebijakan kedaulatan sumber daya alam bukanlah aksi bagi-bagi hadiah dari penguasa, melainkan manifestasi nyata dalam melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Namun, hukum tata negara ini akan menjadi macan kertas tak bertaring jika tidak dijiwai oleh fondasi nilai moral Al-Qur’an sebagai jangkar spiritualitas para pengambil kebijakan. Setidaknya, ada tiga pilar moral Qur’ani yang harus ditegakkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari kebangkrutan, seperti yang dipaparkan oleh Ibnu Taimiyah serta cendekiawan muslim kontemporer, Dr. Umer Chapra:
Pertama, Prinsip Mas’uliyah (Akuntabilitas Spiritual): Setiap pemegang kekuasaan harus sadar bahwa jabatan dan pengelolaan anggaran negara bukan sekadar legitimasi politik, melainkan amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban mutlak di hadapan Tuhan. Hal ini sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Isra’ (17): 36, “… Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”.
Kedua, Prinsip Al-‘Adl (Keadilan): Hukum tidak boleh menjadi alat transaksi politik yang tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Al-Qur’an memerintahkan penegakan keadilan yang mutlak, bahkan terhadap elite atau kerabat sendiri, sesuai dengan Surah An-Nisa (4): 135. Institusi hukum (seperti KPK dan Kejaksaan Agung) wajib memiliki keberanian profetik untuk menyeret para komprador oligarki global ke pengadilan tanpa pandang bulu.
baca juga:
Ketiga, Prinsip Amanah: Mengelola sistem moneter dan program populis di tengah jatuhnya rupiah membutuhkan komitmen moral untuk menyerahkan urusan kepada profesional yang berintegritas (al-qawiy al-amin), bukan kepada para pemburu rente politik. Sesuai tuntunan Surah An-Nisa (4): 58, Allah Swt. memerintahkan untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak dan menetapkan hukum di antara manusia secara adil.
Melawan kapitalisme liberal global dan korupsi internal adalah satu kesatuan perjuangan yang tidak bisa dipisahkan. Namun, memastikan anggaran serta sumber daya alam kita tidak dicuri oleh segelintir elite mutrafun adalah perang hukum yang harus dimenangkan. Jika kita tidak berbenah dari sekarang dengan melandaskan diri pada nilai moral Al-Qur’an dan menutup pintu belakang dari para koruptor, sejarah masa lalu telah menyediakan akhir cerita yang pahit bagi bangsa-bangsa yang hancur karena membiarkan keserakahan elite merubuhkan pilar keadilan negaranya sendiri. Wallahualam bissawab.