Efisiensi Anggaran, Imbas ke Pendidik dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E., Editor: Sirli Amry

Melihat fenomena efisiensi anggaran, rupanya bidang kesehatan dan pendidikan turut menerima imbas dari adanya kebijakan ini. Padahal, dua sektor tersebut adalah tulang punggung kemajuan sebuah bangsa. Majunya sebuah negara tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan. Kunci utama kemajuan tersebut berasal dari mindset positif masyarakat, yang tentunya dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas. Namun, bagaimana mungkin kita bisa menciptakan generasi cerdas secara EQ, SQ, dan IQ jika anggaran pendidikan justru dipangkas?

Kami, para pejuang pendidikan di daerah, merasakan betul dampak efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Rasa sedih dan kecewa tak terelakkan ketika melihat banyak proyek inovatif yang seharusnya menjadi harapan baru bagi kemajuan pendidikan, justru terancam hilang. Program Guru Penggerak, misalnya, yang digadang-gadang sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas guru, kini terancam dihentikan. Padahal, program ini telah membawa angin segar bagi banyak guru di daerah untuk meningkatkan kompetensi dan menginspirasi siswa-siswanya.

Baca Juga:  Transformasi Sosial dan Revolusi Digital: Dampaknya Pada Pendidikan dan Tenaga Kerja di Masa Depan

Tidak hanya itu, program-program pendidikan lainnya yang selama ini dianggap keren dan bermanfaat, seperti pelatihan dan upgrading skill guru, juga terindikasi akan dihapus. Bagaimana mungkin kita bisa mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan jika justru program-program yang mendukung peningkatan kualitas guru dihilangkan? Belum lagi ancaman terhadap dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan TPP (Tunjangan Profesi Guru) yang menjadi napas bagi banyak sekolah, terutama sekolah swasta. Jika dana ini hilang, bayangkan berapa banyak guru swasta yang tidak akan dibayar, dan berapa banyak sekolah yang akan kesulitan memenuhi kebutuhan operasionalnya.

Memaknai situasi ini, kemudian banyak orang yang kemudian bertanya-tanya, “Kenapa sih para stakeholder seringkali lebih memilih program-program baru yang terkesan “melangit” dan bagus di atas kertas, tetapi tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya? Bukankah standar suksesnya sebuah program adalah ketika program tersebut benar-benar dibutuhkan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat?” Padahal program yang baik adalah program yang mampu meningkatkan kecerdasan emosional (EQ), spiritual (SQ), dan intelektual (IQ) masyarakat, bukan sekadar program yang terlihat mentereng di atas kertas.

Baca Juga:  Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Kenapa kita harus terus melangit, sementara kaki kita berada di bumi? Pendidikan adalah tentang realitas, tentang bagaimana kita membangun generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Bukan tentang program-program yang hanya indah di teori, tetapi tidak aplikatif di lapangan. Saat ini, kita sedang berada di masa krisis. Ekonomi global sedang tidak baik-baik saja, dan Indonesia pun tidak luput dari dampaknya. Menurut data BPS, deflasi hampir menyentuh 1% per Februari 2025, yang merupakan kondisi terburuk sejak tahun 2000-an. Dampaknya tentu akan sangat negatif dalam jangka panjang. Ekonomi akan mengalami depresi dan resesi, pengangguran akan meningkat drastis, dan utang negara pun akan semakin membengkak.

Dalam situasi seperti ini, efisiensi anggaran memang diperlukan. Namun, efisiensi seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan sektor-sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan. Justru, di saat krisis seperti ini, pendidikan harus menjadi prioritas utama. Mengapa? Karena pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan bangsa. Jika kita memangkas anggaran pendidikan sekarang, maka yang akan kita petik di masa depan adalah generasi yang tidak siap menghadapi tantangan global.

Baca Juga:  Kesenjangan Digital Di Daerah Pelosok Sebagai Tantangan Peningkatan Mutu Pendidikan

Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan para pemangku jabatan harus benar-benar mempertimbangkan kebijakan efisiensi anggaran ini. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru merugikan masyarakat kecil, terutama para pendidik dan siswa yang menjadi harapan bangsa. Indonesia membutuhkan suntikan segar ide dan tangan terampil para profesional, bukan sekadar “give away” dari pihak tertentu, seperti yang diungkapkan oleh Rhenald Kasali. Kita membutuhkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, kebijakan yang mampu membawa Indonesia keluar dari krisis dengan cara yang bijaksana dan berkelanjutan.

Pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Jika kita serius ingin membangun Indonesia yang lebih baik, maka jangan pernah mengorbankan pendidikan. Mari kita bersama-sama memperjuangkan agar anggaran pendidikan tidak dipangkas, dan program-program yang telah terbukti bermanfaat tetap dijalankan. Karena hanya dengan pendidikan yang berkualitas, kita bisa menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan, generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik.

Jangan biarkan efisiensi anggaran menghancurkan mimpi dan cita-cita para pendidik dan siswa di seluruh Indonesia. Mari kita bersama-sama memperjuangkan pendidikan yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Sahur Keliling 2025, Istri Gus Dur Ajak Masyarakat Kecil di Batang Tebarkan Kepedulian Sosial

Pewarta: Fajri Muarrikh, Editor: Najwa

Batang – Istri Gus Dur, Dr. (H.C.) Dra. Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum., atau yang akrab disapa Nyai Sinta, mengajak masyarakat kecil untuk tebarkan kepedulian sosial pada kesempatan sahur keliling tahun ini.

Acara sahur keliling yang diselenggarakan di masjid Darul Falah, Dusun Sidorejo, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, pada Kamis (6/03/2025) dini hari, disambut hangat oleh masyarakat sekitar. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 02.00 hingga 05.00 WIB ini diinisiasi oleh Yayasan Darul Falah yang bekerja sama dengan PCNU Batang dan Komunitas Gusdurian Batang/Pekalongan. Dengan dihadiri oleh berbagai tokoh agama, pejabat daerah, serta masyarakat sekitar, acara ini menjadi momentum kebersamaan lintas kalangan dalam suasana Ramadan yang penuh berkah.

Dalam moment ini, Nyai Sinta juga menyampaikan pentingnya memperkuat keimanan dan ketakwaan sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati. Ia juga menekankan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi dan menebarkan kepedulian sosial.

“Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mempererat silaturahim dan menebarkan kepedulian sosial,” ucapnya.

Baca juga: Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

Istri Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tersebut menjelaskan bahwa kegiatan sahur bersama telah rutin Beliau lakukan sejak masa hidup Gus Dur. “Kesempatan sahur seperti ini adalah saat yang tepat untuk mengetuk pintu langit karena kita berada di sepertiga malam terakhir,” ujarnya.

Saiful Huda Shodiq, selaku Pawang Jaringan GUSDURian sekaligus panitia pada acara ini, Ia menuturkan bahwa kesempatan sahur ini menjadi suatu kebetulan yang tak terduga.

“Jadwal kami pada 5 Maret berbuka puasa di Brebes dan 6 Maret di Semarang, sedangkan sahur 6 Maret masih kosong. Saat kami mengajukan kegiatan sahur keliling, ternyata diterima. Bagi kami, sahur keliling adalah bagian dari syiar Masjid Darul Falah yang baru aktif sejak Ramadan ini, setelah peletakan batu pertama pada Juni 2022,” Jelas Saiful.

Acara ini ditutup dengan pembacaan syiir Abu Nawas ‘Ilahilastulil Firdaus’ yang menjadi favorit Gus Dur, diikuti sesi foto bersama, dan diakhiri dengan salat Subuh berjamaah.

Baca juga: UIN Gus Dur Gelar Puncak Haul Gus Dur ke-15 Lewat Panggung Budaya

Malam Lailatul Qadar (Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan)

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E., Editor: Rifa’i

Malam Lailatul Qadar adalah salah satu malam paling istimewa dalam Islam. Keistimewaannya bahkan disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Ayat ini menjadi dasar utama mengapa malam ini begitu dinanti-nanti oleh umat Islam, terutama di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Namun, ada perdebatan menarik di kalangan ulama mengenai makna “seribu bulan” dalam ayat tersebut. Apakah ini bermakna literal, yaitu 1000 bulan (sekitar 83 tahun), ataukah maknanya lebih luas, yaitu melebihi 1000 bulan? Perbedaan pendapat ini melahirkan dua tafsiran utama: littahdid dan littaktsir.

Littahdid vs Littaktsir: Perbedaan Tafsir<

1. Littahdid (Makna Literal)

Pendapat pertama menyatakan bahwa “seribu bulan” dalam ayat tersebut bermakna literal, yaitu 1000 bulan atau sekitar 83 tahun. Artinya, beribadah pada malam Lailatul Qadar pahalanya setara dengan beribadah selama 1000 bulan. Ini adalah pendapat yang lebih banyak dipegang oleh para ulama. Mereka berargumen bahwa angka 1000 bulan disebutkan secara spesifik untuk menunjukkan keistimewaan malam ini, bukan sebagai kiasan.

2. Littaktsir (Makna Kiasan)

Pendapat kedua mengartikan “seribu bulan” sebagai kiasan yang bermakna lebih luas. Menurut tafsiran ini, pahala ibadah pada malam Lailatul Qadar bisa melebihi ibadah selama 1000 bulan, bahkan sepanjang usia alam dunia. Minimal, pahalanya setara dengan ibadah selama 1000 tahun. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman bahwa keutamaan malam Lailatul Qadar tidak terbatas pada angka tertentu, melainkan memiliki nilai yang tak terhingga.

Meskipun ada perbedaan tafsir, kedua pendapat sepakat bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan dan keistimewaan. Para ulama lebih condong pada tafsir pertama (littahdid), namun tidak menafikan kemungkinan makna kedua. *Allahu a’lam*, hanya Allah yang mengetahui kebenaran sepenuhnya.

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar bukan sekadar malam biasa. Ia memiliki beberapa keutamaan yang membuatnya begitu istimewa:

1. Lebih Baik dari 1000 Bulan

Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qadr: 3, ibadah pada malam ini lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan. Ini adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.

2. Malam Turunnya Al-Qur’an

Malam ini menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup umat Islam, diturunkan pada malam yang penuh berkah ini (QS. Al-Qadr: 1).

3. Malam Penuh Keberkahan

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3). Keberkahan ini mencakup pengampunan dosa, rahmat, dan kebaikan bagi siapa saja yang beribadah dengan ikhlas.

4. Malam Penuh Kedamaian

Pada malam ini, para malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Allah SWT berfirman, “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4-5).

5. Pengampunan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menunaikan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim).

6. Penentuan Takdir Tahunan

Pada malam ini, Allah menetapkan segala urusan yang akan terjadi selama satu tahun ke depan, termasuk rezeki, ajal, dan takdir lainnya (QS. Ad-Dukhan: 4).

Amalan Ringan dengan Pahala Besar

Bagi mereka yang merasa berat untuk melakukan qiyamullail (shalat malam) atau tarawih, Syeikh Al-Arif Asshowy memberikan anjuran untuk melakukan amalan-amalan ringan namun berpahala besar. Di antaranya:

1. Shalat Magrib dan Isya Berjamaah

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa shalat Magrib dan Isya berjamaah, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna dari Lailatul Qadar.” Amalan ini sederhana, namun memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.

2. Membaca Doa Khusus

Membaca doa berikut sebanyak tiga kali di malam hari: “Laa ilaaha illallohul haliimul kariim, subhaanallohi robbis samaawaatis sab’i wa robbil ‘arsyil ‘azhiim.” Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemaaf dan Pemurah. Maha Suci Allah, Penguasa langit tujuh dan Penguasa ‘Arsy yang agung.” Diriwayatkan bahwa siapa saja yang membaca doa ini tiga kali, maka ia seperti meraih Lailatul Qadar.

Doa yang Dianjurkan

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi). Doa ini mencerminkan permohonan ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Kesimpulan

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keistimewaan dan keberkahan. Meskipun ada perbedaan tafsir mengenai makna “seribu bulan”, semua sepakat bahwa malam ini adalah kesempatan emas untuk meraih pahala dan pengampunan dosa. Bagi yang merasa berat untuk beribadah sepanjang malam, amalan ringan seperti shalat berjamaah dan membaca doa khusus bisa menjadi alternatif yang berpahala besar. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk meraih keberkahan malam Lailatul Qadar. Aamiin.

Keutamaan Awal Ramadan: Cara Niat Puasa di Malam Pertama Bulan Ramadan

Oleh: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E.,Editor: Rifa’i

Suasana bulan Ramadan semakin terasa. Dalam beberapa hari ke depan, kita akan berjumpa dengan bulan yang penuh kemuliaan ini. Bagi setiap Muslim, momen ini tentu sangat dinanti-nantikan. Selain besarnya pahala yang dijanjikan, bulan Ramadan menjadi waktu di mana seluruh umat Islam serentak menjalankan ibadah puasa.

Dalam pelaksanaannya, tidak jarang ada yang lupa melafalkan niat puasa setiap malam. Padahal, dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa termasuk rukun yang wajib dilakukan. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi mereka yang sering lupa. Namun, dalam Mazhab Maliki, terdapat kemudahan berupa niat puasa yang cukup dilafalkan sekali di awal bulan Ramadan. Tujuannya adalah agar puasa tetap sah meskipun seseorang lupa melafalkan niat pada malam-malam berikutnya.

Mari kita amalkan bersama lafal niat ini. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah dan dilancarkan hingga akhir Ramadan. Amin.

Niat puasa Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam Islam, niat merupakan landasan dari setiap ibadah. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa menjadi tidak sah. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami dan melafalkan niat puasa dengan benar.

Pada malam pertama Ramadan, niat puasa menjadi sangat penting. Ini adalah momen di mana kita memulai ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Niat puasa di malam pertama ini akan menjadi pondasi bagi seluruh ibadah puasa yang kita jalani selama sebulan penuh.

Lafal niat puasa Ramadan yang biasa digunakan adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i fardhi syahri Ramadhana haadzihis sanati lillahi ta’ala.” Artinya, “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”

Selain itu, ada juga lafal niat puasa untuk satu bulan penuh: “Nawaitu shauma syahri Ramadhana kullihi lillahi ta’ala.” Artinya, “Saya niat berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”

Melafalkan niat puasa di malam pertama Ramadan tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga sebagai bentuk pengakuan dan kesadaran kita akan kewajiban yang harus ditunaikan. Ini adalah momen di mana kita menguatkan tekad untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

Keutamaan awal Ramadan juga tercermin dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan bulan Ramadan dan pentingnya mempersiapkan diri dengan baik, termasuk dengan melafalkan niat puasa.

Selain itu, awal Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah. Mulai dari shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga bersedekah. Semua ini akan semakin memperkaya pengalaman spiritual kita selama bulan Ramadan.

Bagi mereka yang mungkin lupa melafalkan niat puasa di malam pertama, tidak perlu khawatir. Dalam Mazhab Maliki, niat puasa yang dilafalkan sekali di awal Ramadan sudah cukup untuk seluruh bulan. Ini memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa.

Namun, bagi yang mengikuti Mazhab Syafi’i, melafalkan niat setiap malam adalah suatu keharusan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengingat dan meluangkan waktu sejenak sebelum tidur untuk melafalkan niat puasa.

Dengan memahami keutamaan awal Ramadan dan cara melafalkan niat puasa yang benar, kita bisa memaksimalkan ibadah kita selama bulan suci ini. Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah puasa. Amin.

Mari kita sambut bulan Ramadan dengan penuh suka cita dan persiapan yang matang. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT dan menjadi jalan untuk meraih ridha-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan!

Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E; Editor: Azzam Nabil H.

Bulan Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, menyambut Ramadan tidak hanya dilakukan dengan persiapan spiritual, tetapi juga melalui berbagai tradisi lokal yang kaya akan makna. Beberapa tradisi yang populer di masyarakat Indonesia antara lain perang petasan, kembang api, bersih-bersih masjid, hingga “Nyekar”. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang dalam.

Nyekar: Ziarah Kubur Sebelum Ramadan

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Nyekar, yaitu ziarah ke makam leluhur seperti orang tua, nenek, kakek, buyut, atau saudara yang telah meninggal. Dalam tradisi ini, keluarga biasanya membacakan doa, seperti surat Yasin dan tahlil, serta menaburkan bunga di makam. Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa Nyekar dilakukan sebelum Ramadan? Jawabannya sederhana: ini soal “roso” atau perasaan.

Ketika Ramadan tiba, semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Bahkan tidurnya orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang kita sayangi tetapi sudah meninggal? Mereka tidak bisa lagi menikmati “diskon pahala” atau “cuci gudang dosa” yang terjadi selama Ramadan. Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur dan kasih sayang, kita mengunjungi makam mereka dan mengirimkan doa. Doa anak sholeh adalah salah satu pahala yang terus mengalir bagi orang yang telah meninggal, selain sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.

Padusan: Membersihkan Diri Sebelum Ramadan

Selain Nyekar, ada juga tradisi “Padusan” yang populer di Jawa. Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan. Filosofi Padusan memiliki beberapa makna mendalam:

Makna mendalam dari filosofi tersebut yang pertama adalahPembersihan Diri: Padusan melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan, sehingga kita bisa memulai ibadah dengan hati yang bersih.

Kedua, Pembaharuan Diri: Tradisi ini juga melambangkan pembaharuan diri, yaitu meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baru yang lebih baik. Ketiga, Pengukuhan Iman: Padusan dapat memperkuat iman dan meningkatkan kesadaran spiritual, sehingga kita lebih siap menghadapi tantangan hidup selama Ramadan.

Keempat, Pembersihan Jiwa: Padusan juga diartikan sebagai pembersihan jiwa dari kotoran batin seperti kesombongan, kebencian, dan keinginan yang tidak baik. Dan yang kelima adalah Persiapan untuk Ramadan: Secara khusus, Padusan adalah persiapan untuk menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci.

Nyadran: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

Selain Nyekar dan Padusan, ada juga tradisi Nyadran yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nyadran biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) atau Sya’ban (menurut kalender Hijriyah). Tradisi ini juga dikenal sebagai Ruwahan karena dilakukan pada bulan Ruwah. Beberapa ciri khas Nyadran antara lain:

Ziarah Kubur: Seperti Nyekar, ziarah kubur adalah bagian penting dari Nyadran; Mandi di Sungai (Padusan): Membersihkan diri di sungai sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga; Membersihkan Lingkungan: Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar; Kenduri: Acara makan bersama sebagai bentuk syukur dan silaturahmi; Kirab dan Ujub: Prosesi budaya yang melibatkan masyarakat setempat.; Doa dan Tasyukuran: Acara doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya Ramadan.

Makna Nyadran

Nyadran bukan sekadar tradisi, tetapi juga ekspresi rasa gembira, syukur, dan kebahagiaan menyambut Ramadan. Tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, dan silaturahmi. Melalui Nyadran, masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Tradisi-tradisi seperti Nyekar, Padusan, dan Nyadran adalah warisan budaya yang patut dilestarikan. Meskipun berasal dari budaya lokal, tradisi ini sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mereka mengajarkan pentingnya membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan hati untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Jadi, sudah siap menjadi bagian dari “Golkar” (Golongan Nyekar)? Mari kita jaga tradisi lama yang baik ini, sambil terus memperkaya makna spiritualnya dalam kehidupan kita. Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh berkah, tetapi juga bulan yang penuh dengan kebersamaan dan kasih sayang.

Munas IKA PMII: Nostalgia dan Langkah Menuju Kesuksesan

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E ( Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto), Editor: Sirli Amry

Jakarta – Ratusan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul dalam Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Alumni (IKA) PMII yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta. Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan sebagai mahasiswa dan merancang langkah menuju kesuksesan sebagai alumni. Selamat Munas, selamat bernostalgia, dan selamat menempuh fase-fase baru sebagai alumni yang sukses!

Munas IKA PMII kali ini mengingatkan kita pada masa-masa menjadi mahasiswa. Dulu, ada berbagai tipologi mahasiswa yang sering dibahas oleh pemateri kemahasiswaan. Salah satunya adalah mahasiswa “kupu-kupu”. Apa itu mahasiswa kupu-kupu? Kupu-kupu adalah singkatan dari “kuliah pulang-kuliah pulang”. Mahasiswa tipe ini hanya fokus pada aktivitas kuliah, datang ke kampus, duduk di kelas, mendengarkan dosen, lalu pulang. Begitu terus setiap hari selama empat tahun. Wah, pasti bosen, ya?

Selain mahasiswa kupu-kupu, ada juga mahasiswa akademis. Tipe mahasiswa ini sangat fokus pada nilai akademik. Baginya, yang penting adalah mendapatkan indeks prestasi (IP) setinggi mungkin. Padahal, nilai tertinggi hanya 4,0. Lucunya, saat ditanya orang tua, “Nak, kok nilaimu cuma 3,5?” Tentu kita semua berharap nilai mahasiswa selalu bagus. Namun, ada hal yang lebih penting dari sekadar IP/IPK tinggi, yaitu pengalaman di luar kelas.

Menjadi mahasiswa tidak hanya tentang duduk di kelas, mendapatkan nilai bagus, lalu pulang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar kelas, seperti mengikuti kegiatan organisasi. Organisasi mahasiswa terbagi menjadi dua, yaitu intra kampus (seperti BEM atau senat) dan ekstra kampus. Nah, mahasiswa yang aktif di organisasi ini disebut mahasiswa aktivis.

Potret Penulis, Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto
Potret Penulis, Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto

Mahasiswa aktivis adalah mereka yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif mengikuti kegiatan di luar kelas. Tujuannya adalah untuk menunjang progresivitas selama berkuliah. Dengan berorganisasi, mahasiswa bisa mengasah soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen waktu.

Salah satu organisasi ekstra kampus terbesar di Indonesia adalah PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). PMII adalah wadah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan diri, berkontribusi untuk masyarakat, dan memperdalam nilai-nilai keislaman. Bagi mahasiswa Gen Z yang ingin mencari pengalaman berharga, PMII adalah pilihan yang tepat.

PMII tidak hanya mengajarkan tentang keislaman, tetapi juga tentang kebangsaan dan keumatan. Organisasi ini telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Jadi, bagi yang penasaran, yuk gabung dengan PMII! Dijamin tidak akan menyesal.

Munas IKA PMII kali ini juga menjadi ajang untuk mengingatkan kembali pentingnya peran alumni dalam membina generasi penerus. Alumni PMII diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa saat ini, baik dalam hal akademik, organisasi, maupun pengabdian masyarakat.

Acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat jaringan antaralumni. Dengan semangat kebersamaan, alumni PMII diharapkan bisa saling mendukung dalam meraih kesuksesan, baik secara personal maupun kolektif.

Salam dari Munas IKA PMII, salam pergerakan! Mari terus bergerak, berkontribusi, dan menginspirasi. Untuk mahasiswa Gen Z, jangan ragu untuk bergabung dengan PMII. Bersama PMII, kita bisa menjadi generasi yang unggul, beriman, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Media Sosial dan Mindset: Renungan dalam Perspektif Islam

Penulis: Dely Lutfia Ananda, Editor: Azzam Nabil H.

Pertumbuhan teknologi di era globalisasi semakin pesat. Banyak platform yang bermunculan dan mempercepat penyebaran informasi di era saat ini yang salah satunya adalah platform media sosial. Melalui media sosial, seseorang dapat membagikan tanggapan, pengalaman, bahkan aktivitasnya secara langsung (live) hanya dengan satu kali klik. Kemudahan dalam mengakses dan membagikan segala informasi inilah yang kemudian dapat menjadi sebuah tren.

Namun demikian, di balik fleksibilitas dan aksesibilitas platform media sosial saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah menjadi layaknya “teman hidup” bagi kita. Melalui media sosial, seseorang dapat berbagi budaya, ilmu pengetahuan, atau bahkan dapat menjadi ladang monetisasi bagi mereka yang dapat mengarah pada perbaikan kualitas hidup. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa tren yang berkembang di media sosial memengaruhi perubahan budaya di masyarakat, entah dari segi positif maupun negatif. Seringkali konten-konten sederhana yang disisipi quotes dan lagu catchy sudah mampu menyentil jempol kita untuk menekan “like”. Tentu bukan sebuah masalah, tetapi esensinya terletak pada kecenderungan masyarakat sekarang yang sering menjadikan opini sebagai fakta, tren viral sebagai standar, dan mengabaikan analisis kritis. Demi konten fyp yang mendapat banyak perhatian, banyak content creator rela melakukan apa saja tanpa memedulikan etika dan aturan bermedia sosial.

Oleh sebab itu, content creator dan pengguna media sosial perlu mengontrol waktu penggunaan media sosial serta mengurangi hal yang berlebih-lebihan dalam bermedia sosial, atau yang dalam Islam disebut sebagai Israf.

Baca juga: Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Islam sebagai agama yang memiliki prinsip Rahmatan lil ‘Alamin menghendaki umatnya untuk menebarkan kasih sayang dan kedamaian di alam semesta. Ini tidak hanya mencakup perbuatan yang berhubungan langsung dengan manusia, tetapi juga perilaku tidak langsung seperti aktivitas bermedia sosial. Dalam Al-quran pada Surat Al-A’raf ayat 31 terdapat istilah israf yang merujuk pada arti berlebih-lebihan atau melampaui batas yang menimbulkan kemudharatan. Dalam bermedia sosial, pengguna seringkali lupa waktu saking asyiknya berselancar di internet; menghabiskan waktu berjam-jam tanpa mengerjakan sesuatu yang ada artinya. Israf tidak disukai dan dicela Allah karena merugikan diri sendiri.

Dikutip dari website NU Online, Imam Nawawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memberikan peringatan tentang betapa pentingnya waktu dalam Surat Al-‘Ashr. Waktu adalah salah satu karunia terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, menjadi peluang berharga yang harus dimanfaatkan dengan baik dan tidak disia-siakan.

Disamping itu, sebagai bentuk penyebaran informasi yang menerapkan nilai moral yang diajarkan dalam Islam, maka kejujuran, menghindari ghibah, dan senantiasa mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat sudah seharusnya diterapkan oleh para pengguna media sosial. Sebab, media sosial seringkali dijadikan tempat penyebaran hoaks dan ghibah. Laman Kementrian Kominfo menyebut, setidaknya ada 1.615 konten hoaks yang beredar di website dan platform digital selama tahun 2023 yang telah ditangani oleh Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika dan Kementrian Kominfo. Isu hoaks yang beredar paling banyak berkaitan dengan isu kesehatan, kebijakan pemerintah, politik, dan penipuan. Fakta ini memprihatinkan, mengingat hampir dari setengah populasi di Indonesia adalah pengguna media sosial, termasuk banyak anak-anak di bawah umur yang rentan terpapar informasi tanpa kemampuan filterisasi yang memadai (datareportal.com).

Baca juga: Strategi dan Media Dakwah di Era Digital

Hoaks yang merupakan informasi palsu disebarkan untuk memanipulasi dan menipu orang, sepadan dengan istilah kadzab dalam Bahasa Arab yang artinya dusta dan ‘ifk yang bermakna keterbalikan (Sirajuddin, 2018: 29). Hoaks bukanlah sesuatu yang sepele di mata Allah dan para penyebar hoaks atau berita bohong akan mendapatkan dosa dan balasan pedih di akhirat, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat An-Nur ayat 15 dan 19 yang berarti: (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar (QS. An-Nur[24]:15).

Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nur[24]:19).

Allah memerintahkan umat Islam untuk ber-tabayyun, yakni meneliti kebenaran dari informasi yang didapat agar tidak mencelakakan suatu kaum (Surat Al-Hujurat ayat 6). Sebelum menyebarkan suatu informasi kepada orang lain, tidak peduli betapa terlihat meyakinkannya kabar tersebut, perlu untuk memverifikasi dari sumber yang tepercaya dan faktual.

Baca juga: Transformasi Sosial dan Revolusi Digital: Dampaknya Pada Pendidikan dan Tenaga Kerja di Masa Depan

Hoaks dan ghibah saling berhubungan karena keduanya melibatkan kebohongan yang dapat merugikan pihak lain. Ghibah mengacu pada tindakan membicarakan hal-hal yang tidak disukai seseorang di belakangnya, sementara hoaks sering kali memuat kebohongan yang berpotensi menjadi bagian dari perilaku tersebut. Menggunjing di media sosial tidak jauh buruknya dengan menggunjing di dunia nyata, apalagi dunia maya merekam jejak digital penggunanya serta menimbulkan kerusakan yang besar. Bahkan, pelaku ghibah diibaratkan oleh Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, seperti memakan bangkai saudaranya sendiri dan Allah melarang perbuatan tersebut dengan larangan yang keras.

Lebih jauh, menurut Hadist At-Tabrani, dilansir dari laman NU Online memaparkan bahwa dosa ghibah dapat lebih berat dari dosa berzina.

عَنْ جَابِرِبْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، وَاَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  اِيَّاكُمْ وَالْغَيْبَةَ، فَاِ نَّ الْغَيْبَةَ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا, قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، كَيْفَ الْغَيْبَةُ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي فَيَتُوْبُ، فَيَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِ، وَاِنَّ صَا حِبَ الغَيْبَةِ لاَ يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ. رواه الطبران فى الاوسط وفيه عباد بن كثير الثقفى وهو متروك

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah dan Abi Sa’id Al-khudri, keduanya berkata: Rasulullah bersabda: Takutlah kalian semua terhadap ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dosanya daripada berzina. Lalu Rasulullah ditanya: Bagaimana bisa ghibah lebih berat dosanya daripada zina? Beliau menjawab: Sesungguhnya seorang laki-laki terkadang berzina kemudian ia bertaubat, maka Allah langsung menerima taubatnya, sedangkan orang yang menggunjing itu tidak akan diampuni dosanya sampai orang yang digunjing sudi mengampuninya (HR. At-Tabrani dalam Al-Ausath dan dalam sanadnya terdapat ‘Ubad bin Ktsir As-tsaqofi dan dia ini matruk, Sumber: Kitab Majma’ Zawaid: 8/92).

Baca juga: Menjaga Lidah, Prinsip Moral yang Universal

Selain menghindari hoaks dan ghibah, sebagai Muslim, perlu juga untuk memahami konsep qaul sadid. Qaul sadid dapat diartikan sebagai perkataan yang benar dan tepat, tepat baik waktu pengguunaanya maupun tempat dimana itu digunakan (Sulkifli & Muhtar, 2021:75). Komentar dan opini di media sosial, harus memiliki dasar kebenaran, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan fitnah atau kesalahpahaman. Itu juga berarti tidak menggiring opini publik terhadap informasi yang tidak jelas tingkat kerelevannya.

Media sosial adalah alat yang dapat membawa manfaat atau mudarat, tergantung bagaimana penggunanya. Islam memberikan panduan agar umatnya dapat bermedia sosial dengan bijak, menghindari keburukan seperti ghibah, hoaks, dan israf serta menjadikannya sebagai sarana kebaikan. Dengan memahami nilai-nilai ini, seorang muslim dapat tetap berpegang teguh pada ajaran Islam dalam dunia digital dan menjadikan aktivitas bermedia sosial sebagai sesuatu yang bernilai.

UIN Gus Dur Gelar Puncak Haul Gus Dur ke-15 Lewat Panggung Budaya

Pewarta : Ika Amiliya Nurhidayah, Editor : Amarul Hakim

Rangkaian peringatan Haul Gus Dur ke-15 telah mencapai puncaknya melalui pagelaran Panggung Budaya pada Kamis malam (13/02) di Student Center Kampus II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Haul kali ini bertajuk “Refleksi Jejak Pemikiran Gus Dur dalam Kebhinekaan” yang kemudian ditekankan oleh Rektor UIN Gus Dur Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag bahwa haul ini bukan sekedar untuk memperingati, namun juga meneladani sosok Gus Dur.

“Acara haul Gus Dur ini bukan hanya sebuah peringatan biasa untuk mengenang, tetapi lebih ke bagaimna nanti kita meneladani sosok yang luar biasa bernama K.H. Abdurrahman Wahid. Jangan hanya mengenang, tetapi harus bisa meneladaninya. Gus Dur itu bukan hanya tokoh, tetapi beliau adalah cahaya dalam kebhinekaan. Dengan kebijaksanaan dan keberanian nya beliau mengajarkan bahwa perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirayakan,” jelasnya.

Baca juga : Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Panggung Budaya ini turut dihadiri oleh putri sulung Gus Dur Alissa Wahid, sahabat Gus Dur Abah Kirun, murid Gus Dur Pdt. Martin Lukito Sinaga, imam Gereja Santo Yohanes Rasul Karanganyar Romo Fransiskus Asisi Teguh Santosa, pawang Jaringan Gusdurian Nasional Saiful Huda Shodiq, Rektor UIN Gus Dur Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dan Lintas Iman Pekalongan.

Acara dimulai dengan pertunjukan 150 pemain hadroh kolosal, dilanjut dengan pembacaan tahlil akbar yang dipimpin oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan K.H. Muslikh Khudlori, M.S.I., penampilan paduan suara kolaborasi UKM El-Fata dan Paduan Suara Gereja, tausiah kebangsaan oleh Alissa Wahid, dan wejangan oleh Kirun.

Alissa Wahid memulai tausiahnya dengan pembacaan puisi tentang Gus Dur yang bertajuk “Lelaki yang Tak Punya Mata.”

Lebih lanjut, Alissa menaruh harapan besar agar sosok Gus Dur tetap hidup di UIN Gus Dur sebagai universitas yang menyematkan nama ayahnya.

“Apalah arti tempat itu disematkan nama Gus Dur jika sosoknya tidak hidup di sana?” ujarnya.

Pendeta Dr. Martin Lukito Sinaga dalam sambutannya juga turut mengajak mahasiswa dan tokoh agama yang hadir saat itu untuk kembali kenang sosok Gus Dur.

Ia mengungkapkan bahwa Gus Dur layaknya jari-jemari Tuhan yang telah membuka hati dan pikirannya.

“Gus Dur itu seperti jari-jari Tuhan. Mengapa saya sebut begitu? Mengenang seorang K.H. Abdurrahman Wahid menurut saya seperti mengenang momen yang menentukan hidup saya, yang membuka hati saya, dan membuka pikiran saya,” ujarnya.

Baca juga : Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Pendeta Martin juga berharap demokrasi yang sudah dibawa oleh Gus Dur tetap terjaga dan tidak akan pernah tumbang.

“Habibie dan Gus Dur yang membawa demokrasi kita take off, jangan sampai pesawat demokrasi kita nyusruk.”

Tradisi Sya’banan di Pekalongan. Menyambung Silaturahmi, Menyatukan Habaib dan Kyai dalam Bingkai Ahlussunnah Wal Jamaah

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E, Editor: Sirli Amry

Pekalongan, kota yang terkenal dengan batik dan keindahan pantainya, menyimpan sebuah tradisi unik yang mungkin jarang ditemui di tempat lain. Tradisi ini disebut Sya’banan, sebuah perayaan yang bahkan bisa dibilang lebih semarak daripada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Setiap tahun, ketika bulan Sya’ban tiba, seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, ramai berkunjung ke Makam Sapuro karena ada Haul Ulama Besar yaitu Habib Ahmad bin Abdullah bin Tahlis Alattas dan rumah-rumah untuk bersilaturahmi. Tidak hanya kepada keluarga dan tetangga, tradisi ini juga menjangkau murid yang mengunjungi guru, bahkan orang yang tidak saling mengenal sekalipun. Inilah keindahan Sya’banan, sebuah tradisi yang mengajarkan arti kebersamaan dan kepedulian.

Uniknya, tradisi Sya’banan di Pekalongan tidak hanya sekadar bersilaturahmi. Setelah kegiatan haul Al-Quthb Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas dan pembacaan doa nisfu Sya’ban di Masjid Waqaf dan Masjid Roudhoh, anak-anak usia SD hingga SMA akan berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka disambut dengan jamuan makanan ringan hingga berat, dan yang paling dinantikan adalah angpau yang diberikan oleh tuan rumah. Bayangkan, satu rumah bisa mengeluarkan uang antara Rp. 750.000 hingga Rp. 1.000.000 untuk menjamu dan memberikan angpau. Jika ada 500 rumah yang berpartisipasi, berapa besar nilai uang yang beredar dan membuat anak-anak kampung riang gembira?

Baca Juga:  Sedekah Bumi: Tradisi Syukur, Kepedulian Sosial, dan Pelestarian Alam untuk Generasi Mendatang

Tradisi Sya’banan ini bukanlah hal baru. Menurut Van Den Berg, seorang peneliti, Pekalongan merupakan tempat tinggal mayoritas Habaib pendatang awal. Tradisi ini telah berjalan setidaknya selama empat generasi. Menariknya, tradisi ini seolah menjadi ciri khas Pekalongan. karena tidak ditemukan di kelurahan lain di Kampung Arab lain di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa Sya’banan sangat mungkin merupakan peninggalan para Habaib yang dahulu tinggal dan beranak pinak di Pekalongan.

Jika kita mencari preseden langsung dari Nabi Muhammad SAW tentang tradisi Sya’banan, mungkin kita tidak akan menemukannya. Namun, tradisi ini mirip dengan tradisi Islam Nusantara lainnya, seperti tahlilan atau tingkeban. Meski tidak ada dalil spesifik, tradisi ini sebenarnya merupakan gabungan dari berbagai nilai Islam yang diajarkan oleh Nabi. Misalnya, ada dalil tentang sedekah, menghormati tamu, bersilaturahmi, menghormati orang tua, dan menyayangi yang lebih muda. Semua nilai ini disatukan dalam satu tradisi yang disebut Sya’banan.

Tradisi seperti inilah yang dahulu membuat nenek moyang kita di Nusantara dengan sukarela memeluk Islam. Mereka yang sebelumnya menyembah pohon, batu, dan roh-roh, akhirnya tertarik dengan keindahan ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama, Habaib, dan Kyai. Islam tidak hanya diajarkan melalui teks, tetapi juga melalui praktik nyata yang menyentuh hati dan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, Sya’banan menjadi bukti nyata bagaimana Islam Nusantara mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Baca Juga:  Tradisi Lokal dan Pemaknaan Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan Perspektif Islam

Amaliah Nahdliyah, yang sering diidentikkan dengan tradisi tahlilan, ziarah kubur, dan peringatan hari-hari besar Islam, sejalan dengan semangat Sya’banan. Keduanya mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati sesama, dan berbagi kebahagiaan. Bahkan, tradisi Sya’banan bisa dilihat sebagai bentuk perluasan dari amaliah Nahdliyah,.

Penyatuan Habaib dan Kyai dalam tradisi Sya’banan juga mencerminkan kekuatan Islam Nusantara. Kedua kelompok ini, memiliki latar belakang keilmuan sanad yang sama, mampu bersatu dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai Islam. Habaib, yang sering diidentikkan dengan Arab, dan Kyai, yang merupakan tokoh ulama lokal, sama-sama berperan penting dalam menyebarkan Islam dengan cara yang ramah dan mengakar di masyarakat.

Tradisi Sya’banan juga mengajarkan kita bahwa Islam tidak hanya tentang ritual ibadah semata, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan sosial yang harmonis. Dalam tradisi ini, kita melihat bagaimana nilai-nilai Islam diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sedekah, menghormati tamu, hingga menjaga silaturahmi. Ini adalah bentuk Islam yang hidup dan dinamis, yang mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya.

Baca Juga:  Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Oleh karena itu, tradisi Sya’banan di Pekalongan patut kita jaga dan lestarikan. Ia bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga bukti nyata bagaimana Islam mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam bingkai Ahlussunnah Wal Jamaah. Melalui tradisi ini, kita belajar bahwa persatuan antara Habaib dan Kyai bukanlah hal yang mustahil, karena keduanya berjalan di jalan yang sama: jalan kebenaran, kasih sayang, dan kebersamaan. Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Pers, Santri, dan Harmoni Sosial: Refleksi Hari Pers Nasional dalam Bingkai Kesantrian

Penulis : Intan Diana Fitriyati,M.Ag. ( Pengasuh PP. Al Masyhad manbaul Falah Walisampang Pekalongan ), Editor : Amarul Hakim

Setiap tanggal 9 Februari, Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Momentum ini tidak hanya menjadi refleksi atas peran pers dalam membangun demokrasi, tetapi juga mengingatkan kita akan kontribusinya dalam mengedukasi dan mencerahkan umat. Pers, sebagai pilar keempat demokrasi, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga transparansi, keadilan, dan keseimbangan informasi. Namun, peran pers tidak berhenti di situ. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan budaya dan agama, pers juga menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat, termasuk dunia pesantren dan kaum santri.

Studi politik santri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa santri tidak hanya fokus pada urusan keagamaan, tetapi juga aktif dalam isu-isu sosial, lingkungan, dan kebangsaan. Hal ini sejalan dengan peran pers yang tidak hanya memberitakan politik praktis, tetapi juga turut serta dalam pelestarian alam dan mewujudkan ketahanan pangan. Pers dan santri, dalam hal ini, memiliki kesamaan visi: membangun kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

Kerja sama antara pers dan dunia kesantrian telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Misalnya, melalui pemberitaan yang mendalam dan edukatif, pers mampu mengangkat praktik-praktik baik yang dilakukan pesantren dalam menjaga lingkungan, seperti program penghijauan, pengelolaan sampah, dan pertanian organik. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang dekat dengan masyarakat, menjadi contoh nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pelestarian alam.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi, Arina Jejaring Himpun Pengelola Media Keislaman se-Indonesia agar Dakwah Digital Maksimal

Politik santri, yang sering kali diidentikkan dengan keterlibatan dalam partai politik atau pemilu, sejatinya memiliki dimensi yang lebih luas. Santri tidak hanya berpolitik melalui jalur formal, tetapi juga melalui gerakan-gerakan sosial yang berdampak langsung pada masyarakat. Di sinilah pers berperan penting: mengangkat narasi-narasi tersebut agar dapat diakses oleh publik luas. Dengan demikian, pers tidak hanya menjadi alat informasi, tetapi juga alat transformasi sosial.

Dalam konteks menjaga harmoni sosial, pers dan santri memiliki peran yang saling melengkapi. Pers memberikan ruang bagi dialog antaragama dan antarkelompok, sementara santri, dengan nilai-nilai toleransi dan moderasi yang dipegang teguh, menjadi aktor yang menjaga kerukunan. Kolaborasi ini sangat penting di Indonesia, yang dikenal sebagai negara multikultural dengan beragam agama dan kepercayaan.

Tidak hanya itu, pers juga berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Pesantren, dengan basis keagamaan yang kuat, sering kali mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran Islam tentang pelestarian lingkungan. Misalnya, banyak pesantren yang mengajarkan tentang konsep hifzhul bi’ah (menjaga lingkungan) sebagai bagian dari ibadah. Pers, dengan jangkauan luasnya, dapat menyebarluaskan praktik-praktik ini sehingga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis pangan, kolaborasi antara pers dan santri menjadi semakin relevan. Pers dapat menjadi corong untuk menyuarakan inisiatif-inisiatif pesantren dalam mewujudkan ketahanan pangan, seperti budidaya pertanian mandiri atau pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar pesantren, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain.

Baca juga : Harapan Menag dalam Peringatan Pers Nasional : Terus Cerahkan dan Kuatkan Persatuan Umat

Peringatan Hari Pers Nasional tahun ini menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat sinergi antara pers dan dunia kesantrian. Dengan semangat kolaborasi, kedua elemen ini dapat bersama-sama berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan harmonis. Pers yang independen dan santri yang progresif adalah kombinasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan peran pers dan santri dalam konteks yang lebih luas. Pers tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan berita, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif. Santri, di sisi lain, tidak hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga pelopor perubahan sosial. Dengan semangat Hari Pers Nasional, mari kita terus mendorong kerja sama antara pers dan santri untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, di mana harmoni sosial, pelestarian alam, dan ketahanan pangan menjadi prioritas bersama.

Selamat Hari Pers Nasional! Semoga pers Indonesia terus berkembang maju, menjadi terdepan dalam mengedukasi dan mencerahkan umat, serta menjadi mitra strategis bagi dunia kesantrian dalam membangun masa depan yang lebih cerah.