Matematika dan Islam: Membaca Keteraturan Ciptaan Allah melalui Bahasa Angka

Penulis: Nalim*, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Fajar selalu datang pada waktunya. Matahari terbit dari ufuk timur tanpa pernah terlambat, lalu perlahan bergerak menuju titik tertingginya sebelum tenggelam di barat. Bulan mengitari bumi dalam lintasan yang teratur. Laut mengenal pasangnya, pepohonan mengenal musimnya, dan tubuh manusia bekerja mengikuti irama yang nyaris tak pernah keliru. Alam semesta seolah membaca naskah yang sama setiap hari, tanpa salah satu huruf pun tertukar.

Kita sering menyebut semua itu sebagai hukum alam. Seorang ilmuwan mungkin menjelaskannya melalui hukum-hukum fisika. Seorang matematikawan melihatnya sebagai pola yang dapat dihitung. Seorang mukmin memandangnya sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di seluruh penjuru ciptaan.

Barangkali di situlah matematika menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang memenuhi halaman buku pelajaran. Matematika merupakan bahasa yang membantu manusia membaca keteraturan alam. Lewat bahasa itu, manusia belajar mengenali pola, mengukur ketepatan, memahami hubungan, lalu menyadari bahwa alam tidak bergerak secara acak.

Alquran berkali-kali mengajak manusia mengarahkan pandangan ke langit dan bumi. Pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan, hujan yang menghidupkan tanah, hingga penciptaan manusia sendiri disebut sebagai ayat-ayat bagi orang yang mau berpikir. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 190 mengingatkan, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Ayat ini tidak mengajarkan rumus matematika, tetapi menumbuhkan cara pandang bahwa alam semesta layak diamati, direnungkan, dan dipelajari.

Baca juga: Pesona Ekosistem Kutorojo: Menjaga Satwa, Merawat Masa Depan

Menariknya, semakin jauh ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak keteraturan yang berhasil disingkap. Gerak planet dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya. Gerhana dapat dihitung hingga hitungan detik. Aliran air, pertumbuhan populasi, bahkan penyebaran penyakit dapat dimodelkan melalui persamaan matematika. Semuanya menunjukkan bahwa alam bekerja mengikuti hukum-hukum yang konsisten.

Konsistensi semacam itu mengingatkan kita pada satu ayat yang sangat singkat, tetapi sarat makna. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49). Kata qadar dalam ayat tersebut mengandung makna ukuran, ketentuan, dan proporsi. Alam semesta tidak diciptakan secara serampangan. Setiap ciptaan memiliki tempat, fungsi, dan keteraturannya masing-masing.

Kesadaran seperti ini pernah menjadi napas peradaban Islam. Mempelajari alam bukan dipandang sebagai aktivitas yang menjauhkan manusia dari agama, melainkan salah satu jalan untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang ciptaan-Nya, semakin banyak alasan untuk bertakbir. Keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan kekhusyukan spiritual.

Cara pandang tersebut terasa berbeda dengan apa yang sering kita jumpai sekarang. Matematika kerap dipersempit menjadi pelajaran yang identik dengan angka-angka rumit, lembar ujian, dan nilai rapor. Banyak siswa belajar agar mampu menjawab soal, bukan agar mampu memahami keteraturan yang mengelilingi hidupnya. Rumus dihafal, prosedur diikuti, lalu semuanya perlahan terlupakan setelah ujian berakhir.

Sayang sekali jika matematika berhenti pada ruang kelas. Padahal, ilmu ini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Ia mengiringi arsitek ketika merancang bangunan, membantu dokter membaca hasil pemeriksaan pasien, menjadi dasar teknologi yang kita gunakan setiap hari, bahkan bekerja diam-diam di balik aplikasi yang menunjukkan arah perjalanan atau memprediksi cuaca. Dunia modern bergerak di atas fondasi matematika, meskipun tidak semua orang menyadarinya.

Islam sendiri tidak pernah menempatkan akal sebagai lawan dari iman. Alquran justru berulang kali mengundang manusia untuk berpikir. Ungkapan seperti afalā ta’qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir), dan ulul albab (orang-orang yang memiliki kejernihan akal) tersebar di banyak ayat. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa keimanan yang kokoh tidak tumbuh dari sikap menutup mata terhadap realitas, melainkan dari kesediaan mengamati, merenungi, lalu mengambil hikmah.

Di sinilah matematika memiliki tempat yang istimewa. Ilmu ini melatih manusia berpikir runtut, menghargai bukti, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Setiap jawaban lahir melalui proses yang dapat diuji. Setiap langkah menuntut kejujuran. Satu kekeliruan kecil saja dapat mengubah hasil akhirnya. Bukankah kehidupan juga mengajarkan hal yang sama? Keputusan yang baik lahir dari pertimbangan yang matang, bukan sekadar dugaan atau emosi sesaat.

Baca juga: Pelajaran Al-Qur’an tentang Korupsi dan Kehancuran Negara

Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat matematika sebagai pelajaran berhitung. Padahal, jauh sebelum angka-angka ditulis di atas papan tulis, Allah telah lebih dahulu “menuliskannya” di alam semesta. Orbit planet, bentuk kepingan salju, susunan sarang lebah, gelombang laut, hingga pola tumbuh dedaunan adalah halaman-halaman terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang bersedia memperhatikan.

Maka, mempelajari matematika sesungguhnya bukan hanya belajar mencari jawaban yang benar. Ada latihan kesabaran ketika menyelesaikan persoalan yang rumit. Ada kejujuran saat memeriksa kembali setiap langkah. Ada kerendahan hati ketika menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Semua itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: angka memang tidak dapat menggantikan iman, tetapi melalui angka kita dapat belajar mengagumi keteraturan yang Allah bentangkan di hadapan manusia sejak alam semesta pertama kali diciptakan.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Mengapa azan Magrib hari ini lebih lambat daripada kemarin?”

Pertanyaan sederhana itu sering dianggap sepele. Padahal, dari rasa ingin tahu seperti itulah lahir kesadaran bahwa waktu ternyata bukan sesuatu yang diam. Matahari terus bergerak menurut ketentuan Allah. Posisi bumi berubah setiap saat. Durasi siang dan malam bergeser sedikit demi sedikit. Azan yang terdengar dari masjid bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan penegasan bahwa alam semesta sedang berjalan mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Kita menikmati semua itu hampir tanpa pernah memikirkannya.

Jadwal salat yang tersimpan di telepon genggam muncul tepat setiap hari. Arah kiblat dapat diketahui hanya dengan membuka sebuah aplikasi. Kalender Hijriah tersedia jauh sebelum Ramadan tiba. Semua terasa begitu mudah. Di balik kemudahan itu bekerja ilmu yang panjang sejarahnya: pengamatan langit, astronomi, geometri, trigonometri, dan tentu saja matematika.

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa ketika seorang Muslim berdiri menghadap kiblat, sesungguhnya ada perjalanan ilmu selama berabad-abad yang ikut mengantarkannya ke arah yang benar.

Hal yang sama terjadi ketika seseorang menghitung zakat. Angka yang muncul bukan sekadar hasil operasi hitung. Di sana ada amanah yang harus dijaga agar hak orang lain tidak berkurang sedikit pun. Pembagian waris pun demikian. Alquran memberikan ketentuan yang sangat rinci mengenai bagian setiap ahli waris. Ketelitian menjadi syarat mutlak. Kesalahan kecil dalam menghitung dapat menggeser hak seseorang dan mengubah keadilan yang hendak diwujudkan syariat. Rupanya, matematika hadir dalam banyak ruang ibadah, meskipun sering luput dari perhatian.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Jika sejak awal Islam begitu akrab dengan ilmu hitung, mengapa sebagian umat justru merasa matematika adalah sesuatu yang asing? Jawabannya mungkin dapat ditemukan ketika kita menoleh ke belakang, pada masa ketika dunia Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.

Sekitar seribu tahun yang lalu, Baghdad bukan hanya dikenal sebagai kota perdagangan. Di kota itu berdiri pusat-pusat ilmu yang mempertemukan para penerjemah, filsuf, ahli fikih, dokter, astronom, dan matematikawan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, membawa manuskrip dari Yunani, Persia, India, dan berbagai wilayah lain. Karya-karya itu tidak berhenti sebagai terjemahan. Para ilmuwan Muslim mengkritik, menyempurnakan, lalu melahirkan gagasan-gagasan baru yang kemudian mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara nama besar yang lahir pada masa itu adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Namanya mungkin tidak sepopuler para tokoh teknologi masa kini. Akan tetapi, hampir semua perangkat digital yang kita gunakan bekerja dengan prinsip yang berutang pada gagasan yang ia wariskan. Dari nama Al-Khwarizmi lahir istilah algorithm (algoritma), serangkaian langkah logis untuk menyelesaikan persoalan. Dunia modern berdiri di atas fondasi itu. Mesin pencari, media sosial, transaksi digital, kecerdasan buatan, hingga navigasi satelit memanfaatkan algoritma dalam bentuk yang terus berkembang.

Menariknya, Al-Khwarizmi tidak pernah mempelajari matematika demi mengejar ketenaran. Baginya dan banyak ilmuwan Muslim pada zamannya, mencari ilmu merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Alam dipandang sebagai kitab terbuka yang harus dibaca. Semakin banyak rahasia alam tersingkap, semakin tampak kebesaran Sang Pencipta.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan memudar. Kita hidup pada zaman ketika ilmu sering dipisahkan ke dalam kotak-kotak yang saling berjauhan. Agama ditempatkan di ruang ibadah. Sains ditempatkan di laboratorium. Matematika berada di ruang kelas. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, seolah tidak pernah saling menyapa.

Padahal, alam tidak pernah mengenal sekat-sekat seperti itu. Matahari tetap terbit dengan hukum yang sama, baik ketika diamati oleh seorang astronom maupun ketika disaksikan oleh seorang yang sedang berzikir selepas Subuh. Bulan tetap bergerak pada orbitnya, baik ketika dihitung oleh ahli falak maupun ketika dipandang oleh seorang anak yang menunggu datangnya Idulfitri. Objeknya sama. Sudut pandangnya saja yang berbeda.

Baca juga: Resmikan Gedung Laboratorium Terpadu, Menag RI Apresiasi Langkah Penyematan Nama Gus Dur Sebagai Identitas Kampus

Kesadaran inilah yang dahulu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar dalam peradaban Islam. Mereka tidak merasa harus memilih menjadi seorang yang saleh atau menjadi seorang ilmuwan. Meneliti alam justru menjadi salah satu cara untuk mensyukuri nikmat akal yang Allah anugerahkan.

Pandangan itu terasa begitu relevan hari ini. Dunia sedang menghadapi ledakan informasi yang luar biasa. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Kecerdasan buatan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu memerlukan waktu berhari-hari. Semua kemajuan itu bertumpu pada matematika. Angka-angka bekerja diam-diam di balik layar, mengatur lalu lintas data, membantu dokter mendiagnosis penyakit, memprediksi cuaca, mengendalikan pesawat, hingga menerjemahkan bahasa dari berbagai penjuru dunia.

Ironisnya, di saat matematika hadir hampir dalam setiap aspek kehidupan, banyak orang masih melihatnya sebatas kumpulan rumus yang harus dihafal.

Barangkali yang hilang bukanlah matematikanya. Yang hilang adalah rasa takjub. Begitu rasa takjub menghilang, angka berubah menjadi beban. Rumus kehilangan cerita. Belajar tinggal mengejar nilai. Padahal setiap konsep matematika sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperoleh jawaban benar. Ketelitian melatih amanah. Konsistensi mendidik istiqamah. Keseimbangan mengingatkan pada keadilan. Kesabaran dalam menyelesaikan persoalan perlahan membentuk kerendahan hati. Semua nilai itu tumbuh tanpa perlu diumumkan sebagai “pelajaran akhlak”. Ia hadir secara alami di sepanjang proses belajar.

Barangkali di situlah keindahan matematika bertemu dengan keindahan Islam. Keduanya sama-sama mengajak manusia mencintai keteraturan, menghargai kebenaran, dan menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki makna.

Semangat seperti itulah yang agaknya perlu dihidupkan kembali dalam dunia pendidikan kita. Bukan dengan menjadikan setiap pelajaran matematika sebagai ceramah agama, melainkan dengan menghadirkan kesadaran bahwa ilmu selalu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar angka di buku atau nilai di rapor.

Seorang guru matematika tentu tidak harus mengawali setiap pertemuan dengan ayat Alquran. Rumus pun tidak perlu dipaksakan agar selalu memiliki padanan dalil. Upaya seperti itu sering kali justru membuat peserta didik merasa bahwa agama dan sains sedang “dipertemukan” secara artifisial. Padahal keduanya sejak awal memang tidak pernah saling berjauhan.

Yang jauh lebih penting ialah menghadirkan pengalaman belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Ketika seorang siswa bertanya mengapa gerhana dapat diprediksi jauh sebelum terjadi, ketika ia penasaran mengapa sarang lebah berbentuk segi enam, atau ketika ia takjub melihat keteraturan bilangan yang muncul di alam, sesungguhnya saat itulah benih-benih kecintaan terhadap ilmu mulai tumbuh. Dari rasa ingin tahu lahir pencarian. Dari pencarian lahir pengetahuan. Dari pengetahuan yang disertai perenungan lahir rasa syukur.

Rasa syukur inilah yang sering kali luput dari pembelajaran kita. Kita begitu sibuk mengejar jawaban yang benar sehingga lupa menikmati proses menemukannya. Kita bangga ketika mampu menyelesaikan soal yang sulit, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa alam semesta dapat dipahami melalui bahasa yang begitu teratur? Mengapa hukum-hukum itu dapat dipelajari? Mengapa akal manusia diberi kemampuan mengenali pola-pola yang tersembunyi di balik berbagai peristiwa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang panjang. Cukup dijadikan ruang untuk merenung. Sebab, dari sanalah ilmu berubah menjadi hikmah.

Barangkali itulah pelajaran yang diwariskan oleh para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap kecanggihan ilmu. Kekaguman itu selalu mengarah kepada Zat yang menciptakan hukum-hukum alam. Semakin luas pengetahuan mereka, semakin dalam pula kerendahan hati mereka. Ilmu tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa masih terbentang lautan pengetahuan Allah yang tidak akan pernah habis dijelajahi manusia.

Sikap seperti ini terasa semakin penting pada zaman sekarang. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Informasi mengalir tanpa henti dari layar-layar kecil yang kita genggam. Dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Kemampuan menghitung tentu tetap dibutuhkan, tetapi itu saja tidak cukup. Yang jauh lebih berharga ialah kemampuan menggunakan ilmu dengan arif, memadukan nalar dengan nurani, serta menempatkan pengetahuan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Di sinilah matematika dan Islam saling menguatkan. Matematika melatih ketelitian, konsistensi, dan keberanian berpikir berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Islam memberi arah agar seluruh kemampuan itu digunakan untuk menebarkan keadilan, kejujuran, dan kemanfaatan bagi sesama. Akal menjadi semakin tajam, sementara hati tetap terjaga.

Alquran memperkenalkan manusia pada dua cara membaca. Cara pertama ialah membaca wahyu yang diturunkan melalui firman-Nya. Cara kedua ialah membaca alam yang dibentangkan di hadapan mata. Keduanya saling melengkapi. Wahyu memberi petunjuk tentang tujuan hidup, sedangkan alam menyajikan tanda-tanda yang menguatkan keyakinan bagi siapa saja yang mau memperhatikannya. Matematika membantu kita membaca sebagian dari tanda-tanda itu.

Setiap orbit yang teratur, setiap pola yang berulang, setiap ukuran yang presisi, dan setiap hukum yang konsisten seakan mengingatkan bahwa alam semesta ini tidak berjalan tanpa arah. Ada kebijaksanaan yang bekerja di balik seluruh keteraturan tersebut. Ada sunatullah yang menjaga langit tetap berada pada porosnya dan bumi tetap menjadi tempat yang layak dihuni.

Mungkin karena itulah Albert Einstein pernah berkata, “Hal yang paling sulit dipahami tentang alam semesta adalah kenyataan bahwa alam semesta dapat dipahami.” Ungkapan itu menarik untuk direnungkan. Mengapa akal manusia mampu membaca hukum-hukum alam? Mengapa keteraturan itu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa matematika? Bagi seorang mukmin, pertanyaan itu membawa kita pada satu kesadaran sederhana: Allah bukan hanya menciptakan alam semesta yang teratur, tetapi juga menganugerahkan akal agar manusia mampu mengenali keteraturan tersebut.

Baca juga: Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita pelajari ketika membuka buku matematika? Barangkali kita memang sedang belajar menghitung. Barangkali kita sedang berlatih memecahkan persoalan. Namun, jauh di balik semua itu, kita sedang belajar membaca sebagian kecil dari ayat-ayat kauniah yang Allah bentangkan di seluruh penjuru alam.

Setiap rumus yang dipahami mungkin tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih beriman. Akan tetapi, setiap rasa takjub yang lahir ketika menyaksikan keteraturan ciptaan-Nya dapat menjadi jembatan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Bukankah rasa kagum sering menjadi awal dari rasa syukur?

Maka, matematika layak dipandang sebagai lebih dari sekadar ilmu tentang angka. Ia adalah bahasa keteraturan. Bahasa yang mengajarkan manusia berpikir jernih, bersikap jujur, menghargai keseimbangan, dan menyadari bahwa alam semesta tidak pernah kehilangan arah karena seluruhnya berada dalam genggaman Allah Yang Maha Mengatur.

Barangkali itulah makna terdalam belajar matematika dalam perspektif Islam. Bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, melainkan belajar menjadi manusia yang lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Sebab, setiap kali akal berhasil menangkap keteraturan alam, hati seharusnya semakin mudah mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhanallah.

*Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Semarak Peringatan 1 Suro di Kuripan Kidul: Ajang Kreasi dan Silaturahmi Warga

Penulis: Ahmad Izzadin, Penyunting : Dwi Selma Fitriani

Dalam literatur Islam, tahun baru dimulai pada bulan Muharam atau dalam khazanah kebudayaan Jawa disebut sebagai bulan Suro. Untuk menyemarakkan momen tersebut, masyarakat Indonesia biasa mengadakan peringatan seremonial, di antaranya adalah pawai obor.

Di salah satu daerah di Jawa Tengah, tepatnya di Kelurahan Kuripan Kidul, Kota Pekalongan, masyarakat mengadakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H. Acara ini diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Kuripan Kidul pada tanggal 15 Juni 2026. Peringatan yang rutin diadakan setahun sekali pada malam 1 Suro ini diawali dengan sambutan dari Lurah Kuripan Kertoharjo. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kirab pawai keliling kelurahan yang menampilkan berbagai kreasi warga. Iring-iringan pawai ini diikuti oleh masyarakat umum dan sekolah-sekolah yang ada di kawasan Kuripan Kidul.

Baca juga: Penguatan Lembaga Keuangan Sosial Islam dalam Ekosistem Syariah (Islamic Ecosytem)

Pawai kali ini menampilkan enam kreasi dari warga Kuripan Kidul, yaitu paguyuban warga Gang 1-2, Gang 4, Gang 8, Gang 11-12, Gang 16-17, dan siswa SDN 1 Kuripan Kidul. Berbagai kreasi tersebut dilombakan dan dimenangkan oleh warga Gang 4. Posisi kedua diraih oleh warga Gang 11-12, disusul oleh warga Gang 8 di posisi ketiga. Dalam sebuah wawancara, Ketua IPNU Kuripan Kidul, Zimam Chanifush Shidqi, mengungkapkan, “Menjadi panitia kegiatan ini sangat melelahkan karena ini termasuk acara besar di Kuripan Kidul, disorot satu kelurahan, dan melibatkan banyak orang. Namun, melihat antusiasme para warga—baik penonton maupun peserta—rasa lelah tersebut akhirnya terbayarkan dan menimbulkan sukacita tersendiri.”. Peringatan 1 Suro ini turut dihadiri oleh Lurah setempat yang juga bertindak sebagai juri untuk menilai kreativitas warga. Barisan pawai pada kegiatan ini mengular hingga kurang lebih 1 kilometer. Selain penampilan warga, barisan pawai juga dimeriahkan oleh marching band Bintara asal Batang dan marching band Medika asal Kota Pekalongan. Para pengibar bendera yang mayoritas berasal dari IPNU-IPPNU Kertoharjo juga ikut menyemarakkan peringatan tersebut.

Peringatan Tahun Baru Islam di Kuripan Kidul ini menjadi ajang silaturahmi yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Meskipun penyelenggara acara berasal dari organisasi keagamaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama, partisipan kegiatan ini juga mencakup warga Muhammadiyah. Selain itu, warga setempat bergotong royong untuk menyukseskan jalannya acara. Ada yang memberikan donasi berupa uang dan makanan ringan untuk para peserta pawai. Pihak kepolisian dan warga lain yang tidak tergabung dalam kepanitiaan pun turut membantu menjaga keamanan selama peringatan berlangsung.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Acara ditutup dengan pertunjukan kreasi dari setiap paguyuban di hadapan juri untuk proses penilaian lomba. Setelah seluruh peserta kembali ke rumah masing-masing, para panitia bergotong royong membersihkan jalanan di sepanjang kelurahan dari tumpukan sampah selama pawai berlangsung.

Curug Blanten dan Sendang Luhur: Harapan Baru Wisata Alam di Kajen

Penulis: Najwa Aisha Mohandis, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

  Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kini memiliki potensi wisata alam yang semakin berkembang melalui wisata canyoneering di Curug Blanten, Dusun Gunungtelu. Wisata ini menawarkan pengalaman petualangan yang berbeda, yaitu menyusuri sungai, menuruni tebing air terjun, dan menikmati keindahan alam secara langsung. Kehadiran wisata canyoneering menjadi langkah positif dalam mengembangkan potensi wisata desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

​      Salah satu dampak yang paling terlihat adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi para pemuda Desa Kutorojo. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan wisata, mulai dari menjadi pemandu, tim keamanan, tim dokumentasi, hingga pengelola kegiatan. Keterlibatan pemuda dalam pengelolaan wisata ini menunjukkan bahwa potensi desa dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

​      Selain membuka peluang kerja, wisata canyoneering juga menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi warga sekitar. Kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil, seperti penjual makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan wisata lainnya. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di lingkungan sekitar Dusun Gunungtelu.

​     Menariknya, wisata ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Pekalongan maupun dari kota-kota lain di Jawa Tengah untuk merasakan sensasi canyoneering yang masih tergolong baru dan unik. Tingginya minat pengunjung dari luar daerah menunjukkan bahwa Curug Blanten memiliki daya tarik yang kuat dan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pekalongan. Kehadiran wisatawan tersebut juga turut memperkenalkan Desa Kutorojo, #Wisata, #DesaKutorejo, #KKN #hijratunaa, #curugkepada masyarakat yang lebih luas.

​     Sistem pengelolaan wisata yang diterapkan juga cukup baik karena menggunakan sistem booking terlebih dahulu dan hanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Dengan sistem tersebut, jumlah peserta dapat dikendalikan sehingga pelayanan, kenyamanan, dan keselamatan tetap terjaga. Biaya yang dikenakan sebesar Rp185.000 per orang sudah mencakup makan, perlengkapan canyoneering yang lengkap dan aman, dokumentasi foto serta video, dan pendampingan langsung oleh petugas yang berpengalaman.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

      ​Aspek keselamatan menjadi salah satu keunggulan wisata ini. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti briefing atau pengarahan mengenai tata cara kegiatan, penggunaan peralatan, teknik dasar canyoneering, serta prosedur keselamatan yang harus dipatuhi selama berada di area wisata. Setelah briefing selesai, peserta dibekali perlengkapan keselamatan yang sesuai standar dan didampingi oleh pemandu selama kegiatan berlangsung. Dengan adanya pengarahan dan pendampingan tersebut, wisatawan dapat menikmati aktivitas canyoneering dengan lebih aman, nyaman, dan percaya diri.

​      Selain memperhatikan aspek keselamatan, pengelola juga telah berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui perbaikan akses menuju lokasi wisata. Jalan menuju Curug Blanten berupa jalan setapak yang kini telah dipermudah dan ditata dengan lebih baik sehingga lebih aman dan nyaman untuk dilalui. Perbaikan jalur setapak ini memudahkan wisatawan saat menuju lokasi kegiatan tanpa menghilangkan keasrian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Dengan akses yang semakin baik, pengunjung dapat menikmati perjalanan menuju curug dengan lebih nyaman sambil menikmati pemandangan alam khas Dusun Gunungtelu.

   Perkembangan wisata canyoneering di Dusun Gunungtelu pun terus berlanjut. Setelah Curug Blanten mulai dikenal oleh banyak wisatawan, kini telah resmi dibuka lokasi canyoneering baru di Curug Sendang Luhur pada 6 Juni 2026. Kehadiran destinasi baru ini menjadi bukti bahwa potensi wisata alam di Desa Kutorojo masih sangat besar untuk dikembangkan. Dengan adanya dua lokasi canyoneering, pilihan wisata bagi pengunjung menjadi lebih beragam dan peluang ekonomi masyarakat pun semakin terbuka.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

​  Keberadaan Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya mampu menghadirkan pengalaman rekreasi dan petualangan, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Melalui pengelolaan yang melibatkan warga lokal, khususnya para pemuda desa, manfaat wisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar.

    ​Ke depannya, diharapkan minat pengunjung, terutama dari luar Desa Kutorojo, luar Kabupaten Pekalongan, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, terus meningkat sehingga wisata canyoneering ini semakin dikenal luas. Diharapkan pula wisata ini dapat menjadi salah satu ikon wisata petualangan unggulan Kabupaten Pekalongan yang mampu mengangkat nama Desa Kutorojo di tingkat yang lebih luas. Selain itu, semakin berkembangnya wisata ini diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi pemuda desa, mendorong tumbuhnya usaha-usaha lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, promosi yang berkelanjutan, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah, wisata canyoneering di Curug Blanten dan Curug Sendang Luhur memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Kutorojo.

Menjemput Masa Lalu, Merajut Masa Depan: Refleksi Sejarah Desa Kutorojo

Penulis: Ulia Anjumi, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang di kota-kota besar, meninggalkan narasi desa-desa terpencil sebagai catatan kaki yang samar. Padahal, jika kita mau menelisik lebih dalam ke daerah perbukitan Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kita akan menemukan Desa Kutorojo, sebuah tempat di mana nama bukan sekadar identitas, melainkan sebuah prasasti berasitektur lokal yang menyimpan teka-teki masa lalu.

Asal Usul dan Cerita Rakyat

Desa di kawasan perbukitan ini dikenal dengan adanya Gua Putri. Berdasarkan cerita warga setempat, Gua Putri ini menjadi salah satu tempat wisata yang penuh dengan sejarah. Konon, nama Gua Putri ini diambil dari nama salah seorang putri Kerajaan Mataram pada zaman dahulu. Kisah ini berkaitan juga dengan asal-usul Desa Kutorojo itu sendiri. Berikut sedikit kisah tentang asal-usul Desa Kutorojo.

Baca juga: Menantang Jarak, Menjemput Rezeki: Cara Desa Kutorojo Mengakali Letak Geografisnya

Kisah diawali dengan datangnya putri dari Kerajaan Mataram pada abad ke-17 yang bersembunyi di gua di wilayah tersebut, dengan dijaga seorang pengawal pribadinya yang bernama Ki Gedhe Kutomoyo. Karena putri tersebut tinggal di gua tadi, maka hingga sekarang nama gua tersebut adalah Gua Putri. Di sekitar Gua Putri terdapat sebuah air terjun dengan dua cabang sumber air yang digunakan oleh sang putri untuk mandi, yang dinamakan Curug Luhur.

Setiap hari Ki Gedhe Kutomoyo menjaga sang putri dari kejauhan, tepatnya di sebuah batu raksasa. Batu ini berdiri di atas sebuah batu lebih kecil yang menyerupai sebuah payung, batu ini kemudian dinamakan Batu Payung. Sekian waktu berlalu, sang putri akhirnya tertangkap oleh Belanda dengan menggunakan jala sutra dan dibawa ke Batavia. Ki Gedhe Kutomoyo kebingungan karena ia tidak berdaya saat sang putri dibawa ke Batavia oleh tentara Belanda dan ia tidak bisa kembali ke Keraton Mataram. Ia duduk termangu di sebuah pasiten atau petilasan yang kemudian dinamakan Candi Kutomoyo. Di dekat pasiten tersebut terdapat sumber air yang dinamakan Telaga Pakis yang biasa digunakan oleh Ki Gedhe Kutomoyo untuk mandi.

Tatkala Ki Gedhe Kutomoyo kebingungan dan duduk termangu, datanglah tiga orang, yaitu Ki Gedhe Wangsaraga, Ki Gedhe Caturaga, dan Ki Gedhe Kertasari. Mereka berempat lalu bermusyawarah dan mendapatkan kesimpulan. Selanjutnya, Ki Gedhe Wangsaraga, Ki Gedhe Caturaga, dan Ki Gedhe Kertasari diberikan mandat oleh Ki Gedhe Kutomoyo untuk membentuk sebuah tempat untuk penduduk tinggal atau sebuah dusun.

Baca juga: Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

Ki Gedhe Wangsaraga membuat Desa Gunung Telu. Dinamakan Gunung Telu karena dikelilingi oleh tiga gunung. Di sebelah timur laut ada Gunung Munggang Asem, di barat daya ada Gunung Simangli, dan di sebelah tenggara ada Gunung Kruas.

Sementara itu, Ki Gedhe Caturaga membuat Desa Kutorojo. Nama Kutorojo sendiri diambil dari mandat yang diberikan oleh Kutomoyo, yaitu Kuto (mangkuto putri rojo atau tempat yang pernah ditinggali putri raja) dan Rojo, sehingga menjadi Kutorojo.

Sedangkan Ki Gedhe Kertasari membuat Dusun Binangun. Di Dusun Binangun tersebut pernah ada kejadian ketiban lintang dan di sana selama 35 hari tidak pernah gelap, sehingga akhirnya dusun tadi disebut Desa Silawan.

Setelah mereka selesai membuat sebuah dusun atau tempat tinggal penduduk, mereka bertiga kembali ke tempat Ki Gedhe Kutomoyo untuk duduk di petilasannya, namun beliau sudah tidak ditemukan lagi. Dengan menyebarnya kabar tentang adanya desa di daerah tersebut, maka datanglah penduduk-penduduk dari daerah lain, yang salah satunya bernama Ki Gedhe Singawangsa yang sakti. Ki Gedhe Singawangsa tadi diberi mandat untuk menjaga Desa Kutorojo dan sekitarnya oleh Ki Gedhe Kutomoyo setelah ia bersemedi di petilasan Candi Kutomoyo tadi.

Setelah diberi mandat untuk menjaga desa, Ki Gedhe Singawangsa menjaga desa di atas sebuah bukit di sebuah petilasan yang sekarang diberi nama Petilasan Candi Singawangsa. Itulah sedikit kisah tentang asal-usul Desa Kutorojo.

Lokasi menuju Gua Putri dari pusat desa berjarak sekitar 500 meter, namun dengan rute yang menantang. Untuk mencapai teras gua, pengunjung harus menaiki tebing dengan menggunakan akar-akar pohon besar. Maklum, gua itu berada di tebing yang tinggi. Sebuah cekungan di tebing itu dengan panjang sekitar 200 meter diyakini warga sebagai teras Gua Putri. Lokasi Gua Putri sendiri hanya beberapa orang yang mampu mengetahuinya. Selain medannya yang sulit, hanya orang-orang yang memiliki kelebihan yang bisa melihat Gua Putri. Di sekitar Gua Putri, beberapa benda sejarah pun masih ada, di antaranya sebuah batu payung berukuran besar, air terjun Kali Luhur, dan Gua Sibedil.

Baca juga: Tradisi Nyadran, Sedekah Bumi, dan Ancaan di Desa Kutorojo

Batu Payung diyakini warga merupakan menara yang digunakan oleh para wali dan pasukan Mataram untuk mengamati pertempuran melawan penjajah Belanda. Sedangkan air terjun Kali Luhur digunakan untuk mandi putri Mataram dan pengikutnya saat bersembunyi di Gua Putri. “Gua Sibedil merupakan gua yang digempur pasukan Belanda. Banyak bekas-bekas tembakan di dinding-dinding gua, makanya diberi nama Gua Sibedil (Gua Senjata).” Selain beberapa tempat bersejarah tersebut, di Desa Kutorojo terdapat tiga candi atau petilasan dan makam keramat Singo Wongso yang hingga kini masih dijaga.

Romantisme Sejarah yang Terlupakan

Masyarakat lokal meyakini bahwa Kutorojo dulunya bukanlah sekadar permukiman biasa. Cerita tutur (folklor) yang diwariskan turun-temurun mengisyaratkan bahwa wilayah ini pernah menjadi tempat singgah, benteng pertahanan, atau bahkan petilasan tokoh-tokoh penting era kerajaan—baik dari masa Mataram Islam, Pengging, atau bahkan jauh sebelum itu. Topografi Kutorojo yang berada di ketinggian memberikan keuntungan strategis: tempat yang aman untuk mengintai musuh sekaligus wilayah yang subur untuk bertahan hidup.

Bukti bahwa Kutorojo bukan desa sembarangan tidak hanya hidup di awang-awang. Jika kita berjalan ke batas desa atau area yang dikeramatkan, kita masih bisa menemukan jejak fisik masa lalu, mulai dari batu-batu alam yang tersusun tak biasa mirip fondasi kuno, pohon-pohon besar berusia ratusan tahun yang menjadi saksi bisu, hingga keberadaan makam sesepuh penemu desa (babad alas) yang hingga kini masih diziarahi. Situs-situs fisik ini adalah jangkar nyata yang membuktikan bahwa mitos Kutorojo berakar pada realitas sejarah.

“Kutorojo itu bukan sekadar tempat tinggal, ini tanah petilasan. Dulu para pemimpin dan ksatria lari ke sini untuk menyusun strategi karena tempatnya tersembunyi dan aman,” ujar salah satu sesepuh desa dalam sebuah obrolan santai di pos ronda. Kalimat sederhana itu merangkum segalanya: ada harga diri dan nilai perjuangan yang tertanam di tanah ini.

Namun, ironi melanda ketika kita menyadari bahwa kebesaran sejarah Kutorojo saat ini lebih banyak hidup dalam ingatan para orang tua yang mulai rapuh. Generasi muda desa hari ini mungkin mengenal Kutorojo sebagai rumah yang asri dengan potensi pertaniannya, tetapi mulai kehilangan ikatan batin dengan “roh” sejarah yang melekat pada tanah kelahiran mereka.

Lebih dari Sekadar Dongeng Pengantar Tidur

Mengapa kita harus peduli pada sejarah sebuah desa?

Sejarah desa adalah jangkar identitas. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, masyarakat desa akan kehilangan arah di tengah gempuran modernisasi. Ketika warga Kutorojo memahami bahwa tanah yang mereka pijak memiliki nilai historis yang tinggi—entah itu sebagai bekas pusat pemerintahan lokal atau wilayah pertahanan—akan tumbuh rasa bangga (sense of pride) dan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi.

Kesadaran sejarah ini bukan untuk membuat kita terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan sebagai bahan bakar pembangunan. Desa yang menghargai sejarahnya tidak akan dengan mudah menjual tanahnya untuk kepentingan sesaat; mereka akan membangun dengan basis kelestarian alam dan budaya.

Kesimpulan

Kutorojo adalah pengingat bahwa Indonesia dibangun dari fondasi desa-desa yang kuat. Nama “Kutorojo” bukan sekadar warisan kata, melainkan sebuah amanah. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, didukung oleh pemerintah daerah, mulai meneliti, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai historis desa ini. Jangan biarkan Kutorojo hanya menjadi nama megah di atas peta, sementara kisah para “raja” di dalamnya hilang ditelan zaman. Menjaga sejarah Kutorojo adalah cara kita menghormati masa lalu sekaligus cara terbaik untuk merajut masa depan desa yang bermartabat.

Kerajinan Reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

Penulis: Azza Fadlillah, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi yang semakin pesat, keberadaan kerajinan tradisional sering kali menghadapi berbagai tantangan untuk tetap bertahan. Salah satu kerajinan tradisional yang masih eksis hingga saat ini adalah kerajinan reyeng yang terdapat di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Reyeng merupakan wadah berbentuk anyaman bambu yang umumnya digunakan untuk mengemas ikan pindang, buah-buahan, maupun berbagai kebutuhan lainnya. Kerajinan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kutorojo secara turun-temurun dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian warga.

Kerajinan reyeng bukan sekadar produk anyaman biasa, melainkan mencerminkan keterampilan, ketekunan, dan kreativitas masyarakat desa dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar. Bambu sebagai bahan baku utama mudah ditemukan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi apabila diolah dengan baik. Melalui proses pemotongan, penjemuran, penghalusan, hingga penganyaman, masyarakat mampu menghasilkan produk yang memiliki fungsi praktis sekaligus nilai jual yang cukup menjanjikan.

Selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutorojo, penulis melihat secara langsung bagaimana kerajinan reyeng masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak pengrajin yang menjadikan usaha reyeng sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Selain itu, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran di desa.

Tidak hanya bernilai ekonomi, kerajinan reyeng juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Kemampuan menganyam reyeng yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Kutorojo. Apabila tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin keterampilan tersebut akan hilang seiring berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha kerajinan tradisional. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama bahwa melestarikan kerajinan reyeng berarti turut menjaga warisan budaya daerah.

Namun demikian, perkembangan zaman juga menghadirkan tantangan yang cukup besar bagi para perajin reyeng. Produk berbahan plastik yang lebih murah dan mudah diperoleh sering kali menjadi pilihan masyarakat dibandingkan produk anyaman bambu. Selain itu, pemasaran yang masih terbatas menyebabkan produk reyeng belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kondisi ini mengakibatkan pendapatan perajin sering kali tidak stabil dan bergantung pada permintaan pasar lokal.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan berbagai upaya pengembangan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan mengenai inovasi produk, manajemen usaha, serta pemasaran digital agar para perajin mampu mengikuti perkembangan pasar. Selain itu, promosi melalui pameran UMKM, media sosial, dan platform perdagangan elektronik dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kerajinan reyeng kepada masyarakat yang lebih luas.

Inovasi produk juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kerajinan reyeng. Jika selama ini reyeng lebih banyak digunakan sebagai wadah ikan pindang, ke depan perajin dapat mengembangkan berbagai produk lain seperti tempat buah, wadah suvenir, keranjang hias, atau produk dekorasi rumah berbahan anyaman bambu. Dengan demikian, nilai jual produkdapat meningkat dan mampu menarik minat konsumen dari berbagai  kalangan.

Pada akhirnya, kerajinan reyeng di Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan merupakan aset budaya sekaligus aset ekonomi yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Keberadaan kerajinan ini perlu mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar tetap lestari di tengah perubahan zaman. Melalui pelestarian, inovasi, dan pengembangan yang berkelanjutan, kerajinan reyeng tidak hanya mampu mempertahankan identitas budaya masyarakat Desa Kutorojo, tetapi juga dapat menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Penulis: Kamaludin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang sarat akan makna dan nilai kebersamaan adalah Larung Sesaji, yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir, termasuk di Banyuwangi. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan bagi berbagai elemen warga. Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan Larung Sesaji ini dapat dilihat dari teori sosiologi masyarakat.

Masyarakat adalah suatu sistem hubungan antara manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, serta memiliki kebudayaan, norma, dan nilai-nilai yang sama (KBBI). Karakteristik masyarakat dicirikan oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang mereka anut bersama. Namun, hal yang luar biasa adalah setiap masyarakat memiliki nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak ada dua masyarakat yang persis sama. Peristiwa ini menggambarkan bahwa sifat moderat sangat diterapkan oleh masyarakat Banyuwangi, yang saling bergotong royong dan tidak membedakan satu sama lain, khususnya terkait kepercayaan yang dianut.

Apa itu kegiatan Larung Sesaji dan apa saja isi dari acara tersebut sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan bermoderasi beragama?

Baca juga : Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Larung Sesaji merupakan kegiatan bermoderasi beragama. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang agama dan kepercayaan masing-masing. Larung Sesaji adalah sebuah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia, yang pada praktiknya mungkin memiliki sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai permohonan keselamatan dan kemakmuran. Hal ini sangat mencerminkan moderasi beragama karena pelaksanaannya tidak memandang latar belakang agama masyarakat.

Rangkaian kegiatan Larung Sesaji terdiri atas beberapa tahapan. Pertama adalah persiapan, di mana masyarakat menyiapkan sesajen berupa berbagai jenis makanan, buah-buahan, dan bunga. Kedua, dilakukan prosesi larung dengan membawa sesajen tersebut ke pantai atau laut. Ketiga, masyarakat memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Tahap terakhir adalah pelepasan sesajen ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.

Baca juga : Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

  1. Makna moderasi beragama yang bisa diambil dari tradisi Larung Sesaji ini sangat beragam. Pertama, sebagai wujud menghormati Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada-Nya selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Kedua, tradisi ini mengajarkan untuk menghargai keberagaman. Pelaksanaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan mampu memupuk rasa toleransi. Ketiga, kegiatan ini mengembangkan kesadaran sosial tentang pentingnya menghargai lingkungan dan alam. Keempat, Larung Sesaji mampu mengintegrasikan unsur agama dan budaya sehingga tercipta harmoni dan keselarasan. Pada akhirnya, tradisi ini terus menumbuhkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap Sang Pencipta beserta lingkungan sekitarnya.

 

Wujudkan Pesantren Produktif dan Berkelanjutan Pondok Pesantren Nurul Ummah Gelar Seminar Kenalkan Sistem Hidroponik

Penulis: Annisatul Fadilah, Editor: Muslimah

Pondok Pesantren Nurul Ummah Pekalongan menggelar kegiatan Seminar Ekologi bertajuk “Green Pesantren Initiative: Capacity Building Hidroponik untuk Pesantren Produktif dan Berkelanjutan, Kamis (14/5). Kegiatan ini menghadirkan pemateri Putri Rahadian D.K., M.Pd. dan diikuti oleh para santri serta pengurus pesantren dengan antusias.

Seminar ini menjadi salah satu upaya membangun kesadaran ekologis di lingkungan pesantren melalui pengembangan keterampilan hidroponik. Tidak hanya membahas teori, para santri juga diajak memahami pentingnya merawat lingkungan melalui langkah sederhana yang dapat dimulai dari pesantren.

Baca juga:Hijau Iman, Hijau Pendidikan, Ikhtiar Kolektif Menjaga Alam Indonesia

Dalam penyampaian materinya, Putri Rahadian menekankan bahwa tanaman bukan sekadar media budidaya, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh perhatian. “Jaga dan rawat tanaman dengan hati,” pesan beliau kepada para santri. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam juga bagian dari bentuk kepedulian dan rasa syukur atas nikmat ciptaan Allah SWT.

Kegiatan ini turut difasilitasi oleh Khodimul Ma’had yaitu Abi Dr. Ahmad Taufiq, M.Pd.I. & Ummi Rizka Roikhana, M.Pd.I, sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan pemahaman dan keterampilan santri di bidang ekologi dan pertanian berkelanjutan. Melalui seminar ini, para santri diharapkan tidak hanya memiliki wawasan tentang hidroponik, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai langkah menuju pesantren yang produktif, mandiri, dan ramah lingkungan.

Pada sesi praktik, para santri langsung dikenalkan dan mempraktikkan salah satu sistem hidroponik sederhana yaitu Wick System (Sistem Sumbu). Wick System merupakan metode hidroponik yang menggunakan sumbu (wick) untuk menyalurkan nutrisi dari tandon ke akar tanaman melalui prinsip kapilaritas. Dalam praktiknya, santri menggunakan media tanam seperti rockwool atau cocopeat, kemudian memasang sumbu yang menghubungkan media tanam dengan larutan nutrisi di dalam wadah. Sistem ini dipilih karena sederhana, tidak membutuhkan listrik maupun pompa, serta mudah diterapkan untuk pemula di lingkungan pesantren.

Antusiasme santri terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi hangat, praktik, dan berbagai pertanyaan mengenai teknik penanaman hingga perawatan tanaman menjadi bukti semangat belajar para peserta. Seminar ini diharapkan menjadi awal tumbuhnya budaya cinta lingkungan di kalangan santri serta mendorong lahirnya generasi pesantren yang lebih peduli terhadap keberlanjutan alam.

Menjaga Harmoni Akulturasi dalam Kesenian Kuda Lumping

Penulis: Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Akulturasi antara Islam dan budaya lokal merupakan bagian penting dalam kehidupan Masyarakat Indonesia. Islam tidak datang dengan menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Dari proses ini, lahir bentuk-bentuk budaya baru yang mencerminkan perpaduan antara nilai agama dan kearifan lokal. Kesenian Kuda Lumping menjadi salah satu contoh nyata dari proses tersebut.

Pertunjukan Kuda Lumping di Desa Limbangan menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam menyatu dalam praktik budaya. Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin secara Islami, menandakan adanya kesadaran religius dalam menjalankan tradisi. Selain itu, iringan gamelan juga dipadukan dengan lantunan dzikir Hasbunallah wanikmal wakil (حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ) dari Surah Ali ‘Imran ayat 173, yang bermakna tawakal kepada Allah sebagai penolong terbaik. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa nilai Islam hadir secara damai dan menyatu dengan budaya lokal.

Namun demikian, dalam pertunjukan tersebut masih terdapat unsur-unsur lama, seperti penggunaan dupa dan fenomena kesurupan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui proses yang bertahap. Tradisi lama tetap bertahan, tetapi mulai beradaptasi dengan nilai-nilai baru yang masuk.

Unsur-unsur tersebut tidak lepas dari asal-usul Kuda Lumping. Menurut Edi Sedyawati (1981), kesenian ini berasal dari kepercayaan lama masyarakat Jawa, seperti animisme dan dinamisme, sehingga unsur kesurupan dipahami sebagai bagian dari hubungan manusia dengan kekuatan gaib. Seiring berjalannya waktu, sebagaimana dijelaskan oleh Saputra (2011), Kuda Lumping berkembang tidak hanya sebagai ritual, tetapi juga menjadi pertunjukan budaya yang sarat makna dan simbol tentang kehidupan serta hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami perbedaan antara akulturasi dan sinkretisme. Akulturasi adalah proses penyesuaian budaya dengan nilai Islam tanpa meninggalkan prinsip dasar tauhid. Sementara itu, sinkretisme berpotensi mencampurkan keyakinan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dalam menjaga tradisi agar tetap selaras dengan nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, Kuda Lumping tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara agama dan budaya. Jika tidak disertai pemahaman yang tepat, akulturasi berpotensi bergeser menjadi sinkretisme. Namun, jika dikelola secara bijak, ia justru dapat memperkuat nilai spiritual tanpa menghilangkan identitas budaya.

Kasih yang Pilih Kasih dan Luka yang Diam dalam Keluarga

Penulis: Dr. Redy Handoko, M.H. , Nadhifatuz Zulfa, M.Pd.*, Penyunting: Nahla

Lebaran selalu dimaknai sebagai momentum kembali ke fitrah atau kembali pada kesucian, keikhlasan, dan hubungan yang dipulihkan. Namun, dalam realitas sosial tidak semua orang pulang dengan hati yang benar-benar lapang. Ada yang datang membawa luka lama, yang justru bersumber dari ruang paling dekat: keluarga.

Salah satu luka yang kerap tak disadari adalah praktik “pilih kasih” dalam pengasuhan. Ia hadir secara halus, seringkali dibungkus dengan alasan yang tampak wajar: anak yang lebih membutuhkan, lebih penurut, atau lebih dekat secara emosional. Namun, di balik itu terdapat ketimpangan perhatian dan kasih sayang yang dapat meninggalkan bekas mendalam bagi anak.

Fenomena ini tidak jarang dialami oleh anak pertama, terutama dalam konteks keluarga yang menempatkannya sebagai figur yang “harus kuat”. Sebagai anak laki-laki satu-satunya di antara saudara perempuan, misalnya, ia kerap diposisikan sebagai pelindung dan penanggung jawab. Peran ini meskipun tampak mulia, seringkali membuatnya kurang mendapatkan ruang emosional yang setara.

Baca juga: Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Dalam sebuah kasus yang penulis temui, seorang anak pertama laki-laki tumbuh dalam keluarga dengan tiga adik perempuan. Ia terbiasa mengalah, memahami, dan memikul tanggung jawab sejak dini. Namun, seiring berjalannya waktu ia merasakan adanya perbedaan perlakuan. Adik-adiknya lebih diperhatikan, lebih dimaklumi, dan lebih dekat secara emosional dengan orang tua, khususnya ibu.

Situasi ini tidak langsung menimbulkan konflik terbuka. Namun, ketika ia dewasa, menikah, dan merantau, luka tersebut mulai terasa lebih nyata—terutama setelah ayahnya meninggal dunia. Harapan untuk menjadi tempat bergantung bagi ibunya tidak pernah benar-benar terwujud. Bahkan ketika ia telah berusaha menyediakan rumah untuk ibunya, ajakan untuk tinggal bersama selalu tertunda dengan berbagai alasan.

Hari ini, relasi itu tidak sepenuhnya terputus, tetapi mengalami jarak emosional. Ia tetap berbakti, tetap berkomunikasi, meskipun memilih untuk tidak pulang kecuali dalam kondisi darurat, seperti ketika ibunya sakit. Di balik sikap itu, tersimpan kelelahan batin yang tidak sederhana.

Kisah seperti di atas bukan satu dua. Ia adalah potret sunyi dari banyak anak yang memilih diam demi menjaga harmoni keluarga, tetapi menyimpan luka yang terus hidup. Dalam perspektif Hukum Keluarga Islam, sikap pilih kasih bukan sekadar kekeliruan emosional, tetapi bentuk ketidakadilan atau bisa dibilang zalim karena sikap tersebut bertentangan dengan nilai dasar Islam. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri…” (QS. An-Nisa: 135)

Baca juga: Keluarga dengan Nilai Keagamaan Kuat Lebih Harmonis dan Tangguh Hadapi Tekanan Ekonomi

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan bukan pilihan, tetapi kewajiban bahkan dalam lingkup paling personal: keluarga. Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis. Ketika seorang sahabat memberikan hadiah kepada salah satu anaknya saja, beliau bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bahkan menolak menjadi saksi atas tindakan tersebut karena mengandung ketidakadilan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, perlakuan yang tidak setara kepada anak bukan hanya tidak dianjurkan, melainkan bisa menjadi bentuk kezaliman yang halus dan berdampak buruk di masa mendatang.

Ketidakadilan orang tua tidak berhenti pada momen perlakuan itu terjadi. Ia menjalar menjadi luka psikologis yang panjang. Anak yang dianaktirikan bisa tumbuh dengan rasa tidak berharga, kesulitan mempercayai orang lain, bahkan mempertanyakan makna cinta itu sendiri. Sementara anak yang diistimewakan berpotensi tumbuh dengan rasa superioritas dan ketergantungan yang tidak sehat.

Dalam kajian psikologi keluarga, pola asuh yang timpang seperti ini menciptakan ketidakseimbangan emosional. Ia merusak relasi antar saudara, menumbuhkan kecemburuan, dan dalam banyak kasus, memutus silaturahmi secara perlahan. Padahal, Islam menghadirkan keluarga sebagai tempat bertumbuhnya sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar-Rum: 21)

Baca juga: Agama Mengajarkan Kasih Bukan Kekerasan: Seruan Melawan Eksploitasi Anak

Nilai ini tidak akan pernah terwujud jika keadilan diabaikan. Karena kasih sayang yang sejati tidak mungkin tumbuh di atas ketimpangan. Lebaran sejatinya adalah momen penyucian diri, bukan hanya dari dosa kepada Allah, tetapi juga dari kezaliman kepada sesama, termasuk kepada anak-anak kita sendiri. Menyambung silaturahmi (shilaturrahim) tidak cukup dengan kunjungan dan ucapan maaf. Ia menuntut keberanian untuk jujur: mengakui kesalahan, memperbaiki sikap, dan mengembalikan hak-hak yang selama ini terabaikan. Bagi orang tua, ini adalah saat untuk bertanya: apakah kita sudah benar-benar adil dalam mencintai? Bagi anak, ini adalah kesempatan untuk menyuarakan luka, bukan dengan amarah, tetapi dengan harapan akan pemulihan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketidakadilan dalam keluarga bukan hanya persoalan moral, tetapi juga memiliki implikasi psikososial yang signifikan. Dalam kajian psikologi keluarga, ketimpangan perlakuan dapat memicu perasaan tidak berharga, kecemasan relasional, hingga gangguan kelekatan emosional. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi merusak kualitas hubungan keluarga dan melemahkan ikatan silaturahmi.

Dalam perspektif hukum keluarga Islam, sikap pilih kasih merupakan bentuk ketidakadilan (dzulm/dzalim), karena tidak menempatkan hak anak secara proporsional. Prinsip keadilan (‘adl) merupakan fondasi utama dalam relasi keluarga. Rasulullah SAW secara tegas mengingatkan pentingnya berlaku adil kepada anak-anak, bahkan dalam hal pemberian yang bersifat material.

Namun demikian, Islam tidak berhenti pada penegasan keadilan. Ia juga menghadirkan nilai yang lebih dalam, yaitu memaafkan dan melapangkan hati. Dalam konteks relasi keluarga yang terluka, memaafkan bukan berarti membenarkan ketidakadilan, tetapi merupakan upaya untuk membebaskan diri dari beban emosional yang berkepanjangan.

Di sisi lain, orang tua juga perlu melakukan refleksi kritis terhadap pola pengasuhan yang dijalankan. Ketidakadilan tidak selalu lahir dari niat buruk, tetapi bisa muncul dari kebiasaan, persepsi yang tidak disadari, atau pembagian peran yang tidak seimbang. Oleh karena itu, kesadaran dan kepekaan emosional menjadi kunci dalam menjaga keutuhan relasi keluarga.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Momen Introspeksi dan Pembangkitan Semangat

Lebaran dalam konteks ini, seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual sosial, tetapi juga sebagai ruang refleksi. Bukan sekadar siapa yang pulang atau tidak pulang, tetapi mengapa ada yang enggan pulang. Bukan sekadar saling memaafkan secara formal, tetapi keberanian untuk mengakui dan memperbaiki.

Pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi tentang kualitas relasi yang dibangun di atas keadilan dan kasih sayang. Tanpa keadilan, cinta berpotensi menjadi timpang. Tanpa keikhlasan untuk memaafkan, luka akan terus diwariskan. Maka yang dibutuhkan hari ini bukan hanya nasihat tentang berbakti kepada orang tua, tetapi juga pengingat tentang amanah orang tua untuk berlaku adil. Di antara keduanya, diperlukan jembatan: keberanian untuk saling memahami dan kesediaan untuk saling memaafkan. Karena rumah yang utuh bukanlah yang tanpa luka, tetapi yang mampu menyembuhkan luka bersama.

*Polresta Pekalongan *PSGA UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Penulis: Muhammad Zamahsyari, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Tradisi tirakatan merupakan tradisi luhur yang mengajarkan kita untuk menoleh ke belakang dan menatap ke depan. Kita menoleh ke belakang untuk mengenang kemerdekaan bangsa Indonesia tidak diraih oleh satu suku, satu golongan, atau satu agama saja. Kemerdekaan adalah hasil perjuangan kolektif para pahlawan dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tradisi tirakatan bukan hanya untuk bersyukur atas kemerdekaan fisik, tetapi juga untuk merayakan sebuah prinsip luhur yang menjadi warisan terpenting para pendiri bangsa.

Tradisi tirakatan yang diadakan oleh Kepala Desa Karangdadap, Amat Lathifin, mengatakan bahwa sejarah tradisi ini awalnya sebagai partisipasi warga yang tidak bisa ikut kegiatan renungan malam 17 Agustus. Warga berinisiatif mendoakan para pejuang atau nenek moyang dengan tradisi budaya Jawa, yaitu mengadakan malam tirakatan. Awal mula tradisi ini digalakkan di Desa Karangdadap tercatat pada tahun 2000-an yang awalnya harus diikuti oleh para sesepuh atau tokoh masyarakat dan sekarang melibatkan semua warga. Yang dulunya hanya bertempat di dalam balai desa sekarang sudah di tempatkan di tempat yang luas.

Baca juga: Fenomena Partisipasi Nonmuslim dalam Tahlilan: Meneguhkan Toleransi Beragama

Tujuan tradisi tirakatan diantaranya yaitu sebagai simbol kecintaan warga terhadap bangsa Indonesia. Selain itu untuk menjalin tali silaturahmi sesama warga karena tradisi ini merupakan tradisi yang tidak pudar dan melibatkan semua unsur dan generasi. Tradisi tirakatan juga menambah peluasan memori regenerasi terus menerus, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang tua, sehingga membekas dalam diri mereka untuk melestarikan tradisi positif tersebut.

Di balik tujuan positif dari tradisi tirakatan malam 17 Agustus, ada pula tantangan yang harus dihadapi ketika melestarikan tradisi tirakatan. Yang pertama yaitu pengaruh globalisasi dan budaya asing, hal ini bisa menurunkan minat generasi muda terhadap tirakatan yang pada akhirnya mengancam kelestariannya. Kedua yaitu perubahan sosial dan gaya hidup modernitas, tirakatan acapkali dianggap kuno atau tidak selaras dengan gaya hidup yang lebih praktis dan cepat, sehingga partisipasinya menurun. Ketiga yaitu kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang arti, nilai, dan filosofi di balik tradisi tirakatan menyebabkan generasi sekarang tidak tertarik untuk melestarikanya.

Cara memahamkan dan melestarikan tradisi tirakatan pada zaman sekarang diantaranya adalah memahamkan tradisi tirakatan dengan menjelaskan asal usul tradisi tersebut. Contohnya seperti menyampaikan makna filosofis dan sejarah yang mendalam, mengadakan sesi refleksi, dan diskusi interaktif.

Baca juga: Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Unsur-unsur di dalam tradisi tirakatan tidak terlepas dari nilai keagamaan dan juga nasionalisme, misalnya memoles tradisi Jawa atau Indonesia dengan tradisi keislaman seperti tahlilan, selawatan, hingga doa bersama. Selain itu, peran aktif generasi muda juga diperlukan dengan cara berpartisipasi menyiapkan acara tersebut mulai dari persiapan acara hingga puncak acara. Pada bagian berikutnya berupa sambutan dari tokoh masyarakat untuk mengenalkan dan mengenang asal usul wilayah atau negara dan perjuangan pahlawan. Tradisi tirakatan ini juga menghadirkan tasyakuran bersama yang menuntun setiap warga membawa satu nampan untuk dimakan bersama saat acara tersebut.

Tradisi tirakatan malam 17 Agustus mengandung nilai-nilai sejarah dan penghargaan jasa pahlawan, ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat kemerdekaan yang telah diraih dan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Tak lupa nilai nasionalisme, solidaritas, tanggung jawab, serta nilai religius, merupakan pelestarian budaya yang hadir dalam tradisi tirakatan dan menjadi simbol pelestarian tradisi dan kearifan lokal di tengah gempuran budaya asing dan modernisasi.