Merawat Iman, Hidupkan Harmoni: Belajar Moderasi Beragama dari Petilasan 5 Roti 2 Ikan

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Atika Puspita Rini

Malam itu (24/7), angin perbukitan Kalibawang berembus lembut saat saya dan rekan-rekan KKN Nusantara Posko 22 mengikuti kegiatan Doa Rutin Kamis Malam di Petilasan 5 Roti 2 Ikan, Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Bukan sekadar doa biasa, perjumpaan ini membawa kami menelusuri jejak iman Katolik yang telah mengakar sejak awal penyebarannya di Tanah Istimewa Yogyakarta.

Baca juga: Langkah Awal Wujudkan Ketahanan Pangan: Warga Kanoman I Belajar Membuat IMO

Menurut Ibu Lumiyati, Istri Dukuh Jurang Depok, nama 5 Roti 2 Ikan tidak hanya merupakan simbol alkitabiah, melainkan menyimpan sejarah penting. Nama tersebut merujuk pada lima murid dan dua misionaris yang memulai misi Katolik di Kalibawang. Sejak saat itu, tempat ini berkembang menjadi ruang pertumbuhan iman sekaligus wadah dialog lintas generasi.

Hal membedakan malam itu adalah adanya sesi sarasehan bertema “Keluarga Katolik Terlibat dalam Masyarakat” yang diarahkan langsung oleh Keuskupan Agung Semarang. Menurut Bapak Winarto, Ketua Lingkungan Jurang Depok, kegiatan ini rutin dilakukan, namun malam tersebut menjadi istimewa karena umat diajak untuk lebih reflektif terhadap peran sosial mereka.

Dalam diskusi, muncul satu pernyataan menarik yang dikutip oleh rekan saya, Mba Dewi: “Jika satu anggota tubuh rusak, maka rusaklah tubuh itu.” Pernyataan ini mengandung makna mendalam—bahwa setiap individu di masyarakat memiliki peran penting. Bila satu peran diabaikan, maka keberlangsungan masyarakat bisa terganggu. Inilah nilai dasar dari moderasi beragama.

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk setia pada keyakinan, sekaligus terbuka dalam perbedaan. Prinsipnya mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal. Kegiatan doa di Petilasan ini mencerminkan semuanya, yaitu umat Katolik yang tidak eksklusif, tetapi hadir dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial warga sekitar. Agama tidak menutup ruang tradisi, tetapi justru merawatnya dalam bingkai iman yang kontekstual.

Di tengah maraknya polarisasi dan cara pandang sempit terhadap agama, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa iman seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan. Moderasi bukan berarti memudarkan keyakinan, melainkan menjalankannya secara bijak, terbuka, dan penuh empati.

Sebagai mahasiswa yang sedang menjalani KKN, saya melihat kegiatan ini bukan sekadar pengalaman religius, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana kerukunan dirawat secara nyata. Moderasi beragama bukan jargon kosong, tapi praktik hidup sehari-hari—dalam doa, dialog, dan tindakan sosial bersama.

Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Tempat di mana perbedaan tidak menjadi ancaman, tetapi justru kekuatan. Dan malam itu, di tengah sunyinya Petilasan yang sarat makna, saya menyaksikan sebuah kebenaran sederhana, yaitu iman yang moderat mampu menjadi jembatan, bukan tembok, antarumat manusia.

Mendak Pindo dan Slawatan Katolik: Harmoni Lintas Iman di Tengah KKN Nusantara di Dukuh Jurang Depok

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra

Editor: Fajri Muarrikh

Kulon Progo –  Dalam suasana hening yang sarat makna spiritual, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Kelompok 22 Tahun 2025 turut ambil bagian dalam tradisi Mendak Pindo, sebuah ritual doa mengenang dua tahun wafatnya seseorang. Kegiatan ini berlangsung di Dukuh Jurang Depok, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo pada hari Sabtu (19/07/2025). Rangkaian acara mencakup sembahyang, kenduri, dan yang paling menarik perhatian, yaitu Selawatan Katolik, dikenal juga sebagai Slaka.

Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan lintas iman ini tidak hanya menjadi pengalaman budaya, tetapi juga bagian dari implementasi Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. KKN Nusantara tahun ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Asta Protas, terutama pada poin pertama berbunyi “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan”. Sinergi antara kampus dan masyarakat dukuh seperti inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.

Slawatan Katolik sebagai Simfoni Doa dan Tradisi Jawa

Slaka menjadi elemen kultural yang paling menonjol dalam acara Mendak Pindo ini. Tradisi ini memadukan unsur musikal Jawa dengan spiritualitas Katolik. Irama yang digunakan dalam Slaka memiliki kemiripan dengan shalawat dalam Islam—merdu, mengalun, penuh khidmat. Namun, lirik-liriknya berisi pujian kepada Allah, Yesus Kristus, dan kisah-kisah tokoh Katolik yang dibawakan dalam bahasa Jawa dengan nada-nada yang khas.

Tradisi ini berkembang di wilayah-wilayah pedesaan seperti Kalibawang dan sekitarnya, mencerminkan akulturasi yang kaya antara iman Katolik dan budaya lokal. Dalam perspektif seni, Slaka adalah ekspresi iman yang dibumikan dalam bentuk tembang.

“Shalawat Katolik ini merepresentasikan iman yang kita hayati, tanpa mempermasalahkan aqidah ataupun perbedaan ritual. Ini adalah cara kami menyembah Tuhan melalui seni,” ujar salah satu tokoh masyarakat, ibu Lumiyati.

Media Pewartaan dan Jembatan Dialog Lintas Agama

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Slaka menjadi media pewartaan dan penguatan nilai-nilai moral. Syair-syairnya berisi ajaran Yesus Kristus, pesan-pesan kasih, penguatan iman, hingga seruan perdamaian antarumat beragama. Slaka di Dukuh Jurang Depok percaya bahwa kesenian ini mampu menyentuh hati lintas generasi, lintas agama.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan ini pun menjadi bentuk pembelajaran sosial yang luar biasa. Mereka menyaksikan bagaimana nilai-nilai iman tidak harus dipertentangkan, melainkan bisa dijadikan jembatan untuk memahami sesama.

“Sebagai mahasiswa dari latar belakang berbeda, kami merasa kegiatan ini memberikan pelajaran penting tentang toleransi dan ekspresi iman yang kreatif,” tutur salah satu peserta KKN Nusantara, Royhan.

Implementasi Asta Protas melalui Kerukunan yang Membumi

Asta Protas mendorong mahasiswa untuk merancang kegiatan KKN yang relevan dengan isu-isu strategis Kementerian Agama, termasuk kerukunan beragama dan cinta kemanusiaan. Keterlibatan dalam Mendak Pindo dan Slaka menjadi bagian dari upaya itu—mendorong interaksi bermakna antara mahasiswa dan komunitas lintas agama.

Tak hanya menjadi penonton, mahasiswa juga membantu dokumentasi kegiatan, mendampingi teknis acara, dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini memastikan bahwa program pengabdian yang mereka jalani memberikan dampak berkelanjutan dan memperluas wawasan keberagaman.

Iman yang Mengalun dalam Nada

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh perbedaan, apa yang terjadi di Kalibawang adalah angin segar, suara-suara iman dinyanyikan bukan untuk menghakimi, tapi untuk merangkul. Slaka bukan hanya bentuk seni, melainkan perwujudan iman sejati yang merangkul manusia secara universal.

KKN Nusantara V 2025 telah menunjukkan bahwa membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana: hadir, mendengar, dan menghargai. Lewat nada-nada syahdu dari Slaka, mahasiswa dan masyarakat menemukan harmoni—di mana iman dan seni berjalan berdampingan.