Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Nehayatul Najwa
Semua orang sering merasa waktu berputar dengan cepat, bukan hanya kalian, tetapi aku juga merasakannya. Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka melainkan ini sudah menjadi hal yang wajar. Perubahan waktu membuat kita merasa tidak pernah melakukan apapun, ini tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari Channel News Asia, Dr Kimberly Chew mengatakan, “Banyak dari kita juga terbiasa dengan rutinitas, ketika hidup menjadi rutinitas, hari-hari kita mulai bercampur, membuat waktu terasa kurang jelas dan seolah pergi begitu saja.” Hal ini menunjukkan seseorang harus menjalani aktivitas yang berbeda dari biasanya agar dapat merasakan kenikmatan dari waktu.
Sering kali kita menjalani aktivitas yang berulang mulai dari menjalani kegiatan pendidikan, bekerja, dan sebagainya. Tanpa disadari, rutinitas ini dapat membuat seseorang merasa jenuh. Namun, bagaimana dengan umat muslim yang diharuskan mengikuti kegiatan keagamaan di setiap waktu? Tentu ini menjadi masalah yang patut dibahas, karena apabila umat muslim tidak mengikutinya ini akan berdampak pada dosa. Oleh karen itu, umat muslim memerlukan pendekatan baru untuk menjalani kehidupan beragama di tengah kesibukan.
Baca juga: Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura
Untuk menjalani kehidupan agama yang menarik, umat muslim memiliki beragam pendekatan. Ini dapat dimulai dalam lingkup individu seperti introspeksi dan lingkup kelompok seperti membangun forum diskusi untuk mengajarkan dan mendalami keagamaan. Dalam lingkup individu, manusia akan diminta untuk mengintrospeksi diri mereka mengenai apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya. Ini meliputi pemahaman atas tindakan yang dilakukan manusia seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18).
Baca juga: Menjelajah Makna dan Hikmah: Pemahaman Al-Quran dalam Kehidupan Umat Islam
Ayat ini menyinggung pentingnya evaluasi pada diri manusia. Ayat ini tidak hanya memerintahkan umat muslim untuk mempertimbangkan semua tindakan yang dilakukan karena semua tindakan umat muslim akan dipertanggungjawabkan oleh Allah di Akhirat. Berdasarkan tafsir Al-Wasith yang dikutip dari NU Online, ayat ini menjelaskan manusia harus melakukan Muhasabah dan koreksi diri. Dengan muhasabah dan koreksi diri, manusia dapat memahami dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Selain itu, ini dapat menjadi acuan bagi manusia dalam menghindari kesalahan agar setiap manusia dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya.
Umat muslim dapat mengintrospeksi dengan merenungi pertanyaan sederhana: “apakah ibadahku diterima?” atau “Tugasku kebanyakan nih, kira-kira masih bisa sholat gak ya?” dan “apakah aku masih bisa bertaubat setelah jarang sholat dan ngaji?” Pertanyaan seperti ini akan membantu manusia untuk memperkuat keimanan di tengah kesibukan hari, karena ini akan menjadi refleksi diri atas kesalahan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh sebab itu, introspeksi mampu memberikan peluang bagi setiap muslim untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Karena dengan adanya introspeksi, manusia akan mengakui semua kesalahannya dan memohon ampunan di hadapan Allah SWT.
Baca juga: Muslimah Berkarir: Refleksi Keadilan Dalam Benturan Norma dan Realitas
Selain berintrospeksi, ada kegiatan lain yang juga dapat memperkuat keimanan dalam kesibukan sehari-hari yaitu memperdalam pengetahuan agama. Di kehidupan, kita diminta untuk mempelajari dan mengkaji ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan sebuah aktivitas penting yang berpotensi membuat kehidupan manusia menjadi berkembang. Salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dituntut oleh umat muslim yaitu ilmu agama islam. Ilmu agama islam merupakan aspek penting dalam kehidupan umat muslim karena ilmu agama islam memainkan peran penting sebagai panduan bagi umat muslim dalam menjalani kehidupan beragama. Salah satu ayat yang menyebutkan pentingnya mendalami pengetahuan yaitu Q.S. At-Taubah ayat 122 yang berbunyi:
وَمَا كَا نَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 122).
Ayat ini menjabarkan peran dari setiap orang mukmin. Salah satu bagian penting dari ayat ini yaitu pengkajian ilmu agama oleh umat muslim. Berdasarkan tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh yang dilansir dari Tafsirweb, ayat ini menegaskan untuk membagi tugas orang mukmin berupa sebagian mukmin memiliki tugas untuk berperang dan sebagian mukmin memiliki tugas untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengetahuan agama dan mengajarkannya ke umat muslim yang mengikuti peperangan. Tafsir ini juga menyebutkan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan agama, umat muslim yang pergi berperang dapat perintah dan larangan sehingga terhindar dari azab dan hukuman. Dengan demikian, mendalami ilmu agama menjadi aspek penting bagi umat islam.
Baca juga: cahaya-cinta-dan-teladan-dari-emha-cak-nun
Umat muslim memiliki tiga cara dalam mengkaji ilmu agama, cara pertama yaitu dengan mengikuti berbagai kajian agama yang diisi oleh ustadz atau ustadzah, baik itu di masjid atau melalui aplikasi streaming. Ini dapat menjadi langkah yang baik karena mempelajari ilmu melalui tokoh dengan latar belakang yang kuat. Kedua, aktif dalam forum diskusi islam. Langkah ini dapat memperkuat pemahaman agama islam karena diskusi memiliki proses bertukar pikiran sehingga kita memahami agama melalui berbagai perspektif. Terakhir, dengan membaca buku pengetahuan agama. Langkah ini hampir sama dengan langkah pertama.
Melalui introspeksi dan mendalami ilmu agama dapat menjadi sarana bagi umat muslim untuk mendalami ilmu agama. Langkah-langkah di atas dapat diterapkan di sela-sela padatnya aktivitas sehingga tidak ada alasan bagi setiap orang untuk tidak melakukannya. Apabila mampu diterapkan dengan baik, keimanan umat muslim akan semakin kuat dan tak gampang tergoyahkan. Jadi, jangan lupa untuk terus berintrospeksi dan memperdalam ilmu agama karena kehidupan terus berubah.
