Nisfu Sya’ban dan Spirit Kesetaraan Gender dalam Islam

Penulis: Nadhifatuz Zulfa*, Penyunting: Azzam Nabil Hibrizi

Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam pertengahan bulan yakni tanggal 15 Sya’ban pada penanggalan Kalender Hijriyah. Malam yang penuh kemuliaan ini selalu datang dengan suasana yang khas. Di banyak tempat, malam ini diisi dengan doa, istighfar, dan harapan: semoga Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan memberi jalan kebaikan ke depan. Bagi banyak umat Islam, Nisfu Sya’ban bukan sekadar penanda waktu menuju Ramadhan, tetapi “momen tenang” untuk berhenti sejenak, muhasabah diri dan bercermin—tentang diri sendiri, tentang hubungan kita dengan Allah, dan tentang cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.

Dalam kekhusyukan doa Nisfu Sya’ban, sejatinya ada pesan penting yang sering luput direnungkan, yakni bahwa kesalehan spiritual tidak berdiri sendiri. Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam Q.S. Adz Dzariyat ayat 56. Namun bukan berarti ibadah itu hanya berupa hal-hal yang bersifat ritual saja seperti shalat, membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada Allah SWT. Kesalehan spiritual selalu berkaitan erat dengan kualitas relasi sosial. Hubungan suami dan istri, cara orang tua memperlakukan anak, serta cara masyarakat memandang laki-laki dan perempuan menjadi cermin sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam keseharian.

Dalam sejumlah riwayat hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, disebutkan bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan sebagai momentum turunnya ampunan Allah. Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah memperhatikan makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan.” (HR. Ibnu Mājah dan Ath-Thabrani)

Riwayat ini kerap dipahami sebagai pengingat baik agar manusia membersihkan hati, merawat hubungan, dan perlahan melepaskan kebencian yang mungkin selama ini dipendam. Pengampunan Allah pada malam Nisfu Sya’ban tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga sangat erat dengan relasi horizontal antarmanusia. Permusuhan, ketidakadilan, dan sikap saling menyakiti justru menjadi penghalang turunnya rahmat.

Dalam ajaran Islam, kesalahan tidak selalu berbentuk pelanggaran ibadah semata, tetapi juga bisa saja hadir dalam cara kita berhubungan dengan orang lain. Menyakiti orang lain, berlaku tidak adil, merendahkan martabat sesama, atau mengabaikan hak-hak orang di sekitar kita merupakan persoalan moral yang juga membutuhkan taubat. Karena itu, Nisfu Sya’ban sejatinya dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk menyucikan relasi sosial agar lebih adil dan berkeadaban.

Makna malam Nisfu Sya’ban sebagai malam pengampunan mengingatkan kita bahwa rahmat Allah menjangkau seluruh sisi kehidupan manusia. Pengampunan Ilahi seharusnya melahirkan kesadaran baru untuk memperbaiki sikap dan perilaku, termasuk dalam relasi gender. Islam tidak memisahkan kesalehan spiritual dari kesalehan sosial. Ibadah yang dilakukan seseorang seharusnya tercermin dalam akhlaknya sehari-hari, terutama dalam memperlakukan orang-orang terdekatnya.

Islam sejak awal mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dimuliakan di hadapan Allah. Keduanya sejajar, sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan sama-sama memikul tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Al-Qur’an menegaskan bahwa siapa pun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, akan memperoleh balasan yang adil dari Allah. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam berakar kuat pada nilai tauhid dan keadilan.

Kesetaraan gender dalam Islam tidak dimaksudkan untuk meniadakan perbedaan, tetapi untuk menegaskan pentingnya keadilan, saling menghormati, dan kemitraan dalam kehidupan. Islam menolak segala bentuk relasi yang dibangun atas dominasi, kekerasan, dan penghilangan martabat manusia. Karena itu, relasi yang timpang—baik dalam keluarga maupun masyarakat—perlu terus diperbaiki dalam semangat ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai rahmah dan kemanusiaan.

Malam Nisfu Sya’ban dapat menjadi ruang perenungan (muhasabah) bersama untuk melihat kembali bagaimana relasi antaranggota keluarga dan antar sesama dijalani selama ini. Jika kebencian dan permusuhan menjadi penghalang ampunan Allah, maka relasi yang tidak adil, penuh kekerasan, atau meniadakan suara pihak lain patut direnungkan secara serius. Sudahkah relasi suami dan istri dibangun atas dasar saling menghormati dan bermusyawarah? Apakah perempuan diberi ruang yang layak untuk berpendapat dan berperan dalam keluarga? Apakah anak laki-laki dan perempuan mendapatkan kasih sayang serta kesempatan yang adil dalam pengasuhan dan pendidikan?

Dalam kehidupan keluarga Muslim, spirit kesetaraan itu tercermin dalam prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf, yakni membangun hubungan yang baik, saling menjaga, dan penuh kasih sayang. Kekerasan, pemaksaan kehendak, maupun pengabaian hak pasangan tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, apalagi dengan spirit Nisfu Sya’ban yang menekankan pengampunan dan perbaikan diri. Keluarga semestinya menjadi ruang aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh secara utuh dan bermartabat.

Pengasuhan anak pun menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai keadilan dan saling menghargai sejak dini. Cara orang tua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan akan membentuk cara pandang mereka terhadap keadilan, empati, dan penghormatan terhadap sesama. Ketika nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini, keluarga memiliki peran sebagai madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

Pada akhirnya, malam Nisfu Sya’ban mengingatkan bahwa taubat tidak berhenti pada doa dan istighfar, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Spirit kesetaraan gender dalam Islam merupakan bagian dari akhlak mulia yang perlu terus dihidupkan. Dengan menjadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai kesempatan untuk merenung dan memperbarui sikap hidup, umat Islam diharapkan mampu membangun relasi yang lebih adil, penuh kasih sayang, dan bermartabat—sebagai wujud ibadah kepada Allah dan tanggung jawab kemanusiaan.

*Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Musibah dan Muhasabah: Menyongsong 2026 dengan Kesadaran Kolektif

Penulis: Muhlisin*, Editor: Azzam Nabil H.

Pergantian tahun sering kali dimaknai sebagai momentum perayaan, harapan baru, dan optimisme akan masa depan. Namun, memasuki tahun 2026, bangsa Indonesia, khususnya masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra Utara, sumatra Barat dan Nanggroe Aceh Darussalam, justru dihadapkan pada kenyataan pahit berupa musibah dan bencana. Di tengah duka, kehilangan, dan penderitaan, euforia pergantian tahun terasa tidak sepenuhnya relevan. Situasi ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan melakukan muhasabah, introspeksi mendalam sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Musibah bukan sekadar peristiwa alam atau rangkaian kejadian tragis yang datang tanpa makna. Dalam perspektif sosial dan spiritual, musibah adalah cermin yang memantulkan wajah kemanusiaan kita: sejauh mana empati tumbuh, solidaritas bekerja, dan kesadaran kolektif terbentuk. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak lahir dari kenyamanan semata, tetapi ditempa oleh krisis yang memaksa mereka untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri.  Oleh karena itu, menyongsong 2026 di tengah musibah Sumatera seharusnya tidak hanya diisi dengan duka, tetapi juga dengan kesadaran bersama untuk menata ulang cara pandang kita terhadap alam, sesama manusia, dan masa depan bangsa. Tahun baru menjadi momentum reflektif: apakah kita akan kembali pada rutinitas lama yang abai, atau justru melangkah dengan kesadaran kolektif yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Baca juga: New Year New Me: Refleksi Diri di Tahun Baru Islam

Musibah sebagai Cermin Kemanusiaan

Musibah selalu menghadirkan paradoks. Di satu sisi, ia membawa penderitaan, trauma, dan kerugian material. Di sisi lain, musibah membuka ruang bagi lahirnya solidaritas, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sering terpinggirkan dalam kehidupan normal. Ketika bencana melanda, sekat-sekat sosial, agama, suku, kelas, sering kali mencair, digantikan oleh semangat gotong royong dan empati. Namun, pertanyaan kritis yang perlu diajukan adalah: apakah solidaritas ini bersifat temporer atau mampu menjadi kesadaran jangka panjang? Banyak penelitian menunjukkan bahwa respons awal masyarakat terhadap bencana cenderung tinggi, tetapi menurun seiring waktu ketika perhatian publik beralih. Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif yang berkelanjutan, bukan sekadar simpati sesaat.

Dalam konteks Sumatera, musibah yang terjadi seharusnya menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah bangsa yang hidup di wilayah rawan bencana. Kesadaran ini menuntut perubahan cara berpikir: dari sikap reaktif menuju pendekatan preventif dan mitigatif. Bencana tidak boleh terus dipahami sebagai takdir semata, tetapi juga sebagai konsekuensi dari relasi manusia dengan alam yang sering kali eksploitatif dan tidak berkelanjutan.

Muhasabah dan Kesadaran Sosial

Muhasabah tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan ekologis. Musibah mengajak kita bertanya: bagaimana kebijakan pembangunan dijalankan? Sejauh mana tata kelola lingkungan diperhatikan? Apakah pembangunan lebih berorientasi pada keuntungan jangka pendek daripada keberlanjutan jangka panjang? Krisis lingkungan global menunjukkan bahwa bencana alam semakin sering dan intens akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Indonesia tidak terkecuali. Dalam konteks ini, musibah di Sumatera menjadi alarm keras bahwa pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologi akan berujung pada penderitaan manusia sendiri.

Muhasabah ekologis menuntut perubahan paradigma pembangunan. Kesadaran kolektif harus diarahkan pada pembangunan berkelanjutan yang menempatkan keselamatan manusia dan kelestarian alam sebagai prioritas. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, dunia usaha, dan individu. Tanpa kesadaran bersama, bencana akan terus berulang dengan pola yang sama.

Kesadaran kolektif adalah kemampuan suatu masyarakat untuk merasakan, memahami, dan bertindak bersama atas persoalan bersama. Dalam teori sosial, kesadaran kolektif menjadi fondasi kohesi sosial dan ketahanan masyarakat menghadapi krisis. Musibah sering kali menjadi katalisator lahirnya kesadaran ini, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada sistem sosial dan nilai yang dibangun.

Di Indonesia, nilai gotong royong merupakan modal sosial yang sangat berharga. Namun, modernisasi dan individualisme perlahan mengikis nilai tersebut. Musibah di Sumatera seharusnya menjadi momentum untuk merevitalisasi gotong royong dalam konteks kekinian—tidak hanya dalam bentuk bantuan fisik, tetapi juga advokasi kebijakan, penguatan kapasitas masyarakat, dan pendidikan kebencanaan.

Kesadaran kolektif juga harus diwujudkan dalam sistem pendidikan. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak individu cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki empati, kepedulian sosial, dan kesadaran ekologis. Pendidikan kebencanaan, literasi lingkungan, dan etika sosial perlu menjadi bagian integral dari kurikulum agar generasi mendatang lebih siap dan bertanggung jawab.

Menyongsong 2026  

Tahun 2026 seharusnya tidak dimulai dengan pesta dan hiruk-pikuk yang mengabaikan penderitaan sesama. Dalam situasi musibah, etika kepedulian menjadi lebih relevan daripada simbol perayaan. Etika ini menuntut kita untuk menempatkan empati dan solidaritas sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial. Etika kepedulian juga menuntut peran aktif negara. Negara tidak hanya hadir sebagai penyalur bantuan darurat, tetapi juga sebagai penjamin keadilan sosial pascabencana. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilakukan secara adil, transparan, dan berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat terdampak sebagai subjek, bukan objek pembangunan.

Di tingkat masyarakat, menyongsong 2026 berarti membangun budaya saling peduli yang lebih permanen. Kepedulian tidak berhenti pada donasi, tetapi berlanjut pada pengawasan kebijakan, penguatan komunitas lokal, dan partisipasi aktif dalam upaya mitigasi bencana. Kesadaran kolektif yang matang akan melahirkan masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya.

Baca juga:  Tahun Baru dan Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Musibah yang melanda Sumatera menjelang berakhirnya 2026 adalah ujian sekaligus pengingat bagi bangsa Indonesia. Ia menguji sejauh mana nilai kemanusiaan kita hidup, dan mengingatkan bahwa pembangunan tanpa kesadaran ekologis dan sosial hanya akan melahirkan krisis berulang. Dalam konteks ini, muhasabah menjadi keharusan moral dan intelektual. Menyongsong 2026 dengan kesadaran kolektif berarti menjadikan musibah sebagai titik balik, bukan sekadar catatan duka. Kesadaran ini menuntut perubahan cara berpikir, bertindak, dan membangun—dari yang individualistik menuju kolektif, dari yang eksploitatif menuju berkelanjutan, dan dari yang reaktif menuju preventif.

Jika bangsa ini mampu menjadikan musibah sebagai sumber pembelajaran bersama, maka penderitaan tidak akan sia-sia. Dari duka akan lahir kebijaksanaan, dari musibah tumbuh solidaritas, dan dari muhasabah lahir harapan baru. Dengan kesadaran kolektif yang kuat, Indonesia dapat menyongsong 2026 bukan hanya dengan optimisme, tetapi dengan tanggung jawab moral untuk membangun masa depan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

*Guru Besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Memperkuat Keimanan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Penulis : Daffa Asysyakir, editor: Nafis Mahrusah

Di era serba cepat seperti sekarang, banyak dari kita merasa waktu berjalan begitu cepat dan hari-hari berlalu tanpa jejak. Rutinitas yang berulang seperti kuliah, bekerja, mengerjakan tugas, dan berbagai kesibukan lainnya sering membuat hidup terasa monoton. Dr. Kimberly Chew dari Channel News Asia menyampaikan bahwa ketika hidup terjebak dalam pola yang sama, persepsi kita terhadap waktu menjadi kabur dan terasa semakin singkat. Bagi umat Muslim, kondisi ini dapat menjadi tantangan dalam menjaga kualitas ibadah dan keimanan.

Karena itu, diperlukan cara baru agar kehidupan beragama tidak terasa sebagai kewajiban yang rutin semata, tetapi menjadi ruang untuk menenangkan dan menyegarkan jiwa. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah introspeksi diri. Islam mendorong umatnya untuk terus menilai ulang perbuatannya, sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan agar setiap orang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk hari esok. Menurut Tafsir Al-Wasith, ayat ini menjadi dasar pentingnya muhasabah sebagai sarana memperbaiki diri.

Pertanyaan sederhana seperti “Ibadahku diterima atau tidak?”, “Dalam kesibukan, apakah aku masih menjaga salat?”, atau “Aku jarang mengaji, masihkah aku diberi kesempatan untuk bertobat?” dapat menjadi langkah awal untuk menyadarkan diri. Introspeksi bukan untuk membuat seseorang merasa bersalah, melainkan agar kita mengakui kekurangan sendiri dan terdorong untuk memperbaikinya.

Baca juga: Merawat Iman, Hidupkan Harmoni Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Selain muhasabah, cara lain untuk memperkuat keimanan adalah mendalami ilmu agama. Q.S. At-Taubah ayat 122 menegaskan pentingnya sebagian umat untuk memperdalam pengetahuan agama agar dapat memberikan pemahaman kepada yang lain. Ilmu agama menjadi fondasi agar seorang Muslim dapat menjalani kehidupan secara terarah dan selaras dengan nilai-nilai Islam.

Ada banyak cara untuk mempelajari agama seperti mengikuti kajian di masjid atau secara daring, bergabung dalam forum diskusi, serta membaca buku-buku keislaman. Kegiatan ini dapat dilakukan secara fleksibel di sela-sela kesibukan.

Pada akhirnya, memperkuat iman tidak selalu membutuhkan waktu khusus. Dengan menggabungkan introspeksi dan pendalaman ilmu agama, umat Muslim dapat tetap dekat dengan Allah meski hidup terasa semakin padat. Waktu memang terus bergerak cepat, tetapi iman yang terjaga akan membuat langkah kita lebih mantap dan terarah.

Baca juga: Desain Masjid: Simbol Iman atau Keberagaman? 

Memperkuat Keimanan dalam Menjalani Kehidupan yang Sibuk

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Nehayatul Najwa

Semua orang sering merasa waktu berputar dengan cepat, bukan hanya kalian, tetapi aku juga merasakannya. Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka melainkan ini sudah menjadi hal yang wajar. Perubahan waktu membuat kita merasa tidak pernah melakukan apapun, ini tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari Channel News Asia, Dr Kimberly Chew mengatakan, “Banyak dari kita juga terbiasa dengan rutinitas, ketika hidup menjadi rutinitas, hari-hari kita mulai bercampur, membuat waktu terasa kurang jelas dan seolah pergi begitu saja.” Hal ini menunjukkan seseorang harus menjalani aktivitas yang berbeda dari biasanya agar dapat merasakan kenikmatan dari waktu.

Sering kali kita menjalani aktivitas yang berulang mulai dari menjalani kegiatan pendidikan, bekerja, dan sebagainya. Tanpa disadari, rutinitas ini dapat membuat seseorang merasa jenuh. Namun, bagaimana dengan umat muslim yang diharuskan mengikuti kegiatan keagamaan di setiap waktu? Tentu ini menjadi masalah yang patut dibahas, karena apabila umat muslim tidak mengikutinya ini akan berdampak pada dosa. Oleh karen itu, umat muslim memerlukan pendekatan baru untuk menjalani kehidupan beragama di tengah kesibukan.

Baca juga: Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Untuk menjalani kehidupan agama yang menarik, umat muslim memiliki beragam pendekatan. Ini dapat dimulai dalam lingkup individu seperti introspeksi dan lingkup kelompok seperti membangun forum diskusi untuk mengajarkan dan mendalami keagamaan. Dalam lingkup individu, manusia akan diminta untuk mengintrospeksi diri mereka mengenai apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya. Ini meliputi pemahaman atas tindakan yang dilakukan manusia seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18).

Baca juga: Menjelajah Makna dan Hikmah: Pemahaman Al-Quran dalam Kehidupan Umat Islam

Ayat ini menyinggung pentingnya evaluasi pada diri manusia. Ayat ini tidak hanya memerintahkan umat muslim untuk mempertimbangkan semua tindakan yang dilakukan karena semua tindakan umat muslim akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di Akhirat. Berdasarkan tafsir Al-Wasith yang dikutip dari NU Online, ayat ini menjelaskan manusia harus melakukan Muhasabah dan koreksi diri. Dengan muhasabah dan koreksi diri, manusia dapat memahami dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Selain itu, ini dapat menjadi acuan bagi manusia dalam menghindari kesalahan agar setiap manusia dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya.

Umat muslim dapat mengintrospeksi dengan merenungi pertanyaan sederhana: “apakah ibadahku diterima?” atau “Tugasku kebanyakan nih, kira-kira masih bisa sholat gak ya?” dan “apakah aku masih bisa bertaubat setelah jarang sholat dan ngaji?” Pertanyaan seperti ini akan membantu manusia untuk memperkuat keimanan di tengah kesibukan hari, karena ini akan menjadi refleksi diri atas kesalahan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh sebab itu, introspeksi mampu memberikan peluang bagi setiap muslim untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Karena dengan adanya introspeksi, manusia akan mengakui semua kesalahannya dan memohon ampunan di hadapan Allah SWT.

Baca juga: Muslimah Berkarir: Refleksi Keadilan Dalam Benturan Norma dan Realitas

Selain berintrospeksi, ada kegiatan lain yang juga dapat memperkuat keimanan dalam kesibukan sehari-hari yaitu memperdalam pengetahuan agama. Di kehidupan, kita diminta untuk mempelajari dan mengkaji ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan sebuah aktivitas penting yang berpotensi membuat kehidupan manusia menjadi berkembang. Salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dituntut oleh umat muslim yaitu ilmu agama islam. Ilmu agama islam merupakan aspek penting dalam kehidupan umat muslim karena ilmu agama islam memainkan peran penting sebagai panduan bagi umat muslim dalam menjalani kehidupan beragama. Salah satu ayat yang menyebutkan pentingnya mendalami pengetahuan yaitu Q.S. At-Taubah ayat 122 yang berbunyi:

وَمَا كَا نَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 122).

Ayat ini menjabarkan peran dari setiap orang mukmin. Salah satu bagian penting dari ayat ini yaitu pengkajian ilmu agama oleh umat muslim. Berdasarkan tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh yang dilansir dari Tafsirweb, ayat ini menegaskan untuk membagi tugas orang mukmin berupa sebagian mukmin memiliki tugas untuk berperang dan sebagian mukmin memiliki tugas untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengetahuan agama dan mengajarkannya ke umat muslim yang mengikuti peperangan. Tafsir ini juga menyebutkan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan agama, umat muslim yang pergi berperang dapat perintah dan larangan sehingga terhindar dari azab dan hukuman. Dengan demikian, mendalami ilmu agama menjadi aspek penting bagi umat islam.

Baca juga: cahaya-cinta-dan-teladan-dari-emha-cak-nun

Umat muslim memiliki tiga cara dalam mengkaji ilmu agama, cara pertama yaitu dengan mengikuti berbagai kajian agama yang diisi oleh ustadz atau ustadzah, baik itu di masjid atau melalui aplikasi streaming. Ini dapat menjadi langkah yang baik karena mempelajari ilmu melalui tokoh dengan latar belakang yang kuat. Kedua, aktif dalam forum diskusi islam. Langkah ini dapat memperkuat pemahaman agama islam karena diskusi memiliki proses bertukar pikiran sehingga kita memahami agama melalui berbagai perspektif. Terakhir, dengan membaca buku pengetahuan agama. Langkah ini hampir sama dengan langkah pertama.

Melalui introspeksi dan mendalami ilmu agama dapat menjadi sarana bagi umat muslim untuk mendalami ilmu agama. Langkah-langkah di atas dapat diterapkan di sela-sela padatnya aktivitas sehingga tidak ada alasan bagi setiap orang untuk tidak melakukannya. Apabila mampu diterapkan dengan baik, keimanan umat muslim akan semakin kuat dan tak gampang tergoyahkan. Jadi, jangan lupa untuk terus berintrospeksi dan memperdalam ilmu agama karena kehidupan terus berubah.