Persiapan Diri Menuju Ramadan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pertama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT, alhamdulillah masih diberikan Kesehatan, kesempatan sampai pada bulan syakban, dan sebentar lagi bulan romadhon. mudah mudahan kita semua dipertemukan dengan bulan romadhon, amin. Kedua marilah kita persiapkan kedatangan bulan romadhon dengan suka cita, dengan memperbanyak amal ibadah, memperbanyak dzikir, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bulan syakban Adalah bulan yang sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin, karena berada di antara dua bulan yang agung, yaitu Rajab dan Ramadhan. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bulan Sya’ban. Rosululloh berpuasa dibulan syakban sebagaimana yang dikatakan para sahabat kaana yasuumu syakbana illa qolilaa (beliau berpuasa di bulan syakban kecuali beberapa hari saja yang dia lepas dan beliau Jalani tanpa berpuasa). Hal inilah yang memberanikan diri Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW.  Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu Adalah salah satu sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW, beliau bertanya kepada rosululloh SAW, ya Rasulullah aku melihat engkau berpuasa di bulan syakban jauh lebih banyak dibanding bulan bulan lain, ada apa ya rosululloh. Apa istimewanya, apa rahasianya bulan syakban ini kata Zaid,

Lalu apa kata nabi Muhammad, beliau mengatakan bulan syakban Adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak manusia karena jatuh antara dua bulan mulia yaitu Rojab dan Romadhon, bulan syakban Adalah bulan Ketika amal-amal ibadah kita dalam satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT, maka aku ingin Ketika amal-amalku diangkat kehadapan Allah SWT, aku dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu marilah kita teladani Nabi Muhammad SAW di bulan syakban ini dengan memperbanyak puasa sunnah, Puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh (pertengahan bulan hijriyah), ataupun puasa daud sehari puasa sehari berbuka puasa. Marilah kita hidupkan bulan ini dengan dengan memperbanyak mengingat Allah, memperbanyak Istighfar, dan amalan baik lain sehingga Ketika amal diangkat kita sedang berbuat baik.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Lantas bagaimana dengan pandangan Sebagian orang yang melarang puasa setelah pertengahan sakhban. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidhi dan Abu Daud.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)

Dalam lafazh lain HR Ibnu Majah

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1651)

Dalam lafazh yang lain lagi,

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ

Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tahanlah diri dari berpuasa hingga datang bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)

Hadist ini hanya melarang berpuasa bagi orang orang yang tidak terbiasa berpuasa, sedangkan bagi orang orang yang sudah terbiasa berpuasa maka ini tidak menyalahi sebagaimana nabi Muhammad terbiasa berpuasa setetah pertengahan syakban.

Hal ini diperkuat pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, Mereka mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa seperti (1) puasa senin-kamis),. (2) puasa Daud (sehari buka sehari puasa), (3) puasa nadzar, (4) puasa qadha mengganti puasa romadhon yang ditinggalkan karena udhur, dan (5) puasa kafarat, boleh berpuasa.

Oleh karena itu, marilah kita hidupkan, manfaatkan bulan Sya’ban ini untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal shalih, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan, Seperti yang telah dicontohkan oleh rosululloh Muhammad SAW.

   بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

  عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

*Khattib: Bpk. Muttaqin (Talun, Kab. Pekalongan)

Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Penulis: Izzati Amaliya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, suku, dan agama. Dalam hal ini, moderasi beragama menjadi esensial untuk mempertahankan harmoni dan ketenangan. Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menguatkan prinsip-prinsip moderasi adalah melalui pendekatan spiritual yang sudah ada dan berkembang di masyarakat Pekalongan. Tradisi manakiban yang tumbuh di berbagai kelompok Muslim, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan tarekat-tarekat, menyimpan ajaran-ajaran mulia yang selaras dengan nilai moderasi beragama.

Manakiban berasal dari kata manaqib, yang bermakna cerita-cerita atau biografi para wali dan ulama terkemuka, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Aktivitas manakiban umumnya dilakukan melalui pengajian, zikir, dan bacaan kisah-kisah teladan tokoh Sufi yang dikenal dengan moralnya yang luhur, toleran, dan rendah hati dalam Islam. Dalam komunitas Muslim tradisional, termasuk di Pekalongan, manakib telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem sosial dan budaya. Ia bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai sarana penguatan sosial, pelestarian adat, dan simbol identitas kelompok. Pelaksanaan manakib di Majalengka, seperti di daerah lain, dilakukan dalam bentuk majelis keluarga, komunitas RT/RW, hingga tingkat pesantren atau masjid desa, dan biasanya dikaitkan dengan peringatan hari besar Islam atau haul ulama.

Baca juga: Tradisi Pasar Jajan dalam Menjaga Keberagaman dan Persatuan Antarumat Beragama Pada Peringatan 17 Agustus di Pekalongan

Manakib tidak hanya menyampaikan cerita-cerita inspiratif, tetapi juga berfungsi sebagai medium penyebaran nilai-nilai sufistik seperti zuhud, tawakal, sabar, ikhlas, dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya. Dalam bidang pendidikan spiritual, manakib berperan sebagai metode pembentukan karakter melalui teladan, yaitu dengan meniru kehidupan dan akhlak para wali. Lebih lanjut, manakib membantu menciptakan suasana batin yang religius dan introspektif. Saat masyarakat mengikuti bacaan manakib, mereka secara tidak langsung masuk ke ruang simbolik yang memperkuat ikatan spiritual dengan Tuhan dan ulama.

Dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan seperti Pekalongan, tradisi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan spiritual, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai ideologis dan kultural. Salah satu bentuk tradisi yang masih bertahan hingga sekarang adalah manakib, yaitu bacaan kisah-kisah teladan para wali, terutama Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang telah menjadi bagian dari ritual keagamaan yang hidup di masyarakat Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Nalar Kritis Pemikiran Gus Baha

Tradisi manakib bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga alat pendidikan karakter dan moral. Melalui bacaan manakib, masyarakat diperkenalkan pada figur-figur yang hidupnya mencerminkan nilai-nilai tawadhu’ (rendah hati), tasamuh (toleransi), ta’awun (tolong-menolong) dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di Pekalongan, banyak pesantren dan tokoh agama yang terus menjaga tradisi ini, bahkan menjadikannya bagian dari kurikulum pembinaan akhlak santri. Ulama juga bertindak sebagai pembawa budaya, yang menekankan pentingnya spiritualitas dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan demikian, manakib tidak hanya bertahan sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi dakwah kultural yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Namun demikian, kelangsungan tradisi manakib dihadapkan pada tantangan masa kini, seperti pengaruh kelompok puritan yang memandang manakib sebagai bidah, dampak gaya hidup individualistik yang mengurangi partisipasi sosial, serta kemajuan teknologi digital yang mengalihkan perhatian generasi muda dari tradisi keagamaan lokal.

Baca juga: Saat Doa Bertemu Adat: Merajut Harmoni di Tanah Pusaka

 Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah revitalisasi dan inovasi dalam pengembangan tradisi manakib. Pemerintah daerah bersama lembaga keagamaan diharapkan dapat berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara. Pengemasan manakib dalam format digital seperti video dakwah, narasi kisah inspiratif di media sosial, atau konten edukasi berbasis aplikasi, bisa menjadi strategi untuk menjangkau generasi muda tanpa kehilangan esensi nilainya. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang dampak manakib terhadap perilaku keagamaan, sosial, dan ideologis masyarakat, sehingga kontribusi tradisi ini dalam membentuk masyarakat yang religius dan moderat dapat dibuktikan secara ilmiah dan dijadikan acuan dalam kebijakan keagamaan yang inklusif.

Gus Mus: Sang Kyai yang Memeluk Bumi Dan Nurani

Penulis: Faliqul Isbah*, Penyunting: Muslimah

Di tengah deru modernitas yang sering kali menempatkan alam sebagai komoditas dan manusia sebagai angka, hadir sebuah suara yang tak berteriak, namun getarannya menembus hingga ke palung nurani. Ialah KH. Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab kita sapa Gus Mus, sosok kyai yang tidak hanya fasih melafalkan teks suci di atas podium, tetapi juga mahir membaca denyut nadi bumi melalui kanvas dan bait-bait puisi. Kehadirannya seolah menjadi oase di tengah padang pasir kebencian, menawarkan kesejukan di saat agama sering kali diseret ke dalam panggung konflik kekuasaan yang gersang.

Bagi Gus Mus, kesalehan spiritual tidak pernah berdiri sendiri di dalam ruang hampa atau terisolasi di balik dinding pesantren yang tebal. Baginya, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah sajadah panjang yang menuntut penghormatan dan penjagaan. Melalui pandangan dunia yang integratif, beliau mengajak kita untuk melihat bahwa merusak alam adalah bentuk pengingkaran terhadap Sang Pencipta, dan menyakiti sesama manusia adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. Inilah esensi dari keberagamaan yang tidak hanya mengejar langit, tapi juga memeluk bumi dengan penuh kasih.

Pendekatan beliau yang “lembut” bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi diplomasi hati yang luar biasa kuat. Di saat banyak orang memilih pedang untuk membela Tuhan, Gus Mus justru memilih kuas lukis dan pena sastra untuk membela hamba-hamba-Nya. Estetika yang beliau tawarkan mampu meluruhkan sekat-sekat ego yang kaku, mengubah kemarahan menjadi perenungan, dan mengganti penghakiman dengan dialog yang memanusiakan. Sastra dan seni di tangan beliau menjadi jembatan yang menghubungkan realitas ketuhanan dengan realitas sosial yang sering kali retak.

Artikel ini mencoba menelusuri lebih dalam bagaimana konsep “Memeluk Bumi dan Nurani” bukan sekedar metafora indah, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam yang kontekstual dan humanis. Kita akan melihat bagaimana Gus Mus mengonstruksi pemahaman bahwa menjaga ekologi dan menegakkan hak asasi manusia adalah dua sisi dari keping mata uang yang sama. Di tangan sang Kyai, agama kembali pada fitrahnya sebagai rahmat, bukan sebagai sekat, sebagai penyembuh luka semesta, bukan sebagai penabur garam di atas duka lara dunia.

Melalui empat pilar pembahasan utama, kita akan menyelami kedalaman pemikiran beliau, mulai dari semangat ekosufisme yang menjaga kelestarian hayati, hingga pembelaan konsistennya terhadap kaum yang terpinggirkan. Membedah pemikiran Gus Mus berarti belajar kembali cara menjadi manusia yang utuh, yang mampu bersujud dengan khusyuk di hadapan Tuhan, sembari tangan tetap merangkul alam dan mendekap sesama dengan kehangatan nurani yang tak kunjung padam.

Ekosufisme: Spiritualitas yang Membumi

Dalam lanskap pemikiran Gus Mus, agama tidak dipahami sebagai dogma yang melangit dan asing dari realitas material, melainkan sebuah energi spiritual yang membumi dalam rupa Ekosufisme. Konsep ini menegaskan bahwa denyut nadi keberagamaan seseorang seharusnya bergetar selaras dengan nafas alam semesta, sebuah kesadaran bahwa merawat bumi bukanlah sekedar aktivisme lingkungan semata, melainkan manifestasi dari sujud yang paling dalam kepada Sang Pencipta. Melalui kacamata ini, Gus Mus mengajak kita untuk menanggalkan ego antroposentris yang rakus dan menggantinya dengan empati ekologis, di mana setiap jengkal tanah, tetesan air, dan hembusan angin dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis namun wajib dijaga kesuciannya dari tangan-tangan destruktif.

Bagi Gus Mus, alam semesta bukanlah sekedar panggung bisu tempat manusia memuaskan hasrat konsumsinya, melainkan sebuah “Sajadah Hijau” yang terbentang luas tanpa batas. Dalam perspektif ini, setiap rimbun pepohonan, aliran sungai yang jernih, hingga hamparan tanah yang subur, memiliki derajat kesakralan yang setara dengan ruang-ruang ibadah formal. Beliau memposisikan lingkungan sebagai manifestasi nyata dari keagungan Ilahiyah, di mana merusak ekosistem sama hinanya dengan menodai kesucian rumah Tuhan, karena keduanya merupakan tempat manusia bersimpuh dan mengenali hakikat penciptaan.

Relasi antara manusia dan bumi dalam pandangan beliau bukanlah hubungan antara subjek dan objek, melainkan sebuah persaudaraan eksistensial yang diikat oleh ruh yang sama. Ketika Gus Mus berbicara tentang menjaga keasrian lingkungan, beliau sebenarnya sedang mengajak kita untuk melakukan “shalat ekologis”, sebuah bentuk pengabdian yang tidak hanya berhenti pada gerakan ruku dan sujud di dalam masjid, tetapi berlanjut pada tindakan nyata melindungi setiap makhluk hidup. Kesadaran akan “Sajadah Hijau” ini menuntut integritas moral yang tinggi, bahwa iman yang kokoh harus tercermin dari tangan yang menanam, bukan tangan yang merambah hutan demi keuntungan sesaat.

Dengan menjadikan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus berhasil meruntuhkan tembok pemisah antara yang profan dan yang suci. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga kehormatannya layaknya menjaga sebuah amanah besar. Penjagaan terhadap alam bukan lagi sekedar urusan birokrasi atau kebijakan aktivis lingkungan, melainkan sebuah panggilan iman yang mendalam. Di bawah bimbingan nurani yang jernih, kita diajak untuk melihat bahwa dalam setiap tarikan nafas dan keindahan cakrawala, terdapat jejak-jejak Tuhan yang hanya bisa kita rasakan jika kita memperlakukan bumi dengan penuh khidmat dan rasa cinta yang tulus.

Berangkat dari kesadaran akan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus membawa visi ekologis tersebut ke dalam lokus pendidikan yang paling intim, yakni pesantren. Di bawah atap-atap teduh bangunan pesantren, nilai-nilai abstrak tentang penjagaan semesta tidak hanya berhenti menjadi hafalan teks, melainkan diartikulasikan menjadi Fikih Lingkungan yang praktis dan hidup. Di sini, etika ekologi diterjemahkan ke dalam laku keseharian para santri, di mana ketaatan kepada Tuhan diuji melalui cara mereka memperlakukan air yang mereka gunakan untuk bersuci dan tanah yang mereka pijak untuk mengabdi.

Kedisiplinan dalam “Fikih Hijau” ini tampak nyata pada hal-hal yang sering dianggap sepele namun memiliki dampak sistemik, seperti budaya hemat air. Gus Mus sering menekankan bahwa penggunaan air yang berlebihan, bahkan untuk keperluan wudhu sekalipun, adalah bentuk pemborosan yang dibenci agama. Dalam bilik-bilik wudhu, para santri diajarkan untuk memandang setiap tetes air sebagai rezeki yang terbatas, sebuah latihan spiritual untuk mengikis sifat rakus manusia. Pengajaran ini membentuk karakter manusia yang sadar akan keterbatasan sumber daya alam, menanamkan prinsip bahwa kesalehan sejati harus berjalan beriringan dengan efisiensi ekologis.

Lebih jauh lagi, penghormatan terhadap tanaman dan ekosistem di lingkungan pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum cinta yang diajarkan beliau. Santri dididik untuk melihat pohon dan tumbuhan bukan sebagai benda mati, melainkan sesama makhluk yang terus bertasbih kepada Sang Pencipta. Menyakiti dahan pohon tanpa alasan yang benar dipandang sebagai tindakan yang mencederai harmoni alam. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh kasih ini, Gus Mus berhasil menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan, di mana setiap individu yang keluar darinya membawa bekal kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari rukun iman yang diaplikasikan dalam setiap tarikan nafas.

Puncak dari bangunan spiritualitas ekologi Gus Mus adalah keberanian untuk membenturkan nafsu eksploitatif manusia dengan prinsip Qana’ah. Beliau menganalisis bahwa krisis lingkungan yang melanda bumi saat ini bukanlah sekedar masalah kegagalan teknologi atau kebijakan pemerintah, melainkan gejala dari penyakit batin yang kronis, hilangnya rasa syukur. Dalam pandangan beliau, kerusakan hutan, polusi sungai, dan eksploitasi lahan yang brutal berakar dari syahwat kepemilikan yang tak pernah kenyang, di mana manusia merasa menjadi pemilik mutlak semesta, bukan sekedar penjaga atau khalifah yang diberi amanah.

Gus Mus secara tajam mengkritik gaya hidup modern yang menuhankan akumulasi materi tanpa batas. Bagi beliau, beragama yang benar seharusnya melahirkan pengendalian diri (self-control) yang kuat, bukan justru menjadi legitimasi untuk menguasai sumber daya alam secara sepihak. Konsep Qana’ah atau merasa cukup yang beliau tawarkan bukanlah sebuah sikap pasif atau kemalasan, melainkan sebuah bentuk perlawanan radikal terhadap konsumerisme. Merasa cukup adalah sebuah kemenangan spiritual atas keserakahan, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak kita mengambil dari alam, tetapi pada seberapa bijak kita mengelolanya.

Kritik beliau juga menyasar pada hilangnya dimensi asketis dalam praktik beragama kontemporer. Beliau menyayangkan jika simbol-simbol kesalehan hanya tampil di permukaan, sementara perilaku ekonominya tetap destruktif terhadap lingkungan. Gus Mus mengajak kita untuk kembali merenungkan makna syukur yang substantif, bahwa bersyukur atas nikmat oksigen berarti menanam pohon, dan bersyukur atas nikmat air berarti tidak mencemarinya. Tanpa kendali diri yang berakar pada nurani, agama hanya akan menjadi instrumen pemuas ego yang justru mempercepat laju kerusakan bumi yang kita huni.

Pemikiran Gus Mus tentang Qana’ah menjadi antitesis bagi kerakusan korporasi maupun individu yang abai terhadap keberlanjutan masa depan. Beliau menawarkan sebuah “etika kecukupan” sebagai jalan keluar dari kiamat ekologis. Dengan meneladani sikap hidup beliau yang sederhana namun kaya makna, kita diajak untuk menyadari bahwa bumi memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan satu orang saja. Di titik inilah, spiritualitas yang membumi menemukan bentuknya yang paling nyata, sebuah keberanian untuk berkata “cukup” demi lestarinya semesta dan kemanusiaan.

Diplomasi Puisi dan Lukisan: Menyentuh Nurani Tanpa Menghakimi

Beranjak dari komitmen teologis terhadap alam, Gus Mus memperluas spektrum dakwahnya melalui medium yang jauh lebih cair dan universal, yakni Diplomasi Puisi dan Lukisan. Di tangan beliau, kesenian tidak hanya tampil sebagai dekorasi estetik, melainkan bertransformasi menjadi bahasa kalbu yang mampu menembus tembok-tembok dogmatis yang sering kali memisahkan manusia. Melalui goresan kuas yang penuh makna dan bait-bait puisi yang sarat akan kejujuran, Gus Mus melakukan navigasi spiritual untuk menyentuh relung nurani yang paling dalam tanpa sedikit pun kesan menghakimi. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi profetik yang memilih untuk “mengetuk pintu” daripada “mendobrak meja”, membuktikan bahwa keindahan sering kali memiliki kekuatan persuasif yang jauh lebih dahsyat daripada sekedar deretan argumen yang kaku dan penuh amarah.

Dalam kanvas-kanvas Gus Mus, Garis dan Warna yang Meluruhkan Sekat bukan sekedar ungkapan artistik, melainkan sebuah jembatan visual yang melintasi jurang perbedaan identitas. Saat bahasa verbal sering kali terjebak dalam sekat-sekat sektarian dan terminologi yang memicu perdebatan, bahasa rupa beliau justru hadir dengan kejujuran yang telanjang. Lukisan-lukisannya menjadi ruang pertemuan yang inklusif, di mana mereka yang berbeda iman, ideologi, maupun latar belakang sosial dapat duduk bersama dan menemukan titik temu dalam apresiasi keindahan yang bersifat universal.

Kekuatan diplomasi rupa ini terletak pada kemampuannya untuk mengomunikasikan pesan-pesan kemanusiaan yang sering kali terlalu berat jika disampaikan lewat khotbah formal. Gus Mus menggunakan sapuan warna yang intuitif untuk menggambarkan realitas sosial, mulai dari potret rakyat kecil yang tulus hingga kritik terhadap keangkuhan kekuasaan, dengan cara yang lembut namun menggugah. Di titik inilah, lukisan beliau melampaui batasan linguistik, ia tidak memerlukan terjemahan bahasa untuk dipahami, karena nurani manusia memiliki frekuensi yang sama saat berhadapan dengan keindahan dan kebenaran yang tulus.

Melalui medium ini, Gus Mus membuktikan bahwa seni adalah “bahasa ibu” kemanusiaan yang mampu meruntuhkan tembok prasangka. Ketika seseorang menatap karya beliau, yang mereka lihat bukanlah identitas seorang kyai dari kalangan tertentu, melainkan cerminan dari jiwa yang mencintai perdamaian. Goresan kuasnya tidak mendikte, melainkan mengajak penikmatnya untuk berdialog dengan diri sendiri, meluruhkan ego kelompok, dan akhirnya menyadari bahwa di balik segala atribut lahiriah, kita semua menghuni rumah batin yang sama.

Jika lukisan adalah jembatan visual, maka puisi-puisi Gus Mus adalah “Cermin Retak” masyarakat yang sengaja diletakkan di hadapan kita untuk menyingkap keganjilan-keganjilan sosial. Dalam bait-bait sastranya, beliau tidak menggunakan kata-kata sebagai martil untuk memukul kepala lawan bicara, melainkan sebagai pisau bedah yang sangat halus untuk menyayat lapisan kemunafikan yang kerap menyelimuti perilaku kolektif kita. Sastra di tangan Gus Mus menjadi alat autokritik yang memaksa setiap pembaca untuk berhenti menunjuk telunjuknya ke arah orang lain dan mulai berani menatap pantulan wajah batinnya sendiri yang mungkin penuh debu.

Narasi sastra yang beliau bangun selalu memiliki daya magis untuk membungkus kritik tajam dalam balutan diksi yang jenaka namun getir. Beliau sering kali menyindir fenomena keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, sementara esensi kemanusiaan terabaikan. Melalui metafora yang akrab dengan keseharian, puisi beliau mengajak kita merenung, apakah kita sedang membela Tuhan, atau sebenarnya hanya sedang memuja ego kita sendiri yang dibungkus dengan jubah agama? Kekuatan “Cermin Retak” ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa tersindir tanpa merasa dihina, sebuah metode persuasif yang melahirkan kesadaran emosional daripada pembangkangan intelektual.

Puisi-puisi tersebut berfungsi sebagai terapi sosial untuk menyembuhkan penyakit “merasa paling benar” yang kian mewabah. Gus Mus mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki keberanian untuk mengakui kerapuhannya sendiri. Dengan membaca karya sastranya, kita tidak sedang didikte untuk menjadi orang lain, melainkan diajak untuk “pulang” ke dalam kejujuran nurani. Inilah bentuk diplomasi sastra yang paripurna, sebuah kritik yang tidak menyisakan luka kemarahan, melainkan menyemai benih kerendahan hati untuk memperbaiki retakan-retakan dalam cermin kehidupan bersama.

Puncak dari diplomasi seni Gus Mus bermuara pada sebuah paradigma yang kita sebut sebagai Estetika Dakwah: Mengajak tanpa Mengejek. Dalam ruang publik yang sering kali bising dengan orasi yang penuh penghakiman, beliau memilih jalur sunyi yang indah, menyampaikan kebenaran melalui pintu estetika. Bagi Gus Mus, dakwah bukanlah sebuah ajang untuk menunjukkan supremasi moral atau memamerkan keshalehan pribadi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menaburkan benih kebaikan dengan cara yang paling terhormat, sehingga nurani penerimanya terbuka secara sukarela tanpa merasa terancam atau direndahkan.

Metode ini berakar pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecintaan alami terhadap keindahan. Ketika sebuah pesan moral dibungkus dengan bahasa sastra yang memukau atau goresan lukisan yang menyentuh, ego defensif manusia cenderung meluruh. Gus Mus memahami bahwa kritik yang disampaikan dengan amarah sering kali hanya akan melahirkan pembangkangan, namun ajakan yang disampaikan dengan kelembutan estetis akan meresap seperti air yang membasahi tanah kering. Di sinilah letak kecerdasan emosional beliau, mengganti diksi yang memukul dengan diksi yang merangkul, serta mengubah narasi yang memisahkan menjadi narasi yang menghubungkan.

Lebih jauh lagi, estetika dakwah ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap martabat kemanusiaan. Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai guru yang berdiri di atas mimbar tinggi sementara audiensnya dianggap sebagai pendosa di bawah. Sebaliknya, beliau sering kali menggunakan metafora “kita”, sebuah kata ganti yang meruntuhkan hierarki dan menempatkan beliau dalam gerbong yang sama dengan pembaca atau pendengarnya. Dengan cara ini, pesan-pesan beliau tidak terasa seperti “serangan” dari luar, melainkan seperti “bisikan” dari dalam nurani sendiri, yang mengajak untuk kembali pada jalur kearifan tanpa harus menyisakan luka rasa malu.

Gaya dakwah Gus Mus membuktikan bahwa keindahan adalah instrumen perubahan sosial yang paling tangguh. Beliau telah berhasil mengembalikan wajah agama yang ramah, yang tidak perlu berteriak untuk didengar, dan tidak perlu mencaci untuk dihormati. Estetika dakwah ini adalah sebuah antitesis terhadap radikalisme verbal yang kian marak, sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap pesan ketuhanan adalah untuk memanusiakan manusia. Di tangan beliau, agama kembali menjadi oase yang menyejukkan, di mana setiap jiwa merasa diterima, dihargai, dan perlahan dibimbing menuju cahaya tanpa harus merasa dikecilkan.

Pada akhirnya, warisan pemikiran Gus Mus adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk kembali pulang ke rumah nurani yang jernih sebagai solusi atas segala krisis peradaban. Dengan memadukan etika kecukupan (qana’ah) dan empati yang inklusif, kita diajak untuk melihat bahwa merawat bumi dan membela mereka yang terpinggirkan adalah satu nafas ibadah yang tak terpisahkan. Melalui teladan beliau, kita belajar bahwa di balik segala riuh rendah perbedaan dan kecanggihan teknologi, perdamaian dunia yang abadi hanya bisa tumbuh dari hati yang telah selesai dengan egonya sendiri. Meneladani Gus Mus berarti berani untuk terus menenun cinta di atas retakan-retakan perbedaan, demi lestarinya semesta dan tegaknya nurani kemanusiaan yang abadi.

*Dosen UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam

Penulis: Ulwi Albab*, Penyunting: Nafis Mahrusah

Di tengah deru industrialisasi yang kian bising, manusia modern seringkali kehilangan kemampuan untuk “mendengar” bisikan alam. Kita cenderung memandang hutan, sungai, dan pegunungan hanya sebagai tumpukan komoditas yang siap dikonversi menjadi angka-angka ekonomi. Padahal, dalam tradisi spiritual yang mendalam, alam semesta bukan sekedar objek mati, ia adalah cermin besar yang memantulkan keindahan dan keagungan Sang Pencipta. Menjaga alam, dengan demikian, bukanlah sekedar isu aktivisme lingkungan semata, melainkan sebuah laku spiritual yang fundamental.

Dalam diskursus Islam, alam semesta kerap dijuluki sebagai ayat kauniyah, ayat-ayat yang tidak tertulis namun terpampang nyata di hamparan cakrawala. Jika Al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang dibaca dengan lisan, maka alam adalah kalam Tuhan yang dibaca dengan mata hati. Setiap helai daun yang jatuh dan setiap tetes hujan yang membasahi bumi sejatinya membawa pesan tentang keteraturan, kasih sayang, dan keberlanjutan yang telah dirancang dengan presisi oleh tangan Ilahi. Mengabaikan kerusakan alam berarti kita sedang menutup mata terhadap lembaran-lembaran wahyu yang nyata.

Paradigma ini membawa kita pada sebuah konsep yang kita sebut sebagai “Suluk Ekologi”. Kata suluk dalam tradisi sufisme merujuk pada sebuah perjalanan menempuh jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konteks lingkungan, suluk ekologi bermakna bahwa setiap upaya kita untuk memungut sampah, menanam pohon, atau menghemat air adalah langkah-langkah kaki ruhani. Kita tidak lagi merawat bumi karena takut akan bencana iklim semata, melainkan karena kita sedang meniti jalan cinta menuju perjumpaan dengan Pemilik alam semesta.

Namun, realitas hari ini menunjukkan adanya keretakan hubungan yang tajam antara manusia dan lingkungan. Krisis ekologis yang kita hadapi saat ini, mulai dari pemanasan global hingga kepunahan biodiversitas, sebenarnya adalah cerminan dari krisis spiritualitas manusia. Ketika manusia merasa sebagai tuan yang absolut atas bumi, mereka kehilangan rasa ihsan atau kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap interaksi makhluk. Di sinilah relevansi menafsirkan kembali pesan-pesan Al-Qur’an sebagai panduan untuk memulihkan hubungan yang retak tersebut.

Artikel ini akan mengajak kita untuk menyelami lebih dalam bagaimana nilai-nilai Qur’ani dapat menjadi kompas dalam melakukan konservasi berbasis iman. Kita akan mengeksplorasi bagaimana alam berbicara sebagai kitab terbuka, peran air dan tanah sebagai simbol kehidupan, hingga mandat keseimbangan (Al-Mizan) yang harus dijaga. Melalui suluk ekologi, kita diajak untuk menemukan kembali jejak-jejak Tuhan yang tertinggal di antara pepohonan dan aliran sungai, demi memastikan bahwa kelestarian alam adalah nafas panjang bagi keberlangsungan iman dan kehidupan.

Ayat Kauniyah: Alam sebagai “Kitab Terbuka” yang Berbicara

Sejatinya, wahyu Tuhan tidaklah berhenti pada baris-baris teks yang terukir di atas lembaran kertas, melainkan terus mengalir melalui setiap denyut kehidupan di alam raya. Alam semesta adalah sebuah “perpustakaan agung” yang tidak bersuara namun sangat bising dengan pesan-pesan ketuhanan bagi mereka yang mampu menggunakan mata batinnya. Dalam perspektif ini, bentangan langit yang tanpa tiang, pergantian musim yang presisi, hingga simfoni kehidupan di kedalaman samudera adalah bait-bait ayat kauniyah yang menuntut untuk dibaca, direnungi, dan dijaga kesuciannya. Membiarkan alam hancur bukan sekedar kegagalan ekologis, melainkan sebuah bentuk “buta aksara” spiritual terhadap tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta yang terpampang nyata di hadapan kita.

Dalam kesunyian hutan atau keriuhan ekosistem terumbu karang, sebenarnya sedang berlangsung sebuah konser pujian yang kolosal dan tak pernah jeda. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi senantiasa melantunkan sanjungan kepada Sang Pencipta, meski telinga lahiriah manusia seringkali gagal menangkap frekuensinya. Dari pusaran elektron yang mengelilingi inti atom hingga tarian galaksi di ruang hampa, setiap entitas bergerak dalam ritme kepatuhan yang tunduk pada hukum Ilahi. Keberadaan alam semesta bukanlah sekedar dekorasi fisik, melainkan sebuah simfoni tasbih yang agung, di mana setiap makhluk memiliki cara uniknya sendiri untuk mengakui kebesaran Sang Arsitek Kehidupan.

Ketika kita menyadari bahwa setiap helai daun dan setiap tetes air adalah instrumen yang sedang memuji Tuhan, maka paradigma kita terhadap lingkungan akan berubah secara drastis. Alam bukan lagi sekedar objek eksploitasi atau latar belakang bagi aktivitas manusia, melainkan sesama “pendamba” yang memiliki hak untuk beribadah dalam ketenangan ekosistemnya. Kesadaran ini menuntun kita pada pemahaman bahwa setiap bentuk perusakan lingkungan, seperti penebangan liar yang membabi buta atau pencemaran sungai yang mematikan kehidupan di dalamnya, adalah tindakan pemutusan paksa terhadap untaian tasbih alam tersebut. Kita tidak hanya sedang menghancurkan sumber daya, tetapi juga sedang merobek harmoni spiritual yang telah tertata rapi sejak fajar penciptaan.

Oleh karena itu, suluk ekologi dalam konteks ini adalah upaya sadar manusia untuk menjaga agar “suara” tasbih semesta ini tetap bergaung tanpa gangguan. Merawat kelestarian alam berarti kita sedang membiarkan simfoni pujian tersebut terus mengangkasa, sekaligus menyelaraskan diri kita ke dalam orkestra syukur yang sama. Menjadi pelindung lingkungan adalah bentuk nyata dari keberpihakan kita pada kesucian ibadah makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dengan menjaga hutan tetap hijau dan laut tetap biru, kita sejatinya sedang memastikan bahwa bumi tetap menjadi tempat suci di mana puji-pujian kepada Tuhan tidak pernah padam oleh tangan-tangan yang serakah.

Alam semesta sejatinya adalah sebuah bahasa tanpa suara, di mana Tuhan menuliskan sifat-sifat-Nya melalui fenomena yang kita saksikan setiap hari. Pergantian siang dan malam, misalnya, bukan sekedar peristiwa rotasi planet yang mekanistis, melainkan sebuah tarian simbolik tentang harapan dan ketenangan. Di dalam gelapnya malam, tersimpan rahasia As-Sattar (Maha Menutupi), tempat bagi jiwa-jiwa untuk beristirahat dan memulihkan diri. Sementara itu, fajar yang menyingsing adalah manifestasi dari sifat Al-Fattah (Maha Pembuka), yang mengingatkan manusia bahwa rahmat Tuhan selalu datang setelah masa-masa sulit. Melalui fenomena ini, alam bertindak sebagai medium komunikasi antara Yang Maha Absolut dengan makhluk-Nya yang relatif.

Lebih jauh lagi, siklus awan dan hujan merupakan metafora visual yang paling nyata dari sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih). Ketika gumpalan uap air berkumpul di angkasa lalu jatuh membasahi tanah yang gersang, di sana kita melihat bagaimana Tuhan menyapa kehidupan yang hampir layu. Hujan bukan hanya proses presipitasi kimiawi, melainkan “surat cinta” dari langit yang membuktikan bahwa kasih sayang Tuhan meliputi segala sesuatu, bahkan hingga ke akar rumput yang paling tersembunyi. Setiap tetesan air membawa pesan bahwa keberlanjutan hidup di bumi ini sangat bergantung pada skenario-Nya yang Maha Halus, menuntut kita untuk merenungi betapa kecilnya manusia di hadapan kemurahan hati yang tak terbatas.

Dengan membaca simbolisme Ilahi ini, seorang Muslim yang melakukan “Suluk Ekologi” akan memandang alam dengan rasa takjub yang berujung pada rasa hormat (reverence). Fenomena alam tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan materi hampa, melainkan sebagai alfabet ketuhanan yang harus dijaga agar maknanya tidak hilang. Merusak siklus alam, seperti mengganggu stabilitas iklim atau mencemari atmosfer, secara spiritual berarti kita sedang mengaburkan pesan-pesan keindahan Tuhan yang ingin disampaikan melalui alam raya. Menjaga kelestarian fenomena ini adalah upaya untuk membiarkan “suara” sifat-sifat Tuhan tetap terbaca jelas oleh generasi mendatang, menjadikan bumi sebagai tempat di mana kehadiran Ilahi dapat dirasakan dalam setiap hembusan angin dan kilatan cahaya.

Memasuki gerbang literasi ekospiritual berarti kita sedang melampaui kemampuan membaca teks-teks verbal menuju kemampuan membaca denyut nadi semesta. Selama ini, pendidikan kita sering kali memisahkan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan terhadap lingkungan, seolah keduanya berada di kutub yang berbeda. Namun, dalam kerangka suluk ekologi, kepekaan terhadap penderitaan bumi, seperti merasakan “sakitnya” tanah yang mengeras atau “sesaknya” udara yang terpolusi, adalah bentuk kecerdasan spiritual yang paripurna. Ini adalah kemampuan untuk menangkap frekuensi wahyu yang tidak tertulis, sebuah literasi batin yang mampu menerjemahkan bahasa alam ke dalam tindakan nyata yang penuh kasih.

Seseorang yang memiliki literasi ekospiritual tidak akan melihat sebatang pohon hanya sebagai tumpukan kayu, melainkan sebagai entitas hidup yang sedang menjalankan mandat ketuhanan. Ia menyadari bahwa keberlanjutan hidupnya secara biologis dan spiritual saling berkelindan dengan kesehatan ekosistem di sekelilingnya. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai “kecerdasan profetik dalam lingkungan”. Di mana setiap interaksi dengan alam dilakukan dengan penuh adab, sebagaimana seseorang yang sedang membolak-balik lembaran kitab suci dengan penuh kehati-hatian agar tidak ada satu pun huruf yang rusak atau ternoda.

Lebih jauh lagi, literasi ini menuntut kita untuk menjadi “penerjemah” bagi suara-suara alam yang selama ini terabaikan. Di tengah kebisingan modernitas, suara alam seringkali terkubur oleh ego manusia yang merasa sebagai penguasa tunggal. Dengan mengasah kecerdasan ekospiritual, manusia kembali memposisikan dirinya sebagai murid di sekolah alam yang agung. Kita belajar tentang kesabaran dari bebatuan yang kokoh, tentang kedermawanan dari matahari yang tak pernah menagih balas, dan tentang ketundukan dari aliran air yang selalu mencari tempat terendah. Pembelajaran ini bukan hanya memperluas wawasan ekologis, tetapi juga memperdalam akar keimanan di dalam jiwa.

Literasi ekospiritual adalah kunci utama untuk mengakhiri buta aksara kita terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan di bumi. Ketika kecerdasan ini telah menghujam dalam sanubari, menjaga kelestarian lingkungan bukan lagi dirasakan sebagai beban moral atau tuntutan regulasi semata, melainkan sebuah kebutuhan spiritual yang mendesak. Kita menjaga alam karena kita mengerti maknanya, kita merawat bumi karena kita mampu membaca pesan-pesan suci yang tertitip di dalamnya. Inilah puncak dari pengenalan kita kepada Sang Pencipta melalui jejak-jejak-Nya yang terpampang nyata, menjadikan setiap langkah kaki kita di atas tanah sebagai bentuk ibadah yang penuh kesadaran.

Teologi Air dan Tanah: Simbol Kehidupan dan Kerendahan Hati

Memasuki relung pembahasan kedua, kita akan menyelami dua elemen paling purba yang menjadi fondasi eksistensi makhluk di muka bumi, yaitu: air dan tanah. Dalam kosmologi Islam, keduanya bukan sekedar materi fisik yang membentuk bentang alam, melainkan saksi bisu sekaligus bahan baku dari drama penciptaan manusia itu sendiri. Teologi air dan tanah mengajak kita untuk menanggalkan jubah keangkuhan dan kembali merenungi hakikat diri yang berawal dari setetes cairan yang hina serta segumpal tanah yang rendah. Dengan memahami spiritualitas kedua elemen ini, kita tidak hanya belajar tentang biologi kehidupan, tetapi juga tentang falsafah kerendahan hati yang menuntut kita untuk memperlakukan setiap jengkal tanah dan setiap tetes air dengan rasa hormat yang mendalam, seolah kita sedang menyentuh asal-usul jiwa kita sendiri.

Dalam kacamata sains, air mungkin hanya dipahami sebagai ikatan kimia H2O, sebuah molekul sederhana yang bergerak dalam siklus hidrologi. Namun, bagi seorang peniti jalan suluk ekologi, air adalah “rahmat yang cair”, sebuah entitas suci yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai kunci kehidupan yang diturunkan dengan presisi yang menakjubkan. Tuhan tidak menurunkan hujan secara acak atau dalam jumlah yang membabi buta, melainkan dengan qadar atau ukuran tertentu yang selaras dengan daya tampung bumi. Air adalah bukti nyata bagaimana langit menyapa bumi yang gersang, mengubah tanah yang mati menjadi hamparan permadani hijau yang penuh dengan kehidupan.

Keajaiban siklus air ini mengajarkan kita tentang konsep keadilan dan keterukuran Ilahi. Setiap tetes air yang jatuh membawa mandat untuk menghidupkan, namun ketika manusia merusak keseimbangan alam, seperti menggunduli hutan atau menutup pori-pori tanah dengan semen, rahmat tersebut bisa berubah menjadi bencana. Di sinilah letak pesan spiritualnya, air adalah amanah. Memahami air sebagai rahmat yang terukur berarti kita harus menggunakannya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab, bukan dengan mentalitas pemborosan. Menghargai setiap tetes air berarti kita sedang menghormati cara Tuhan memelihara kelangsungan hidup seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, dalam perspektif teologi hijau, menjaga kelestarian sumber daya air adalah bentuk ibadah yang nyata. Kita diajak untuk melihat sungai dan mata air bukan sebagai tempat pembuangan limbah, melainkan sebagai “pembuluh darah” bumi yang harus dijaga kesuciannya. Ketika kita berupaya memulihkan daerah aliran sungai atau menabung air hujan ke dalam tanah, kita sejatinya sedang membantu menjaga agar “nadi” kehidupan ini tetap berdenyut sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Dengan demikian, konservasi air adalah tindakan menyelaraskan diri dengan irama rahmat Tuhan, memastikan bahwa negeri yang kita tempati tetap hidup dan terberkati oleh kesucian air yang mengalir.

Sejatinya, ada ikatan emosional dan biologis yang tak terputus antara raga manusia dengan hamparan tanah yang ia injak. Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan bahwa manusia dibentuk dari tanah, sebuah materi yang sering kali dianggap rendah namun menjadi rahim bagi segala bentuk kehidupan. Tanah bukan sekedar hamparan pijakan, melainkan “ibu biologis” yang menyediakan nutrisi bagi setiap sel dalam tubuh kita melalui hasil buminya. Dengan menyadari bahwa diri kita adalah tanah yang berjalan, setiap langkah kita di atas bumi seharusnya menjadi pengingat akan kerendahan hati, bahwa kita berasal dari elemen yang bersahaja dan akan kembali bersatu dengan kebersahajaan tersebut.

Paradoks manusia modern adalah kecenderungannya untuk “berkhianat” pada asal-usulnya sendiri. Ketika kita mencemari tanah dengan residu kimia yang mematikan atau merusaknya demi ambisi pertambangan yang tak terkendali, kita sebenarnya sedang melakukan perusakan terhadap jati diri kemanusiaan kita. Merusak tanah adalah bentuk pengingkaran terhadap substansi pembentuk jiwa dan raga. Secara spiritual, tanah yang ternoda adalah cerminan dari nurani yang mulai kehilangan arah. Bagaimana mungkin manusia bisa merasa mulia sementara ia menghancurkan elemen yang menjadi sumber keberadaannya sendiri? Dalam perspektif suluk ekologi, merawat kesuburan tanah adalah upaya untuk menjaga kehormatan asal-usul kita.

Oleh karena itu, memperlakukan tanah dengan penuh adab merupakan manifestasi dari jiwa yang telah mengenal dirinya (ma’rifatun nafs). Menjaga tanah agar tetap murni dari racun dan kerusakan bukan hanya isu pertanian atau geologi, melainkan sebuah laku spiritual untuk memelihara kesucian “bahan baku” penciptaan manusia. Manusia yang sadar akan filosofi tanah tidak akan bertindak angkuh di muka bumi, ia akan berjalan dengan lembut, memastikan setiap jejak kakinya tidak meninggalkan luka pada kulit bumi. Dengan menjaga kelestarian tanah, kita sejatinya sedang merawat martabat kemanusiaan dan memastikan bahwa rahim kehidupan ini tetap mampu melahirkan kebaikan bagi generasi-generasi yang akan datang.

Di era yang mendewakan konsumerisme massal, konsep zuhud sering kali disalahpahami sebagai pelarian dari dunia. Padahal, dalam konteks suluk ekologi, zuhud adalah sebuah kecerdasan dalam mengatur keinginan agar tidak melampaui kebutuhan dasar yang disediakan oleh alam. Kesadaran bahwa sumber daya air dan tanah memiliki titik jenuh dan keterbatasan adalah tamparan bagi ego manusia yang cenderung eksploitatif. Zuhud ekologis mengajarkan kita untuk melihat setiap sumber daya bukan sebagai milik pribadi yang boleh dikuras habis, melainkan sebagai titipan yang harus digunakan secara efisien dan penuh perhitungan demi keadilan antargenerasi.

Praktik zuhud ini bermula dari meja makan dan kran air kita sendiri. Gaya hidup yang bersahaja merupakan bentuk protes paling sunyi namun paling tajam terhadap sistem ekonomi yang rakus. Ketika seseorang memilih untuk tidak membuang-buang makanan atau membatasi penggunaan air seminimal mungkin, ia sedang mempraktikkan sebuah laku spiritual yang tinggi. Ia menyadari bahwa di balik setiap butir nasi dan setiap tetes air bersih, terdapat kerja keras alam dan izin Ilahi yang tidak boleh dikhianati oleh perilaku boros (tabdzir). Di sini, kesederhanaan bukan berarti kemiskinan, melainkan sebuah kemewahan spiritual di mana seseorang merasa “cukup” dengan apa yang ada.

Lebih jauh lagi, laku zuhud menuntun manusia untuk melepaskan ketergantungan pada pemuasan materi yang merusak ekosistem. Dengan membatasi konsumsi, kita secara otomatis mengurangi beban polusi dan sampah yang harus ditanggung oleh tanah dan sungai. Inilah inti dari tidak bertindak eksploitatif, kita mengambil dari alam hanya sebesar apa yang kita butuhkan untuk bertahan hidup dan beribadah, bukan sebesar apa yang diinginkan oleh nafsu keserakahan. Gaya hidup ini menciptakan ruang bagi alam untuk memulihkan dirinya sendiri, sebuah tindakan kasih sayang yang nyata dari seorang hamba terhadap rumah besar tempatnya bernaung.

Dengan demikian, menjadikan zuhud sebagai gaya hidup ekologis adalah upaya untuk mengembalikan martabat manusia sebagai makhluk yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dengan hidup bersahaja, kita sedang membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada akumulasi materi yang mengorbankan kelestarian bumi, melainkan pada ketenangan jiwa yang selaras dengan irama semesta. Langkah-langkah kecil dalam penghematan sumber daya adalah wujud dari “puasa ekologis” yang melatih jiwa agar tetap rendah hati dan tahu diri. Melalui zuhud, kita menemukan bahwa dengan memiliki lebih sedikit beban pada alam, kita justru memiliki lebih banyak ruang untuk kedekatan dengan Sang Pencipta.

Sujud Di Atas Bumi Yang Luka: Membumikan Moderasi Beragama Lewat Ekoteologi

Penulis: Ahmad Farhan*, Penyunting: Muslimah

Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja, ia tengah mengerang dalam diam di balik gemuruh kemajuan peradaban. Hutan yang kian meranggas, sungai yang tersumbat limbah, hingga suhu udara yang kian menyengat adalah saksi bisu betapa “rahim” kehidupan ini sedang terluka parah. Ironisnya, di tengah keriuhan manusia mendaki tangga spiritualitas dan kesalehan ritual, jejak kaki yang mereka tinggalkan di atas bumi justru seringkali berupa kerusakan. Ada jarak yang lebar antara dahi yang bersujud di atas sajadah dengan tangan yang membiarkan alam hancur perlahan, seolah-olah pengabdian kepada Tuhan bisa dipisahkan dari tanggung jawab menjaga ciptaan-Nya.

Luka bumi ini pada hakikatnya adalah cerminan dari krisis iman yang akut. Selama berabad-abad, tafsir keagamaan sering kali terjebak dalam antroposentrisme yang sempit, sebuah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak yang boleh menguras isi alam sesuka hati. Agama kerap hanya dipahami sebagai urusan privat antara hamba dan Sang Pencipta atau sekedar harmoni antarmanusia. Padahal, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah “masjid” besar yang menuntut penghormatan dan kasih sayang, sebagaimana kita menghormati tempat ibadah yang bersifat fisik.

Di sinilah Ekoteologi hadir sebagai tawaran segar untuk menjembatani jurang pemisah tersebut. Ekoteologi bukan sekedar cabang ilmu baru, melainkan sebuah cara beragama yang “bernafas” bersama alam. Ia mengajak kita untuk membaca kembali teks-teks suci tidak hanya dengan mata batin, tetapi juga dengan kepedulian ekologis. Melalui lensa ini, merawat lingkungan bukan lagi dianggap sebagai hobi sampingan atau gerakan aktivisme sekuler, melainkan merupakan manifestasi tertinggi dari iman yang hidup dan kontekstual di tengah ancaman krisis iklim global.

Lebih jauh lagi, gagasan ini bertemu dengan semangat Moderasi Beragama yang sedang digaungkan secara masif. Jika selama ini moderasi beragama sering kali hanya dimaknai sebagai titik temu (kalimatun sawa) antar-iman dalam dimensi sosial, maka sudah saatnya konsep tersebut diperluas cakupannya. Moderasi yang sejati tidak boleh bersifat egois, ia harus mencakup moderasi ekologis. Sikap moderat berarti menolak segala bentuk ekstremisme, termasuk ekstremisme dalam mengeksploitasi sumber daya alam yang melampaui batas kewajaran dan daya dukung bumi.

Artikel ini hendak mengeksplorasi bagaimana “Sujud di Atas Bumi yang Luka” menjadi sebuah panggilan baru bagi insan beragama untuk membumikan nilai-nilai moderasi. Kita akan membedah bagaimana ekoteologi mampu mengubah wajah agama yang kaku menjadi gerakan penyelamatan yang nyata. Dengan mengintegrasikan kesalehan ritual dan kesalehan ekologis, moderasi beragama tidak lagi hanya menjadi diskusi di ruang-ruang seminar, melainkan menjelma menjadi aksi hijau yang menyembuhkan luka bumi sekaligus mengukuhkan martabat manusia sebagai penjaga alam yang beradab.

Diagnosis “Bumi yang Luka”: Krisis Ekologi sebagai Krisis Iman

Kerusakan alam yang kita saksikan hari ini, mulai dari memanasnya suhu global hingga kepunahan spesies yang sunyi, bukanlah sekedar kegagalan sistem teknokrasi atau kesalahan manajemen sumber daya, melainkan sebuah sinyal merah atas terjadinya disorientasi spiritual dalam diri manusia. Ketika bumi mulai “berteriak” lewat bencana yang beruntun, ia sebenarnya sedang memantulkan bayangan iman kita yang sedang tidak stabil, sebuah kondisi di mana manusia merasa menjadi pemilik mutlak atas semesta, bukan lagi seorang penjaga yang amanah. Menelaah diagnosis “bumi yang luka” memaksa kita untuk mengakui bahwa setiap lubang tambang yang menganga dan setiap kepul asap polusi yang mencekik langit adalah manifestasi dari lubang-lubang hitam di dalam jiwa yang telah kehilangan rasa hormat terhadap ayat-ayat Tuhan yang terhampar luas di alam semesta.

Selama ini, kita sering kali terjebak dalam angka-angka dingin saat membicarakan krisis iklim, kenaikan suhu sekian derajat celsius, konsentrasi karbon sekian part per million, atau luas deforestasi sekian hektar. Namun, dalam kacamata ekoteologi, angka-angka tersebut adalah abstraksi yang sering kali menumpulkan kepekaan nurani kita. Padahal, di balik statistik yang kaku itu, terdapat sebuah “anatomi luka” yang nyata, sebuah jeritan kolektif dari ciptaan Tuhan yang kehilangan rumahnya. Ketika gletser mencair dan permukaan laut naik, itu bukan sekedar reaksi kimiawi-fisik, melainkan tangisan dari ekosistem yang sedang kehilangan keseimbangan (mizan) akibat intervensi tangan manusia yang melampaui batas kewajaran.

Memotret luka bumi sebagai jeritan berarti kita sedang mencoba mengembalikan dimensi spiritual ke dalam realitas lingkungan. Setiap pohon yang tumbang secara paksa di jantung hutan sebenarnya membawa narasi penderitaan yang jarang didengar oleh telinga manusia yang egois. Kita perlu menyadari bahwa alam semesta ini adalah orkestra besar yang diciptakan dalam harmoni yang sangat presisi, setiap bagian saling bertasbih dengan caranya sendiri. Saat satu bagian disakiti, seluruh simfoni kehidupan menjadi sumbang. Inilah saatnya kita berhenti melihat krisis lingkungan hanya sebagai “masalah di luar sana” dan mulai merasakannya sebagai luka yang menyayat identitas kita sebagai makhluk yang berbagi nafas dengan bumi.

Luka-luka fisik pada bumi ini pada akhirnya menjadi bukti otentik atas hilangnya kendali manusia dalam menjalankan mandat sucinya. Ketidakseimbangan yang terjadi bukan karena bumi yang menua, melainkan karena syahwat eksploitasi manusia yang tak pernah menemui titik jenuh. Dengan mengubah cara pandang kita dari “melihat data” menjadi “mendengar jeritan”, kita sedang membuka pintu bagi moderasi yang lebih dalam. Kita diajak untuk kembali merenung bahwa setiap jengkal kerusakan yang kita sebabkan adalah satu notasi kepedihan bagi ciptaan lain. Sujud yang kita lakukan di atas bumi yang luka ini hanya akan memiliki makna jika kita juga bersedia membalut luka-luka tersebut dengan kesadaran ekologis yang baru.

Ketika kita berbicara tentang dosa, pikiran sering kali tertuju pada pelanggaran ritual atau pengabaian terhadap hak-hak sesama manusia. Namun, sudah saatnya kita mengonstruksi ulang pemahaman tentang “Dosa Ekologis”, sebuah pengkhianatan spiritual terhadap alam yang merupakan manifestasi nyata dari keberadaan Tuhan. Dalam perspektif ini, alam semesta bukanlah sekedar benda mati yang menunggu untuk dikuras, melainkan hamparan “ayat-ayat kauniyah” atau tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta yang bersifat visual. Maka, setiap tindakan destruktif terhadap lingkungan, seperti membakar hutan atau mencemari samudera, pada hakikatnya adalah upaya sadar untuk “menghapus” atau merusak ayat-ayat Tuhan yang sedang bercerita tentang keagungan-Nya.

Memosisikan kerusakan alam sebagai dosa berarti kita mengakui adanya hubungan timbal balik yang sakral antara kesalehan batin dengan kelestarian ekosistem. Jika seorang mukmin merasa berdosa saat meninggalkan ibadah wajib, seharusnya rasa bersalah yang sama muncul ketika ia menjadi bagian dari rantai perusakan bumi. Mengabaikan kelestarian alam adalah bentuk pengingkaran terhadap rahmat Tuhan yang telah dititipkan kepada kita secara cuma-cuma. Dosa ekologis terjadi ketika keserakahan manusia (tamak) melumpuhkan rasa syukur, sehingga ia tega merobek jalinan harmoni alam demi keuntungan sesaat, tanpa menyadari bahwa ia tengah menghancurkan “pintu” yang menghubungkan dirinya dengan pemahaman tentang keilahian.

Oleh karena itu, pengakuan akan dosa ekologis harus menjadi titik balik bagi moderasi beragama yang lebih kontekstual. Kita tidak bisa lagi merasa menjadi orang yang moderat jika perilaku konsumsi kita justru bersifat ekstrem dan merusak tatanan bumi. Mengonstruksi pemikiran ini menuntut kita untuk melakukan pertobatan ekologis (ecological conversion), yaitu perubahan haluan hidup dari yang semula destruktif menjadi restoratif. Dengan menghormati setiap ayat kauniyah yang ada di pepohonan, air, dan udara, kita sebenarnya sedang menjaga marwah agama itu sendiri. Sebab, agama yang hidup adalah agama yang mampu melindungi kehidupan di segala dimensinya, termasuk kehidupan bumi yang kini tengah memar akibat dosa-dosa tangan manusia.

Akar dari segala nestapa ekologis yang kita hadapi berhulu pada sebuah “berhala” pemikiran bernama antroposentrisme radikal. Inilah sebuah dogma yang secara keliru menempatkan manusia sebagai titik pusat tunggal alam semesta, di mana segala ciptaan lainnya hanya dipandang sebagai instrumen pelayan bagi kebutuhan manusiawi. Dalam cara pandang yang cacat ini, gunung-gunung hanyalah tumpukan mineral yang menunggu digali, dan hutan hanyalah hamparan kayu yang menanti digergaji. Ketika manusia memuja dirinya sebagai penguasa absolut, ia kehilangan kemampuan untuk melihat alam sebagai subjek yang memiliki hak untuk ada dan lestari terlepas dari nilai gunanya bagi ekonomi manusia.

Egoisme kosmik ini telah melahirkan “legalitas semu” untuk melakukan eksploitasi tanpa batas. Dengan merasa sebagai pemilik mandat suci yang tak tersentuh, manusia sering kali salah menafsirkan superioritas akalnya sebagai izin untuk menindas makhluk lain yang dianggap lebih rendah. Padahal, superioritas manusia dalam perspektif teologis seharusnya menjadi beban tanggung jawab untuk mengayomi, bukan pedang untuk mengeksekusi. Kegagalan antroposentrisme terjadi saat manusia lupa bahwa dirinya bukanlah penenun jaring kehidupan, melainkan hanya salah satu helai benang di dalamnya. Ketika ia merusak jalinan benang yang lain, sebenarnya ia sedang merancang kehancurannya sendiri.

Kritik terhadap antroposentrisme ini membawa kita pada sebuah refleksi mendalam, bahwa kesombongan intelektual dan teknologi telah membutakan kita dari fakta kebersandaran (interdependensi). Kita sering lupa bahwa nafas kita bergantung pada fotosintesis tumbuhan, dan air yang menyucikan raga kita bergantung pada kelestarian hutan. Memuja diri sendiri sebagai pusat gravitasi dunia hanya akan berakhir pada kesunyian yang mengerikan, di mana manusia berdiri gagah di puncak kemajuan namun di atas bumi yang telah menjadi bangkai. Moderasi beragama diuji di sini, apakah kita berani menurunkan ego kita dan mengakui bahwa kita hanyalah bagian kecil dari komunitas kehidupan yang sangat besar dan sakral?

Dengan demikian, membedah kegagalan antroposentrisme adalah langkah krusial untuk memulihkan martabat manusia yang sesungguhnya. Kita perlu bergeser dari ego-sentrisme menuju eko-sentrisme, sebuah kesadaran bahwa kemuliaan manusia terletak pada kerendahhatiannya untuk bersujud secara ekologis. Sujud ini bukan berarti merendahkan harga diri, melainkan mengakui bahwa keberadaan Tuhan hadir dalam setiap denyut nadi alam. Dengan meruntuhkan berhala antroposentrisme, kita sedang membuka jalan bagi ekoteologi untuk bekerja, mengubah cara kita berdiri di atas bumi, dari seorang penakluk yang rakus menjadi seorang sahabat yang menjaga dengan penuh cinta dan kebijaksanaan.

Ekoteologi: Jembatan Antara Teks Suci dan Realitas Alam

Setelah kita mengakui luka-luka yang menganga pada tubuh bumi, pencarian kita akan obat penyembuhnya membawa kita kembali pada percakapan antara wahyu yang tertulis dan wahyu yang terbentang. Ekoteologi hadir sebagai jembatan intelektual dan spiritual yang kokoh, mencoba merangkai kembali benang-benang yang terputus antara dogma keagamaan yang statis dengan realitas ekologis yang kian dinamis. Ia bukan sekedar upaya melakukan “hijauisasi” pada teks suci, melainkan sebuah cara baca baru yang meyakini bahwa suara Tuhan tidak hanya bergaung di mimbar-mimbar khutbah, tetapi juga berbisik melalui gemericik air sungai yang bersih dan lambaian dedaunan hutan yang rimbun. Di atas jembatan inilah, iman dipanggil untuk turun ke bumi, memastikan bahwa setiap doa yang dipanjatkan ke langit memiliki akar yang menghujam kuat dalam pelestarian alam semesta.

Selama sekian milenium, narasi keagamaan sering kali terperangkap dalam ruang-ruang eskatologis yang terlampau abstrak, di mana perhatian umat lebih banyak tersedot pada upaya meraih keselamatan di akhirat sambil menganggap remeh urusan duniawi. Akibatnya, teks-teks suci yang mengandung pesan lingkungan sering kali terabaikan atau hanya dibaca sebagai ornamen literatur tanpa signifikansi aksi. “Reinterpretasi Teks Hijau” hadir untuk mendobrak kejumudan tersebut, mengajak kita menggali kembali khazanah wahyu dengan kacamata ekologis agar perintah Tuhan tidak berhenti di kerongkongan, melainkan menjelma menjadi pelindung bagi hutan, air, dan udara yang kita hirup hari ini.

Salah satu fokus utama dalam penafsiran ulang ini adalah restrukturisasi konsep Khalifah atau Stewardship. Jika selama ini istilah tersebut sering disalahartikan sebagai “penguasa” yang memiliki hak istimewa untuk mengeksploitasi, maka ekoteologi meluruskannya menjadi “penjaga amanah” yang penuh kerendahhatian. Menjadi wakil Tuhan di bumi bukanlah sebuah lisensi untuk merusak demi keuntungan sesaat, melainkan tugas diplomatik antara langit dan bumi untuk memastikan seluruh makhluk hidup mendapatkan hak-hak ekologisnya. Teks hijau mengingatkan kita bahwa martabat kemanusiaan kita justru dipertaruhkan pada sejauh mana kita mampu menjaga harmoni ciptaan-Nya dari kehancuran.

Dengan demikian, membumikan teks keagamaan berarti kita sedang menghapus dikotomi semu antara yang suci (sacred) dan yang profan. Mengelola sampah dengan bijak atau menanam pohon harus dipandang sebagai aktivitas teologis yang sama sakralnya dengan ritual di dalam rumah ibadah. Melalui reinterpretasi ini, agama tidak lagi tampil sebagai ajaran yang egois dan hanya sibuk dengan urusan keselamatan individual, melainkan bertransformasi menjadi energi kolektif yang responsif terhadap krisis zaman. Pada akhirnya, memahami teks hijau adalah upaya untuk membuktikan bahwa iman yang sejati adalah iman yang mencintai kehidupan, dan kesalehan yang tulus adalah kesalehan yang mampu membalut luka-luka bumi.

Alam semesta pada hakikatnya adalah sebuah perpustakaan raksasa yang berisi ribuan jilid wahyu tanpa huruf, sebuah “Kitab Suci yang Terbuka” bagi siapa saja yang mau menajamkan mata hatinya. Jika teks-teks dalam kitab suci (wahyu qauliyah) menuntun kita melalui kata-kata, maka alam semesta (wahyu kauniyah) berbicara melalui bahasa keberadaan yang jujur dan nyata. Setiap ekosistem, dari samudra yang dalam hingga mikroorganisme di dalam tanah, adalah bait-bait Tuhan yang menceritakan tentang keteraturan, keseimbangan, dan keberlimpahan kasih sayang-Nya. Memposisikan alam sebagai wahyu kedua berarti kita berhenti memperlakukan bumi sebagai sekedar komoditas ekonomi, dan mulai menghormatinya sebagai entitas sakral yang mengandung pesan-pesan ketuhanan yang tak terbatas.

Implikasi dari cara pandang ini sangatlah mendalam, jika kita merasa berdosa saat merobek atau mengotori lembaran Kitab Suci, seharusnya kita merasakan kepedihan yang sama saat menyaksikan hutan dibakar atau sungai diracuni. Menjaga kelestarian alam bukan lagi sekedar etika lingkungan yang sekuler, melainkan bentuk penghormatan terhadap “naskah” ciptaan Tuhan yang asli. Membaca alam berarti belajar tentang kerendahhatian, keterhubungan, dan batas-batas. Setiap spesies yang punah adalah satu “kata” yang hilang dari kamus kehidupan yang Tuhan tuliskan untuk kita pelajari. Oleh karena itu, penghancuran alam semesta pada dasarnya adalah bentuk vandalisme spiritual yang menghapus jejak-jejak petunjuk Tuhan yang sengaja ditebarkan di atas muka bumi.

Dengan merawat “Kitab Suci yang Terbuka” ini, manusia sedang mempraktikkan bentuk ibadah yang paling autentik dan kontekstual. Kita tidak bisa mengklaim diri sebagai pembaca Kitab Suci yang taat jika pada saat yang sama kita membutakan mata terhadap kerusakan “kitab” yang kita pijak setiap hari. Ekoteologi mengajak kita untuk memperluas definisi kesalehan, bahwa menjaga kemurnian air adalah menjaga kesucian wahyu, dan menanam pohon adalah upaya melestarikan kalimat-kalimat Tuhan agar tetap bisa dibaca oleh generasi mendatang. Pada akhirnya, memperlakukan alam dengan penuh hormat adalah cara kita menjaga dialog yang terus-menerus dengan Sang Pencipta melalui mahakarya-Nya yang paling nyata.

Spiritualitas ekologis menawarkan sebuah pergeseran paradigma bahwa kesalehan seseorang tidak boleh berhenti di atas sajadah, melainkan harus membumi dalam setiap tarikan nafas dan tindakan terhadap lingkungan. Ibadah yang sejati bukanlah sekedar penggugur kewajiban formal yang terisolasi dari realitas dunia, melainkan sebuah energi yang mendorong pelakunya untuk menjadi pelindung bagi kehidupan. Ketika dimensi spiritualitas ini menyatu dengan kesadaran ekologis, maka setiap gerak ritual akan bertransformasi menjadi aksi pelestarian. Di sinilah iman menemukan bentuknya yang paling fungsional, sebuah kekuatan yang tidak hanya mendambakan surga di masa depan, tetapi juga berupaya merawat “surga” yang telah Tuhan titipkan di muka bumi hari ini.

Manifestasi dari spiritualitas ini dapat dimulai dari hal yang paling mendasar, seperti penggunaan air saat bersuci. Sebagai contoh, praktik wudhu yang hemat air bukan sekedar soal efisiensi teknis, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap hak makhluk lain atas air tersebut. Setiap tetesan air yang kita buang secara percuma adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keseimbangan yang Tuhan gariskan. Dengan meminimalkan pemborosan saat beribadah, kita sebenarnya sedang mempraktikkan “zuhud ekologis”, sebuah sikap menahan diri dari keserakahan demi kelangsungan ekosistem yang lebih luas. Spiritual yang hidup adalah spiritual yang mampu merasakan bahwa air adalah darah bumi yang harus dijaga kesucian dan keberlangsungannya.

Lebih jauh lagi, spiritualitas ekologis ini harus merambah ke dalam ritual-ritual besar yang melibatkan massa, seperti perjalanan haji atau perayaan hari besar keagamaan lainnya. Konsep “Haji Ramah Lingkungan” (Green Hajj), misalnya, menjadi sangat relevan sebagai bentuk moderasi beragama yang kontekstual. Ibadah haji yang menekankan pada penghematan energi, pengurangan sampah plastik, dan penghijauan di tanah suci mencerminkan bahwa perjalanan spiritual menuju Tuhan tidak seharusnya meninggalkan jejak karbon yang merusak. Sebaliknya, perjalanan itu harus meninggalkan jejak kasih sayang yang menyembuhkan bumi, membuktikan bahwa semakin dekat seseorang kepada Sang Pencipta, seharusnya ia semakin peka terhadap keutuhan ciptaan-Nya.

Oleh karenanya, membangun spiritualitas ekologis berarti menjadikan kelestarian lingkungan sebagai salah satu indikator kualitas iman. Kita tidak bisa mengklaim memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan jika tangan kita masih secara aktif atau pasif merusak habitat makhluk-Nya. Ibadah harus menjadi laboratorium bagi lahirnya gaya hidup hijau yang konsisten, di mana menjaga sungai dari limbah atau menanam pohon menjadi zikir yang nyata. Dengan cara ini, moderasi beragama tidak lagi hanya menjadi diskursus teologis yang berat di atas kertas, melainkan menjadi gaya hidup yang anggun, responsif, dan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta (raḥmatan lil ālamīn).

Sebagai langkah ke depan, masa depan moderasi beragama di Indonesia sangat bergantung pada keberanian kita untuk mengubah doa-doa yang membumbung ke langit menjadi aksi-aksi nyata yang berakar di bumi. Keberhasilan kita dalam merawat “Kitab Suci yang Terbuka” ini akan menjadi bukti otentik apakah agama masih menjadi solusi bagi krisis zaman atau sekedar menjadi ornamen peradaban yang bisu. Mari kita jadikan setiap jengkal tanah yang kita pijak sebagai altar suci untuk mempraktikkan moderasi yang tidak egois, di mana setiap tindakan pelestarian alam dianggap sebagai sujud yang paling jujur. Sebab, hanya di atas bumi yang sehat dan lestari kita dapat terus menggemakan asma Tuhan dan merajut kedamaian abadi bagi generasi mendatang.

*Direktur Muntaha Noor Institute

Hijau Iman, Hijau Pendidikan, Ikhtiar Kolektif Menjaga Alam Indonesia

Penulis: Kharisma Shafrani*; Penyunting: Ika Amiliya Nur Hidayah

Indonesia bukan sekedar hamparan zamrud khatulistiwa yang memanjakan mata, melainkan sebuah ruang sakral di mana doa-doa dilambungkan dan ilmu pengetahuan disemaikan. Di balik rimbunnya hutan dan luasnya samudra, terdapat jalinan erat antara spiritualitas yang menghunjam ke langit dan pendidikan yang berpijak ke bumi. Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah paradoks yang getir, di negeri yang masyarakatnya dikenal sangat religius dan menjunjung tinggi nilai edukasi, kerusakan alam justru terjadi secara masif dan sistematis. Kondisi ini memaksa kita untuk bertanya kembali, di manakah posisi iman dan peran sekolah dalam membendung laju kehancuran ekosistem kita?

Kesadaran akan kelestarian lingkungan sering kali hanya berhenti di meja-meja seminar atau retorika mimbar tanpa menyentuh akar permasalahan. Padahal, krisis iklim yang kita hadapi saat ini bukan sekedar persoalan teknis atau kegagalan kebijakan negara, melainkan manifestasi dari krisis moral dan kegagalan literasi. Alam tidak lagi dipandang sebagai entitas yang bernafas, melainkan komoditas yang siap dikuras habis. Di sinilah urgensi untuk merevitalisasi peran agama dan pendidikan muncul, bukan sebagai pelengkap administratif, melainkan sebagai motor penggerak utama perubahan perilaku manusia terhadap semesta.

Melalui narasi “Hijau Iman”, kita diajak untuk melihat bahwa menjaga bumi adalah konsekuensi logis dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Agama-agama di Nusantara memiliki kekayaan filosofis yang menempatkan manusia sebagai penjaga, bukan penguasa yang tiran. Ketika nilai-nilai transendental ini dipadukan dengan “Hijau Pendidikan”, sebuah sistem edukasi yang mengedepankan etika lingkungan dalam setiap kurikulumnya, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan nurani terhadap setiap jengkal tanah yang mereka injak.

Artikel ini akan mengulas bagaimana kolaborasi antara institusi keagamaan dan lembaga pendidikan dapat menjadi benteng terakhir bagi kelestarian alam Indonesia. Dengan menggali kembali tradisi lama dan mengintegrasikannya ke dalam metode belajar modern, kita berupaya menciptakan sebuah ikhtiar kolektif yang berkelanjutan. Melalui empat pilar pembahasan utama, kita akan melihat bahwa masa depan bumi Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menghijaukan kembali cara kita beriman dan cara kita belajar.

Teologi Ekologi: Menemukan Nafas Pelestarian dalam Teks Suci

Mencari akar keselamatan bumi tidak cukup hanya melalui traktat saintifik atau kebijakan politik yang teknokratis, melainkan harus dimulai dengan menyelami kembali relung spiritualitas yang selama ini menjadi kompas moral bangsa. Teologi ekologi hadir sebagai sebuah kesadaran transendental yang menegaskan bahwa setiap hembusan angin, tetesan air, dan rimbunnya hutan adalah nukilan ayat-ayat suci yang terhampar secara visual. Di dalam jantung agama-agama yang tumbuh di Nusantara, alam bukanlah objek bisu yang tak bernyawa, melainkan sebuah simfoni ciptaan yang terus bertasbih memuji keagungan Sang Khalik. Dengan meletakkan krisis lingkungan dalam bingkai teologis, kita sedang menarik isu pelestarian alam dari sekedar kewajiban administratif menjadi sebuah panggilan iman yang kudus, di mana setiap tindakan merusak ekosistem dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap pesan-pesan sakral yang diturunkan ke bumi.

Dalam diskursus spiritual, kedudukan manusia di atas panggung dunia bukanlah sebagai pemilik mutlak yang memegang hak kepemilikan absolut, melainkan sebagai seorang pemegang mandat atau penatalayan. Konsep stewardship atau kekhalifahan ini menggarisbawahi bahwa setiap jengkal tanah dan kekayaan hayati yang kita nikmati saat ini adalah aset titipan dari Sang Pencipta yang harus dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Manusia diberikan otoritas untuk mengelola, namun otoritas tersebut dibatasi oleh koridor etis agar tidak tergelincir menjadi tirani ekologis. Menempatkan diri sebagai “penjaga” berarti menanggalkan arogansi bahwa kita adalah pusat semesta, dan mulai menyadari bahwa kita hanyalah satu bagian kecil dari jaring-jaring kehidupan yang saling bertautan.

Ketidakseimbangan alam yang terjadi saat ini berakar dari pergeseran pemaknaan peran manusia, dari seorang pemelihara yang penuh kasih menjadi pengeksploitasi yang rakus. Ketika doktrin agama disalahpahami sebagai lisensi untuk menaklukkan alam tanpa batas, maka yang lahir adalah kehancuran sistematis demi pemuasan materi sesaat. Padahal, mandat sejati sebagai penjaga bumi menuntut kita untuk memiliki “tangan yang membangun,” bukan “tangan yang merusak.” Tanggung jawab ini melibatkan kecerdasan dalam mengambil manfaat tanpa mengorbankan hak generasi mendatang untuk menghirup udara bersih dan meminum air yang jernih, sebuah prinsip keberlanjutan yang sebenarnya telah lama terkandung dalam esensi ajaran agama.

Oleh karena itu, mengonstruksi ulang kesadaran sebagai penatalayan semesta menjadi sangat krusial di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata. Amanah ini bukanlah beban yang membelenggu, melainkan sebuah kehormatan moral yang memuliakan martabat manusia di hadapan Tuhan dan sesama makhluk hidup. Dengan memahami bahwa alam memiliki hak-haknya sendiri untuk tetap lestari, setiap kebijakan yang kita ambil, baik dalam skala individu maupun kolektif, akan selalu berlandaskan pada prinsip kehati-hatian dan penghormatan. Inilah esensi dari iman yang membumi, sebuah komitmen untuk menjaga agar denyut nadi bumi tetap berdetak seiring dengan langkah kaki manusia yang berjalan di atasnya dengan penuh kerendahan hati.

Dalam perspektif spiritualitas Nusantara, alam semesta tidak dipandang sebagai tumpukan materi mati yang ada secara kebetulan, melainkan sebuah “Kitab Terbuka” yang memuat pesan-pesan keagungan Tuhan secara visual. Setiap gugusan bintang, jajaran pegunungan, hingga mikroorganisme dalam setetes air adalah ayat atau tanda-tanda yang merefleksikan kehadiran Sang Pencipta. Memandang alam sebagai manifestasi kehadiran Ilahi berarti mengakui bahwa ada kesucian (sakralitas) yang melekat pada setiap elemen ekosistem. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan lingkungan bukan lagi sekedar interaksi fungsional-ekonomis, melainkan sebuah dialog spiritual di mana keindahan alam menjadi jembatan untuk mengenal hakikat ketuhanan secara lebih intim.

Konsekuensi dari cara pandang ini adalah lahirnya sebuah kesimpulan etis yang tajam, merusak lingkungan sama saja dengan mengoyak lembaran-lembaran kitab suci yang tak tertulis. Jika tindakan vandalisme terhadap rumah ibadah dianggap sebagai penistaan, maka penggundulan hutan secara liar, pencemaran sungai, dan eksploitasi bumi yang membabi buta seharusnya dipandang sebagai bentuk sakrilegi atau penistaan terhadap karya seni Tuhan yang paling agung. Ketika sebuah spesies punah akibat keserakahan manusia, kita sebenarnya sedang kehilangan satu “kata” atau “kalimat” dari pesan Tuhan yang seharusnya bisa kita pelajari. Di titik inilah, krisis ekologi naik derajatnya dari sekedar isu sosial-politik menjadi dosa teologis yang mencederai hubungan manusia dengan khaliknya.

Menghayati alam sebagai ayat keagungan menuntut kita untuk memiliki mata batin yang tajam dalam melihat keterhubungan antar-makhluk. Kita diajak untuk bersikap “tawadhu” atau rendah hati di hadapan semesta, menyadari bahwa setiap kerusakan yang kita timpakan ke bumi akan beresonansi buruk pada kualitas spiritualitas kita sendiri. Kesadaran ini merupakan fondasi terkuat bagi gerakan pelestarian, sebab ketika seseorang mencintai Tuhan, ia secara otomatis akan mencintai dan menjaga seluruh jejak karya-Nya. Dengan menjaga kejernihan air dan hijaunya rimba, kita sebenarnya sedang memelihara cermin besar yang memantulkan cahaya ketuhanan agar tetap dapat disaksikan oleh generasi mendatang.

Akar dari krisis ekologi modern sesungguhnya tidak terletak pada kelangkaan sumber daya, melainkan pada ketidakterbatasan nafsu konsumsi manusia. Dalam ruang lingkup keimanan, pola hidup yang melampaui batas atau israf dipandang sebagai penyakit jiwa yang berdampak destruktif pada keseimbangan alam. Agama-agama besar di Indonesia secara tegas mengajarkan bahwa konsumsi bukan sekedar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah tindakan moral yang memiliki konsekuensi spiritual. Ketika manusia mengonsumsi lebih dari apa yang dibutuhkannya, ia tidak hanya sedang memboroskan materi, tetapi juga sedang merampas hak keberlangsungan makhluk lain dan generasi yang akan datang.

Budaya konsumerisme yang diagungkan oleh dunia modern sering kali memaksa bumi untuk bekerja di luar batas kemampuannya demi memenuhi tren yang fana. Di sinilah nilai kesederhanaan atau kebersahajaan (asceticism) yang diajarkan dalam tradisi keagamaan menemukan relevansinya sebagai antitesis terhadap gaya hidup rakus. Iman menuntut kita untuk membedakan antara kebutuhan yang hakiki dan keinginan yang manipulatif. Dengan mempraktikkan gaya hidup yang berorientasi pada kecukupan (qana’ah), seorang penganut agama sedang melakukan aksi nyata dalam mengerem laju eksploitasi sumber daya alam yang kian tak terkendali.

Lebih jauh lagi, etika konsumsi dalam iman mengajarkan konsep “kehati-hatian” dalam setiap benda yang kita gunakan. Setiap produk yang kita konsumsi membawa jejak karbon dan dampak lingkungan yang harus dipertanggungjawabkan secara etis. Larangan berbuat mubazir bukan sekedar aturan etiket di meja makan, melainkan sebuah protokol ekologis untuk meminimalisir sampah dan polusi yang membebani bumi. Dengan menghargai setiap butir nasi atau setiap tetes air sebagai berkah yang suci, manusia diajak untuk kembali pada ritme alam yang seimbang, di mana tidak ada satu pun ciptaan yang terbuang sia-sia tanpa makna.

Transformasi perilaku konsumsi menjadi indikator kejujuran iman seseorang. Kesalehan tidak lagi hanya diukur dari durasi doa di tempat ibadah, tetapi juga dari seberapa rendah jejak kerusakan yang kita tinggalkan di muka bumi. Mengadopsi etika konsumsi yang hijau berarti memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh bahwa bumi memiliki batas, sementara kemuliaan manusia justru terletak pada kemampuannya untuk menahan diri. Ikhtiar kolektif ini adalah solusi spiritual yang paling mendasar untuk menyembuhkan luka bumi yang diakibatkan oleh keserakahan yang berkedok kemajuan.

Memanusiakan Alam, Transformasi Kurikulum Berbasis Etika Lingkungan

Setelah fondasi teologis diletakkan melalui kesadaran iman, langkah selanjutnya adalah mentransmisikan nilai-nilai tersebut ke dalam ruang-ruang diskursus intelektual di lembaga pendidikan. Memasuki pilar kedua, kita dihadapkan pada urgensi untuk meruntuhkan tembok pemisah antara teori akademik dan realitas ekologis melalui upaya “Memanusiakan Alam, Transformasi Kurikulum Berbasis Etika Lingkungan”. Pendidikan tidak boleh lagi sekedar menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang terasing dari lingkungan sekitarnya, melainkan harus menjelma sebagai rahim bagi lahirnya generasi yang memiliki “nurani hijau”. Di sinilah sekolah dan kampus mengemban misi sakral untuk menata ulang kurikulum mereka, bukan sekedar menyisipkan materi lingkungan sebagai tempelan, melainkan menjadikannya nafas utama yang mengalir dalam setiap mata pelajaran. Dengan memanusiakan cara kita memandang alam di ruang kelas, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang tidak hanya mahir menaklukkan angka, tetapi juga tunduk pada hukum alam dan berkomitmen menjaga keutuhan ciptaan.

Selama ini, dinding-dinding kelas sering kali menjadi sekat yang memisahkan peserta didik dari realitas alam yang mereka pelajari. Pembelajaran lingkungan kerap terjebak dalam rutinitas menghafal klasifikasi Latin atau siklus air di atas kertas, tanpa pernah menyentuh tanah atau merasakan aliran sungai yang sebenarnya. Ekopedagogi hadir untuk meruntuhkan tembok-tembok tersebut, membawa proses belajar kembali ke pangkuan alam sebagai laboratorium yang paling autentik. Dengan menggeser episentrum pendidikan dari sekedar transfer kognitif menuju pengalaman sensorik di luar ruangan, kita sedang membuka pintu bagi siswa untuk tidak hanya “mengetahui” tentang alam, tetapi juga “merasakan” keberadaan alam sebagai bagian dari diri mereka sendiri.

Interaksi langsung dengan ekosistem lokal, mulai dari mengamati ekologi hutan bakau hingga mengelola kebun Sekolah, adalah cara paling efektif untuk menyemai benih empati ekologis. Ketika seorang siswa menyentuh tekstur daun atau melihat langsung dampak limbah di sungai dekat sekolahnya, pengetahuan tersebut tidak lagi bersifat abstrak, melainkan menjadi pengalaman emosional yang mendalam. Pengalaman ini menciptakan ikatan batin yang sulit didapatkan dari layar gawai atau buku teks. Di sini, pendidikan berperan mengubah cara pandang, alam bukan lagi sekedar objek studi yang dingin, melainkan subjek yang memiliki hak untuk tumbuh dan bernafas, yang kelestariannya bergantung pada tangan-tangan mereka.

Lebih jauh lagi, belajar dari luar ruang kelas melatih ketajaman intuisi dan kepedulian sosial anak didik terhadap isu-isu lingkungan di sekitar mereka. Mereka belajar bahwa setiap keputusan manusia memiliki resonansi terhadap keseimbangan makhluk lain. Transformasi metode ini bukan sekedar inovasi pedagogis, melainkan sebuah ikhtiar untuk memanusiakan alam di dalam pikiran generasi muda. Dengan menjadikan alam sebagai guru, kita tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga insan yang memiliki sensitivitas nurani untuk menjaga harmoni antara kemajuan peradaban dan kelestarian ekosistem Nusantara.

Selama ini, isu perubahan iklim dan problematika sampah sering kali hanya ditempatkan sebagai catatan kaki dalam buku teks atau sekedar suplemen muatan lokal yang dianggap tidak sepenting mata pelajaran utama. Padahal, krisis ekologi adalah ancaman eksistensial yang melintasi batas-batas disiplin ilmu. Mengintegrasikan literasi krisis iklim ke dalam kurikulum berarti menolak untuk mengisolasi isu lingkungan dalam satu kotak sempit. Sebaliknya, pendidikan harus mampu menjahit kesadaran ekologis ke dalam tenunan setiap mata pelajaran, mulai dari matematika yang menghitung jejak karbon, ekonomi yang membahas sirkularitas sumber daya, hingga bahasa yang mengasah narasi advokasi lingkungan.

Transformasi kurikulum yang bersifat lintas disiplin ini bertujuan untuk memberikan pemahaman holistik kepada siswa bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi sistemik. Literasi iklim tidak boleh hanya dipahami sebagai kumpulan data statistik suhu global yang dingin, melainkan harus diterjemahkan menjadi pemecahan masalah konkret, seperti manajemen limbah di lingkungan sekolah. Dengan menjadikan isu lingkungan sebagai “nafas” dari seluruh proses belajar-mengajar, pendidikan berhenti menjadi menara gading yang abai terhadap kehancuran bumi dan mulai bertransformasi menjadi inkubator solusi bagi tantangan zaman yang kian kompleks.

Arus utama literasi krisis iklim dalam dunia pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk kedaulatan ekologis Indonesia. Ketika seorang peserta didik mampu melihat keterkaitan antara gaya hidupnya dengan kesehatan planet, maka ia tidak lagi memerlukan instruksi formal untuk bertindak ramah lingkungan, kesadaran tersebut telah mendarah daging sebagai karakter. Pendidikan yang responsif terhadap perubahan iklim bukan sekedar kurikulum tambahan, melainkan sebuah rekayasa sosial untuk melahirkan warga negara global yang bertanggung jawab, yang memahami bahwa ilmu pengetahuan yang mereka kuasai harus diabdikan untuk memulihkan, bukan merusak, harmoni alam.

Pendidikan etika lingkungan akan kehilangan taringnya jika hanya berhenti pada lembar ujian tanpa manifestasi nyata dalam ruang fisik tempat siswa bertumbuh. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mentransfer teori, tetapi harus bertransformasi menjadi sebuah “miniatur ekosistem” yang mencerminkan cita-cita kelestarian alam. Ketika sebuah lembaga pendidikan mengadopsi infrastruktur hijau, seperti pemanenan air hujan, sistem pengolahan limbah mandiri, hingga penggunaan energi terbarukan, ia sedang membangun sebuah ruang narasi visual yang berbicara lebih keras daripada ribuan kata di dalam buku teks. Di sini, arsitektur dan tata kelola sekolah berperan sebagai “kurikulum tersembunyi” yang mendidik karakter siswa melalui kebiasaan sehari-hari.

Salah satu elemen vital dalam model ekosistem ini adalah kehadiran kebun sekolah yang dikelola secara kolektif. Kebun ini bukan sekedar pemanis lanskap, melainkan laboratorium perilaku di mana siswa belajar tentang siklus kehidupan, kesabaran dalam menanam, dan pentingnya biodiversitas. Dengan menyentuh tanah dan merawat tanaman, siswa diajak untuk memahami bahwa makanan yang mereka konsumsi tidak muncul secara ajaib, melainkan hasil dari interaksi harmonis antara manusia dan bumi. Pengalaman empiris ini efektif untuk mengikis sikap apatis dan membangun rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap lingkungan sekolah yang nantinya akan terbawa hingga mereka terjun ke masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, manajemen energi dan sampah di lingkungan sekolah harus dirancang sebagai sistem yang transparan dan partisipatif. Siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dilibatkan sebagai agen pemantau penggunaan listrik atau pengelola unit komposting sekolah. Melalui keterlibatan aktif ini, sekolah menjadi medan latihan bagi generasi muda untuk menguji coba solusi-solusi ekologis dalam skala kecil sebelum mereka menerapkannya di skala global. Transformasi infrastruktur ini mengubah sekolah dari sekedar gedung beton yang kaku menjadi organisme hidup yang mampu menghidupi dirinya sendiri secara berkelanjutan.

Menjadikan sekolah sebagai model ekosistem kecil adalah upaya untuk menjembatani kesenjangan antara idealisme lingkungan dan realitas praktis. Ketika efisiensi energi dan nihil sampah (zero waste) menjadi norma di sekolah, maka perilaku ramah lingkungan tidak lagi dianggap sebagai beban atau tren sesaat, melainkan sebuah gaya hidup alami. Generasi yang lahir dari rahim pendidikan seperti ini akan memiliki insting ekologis yang tajam, di mana mereka tidak hanya cerdas dalam berargumen tentang krisis iklim, tetapi juga terampil dalam mempraktikkan hidup yang selaras dengan daya dukung alam Indonesia.

Kiai Nur Khalik dan Produktivitas Menulis

Penulis : M Fatih Qosdana, Editor : Amarul Hakim

Sore itu sekitar pukul setengah lima kami sampai di rumah Kiai Nur Khalik Ridwan, Kiai yang enggan di sapa Kiai, “Kalau saya K-nya itu Kang bukan Kiai, sebab lebih muda dari Kiai Jadul Maula yang lebih senior dari saya, sudah haji pula,” kelekarnya. “Berarti kita doakan sama-sama semoga sebentar lagi naik haji.” Tandas Kiai Jadul Maula yang diamini seketika oleh santri-santri dan audiens pada saat itu (29/04/25) dalam perjumpaan bedah buku, “Waringin Sungsang Jawa” yang diadakan oleh Ngaji Dewaruci dibawah naungan Ponpes Budaya Kaliopak Yogyakarta, di asuh KH. Jadul Maula sekaligus ketua LESBUMI NU setelah KH. Agus Sunyoto.

Kiai Nur Khalik, Kiai yang menganut paham Malamatiyah, tarekat yang mengedepankan kebersahajaan ditengah-tengah masyarakat disertai dengan sikap andap ashor, tawadhu, dan mengikis terus-menerus kesombongan yang ada dalam diri. Setiba kami dirumah beliau, tampak dari depan rumah Kiai Nur Khalik berdindingkan joglo yang dihiasi ornamen ukiran kriya seni jawa, dipedesaan asri yang masih terdengar cuitan burung dikala senja bergantikan malam. Tepat sesaat setelah kami parkirkan motor dihalaman rumah, beliau hengkang berdiri dari tempat duduk didepan laptop yang bersikan kalimat demi kalimat yang tersusun rapi memberikan manfaat, adalah ilmu. Ilmu yang Allah ajarkan pada Nabi Adam melalui nama-nama-Nya yang pusatnya adalah Nur Muhammad.

Hampir dan bahkan semua orang yang berkunjung dan bersilaturahmi kepada beliau, dijumpainya Kiai Nur Khalik sedang mengetik, menulis buku, dan menghasilkan karya. Inilah rutinitas yang dilakukan beliau setiap hari sejak pagi, siang, sore, hingga malam hari. Kecintaannya terhadap ilmu tidak hanya dibuktikan dengan perpustakaan pribadi yang berisikan berbagai koleksi buku-buku akan tetapi karya-karya beliau yang hampir dan bahkan lebih dari lima puluh buku diusianya yang sudah tidak muda lagi.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Kiai Nur Khalik menyambut kami dan mempersilahkan duduk diruang tamunya, dengan segala ubo rampen dan makanan ringan, “silahkan dibuka, jangan sungkan-sungkan, dipaceti (dimakan, dicicipi) tak tinggal sek, delot,” kata beliau, masuk kedalam rumahnya. Tak lama kemudian dua gelas kopi hitam dibawakannya kepada kami; panas, hitam membaur menjadi satu dalam gelas berukir. Kopi hitam, laksana sufi yang ditempatkan, berbaur dimanapun akan menyesuaikan tempatnya, tanpa menghilangkan esensinya, terus menerus bersama Tuhannya.

Tepat berada didepan kami, diatap dinding rumah yang yang berukir, bertempelkan tuliskan, “NDiko Publishing-Joglo Kesengsem”. Dengan logo, awak telu ndas siji – awak telu sirah sanunggal berbentuk ikan. Sebagaimana lambang kacirebonan dan ilustrasi daripada ajaran Tarekat Syattariyah yang bermakna, ora pecah (kebersatuan), baik antara adam (manusia), Muhammad (syariat), dan Allah. Antara jasad, ruh, dan Allah maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat, dan af’al. Atau bisa diartikan dengan wihdatul wujud sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Babon Petarekatan.

“Baru selesai kuliah?” kata beliau kepada kami, “mboten yai habis selesai ngopi ini, diwarkop.” Jawab kami pada beliau. “Temanmu, den?” “nggeh, yai, alumni Ma’had Aly piyambake,” “Nggeh, yai; alumni Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin asuhan KH. Luqman Hakim.” Jawabku pada beliau. “Saya dulu pernah bertemu Kiai Luqman Hakim sewaktu di UII sewaktu memanggil beliau sebagai pembicara, jurusannya apa disana?” tanya Kiai Nur Khalik kepadaku, “tasawuf, yai,” kataku. “sudah ngajuin judul tesis?” “sampun, yai; kemarin pakai konsep tajrid dan asbab Ibn Athaillah ditinjau menggunakan pemikiran Ibn Ajibah tapi dereng ditampi.”

“Sekarang lagi pakai syatahat sufi ditinjau dari dekonstruksi Derrida,” sambungku. “Seharusnya pakai hermeneutika, bukan dekonstruksi Derrida karena syatahat itu memang bukan kehendak sufi itu sendiri, itu kehendak Allah dan sang sufi tidak kuat untuk mengendalikannya sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang seakan menyalahi aturan syariat, sehingga terjadilah perbedaan satu sama lain; karenanya paling pasnya itu saya kira pakai hermeneutika, tapi dicoba saja pakai Derrida barangkali bisa.” Imbuhnya meyakinkanku. “atau bisa juga syatahat sebagai etika publik, sebab telah menggoncangkan tatanan dunia, iya kan?, bagaimana ada sesuatu yang telah disepakati kemudian digoncangkan oleh sesuatu yang lain.”

“Syatahat itukan manifestasi asma-asma Allah yang terimplementasikan dalam ucapan seorang sufi tersebut, sehingga keluarlah nama Allah assubbuh, alquddus, alhannan, dan yang lainnya; sesuai yang ada dalam diri sufi cocoknya apa, dalam diri ini ya keluar ini; seperti subhaani-nya Abu Yazid al-Bustami.” “Abu Yazid itukan tokoh agung yang kemudian dari keturunannya (nasab bil’ilmi) turunlah Syekh Allaudaulah al-Simnani dari Tarekat Kubrawi, konon disebutkan dalam al-Risalah al-Ghautsiyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, suatu ketika Allaudaulah al-Simnani juga layaknya Abu Yazid al-Bustami hanya saja dengan kalimat dan tampilan syatahat yang berbeda.”

Atau bisa juga kemudian menggunakan Malamatiyah sebagai etika publik, sebab malamatiyah itukan memendam dirinya (self-criticism dan self-blance) guna kedekatan kepada Tuhannya, seperti kata Ibn Athaillah, “idfin wujudaka fi ardzilhumuul famanabata mimma lamyudfan layatimmu nitaajuhu” pendamlah reputasi dan ambisimu pada tanah kerendahan, sebab segala yang tumbuh dan bermekaran tanpa ditanam takkan sempurna hasilnya. Sedangkan banyak sekarang orang-orang mencari popularitas akan tetapi kehilangan eksistensinya. Lalu beliau Kiai Nur Khalik bertanya, “asalmu mana, mas?” “pekalongan, yai,” “saya itu dulu pernah dipanggil ke pekalongan, ke UIN,” tandasnya.

“Aku itu tipikal orang yang gak mau berpindah pembahasan sebelum yang ini (sedang ditulis) selesai, barat itu tatanan perjalanannya lumayan runyam dari hindu, sehingga seperti sekarang ini, karenanya dibutuhkan kerja ekstra untuk menelitinya.” Jawaban Kiai Nur Khalik, saat kami tanya kiat agar senang menulis. Begitu juga amaliyah, ketika kalian masih dalam fase belajar tugas kalian adalah belajar, mendalami dengan benar ilmu-ilmu tersebut. Barangkali seperti inilah rasa para pecinta ilmu yang menghidupkan hari-harinya, dicurahkan untuk ilmu. Bagaimana tidak, setelah kemarin menerbitkan buku, “Waringin Sungsang Jawa” kini berkutit dan berfokus pada pemikiran tantanan barat. “Wallahu a’lam.”  

Cahaya Cinta dan Teladan dari Emha (Cak Nun)

Penulis: Said Kosim, Editor: Fajri Muarrikh

Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, adalah tokoh yang tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di dunia internasional sebagai seorang budayawan, penyair, penulis, pemikir Islam, dan tokoh masyarakat.

Kehidupannya mencerminkan perjalanan panjang seorang intelektual yang senantiasa berpihak pada keadilan, kesetaraan, dan kedamaian.

Lahir pada 27 Mei 1953 di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Cak Nun tumbuh di lingkungan pesantren dan keluarga santri. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya, Mohammad Abdul Latief, adalah seorang guru agama yang dikenal taat. Tradisi Islam yang kuat di keluarganya menjadi pondasi bagi pemikiran Cak Nun di kemudian hari.

Silsilah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berkaitan dengan garis keturunan keluarga yang berasal dari lingkungan religius di Jawa Timur, khususnya daerah Jombang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pesantren dan tokoh-tokoh ulama besar. Cak Nun berasal dari keluarga yang sederhana namun religius dan penuh nilai-nilai luhur. Ayahnya, seorang guru agama, menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter Cak Nun. Dari lingkungan pesantren dan tradisi keislaman di Jombang inilah, Cak Nun tumbuh menjadi seorang tokoh yang membawa pesan perdamaian, cinta, dan harmoni melalui karya, pemikiran, dan dakwah budaya.

Baca juga: KH. Abdul Hamid Pasuruan Sosok Ulama Sufi dan Tokoh-Panutan/

Pada usia remaja, Cak Nun mengalami pergolakan batin dan mencari makna kehidupan. Ia meninggalkan pesantren Gontor untuk mengembara ke Yogyakarta, kota yang kemudian membentuk sebagian besar kepribadiannya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan para seniman, intelektual, dan aktivis yang membentuk wawasannya.

Meskipun ia sempat kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia memilih jalur pendidikan otodidak dan berguru kepada banyak tokoh besar, seperti Umar Kayam, Umbu Landu Paranggi, dan WS Rendra. Persentuhannya dengan komunitas sastra dan seni Yogya menjadikannya seorang pemikir yang tidak hanya religius, tetapi juga artistik.

Pada masa ini, ia mulai menulis puisi, esai, dan cerpen yang dimuat di media nasional seperti Kompas dan Tempo. Tulisannya sering kali sarat kritik sosial dan bernada spiritual, mencerminkan keresahannya terhadap ketimpangan sosial dan dekadensi moral masyarakat.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin Pembawa Obor Toleransi Ala Gus Dur Muda

Cak Nun menonjol sebagai seorang sastrawan yang menghasilkan banyak karya monumental, seperti:
99 Untuk Tuhanku: Kumpulan puisi yang menjadi refleksi spiritual dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Indonesia Bagian dari Desa Saya: Esai kritis tentang kondisi sosial-politik Indonesia.
Markesot Bertutur: Kisah filsuf desa yang memberikan pandangan mendalam namun sederhana tentang kehidupan.
Arus Bawah: Kumpulan tulisan yang membahas dinamika sosial masyarakat kecil di Indonesia.
Cak Nun menggunakan sastra sebagai media untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, mengkritik kekuasaan yang tidak adil, serta menyampaikan pesan spiritual secara humanis.

Cak Nun menjadi lebih dikenal luas melalui Maiyah, sebuah komunitas diskusi yang ia dirikan. Maiyah bukan hanya sekadar forum intelektual, tetapi juga sebuah ruang spiritual, budaya, dan sosial yang terbuka untuk semua kalangan.

Melalui Maiyah, ia menyampaikan pesan-pesan yang inklusif terhadap berbagai keyakinan dan pandangan; enekankan pentingnya cinta kasih, keadilan, dan keberpihakan kepada kaum marginal; menggugah umat untuk tidak sekadar beragama secara ritual, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Maiyah sering kali dikemas dengan pengajian budaya dan musik yang melibatkan Kiai Kanjeng, kelompok musik yang ia bentuk. Musik mereka menggabungkan elemen tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang unik dan menyentuh hati berbagai kalangan.

Pemikiran Cak Nun tidak hanya tentang agama, tetapi juga kritik terhadap politik, ekonomi, dan sosial. Ia sering menyerukan: kejujuran dan keadilan dalam kepemimpinan; kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa diskriminasi; pentingnya merawat kebudayaan sebagai identitas bangsa.

Ia sering hadir di tengah konflik untuk menjadi mediator, seperti dalam kasus konflik sosial di Ambon, Poso, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Perannya sebagai penyejuk di tengah ketegangan menjadikannya tokoh yang dihormati oleh berbagai golongan, baik Islam maupun non-Islam.

Cak Nun memiliki peran yang sangat penting dan unik dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama melalui pendekatan budaya, seni, dan dialog kemanusiaan. Berbeda dengan pendekatan formal yang sering bersifat doktrinal, Cak Nun menyampaikan nilai-nilai Islam secara inklusif, damai, dan membumi, menjadikannya mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Cak Nun menggunakan seni dan budaya sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam yang penuh cinta, kedamaian, dan toleransi. Salah satu contoh konkret adalah melalui KiaiKanjeng, kelompok musik yang ia bentuk.

KiaiKanjeng menggabungkan unsur musik tradisional, modern, dan spiritual, menciptakan harmoni yang merefleksikan ajaran Islam sebagai agama yang merangkul keberagaman. Musik mereka sering dijadikan sebagai pengantar refleksi ajaran Islam dalam suasana yang lebih santai namun mendalam. Contohnya, dalam pengajian budaya, Cak Nun menyelipkan nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan pentingnya kebersamaan sambil diiringi oleh lantunan musik dari KiaiKanjeng.

Hal ini membuat dakwahnya lebih “menghidupkan” dibandingkan ceramah formal.
Cak Nun mendirikan Maiyah, yaitu forum pengajian budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Maiyah bukan hanya tempat pengajian, tetapi juga ruang terbuka untuk diskusi spiritual, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Forum ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kelas sosial.

Cak Nun mendorong dialog dua arah, sehingga masyarakat merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya. Cak Nun juga mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang merangkul semua, bukan memecah belah. Pesan-pesan tentang keadilan, kemanusiaan, dan kasih sayang sering kali menjadi inti dari diskusinya.

Dengan pendekatan ini, Cak Nun berhasil menyebarkan pemahaman Islam yang ramah, terbuka, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Cak Nun selalu menekankan bahwa Islam harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan atau dimaknai secara simbolis.

Beberapa poin penting dalam penyebaran nilai Islam menurut Cak Nun adalah: menjunjung tinggi keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan menjauhi sifat-sifat merusak; Cak Nun mengkritik cara beragama yang hanya menekankan ritual tanpa memahami esensi dan nilai spiritual di baliknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Cak Nun sering menyampaikan hal ini dalam konteks ekonomi, politik, dan sosial.

Di tengah situasi global dan nasional yang sering kali dipenuhi konflik atas nama agama, Cak Nun tampil sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Cak Nun sering hadir di tengah masyarakat yang berkonflik, seperti saat kerusuhan Ambon atau Poso, untuk menjadi penengah dan menyampaikan pesan kedamaian dari perspektif Islam.

Melalui pendekatan bahasa yang sederhana, lugas, dan penuh hikmah, Cak Nun berhasil menjangkau generasi muda dalam memahami Islam. Ia mengemas dakwah dengan bahasa modern dan relevan dengan kehidupan anak muda. Pesan-pesan spiritualnya menyentuh sisi emosional, sosial, dan rasional, sehingga mudah dicerna dan diaplikasikan. Generasi muda tidak hanya melihat Islam sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang menyejukkan dan memberi makna.

Cak Nun juga sering mengkritik ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik sebagai bagian dari dakwahnya. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk mengingatkan bahwa Islam mengajarkan keadilan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Misalnya: Mengingatkan pemimpin agar amanah dalam mengemban tugas. Menyerukan kepedulian terhadap kaum miskin dan tertindas sebagai bagian dari kewajiban umat Islam.

Peran Cak Nun dalam penyebaran agama Islam tidak hanya terbatas pada dakwah konvensional, tetapi melalui pendekatan yang lebih inklusif, dan humanis. Beliau berhasil menggabungkan seni dan budaya sebagai media dakwah, mendirikan forum Maiyah sebagai ruang dialog terbuka, menanamkan Islam sebagai ajaran yang praktis dan hidup dalam keseharian, menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Pendekatan Cak Nun menjadikan Islam lebih dekat dengan hati masyarakat, lintas generasi, dan lintas golongan, sehingga nilai-nilainya mampu menginspirasi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

Ngaji Filsafat: Menyebarkan Kesejukan dan Kebijaksanaan Bersama Fahrudin Faiz

Penulis: M. Fatih Qosdana, Editor: Sirli Amry

Fahrudin Faiz, nama yang tidak asing dikalangan pemuda, orangtua, dan bagi mereka penggemar gadget di era globalisasi sekarang ini. Pasalnya tak satupun orang yang tidak mengenal beliau meski di pelosok desa sekalipun. Akses internet yang menjangkau terhadap semua lapisan masyarakat menjadikan beliau banyak dikenal melalui kajiannya yang unik. Berbagai kajiannya menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat. Salah satunya adalah kajian youtube ”Ngaji Filsafat”.

Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., adalah seorang filsuf Muslim kelahiran Mojokerto, 16 Agustus 1975. Dengan keahlian dan dedikasi yang luar biasa dalam bidang filsafat, beliau menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mendalami filsafat, terutama filsafat Islam. Perjalanan pendidikannya dimulai di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat beliau meraih gelar Sarjana (S1) di jurusan Aqidah dan Filsafat pada tahun 1998. Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan pendidikannya di program Magister (S2) pada bidang Agama dan Filsafat di universitas yang sama dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2001. Kecintaannya pada ilmu membawanya meraih gelar Doktor (S3) dalam Studi Islam pada tahun 2014.

Baca Juga:  Refleksi Pemikiran Politik Menurut Imam Al Ghazali dalam Konteks Nilai-Nilai Islam dan Relevansinya pada Era Modern

Dedikasi dan keilmuan yang mendalam dari Dr. Fahruddin Faiz tidak hanya tercermin di ruang akademik, tetapi juga melalui program Ngaji Filsafat yang kini telah memasuki 457 sesi.  Kajian yang beliau usung bersama tim ini pertama kali digelar pada malam Senin sejak tahun 2013, sebelum akhirnya bergeser ke malam Kamis. Salah satu keunikan Ngaji Filsafat ini adalah menghadirkan berbagai macam pemikiran (filosof) barat, timur, asia, nusantara dan lainnya. Dilaksanakan setiap satu minggu sekali menjadikan kajian ini terasa dikangeni dan digandrungi banyak orang. Tema kajian filsafat (banner, pamflet YouTube, instagram, facebook, dan media lainnya) biasanya di share beberapa hari sebelum kajian berlangsung.

”Saya sering mendapat tanggapan dari teman-teman dari media-media mengatakan ada juga yang berharap semoga suatu saat bisa bertemu Pak Faiz. Kemudian ada juga yang mengatakan barangkali Pak Faiz terima aku jadi muridmu dan seterusnya-seterusnya. Sebenarnya yang dapat keuntungan, manfaat daripada itu semua itu adalah saya. Sebab, sebelum kalian tahu tentang pemikiran sebuah tokoh ataupun tema-tema yang akan dikaji maka saya harus lebih tahu dulu daripada kalian, sehingga saya harus mencari referensi terlebih dahulu ini, itu, dan sebagainya. Sehingga seringkali saya tekankan, mari belajar bersama-sama; saya belajar kepada kalian, kalian belajar kepada saya. Sebab hakikatnya seorang guru itu yang mau belajar sebagaimana murid yang mau mengajarkan. Sehingga terus-menerus adanya korelasi yang berkesinambungan.” ungkap beliau Pak Faiz dengan nada rendah yang menenangkan dalam kajiannya.

Pak Faiz, dalam kajiannya seringkali menyelipkan jokes-jokes atau candaan ringan. Hal ini dimaksudkan agar ngaji filsafat terasa menyenangkan dan tidak terkesan berat. Meskipun sejatinya filsafat itu susah, namun ditangan beliau, ngaji filsafat menjadi mudah untuk dipahami baik bagi pendengar secara langsung (mereka yang hadir di MJS pada malam rabu) maupun tidak langsung (mendengarnya dari channel MJS). Tamu yang datang kepada beliau pun tak terhitung jumlah dan asalanya. Mereka tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari berbagai mancanegara. Bahkan karena cara mengkaji filsafat oleh beliau itu tergolong unik dan mudah dipahami, seorang suami istri dari luar negeri rela datang mengaji dan kuliah di jurusan filsafat.

Baca Juga:   Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Salah satu kutipan pernyataan beliau yang pernah beliau sampaikan yakni ”Ketika orientasimu menolong orang lain dikarenakan kasihan terhadap orang tersebut, maka sejatinya engkau sedang melangkahi Allah. Karenanya, sadarilah bahwa kemampuan kita dalam menolong orang lain itu sebab Allah memampukan diri kita untuk menolong orang lain. Sehingga jadilah kita menolong terhadap orang lain. Meskipun hal ini kadang tidak masuk akal akan tetapi memang seperti itulah sejatinya, adanya Allah dibalik seluruh aktivitas kita”.

Dalam kajian ngaji filsafat seri awal memasuki tahun baru 2025 tepatnya hari rabu tanggal 1 januari, kanal ini menghadirkan tema tentang bagaimana menetapkan resolusi yang bermakna. Dengan harapan, resolusi yang dirancang dapat menjadi pijakan untuk memperbaiki diri dan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Semoga channel ngaji filsafat yang dibawa oleh Pak Faiz beserta crew bisa membawakan kesejukan-kesejukan untuk Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Mengenal Syekh Nujumudin : Ulama Sufi Pembabad dan Penyebar Islam di Watusalam

Penulis: Muhammad Irfan, Editor: Fajri Muarrikh

Desa Watusalam terletak di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dan berbatasan dengan Desa Warungasem Kabupaten Batang disebelah timur, dan berbatasan dengan Kota Pekalongan di sebelah utara.

Di desa Watusalam terdapat seorang punden atau leluhur yang membabad tanah Watusalam, bernama Syekh Nujumuddin dari Cirebon, lahir pada tahun 1690 M, dan wafat pada tahun 1771 M, pada bulan safar. Beliau adalah seorang murid dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Jawa Barat. Setelah membuka perguruan atau pesantren di Gua Safarwadi, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan banyak kedatangan murid-murid, salah satunya Syekh Nujumuddin. Kurang lebih tujuh tahun beliau menimba ilmu dan mengambil sanad tarekat Syattariyah, setelah itu Syekh Abdul Muhyi memerintahkan kepada Syekh Nujumuddin untuk menyebarkan Agama Islam dan berdakwah dari Cirebon menuju ke pesisir utara Jawa.

Dalam menuju ke pesisir utara laut jawa, beliau bersama dengan rombongan Syekh Faqih Ibrahim, putra dari Syekh Abdul Muhyi untuk menuju ke Mataram, akan tetapi Syekh Nujumuddin memisahkan diri karena dalam perjalanan beliau teringat pesan gurunya bahwa ada murid tua dari gurunya bernama Syekh Tholabuddin di Batang, yang saat itu sudah menjabat menjadi penghulu di Batang. Akhirnya, Syekh Nujumuddin berpisah dari rombongan dan menuju ke murid tertua Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Dalam perjalanannya, beliau beberapa kali bertemu dengan orang untuk menanyakan tempat tinggal Syekh Tholabuddin, akhirnya setelah mengetahui keberadaan Syekh Tholabuddin, Syekh Nujumuddin mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Syekh Tholabuddin, dikarenakan Syekh Tholabuddin sudah menjadi penghulu. Beliau singgah di suatu daerah untuk meminta petunjuk sebelum menemui Syekh Tholabuddin, daerah itu dipenuhi pohon salam dan bambu, kemudian beliau memilih dibawah pepohonan bambu dan mendirikan gubuk untuk tempat tinggal tepatnya di pinggir kali kupang. Orang yang mengetahui ada gubuk di pinggir kali kupang dan mengetahui beliau seorang ulama, akhirnya banyak yang mendatangi untuk berguru kepadanya. Pada tahun 1740 M, beliau mendirikan gubuk atau pesantren untuk menampung murid-murid yang belajar dengan beliau.

Baca Juga : Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Perjalanan Sejarah Menuju Kepresidenan RI

Setelah mendapat petunjuk dan sudah lama mengajar murid-muridnya, beliau menemui Syekh Tholabuddin di Masin. Serampung menemuinya, Syekh Nujumuddin kembali ke tempat padepokannya yang di pinggiran kali kupang, yang nantinya tempat itu dinamakan Watujoyo. Disana syekh Nujumuddin mendirikan perkampung yang bernama Watujoyo, sehingga beliau dikenal Buyut Watujoyo. Beliau lah yang pertama kali membabad tanah yang tadinya alas menjadi perkampungan. Di era Belanda desa Watujoyo nantinya di pecah menjadi dua, pertama menjadi desa Kertoharjo dan kedua bernama Watusalam. Makam Syekh Nujumuddin berada dikompek pemakaman seklayu desa Watusalam. Dalam catatan naskah Cirebon berkode KBG 628 PNRI, dari bagus ihram, ditulis pada kertas Eropa. Terdapat dua jenis bahasa yaitu bahasa Arab dan pegon. Bahasa Arab berjumlah 120 halaman dan 30 halaman menggunakan pegon, tertulis silislah sanad keilmuan Syekh Nujumuddin. Untuk silsislahnya, secara berurutan sebagia berikut.

Rasulullah saw.

Ali kang putra Abi Thalib

Husein al-Syahid

Zainal Abidin

Muhammad Baqir

Ja‟far al-Sidiq

Sultan Arifin Abi Yazid al-Bistami

Muhammad Magrib

Arabi Yazid al-Isyqi

Abu Mugafir Maulana Ihram Tusi

Abi Hasani Harqani

Hadaqili Madri al-Nahrini

Muhammad Asyiq

Muhammad Arif

Hidayat Allah Sarmusun

Hasur

Muhammad Gaus kang putra Hatib al-Din

Wajih al-Din

Sibgat Allah kang putra Sayyid Ruh Allah

Sayyidina Abi Muwahid Abd Allah Ahmad kang putra Abbas

Syaikh Ahmad kang putra Muhammad ing Madina, Syaikh Ahmad Qasyasi

Syaikh Abd al-Rauf kang putra Ali kang bangsa Syaikh Hamzah Fansuri

Syaikh Abd al-Muhyi Safarwadi

Syaikh Nujum al-Din

Kanjeng Kyai Haji Muhammad Yunus Saferwedi

Kyai Bagus Muhammad Taraju Cisarua

Bagus Ihram Carebon Babakan

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial 

Demikianlah biografi dari Syekh Nujumudin yang bisa penulis ceritakan. Syekh Nujumuddin meninggalkan warisan yang tak hanya berupa perkampungan dan pesantren, tetapi juga jejak spiritual yang terus hidup melalui para murid dan silsilah keilmuannya. Hingga kini, Desa Watusalam tetap mengenang beliau sebagai tokoh sentral dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut, dengan makamnya menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati.  Jika ada kekeliruan, bisa dikoreksi bersama.

Wallahu a’lam..