Wujudkan Pesantren Produktif dan Berkelanjutan Pondok Pesantren Nurul Ummah Gelar Seminar Kenalkan Sistem Hidroponik

Penulis: Annisatul Fadilah, Editor: Muslimah

Pondok Pesantren Nurul Ummah Pekalongan menggelar kegiatan Seminar Ekologi bertajuk “Green Pesantren Initiative: Capacity Building Hidroponik untuk Pesantren Produktif dan Berkelanjutan, Kamis (14/5). Kegiatan ini menghadirkan pemateri Putri Rahadian D.K., M.Pd. dan diikuti oleh para santri serta pengurus pesantren dengan antusias.

Seminar ini menjadi salah satu upaya membangun kesadaran ekologis di lingkungan pesantren melalui pengembangan keterampilan hidroponik. Tidak hanya membahas teori, para santri juga diajak memahami pentingnya merawat lingkungan melalui langkah sederhana yang dapat dimulai dari pesantren.

Baca juga:Hijau Iman, Hijau Pendidikan, Ikhtiar Kolektif Menjaga Alam Indonesia

Dalam penyampaian materinya, Putri Rahadian menekankan bahwa tanaman bukan sekadar media budidaya, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh perhatian. “Jaga dan rawat tanaman dengan hati,” pesan beliau kepada para santri. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam juga bagian dari bentuk kepedulian dan rasa syukur atas nikmat ciptaan Allah SWT.

Kegiatan ini turut difasilitasi oleh Khodimul Ma’had yaitu Abi Dr. Ahmad Taufiq, M.Pd.I. & Ummi Rizka Roikhana, M.Pd.I, sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan santri di bidang ekologi dan pertanian berkelanjutan. Melalui seminar ini, para santri diharapkan tidak hanya memiliki wawasan tentang hidroponik, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai langkah menuju pesantren yang produktif, mandiri, dan ramah lingkungan.

Pada sesi praktik, para santri langsung dikenalkan dan mempraktikkan salah satu sistem hidroponik sederhana yaitu Wick System (Sistem Sumbu). Wick System merupakan metode hidroponik yang menggunakan sumbu (wick) untuk menyalurkan nutrisi dari tandon ke akar tanaman melalui prinsip kapilaritas. Dalam praktiknya, santri menggunakan media tanam seperti rockwool atau cocopeat, kemudian memasang sumbu yang menghubungkan media tanam dengan larutan nutrisi di dalam wadah. Sistem ini dipilih karena sederhana, tidak membutuhkan listrik maupun pompa, serta mudah diterapkan untuk pemula di lingkungan pesantren.

Antusiasme santri terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi hangat, praktik, dan berbagai pertanyaan mengenai teknik penanaman hingga perawatan tanaman menjadi bukti semangat belajar para peserta. Seminar ini diharapkan menjadi awal tumbuhnya budaya cinta lingkungan di kalangan santri serta mendorong lahirnya generasi pesantren yang lebih peduli terhadap keberlanjutan alam.

Ilmu Hidup: Santri Fathimah Albatul Ikuti Praktik Pemulasaran Jenazah

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Santri Pondok pesantren mahasiswa Fathimah Albatul tampak antusias mengikuti kegiatan pemulasaran jenazah setiap sesi, terutama saat praktik simulasi pemulasaran pada Jumat, (11/07).

Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali memahami secara menyeluruh tata cara menangani jenazah secara syar’i. Kegiatan ini sebagai implementasi nyata dari ilmu fikih serta upaya membentuk karakter santri berlandaskan ajaran Islam.

Ahmad Taufiq selaku Khodimul Ma’had Ponpes Mahasiswa Fathimah Albatul menyampaikan dalam sambutanya, “Harapan saya anak-anak paham bagaimana cara ngulesi mayit apa saja yang harus dilakukan ketika mendengar orang meninggal mulai memandikan, mengkafani, menyolati, dan mengubur agar tidak keliru, yang diperlukan tidak hanya teori tetapi juga praktik. Ilmu yang seperti ini adalah ilmu hidup. Ilmu ini akan selalu dibutuhkan di tengah masyarakat, dan menjadi bentuk pengabdian santri kepada umat, bahkan hingga akhir hayat seseorang,” jelasnya.

Kegiatan ini bertujuan membekali santri dengan pengetahuan serta praktik langsung mengenai tata cara mengurus jenazah sesuai syariat, mulai dari menyobek kain kafan, memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkannya. Dibimbing langsung oleh M. Abdul Halim selaku Lebeh Wangandowo, santri diajak memahami betapa pentingnya menghormati jenazah sebagai bagian dari fardhu kifayah.

Kegiatan ini meliputi penyampaian materi terkait jenazah, simulasi praktik, serta menanamkan sikap rendah hati dan empati. Harapannya, santri tidak hanya memahami teori, namun juga siap dan berani melayani masyarakat saat dibutuhkan.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulllah saw bersabda: مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَ مَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، قِيْلَ : وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ : (( مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ)) . (متفق عليه) “Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga disholatkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 1(satu)qirath. Dan Barangsiapa yang menyaksikan (melayat) jenazah hingga dikuburkan, maka ia akan mendapat pahala sebesar 2(dua) qirath. Dikatakan: ‘apakah 2 qirath itu?’ Nabi saw menjawab: ‘seperti ukuran dua gunung yang besar” (H.R. al-Bukhori dan Muslim).