Indahnya Bahasaku: Kultural Bulan Bahasa di Sekolah Dalam Pelestarian Budaya Bahasa Pada Gen Alpha

Penulis: Nabilla Sifa, Editor: Nehayatul Najwa

Setiap Oktober, sekolah-sekolah di Indonesia ramai dengan perayaan Bulan Bahasa. Namun ironisnya, di tengah gegap gempita lomba pidato dan puisi, semakin sedikit generasi muda yang benar-benar mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, terutama di era Gen Alpha yang lebih akrab dengan bahasa campuran dan istilah asing dalam komunikasi sehari-hari. Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas dan sarana pelestarian budaya bangsa. Oleh karenaitu, peringatan Bulan Bahasa di sekolah seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran linguistik dan kebanggaan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.

Dalam rangka Bulan Bahasa, MTs Negeri 2 Pemalang sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bulan Bahasa. Terlihat Bulan Bahasa di sekolah memiliki peran strategis sebagai wadah revitalisasi semangat berbahasa Indonesia hingga kancah internasionalisasi(Yusida Gloriani, 2023). Kegiatan-kegiatan seperti lomba menulis cerpen, membaca puisi, pidato, dan debat berbahasa Indonesia tidak hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan apresiasi terhadap kekayaan bahasa nasional. Tema yang diusung dari MTs Negeri 2 Pemalang kali ini relevan dengan perkembangan zaman: “Membangun Budaya Literasi di Era Digital”. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi tidak hanya berarti membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis, kreatif, dan etis dalam menggunakan media digital. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang berupaya menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia dan nilai-nilai budaya lokal di kalangan Gen Alpha yang tumbuh bersama gawai dan teknologi digital. Dengan menggabungkan semangat literasi dan kecintaan pada bahasa, sekolah berharap dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga berkarakter, berbudaya, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap aspek kehidupannya.

Baca juga: Menemukan Keselarasan: Harapan dan Realitas Program Literasi SD dalam Kurikulum Merdeka

Pelaksanaan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud nyata dari proses pendidikan karakter dan budaya yang terintegrasi dalam kegiatan sekolah. Beragam lomba seperti membaca puisi, pidato kebahasaan, mendongeng, menulis cerpen, kaligrafi bahasa Arab, dan drama budaya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diasah keterampilan berbahasanya, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai kesopanan, keindahan tutur kata, dan penghormatan terhadap keragaman bahasa daerah. Nilai-nilai ajaran budaya bahasa seperti unggah-ungguh, etika berbicara, dan pemilihan diksi yang santun menjadi bagian penting dari setiap kegiatan yang diselenggarakan selama Bulan Bahasa berlangsung.

Menurut salah satu guru bahasa Indonesia di MTs Negeri 2 Pemalang, kegiatan Bulan Bahasa bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana pendidikan karakter berbasis budaya bahasa. Ia menegaskan bahwa bahasa adalah cerminan akhlak seseorang. Karena itu, para siswa diajak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun, beradab, dan menghargailawanbicara, baikdalamlingkungansekolahmaupun di media sosial. Nilai-nilai ajaran budaya seperti unggah-ungguh dalambertutur, memilih kata yang tepat, dan menjaga sopan santun menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan. Hal ini sejalan dengan semangat literasi madrasah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia, cakap berkomunikasi, dan bertanggung jawab secara linguistik di era digital.

Baca juga: Pentingnya Pendidikan dan Sosial dalam Mengadvokasi Moderasi Beragama

Pelestarian budaya bahasa menjadi semakin penting karena bahasa merupakan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika generasi muda mulai kehilangan kesadaran akan pentingnya bahasa yang santun dan berbudaya, maka lambat laun jati diri bangsa pun ikut tergerus. Oleh sebab itu, kegiatan literasi dan kebahasaan di sekolah harus terus dikembangkan dengan pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia digital. Melalui kolaborasi antara guru, siswa, dan lingkungan sekolah, MTs Negeri 2 Pemalang berkomitmen menjaga bahasa Indonesia tetap hidup, berkembang, dan digunakan secara bermartabat di setiap ruang komunikasi, baik daring maupun luring.

Kegiatan Bulan Bahasa di MTs Negeri 2 Pemalang mendapat apresiasi positif dari siswa dan guru karena dinilai mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia dan budaya sendiri. Selain menumbuhkan semangat literasi, acara ini juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah tantangan globalisasi. Dengan menggabungkan nilai-nilai budaya bahasa, kreativitas, dan kecakapan digital, sekolah berupaya menyiapkan generasi Alpha yang berkarakter, berwawasan luas, dan tetap menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai lambang persatuan. Melalui kegiatan ini, MTs Negeri 2 Pemalang membuktikan bahwa pelestarian budaya bahasa bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan gerakan pendidikan berkelanjutan untuk menjaga martabat bahasa dan budaya bangsa di masa depan. Dengan demikian, pelestarian budaya bahasa bukan hanya sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan kebanggaan nasional dan kesadaran literasi. Hal ini relevan dengan teorinya Gloriani (2023) dan Olaare (2024), yang menyatakan bahwa pelestarian bahasa hanya dapat berhasil jika diintegrasikan secara berkelanjutan dalam kurikulum dan tidak sekadar menjadi perayaan temporer. Dengan menjaga budaya bahasa, kita sesungguhnya sedang menjaga keutuhan bangsa dan memperkokoh identitas Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.

Membersamai Si Kecil dengan Keteladanan di Era Digital

Penulis: Azzam Nabil H., Editor: Muslimah

Rutinitas orang tua seperti bekerja, mengejar target untuk karir dan ekonomi keluarga, serta menyelesaikan kewajiban, terkadang membuat sebagian orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, tanpa disadari ada sosok-sosok kecil yang setiap hari memperhatikan, meniru, dan memahami perilaku yang terkadang tidak diberitahu apakah itu baik atau buruk. Sedangkan orang tua dalam hal ini memiliki peran besar dalam mengarahkan si Kecil yang kelak akan tumbuh menjadi khalifah di bumi.

Baca juga: Kode Etik vs Kode Program: Menjembatani Prinsip Al-Qur’an dan Dilema Kecerdasan Buatan

Situasi lain yang juga terkadang dijumpai bahwa orang tua hanya terlalu fokus pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis, seperti ranking kelas, sertifikat lomba, atau seberapa cepat mereka bisa mengoperasikan gadget. Sedangkan aspek yang terkadang dilupakan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mendidik anak-anak di sekitarnya untuk cerdas, tetapi juga lembut hati, jujur, dan penuh kasih. Beliau mencontohkan pendidikan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Sederhana saja, seperti menurunkan badan ketika berbicara dengan anak kecil, memanggil dengan panggilan yang baik sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak, bahkan mengajarkan doa-doa yang sederhana namun penuh makna. Sehingga perlu menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan sejati bukan hanya untuk mencetak “anak pintar”, tetapi “anak beradab”.

Terlebih di era digital, anak-anak lebih mudah menemukan tokoh panutan melalui layar ketimbang dalam kehidupan nyata. Mereka meniru apa yang viral, bukan apa yang benar. Padahal dalam Islam, keteladanan hidup (uswah) lebih kuat dari sekadar nasihat panjang. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua, karena banyak penelitian membuktikan bahwa wujud teknologi di era digital yang salah satunya adalah gadget, dapat memberikan dampak negatif jika tanpa pengawasan dari orang tua dan apabila hanya dimanfaatkan untuk hiburan semata. Penelitian terbaru di sebuah desa menunjukkan bahwa 41,2% penggunaan gadget dapat mempengaruhi etika anak dalam berkomunikasi dengan orang tua dan teman. Melihat fenomena ini, orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu hadir bukan hanya sebagai pengawas yang menuntut kesempurnaan, tetapi sebagai pelindung dan penuntun yang hadir secara utuh. Sebab, anak akan belajar tentang kasih sayang dan etika melalui komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungannya. Mereka juga akan belajar tentang amanah melalui kejujuran yang diajarkan oleh orang tuanya, bahkan mereka juga belajar tentang Allah melalui cara orang tuanya dalam beribadah dan bersyukur, bukan hanya melalui perintah lisan.

Langkah-langkah demikian dapat menjadi upaya untuk meninjau ulang lingkungan tumbuh anak-anak yang orang tua bangun di keluarganya. Karena ironi yang seringkali nampak adalah, banyak dari orang tua ingin anaknya saleh dan memiliki adab, tapi terkadang mereka melihat orang tuanya mencaci orang lain di jalan, atau melihat temannya berkata kotor di sekolah. Selain itu, ketika orang tua ingin anaknya mencintai Al-Qur’an, namun anak-anaknya jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan sekadar instruksi, tetapi ia adalah cermin yang akan membentuk karakter anak-anak. Jika orang tua memahami ini, maka mereka bukan hanya akan membentuk anaknya menjadi versi ideal menurut standar dunia, tetapi pasti akan membersamai anaknya untuk tumbuh menjadi insan yang mengenal Tuhannya dan memiliki akhlak yang mulia. Karena ketika anak-anak dapat tumbuh menjadi khalifah yang cerdas dan beradab, bukan hanya keluarga yang bangga, tetapi bumi pun akan bernafas lebih lega.

 

KKN Nusantara V Ajak Warga Jurang Depok Jadi Pionir Pencegahan Narkoba

Penulis:Moh. Alwi Ardiansyah ,Editor: Muslimah

Kulon Progo — Rabu, (13/8) KKN Nusantara V yang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, menggelar kegiatan sosialisasi NAPZA di Posyandu Bina Sehat. Mengusung tema “Remaja Berprestasi Tanpa NAPZA, Masyarakat Kuat Bersatu Melawan Penyalahgunaan”, acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, sekaligus mengajak seluruh warga menjadi pionir pencegahan di lingkungannya.

Kegiatan ini menghadirkan Moh. Alwi Andiansyah Saputra, mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Alwi menegaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA tidak hanya merusak fisik dan mental individu, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda dan ketahanan sosial masyarakat. Ia juga memaparkan berbagai tanda-tanda penyalahgunaan NAPZA, faktor penyebab, hingga strategi pencegahan yang bisa dilakukan keluarga dan masyarakat.

Baca juga:  Memerangi Narkoba, Menyelamatkan Bangsa: Belajar dari Fredy Pratama

“Remaja harus memiliki orientasi masa depan yang jelas dan kegiatan positif yang membangun. Jika lingkungan dan keluarga hadir sebagai pendukung, maka peluang terjerumus ke NAPZA akan jauh lebih kecil,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri dari remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat setempat.

Acara ini dipandu oleh moderator Natasya Herliani, mahasiswa UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang membawakan sesi tanya jawab secara interaktif. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara mengenali tanda awal kecanduan dan langkah konkret yang bisa dilakukan bersama untuk mencegah peredaran NAPZA di tingkat pedukuhan.

Bu Sutiyem, salah satu tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dan bermanfaat, terutama di tengah maraknya kasus penyalahgunaan narkoba yang menyasar generasi muda. “Pencegahan harus dimulai dari pengetahuan. Sosialisasi ini membuka wawasan kami bahwa melawan NAPZA adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, KKN Nusantara V berharap masyarakat Dukuh Jurang Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif berperan sebagai agen perubahan. Edukasi, kepedulian, dan sinergi antarwarga diharapkan menjadi benteng kuat yang mampu melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

Dari Lingkungan Bersih ke UMKM Naik Kelas: KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tunjukkan Program Berdampak Nyata

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Senin 21 Juli 2025, bertempat di Aula Kelurahan Simbang Kulon, telah dilaksanakan kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto. Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. Suasana kegiatan berlangsung dengan khidmat dan tenang. Acara diawali dengan sambutan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kemudian dilanjutkan sambutan dari Sekretaris Kelurahan Simbang Kulon.

Program kerja yang disampaikan mencakup empat fokus utama, yaitu Bank Sampah, Penanganan Stunting, Koperasi Merah Putih, dan Pemberdayaan UMKM. Program ini dirancang berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi dengan masyarakat setempat, dengan harapan mampu memberikan kontribusi nyata selama masa pengabdian. Pemaparan program kerja ini bertujuan agar perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta masyarakat mengetahui secara rinci rencana kegiatan mahasiswa selama masa pengabdian KKN, serta untuk menerima arahan dan saran dari para tamu undangan yang hadir.

“Kami merancang program berdasarkan kondisi nyata yang kami temui di lapangan, dengan harapan kegiatan ini bisa memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Ilham Sholihan, salah satu perwakilan mahasiswa.

Baca Juga:Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Setelah penyampaian program kerja selesai, para tamu undangan diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran, tanggapan, serta masukan yang berkaitan dengan berbagai macam program kerja yang telah disampaikan. Berdasarkan hasil diskusi bersama, seluruh program kerja yang telah disampaikan oleh Mahasiswa KKN Kelompok 37 secara umum mendapat respon positif, dan disetujui oleh seluruh tamu undangan yang hadir, serta dapat segera ditindaklanjuti selama masa pelaksanaan KKN di Kelurahan Simbang Kulon.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan berharap mahasiswa bisa berbaur serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat Simbang Kulon,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Sebagai penutup, seluruh peserta kegiatan melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kebersamaan antara mahasiswa, perangkat kelurahan, serta tamu undangan yang hadir.

Dokumentasi ini sekaligus menjadi catatan resmi atas terselenggaranya kegiatan Penyampaian Program Kerja Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 Tahun 2025. Besar harapan kami agar program-program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat Kelurahan Simbang Kulon.

Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM: Pemantik Kegiatan KKN di Kelurahan Simbang kulon

Penulis: KKN Kolaborasi Kelompok 37, Editor: Nehayatul Najwa

Pekalongan — Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran para pelaku UMKM terhadap pentingnya labelisasi halal, Mahasiswa KKN Kolaborasi Kelompok 37 dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri Purwokerto bersama DPL, Bapak Muh. Izza, M.S.I., menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Labelisasi Halal Produk UMKM. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2025, di Aula Kelurahan Simbang Kulon dan dihadiri oleh sejumlah pelaku UMKM setempat dari berbagai jenis usaha.

Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Muh. Izza, M.S.I., yang menekankan pentingnya legalitas dan sertifikasi halal sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus strategi peningkatan daya saing produk di pasar.

“Dengan sertifikasi halal, pelaku UMKM tidak hanya memenuhi aspek syariah, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar,” ujar beliau.

Baca Juga :Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lurah Simbang Kulon, Bapak R. Agatha Franky Irawan, S.E., yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN dalam mendampingi UMKM lokal agar lebih siap menghadapi tantangan pasar modern yang menuntut transparansi dan kualitas produk.

Sesi inti diisi oleh narasumber dari PPH (Pendamping Proses Produk Halal) yang memberikan pemaparan komprehensif mengenai proses labelisasi halal.

“Halal itu tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus dibuktikan melalui proses yang sistematis dan terdokumentasi,” jelas narasumber.

Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan urgensi label halal, tahapan pengajuan sertifikasi, persyaratan administrasi dan alur pengajuan sertifikasi. Narasumber juga menekankan pentingnya integritas pelaku usaha dalam memastikan bahwa seluruh bahan baku dan proses produksi sesuai dengan standar kehalalan yang ditetapkan.

Baca Juga: Jangan mudah terlena Makanan dan Minuman Enak Cek dulu Kehalalannya

Peserta sosialisasi tampak antusias dan aktif dalam sesi tanya jawab, yang mencakup berbagai permasalahan teknis dan administratif yang akan dihadapi dalam proses produksi dan pengurusan sertifikasi halal. Salah satu peserta, mengungkapkan,“Selama ini saya ragu mengurus halal karena merasa rumit, tapi setelah dijelaskan ternyata bisa kami lakukan asal tahu tahapannya.”

Peringati Hari Anak Nasional, Mahasiswa KKN Nusantara Dukuh Brajan Ajak Siswa MI Ma’arif Belajar Pancasila

Penulis: Nanda Kartika Putri, Editor: Muslimah

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Rabu (23/7), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara di Dukuh Brajan, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, menggelar kegiatan edukatif bertemakan “Belajar Bersama tentang Pancasila” bersama siswa-siswi MI Ma’arif Brajan pada Kamis (24/7).

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa. Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menyanyi, bermain kuis interaktif, dan menggambar simbol-simbol Pancasila. Suasana kelas berubah menjadi ruang penuh tawa, semangat, dan kebersamaan.

Dalam hal ini, Novella Citra menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pendidikan karakter anak sejak dini.

“Kami ingin Hari Anak Nasional ini menjadi momen bermakna bagi adik-adik. Melalui kegiatan sederhana ini, kami berusaha menyalurkan sedikit ilmu yang kami miliki agar mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang mencintai bangsa dan negaranya,” ujarnya.

Selain itu, siswa juga diajak berdiskusi ringan mengenai contoh-contoh sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling tolong-menolong, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga kebersihan.

Tak hanya di dalam kelas, mahasiswa KKN juga mengajak siswa bermain permainan edukatif di halaman sekolah. Salah satu permainan favorit anak-anak adalah “Tebak Sila,” di mana peserta harus menebak sila Pancasila berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh teman-temannya. Aktivitas ini tidak hanya melatih daya ingat dan pemahaman, tetapi juga membangun kerja sama dan kepercayaan diri anak-anak.

Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi mahasiswa KKN Nusantara. Mereka merasakan langsung betapa pentingnya mendekatkan nilai-nilai dasar kebangsaan kepada generasi muda dengan pendekatan yang sesuai usia dan menyenangkan.

“Kami belajar banyak dari semangat anak-anak hari ini. Ternyata, ketika kita hadir dengan niat tulus dan metode yang tepat, nilai-nilai besar seperti Pancasila bisa ditanamkan dengan sangat efektif,” ujar salah satu mahasiswa.

Pihak sekolah mengapresiasi langkah mahasiswa KKN yang telah ikut serta meramaikan Hari Anak Nasional dengan kegiatan yang bermanfaat. Kepala MI Ma’arif Brajan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Melalui momentum Hari Anak Nasional ini, mahasiswa KKN Nusantara Brajan berharap kontribusi mereka bisa menjadi bagian dari upaya membentuk karakter anak-anak yang cinta tanah air dan berjiwa Pancasila. Mereka pun berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan positif lainnya selama masa pengabdian di Dukuh Brajan, demi mendampingi masyarakat dalam tumbuh dan berkembang bersama.

Menyelami Makna dan Keunikan di Balik Festival Bubur Suro Krapyak Kota Pekalongan

Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Menyambut tahun baru Hijriah menjadi hal yang penuh suka cita bagi setiap umat muslim. Seperti yang dirasakan oleh masyarakat Kota Pekalongan, khususnya wilayah Krapyak dalam menyambut acara tahunan ini.

Setiap memasuki bulan Muharram (Suro) masyarakat Kelurahan Krapyak mengadakan acara tahunan berupa Festival Bubur Suro. Sebuah acara yang kental akan tradisi ini lahir dari kebiasaan dan spiritual masyarakat. Sesuai penamaannya, Festival Bubur Suro diambil dari bulan pertama dalam kalender Jawa yaitu Suro.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 2019 ini bukan hanya perayaan, namun menjadi wujud dari rasa syukur, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang maknanya sangat mendalam bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaan tradisinya, masyarakat Krapyak membagikan ribuan porsi bubur. Hal ini merupakan bentuk rasa syukur dan sedekah atas karunia Allah SWT. Ditinjau dari sisi historis, tradisi bubur suro ini merupakan interpretasi dari kisah Nabi Nuh dan pengikutnya, di mana kapal yang ditumpangi selamat dari bencana banjir bandang, kemudian mereka memasak makanan dengan bahan seadanya untuk dinikmati bersama. Seperti wadah yang digunakan untuk bubur tersebut yaitu takir yang berbentuk melengkung menyerupai kapal Nabi Nuh.

Tentunya bubur suro ini menggambarkan keberagaman, sebagaimana yang terdapat di dalam bubur yang terdiri dari macam-macam bahan, rempah, kacang-kacangan, dan diolah dengan tujuh toping lainnya. Dalam proses pembuatannya pun melibatkan banyak orang, tentunya tergambarkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Keunikan juga tergambarkan dari rangkaian acara Festival Bubur Suro yang kental akan pelestarian budayanya. Seperti terselenggaranya acara tahun ini yang mengusung tema “Merawat Jejak Luhur” dengan menonjolkan nilai-nilai tradisi, serta kearifan lokal. Ornamen yang digunakan dalam dekorasi acara pun dirancang penuh dengan sentuhan lokal yang menggunakan bambu dan kayu sebagai konsep dekorasi utama. Rangkaian acara pun menjadi simbol betapa masih kuatnya pelestarian budaya yang tersaji dalam acara ini. Seperti Kirab Gunungan Bubur Suro yang memiliki simbol harapan dan doa, pentas budaya seni yang menghadirkan musik keroncong, hingga bazar makanan dari berbagai jenis generasi baik tradisional maupun modern. Kegiatan ini pastinya memberikan banyak peluang bagi masyarakat baik perekonomian serta rasa gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Krapyak.

Tradisi ini mengundang banyak antusiasme masyarakat serta menjadi kebanggaan lokal yang tentunya memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menjaga tradisi setempat. Festival Bubur Suro ini menjadi cerminan kearifan lokal serta semangat gotong royong masyarakat Krapyak Kota Pekalongan. Di balik pemaknaan sebuah bubur tersimpan rasa syukur, harapan, serta kebersamaan masyarakat yang selalu dirayakan secara turun-temurun.

Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Antusias, Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Kelompok Kanoman I bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalibawang menyelenggarakan Edukasi Pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dan Komersialisasi Produk Pertanian di kediaman Tumijo, Kepala Dusun Kanoman I, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo pada Kamis, (24/7).

Baca juga: Matangkan Persiapan Program Kerja, Kelompok 1 KKN Nusantara Praktik Membuat IMO Bersama KWT

Kegiatan ini merupakan implementasi program kerja Kelompok Kanoman I yang mengacu pada pilar Desa Rumah Alam dan Ekoteologi (Rumaket) dan Pembangunan Ekonomi Umat.

Dinna selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kalibawang, menyampaikan definisi, fungsi, kelebihan, serta proses pembuatan Indigenous Microorganism (IMO) dengan jelas.

Lebih lanjut, Dinna menyampaikan bahwa terdapat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan dari produksi IMO, namun perlu dilakukan uji lab untuk bisa mengomersialisasikan produk tersebut.

“Perlu ada uji lab terlebih dahulu di Kabupaten Bantul, di laboratorium pengamat penyakit, baru bisa didistribusikan,” jelasnya.

Bukan hanya penyampaian teori, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan IMO 1 dan IMO 2 yang dilakukan di bawah pohon bambu, di mana terdapat tanah yang masih alami karena belum terkontaminasi bahan kimia apa pun. Dipimpin oleh Suwarto selaku PPL di wilayah Kelurahan Banjararum, warga menyimak dengan seksama.

Di akhir kegiatan, Kelompok I membagikan 2 bibit cabai dan 2 bibit tomat, polybag, serta 1 botol IMO 2 kepada tiap warga untuk segera dipraktikkan di rumah. Warga terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi acara.

Menjejak Sunyi Sejarah di Gereja Boro: Napak Tilas Misi Katolik di Jantung Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kalibawang, Kulon Progo di antara lebatnya pepohonan dan udara sejuk pegunungan Menoreh, berdiri sebuah bangunan tua yang kokoh menantang waktu, yaitu Gereja Santa Theresia Lisieux, Boro. Bagi masyarakat sekitar Kalibawang, nama “Gereja Boro” bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang penyebaran ajaran Katolik dan kehidupan sosial masyarakat sejak masa kolonial.

Langkah kaki kami dari Tim KKN Nusantara V yang sedang bertugas di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, terasa ringan namun penuh rasa ingin tahu saat menginjakkan kaki di Komplek Misi Boro. Sebuah kawasan yang ternyata menyimpan lebih dari sekadar bangunan gereja, di sinilah sejarah, iman, dan pelayanan berpadu erat dalam satu ruang dan waktu.

Menurut hasil wawancara kami dengan pengelola setempat, Gereja Boro mulai dibangun pada 31 Agustus 1931, ketika wilayah ini masih merupakan bagian dari stasi Kalibawang yang dilayani oleh Paroki Muntilan, Magelang. Kehadiran Romo J. Prenthaler, S.J. menjadi titik balik yang membangkitkan kehidupan rohani di Boro, sekaligus menjadi penggerak utama berdirinya kompleks ini.

Baca Selengkapnya: Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Namun, gereja hanyalah satu bagian dari mosaik besar bernama Komplek Misi Boro. Kami mendapati bahwa di sekeliling gereja terdapat pastoran, rumah sakit, susteran, bruderan, panti asuhan, hingga sekolah-sekolah Katolik seperti Pangudi Luhur dan Marsudirini. Pembangunan kompleks ini berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938, menggambarkan betapa seriusnya misi Katolik dalam mengakar di tanah Kulon Progo, bukan hanya untuk menyebarkan ajaran, tetapi juga melayani umat lewat pendidikan dan kesehatan.

Yang membuat hati terenyuh, bangunan-bangunan tua itu masih tegak berdiri. Dinding-dinding gereja dengan ornamen khas Eropa awal abad ke-20, jendela kaca patri yang menyaring cahaya mentari pagi, hingga aroma kayu tua yang menenangkan, semuanya membawa imajinasi kami menyusuri lorong-lorong waktu. Namun yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana nuansa budaya lokal terasa begitu kuat di dalam gereja ini.

Baca Selengkapnya: Moderasi Beragama: Harmoni Islam dan Budaya Lokal di Desa Linggoasri

Ornamen-ornamen ukiran kayu bermotif batik dan tokoh-tokoh wayang menghiasi bagian dalam gereja. Kehadiran elemen-elemen budaya lokal tersebut seolah menjadi bentuk dialog harmonis antara iman dan tradisi, antara universalitas Katolik dan kearifan lokal. Ukiran yang halus dan penuh makna itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bagaimana kekristenan merangkul budaya setempat, bukan menggantikannya.

“Komplek ini bukan hanya milik umat Katolik. Ini bagian dari sejarah Kulon Progo,” ungkap salah satu pengurus gereja yang kami temui.

Ucapannya seperti menegaskan bahwa di balik nilai religiusnya, Gereja Boro menyimpan warisan lintas budaya yang layak dihormati dan dilestarikan.

Baca selengkapnya: Moderasi Beragama dan Toleransi di Desa Karangturi, Lasem: Simbol Harmoni dalam Keberagaman

Di tengah modernisasi yang semakin cepat, tempat seperti Gereja Boro menjadi pengingat akan akar-akar sejarah yang tak boleh tercerabut. Kunjungan ini bukan hanya menjadi bagian dari agenda observasi KKN kami, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam—mengajarkan bahwa bangunan tua bisa menyampaikan kisah, jika kita tidak hanya diam dan mendengarnya.