Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Penulis: Daffa Afrizal Maulana, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sebagai mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah PORSI JAWARA II, saya melihat bahwa acara ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, PORSI JAWARA II merupakan ruang pertemuan seluruh mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai latar belakang, minat, dan kemampuan. Melalui kegiatan seremonial, perlombaan, serta interaksi antarpeserta, acara ini mengajarkan bahwa kehidupan kampus tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kebersamaan dan sikap saling menghargai antarsesama.

Bagi saya, salah satu hal menarik dari PORSI JAWARA II ini adalah suasana kompetisi yang tetap mempertemukan mahasiswa dalam semangat persaudaraan. Misalnya, sebelum dan sesudah melakukan pertandingan, peserta lomba pasti akan berjabat tangan dengan lawan mainnya. Hal tersebut menunjukkan sikap saling menghormati dan menjaga hubungan sosial. Pertemuan tersebut menjadikan PORSI JAWARA II bukan hanya sebagai kegiatan olahraga dan seni, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun relasi, memperluas pengalaman, dan belajar menghargai keberagaman. Setiap peserta tentu ingin memberikan kemampuan terbaiknya. Namun, keinginan untuk menang seharusnya tidak menghilangkan sikap menghormati lawan.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Di sinilah nilai moderasi beragama menjadi penting. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk bersikap adil, menghargai perbedaan, berada di tengah-tengah, dan tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Nilai tersebut menurut saya dapat terlihat secara langsung dalam pelaksanaan PORSI JAWARA II. Setiap peserta tentu memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, semangat untuk menjadi juara tetap harus diimbangi dengan sikap menghormati peserta lain. Hal sederhana seperti berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan menunjukkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa saling menghargai.

Misalnya, dalam perlombaan, perbedaan kemampuan merupakan hal yang sangat wajar. Ada mahasiswa yang unggul dalam bidang olahraga, seni, keagamaan, maupun bidang lainnya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan peserta lain. Sebaliknya, keberagaman kemampuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar satu sama lain. Mahasiswa yang mendapatkan juara dapat menunjukkan sikap rendah hati, sedangkan peserta yang belum mendapatkan kesempatan untuk meraih juara dapat menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.

Nilai moderasi beragama juga dapat terlihat dalam kegiatan seremonial. Acara pembukaan, pengarahan, hingga penutupan bukan hanya menjadi pelengkap kegiatan, melainkan juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa seluruh peserta merupakan bagian dari satu komunitas akademik. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, mahasiswa tetap dapat berkumpul dalam suasana yang tertib, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dalam konteks PORSI JAWARA II, moderasi beragama dapat terlihat melalui sikap saling menghormati di tengah perbedaan. Para peserta berasal dari berbagai PTKIN dengan karakter dan pengalaman yang tidak sama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan, cara berkomunikasi, maupun lingkungan sosial yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk bertemu dan berinteraksi. Justru melalui pertemuan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal orang-orang dari lingkungan yang berbeda dan belajar bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan.

Sebagai tuan rumah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menyediakan tempat perlombaan. Tuan rumah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang nyaman, tertib, dan ramah bagi seluruh peserta. Sikap terbuka terhadap tamu dari berbagai daerah menjadi salah satu bentuk nyata dari penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, PORSI JAWARA II dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa perbedaan daerah dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun kebersamaan.

Menurut saya, acara PORSI JAWARA II ini memiliki hubungan dengan kemampuan berkomunikasi. Dalam setiap kegiatan, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman, misalnya dengan tidak mengejek lawan, menyampaikan kritik dengan santun, dan memberikan dukungan tanpa merendahkan peserta lain. Ketika menyampaikan pendapat, memberikan dukungan, atau menanggapi hasil perlombaan, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung pihak lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui sikap, tetapi juga melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Menurut saya, keberhasilan PORSI JAWARA II tidak cukup diukur dari banyaknya medali atau piala yang diperoleh. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kegiatan ini mampu meninggalkan pengalaman positif bagi seluruh peserta. Mahasiswa dapat belajar tentang kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, PORSI JAWARA II mengingatkan kita bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, melainkan juga tentang menjadi pribadi yang mampu menghargai dan menghormati orang lain. Prestasi memang penting, tetapi prestasi yang disertai sikap rendah hati dan toleransi akan memiliki makna yang lebih besar. Oleh karena itu, PORSI JAWARA II seharusnya terus menjadi ruang untuk merayakan prestasi sekaligus merawat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.

Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Penulis: Nayla Su’ada, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Se-Jawa Madura (PORSI JAWARA) II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tanggal 9 hingga 13 September 2026 akhirnya resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut bukan hanya sekadar panggung bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk beradu bakat, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemeriahan PORSI JAWARA II hingga detik-detik penutupan juga menyuguhkan sebuah refleksi penting mengenai esensi moderasi beragama di Indonesia.

Suasana hangat, meriah, sekaligus haru begitu terasa di lokasi closing ceremony yang dihadiri oleh para kontingen dari berbagai PTKIN di Indonesia. Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menciptakan kebersamaan yang luar biasa. Rangkaian acara closing ceremony sendiri juga dikemas secara apik dan sistematis, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga pengumuman juara umum, penyerahan piala, dan sambutan sekaligus penutupan resmi oleh Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Di sela-sela susunan acara tersebut, kemeriahan semakin memuncak ketika panitia menghadirkan sesi pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta. Tawa dan sorak kegembiraan dari berbagai sudut arena sukses meleburkan rasa lelah selama berhari-hari berjuang, serta mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antarkontingen PTKIN.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Dari semaraknya suasana dan rangkaian acara penutupan tersebut, tampak jelas bagaimana sekat-sekat perbedaan suku, daerah, tradisi, maupun pandangan keagamaan seolah runtuh. Nilai dasar moderasi beragama tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan) tercipta secara alami ketika para kontingen saling menghargai dan menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Keberhasilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sebagai tuan rumah juga membuktikan PTKIN sebagai laboratorium moderasi beragama yang hidup. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memadati arena penutupan, menunjukkan bahwa PTKIN mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang inklusif, terbuka, serta menolak segala bentuk ekstremisme, baik dalam beragama maupun kehidupan sosial.

Closing ceremony PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menciptakan kebersamaan yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Selain itu, acara ini juga menjadi jejak inspiratif yang membuktikan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwariskan lewat ceramah, melainkan dihidupkan melalui keringat di arena olahraga, keindahan di panggung seni, dan ketulusan dalam menjalin persaudaraan. Semoga semangat harmoni dari Pekalongan ini terus dibawa pulang oleh para mahasiswa ke kampus masing-masing yang menjadi energi positif untuk terus merawat Indonesia yang damai, majemuk, dan bertoleransi.

Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Penulis: Dwi Selma Fitriani, Editor: Muslimah

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh gegap gempita di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan. Ribuan pasang mata menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan yang berlangsung dengan sangat megah dan tertata pada Rabu malam, 9 September 2026, di Gedung Student Centre UIN Gusdur Pekalongan. Momen bersejarah ini diawali dengan prosesi kedatangan rombongan delegasi dari berbagai kampus yang memasuki area upacara dengan penuh kebanggaan. Terdapat 1.495 mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Pulau Jawa dan Madura yang berkumpul membawa semangat juang serta kebanggaan almamater masing-masing.

Suasana kental akan kekayaan budaya Nusantara langsung terasa ketika para tamu undangan dan peserta disambut dengan persembahan tari tradisional yang memukau. Keindahan gerak tari tersebut bukan sekadar hiburan semata, melainkan simbol keramahan tuan rumah dalam menerima keberagaman yang hadir. Setelah itu, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi muruah institusi keagamaan diteguhkan melalui lantunan syahdu pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ayat-ayat suci tersebut menyiratkan pesan mendalam bahwa segala ikhtiar, kekuatan, dan kecerdasan yang diadu dalam kompetisi ini senantiasa bertaut pada rida Ilahi. Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap institusi kian bergelora saat ribuan peserta berdiri tegap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian disusul oleh Nyanyian Mars UIN Gus Dur yang menggema di seluruh penjuru Gedung Student Centre.

Di balik keriuhan dan sorak-sorai kompetisi yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini, terdapat sebuah nilai fundamental yang melampaui sekadar perebutan medali emas, perak, maupun perunggu. Acara berskala masif ini sejatinya merupakan manifestasi nyata dari praktik moderasi beragama di kalangan sivitas akademika. Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini tentu memiliki makna filosofis yang mendalam. Sebagaimana yang masyarakat ketahui, sosok Gus Dur merupakan bapak bangsa sekaligus ikon toleransi di Indonesia. Mempertemukan ribuan mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan tradisi di kampus yang menyandang nama besar beliau adalah sebuah langkah yang sangat strategis. Perjumpaan lintas budaya ini mengajak generasi muda untuk merayakan perbedaan secara elegan di dalam arena.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

PORSI JAWARA II mempertandingkan 27 cabang perlombaan yang mencakup bidang olahraga, seni, dan ilmiah. Mulai dari cabang yang mengandalkan ketangkasan fisik seperti futsal, bola voli, dan panjat tebing; cabang seni yang membutuhkan kehalusan budi seperti kaligrafi dan film pendek, hingga cabang ilmiah yang memeras daya nalar seperti debat konstitusi dan Business Plan. Apabila ditelisik lebih jauh, esensi dari setiap perlombaan tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama. Moderasi beragama atau wasathiyah mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengambil jalan tengah, bersikap adil, seimbang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Di dalam arena kompetisi, prinsip keadilan dan keseimbangan tersebut diimplementasikan melalui sikap sportivitas para peserta. Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag.,  dalam berbagai kesempatan telah berpesan agar seluruh pihak senantiasa menjaga integritas. Ketika seorang mahasiswa bertanding, ia dituntut untuk tunduk pada peraturan yang berlaku dan menghormati keputusan wasit. Menerima kekalahan dengan dada yang lapang dan merayakan kemenangan tanpa kesombongan merupakan wujud paling konkret dari akhlak mulia dan sikap moderat. Kompetisi ini mengajarkan kepada peserta didik bahwa lawan di lapangan pada hakikatnya adalah kawan dalam berproses.

Baca juga: Hari ke-2 LP2M UIN Gus Dur Gelar Pelatihan Moderasi Beragama bagi Seluruh Sivitas Akademika

Lebih lanjut, pada cabang seni dan ilmiah, moderasi beragama tecermin secara gamblang melalui keterbukaan pikiran dan keluwesan dalam berinteraksi. Dalam perlombaan debat konstitusi, misalnya, para delegasi mahasiswa dilatih untuk beradu gagasan secara rasional tanpa harus bermusuhan secara personal. Mereka diajarkan untuk menghargai kelogisan argumen pihak lain. Begitu pula dalam cabang seni, mahasiswa diberi panggung untuk mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang indah, damai, merangkul, dan sarat akan pesan humanisme. Pendekatan budaya dan keilmuan ini menjadi antitesis yang sangat kuat terhadap paham-paham radikal yang cenderung kaku dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Pada akhirnya, gegap gempita pembukaan PORSI JAWARA II 2026 bukanlah sekadar ajang unjuk kekuatan belaka. Perhelatan ini adalah panggung pembuktian yang sesungguhnya bagi mahasiswa PTKIN untuk membumikan konsep moderasi beragama. Melalui olahraga, seni, dan karya ilmiah, ribuan mahasiswa ini tengah merajut tali persaudaraan kebangsaan yang lebih erat. Harapannya, ketika kompetisi ini usai, piala dan medali bukanlah satu-satunya hal yang dibawa pulang, melainkan juga karakter yang inklusif, pikiran yang terbuka, dan semangat persatuan yang terus menyala.

 

Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Sebanyak 1.495 atlet dari 13 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berkumpul di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (Porsi Jawara) II. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini mempertemukan mahasiswa dalam berbagai bidang kompetisi, mulai dari olahraga, seni, hingga ilmiah.

Pembukaan Porsi Jawara II digelar di Gedung Student Center UIN Gus Dur dan dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, M.Ag., serta Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Rabu (9/9). Dalam kesempatan tersebut, Amien mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa perkuliahan sebagai ruang mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.

“Mumpung masih kuliah, masa di mana kalian mengukir prestasi,” ujar Amien.

Porsi Jawara II diikuti 1.495 atlet, 626 official, serta 147 wasit dan juri. Sebanyak 27 cabang dipertandingkan, terdiri atas 10 cabang olahraga, 8 cabang seni, dan 9 cabang ilmiah. Beragamnya cabang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang mereka tekuni.

Sebagai tuan rumah, UIN Gus Dur Pekalongan mengirimkan 120 atlet untuk mengikuti seluruh rangkaian kompetisi. Ketua Kontingen UIN Gus Dur, Lutfi Maulana, mengatakan persiapan telah dilakukan secara intensif sejak Agustus, termasuk melalui training center (TC) dan latihan rutin menjelang pertandingan.

“Secara persiapan kita selalu intens melakukan TC, baik dari bulan Agustus sampai bulan ini dan ketika H-10 hari kita juga tetap tiap hari latihan. Artinya ini bagian dari modal besar kita,” kata Lutfi.

UIN Gus Dur menargetkan masuk lima besar dalam klasemen akhir. Meski demikian, Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., menegaskan bahwa status sebagai tuan rumah tidak menjadi alasan bagi kampus untuk mengejar gelar juara umum.

“UIN Pekalongan walaupun menjadi tuan rumah, tidak menargetkan untuk juara umum,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan Porsi Jawara II lebih penting dijaga melalui kejujuran, semangat, dan sportivitas. Untuk mendukung hal tersebut, sebanyak 147 wasit dan juri telah melalui proses pengujian, termasuk sejumlah juri yang didatangkan dari luar Jawa Tengah.

Nilai-nilai tersebut membuat kompetisi dalam Porsi Jawara II tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah bertemu dalam ruang yang sama, berkompetisi secara sehat, sekaligus belajar menghargai perbedaan dan menjaga sportivitas.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam, sikap tersebut sejalan dengan semangat moderasi beragama yaitu mampu berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat, menerima perbedaan, serta menjunjung keadilan dalam prosesnya. Dengan demikian, prestasi yang dikejar tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kompetisi dijalankan secara jujur dan bermartabat.

Meneguhkan Spiritualitas melalui Gagasan Ekoteologi Prof. Nasaruddin Umar

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Persoalan lingkungan hidup dewasa ini semakin menunjukkan bahwa kerusakan alam bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Berbagai bencana ekologis, mulai dari banjir, pencemaran, hingga perubahan iklim, menunjukkan adanya relasi yang tidak seimbang antara manusia dan alam. Dalam konteks tersebut, gagasan ekoteologi yang disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dalam pembinaan civitas akademika UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menarik untuk dikaji sebagai salah satu pendekatan untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan.

Dalam kesempatan tersebut tema yang diangkat adalah “Merawat Bumi, Meneguhkan Spiritualitas.” Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa konsep ekoteologi perlu dibicarakan secara luas, khususnya di kalangan umat Islam. Menurut beliau, persoalan lingkungan sesungguhnya juga merupakan persoalan teologi. Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan tanpa mengubah sistem nilai yang ada dalam masyarakat.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ekologis tidak dapat dibangun hanya melalui aturan, kampanye, atau teknologi. Diperlukan perubahan cara pandang yang berakar pada keyakinan dan nilai yang dianut masyarakat. Dalam hal ini, agama memiliki peran penting karena mampu membentuk perilaku melalui aspek keyakinan, moral, dan budaya. Lebih lanjut, Prof. Dr. KH. Nasaruddin menjelaskan bahwa manusia tidak seharusnya memandang alam hanya sebagai objek yang dapat dieksploitasi.

“Alam adalah makhluk, pasti ada khaliknya yaitu penciptanya, Allah yang menciptakan namanya Al-Khaliq. Alam semesta ada karena diciptakan oleh Allah. Kalau kita mengakui alam semesta ini dari Tuhan dan kita mengakui Tuhan Maha Sakral, sesuatu yang berasal dari Yang Maha Sakral apakah tidak sakral? Pastinya sakral. Masa Tuhan penciptanya sakral, makhluknya tidak sakral, lalu seenaknya dibakar dan dirusak. Siapa yang merusak kodrat ciptaan Tuhan yang Maha Indah, Maha Bersih, Maha Sakral menjadi tidak sakral lagi, maka itu adalah definisi dari dosa,” ujar Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.

Menurut penulis, gagasan tersebut menawarkan perspektif yang penting dalam menghadapi krisis lingkungan saat ini. Selama ini, pendekatan pelestarian lingkungan sering kali hanya berfokus pada aspek regulasi dan teknologi, sementara dimensi spiritual kurang mendapat perhatian. Padahal, bagi masyarakat yang religius seperti Indonesia, pendekatan berbasis nilai keagamaan dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membangun kesadaran ekologis.

Namun demikian, penulis berpandangan bahwa pendekatan ekoteologi tidak boleh berhenti pada tataran wacana normatif semata. Kesadaran bahwa merusak lingkungan merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai ketuhanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan kebijakan yang konkret. Tanpa implementasi yang berkelanjutan, konsep ekoteologi berpotensi menjadi sekadar slogan tanpa dampak yang signifikan terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga: Manakiban: Fondasi Spiritual dalam Memperkuat Moderasi Beragama Masyarakat Pekalongan

Upaya konkret tersebut sebenarnya telah mulai diwujudkan oleh UIN Gusdur Pekalongan. Rektor UIN Gusdur, Zaenal Mustakim, menyampaikan bahwa kampus telah melaksanakan program penanaman mangrove selama enam tahun di Desa Mulyorejo dan berhasil menanam sekitar 140 ribu pohon mangrove. Selain itu, UIN Gusdur juga telah mengembangkan program KKN Tematik berbasis ekoteologi selama dua tahun terakhir dengan fokus pada penanganan sampah dan stunting. Langkah ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dapat diintegrasikan dengan aksi sosial dan pelestarian lingkungan secara nyata.

Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa ekoteologi merupakan gagasan yang relevan untuk menjawab tantangan lingkungan di era modern. Akan tetapi, keberhasilannya tidak cukup hanya bergantung pada kesadaran spiritual individu, melainkan juga memerlukan dukungan pendidikan, kebijakan publik, serta komitmen kolektif masyarakat. Sebab, merawat bumi bukan hanya persoalan menjaga lingkungan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Wujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik UIN Gus Dur MoU dengan BPN Jawa Tengah

Pewarta: Noorma

Pekalongan (2/10/2025). – Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur), Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. melakukan penandatangan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jawa Tengah guna mewujudkan Sertifikasi Wakaf Berbasis KKN Tematik. Penandatanganan MoU ini berlangsung di Gedung Perpustakaan Lantai 3 Kampus 2 Kajen Kabupaten Pekalongan pada hari Selasa 2/10/2025 yang dihadiri oleh jajaran BPN Kantor Wilayah Jawa Tengah, BPN Kota Pekalongan dan BPN Kabupaten Pekalongan.

Dalam sambutannya Kepala BPN Kanwil Jawa Tengah Lampri A,Ptnh. SH, MH. mengatakan bahwa Program Sertifikasi Wakaf KKN Tematik ini merupakan Pilot Projek BPN Jawa Tengah dan Kampus UIN Gusdur ini merupakan kampus yang pertama mendapatkan program. Dalam kegiatan kedepan para mahasiswa peserta KKN Sertifikasi Wakaf ini akan di bekali oleh BPN dengan teknis sesuai ketentuan regulasi pemerintah agar tanah wakaf menjadi legal dan berfungsi sesbagaimana harapan wakif. Menurutnya Pilot Projek ini memberi peluang sekitar 600 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan tersebut sehingga pemanfaatannya dapat langsung digunakan untuk musolla, masjid termasuk wakaf produktif.

Pemaparan Materi oleh BPN (Meeting Room Perpus UIN K.H. Abdurrahman Wahid, 2 Oktober 2025)

Dalam sambutannya Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menyampaikan apresiasi dan berterima kasih kepada ATR/BPN Jawa Tengah yang telah memilih UIN Gusdur sebagai mitra KKN Tematik karena hal ini sesuai dengan misi Menteri Agama yaitu Ekoteologi,  Menurutnya saat ini agama tidak hanya membahas fikih saja termasuk didalamnya adalah membahas lingkungan karena menurutnya korban dari lingkungan ini jumlahnya banyak sekitar dua jutaan orang.  Rektor menceritakan kedepan sertifikasi wakaf ini menjadikan sebagai KKN terdampak yang awal bulan September lalu telah mengadakan ekspose hasil kegiatan KKN. Dari hasil ekspose tersebut ternyata menarik kementerian untuk bersinergi terutama ATR/BPN pusat.

Acara ini dihadiri segenap jajaran structural BPN Kanwil Jawa Tengah para Kasi, Kepala BPN Kota  Pekalongan Bapak Dr. Joko Wiyono, S.P. M.AP. QRMP dan Kepala BPN Kabupaten Pekalongan Bambang Irianto, A.Ptnh., M.M, QRMP. (M.Izza)

KKN Nusantara 2025 Resmi Berakhir, Kontingen UIN Gus Dur Sabet Juara Beberapa Lomba

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Amarul Hakim

Kulonprogo – Tepat 45 hari sejak diterjunkan pada 6 Juli 2025, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta secara resmi melakukan penarikan terhadap 322 mahasiswa KKN Nusantara 2025 dari 34 Universitas Islam Negeri di Indonesia di Halaman Kantor Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo, pada Selasa, (19/08).

Bukan sekedar seremonial penarikan, panitia juga menyelenggarakan pameran hasil program kerja bagi 25 kelompok KKN Nusantara yang juga disambut dengan baik oleh mahasiswa, dosen, serta Camat Kalibawang. Kontingen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan turut serta dalam penarikan. Beberapa dari mereka berhasil menyabet juara dalam berbagai kategori lomba.

Baca juga: KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Moh. Alwi Andiansyah Saputra, perwakilan kelompok 22 Dukuh Jurang Depok telah berhasil mendapatkan juara 2 kategori video dokumenter dengan tema “Profil Dukuh Jurang Depok,” dan Dimas Adi Pangestu perwakilan kelompok 10 Dukuh Kriyan telah berhasil mendapatkan juara 2 kategori postraksi dengan judul “Kriyan Harmoni Menyemai Toleransi Menuai Perdamaian.”

Dalam kesempatan tersebut, Risdiyanto Nugroho selaku Camat Kalibawang menyampaikan sambutannya, bahwa selama KKN, tidak ada laporan negatif dari kelurahan maupun padukuhan.

“KKN berjalan dengan baik, tidak ada laporan negatif dari kelurahan maupun padukuhan,” ujarnya.

Baca juga: Semarak Kemerdekaan Kampung Moderasi Beragama di Linggoasri

Syamsul selaku Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Pekalongan yg turut hadir dalam penarikan menyampaikan, “Syukur alhamdulillah 2 dari 6 mahasiswa UIN Gus Dur yang mewakili KKN Nusantara memperoleh prestasi yang membanggakan, semua 6 mahasiswa kontingen UIN Gus Dur sangat baik dalam mengikuti KKN Nusantara dan kegiatan ini memberikan pengalaman yang baik kepada mahasiswa dalam praktik moderasi beragama di masyarakat.”

Turut hadir dalam penarikan tersebut perwakilan Kementerian Agama Nur Khafid serta jajaran LPPM universitas lain yang mengirimkan kontingen.

UIN Gusdur Gandeng PAC IPNU IPPNU Batang Gelar Seminar dan Deklarasi Sekolah Anti Bullying

Pewarta: Lutfi Maulana, Editor: Fajri Muarrikh

Batang – Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid atau UIN Gusdur Pekalongan bekerja sama dengan Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Batang menggelar seminar dan deklarasi Sekolah Anti Bullying di SMK Bardan Wasalaman, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang pada Selasa, (10/12/24).

Kegiatan ini melibatkan 50 siswa dari kelas 10 dan 11, serta perwakilan dari organisasi IPNU-IPPNU, OSIS, Pramuka, PMR, dan PKS.

Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang bullying dan memberikan solusi untuk mengatasi tantangan kasus Bullying dan Kenakalan Remaja. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah.

Ali Muhtarom, dosen UIN Gusdur, menyampaikan bahwa tindakan bullying bisa dilakukan secara verbal maupun virtual. “Pelaku seringkali tidak menyadari efek fatal yang dirasakan korban,” ujar Ali.

Baca juga: Mengupas Dampak Kasus Bullying pada Kesehatan Mental Anak: Tantangan dan Solusi

Seminar ini terdiri dari beberapa sesi yang mencakup berbagai aspek terkait bullying. Sesi pertama adalah penyampaian materi, di mana siswa siswi diperkenalkan dengan konsep bullying, termasuk definisi, jenis, dan dampaknya terhadap korban. Selanjutnya, siswa siswi diajak untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying dan bagaimana mengidentifikasi tanda-tanda bullying.

Sesi berikutnya para fasilitator turun dan mengarahkan untuk menonton vidio edukasi tentang bullying dan kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi, di mana siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemahaman tentang bullying. Sesi ini bertujuan untuk membuat siswa siswi berani menyampaikan pendapat dan solusi mereka untuk menghentikan kasus bullying di lingkungan sekolah.

Selanjutnya, adalah sesi penutup dan pembacaan naskah Deklarasi Sekolah Anti Bullying oleh kepala sekolah SMK Bardan Wasalaman diikuti oleh seluruh siswa siswi beserta guru, dan ditandai dengan penandatanganan di banner secara serentak.

Baca juga: Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

Dirjen PHU Tekankan Profesionalisme dan Pemahaman Perbedaan Fikih dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan

Pewarta: Adib;  Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diselenggarakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan menjadi ajang penting bagi peningkatan kompetensi para calon pembimbing haji dan umroh. Acara ini diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh 86 peserta dari berbagai wilayah. Pada kesempatan ini, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama untuk menyampaikan materi mengenai peran profesionalisme serta pemahaman perbedaan fikih dalam membimbing jemaah haji.

Acara ini dimoderatori oleh Prof. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., yang juga dekan FUAD UIN K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sam’ani mengelola diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Dalam sesi penyampaiannya, Prof. Hilman Latief menekankan bahwa seorang pembimbing haji dan umroh memiliki peran krusial dalam memastikan kelancaran ibadah jemaah. Beliau menyampaikan pentingnya memahami berbagai aspek dalam ibadah haji, baik secara teknis maupun spiritual, agar dapat memberikan bimbingan yang menyeluruh. “Pembimbing harus mampu menuntun jemaah, tidak hanya dalam hal teknis ibadah, tetapi juga mendampingi mereka secara spiritual,” ujar Prof. Hilman.

Baca juga: Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Dirjen PHU-Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Pekalongan, 24/10 2024

Lebih lanjut, Prof. Hilman menjelaskan bahwa profesionalisme dalam membimbing jemaah bukan hanya sekadar pemahaman tentang tata cara ibadah, tetapi juga mencakup pengetahuan mendalam tentang kebijakan perhajian di Indonesia dan Arab Saudi. Di samping itu, beliau menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perbedaan fikih dalam praktik ibadah haji, yang sering kali dipengaruhi oleh beragam mazhab. Hal ini, menurutnya, sangat penting agar pembimbing dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada jemaah yang mungkin memiliki latar belakang fikih yang berbeda, sehingga mengurangi kebingungan dan meningkatkan kenyamanan dalam beribadah.

Selain membahas kebijakan dan teknis ibadah, Prof. Hilman juga menjelaskan pentingnya aspek pelayanan dan keamanan bagi jemaah. Menurutnya, pembimbing yang baik harus mampu mengantisipasi dan menangani berbagai permasalahan yang mungkin muncul di lapangan. Sertifikasi ini diharapkan dapat membekali para calon pembimbing dengan pemahaman menyeluruh tentang sistem pelayanan haji yang diterapkan oleh Kementerian Agama, serta kompetensi dalam menghadapi perbedaan fikih yang mungkin muncul di kalangan jemaah.

Baca juga: Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta antusias menggali lebih dalam terkait peran mereka sebagai pembimbing, khususnya dalam menghadapi berbagai perbedaan fikih dalam ibadah haji. Prof. Hilman Latief berharap bahwa sertifikasi ini akan membekali para peserta dengan keterampilan yang memadai, sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan kompeten dan memberikan dukungan terbaik bagi jemaah haji dan umroh.

FUAD UIN Gus Dur Laksanakan Program International Research Collaboration dan Student Mobility ke Malaysia

Pewarta: Kharisma Shafrani, Editor: Azzam Nabil H.

Kuala Lumpur, 25 September 2024 – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan telah melaksanakan program International Research Collaboration dan Student Mobility di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

International Research Collaboration merupakan program kolaborasi untuk menjalin kemitraan internasional dalam dunia akademis. Program ini diikuti oleh beberapa dosen diantaranya: Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, beserta jajaran dosen FUAD lainnya. Adanya program ini dapat mendorong universitas dalam bertukar ide, budaya, serta keilmuwan dengan negara yang berbeda-beda.

Tidak hanya itu, mahasiswa FUAD yang terdiri dari enam program studi di antaranya: Karyunah (Bimbingan Penyuluhan Islam), Kharisma Shafrani (Komunikasi Penyiaran Islam), Eka Rizqiyani (Ilmu Al-Quran dan Tafsir), Meika Syadza Afifah (Tasawuf dan Psikoterapi), Amarul Hakim (Ilmu Hadis), dan Hanif Jihad Fi Sabilillah (Manajemen Dakwah) juga mengikuti kegiatan International Student Mobility ke USIM. Mereka mempresentasikan artikel ilmiah yang sudah dibuat sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing.

Baca Juga: Tradisi Nyadran di Desa Kutorojo: Mahasiswa KKN 59 Posko 82 UIN Gus Dur Aktif Berpartisipasi

Wakil Dekan III FUAD, Muhandis Azzuhri menyampaikan dalam sambutannya acara ini dapat menjadi jembatan dalam publikasi jurnal berskala nasional dan internasional.

“Kami disini akan melakukan penelitian dan presentasi artikel ilmiah, dan harapan kami adalah internasional sehingga dapat masuk ke jurnal-jurnal berskala nasional ataupun internasional,” tutur Muhandis.

Kegiatan ini mendapat respon baik dari USIM Malaysia. Fauziah, selaku Direktur Fakulti Kepemimpinan dan Pengurusan menyampaikan agar program ini tidak hanya presentasi saja, namun juga dapat berkelanjutan. Tidak hanya presentasi, adanya program ini dapat menjadi transfer knowledge, memaparkan penelitian, dan diskusi sehingga pihak USIM Malaysia mengetahui bidang keilmuwan yang dilakukan di UIN Gus Dur Pekalongan begitu pun pihak UIN dapat mengetahui keilmuwan yang ada di USIM Malaysia.

Baca Juga: Kunjungan Mahasiswa UIN Gusdur ke Desa Linggoasri, Dalam Rangka Menjaga Utuhnya NKRI Dalam Beragama

“Diharapkan program seperti ini bukan hanya perbincangan saja namun juga adanya diskusi terhadap kolaborasi penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang,” harap Fauziah. Selaras dengan Fauziah, Muhandis juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat berkelanjutan.

“Semoga kerja sama ini dapat to be continue atau berkelanjutan. Dan nanti barangkali suatu saat pihak USIM Malaysia akan datang ke kampus kami di Pekalongan, dengan sangat siap kami akan menyambut dengan sebaik-baiknya,” tutup Muhandis.