Islam dan Kehidupan Antar Umat Beragama di Linggoasri: Toleransi, Keterlekatan, dan Dampak Signifikan pada Kebudayaan

Penulis: Dzurrotun Nafisah Anjali, Editor: Faiza Nadilah

Islam datang ke-Nusantara sebagai agama yang universal, sempurna, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Islam terus merambat ke semua penjuru bumi nusantara mengakibatkan bumi nusantara dianggap sebagai suatu negeri yang sangat kaya dengan budaya. Alasannya, secara ilmiah kehidupan agama dan budaya sedang memberi suatu ekspose tentang seluk beluk yang mendasar. Islam dikenal sebagai salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal dan ikhtilāf ulama dalam memahami ajaran agamanya (Mubarok, 2008).

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. kepada seluruh manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial politik. Beliau membebaskan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya keimanan. Islam merupakan konsep agama yang humanis, yaitu agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan pada konsep “humanisme teosentris” dimana poros Islam adalah tauhidullah yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme teosentris nantinya akan ditransformasikan sebagai nilai yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks masyarakat budaya, dan dari sistem inilah muncul simbol-simbol yang terbentuk karena proses dialektika antara nilai agama dengan tata nilai budaya (Kuntowijoyo, 2008).

Konsep normatif agama mengenai budaya tidak hanya mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya tetapi agama mempunyai konsep tentang amr (perintah), dengan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah Di dalam keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa lepas dari tradisi lokal yang hidup dan berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat, dimana mereka hidup, berkomunikasi, dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang ada. Proses penyebaran agama Islam yang ada di Nusantara tidak pernah terlepas dari proses akulturasi budaya, sehingga ajaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan para wali dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Karena dalam ajaran agama Islam tidak ada istilah paksaan dalam beragama. Para penyebar agama Islam tidak pernah menyiarkan agama melalu kekerasan dan permusuhan, akan tetapi melalui kedamaian, adaptasi dengan budaya lokal sehingga lambat laun terbentuk kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan bentuk asli dari kebudayaan tersebut.

Penerapan hal tersebut bisa kita lihat di Desa Linggoasri yang masyarakatnya memiliki keragaman beragama, tidak hanya agama Islam saja yang diyakini sebagai kepercayaan masyarakat tetapi mereka juga menganut agama Hindu, Buddha, dan Katolik. Awal mula masuk beberapa agama di Linggoasri juga sama dengan masuknya agama di Nusantara. Terjadi akulturasi antara agama-agama yang ada di Linggoasri dengan kebudayaannya menjadi sebuah praktik keagamaan yang toleran dan memiliki keterlekatan dengan modal sosial, simbolik, kebudayaan, dan material masyarakatnya.

Agama tidak lain menjadi identik dengan tradisi atau sebuah ekspresi budaya yang meyakinkan seseorang terhadap sesuatu yang suci, dan tentang ungkapan keimanan terhadap yang kuasa. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya sangat relatif. Artinya bahwa, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai yang “benar”, pada dasarnya hal itu sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, bahwa tuhan absolut. Dengan demikian apapun bentuk yang dilakukan oleh sikap manusia untuk mempertahankan, memperbaharui atau memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat banwa yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar” (Abdurrahman, 2003).

Kehidupan masyarakat di Linggoasri jauh dari kata perselisihan antar umat beragama. Mereka hidup dengan rukun dan damai tanpa mengusik kepercayaan masing-masing. Sikap toleransi yang tinggi menjadi kunci utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang sejahtera, tentram dan religius. Masyarakat disana menjalankan ibadah ajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang dianut tanpa mengganggu kegiatan ibadah agama lain.

Pentingnya Hubungan Agama dan Budaya Lokal

Agama selalu dipandang sakral oleh para pemeluknya. Sebagai panutan hidup, setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing demi mewujudkan ajaran agama tersebut dan tingkah laku sosialnya sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, maka agama kemudian menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik dalam format individu maupun kelompok. Oleh sebab itu, maka secara sosiologis dikenal adanya istilah, seperti: orang-orang yang beragama (penganut), umat beragama (komunitas), dan tokoh umat beragama (pemimpin) (Abdurrahman, 1980).

Semua hasil pemikiran manusia adalah budaya; proses berpikir adalah proses kebudayaan. Kalau keberagamaan seseorang merupakan sebuah keyakinan yang banyak diperankan oleh pikiran, maka sulit untuk disangkal ketika seseorang menentukan agama tertentu untuk di anut tidak dapat terlepas dari aspek kebudayaan. Antara agama dan budaya keduanya sama-sama melekat pada diri seorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal pikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan dan bahkan berintraksi dengan kebudayaan.

Kebudayaan sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah peraktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam- macam agama, kebudayaan inilah yang juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Oleh karena itu kita sebagai pemeluk agama harus akomodatif terhadap budaya yang berlaku di masyarakat.

Menyikapi Tantangan Kesehatan Mental: Perspektif Al-Qur’an dan Realitas Sosial

Penulis: Annisatul Karimah, Editor: Windi Tia Utami

Isu Kesehatan mental tengah menjadi pembicaraan hangat di media pemberitaan. Kesehatan mental seseorang kadang kala menjadi problematika baru yang muncul karena banyaknya problematika kehidupan. Tak hanya menyerang orang dewasa, semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, bahkan lansia baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama untuk terganggu kesehatan mentalnya.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), peninjau kesehatan mental nasional pertama di Indonesia, mencatat bahwasanya terdapat banyak kejadian gangguan mental pada remaja usia 10 – 17 tahun. I-NAMHS menyatakan ada satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Faktor yang memicu terganggunya Kesehatan mental dapat berupa banyak hal, seperti tekanan keluarga, pendidikan, lingkungan, bahkan ekonomi. Sehingga tak heran, belakangan ini banyak kasus bunuh diri dengan alasan gangguan kesehatan mental yang kian merajalela.

Sejatinya dalam kehidupan, manusia akan selalu mendapatkan sebuah cobaan berupa masalah. Masalah itu Allah Swt. Turunkan sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengingat bahwasanya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tuhan untuk menjalankan kehidupannya. Namun, dewasa ini justru masalah dijadikan sebagai alasan untuk menyerah, banyak manusia yang mengaku terbebani dan akhirnya mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah. Padahal Allah Swt. telah jelas berfirman pada surat Asy-Syarh (94): 5-6 yang artinya ’’Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya besertakesulitan itu ada kemudahan’’. Ayat ini memberi semangat agar setiap manusia selalu ikhlas dan percaya bahwa bahwa kesulitan, kesengsaraan, kemalangan, dan kesakitan adalah pintu untuk memasuki jalan kebenaran, kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Diharapkan seorang manusia dapat mengetahui dan memahami hakikat dari setiap tantangan dan kesulitan. Sehingga, ia memiliki semangat agar selalu mencari celah supaya dapat memetik hikmah dari tantangan, dan kesulitan yang menimpa.

Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah dikenal dengan istilah problem solving yang kualitasnya dipegaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah Adversity Quotient. Faktor yang memengaruhi seseorang dalam problem solving  tidak hanya kercerdasan intelektual dan emosional saja. Dengan Adversity Quotient kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena faktor ini merupakan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Psikologi Barat dalam situasi pengendalian diri dikenal dengan istilah selfcontrol atau kontrol diri, sehingga factor terpenting Ketika menghadapi masalah adalah mengontrol diri sendiri agar tidak berbuat diluar kendali dan agar tetap berpikir jernih.

Al Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan juga didalamnya banyak ayat-ayat yang bersangkutan dengan kesehatan mental dengan berbagai istilah yang digunakannya sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh setiap manusia

Dalam Q.S. ali-Imran (3): 186, Allah menegaskan bahwa manusia sugguh diuji dengan harta dan diri/jiwa. Dalam ayat ini diperintahkan juga agar bersabar dalam sesuatu yang mereka katakan. Dalam Q.S. Muhammad (47): 31, Allah juga menegaskan tujuan ujian yang diberikan Allah, yaitu bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menguji manusia agar bisa diketahui mana orang-orang yang berjihad dan bersabar. Bahkan Allah mengatakan bahwa apakah manusia mengira masuk surga sebelum diketahui mana manusia yang bersungguh-sungguh dan bersabar al-Qur’ān Tentang Kesehatan Mental Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah Swt.

Sebagai kitab suci yang berisi petunjuk, Al-Qur’an mengemukakan ada penyakit mental yang disebabkan oleh seseorang jauh dari Al-Qur’ān diantaranya sebagai berikut : (i) Riya’ adalah bertingkah laku karena tujuan ingin dipuji atau dapat perhatian orang lain; (ii) asad dan dengki atau iri hati; (iii) Rakus (berlebih-lebihan dalam makan); (iv) Waswas merupakan bisikan hati, akan nafsu dan kelezatan; (v) Ingkar janji; (vi) Membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), dan lain sebagainya.

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk tentang permasalahan manusia beserta dengan solusinya sekaligus, tugas manusia adalah tetap menghamba dan berpegang teguh pada jalan Allah Swt. niscaya Ketika manusia dapat mencerna penjelasan Allah Swt. dalam Al-Qur’an tidak akan ada lagi permasalahan tentang Kesehatan mental hanya karena tertimpa musibah.

Tips & trik Bermedia (Tangkal Berita Hoax)

Seiring berkembangnya zaman dan kemudahan akses informasi yang menyertainya banyak pula berita-berita bohong atau hoax yang bertebaran di berbagai media. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2019 berita hoax berbentuk tulisan sebanyak 79,7%, foto editan sebanyak 57,8%, foto dengan caption atau keterangan palsu sebanyak 66,3%, video editan sebanyak 45,70%, video dengan narasi palsu sebanyak 53,2% dan berita/foto/video lama di-posting kembali sebanyak 69,20 %.

Jumlah yang ditunjukkan cukup banyak dan tentunya memberikan dampak buruk bagi masyarakat yang terpapar banyak berita hoax. Oleh karena itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media menjadi menurun, dan membuat resah terhadap maraknya pemberitaan hoax tersebut. Sadar akan hal itu, sebagai generasi muda kita harus bisa cermat dalam bermedia sekaligus membantu menghentikan penyebaran berita atau informasi palsu. Berikut tim Hijratunaa merangkumnya dalam lima langkah cerdas bermedia dalam menangkal berita hoax:

  1. Perhatikan Judul Informasi

Beberapa oknum kerap kali sengaja memakai judul yang sensasional atau menjebak agar banyak masyarakat yang tertarik membacanya. Berita bohong kerap kali menggunakan judul yang mengejutkan atau memancing pembaca, tak jarang isi berita dengan judulnya berbeda. Bahkan tak segan-segan oknum penyebar berita hoax menggunakan judul yang provokatif.

  1. Lihat Sumber Informasi

Hal yang paling utama dan penting untuk kita perhatikan adalah dengan mengecek dari mana sumber informasi berasal. Kita harus bisa memilih dan memilah mana media yang kompeten dan terpercaya. Apabila mendapat informasi dari situs-situs atau media yang belum terpecaya, maka perlu mengecek kebenarannya di media atau situs resmi.

  1. Periksa Foto dan Video

Seringkali berita hoax menggunakan foto atau video dengan tingkat editing di luar batas, demi meyakinkan masyarakat akan berita yang disampaikan. Namun kita tidak perlu khawatir untuk mencari fakta dari foto atau video tersebut, kini kita bisa mengecek keasliannya melalui teknologi fitur dari google images salah satunya. Kita bisa mengeceknya melalui tautan images.google.com.

  1. Waspada forward Massage/ Pesan Diteruskan

Hal yang paling sering ditemukan dari berita hoax adalah adanya pesan yang diteruskan berkali-kali atau forward Massage. Oknum penyebar berita hoax akan menyebarkan ke banyak orang melalui cara ini dengan meminta orang-orang menyebarkan ulang informasi tersebut. Dalihnya, meminta agar informasi tersebut disebarkan secara segera bahkan tak segan memberikan ancaman atau iming-iming hadiah. Jika kalian mendapatkan pesan seperti itu, segera hapus dan abaikan.

  1. Laporkan ke KOMINFO jika menemukan Berita Hoax

Langkah terakhir, apabila menemukan berita hoax hendaknya segera melaporkan konten tersebut ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) agar berita hoax bisa segera ditindak tegas. Kita bisa melaporkannya dengan cara screen capture disertai dengan url link tautan berita tersebut lalu mengirim filnya ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Tak usah khawatir Anda terancam, karena kerahasiaan pelapor akan dijamin

Budaya Patriarki vs Kesetaraan Gender Dalam Islam

Oleh : Khanifah Auliana

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia masih menjadi perbincangan yang sering diperdebatkan. Kemajuan teknologi dan modernisasi menjadi hal yang berpengaruh pada perubahan lingkungan hidup. Pola pikir masyarakat juga ikut berdampak dari adanya globalisasi tersebut. Budaya dan tradisi masyarakat yang dulu masih melekat tampaknya kembali di ulas untuk menyesuaikan ketimpangan yang ada. Salah satu budaya yang masih saja melekat di masyarakat yang perlu diubah yaitu patriarki. Budaya Patriarki dulunya kental dengan sistem kerajaan dimana pemimpin kerajaan harus di dominasi oleh laki-laki. Bahkan dulu banyak raja yang akhirnya memiliki banyak anak hanya karena supaya kerajaan yang dipimpin ada pewaris laki-lakinya.

Budaya Patriarki sangat condong menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan padahal di era sekarang justru laki-laki dan perempuan harus memiliki keseimbangan karena saling melengkapi. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan tak setuju dengan ada budaya Patriarki di era sekarang ini karena secara tidak langsung merendahkan posisi perempuan. Sebenarnya seorang pemimpin tidak hanya ditujukan untuk laki-laki saja namun bisa perempuan. Selain itu adanya patriarki menjadikan seorang laki-laki meremehkan segala yang ada di perempuan. Banyak dari mereka hanya memandang perempuan sebelah mata hanya karena dianggap lemah. Sejatinya Allah telah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna dan melengkapi satu sama lain. Bahkan dalam Al-Qur’an terlah disebutkan peranan manusia yang berbeda-beda namun tetap sama.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”

Oleh karena itu, kita harusnya saling menjunjung tinggi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Menghormati dan melaksanakan peran dari masing-masing tanpa memandang perbedaan. Peran perempuan dan laki-laki sangatlah penting untuk kemajuan suatu bangsa dan kemaslahatan umat. Tidak ada yang mendominasi karena sejatinya baik perempuan maupun laki-laki harus saling kerjasama.

 

Empat Penemuan yang Merubah Peradaban

Oleh: Intan Anggreaeni Safitri

Tepat pada 9 November nanti kita akan memperingati hari penemuan sedunia, peringatan ini dibuat guna menghormati jasa jasa para ilmuan atas pemenuannya yang mengubah wajah dunia. Sebelum secanggih dan sepintar sekarang dulunya dunia hanya lah tempat kehidupan manusia biasa tanya adanya sentuhan tekonologi. Lewat kepintarannya para ilmuan di dunia menciptakan berbagai macam trobosan baru sehingga membuat peradaban menjadi lebih mudah seperti sekarang ini. Ada beberapa penemuan yang dapat dikatakan sangat berpengaruh antara lain:

Pertama penemuan internet, internet pertama kali ditemukan usai Advance Research Project Agency (APRA) yang membuat rangkaian pusat pada tahun 1969. Ide tersebut tercetus ketika peneliti merasa tidak resah karena tidak dapat bekerja di lokasi yang sama. Kemudia mereka membuat sebuah rangkaian yang diberikan nama ARPANET yang berbentuk seperti kabel telepon melalui jaringan tersebut peneliti dapat berkomunikasi datu sama lain. Jaringan tersebut tiap tahunnya mengalami perkembangan hingga pada tahun 1989 ARPANET sudah memiliki 100.000 server dan semenjak saat itu mulailah dikembangan HTTP agar internet dapat digunakan oleh banyak orang.

Kedua penemuan Komputer, penemu komputer adalah seorang matematikawan yang bernama Charles Baggage ditahun 1822. Mesin tersebut diberikan nama “different engeine 0” meskipun pada awalnya Charles hendak membuat mesin uap untuk menghitung angka namun mesin tersebut termasuk kedalam jenis komputer lantaran memiliki prinsip kerja yang sama dengan komputer modern yang mampu melakukan perhitungan angka. Dan kemudian dikembangkan lagi oleh Alan Turing yang berusaha menambahkan sekumpulan perintah di dalamnya. Namun orang yang berhasil mengembangkan komputer hingga seperti saat ini adalah Jhon Mauchly dengan karyanya yang diberi nama Electronic Numerical Integrator and Calculator.

Ketiga penemuan pesawat, setelah penemuan glider oleh Otto Lilienthal yang dapat membuat manusia terbang sesaat diudara kemudian wright bersaudara sukses menemukan pesawat terbang. Mereka melakukan eksperimen dengan menggunakan layang layang dan design glider. Pesawat buatan mereka sukses terbang dengan jangka waktu selama 12 detik dengan ketinggian 36,5 meter diatas permukaan.

Keempat penemuan vaksinasi, tepatnya pada abad ke-18 ada wabah cacar sapi yang telah menjadi bencana global. Namun ada suatu desa yang mana para memerah sapi tersebut kebal akan wabah ini, sehingga hal tersebut menarik perhatian dari seorang peneliti yakni Edward  Jenner. Kemudian setelahnya ia melakukan eksperimen sederhana dengan cara mengambil lesi cacar pada seorang pemerah sapi dan kemudian menyuntikannya pada seorang anak. Percobaannya pun berhasil dan sang anak tersebut perlahan lahan kondisinya mulai membaik.

Pengaruh Fatherless bagi Pertumbuhan Anak di Lingkungan Keluarga

Oleh : Khanifah Auliana

Kelurga menjadi tempat yang paling dibutuhkan ketika semua anggotanya berupa Ayah, Ibu dan anak saling melengkapi satu sama lain. Anggota keluarga juga berperan penting untuk selalu bekerjasama dalam hal apapun entah itu di rumah atau hal-hal kedepan yang sudah di rencanakan. Semua anggota keluarga punya peran yang penting dari sisi masing-masing, terutama peran dari pemimpin keluarga atau kepala keluarga yaitu ayah. Bukan hanya sosok ibu yang memiliki pengaruh besar di keluarga namun sosok Ayah sama halnya seperti ibu.

 Keduanya penting untuk membina rumah tangga bersama anak-anak yang bertumbuh kembang seiring berjalannya waktu. Namun kadangkala tak semua anak memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga yang lengkap. Ada keluarga yang hanya memiliki ibu dan anak saja yang tinggal bersama atau sebaliknya. Anak-anak yang belum memiliki kesempatan memiliki keluarga lengkap biasanya memiliki dampak pada kehidupannya.

Salah satu fenomena yang jarang kita dengar saat ini terkait anak-anak yang tumbuh besar tanpa peran ayah yaitu Fatherless. Kata Fatherless mungkin masih asing di telinga sebagian orang dan belum tahu mengenai fenomena tersebut. Namun jika ditelisik dari kata Father jika diterjemahkan adalah ayah sedangkan less bisa diartikan ketidakhadiran atau kurang. Fatherless bisa dimaknai sebagai ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan seorang anak bisa dari ia baru lahir bahkan sampai ia sudah beranjak dewasa. Ketiadaan atau ketidakhadiran soso ayah memiliki pengaruh yang bisa membuat seorang anak akan berfikir beda terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengaruh Fatherless bisa membuat anak akan berjuang dan belajar memahami kehidupan mandiri sejak dini. Namun ada sisi lain yang tidak terisi, jika anak-anak lain akan di dukung dan kasih sayang penuh oleh ayahnya. Seorang anak Fatherless tidak bisa merasakan itu sehingga mungkin hal tersebut akan berpengaruh dari cara pandangnya tapi bisa juga tidak tergantung jika anak tersebut memang dalam ruang lingkup keluarga yang saling menyayangi meski tanpa sosok ayah. Oleh karena itu, Fatherless sebenarnya bisa berpengaruh baik dan tidak, disini peran keluarga harus saling melengkapi entah itu ibu, saudara dan anggota lainnya.

Lingkungan positif juga bisa jadi point’ penting bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah, peran lingkungan yang mendukung dan tanpa memojokkan. Jangan anggap remeh hal ini, sebab tidak semua anak menginginkan kondisi Fatherless. Meski tumbuh tanpa peran ayah, anak-anak tersebut masih punya hak untuk meraih mimpi mereka. Dukung dan berikan semangat, kalau Fatherless tidak memberikan pengaruh yang buruk atau penghalang untuk meraih masa depan kelak.

Sedekah Bumi: Budaya Lokal yang Masih Lestari

Oleh: Intan Anggreaeni Safitri

Berbicara mengenai budaya lokal yang ada di Indonesia tidak akan ada habisnya. Jutaan kebudayaan tumbuh berdampingan dengan masyarakat Indonesia, pluralitas ini lah yang  membedakan Indonesia dengan negara lain. Kerukunan antar masyarakatnya juga patut untuk diajungi jempol. Masyarakat Indonesia memliki berbagai macam budaya yang menarik di daerahnya mulai dari tarian, rumah adat, lagu daerah, dan semacamnya.

Salah satu dari sekian banyak tradisi budaya yang masih berjalan dan masih banyak ditemui hingga kini yaitu sedekah bumi. Sedekah bumi merupakan sebuah tradisi dari zaman nenek moyang yang masih terjaga hingga sekarang ini. Rangkaian acara sedekah bumi biasanya setiap tempat memiliki ciri khas tersendiri. Sedekah bumi ini merupakan upacara adat yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmatnya.

Biasanya acara ini dilakukan pada awal bulan Muharam atau Syura dengan membawa gunung gunungan hasil bumi sebagai bentuk kuasa atas Tuhan yang telah memberikan rezekinya melalui tanah atau bumi yang mereka pijak. Tidak hanya itu sedekah bumi sekarang ini juga telah mengalami sedikit perubahan, jika pada zaman dahulu masyarakat hanya membawa gunungan hasil sawah atau kebunnya tanpa adanya iring iringan musik atau hiburan. Berbeda dengan sekarang masyarakat tetap akan membawa gunungan sebagai simboliknya namun terdapat pula penampilan peserta seperti tarian atau musik terntu yang mengiringi jalannya upacara adat ini.

Bukan hanya itu dari segi pakaian pun sudah jauh berbeda masyarakat sekarang jauh lebih kreatif dibandingkan dengan yang dulu, mereka akan mengenakan busana adat, pakaian hasil modifikasi pribadi, hingga pakaian yang terbuat dari daur ulang sampah dimana hal ini tidak bisa kita temukan pada upacara adat sedekah bumi orang zaman dahulu.

Melalui tradisi sedekah bumi kita juga dapat belajar mengenai beberapa nilai kehidupan seperti nilai ketuhanan, sosial, hingga moral. Nilai ketuhanan tertuang pada ungkapan rasa syukut kita kepada Tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan kepada kita. Nilai sosial yaitu kita dapat belajar untuk merangkai kerukunan dengan masyarakat lewat upacara sedekah bumi ini. Dan nilai moral yaitu dapat kita implementasikan pada sikap kita yang berusaha untuk melestrikan budaya ini agar tetap terjaga. Setiap kegiatan akan selalu ada pesan yang termaktub di dalamnya sehingga upayakan agar kita selalu memberikan yang terbaik pada setiap kegiatan yang kita jalani.

Upaya Lestarikan Budaya Lokal KKN 57 UIN Gusdur Ciptakan Wayang Animasi

Oleh : Intan Anggreaeni

Sebagai negara yang dianugerahi oleh beragam kekayaan tentunya Indonesia memiliki tantangan sendiri untuk melestarikannya. Terlebih lagi diera sekarang dimana gempuran gedget sangat pesat adanya sehingga generasi muda lebih suka berselencar di dunia maya alih alih bermain bersama teman sebayanya. Sebenarnya ada beragam cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk melestarikan budaya dimulai dari pembentukan UU, mengajarkan budaya lewat mata pelajaran di bangku sekolah, hingga membuat trobosan baru untuk mengenalkan budaya kepada generasi penerus bangsa.

Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa ada banyak cara yang dapat kita tempuh untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Misalnya saja dengan membuat membuat beberapa inovasi seperti yang dilakukan oleh mahasiswa KKN 57 UIN Gudsur kelompok 25, mereka membuat wayang dengan gaya yang modern. Mereka membuat inovasi dengan mengubah tokoh pewayangan menjadi animasi atau kartun yang anak anak kecil sukai, seperti doraemon, hello kitty, keropi. Dsb.

Hal tersebut dinilai jauh lebih efisien dibandingkan dengan mengenalkan wayang lewat tokoh yang aslinya. Karena biasanya nama tokoh pewayangan zaman dahalu lebih susah dihapalkan dibandingkan dengan tokoh tokon kartun yang biasa mereka tonton dilayar televisi. Tentunya hal tersebut juga akan memudahkan mereka dalam proses belajar wayang. Tidak hanya itu mereka juga melakukan inovasi pada bahan baku utama pembuatan wayang. Jika biasanya wayang dibuat menggunakan kulit namun kali ini mereka menggunakan kardus sebagai bahan utamanya.

Pemilihan kardus sebagai bahan utama karena kardus biasanya lebih gampang untuk dijumpai dan selain itu ini juga merupakan sebuah langkah mendaur ulang sampah. Adapaun tujuan Tujuan utama dari adanya inovasi permainan tradisional ini adalah untuk memfasilitasi, serta menjadi media untuk membantu dan mempermudah orang tua dalam mengawasi anak agar tidak terus menerus terpapar gadget dan juga bahaya media sosial yang anak-anak belum bisa memfilter hal tersebut. Selaij itu juga untuk melatih anak-anak agar lebih terampil serta kemahiran mereka dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Lihai dalam Mengelola Keuangan Life Skill  Utama yang Sangat dibutuhkan

Oleh: Intan Anggreaeni S

Sebagai makhluk hidup tentunya setiap harinya kita membutuhkan berbagai macam kebutuhan. Mulai dari kebutuan primer hingga sekunder, dari yang kecil hingga besar, dan dari yang mahal hingga yang murah. Berbagai kebutuhan tersebut tentunya harus kita beli untuk menunjang kehidupan kita. Namun sering kali harga kebutuhan tersebut jauh lebih tinggi dari pada pemasukan atau gaji kita. Oleh karenanya diperlukan kecakapan dalam mengelola keuangan. Belum lagi harga bahan makanan yang terus melambung membuat kita harus pintar pintar dalam berbelanja dan memage keuangan. Ada beberapa tips yang dapat kita lakukan dalam hal ini diataranya yaitu

Pertama catatlah pemasukan dan pengeluaran, sering kali kita lalai dan menganggap sepela tentang hal ini dan pada akhirnya setelah keuangan sudah menipis kita baru menyadari bahkan merasa bingung kemana sebenarnya uang kita “pergi”. Oleh karena itu penting bagu kita sebenarnya untuk menulis beberapa kebutuhan kita selama jangka waktu ke depan sehingga dengan mudah kita akan mengerti dimana uang kita “pergi” tersebut. hal tersebut dapa kita mulai dengan mencatat kebutuhan pokok dan beberapa kebutuhan lainnya yang dirasa penting, kemudia catat pula pemasukan kita. Jika dirasa dalam catatan tersebut jumlah pengeluaran kita sudah melebihi batas maka catatan ini dapat menjadi alarm bagi kita sendiri.

Kedua perhatikan lah hal-hal kecil, acapkali kita mengeluarkan uang untuk membeli hal sepele seperti kopi, cemilan, dsb. Pengeluaran seperti itulah yang sebenarnya jika ditotal akan menjadi jumlah yang terbilang cukup lumayan. Namun beberapa orang justru meanggap sepele akan hal ini sehingga membuat jumlah pengeluaran tidak terkontrol setiap bulannya. Sering kali kita sangat memikirkan matang matang untuk membeli barang mahal. Namun justru barang yang dianggap kita sepele ini jika ditotalkan jumlahnya bisa membeli barang tersebut.

Ketiga berbelanjalah sesuai kebutuhan, sering kali kita membeli beberapa barang bukan karena kebutuhan melainkan keinginan. Hal tersebut sebenarnya sangat tidak dibenarkan dalam hal ini karena jumlah pengeluaran nantinya akan sangat membengkak. Berbelanjalah sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita perlukan, hindari membuang uang kita hanya untuk membeli barang yang tidak terlalu perlu apalagi membeli barang hanya karena gengsi.

Keempat yaitu disipilin dalam menabung, buatlah target tabungan sendiri sendiri sesuai dengan keadaan ekonomi kita masing masing. Jangan menabung dari sisa uang di akhir bulan itu adalah langkah yang salah dan membuat uang tabungan kita akan jauh terkumpul. Oleh karenanya sebaiknya sisikanlah sebagian uang untuk ditabung dan jangan lupa juga siapkan uang darurat yang dapat kita gunakan apabila terjadi keadaan yang diluar prediksi seperti sakit, dsb.

Mengelola uang merupakan sebuah life skill yang sangat kita butuhkan. Skill ini terkesan sepele namun sesungguhnya adalah prinsip yang harus kita terapkan sejak muda. Terlebih lagi apabila ada target yang harus kita capai tentunya konsistensi dalam mengelola keuangan ini harus benar benar diperhatikan. Mengatur keuangan berarti kita menyelamatkan kehidupan kita dimasa yang akan datang.

Seni Ukir Jepara dan Nilai Keabsahan Kebesaran Allah SWT

Oleh Shofi Nur Hidayah

Berbicara tentang Kota Jepara, mungkin tidak akan lepas dari seni ukir yang begitu menyatu dengan kota tersebut. Jepara seolah menjadi ibu bagi seni ukir dan juga para pengerajin yang tinggal di sana. Kegiatan mengukir dan memahat untuk dijadikan mebel atau karya seni memang sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Kegiatan ini diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan mayoritas penduduk Kota Jepara berprofesi sebagai pengerajin ukir. Hasil seni ukir yang dihasilkan sudah tersebar keseluruh negeri bahkan hingga ke mancanegara.

Rupanya kebiasaan memgukir dan melukis sudah ada sejak zaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, menurut legenda masyarakat setempat. Dilansir dari laman  Indonesia.go.id Raja Brawijaya pernah memanggil ahli lukis dan ukir bernama Prabangkara untuk melukis sang istri dalam keadaan tanpa busana, tetapi harus mengandalkan imajinasinya tanpa melihat objek yang sebenarnya yakni sang permaisuri Raja. Prabangkara melakukan tugasnya dengan baik, lukisannya benar-benar indah tapi terdapat tahu cecak yang nampak seperti tahi lalat.

Raja Brawijaya pun marah karena letak tahi lalat di lukisan itu sama persis seperti aslinya. Dia kemudian menghukum Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang dan menerbangkannya. Prabangkara laku jatuh di Kota Jepara tepatnya di belakang gunung, yang kini dikenal dengan Desa Mulyoharjo. Prabangkara kemudian mengajarkan masyarakat setempat mengukir dan melukis, sehingga keahlian tersebut masih ada hingga zaman sekarang.

Ukiran Jepara sudah ada sejak zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat sekitar tahun 1549. Ada banyak pihak yang berperan besar dalam perkembangan seni ukir di zaman tersebut. Diantara orang-orang tersebut ada Retno Kencono (anak Ratu Kalinyamat), menteri Kerajaan Sungging Badarduwung dari Campa, dan sekelompok pengukir daerah Belakang Gunung yang bertugas melayani kebutuhan ukir keluarga Kerajaan. Sepeninggal Ratu Kalinyamat, perkembangan seni ukir di Jepara sempat mangkrak dan kembali hidup di zaman RA. Kartini.

Melihat kondisi perekonomian pengerajin yang tidak beranjak dari kemiskinan, membuat Kartini berinisiatif memasarkannya ke luar kota dan hasilnya cukup memuaskan. Akhirnya diketahuilah kualitas karya seni ukir Jepara ini di kanca lokal hingga mancanegara dan memang mampu mengembalikan ekonomi para perajin seni ukir Jepara.  Seni ukir juga tidak hanya cerminan dari budaya lokal saja, seni ukir ini juga bisa berkolaborasi dalam aspek keagamaan.

Dimana mimbar Masjidil Al Aqsa, Palestina juga pernah di ukir replikanya oleh warga Jepara. Yakni Nuruddin Zanki, dia bersama empat orang temannya mengerjakan ukiran tersebut selama lima tahun lamanya. Replika mimbar Masjidil Al Aqsa itu dikerjakan karena sebelumnya mimbar masjid pernah dibakar oleh Israel pada tahun 1969.  Hal ini membuktikan bahwa budaya lokal bisa bersatu padu dengan unsur kesilaman. Kita perlu melestarikan dan menjaga budaya yang ada. Serta memiliki rasa bangga dan mencintai budaya tersebut sebagai bentuk rasa syukur pada Allah SWT karena diberikan keberkahan pengetahuan yang berlimpah khususnya dalam kreativitas melestarikan budaya yang ada. Sebab budaya pun tidak akan pernah ada jika tanpa campur tangan Allah SWT. kekayaan budaya, merupakan bukti kebesaran Allah. Menjaga, melestarikan, serta mengembangkan budaya merupakan bukti syukur sekaligus kekaguman kepada yang maha kaya. Menafikan budaya sendiri, kemudian hanya menerima satu budaya (arab) atas nama agama, justru merendahkan martabat agama itu sendiri, karena menafikan kebesaran dan kekayaan Allah SWT.