Penulis: Nabilla Sifa, Editor: Nehayatul Najwa
Setiap Oktober, sekolah-sekolah di Indonesia ramai dengan perayaan Bulan Bahasa. Namun ironisnya, di tengah gegap gempita lomba pidato dan puisi, semakin sedikit generasi muda yang benar-benar mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, terutama di era Gen Alpha yang lebih akrab dengan bahasa campuran dan istilah asing dalam komunikasi sehari-hari. Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas dan sarana pelestarian budaya bangsa. Oleh karenaitu, peringatan Bulan Bahasa di sekolah seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran linguistik dan kebanggaan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.
Dalam rangka Bulan Bahasa, MTs Negeri 2 Pemalang sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bulan Bahasa. Terlihat Bulan Bahasa di sekolah memiliki peran strategis sebagai wadah revitalisasi semangat berbahasa Indonesia hingga kancah internasionalisasi(Yusida Gloriani, 2023). Kegiatan-kegiatan seperti lomba menulis cerpen, membaca puisi, pidato, dan debat berbahasa Indonesia tidak hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan apresiasi terhadap kekayaan bahasa nasional. Tema yang diusung dari MTs Negeri 2 Pemalang kali ini relevan dengan perkembangan zaman: “Membangun Budaya Literasi di Era Digital”. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi tidak hanya berarti membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis, kreatif, dan etis dalam menggunakan media digital. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang berupaya menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia dan nilai-nilai budaya lokal di kalangan Gen Alpha yang tumbuh bersama gawai dan teknologi digital. Dengan menggabungkan semangat literasi dan kecintaan pada bahasa, sekolah berharap dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga berkarakter, berbudaya, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap aspek kehidupannya.
Baca juga: Menemukan Keselarasan: Harapan dan Realitas Program Literasi SD dalam Kurikulum Merdeka
Pelaksanaan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud nyata dari proses pendidikan karakter dan budaya yang terintegrasi dalam kegiatan sekolah. Beragam lomba seperti membaca puisi, pidato kebahasaan, mendongeng, menulis cerpen, kaligrafi bahasa Arab, dan drama budaya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diasah keterampilan berbahasanya, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai kesopanan, keindahan tutur kata, dan penghormatan terhadap keragaman bahasa daerah. Nilai-nilai ajaran budaya bahasa seperti unggah-ungguh, etika berbicara, dan pemilihan diksi yang santun menjadi bagian penting dari setiap kegiatan yang diselenggarakan selama Bulan Bahasa berlangsung.
Menurut salah satu guru bahasa Indonesia di MTs Negeri 2 Pemalang, kegiatan Bulan Bahasa bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana pendidikan karakter berbasis budaya bahasa. Ia menegaskan bahwa bahasa adalah cerminan akhlak seseorang. Karena itu, para siswa diajak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun, beradab, dan menghargailawanbicara, baikdalamlingkungansekolahmaupun di media sosial. Nilai-nilai ajaran budaya seperti unggah-ungguh dalambertutur, memilih kata yang tepat, dan menjaga sopan santun menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan. Hal ini sejalan dengan semangat literasi madrasah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia, cakap berkomunikasi, dan bertanggung jawab secara linguistik di era digital.
Baca juga: Pentingnya Pendidikan dan Sosial dalam Mengadvokasi Moderasi Beragama
Pelestarian budaya bahasa menjadi semakin penting karena bahasa merupakan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika generasi muda mulai kehilangan kesadaran akan pentingnya bahasa yang santun dan berbudaya, maka lambat laun jati diri bangsa pun ikut tergerus. Oleh sebab itu, kegiatan literasi dan kebahasaan di sekolah harus terus dikembangkan dengan pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia digital. Melalui kolaborasi antara guru, siswa, dan lingkungan sekolah, MTs Negeri 2 Pemalang berkomitmen menjaga bahasa Indonesia tetap hidup, berkembang, dan digunakan secara bermartabat di setiap ruang komunikasi, baik daring maupun luring.
Kegiatan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang mendapat apresiasi positif dari siswa dan guru karena dinilai mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia dan budaya sendiri. Selain menumbuhkan semangat literasi, acara ini juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah tantangan globalisasi. Dengan menggabungkan nilai-nilai budaya bahasa, kreativitas, dan kecakapan digital, sekolah berupaya menyiapkan generasi Alpha yang berkarakter, berwawasan luas, dan tetap menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai lambang persatuan. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang membuktikan bahwa pelestarian budaya bahasa bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan gerakan pendidikan berkelanjutan untuk menjaga martabat bahasa dan budaya bangsa di masa depan. Dengan demikian, pelestarian budaya bahasa bukan hanya sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan kebanggaan nasional dan kesadaran literasi. Hal ini relevan dengan teorinya Gloriani (2023) dan Olaare (2024), yang menyatakan bahwa pelestarian bahasa hanya dapat berhasil jika diintegrasikan secara berkelanjutan dalam kurikulum dan tidak sekadar menjadi perayaan temporer. Dengan menjaga budaya bahasa, kita sesungguhnya sedang menjaga keutuhan bangsa dan memperkokoh identitas Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.
