Memaafkan sebagai Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Keharmonisan Sosial

Penulis: Nur Ahmad Syarif, Editor: Muslimah

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu akan berinteraksi dengan berbagai macam karakter dan latar belakang manusia. Dalam proses bersosialisasi dan menjalin hubungan baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat perbedaan pendapat, merupakan hal yang sulit dihindari. Oleh karena itu, sikap memaafkan menjadi salah satu nilai penting yang perlu diterapkan agar hubungan antar manusia tetap terjaga dengan baik serta tercipta kehidupan yang harmonis.

Memaafkan merupakan salah satu langkah penting dalam membangun kesehatan emosional dan memperbaiki hubungan antar manusia setelah terjadi konflik. Dengan memaafkan, seseorang dapat mengurangi berbagai perasaan negatif yang muncul akibat peristiwa yang menyakitkan. Namun, memaafkan bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang pernah mengalami kekecewaan atau luka batin karena kesalahan, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Ketika seseorang belum mampu memaafkan pengalaman yang menyakitkan, ia berisiko terus menyimpan rasa sakit hati dan dendam. Jika perasaan tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa diselesaikan, luka emosional dapat semakin mendalam dan pada akhirnya berkembang menjadi dendam yang berkepanjangan.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan?

Memaafkan tidak dapat diartikan sebagai pembenaran atau persetujuan terhadap kesalahan yang dilakukan orang lain. Sebaliknya, memaafkan adalah sikap menerima kenyataan yang sudah terjadi tanpa membiarkan luka batin dan amarah terus mendominasi diri. Seseorang tetap bisa menyadari bahwa suatu perbuatan adalah keliru, merugikan atau tidak dapat dibenarkan. Namun memilih untuk tidak menyimpan dendam maupun keinginan untuk membalas. Dengan demikian, memaafkan menjadi langkah yang menyehatkan bagi kondisi mental karena mampu meringankan beban emosional dan menurunkan stres.

Baca juga: Kasih yang Pilih Kasih dan Luka yang Diam dalam Keluarga

Masalah kesehatan di Indonesia masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi kesehatan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang dapat menjadi sumber kekuatan maupun kerentanan. Oleh karena itu, kesehatan perlu dipahami secara menyeluruh, mencakup kesehatan fisik dan kesehatan mental yang saling berkaitan.

Menurut riset Kesehatan mental remaja Indonesia dari Universitas Airlangga dalam websitenya. Hasil Survei Kesehatan Anak Nasional terbaru menunjukkan bahwa sekitar 31% remaja berusia 12–17 tahun mengalami gangguan yang berkaitan dengan kesehatan mental, emosional, perkembangan, atau perilaku pada periode 2022–2023. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan temuan sebelumnya yang berada pada kisaran 30%.

Bagaimana islam mendorong menjadi pribadi pemaaf?

Dalam ajaran Islam, memaafkan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghapus atau melupakan kesalahan. Memaafkan merupakan bentuk upaya untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. sekaligus membangun kembali hubungan yang baik dengan sesama manusia. Sikap memaafkan juga menjadi salah satu nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam karena mencerminkan kasih sayang, kelapangan hati, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan setelah terjadi kesalahan atau konflik.

Dalam ajaran Islam, memaafkan dan mengampuni merupakan perintah yang diberikan oleh Allah Swt. Perintah tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-A’raf ayat 199, Surah Al-Hijr ayat 85, Surah Asy-Syura ayat 40, serta Surah Asy-Syura ayat 43. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya memiliki sikap pemaaf sebagai bagian dari akhlak seorang muslim. Islam memandang bahwa memaafkan memberikan banyak manfaat bagi ketenangan batin, seperti mengurangi emosi negatif, rasa marah, sakit hati, dan dendam, sehingga hati menjadi lebih tenang serta bisa khusuk dalam beribadah menghadap sang pencipta.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari). Hadis tersebut mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari kemampuan fisik, melainkan dari kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi, terutama saat menghadapi kemarahan. Dengan mampu menahan amarah, seseorang akan lebih mudah bersikap bijaksana, memaafkan kesalahan orang lain, dan menjaga hubungan yang baik dengan sesama. (Azizah et al., 2024)

Manfaat sains dalam konteks memaafkan

Mengapa dendam dapat mengakibatkan masallah kesehatan mental?. Beberapa di antaranya adalah depresi, ganguan kecemasan, gangguan depresi pasca trauma, serta menurunkan imun tubuh. Dampak perundungan tidak terbatas pada luka fisik maupun tekanan emosional. Pengalaman buruk yang terus membekas dalam ingatan korban dapat memunculkan rasa dendam, yang pada akhirnya berisiko memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi kesehatan mental.

Dalam kajian psikologi, memaafkan dipandang sebagai salah satu strategi regulasi emosi yang sehat. Ketika seseorang menyimpan dendam, otak akan menganggap hal tersebut sebagai ancaman yang terus berlangsung. Akibatnya tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi. Jika ini terus terjadi, maka resiko gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan tidur, kecemasan, hingga depresi lebih meningkat. Sebaliknya berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang mampu memaafkan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Ada yanng menyebutkan juga bahwa kebiasaan memaafkan berhubungan dengan kesehatan jantung yang lebih baik. Karena dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi respon stress dalam tubuh.

Ada istilah psikologi positif, yaitu Psikologi positif berfokus pada pengembangan potensi dan kekuatan positif dalam diri individu. Salah satu konsep penting di dalamnya adalah memaafkan, yang berperan dalam menjaga kesehatan mental dengan membantu mengurangi emosi negatif, seperti marah, benci, kecewa, dan dendam, yang dapat berdampak buruk terhadap kesejahteraan psikologis. Psikologi positif berfokus pada pengembangan kekuatan dan potensi yang dimiliki setiap individu untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Tujuannya adalah mendorong perubahan positif dengan mengembangkan kualitas diri serta memperbaiki aspek-aspek yang masih kurang seimbang.(Ekaputra et al., 2024)

Membangun budaya saling memaafkan di tengah masyarakat bukan sekadar menjaga hubungan antar manusia, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih sehat dan harmonis. Dari perspektif sains, memaafkan terbukti membantu mengurangi stres, menjaga kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup. Sementara itu, dalam ajaran Islam, memaafkan merupakan akhlak mulia yang dicintai Allah Swt. dan menjadi salah satu jalan untuk meraih rahmat serta ampunannya. Dengan demikian, sains dan agama bertemu pada satu kesimpulan yang sama. Memaafkan membawa kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi kehidupan sosial.

Karena itu sudah saatnya kita menjadikan memaafkan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang benar, melainkan memilih untuk melepaskan beban yang selama ini mengikat hati. Mari belajar memaafkan karena Allah, bukan semata-mata karena manusia. Ketika niat tersebut menjadi landasan, hati akan lebih tenang, kesehatan mental lebih terjaga, hubungan antar sesama semakin erat, dan kehidupan masyarakat akan dipenuhi kedamaian serta keberkahan. Sebab, pada akhirnya, memaafkan bukan hanya menyembuhkan luka masa lalu, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih damai, sehat, dan diridai Allah swt.

 

Terowongan Silahturahmi: Wujud Indahnya Harmonisasi Beragama

Penulis: Fiantika Yuni Rosayanti, Editor: Siti Rohmah 

Indonesia dikenal sebagai Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna, “Berbeda-beda, tetapi satu jua”. Negara yang kaya akan jenis suku, ras, bahasa, dan budaya yang mengajarkan kita untuk saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan yang ada di Indonesia. Nilai persatuan dan toleransi menjadi tatanan utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia.

Terowongan silaturahmi merupakan terowongan yang menghubungkan antara Gereja Katolik Katedral  dan Masjid Agung Istiqlal di Jakarta yang mulai dibangun pada tahun 2021 dan diresmikan pada tanggal 20 September 2023 oleh presiden Joko Widodo. Terowongan silaturahmi ini dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan aksesibilitas antar tempat ibadah, mewujudkan simbol fisik toleransi beragama khususnya di Indonesia, serta dapat memperkaya kawasan cagar budaya dan wisata religi nasional.

Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, melalui terowongan silaturahmi ini dapat menjadi sebuah simbol atau lambang indahnya harmonisasi antar umat beragama. Terciptanya hubungan silaturahmi antar umat beragama dapat mempererat hubungan antar sesama manusia yang dapat membangun rasa saling menghormati. Serta dapat mempererat kebersamaan di tengah berbagai macam perbedaan keyakinan dan kepercayaan di dalam masyarakat. 

Sebagai contoh, melalui kegiatan-kegiatan pertemuan dalam perayaan bersama seperti ketika perayaan Hari Raya Idulfitri. Perayaan ini dapat terlaksana setelah selesainya ibadah puasa selama satu bulan penuh yang dilakukan oleh umat Islam ini dapat menjadi sebuah tali dalam silaturahmi di tengah masyarakat yang beragam untuk dapat mempererat antar hubungan baik keluarga maupun sanak saudara. Kemudian ada tradisi mudik lebaran, di mana saudara dari berbagai kota pulang ke kampung untuk berkumpul di momen lebaran. Dari banyaknya beragam jenis keyakinan dapat mengajarkan bagaimana cara kita memandang dan menyikapi serta memosisikan diri kita untuk menghormati dan menghargai di setiap tradisi maupun adat yang terdapat di masing-masing keyakinan.

Baca juga: Korelasi Antara Tradisi Nyadran dengan Nilai-nilai Moderasi Beragama

Harmonisasi beragama adalah kondisi di mana umat beragama dapat hidup secara berdampingan dengan damai dan melakukan ibadah sesuai keyakinannya tanpa membedakan agama yang dianut oleh orang lain. Dengan adanya harmonisasi beragama, umat beragama dari berbagai aliran dapat saling menghormati, membantu, dan bekerja sama tanpa menimbulkan konflik atau paham radikal yang bisa memecah hubungan antar umat. Dalam hal ini, harmonisasi beragama mencerminkan kearifan lokal karena setiap orang dapat menghormati perbedaan agama dan tidak menyebarkan paham yang bertentangan dengan pandangan tersebut.

Sesungguhnya, harmonisasi beragama akan terlaksana dengan baik apabila seluruh elemen yang terkait dapat saling melengkapi. Selanjutnya, masyarakat diharapkan untuk bersikap saling menghormati, menghargai, toleransi, dan tidak mendiskriminasi pada jenis-jenis agama di sekitarnya untuk mencegah radikalisasi dan konflik. Dengan adanya perbedaan kepercayaan di tengah masyarakat, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan pendidikan multikultural. Pendidikan ini sendiri merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang mengajarkan untuk menghargai keberagaman dari sisi agama, budaya, suku, ras, bahasa, dan lain-lain. Mewujudkan indahnya harmonisasi beragama di tengah perbedaan melalui pendidikan multikultural.

Dengan memahami makna dan sejarah terowongan silaturahmi serta hubungannya dengan moderasi agama, indahnya rasa persatuan dan kebersamaan tanpa memandang perbedaan keyakinan dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Terowongan silaturahmi juga dapat berfungsi sebagai ikatan yang baik di antara berbagai keyakinan, etnis, suku, ras, agama dan sebagainya. Moderasi dalam agama didefinisikan sebagai jalan tengah dalam konteks agama, ras, etnisitas, budaya, bahasa, dan bagaimana kita menyikapi perbedaan dengan cara yang mendorong perdamaian, persatuan, penghormatan, dan penghayatan di tengah keberagaman.

Jika moderasi diterapkan terhadap agama dan nilainya, hal ini mendorong persatuan dan memperkuat hubungan silahturahmi dan mengurangi rasa fanatisme terhadap keyakinan yang berbeda. Terowongan silaturahmi yang dibangun melalui moderasi iman yang harapannya semakin memperkuat dan mempererat tali silaturahmi di tengah keberagaman. Selain itu, moderasi beragama dapat mengendalikan konflik yang dihasilkan dari perbedaan keyakinan dengan jalan tengah.

 

Keluarga dengan Nilai Keagamaan Kuat Lebih Harmonis dan Tangguh Hadapi Tekanan Ekonomi

Penulis: Intan Diana Fitriyati, Editor: Azzam Nabil H.

Keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi dan lebih mampu menghadapi tekanan ekonomi. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada tahun 2022. Riset tersebut mencatat bahwa keluarga yang rutin menjalankan aktivitas keagamaan bersama memiliki tingkat keharmonisan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang jarang melakukannya.

Menurut data BPS, keluarga yang secara konsisten melaksanakan ibadah bersama, seperti shalat berjamaah, pengajian, atau kegiatan keagamaan lainnya, menunjukkan tingkat ketahanan keluarga yang lebih baik. Mereka juga lebih mampu menghadapi tantangan ekonomi, seperti inflasi atau krisis finansial, karena memiliki fondasi spiritual yang kuat.

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pembinaan keluarga. Menurut para ahli, masjid memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga melalui berbagai program edukasi dan kegiatan keagamaan. Misalnya, masjid dapat menjadi tempat yang ideal untuk pembinaan lansia, remaja, dan pasangan suami-istri.

Baca juga: RMB Sejati Bersamai Kelas Berkah Keuangan Muslimat NU guna Perkuat Resiliensi Keluarga Maslahah

gambar keluarga harmonis
Ilustrasi keluarga harmonis, sumber: Dok. Intan Diana F.

“Kita ingin membangun ekosistem keluarga maslahat yang berbasis masjid, sehingga tempat ibadah ini bisa lebih aktif dalam membangun ketahanan keluarga,” ujar seorang tokoh agama dalam sebuah seminar tentang ketahanan keluarga di Jakarta.

Masjid dapat menyelenggarakan program-program seperti bimbingan pranikah, konseling keluarga, dan pengajian khusus untuk lansia. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan dan pemberdayaan keluarga.

Studi gender dalam perspektif syariah menekankan pentingnya peran keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang harus dijaga keharmonisannya. Nilai-nilai keagamaan, seperti yang diajarkan dalam Islam, memainkan peran penting dalam membentuk dinamika keluarga yang sehat dan harmonis.

Baca juga: Kisah Kehidupan Nabi Ibrahim Alaihissalam: Renungan Kurban untuk Mendekatkan Dirikepada Allah, Meningkatkan Kualitas Keluarga, dan Menyadari Pentingnya Peran Sebagai Orang Tua

Dalam konteks ini, masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam mendukung pembinaan keluarga sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Misalnya, melalui program-program yang mengedukasi tentang hak dan kewajiban suami-istri, pengasuhan anak, serta pengelolaan keuangan keluarga yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Penelitian BPS yang menunjukkan korelasi positif antara aktivitas keagamaan dan keharmonisan keluarga juga sejalan dengan prinsip-prinsip syariah yang menekankan pentingnya ketahanan keluarga. Keluarga yang kuat secara spiritual cenderung lebih mampu menjalankan peran gender secara seimbang, sesuai dengan tuntunan agama.

Hasil penelitian BPS dan peran masjid dalam pembinaan keluarga menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki dampak signifikan terhadap keharmonisan dan ketahanan keluarga. Dalam perspektif studi gender syariah, hal ini memperkuat pentingnya peran keluarga sebagai unit sosial yang harus dijaga keutuhannya melalui pendekatan spiritual dan edukasi yang berbasis masjid.

Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan keluarga yang dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan tangguh.

Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Penulis: Sokhifah Hidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Mendapat kesempatan untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Moderasi Beragama se-Indonesia merupakan kesempatan emas bagi para peserta KKN  dalam memaknai perbedaaan dan keindahan mozaik bangsa. Program ini menghadirkan peserta KKN dari seluruh Indonesia dengan latar belakang yang beragam. Keragaman agama, suku bangsa, budaya, dan bahasa disuguhkan secara bersamaan sebagai upaya agar para peserta KKN dan masyarakat dapat mengalami secara langsung hidup di tengah keragaman bangsa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dalam pelaksanaan program KKN ini, tentu ada beberapa tantangan yang dialami oleh peserta. Diantaranya ialah, mereka harus hidup satu atap dengan peserta lain yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Terlebih, para peserta KKN ini merupakan utusan terbaik dari masing-masing kampusnya. Tentu tidak heran ketika di awal masa KKN, mereka belum mampu ‘menurunkan ego’ masing-masing. Semua mempunyai ide, gagasan, dan inovasi yang ingin disumbangkan kepada desa tempat kami ber-KKN. Namun, apakah gagasan-gagasan tersebut dapat terlaksana apabila masing-masing belum mampu menurunkan sedikit egonya? Tentu saja tidak. Maka, tantangan yang muncul selanjutnya ketika hidup di tengah keragaman ini adalah sulitnya menyatukan dan menyelaraskan pendapat masing-masing untuk mecapai tujuan bersama.

Baca juga: KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Perbedaan-perbedaan tersebut nyatanya bukan sebuah penghalang untuk menyukseskan program KKN ini. Terbukti, dalam kurun waktu yang relatif singkat, yakni hanya 40 hari perbedaan-perbedaan tersebut dapat menyatu menunjukkan harmoninya. Dengan adanya kerja sama untuk menyelesaikan program kerja yang telah disusun tentu akan menjadi lebih mudah. Didukung dengan suasana keakraban yang telah terjalin dengan erat di antara peserta KKN. Meski memiliki perbedaan latar belakang, hal ini tidak lagi menjadi masalah karena mereka telah menyatu sebagai satu keluarga dalam ikatan keluarga nusanatara.

Selain pengalaman hidup berdampingan dengan teman-teman lintas pulau, para peserta juga mendapat banyak pengalaman tentang keharmonisan yang terjalin di tengah masyarakat. Apalagi Desa Cisantana disebut-sebut sebagai miniatur Indonesia. Sehingga peserta mampu merasakan dan memaknai kehidupan yang harmonis meski di tengah perbedaan. Adapun Keragaman yang ada di desa ini dapat dilihat dari segi agamanya, yaitu agama Katolik, Islam, Kristen, hingga penghayat/kepercayaan Sunda Wiwitan. Dalam skala kecamatan, dijumpai pula agama Hindu dan Budha yang turut mewarnai indahnya mozaik yang ada di Kabupaten Kuningan ini

KKN ini memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta, sehingga mereka mampu memahami bahwa hidup di tengah perbedaan agama bukanlah sekat dan penghalang untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang harmonis. Bukan pula faktor yang membatasi aktivitas dan interaksi sosial dalam bermasyarakat. Mereka menyadari betul bahwa masing-masing masyarakat adalah elemen penting bangsa, terlepas dari apa agama yang dianutnya. Apapun agama dan kepercayaannya, yang terpenting adalah bahwa kita sama-sama manusia yang harus dihargai dan dihormati. Selain itu, perasaan sebagai satu saudara juga harus tetap dimunculkan dan dipelihara dengan baik. Kita satu dalam ikatan nusantara dan bangsa Indonesia.

Baca juga: Tradisi Nyadran di Desa Kutorojo: Mahasiswa KKN 59 Posko 82 UIN Gus Dur Aktif Berpartisipasi

Kesadaran masyarakat untuk saling menjaga kerukunan ini mengantarkan mereka untuk medapatkan penghargaan dari Kementerian Agama RI pada Juli 2023 sebagai Kampung Moderasi Beragama, setelah sebelumnya pada tahun 2022 mendapat penghargaan sebagai Kampung Toleransi. Budaya toleransi ini, diakui oleh masyarakat sebagai warisan dari para leluhur yang telah rukun dan toleran sejak dahulu.

Disamping itu, peserta KKN ini turut merasakan pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman pertama ialah peserta dapat melihat Indahnya pemandangan ketika pukul 6 petang, umat Katolik bersama-sama menuju gereja untuk beribadah. Pun demikian, umat muslim juga berbondong-bondong menuju masjid. Ditambah dengan para penganut kepercayaan yang juga melaksanakan ibadah di waktu yang sama. Masing-masing menuju tempat ibadahnya sambil bertegur sapa dan melempar senyum. Sungguh pemandangan indah yang menenteramkan hati.

Kedua, peserta bersama-sama merawat budaya lokal. Upacara Serentaun menjadi budaya yang berhasil dilestarikan oleh masyarakat Sunda, termasuk juga masyarakat desa Cisantana, meskipun sebelumnya sempat dilarang pelaksanaannya oleh pemerintah pada era orde baru. Pelaksanaan budaya ini juga secara tidak langsung turut berperan dalam merawat persatuan dan kerukunan masyarakat setempat. Meskipun budaya ini lahir dari ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan, namun dalam pelaksanaannya banyak umat Muslim, Katolik, Hindu, dan Budha juga turut serta meramaikan upacara Serentaun ini.

Baca juga: Menapak Jejak Nabi SAW dalam Berwirausaha: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Beri Sosialisasi Pembuatan Kerupuk dari Telur Asin di Desa Sarwodadi

Ketiga, toleransi dan kebersamaan dalam beberapa kegiatan sosial keagamaan. Pada hari besar keagamaan, misalnya ketika hari raya Idul Fitri, umat non-Muslim juga ikut bersilaturahmi ke rumah-rumah orang Muslim, begitupun sebaliknya. Selain itu, ketika ada umat Katolik ataupun penganut agama lain yang meninggal, tetap diumumkan melalui pengeras suara di masjid. Peringatan dan doa meninggal lintas iman menjadi hal menarik yang menunjukkan tingginya tingkat toleransi dan kepedulian sosial masyarakat setempat.

Pengalaman-pengalaman berharga tersebut secara langsung dirasakan para peserta KKN Moderasi Beragama Se-Indonesia. Melalui kegiatan KKN tersebut, peserta mampu merasakan indahnya harmoni perbedaan agama dan kepercayaan. Mereka melihat bagaimana masyarakat mempraktikkan nilai-nilai keagamaan secara moderat dan penuh toleransi. Pengalaman-pengalaman ini juga mampu menyadarkan para peserta tentang pentingnya merawat persatuan dan keharmonisan melalui penerapan moderasi beragama yang pada akhirnya dapat menepis hal-hal yang menyebabkan perpecahan.