Seminar Nasional Qur’an Hadis Festival 2025 Usung Tema Revitalisasi Kajian Tafsir-Hadis di Era Modern

Pewarta: Azzam Nabil H., Editor: Amarul Hakim

Pekalongan — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Hadis bersama dengan HMPS Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Seminar Nasional Qur’an Hadis Festival 2025 pada Ahad (23/11/2025) di Aula FUAD Lt. 2. Kegiatan bertajuk “Revitalisasi Kajian Tafsir-Hadis di Nusantara sebagai Bekal Modernisasi” ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Dr. Kurdi Fadal, M.H.I., M.S.I. (Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Gus Dur) dan Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag. (Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Dalam pemaparannya, Dr. Kurdi menjelaskan bahwa wahyu tidak hanya sebatas teks Al-Qur’an dan hadis, namun juga hidup melalui pengalaman ulama yang mentransformasikan keduanya dalam realitas sosial. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an dan hadis bukan sekadar turots atau warisan teks, melainkan sumber utama yang terus berkembang melalui pemikiran ulama. Konsep Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah* menurutnya tidak boleh dipahami secara statis. “Muhafazhah cenderung jumud bila hanya menjaga yang lama tanpa kreasi. Kita harus kritis, karena semua berubah kecuali perubahan itu sendiri,” ujarnya.

Prof. Abdul Mustaqim menambahkan bahwa teks keagamaan memiliki batas, sementara realitas bersifat tak terbatas. Karena itu, dibutuhkan kemampuan membaca turots secara kritis agar tidak terjebak pada pemikiran yang sudah tidak relevan. Ia mengingatkan bahaya “mengonsumsi pemikiran kadaluarsa” tanpa mempertimbangkan konteks sosial kekinian. “Jangan anti pada ilmu pengetahuan. Islam harus diintegrasikan dengan temuan ilmiah agar tetap relevan,” tegasnya.

Baca juga : Kajian Feminisme dalam Islam dalam Konteks Ruang Bersama Merah Putih

Dalam kajian metodologi, Prof. Abdul Mustaqim menyebut bahwa tafsir perlu menarik nilai universal masa lalu untuk diterapkan di masa kini. Ia menegaskan bahwa tidak semua ayat bersifat kontekstual; wilayah ibadah cenderung tekstual, sementara muamalah dapat dipahami secara kontekstual. Ia juga mengkritisi syarat ijtihad yang terlalu ketat karena dapat menutup pintu pembaruan hukum Islam. Menurutnya, hambatan utama terletak pada rendahnya kesadaran belajar, bukan pada keterbatasan syarat ijtihad itu sendiri.

Keduanya juga menyoroti pentingnya menghormati pendapat ulama terdahulu. Tafsir yang lahir di masa lalu harus dipahami sesuai konteks sosialnya. “Kita tidak layak menghakimi ulama klasik. Tugas kita adalah melakukan kontekstualisasi, bukan mengkafirkan atau membid’ahkan,” jelas Kurdi.

Salah satu peserta, M. Ady Fairuzzabadi, mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait pentingnya membaca teks hadis dan tafsir secara relevan. “Setelah mengikuti kegiatan ini, selain menambah ilmu pengetahuan saya tentang tafsir, juga dapat menjadi pegangan hidup saya dalam memahami hadis secara kontekstual,” ungkapnya.

Kegiatan berakhir pada sore hari dan diharapkan mampu memperkuat tradisi intelektual Qur’an-Hadis yang adaptif dengan tantangan zaman.

Memperkuat Keimanan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Penulis : Daffa Asysyakir, editor: Nafis Mahrusah

Di era serba cepat seperti sekarang, banyak dari kita merasa waktu berjalan begitu cepat dan hari-hari berlalu tanpa jejak. Rutinitas yang berulang seperti kuliah, bekerja, mengerjakan tugas, dan berbagai kesibukan lainnya sering membuat hidup terasa monoton. Dr. Kimberly Chew dari Channel News Asia menyampaikan bahwa ketika hidup terjebak dalam pola yang sama, persepsi kita terhadap waktu menjadi kabur dan terasa semakin singkat. Bagi umat Muslim, kondisi ini dapat menjadi tantangan dalam menjaga kualitas ibadah dan keimanan.

Karena itu, diperlukan cara baru agar kehidupan beragama tidak terasa sebagai kewajiban yang rutin semata, tetapi menjadi ruang untuk menenangkan dan menyegarkan jiwa. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah introspeksi diri. Islam mendorong umatnya untuk terus menilai ulang perbuatannya, sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan agar setiap orang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk hari esok. Menurut Tafsir Al-Wasith, ayat ini menjadi dasar pentingnya muhasabah sebagai sarana memperbaiki diri.

Pertanyaan sederhana seperti “Ibadahku diterima atau tidak?”, “Dalam kesibukan, apakah aku masih menjaga salat?”, atau “Aku jarang mengaji, masihkah aku diberi kesempatan untuk bertobat?” dapat menjadi langkah awal untuk menyadarkan diri. Introspeksi bukan untuk membuat seseorang merasa bersalah, melainkan agar kita mengakui kekurangan sendiri dan terdorong untuk memperbaikinya.

Baca juga: Merawat Iman, Hidupkan Harmoni Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Selain muhasabah, cara lain untuk memperkuat keimanan adalah mendalami ilmu agama. Q.S. At-Taubah ayat 122 menegaskan pentingnya sebagian umat untuk memperdalam pengetahuan agama agar dapat memberikan pemahaman kepada yang lain. Ilmu agama menjadi fondasi agar seorang Muslim dapat menjalani kehidupan secara terarah dan selaras dengan nilai-nilai Islam.

Ada banyak cara untuk mempelajari agama seperti mengikuti kajian di masjid atau secara daring, bergabung dalam forum diskusi, serta membaca buku-buku keislaman. Kegiatan ini dapat dilakukan secara fleksibel di sela-sela kesibukan.

Pada akhirnya, memperkuat iman tidak selalu membutuhkan waktu khusus. Dengan menggabungkan introspeksi dan pendalaman ilmu agama, umat Muslim dapat tetap dekat dengan Allah meski hidup terasa semakin padat. Waktu memang terus bergerak cepat, tetapi iman yang terjaga akan membuat langkah kita lebih mantap dan terarah.

Baca juga: Desain Masjid: Simbol Iman atau Keberagaman? 

Indahnya Bahasaku: Kultural Bulan Bahasa di Sekolah Dalam Pelestarian Budaya Bahasa Pada Gen Alpha

Penulis: Nabilla Sifa, Editor: Nehayatul Najwa

Setiap Oktober, sekolah-sekolah di Indonesia ramai dengan perayaan Bulan Bahasa. Namun ironisnya, di tengah gegap gempita lomba pidato dan puisi, semakin sedikit generasi muda yang benar-benar mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, terutama di era Gen Alpha yang lebih akrab dengan bahasa campuran dan istilah asing dalam komunikasi sehari-hari. Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas dan sarana pelestarian budaya bangsa. Oleh karenaitu, peringatan Bulan Bahasa di sekolah seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran linguistik dan kebanggaan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.

Dalam rangka Bulan Bahasa, MTs Negeri 2 Pemalang sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bulan Bahasa. Terlihat Bulan Bahasa di sekolah memiliki peran strategis sebagai wadah revitalisasi semangat berbahasa Indonesia hingga kancah internasionalisasi(Yusida Gloriani, 2023). Kegiatan-kegiatan seperti lomba menulis cerpen, membaca puisi, pidato, dan debat berbahasa Indonesia tidak hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan apresiasi terhadap kekayaan bahasa nasional. Tema yang diusung dari MTs Negeri 2 Pemalang kali ini relevan dengan perkembangan zaman: “Membangun Budaya Literasi di Era Digital”. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi tidak hanya berarti membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis, kreatif, dan etis dalam menggunakan media digital. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang berupaya menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia dan nilai-nilai budaya lokal di kalangan Gen Alpha yang tumbuh bersama gawai dan teknologi digital. Dengan menggabungkan semangat literasi dan kecintaan pada bahasa, sekolah berharap dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga berkarakter, berbudaya, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap aspek kehidupannya.

Baca juga: Menemukan Keselarasan: Harapan dan Realitas Program Literasi SD dalam Kurikulum Merdeka

Pelaksanaan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud nyata dari proses pendidikan karakter dan budaya yang terintegrasi dalam kegiatan sekolah. Beragam lomba seperti membaca puisi, pidato kebahasaan, mendongeng, menulis cerpen, kaligrafi bahasa Arab, dan drama budaya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diasah keterampilan berbahasanya, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai kesopanan, keindahan tutur kata, dan penghormatan terhadap keragaman bahasa daerah. Nilai-nilai ajaran budaya bahasa seperti unggah-ungguh, etika berbicara, dan pemilihan diksi yang santun menjadi bagian penting dari setiap kegiatan yang diselenggarakan selama Bulan Bahasa berlangsung.

Menurut salah satu guru bahasa Indonesia di MTs Negeri 2 Pemalang, kegiatan Bulan Bahasa bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana pendidikan karakter berbasis budaya bahasa. Ia menegaskan bahwa bahasa adalah cerminan akhlak seseorang. Karena itu, para siswa diajak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun, beradab, dan menghargailawanbicara, baikdalamlingkungansekolahmaupun di media sosial. Nilai-nilai ajaran budaya seperti unggah-ungguh dalambertutur, memilih kata yang tepat, dan menjaga sopan santun menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan. Hal ini sejalan dengan semangat literasi madrasah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia, cakap berkomunikasi, dan bertanggung jawab secara linguistik di era digital.

Baca juga: Pentingnya Pendidikan dan Sosial dalam Mengadvokasi Moderasi Beragama

Pelestarian budaya bahasa menjadi semakin penting karena bahasa merupakan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika generasi muda mulai kehilangan kesadaran akan pentingnya bahasa yang santun dan berbudaya, maka lambat laun jati diri bangsa pun ikut tergerus. Oleh sebab itu, kegiatan literasi dan kebahasaan di sekolah harus terus dikembangkan dengan pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia digital. Melalui kolaborasi antara guru, siswa, dan lingkungan sekolah, MTs Negeri 2 Pemalang berkomitmen menjaga bahasa Indonesia tetap hidup, berkembang, dan digunakan secara bermartabat di setiap ruang komunikasi, baik daring maupun luring.

Kegiatan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang mendapat apresiasi positif dari siswa dan guru karena dinilai mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia dan budaya sendiri. Selain menumbuhkan semangat literasi, acara ini juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah tantangan globalisasi. Dengan menggabungkan nilai-nilai budaya bahasa, kreativitas, dan kecakapan digital, sekolah berupaya menyiapkan generasi Alpha yang berkarakter, berwawasan luas, dan tetap menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai lambang persatuan. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang membuktikan bahwa pelestarian budaya bahasa bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan gerakan pendidikan berkelanjutan untuk menjaga martabat bahasa dan budaya bangsa di masa depan. Dengan demikian, pelestarian budaya bahasa bukan hanya sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan kebanggaan nasional dan kesadaran literasi. Hal ini relevan dengan teorinya Gloriani (2023) dan Olaare (2024), yang menyatakan bahwa pelestarian bahasa hanya dapat berhasil jika diintegrasikan secara berkelanjutan dalam kurikulum dan tidak sekadar menjadi perayaan temporer. Dengan menjaga budaya bahasa, kita sesungguhnya sedang menjaga keutuhan bangsa dan memperkokoh identitas Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.

Membersamai Si Kecil dengan Keteladanan di Era Digital

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Muslimah

Rutinitas orang tua seperti bekerja, mengejar target untuk karir dan ekonomi keluarga, serta menyelesaikan kewajiban, terkadang membuat sebagian orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, tanpa disadari ada sosok-sosok kecil yang setiap hari memperhatikan, meniru, dan memahami perilaku yang terkadang tidak diberitahu apakah itu baik atau buruk. Sedangkan orang tua dalam hal ini memiliki peran besar dalam mengarahkan si Kecil yang kelak akan tumbuh menjadi khalifah di bumi.

Baca juga: Kode Etik vs Kode Program: Menjembatani Prinsip Al-Qur’an dan Dilema Kecerdasan Buatan

Situasi lain yang juga terkadang dijumpai bahwa orang tua hanya terlalu fokus pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis, seperti ranking kelas, sertifikat lomba, atau seberapa cepat mereka bisa mengoperasikan gadget. Sedangkan aspek yang terkadang dilupakan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mendidik anak-anak di sekitarnya untuk cerdas, tetapi juga lembut hati, jujur, dan penuh kasih. Beliau mencontohkan pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sederhana saja, seperti menurunkan badan ketika berbicara dengan anak kecil, memanggil dengan panggilan yang baik sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak, bahkan mengajarkan doa-doa yang sederhana namun penuh makna. Sehingga perlu menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan sejati bukan hanya untuk mencetak “anak pintar”, tetapi “anak beradab”.

Terlebih di era digital, anak-anak lebih mudah menemukan tokoh panutan melalui layar ketimbang dalam kehidupan nyata. Mereka meniru apa yang viral, bukan apa yang benar. Padahal dalam Islam, keteladanan hidup (uswah) lebih kuat dari sekadar nasihat panjang. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua, karena banyak penelitian membuktikan bahwa wujud teknologi di era digital yang salah satunya adalah gadget, dapat memberikan dampak negatif jika tanpa pengawasan dari orang tua dan apabila hanya dimanfaatkan untuk hiburan semata. Penelitian terbaru di sebuah desa menunjukkan bahwa 41,2% penggunaan gadget dapat mempengaruhi etika anak dalam berkomunikasi dengan orang tua dan teman. Melihat fenomena ini, orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas yang menuntut kesempurnaan, tetapi sebagai pelindung dan penuntun yang hadir secara utuh. Sebab, anak akan belajar tentang kasih sayang dan etika melalui komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungannya. Mereka juga akan belajar tentang amanah melalui kejujuran yang diajarkan oleh orang tuanya, bahkan mereka juga belajar tentang Allah melalui cara orang tuanya dalam beribadah dan bersyukur, bukan hanya melalui perintah lisan.

Langkah-langkah demikian dapat menjadi upaya untuk meninjau ulang lingkungan tumbuh anak-anak yang orang tua bangun di keluarganya. Karena ironi yang seringkali nampak adalah, banyak dari orang tua ingin anaknya saleh dan memiliki adab, tapi terkadang mereka melihat orang tuanya mencaci orang lain di jalan, atau melihat temannya berkata kotor di sekolah. Selain itu, ketika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, namun anak-anaknya jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan sekadar instruksi, tetapi ia adalah cermin yang akan membentuk karakter anak-anak. Jika orang tua memahami ini, maka mereka bukan hanya akan membentuk anaknya menjadi versi ideal menurut standar dunia, tetapi pasti akan membersamai anaknya untuk tumbuh menjadi insan yang mengenal Tuhannya dan memiliki akhlak yang mulia. Karena ketika anak-anak dapat tumbuh menjadi khalifah yang cerdas dan beradab, bukan hanya keluarga yang bangga, tetapi bumi pun akan bernafas lebih lega.

 

Ibu: Pejuang Tanpa Pedang, Pahlawan Tanpa Panggung

Penulis: Intan Diana Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Jika ada pertanyaan tentang siapa makhluk paling kuat di dunia ini, jawabannya bukanlah pahlawan super dalam komik, bukan atlet beladiri, bukan pula mereka yang sanggup bekerja siang malam tanpa lelah. Makhluk paling kuat itu adalah… Ibu.

Terkadang, Allah memberikan bukti nyata akan kekuatan itu, bukti yang membuat kita merinding, merenung, hingga menangis penuh syukur. Salah satunya tecermin dalam kisah perjuangan seorang ibu yang nyawanya benar-benar dipertaruhkan saat melahirkan. Sebuah kondisi langka membuatnya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Ia harus menempuh perjalanan medis yang panjang: operasi besar, peralatan canggih yang menopang tubuh, koma, hingga akhirnya harus merelakan sebagian tubuhnya diamputasi.

Namun, tahukah apa yang membuat situasi pelik itu tetap terasa hangat? Cinta seorang ibu yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya terbaring lemah tak berdaya.

Cinta yang Tak Pernah Takut Terluka

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa proses melahirkan bukan sekadar momen “bayi lahir lalu semua bahagia”. Di balik tangisan pertama bayi, ada rasa sakit luar biasa yang sering digambarkan setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan. Ada ketegangan yang memuncak, ada doa yang dipanjatkan sembari menahan perih, dan ada keberanian yang mungkin tak sanggup ditanggung oleh lelaki terkuat sekalipun.

Dalam kisah nyata ini, sang ibu memasuki ruang bersalin dengan harapan sederhana: melahirkan anak ketiganya dengan selamat. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya mendadak menurun drastis (drop), napas melemah, dan jantung nyaris berhenti berdetak. Dalam hitungan menit, seluruh tim medis harus bergerak cepat demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus.

Alhamdulillah, bayinya selamat. Namun, sang ibu harus berjuang melawan badai komplikasi yang sangat langka. Setelah melewati masa kritis pascaoperasi, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan salah satu kakinya. Ini bukan kesalahan siapa pun, melainkan kerasnya skenario perjuangan hidup yang Allah bentangkan untuknya.

Luka itu menyakitkan, tentu saja. Namun, justru dari luka-luka itulah kekuatan seorang ibu memancar. Ia tetap ingin hidup. Ia tetap ingin bangkit. Ia tetap ingin memeluk anaknya.

Islam dan Kemuliaan Seorang Ibu

Jika kita menelaah Al-Qur’an, Allah seakan tak pernah bosan mengangkat derajat kemuliaan seorang ibu. Bahkan ketika Allah melukiskan perjuangan ibu, kata yang digunakan bukanlah kata-kata manis, melainkan kata yang jujur, keras, dan mendalam:

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqmān: 14)

Bayangkan, Allah menegaskan bahwa ibu adalah pejuang. Bukan sekadar lemah, tetapi “lemah yang bertambah-tambah”. Meski begitu, mereka tetap melangkah. Tetap maju. Tetap menggendong harapan.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Siapa orang yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu.” “Lalu siapa?” “Ibumu.” Baru kemudian, “Ayahmu.”

Tiga kali. Bukan sekali. Seolah Rasulullah ingin memastikan: “Wahai manusia, jangan main-main dengan kemuliaan seorang ibu.”

Melihat kisah nyata ini, kita menjadi makin paham mengapa Islam begitu memuliakan wanita. Perjuangan mereka bukan sekadar teori. Nyata. Berdarah-darah. Ada air mata, ada taruhan nyawa, dan ada cinta tulus yang tak pernah menuntut balas.

Ketika Pengorbanan Mengubah Cara Kita Memandang Ibu

Hal yang paling menyentuh dari kisah ini adalah bagaimana “lingkaran cinta” Allah bekerja. Mulai dari dokter yang sigap, keluarga yang menangis dalam doa, teman-teman yang setia menjaga, hingga orang-orang yang membantu tanpa diminta. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.

Dan sang ibu sendiri… meski kehilangan satu bagian tubuhnya, ia tidak kehilangan harapan. Ia belajar berdiri lagi. Belajar berjalan lagi. Semangatnya tumbuh bak cahaya kecil yang kian lama kian terang.

Dalam Islam, ada satu janji Allah yang sering kita dengar:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji pasti. Ibu dalam kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memberikan ujian besar pada bahu yang meski terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kokoh.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kisah ini mengajarkan kita banyak hal penting:

  1. Jangan pernah meremehkan pengorbanan ibu. Terkadang kita sibuk dan abai, merasa “Ah, Ibu kan kuat.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit apa yang telah ia lalui demi menghadirkan kita di dunia.

  2. Ujian hidup bukan akhir, melainkan awal babak baru. Kehilangan fisik mungkin memperlambat langkah kaki, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan langkah hati.

  3. Kasih ibu adalah bentuk cinta Allah di bumi. Itulah sebabnya rasanya selalu hangat, selalu sabar, dan selalu memaafkan.

Peluklah Ibu Selagi Bisa

Kita sering lupa bahwa setiap kali ada manusia lahir, ada seorang ibu yang bertarung nyawa demi membuka pintu dunia untuk anaknya. Kita hidup karena ia rela sakit. Kita tumbuh karena ia rela lelah. Maka, jika hari ini ibumu masih ada: Peluk dia. Cium tangannya. Ucapkan terima kasih.

Karena di balik setiap napas yang kita hirup hari ini, ada doa dan perjuangan seorang ibu yang mungkin tak terlihat mata, namun tak pernah berhenti mengalir sepanjang hidup kita.

Serabi Likuran: Dari Tradisi Ramadhan Menuju Pendidikan Multikultural di Desa Penggarit

Penulis: Ulul Albab, editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Indonesia dikenal sebagai negeri dengan sejuta budaya yang membentuk jati diri bangsa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki tradisi yang tak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan nilai pendidikan dan moralitas. Salah satunya adalah tradisi Serabi Likuran di Desa Penggarit, Pemalang, Jawa Tengah sebuah tradisi turun-temurun yang dihidupkan kembali sebagai bentuk literasi budaya dan penguatan karakter masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan membuat dan menikmati serabi di malam-malam ganjil Ramadhan, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan religiusitas di tengah masyarakat yang majemuk (Faisal, 2021).

Fenomena lunturnya karakter positif generasi muda akibat arus globalisasi telah menjadi kekhawatiran banyak pihak. Generasi muda kini mudah terpengaruh budaya asing yang tidak selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa, seperti gaya hidup individualistik dan konsumtif (Ekorantt.com, 2023). Padahal, budaya lokal seperti Serabi Likuran sesungguhnya dapat menjadi pendidikan karakter alternatif yang mengajarkan rasa hormat, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Dalam konteks pendidikan multikultural, tradisi ini mampu mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tua-muda, kaya-miskin, bahkan antaragama dalam satu ruang kebersamaan yang harmonis. Di sinilah nilai-nilai pendidikan multikultural tumbuh secara alami dan kontekstual (Liputan6.com, 2022).

Tradisi Serabi Likuran telah menjadi simbol solidaritas sosial dan spiritual. Setiap tahun, menjelang sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, masyarakat Desa Penggarit berkumpul di sepanjang Jalan R. Sudibyo untuk memasak dan membagikan serabi. Prosesi ini dimulai sejak sore hari hingga menjelang waktu berbuka. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi dan bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan (Afrillia, 2022). Menurut Imam Wibowo, Kepala Desa Penggarit, kegiatan ini juga menjadi identitas budaya lokal yang memperkuat semangat kebersamaan dan mempererat hubungan sosial warga desa (G-News, 2023). Di tengah modernisasi yang kian menggerus tradisi, kehadiran Serabi Likuran menjadi wujud nyata pendidikan berbasis budaya yang memupuk rasa cinta terhadap warisan leluhur (Rokhim, 2024).

Baca juga: Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Lebih dari sekadar festival kuliner, Serabi Likuran juga mengandung nilai-nilai religius yang kuat. Tradisi ini dilaksanakan bertepatan dengan malam-malam Likuran, yang diyakini sebagai momen turunnya Lailatul Qadar. Masyarakat menjalankan kegiatan sosial dan spiritual secara bersamaan membuat serabi sambil menunggu berbuka, berdzikir, serta berdoa bersama. Aktivitas ini memperdalam rasa syukur dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT (Bernardi, 2022). Dalam pandangan Putra (2017), tradisi seperti ini mencerminkan taqarrub ila Allah, yakni bentuk kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Melalui kebersamaan religius seperti ini, masyarakat Desa Penggarit berhasil menghadirkan suasana Ramadhan yang hangat dan penuh makna, tanpa harus meninggalkan unsur kebudayaan lokal.

Nilai moral juga tampak nyata dalam pelaksanaan Serabi Likuran. Interaksi antara pedagang sepuh dan pembeli muda mencerminkan sikap saling menghormati dan kejujuran. Mereka berbicara dengan bahasa halus, menunjukkan sopan santun, dan menempatkan diri dengan rendah hati. Tradisi ini menanamkan prinsip andhap asor, yaitu kesopanan dan kerendahan hati dalam bermasyarakat. Melalui kegiatan ini, anak-anak dan remaja belajar pentingnya menghormati yang tua serta menjaga adab dalam berinteraksi. Nilai-nilai moral yang hidup dalam tradisi ini menjadi modal sosial yang penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter (Astuti, 2017; Dirgantara, 2021).

Selain itu, semangat gotong royong menjadi jiwa utama dalam tradisi ini. Dari menyiapkan bahan, membuat adonan serabi, hingga menata meja jualan, semua dilakukan secara bersama-sama tanpa pamrih. Proses jual beli pun menggunakan “uang klithik” dari kayu sebagai alat tukar simbolik, menandakan kesetaraan dan solidaritas warga (Pemkab Pemalang, 2021). Keikutsertaan anak-anak, remaja, hingga lansia menunjukkan bahwa Serabi Likuran menjadi ruang lintas generasi untuk belajar bekerja sama, berbagi, dan saling membantu. Nilai gotong royong yang tertanam dalam tradisi ini sejatinya merupakan inti dari pendidikan multikultural—membentuk masyarakat yang saling mendukung dan menghargai perbedaan (Halo Semarang, 2021).

Baca juga: Nguri-Uri Budaya, Tradisi Baritan di Kanoman I Kembali Digelar

Yang tak kalah penting, Serabi Likuran juga menjadi wadah toleransi sosial dan budaya. Acara ini diikuti oleh warga dari berbagai latar belakang tanpa memandang status sosial maupun agama. Semua berkumpul dalam suasana damai dan penuh keakraban. Melalui tradisi ini, masyarakat belajar menghargai perbedaan dan mengedepankan harmoni dalam keberagaman (Sukarno, 2021). Tradisi ini membuktikan bahwa pendidikan multikultural tidak selalu harus dibangun melalui kurikulum formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang budaya lokal yang hidup dan berakar di masyarakat. Dengan menjaga dan mengembangkan tradisi seperti Serabi Likuran, generasi muda tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi fondasi kehidupan bangsa yang rukun dan beradab.

Referensi

Afrillia, D. (2022). Serabi Likuran, Tradisi Warga Desa Penggarit Sambut Malam Lailatulqadar. Good News From Indonesia.

Astuti, A. Y. (2017). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Degradasi Moral Remaja Dalam Perspektif Islam. IAIN Metro.

Bernardi, R. (2022). Serabi Likuran, Tradisi Unik Berbagi Makanan di Pengujung Ramadan. Detik Jateng.

Dirgantara, Y. (2021). Fanatisme Budaya Barat dan Dampak Degradasi Moral. Duta Damai Yogyakarta.

Ekorantt.com. (2023). Wabah Westernisasi di Kalangan Muda-mudi.

Faisal. (2021). Serabi Likuran, Tradisi di Desa Penggarit Pemalang yang Sempat Hilang Kini Dibangkitkan Lagi. Puskapik Pantura.

G-News. (2023). Lestarikan Budaya Lokal Penggarit, Imam Wibowo Gelar Tradisi Serabi Likuran.

Halo Semarang. (2021). Lestarikan Tradisi, Desa Penggarit Gelar Pasar Serabi Likuran.

Liputan6.com. (2022). Westernisasi adalah Peniruan Budaya Barat, Ketahui Penyebab dan Dampaknya.

Pemkab Pemalang. (2021). Serabi Likuran Tradisi Unik Desa Penggarit Sambut Lailatul Qadar.

Putra, A. (2017). Tradisi Keagamaan dan Nilai Religius dalam Perspektif Islam.

Rokhim. (2024). Srabi Likuran Tradisi Turun Temurun di Penggarit.

Sukarno, S. (2021). Tradisi Likuran di Pemalang, Membangun Keharmonisan Masyarakat lewat Serabi. iNews.id.

Ngaji Kitab Kuning dan Edukasi Seksual di Pesantren: Saatnya Santri Melek Ilmu Reproduksi

Penulis : Intan Diana Fitriyani, Editor : Amarul Hakim

Ketika berbicara soal pesantren, masyarakat sering membayangkan tempat yang hanya fokus pada kajian kitab kuning, fikih, tafsir, dan tasawuf. Padahal, sejak era kolonial hingga kini, pesantren memegang peran penting sebagai pusat transformasi sosial dan penjaga moral umat. Sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga agen pembaharu masyarakat.

Di era digital dan globalisasi, tantangan baru muncul—salah satunya terkait pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di lingkungan pesantren. Tema ini sering dianggap tabu, padahal realitas sosial menunjukkan bahwa santri sangat membutuhkan pemahaman yang benar, ilmiah, dan berbasis nilai Islam. Apalagi, kitab kuning sendiri sejatinya telah membahas isu-isu seputar tubuh, akil baligh, haid, pernikahan, dan relasi suami-istri sebagai bagian dari syariat.

Tabu yang Masih Mengakar di Pesantren

Di banyak pesantren, pembahasan mengenai seksualitas masih dianggap tidak pantas. Dampaknya, pengetahuan santri mengenai kesehatan reproduksi sangat terbatas. Banyak santri mengetahui hukum-hukum fikih seputar mandi wajib, haid, atau ihtilam, tetapi belum memahami aspek kesehatannya secara holistik—baik secara biologis, psikologis, maupun sosial.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Padahal, WHO (2023) mendefinisikan kesehatan reproduksi bukan hanya sehat secara biologis, tetapi juga sejahtera mental, sosial, dan spiritual. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang menjunjung maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) dan ḥifẓ al-nasl (menjaga keturunan).

Sayangnya, minimnya ruang aman untuk berdiskusi menyebabkan santri lebih banyak mencari informasi dari internet tanpa pendampingan guru. Survei Komnas Perempuan (2022) menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan meningkat 15% per tahun, termasuk di lembaga berbasis keagamaan. Selain itu, studi BKKBN (2023) mencatat bahwa 1 dari 5 remaja Indonesia memiliki pemahaman keliru tentang menstruasi, mimpi basah, dan kesehatan reproduksi dasar.

Jika pesantren tidak hadir memberikan literasi yang benar, maka santri akan belajar dari sumber yang salah.

Kitab Kuning: Sumber Ilmu yang Harus Dikonstekstualisasi

Bicara tentang seksualitas bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam. Justru, kitab kuning memberikan landasan penting bagi penyusunan modul edukasi seksual berbasis pesantren.

Baca juga : Kulturnya Dianggap Kolot, Hormatnya Disebut Feodal: Segampang itukah Media Menghakimi Pesantren?

Beberapa rujukan kitab kuning yang menyinggung persoalan reproduksi, di antaranya:
  • Kitab Topik Reproduksi & Seksualitas
  • Uqūd al-Lujjayn Etika relasi suami-istri
  • Hāsyiyah al-Bājūrī & al-Bujayramī Pubertas, haid, ihtilam, mandi wajib
  • Kifāyatul Akhyār Nikah, hak dan kewajiban seksual
  • Ihyā’ Ulūmiddīn Adab menjaga kesucian diri dan nafsu

Namun, konteks sosial saat kitab ini ditulis berbeda dengan tantangan santri hari ini. Karena itu, perlu pendekatan hermeneutika pesantren—yakni membaca teks klasik secara kontekstual agar tetap relevan dengan realitas kesehatan modern.

Dalam Pesantren Studies, Ahmad Baso menyebut bahwa pesantren memiliki tradisi turats yang dinamis—yakni mentransformasikan teks klasik menjadi solusi kontekstual. Artinya, bicara kesehatan reproduksi bukan westernisasi, tapi bagian dari ngaji dan ‘amal.

Mengapa Santri Harus Melek Edukasi Seksual?
Ada tiga alasan mendasar:
  • Perlindungan Diri dan Pencegahan Kekerasan Seksual. Santri perlu tahu batas aurat, consent, dan adab pergaulan sesuai Islam. Edukasi seksual justru memperkuat akhlak dan kehormatan (ḥifẓ al-‘irdl).

  • Mempersiapkan Generasi Keluarga Sakinah. Suatu saat santri akan menjadi orang tua, pendidik, atau tokoh masyarakat. Pemahaman sejak dini akan mencegah kekerasan dalam rumah tangga, toxic marriage, dan ketidakharmonisan yang bersumber dari ketidaktahuan.

  • Perintah Agama untuk Menuntut Ilmu. Nabi SAW bersabda: “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim wa muslimah.” Termasuk ilmu menjaga kesehatan dan kehormatan diri.

Integrasi Ilmu Medis, Fikih, dan Sosial: Model Pendidikan Seksual Pesantren

Baca juga : Pendampingan SOP PPKS oleh PSGA LP2M, Membangun Pesantren Bebas Kekerasan Seksual

Jika pesantren ingin maju, pendekatan integratif harus dilakukan. Ada tiga pilar:

  • Medis – Dokter memberikan edukasi ilmiah tentang pubertas, organ reproduksi, menstruasi sehat, dan pencegahan penyakit.

  • Fikih – Kiai atau ustaz memberikan dasar hukum syariah agar edukasi tidak lepas dari adab dan aqidah.

  • Sosial – Pendekatan psikologi remaja, gender, dan perlindungan anak untuk membangun kesadaran etis.

Model integrasi ini sejalan dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, sehingga tidak bertentangan dengan agama—justru memperkuatnya.

Langkah-Langkah Strategis untuk Pesantren
Beberapa strategi yang bisa dilakukan pesantren antara lain:
  • Membuat kurikulum fiqih kesehatan reproduksi berbasis kitab kuning
  • Membentuk tim pendampingan tarbiyah jinsiyah yang aman dan beretika
  • Mengadakan kelas diskusi terpisah berdasarkan usia dan gender
  • Memanfaatkan media digital seperti video, podcast, dan Q&A anonim
  • Melibatkan dokter, psikolog, dan alumni kompeten sebagai pemateri

Cara ini telah diterapkan oleh beberapa pesantren modern di Jawa dan Madura dengan hasil signifikan: peningkatan literasi reproduksi mencapai 72% (Studi Rumah Kitab & Rutgers Indonesia, 2021).

Pesantren sejak dulu menjadi benteng akhlak, maka sangat pantas jika menjadi pelopor edukasi seksual yang bermartabat. Mengajarkan kesehatan reproduksi bukanlah membuka aib atau mendahulukan syahwat—melainkan bagian dari menjaga martabat manusia, sebagaimana Islam ajarkan.

Santri yang paham agama sekaligus melek kesehatan reproduksi akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh: berilmu, berakhlaq, dan siap menjadi pemimpin umat di masa depan.

Penulis : Intan Diana Fitriyani, M.Ag sebagai Dewan pengasuh pp. Al Masyhad Manbaul falah walisampang pekalongan

Menanam Harapan, Menumbuhkan Ekoteologi, LP2M UIN Gus Dur Bersama Desa Linggoasri Tanam 1.000 Bibit Kopi di Tanah Wakaf

Pekalongan, 5 November 2025 – Dalam upaya mewujudkan sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis ekoteologi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan kegiatan penanaman 1.000 bibit kopi di tanah wakaf Desa Linggoasri, Kabupaten Pekalongan, pada Rabu (5/11).

Kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan basmallah, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari para tamu kehormatan. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua LP2M UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Moh. Sugeng Sholehuddin, M.Ag.; Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, Syamsul Bakhri, M.Sos.; Sekretaris Desa, Taswono; Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan, Mustajirin; para kepala dusun, RT, RW, kelompok tani, serta mahasiswa KKN UIN Gus Dur Kelompok 8 Angkatan 63.

Dalam sambutannya, Prof. Sugeng menekankan pentingnya menanamkan nilai ekoteologi dalam setiap aktivitas pengabdian masyarakat.

“Menanam kopi di tanah wakaf ini bukan sekadar penghijauan, tetapi juga wujud ibadah sosial yang berkelanjutan. Melalui ekoteologi, kita diajak untuk memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga amanah Allah S.W.T,” ujarnya.

Baca juga : Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Sementara itu, Sekretaris Desa Linggoasri, Taswono, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara LP2M dan masyarakat desa.

“Kami berterima kasih kepada LP2M UIN Gus Dur dan mahasiswa KKN Kelompok 8 yang telah membantu masyarakat kami mengoptimalkan tanah wakaf agar lebih produktif. Semoga kegiatan ini memberi manfaat ekonomi sekaligus menguatkan kesadaran lingkungan,” ungkapnya.

Salah satu mahasiswa KKN, Afif Firdaus, juga mengungkapkan kesannya selama mengikuti kegiatan ini.

“Kami belajar bahwa ekoteologi tidak berhenti pada teori. Saat menanam kopi bersama masyarakat, kami merasakan langsung makna menjaga bumi sebagai bentuk ibadah. Kopi ini akan tumbuh menjadi simbol kerukunan, keberlanjutan dan kebersamaan,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit kopi kepada Sekretaris Desa, do’a penutup oleh Kyai Mustajirin, dan diakhiri dengan kegiatan penanaman bersama 1.000 bibit kopi di tanah wakaf Desa Linggoasri dari jam 09.00-13.00 W.I.B. Setiap tamu undangan turut menanam sekitar 20 bibit pohon kopi sebagai wujud partisipasi aktif dalam gerakan penghijauan.

Baca juga : Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Melalui kegiatan ini, LP2M UIN Gus Dur Pekalongan berkomitmen menjadikan program KKN Tematik Ekoteologi dan Pertanahan sebagai langkah nyata membangun kesadaran ekologis dan spiritual masyarakat. Desa Linggoasri Selain sebagai kampung moderasi beragama jg diharapkan dapat berkembang menjadi “Desa Ekoteologis Berbasis Wakaf”, yang mengintegrasikan nilai keagamaan, ekologi, dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Kiai Nur Khalik dan Produktivitas Menulis

Penulis : M Fatih Qosdana, Editor : Amarul Hakim

Sore itu sekitar pukul setengah lima kami sampai di rumah Kiai Nur Khalik Ridwan, Kiai yang enggan di sapa Kiai, “Kalau saya K-nya itu Kang bukan Kiai, sebab lebih muda dari Kiai Jadul Maula yang lebih senior dari saya, sudah haji pula,” kelekarnya. “Berarti kita doakan sama-sama semoga sebentar lagi naik haji.” Tandas Kiai Jadul Maula yang diamini seketika oleh santri-santri dan audiens pada saat itu (29/04/25) dalam perjumpaan bedah buku, “Waringin Sungsang Jawa” yang diadakan oleh Ngaji Dewaruci dibawah naungan Ponpes Budaya Kaliopak Yogyakarta, di asuh KH. Jadul Maula sekaligus ketua LESBUMI NU setelah KH. Agus Sunyoto.

Kiai Nur Khalik, Kiai yang menganut paham Malamatiyah, tarekat yang mengedepankan kebersahajaan ditengah-tengah masyarakat disertai dengan sikap andap ashor, tawadhu, dan mengikis terus-menerus kesombongan yang ada dalam diri. Setiba kami dirumah beliau, tampak dari depan rumah Kiai Nur Khalik berdindingkan joglo yang dihiasi ornamen ukiran kriya seni jawa, dipedesaan asri yang masih terdengar cuitan burung dikala senja bergantikan malam. Tepat sesaat setelah kami parkirkan motor dihalaman rumah, beliau hengkang berdiri dari tempat duduk didepan laptop yang bersikan kalimat demi kalimat yang tersusun rapi memberikan manfaat, adalah ilmu. Ilmu yang Allah ajarkan pada Nabi Adam melalui nama-nama-Nya yang pusatnya adalah Nur Muhammad.

Hampir dan bahkan semua orang yang berkunjung dan bersilaturahmi kepada beliau, dijumpainya Kiai Nur Khalik sedang mengetik, menulis buku, dan menghasilkan karya. Inilah rutinitas yang dilakukan beliau setiap hari sejak pagi, siang, sore, hingga malam hari. Kecintaannya terhadap ilmu tidak hanya dibuktikan dengan perpustakaan pribadi yang berisikan berbagai koleksi buku-buku akan tetapi karya-karya beliau yang hampir dan bahkan lebih dari lima puluh buku diusianya yang sudah tidak muda lagi.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Kiai Nur Khalik menyambut kami dan mempersilahkan duduk diruang tamunya, dengan segala ubo rampen dan makanan ringan, “silahkan dibuka, jangan sungkan-sungkan, dipaceti (dimakan, dicicipi) tak tinggal sek, delot,” kata beliau, masuk kedalam rumahnya. Tak lama kemudian dua gelas kopi hitam dibawakannya kepada kami; panas, hitam membaur menjadi satu dalam gelas berukir. Kopi hitam, laksana sufi yang ditempatkan, berbaur dimanapun akan menyesuaikan tempatnya, tanpa menghilangkan esensinya, terus menerus bersama Tuhannya.

Tepat berada didepan kami, diatap dinding rumah yang yang berukir, bertempelkan tuliskan, “NDiko Publishing-Joglo Kesengsem”. Dengan logo, awak telu ndas siji – awak telu sirah sanunggal berbentuk ikan. Sebagaimana lambang kacirebonan dan ilustrasi daripada ajaran Tarekat Syattariyah yang bermakna, ora pecah (kebersatuan), baik antara adam (manusia), Muhammad (syariat), dan Allah. Antara jasad, ruh, dan Allah maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat, dan af’al. Atau bisa diartikan dengan wihdatul wujud sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Babon Petarekatan.

“Baru selesai kuliah?” kata beliau kepada kami, “mboten yai habis selesai ngopi ini, diwarkop.” Jawab kami pada beliau. “Temanmu, den?” “nggeh, yai, alumni Ma’had Aly piyambake,” “Nggeh, yai; alumni Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin asuhan KH. Luqman Hakim.” Jawabku pada beliau. “Saya dulu pernah bertemu Kiai Luqman Hakim sewaktu di UII sewaktu memanggil beliau sebagai pembicara, jurusannya apa disana?” tanya Kiai Nur Khalik kepadaku, “tasawuf, yai,” kataku. “sudah ngajuin judul tesis?” “sampun, yai; kemarin pakai konsep tajrid dan asbab Ibn Athaillah ditinjau menggunakan pemikiran Ibn Ajibah tapi dereng ditampi.”

“Sekarang lagi pakai syatahat sufi ditinjau dari dekonstruksi Derrida,” sambungku. “Seharusnya pakai hermeneutika, bukan dekonstruksi Derrida karena syatahat itu memang bukan kehendak sufi itu sendiri, itu kehendak Allah dan sang sufi tidak kuat untuk mengendalikannya sehingga keluarlah kalimat-kalimat yang seakan menyalahi aturan syariat, sehingga terjadilah perbedaan satu sama lain; karenanya paling pasnya itu saya kira pakai hermeneutika, tapi dicoba saja pakai Derrida barangkali bisa.” Imbuhnya meyakinkanku. “atau bisa juga syatahat sebagai etika publik, sebab telah menggoncangkan tatanan dunia, iya kan?, bagaimana ada sesuatu yang telah disepakati kemudian digoncangkan oleh sesuatu yang lain.”

“Syatahat itukan manifestasi asma-asma Allah yang terimplementasikan dalam ucapan seorang sufi tersebut, sehingga keluarlah nama Allah assubbuh, alquddus, alhannan, dan yang lainnya; sesuai yang ada dalam diri sufi cocoknya apa, dalam diri ini ya keluar ini; seperti subhaani-nya Abu Yazid al-Bustami.” “Abu Yazid itukan tokoh agung yang kemudian dari keturunannya (nasab bil’ilmi) turunlah Syekh Allaudaulah al-Simnani dari Tarekat Kubrawi, konon disebutkan dalam al-Risalah al-Ghautsiyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, suatu ketika Allaudaulah al-Simnani juga layaknya Abu Yazid al-Bustami hanya saja dengan kalimat dan tampilan syatahat yang berbeda.”

Atau bisa juga kemudian menggunakan Malamatiyah sebagai etika publik, sebab malamatiyah itukan memendam dirinya (self-criticism dan self-blance) guna kedekatan kepada Tuhannya, seperti kata Ibn Athaillah, “idfin wujudaka fi ardzilhumuul famanabata mimma lamyudfan layatimmu nitaajuhu” pendamlah reputasi dan ambisimu pada tanah kerendahan, sebab segala yang tumbuh dan bermekaran tanpa ditanam takkan sempurna hasilnya. Sedangkan banyak sekarang orang-orang mencari popularitas akan tetapi kehilangan eksistensinya. Lalu beliau Kiai Nur Khalik bertanya, “asalmu mana, mas?” “pekalongan, yai,” “saya itu dulu pernah dipanggil ke pekalongan, ke UIN,” tandasnya.

“Aku itu tipikal orang yang gak mau berpindah pembahasan sebelum yang ini (sedang ditulis) selesai, barat itu tatanan perjalanannya lumayan runyam dari hindu, sehingga seperti sekarang ini, karenanya dibutuhkan kerja ekstra untuk menelitinya.” Jawaban Kiai Nur Khalik, saat kami tanya kiat agar senang menulis. Begitu juga amaliyah, ketika kalian masih dalam fase belajar tugas kalian adalah belajar, mendalami dengan benar ilmu-ilmu tersebut. Barangkali seperti inilah rasa para pecinta ilmu yang menghidupkan hari-harinya, dicurahkan untuk ilmu. Bagaimana tidak, setelah kemarin menerbitkan buku, “Waringin Sungsang Jawa” kini berkutit dan berfokus pada pemikiran tantanan barat. “Wallahu a’lam.”  

Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Penulis : Nadhifatuz Zulfa, Editor : Amarul Hakim

Tayangan Expose Uncensored di Trans 7 pada Senin, 13 Oktober 2025 lalu, memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama komunitas pesantren. Dalam tayangan itu, beberapa tradisi pesantren seperti cara bersalaman santri dengan kiai, pemberian amplop, dan kegiatan kerja bakti (roan) ditampilkan dengan narasi yang menimbulkan kesan negatif.

Sayangnya, framing yang diambil tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan spiritual di balik tradisi tersebut. Padahal, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan tempat pembentukan karakter, adab, dan kebersamaan yang menjadi fondasi penting bagi kehidupan bangsa.

Salaman Ala Pesantren: Tanda Cinta dan Penghormatan, Bukan Eksploitasi

Adegan santri yang menunduk ketika bersalaman dengan kiai menjadi salah satu sorotan utama. Tayangan itu memaknainya sebagai bentuk ketundukan berlebihan, seolah santri kehilangan martabat. Padahal, bagi masyarakat pesantren, menundukkan badan bukan bentuk perendahan diri, melainkan simbol cinta, penghormatan, dan pengakuan atas keilmuan seorang guru.

Baca juga : Parodi Gus dan Habib di Media Sosial: Antara Kritik Sosial dan Etika Keagamaan

Tradisi ini berakar dari budaya Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh (tatakrama). Dalam pandangan Islam, menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Maka gerakan menunduk bisa dipahami sebagai bentuk pelatihan perilaku sopan santun — behavioral shaping — yang menumbuhkan sikap rendah hati.

Setiap pesantren memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa hormat terhadap guru. Ada yang menunduk, ada yang hanya mencium tangan. Semuanya lahir dari tradisi yang berbeda-beda, dipengaruhi adat istiadat dan budaya daerah setempat, namun memiliki semangat yang sama: membangun hubungan spiritual antara murid dan guru. Karena itu, tidak sepatutnya seseorang mencela tradisi tertentu hanya karena berbeda dengan kebiasaan di tempat lain.

Budaya Amplop: Ekspresi Kasih Sayang, Bukan Upaya Memperkaya Kiai

Tayangan tersebut juga menyoroti budaya memberi amplop kepada kiai saat bersalaman, dengan insinuasi bahwa praktik itu memperkaya kiai. Pandangan ini jelas menyederhanakan realitas pesantren yang sangat kompleks dan penuh nilai keikhlasan.

Dalam tradisi pesantren, pemberian amplop bukan transaksi ekonomi, melainkan ekspresi kasih sayang dan bentuk penghormatan santri kepada gurunya. Kiai tidak pernah meminta, dan santri tidak diwajibkan memberi amplop yang berisi uang. Amplop diberikan dengan kerelaan hati, sering kali sebagai bentuk tabarruk — mencari keberkahan dari guru yang mengajarkan ilmu dengan Ikhlas, dan ungkapan kasih sayang dan rasa terimakasih dari santri kepada sang murobbi-nya.

Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Perlu dipahami pula bahwa banyak pesantren menetapkan biaya yang sangat terjangkau, bahkan gratis untuk santri yatim dan dhuafa. Kiai hidup sederhana, mengajar tanpa bayaran, dan sering mengembalikan pemberian santri untuk kebutuhan pondok. Banyak pula kiai yang memiliki usaha pribadi untuk membiayai operasional pesantren.

Jika ada kiai yang hidup berkecukupan atau memiliki mobil bagus, jangan terburu menilai. Bisa jadi itu hadiah dari alumni yang telah sukses, atau hasil jerih payah usaha pribadi, bukan dari “amplopan santri” sebagaimana sering diasumsikan secara keliru.

Roan (Kerja Bakti): Pendidikan Nilai Gotong Royong, Bukan Eksploitasi Tenaga Santri

Bagian lain yang disorot negatif adalah kegiatan roan atau kerja bakti di pesantren. Dalam tayangan, aktivitas ini digambarkan seolah santri dieksploitasi untuk bekerja tanpa imbalan. Pandangan semacam ini sangat jauh dari realitas nilai yang hidup di pesantren.

Roan merupakan tradisi gotong royong yang menjadi bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren. Santri dengan sukarela membersihkan kamar, halaman, dapur, dan masjid pondok sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Tidak ada paksaan, karena setiap santri memahami bahwa kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman.

Baca juga : Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, roan mengajarkan santri arti kebersamaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial. Aktivitas ini menjadi latihan sosial yang membentuk solidaritas dan keikhlasan — nilai yang kini semakin jarang ditemukan di tengah budaya individualistik modern.

Media dan Etika Kultural: Belajar Memahami Sebelum Menilai

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, pemberitaan tentang pesantren seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian dan pemahaman yang mendalam. Tradisi pesantren tidak bisa dipahami hanya dari permukaan; ia lahir dari perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal yang telah hidup berabad-abad lamanya.

Pesantren adalah benteng moral bangsa. Di tempat inilah ribuan anak muda belajar kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan cinta ilmu. Menilai pesantren dengan kacamata modernitas sempit tanpa memahami konteks sosial dan spiritualnya sama saja dengan menilai samudra hanya dari buih di permukaan.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang pembentukan karakter, moralitas, dan keikhlasan. Alih-alih dicurigai, pesantren semestinya dihargai sebagai warisan luhur yang terus menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan adab.

 

Tentang Penulis:

Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., C.C.P. adalah dosen Bimbingan dan Konseling di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Aktif meneliti isu-isu psikososial, konseling, pendidikan Islam, dan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.