MTQ PORSI JAWARA II: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menjadi Ruang Merawat Persaudaraan

Penulis: Rifki Farhani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu momentum penting dalam mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Pulau Jawa dan Madura. Dengan 27 cabang perlombaan yang terbagi dalam bidang olahraga, seni, dan ilmiah, kegiatan ini berlangsung pada 10–12 September 2026. Namun, di balik semarak kompetisi tersebut, PORSI JAWARA II menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar perebutan prestasi.

Pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus tidak hanya menghadirkan persaingan, tetapi juga membuka ruang silaturahmi dan perjumpaan lintas daerah. Setiap peserta datang dengan latar belakang budaya, pengalaman pendidikan, serta kebiasaan yang beragam. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan yang dapat memperluas wawasan dan mempererat hubungan antarmahasiswa. Dalam konteks ini, PORSI JAWARA II dapat dipandang sebagai ruang nyata untuk mempraktikkan moderasi beragama melalui interaksi yang terbuka, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang persaudaraan.

Salah satu cabang yang memiliki kedekatan kuat dengan nilai-nilai tersebut adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Sebagai cabang perlombaan yang berlandaskan kecintaan terhadap Al-Qur’an, MTQ tidak semestinya dimaknai hanya sebagai ajang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing peserta. Lebih dari itu, MTQ menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa yang memiliki minat dan semangat yang sama dalam mempelajari serta mengembangkan kemampuan tilawah.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Di tengah pelaksanaan lomba, peserta dari berbagai kampus memiliki kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh dari daerah maupun lembaga masing-masing. Pengalaman seorang peserta tentu tidak selalu sama dengan peserta lainnya. Ada yang memiliki pengalaman pembinaan lebih lama, ada pula yang baru memperoleh kesempatan untuk tampil dalam ajang tingkat regional. Perbedaan pengalaman tersebut tidak seharusnya menjadi jarak, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar dan menguatkan.

Pada titik inilah nilai tasamuh atau toleransi dalam moderasi beragama menemukan bentuknya secara nyata. Toleransi tidak selalu harus diwujudkan dalam persoalan besar, tetapi juga dapat hadir melalui kesediaan menghargai perbedaan kemampuan, kebiasaan, dan cara belajar orang lain. Dalam lingkungan MTQ, peserta dapat belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Sikap saling menghormati dan tidak merasa paling unggul menjadi bagian penting dari pembentukan karakter beragama yang moderat.

Selain tasamuh, MTQ juga menghadirkan nilai ukhuwah, yakni persaudaraan yang tumbuh melalui pertemuan dan pengalaman bersama. Para peserta yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal dapat membangun hubungan baru melalui percakapan, latihan, maupun berbagi pengalaman seputar tilawah. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, perlombaan dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara mahasiswa PTKIN.

PORSI JAWARA II juga mengajarkan pentingnya tawazun, yaitu keseimbangan antara semangat berprestasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Keinginan untuk menjadi yang terbaik merupakan hal yang wajar dalam sebuah perlombaan. Akan tetapi, semangat tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa peserta lain bukan sekadar pesaing, melainkan sesama pembelajar yang sedang menempuh proses yang sama. Dengan demikian, prestasi tidak kehilangan makna sosial dan spiritualnya.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

MTQ pada akhirnya bukan hanya tentang lantunan ayat suci yang terdengar indah dari atas panggung. Di dalamnya terdapat proses perjumpaan, pembelajaran, dan pembentukan sikap yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta. Ketika peserta mampu saling berbagi pengalaman tanpa merendahkan, menerima perbedaan tanpa memperdebatkannya secara berlebihan, serta membangun hubungan baik di tengah kompetisi, nilai moderasi beragama telah hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi bermakna.

Oleh karena itu, PORSI JAWARA II 2026 perlu dipandang lebih dari sekadar agenda perlombaan antarkampus. Khususnya melalui cabang MTQ, kegiatan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dipelajari melalui bacaan dan hafalan, tetapi juga melalui sikap yang lahir dari interaksi antarsesama. Lantunan Al-Qur’an menjadi semakin bermakna ketika mampu mengantarkan para peserta untuk merawat toleransi, mempererat persaudaraan, dan membangun cara beragama yang terbuka serta menghargai keberagaman.

Kebersamaan Membawa Kejuaraan dengan Berlandaskan Moderasi Beragama

Penulis: Sabrina Maharani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Sering kali, menjadi pemenang dipahami sebagai hasil dari bakat, usaha, dan strategi. Namun, satu hal yang sangat penting dan sering diabaikan adalah kebersamaan. Sebuah keberhasilan tidak selalu berasal dari individu yang paling unggul, melainkan dari mereka yang mampu menyatukan perbedaan dan bergerak ke arah tujuan yang sama. Semangat ini tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam hal ini, kebersamaan memiliki hubungan yang erat dengan sikap moderat dalam beragama.

Indonesia dikenal dengan berbagai agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman ini adalah sebuah kekayaan yang patut disyukuri. Namun, pada saat yang sama, hal ini juga dapat menjadi tantangan. Ketidakharmonisan manusia dalam menghadapi perbedaan dapat menyebabkan prasangka negatif, konflik, bahkan perpecahan. Oleh karena itu, sikap moderasi dalam beragama menjadi sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang baik. Moderasi dalam beragama mengajarkan kita semua untuk menjalankan keyakinan dengan baik dan tidak lupa menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

Nilai-nilai tersebut sebenarnya bisa kita temukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berkompetisi. Salah satunya dalam pertandingan olahraga tim, setiap atlet memiliki keahlian dan perannya masing-masing. Ada yang andal dalam menyerang, bertahan, merancang strategi, atau memberikan dukungan kepada rekannya. Perbedaan inilah yang seharusnya tidak menghalangi tim untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, ketika setiap anggota saling menghargai dan melengkapi, sebuah tim akan menjadi lebih kokoh.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Hal tersebut berkaitan erat dengan moderasi beragama. Kejuaraan yang sesungguhnya bukan hanya tentang mendapatkan medali atau piala. Kejuaraan dapat dimaknai sebagai keberhasilan dalam membangun persatuan dan menciptakan lingkungan yang damai serta harmonis. Ketika seseorang mampu bekerja sama dengan orang lain, ataupun dalam tim, mereka telah menunjukkan sikap moderat dalam kehidupan nyata.

Kebersamaan juga mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam sebuah kelompok, perbedaan kemampuan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi. Begitu pula dalam kehidupan beragama. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan toleransi, sikap saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Kebersamaan juga dapat dimulai dari lingkungan kampus, misalnya pada perlombaan olahraga, seni, dan ilmiah yang diselenggarakan oleh PORSI JAWARA II pada tahun 2026. Mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga Madura, hadir dengan latar belakang dan pengalaman hebat yang berbeda-beda. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk membentuk kelompok yang saling menjauh. Sebaliknya, mahasiswa dapat bekerja sama dalam kegiatan ini tanpa menjadikan perbandingan atau persaingan yang mencolok dalam pertandingan.

Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus selalu diselesaikan dengan perdebatan. Ada kalanya perbedaan perlu disikapi dengan mendengarkan, tidak harus selalu memenangkan pendapat sendiri. Terkadang, kemenangan yang lebih besar justru terjadi ketika kita mampu mengesampingkan ego demi kepentingan bersama. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara, tetapi juga kemauan untuk mendengarkan dan memahami. Moderasi beragama menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan moderasi, seseorang dapat tetap teguh terhadap keyakinannya sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Dengan bersatu, kita belajar menerima keberadaan orang lain; dengan kerja sama, kita mengubah perbedaan menjadi kekuatan; dan dengan kebersamaan, tujuan yang sebelumnya sulit untuk dicapai dapat diwujudkan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Oleh karena itu, ungkapan “kebersamaan membawa kejuaraan dengan berlandaskan moderasi beragama” seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kalimat di suatu perlombaan, tetapi dapat dijadikan prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. Moderasi beragama menjadi jembatan yang menyatukan berbagai perbedaan untuk tetap berada dalam semangat persatuan. Pada akhirnya, komunitas yang tangguh bukanlah komunitas yang bebas dari perbedaan, melainkan komunitas yang terbiasa saling berkolaborasi, menyelesaikan perbedaan dengan jalan musyawarah, serta saling menghormati. Kita tidak hanya memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, tetapi juga memiliki kesempatan besar untuk meraih tujuan yang lebih luas: menciptakan kehidupan yang damai dan selaras. Sebab, juara sejati adalah mereka yang tidak hanya berhasil mengalahkan lawan, tetapi juga mampu menang tanpa mengorbankan rasa persatuan.

Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Penulis: Annissa Meilasari, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menyaksikan lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, saya melihat sesuatu yang sangat menarik. Para peserta tidak datang dengan pendapat yang sama. Mereka justru berada di posisi yang berbeda dan harus mempertahankan argumen masing-masing. Salah satu mosi yang dibahas adalah “This House, as a Syrian transitional government, would do long-term security with Israel”. Menurut saya, perdebatan bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumen paling bagus dan kuat, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menyampaikan pendapat ketika berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dalam sebuah debat, perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Setiap tim memiliki alasan, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang mendukung sebuah gagasan, sementara yang lain berusaha menyanggah dan menunjukkan kelemahan dari gagasan tersebut. Perbedaan seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan sekitar kita. Kita sering menemukan orang yang tidak sepemikiran dengan kita, baik dalam lingkungan perkuliahan, organisasi, maupun masyarakat.

Menurut saya, beberapa hal tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan moderasi beragama. Moderasi beragama tidak berarti membuat semua orang memiliki pendapat yang sama. Justru, salah satu hal yang paling penting dalam bermoderasi adalah kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijak. Kita boleh tidak setuju dengan suatu pendapat, tetapi ketidaksetujuan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Melalui lomba debat, saya melihat bahwa peserta dituntut untuk menyampaikan pendapat mereka berdasarkan argumen, bukan sekadar emosi. Ketika berada dalam posisi yang berbeda, seseorang perlu mendengarkan apa yang disampaikan lawan sebelum memberikan tanggapannya. Dari sini, debat sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: berbeda pendapat tidak harus saling merendahkan satu sama lain.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Hal ini menjadi sangat menarik ketika topik yang dibahas berkaitan dengan persoalan politik dan hubungan antarnegara yang cukup sensitif. Ketika membicarakan konflik dan hubungan antarnegara, tentu banyak sekali sudut pandang yang dapat muncul. Jika perbedaan pandangan tidak disikapi dengan baik, pembicaraan mengenai isu tersebut dapat dengan mudah berubah menjadi saling menyalahkan. Namun, dalam ruang debat, perbedaan tersebut justru diarahkan menjadi sebuah diskusi yang memiliki aturan.

Dari situlah, nilai moderasi dapat terlihat. Moderasi tidak harus ditunjukkan dengan kegiatan keagamaan secara langsung. Sikap moderat juga dapat muncul dari cara seseorang berbicara, mendengarkan, ataupun menghargai orang lain. Ketika seseorang mampu menyampaikan pendapatnya dengan tegas tanpa menghina pihak lain, ia sedang belajar untuk menempatkan perbedaan secara proporsional.

Saya juga melihat bahwa debat mengajarkan pentingnya berpikir kritis. Peserta tidak cukup hanya mengatakan bahwa pendapatnya benar. Mereka harus memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjawab argumen dari pihak lain. Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut tentu sangat penting karena kehidupan akademik juga tidak terlepas dari perbedaan pemikiran.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Namun, kemampuan berpikir kritis juga harus berjalan bersama dengan sikap menghargai. Seseorang boleh kritis terhadap suatu gagasan, tetapi tetap perlu menghormati orang lain yang menyampaikan gagasan tersebut. Inilah yang terkadang sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering kali terlalu cepat menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai orang yang salah, bahkan sebelum mencoba memahami alasan di balik pendapatnya.

PORSI JAWARA II menjadi ruang yang sangat menarik karena kegiatan perlombaan dapat mempertemukan orang dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda-beda. Para peserta memang datang untuk menjadi juara, tetapi proses untuk menuju kemenangan seharusnya dilakukan dengan cara yang sehat. Dalam lomba debat, kemenangan tidak seharusnya diperoleh dengan menjatuhkan lawan, melainkan dengan menunjukkan kualitas argumen yang baik.

Menurut saya, semangat berkompetisi dan moderasi sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kita tetap boleh memiliki ambisi untuk menang, tetapi ambisi tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Kita boleh mempertahankan pendapat, tetapi tetap harus membuka ruang untuk mendengarkan. Kita juga boleh merasa yakin dengan argumen sendiri, tetapi tetap menyadari bahwa sudut pandang orang lain memiliki maksud dan alasan tersendiri.

Hal tersebut menjadi pelajaran yang cukup penting bagi saya sebagai mahasiswa. Kampus bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan, melainkan juga tempat untuk belajar hidup bersama dengan berbagai pendapat dan pemikiran. Akan ada perbedaan pendapat dalam berdiskusi, berorganisasi, maupun kehidupan sosial. Jika setiap perbedaan selalu dianggap sebagai ancaman, akan sulit membangun lingkungan yang nyaman dan saling menghargai.

Saya merasa bahwa lomba debat bahasa Inggris dalam PORSI JAWARA II menunjukkan bahwa kegiatan perlombaan dapat menjadi lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk berbicara, mendengarkan, berpikir kritis, menerima perbedaan, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat dekat dengan semangat moderasi beragama.

Mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Ketika Kemanusiaan Menjadi Mahkota Utama Beragama

Penulis: Salma Failasufa Editor: Dwi Selma Fitriani

Dinding kampus sering kali hanya dipandang sebagai pembatas fisik belaka. Namun, ada pemandangan istimewa di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sebuah mural Gus Dur yang digambarkan dengan senyum khasnya sukses mengajak siapa saja yang melintas untuk sejenak berhenti dan merenung. Karya seni ini bersanding dengan tulisan “Gus Dur for Humanity“. Pesan sederhana ini justru terasa krusial dan makin relevan di tengah dinamika masyarakat kita yang majemuk.

Kehadiran mural tersebut seolah menjadi pengingat bahwa agama bukanlah tembok pemisah antarindividu. Sebaliknya, nilai-nilai spiritualitas semestinya menumbuhkan kepedulian, penghormatan, dan sikap saling menjaga antarsesama. Dalam konteks ini, moderasi beragama menemukan makna esensialnya. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai slogan usang dalam seminar atau ruang kelas, tetapi harus mewujud dalam cara kita berpikir, berdiskusi, dan bersosialisasi dengan orang lain.

Langkah awal penerapan moderasi ini adalah tasamuh (toleransi). Sebagai wadah berkumpulnya kaum intelektual, kampus mempertemukan mahasiswa dengan asal daerah, budaya, pengalaman, dan sudut pandang yang heterogen. Perbedaan pendapat dalam diskusi, organisasi, maupun interaksi sehari-hari adalah keniscayaan. Tantangannya bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa meremehkan, berargumen tanpa memaksakan kehendak, serta menerima eksistensi orang lain merupakan wujud nyata toleransi yang bermakna luhur.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Selain itu, laku keberagamaan juga menuntut sikap tawassuth (mengambil jalan tengah atau bersikap proporsional). Identitas keislaman dan keindonesiaan tidak sepantasnya dibenturkan. Keduanya dapat berjalan selaras apabila agama diposisikan sebagai pedoman moral yang mempromosikan kebaikan sosial. Bersikap moderat bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan senantiasa mempertahankan akidah sembari tetap berpikiran terbuka terhadap realitas masyarakat yang plural.

Pesan kemanusiaan dari sosok Bapak Pluralisme tersebut juga menyinggung aspek ‘adl (keadilan). Menghargai manusia berarti mengakui hak dan martabat yang melekat pada setiap individu. Di lingkungan akademik, keadilan ini tecermin dari perlakuan setara tanpa memandang latar belakang, pemberian ruang berekspresi yang sama, serta penghindaran terhadap segala bentuk diskriminasi. Moderasi beragama niscaya kehilangan ruhnya jika toleransi hanya berhenti pada retorika, sementara ketidakadilan masih dibiarkan subur.

Lebih jauh lagi, kemanusiaan akan kerdil tanpa ta’awun (tolong-menolong dan kolaborasi). Beban kehidupan akan terasa berat jika hanya dipikul sendirian. Rasa empati terhadap kawan yang sedang kesulitan, sinergi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta inisiatif saling membantu tanpa pandang bulu adalah manifestasi nyata dari semangat ini. Melalui tindakan-tindakan sederhana inilah, solidaritas dan rasa kebersamaan dapat tumbuh kembang.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Pada akhirnya, keberadaan mural Gus Dur seolah menantang para pengamatnya untuk tidak sekadar terkesima oleh keindahan visual sosok yang tergambar. Hal yang jauh lebih penting adalah aktualisasi semangat kemanusiaan tersebut dalam rutinitas harian (qudwah atau keteladanan). Menjalani moderasi beragama menuntut lebih dari sekadar pemahaman teoretis; ia harus termanifestasi dalam tindakan konkret. Adab berkomunikasi, cara menghormati sesama, seni mengelola konflik, dan kerelaan mengulurkan tangan merupakan bentuk keteladanan yang paling relevan saat ini.

Singkatnya, mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukanlah sekadar pajangan yang menghiasi area kampus. Karya tersebut adalah sebuah monumen pengingat agar kita tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaan di tengah situasi yang beragam. Tasamuh, tawassuth, ‘adl, ta’awun, dan qudwah bukanlah sekadar diksi akademis, melainkan prinsip hidup yang wajib diinternalisasi. Pesan “For Humanity” memikul makna fundamental: makin mendalam pemahaman agama seseorang, makin besar pula tanggung jawabnya untuk memuliakan martabat manusia. Pada hakikatnya, kedamaian dalam keberagaman tidak hanya diukur dari seberapa fanatik seseorang memeluk keyakinan, tetapi juga dari seberapa mulia akhlaknya saat bersinggungan dengan orang lain.

Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Penulis: Roro Lintang Aningtyas, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menonton suatu pertandingan, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah jalannya permainan, bukan? Siapa yang mendapat poin, siapa yang melakukan kesalahan, atau siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan. Padahal, ada momen kecil yang justru menarik untuk dicermati, salah satunya ketika pemain tidak sepakat dengan keputusan wasit.

​Hal ini terjadi dalam pertandingan bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat pertandingan berlangsung, ada pihak yang mengajukan protes terhadap keputusan wasit. Protes tersebut diterima oleh wasit dengan baik. Wasit kemudian menjelaskan alasan mengapa keputusan itu diambil. Setelah mendengarkan penjelasan wasit, pihak tersebut akhirnya menerima keputusan yang diberikan.

​Sekilas, kejadian seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam pertandingan, protes terhadap keputusan wasit merupakan hal yang wajar. Pemain kerap melihat kejadian hanya dari sudut pandangnya, sementara wasit memiliki pertimbangannya sendiri. Namun, dari kejadian sederhana itu terdapat satu pelajaran menarik: tidak semua hal yang berjalan di luar harapan harus berakhir menjadi perselisihan.

Baca  juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Dalam konsep moderasi beragama, nilai yang berkaitan erat dengan hal tersebut adalah keadilan. Adil bukan berarti semua orang harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil lebih kepada menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melihat persoalan secara seimbang. Di lapangan, wasit memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan aturan permainan. Pemain tentu boleh merasa tidak setuju dan menyampaikan keberatan jika merasa ada keputusan yang kurang tepat. Hal itu merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Akan tetapi, sebuah keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada siapa yang paling keras meluapkan protesnya.

​Kita memang kerap menganggap sesuatu tidak adil saat berada di pihak yang merasa dirugikan. Sebaliknya, jika keputusan itu menguntungkan, kita cenderung tidak mempersoalkannya. Pada pertandingan bola voli tersebut, pihak yang dirugikan sempat menilai keputusan wasit keliru, padahal mereka belum tentu memahami seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.

​Salah satu kuncinya terletak pada kerelaan untuk mendengarkan penjelasan wasit. Dalam pertandingan tadi, pihak yang memprotes tidak terus mempertahankan keberatannya setelah wasit memberi penjelasan secara jernih. Keputusan wasit pun akhirnya diterima. Dari sini terlihat bahwa menyampaikan ketidaksetujuan dan menerima keputusan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

​Sikap ini berakar pada nilai tasamuh atau toleransi. Toleransi memang kerap dikaitkan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, toleransi juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan dengan orang yang berpandangan beda. Kita tidak perlu terburu-buru menganggap orang lain salah hanya karena sudut pandang yang tidak sejalan. Dalam pertandingan, setiap pemain memiliki perspektifnya, sedangkan wasit memiliki wewenang serta pertimbangannya. Perbedaan pandangan itu nyata, tetapi tetap bisa dijembatani secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan.

​Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengendalian emosi. Setiap pertandingan sarat dengan tensi tinggi. Saat berjuang mengejar kemenangan, keputusan yang dianggap merugikan tentu memicu kekecewaan. Namun, rasa kecewa inilah yang tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan maupun ucapan yang melukai. Di sinilah nilai antikekerasan hadir secara nyata. Keberatan boleh diutarakan, tetapi penyelesaiannya harus tetap melalui dialog. Dalam insiden tersebut, keberatan disampaikan, wasit memberi argumen, dan akhirnya keputusan dihormati. Persoalan selesai di tempat tanpa memicu perselisihan yang berlarut-larut.

​Sebagai mahasiswa, kita sering menemui dinamika serupa. Misalnya saat kerja kelompok, perbedaan pendapat hampir selalu mewarnai diskusi. Ada yang menginginkan tugas diselesaikan dengan metode tertentu, sementara anggota lain memiliki gagasan yang berbeda. Jika masing-masing bersikukuh merasa paling benar, kerja bersama justru akan jalan di tempat.

​Satu hal yang kerap terlupakan: menghargai orang lain bukan berarti harus selalu menuruti apa yang mereka mau. Kita tetap berhak mempertahankan pemikiran sendiri dan mempertanyakan hal yang dirasa kurang pas. Hanya saja, ada etika dan batasan yang perlu dijaga agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

​Dari laga bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II ini, pelajaran berharga yang dipetik melampaui urusan kalah atau menang. Kita diajak belajar menyikapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan. Moderasi beragama sejatinya tidak selalu berkutat pada isu-isu besar; nilai-nilainya hadir dari peristiwa sederhana di sekitar kita setiap hari. Dari sebuah protes di lapangan voli, kita belajar tentang arti keadilan, penghargaan atas perbedaan, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Hidup memang tidak selalu berjalan seturut kehendak kita, tetapi kedewasaan kita diuji dari cara kita menyikapinya.

Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau

Penulis: Sauqi Arifatu Anissa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama terkadang dipahami sebagai konsep yang rumit, dipelajari melalui buku tebal, atau didiskusikan dalam seminar formal. Sejatinya, esensi moderasi beragama seperti toleransi, antikekerasan, menghargai tradisi, dan komitmen kebangsaan dapat diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ruang yang efektif dalam praktik nilai-nilai tersebut ada di lapangan olahraga, khususnya melalui pertandingan futsal.

​Dalam permainan futsal, ruang gerak yang terbatas dan tempo permainan yang cepat menuntut adanya interaksi fisik yang intens. Di sinilah dinamika sosial terjadi. Namun, ada satu momen krusial dalam pertandingan futsal yang secara sempurna menjadi manifestasi moderasi beragama. Momen tersebut ialah saat seorang pemain tanpa sengaja menjatuhkan lawan, kemudian secara spontan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

​Momen mengulurkan tangan ini merupakan implementasi nilai toleransi dan antikekerasan. Bayangkan, di tengah kompetisi dengan intensitas begitu tinggi, tidaklah sulit bagi seorang pemain untuk terbawa emosi saat terjadi benturan dengan lawan. Berbagai dorongan untuk menjadi egois atau bahkan membalas pelanggaran sering kali muncul. Namun, ketika seorang pemain memilih untuk meredam emosi, menekan ego, dan mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh, ia sedang mempraktikkan prinsip dasar moderasi beragama. Ia mengedepankan kemanusiaan di atas perselisihan.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

​Toleransi beragama tidak diartikan sebatas mengorbankan keyakinan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan. Di lapangan futsal, berbagai perbedaan hadir dalam bentuk warna jersey, asal instansi, hingga latar belakang suku atau agama para pemain. Mengulurkan tangan kepada lawan yang jatuh diartikan sebagai penegasan bahwa, meski berada di pihak yang berbeda dalam sebuah pertandingan, kita tetap terikat oleh norma moral dan kemanusiaan yang sama. Lawan bertanding bukanlah musuh yang harus dihancurkan, melainkan kawan berolahraga yang saling membutuhkan untuk menciptakan permainan yang utuh.

​Jika berbicara lebih jauh, olahraga futsal menanamkan nilai komitmen kebangsaan melalui penghormatan terhadap aturan bersama. Lapangan hijau bertindak sebagai ruang inklusif tempat semua perbedaan identitas melebur di bawah naungan aturan main yang adil. Ketika peluit dibunyikan, setiap pemain tunduk pada aturan pertandingan tanpa memandang status sosial, agama, maupun latar belakang daerahnya. Kepatuhan pada kesepakatan bersama ini sejalan dengan cara warga negara yang moderat dalam menghormati hukum dan konsensus nasional demi menjaga ketertiban bersama.

​Di samping itu, pertandingan futsal sering kali menjadi arena ujian bagi sikap tawasut (berada di tengah-tengah) dan pengendalian diri. Di tengah cepatnya tensi permainan, gesekan fisik kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu konflik yang lebih besar jika tidak disikapi dengan kepala dingin. Ketika para pemain cerdas dalam mengolah emosi, mengarahkan energi pada permainan yang bersih, serta menerima keputusan wasit dengan lapang dada, mereka sedang mengintegrasikan karakter moderat ke dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana belaka. Lapangan futsal kemudian dapat menjadi laboratorium sosial mini tempat kerukunan diuji dan dibentuk secara alami.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Pembelajaran karakter berbasis lapangan seperti ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih membumi bagi generasi muda. Moderasi tidak selamanya harus disampaikan melalui narasi persuasif yang formal dan kaku. Lewat riuhnya sorak penonton dan dinamika di atas lapangan, peserta kompetisi secara tidak langsung dilatih untuk mengelola perbedaan pendapat, menghargai ruang hidup orang lain, serta menumbuhkan rasa empati terhadap kawan maupun lawan bertanding.

​Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam turnamen futsal bukanlah sekadar mengangkat piala. Kemenangan yang paling bermakna adalah ketika setiap individu mampu mengendalikan emosi, menghormati aturan permainan, dan menjaga rasa persaudaraan. Momen mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai moderasi beragama telah meresap ke dalam tindakan sehari-hari, serta membuktikan bahwa kedamaian dan toleransi bisa diukir dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Mengapa Kita Mudah Membenci? Pelajaran Islam di Tengah Riuh Media Sosial

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Hampir setiap hari kita membuka media sosial dan menemukan berbagai macam informasi. Ada berita tentang politik, ekonomi, kehidupan artis, masalah sosial, sampai perdebatan antar warga net yang seolah tidak ada habisnya. Media sosial memang membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa menyebar dari satu akun ke ribuan bahkan jutaan orang. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang semakin sering kita lihat: orang-orang menjadi lebih mudah marah, membenci, dan menghakimi orang lain.

Baca juga: Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Hal sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan diskusi justru sering berubah menjadi pertengkaran panjang di kolom komentar. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa membuat seseorang langsung diberi berbagai label. Bahkan, terkadang kita menilai buruk seseorang hanya karena melihat satu unggahan atau potongan video tanpa mengetahui cerita lengkapnya. Ketika satu orang mulai menghujat, yang lain ikut menambahkan, hingga kebencian tersebut menjadi semakin besar.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membenci?

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama bukan hanya soal tidak menyakiti secara fisik. Perkataan juga memiliki tanggung jawab. Di zaman sekarang, “lisan” tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga komentar, unggahan, repost, caption, bahkan apa yang kita bagikan kepada orang lain.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa terlebih dahulu berita yang datang sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita sering membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan apa yang kita percaya, tanpa memastikan kebenarannya.

Masalahnya, kita sering melakukan tabayyun setelah informasi terlanjur dibagikan, bukan sebelumnya. Ketika ternyata berita tersebut salah, mungkin kita hanya menghapus unggahan. Padahal, informasi tersebut sudah menyebar dan bisa saja membuat nama seseorang rusak atau menimbulkan konflik.

Media sosial juga membuat kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Akibatnya, kita merasa pendapat sendiri paling benar dan sulit menerima perbedaan. Padahal, berbeda pendapat bukan alasan untuk saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tetap harus menjaga adab. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menyerang pribadi.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar kita tidak saling mengolok-olok atau memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan cara kita memperlakukan orang lain.

Kita juga tidak harus berkomentar dalam setiap persoalan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Dalam konteks media sosial, ajaran ini menjadi semakin penting. Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Kita boleh marah dan mengkritik ketika melihat ketidakadilan. Namun, jangan sampai kemarahan membuat kita kehilangan akhlak.

Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan apakah informasi itu benar. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan kita bermanfaat. Dan sebelum ikut membenci seseorang, pastikan kita benar-benar mengetahui persoalannya.

Kita boleh berbeda dan boleh mengkritik, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan akhlak. Sebab semakin ramai dunia maya, seharusnya semakin kuat pula kita menjaga perkataan sebagai seorang muslim.

Teguh dalam Keyakinan, Damai dalam Perbedaan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghargai. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu sikap penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Sebagian orang masih menganggap bahwa moderasi beragama berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Ada pula yang menganggap bahwa bersikap toleran berarti mencampuradukkan ajaran agama. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Moderasi beragama bukan berarti menjadi ragu terhadap ajaran agama sendiri atau mengorbankan keyakinan demi menghormati orang lain. Moderasi beragama justru mengajarkan seseorang untuk menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus menghargai keberadaan orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui sikap yang baik, bukan melalui tindakan yang memaksakan kehendak. Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinannya. Sikap tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari toleransi.

Moderasi beragama juga penting karena kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan. Di sekolah, misalnya, peserta didik dapat bertemu dengan teman yang berbeda agama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan beribadah, perayaan keagamaan, atau tradisi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman dan bekerja sama. Dalam kegiatan kelompok, semua peserta didik dapat saling menghargai dan memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjalankan kewajiban keagamaannya.

Selain di lingkungan sekolah, tantangan moderasi beragama juga semakin besar di media sosial. Informasi mengenai agama dapat tersebar dengan cepat, termasuk informasi yang belum tentu benar. Tidak jarang perbedaan pendapat mengenai persoalan keagamaan berubah menjadi perdebatan yang disertai penghinaan dan ujaran kebencian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media sosial secara bijaksana juga merupakan bagian dari sikap moderat. Sebelum membagikan informasi, seseorang perlu memeriksa kebenarannya dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Sikap sederhana seperti tidak mengejek agama lain, tidak menyebarkan kebencian, menghormati teman yang sedang beribadah, serta bersedia bekerja sama dengan siapa pun dapat menjadi langkah nyata untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan demikian, moderasi tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti harus mengubah atau meninggalkan keyakinan sendiri. Kita dapat menghargai seseorang sebagai manusia tanpa harus mengikuti keyakinannya. Dengan kata lain, toleransi tidak menuntut setiap orang menjadi sama. Toleransi justru mengajarkan bahwa perbedaan dapat diterima selama setiap pihak mampu menjaga batas dan menghormati hak satu sama lain.

Pada akhirnya, teguh dalam keyakinan dan hidup damai dalam perbedaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Justru, keyakinan yang dijalankan dengan penuh pemahaman seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan menjaga kedamaian.

Moderasi beragama bukanlah upaya untuk melemahkan keyakinan, melainkan cara untuk menjaga agar kehidupan beragama berjalan secara seimbang dan tidak menimbulkan permusuhan. Di tengah keberagaman Indonesia, sikap tersebut sangat diperlukan. Kita tidak harus menghilangkan perbedaan untuk menciptakan kedamaian. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan, menghormati perbedaan, dan hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Dengan demikian, keberagaman bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang damai dan harmonis.

Doa Bersama Antar Umat Beragama: Merawat Persatuan di Hari Kemerdekaan dan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan

Penulis: Rahmawati Arditia, Editor: Muslimah

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026 bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali memperkuat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kegiatan yang memiliki makna penting adalah doa bersama antar umat beragama. Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan saling menghormati.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Kabupaten Pekalongan memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Dalam kondisi tersebut, untuk menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Imam Teguh Wibowo selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa doa bersama menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus memperkuat kerukunan antar umat beragama.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dan memperingati Hari Jadi Kabupaten Pekalongan yang ke-404. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antar umat beragama.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah peringatan tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan yang bersifat seremonial. Doa bersama memiliki pesan sosial yang lebih luas, yaitu mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari perjuangan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan saja. Karena itu, semangat persatuan harus terus dirawat dari generasi ke generasi.

Dalam konteks Kabupaten Pekalongan, peringatan Hari Jadi ke-404 juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan daerah. Usia 404 tahun merupakan perjalanan yang panjang. Tentunya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial masyarakatnya. Daerah yang maju membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan. Pembangunan akan lebih mudah dilakukan apabila masyarakat memiliki rasa saling percaya, menghormati perbedaan, dan ingin bekerja sama. Sebaliknya, konflik dan intoleransi dapat menjadi hambatan untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera. Oleh karena itu, doa bersama antar umat beragama seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Toleransi bukan hanya tentang menghormati ketika orang lain menjalankan ibadah. Toleransi juga berarti bersedia mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, tidak mudah menyebarkan keburukan, dan mau bekerja sama dalam berbagai bidang demi kepentingan bersama. Generasi muda juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, perbedaan terkadang mudah berubah menjadi pertentangan karena informasi yang tidak benar atau provokatif. Karena itu, generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya persatuan dan kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara bijaksana.

Pada akhirnya, doa bersama antar umat beragama mengandung pesan sederhana tetapi sangat penting, kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat berjalan bersama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat semangat tersebut. Dengan menjaga toleransi, gotong royong, dan persaudaraan, masyarakat Kabupaten Pekalongan dapat bersama-sama mewujudkan daerah yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Dan kerukunan bukan hanya sebuah slogan, melainkan nilai yang harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang keluarga, daerah, budaya, cara berpikir, bahkan keyakinan yang berbeda. Di lingkungan kampus misalnya, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan dan pandangan yang tidak selalu sama dengan kita. Begitu juga di lingkungan masyarakat. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Salah satu dasar penting mengenai hal ini terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah S.W.T. adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman manusia merupakan bagian dari kehendak Allah S.W.T. Manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. 

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, bagian “agar kamu saling mengenal” ini menarik untuk direnungkan. Sebab, dalam kehidupan sekarang, kita terkadang justru lebih mudah mengenali perbedaan daripada mengenali manusianya. Kita melihat seseorang dari kelompok mana, berasal dari daerah mana, memiliki pandangan seperti apa, atau memiliki keyakinan apa, kemudian buru-buru memberikan penilaian. Padahal, sebelum melihat perbedaannya, kita sedang berhadapan dengan seorang manusia yang juga ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan baik.

Akhlak Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa menghormati manusia tidak harus berarti menyamakan semua keyakinan atau menghilangkan prinsip yang kita miliki. Menghormati orang lain adalah persoalan sikap dan kemanusiaan. Hal tersebut juga dapat dilihat dalam QS Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Bahkan, ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah S.W.T. mencintai orang-orang yang berlaku adil. Artinya, berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, selama berada dalam hubungan yang damai, Islam mengajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil.

Contoh yang paling sederhana sebenarnya ada di sekitar kita. Ketika memiliki teman yang berbeda pandangan, kita tidak harus selalu setuju dengan pendapatnya. Namun, ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita bisa mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa harus mengatakan, “Pendapatmu bodoh.” Begitu pula ketika berada di media sosial. Perbedaan pendapat sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik layar terdapat manusia lain yang juga memiliki perasaan. Hanya karena tidak bertemu secara langsung, seseorang merasa bebas menulis komentar kasar, mengejek, bahkan merendahkan orang lain. 

Di sinilah akhlak menjadi penting. Akhlak bukan hanya terlihat ketika kita sedang berada di masjid, mengikuti pengajian, atau berbicara tentang agama. Akhlak justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Rasulullah saw. juga memberikan contoh penghormatan terhadap manusia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdiri ketika sebuah jenazah lewat. Para sahabat kemudian memberitahukan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. Dalam riwayat lain, ketika diberitahu bahwa jenazah itu milik seorang Yahudi, Rasulullah saw. mempertanyakan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”  Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Perbedaan keyakinan tidak membuat beliau kehilangan rasa hormat terhadap manusia.

Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti harus memusuhi setiap orang yang berbeda. Justru, salah satu bentuk kekuatan akhlak adalah kemampuan untuk tetap bersikap baik tanpa kehilangan prinsip. Pada akhirnya, perbedaan memang akan selalu ada. Kita tidak harus membuat semua orang menjadi sama dengan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Karena bisa jadi, ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sukai, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya. Dan jika Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., maka meneladani sikap beliau terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk nyata dari kecintaan tersebut.