Risiko Judi dalam Berinvestasi Bagi Generasi Muda Masa Kini

Penulis: Imam Mahdi, Editor: Azzam Nabil H.

Investasi saham telah menjadi salah satu tren finansial paling diminati di kalangan generasi muda. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2024, generasi Z dan milenial mendominasi pasar modal di Indonesia, dengan porsi investor di bawah usia 30 tahun mencapai 55,07%. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan keuangan dan investasi. Namun, di balik optimisme ini, muncul tantangan besar bahwasannya sebagian besar dari mereka yang terjun ke dunia investasi belum memiliki pemahaman mendalam terkait investasi, dan didorong oleh fear of missing out (FOMO), atau sekadar ikut-ikutan.

Mengutip pesan dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidatonya saat membuka Milad ke-112 Muhammadiyah di Kupang, menyatakan bahwa: “Kalau investasi saham itu pasti kalah. Untuk orang kecil, investasi saham itu hampir bisa disamakan dengan judi. Yang menang itu bandar atau yang memiliki uang besar.”. Pernyataan ini menggambarkan realitas pahit yang dihadapi investor kecil di pasar saham, di mana mereka sering kali kalah bersaing dengan pemain besar yang memiliki akses lebih luas terhadap informasi dan modal. Investor kecil, di sisi lain, sering kali menjadi korban ketidaktahuan, keputusan emosional, atau strategi yang kurang matang. Hal ini sejalan dengan fenomena fear of missing out (FOMO), di mana seseorang terjun ke pasar saham karena takut ketinggalan peluang, tanpa mempertimbangkan risiko yang sebenarnya.

Baca juga: Perjudian Online dan Bahayanya dalam Perspektif Hukum dan Agama

Disisi lain, Islam memandang investasi sebagai salah satu bentuk ikhtiar yang mulia, asalkan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Saham diperbolehkan jika saham berasal dari perusahaan yang bergerak di bidang yang halal, tidak melibatkan riba, perjudian, atau kegiatan haram lainnya. Selain itu, transaksi saham tersebut tidak mengandung unsur gharar (ketidakpastian) yang berlebihan. Dan yang terakhir, tidak ada praktik riba dalam proses transaksi atau pembiayaan perusahaan tersebut.

Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, investasi saham bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mencapai keberkahan dalam pengelolaan harta. Islam menekankan pentingnya kerja keras dan tanggung jawab dalam mengelola rezeki, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu menyerahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (QS. An-Nisa: 5). Namun, jika saham dikelola tanpa ilmu atau dengan tujuan spekulatif, investasi ini dapat berubah menjadi tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu risiko terbesar dari tren investasi saham di kalangan generasi muda adalah perilaku spekulatif. Banyak dari mereka membeli saham hanya karena mengikuti rekomendasi tanpa dasar, tergiur dengan keuntungan instan, atau sekadar mengikuti arus tren. Perilaku seperti ini mendekati sifat judi (qimar), yang dilarang dalam Islam. Judi dilarang karena sifatnya yang mengandalkan keberuntungan tanpa usaha nyata, serta cenderung menyebabkan kerugian besar, baik secara materiil maupun mental. Rasulullah SAW bersabda:“Janganlah seseorang menjual sesuatu yang tidak ia miliki.” (HR. Tirmidzi). Dalam konteks saham, jika seseorang membeli tanpa memahami nilai riil atau fundamental perusahaan dan hanya berharap keuntungan dari fluktuasi harga, praktik ini dapat dianggap sebagai bentuk spekulasi yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga: Judi Online marak tersebar : Begini Tafsir menurut Al Quran

Dominasi generasi muda di pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa literasi keuangan harus menjadi prioritas. Literasi keuangan mencakup pemahaman tentang risiko investasi, pengelolaan portofolio, dan analisis fundamental saham. Dalam Islam, mencari ilmu sebelum bertindak adalah kewajiban, termasuk dalam hal pengelolaan harta. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemahaman yang baik tentang investasi akan membantu generasi muda memanfaatkan peluang di pasar saham dengan cara yang bertanggung jawab dan sesuai dengan syariat. Beberapa hal yang harus di perhatikan oleh generasi muda ketika berinvestasi saham, yaitu:

Pertama, pelajari dasar-dasar investasi. Artinya, sebelum memulai investasi saham, pahami cara kerja pasar modal, analisis fundamental, dan risiko yang terlibat. Jangan sekadar ikut-ikutan atau percaya pada rekomendasi tanpa dasar.

Kedua, memilih saham syariah. Bagi yang ingin memastikan investasinya halal, pilihlah saham-saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang disusun oleh OJK.

Ketiga, menghindari spekulasi. Jangan menjadikan investasi saham sebagai ajang spekulasi atau perjudian. Fokus pada analisis dan pengelolaan risiko.

Keempat, kelola emosi dan harapan. Seperti yang dapat diketahui bahwasannya pasar saham tidak selalu memberikan keuntungan instan. Bersabarlah dan jangan terlalu emosional dalam mengambil keputusan.

Baca juga: Menyoroti Bahaya Bermain Game Online Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Dan Sosial

Melalui empat hal tersebut, Insya Allah, investasi saham dapat menjadi peluang berkah jika dilakukan dengan prinsip syariah, ilmu yang memadai, dan niat yang benar. Namun, jika hanya berdasarkan FOMO atau spekulasi tanpa riset, investasi ini bisa mendekati sifat judi. Generasi muda harus memahami bahwa investasi bukan hanya tentang mengejar keuntungan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap harta yang Allah titipkan. Dengan sikap bijak dan literasi yang memadai, saham dapat menjadi jalan menuju keberkahan finansial dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

RMB Sejati Bersamai Kelas Berkah Keuangan Muslimat NU guna Perkuat Resiliensi Keluarga Maslahah

Pewarta: Hamid, Editor: Azzam Nabil H.

Indramayu – Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali lakukan kegiatan riset Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Gerakan Keluarga Maslahah Nahdlatul Ulama (GKMNU) yang dilaksanakan pada 19 Desember 2024, bersama mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang bertempat di Gedung Pusat Dakwah PCNU Kabupaten Indramayu

Kegiatan tersebut diikuti oleh Muslimat NU Kabupaten Indramayu sekitar 50 orang. Para peserta dibekali materi oleh Mohamad Yahya dan Muhamad Sofi Mubarok mengenai Kelas Berkah Keuangan Keluarga. Selain itu, tedapat pula pola pengelolaan keuangan keluarga, financial check-up dan membuat tujuan keuangan, analisis instrumen investasi dan risikonya, menghitung dana-dana penting, hingga menyusun keuangan keluarga.

Dalam acara pembukaan, Mohamad Yahya, Ketua RMB Sejati, memaparkan amanah program yang diinisiasi oleh LKK PBNU dan mengajak Muslimat NU untuk merefleksikan problematika kehidupan keluarga agar menjadi perhatian utama.

Baca juga: Kegiatan Maslahat Fest di UIN Saizu Angkat Konsep Keluarga Maslahah dan Peran Bu Nyai

“Program ini didukung penuh oleh LKK LBNU melalui dana Kementerian Agama RI. Dari 27 titik se-Indonesia, salah satunya bertempat di Indramayu. Pascakegiatan ini, akan kami laporkan ke Bupati Indramayu dan PCNU Kabupaten Indramayu atas hasil membaca dan menganalisa kondisi keluarga di Indramayu. Agar semua pihak lebih perhatian lagi terhadap persoalan-persoalan keluarga yang ada di Indramayu, ” katanya.

Sementara itu, Nyai Qurrotu Aeniyah, Ketua Muslimat NU Indramayu, mengingatkan kembali visi dan misi Muslimat NU yang sejalan dengan program keluarga maslahah sebagai landasan untuk senantiasa meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Kami Muslimat NU memiliki visi dan misi yang selaras dengan upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga yaitu untuk mewujudkan masyarakat sejahtera yang berkualitas, bertakwa kepada Allah dan mandiri, khususnya perempuan,” ucapnya.

Baca juga: Frugal Living: Moderasi Manajemen Keuangan Ala Rasullah

Dalam kesempatannya, Kiai Muhammad Mustofa, Ketua PCNU Kabupaten Indramayu, mengajak kepada Muslimat NU untuk melihat kasus-kasus keluarga terkini dan pentingnya peranan Muslimat NU dalam mencetak bibit unggul bagi generasi selanjutnya.

“Permasalahan pernikahan dini, perceraian, hingga ekonomi menjadi tanggung jawab kita bersama bukan hanya NU saja. Maka dari itu, peranan ibu-ibu Muslimat NU sangat penting untuk mencetak bibit unggul sebuah masyarakat terlebih lagi peran ibu-ibu dalam perspektif pendidikan itu ialah madrasatul ula. Ibu-ibu harus menjadi ladang bagi keberhasilan apa yang ditanamnya,” pungkasnya saat membuka kegiatan.

Harapannya, kegiatan ini dapat segera memutus mata rantai problem keluarga di Kabupaten Indramayuserta serta mendorong terbentuknya resiliensi keluarga maslahah.

Status Keummian Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Theodor Noldeke

Penulis : Lainuvar, Editor : Sirli Amry

Theodor Noldeke merupakan salah satu tokoh orientalis asal Harburg  yang masuk dalam kategori perintis dalam mengkritik Al-Qur’an. Artinya, ia termasuk tokoh pertama yang mengkritik kitab suci umat Islam tersebut dan kemudian tokoh-tokoh orientalis setelahnya mengikutinya.  Noldeke termasuk tokoh terkemuka dalam kajian studi Al-Qur’an berdasarkan perspektif orientalisme. Studi Al-Qur’an dalam pandangan Noldeke yakni dengan melacak sumber Al-Qur’an dari dua agama besar yaitu Yahudi dan Nasrani. Oleh sebab itu, Noldeke meragukan keaslian Al-Qur’an yang dianggapnya merupakan jiplakan Nabi Muhammad dari kitab Yahudi dan Nasrani.

Inti kritik Noldeke atas Al-Qur’an disimpulkan pada dua garis besar; Pertama persoalan mengenai pemaknaan kata “ummi” dalam Al-Qur’an yang disematkan pada Nabi Muhammad SAW. Kedua yakni persoalan lanjutan dari kritik pertama, artinya Noldeke menganggap bahwa Nabi Muhammad telah dipengaruhi oleh Yahudi dan Nasrani.  Tidak seperti pemahaman yang telah menyebar luas secara umum dikalangan umat muslim bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Status keummian Nabi Muhammad telah santer terdengar karena sebagai bentuk pondasi keyakinan bahwa Nabi Muhammad tidak mengarang ajarannya sendiri, tetapi benar-benar murni dari Allah.

Baca juga : Sumbangsih Pemikiran Kritis Fatima Mernissi dalam Meretas Isu Klasik Kesetaraan Gender Melalui Perspektif Al-Qur’an

Status “ummi” yang disematkan pada Nabi Muhammad juga sebagai bentuk kemukjizatan Al-Qur’an dengan tata bahasanya yang tidak dapat ditiru oleh siapapun bahkan ahli syi’ir bangsa Arab pada saat itu. Oleh sebab itu, dirasa sangat mustahil seorang Nabi yang ummi dapat menyusun tata bahasa seindah Al-Qur’an, jangankan Nabi yang telah mendapat status ummi tersebut, Bangsa Arab yang notabene ahli dalam membuat syi’ir pun tidak dapat menandingi Al-Qur’an. Allah telah berfirman dalam Qs. Al-Baqarah ayat 23:

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Tokoh orientalis menemukan titik sumbu dalam persoalan ini dan kemudian mencoba masuk untuk mengkritiknya, salah satunya adalah Theodor Noldeke. Noldeke mengkritik status ummi dengan pemaknaan yang berbeda. Ia memaknai term “ummi”  dalam Al-Qur’an sebagai bentuk ketidakpahaman Nabi Muhammad terhadap kitab-kitab sebelumnya. Dalam hal ini rujuk dari kitab-kitab sebelumnya yang dimaksud yakni kitab umat Yahudi dan Nasrani. Ia menolak pemaknaan umum bahwa “ummi” bermakna tidak bisa membaca dan menulis. Hal ini didasarkan hadis bahwa ketika Nabi Muhammad dipaksa malaikat Jibril untuk membaca saat penerimaan wahyu pertama di Gua Hira. Dengan tegas Nabi Muhammad SAW menjawab “ma ana biqori’” (saya bukanlah seorang pembaca: saya tidak bisa membaca). Dengan redaksi tersebut Theodore Noldeke meragukan validitas riwayatnya, sebab ada laporan riwayat lain menuturkan dalam bentuk redaksi yang berbeda selain “ma ana biqori’” disebutkan juga redaksi “ma aqra’” (apa yang harus saya baca?).

Theodore Noldeke berupaya untuk meruntuhkan keyakinan umat Islam dengan pandangannya bahwa Al-Qur’an tidak memiliki keaslian. Ia berargumen bahwa ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad terinspirasi atau diambil dari tradisi Nasrani dan Yahudi. Noldeke mendasarkan pendapatnya pada asumsi bahwa pada masa Nabi Muhammad, banyak komunitas Yahudi yang tinggal di Jazirah Arab, khususnya di Yatsrib (Madinah). Komunitas tersebut memiliki hubungan baik dengan penduduk Mekkah dan sering mengadakan kunjungan ke sana. Selain itu, ia juga mencatat adanya pengaruh ajaran Yahudi dalam teologi Kristen. Oleh karena itu, Noldeke menyimpulkan bahwa sangat mungkin ajaran Yahudi juga memengaruhi Islam.

Baca juga : Kegiatan Maslahat Fest di UIN Saizu Angkat Konsep Keluarga Maslahah dan Peran Bu Nyai

Selain Noldeke, Ignaz Goldziher yang terkenal dengan karyanya yang diterjemahkan berjudul “Madzahib al-Tafsir” juga mengkritik bahwa Islam merupakan replikasi agama Bangsa Yahudi. Sebab secara teologi, Yahudi sangat dekat dengan Islam. Hal ini dikarenakan antara Yahudi dan Islam juga menyembah Tuhan yang Esa, akan tetapi dalam kacamata sejarah umat Yahudi pernah membunuh Nabi. Kedekatan Yahudi dengan Islam juga terlihat ketika Abu Bakar pada saat itu dalam posisi terdesak oleh salah satu suku di Makkah, Abu Bakar kemudian mengadu kepada suku-suku di luar Makkah yang notabene non muslim karena memang pada saat itu Abu Bakar memiliki pengaruh dan relasi yang cukup besar. Usai aduan Abu Bakar, suku-suku di luar Makkah tersebut mendatangi Abu Jahal dan kemudian memperingatkannya agar tidak menganggu Abu Bakar. Jika peringatan mereka diabaikan, maka otomatis mereka akan mengembargo suku tersebut agar tidak ada pasokan makanan. Tentu, mereka sangat membantu Abu Bakar dan Nabi secara tidak langsung,

Perlu dipahami, bahwa esensi ajaran dari Yahudi, Nasrani, dan Islam tentu tetap berbeda. Karena kitab suci yang mereka pegang telah banyak diubah, sehingga banyak terjadi ketidakcocokan antara Al-Qur’an dengan kitab suci mereka, meskipun dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Tentunya, karena kebersamaan sejarah antara ketiganya tersebut banyak menuai kontroversi termasuk dari pemikiran Noldeke. Meskipun pandangan Nöldeke terhadap Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an menuai kontroversi, kajian historisnya telah mendorong para sarjana Muslim modern untuk lebih memperhatikan aspek kesejarahan Al-Qur’an, tidak hanya terbatas pada diskursus teologis mengenai pewahyuan. Berkat pengaruh ini, muncul berbagai karya yang membahas sejarah Al-Qur’an di kalangan umat Islam, tentu ini menjadi semangat dan motivasi tersendiri bagi sarjana Muslim untuk terus meningkatkan pengetahuannya, khususnya kajian mendalam tentang sejarah.

Pengaruh Konten Sukses di Usia Muda Terhadap Kesehatan Mental

Penulis: Tegar Rifqi, Editor: Azzam Nabil H.

Media sosial sudah menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya bagi generasi muda. Banyak sekali hal yang dapat dipermudah ketika menggunakan media sosial, mulai dari membantu dalam kegiatan sehari hari seperti berkomunikasi, mencari hal baru, ide ataupun refrensi untuk usaha, hingga urusan pekerjaan yang lain. Tidak hanya itu, seiring perkembangan teknologi media sosial memiliki fungsi lebih selain untuk membantu pekerjaan hari-hari, yaitu sebagai sarana media hiburan yang dapat dengan mudah diakses oleh semua orang. Hal itu yang kemudian menarik minat anak muda untuk lebih sering dalam menggunakan media sosial.

Dikutip dari inilah.com yang datanya merujuk pada laporan We Are Social 2024, ada lebih dari sekitar 139 juta jiwa atau setidaknya 49.9% masyarakat indonesia aktif dalam menggunakan media sosial. Alasan penggunaan media sosial juga dibagi menjadi tiga, yaitu karena untuk mengisi waktu luang dengan presentase 58,9 %, kemudian untuk kebutuhan berkomunikasi sekitar 57,1%, dan yang terakhir adalah sebagai sarana hiburan dan melihat tren yang ada dengan presentase 48,8%. Sedangkan merujuk pada databoks.katadata.co.id, pengguna media sosial didominasi kelompok umur 16-34 tahun (54,1%). Melalui data tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya kebanyakan masyarakat menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan dan mencari informasi untuk mengisi waktu luang dimana hal itu memang cukup bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Baca juga: Angka Harapan Hidup Tertinggi di Dunia Didominasi Negara-Negara Maju: Perspektif Islam dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kesehatan

Namun seperti halnya dengan mesin, otak kita juga memiliki batas dalam menyerap informasi yang datang dari luar. Terlebih media sosial saat ini sudah bukan lagi berbasis searching melainkan scrolling. Artinya informasi yang kita terima bukan lagi berdasarkan pada aapa yang ingin kita ketahui, tetapi informasi lain juga akan ikut masuk yang pada akhirnya memberikan beban ekstra untuk otak memprosesnya. Media sosial berbasis scrolling itu seperti Tiktok, IG reels, Youtune short, dan lain lain. Karena kebanyakan media sosial tersebut didominasi oleh anak muda, maka konten yang dihasilkan juga bervariasi, salah satunya adalah konten motivasi tentang hidup sukses di usia media. Namun, konsumsi berlebihan atau tanpa pengendalian terhadap konten semacam ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menerapkan pengendalian diri dalam mengonsumsi konten motivasi di media sosial.

Perspektif Al-qur’an Pada Dampak Negatif Konsumsi Berlebihan Konten Motivasi

Konten motivasi pada dasarnya bertujuan positif yakni untuk memberikan kita dorongan dan semangat dalam mencapai apa yang kita inginkan. Namun, tidak sedikit juga yang memanfaatkan tren ini untuk flexing dan memamerkan pencapaian yang sudah didapatkan dalam waktu singkat dimana hal itu tidak mudah dicapai oleh orang lain. Mengkonsumsi konten  yang berlebihan dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan mental, diantaranya yaitu, pertama, Overload Informasi. Penggunaan media sosial dan mengkonsumsi konten secara berlebihan dapat menyebabkan kelelahan pada otak dalam memproses banyak informasi yang masuk pada satu waktu. Efeknya akan buruk bagi aktivitas sehari hari seperti mudah lupa dan cepat lelah. Selain memberikan efek negatif pada otak, melakukan scrolling berlebihan juga akan membuat kita menyia-nyiakan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk aktivitas bermanfaat lain. Seperti firman Allah swt. Pada surat An-Najm (39):

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

Artinya: “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,”

Pada ayat tersebut menegaskan betapa pentingnya waktu yang kita miliki. Karena jika kita ingin mencapai sesuatu yang kita inginkan, maka itu semua akan bergantung pada seberapa besar usaha kita.

Baca juga: Sustainable Living: Tak Hanya Sebatas Tren

Kedua, Merasa Rendah Diri. Ketika kita melihat orang lain dengan umur yang sama tapi memiliki pencapaian tinggi, terkadang kita akan mencoba membandingkan diri kita dengan orang tersebut dan pada akhirnya kita akan merasa rendah diri. Hal itu kemudian justru akan berdampak buruk pada apa yang sedang kita kerjakan. Padahal sudah jelas di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat yang mengajak agar kita tidak saling membandingkan, salah satunya pada surat An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan. dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Pada ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak boleh iri dan membanding bandingkan atas apa yang dimiliki orang lain. Karena Allah swt. tahu seberapa besar usaha setiap hambanya, dan tugas kita setelah berusaha hanyalah berserah diri kepada-Nya, karena Allah swt. maha mengetahui apa yang dibutuhkan oleh kita.

Selain itu, yang ketiga yakni Toxic positify. Dampak ini mengacu pada keterpaksaan pada diri kita agar selalu berpikir positif dan mengabaikan emosi emosi negatif. Terlalu berpikir positif akan berdampak buruk terhadap kesehatan mental kita, hal itu dikarenakan kita memaksakan sesuatu yang pada dasarnya di luar kemampuan kita dan berekspektasi terlalu tinggi terhadap hasil yang kita inginkan. Hal ini biasanya terjadi ketika kita mengkonsumsi konten motivasi kemudian kita merasa bahwa “kalau orang lain bisa, kenapa tidak?”, yang kemudian akan membawa kita pada perasaan cemas yang berujung depresi ketika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkait hal ini, dalam surat Ali-imran ayat 139, Allah swt. berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْن

Artinya: “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”

Ayat ini menekankan pentingnya menjaga semangat dan tidak berlarut dalam kesedihan setelah menghadapi kegagalan, dengan syarat tetap beriman dan taat kepada Allah SWT. Ayat ini mendorong keseimbangan antara pengakuan atas emosi negatif dan upaya untuk bangkit kembali dengan keimanan yang lebih kuat.

Baca juga: Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam: Konsep, Penyebab, dan Cara Menjaganya

Pengendalian diri dalam mengonsumsi konten motivasi di media sosial sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Kita harus bisa lebih selektif dalam memilih mana mana yang sekiranya memang kita butuhkan dan tidak. Selain itu, pengendalian waktu dalam bermedia sosial juga diperlukan. Dengan menerapkan strategi pengendalian diri, kita dapat memanfaatkan konten motivasi secara optimal tanpa terjebak dalam dampak negatif yang mungkin ditimbulkannya. Ingatlah bahwa kuncinya adalah  keseimbangan dan kesadaran diri bahwa segala sesuatu merupakan kehendak dari Allah swt.

Kegiatan Maslahat Fest di UIN Saizu Angkat Konsep Keluarga Maslahah dan Peran Bu Nyai

Pewarta: Muhammad Ash-Shiddiqy, Editor: Sirli Amry

Purwokerto – Tim pengabdian UIN Saizu sukses menyelenggarakan kegiatan Maslahat Fest dengan tema “Keluarga Maslahah.” Kegiatan ini menghadirkan Ning Intan Diana Fitriyati, M.Ag, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al Masyhad Manbaul Falah Walisampang, Pekalongan, sebagai narasumber utama. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk anggota IPNU-IPPNU dan masyarakat pesantren, yang antusias menyimak pembahasan mendalam tentang pentingnya konsep keluarga maslahah dalam kehidupan. (14/12)

Dalam pemaparannya, Ning Intan menegaskan bahwa “Keluarga Maslahah” adalah keluarga yang tidak hanya sakinah, tetapi juga menjadi sumber kemaslahatan yang berdampak luas—meliputi individu dalam keluarga, masyarakat, negara, hingga alam semesta. “Konsep ini mengajarkan bagaimana kita sebagai manusia harus menyatukan ketaatan kepada Allah dengan tanggung jawab menghadirkan rahmat bagi semesta,” ungkap Ibu Intan.

Peran Sentral Bu Nyai NU dalam Membangun Keluarga Maslahah

Ning Intan juga menyoroti peran strategis Bu Nyai NU dalam menerapkan dan menyebarluaskan konsep keluarga maslahah. Sebagai tokoh sentral di lingkungan pesantren, Bu Nyai tidak hanya menjadi pembimbing spiritual tetapi juga berperan aktif dalam membangun harmoni keluarga dan masyarakat.

Baca Juga :  Ciptakan Sinergi Generasi Muda Qur’ani, UIN Saizu Gelar Maslahat Fest Banyumas 2024

“Bu Nyai memiliki peran ganda yakni sebagai pendidik di dalam keluarga dan masyarakat, serta sebagai penyambung nilai-nilai agama yang menanamkan konsep keluarga ideal. Mereka menjadi teladan dalam menyelaraskan antara tanggung jawab domestik dan publik, sehingga dapat menciptakan kemaslahatan yang berkelanjutan,” jelas Ibu Intan.

Bu Nyai juga dianggap sebagai ujung tombak dalam membumikan nilai-nilai keislaman yang progresif dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keluarga sebagai fondasi peradaban. Melalui pembinaan di pesantren, Bu Nyai berperan dalam mendidik generasi muda tentang pentingnya membangun keluarga yang tidak hanya memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga membawa keberkahan spiritual.

Konsep Keluarga Maslahah dan Pemikiran Kiai Sahal Mahfudh

Diskusi tentang “Keluarga Maslahah” juga mengacu pada pemikiran Kiai Sahal Mahfudh, yang dikenal sebagai penggagas fiqh sosial. Dalam berbagai tulisannya, Kiai Sahal menyebut keluarga maslahah sebagai keluarga ideal yang mampu mewujudkan keharmonisan di tingkat rumah tangga maupun masyarakat.

Baca Juga :  Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Kiai Sahal menguraikan konsep ini dalam beberapa karyanya, seperti:  Makalah Keluarga Maslahah dalam Kehidupan Modern (30 Mei 1998), Makalah Majelis Ulama Indonesia dan Ikhtiar Mewujudkan Keluarga Maslahah di Pati (24 April 2001), dan Kata pengantar buku Keluarga Maslahah Terapan Fiqh Sosial Kiai Sahal karya Kiai Cholil Nafis.

Dalam tulisan-tulisan tersebut, Kiai Sahal menjelaskan bahwa keluarga maslahah adalah pilar utama bagi kekuatan agama dan negara. Ia menegaskan bahwa tanpa keluarga yang kuat dan harmonis, sulit untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan berkeadaban.

Kegiatan Maslahat Fest memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya membangun keluarga maslahah yang seimbang antara tanggung jawab duniawi dan ukhrawi. Hal ini sejalan dengan peran strategis keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, yang memiliki dampak besar terhadap ketahanan negara dan kekuatan agama.

Dengan kontribusi Bu Nyai NU dan panduan dari konsep fiqh sosial Kiai Sahal, Maslahat Fest diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus menggali, menerapkan, dan menyebarkan nilai-nilai kemaslahatan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat luas.

Ciptakan Sinergi Generasi Muda Qur’ani, UIN Saizu Gelar Maslahat Fest Banyumas 2024

Pewarta: Muhammad Ash-Shiddiqy, Editor: Sirli Amry

Banyumas – Dalam semangat meningkatkan kebermanfaatan kepada masyarakat, dua dosen UIN Saizu, Dr. Mohamad Sobirin dan Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E., memprakarsai Maslahat Fest Banyumas 2024. Kegiatan ini berlangsung dengan dukungan penuh dari Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kabupaten Banyumas, yang menjadi mitra strategis dalam penyelenggaraan acara ini. (14/12)

Maslahat Fest Banyumas 2024 hadir sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pengembangan masyarakat, khususnya generasi muda. Dalam acara tersebut, salah satu sesi utama diisi oleh    Dr. Karimatul Khasanah, S.H.I., M.S.I., C.Med., yang memberikan materi bertajuk “Bimbingan Konseling Remaja Menuju Keluarga Maslahah.”

Baca Juga :  Perspektif Tasawuf: Menganalisis Pemahaman Islam yang Dangkal dan Radikalisasi Generasi Muda

Dalam kegiatan yang inspiratif tersebut, Dr. Karimatul Khasanah menyampaikan beberapa topik utama, antara lain:

Konsep Diri Remaja yang Sehat – Menekankan pentingnya pemahaman jati diri yang positif sebagai fondasi kehidupan.

Membangun Jembatan Harapan – Memberikan motivasi kepada para remaja untuk tetap optimis menghadapi tantangan hidup.

Tantangan dan Problematika Remaja Masa Kini – Mengidentifikasi isu-isu terkini yang dihadapi remaja dan cara mengatasinya.

Konsep Remaja Islami (Remaja Qeren Qur’ani) – Menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari melalui refleksi ayat-ayat Al-Qur’an.

Sesi ini diperkaya dengan aktivitas membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah-kisah para nabi, sehingga memberikan contoh teladan yang relevan bagi generasi muda.

Kegiatan ini merupakan bentuk semangat kolaborasi untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Dr. Mohamad Sobirin dan Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter Qur’ani. Kolaborasi dengan IPNU dan IPPNU menjadi langkah strategis dalam menjangkau komunitas remaja yang lebih luas.

Baca Juga :  Etika Berbahasa Cerminan Indah Generasi Muda

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi remaja Banyumas untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang maslahat”, Ujar Muhammad Ash-Shiddiqy.

Maslahat Fest Banyumas 2024 menjadi bukti nyata sinergi antara akademisi, organisasi masyarakat, dan generasi muda dalam menciptakan perubahan positif. Acara ini tidak hanya menjadi wadah pembelajaran, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah di Kabupaten Banyumas.

Gaungkan Semangat Toleransi dan Persatuan, Lakpesdam NU Kota Cirebon Selenggarakan Pagelaran Seni dan Budaya Lintas Agama

Pewarta : Ika Amiliya, Editor : Amarul Hakim

Cirebon – Lakpesdam NU Kota Cirebon bersama Rumah Moderasi Beragama (RMB) Sejati UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Gebyar Toleransi dan Bhineka Tunggal Ika dalam Kerukunan Beragama di Auditorium Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Rabu, (11/12).

Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Rektor II UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Prof.Dr.H.Ilman Nafi’a, M.Ag., Rais Syuriah PCNU Kota Cirebon Dr. K.H. Miftah Faqih, MA., Katib Syuriah PCNU Kota Cirebon K.H. Abdul Mujib, Mustasyar PCNU Kota Cirebon K.H. Syamsuddin, dan Kepala Unit Idensos Densus 88 Kompol H. Satori, S.H., M.M. Hadir pula para pemuka agama dan aliran kepercayaan,  Js. Suryana Erawan (Konghucu), PMd. Toto Sutanto (Budha), Made Supartini, S.Ag. (Hindu), Pdt. Heru Kusumo (Kristen), Romo Antonius Haryanto. Pr. (Katolik), dan Kiai Miftah Faqih (Islam).

Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Nilai-nilai Kebhinekaan dan Toleransi melalui Festival Seni dan Budaya se-Wilayah Ciayumajakuning,” dengan tujuan untuk menanamkan nilai kebhinekaan dan toleransi dalam kehidupan beragama masyarakat se-wilayah Ciayumajakuning, meningkatkan kampanye Bhineka Tunggal Ika dan toleransi melalui seni dan budaya, dan mendukung serta mengokohkan ketertiban dan keamanan nasional.

Baca juga : Kuatkan Toleransi dan Kerukunan, FKUB Kabupaten Pekalongan Gelar Dialog Lintas Agama

Ketua Lakpesdam NU Kota Cirebon sekaligus Ketua RMB Sejati UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Dr. H. Mohamad Yahya, M.Hum mengungkapkan, kegiatan ini menjadi penting mengingat indeks toleransi Kota Cirebon pada tahun 2023 sempat mengalami penurunan di banding 2022.

“Kegiatan ini menjadi penting dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara mengingat wilayah kita pada tahun kemarin indeks toleransi turun 1% dibanding tahun sebelumnya. Dan tahun ini kita semua tahu ada 2 kasus penting di Cirebon, dan itu juga akan menyebabkan indeks toleransi di wilayah Ciayumajakuning akan semakin turun,” ujarnya.

Pagelaran seni dan budaya ini dihadiri sekitar 150 penonton. Kegiatan diawali dengan do’a bersama lintas agama oleh para pemuka agama yang hadir dan kemudian dimeriahkan oleh berbagai pementas seni dan budaya se-Ciayumajakuning. Di antaranya Tari Medley Wonderful Indonesia (Mahasiswa PIAUD), Tari Buyung (Paseban Cigugur Kuningan), Wushu (Majelis Agama Konghuchu Indonesia), Tari Jauk Manis dari Bali (Polresta Cirebon), Musik Tradisional Kontemporer (Gardu Musik), Puisi monolog (Mahasiswa IAT), Arabic Song (Mahasiswa IAT), Solo Vocal (Siswa SD Santa Maria), PSM Kidung Kinasih (Mahasiswa UIN SSC), Seni Beladiri Tangan Kosong (IPPNU Kota Cirebon), dan Tari Topeng (UKM Theater Awal).

Baca juga : Melintasi Batas: Nuansa Corak Budaya dalam Tafsir Al-Qur’an yang Menggugah Pemikiran

Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Ilman Nafi’a berharap kegiatan ini mampu menangkal segala aktivitas yang mengganggu persatuan dan kesatuan negara.

“Mudah-mudahan dalam pertemuan ini bisa menangkal berbagai kegiatan aktivitas yang di luar sana dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang di-backup dengan Bhineka Tunggal Ika,” ucapnya.

UIN Gusdur Gandeng PAC IPNU IPPNU Batang Gelar Seminar dan Deklarasi Sekolah Anti Bullying

Pewarta: Lutfi Maulana, Editor: Fajri Muarrikh

Batang – Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid atau UIN Gusdur Pekalongan bekerja sama dengan Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Batang menggelar seminar dan deklarasi Sekolah Anti Bullying di SMK Bardan Wasalaman, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang pada Selasa, (10/12/24).

Kegiatan ini melibatkan 50 siswa dari kelas 10 dan 11, serta perwakilan dari organisasi IPNU-IPPNU, OSIS, Pramuka, PMR, dan PKS.

Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang bullying dan memberikan solusi untuk mengatasi tantangan kasus Bullying dan Kenakalan Remaja. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah.

Ali Muhtarom, dosen UIN Gusdur, menyampaikan bahwa tindakan bullying bisa dilakukan secara verbal maupun virtual. “Pelaku seringkali tidak menyadari efek fatal yang dirasakan korban,” ujar Ali.

Baca juga: Mengupas Dampak Kasus Bullying pada Kesehatan Mental Anak: Tantangan dan Solusi

Seminar ini terdiri dari beberapa sesi yang mencakup berbagai aspek terkait bullying. Sesi pertama adalah penyampaian materi, di mana siswa siswi diperkenalkan dengan konsep bullying, termasuk definisi, jenis, dan dampaknya terhadap korban. Selanjutnya, siswa siswi diajak untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying dan bagaimana mengidentifikasi tanda-tanda bullying.

Sesi berikutnya para fasilitator turun dan mengarahkan untuk menonton vidio edukasi tentang bullying dan kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi, di mana siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemahaman tentang bullying. Sesi ini bertujuan untuk membuat siswa siswi berani menyampaikan pendapat dan solusi mereka untuk menghentikan kasus bullying di lingkungan sekolah.

Selanjutnya, adalah sesi penutup dan pembacaan naskah Deklarasi Sekolah Anti Bullying oleh kepala sekolah SMK Bardan Wasalaman diikuti oleh seluruh siswa siswi beserta guru, dan ditandai dengan penandatanganan di banner secara serentak.

Baca juga: Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

UIN Mataram Gandeng Jaringan Gusdurian Gelar Seminar Nasional: “Merawat Bumi, Merajut Harmoni”

Pewarta : Baidawi, Editor : Fajri Muarrikh

Mataram – Dalam rangka mempersiapkan Bali Interfaith Movement (BIM), Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar seminar nasional bertajuk “Merawat Bumi, Merajut Harmoni: Semangat Deklarasi Istiqlal Menuju Bali Interfaith Movement” di Auditorium Kampus II UIN Mataram, Kota Mataram, NTB, pada Senin ( 9/12).

Acara ini terselenggara atas kerja sama antara UIN Mataram, Jaringan GUSDURian, Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Mataram.

Seminar ini dihadiri oleh 500 orang peserta yg merupakan perwakilan Mahasiswa, Komunitas Gusdurian. Pondok Pesantren, dan tokoh lintas agama,

Acara ini menghadirkan Rektor UIN Mataram Prof. Dr. Masnun, M,Ag sebagai Keynote Speech dan juga menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Rektor IAHN Gde Pudja Mataram I Wayan Wirate, Pembina RMB UIN Mataram Prof. Suprapto, Dosen UIN Sunan Kajiaga Yogyakarta Dr. Fahruddin Faiz, dam Pengasuh Pesantren Budaya Daar Al-Mudhaffar Paox Iben Mudhaffar. Acara ini dipandu oleh Dosen UIN Mataram Erma Suriani sebagai moderator.

Baca juga : Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Dalam pidatonya, Masnun mengungkapkan bahwa “Merawat Bumi, Merajut Harmoni, semangat deklarasi istiqlal menuju Bali interfaith movement, merupaka tema seminar kita kali ini,” terang Rektor UIN Mataram tersebut.

Memasuki sesi talkshow, I Wayan Wirate menyebut bahwa ajaran kitab suci bertujuan untuk menyebarkan kedamaian kepada seluruh umat.

“Dalam konteks moderasi beragama, konflik sering terjadi akibat pemahaman agama kita yang belum sempurna, oleh sebab itu kita harus memiliki komitmen untuk memahami ajaran dan doktrin agama sehingga mampu mewujudkan sikap dan perilaku rendah hati,” papar Wayan.

Sejalan dengan itu, Fahruddin Faiz mengatakan bahwa sikap egoisme merupakan problem utama penyebab terjadinya ketidakharmonisan.

“problem kita sekarang ini adalah, banyak orang yang menganggap negara ini adalah beban, dan agama merupakan sumber masalah,” ungkapnya.

Baca juga : Rakerwil Gusdurian Jateng-DIY: Dorong Penggerak Komunitas dan Masyarakat Sipil guna Perkuat Kualitas Demokrasi

Sementara itu, Suprapto mengungkapkan bahwa problem kemanusiaan global berupa Konflik kekerasan dan perang harus bisa diselesaikan oleh Agama.

“stop dehumanisasi dan kerusakan alam, sehingga konservasi lingkungan harus menjadi topik-topik yang  digaungkan oleh seluruh pemuka agama,” terangnya.

Terakhir, Paox Iben Mudhaffar menyebut bahwa  “Bumi ini cukup untuk seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk satu manusia serakah.

“keserakahan bisa menggunakan tabir agama sehingga banyak menimbulkan konflik,” jelas pria yang akrab disapa Paox tersebut.

Acara ini dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan diakhiri dengan Doa. Pengunjung yang berjumlah Ratusan, dari kalangan mahasiswa, dosen, pegiat moderasi lintas agama juga terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dalam acara ini. Harapannya, acara ini dapat memberi sumbangsih pemikiran dan komitmen pada terciptanya harmoni manusia dan alam, serta menjadi langkah awal untuk menyambut Bali Interfaith Movement yang akan diadakan pada tanggal 14 dan 15 Desember 2024 mendatang.

Sustainable Living: Tak Hanya Sebatas Tren

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Tegar Rifqi

Isu lingkungan masih menjadi permasalahan yang serius di tingkat global tak terkecuali Indonesia. Mengingat bahwa selama berabad-abad, manusia sering kali abai terhadap lingkungan sekitarnya hingga membuat kerusakan yang menjadi ancaman bagi generasi mendatang. Beberapa dampak kerusakan alam akibat ulah manusia yang menjadi sorotan ialah perubahan iklim, deforestasi, hingga penumpukan sampah atau limbah, baik yang berasal dari rumah tangga maupun praktik industri yang tidak bertanggung jawab. Permasalahan yang semakin serius tersebut nampaknya menjadikan manusia sadar akan gaya hidup berkelanjutan atau sustainable living yang kemudian tengah menjadi tren akhir-akhir ini.

Berdasarkan laporan dari Healthy & Sustainable Living 2023 yang diterbitkan oleh lembaga riset GlobeScan, tercatat adanya peningkatan praktik sustainable living di banyak negara meskipun tidak signifikan. Riset ini melibatkan hampir 30.000 responden dari 31 pasar di 23 negara, termasuk Indonesia. Beberapa indikator dalam survei ini menunjukkan peningkatan, diantaranya ialah membawa tas belanja sendiri sebesar 67% (4% lebih tinggi dibandingkan 2019); melakukan daur ulang sampah dari yang awalnya 53% di tahun 2019 kemudian menjadi 59% di tahun 2023; mengurangi penggunaan plastik sekali pakai mencapai 46% (4% lebih dibandingkan 2019); dan membeli produk organik yang juga meningkat, dari yang awalnya 37% di tahun 2019 menjadi 41% di tahun 2023.

Baca juga: Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Disamping itu, merujuk data dari databoks katadata 2022, tingginya kepedulian generasi muda terhadap lingkungan dalam aspek konsumsi barang menjadi hal positif yang harus selalu ditingkatkan. Data ini diperoleh dari 2.303 responden yang terdiri dari generasi milenial dan gen Z, menyatakan bahwa sebanyak 69,8% responden memilih membawa tas belanja sendiri; kemudian sebesar 56,2% responden lebih memilih produk ramah lingkungan; dan 46,4% responden melakukan pengumpulan kemasan produk kosong untuk diserahkan ke tempat daur ulang.

Namun demikian, sikap peduli terhadap lingkungan tidak cukup hanya ditunjukkan dengan tren. Sebab, bisa jadi tren ini hanyalah bentuk dari FOMO (Fear Of Missing Out) atau sifat seseorang yang takut ketinggalan tren yang sedang dilakukan oleh banyak orang. Terlebih bagi para gen Z yang sangat erat dengan FOMO. Hal ini kemudian diperkuat dengan adanya hasil survey LSI Denny JA yang menunjukkan bahwa masyarakat yang benar-benar memperhatikan dan mencari berita tentang isu lingkungan hidup hanya 15,5%. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan negara di Eropa Barat yang persentasenya berada diatas 80%.

Terlepas dari tren positif yang sedang berlangsung, cukup disayangkan bagi masyarakat Indonesia karena data lain menunjukkan bahwa Indonesia menjadi penyumbang sampah rumah tangga terbesar se-Asia Tenggara, dengan total 14,73 ton pertahun, yang salah satunya adalah sampah sisa makanan (food loss and waste). Tak berhenti sampai disini, dalam hal penggunaan air, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak menggunakan air secara efisien, yang mana kondisi ini diperparah dengan pembuangan limbah industri tekstil hingga batik, yang kenyataanya masih dibuang ke Sungai. Tak heran jika banyak prediksi yang dilakukan oleh para ahli bahwa Indonesia akan mengalami krisis air bersih hingga kekeringan di masa depan.

Baca juga: Manfaat Keberadaan Fitoplankton Dalam Konstruksi Kehidupan Wujud Nyata Pemeliharaan Allah SWT

Oleh sebab itu, untuk memperbaiki kondisi ini, beberapa langkah untuk mengawali sikap peduli terhadap lingkungan dan tetap konsisten untuk menjaga lingkungan dapat diawali dari niat dan kesadaran diri sendiri serta mengingat bahwa Allah swt. sudah melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-A’raf ayat 85 yang berbunyi.

…وَلاَ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“…Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“. (QS. Al-A’raf [7]: 85).

Dalam ayat lain Allah juga telah memerintahkan manusia untuk menjaga lingkungan dan memakmurkannya. Seperti dalam firman Allah Q.S. Hud ayat 61.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

”…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…“ (Q.S. Hud [11]: 61).

Dari kedua ayat ini, seharusnya masyarakat terutama umat muslim, menjadikan larangan dan perintah Allah Swt. tersebut sebagai pengingat untuk selalu menerapkan pola hidup yang tidak merusak lingkungan salah satunya dengan menerapkan sustanaible living di kehidupan sehari-hari. Apabila sudah tertanam di dalam hati mengenai larangan dan perintah Allah Swt. maka secara otomatis kesadaran akan pentingnya menjaga alam dari kerusakan seharusnya muncul dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk ketika melihat jumlah sampah sisa makanan (food waste) yang tinggi di Indonesia, maka seorang muslim perlu mengingat larangan terkait berlebih-lebihan dan mubadzir dalam Q.S. Al-Isra ayat 26-27.

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا [26] اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya: “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. [26]. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. [27]”.

Dalam ayat ini, makanan merupakan salah satu bentuk dari penggunaan harta manusia, yang dilarang untuk dihambur-hamburkan. Alangkah lebih baik jika terdapat kelebihan konsumsi makanan, maka seharusnya disedekahkan saja kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Dengan demikian, apabila dalam hal spiritualitas manusia melalui perintah dan larangan Allah Swt. yang telah disampaikan dalam berbagai firman-Nya telah dipahami dan ditanamkan di hati, maka hal ini dapat menjadi pendorong seseorang untuk istiqomah atau konsisten ketika menerapkan sustainable living yang bukan hanya sebatas tren, namun juga menjadi prioritas manusia di berbagai aktivitasnya, termasuk penggunaan tumbler, memakai tas belanja berbahan kain, dan rutinitas lainnya yang dapat memperbaiki kondisi lingkungan demi kehidupan berkelanjutan.  Wallahu’alam.