KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Penulis:Moh. Alwi Ardiansyah ,Editor: Muslimah

Kulon Progo — Rabu, (13/8) KKN Nusantara V yang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, menggelar kegiatan sosialisasi NAPZA di Posyandu Bina Sehat. Mengusung tema “Remaja Berprestasi Tanpa NAPZA, Masyarakat Kuat Bersatu Melawan Penyalahgunaan”, acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, sekaligus mengajak seluruh warga menjadi pionir pencegahan di lingkungannya.

Kegiatan ini menghadirkan Moh. Alwi Andiansyah Saputra, mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Alwi menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA tidak hanya merusak fisik dan mental individu, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda dan ketahanan sosial masyarakat. Ia juga memaparkan berbagai tanda-tanda penyalahgunaan NAPZA, faktor penyebab, hingga strategi pencegahan yang bisa dilakukan keluarga dan masyarakat.

Baca juga:  Memerangi Narkoba, Menyelamatkan Bangsa: Belajar dari Fredy Pratama

“Remaja harus memiliki orientasi masa depan yang jelas dan kegiatan positif yang membangun. Jika lingkungan dan keluarga hadir sebagai pendukung, maka peluang terjerumus ke NAPZA akan jauh lebih kecil,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri dari remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat setempat.

Acara ini dipandu oleh moderator Natasya Herliani, mahasiswa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang membawakan sesi tanya jawab secara interaktif. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara mengenali tanda awal kecanduan dan langkah konkret yang bisa dilakukan bersama untuk mencegah peredaran NAPZA di tingkat pedukuhan.

Bu Sutiyem, salah satu tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dan bermanfaat, terutama di tengah maraknya kasus penyalahgunaan narkoba yang menyasar generasi muda. “Pencegahan harus dimulai dari pengetahuan. Sosialisasi ini membuka wawasan kami bahwa melawan NAPZA adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, KKN Nusantara V berharap masyarakat Dukuh Jurang Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif berperan sebagai agen perubahan. Edukasi, kepedulian, dan sinergi antarwarga diharapkan menjadi benteng kuat yang mampu melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

Eksklusif, Kelompok I KKN Nusantara Resmi Rilis Film Pendek “Pulang Sebelum Gelap”

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Kelompok I KKN Nusantara yang bertempat di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo secara resmi merilis film pendek berjudul “Pulang Sebelum Gelap” di halaman rumah Kepala Dukuh Tumijo pada Senin malam, (11/08).

“Pulang Sebelum Gelap” mengangkat tema bahaya narkoba dan judi online dengan durasi 11 menit. Film ini memakan 16 hari proses pengerjaan, yaitu 2 hari untuk pengambilan gambar, dan 14 hari untuk penyuntingan. Semua tahapan pembuatan film pendek ini melibatkan peran aktif mahasiswa Kelompok I KKN Nusantara dan Karang Taruna Kanoman I.

Produser sekaligus penulis naskah film Pulang Sebelum Gelap, Ika Amiliya Nurhidayah mengungkapkan, bahwa ditinjau dari sisi religius, film ini juga menyimpan makna yang cukup dalam, bahwa pintu taubat itu selalu terbuka untuk siapapun yang bersedia untuk kembali pada jalan-Nya.

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Delapan puluh warga Kanoman I telah menyaksikan penayangan perdana film pendek ini. Mereka mengaku kagum dengan film yang ditampilkan meskipun berdurasi singkat.

Tidak sekadar penayangan film, forum ini juga diisi dengan edukasi bahaya narkoba dan judi online oleh Aiptu Suharyatno selaku Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Kalibawang.

Beliau mengimbau kepada warga agar tidak takut untuk melaporkan penyalahgunaan narkoba kepada pihak yang berwajib, karena sering kali warga merasa takut untuk menjadi saksi.

Baca juga: Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

“Yang sering jadi masalah itu warga takut melapor, takut menjadi saksi, padahal pak, buk, saksi oleh kami itu dilindungi, jadi tidak perlu takut” ujarnya.

Kelompok I berharap, warga Kanoman I dapat mengambil pelajaran yang berharga dari film ini.

Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Memasuki masa penghujung pengabdian KKN Nusantara 2025 di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Nusantara 2025 di Halaman Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro, Kalibawang, Kulonprogo pada Rabu, (06/07).

Bersama 140 perwakilan mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara ini mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri” dengan menggandeng beberapa narasumber penting di antaranya Kasubtim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementrian Agama Republik Indonesia Adimin Diens, kreator konten dan dosen Universitas Gadjah Mada I Made Andi Arsana, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY) Sih Utami, dan perwakilan Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro Yohanes Adventodi.

Baca juga: Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Sebelum membahas ekoteologi, Adimin Diens menyoroti keberagaman di Indonesia, bahwa menurutnya keberagaman menjadi potensi sekaligus tantangan bagi bangsa.

“Keberagaman adalah sebuah potensi sekaligus tantangan bagi kita,” ujarnya.

Selain itu, Sih Utami juga menyoroti keberagaman di Yogyakarta, menurutnya, sebagai daerah dengan kondisi masyarakat yang majemuk, Kesbangpol DIY selalu berusaha merawat keberagaman.

“Kami tentunya berusaha selalu merawat keberagaman, beberapa kegiatan kami lakukan seperti sinau Pancasila dan wawasan kebangsaan, kita keliling di seluruh DIY, ada juga sinau Bhinneka Tunggal Ika, dan program pembauran budaya,” jelasnya.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Andi Arsana, ia menekankan bahwa pengetahuan menjadi dasar dari proses penghormatan terhadap keberagaman.

“Interaksi antaragama adalah keniscayaan. Toleransi, menghormati itu dasarnya pengetahuan dulu, pemahaman kita adalah kunci,” ujarnya.

Berbicara mengenai ekoteologi, Yohannes sebagai perwakilan Gereja Boro mengungkapkan, bahwa merawat bumi adalah kewajiban sekaligus tanggung jawab manusia.

“Kewajiban kita sebagai umat untuk senantiasa merawat bumi sebagai tanggung jawab untuk merawat hati kita, tidak sekedar menyembah Tuhan tapi juga merawat bumi. Dalam ajaran kami, ada porsi besar yang diajarkan untuk senantiasa merawat bumi, dan bagaimana menjaga kerukunan antaragama. Apapun agamanya apapun sukunya bisa menjadi teman kami,” jelasnya.

Turut hadir dalam Dialog Nusantara Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho.

Peringati Hari Anak Nasional, Mahasiswa KKN Nusantara Dukuh Brajan Ajak Siswa MI Ma’arif Belajar Pancasila

Penulis: Nanda Kartika Putri, Editor: Muslimah

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Rabu (23/7), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara di Dukuh Brajan, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, menggelar kegiatan edukatif bertemakan “Belajar Bersama tentang Pancasila” bersama siswa-siswi MI Ma’arif Brajan pada Kamis (24/7).

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa. Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menyanyi, bermain kuis interaktif, dan menggambar simbol-simbol Pancasila. Suasana kelas berubah menjadi ruang penuh tawa, semangat, dan kebersamaan.

Dalam hal ini, Novella Citra menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pendidikan karakter anak sejak dini.

“Kami ingin Hari Anak Nasional ini menjadi momen bermakna bagi adik-adik. Melalui kegiatan sederhana ini, kami berusaha menyalurkan sedikit ilmu yang kami miliki agar mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mencintai bangsa dan negaranya,” ujarnya.

Selain itu, siswa juga diajak berdiskusi ringan mengenai contoh-contoh sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling tolong-menolong, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga kebersihan.

Tak hanya di dalam kelas, mahasiswa KKN juga mengajak siswa bermain permainan edukatif di halaman sekolah. Salah satu permainan favorit anak-anak adalah “Tebak Sila,” di mana peserta harus menebak sila Pancasila berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh teman-temannya. Aktivitas ini tidak hanya melatih daya ingat dan pemahaman, tetapi juga membangun kerja sama dan kepercayaan diri anak-anak.

Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi mahasiswa KKN Nusantara. Mereka merasakan langsung betapa pentingnya mendekatkan nilai-nilai dasar kebangsaan kepada generasi muda dengan pendekatan yang sesuai usia dan menyenangkan.

“Kami belajar banyak dari semangat anak-anak hari ini. Ternyata, ketika kita hadir dengan niat tulus dan metode yang tepat, nilai-nilai besar seperti Pancasila bisa ditanamkan dengan sangat efektif,” ujar salah satu mahasiswa.

Pihak sekolah mengapresiasi langkah mahasiswa KKN yang telah ikut serta meramaikan Hari Anak Nasional dengan kegiatan yang bermanfaat. Kepala MI Ma’arif Brajan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Melalui momentum Hari Anak Nasional ini, mahasiswa KKN Nusantara Brajan berharap kontribusi mereka bisa menjadi bagian dari upaya membentuk karakter anak-anak yang cinta tanah air dan berjiwa Pancasila. Mereka pun berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan positif lainnya selama masa pengabdian di Dukuh Brajan, demi mendampingi masyarakat dalam tumbuh dan berkembang bersama.

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Dalam rangka mematangkan persiapan program kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara yang berlokasi di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan praktik pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanoman I pada Selasa (15/07).

Kegiatan ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan salah satu program kerja “Desa Rumaket” (Rumah Alam dan Ekoteologi) yang diimplementasikan dengan membuat IMO dan penanaman sayur guna mendukung ketahanan pangan warga Kanoman I.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris KWT Kanoman I, Sri mengajari tim KKN membuat IMO. Mulai dari menggali tanah khusus yang berada di bawah pohon bambu, kemudian menaburinya dengan bekatul, lalu melapisinya dengan daun-daun bambu yang sudah mengering, kemudian menaburinya lagi dengan bekatul, dan terakhir ditutup dengan plastik.

Setelah memastikan campuran tanah, bekatul, dan daun bambu tertutup sempurna dengan plastik, tahap selanjutnya adalah mendiamkannya hingga 14 hari.

“Fungsinya bekatul untuk memakai mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kemudian ditutup biar nggak diganggu ayam. Tunggu 14 hari. kalau udah, untuk memperbanyak biar irit tanahnya diayak biar kotorannya tersisihkan,” jelas Sri.

Kelompok 1 KKN Nusantara menyimak dengan seksama dan mempraktikkan langsung tahapan-tahapan tersebut.

Bekerja sama dengan KWT, Kelompok 1 KKN Nusantara akan melaksanakan edukasi pembuatan IMO dan penanaman bibit sayur pada 24 Juli mendatang.

Kelompok 1 berharap, warga Kanoman I mampu mempertahankan kebutuhan pangannya dengan bertani mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan lahan yang terbatas.