“Nguri-Uri Budaya,” Tradisi Baritan di Kanoman I Kembali Digelar

Penulis dan Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Kulonprogo – Tradisi Baritan kembali digelar di Lapangan Sekaran, Dusun Kanoman I, Banjararum, Kulonprogo pada Minggu, (20/07). Tradisi ini merupakan perayaan tahunan yang dilakukan pada masa panen sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan.

Perwakilan warga Kanoman I Wiji Sutarma menjelaskan sejarah singkat perayaan Baritan, bahwa tidak ada sejarah konkret mengenai tradisi ini, namun yang pasti Baritan merupakan representasi rasa syukur warga atas hasil alam yang melimpah pada masa panen. Menurutnya, Kecamatan Kalibawang merupakan penghasil padi yang melimpah. Bahkan dahulu dikatakannya, salah satu kecamatan di Kabupaten Kulonprogo ini memiliki banyak lumbung padi.

“Mboten enten sejarah sing pesti tentang Baritan niki. Tapi sing jelas Baritan iku mbubarke peri lan setan lan dedongo marang Gusti Allah. Mediane kupat lan pelas, (Tidak ada sejarah pasti mengenai Baritan. Tapi yang jelas Baritan itu mengusir ‘peri’ dan setan dan berdoa kepada Allah. Medianya ketupat dan pelas),” jelas Sutarma.

Baca juga: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Baritan dimulai pada pukul 9 pagi dengan kirab ketupat dan hasil alam. Acara kedua diisi dengan penampilan warok oleh bapak-bapak Kanoman I. Acara selanjutnya adalah perebutan gunungan ketupat dan hasil alam oleh masyarakat sekitar. Baritan kemudian dilanjutkan pada pukul 1 siang dengan penampilan kesenian Jathilan Tradisional dan Kreasi Baru oleh Turonggo Aji Pamekar.

Animo masyarakat sangat tinggi terhadap acara ini. Masyarakat dari berbagai kalangan memadati Lapangan Sekaran sejak pukul 10 pagi.

Baca juga: Korelasi Antara Tradisi Nyadran dengan Nilai-Nilai Moderasi Beragama

Turut hadir dalam perayaan Baritan Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho, Lurah Banjararum Warudi, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta tokoh-tokoh Kanoman I dan II.

Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Nehayatul Najwa

Kulonprogo – Dalam rangka mematangkan persiapan program kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara yang berlokasi di Dusun Kanoman I, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan praktik pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanoman I pada Selasa (15/07).

Kegiatan ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan salah satu program kerja “Desa Rumaket” (Rumah Alam dan Ekoteologi) yang diimplementasikan dengan membuat IMO dan penanaman sayur guna mendukung ketahanan pangan warga Kanoman I.

Dalam kesempatan ini, Sekretaris KWT Kanoman I, Sri mengajari tim KKN membuat IMO. Mulai dari menggali tanah khusus yang berada di bawah pohon bambu, kemudian menaburinya dengan bekatul, lalu melapisinya dengan daun-daun bambu yang sudah mengering, kemudian menaburinya lagi dengan bekatul, dan terakhir ditutup dengan plastik.

Setelah memastikan campuran tanah, bekatul, dan daun bambu tertutup sempurna dengan plastik, tahap selanjutnya adalah mendiamkannya hingga 14 hari.

“Fungsinya bekatul untuk memakai mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Kemudian ditutup biar nggak diganggu ayam. Tunggu 14 hari. kalau udah, untuk memperbanyak biar irit tanahnya diayak biar kotorannya tersisihkan,” jelas Sri.

Kelompok 1 KKN Nusantara menyimak dengan seksama dan mempraktikkan langsung tahapan-tahapan tersebut.

Bekerja sama dengan KWT, Kelompok 1 KKN Nusantara akan melaksanakan edukasi pembuatan IMO dan penanaman bibit sayur pada 24 Juli mendatang.

Kelompok 1 berharap, warga Kanoman I mampu mempertahankan kebutuhan pangannya dengan bertani mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan lahan yang terbatas.