Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

Pewarta : Maylinda Islakhulia, Editor : Achmad Mafatikhul Huda

Pekalongan, 7 November 2024 – Kasus perundungan masih marak ditemukan di Kota Pekalongan, terutama pada kalangan anak – anak sekolah. Tindakan perundungan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari segi individu maupun lingkungan sekitar.  Menyikapi situasi ini, mahasiswa KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berinisiatif memberikan edukasi tentang Stop Bullying.

Bullying yang terjadi di lingkungan sekolah disebabkan salah satunya karena kurang pengawasan dari pihak sekolah. Selain itu, keberadaan budaya kekerasan dalam masyarakat turut mempengaruhi perilaku dan pola pikir siswa, mendorong mereka untuk menganggap kekerasan fisik maupun verbal sebagai hal yang biasa. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan nilai – nilai anti bullying sejak dini, yang dapat dimulai di lingkungan sekolah dengan mengajarkan serta menerapkan sopan santun serta etika yang baik.

Kegiatan edukasi dan pendampingan untuk meningkatkan kesadaran anti bullying melibatkan kepada siswa – siswa sekolah dasar. Materi pendampingan kesadaran anti bullying disampaikan oleh Tri Langga Lana dan Balgis Ainia di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Pringlangu Takhassus dari kelas I – IV. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 7 November 2024 di aula MII Pringlangu Takhassus pada pukul 10:00 WIB.

Baca juga : KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Dalam kegiatan ini, para siswa – siswi mendapat pemahaman tentang definisi bullying, berbagai bentuk jenis bullying, faktor-faktor penyebab bullying dan dampak buruknya bagi diri mereka serta korban bullying. Selain itu, diselingi dengan penayangan video tentang stop bullying agar siswa–siswi tersebut lebih paham melalui visualisasi.

Selain sesi penjelasan dan tayangan video, acara dilengkapi dengan kuis tentang pertanyaan yang melibatkan para siswa – siswi untuk mengetahui seberapa jauh siswa – siswi memahami penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya tentang stop bullying. Dari kuis tersebut siswa – siswi sangat antusias dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini dan tim KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memberikan hadiah untuk yang berani menjawab kuis paling cepat.

Kegiatan edukasi stop bullying ini adalah upaya mahasiswa untuk memberikan kontribusi positif kepada anak – anak sekolah terutama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif bagi anak – anak. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk menyebarluaskan kesadaran, saling menghargai dan menanamkan nilai anti bullying sejak dini. Kami ingin membantu meningkatkan kesadaran anak – anak tentang bahaya bullying dan bagaimana cara mengatasinya. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi anak – anak dan juga menjadi pengalam berharga bagi kami sebagai mahasiswa KKN.

Baca juga : Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Mahasiswa KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan 2024 berharap dengan diadakanya edukasi ini dapat membantu mencegah perilaku bullying di kalangan siswa – siswi di MII Pringglangu Takhassus, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung  proses belajar mengajar. Inisiatif ini juga diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berperan serta dalam memajukan dunia pendidikan.

Moderasi Beragama: Langkah untuk Menuju Keharmonisan Sosial

Penulis: Muhamad Rifa’i Subhi, Editor: Syamsul Bakhri

Moderasi beragama menjadi hal penting untuk selalu digaungkan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks seperti saat ini, apalagi dengan kondisi masyarakat yang beraneka ragam seperti Indonesia. Moderasi beragama tidak berarti menurunkan nilai atau ajaran agama, namun lebih pada menyeimbangkan antara keyakinan pribadi dengan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Hal ini mendorong setiap individu untuk beragama dengan penuh kesungguhan, sembari menghindari ekstremisme yang dapat memicu konflik bahkan perpecahan.

Kita ketahui bersama, bahwa Indonesia merupakan negara dengan beragam agama dan keyakinan, sehingga memerlukan sikap moderat dalam menjalankan agamanya untuk menjaga keutuhan bangsa. Sikap moderat ini mendorong penganut agama untuk tidak hanya berfokus pada ritual atau ibadah personal, namun juga memahami peran agama dalam kehidupan sosial. Sebagaimana diketahui bahwa moderasi beragama memiliki empat indikator, yaitu Toleransi, Anti-Kekerasan, Cinta Tanah Air, dan Akomodatif terhadap Budaya Lokal. Apabila masing-masing pemeluk agama dapat menginteranalisasikan keempat indikator tersebut, maka hal ini dapat menjadikan agama tampil sebagai sumber kearifan, yang menuntun umatnya ke arah kedamaian dan keadilan. Hal ini dikarenakan, Moderasi beragama sangat selaras dengan prinsip dasar agama yang mengajarkan kebaikan, persaudaraan, dan perdamaian.

Baca Juga : Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Pemerintah dan organisasi agama dapat bersinergi secara serius dengan Perguruan Tinggi, untuk menyampaikan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat, baik melalui pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pendidikan masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka mengimplementasikan moderasi beragama sebagai langkah menuju Keharmonisan Sosial, diperlukan komitmen nyata dari semua pihak, baik dari individu, keluarga, masyarakat, maupun negara, termasuk perguruan tinggi salah satunya melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat.

Melalui program pengabdian kepada Masyarakat (PkM), peran nyata dari seorang dosen dalam menginternalisasikan indikator dan nilai-nilai moderasi bergama sangat dibutuhkan. Dosen dapat menjadi fasilitator bagi masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan, dalam rangka mewujudkan keharmonisan sosial sebagai hasil dari implementasi moderasi beragama. Berbagai kegiatan PkM dapat dilakukan, sebagai contoh salah satunya Religious Moderation Camp yang pernah dilasanakan di Desa Linggoasri, Kajen, Pekalongan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, dengan peserta yang berasal dari pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Namun, karena adanya keterbatasan pada satu dan lain hal dari pihak penyelenggara, terdapat peserta dari pemeluk agama lain yang belum berhasil diikutsertakan, yaitu Konghuchu dan Kepercayaan/Penghayat. Terlepas dari beberapa kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan, melalui Religious Moderation Camp, para peserta diajak untuk bisa menjadi duta moderasi beragama di daerahnya masing-masing, sehingga nilai-nilai moderasi beragama dapat benar-benar tersebarluaskan secara nyata.

Baca Juga :  Prof. Quraish Shihab Bersama Mahasiswa UIN Gusdur Diskusikan Toleransi, Pendidikan Akhlak, dan Moderasi Beragama

Selain itu, dosen, guru, dan pendakwah juga memiliki peran penting sebagai agen penyebar nilai-nilai moderasi beragama yang sesuai dengan budaya lokal serta tetap berakar pada ajaran agama yang murni. Dengan menjalankan moderasi beragama, masyarakat dapat lebih terbuka dalam menghadapi perbedaan dan lebih kuat dalam menghadapi tantangan globalisasi. Moderasi beragama tidak hanya solusi atas konflik yang berbasis agama, namun juga dapat menjadi kunci bagi masa depan bangsa yang damai, harmonis, dan sejahtera.

Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Penulis: Syamsul Bakhri, Dosen Sosiologi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (Peserta PTP PKDP UIN SAIZU Purwokerto 2024); Editor: Muhammad Rifa’i Subhi

Salah satu pilar utama dari tridarma perguruan tinggi di Indonesia, khususnya perguruan tinggi keagamaan, adalah pengabdian kepada masyarakat. Program kemitraan universitas-masyarakat dalam membudidayakan cabai Jawa untuk membentuk kampung moderasi beragama di Desa Linggoasri, Pekalongan, adalah salah satu contoh pengabdian masyarakat yang relevan. Melalui budidaya cabai Jawa, program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga mempromosikan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Dosen perguruan tinggi keagamaan memainkan peran penting dalam program ini. Mereka tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga berperan sebagai penggerak perubahan sosial dengan mendorong prinsip-prinsip (1) Kemanusiaan, (2) Kemaslahatan Umum, (3) Adil, (4) Berimbang, (5) Taat Konstitusi, (6) Komitmen Kebangsaan, (7) Toleransi, (8) Anti Kekerasan, dan (9) Penghormatan kepada Tradisi. Misalnya, dalam program ini, para dosen dan mahasiswa melakukan “benchmarking” untuk mempelajari teknik terbaik untuk menanam cabai Jawa, yang kemudian diterapkan di Green House Pembibitan Cbai Jawa Desa Linggoasri. Selain mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan yang relevan bagi masyarakat, mereka membantu petani lokal meningkatkan kualitas dan kuantitas bibit. Oleh karena itu, masyarakat linggoasri sekarang memiliki sumber pendapatan baru dari cabai jawa.

Baca Juga :  Moderasi Beragama: Solusi untuk Kehidupan Harmonis di Masyarakat Multikultural

Pengabdian dosen ini tidak hanya mencakup aspek teknis pertanian, tetapi juga aspek sosial yang penting untuk membangun moderasi beragama. Peluncuran Kampung Moderasi Beragama di desa tersebut adalah bukti konkret bagaimana dosen dapat mendukung terbentuknya komunitas yang lebih toleran dan harmonis. Kemitraan universitas dengan masyarakat tidak hanya memperkuat perekonomian lokal melalui pertanian, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dengan menghadirkan ruang untuk dialog antaragama dan pengenalan nilai-nilai moderasi kepada mahasiswa asing dari berbagai negara.

Program ini memberikan dampak yang signifikan, baik secara lokal maupun nasional. Beberapa penghargaan yang telah diraih oleh program ini menunjukkan bahwa upaya dosen dalam pengabdian berbasis moderasi beragama mendapat apresiasi luas, sekaligus menginspirasi kampung-kampung lainnya untuk menerapkan pendekatan serupa. Sebagai dosen, Tridharma perguruan tinggi bisa dilaksanakan dengan tuntas yaitu dengan menjelaskan pengalaman membina kampung moderasi beragama dalam proses pembelajaran, melakukan pengabdian Masyarakat berbasis moderasi beragama, dan melakukan penelitian berbasis moderasi beragama.

Baca Juga : Pengembangan Kampung Moderasi Beragama Kutorojo Melalui Bank Sampah Dan Budi Daya Magot

Penghargaan-penghargaan yang diraih dalam pengabdian Masyarakat berbasis moderasi beragama di Desa Linggoasri ini adalah Best Paper The 4th International Conference on Univercity Community Engagement (ICON UCE) 2022 yang diselenggarakan oleh Kemenag RI dengan judul “Empowerment of Strategic Elites in Establishing Religious Moderation and Harmony Awareness Villages: Pilot Project of Linggoasri Village, Kajen District, Pekalongan Regency”., Juara 2 Rumah Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Litbang Kemenag RI Tahun 2023 dan Juara 8 Kampung Moderasi Beragama dari 1000 kampung moderasi beragama yang ada di Indonesia yang diselenggarakan oleh Litbang Kemenag RI Tahun 2023. Desa Linggoasri juga menjadi tempat belajar moderasi beragama bagi siswa-siswi SMA di pekalongan, Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dan mahasiswa asing dari berbagai negara (Prancis, Belanda, Aljazair, China, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, dan Filipina).

Baca Juga :  Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Multikultural di Sekolah

Secara keseluruhan, peran dosen dalam pengabdian masyarakat berbasis moderasi beragama sangatlah penting untuk menciptakan masyarakat yang toleran, mandiri secara ekonomi, dan harmonis dalam keberagaman. Best Practice yang bisa kita dapatkan dari linggoasri adalah “rukun agawe santosa trah agawe bubrah” yang artinya  berpisah atau cerai akan membuat runtuh, kerukunan membuat keadaan sentosa. Program seperti ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga bisa diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Angka Harapan Hidup Tertinggi di Dunia Didominasi Negara-Negara Maju: Perspektif Islam dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kesehatan

Penulis : Taufiqur Rohman, Editor : Amarul Hakim

Hong Kong, 5 November 2024 — Berdasarkan data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka harapan hidup tertinggi di dunia umumnya ditemukan di negara-negara maju yang memiliki akses layanan kesehatan berkualitas, standar hidup tinggi (tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup) dan pola hidup sehat. Negara-negara seperti Hong Kong, Jepang, Singapura, Swiss, dan Italia menjadi negara dengan angka harapan hidup tertinggi, rata-rata mencapai 83 hingga 85 tahun.

Faktor utama di balik angka harapan hidup yang tinggi ini meliputi kualitas layanan kesehatan, pola makan seimbang dengan menyediakan semua nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang tepat serta gaya hidup aktif dengan memperbanyak menggunakan aktifitas fisik seperti jalan kaki setiap hari 7.000 sampai 10.000 langkah.

Dalam pandangan Islam, kesehatan dan kesejahteraan adalah bagian integral dari tujuan syariat (maqasid al-shariah), yang menekankan pentingnya menjaga jiwa (hifz al-nafs) sebagai salah satu dari lima tujuan utama. Hal ini selaras dengan upaya negara-negara maju dalam memastikan kesejahteraan warga negara melalui akses layanan kesehatan yang merata dan kebiasaan hidup sehat. Islam mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui pola makan yang baik, moderasi (seimbang) dalam konsumsi makan dan minum serta aktivitas fisik yang seimbang, seperti berjalan kaki yang juga dianjurkan dalam sunnah.

Baca juga : Bersama PCINU Hongkong, LP2M UIN Pekalongan Gelar Forum Pengajian Bersama Pekerja Migran

Angka harapan hidup yang tinggi dengan perspektif moderasi beragama, tercermin dari pola hidup yang seimbang antara jasmani dan rohani. Islam memandang bahwa manusia sebaiknya hidup dalam moderasi, tanpa berlebihan sehingga memberatkan dirinya (israf) atau menyepelekan dengan meninggalkan sama sekali, serta berkomitmen pada gaya hidup yang mendukung kesehatan fisik dan mental. Negara-negara yang memiliki angka harapan hidup tinggi cenderung mengaplikasikan prinsip-prinsip yang mendekati ajaran ini dengan mempromosikan pola makan yang seimbang, kontrol stres, dan akses layanan kesehatan untuk semua.

Sebaliknya, di negara-negara yang dilanda konflik atau terbatas dalam akses kesehatan, angka harapan hidup cenderung lebih rendah. Islam memandang bahwa ketenangan jiwa dan stabilitas sosial sangat penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya membangun masyarakat yang damai, adil, dan berimbang dalam menyediakan hak-hak dasar, termasuk kesehatan.

Baca juga : Mengungkap Realitas Pekerja Migran Indonesia di Hongkong: LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Adakan Penelitian

Angka harapan hidup yang tinggi di negara-negara maju dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan, dan akses pelayanan masyarakat. Islam memberikan panduan yang relevan untuk menjaga keseimbangan hidup yang sehat, baik secara fisik maupun spiritual, sehingga masyarakat dapat mencapai usia yang lebih panjang dengan kualitas hidup yang baik.

Prof. Quraish Shihab Bersama Mahasiswa UIN Gusdur Diskusikan Toleransi, Pendidikan Akhlak, dan Moderasi Beragama

Pewarta : Eka Rizqiani, Editor : Amarul Hakim

Jakarta (4/11), Mahasiswa Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan yang dilaksanakan di Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ) Jakarta.

Mahasiswa melakukan kunjungan dan mengikuti acara diskusi keislaman di Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) bersama Prof. Quraish Shihab. Tema yang diangkat dari acara tersebut adalah “Diskusi keislaman: Toleransi, pendidikan Akhlak dan penguatan moderasi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan  di Masjid Jami’ Bayt Al Qur’an Pondok Cabe Tangerang selatan, Banten. Dalam diskusi tersebut beliau Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A ditemani oleh Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB.

Acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Abi Quraish Shihab mengenai pembahasan toleransi, pendidikan akhlaq, dan penguatan moderasi. Kemudian dilanjutkan diskusi bersama berupa tanya jawab. Beliau memaparkan mengenai perbedaan toleransi, moderasi, dan pluralisme. “Toleransi adalah menghargai tanpa mengorbankan prinsip. moderasi adalah cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, adil, dan tidak ekstrem, sedangkan pluralisme adalah mengakui kebebasan tanpa mengorbankan prinsip namun tidak mencampuradukkan,” terang Abi Quraish.

Salah satu mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid, Sokhifah Hidayah bertanya mengenai sejauh mana batasan seorang muslim dengan non-muslim dalam berinteraksi dan bagaimana cara agar akidah kita sebagaiman seorang muslim tidak tercampur aduk dengan akidah saudara kita yang non-muslim dalam berinteraksi, serta apakah membenarkan ajaran-ajaran yang berasal dari agama non Islam juga termasuk perbuatan yang mencampur adukkan agama?.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB menjawab, “Boleh saja berinteraksi dengan non-muslim tapi kita harus pegang prinsip, yang terpenting adalah kita harus berakhlaq yang baik dengan orang diluar Islam, jangan sampai untuk menyenangkan hati non-muslim kita justru melewati batasan-batasan agama kita,” jawab Ustadz Taufiq.

Abi Quraish Shihab juga menambahkan jawaban, “Berulang-ulang Al-Qur’an menyampaikan pesan untuk jangan mencaci, jangan menghina orang-orang yang tidak menyembah Allah karena itu bisa mengundang mereka mencaci Tuhan, Nabi bersabda salah satu dosa yang paling besar adalah memaki orang tua, maksudnya bukan anak yang memaki secara langsung kepada orang tua, tapi anak yang memaki orang tua orang lain sehingga orang itu memaki orang tua kita.  Selain itu, terdapat ajaran-ajaran kebenaran yang semua sepakat yakni kebenaran yang diakui secara universal terlepas apapun agamanya,” tambah Abi Quraish.

Sesi diskusi tersebut ditutup dengan penyampaian Abi Quraish mengenai contoh toleransi dalam banyaknya karya tafsir yang muncul. Menurut beliau tafsir yang harus kita terima adalah yang berusaha menggapai kehendak Allah atas apa yang telah difirmankannya dalam Al-Qur’an, dengan semua piranti bahasa Arab beserta kaidah tafsirnya. Ketika ada karya tafsir yang muncul dan ditulis dengan melewati semua hal tersebut, namun nyatanya satu sama lain masih ada perbedaan, maka perbedaan tersebut bisa kita toleransi. Sedangkan apabila ada seseorang yang berusaha menafsirkan tanpa kaidah tafsir dan ilmu bahasa dalam bahasa Arab, maka hal tersebut yang kita tolak.

Baca juga : Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Pada kegiatan diskusi keislaman ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman bagi mahasiswa mengenai toleransi, pendidikan akhlak dan penguatan moderasi. Begitu banyak pesan-pesan yang bisa diambil dari diskusi tersebut, yang akan menjadikan kita lebih mengerti apa arti dan sejauh mana batas serta toleransi dan moderasi beragama. sehingga menjadikan hidup kita lebih rukun dengan sesama dan tidak mengklaim bahwa kita paling benar dan yang lainnya salah.

Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Penulis: Sokhifah Hidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Mendapat kesempatan untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Moderasi Beragama se-Indonesia merupakan kesempatan emas bagi para peserta KKN  dalam memaknai perbedaaan dan keindahan mozaik bangsa. Program ini menghadirkan peserta KKN dari seluruh Indonesia dengan latar belakang yang beragam. Keragaman agama, suku bangsa, budaya, dan bahasa disuguhkan secara bersamaan sebagai upaya agar para peserta KKN dan masyarakat dapat mengalami secara langsung hidup di tengah keragaman bangsa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dalam pelaksanaan program KKN ini, tentu ada beberapa tantangan yang dialami oleh peserta. Diantaranya ialah, mereka harus hidup satu atap dengan peserta lain yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Terlebih, para peserta KKN ini merupakan utusan terbaik dari masing-masing kampusnya. Tentu tidak heran ketika di awal masa KKN, mereka belum mampu ‘menurunkan ego’ masing-masing. Semua mempunyai ide, gagasan, dan inovasi yang ingin disumbangkan kepada desa tempat kami ber-KKN. Namun, apakah gagasan-gagasan tersebut dapat terlaksana apabila masing-masing belum mampu menurunkan sedikit egonya? Tentu saja tidak. Maka, tantangan yang muncul selanjutnya ketika hidup di tengah keragaman ini adalah sulitnya menyatukan dan menyelaraskan pendapat masing-masing untuk mecapai tujuan bersama.

Baca juga: KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Perbedaan-perbedaan tersebut nyatanya bukan sebuah penghalang untuk menyukseskan program KKN ini. Terbukti, dalam kurun waktu yang relatif singkat, yakni hanya 40 hari perbedaan-perbedaan tersebut dapat menyatu menunjukkan harmoninya. Dengan adanya kerja sama untuk menyelesaikan program kerja yang telah disusun tentu akan menjadi lebih mudah. Didukung dengan suasana keakraban yang telah terjalin dengan erat di antara peserta KKN. Meski memiliki perbedaan latar belakang, hal ini tidak lagi menjadi masalah karena mereka telah menyatu sebagai satu keluarga dalam ikatan keluarga nusanatara.

Selain pengalaman hidup berdampingan dengan teman-teman lintas pulau, para peserta juga mendapat banyak pengalaman tentang keharmonisan yang terjalin di tengah masyarakat. Apalagi Desa Cisantana disebut-sebut sebagai miniatur Indonesia. Sehingga peserta mampu merasakan dan memaknai kehidupan yang harmonis meski di tengah perbedaan. Adapun Keragaman yang ada di desa ini dapat dilihat dari segi agamanya, yaitu agama Katolik, Islam, Kristen, hingga penghayat/kepercayaan Sunda Wiwitan. Dalam skala kecamatan, dijumpai pula agama Hindu dan Budha yang turut mewarnai indahnya mozaik yang ada di Kabupaten Kuningan ini

KKN ini memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta, sehingga mereka mampu memahami bahwa hidup di tengah perbedaan agama bukanlah sekat dan penghalang untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang harmonis. Bukan pula faktor yang membatasi aktivitas dan interaksi sosial dalam bermasyarakat. Mereka menyadari betul bahwa masing-masing masyarakat adalah elemen penting bangsa, terlepas dari apa agama yang dianutnya. Apapun agama dan kepercayaannya, yang terpenting adalah bahwa kita sama-sama manusia yang harus dihargai dan dihormati. Selain itu, perasaan sebagai satu saudara juga harus tetap dimunculkan dan dipelihara dengan baik. Kita satu dalam ikatan nusantara dan bangsa Indonesia.

Baca juga: Tradisi Nyadran di Desa Kutorojo: Mahasiswa KKN 59 Posko 82 UIN Gus Dur Aktif Berpartisipasi

Kesadaran masyarakat untuk saling menjaga kerukunan ini mengantarkan mereka untuk medapatkan penghargaan dari Kementerian Agama RI pada Juli 2023 sebagai Kampung Moderasi Beragama, setelah sebelumnya pada tahun 2022 mendapat penghargaan sebagai Kampung Toleransi. Budaya toleransi ini, diakui oleh masyarakat sebagai warisan dari para leluhur yang telah rukun dan toleran sejak dahulu.

Disamping itu, peserta KKN ini turut merasakan pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman pertama ialah peserta dapat melihat Indahnya pemandangan ketika pukul 6 petang, umat Katolik bersama-sama menuju gereja untuk beribadah. Pun demikian, umat muslim juga berbondong-bondong menuju masjid. Ditambah dengan para penganut kepercayaan yang juga melaksanakan ibadah di waktu yang sama. Masing-masing menuju tempat ibadahnya sambil bertegur sapa dan melempar senyum. Sungguh pemandangan indah yang menenteramkan hati.

Kedua, peserta bersama-sama merawat budaya lokal. Upacara Serentaun menjadi budaya yang berhasil dilestarikan oleh masyarakat Sunda, termasuk juga masyarakat desa Cisantana, meskipun sebelumnya sempat dilarang pelaksanaannya oleh pemerintah pada era orde baru. Pelaksanaan budaya ini juga secara tidak langsung turut berperan dalam merawat persatuan dan kerukunan masyarakat setempat. Meskipun budaya ini lahir dari ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan, namun dalam pelaksanaannya banyak umat Muslim, Katolik, Hindu, dan Budha juga turut serta meramaikan upacara Serentaun ini.

Baca juga: Menapak Jejak Nabi SAW dalam Berwirausaha: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Beri Sosialisasi Pembuatan Kerupuk dari Telur Asin di Desa Sarwodadi

Ketiga, toleransi dan kebersamaan dalam beberapa kegiatan sosial keagamaan. Pada hari besar keagamaan, misalnya ketika hari raya Idul Fitri, umat non-Muslim juga ikut bersilaturahmi ke rumah-rumah orang Muslim, begitupun sebaliknya. Selain itu, ketika ada umat Katolik ataupun penganut agama lain yang meninggal, tetap diumumkan melalui pengeras suara di masjid. Peringatan dan doa meninggal lintas iman menjadi hal menarik yang menunjukkan tingginya tingkat toleransi dan kepedulian sosial masyarakat setempat.

Pengalaman-pengalaman berharga tersebut secara langsung dirasakan para peserta KKN Moderasi Beragama Se-Indonesia. Melalui kegiatan KKN tersebut, peserta mampu merasakan indahnya harmoni perbedaan agama dan kepercayaan. Mereka melihat bagaimana masyarakat mempraktikkan nilai-nilai keagamaan secara moderat dan penuh toleransi. Pengalaman-pengalaman ini juga mampu menyadarkan para peserta tentang pentingnya merawat persatuan dan keharmonisan melalui penerapan moderasi beragama yang pada akhirnya dapat menepis hal-hal yang menyebabkan perpecahan.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Multikultural di Sekolah

Penulis: Dian Mei Nitiasari, Editor: Sirli Amry

Pembelajaran multikultural di sekolah merupakan pendekatan yang semakin penting dalam mendidik generasi muda. Dalam masyarakat yang beragam, pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan budaya, etnis, dan agama sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang harmonis. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran yang sangat krusial untuk mencapai tujuan tersebut. Orang tua bukan hanya sebagai pendukung di rumah, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam proses pembelajaran multikultural di sekolah.

Pertama-tama, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan nilai-nilai multikultural di lingkungan keluarga. Di rumah, orang tua dapat menciptakan atmosfer yang mendukung pembelajaran tentang keberagaman. Mereka bisa menceritakan pengalaman budaya mereka sendiri atau mengajarkan anak-anak tentang tradisi dan nilai-nilai dari budaya lain. Misalnya, dengan mengajak anak-anak merayakan festival dari berbagai budaya atau membaca buku tentang tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda, orang tua dapat memperluas wawasan anak-anak mereka. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang perbedaan, tetapi juga tentang keindahan dan kekayaan dari setiap budaya.

Kedua, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah sangat penting. Sekolah yang menerapkan pembelajaran multikultural sering kali mengadakan berbagai acara, seperti festival budaya, pameran seni, atau diskusi panel tentang isu-isu keberagaman. Dengan menghadiri atau bahkan berpartisipasi dalam acara-acara ini, orang tua dapat menunjukkan kepada anak-anak mereka betapa pentingnya menghargai perbedaan. Keterlibatan ini juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk berinteraksi dengan guru dan orang tua lainnya serta menciptakan jaringan yang mendukung nilai-nilai multikultural di sekolah.

Baca Juga: Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Selain itu, orang tua dapat berperan sebagai advokat untuk pendidikan multikultural. Mereka bisa mengkomunikasikan pentingnya pembelajaran multikultural kepada pihak sekolah dan membantu mempengaruhi kebijakan yang mendukung keberagaman. Dengan mengajak orang tua lainnya untuk bergabung, mereka dapat menciptakan suara kolektif yang kuat dan mendorong sekolah untuk lebih mengintegrasikan aspek multikultural dalam kurikulum. Keterlibatan orang tua dalam proses ini tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak mereka, tetapi juga bagi seluruh komunitas sekolah.

Ketiga, orang tua dapat berkontribusi langsung dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Mereka dapat menawarkan diri untuk berbagi pengalaman budaya mereka atau menjelaskan tradisi yang berbeda kepada siswa lainnya. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga memberikan model positif tentang bagaimana merayakan keberagaman. Misalnya, seorang orang tua yang berasal dari budaya tertentu bisa membawakan makanan khas atau menunjukkan cara-cara tradisional dalam pembuatan kerajinan tangan, sehingga siswa lainnya dapat belajar dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Di samping itu, orang tua juga perlu memperhatikan dan mendukung proses pembelajaran multikultural yang sedang berlangsung di sekolah. Mereka bisa berdiskusi dengan anak-anak tentang apa yang mereka pelajari di sekolah dan bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang lain. Dengan melakukan ini, orang tua tidak hanya membantu anak-anak mereka mencerna informasi, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis tentang isu-isu keberagaman. Ini adalah kesempatan berharga bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa orang tua mungkin merasa tidak nyaman atau kurang percaya diri dalam membahas isu-isu multikultural. Mereka mungkin khawatir bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mendidik anak-anak mereka tentang keberagaman. Untuk mengatasi hal ini, sekolah bisa menyediakan sumber daya, seperti workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya pendidikan multikultural. Dengan memberikan pelatihan dan informasi, orang tua akan lebih siap untuk mendukung pembelajaran multikultural di rumah.

Selanjutnya, orang tua juga dapat menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam menunjukkan sikap empati dan toleransi. Ketika orang tua menunjukkan sikap terbuka terhadap keberagaman dan berbicara tentang pentingnya menghormati orang lain, anak-anak akan lebih mungkin untuk meniru perilaku tersebut. Tindakan kecil, seperti mendengarkan cerita orang lain tanpa menghakimi, dapat memberikan pelajaran berharga bagi anak-anak tentang bagaimana membangun hubungan yang positif dengan individu dari latar belakang yang berbeda.

Baca Juga:  Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Terakhir, orang tua juga harus mendukung sekolah dalam mengatasi tantangan yang mungkin muncul dari penerapan pembelajaran multikultural. Terkadang, ada resistensi dari beberapa pihak yang merasa bahwa pendekatan ini dapat mengancam nilai-nilai budaya mereka sendiri. Dalam situasi ini, penting bagi orang tua untuk berperan sebagai jembatan antara sekolah dan komunitas. Dengan mengedukasi diri mereka dan berbagi informasi yang benar tentang manfaat pendidikan multikultural, mereka dapat membantu mengurangi ketakutan dan menciptakan dialog yang konstruktif.

Dengan demikian, peran orang tua dalam pembelajaran multikultural di sekolah sangatlah vital. Mereka bukan hanya pendukung, tetapi juga mitra aktif yang dapat membantu menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman. Melalui keterlibatan mereka di rumah dan di sekolah, orang tua dapat membantu anak-anak mereka membangun sikap empati, toleransi, dan pengertian terhadap perbedaan. Dengan komitmen bersama, kita dapat membangun generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks dan beragam, serta menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan saling menghormati.

Akhirnya, mari kita ingat bahwa pendidikan multikultural bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Ini adalah usaha kolektif yang memerlukan dukungan dari orang tua, guru, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif bagi semua anak, mempersiapkan mereka untuk menjadi warga dunia yang penuh empati dan saling menghargai.

 

Nilai-Nilai Islam di Tengah Budaya Jepang: Pengalaman Hidup Komunitas Muslim

Penulis: Taufiqur Rohman, Editor: Azzam Nabil H.

Tokyo, Jepang — Di tengah kemajuan teknologi dan budaya yang khas, komunitas Muslim di Jepang menghadapi tantangan sekaligus menemukan harmoni dalam menerapkan nilai-nilai Islam yang bersinergi dengan nilai-nilai budaya Jepang. Nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi oleh komunitas Muslim seperti disiplin, kebersihan, etos kerja tinggi, keamanan, dan toleransi beragama, tidak hanya cocok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, tetapi juga sejalan dengan budaya Jepang yang menghargai ketertiban dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat disiplin dan etos kerja yang tinggi. Hal ini menjadi titik temu yang kuat antara budaya Jepang dan nilai-nilai Islam. Dalam ajaran Islam, disiplin dan kerja keras adalah bagian dari ibadah, yang sejalan dengan sikap masyarakat Jepang dalam bekerja dan menjalani aktivitas harian. Nilai-nilai ini bukan suatu hal yang menyulitkan bagi Komunitas Muslim yang tinggal dan bekerja di Jepang. Mereka yang senantiasa menerapkan kedisiplinan dan memiliki etos kerja tinggi, tidak hanya mampu memperkuat karakter pribadi mereka, tetapi juga menciptakan harmoni dengan masyarakat sekitar.

Baca juga: Petani Muslim Indonesia Sukses di Negara Maju Jepang

Disamping itu, kebersihan juga menjadi hal utama dalam kehidupan sehari-hari bagi Muslim dan menjadi salah satu ciri khas dari masyarakat Jepang. Ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan baik jasmani maupun lingkungan, menemukan ruang yang sesuai di Jepang, di mana masyarakat umumnya sangat menjaga kebersihan, baik di area publik maupun pribadi. Hal ini membawa dampak positif bagi Komunitas Muslim. Mereka merasa terbantu untuk menjalankan ibadah dan menjalani kehidupan yang bersih dan sehat berkat lingkungan yang mendukung.

Berangkat dari kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan tersebut, masyarakat di Jepang jadi mampu lebih mudah dalam menerapkan tata tertib dan kepatuhan di jalan raya. Budaya ketertiban dan kepatuhan di jalan raya ini dapat dilihat dari sikap menghormati pejalan kaki dan pesepeda, yang mana sikap tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam tentang keselamatan dan perlindungan nyawa. Komunitas Muslim di Jepang turut mendukung budaya ini dengan mematuhi aturan berlalu lintas dan menjaga keselamatan sebagai bagian dari ajaran Islam yang menghargai kehidupan.

Baca juga: Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Jepang juga memiliki angka kriminalitas dan korupsi yang sangat rendah, sesuatu yang dicita-citakan dalam masyarakat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, komunitas Muslim di Jepang merasa aman dan nyaman, karena nilai-nilai kejujuran dan integritas yang dijunjung tinggi. Hal ini memberikan mereka ruang yang nyaman untuk hidup secara damai dan beribadah dengan tenang.

Selain itu, toleransi beragama menjadi ciri positif dari masyarakat Jepang. Kebebasan bagi setiap orang untuk mempraktikkan ajaran agamanya dihargai tinggi. Hal ini memungkinkan komunitas Muslim untuk menjalankan ajaran agama mereka, termasuk salat, puasa, serta memperingati hari-hari besar Islam, tanpa rasa takut atau tertekan.

Komunitas Muslim di Jepang

Komunitas Muslim di Jepang juga aktif menjaga nilai-nilai kemanusiaan dengan menjunjung perdamaian dan bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Mereka sering terlibat dalam kegiatan sosial dan amal, seperti distribusi makanan dan dukungan bagi yang membutuhkan, yang diterima baik oleh masyarakat Jepang. Hal ini semakin menguatkan sinergi antara kedua nilai tersebut.

Baca juga: Islam Moderat Sebagai Kunci untuk Toleransi, Keadilan, dan Keseimbangan Sosial

Nilai-nilai Islam yang diterapkan komunitas Muslim di Jepang berperan dalam mempererat persaudaraan antar umat dan menumbuhkan rasa saling menghormati di tengah keberagaman budaya. Pengalaman hidup komunitas Muslim di Jepang menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dan budaya dapat berpadu, menciptakan harmoni yang menginspirasi di tengah perbedaan.

Kasubdit Bimbingan Jamaah Haji Kemenag RI Soroti Peran Penting Pembimbing Manasik di Sertifikasi Profesional UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Pewarta : Adib, Editor : Tegar Rifqi

Pekalongan, 27 Oktober 2024 – Dr. H. Khalilurrahman, M.A., QIA., CRMO., Kasubdit Bimbingan Jemaah Haji dan Dirjen PHU , memaparkan peran strategis pembimbing manasik haji dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Dalam pemaparannya, Dr. Khalilurrahman menegaskan pentingnya tugas dan fungsi pembimbing manasik haji, dengan fokus pada peningkatan kualitas bimbingan serta pengalaman spiritual calon jemaah haji. Acara ini diselenggarakan pada 22-28 Oktober 2024 di Hotel Parkside Mandarin, Kota Pekalongan.

Dr. Khalilurrahman menekankan bahwa pembimbing manasik haji harus memiliki pemahaman mendalam tentang tata cara ibadah haji serta sikap empati yang tinggi dalam membimbing calon jemaah. “Pembimbing haji bukan hanya sekadar pemberi arahan teknis, namun juga harus mampu menguatkan aspek spiritualitas calon jemaah,” tuturnya. Ia juga menyampaikan pentingnya bagi seorang pembimbing untuk senantiasa meningkatkan kompetensi, guna mengantisipasi beragam situasi yang mungkin terjadi di Tanah Suci.

Baca juga : Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara sertifikasi ini dimoderatori oleh Dr. H. Muhandis Azzuhri, M.A., yang memfasilitasi diskusi interaktif antara Dr. Khalilurrahman dan peserta sertifikasi. Peserta yang terdiri dari calon pembimbing manasik haji dan umroh terlihat antusias dalam mengajukan berbagai pertanyaan seputar teknik pembinaan dan pendekatan yang efektif dalam mendampingi jemaah.

Sertifikasi ini bertujuan untuk mencetak pembimbing manasik haji yang profesional, tidak hanya memiliki pemahaman syariat, tetapi juga kemampuan komunikasi dan pendampingan yang optimal. Melalui kegiatan ini, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme pembimbing haji, demi tercapainya pengalaman haji yang aman dan berkesan bagi seluruh jamaah.

Dirjen PHU Tekankan Profesionalisme dan Pemahaman Perbedaan Fikih dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan

Pewarta: Adib;  Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diselenggarakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan menjadi ajang penting bagi peningkatan kompetensi para calon pembimbing haji dan umroh. Acara ini diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh 86 peserta dari berbagai wilayah. Pada kesempatan ini, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama untuk menyampaikan materi mengenai peran profesionalisme serta pemahaman perbedaan fikih dalam membimbing jemaah haji.

Acara ini dimoderatori oleh Prof. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., yang juga dekan FUAD UIN K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sam’ani mengelola diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Dalam sesi penyampaiannya, Prof. Hilman Latief menekankan bahwa seorang pembimbing haji dan umroh memiliki peran krusial dalam memastikan kelancaran ibadah jemaah. Beliau menyampaikan pentingnya memahami berbagai aspek dalam ibadah haji, baik secara teknis maupun spiritual, agar dapat memberikan bimbingan yang menyeluruh. “Pembimbing harus mampu menuntun jemaah, tidak hanya dalam hal teknis ibadah, tetapi juga mendampingi mereka secara spiritual,” ujar Prof. Hilman.

Baca juga: Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Dirjen PHU-Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Pekalongan, 24/10 2024

Lebih lanjut, Prof. Hilman menjelaskan bahwa profesionalisme dalam membimbing jemaah bukan hanya sekadar pemahaman tentang tata cara ibadah, tetapi juga mencakup pengetahuan mendalam tentang kebijakan perhajian di Indonesia dan Arab Saudi. Di samping itu, beliau menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perbedaan fikih dalam praktik ibadah haji, yang sering kali dipengaruhi oleh beragam mazhab. Hal ini, menurutnya, sangat penting agar pembimbing dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada jemaah yang mungkin memiliki latar belakang fikih yang berbeda, sehingga mengurangi kebingungan dan meningkatkan kenyamanan dalam beribadah.

Selain membahas kebijakan dan teknis ibadah, Prof. Hilman juga menjelaskan pentingnya aspek pelayanan dan keamanan bagi jemaah. Menurutnya, pembimbing yang baik harus mampu mengantisipasi dan menangani berbagai permasalahan yang mungkin muncul di lapangan. Sertifikasi ini diharapkan dapat membekali para calon pembimbing dengan pemahaman menyeluruh tentang sistem pelayanan haji yang diterapkan oleh Kementerian Agama, serta kompetensi dalam menghadapi perbedaan fikih yang mungkin muncul di kalangan jemaah.

Baca juga: Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta antusias menggali lebih dalam terkait peran mereka sebagai pembimbing, khususnya dalam menghadapi berbagai perbedaan fikih dalam ibadah haji. Prof. Hilman Latief berharap bahwa sertifikasi ini akan membekali para peserta dengan keterampilan yang memadai, sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan kompeten dan memberikan dukungan terbaik bagi jemaah haji dan umroh.