Mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Ketika Kemanusiaan Menjadi Mahkota Utama Beragama

Penulis: Salma Failasufa Editor: Dwi Selma Fitriani

Dinding kampus sering kali hanya dipandang sebagai pembatas fisik belaka. Namun, ada pemandangan istimewa di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sebuah mural Gus Dur yang digambarkan dengan senyum khasnya sukses mengajak siapa saja yang melintas untuk sejenak berhenti dan merenung. Karya seni ini bersanding dengan tulisan “Gus Dur for Humanity“. Pesan sederhana ini justru terasa krusial dan makin relevan di tengah dinamika masyarakat kita yang majemuk.

Kehadiran mural tersebut seolah menjadi pengingat bahwa agama bukanlah tembok pemisah antarindividu. Sebaliknya, nilai-nilai spiritualitas semestinya menumbuhkan kepedulian, penghormatan, dan sikap saling menjaga antarsesama. Dalam konteks ini, moderasi beragama menemukan makna esensialnya. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai slogan usang dalam seminar atau ruang kelas, tetapi harus mewujud dalam cara kita berpikir, berdiskusi, dan bersosialisasi dengan orang lain.

Langkah awal penerapan moderasi ini adalah tasamuh (toleransi). Sebagai wadah berkumpulnya kaum intelektual, kampus mempertemukan mahasiswa dengan asal daerah, budaya, pengalaman, dan sudut pandang yang heterogen. Perbedaan pendapat dalam diskusi, organisasi, maupun interaksi sehari-hari adalah keniscayaan. Tantangannya bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa meremehkan, berargumen tanpa memaksakan kehendak, serta menerima eksistensi orang lain merupakan wujud nyata toleransi yang bermakna luhur.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Selain itu, laku keberagamaan juga menuntut sikap tawassuth (mengambil jalan tengah atau bersikap proporsional). Identitas keislaman dan keindonesiaan tidak sepantasnya dibenturkan. Keduanya dapat berjalan selaras apabila agama diposisikan sebagai pedoman moral yang mempromosikan kebaikan sosial. Bersikap moderat bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan senantiasa mempertahankan akidah sembari tetap berpikiran terbuka terhadap realitas masyarakat yang plural.

Pesan kemanusiaan dari sosok Bapak Pluralisme tersebut juga menyinggung aspek ‘adl (keadilan). Menghargai manusia berarti mengakui hak dan martabat yang melekat pada setiap individu. Di lingkungan akademik, keadilan ini tecermin dari perlakuan setara tanpa memandang latar belakang, pemberian ruang berekspresi yang sama, serta penghindaran terhadap segala bentuk diskriminasi. Moderasi beragama niscaya kehilangan ruhnya jika toleransi hanya berhenti pada retorika, sementara ketidakadilan masih dibiarkan subur.

Lebih jauh lagi, kemanusiaan akan kerdil tanpa ta’awun (tolong-menolong dan kolaborasi). Beban kehidupan akan terasa berat jika hanya dipikul sendirian. Rasa empati terhadap kawan yang sedang kesulitan, sinergi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta inisiatif saling membantu tanpa pandang bulu adalah manifestasi nyata dari semangat ini. Melalui tindakan-tindakan sederhana inilah, solidaritas dan rasa kebersamaan dapat tumbuh kembang.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Pada akhirnya, keberadaan mural Gus Dur seolah menantang para pengamatnya untuk tidak sekadar terkesima oleh keindahan visual sosok yang tergambar. Hal yang jauh lebih penting adalah aktualisasi semangat kemanusiaan tersebut dalam rutinitas harian (qudwah atau keteladanan). Menjalani moderasi beragama menuntut lebih dari sekadar pemahaman teoretis; ia harus termanifestasi dalam tindakan konkret. Adab berkomunikasi, cara menghormati sesama, seni mengelola konflik, dan kerelaan mengulurkan tangan merupakan bentuk keteladanan yang paling relevan saat ini.

Singkatnya, mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukanlah sekadar pajangan yang menghiasi area kampus. Karya tersebut adalah sebuah monumen pengingat agar kita tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaan di tengah situasi yang beragam. Tasamuh, tawassuth, ‘adl, ta’awun, dan qudwah bukanlah sekadar diksi akademis, melainkan prinsip hidup yang wajib diinternalisasi. Pesan “For Humanity” memikul makna fundamental: makin mendalam pemahaman agama seseorang, makin besar pula tanggung jawabnya untuk memuliakan martabat manusia. Pada hakikatnya, kedamaian dalam keberagaman tidak hanya diukur dari seberapa fanatik seseorang memeluk keyakinan, tetapi juga dari seberapa mulia akhlaknya saat bersinggungan dengan orang lain.

Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Penulis: Roro Lintang Aningtyas, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menonton suatu pertandingan, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah jalannya permainan, bukan? Siapa yang mendapat poin, siapa yang melakukan kesalahan, atau siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan. Padahal, ada momen kecil yang justru menarik untuk dicermati, salah satunya ketika pemain tidak sepakat dengan keputusan wasit.

​Hal ini terjadi dalam pertandingan bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat pertandingan berlangsung, ada pihak yang mengajukan protes terhadap keputusan wasit. Protes tersebut diterima oleh wasit dengan baik. Wasit kemudian menjelaskan alasan mengapa keputusan itu diambil. Setelah mendengarkan penjelasan wasit, pihak tersebut akhirnya menerima keputusan yang diberikan.

​Sekilas, kejadian seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam pertandingan, protes terhadap keputusan wasit merupakan hal yang wajar. Pemain kerap melihat kejadian hanya dari sudut pandangnya, sementara wasit memiliki pertimbangannya sendiri. Namun, dari kejadian sederhana itu terdapat satu pelajaran menarik: tidak semua hal yang berjalan di luar harapan harus berakhir menjadi perselisihan.

Baca  juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Dalam konsep moderasi beragama, nilai yang berkaitan erat dengan hal tersebut adalah keadilan. Adil bukan berarti semua orang harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil lebih kepada menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melihat persoalan secara seimbang. Di lapangan, wasit memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan aturan permainan. Pemain tentu boleh merasa tidak setuju dan menyampaikan keberatan jika merasa ada keputusan yang kurang tepat. Hal itu merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Akan tetapi, sebuah keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada siapa yang paling keras meluapkan protesnya.

​Kita memang kerap menganggap sesuatu tidak adil saat berada di pihak yang merasa dirugikan. Sebaliknya, jika keputusan itu menguntungkan, kita cenderung tidak mempersoalkannya. Pada pertandingan bola voli tersebut, pihak yang dirugikan sempat menilai keputusan wasit keliru, padahal mereka belum tentu memahami seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.

​Salah satu kuncinya terletak pada kerelaan untuk mendengarkan penjelasan wasit. Dalam pertandingan tadi, pihak yang memprotes tidak terus mempertahankan keberatannya setelah wasit memberi penjelasan secara jernih. Keputusan wasit pun akhirnya diterima. Dari sini terlihat bahwa menyampaikan ketidaksetujuan dan menerima keputusan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

​Sikap ini berakar pada nilai tasamuh atau toleransi. Toleransi memang kerap dikaitkan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, toleransi juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan dengan orang yang berpandangan beda. Kita tidak perlu terburu-buru menganggap orang lain salah hanya karena sudut pandang yang tidak sejalan. Dalam pertandingan, setiap pemain memiliki perspektifnya, sedangkan wasit memiliki wewenang serta pertimbangannya. Perbedaan pandangan itu nyata, tetapi tetap bisa dijembatani secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan.

​Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengendalian emosi. Setiap pertandingan sarat dengan tensi tinggi. Saat berjuang mengejar kemenangan, keputusan yang dianggap merugikan tentu memicu kekecewaan. Namun, rasa kecewa inilah yang tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan maupun ucapan yang melukai. Di sinilah nilai antikekerasan hadir secara nyata. Keberatan boleh diutarakan, tetapi penyelesaiannya harus tetap melalui dialog. Dalam insiden tersebut, keberatan disampaikan, wasit memberi argumen, dan akhirnya keputusan dihormati. Persoalan selesai di tempat tanpa memicu perselisihan yang berlarut-larut.

​Sebagai mahasiswa, kita sering menemui dinamika serupa. Misalnya saat kerja kelompok, perbedaan pendapat hampir selalu mewarnai diskusi. Ada yang menginginkan tugas diselesaikan dengan metode tertentu, sementara anggota lain memiliki gagasan yang berbeda. Jika masing-masing bersikukuh merasa paling benar, kerja bersama justru akan jalan di tempat.

​Satu hal yang kerap terlupakan: menghargai orang lain bukan berarti harus selalu menuruti apa yang mereka mau. Kita tetap berhak mempertahankan pemikiran sendiri dan mempertanyakan hal yang dirasa kurang pas. Hanya saja, ada etika dan batasan yang perlu dijaga agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

​Dari laga bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II ini, pelajaran berharga yang dipetik melampaui urusan kalah atau menang. Kita diajak belajar menyikapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan. Moderasi beragama sejatinya tidak selalu berkutat pada isu-isu besar; nilai-nilainya hadir dari peristiwa sederhana di sekitar kita setiap hari. Dari sebuah protes di lapangan voli, kita belajar tentang arti keadilan, penghargaan atas perbedaan, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Hidup memang tidak selalu berjalan seturut kehendak kita, tetapi kedewasaan kita diuji dari cara kita menyikapinya.

Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau

Penulis: Sauqi Arifatu Anissa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama terkadang dipahami sebagai konsep yang rumit, dipelajari melalui buku tebal, atau didiskusikan dalam seminar formal. Sejatinya, esensi moderasi beragama seperti toleransi, antikekerasan, menghargai tradisi, dan komitmen kebangsaan dapat diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ruang yang efektif dalam praktik nilai-nilai tersebut ada di lapangan olahraga, khususnya melalui pertandingan futsal.

​Dalam permainan futsal, ruang gerak yang terbatas dan tempo permainan yang cepat menuntut adanya interaksi fisik yang intens. Di sinilah dinamika sosial terjadi. Namun, ada satu momen krusial dalam pertandingan futsal yang secara sempurna menjadi manifestasi moderasi beragama. Momen tersebut ialah saat seorang pemain tanpa sengaja menjatuhkan lawan, kemudian secara spontan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

​Momen mengulurkan tangan ini merupakan implementasi nilai toleransi dan antikekerasan. Bayangkan, di tengah kompetisi dengan intensitas begitu tinggi, tidaklah sulit bagi seorang pemain untuk terbawa emosi saat terjadi benturan dengan lawan. Berbagai dorongan untuk menjadi egois atau bahkan membalas pelanggaran sering kali muncul. Namun, ketika seorang pemain memilih untuk meredam emosi, menekan ego, dan mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh, ia sedang mempraktikkan prinsip dasar moderasi beragama. Ia mengedepankan kemanusiaan di atas perselisihan.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

​Toleransi beragama tidak diartikan sebatas mengorbankan keyakinan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan. Di lapangan futsal, berbagai perbedaan hadir dalam bentuk warna jersey, asal instansi, hingga latar belakang suku atau agama para pemain. Mengulurkan tangan kepada lawan yang jatuh diartikan sebagai penegasan bahwa, meski berada di pihak yang berbeda dalam sebuah pertandingan, kita tetap terikat oleh norma moral dan kemanusiaan yang sama. Lawan bertanding bukanlah musuh yang harus dihancurkan, melainkan kawan berolahraga yang saling membutuhkan untuk menciptakan permainan yang utuh.

​Jika berbicara lebih jauh, olahraga futsal menanamkan nilai komitmen kebangsaan melalui penghormatan terhadap aturan bersama. Lapangan hijau bertindak sebagai ruang inklusif tempat semua perbedaan identitas melebur di bawah naungan aturan main yang adil. Ketika peluit dibunyikan, setiap pemain tunduk pada aturan pertandingan tanpa memandang status sosial, agama, maupun latar belakang daerahnya. Kepatuhan pada kesepakatan bersama ini sejalan dengan cara warga negara yang moderat dalam menghormati hukum dan konsensus nasional demi menjaga ketertiban bersama.

​Di samping itu, pertandingan futsal sering kali menjadi arena ujian bagi sikap tawasut (berada di tengah-tengah) dan pengendalian diri. Di tengah cepatnya tensi permainan, gesekan fisik kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu konflik yang lebih besar jika tidak disikapi dengan kepala dingin. Ketika para pemain cerdas dalam mengolah emosi, mengarahkan energi pada permainan yang bersih, serta menerima keputusan wasit dengan lapang dada, mereka sedang mengintegrasikan karakter moderat ke dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana belaka. Lapangan futsal kemudian dapat menjadi laboratorium sosial mini tempat kerukunan diuji dan dibentuk secara alami.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Pembelajaran karakter berbasis lapangan seperti ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih membumi bagi generasi muda. Moderasi tidak selamanya harus disampaikan melalui narasi persuasif yang formal dan kaku. Lewat riuhnya sorak penonton dan dinamika di atas lapangan, peserta kompetisi secara tidak langsung dilatih untuk mengelola perbedaan pendapat, menghargai ruang hidup orang lain, serta menumbuhkan rasa empati terhadap kawan maupun lawan bertanding.

​Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam turnamen futsal bukanlah sekadar mengangkat piala. Kemenangan yang paling bermakna adalah ketika setiap individu mampu mengendalikan emosi, menghormati aturan permainan, dan menjaga rasa persaudaraan. Momen mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai moderasi beragama telah meresap ke dalam tindakan sehari-hari, serta membuktikan bahwa kedamaian dan toleransi bisa diukir dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghargai. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu sikap penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Sebagian orang masih menganggap bahwa moderasi beragama berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Ada pula yang menganggap bahwa bersikap toleran berarti mencampuradukkan ajaran agama. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Moderasi beragama bukan berarti menjadi ragu terhadap ajaran agama sendiri atau mengorbankan keyakinan demi menghormati orang lain. Moderasi beragama justru mengajarkan seseorang untuk menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghargai keberadaan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui sikap yang baik, bukan melalui tindakan yang memaksakan kehendak. Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinannya. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari toleransi.

Moderasi beragama juga penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan. Di sekolah, misalnya, peserta didik dapat bertemu dengan teman yang berbeda agama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan beribadah, perayaan keagamaan, atau tradisi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman dan bekerja sama. Dalam kegiatan kelompok, semua peserta didik dapat saling menghargai dan memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjalankan kewajiban keagamaannya.

Selain di lingkungan sekolah, tantangan moderasi beragama juga semakin besar di media sosial. Informasi mengenai agama dapat tersebar dengan cepat, termasuk informasi yang belum tentu benar. Tidak jarang perbedaan pendapat mengenai persoalan keagamaan berubah menjadi perdebatan yang disertai penghinaan dan ujaran kebencian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial secara bijaksana juga merupakan bagian dari sikap moderat. Sebelum membagikan informasi, seseorang perlu memeriksa kebenarannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Sikap sederhana seperti tidak mengejek agama lain, tidak menyebarkan kebencian, menghormati teman yang sedang beribadah, serta bersedia bekerja sama dengan siapa pun dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, moderasi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus mengubah atau meninggalkan keyakinan sendiri. Kita dapat menghargai seseorang sebagai manusia tanpa harus mengikuti keyakinannya. Dengan kata lain, toleransi tidak menuntut setiap orang menjadi sama. Toleransi justru mengajarkan bahwa perbedaan dapat diterima selama setiap pihak mampu menjaga batas dan menghormati hak satu sama lain.

Pada akhirnya, teguh dalam keyakinan dan hidup damai dalam perbedaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Justru, keyakinan yang dijalankan dengan penuh pemahaman seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan menjaga kedamaian.

Moderasi beragama bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan, melainkan cara untuk menjaga agar kehidupan beragama berjalan secara seimbang dan tidak menimbulkan permusuhan. Di tengah keberagaman Indonesia, sikap tersebut sangat diperlukan. Kita tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menciptakan kedamaian. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Dengan demikian, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan harmonis.

Doa Bersama Antar Umat Beragama: Merawat Persatuan di Hari Kemerdekaan dan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026 bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali memperkuat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kegiatan yang memiliki makna penting adalah doa bersama antar umat beragama. Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan saling menghormati.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Kabupaten Pekalongan memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Dalam kondisi tersebut, untuk menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Imam Teguh Wibowo selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa doa bersama menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus memperkuat kerukunan antar umat beragama.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dan memperingati Hari Jadi Kabupaten Pekalongan yang ke-404. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antar umat beragama.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah peringatan tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat seremonial. Doa bersama memiliki pesan sosial yang lebih luas, yaitu mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari perjuangan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan saja. Karena itu, semangat persatuan harus terus dirawat dari generasi ke generasi.

Dalam konteks Kabupaten Pekalongan, peringatan Hari Jadi ke-404 juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan daerah. Usia 404 tahun merupakan perjalanan yang panjang. Tentunya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial masyarakatnya. Daerah yang maju membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan. Pembangunan akan lebih mudah dilakukan apabila masyarakat memiliki rasa saling percaya, menghormati perbedaan, dan ingin bekerja sama. Sebaliknya, konflik dan intoleransi dapat menjadi hambatan untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera. Oleh karena itu, doa bersama antar umat beragama seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Toleransi bukan hanya tentang menghormati ketika orang lain menjalankan ibadah. Toleransi juga berarti bersedia mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, tidak mudah menyebarkan keburukan, dan mau bekerja sama dalam berbagai bidang demi kepentingan bersama. Generasi muda juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, perbedaan terkadang mudah berubah menjadi pertentangan karena informasi yang tidak benar atau provokatif. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya persatuan dan kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijaksana.

Pada akhirnya, doa bersama antar umat beragama mengandung pesan sederhana tetapi sangat penting, kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat berjalan bersama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat semangat tersebut. Dengan menjaga toleransi, gotong royong, dan persaudaraan, masyarakat Kabupaten Pekalongan dapat bersama-sama mewujudkan daerah yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dan kerukunan bukan hanya sebuah slogan, melainkan nilai yang harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang keluarga, daerah, budaya, cara berpikir, bahkan keyakinan yang berbeda. Di lingkungan kampus misalnya, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan dan pandangan yang tidak selalu sama dengan kita. Begitu juga di lingkungan masyarakat. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Salah satu dasar penting mengenai hal ini terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah S.W.T. adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman manusia merupakan bagian dari kehendak Allah S.W.T. Manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. 

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, bagian “agar kamu saling mengenal” ini menarik untuk direnungkan. Sebab, dalam kehidupan sekarang, kita terkadang justru lebih mudah mengenali perbedaan daripada mengenali manusianya. Kita melihat seseorang dari kelompok mana, berasal dari daerah mana, memiliki pandangan seperti apa, atau memiliki keyakinan apa, kemudian buru-buru memberikan penilaian. Padahal, sebelum melihat perbedaannya, kita sedang berhadapan dengan seorang manusia yang juga ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan baik.

Akhlak Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa menghormati manusia tidak harus berarti menyamakan semua keyakinan atau menghilangkan prinsip yang kita miliki. Menghormati orang lain adalah persoalan sikap dan kemanusiaan. Hal tersebut juga dapat dilihat dalam QS Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Bahkan, ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah S.W.T. mencintai orang-orang yang berlaku adil. Artinya, berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, selama berada dalam hubungan yang damai, Islam mengajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil.

Contoh yang paling sederhana sebenarnya ada di sekitar kita. Ketika memiliki teman yang berbeda pandangan, kita tidak harus selalu setuju dengan pendapatnya. Namun, ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita bisa mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa harus mengatakan, “Pendapatmu bodoh.” Begitu pula ketika berada di media sosial. Perbedaan pendapat sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik layar terdapat manusia lain yang juga memiliki perasaan. Hanya karena tidak bertemu secara langsung, seseorang merasa bebas menulis komentar kasar, mengejek, bahkan merendahkan orang lain. 

Di sinilah akhlak menjadi penting. Akhlak bukan hanya terlihat ketika kita sedang berada di masjid, mengikuti pengajian, atau berbicara tentang agama. Akhlak justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Rasulullah saw. juga memberikan contoh penghormatan terhadap manusia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdiri ketika sebuah jenazah lewat. Para sahabat kemudian memberitahukan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. Dalam riwayat lain, ketika diberitahu bahwa jenazah itu milik seorang Yahudi, Rasulullah saw. mempertanyakan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”  Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Perbedaan keyakinan tidak membuat beliau kehilangan rasa hormat terhadap manusia.

Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti harus memusuhi setiap orang yang berbeda. Justru, salah satu bentuk kekuatan akhlak adalah kemampuan untuk tetap bersikap baik tanpa kehilangan prinsip. Pada akhirnya, perbedaan memang akan selalu ada. Kita tidak harus membuat semua orang menjadi sama dengan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Karena bisa jadi, ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sukai, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya. Dan jika Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., maka meneladani sikap beliau terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk nyata dari kecintaan tersebut.

Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Penulis: Muslimah, Editor: Najwa

Pekalongan — Jumat, (24/7) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) kembali menyelenggarakan Pelatihan Moderasi Beragama bagi seluruh sivitas akademika di hari ke-2. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai 23-24 Juli, bertempat di Aula Pertemuan Lantai 3 Perpustakaan UIN Gus Dur.

Baca Juga: LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama untuk Sivitas Akademika dalam Rangka Memperkuat Toleransi

Pelatihan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan sebagai upaya memperkuat pemahaman serta implementasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan kampus.

Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M sekaligus Ketua Pelaksana, Muhammad Alghiffary, M. Hum. menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali cara pandang, sikap, dan perilaku beragama sivitas akademika agar selaras dengan nilai-nilai dasar ajaran agama.

“Tujuan diselenggarakannya Pelatihan Moderasi Beragama ini adalah untuk me-refresh kembali cara pandang, sikap, dan perilaku beragama civitas akademika, khususnya dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan UIN Gus Dur. Harapannya, mereka dapat menjalankan dan mengimplementasikan ajaran-ajaran yang sesuai dengan esensi agama yang sesungguhnya, yakni memanusiakan manusia,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu narasumber pelatihan, Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA., Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang mengapresiasi semangat peserta dalam mengikuti setiap sesi.

“Saya melihat peserta begitu antusias selama dua hari ini. Dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, semuanya tetap semangat. Wawasan mereka juga bertambah, terlihat dari berbagai pertanyaan yang mereka ajukan. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tampak keinginan mereka untuk mendalami moderasi beragama. Harapan saya, setiap dosen dan tenaga kependidikan yang telah mengikuti pelatihan ini dapat mengimplementasikan sekaligus menyosialisasikan moderasi beragama dalam berbagai kegiatan di kampus,” jelasnya.

Sebagai peserta Dewi Puspitasari juga mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan bekal teoritis yang selama ini belum mereka peroleh, meskipun telah lama terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

“Kami sudah cukup lama terlibat dalam pengabdian masyarakat, termasuk di beberapa sekolah terkait moderasi beragama. Namun secara teori keilmuan kami memang masih sangat minim. Melalui kegiatan yang dijembatani LP2M UIN Gus Dur ini, kami memperoleh berbagai kajian teori yang sangat membantu. Dengan bekal tersebut, kami berharap dapat menjadi agen moderasi, baik di lingkungan internal kampus maupun di masyarakat,” terangnya.

Melalui pelatihan ini, LP2M UIN Gus Dur berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi maupun kehidupan bermasyarakat, sehingga tercipta lingkungan akademik yang inklusif, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Lintas Ormas Bukan Jadi Batas: Kutorojo dengan Keberagaman di Dalamnya

Penulis: Bima Kharie P, Editor: Muslimah

Desa Kutorojo terletak di ujung Kecamatan Kajen yang berbatasan dengan Kandangserang dan Linggoasri. Memiliki 4 dusun di dalamnya, yakni Dusun Kutorojo, Purwodadi, Gunungtelu, dan Silawan. Perlu waktu sekitar 20 menit dari pusat Kecamatan Kajen untuk sampai di Desa Kutorojo. Masyarakat  hidup saling berdampingan dengan harmonis, adem ayem. Di tengah perkembangan zaman, warga dusun tidak juga dikatakan tertinggal, walaupun terletak di pelosok wilayah. Selain itu, Warga Desa Kutorojo begitu beragam dengan segala aspek di dalamnya. Mulai dari mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, hingga aspek keagamaan.

Ada satu hal yang menarik dari Desa Kutorojo sendiri, yaitu dari segi kepercayaan. Terdapat beragam agama hingga ormas di dalamnya. Ada tiga kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Desa Kutorojo, yakni Islam, Hindu, serta Kepribadian (Kapithayan). Islam sendiri menjadi agama mayoritas di desa ini.  Walaupun demikian, islam yang berkembang di desa ini memiliki corak yang beragam dengan beragamnya Organisasi Kemasyarakat (Ormas) yang ada.

Baca Juga: GUSDURian Makassar dan PMII UIM Gelar Diskusi: Menyoal Ironi Keterlibatan Ormas dalam Konsesi Tambang

Di Dusun Kutorojo khususnya ada tiga Ormas yang berbeda dengan dusun lainnya yang hanya terdapat satu ormas saja. Tiga ormas tersebut yakni Nahdlatul Ulama (NU) sebagian besar, Muhammadiyah, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Pak Casto, Kepala Dusun Kutorojo mengatakan mayoritas Ormas Dusun Kutorojo sekitar 50 Kartu Keluarga (KK) adalah NU, sisanya adalah Muhamadiyah dan LDII dari total 96 KK. Keberadaan tiga ormas yang berbeda dalam satu dusun tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas.

Terkadang perbedaan tersebut sering kali dianggap dapat memunculkan jarak sosial atau bahkan konflik di masyarakat dalam pandangan sebagian orang. Namun, berbeda hal-nya kondisi tersebut tidak nampak di Dusun Kutorojo. Masyarakat justru mampu menunjukkan bahwa perbedaan cara pandang dalam berorganisasi tidak semata menjadi alasan terpecahnya persatuan. Selain itu masing-masing ormas di Dusun Kutorojo ini memiliki masjid masing-masing. Mereka tetap beribadah di masjid masing-masing dengan khusuk dan sesuai ajaran ormas-nya.

Meskipun terdapat tiga ormas, hubungan sosial antarwarga tetap berjalan dengan baik tanpa membedakan latar belakang organisasi keagamaan yang dianut. Dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, musyawarah desa, kegiatan kemasyarakatan, hingga acara hajatan warga, seluruh masyarakat tetap saling membantu dan bekerja sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kutorojo masih menjunjung nilai persaudaraan dan persatuan di kehidupan. Mereka memahami bahwa meskipun mempunyai perbedaan dalam tradisi atau cara pelaksanaan tertentu, pada dasarnya seluruh masyarakat tetap berada dalam satu keyakinan yang sama, yaitu agama Islam.

Kesadaran inilah yang menjadi pondasi utama terciptanya kehidupan yang damai dan rukun di tengah keberagaman Ormas. Contoh nyata kerukunan terjadi antara Ormas yakni saat tiba kegiatan atau tradisi sedekah bumi, dari berbagai Ormas ikut andil dan berpartisipasi dalam menyelenggarakan tradisi tersebut. Sehingga tradisi sedekah bumi bisa berjalan sukses dan terkesan rahat bersama.

Selain itu masih banyak bentuk kerukunan lainnya yang terjadi di Dusun Kutorojo yang mana mencakup Ormas yang berbeda-beda. Antar warga pun tidak saling menyalahkan ataupun merasa paling benar terhadap kelompok lain. Justru yang lebih diutamakan adalah menjaga hubungan baik antar sesama muslim dan menjaga kerukunan lingkungan desa. Nilai seperti ini merupakan bentuk nyata dari sikap moderasi. Berawal dari saling menghargai sesama Islam yang berbeda pandangan, kemudian bisa saling menghargai antar lintas agama, atau yang biasa disebut dengan moderasi beragama.

Tentu sudah tak asing lagi desa Kutorojo ini mengenal kata moderasi beragama, karena sudah menjadi background tersendiri di desa ini. Harapannya dengan Desa Kutorojo ini yang sudah menjadi desa moderasi beragama, seluruh elemen masyarakat di dalamnya bisa menjaga dan merawat nilai moderasi beragama kedepannya. Dari berbagai agama dan kepercayaan yang dianut bukan menjadi halangan untuk selalu terjaganya kekompakan dan keharmonisan kehidupan masyarakat di dalamnya. Keharmonisan yang tercipta juga tidak lepas dari peran tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para sesepuh desa yang selalu mengedepankan persatuan dibandingkan perbedaan.

Nasihat-nasihat yang diberikan kepada masyarakat menanamkan pemahaman bahwa kerukunan jauh lebih penting untuk dijaga demi terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua warga. Dengan adanya sikap saling menghormati dan kebersamaan yang terus dijaga, Desa Kutorojo menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang dapat mempererat persaudaraan. Kehidupan harmonis antarormas di Dusun Kutorojo menjadi bukti bahwa persatuan umat dapat terwujud apabila masyarakat mampu mengedepankan rasa saling menghargai, toleransi, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

KEBERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN: REFLEKSI KKN DI DESA KUTOROJO, KABUPATEN PEKALONGAN

Penulis: Rois Sidik, Editor: Nehayatul Najwa

Desa Kutorojo, yang terletak di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menyimpan kekayaan sosial-budaya yang tidak tampak dari luar. Selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa ini, saya mendapati sebuah pelajaran berharga yang tidak diajarkan di bangku kuliah: bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan fondasi kokoh kehidupan bermasyarakat. Desa Kutorojo terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Purwadadi, Kutorojo, Silawan, dan Gunung Telu. Masing-masing dusun memiliki karakter dan keunikannya tersendiri, namun tetap terikat dalam satu identitas desa yang harmonis. Keempat dusun ini tidak hanya berbeda secara geografis, tetapi juga memperlihatkan warna kehidupan beragama yang berbeda-beda, sesuatu yang langka dan patut untuk dirayakan.

Hal yang paling mengesankan selama KKN di Desa Kutorojo adalah realitas kehidupan keberagamaan yang ada. Di sini, tiga keyakinan hidup berdampingan, yakni Islam, Hindu, dan Kapitayan. Ketiganya bukan sekadar corak demografis di atas kertas, melainkan benar-benar hadir dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Baca Juga: Mengawal Kemerdekaan dengan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman Indonesia

Di Dusun Purwadadi dan Kutorojo, terdapat warga yang memeluk ajaran Hindu dan Islam secara berdampingan. Meski Islam tetap menjadi keyakinan mayoritas, kehadiran Hindu di tengah komunitas ini justru menciptakan dinamika sosial yang hangat. Warga dari dua keyakinan berbeda ini tetap saling menyapa, bergotong royong, dan berbagi ruang hidup tanpa sekat yang berarti.

Di Dusun Gunung Telu, terdapat sesuatu yang lebih langka lagi, yaitu kehadiran Kapitayan. Kapitayan adalah kepercayaan asli Jawa yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Nusantara. Meskipun Islam mendominasi dusun ini, keberadaan Kapitayan di tengah modernitas adalah pengingat bahwa akar budaya lokal masih dijaga dan dihormati. Ini bukan kemunduran, melainkan bentuk kearifan lokal yang patut dilestarikan.

Sementara itu, Dusun Silawan seluruh warganya memeluk agama Islam, namun keseragaman keyakinan ini tidak membuat mereka menutup diri terhadap perbedaan yang ada di dusun-dusun tetangga. Salah satu hal yang paling mengesankan adalah bahwa toleransi di Desa Kutorojo bukan sesuatu yang perlu dikampanyekan atau diajarkan melalui program-program formal. Toleransi di sini tumbuh alami dari keseharian, dari sapaan di jalan setapak, dari keikutsertaan bersama dalam kegiatan desa, dan dari rasa saling menghargai yang sudah mengakar sejak lama. Warga tampaknya telah memahami bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk menjadi tetangga yang baik, bahkan menjadi saudara dalam satu komunitas.

Baca Juga: Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Mengakhiri masa KKN di Desa Kutorojo, saya membawa pulang lebih dari sekadar laporan kegiatan dan dokumentasi program kerja. Saya membawa pulang perspektif baru tentang Indonesia yang sesungguhnya: negeri yang di dalamnya Islam, Hindu, dan Kapitayan bisa hidup dalam satu desa, bahkan dalam satu dusun, tanpa konflik dan tanpa perlu ada yang mengalah.

Sebelum menyelesaikan KKN ini, kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu Pura di Desa Kutorojo ini, ditemani oleh penjaga Pura yang menyambut baik kedatangan kami. Beliau bercerita bahwa salah satu contoh toleransi di Desa Kutorojo ketika hari raya Hindu dan Islam berdekatan, mereka saling bantumembantu dalam menyambut hari raya. Cerita uniknya ternyata masih ada satu KK yang berbeda agama, bahkan terkadang terjadi pernikahan beda agama. Ini menjadi bahwa perbedaan agama tidak bisa menjadi alasan untuk perpecahan.

Desa Kutorojo mengajarkan bahwa keberagaman adalah warisan, bukan beban. Dan tugas generasi muda, termasuk para mahasiswa KKN seperti kami, adalah memahami, menghormati, dan menjaga warisan itu agar tetap hidup untuk generasi berikutnya. Bagi saya pribadi, inilah pelajaran terbesar selama KKN di Desa Kutorojo: bahwa toleransi sejati tidak perlu diajarkan, ia cukup dihidupi. Desa ini adalah bukti nyata bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan perpecahan.

Baca Juga: Toleransi Bukan Sekadar Seremoni: Menggeser Narasi Simbolis Ke Aksi Substansial

Besar harapan agar keharmonisan dan toleransi ini tertanam pada generasigenerasi selanjutnya. Anak-anak tumbuh dengan pandangan bahwa perbedaan bukan pembeda, melainkan memandang perbedaan sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian Desa Kutorojo diharapkan tidak hanya maju secara pembangunan fisik, tetapi juga unggul dalam pembangunan karakter dan peradaban. Seperti dalam Pancasila “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” -Berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua.