Prof. Quraish Shihab Bersama Mahasiswa UIN Gusdur Diskusikan Toleransi, Pendidikan Akhlak, dan Moderasi Beragama

Pewarta : Eka Rizqiani, Editor : Amarul Hakim

Jakarta (4/11), Mahasiswa Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan yang dilaksanakan di Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ) Jakarta.

Mahasiswa melakukan kunjungan dan mengikuti acara diskusi keislaman di Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) bersama Prof. Quraish Shihab. Tema yang diangkat dari acara tersebut adalah “Diskusi keislaman: Toleransi, pendidikan Akhlak dan penguatan moderasi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan  di Masjid Jami’ Bayt Al Qur’an Pondok Cabe Tangerang selatan, Banten. Dalam diskusi tersebut beliau Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A ditemani oleh Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB.

Acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Abi Quraish Shihab mengenai pembahasan toleransi, pendidikan akhlaq, dan penguatan moderasi. Kemudian dilanjutkan diskusi bersama berupa tanya jawab. Beliau memaparkan mengenai perbedaan toleransi, moderasi, dan pluralisme. “Toleransi adalah menghargai tanpa mengorbankan prinsip. moderasi adalah cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, adil, dan tidak ekstrem, sedangkan pluralisme adalah mengakui kebebasan tanpa mengorbankan prinsip namun tidak mencampuradukkan,” terang Abi Quraish.

Salah satu mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid, Sokhifah Hidayah bertanya mengenai sejauh mana batasan seorang muslim dengan non-muslim dalam berinteraksi dan bagaimana cara agar akidah kita sebagaiman seorang muslim tidak tercampur aduk dengan akidah saudara kita yang non-muslim dalam berinteraksi, serta apakah membenarkan ajaran-ajaran yang berasal dari agama non Islam juga termasuk perbuatan yang mencampur adukkan agama?.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB menjawab, “Boleh saja berinteraksi dengan non-muslim tapi kita harus pegang prinsip, yang terpenting adalah kita harus berakhlaq yang baik dengan orang diluar Islam, jangan sampai untuk menyenangkan hati non-muslim kita justru melewati batasan-batasan agama kita,” jawab Ustadz Taufiq.

Abi Quraish Shihab juga menambahkan jawaban, “Berulang-ulang Al-Qur’an menyampaikan pesan untuk jangan mencaci, jangan menghina orang-orang yang tidak menyembah Allah karena itu bisa mengundang mereka mencaci Tuhan, Nabi bersabda salah satu dosa yang paling besar adalah memaki orang tua, maksudnya bukan anak yang memaki secara langsung kepada orang tua, tapi anak yang memaki orang tua orang lain sehingga orang itu memaki orang tua kita.  Selain itu, terdapat ajaran-ajaran kebenaran yang semua sepakat yakni kebenaran yang diakui secara universal terlepas apapun agamanya,” tambah Abi Quraish.

Sesi diskusi tersebut ditutup dengan penyampaian Abi Quraish mengenai contoh toleransi dalam banyaknya karya tafsir yang muncul. Menurut beliau tafsir yang harus kita terima adalah yang berusaha menggapai kehendak Allah atas apa yang telah difirmankannya dalam Al-Qur’an, dengan semua piranti bahasa Arab beserta kaidah tafsirnya. Ketika ada karya tafsir yang muncul dan ditulis dengan melewati semua hal tersebut, namun nyatanya satu sama lain masih ada perbedaan, maka perbedaan tersebut bisa kita toleransi. Sedangkan apabila ada seseorang yang berusaha menafsirkan tanpa kaidah tafsir dan ilmu bahasa dalam bahasa Arab, maka hal tersebut yang kita tolak.

Baca juga : Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Pada kegiatan diskusi keislaman ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman bagi mahasiswa mengenai toleransi, pendidikan akhlak dan penguatan moderasi. Begitu banyak pesan-pesan yang bisa diambil dari diskusi tersebut, yang akan menjadikan kita lebih mengerti apa arti dan sejauh mana batas serta toleransi dan moderasi beragama. sehingga menjadikan hidup kita lebih rukun dengan sesama dan tidak mengklaim bahwa kita paling benar dan yang lainnya salah.

Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Penulis: Sokhifah Hidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Mendapat kesempatan untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Moderasi Beragama se-Indonesia merupakan kesempatan emas bagi para peserta KKN  dalam memaknai perbedaaan dan keindahan mozaik bangsa. Program ini menghadirkan peserta KKN dari seluruh Indonesia dengan latar belakang yang beragam. Keragaman agama, suku bangsa, budaya, dan bahasa disuguhkan secara bersamaan sebagai upaya agar para peserta KKN dan masyarakat dapat mengalami secara langsung hidup di tengah keragaman bangsa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dalam pelaksanaan program KKN ini, tentu ada beberapa tantangan yang dialami oleh peserta. Diantaranya ialah, mereka harus hidup satu atap dengan peserta lain yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Terlebih, para peserta KKN ini merupakan utusan terbaik dari masing-masing kampusnya. Tentu tidak heran ketika di awal masa KKN, mereka belum mampu ‘menurunkan ego’ masing-masing. Semua mempunyai ide, gagasan, dan inovasi yang ingin disumbangkan kepada desa tempat kami ber-KKN. Namun, apakah gagasan-gagasan tersebut dapat terlaksana apabila masing-masing belum mampu menurunkan sedikit egonya? Tentu saja tidak. Maka, tantangan yang muncul selanjutnya ketika hidup di tengah keragaman ini adalah sulitnya menyatukan dan menyelaraskan pendapat masing-masing untuk mecapai tujuan bersama.

Baca juga: KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Perbedaan-perbedaan tersebut nyatanya bukan sebuah penghalang untuk menyukseskan program KKN ini. Terbukti, dalam kurun waktu yang relatif singkat, yakni hanya 40 hari perbedaan-perbedaan tersebut dapat menyatu menunjukkan harmoninya. Dengan adanya kerja sama untuk menyelesaikan program kerja yang telah disusun tentu akan menjadi lebih mudah. Didukung dengan suasana keakraban yang telah terjalin dengan erat di antara peserta KKN. Meski memiliki perbedaan latar belakang, hal ini tidak lagi menjadi masalah karena mereka telah menyatu sebagai satu keluarga dalam ikatan keluarga nusanatara.

Selain pengalaman hidup berdampingan dengan teman-teman lintas pulau, para peserta juga mendapat banyak pengalaman tentang keharmonisan yang terjalin di tengah masyarakat. Apalagi Desa Cisantana disebut-sebut sebagai miniatur Indonesia. Sehingga peserta mampu merasakan dan memaknai kehidupan yang harmonis meski di tengah perbedaan. Adapun Keragaman yang ada di desa ini dapat dilihat dari segi agamanya, yaitu agama Katolik, Islam, Kristen, hingga penghayat/kepercayaan Sunda Wiwitan. Dalam skala kecamatan, dijumpai pula agama Hindu dan Budha yang turut mewarnai indahnya mozaik yang ada di Kabupaten Kuningan ini

KKN ini memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta, sehingga mereka mampu memahami bahwa hidup di tengah perbedaan agama bukanlah sekat dan penghalang untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang harmonis. Bukan pula faktor yang membatasi aktivitas dan interaksi sosial dalam bermasyarakat. Mereka menyadari betul bahwa masing-masing masyarakat adalah elemen penting bangsa, terlepas dari apa agama yang dianutnya. Apapun agama dan kepercayaannya, yang terpenting adalah bahwa kita sama-sama manusia yang harus dihargai dan dihormati. Selain itu, perasaan sebagai satu saudara juga harus tetap dimunculkan dan dipelihara dengan baik. Kita satu dalam ikatan nusantara dan bangsa Indonesia.

Baca juga: Tradisi Nyadran di Desa Kutorojo: Mahasiswa KKN 59 Posko 82 UIN Gus Dur Aktif Berpartisipasi

Kesadaran masyarakat untuk saling menjaga kerukunan ini mengantarkan mereka untuk medapatkan penghargaan dari Kementerian Agama RI pada Juli 2023 sebagai Kampung Moderasi Beragama, setelah sebelumnya pada tahun 2022 mendapat penghargaan sebagai Kampung Toleransi. Budaya toleransi ini, diakui oleh masyarakat sebagai warisan dari para leluhur yang telah rukun dan toleran sejak dahulu.

Disamping itu, peserta KKN ini turut merasakan pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman pertama ialah peserta dapat melihat Indahnya pemandangan ketika pukul 6 petang, umat Katolik bersama-sama menuju gereja untuk beribadah. Pun demikian, umat muslim juga berbondong-bondong menuju masjid. Ditambah dengan para penganut kepercayaan yang juga melaksanakan ibadah di waktu yang sama. Masing-masing menuju tempat ibadahnya sambil bertegur sapa dan melempar senyum. Sungguh pemandangan indah yang menenteramkan hati.

Kedua, peserta bersama-sama merawat budaya lokal. Upacara Serentaun menjadi budaya yang berhasil dilestarikan oleh masyarakat Sunda, termasuk juga masyarakat desa Cisantana, meskipun sebelumnya sempat dilarang pelaksanaannya oleh pemerintah pada era orde baru. Pelaksanaan budaya ini juga secara tidak langsung turut berperan dalam merawat persatuan dan kerukunan masyarakat setempat. Meskipun budaya ini lahir dari ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan, namun dalam pelaksanaannya banyak umat Muslim, Katolik, Hindu, dan Budha juga turut serta meramaikan upacara Serentaun ini.

Baca juga: Menapak Jejak Nabi SAW dalam Berwirausaha: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Beri Sosialisasi Pembuatan Kerupuk dari Telur Asin di Desa Sarwodadi

Ketiga, toleransi dan kebersamaan dalam beberapa kegiatan sosial keagamaan. Pada hari besar keagamaan, misalnya ketika hari raya Idul Fitri, umat non-Muslim juga ikut bersilaturahmi ke rumah-rumah orang Muslim, begitupun sebaliknya. Selain itu, ketika ada umat Katolik ataupun penganut agama lain yang meninggal, tetap diumumkan melalui pengeras suara di masjid. Peringatan dan doa meninggal lintas iman menjadi hal menarik yang menunjukkan tingginya tingkat toleransi dan kepedulian sosial masyarakat setempat.

Pengalaman-pengalaman berharga tersebut secara langsung dirasakan para peserta KKN Moderasi Beragama Se-Indonesia. Melalui kegiatan KKN tersebut, peserta mampu merasakan indahnya harmoni perbedaan agama dan kepercayaan. Mereka melihat bagaimana masyarakat mempraktikkan nilai-nilai keagamaan secara moderat dan penuh toleransi. Pengalaman-pengalaman ini juga mampu menyadarkan para peserta tentang pentingnya merawat persatuan dan keharmonisan melalui penerapan moderasi beragama yang pada akhirnya dapat menepis hal-hal yang menyebabkan perpecahan.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Multikultural di Sekolah

Penulis: Dian Mei Nitiasari, Editor: Sirli Amry

Pembelajaran multikultural di sekolah merupakan pendekatan yang semakin penting dalam mendidik generasi muda. Dalam masyarakat yang beragam, pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan budaya, etnis, dan agama sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang harmonis. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran yang sangat krusial untuk mencapai tujuan tersebut. Orang tua bukan hanya sebagai pendukung di rumah, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam proses pembelajaran multikultural di sekolah.

Pertama-tama, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan nilai-nilai multikultural di lingkungan keluarga. Di rumah, orang tua dapat menciptakan atmosfer yang mendukung pembelajaran tentang keberagaman. Mereka bisa menceritakan pengalaman budaya mereka sendiri atau mengajarkan anak-anak tentang tradisi dan nilai-nilai dari budaya lain. Misalnya, dengan mengajak anak-anak merayakan festival dari berbagai budaya atau membaca buku tentang tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda, orang tua dapat memperluas wawasan anak-anak mereka. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang perbedaan, tetapi juga tentang keindahan dan kekayaan dari setiap budaya.

Kedua, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah sangat penting. Sekolah yang menerapkan pembelajaran multikultural sering kali mengadakan berbagai acara, seperti festival budaya, pameran seni, atau diskusi panel tentang isu-isu keberagaman. Dengan menghadiri atau bahkan berpartisipasi dalam acara-acara ini, orang tua dapat menunjukkan kepada anak-anak mereka betapa pentingnya menghargai perbedaan. Keterlibatan ini juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk berinteraksi dengan guru dan orang tua lainnya serta menciptakan jaringan yang mendukung nilai-nilai multikultural di sekolah.

Baca Juga: Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Selain itu, orang tua dapat berperan sebagai advokat untuk pendidikan multikultural. Mereka bisa mengkomunikasikan pentingnya pembelajaran multikultural kepada pihak sekolah dan membantu mempengaruhi kebijakan yang mendukung keberagaman. Dengan mengajak orang tua lainnya untuk bergabung, mereka dapat menciptakan suara kolektif yang kuat dan mendorong sekolah untuk lebih mengintegrasikan aspek multikultural dalam kurikulum. Keterlibatan orang tua dalam proses ini tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak mereka, tetapi juga bagi seluruh komunitas sekolah.

Ketiga, orang tua dapat berkontribusi langsung dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Mereka dapat menawarkan diri untuk berbagi pengalaman budaya mereka atau menjelaskan tradisi yang berbeda kepada siswa lainnya. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga memberikan model positif tentang bagaimana merayakan keberagaman. Misalnya, seorang orang tua yang berasal dari budaya tertentu bisa membawakan makanan khas atau menunjukkan cara-cara tradisional dalam pembuatan kerajinan tangan, sehingga siswa lainnya dapat belajar dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Di samping itu, orang tua juga perlu memperhatikan dan mendukung proses pembelajaran multikultural yang sedang berlangsung di sekolah. Mereka bisa berdiskusi dengan anak-anak tentang apa yang mereka pelajari di sekolah dan bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi pandangan mereka terhadap orang lain. Dengan melakukan ini, orang tua tidak hanya membantu anak-anak mereka mencerna informasi, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis tentang isu-isu keberagaman. Ini adalah kesempatan berharga bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa orang tua mungkin merasa tidak nyaman atau kurang percaya diri dalam membahas isu-isu multikultural. Mereka mungkin khawatir bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mendidik anak-anak mereka tentang keberagaman. Untuk mengatasi hal ini, sekolah bisa menyediakan sumber daya, seperti workshop atau seminar untuk orang tua tentang pentingnya pendidikan multikultural. Dengan memberikan pelatihan dan informasi, orang tua akan lebih siap untuk mendukung pembelajaran multikultural di rumah.

Selanjutnya, orang tua juga dapat menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam menunjukkan sikap empati dan toleransi. Ketika orang tua menunjukkan sikap terbuka terhadap keberagaman dan berbicara tentang pentingnya menghormati orang lain, anak-anak akan lebih mungkin untuk meniru perilaku tersebut. Tindakan kecil, seperti mendengarkan cerita orang lain tanpa menghakimi, dapat memberikan pelajaran berharga bagi anak-anak tentang bagaimana membangun hubungan yang positif dengan individu dari latar belakang yang berbeda.

Baca Juga:  Penanaman Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Terakhir, orang tua juga harus mendukung sekolah dalam mengatasi tantangan yang mungkin muncul dari penerapan pembelajaran multikultural. Terkadang, ada resistensi dari beberapa pihak yang merasa bahwa pendekatan ini dapat mengancam nilai-nilai budaya mereka sendiri. Dalam situasi ini, penting bagi orang tua untuk berperan sebagai jembatan antara sekolah dan komunitas. Dengan mengedukasi diri mereka dan berbagi informasi yang benar tentang manfaat pendidikan multikultural, mereka dapat membantu mengurangi ketakutan dan menciptakan dialog yang konstruktif.

Dengan demikian, peran orang tua dalam pembelajaran multikultural di sekolah sangatlah vital. Mereka bukan hanya pendukung, tetapi juga mitra aktif yang dapat membantu menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman. Melalui keterlibatan mereka di rumah dan di sekolah, orang tua dapat membantu anak-anak mereka membangun sikap empati, toleransi, dan pengertian terhadap perbedaan. Dengan komitmen bersama, kita dapat membangun generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks dan beragam, serta menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan saling menghormati.

Akhirnya, mari kita ingat bahwa pendidikan multikultural bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Ini adalah usaha kolektif yang memerlukan dukungan dari orang tua, guru, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif bagi semua anak, mempersiapkan mereka untuk menjadi warga dunia yang penuh empati dan saling menghargai.

 

Nilai-Nilai Islam di Tengah Budaya Jepang: Pengalaman Hidup Komunitas Muslim

Penulis: Taufiqur Rohman, Editor: Azzam Nabil H.

Tokyo, Jepang — Di tengah kemajuan teknologi dan budaya yang khas, komunitas Muslim di Jepang menghadapi tantangan sekaligus menemukan harmoni dalam menerapkan nilai-nilai Islam yang bersinergi dengan nilai-nilai budaya Jepang. Nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi oleh komunitas Muslim seperti disiplin, kebersihan, etos kerja tinggi, keamanan, dan toleransi beragama, tidak hanya cocok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, tetapi juga sejalan dengan budaya Jepang yang menghargai ketertiban dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat disiplin dan etos kerja yang tinggi. Hal ini menjadi titik temu yang kuat antara budaya Jepang dan nilai-nilai Islam. Dalam ajaran Islam, disiplin dan kerja keras adalah bagian dari ibadah, yang sejalan dengan sikap masyarakat Jepang dalam bekerja dan menjalani aktivitas harian. Nilai-nilai ini bukan suatu hal yang menyulitkan bagi Komunitas Muslim yang tinggal dan bekerja di Jepang. Mereka yang senantiasa menerapkan kedisiplinan dan memiliki etos kerja tinggi, tidak hanya mampu memperkuat karakter pribadi mereka, tetapi juga menciptakan harmoni dengan masyarakat sekitar.

Baca juga: Petani Muslim Indonesia Sukses di Negara Maju Jepang

Disamping itu, kebersihan juga menjadi hal utama dalam kehidupan sehari-hari bagi Muslim dan menjadi salah satu ciri khas dari masyarakat Jepang. Ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan baik jasmani maupun lingkungan, menemukan ruang yang sesuai di Jepang, di mana masyarakat umumnya sangat menjaga kebersihan, baik di area publik maupun pribadi. Hal ini membawa dampak positif bagi Komunitas Muslim. Mereka merasa terbantu untuk menjalankan ibadah dan menjalani kehidupan yang bersih dan sehat berkat lingkungan yang mendukung.

Berangkat dari kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan tersebut, masyarakat di Jepang jadi mampu lebih mudah dalam menerapkan tata tertib dan kepatuhan di jalan raya. Budaya ketertiban dan kepatuhan di jalan raya ini dapat dilihat dari sikap menghormati pejalan kaki dan pesepeda, yang mana sikap tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam tentang keselamatan dan perlindungan nyawa. Komunitas Muslim di Jepang turut mendukung budaya ini dengan mematuhi aturan berlalu lintas dan menjaga keselamatan sebagai bagian dari ajaran Islam yang menghargai kehidupan.

Baca juga: Menghargai dan Memperbarui: Kontribusi Islam dalam Pelestarian Budaya Lokal

Jepang juga memiliki angka kriminalitas dan korupsi yang sangat rendah, sesuatu yang dicita-citakan dalam masyarakat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, komunitas Muslim di Jepang merasa aman dan nyaman, karena nilai-nilai kejujuran dan integritas yang dijunjung tinggi. Hal ini memberikan mereka ruang yang nyaman untuk hidup secara damai dan beribadah dengan tenang.

Selain itu, toleransi beragama menjadi ciri positif dari masyarakat Jepang. Kebebasan bagi setiap orang untuk mempraktikkan ajaran agamanya dihargai tinggi. Hal ini memungkinkan komunitas Muslim untuk menjalankan ajaran agama mereka, termasuk salat, puasa, serta memperingati hari-hari besar Islam, tanpa rasa takut atau tertekan.

Komunitas Muslim di Jepang

Komunitas Muslim di Jepang juga aktif menjaga nilai-nilai kemanusiaan dengan menjunjung perdamaian dan bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Mereka sering terlibat dalam kegiatan sosial dan amal, seperti distribusi makanan dan dukungan bagi yang membutuhkan, yang diterima baik oleh masyarakat Jepang. Hal ini semakin menguatkan sinergi antara kedua nilai tersebut.

Baca juga: Islam Moderat Sebagai Kunci untuk Toleransi, Keadilan, dan Keseimbangan Sosial

Nilai-nilai Islam yang diterapkan komunitas Muslim di Jepang berperan dalam mempererat persaudaraan antar umat dan menumbuhkan rasa saling menghormati di tengah keberagaman budaya. Pengalaman hidup komunitas Muslim di Jepang menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dan budaya dapat berpadu, menciptakan harmoni yang menginspirasi di tengah perbedaan.

Kasubdit Bimbingan Jamaah Haji Kemenag RI Soroti Peran Penting Pembimbing Manasik di Sertifikasi Profesional UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Pewarta : Adib, Editor : Tegar Rifqi

Pekalongan, 27 Oktober 2024 – Dr. H. Khalilurrahman, M.A., QIA., CRMO., Kasubdit Bimbingan Jemaah Haji dan Dirjen PHU , memaparkan peran strategis pembimbing manasik haji dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Dalam pemaparannya, Dr. Khalilurrahman menegaskan pentingnya tugas dan fungsi pembimbing manasik haji, dengan fokus pada peningkatan kualitas bimbingan serta pengalaman spiritual calon jemaah haji. Acara ini diselenggarakan pada 22-28 Oktober 2024 di Hotel Parkside Mandarin, Kota Pekalongan.

Dr. Khalilurrahman menekankan bahwa pembimbing manasik haji harus memiliki pemahaman mendalam tentang tata cara ibadah haji serta sikap empati yang tinggi dalam membimbing calon jemaah. “Pembimbing haji bukan hanya sekadar pemberi arahan teknis, namun juga harus mampu menguatkan aspek spiritualitas calon jemaah,” tuturnya. Ia juga menyampaikan pentingnya bagi seorang pembimbing untuk senantiasa meningkatkan kompetensi, guna mengantisipasi beragam situasi yang mungkin terjadi di Tanah Suci.

Baca juga : Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara sertifikasi ini dimoderatori oleh Dr. H. Muhandis Azzuhri, M.A., yang memfasilitasi diskusi interaktif antara Dr. Khalilurrahman dan peserta sertifikasi. Peserta yang terdiri dari calon pembimbing manasik haji dan umroh terlihat antusias dalam mengajukan berbagai pertanyaan seputar teknik pembinaan dan pendekatan yang efektif dalam mendampingi jemaah.

Sertifikasi ini bertujuan untuk mencetak pembimbing manasik haji yang profesional, tidak hanya memiliki pemahaman syariat, tetapi juga kemampuan komunikasi dan pendampingan yang optimal. Melalui kegiatan ini, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme pembimbing haji, demi tercapainya pengalaman haji yang aman dan berkesan bagi seluruh jamaah.

Dirjen PHU Tekankan Profesionalisme dan Pemahaman Perbedaan Fikih dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan

Pewarta: Adib;  Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diselenggarakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan menjadi ajang penting bagi peningkatan kompetensi para calon pembimbing haji dan umroh. Acara ini diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh 86 peserta dari berbagai wilayah. Pada kesempatan ini, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama untuk menyampaikan materi mengenai peran profesionalisme serta pemahaman perbedaan fikih dalam membimbing jemaah haji.

Acara ini dimoderatori oleh Prof. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., yang juga dekan FUAD UIN K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sam’ani mengelola diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Dalam sesi penyampaiannya, Prof. Hilman Latief menekankan bahwa seorang pembimbing haji dan umroh memiliki peran krusial dalam memastikan kelancaran ibadah jemaah. Beliau menyampaikan pentingnya memahami berbagai aspek dalam ibadah haji, baik secara teknis maupun spiritual, agar dapat memberikan bimbingan yang menyeluruh. “Pembimbing harus mampu menuntun jemaah, tidak hanya dalam hal teknis ibadah, tetapi juga mendampingi mereka secara spiritual,” ujar Prof. Hilman.

Baca juga: Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Dirjen PHU-Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Pekalongan, 24/10 2024

Lebih lanjut, Prof. Hilman menjelaskan bahwa profesionalisme dalam membimbing jemaah bukan hanya sekadar pemahaman tentang tata cara ibadah, tetapi juga mencakup pengetahuan mendalam tentang kebijakan perhajian di Indonesia dan Arab Saudi. Di samping itu, beliau menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perbedaan fikih dalam praktik ibadah haji, yang sering kali dipengaruhi oleh beragam mazhab. Hal ini, menurutnya, sangat penting agar pembimbing dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada jemaah yang mungkin memiliki latar belakang fikih yang berbeda, sehingga mengurangi kebingungan dan meningkatkan kenyamanan dalam beribadah.

Selain membahas kebijakan dan teknis ibadah, Prof. Hilman juga menjelaskan pentingnya aspek pelayanan dan keamanan bagi jemaah. Menurutnya, pembimbing yang baik harus mampu mengantisipasi dan menangani berbagai permasalahan yang mungkin muncul di lapangan. Sertifikasi ini diharapkan dapat membekali para calon pembimbing dengan pemahaman menyeluruh tentang sistem pelayanan haji yang diterapkan oleh Kementerian Agama, serta kompetensi dalam menghadapi perbedaan fikih yang mungkin muncul di kalangan jemaah.

Baca juga: Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta antusias menggali lebih dalam terkait peran mereka sebagai pembimbing, khususnya dalam menghadapi berbagai perbedaan fikih dalam ibadah haji. Prof. Hilman Latief berharap bahwa sertifikasi ini akan membekali para peserta dengan keterampilan yang memadai, sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan kompeten dan memberikan dukungan terbaik bagi jemaah haji dan umroh.

Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Pewarta : Adib ‘Aunillah Fasya, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan, 24/10/2024 – Dr. K.H. Saiful Mujab, M.A., Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Kementerian Agama Republik Indonesia, menjadi pembicara utama dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan. Acara yang diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan ini dihadiri oleh calon pembimbing haji dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan ini, Dr. Saiful Mujab menyampaikan tema “Manajemen Perhajian Indonesia,” yang bertujuan memperkuat pemahaman para pembimbing mengenai tata kelola haji di dalam negeri.

Dr. Saiful Mujab menjelaskan pentingnya koordinasi yang erat antara pemerintah, para pembimbing, dan lembaga terkait dalam manajemen perhajian. Menurutnya, pemahaman yang jelas akan peran masing-masing pihak dapat mendukung kelancaran seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari proses pendaftaran hingga kepulangan jemaah. “Setiap elemen harus memahami fungsinya untuk memberikan pelayanan optimal kepada jemaah,” ungkap Dr. Saiful.

Baca juga : Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Dalam paparannya, Dr. Saiful juga menyoroti inovasi pelayanan yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Agama demi meningkatkan kenyamanan jemaah. Inovasi ini mencakup digitalisasi untuk mempermudah proses administrasi serta peningkatan standar pelayanan kesehatan dan keamanan bagi jemaah selama di tanah suci. Dengan pemahaman terhadap manajemen perhajian yang baik, calon pembimbing haji diharapkan dapat mendukung kelancaran dan kenyamanan ibadah jemaah.

Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta sertifikasi aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan haji. Dr. Saiful berharap bahwa sertifikasi ini mampu mencetak pembimbing yang profesional, terlatih, dan siap menghadapi berbagai situasi di lapangan, sehingga jemaah dapat melaksanakan ibadahnya dengan aman dan nyaman.

Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Pewarta : Adib ‘Aunillah Fasya, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan, 24/10/2024 – Dr. H. Arsad Hidayat, Lc., M.A., Direktur Bina Haji, DJPHU Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diadakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan. Acara ini diselenggarakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh para calon pembimbing haji dan umroh dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan ini, Dr. Arsad Hidayat menyampaikan materi bertema “Kebijakan Pembinaan, Pelayanan, dan Perlindungan Jamaah Haji”, yang sangat relevan bagi para pembimbing yang akan terjun langsung melayani jemaah.

Dalam pemaparannya, Dr. Arsad Hidayat menyoroti pentingnya aspek pembinaan, mulai dari persiapan manasik hingga pemahaman mendalam tentang rangkaian ibadah haji dan umroh. Menurutnya, seorang pembimbing tidak hanya harus memahami teknis pelaksanaan haji, tetapi juga harus bisa membimbing jemaah dalam memahami makna spiritual di balik setiap ritual. Ia menekankan bahwa tujuan utama adalah membekali jemaah dengan pemahaman yang mendalam agar dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan lancar.

Baca juga : Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Selain pembinaan, Dr. Arsad juga membahas pentingnya pelayanan dan perlindungan yang memadai bagi jemaah. “Tugas kita adalah memastikan setiap jemaah merasa nyaman, aman, dan terlindungi selama perjalanan ibadah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kebijakan baru telah diterapkan oleh Kementerian Agama untuk memperkuat sistem perlindungan bagi jemaah, termasuk dalam hal kesehatan dan keamanan. Hal ini, menurutnya, menjadi salah satu prioritas utama yang harus diperhatikan oleh para pembimbing di lapangan.

Baca juga : Inovasi dan Kesuksesan Penyelenggaraan Haji 2024 oleh Pemerintah Indonesia

Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab interaktif, dimana para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang mungkin dihadapi saat melayani jemaah haji dan umroh. Dr. Arsad berharap agar sertifikasi ini dapat mencetak pembimbing yang kompeten dan berdedikasi tinggi, sehingga kualitas pelayanan terhadap jemaah haji semakin meningkat.

Petani Muslim Indonesia Sukses di Negara Maju Jepang

Penulis: Taufiqur Rohman, Editor: Sirli Amry

Mito, Jepang (26/10) – Yuanas, atau yang akrab disapa Cak Anas (43), petani asal Lumajang, Jawa Timur, berhasil meraih kesuksesan di Jepang sebagai seorang petani Muslim yang dibesarkan di lingkungan NU. Berangkat dari keluhan petani-petani Jepang yang sudah berusia lanjut dan kesulitan mendapatkan penerus muda, Cak Anas melihat peluang besar untuk mengembangkan pertanian modern di negara maju tersebut. Pengalamannya saat bekerja di perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat pertanian juga turut membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi pertanian.

Kini, Cak Anas mengelola lahan seluas 30 hektar untuk menanam padi dan ubi jalar di Global Organic Farm yang didirikannya di Kota Mito, Ibaraki, Jepang.

Baca Juga : Inovasi dan Kesuksesan Penyelenggaraan Haji 2024 oleh Pemerintah Indonesia

Bersama istrinya, Ichisawa Chikako, seorang mualaf asli Jepang, Cak Anas mengintegrasikan teknologi modern dalam pertaniannya. Mereka menggunakan sains dan inovasi seperti robotika, vertical farming, energi terbarukan berupa panel surya, turbin angin, dan energi panas. Proses penyemaian hingga panen dipantau menggunakan IoT (Internet of Things), sementara hasil panennya dipasarkan ke pabrik-pabrik lokal.

Walau menghadapi tantangan, termasuk kurangnya dukungan dari mertua di awal usahanya, Cak Anas terus berjuang dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah. Baginya, kunci sukses terletak pada kerja keras dan inovasi yang terus menerus, yang membawanya menjadi contoh nyata bahwa petani Muslim Indonesia bisa bersaing dan sukses di negara maju seperti Jepang.

Baca Juga : Perayaan Hari Pangan Sedunia, Masyarakat Desa Mendolo Kenalkan Komoditi Pangan Lokal.

Cak Anas, yang hanya berpendidikan hingga Sekolah Dasar (SD), telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu bergantung pada latar belakang pendidikan formal. Meskipun beliau tidak memiliki gelar tinggi, dedikasi dan ketekunannya dalam mempelajari teknologi pertanian modern membuatnya berhasil menguasai berbagai teknik canggih yang umumnya dipelajari di perguruan tinggi. Ia pun menjadi inspirasi bagi banyak akademisi dan praktisi pertanian di Jepang dan Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya, Cak Anas terus belajar secara mandiri dengan memanfaatkan pengalamannya di lapangan dan kemampuannya mengadaptasi teknologi modern. Saat bekerja di perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat pertanian, ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk memahami teknologi, inovasi, dan sistem pertanian maju yang diterapkan di Jepang. Keuletannya dalam belajar membawanya menguasai berbagai teknik pertanian, mulai dari penggunaan IoT (Internet of Things) untuk pemantauan proses tanam hingga penerapan energi terbarukan seperti panel surya dan alat berat dalam tekhnologi pertanian.

Kini, di bawah kepemimpinannya, Global Organic Farm bukan hanya menjadi ladang produksi yang sukses tetapi juga menjadi pusat inspirasi. Akademisi dan mahasiswa dari berbagai universitas kerap berkunjung ke lahannya di Mito Jepang untuk mempelajari pendekatan pertanian yang efisien dan ramah lingkungan. Bahkan, banyak di antara mereka kagum akan bagaimana seorang lulusan SD dari Indonesia mampu mengelola pertanian dengan teknologi mutakhir yang biasanya menjadi ranah penelitian tingkat tinggi.

Baca juga : Mengenal Islam di Singapura: Potret Kehidupan Beragama dengan Pendekatan Harmoni

Keberhasilan Cak Anas ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus menghalangi seseorang untuk berkembang. Ketekunan, kreativitas, dan semangat untuk terus belajar menjadi pilar utama yang membawanya sukses di dunia pertanian modern. Dalam setiap kesempatan, ia selalu berpesan kepada generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar dan berinovasi, serta memanfaatkan teknologi demi kemajuan pertanian. Baginya, tidak ada batasan bagi siapa saja yang memiliki kemauan kuat untuk belajar dan berkembang.

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Pewarta: Mahruz. Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sukses menyelenggarakan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan dari tanggal 22 hingga 28 Oktober 2024. Acara ini diikuti oleh 86 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah hingga Ogan Hilir, Sumatera Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. K.H. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai salah satu pembicara utama. Dalam paparannya, Prof. Sam’ani menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pembimbing haji dan umroh untuk menjamin kualitas bimbingan manasik. Beliau juga menjelaskan filosofi dan hikmah ibadah haji, termasuk nilai-nilai ketaatan, kesabaran, dan persatuan yang tercermin dalam berbagai ritual haji.

“Sertifikasi ini merupakan upaya untuk memastikan para pembimbing haji dan umroh dapat memberikan pelayanan yang optimal dan sesuai standar, mengingat semakin meningkatnya jumlah jemaah setiap tahunnya,” ujar Prof. Sam’ani dalam sambutannya.

Baca juga : K.H. Subhan Cholid Isi Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan: Bahas Kebijakan Penyelenggaraan Haji Indonesia

Acara sertifikasi ini dimoderatori oleh Syamsul Bakhri, M.Sos., yang juga Sekretaris Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Syamsul mengelola jalannya diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam pembimbingan haji.

Menurut penyelenggara, sertifikasi ini diadakan untuk memberikan pembekalan yang menyeluruh kepada para pembimbing, termasuk dalam hal teknis manasik, manajemen penyelenggaraan haji, serta bimbingan spiritual. Salah satu peserta, Anisa, mengungkapkan apresiasinya terhadap program ini. “Ini adalah pengalaman berharga. Selain teori, kami juga mendapat praktik langsung tentang cara mengelola rombongan haji secara efektif dan memahami filosofi dan hikmah haji, selama ini kita lebih banyak focus mempelajari fikihnya saja,” ujarnya.

Acara ini akan ditutup pada 28 Oktober 2024 dengan post test kepada para peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan. Bagi peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini diharapkan menjadi pengakuan atas kompetensi profesional para pembimbing haji dan umroh di seluruh Indonesia.

Baca juga : Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan Buka Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Profesional 2024

Dengan adanya sertifikasi ini, diharapkan para pembimbing dapat memberikan layanan yang lebih baik dan profesional kepada para jemaah haji dan umroh di masa mendatang.