Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Penulis: Muhammad Zamahsyari, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Tradisi tirakatan merupakan tradisi luhur yang mengajarkan kita untuk menoleh ke belakang dan menatap ke depan. Kita menoleh ke belakang untuk mengenang kemerdekaan bangsa Indonesia tidak diraih oleh satu suku, satu golongan, atau satu agama saja. Kemerdekaan adalah hasil perjuangan kolektif para pahlawan dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tradisi tirakatan bukan hanya untuk bersyukur atas kemerdekaan fisik, tetapi juga untuk merayakan sebuah prinsip luhur yang menjadi warisan terpenting para pendiri bangsa.

Tradisi tirakatan yang diadakan oleh Kepala Desa Karangdadap, Amat Lathifin, mengatakan bahwa sejarah tradisi ini awalnya sebagai partisipasi warga yang tidak bisa ikut kegiatan renungan malam 17 Agustus. Warga berinisiatif mendoakan para pejuang atau nenek moyang dengan tradisi budaya Jawa, yaitu mengadakan malam tirakatan. Awal mula tradisi ini digalakkan di Desa Karangdadap tercatat pada tahun 2000-an yang awalnya harus diikuti oleh para sesepuh atau tokoh masyarakat dan sekarang melibatkan semua warga. Yang dulunya hanya bertempat di dalam balai desa sekarang sudah di tempatkan di tempat yang luas.

Baca juga: Fenomena Partisipasi Nonmuslim dalam Tahlilan: Meneguhkan Toleransi Beragama

Tujuan tradisi tirakatan diantaranya yaitu sebagai simbol kecintaan warga terhadap bangsa Indonesia. Selain itu untuk menjalin tali silaturahmi sesama warga karena tradisi ini merupakan tradisi yang tidak pudar dan melibatkan semua unsur dan generasi. Tradisi tirakatan juga menambah peluasan memori regenerasi terus menerus, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang tua, sehingga membekas dalam diri mereka untuk melestarikan tradisi positif tersebut.

Di balik tujuan positif dari tradisi tirakatan malam 17 Agustus, ada pula tantangan yang harus dihadapi ketika melestarikan tradisi tirakatan. Yang pertama yaitu pengaruh globalisasi dan budaya asing, hal ini bisa menurunkan minat generasi muda terhadap tirakatan yang pada akhirnya mengancam kelestariannya. Kedua yaitu perubahan sosial dan gaya hidup modernitas, tirakatan acapkali dianggap kuno atau tidak selaras dengan gaya hidup yang lebih praktis dan cepat, sehingga partisipasinya menurun. Ketiga yaitu kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang arti, nilai, dan filosofi di balik tradisi tirakatan menyebabkan generasi sekarang tidak tertarik untuk melestarikanya.

Cara memahamkan dan melestarikan tradisi tirakatan pada zaman sekarang diantaranya adalah memahamkan tradisi tirakatan dengan menjelaskan asal usul tradisi tersebut. Contohnya seperti menyampaikan makna filosofis dan sejarah yang mendalam, mengadakan sesi refleksi, dan diskusi interaktif.

Baca juga: Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Unsur-unsur di dalam tradisi tirakatan tidak terlepas dari nilai keagamaan dan juga nasionalisme, misalnya memoles tradisi Jawa atau Indonesia dengan tradisi keislaman seperti tahlilan, selawatan, hingga doa bersama. Selain itu, peran aktif generasi muda juga diperlukan dengan cara berpartisipasi menyiapkan acara tersebut mulai dari persiapan acara hingga puncak acara. Pada bagian berikutnya berupa sambutan dari tokoh masyarakat untuk mengenalkan dan mengenang asal usul wilayah atau negara dan perjuangan pahlawan. Tradisi tirakatan ini juga menghadirkan tasyakuran bersama yang menuntun setiap warga membawa satu nampan untuk dimakan bersama saat acara tersebut.

Tradisi tirakatan malam 17 Agustus mengandung nilai-nilai sejarah dan penghargaan jasa pahlawan, ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat kemerdekaan yang telah diraih dan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Tak lupa nilai nasionalisme, solidaritas, tanggung jawab, serta nilai religius, merupakan pelestarian budaya yang hadir dalam tradisi tirakatan dan menjadi simbol pelestarian tradisi dan kearifan lokal di tengah gempuran budaya asing dan modernisasi.

Sambut Kemerdekaan, Desa Linggoasri Gelar Doa Bersama Antarumat Beragama

Penulis : Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Pekalongan – Daalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-80, Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, mengadakan acara malam renungan dan doa bersama antarumat beragama, Sabtu 16 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Balai Desa Linggoasri yang telah menjadi agenda rutinan tahunan setiap malam menjelang perayaan Dirgahayu Republik Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan ini dihadiri oleh segenap perangkat desa, tokoh agama serta tokoh masyarakat Desa Linggoasri. Kepala Desa Linggoasri, Imam Nuryanto pada sambutannya menekankan bahwa acara malam renungan dan doa bersama bukan hanya sebuah seremonial semata, namun juga menjadi sarana instropeksi diri dan selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik demi menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)
Dok.Hijratunaa, Doa bersama antarumat beragama (16/8)

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang diawali doa dari agama Hindu dengan dipimpin oleh Pemangku Agama Hindu, bapak Taswono, kemudian dilanjutkan doa dari agama Islam yang dipandu oleh Bapak Kyai Mustajirin Toyib. Lantunan doa-doa yang dipanjatkan agama Hindu dan Islam merupakan bentuk rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga persatuan dan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun ke-80 hingga tahun-tahun berikutnya.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, makan bersama nasi tumpeng yang merupakan simbol dari rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui rangkaian acara ini, warga desa linggoasri berharap semangat persatuan dan kerukunan warga dan antarumat beragama terus terjaga sebagai wujud nyata dalam menyambut kemerdekaan Rebuplik Indonesia.