Penulis: Nadhifatuz Zulfa*, Penyunting: Azzam Nabil Hibrizi
Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam pertengahan bulan yakni tanggal 15 Sya’ban pada penanggalan Kalender Hijriyah. Malam yang penuh kemuliaan ini selalu datang dengan suasana yang khas. Di banyak tempat, malam ini diisi dengan doa, istighfar, dan harapan: semoga Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan memberi jalan kebaikan ke depan. Bagi banyak umat Islam, Nisfu Sya’ban bukan sekadar penanda waktu menuju Ramadhan, tetapi “momen tenang” untuk berhenti sejenak, muhasabah diri dan bercermin—tentang diri sendiri, tentang hubungan kita dengan Allah, dan tentang cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.
Dalam kekhusyukan doa Nisfu Sya’ban, sejatinya ada pesan penting yang sering luput direnungkan, yakni bahwa kesalehan spiritual tidak berdiri sendiri. Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam Q.S. Adz Dzariyat ayat 56. Namun bukan berarti ibadah itu hanya berupa hal-hal yang bersifat ritual saja seperti shalat, membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada Allah SWT. Kesalehan spiritual selalu berkaitan erat dengan kualitas relasi sosial. Hubungan suami dan istri, cara orang tua memperlakukan anak, serta cara masyarakat memandang laki-laki dan perempuan menjadi cermin sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam keseharian.
Dalam sejumlah riwayat hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, disebutkan bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan sebagai momentum turunnya ampunan Allah. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah memperhatikan makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan.” (HR. Ibnu Mājah dan Ath-Thabrani)
Riwayat ini kerap dipahami sebagai pengingat baik agar manusia membersihkan hati, merawat hubungan, dan perlahan melepaskan kebencian yang mungkin selama ini dipendam. Pengampunan Allah pada malam Nisfu Sya’ban tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga sangat erat dengan relasi horizontal antarmanusia. Permusuhan, ketidakadilan, dan sikap saling menyakiti justru menjadi penghalang turunnya rahmat.
Dalam ajaran Islam, kesalahan tidak selalu berbentuk pelanggaran ibadah semata, tetapi juga bisa saja hadir dalam cara kita berhubungan dengan orang lain. Menyakiti orang lain, berlaku tidak adil, merendahkan martabat sesama, atau mengabaikan hak-hak orang di sekitar kita merupakan persoalan moral yang juga membutuhkan taubat. Karena itu, Nisfu Sya’ban sejatinya dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk menyucikan relasi sosial agar lebih adil dan berkeadaban.
Makna malam Nisfu Sya’ban sebagai malam pengampunan mengingatkan kita bahwa rahmat Allah menjangkau seluruh sisi kehidupan manusia. Pengampunan Ilahi seharusnya melahirkan kesadaran baru untuk memperbaiki sikap dan perilaku, termasuk dalam relasi gender. Islam tidak memisahkan kesalehan spiritual dari kesalehan sosial. Ibadah yang dilakukan seseorang seharusnya tercermin dalam akhlaknya sehari-hari, terutama dalam memperlakukan orang-orang terdekatnya.
Islam sejak awal mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dimuliakan di hadapan Allah. Keduanya sejajar, sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan sama-sama memikul tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Al-Qur’an menegaskan bahwa siapa pun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, akan memperoleh balasan yang adil dari Allah. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam berakar kuat pada nilai tauhid dan keadilan.
Kesetaraan gender dalam Islam tidak dimaksudkan untuk meniadakan perbedaan, tetapi untuk menegaskan pentingnya keadilan, saling menghormati, dan kemitraan dalam kehidupan. Islam menolak segala bentuk relasi yang dibangun atas dominasi, kekerasan, dan penghilangan martabat manusia. Karena itu, relasi yang timpang—baik dalam keluarga maupun masyarakat—perlu terus diperbaiki dalam semangat ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai rahmah dan kemanusiaan.
Malam Nisfu Sya’ban dapat menjadi ruang perenungan (muhasabah) bersama untuk melihat kembali bagaimana relasi antaranggota keluarga dan antar sesama dijalani selama ini. Jika kebencian dan permusuhan menjadi penghalang ampunan Allah, maka relasi yang tidak adil, penuh kekerasan, atau meniadakan suara pihak lain patut direnungkan secara serius. Sudahkah relasi suami dan istri dibangun atas dasar saling menghormati dan bermusyawarah? Apakah perempuan diberi ruang yang layak untuk berpendapat dan berperan dalam keluarga? Apakah anak laki-laki dan perempuan mendapatkan kasih sayang serta kesempatan yang adil dalam pengasuhan dan pendidikan?
Dalam kehidupan keluarga Muslim, spirit kesetaraan itu tercermin dalam prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf, yakni membangun hubungan yang baik, saling menjaga, dan penuh kasih sayang. Kekerasan, pemaksaan kehendak, maupun pengabaian hak pasangan tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, apalagi dengan spirit Nisfu Sya’ban yang menekankan pengampunan dan perbaikan diri. Keluarga semestinya menjadi ruang aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh secara utuh dan bermartabat.
Pengasuhan anak pun menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai keadilan dan saling menghargai sejak dini. Cara orang tua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan akan membentuk cara pandang mereka terhadap keadilan, empati, dan penghormatan terhadap sesama. Ketika nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini, keluarga memiliki peran sebagai madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.
Pada akhirnya, malam Nisfu Sya’ban mengingatkan bahwa taubat tidak berhenti pada doa dan istighfar, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Spirit kesetaraan gender dalam Islam merupakan bagian dari akhlak mulia yang perlu terus dihidupkan. Dengan menjadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai kesempatan untuk merenung dan memperbarui sikap hidup, umat Islam diharapkan mampu membangun relasi yang lebih adil, penuh kasih sayang, dan bermartabat—sebagai wujud ibadah kepada Allah dan tanggung jawab kemanusiaan.
*Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
