Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Penulis : Nadhifatuz Zulfa, Editor : Amarul Hakim

Tayangan Expose Uncensored di Trans 7 pada Senin, 13 Oktober 2025 lalu, memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama komunitas pesantren. Dalam tayangan itu, beberapa tradisi pesantren seperti cara bersalaman santri dengan kiai, pemberian amplop, dan kegiatan kerja bakti (roan) ditampilkan dengan narasi yang menimbulkan kesan negatif.

Sayangnya, framing yang diambil tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan spiritual di balik tradisi tersebut. Padahal, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan tempat pembentukan karakter, adab, dan kebersamaan yang menjadi fondasi penting bagi kehidupan bangsa.

Salaman Ala Pesantren: Tanda Cinta dan Penghormatan, Bukan Eksploitasi

Adegan santri yang menunduk ketika bersalaman dengan kiai menjadi salah satu sorotan utama. Tayangan itu memaknainya sebagai bentuk ketundukan berlebihan, seolah santri kehilangan martabat. Padahal, bagi masyarakat pesantren, menundukkan badan bukan bentuk perendahan diri, melainkan simbol cinta, penghormatan, dan pengakuan atas keilmuan seorang guru.

Baca juga : Parodi Gus dan Habib di Media Sosial: Antara Kritik Sosial dan Etika Keagamaan

Tradisi ini berakar dari budaya Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh (tatakrama). Dalam pandangan Islam, menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Maka gerakan menunduk bisa dipahami sebagai bentuk pelatihan perilaku sopan santun — behavioral shaping — yang menumbuhkan sikap rendah hati.

Setiap pesantren memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa hormat terhadap guru. Ada yang menunduk, ada yang hanya mencium tangan. Semuanya lahir dari tradisi yang berbeda-beda, dipengaruhi adat istiadat dan budaya daerah setempat, namun memiliki semangat yang sama: membangun hubungan spiritual antara murid dan guru. Karena itu, tidak sepatutnya seseorang mencela tradisi tertentu hanya karena berbeda dengan kebiasaan di tempat lain.

Budaya Amplop: Ekspresi Kasih Sayang, Bukan Upaya Memperkaya Kiai

Tayangan tersebut juga menyoroti budaya memberi amplop kepada kiai saat bersalaman, dengan insinuasi bahwa praktik itu memperkaya kiai. Pandangan ini jelas menyederhanakan realitas pesantren yang sangat kompleks dan penuh nilai keikhlasan.

Dalam tradisi pesantren, pemberian amplop bukan transaksi ekonomi, melainkan ekspresi kasih sayang dan bentuk penghormatan santri kepada gurunya. Kiai tidak pernah meminta, dan santri tidak diwajibkan memberi amplop yang berisi uang. Amplop diberikan dengan kerelaan hati, sering kali sebagai bentuk tabarruk — mencari keberkahan dari guru yang mengajarkan ilmu dengan Ikhlas, dan ungkapan kasih sayang dan rasa terimakasih dari santri kepada sang murobbi-nya.

Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Perlu dipahami pula bahwa banyak pesantren menetapkan biaya yang sangat terjangkau, bahkan gratis untuk santri yatim dan dhuafa. Kiai hidup sederhana, mengajar tanpa bayaran, dan sering mengembalikan pemberian santri untuk kebutuhan pondok. Banyak pula kiai yang memiliki usaha pribadi untuk membiayai operasional pesantren.

Jika ada kiai yang hidup berkecukupan atau memiliki mobil bagus, jangan terburu menilai. Bisa jadi itu hadiah dari alumni yang telah sukses, atau hasil jerih payah usaha pribadi, bukan dari “amplopan santri” sebagaimana sering diasumsikan secara keliru.

Roan (Kerja Bakti): Pendidikan Nilai Gotong Royong, Bukan Eksploitasi Tenaga Santri

Bagian lain yang disorot negatif adalah kegiatan roan atau kerja bakti di pesantren. Dalam tayangan, aktivitas ini digambarkan seolah santri dieksploitasi untuk bekerja tanpa imbalan. Pandangan semacam ini sangat jauh dari realitas nilai yang hidup di pesantren.

Roan merupakan tradisi gotong royong yang menjadi bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren. Santri dengan sukarela membersihkan kamar, halaman, dapur, dan masjid pondok sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Tidak ada paksaan, karena setiap santri memahami bahwa kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman.

Baca juga : Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, roan mengajarkan santri arti kebersamaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial. Aktivitas ini menjadi latihan sosial yang membentuk solidaritas dan keikhlasan — nilai yang kini semakin jarang ditemukan di tengah budaya individualistik modern.

Media dan Etika Kultural: Belajar Memahami Sebelum Menilai

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, pemberitaan tentang pesantren seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian dan pemahaman yang mendalam. Tradisi pesantren tidak bisa dipahami hanya dari permukaan; ia lahir dari perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal yang telah hidup berabad-abad lamanya.

Pesantren adalah benteng moral bangsa. Di tempat inilah ribuan anak muda belajar kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan cinta ilmu. Menilai pesantren dengan kacamata modernitas sempit tanpa memahami konteks sosial dan spiritualnya sama saja dengan menilai samudra hanya dari buih di permukaan.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang pembentukan karakter, moralitas, dan keikhlasan. Alih-alih dicurigai, pesantren semestinya dihargai sebagai warisan luhur yang terus menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan adab.

 

Tentang Penulis:

Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., C.C.P. adalah dosen Bimbingan dan Konseling di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Aktif meneliti isu-isu psikososial, konseling, pendidikan Islam, dan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.