Sabar dalam Menghadapi Masalah

Penulis: M. Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Setiap manusia pasti pernah menghadapi masalah. Masalah dapat datang dari berbagai hal, seperti keluarga, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Ketika masalah datang, terkadang seseorang merasa lelah, kecewa, bahkan ingin menyerah. Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk menghadapi berbagai ujian dengan sabar dan tetap percaya kepada Allah Swt.

Sabar bukan berarti hanya diam dan pasrah terhadap keadaan. Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri, tetap tenang, terus berusaha, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Seseorang yang sabar tetap boleh merasa sedih dan kecewa, tetapi ia tidak membiarkan perasaan tersebut membuatnya kehilangan harapan kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sabar memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. memerintahkan orang beriman untuk memohon pertolongan-Nya dengan sabar dan salat. Sabar menjadi salah satu kekuatan bagi seseorang ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Baca juga: Sabar dan Dekatnya Kasih Sayang Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sabar dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana. Misalnya, ketika mendapatkan nilai yang kurang baik, seorang mahasiswa tidak seharusnya langsung menganggap dirinya gagal. Ia dapat menerima hasil tersebut, mengevaluasi kekurangannya, kemudian berusaha belajar lebih baik. Begitu juga ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga. Menahan emosi dan memilih menyelesaikan masalah dengan kepala dingin merupakan salah satu bentuk kesabaran.

Rasulullah saw. juga menjelaskan keutamaan sabar dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim seharusnya tidak hanya bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan, tetapi juga bersabar ketika mendapatkan kesulitan. Keduanya dapat menjadi kebaikan bagi seorang mukmin. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim No. 2999.

Namun, menjadi orang yang sabar bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Ada masalah yang terasa sangat berat sehingga membuat seseorang kehilangan semangat. Dalam keadaan seperti itu, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan. Salat, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan berzikir dapat membantu seseorang mengingat bahwa Allah selalu mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh hamba-Nya.

Allah Swt. juga memberikan harapan kepada manusia melalui QS. Al-Insyirah ayat 5–6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segalanya. Setiap masalah yang kita hadapi memiliki jalan keluar yang mungkin belum kita lihat saat ini. Karena itu, seseorang tidak seharusnya mudah berputus asa ketika menghadapi masalah.

Menurut saya, sikap sabar sangat penting bagi generasi muda saat ini. Kehidupan yang serba cepat terkadang membuat kita ingin mendapatkan sesuatu secara instan. Ketika keinginan tidak tercapai, kita mudah kecewa dan merasa gagal. Padahal, setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing.

Sabar juga bukan berarti berhenti berusaha. Justru kesabaran harus disertai dengan ikhtiar. Ketika mengalami kegagalan, kita perlu mengevaluasi diri dan mencoba kembali. Ketika menghadapi masalah, kita perlu mencari solusi, bukan hanya mengeluh. Dengan demikian, sabar dapat menjadi kekuatan untuk membuat kita terus melangkah.

Pada akhirnya, masalah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Kita mungkin tidak dapat menentukan masalah apa yang akan datang, tetapi kita dapat menentukan bagaimana cara menghadapinya. Sebagai seorang muslim, menghadapi masalah dengan sabar, berdoa, dan tetap berusaha merupakan salah satu bentuk kepercayaan kepada Allah Swt.

Jangan sampai masalah membuat kita kehilangan harapan. Bisa jadi, sesuatu yang saat ini kita anggap sebagai ujian justru menjadi jalan untuk membuat kita lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada Allah Swt. Sebab, bersama kesulitan, Allah Swt. telah menjanjikan adanya kemudahan.

 

Indahnya Berprasangka Baik Dalam Kehidupan

Penulis: Mohammad Rizqi Fathurrohman, Editor: Muslimah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai keadaan yang belum tentu sesuai dengan harapan. Terkadang seseorang tidak membalas pesan kita, teman tiba-tiba menjauh, guru memberikan teguran, atau seseorang melakukan sesuatu yang membuat kita merasa tidak dihargai. Dalam situasi seperti itu, kita sering kali langsung berpikiran negatif tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Padahal, bisa jadi ada hal lain yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, berprasangka baik atau husnuzan merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam menjalani kehidupan.

Berprasangka baik berarti berusaha melihat sesuatu dari sisi positif dan tidak terburu-buru menuduh atau menilai seseorang berdasarkan dugaan. Sikap ini bukan berarti kita harus mengabaikan kesalahan atau menerima semua hal tanpa pertimbangan. Berprasangka baik berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memiliki alasan yang mungkin belum kita ketahui. Dengan begitu, kita tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa tidak semua dugaan yang muncul dalam pikiran kita dapat dibenarkan. Jika kita terus mengikuti prasangka buruk, kita dapat terjerumus ke dalam kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain, membicarakan keburukannya, bahkan menimbulkan permusuhan.

Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya tentang bahaya prasangka, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa prasangka yang tidak didasarkan pada fakta dapat membawa seseorang kepada kesimpulan yang salah. Bayangkan jika kita melihat seorang teman berjalan bersama orang yang tidak kita kenal lalu kita langsung berpikir bahwa ia sedang membicarakan kita. Padahal bisa saja mereka sedang membicarakan tugas sekolah atau urusan lainnya. Jika kita langsung mempercayai pikiran negatif tersebut, kita bisa menjadi marah dan menjauhi teman tanpa alasan yang jelas.

Berprasangka baik juga dapat membuat hati menjadi lebih tenang. Ketika kita terbiasa melihat sisi positif dari suatu keadaan, kita tidak akan mudah merasa kecewa, marah atau curiga. Misalnya ketika seseorang belum membalas pesan kita, daripada langsung berpikir bahwa ia sengaja mengabaikan kita, kita dapat berpikir bahwa mungkin ia sedang sibuk atau tidak melihat ponselnya atau memiliki keperluan lain. Pikiran yang lebih positif seperti ini membuat kita tidak terbebani oleh sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar.

Selain itu, husnuzan dapat mempererat hubungan antarmanusia. Hubungan pertemanan, keluarga, maupun lingkungan masyarakat membutuhkan rasa percaya. Jika setiap tindakan orang lain selalu dicurigai, hubungan tersebut akan mudah dipenuhi kesalahpahaman. Sebaliknya, ketika kita membiasakan diri untuk berprasangka baik, kita akan lebih mudah memaafkan, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Namun, berprasangka baik bukan berarti menjadi seseorang yang mudah percaya kepada semua hal. Kita tetap perlu bersikap bijaksana dan menggunakan bukti ketika menghadapi suatu masalah. Jika seseorang melakukan kesalahan, kita boleh mengingatkan dan mencari kebenaran. Bedanya, kita tidak langsung memberikan tuduhan sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Dengan demikian, husnuzan harus berjalan bersama sikap tabayun, yaitu mencari dan memeriksa kebenaran suatu informasi.

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, berprasangka baik merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan pengaruh besar dalam kehidupan. Dunia akan terasa lebih damai jika manusia tidak mudah menghakimi satu sama lain. Banyak konflik sebenarnya bermula dari kesalahpahaman dan dugaan yang tidak pernah diperiksa kebenarannya. Oleh karena itu, sebelum menilai seseorang, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar mengetahui apa yang terjadi, atau aku hanya sedang menebak?”

Pada akhirnya, berprasangka baik bukan hanya tentang bagaimana kita memandang orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati dan pikiran kita sendiri. Dengan husnuzan, kita belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi, belajar memahami keadaan orang lain, serta belajar menyerahkan hal-hal yang belum kita ketahui kepada Allah Swt. Berprasangka baik memang tidak selalu mudah, tetapi jika dibiasakan, hati akan menjadi lebih tenang dan hubungan dengan sesama akan menjadi lebih harmonis.

Indahnya berprasangka baik terletak pada kemampuannya untuk menghadirkan kedamaian di tengah kehidupan yang penuh dengan perbedaan dan ketidakpastian. Karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk mencari alasan yang baik sebelum menyimpulkan sesuatu yang buruk. Sebab, terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dipahami adalah salah satu bentuk akhlak mulia.

 

Bukan Kurang Waktu, Mungkin Kita yang Terlalu Banyak Menunda

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

“Besok aja.”

Kalimat sederhana itu mungkin sering kita ucapkan. Besok mengerjakan tugas, besok belajar, besok membaca Al-Qur’an, besok memperbaiki diri, atau bahkan besok mulai serius beribadah. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal tidak pernah ada yang menjamin bahwa “besok” benar-benar akan datang.

Kita sering mengeluh bahwa 24 jam sehari terasa tidak cukup. Kuliah, pekerjaan, organisasi, tugas, hingga media sosial membuat waktu terasa cepat berlalu. Namun, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu, melainkan karena kita belum mampu menggunakannya dengan baik.

Semua orang memiliki waktu yang sama. Tidak ada yang mendapatkan 30 jam sehari sementara orang lain hanya 20 jam. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut digunakan. Ada yang menggunakannya untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berkembang. Ada juga yang tanpa sadar menghabiskannya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Baca juga: Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah Swt. bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr. Surah tersebut mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu memang berbeda dengan harta. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali, barang yang rusak bisa dibeli lagi. Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap hari yang kita lewati sebenarnya adalah bagian dari umur yang berkurang.

Sayangnya, kita sering baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan hilang. Kita baru belajar ketika ujian sudah dekat, baru meminta maaf ketika hubungan sudah rusak, atau baru ingin memperbaiki ibadah ketika sedang menghadapi masalah.

Menunda memang terasa nyaman. Ketika ada tugas, membuka media sosial terasa lebih menyenangkan. Ketika harus belajar, menonton film terasa lebih menarik. Ketika ingin membaca Al-Qur’an, kita berkata, “Nanti setelah selesai main HP.” Tetapi “nanti” sering berubah menjadi “besok”, dan akhirnya tidak pernah dilakukan.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan Allah Swt. Kita mengatakan tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an atau belajar agama, tetapi masih mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk hiburan. Bukan berarti hiburan itu salah. Kita tetap membutuhkan istirahat. Namun, jangan sampai sesuatu yang hanya untuk kesenangan mendapatkan waktu terbaik kita, sementara ibadah selalu mendapat sisa tenaga.

Karena itu, kita perlu belajar menentukan prioritas. Tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari hal sederhana. Luangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, kerjakan tugas sebelum mendekati tenggat, kurangi waktu bermain media sosial, atau sekadar menghubungi orang tua yang sudah lama tidak kita kabari.

Kita juga tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu Ramadan untuk memperbaiki ibadah, atau menunggu motivasi untuk belajar. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa manusia hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirinya juga ikut pergi. Pesan ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar angka di kalender. Waktu adalah kehidupan kita sendiri.

Pada akhirnya, kita bukan benar-benar kekurangan waktu. Kita hanya terlalu sering memberikan waktu kepada hal-hal yang tidak penting dan menunda hal-hal yang sebenarnya berarti. Kita boleh beristirahat, menikmati hiburan, dan bersantai. Tetapi jangan sampai “nanti” menjadi kebiasaan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak “besok” yang masih Allah berikan.

Jika ada kebaikan yang bisa dilakukan hari ini, mengapa harus menunggu besok?

Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Penulis: M Rizqy Raditya Pratama, Editor: Muslimah

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, menjaga salat lima waktu menjadi sebuah tantangan bagi sebagian Umat Islam. Kesibukan kuliah, pekerjaan, organisasi, keluarga, hingga aktivitas di media sosial terkadang membuat seseorang lupa waktu dan menunda salat. Bahkan, ada yang sengaja meninggalkan salat karena merasa masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan. Padahal, sebagai seorang muslim, salat merupakan kewajiban yang tidak seharusnya ditinggalkan hanya karena kesibukan dunia.

Menurut saya, menjaga salat lima waktu bukan hanya tentang menjalankan kewajiban agama, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu mendisiplinkan dirinya. Salat mengajarkan kita untuk mengatur waktu dan menempatkan kewajiban kepada Allah Swt. sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan. Sesibuk apa pun seseorang, seharusnya tetap berusaha menyediakan waktu untuk melaksanakan salat.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salat memiliki waktu yang telah ditentukan. Artinya, salat bukan ibadah yang dapat dilakukan sesuka hati atau hanya ketika kita sedang memiliki waktu luang. Ada waktu-waktu tertentu yang harus dijaga oleh setiap muslim. Karena itu, kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan salat.

Baca juga: Al-Wasathiyah dalam Keseharian Rasulullah

Rasulullah saw. juga menjelaskan pentingnya melaksanakan salat pada waktunya. Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud ra. bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. Rasulullah saw. menjawab:

“Salat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat tepat waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Menurut saya, hal ini menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh selalu menempatkan salat sebagai kegiatan yang bisa dilakukan setelah semua urusan dunia selesai. Justru, aktivitas sehari-hari yang seharusnya disesuaikan dengan waktu salat.

Masalah yang sering terjadi adalah kebiasaan menunda. Seseorang mungkin berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.” Namun, kalimat sederhana tersebut bisa menjadi awal dari kebiasaan buruk. Ketika terlalu sering menunda, seseorang bisa menjadi terbiasa menganggap salat sebagai sesuatu yang tidak mendesak. Padahal, waktu terus berjalan dan terkadang kesibukan membuat kita benar-benar lupa hingga waktu salat berakhir.

Salat lima waktu juga sebenarnya memberikan kesempatan kepada manusia untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan. Dalam sehari, kita memiliki waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Lima waktu tersebut dapat menjadi momen untuk mengingat Allah Swt. sekaligus melakukan introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan. Setelah beraktivitas sejak pagi, misalnya, salat Zuhur dapat menjadi waktu untuk menenangkan diri dan kembali mengingat tujuan hidup.

Rasulullah saw. juga memberikan perumpamaan mengenai salat lima waktu. Beliau bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?”

Para sahabat menjawab bahwa tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Kemudian Rasulullah saw. bersabda bahwa demikianlah perumpamaan salat lima waktu, yang dengannya Allah Swt. menghapus kesalahan-kesalahan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi sarana bagi seorang muslim untuk terus memperbaiki dirinya. Setiap kali melaksanakan salat, kita memiliki kesempatan untuk mengingat Allah Swt., memohon ampun, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjaga salat memang tidak selalu mudah. Rasa malas, lelah, pekerjaan yang menumpuk, atau terlalu asyik dengan kegiatan lain dapat membuat seseorang lalai. Namun, justru di situlah pentingnya membangun kebiasaan. Kita dapat menggunakan alarm sebagai pengingat, segera mengambil wudhu ketika waktu salat tiba, dan tidak membiasakan diri menunda-nunda. Jika sedang berada di luar rumah, kita juga dapat mencari tempat yang memungkinkan untuk melaksanakan salat.

Menurut saya, menjaga salat juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. kita sering kali sibuk mengejar berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, uang, kesuksesan, dan keinginan lainnya. Semua itu memang penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa kepada Allah Swt. yang telah memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan tersebut.

Pada akhirnya, menjaga salat lima waktu merupakan tanggung jawab setiap muslim. Kesibukan tidak akan pernah berhenti karena selalu ada pekerjaan dan urusan lain yang datang silih berganti. Jika kita menunggu sampai benar-benar tidak sibuk untuk melaksanakan salat, mungkin kita tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat. Oleh karena itu, salat harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang dilakukan ketika kita sedang memiliki waktu luang.

Sesibuk apa pun kehidupan kita, jangan sampai salat menjadi hal pertama yang dikorbankan. Justru ketika kehidupan semakin sibuk, kita harus semakin berusaha menjaga salat. Dengan menjaga salat lima waktu, kita bukan hanya menjalankan kewajiban kepada Allah Swt., tetapi juga belajar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan selalu mengingat bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

 

Menjaga Pergaulan Sebagai Benteng Diri Dan Akhlak

Penulis: Mohammad Rizqi Fathurrohman, Editor: Muslimah

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, tetangga, dan masyarakat. Pergaulan menjadi bagian penting dalam kehidupan karena melalui pergaulan seseorang dapat belajar, bertukar pengalaman, serta membangun hubungan dengan orang lain. Namun, pergaulan juga perlu dijaga agar tidak membawa pengaruh buruk. Oleh karena itu, menjaga pergaulan merupakan salah satu hal penting, terutama bagi generasi muda.

Pergaulan yang baik dapat memberikan banyak manfaat. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan, memberi semangat ketika menghadapi kesulitan, dan mengajak kepada kegiatan yang positif. Sebaliknya, pergaulan yang tidak sehat dapat membuat seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Seseorang yang awalnya tidak memiliki kebiasaan buruk bisa saja terpengaruh karena terlalu sering mengikuti perilaku teman-temannya.

Baca juga: Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Dalam Islam, memilih teman dan menjaga pergaulan merupakan hal yang sangat diperhatikan. Rasulullah saw. bersabda:

“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap diri seseorang. Jika kita berteman dengan orang-orang yang memiliki akhlak baik, rajin belajar, menghormati orang lain, dan senang melakukan kebaikan, kemungkinan besar kita juga akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika seseorang sering berada dalam lingkungan yang menganggap perilaku buruk sebagai sesuatu yang biasa, ia dapat lebih mudah terbawa oleh kebiasaan tersebut.

Menjaga pergaulan bukan berarti kita harus menjauhi semua orang yang berbeda dari kita. Kita tetap harus bersikap ramah dan menghormati siapa pun. Hal yang perlu dijaga adalah batasan dalam berinteraksi serta kemampuan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita boleh berteman dengan banyak orang, tetapi tidak harus mengikuti semua perilaku mereka. Prinsip yang penting adalah tetap memiliki pendirian dan tidak mudah terpengaruh.

Di zaman sekarang, menjaga pergaulan juga tidak hanya dilakukan dalam kehidupan nyata, tetapi juga di dunia digital. Media sosial memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan banyak orang tanpa harus bertemu secara langsung. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih konten yang ditonton, akun yang diikuti, dan percakapan yang dilakukan. Jangan sampai lingkungan pergaulan di dunia maya justru membuat kita terbiasa dengan perkataan kasar, penghinaan, perundungan, atau perilaku negatif lainnya.

Selain memilih teman yang baik, menjaga pergaulan dapat dilakukan dengan mengisi waktu melalui kegiatan yang positif. Belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan keagamaan, membantu keluarga, mengikuti organisasi sekolah, dan mengembangkan hobi merupakan contoh kegiatan yang dapat membentuk kebiasaan baik. Dengan memiliki kegiatan yang bermanfaat, kita tidak mudah menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Menurut saya, menjaga pergaulan bukan sekadar aturan untuk membatasi kebebasan seseorang. Justru, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita memiliki hak untuk menentukan siapa yang dekat dengan kita dan bagaimana kita ingin menjalani kehidupan. Pertemanan yang sehat seharusnya membuat seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya kehilangan prinsip dan melakukan sesuatu hanya demi diterima oleh kelompok.

Oleh karena itu, generasi muda perlu belajar menjadi pribadi yang tegas dalam memilih pergaulan. Jangan takut dianggap berbeda ketika kita memilih melakukan hal yang benar. Teman yang baik seharusnya menghargai keputusan kita dan tidak memaksa kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama, keluarga, maupun aturan yang berlaku.

Pada akhirnya, pergaulan dapat menjadi jalan menuju kebaikan ataupun sebaliknya, tergantung bagaimana kita memilih dan menjalaninya. Menjaga pergaulan berarti menjaga diri, akhlak, masa depan, dan hubungan kita dengan orang lain. Dengan memilih lingkungan yang positif, memiliki pendirian, serta berpegang pada ajaran agama, kita dapat membangun kehidupan yang lebih baik. Sebagaimana pesan Rasulullah saw., kita perlu memperhatikan siapa yang menjadi teman dekat kita karena lingkungan pertemanan dapat memberi pengaruh besar terhadap diri dan perilaku kita.

 

Menjaga Sikap Terhadap Sesama di Tengah Perbedaan

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang keluarga, daerah, budaya, cara berpikir, bahkan keyakinan yang berbeda. Di lingkungan kampus misalnya, kita bisa bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan dan pandangan yang tidak selalu sama dengan kita. Begitu juga di lingkungan masyarakat. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain. Salah satu dasar penting mengenai hal ini terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah S.W.T. adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman manusia merupakan bagian dari kehendak Allah S.W.T. Manusia diciptakan dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. 

Baca juga: Tabayyun di Zaman Algoritma: Menjaga Moderasi Saat Informasi Menjadi Senjata

Menurut saya, bagian “agar kamu saling mengenal” ini menarik untuk direnungkan. Sebab, dalam kehidupan sekarang, kita terkadang justru lebih mudah mengenali perbedaan daripada mengenali manusianya. Kita melihat seseorang dari kelompok mana, berasal dari daerah mana, memiliki pandangan seperti apa, atau memiliki keyakinan apa, kemudian buru-buru memberikan penilaian. Padahal, sebelum melihat perbedaannya, kita sedang berhadapan dengan seorang manusia yang juga ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan baik.

Akhlak Rasulullah saw. memberikan contoh bahwa menghormati manusia tidak harus berarti menyamakan semua keyakinan atau menghilangkan prinsip yang kita miliki. Menghormati orang lain adalah persoalan sikap dan kemanusiaan. Hal tersebut juga dapat dilihat dalam QS Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya. Bahkan, ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah S.W.T. mencintai orang-orang yang berlaku adil. Artinya, berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, selama berada dalam hubungan yang damai, Islam mengajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil.

Contoh yang paling sederhana sebenarnya ada di sekitar kita. Ketika memiliki teman yang berbeda pandangan, kita tidak harus selalu setuju dengan pendapatnya. Namun, ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Kita bisa mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa harus mengatakan, “Pendapatmu bodoh.” Begitu pula ketika berada di media sosial. Perbedaan pendapat sering kali membuat seseorang lupa bahwa di balik layar terdapat manusia lain yang juga memiliki perasaan. Hanya karena tidak bertemu secara langsung, seseorang merasa bebas menulis komentar kasar, mengejek, bahkan merendahkan orang lain. 

Di sinilah akhlak menjadi penting. Akhlak bukan hanya terlihat ketika kita sedang berada di masjid, mengikuti pengajian, atau berbicara tentang agama. Akhlak justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Rasulullah saw. juga memberikan contoh penghormatan terhadap manusia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah saw. berdiri ketika sebuah jenazah lewat. Para sahabat kemudian memberitahukan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. Dalam riwayat lain, ketika diberitahu bahwa jenazah itu milik seorang Yahudi, Rasulullah saw. mempertanyakan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”  Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Rasulullah saw. menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaan seseorang. Perbedaan keyakinan tidak membuat beliau kehilangan rasa hormat terhadap manusia.

Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti harus memusuhi setiap orang yang berbeda. Justru, salah satu bentuk kekuatan akhlak adalah kemampuan untuk tetap bersikap baik tanpa kehilangan prinsip. Pada akhirnya, perbedaan memang akan selalu ada. Kita tidak harus membuat semua orang menjadi sama dengan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Karena bisa jadi, ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sukai, tetapi juga bagaimana ia bersikap kepada orang yang berbeda dengannya. Dan jika Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., maka meneladani sikap beliau terhadap sesama manusia merupakan salah satu bentuk nyata dari kecintaan tersebut.

Melestarikan Tradisi ngaliwet Desa Bunikasih di Tengah Arus Modernisasi

Penulis: Sofiatul Afidah, Editor: Mohammad Rizqi Fathurrohman

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup yang serba praktis, kebiasaan berkumpul bersama perlahan mulai memudar. Kesibukan bekerja, aktivitas di dunia digital, hingga budaya makanan cepat saji membuat banyak orang lebih memilih menikmati makanan sendiri daripada meluangkan waktu untuk berbincang bersama keluarga maupun tetangga. Padahal, di berbagai daerah di Indonesia masih terdapat tradisi yang mampu menjaga kehangatan hubungan antar manusia. Salah satunya adalah tradisi ngaliwet yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Bunikasih, Kecamatan Warung kondang, Kabupaten Cianjur.

Dahulu, nasi liwet dimasak oleh para petani menggunakan tungku kayu bakar untuk bekal atau santapan setelah bekerja di sawah. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat, seperti syukuran, pengajian, kerja bakti, musyawarah warga, hingga acara kebersamaan lainnya.

Baca Juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Di Desa Bunikasih, tradisi ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam berbagai kegiatan, warga berkumpul untuk menyiapkan hidangan bersama. Ada yang mencuci beras, membersihkan lauk, mengulek sambal, menyalakan api, hingga menata makanan. Tidak ada pembagian tugas yang kaku; semua bekerja dengan sukarela demi terciptanya kebersamaan. Dari proses sederhana inilah nilai gotong royong tumbuh dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keistimewaan Ngaliwet tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung dalam setiap unsurnya. Salah satunya adalah penggunaan daun pisang sebagai alas makan. Selain memberikan aroma alami yang khas pada makanan, penggunaan daun pisang melambangkan kesederhanaan, kebersihan, dan persatuan. Seluruh hidangan disajikan di atas satu hamparan daun pisang sehingga setiap orang duduk sejajar tanpa membedakan usia, kedudukan, maupun latar belakang sosial. Hal ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dan kebersamaan akan terjalin ketika setiap orang saling menghargai.

Nasi liwet dimasak dengan berbagai rempah, seperti serai, daun salam, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya. Perpaduan rempah tersebut tidak hanya menghasilkan aroma harum dan cita rasa khas, tetapi juga mengandung filosofi tentang keberagaman. Setiap rempah memiliki rasa dan karakter yang berbeda, namun ketika dipadukan mampu menghasilkan hidangan yang lezat. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang dapat menciptakan keharmonisan apabila di satukan dalam semangat kebersamaan.

Keunikan lainnya terlihat pada penggunaan kastrol, yaitu wadah memasak tradisional berbahan logam yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk memasak nasi liwet di atas tungku kayu bakar. Memasak dengan kastrol membutuhkan kesabaran dan ketelitian karena api harus dijaga agar tetap stabil hingga nasi matang dengan sempurna. Proses tersebut mengajarkan bahwa hasil yang baik memerlukan waktu, kerja sama, dan kesungguhan. Sama halnya dalam kehidupan bermasyarakat, keharmonisan hanya dapat terwujud apabila setiap orang saling membantu dan menghargai peran satu sama lain.

Setelah matang, nasi liwet disajikan memanjang di atas daun pisang dan dinikmati bersama menggunakan tangan. Cara makan seperti ini menciptakan suasana hangat dan akrab. Tidak ada meja kehormatan ataupun tempat duduk khusus. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua duduk dalam satu barisan, menikmati hidangan yang sama sambil berbagi cerita dan tawa. Momen sederhana tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan kebersamaan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bunikasih, kami melihat langsung bahwa tradisi ngaliwet masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kehangatan yang tercipta sejak proses memasak hingga makan bersama menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai yang masih hidup dan terus dijaga. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, meskipun perkembangan zaman terus bergerak begitu cepat.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ngaliwet memiliki makna yang semakin penting. Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi bukan berarti nilai budaya harus ditinggalkan. Justru generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan kembali tradisi ini melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, maupun media sosial agar tetap dikenal oleh masyarakat luas.

Melestarikan tradisi ngaliwet bukan sekadar mempertahankan cara memasak atau menikmati makanan bersama. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan upaya menjaga nilai gotong royong, persaudaraan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang telah diwariskan oleh para leluhur. Desa Bunikasih menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Semoga semangat kebersamaan yang lahir dari tradisi ngaliwet terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya, serta mengingatkan kita bahwa warisan paling berharga bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat, melainkan juga nilai-nilai luhur yang terus dijaga bersama.

 

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam: Berkata Baik atau Diam

Penulis: Marchella Dika Aristawidya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Dalam kehidupan bermasyarakat, ucapan memiliki peran yang penting dalam membangun hubungan dengan sesama. Perkataan yang disampaikan dapat memberikan dampak yang besar terhadap perasaan seseorang. Berbeda dengan luka fisik yang dapat sembuh dalam waktu tertentu, luka yang disebabkan oleh perkataan terkadang dapat membekas dalam ingatan dan perasaan dalam waktu yang lama.

Kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi, mulai dari memilih kata yang tepat, memperhatikan intonasi, hingga menyesuaikan sikap dan gerak tubuh. Selain itu, memahami karakter serta latar belakang orang lain juga penting agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Dengan menjaga ucapan, kita dapat menghindari kesalahpahaman maupun perasaan tersinggung sehingga hubungan dengan sesama tetap terjaga dan tercipta kehidupan yang harmonis.

Ucapan dapat diibaratkan dua sisi mata pisau. Di satu sisi, perkataan yang baik dapat memberikan kebahagiaan dan menumbuhkan semangat bagi orang lain. Namun, di sisi lain, perkataan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan rasa sakit dan melukai perasaan seseorang. Pentingnya menjaga ucapan juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga lisan dan mempertimbangkan setiap perkataan yang akan disampaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Hadis tersebut mengajarkan bahwa menjaga ucapan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah Swt. dan Hari Akhir. Rasulullah saw. mengingatkan umatnya untuk selalu berkata dengan baik, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti perasaan orang lain. Apabila tidak ada perkataan yang baik untuk disampaikan, sebaiknya seseorang memilih untuk diam. Sikap diam dalam keadaan tersebut lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan keburukan atau menyakiti orang lain.

Terkadang, ucapan yang bernada menyindir, meremehkan, atau menyinggung kekurangan seseorang dianggap sebagai candaan dan dinormalisasi. Padahal, tidak semua orang dapat menerimanya dengan cara yang sama. Sebelum berbicara, kita perlu mempertimbangkan perasaan orang lain agar perkataan yang disampaikan tetap sopan dan tidak meninggalkan luka di hati.

Baca juga: KKN Nusantara Kelompok 11 Tanamkan Kesadaran Kelola Sampah Sejak Dini dengan Gelar Sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi

Anjuran untuk berkata baik juga dapat diterapkan ketika memberikan kritik dan nasihat. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak merendahkan sehingga orang yang menerimanya dapat memahami maksud yang disampaikan tanpa merasa disakiti. Dengan demikian, nasihat dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri, bukan justru menimbulkan perselisihan.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari perkataan yang menyakitkan, melainkan juga tentang membiasakan diri untuk menyampaikan ucapan yang baik dan bermanfaat. Setiap perkataan yang keluar hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan maupun luka di hati orang lain. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga berusaha menjalankan salah satu ajaran Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: rumaysho.com orami.co.id islam.nu.or.id

Belajar Moderasi Beragama dari Pengajian Kampung Babakan Haur, Banten

Penulis: Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal, Editor: Muslimah

Ketika mendengar istilah moderasi beragama, yang sering terbayang adalah seminar, diskusi akademik atau forum-forum resmi yang membicarakan toleransi dan kerukunan. Padahal, menurut saya, moderasi beragama justru akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai konsep yang dibicarakan di ruang-ruang formal. Moderasi beragama seharusnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah disebut sebagai praktik moderasi.

Pandangan itu semakin saya rasakan ketika mengikuti pengajian di Kampung Babakan Haur, Kabupaten Lebak, Banten, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI. Di kampung tersebut, saya mengikuti pengajian rutin yang diasuh K.H. Dahlan Ghojali. Jamaah bersama-sama melakukan tawasul dan istighasah, kemudian mendengarkan kajian tafsir Surah Yasin ayat 10–11.

Baca Juga: Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Namun, yang paling menarik perhatian saya bukan hanya materi pengajiannya. Justru suasana setelah pengajian membuat saya banyak berpikir. Jamaah duduk bersama, menikmati kopi dan makanan ringan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Tidak ada kesan bahwa kegiatan keagamaan harus selalu berlangsung dalam suasana yang formal dan kaku. Pengajian menjadi ruang bertemu, berbagi cerita, dan mempererat hubungan antar sesama.

Dari situ saya bertanya kepada diri sendiri: bukankah suasana seperti inilah salah satu wajah moderasi beragama?

Kementerian Agama menjelaskan bahwa moderasi beragama memiliki empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Konsep tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang memahami agamanya, tetapi juga bagaimana pemahaman itu diwujudkan dalam kehidupan sosial.

Apa yang saya lihat di Babakan Haur menunjukkan bahwa nilai tersebut sebenarnya dapat tumbuh tanpa harus menggunakan istilah yang rumit. Masyarakat duduk bersama dalam satu majelis, saling menghargai, mendengarkan nasihat, dan membangun keakraban. Perbedaan usia, pekerjaan, maupun latar belakang sosial tidak menjadi alasan untuk membuat jarak.

Bagi saya, inilah bentuk tasamuh yang sering kali lebih mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat daripada dalam definisi-definisi akademik. Toleransi tidak selalu harus berupa tindakan besar. Terkadang ia hadir dalam kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, menghargai, dan tidak merasa paling benar sendiri dalam kehidupan sosial. Hal lain yang menarik adalah keberadaan tradisi membawa kopi dan makanan dari rumah. Tradisi semacam ini memang bukan bagian dari ritual ibadah. Akan tetapi, justru di situlah budaya lokal menemukan ruangnya sebagai bagian dari kehidupan keberagamaan masyarakat. Kebiasaan berbagi makanan menjadi sarana membangun silaturahmi dan mempererat persaudaraan.

Menurut saya, sikap seperti ini penting dalam memahami hubungan antara agama dan budaya. Moderasi beragama bukan berarti menjadikan agama tunduk kepada budaya, tetapi juga bukan berarti agama harus selalu berhadapan dengan budaya. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama dan membawa kemaslahatan, budaya dapat menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan.

Cara Kiai Dahlan menyampaikan pengajian juga memberikan pelajaran tersendiri. Nasihat agama disampaikan dengan bahasa yang santun dan menyejukkan. Tidak ada kebutuhan untuk merendahkan kelompok lain agar ajaran yang disampaikan terlihat paling benar. Bagi saya, cara berdakwah semacam ini justru menunjukkan kekuatan agama: mampu menyampaikan kebenaran tanpa harus menggunakan kekerasan. Di tengah masyarakat yang semakin mudah ter polarisasi oleh perbedaan pilihan, identitas, dan pemahaman keagamaan, cara-cara dakwah yang menyejukkan menjadi semakin penting. Agama seharusnya menjadi ruang untuk menemukan kedamaian, bukan sumber pertengkaran.

Pengalaman di Babakan Haur akhirnya membuat saya melihat moderasi beragama dari sudut pandang yang berbeda. Moderasi tidak selalu berbentuk slogan, program pemerintah, ataupun materi seminar. Ia dapat hadir dalam pengajian kampung, dalam secangkir kopi yang diminum bersama, dalam makanan yang dibagikan, dalam nasihat seorang kiai, dan dalam kesediaan masyarakat untuk terus menjaga silaturahmi. Justru di situlah letak kekuatan moderasi beragama. Ia tidak selalu perlu disebut, tetapi harus dirasakan.

Tidak selalu harus diajarkan secara teoritis, tetapi perlu dicontohkan melalui kehidupan. Dari Babakan Haur saya belajar bahwa keberagamaan yang kuat bukanlah keberagamaan yang gemar membangun jarak. Sebaliknya, keberagamaan yang matang adalah keberagamaan yang mampu menghadirkan kedamaian, menjaga persaudaraan, menghormati budaya yang baik, dan menempatkan perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Sebab pada akhirnya, moderasi beragama bukan tentang menjadi kurang religius. Moderasi justru tentang bagaimana keberagamaan yang kita yakini mampu melahirkan sikap yang lebih menghargai sesama.

‎Tak Cuma Kitab Kuning, Santri PP Al-Aziziyyah Kajen Digembleng Jadi Pelopor ‘Green Pesantren’ ‎

‎Penulis: M. Ribkhi Zuhri, Editor: Nehayatul Najwa

‎PEKALONGAN — Peran pondok pesantren di era modern tidak lagi sebatas benteng pertahanan moral dan tempat menimba ilmu keagamaan. Menjawab tantangan krisis lingkungan daerah, Pondok Pesantren (PP) Putra Putri Al-Aziziyyah Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan melangkah lebih jauh dengan menggembleng para santrinya menjadi pelopor kelestarian ekologi pada Selasa (4/8/2026).

Melalui Pelatihan Manajemen Sampah Terpadu yang memanfaatkan masa liburan santri, kompleks pesantren disulap menjadi pusat edukasi lingkungan. Langkah ini digagas sebagai respons konkret atas tingginya volume limbah domestik harian di dalam pondok yang selama ini masih bergantung pada pola pembuangan konvensional ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

‎Ketergantungan pada pembuangan akhir tanpa adanya tata kelola di tingkat tapak dinilai berpotensi memperparah krisis penumpukan sampah di Kabupaten Pekalongan. Berangkat dari kesadaran tersebut, PP Al-Aziziyyah menggandeng Departemen Lingkungan Hidup (DLH) Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pekalongan untuk meredefinisi peran santri.

‎‎Melalui kolaborasi lintas sektor ini, para santri diajak menggeser sudut pandang lama. Sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan dinas kebersihan pemerintah semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial yang wajib diselesaikan mandiri sejak dari hulu.

Baca Juga:Dari Sampah Ke Harapan: Ikhtiar Kampus Menjawab Krisis Iklim, Dari Diskusi Ke Refleksi Dan Aksi

‎‎Guna memberikan pemahaman yang komprehensif dan aplikatif, pelatihan dibagi ke dalam tiga sesi materi teknis yang disampaikan langsung oleh para praktisi:

Krisis dan Dampak Sampah: Najmuddin, S.H.I. membuka wawasan peserta mengenai ancaman nyata ekosistem akibat penumpukan limbah, sekaligus menanamkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari kepedulian sosial.

‎Pemilahan Sampah Anorganik: Ilham Hasan memberikan pembekalan teknis mengenai pemisahan material plastik, kardus, dan kertas agar memiliki nilai guna ulang serta siap disalurkan ke rantai daur ulang.

‎Pengolahan Sampah Organik: Didik Komaruddin, S.P. memandu teknik konversi sisa makanan dapur dan sampah daun kering menjadi pupuk kompos produktif yang bermanfaat bagi sektor pertanian pondok.

‎Tidak berhenti pada pemaparan teori, para santri langsung diterjunkan dalam simulasi lapangan di area kompleks pesantren. Dipandu oleh para narasumber, santri mempraktikkan secara langsung pemilahan sampah anorganik serta memasukkan limbah organik ke dalam wadah pengomposan.

Baca Juga:Mengelola Sampah di Pekalongan: Solusi atau Sekadar Sanksi?

‎‎Ketua Panitia Kegiatan, Arif Rusda Dimaski, S.H., menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar para santri memiliki keseimbangan antara keunggulan spiritual dan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan kontemporer.

‎‎”Kegiatan ini bertujuan mencetak santri yang peduli lingkungan. Harapan besar kami adalah mentransformasi pesantren menjadi Green Pesantren, di mana pengelolaan sampah menjadi budaya harian sekaligus mendorong kemandirian ekonomi hijau pondok,” tegas Arif.

Melalui komitmen berkelanjutan ini, PP Al-Aziziyyah Kajen tidak hanya berupaya menjaga lingkungan pesantren tetap bersih dan sehat, tetapi juga membuktikan bahwa basis komunitas keagamaan mampu menjadi aktor utama dalam mewujudkan kemandirian ekologis di tingkat daerah.

‎