Mengenal Lebih Dekat Sam’ani Sya’roni: Sang Pembawa Petuah Sejak Muda

Pewarta: Hilma, Rista, Danny, Editor: Azzam Nabil H.

Prof. Dr. K.H. Sam’ani Sya’roni, M.Ag, adalah pria kelahiran 5 mei 1973 yang lahir di desa Ketas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, anak ke 9 dari pasangan K.H Nur Sya’roni dan ibu Hj. Istiqomah. Prof. K.H Sam’ani tinggal bersama istri tercinta Izza Kamila, S.Pd dan anak tersayang Aisya Maila Shofya di desa Wangandowo Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan.

Prof. K.H Sam’ani mengawali pendidikannya di MI Wonopringgo III sembari mengaji di madrasah diniyah yang berada di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di MTs YMI Wonopringgo sambil memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Miftakhul Huda yang bertempatkan di daerah Pesantunan, Kedungwuni. Pondok pesantren ini berada di bawah asuhan K.H. Fakhrurozi.

Selepas tamat dari MTS, Prof. K.H. Sam’ani melanjutkan memperdalam ilmu agamanya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, dan menempuh pendidikan formal di MAN Tambak Beras. Namun pada saat naik ke kelas 2 Aliyah, Prof. K.H Sam’ani pindah belajar ke MAS Simbang Kulon, Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, dan juga meneruskan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Nurul Huda, Simbang Kulon, yang di Asuh oleh K.H. Chudhori Tabri.

Baca Juga: Menyingkap Kehidupan dan Ajaran Gus Baha: Antara Fikih, Tasawuf, dan Muhasabah Diri

Setelah tamat dari MAS Simbang Kulon, Prof. K.H Sam’ani kemudian menempuh pendidikan tinggi dengan berkuliah di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Pekalongan yang menjadi cikal bakal Kampus UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama menempuh kuliah S1 ini, Prof. K.H Sam’ani nyantri di ponpes Al Aribiyah yang di asuh oleh Pondok Pesantren Al Arifiyah yang diasuh oleh K.H. Zaenal Arifin.

Prof. K.H Sam’ani mendapatkan gelar S1 Fakultas Syariah IAIN Pekalongan jurusan Qadla’ / Peradilan Agama pada tahun 1996. Kemudian pria yang sejak kecil gemar berpidato ini memutuskan hijrah ke Jakarta untuk mencari pengalaman baru di ibu kota. Dengan modal do’a dari kedua orang tua dan rasa percaya diri Prof. K.H sam’ani mengikuti Pendidikan kader ulama MUI DKI angkatan ke 3. Setelah menyelesaikan Pendidikan kader ulama, Prof K.H Sam’ani mengikuti kuliah lagi di Pendidikan bahasa Arab, Qism Diblum LIPIA, Jakarta.

Kemudian di tahun 1999, Prof. K.H Sam’ani diangkat sebagai dosen STAIN Pekalongan. Dua tahun setelahnya, Prof. K.H Sam’ani mendapatkan tugas dari STAIN mengikuti pendidikan Short Course Daurah Tadribiyyah fi al – Lughah al – ‘Arabiyyah di Jami’ah Qanat Swiss Ismailiyyah, Mesir. Adapun dalam menempuh pendidikan S2 dan S3, beliau mendalami studinya dengan mengambil konsentrasi bidang hukum-hukum Islam di UIN Walisongo Semarang, hingga akhirnya mendapatkan gelar megister dan doctor studi islam pada tahun 2017.

Dengan penuh semangat dalam menuntut ilmu dan giat melakukan penelitian di bidang studi terkait, kini anak yang berasal dari desa Ketas, kecamatan Wonopringgo, kabupaten Pekalongan ini telah mencapai gelar akademik tertinggi yakni sebagai guru besar atau professor dalam bidang ilmu hukum islam di UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan. Selama perjalanan karirnya sebagai seorang dosen, Prof. K.H Sam’ani pernah di amanati beberapa tugas tambahan, yaitu menjadi kepala program studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah STAIN Pekalongan, menjadi Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan kelembagaan Fakultas Syariah IAIN Pekalongan, dan saat ini beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Disisi lain, karena keuletan dan etos kerja yang tinggi, Prof. K.H. Sam’ani juga diberikan amanah sebagai mediator non-hakim di pengadilan agama Kajen, Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), Ketua dewan pengawas syariah KSPPS BMT Bahtera Pekalongan dan pengasuh beberapa majlis ta’lim yang terdiri dari pengajian rutin tafsir Al quran di masjid agung  kabupaten Batang, majlis ta’lim masjid Asy sya’roni Limbangan, kecamatan Karanganyar, majlis ta’lim Attawab, Karang asem Batang, majlis ta’lim musholla Anshori Simbang wetan Buaran, Pekalongan, kajian rutin KSPPS Bahtera, serta pengasuh ngaji Al quran untuk anak2 kecil di rumahnya.

Dalam bidang akademik, Prof. K.H Sam’ani Sya’roni, M.Ag juga telah menghasilkan berbagai macam karya-karya ilmiah seperti jurnal, prosiding, buku, haki, makalah seminar nasional dan internasional. Salah satu karyanya berbentuk buku yang berjudul “Tafkirah Ulum Al -Qur’an, Pekalongan: Al-Ghotasi Putra, 2013”

Disamping itu, dalam mengajarkan ilmunya atau ketika berdakwah, beliau juga terjun langsung di lingkungan masyarakat mulai dari pelosok desa, ibu kota, bahkan internasional. Tak heran, karena usahanya yang gigih dalam berdakwah, Prof K.H Sam’ani juga sering diundang dalam acara- acara penting, dan bahkan sering melintang di staisun televisi seperti BATIK TV, TVRI, dan bahkan di acara siraman qolbu bersama ustad danu yang tayang pada stasiun televisi MNCTV. Namun setelah menjadi dosen di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Peklongan, akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti tampil di stasiun televisi dan fokus pada karirnya menjadi dosen serta memberikan kontribusi penuh kepada kampus.

 

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam: Konsep, Penyebab, dan Cara Menjaganya

Penulis: Hilma Herista, Rista Melinda, Nastain, Editor: Amarul Hakim

Kesehatan mental menjadi salah satu hal penting yang harus dijaga pada diri setiap orang. Kesehatan mental yang baik merupakan suatu kondisi atau keadaan batin yang senantiasa dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin yang dapat dilakukan diantaranya  melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan). Dengan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan akan menjadikan hidup lebih tenang menjalani kehidupan sehari-hari.

Definisi kesehatan mental menurut Al Qur’an dan hadits dapat dikatakan bahwa agama sebagai terapi kesehatan mental dalam Islam yang sudah ditunjukkan secara jelas dalam ayat-ayat Al-Quran, diantaranya yang membahas tentang ketenangan dan kebahagiaan adalah (QS An Nahl 16:97) yang Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Islam beserta seluruh petunjuk yang ada di dalam al-Qur’an merupakan obat bagi jiwa dan penyembuh segala penyakit hati yang ada dalam diri manusia (rohani). Firman Allah Swt dalam surat Yunus: 57 yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat (agama) dari Tuhanmu sebagai penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam, dada (rohani), sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman”.

Hubungan antara kesehatan jiwa dan raga dalam Islam. Dengan menjaga kesehatan, umat Islam dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, produktif, dan bermakna sesuai dengan ajaran dan perintah Allah.

Gangguan mental sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal sendiri bisa berupa stress, pikiran yang negatif serta rasa cemas yang berlebihan. Sedangkan faktor eksternal yang menyebabkan gangguan kesehatan mental bisa berupa lingkungan sosial dan masalah ekonomi.

Baca Juga: Mengatasi Trauma Masa Lalu: Pentingnya Perawatan Mental dan Fisik

Cara menjaga kesehatan mental dalam perspektif Islam

Menjaga kesehatan mental dalam perspektif Islam melibatkan beberapa prinsip serta praktik yang fokus pada kesejahteraan jiwa dan pikiran. Beberapa cara untuk menjaga kesehatan mental dalam Islam adalah sebagai berikut:

  1. Ibadah dan kedekatan dengan Allah: Diantaranya dengan shalat, membaca Al Quran, serta doa dan dzikir. Melaksanakan shalat lima waktu secara rutin membantu menenangkan hati dan pikiran, memperbanyak dzikir dan doa bisa memberikan kita ketenangan batin dan mengurangi stres, yang terakhir membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an dapat memberikan ketenangan dan panduan dalam menghadapi masalah hidup.

  2. Tawakal & qana’ah: Selalu memperdayakan segala urusan kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin dan merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dimiliki, sehingga tidak mudah merasa gelisah atau iri kepada orang lain.

  3. Mengelola emosi (sabar & istigfar): Belajar untuk bersabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dalam hidup dan selalu beristigfar memohon ampun kepada Allah atas segala dosa serta kesalahan yang diperbuat.

  4. Hubungan sosial yang baik (Silaturahmi): Menjaga hubungan yang baik dengan teman, keluarga, tetangga, dan membantu orang lain dapat meningkatkan rasa kebahagiaan dan kepuasan batin serta bisa mendapatkan dukungan sosial.

  5. Keseimbangan hidup (kerja & istirahat): Antara kerja dan istirahat harus diseimbangkan agar tidak mengalami kelelahan yang bisa mempengaruhi kesehatan mental dan tidak lupa untuk makan makanan yang halal dan sehat, karena mengkondisikan makanan yang halal dan sehat bisa menjaga kesejahteraan fisik dan mental.

Manfaat menjaga kesehatan mental

Menjaga kesehatan dalam Islam memiliki banyak manfaat yang mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual. Beberapa manfaat tersebut adalah:

  1. Optimalnya pelaksanaan ibadah: Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, dan haji dengan lebih baik, meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah.

  2. Kualitas hidup yang lebih baik: Kesehatan yang baik meningkatkan kualitas hidup, membuat seseorang lebih produktif dan bahagia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

  3. Kesejahteraan mental dan emosional: Kesehatan fisik yang baik berhubungan erat dengan kesehatan mental yang baik, mengurangi stres dan kecemasan serta meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan emosional.

  4. Meningkatkan keimanan: Menjaga kesehatan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, karena tubuh adalah amanah yang harus dijaga. Ini adalah bentuk ibadah dan menunjukkan ketaatan kepada-Nya.

  5. Menghindari perbuatan dosa: Dengan menjaga kesehatan, seseorang menghindari perilaku yang merugikan diri sendiri seperti mengkonsumsi alkohol atau narkoba, yang dilarang dalam Islam.

  6. Kemampuan membantu orang lain: Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang lebih aktif dalam membantu orang lain dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan amal, yang sangat dianjurkan dalam Islam.

  7. Ketenangan dan keseimbangan hidup: Menjaga kesehatan fisik dan mental membantu seseorang mencapai ketenangan dan keseimbangan hidup, sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek spiritual, mental, dan fisik.

  8. Umur panjang: Menjaga kesehatan dapat memperpanjang umur, memberikan lebih banyak waktu untuk beribadah dan berbuat kebaikan di dunia.

  9. Memberikan contoh baik: Menjaga kesehatan memberikan contoh yang baik bagi orang lain, terutama keluarga dan komunitas, mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama.

Baca Juga: Harmonisasi Sains dan Agama: Psikologi Barat dan Implementasi Permasalahan Kesehatan Mental di Indonesia

Dalam agama Islam, kesehatan jiwa dan raga dianggap sangat penting dan saling berkaitan. Islam memandang kesehatan jiwa dan raga merupakan hal yang berhubungan satu sama lain.  Ketika jiwa sehat, seseorang lebih mampu menghadapi tekanan hidup, yang pada gilirannya mendukung kesehatan fisiknya. Sebaliknya, tubuh yang sehat memungkinkan seseorang untuk menjalankan ibadah dan aktivitas spiritual dengan lebih baik.  Aspek aspek yang menunjukkan hubungan tersebut antara lain:

  1. Keseimbangan holistik, agama Islam menekankan pentingnya keseimbangan antara tubuh (raga) dan jiwa (roh). Kedua aspek ini harus dijaga dan dipelihara untuk mencapai kehidupan yang sehat dan bahagia.

  2. Kesehatan jiwa, agama islam mendorong pengikutnya untuk senantiasa menjaga kesehatan mental melalui ibadah, seperti sholat, dzikir, dan membaca Al Quran. Praktik-praktik tersebut bisa memberikan ketenangan batin, mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

  3. Kesehatan raga, Islam juga memberikan perhatian besar pada kesehatan fisik. Seperti menjaga kebersihan, makan makanan yang halal dan tayyib ( baik), serta berolahraga. Nabi Muhammad SAW selalu menekankan pentingnya menjaga tubuh yang sehat karena tubuh yang kuat dapat mendukung ibadah dan aktivitas sehari-hari.

  4. Pengaruh spiritual terhadap fisik, kesehatan spiritual yang baik dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Ketika seseorang memiliki ketenangan batin dan kedamaian spiritual, hal ini dapat berdampak positif pada kesehatan fisik mereka.

  5. Adab dan etika, dalam agama islam mengajarkan adab dan etika yang baik, seperti sabar, bersyukur, dan menjauhi sifat-sifat negatif seperti iri hari dan kebencian. Menjauhi sifat-sifat tersebut dapat membantu menjaga kesehatan mental dan emosional, yang akan berdampak positif pada kesehatan fisik.

Islam mengajarkan keseimbangan holistik antara tubuh dan jiwa, dengan menekankan pentingnya ibadah dan praktik spiritual seperti shalat, dzikir, dan membaca Al Quran untuk menjaga kesehatan mental, serta menjaga kebersihan, pola makan halal dan thayyib, serta berolahraga untuk kesehatan fisik. Kesehatan spiritual yang baik dapat mempengaruhi kesehatan fisik, dan sebaliknya, tubuh yang sehat mendukung aktivitas ibadah dan spiritual. Dengan demikian, menjaga kesehatan jiwa dan raga adalah bagian integral dari ajaran Islam yang bertujuan untuk mencapai kehidupan yang seimbang, bahagia, dan bermakna sesuai dengan perintah Allah.

Islam Moderat Sebagai Kunci untuk Toleransi, Keadilan, dan Keseimbangan Sosial

Penulis : M. Keanu Zimran Edlyn, Editor : Tegar R

Agama merupakan salah satu aspek kehidupan yang wajib tertanam dan diyakini oleh setiap warga negara Indonesia. Hal itu tertuang jelas dalam pancasila tepatnya pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”.

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sehingga tidak heran lagi jika islam membuat beberapa aspek kehidupan seperti aspek sosial dan budaya ikut terpengaruhi dan menyesuaikan dengan ajaran islam yang ada. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat seringkali salah paham dalam mengartikan suatu ajaran yang ada pada agama islam yang membuat nilai-nilai keislaman sering disalah artikan dan membuat masyarakat beranggapan bahwa islam merupakan agama yang konservatif.

Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan baik dalam segi praktik bergama ataupun penyebaran nilai-nilai keislaman sehingga dapat diterima oleh masyarakat sekaligus menunjukan bahwa islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Islam moderat menjadi jawaban yang cocok jika melihat situasi saat ini. Sesuai dengan namanya, islam moderat merupakan jalan tengah yang dapat diambil dalam praktik beragama yang mana selain mempelajari nilai-nilai keislaman, islam moderat juga mengedepankan nilai-nilai sosial seperti toleransi, keadilan, dan keseimbangan.

Moderasi dalam Islam adalah langkah bijak untuk menjembatani perbedaan, menghormati keragaman, dan membangun harmoni sosial. Dalam pandangan ini, Islam moderat memandang bahwa keberagaman adalah anugerah yang memperkaya, bukan sumber konflik.

Keteladanan tokoh-tokoh Islam moderat mengajarkan bahwa kita dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat dengan mempromosikan dialog, pemahaman, dan persatuan.

Motivasi dari pemikiran ini adalah membangun karakter yang kuat dan berdaya, sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong pengembangan diri. ‘Dalam Islam moderat, kita diberdayakan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, gigih dalam pengembangan diri, dan berkontribusi untuk kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu, mengamalkan Islam moderat bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai landasan untuk menginspirasi diri sendiri dan orang lain menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Penghayat Jawa Jawata: Memahami Keberagaman dan Menjaga Kerukuan

Penulis : Aida Fissa Bellina, Editor : Sirli Amry

Kawruh Jawa Jawata diartikan sebagai Piwulang atau wejangan supaya mengetahui, melihat (ngaweruhi) tentang ajaran kehidupan dan penghidupan agar menjadi insan yang Lantip Ing Pangraito Lan Tanggap Ing Sasmitha Gaib. Jawa adalah warisan ajaran berketuhanan dan warisan nilai budaya dari para leluhur yang menggunakan bahasa Jawa dalam melakukan sembahyang serta permohonannya.

Jawata berarti Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, Paguyuban Kawruh Jawa Jawata ialah persatuan dan kerukunan berdasarkan kesamaan sebagai pewaris ajaran sekaligus nilai budaya para leluhur dalam hal penghayatan, persembahyangan, dan pengamalan kepercayaan terhadap Tuhan YME yang ada di tanah Jawa.

Paguyuban Jawa Jawata didirikan oleh Romo Guru Darim Aji Darmoleksono (Darim) beserta adik kandungnya Romo Guru Pandji Sabdo Guno (Saridjo) pada 6 Mei 1981 di Desa Sumurjomblangbogo, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Tujuan dari organisasi ini adalah agar para putra dan kadang (anggota) selalu meneruskan dan melestarikan kemurnian ajaran (wejangan) dari romo Guru Darim Darmoleksono.

Selain itu juga sebagai pengembangan dan pengamalan budi pekerti luhur dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara serta mengantarkan ke jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan yang abadi.

Menurut Ibu Sri Renggani dalam paguyuban Kawruh Jawa Jawata, seseorang tidak boleh memakan tulang dan kepala hewan jika usianya sudah dewasa yaitu masa baligh (diarkat). Sedangkan batas diperbolehkannya memakan tulang adalah ketika seseorang itu belum diarkat. Dalam acara Arkat (baiat) biasanya orang yang diarkat akan membuat sesajen untuk para leluhur terdahulu.

Pada hari orang akan diarkat maka orang tersebut tidak boleh memakan tulang dan kepala hewan. Dalam paguyuban tersebut seseorang tidak di perbolehkan memakan tulang dan kepala karena mereka percaya bahwa tulang dan kepala adalah lambang guru dari paguyuban mereka yang disebut sang hyang widhi.

Menurut penuturan paguyuban tersebut, sang hyang widhi tidak memiliki badan. Mereka hanya memiliki kepala dan leher saja. Sedangkan tidak diperbolehkannya memakan tulang karena tulang sebagai lambang gusti sulfi (seperti malaikat).

Sembahyang (ibadah) yang dilakukan para penghayat ini biasanya dilakukan pada jam 9 malam ke atas dimana orang-orang harus sudah bersih (suci) yang di sebut dengan ritual lelewur. Tempat sembahyang bagi penghayat Jawa Jawata boleh dimana saja. Pada tanggal 15 ramadhan ke atas biasanya penghayat melakukan puasa selama 3 hari 3 malam dan mereka hanya berbuka dengan air putih suci pada saat matahari terbenam. Pada hari terakhir puasa orang tersebut tidak boleh keluar kamar dan hanya melakukan semedi (berdiam diri) sampai ia tertidur.

Pada tanggal 1 juni para penghayat yang masih mampu akan pergi ke atas gunung lawu untuk melakukan sembahyang karena mereka menganggap leluhur mereka berada di gunung lawu yang Bernama Brahwijaya. Mereka juga akan memberikan sesajen berupa semar mendem, telur, dan ketan.

Ibu Sri Renggani menganut kepercayaan Kawruh Jawa Jawata sejak beliau dari kecil karena beliau mengikuti kedua orang tuanya. Akan tetapi, pada saat beliau masih sekolah beliau tetap mengikuti pelajaran Agama Islam bahkan terkadang juga mengikuti teman beliau yang sembahyang di gereja. Beliau mulai menetap untuk mengikuti kepercayaan Jawa Jawata saat usainya mencapai masa baligh.

Awal mula ibu Sri Renggani masuk kedalam kepercayaan ini karena pada saat itu beliau ingin mencari sebuah kebenaran. Alhasil kebenaran tersebut ia temukan di paguyuban Kawruh Jawa Jawata. Di lingkungan keluarganya, tidak semuanya meng anut kepercayaan Jawa Jawata, tetapi ada juga yang menganut ajaran islam.

Di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, hanya ada sebagian orang yang menjadi penganut penghayat. Masyarakat disana sudah mengetahui bahwa Ibu Sri Renggani adalah seorang penganut penghayat bahkan dirinya juga bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Ketika masyarakat penganut agama islam mengadakan acara keagamaan, Ibu Sri juga ikut serta dalam memeriahkan acara tersebut.

Sehingga tidak ada jarak antara Ibu Sri dengan masyarakat sekitar yang berbeda kepercayaan. Menurut ajaran Kawruh Jawa Jawata hubungan sosial antara manusia lebih penting daripada hubungan dengan tuhan. Menurut mereka, semua manusia adalah saudara dan harus saling tolong menolong. Berbeda dengan hubungan antara kita dan tuhan. Dimana hal itu urusan tuhan mau diterima atau tidak, yang paling penting adalah kita harus memanusiakan manusia.

Agama yang tertera di KTP Ibu Sri itu islam, tetapi dalam KTP Bapak Asworo itu kosong (-). Tanggapan Ibu Sri tentang hak sipil penghayat sudah di penuhi oleh pemerintah, dan pemerintah sudah menfasilitasi semua yang di butuhkan oleh penghayat. Menurut Ibu Sri, kita harus menjalankan kehidupan yang ada.

Di desa sumurjomblang tidak membatasi antar pemeluk agama dengan pemeluk agama lainnya. Semua Masyarakat disana hidup saling tolong menolong dan toleransi antar sesama. Pemerintah sudah melakukan pendataan pengahayat yang ada di Indonesia khususnya di Pekalongan. Namun, hanya ada beberapa penghayat yang sudah diresmikan.

Sejauh ini tidak ada konflik diantara orang islam dengan para penghayat. Mereka saling hidup berdampingan secara rukun dan damai. Orang disana tidak memaksa keyakinan seseorang karena agama atau kepercayaan itu di pilih oleh diri sendiri tanpa adanya tuntutan dari siapapun. Perilaku dan sikap orang islam di sekitar desa sumurjomblang sangat baik.

Mereka tidak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan keyakinannya. Selain itu, di desa tersebut juga sudah ada tempat untuk perkumpulan para penganut penghayat, tetapi sembahyang untuk orang penghayat tersebut kebanyakan di rumah masing-masing. Biasanya mereka akan mengkhususkan satu kamar untuk di jadikan tempat sembahyang. Toleransi antar masyarakat yang berbeda keyakinan sangatlah penting. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan sekaligus menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Dengan toleransi, seluruh umat akan rukun dan damai tanpa adanya diskriminasi.

Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Penulis: Muhammad Afin Mursida, Editor: Rifa’i dan Kharisma Shafrani

Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan identitas dan karakter seorang individu. Pada tahap ini, remaja mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial secara signifikan, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan remaja di masa depan. Oleh sebab itu, edukasi perkembangan remaja sangat dibutuhkan untuk membantu remaja dalam memahami dan mengelola perubahan ini dengan cara yang sehat, serta membekali remaja dengan keterampilan hidup. Selain itu, edukasi perkembangan remaja juga memiliki peranan dalam mencegah perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, dengan memberikan informasi yang akurat dan mendukung pembentukan nilai-nilai positif.

Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN turut andil dalam memberikan edukasi kepada remaja di Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah dengan mengadakan sosialiasi perkembangan remaja dengan judul “Aku adalah Remaja.” Acara ini diadakan pada Rabu, 23 Juli 2024 bertempat di SMP N 04 Bumijawa. Sosialisasi dihadiri oleh peserta didik baru yang sedang melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sosialisasi yang dibawakan oleh mahasiswa KKN Kelompok 108 Sokatengah bertujuan untuk memberikan pengenalan tumbuh kembang remaja agar dapat mengetahui tugas perkembangannya.

Baca Juga: Upaya Lestarikan Budaya Lokal KKN 57 UIN Gusdur Ciptakan Wayang Animasi

Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, Rizqi Faisal Muzaqi dan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai perkembangan remaja oleh Muhammad Afin Mursida. Materi yang disampaikan mencakup definisi remaja, karakteristik, tugas perkembangan, permasalahan dan cara mengarahkan diri seorang remaja untuk mengisi kegiatannya yang positif. Di sela-sela waktu sosialisasi, diisi dengan sesi ice breaking yang dipandu oleh Rifal Faruq dan Eliza Zuhrul. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi diri dari peserta didik dengan menuliskan biodata dan cita-cita. Kertas yang berisi tulisan tersebut dibuat pesawat dan diterbangkan bersama-sama. Hal ini menjadi simbol agar seseorang dapat menerbangkan diri lebih tinggi untuk menggapai impiannya. Acara sosialiasi ditutup dengan sesi Fun Games yang dipandu oleh Fajar Ismail dan Atik dengan tujuan membangun kebersamaan dan kerja sama antar peserta didik.

Sosialisasi ini menjadi bukti kepedulian mengenai perkembangan remaja bahwa mereka harus senantiasa dibimbing dan dibina agar menjadi generasi penerus yang gemilang. Harapannya, acara ini dapat menambah pengetahuan terhadap perkembangan bagi remaja agar dapat mempersiapkan diri dan menghadapi masa remaja dengan baik.

Akankah AI dapat Menggantikan Peran Seorang Guru dalam Pendidikan?

Penulis: Khairun Nisa, Editor: Tegar Dwi Pangestu

Perkembangan teknologi yang sangat pesat menawarkan berbagai kemudahan dalam menjalani kehidupan. Salah satu perkembangan teknologi yang sedang popular saat ini yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intellegence/AI). Indonesia termasuk pengguna AI terbanyak. Dilansir dari databoks.katadata.co.id, Indonesia menjadi negara pengguna AI terbanyak ke-3 di dunia. Sebanyak 1,4 miliar pengguna internet mengunjungi aplikasi AI pada kurun waktu September 2022-Agustus 2023. AI banyak digunakan karena menyediakan berbagai fitur yang mempermudah pekerjaan manusia seperti kemampuan pemrosesan data cepat, prediksi dengan akurat, dan pengambilan keputusan yang tepat.

Saat ini AI banyak digunakan di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Terdapat banyak AI yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah tugas tenaga pendidik maupun peserta didik. AI dapat membantu guru untuk mengelola administrasi, membuat perangkat ajar, dan rencana pembelajaran. Tidak hanya sebagai asisten guru saja, AI juga dapat membantu peserta didik dalam proses belajar seperti sebagai mentor virtual yang dapat memberikan umpan balik, asisten suara (voice assintant) yang memberikan informasi terkait materi, serta konten cerdas (smart content) yang menyediakan materi pembelajaran menarik, Penerjemah bahasa digunakan untuk memfasilitasi peserta didik untuk belajar bahasa asing. Sehingga peserta didik lebih termotivasi untuk belajar dengan mudah tanpa batasan waktu dan tempat. Dari berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh AI, akhir-akhir ini bermunculan banyak pertanyaan atau isu terkait “apakah masih diperlukan peran guru dalam dunia pendidikan?”.

Baca Juga: https://hijratunaa.com/tanggap-teknologi-digital-bsi-bersama-mahasiswa-kkn-uin-gusdur-desa-adakan-pembuatan-qris-di-desa-gondang/

Sejatinya pendidikan itu bukan sekedar proses transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi juga berperan dalam proses transfer nilai. Dalam hal ini AI tidak memiliki kemampuan untuk memberikan nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Aspek kebersamaan, empati, dan kepedulian yang dihadirkan oleh seorang guru tidak dapat digantikan oleh teknologi. Guru berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik, mengajarkan nilai moral, memberikan dukungan, dan memberikan motivasi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Interaksi antara guru dan peserta didik juga sangat penting dalam memfasilitasi pembelajaran yang efektif. Kemampuan guru untuk membaca kebutuhan dan keberagaman peserta didik, serta memberikan respons yang sesuai secara individual. Guru adalah sosok yang memberikan inspirasi, memotivasi, dan membimbing peserta didik untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Mengajar dengan cinta adalah inti dari profesionisme guru yang berkualitas. Cinta dalam konteks ini bukan hanya sekedar perasaan romantic saja, tetapi lebih kepada kasih sayang, kepedulian, dan dedikasi yang tulus terhadap peserta didik. Seorang guru yang mengajar dengan cinta akan memberikan pengaruh yang positif dan mendalam dalam kehidupan peserta didiknya. Pentingnya mengajar dengan cinta terletak pada pengaruhnya terhadap perkembangan holistik peserta didik. Ketika seorang guru mengajar dengan cinta, ia tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga aspek emosional, sosial, dan moral dari setiap peserta didiknya. Guru yang mengajar dengan cinta akan memberikan perhatian ekstra, dukungan, dan motivasi kepada peserta didiknya, membantu mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu yang berdaya dan berempati. Selain itu, cinta juga memainkan peran penting dalam membangun hubungan antara guru dan peserta didik. Ketika peserta didik merasakan bahwa mereka didukung dan dicintai oleh guru mereka, mereka akan lebih terbuka untuk belajar, lebih percaya diri, dan lebih termotivasi untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Kesimpulannya Meskipun AI dapat memberikan bantuan dalam beberapa aspek pembelajaran, teknologi terus berkembang pesat, peran guru dalam dunia pendidikan tetap tak tergantikan. Sebaliknya, integrasi teknologi dan peran guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang baik dan efektif bagi peserta didik. AI tidak dapat memberikan cinta dan kepedulian yang diperlukan untuk membentuk hubungan yang bermakna antara guru dan peserta didik. Cinta adalah hal yang manusiawi dan tidak dapat digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, dalam era di mana teknologi semakin mendominasi, penting bagi guru untuk tetap mengingat bahwa cinta dan kepedulian adalah inti dari profesi mereka. Guru yang mengajar dengan cinta akan menjadi panutan dan teladan bagi peserta didiknya, memberikan inspirasi, harapan, dan motivasi untuk meraih mimpi mereka.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Habib Ja’far atau yang Lebih Dikenal Habib Milenial

Penulis : Adinda Suci Fadilah, Editor : Ryuu Pangestu

Nama asli Habib Ja’far adalah Husein Ja’far Al-Hadar, lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada tanggal 21 Juni 1988, dan merupakan keturunan sah Nabi Muhammad SAW. Ia mendapat gelar Habib dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah. Dia mendapat kalimat ini dari ayahnya. Habib Husein Ja’far lahir dan besar di keluarga Arab.

Berawal dari kakeknya yang datang ke Indonesia untuk berdagang, Habib Husein terlahir dalam sebuah keluarga. Terlahir dari keluarga Habib yang sangat religius, ia harus menjaga harkat dan martabat keluarganya serta menjaga Islam itu sendiri sebagai agama. Sejak kecil, Habib Husein harus membiasakan diri dengan aturan, norma, dan nilai yang dianggap membatasi oleh sebagian orang. Mengutip wawancara di channel YouTube Tretan Universe, ia mengatakan jika ia terlambat menunaikan salat Asri di SMA, ia akan diolok-olok oleh teman-temannya.

Baca juga : Panggung FEBIFEST UIN Gus Dur Pekalongan Dimeriahkan oleh Habib Husein ja’far Al-Hadar Usung Tema “Milenial Merawat Peradaban”

Di bangku SMA, Habib Husein belajar tentang kitab-kitab filsafat dan tokoh-tokohnya. Habib Ja’far cukup terkenal di kalangan pemuda sebagai pencerah pemuda yang tersesat. Habib Ja’far mempunyai narasi yang lancar dan mudah dipahami. Hal ini akan selalu membuat pesan dakwahnya bergema di kalangan generasi muda. Selain itu, Habib Ja’far juga mengutarakan keresahan generasi muda sehari-hari, sehingga pesan khotbahnya relevan dengan situasi generasi muda saat ini.

Habib Ja’far selalu update berita terkini. Ia juga selalu memahami apa yang diinginkan pasar media saat ini, yakni budaya pop. Habib Ja’far selalu aktif membuat konten di Instagram dan YouTube. Konten terpopuler adalah Lost Youth, konten yang dibuat atas kerja sama Coki Pardede dan Tretan Muslim. Konten ini menimbulkan beberapa pertanyaan aneh, namun Habib menjawabnya dengan keseriusan individu.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Lukman Hakim Saifuddin: Pembawa Obor Toleransi ala Gus Dur Muda

Hal ini menimbulkan minat generasi muda untuk mendengarkan khotbah santai Habib Ja’far. “Selama dia baik dan mendorong kebaikan. Orang tidak bertanya tentang agama.” Gus Dur mengucapkan kata-kata itu. Bacaan Habib Ja’far ini sejalan dengan pernyataan Gus Dur. Padahal, perilaku Habib Ja’far merupakan bentuk toleransi sejati sesuai kaidah Rasulullah.

Habib menjadi sahabat baik dan akrab dengan tokoh agama non-Muslim. Perlu diketahui bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang damai dan sederhana. Habib Ja’far juga memadukan humor dan dakwah. Humor Habib Ja’far mampu menyampaikan warna dakwah Islam yang tidak kaku, toleran, kontestasi, kontemplatif dan menghibur.

Dari sini terlihat bahwa suatu persoalan yang serius dan seringkali disampaikan secara kaku juga dapat disampaikan dengan santai dan bersahabat. Di masyarakat tertentu, dakwah jenis ini lebih populer dibandingkan ceramah di kelas. Dari Habib Ja’far kita dapat belajar bahwa Islam adalah agama yang terbuka terhadap inovasi dan perkembangan seiring berjalannya waktu.

Maka tidak salah jika ada ungkapan Islam shalih likulli masa wa makan (menyesuaikan diri dengan segala waktu dan tempat). Tentu saja, penebusan ini kembali kepada kita melalui cara penafsirannya, cara pemahamannya, dan cara penerapannya. . Apa yang dilakukan Habib Ja’far merupakan bagian dari wajah Islam yang progresif, terbuka dan inovatif.

Baca juga : Sosok KH. Taufiqul Hakim dalam Modernisasi Pendidikan Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi dalam Pembangunan Karakter dan Kualitas Manusia

Habib Ja`far juga mendorong semua kalangan untuk menggunakan platform digital sebagai sarana dakwah. Sebab, media sosial kini telah menjadi domain dakwah Islam mainstream. Ia mencontohkan penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Sosial (PPIM), UIN Jakarta, yang menemukan lebih dari 63 persen pengguna internet belajar agama melalui internet. Dengan demikian, dakwah menjadi penting di dunia digital dengan segala tantangannya.

Dakwah digital dinilai jauh lebih efektif, murah, dan mudah. Alat ini mudah dibuat dan dapat dibuat bahkan di rumah, murah karena tidak memerlukan transportasi dan efektif di tangan serta dapat dimainkan berkali-kali. Habib Ja`far yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW pun menanggapi sinisme pembelajaran di media sosial yang dinilai jauh secara ilmiah dari pesantren. Bagi Habib Ja`far, media digital dan pertemuan taklim hanyalah alat, seperti pesantren dan sekolah.

Dakwah sendiri, ditegaskan Habib Jafar, tidak hanya mengajak umat beribadah kepada magdhoh (kepala), tapi juga kebaikan dan dakwah. Termasuk transmisi nilai-nilai kebangsaan, kebaikan spiritual, seni, dan lain-lain. Pesan Dakwah Habib Ja`far di Instagram meningkatkan pemahaman agama. Dengan isi yang sesuai dan bahasa yang mudah dipahami, Habib Jafar membantu masyarakat lebih memahami ajaran agama.

Postingannya di Instagram dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi para pengikutnya. Meningkatnya penyebaran dakwah di jejaring sosial Instagram memungkinkan Habib Jafar menjangkau calon pengikutnya di berbagai daerah. Hal ini akan membantu memperluas jangkauan dakwah dan menjangkau lebih banyak orang. Ciptakan Komunikasi Positif Dengan menanggapi komentar dan pesan, Habib Ja`far menciptakan suasana komunikasi positif antara dirinya dan pengikutnya.

Hal ini memperkuat ikatan antara jemaah dan khatibnya dalam membangun komunitas yang saling mendukung. Habib Ja`far juga menggunakan kutipan religi dalam tulisannya yang dibagikannya di Instagram. Ini menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan teks yang diselingi dengan kutipan keagamaan yang relevan. Ini membantu menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.

Habib Jafar menggunakan ekspresi wajah yang ekspresif untuk menunjukkan emosi dan menekankan pesan yang disampaikan. Frasa yang tegas, penuh kasih sayang, atau serius dapat membantu menyampaikan pesan dengan lebih efektif. Gestur tubuh Habib Jafar merupakan gestur yang tepat untuk menekankan poin-poin penting dalam ceramahnya.

Baca juga : K.H. Abdul Hamid Pasuruan: Sosok Ulama Sufi dan Tokoh Panutan

Ia tahu bagaimana menggunakan gerakan tangan atau tubuh yang mendukung penyampaian pesan yang disampaikan. menawarkan visualisasi yang lebih jelas kepada para pengikutnya. Habib Jafar juga menggunakan gambar dan grafik yang relevan untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Ia juga menggunakan ilustrasi, infografis atau gambar dengan font yang indah untuk menyampaikan pesan secara visual.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://idr.uin-antasari.ac.id/19938/6/BAB%20IV.pdf

https://kumparan.com/tengku-passa/kita-harus-belajar-dari-habib-jafar-20C6FGd9SLs/full

https://plus.kapanlagi.com/sempat-nakal-saat-kecil-cerita-motivasi-habib-jafar-curi-rel-kereta-api-83a031.html?page=7

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/JKII/article/viewFile/17675/9048

Memprediksi Masa Depan Pendidikan: Tren Digital dalam Mempersiapkan Perubahan

Penulis : Dwi Maya Meilina, Editor : Amarul Hakim

Dalam era sekarang, tren digital menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari- hari. Dalam konteks pendidikan dengan kehadiran tren digital telah mengubah transformasi secara signifikan. Oleh karena itu, memahami tren digital dalam pendidikan menjadi esensial bagi semua pendidik dan semua sektor pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Namun, percepatan digitalisasi perlu merujuk pada rancangan yang ditetapkan tidak hanya sekedar mengikuti tren – tren dari negara lain melainkan harus sesuai dengan kebutuhan nasional dan masyarakat Indonesia.

Dari data yang dihimpun Unpi-Cianjur, AC.ID melalui Cambridge International merilis hasil penelitian Global Education Census dilakukan secara global pertama kalinya. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pelajar Indonesia termasuk pengguna teknologi tertinggi dalam sektor pendidikan dibandingkan pelajar lainya. Pelajar Indonesia menduduki peringkat tertinggi secara global penggunaan IT di sekolah sekitar 40% dan menduduki peringkat kedua di dunia dalam penggunaan komputer desktop sekitar 54%, setelah negara Amerika Serikat. Sekitar 67% pelajar di Indonesia menggunakan smartphone saat belajar dikelas dan sekitar 81% pelajar menggunakan smartphone untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Pentingnya teknologi digital memudahkan para guru dan institusi pendidikan dalam mengelola data atau materi secara lebih efisisien dan praktis.

Baca juga : Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Tren digital memberikan manfaat bagi pendidikan, seperti mudahnya akses ilmu pengetahuan dan informasi yang luas, materi ajar bisa melalui online, serta siswa bisa belajar secara mandiri kapan dan dimanapun. Munculnya aplikasi-aplikasi pendukung pembelajaran seperti multimedia berbasis digital, Youtube dan sumber belajar berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) menjadi bentuk tren digital yang merubah model dan cara belajar siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif. Kemendikbudristek telah mengembangkan platform digital seperti SIPlah (Sistem Informasi Pengadaan Di Sekolah), ARKAS (Aplikasi Rencana Kegiatan Dan Anggaran Sekolah), Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan sebagainya. Aplikasi- aplikasi ini membantu dalam mendata anggaran disekolah dan membantu proses belajar mengajar.

Tren digital pastinya memiliki tantangannya. Salah satunya adalah kesenjangan akses teknologi. Tidak semua siswa dan sekolah memiliki perangkat dan akses internet yang baik dan memadai. Daerah yang sulit dalam akses jalan dan jauh dari hingar bingar kota sulit mendapatkan kualitas dan fasilitas sekolah yang baik, perangkat pembelajaran, keterbatasan tenaga dan akses internet yang tidak merata seperti pada daerah Papua.

Baca juga : Tradisi dan Transformasi: Pendidikan Pesantren dalam Era Modern

Pemerintah perlu mengupayakan dan memastikan pemerataan fasilitas, perangkat dan akses internet dalam menunjang tren digital yang semakin terus maju. Oleh karena itu, setiap detik waktu yang berjalan, munculnya tren – tren digital akan merubah masa depan pendidikan. Pendidikan tidak akan luput dari perangkat digital dan pendidik serta pemangku instansi pendidikan sehingga perlu memanfaatkan dan mengikuti tren yang ada. Perlu kita ingat, teknologi digital bukanlah pengganti guru, melainkan jembatan menuju pengetahuan tanpa batas.

Mengikuti tren digital dalam pendidikan bukan hanya sekedar model dan mengikuti zaman saja, melainkan menjadikan langkah yang strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di era digital saat ini. Pemanfaatan teknologi digital secara bijak, praktis dan kondusif tanpa melanggar undang-undang. Kita sebagai pengguna dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif, efisien, dan menyenangkan bagi semua kalangan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Syaifulloh, Muhammad dan Desy Fitriana. (2023). Prosiding Temu Ilmiah Nasional Guru XV Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan – Universitas Terbuka. Vol. 15 (1)

https://gurudikdas.kemdikbud.go.id/news/%E2%80%9C-digitalisasi-pendidikan-

%E2%80%9C–mendorong-peningkatan-daya-saing diakses pada 2 Juni 2024 pukul 13.00

https://www.unpi-cianjur.ac.id/berita-5771-survey–pelajar-indonesia-pengguna- teknologi-tertinggi-di-bidang-pendidikan diakses pada 2 Juni 2024 pukul 13.15.

https://www.voaindonesia.com/a/mendikbud-10-2-juta-pengguna-pakai-platform- pendidikan/6828882.html diakses pada 2 Juni 2024 pukul 13.30

https://www.rri.co.id/daerah/713912/kekuragan-guru-menjadi-masalah-utama pendidikan-di papua#:~:text=Faktor%20yang%20membuat%20pendidikan%20di,21%2F05% 2F2024 diakses pada 2 Juni 2024 pukul 13.45.

Peringatan Tahun Baru Islam di Linggo Asri: Santunan Anak Yatim dan Pelantikan IPNU-IPPNU dalam Semangat Moderasi Beragama

Pewarta : Wildan, Nastain, Danny, Editor : Syam

Dukuh Yosorejo, Desa Linggo Asri, merayakan Tahun Baru Islam 1446 H dengan mengadakan acara santunan anak yatim/piatu ke-26 dan pelantikan pengurus IPNU-IPPNU Ranting Linggo Asri pada Senin, 15 Juli 2024.

Acara ini telah menjadi tradisi selama hampir 26 tahun, pelaksanaan kali ini santunan diberikan kepada 21 anak yatim/piatu. Selama empat tahun terakhir, kegiatan ini tidak hanya menyantuni anak yatim muslim tetapi juga non-muslim. Desa Linggo Asri, yang dikenal sebagai desa moderasi beragama, dan telah meraih juara kedua tingkat nasional dalam kategori rumah moderasi beragama. Desa ini kembali memberikan contoh bagaimana moderasi beragama di praktikan.

baca juga : Refleksi Tahun Baru Islam dengan Pendidikan Kita Bangun Kemajuan Peradaban Islam

Rangkaian acara dimulai dengan tahlil, dilanjutkan dengan sambutan dari kepala desa, panitia, serta pengurus masjid dan mushola. Acara ini juga mencakup pelantikan pengurus IPNU dan IPPNU. Kegiatan santunan ini mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Mustajirin, salah satu tokoh masyarakat, menyatakan, “Acara ini harus terus diadakan karena merupakan adat yang baik dan sesuai dengan kaidah Ushul Fiqh, yaitu kita menjaga adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.”

baca juga : Desa Kutorojo Resmi Menjadi Kampung Moderasi Beragama Ke 3 di Pekalongan

Nur, ketua pelaksana, menambahkan, “Kegiatan santunan ini sudah diadakan kurang lebih 26 kali. Pada awalnya, tidak sebanyak ini, tetapi sekarang kita menyantuni anak dari semua agama. Alhamdulillah, donatur juga luar biasa. Pada tahun 2016, kami bahkan membeli kambing untuk 17 anak. Semoga generasi selanjutnya dapat melanjutkan kegiatan ini dan terus berkembang.”

Desa Kutorojo Resmi Menjadi Kampung Moderasi Beragama Ke 3 di Pekalongan

Pewarta : Rista dan Hilma, Editor : Nanang dan Syam

Menindaklanjuti terbitnya Surat Keputusan (SK) Kemenag Kabupaten Pekalongan No. 96 Tahun 2024 tentang penetapan Desa Kutorojo sebagai Kampung Moderasi Beragama, peluncuran Kampung Moderasi Beragama Desa Kutorojo dilaksanakan pada 17 Juli 2024. Sebelumnya UIN Gusdur bersama Kemenag Kabupaten Pekalongan juga telah membina dan melaunching Kampung Moderasi Beragama Linggoasri dan Jolotigo. Acara ini berlangsung di Candi Kutomoyo Desa Kutorojo bersamaan dengan ritual adat Nyadran.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten 1 Pemerintah Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan Wiryo Santoso, Kepala Desa Kutorojo Dulajat, Wakil Rektor 3 UIN Pekalongan Muslih, P.hD.,Ketua LP2M Prof. Dr. Imam Kanafi, Kemenag Kabupaten Pekalongan, Ketua FKUB, Kesbangpol Kabupaten Pekalongan, Camat Kajen, Kapolsek Kajen, dan Danramil Kajen Kabupaten Pekalongan.

Pada kesempatan itu, Dulajat selaku Kepala Desa Kutorojo memaparkan sejarah Desa Kutorojo dan filosofi ritual adat Nyadran di situs Candi Kutomoyo. Ia berharap pengurus Moderasi Beragama yang dikukuhkan pada acara tersebut dapat terus merawat kerukunan dan memiliki kreativitas untuk membangun kemandirian ekonomi.

Nanang, Syamsul, Rifa’i, dan Hanif dari tim pemberdayaan masyarakat Kutorojo UIN Pekalongan menyampaikan bahwa moto membangun kemandirian ekonomi pada pengurus Moderasi Beragama sangat tepat. Ini merupakan respons terhadap Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Semangat peraturan ini memberikan amanah bahwa penguatan moderasi beragama adalah tanggung jawab semua kementerian dan pemerintahan di semua tingkatan, sehingga isu kemandirian ekonomi dapat terhubung dengan berbagai instansi tersebut. Meskipun memiliki semboyan kemandirian ekonomi, pengurusnya tetap lintas agama dan organisasi masyarakat. Berbagai program dan kerja sama yang dilakukan dalam membangun kemandirian ekonomi dapat mempererat persaudaraan meskipun berbeda agama.

Imam Kanafi, Ketua LP2M, menjelaskan bahwa berbagai program telah dilakukan oleh LP2M untuk mendampingi Desa Kutorojo hingga ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama. Program-program tersebut meliputi dialog antaragama, komunikasi untuk membangun kontrak sosial kerukunan antaragama, dan dialog kerja sama dalam membangun kemandirian ekonomi lintas agama. Berdasarkan berbagai kegiatan ini, LP2M mengajukan Desa Kutorojo kepada Kemenag Kabupaten Pekalongan untuk ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama.

Muslih, Wakil Rektor 2 UIN Pekalongan, menambahkan bahwa tokoh Gus Dur sebagai ikon kampus memberikan inspirasi untuk terus melakukan kerja-kerja kemanusiaan. Sementara itu, Kemenag Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa Desa Kutorojo memiliki keunikan berupa keragaman agama masyarakat. Bahkan, dalam satu agama (Islam) pun terdapat beragam organisasi masyarakat. Maka, sangat layak jika Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama.

Wiryo Santoso, Asisten 1 Bupati Pekalongan, mengapresiasi Desa Kutorojo. Menurutnya, desa ini telah menunjukkan bahwa kerukunan dan toleransi dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Ia mengajak semua pihak untuk terus mengedepankan dialog dan kerja sama antarumat beragama.

Kegiatan ditutup dengan doa lintas agama serta deklarasi dan komitmen bersama untuk terus memelihara kerukunan antarumat beragama. Para peserta berharap bahwa dengan adanya Kampung Moderasi Beragama ini, Desa Kutorojo dapat semakin dikenal sebagai simbol kerukunan dan toleransi di Kabupaten Pekalongan.