Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.

Menjejak Sunyi Sejarah di Gereja Boro: Napak Tilas Misi Katolik di Jantung Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kalibawang, Kulon Progo di antara lebatnya pepohonan dan udara sejuk pegunungan Menoreh, berdiri sebuah bangunan tua yang kokoh menantang waktu, yaitu Gereja Santa Theresia Lisieux, Boro. Bagi masyarakat sekitar Kalibawang, nama “Gereja Boro” bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang penyebaran ajaran Katolik dan kehidupan sosial masyarakat sejak masa kolonial.

Langkah kaki kami dari Tim KKN Nusantara V yang sedang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, terasa ringan namun penuh rasa ingin tahu saat menginjakkan kaki di Komplek Misi Boro. Sebuah kawasan yang ternyata menyimpan lebih dari sekadar bangunan gereja, di sinilah sejarah, iman, dan pelayanan berpadu erat dalam satu ruang dan waktu.

Menurut hasil wawancara kami dengan pengelola setempat, Gereja Boro mulai dibangun pada 31 Agustus 1931, ketika wilayah ini masih merupakan bagian dari stasi Kalibawang yang dilayani oleh Paroki Muntilan, Magelang. Kehadiran Romo J. Prenthaler, S.J. menjadi titik balik yang membangkitkan kehidupan rohani di Boro, sekaligus menjadi penggerak utama berdirinya kompleks ini.

Baca Selengkapnya: Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Namun, gereja hanyalah satu bagian dari mosaik besar bernama Komplek Misi Boro. Kami mendapati bahwa di sekeliling gereja terdapat pastoran, rumah sakit, susteran, bruderan, panti asuhan, hingga sekolah-sekolah Katolik seperti Pangudi Luhur dan Marsudirini. Pembangunan kompleks ini berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938, menggambarkan betapa seriusnya misi Katolik dalam mengakar di tanah Kulon Progo, bukan hanya untuk menyebarkan ajaran, tetapi juga melayani umat lewat pendidikan dan kesehatan.

Yang membuat hati terenyuh, bangunan-bangunan tua itu masih tegak berdiri. Dinding-dinding gereja dengan ornamen khas Eropa awal abad ke-20, jendela kaca patri yang menyaring cahaya mentari pagi, hingga aroma kayu tua yang menenangkan, semuanya membawa imajinasi kami menyusuri lorong-lorong waktu. Namun yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana nuansa budaya lokal terasa begitu kuat di dalam gereja ini.

Baca Selengkapnya: Moderasi Beragama: Harmoni Islam dan Budaya Lokal di Desa Linggoasri

Ornamen-ornamen ukiran kayu bermotif batik dan tokoh-tokoh wayang menghiasi bagian dalam gereja. Kehadiran elemen-elemen budaya lokal tersebut seolah menjadi bentuk dialog harmonis antara iman dan tradisi, antara universalitas Katolik dan kearifan lokal. Ukiran yang halus dan penuh makna itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bagaimana kekristenan merangkul budaya setempat, bukan menggantikannya.

“Komplek ini bukan hanya milik umat Katolik. Ini bagian dari sejarah Kulon Progo,” ungkap salah satu pengurus gereja yang kami temui.

Ucapannya seperti menegaskan bahwa di balik nilai religiusnya, Gereja Boro menyimpan warisan lintas budaya yang layak dihormati dan dilestarikan.

Baca selengkapnya: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Di tengah modernisasi yang semakin cepat, tempat seperti Gereja Boro menjadi pengingat akan akar-akar sejarah yang tak boleh tercerabut. Kunjungan ini bukan hanya menjadi bagian dari agenda observasi KKN kami, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam—mengajarkan bahwa bangunan tua bisa menyampaikan kisah, jika kita tidak hanya diam dan mendengarnya.

Menanam Nilai Kerukunan Melalui Peringatan Hari Koperasi: Refleksi KKN Nusantara Kelompok 22 di Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Muslimah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya tentang pengabdian di desa, tetapi juga tentang membumikan nilai-nilai strategis kebangsaan. Salah satu refleksi nyata dari semangat tersebut tampak dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Koperasi Indonesia ke-78 yang diikuti oleh KKN Nusantara Kelompok 22 di Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, pada 17 Juli 2025. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perangkat kecamatan setempat.

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas—bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen pembangun harmoni masyarakat. Selaku inspektur upacara, Camat Kalibawang, Bapak Tukidi, menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kerukunan dan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari arah pembangunan yang inklusif.

Pesan tersebut sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 244 Tahun 2025. Dari delapan prioritas tersebut, yang paling relevan dengan konteks kegiatan ini adalah poin pertama, yaitu Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan serta poin keenam berbunyi Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Koperasi dan Kerukunan sebagai Dua Pilar Saling Menguatkan

Koperasi tidak hanya diposisikan sebagai entitas ekonomi, melainkan juga sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Dalam ruang koperasi, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu tanpa membedakan agama, etnis, maupun status sosial. Inilah nilai-nilai kerukunan yang sesungguhnya, yang terwujud dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Mahasiswa KKN yang terlibat dalam peringatan Hari Koperasi diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat dikonkretkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi. Ini merupakan pelajaran kontekstual yang tidak bisa didapat di ruang kelas, tetapi sangat krusial dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa.

Arahan Camat sebagai Titik Tekan Misi Sosial KKN

Selain mengikuti upacara, Tim KKN Kelompok 22 juga mendapatkan arahan langsung dari Camat Kalibawang. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kerukunan selama masa pengabdian berlangsung. Mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa program kerja teknis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Arahan ini menjadi penegas bahwa KKN bukan sekadar agenda tahunan akademik, melainkan bagian dari gerakan sosial berbasis kesadaran multikulturalisme dan inklusi. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mediator dialog dan harmoni sosial dalam lingkup lokal, yang akan berdampak nasional jika dilakukan secara kolektif.

Kerukunan dan Kemandirian sebagai Visi Bersama

Pengalaman KKN Nusantara Kelompok 22 dalam mengikuti peringatan Hari Koperasi menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh bersamaan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga turut membentuk masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.

Dengan membumikan Asta Protas dalam praktik nyata, KKN Nusantara tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi juga platform transformasi sosial yang berkelanjutan.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Dalam rangka mematangkan persiapan program kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara yang berlokasi di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan praktik pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanoman I pada Selasa (15/07).

Kegiatan ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan salah satu program kerja “Desa Rumaket” (Rumah Alam dan Ekoteologi) yang diimplementasikan dengan membuat IMO dan penanaman sayur guna mendukung ketahanan pangan warga Kanoman I.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris KWT Kanoman I, Sri mengajari tim KKN membuat IMO. Mulai dari menggali tanah khusus yang berada di bawah pohon bambu, kemudian menaburinya dengan bekatul, lalu melapisinya dengan daun-daun bambu yang sudah mengering, kemudian menaburinya lagi dengan bekatul, dan terakhir ditutup dengan plastik.

Setelah memastikan campuran tanah, bekatul, dan daun bambu tertutup sempurna dengan plastik, tahap selanjutnya adalah mendiamkannya hingga 14 hari.

“Fungsinya bekatul untuk memakai mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kemudian ditutup biar nggak diganggu ayam. Tunggu 14 hari. kalau udah, untuk memperbanyak biar irit tanahnya diayak biar kotorannya tersisihkan,” jelas Sri.

Kelompok 1 KKN Nusantara menyimak dengan seksama dan mempraktikkan langsung tahapan-tahapan tersebut.

Bekerja sama dengan KWT, Kelompok 1 KKN Nusantara akan melaksanakan edukasi pembuatan IMO dan penanaman bibit sayur pada 24 Juli mendatang.

Kelompok 1 berharap, warga Kanoman I mampu mempertahankan kebutuhan pangannya dengan bertani mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan lahan yang terbatas.

Ilmu Hidup: Santri Fathimah Albatul Ikuti Praktik Pemulasaran Jenazah

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Santri Pondok pesantren mahasiswa Fathimah Albatul tampak antusias mengikuti kegiatan pemulasaran jenazah setiap sesi, terutama saat praktik simulasi pemulasaran pada Jumat, (11/07).

Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali memahami secara menyeluruh tata cara menangani jenazah secara syar’i. Kegiatan ini sebagai implementasi nyata dari ilmu fikih serta upaya membentuk karakter santri berlandaskan ajaran Islam.

Ahmad Taufiq selaku Khodimul Ma’had Ponpes Mahasiswa Fathimah Albatul menyampaikan dalam sambutanya, “Harapan saya anak-anak paham bagaimana cara ngulesi mayit apa saja yang harus dilakukan ketika mendengar orang meninggal mulai memandikan, mengkafani, menyolati, dan mengubur agar tidak keliru, yang diperlukan tidak hanya teori tetapi juga praktik. Ilmu yang seperti ini adalah ilmu hidup. Ilmu ini akan selalu dibutuhkan di tengah masyarakat, dan menjadi bentuk pengabdian santri kepada umat, bahkan hingga akhir hayat seseorang,” jelasnya.

Kegiatan ini bertujuan membekali santri dengan pengetahuan serta praktik langsung mengenai tata cara mengurus jenazah sesuai syariat, mulai dari menyobek kain kafan, memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkannya. Dibimbing langsung oleh M. Abdul Halim selaku Lebeh Wangandowo, santri diajak memahami betapa pentingnya menghormati jenazah sebagai bagian dari fardhu kifayah.

Kegiatan ini meliputi penyampaian materi terkait jenazah, simulasi praktik, serta menanamkan sikap rendah hati dan empati. Harapannya, santri tidak hanya memahami teori, namun juga siap dan berani melayani masyarakat saat dibutuhkan.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulllah saw bersabda: مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَ مَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، قِيْلَ : وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ : (( مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ)) . (متفق عليه) “Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga disholatkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 1(satu)qirath. Dan Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga dikuburkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 2(dua) qirath. Dikatakan: ‘apakah 2 qirath itu?’ Nabi saw menjawab: ‘seperti ukuran dua gunung yang besar” (H.R. al-Bukhori dan Muslim).

Memperkuat Keimanan dalam Menjalani Kehidupan yang Sibuk

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Nehayatul Najwa

Semua orang sering merasa waktu berputar dengan cepat, bukan hanya kalian, tetapi aku juga merasakannya. Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka melainkan ini sudah menjadi hal yang wajar. Perubahan waktu membuat kita merasa tidak pernah melakukan apapun, ini tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari Channel News Asia, Dr Kimberly Chew mengatakan, “Banyak dari kita juga terbiasa dengan rutinitas, ketika hidup menjadi rutinitas, hari-hari kita mulai bercampur, membuat waktu terasa kurang jelas dan seolah pergi begitu saja.” Hal ini menunjukkan seseorang harus menjalani aktivitas yang berbeda dari biasanya agar dapat merasakan kenikmatan dari waktu.

Sering kali kita menjalani aktivitas yang berulang mulai dari menjalani kegiatan pendidikan, bekerja, dan sebagainya. Tanpa disadari, rutinitas ini dapat membuat seseorang merasa jenuh. Namun, bagaimana dengan umat muslim yang diharuskan mengikuti kegiatan keagamaan di setiap waktu? Tentu ini menjadi masalah yang patut dibahas, karena apabila umat muslim tidak mengikutinya ini akan berdampak pada dosa. Oleh karen itu, umat muslim memerlukan pendekatan baru untuk menjalani kehidupan beragama di tengah kesibukan.

Baca juga: Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Untuk menjalani kehidupan agama yang menarik, umat muslim memiliki beragam pendekatan. Ini dapat dimulai dalam lingkup individu seperti introspeksi dan lingkup kelompok seperti membangun forum diskusi untuk mengajarkan dan mendalami keagamaan. Dalam lingkup individu, manusia akan diminta untuk mengintrospeksi diri mereka mengenai apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya. Ini meliputi pemahaman atas tindakan yang dilakukan manusia seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18).

Baca juga: Menjelajah Makna dan Hikmah: Pemahaman Al-Quran dalam Kehidupan Umat Islam

Ayat ini menyinggung pentingnya evaluasi pada diri manusia. Ayat ini tidak hanya memerintahkan umat muslim untuk mempertimbangkan semua tindakan yang dilakukan karena semua tindakan umat muslim akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di Akhirat. Berdasarkan tafsir Al-Wasith yang dikutip dari NU Online, ayat ini menjelaskan manusia harus melakukan Muhasabah dan koreksi diri. Dengan muhasabah dan koreksi diri, manusia dapat memahami dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Selain itu, ini dapat menjadi acuan bagi manusia dalam menghindari kesalahan agar setiap manusia dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya.

Umat muslim dapat mengintrospeksi dengan merenungi pertanyaan sederhana: “apakah ibadahku diterima?” atau “Tugasku kebanyakan nih, kira-kira masih bisa sholat gak ya?” dan “apakah aku masih bisa bertaubat setelah jarang sholat dan ngaji?” Pertanyaan seperti ini akan membantu manusia untuk memperkuat keimanan di tengah kesibukan hari, karena ini akan menjadi refleksi diri atas kesalahan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh sebab itu, introspeksi mampu memberikan peluang bagi setiap muslim untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Karena dengan adanya introspeksi, manusia akan mengakui semua kesalahannya dan memohon ampunan di hadapan Allah SWT.

Baca juga: Muslimah Berkarir: Refleksi Keadilan Dalam Benturan Norma dan Realitas

Selain berintrospeksi, ada kegiatan lain yang juga dapat memperkuat keimanan dalam kesibukan sehari-hari yaitu memperdalam pengetahuan agama. Di kehidupan, kita diminta untuk mempelajari dan mengkaji ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan sebuah aktivitas penting yang berpotensi membuat kehidupan manusia menjadi berkembang. Salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dituntut oleh umat muslim yaitu ilmu agama islam. Ilmu agama islam merupakan aspek penting dalam kehidupan umat muslim karena ilmu agama islam memainkan peran penting sebagai panduan bagi umat muslim dalam menjalani kehidupan beragama. Salah satu ayat yang menyebutkan pentingnya mendalami pengetahuan yaitu Q.S. At-Taubah ayat 122 yang berbunyi:

وَمَا كَا نَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 122).

Ayat ini menjabarkan peran dari setiap orang mukmin. Salah satu bagian penting dari ayat ini yaitu pengkajian ilmu agama oleh umat muslim. Berdasarkan tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh yang dilansir dari Tafsirweb, ayat ini menegaskan untuk membagi tugas orang mukmin berupa sebagian mukmin memiliki tugas untuk berperang dan sebagian mukmin memiliki tugas untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengetahuan agama dan mengajarkannya ke umat muslim yang mengikuti peperangan. Tafsir ini juga menyebutkan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan agama, umat muslim yang pergi berperang dapat perintah dan larangan sehingga terhindar dari azab dan hukuman. Dengan demikian, mendalami ilmu agama menjadi aspek penting bagi umat islam.

Baca juga: cahaya-cinta-dan-teladan-dari-emha-cak-nun

Umat muslim memiliki tiga cara dalam mengkaji ilmu agama, cara pertama yaitu dengan mengikuti berbagai kajian agama yang diisi oleh ustadz atau ustadzah, baik itu di masjid atau melalui aplikasi streaming. Ini dapat menjadi langkah yang baik karena mempelajari ilmu melalui tokoh dengan latar belakang yang kuat. Kedua, aktif dalam forum diskusi islam. Langkah ini dapat memperkuat pemahaman agama islam karena diskusi memiliki proses bertukar pikiran sehingga kita memahami agama melalui berbagai perspektif. Terakhir, dengan membaca buku pengetahuan agama. Langkah ini hampir sama dengan langkah pertama.

Melalui introspeksi dan mendalami ilmu agama dapat menjadi sarana bagi umat muslim untuk mendalami ilmu agama. Langkah-langkah di atas dapat diterapkan di sela-sela padatnya aktivitas sehingga tidak ada alasan bagi setiap orang untuk tidak melakukannya. Apabila mampu diterapkan dengan baik, keimanan umat muslim akan semakin kuat dan tak gampang tergoyahkan. Jadi, jangan lupa untuk terus berintrospeksi dan memperdalam ilmu agama karena kehidupan terus berubah.

Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Penulis: Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Bulan Muharram adalah salah satu waktu istimewa dalam Islam yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tahun ini 1 Muharram 1447 H jatuh pada hari Kamis, 26 Juni 2025. Muharram termasuk dalam deretan empat bulan mulia atau asyhurul hurum, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun, ada empat bulan yang dimuliakan—yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hal ini juga disebutkan dalam sebuah hadis,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia). Tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharram, lalu Rajab (yang selalu diagungkan) Bani Mudhar, yaitu antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa disebut “bulan haram” karena setiap bentuk maksiat di bulan tersebut akan dibalas lebih berat. Sebaliknya, amal ketaatan yang dilakukan juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Salah satu alasan utama Muharram dimuliakan adalah karena di dalamnya terdapat hari Asyura (10 Muharram). sebuah hari yang menyimpan jejak sejarah luar biasa, seperti kisah diselamatkannya Nabi Musa as dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Yahudi yang memuliakan hari itu dengan berpuasa. Dalam catatan Imam Fakhruddin ar-Razi, puasa Asyura bahkan menjadi satu-satunya puasa tahunan bagi mereka, sebagaimana kaum Muslim memiliki puasa Ramadhan.

Menariknya, puasa Asyura juga dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Dalam pandangan Syekh Musa Lasyin, mereka kemungkinan besar melakukannya untuk menghormati tradisi Nabi Ibrahim as, atau sebagai ekspresi penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan selama masa Jahiliyah. Bahkan sebelum Rasulullah bertemu kaum Yahudi di Madinah, penduduk Makkah telah mengenal dan melaksanakan puasa ini.

Baca juga: Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Rasulullah SAW sendiri menunaikan puasa Asyura. Menurut beberapa ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi yang dikutip oleh Syekh Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani, tindakan Nabi itu juga memiliki dimensi dakwah. Dengan berpuasa Asyura, beliau ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki titik temu dengan ajaran sebelumnya. Ini menjadi cara halus Nabi dalam meluluhkan hati Ahlul Kitab, khususnya Yahudi, agar melihat kesamaan dan akhirnya terbuka terhadap kebenaran risalah Islam.

Namun kemudian, untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu’a). Dengan demikian, puasa Asyura tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga identitas umat Islam.

Keutamaan Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Puasa Asyura sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, No. 1162)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura bisa menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa kecil yang dilakukan dalam setahun terakhir—selama tidak termasuk dosa besar, sebagaimana dijelaskan para ulama.

Di samping Asyura, Nabi juga sangat menganjurkan puasa pada hari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau puasa Tasu’a. Beliau bersabda:

ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

“Jika tahun depan masih ada kesempatan, insyaAllah aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, No. 1134)

Dengan berpuasa dua hari, yakni pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita tidak hanya mengikuti sunnah Rasulullah, tetapi juga menunjukkan identitas keislaman yang khas dan berbeda. Sehingga Puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan keutamaan ibadah di bulan Muharram ini.

Menyambut tanggal 4 dan 5 Juli 2025 sebagai momentum pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, mari kita siapkan diri dengan niat tulus, menjauhi hal-hal yang membatalkan pahala puasa, dan memperbanyak ibadah seperti zikir, doa, serta amal kebaikan lainnya.

Terlebih Kini, kita hidup di zaman yang tak kalah gaduh dari masa lalu. Beragam peristiwa silih berganti, kadang membingungkan, bahkan menyesakkan. Maka Asyura bisa menjadi jeda, waktu untuk menarik napas, menengok ke belakang, dan merencanakan langkah ke depan. Ia adalah momen untuk mengenang, merenung, dan memperbarui komitmen spiritual kita. Semoga Asyura tahun ini menjadi titik balik dari lalai menuju sadar, dari rutin menuju ikhlas, dari dosa menuju pengampunan.

Tradisi Nyadran Laut Masyarakat Wonokerto di era Modern dalam Pandangan Moderasi Beragama

Penulis: Ashrofil Anam, Editor: Nehayatul Najwa

Tradisi Nyadran Laut yang ada di kalangan masyarakat Wonokerto merupakan tradisi tahunan yang di adakan sebagai betuk rasa syukur dan permohonan mendapatkan keselamatan dalam mencari nafkah di laut. Bentuk rasa syukur di dalam tradisi Nyadran Laut ini adalah dengan menghias perahu yang akan digunakan untuk ritual membuang atau mengarungkan sesaji ke tengah laut. Sesaji teesebut biasanya berupa kepala kerbau, hasil bumi, dan jajan pasar.

Tradisi Nyadran Laut ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat karena ketidakjelasan kepada siapa ritual itu di tujukan, serta pola ritual yang tidak pernah di ajarkan dalam agama Islam. Menurut Sri Widati, masyarakat Wonokerto percaya bahwa nenek moyang mereka juga berperan dengan kemakmuran serta ketentraman warga masyarakat Wonokerto yang mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai nelayan karena secara geografis letak wilayah desa Wonokerto di pesisir laut Utara Pulau Jawa. Dengan demikian, dapat kesimpulan bahwa masyarakat Wonokerto melakukan ritual Nyadran Laut ini ditujukan kepada nenek moyang mereka.

Di sisi lain, eksistensi Tradisi Nyadran Laut di kalangan warga masyarakat Wonokerto mengalami perubahan di era modern. Pada era modern masyarakat wonokerto memandang tradisi ini sebagai adat acara tahuanan saja. Perubahan ini di tandai dengan adanya acara seperti pertunjukan wayang golek dan lomba dayung. Menurut Sri Widati, tradisi sedekah laut telah mengalami perubahan bentuk dengan perkembangan pelaksanaan sedekah laut berupa perubahan bentuk kegiatan atau acara inti berupa pengarungan sesaji dan pergelaran wayang golek berkembang dengan penambahan beberapa bentuk kegiatan pendukung tradisi sedekah laut.

Pada era modern masyarakat Wonokerto tidak lagi memandang tradisi mereka sebagai tradisi sakral yang di tujukan pada nenek moyang mereka, tetapi mereka berusaha mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk kerja sama, gotong royong, dan mempererat hubungan sesama warga yang melaut. Perubahan ini terjadi karena faktor perkembangan sosial dan budaya, serta pemahan tentang nilainilai ajaran agama Islam pada masyarakat Wonokerto. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Sri Widati yang menyatakan bahwa masyarakat Wonokerto berusaha memperbaiki dan memperbaharui baik motivasi individu maupun pola budaya dengan menciptakan dan mempertahankan tradisi sedekah laut. Lebih lanjut lagi Sri Widati megungkapkan bahwa perubahan tradisi sedekah laut dipengaruhi oleh perubahan sosial budaya masyarakat yaitu perubahan sistem ilmu pengetahuan dan pendidikan, sistem perekonomian, dan sistem teknologi.

Menanggapi hal tersebut, moderasi beragama memandang tradisi Nyadran Laut dengan menjunjung empat hal indikator moderasi yaitu: komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan akomondasi terhadap budaya lokal. Dari hal ini, dapat di ambil kesimpulan bahwa moderasi beragama memandang tradisi Nyadran Laut sebelum perubahan di era modern adalah sebuah penyimpangan terhadap nilai-nilai agama dan indikator moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan.

Hal ini dikarekanan tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern yang mempercayai bahwa nenek moyang merekalah yang memberikan kemakmuran dan keentraman sehingga eksistensi tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern adalah menyembah kepada nenek moyang mereka. Sedangkan jika di ambil dari sudut pandang komitmen kebangsaan, tradisi Nyadran Laut juga merupakan bentuk penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila sila pertama yang berbunyi ketuhanan yang maha esa. Dengan demikian, tradisi Nyadran Laut sebelum masa modern bertentangan dengan nilai dari sila pertama Pancasila karena menyembah bukan kepada tuhan melainkan kepada nenek moyang mereka.

Akan tetapi, pandangan moderasi beragama akan berbeda jika memandang tradisi Nyadran Laut yang berubah di era modern. Dengan berlandaskan indikator toleransi dan akomondasi terhadap budaya lokal, moderasi mendukung pelaksanaan tradisi Nyadran Laut sebagai bentuk mempertahankan warisan kebudayaan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai toleransi, kerjasama, gotong royong, dan mempererat hubungan antar sesama pelaut.

NU Urus Tambang: Mandiri Secara Ekonomi, Tapi Gimana dengan Amanah Menjaga Alam?

Penulis: M. Robba Masula,  Editor: Muslimah

Belakangan ini, langkah NU—khususnya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—mengelola tambang jadi sorotan publik. Kenapa? Karena pemerintah memberikan izin usaha pertambangan khusus (WIUPK) kepada PBNU untuk mengelola wilayah tambang seluas 26 ribu hektare di Kalimantan Timur. Untuk menjalankannya, NU membentuk perusahaan bernama PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara.

Pemberian izin ini bukan asal tunjuk, semuanya dimungkinkan karena adanya perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021, yang membuka pintu bagi organisasi kemasyarakatan—termasuk NU—untuk ikut serta dalam dunia pertambangan. Tujuannya, supaya ormas-ormas besar bisa lebih mandiri secara ekonomi dan tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.

Secara ide, langkah ini terlihat strategis, NU berusaha memberdayakan umat melalui sektor ekonomi yang sebelumnya dikuasai segelintir pemain besar. Tapi, pertanyaannya: apakah keterlibatan NU di sektor tambang ini selaras dengan misi spiritual dan keislaman NU sendiri?

Baca juga: Jaga Dana Rakyat Menuju Indonesia Emas 2045: Strategi Mitigasi Resiko Kecurangan

Nah, untuk menjawab ini, kita bisa intip pemikiran Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf Islam kontemporer yang banyak bicara perihal hubungan manusia dengan alam. Menurut Nasr, krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini bukan sekadar persoalan teknis atau kebijakan keliru, tapi lebih dalam: krisis spiritual. Manusia modern, katanya, semakin terlepas dari cara pandang sakral terhadap alam.

Alam kini hanya dilihat sebagai “sumber daya” untuk dieksploitasi, bukan sebagai ayat Tuhan yang harus dihormati. Padahal dalam Islam, tugas manusia adalah menjadi khalifah, bukan penguasa absolut atas bumi. Kita diminta menjaga keseimbangan (mizan), bukan merusak tatanannya.

Kalau NU ikut main di sektor tambang tanpa membawa kesadaran spiritual ekologis, maka besar kemungkinan NU hanya akan mengulang pola lama: tambang sebagai mesin ekonomi, bukan sebagai amanah Tuhan. Bahkan bisa jadi, semangat kemandirian ekonomi justru berubah menjadi ketergantungan baru—bukan pada negara, tapi pada logika pasar dan komoditas.

Baca juga: RMB Sejati Bersamai Kelas Berkah Keuangan Muslimat NU guna Perkuat Resiliensi Keluarga Maslahah

Padahal, NU punya kekayaan intelektual dan spiritual yang luar biasa: mulai dari tradisi tasawuf, prinsip fiqh al-bi’ah, hingga kearifan lokal pesantren yang terbiasa hidup selaras dengan alam. Semua ini bisa jadi pondasi untuk menciptakan model pengelolaan tambang yang etis, adil, dan ekologis—yang tidak hanya mengejar profit, tapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan warga sekitar.

Menurut Nasr, kita butuh resacralization of nature—menghidupkan kembali cara pandang bahwa alam adalah suci. Tambang, dalam hal ini, bukan sekadar urusan alat berat dan laporan keuangan, tapi juga ruang ujian moral dan spiritual.

Jika NU bisa mewujudkan ini—dengan pengawasan independen, pelibatan masyarakat adat, audit lingkungan terbuka, serta distribusi hasil yang berkeadilan—maka tambang bisa menjadi ladang dakwah ekologis. Tapi kalau tidak? Maka yang tersisa mungkin hanya debu, luka ekologis, dan retaknya kepercayaan publik terhadap organisasi masyarakat (Ormas) keagamaan.

Sebagai organisasi keagamaan yang punya pengaruh besar di Indonesia, langkah NU terlibat dalam tambang tentu nggak bisa dianggap enteng. Langkah ini tentunya berdampak besar, bukan cuma secara ekonomi, tapi juga secara sosial, politik, dan—yang sering luput dibahas—secara spiritual dan ekologis.

Baca juga: Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Masalahnya, pengelolaan tambang penuh risiko. Seperti yang terlihat di berbagai daerah, tambang bisa menjadi sumber konflik, perusak lingkungan, bahkan penderitaan warga sekitar.

Jika NU tidak memiliki kerangka nilai yang kuat, bukan tidak mungkin niat baik untuk membangun umat malah menjadi bumerang. Dan masyarakat pasti akan meminta pertanggungjawaban—bukan hanya soal untung-rugi, tapi juga soal komitmen NU terhadap nilai-nilai Islam yang selama ini mereka bawa.

Karena itu, penting untuk NU menjadikan proyek tambang ini bukan sekadar urusan manajemen, tapi juga ruang dakwah nilai-nilai Islam tentang alam. Ini momen untuk menunjukkan bahwa Islam dapat hadir secara nyata dalam menjawab isu-isu besar zaman—termasuk soal krisis lingkungan.

Dengan pendekatan ini, NU bisa membuktikan bahwa Islam tidak hanya relevan di masjid atau majelis taklim, tapi juga di ruang-ruang kebijakan dan pengelolaan sumber daya alam. Jika dijalankan dengan prinsip adil, transparan, dan spiritual, pengelolaan tambang oleh NU bisa menjadi teladan, bukan bahan celaan.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan NU dalam tambang bukan sekadar seberapa besar untung rugi, tapi seberapa besar manfaat yang dibawa—bagi bumi, manusia, dan generasi yang akan datang.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya “boleh nggak NU kelola tambang?” tapi “apa nilai yang akan dibawa NU ke dalam tambang?” Jika jawabannya adalah tanggung jawab spiritual, keadilan sosial, dan cinta terhadap ciptaan Tuhan, maka ini bisa jadi model baru pembangunan Islam yang utuh: berkah untuk umat, rahmat untuk alam.

*sumber foto : listrikindonesia.com
Referensi:
NU dan Tambang, Sebuah Perspektif Kritik dari Perspektif Ekosofi Sayyed Hossein Nasr, (https://omong-omong.com/)
Sayyed Hossein Nasr: Islam dan Spiritual Ekologis, (https://rumahbacakomunitas.org/)
PBNU Pastikan Tidak Akan Ajukan Konsesi Tambang Untuk Perguruan Tinggi NU, (https://www.tempo.co/politik/)