Ngaji Kitab Kuning dan Edukasi Seksual di Pesantren: Saatnya Santri Melek Ilmu Reproduksi

Penulis : Intan Diana Fitriyani, Editor : Amarul Hakim

Ketika berbicara soal pesantren, masyarakat sering membayangkan tempat yang hanya fokus pada kajian kitab kuning, fikih, tafsir, dan tasawuf. Padahal, sejak era kolonial hingga kini, pesantren memegang peran penting sebagai pusat transformasi sosial dan penjaga moral umat. Sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pesantren tidak hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga agen pembaharu masyarakat.

Di era digital dan globalisasi, tantangan baru muncul—salah satunya terkait pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di lingkungan pesantren. Tema ini sering dianggap tabu, padahal realitas sosial menunjukkan bahwa santri sangat membutuhkan pemahaman yang benar, ilmiah, dan berbasis nilai Islam. Apalagi, kitab kuning sendiri sejatinya telah membahas isu-isu seputar tubuh, akil baligh, haid, pernikahan, dan relasi suami-istri sebagai bagian dari syariat.

Tabu yang Masih Mengakar di Pesantren

Di banyak pesantren, pembahasan mengenai seksualitas masih dianggap tidak pantas. Dampaknya, pengetahuan santri mengenai kesehatan reproduksi sangat terbatas. Banyak santri mengetahui hukum-hukum fikih seputar mandi wajib, haid, atau ihtilam, tetapi belum memahami aspek kesehatannya secara holistik—baik secara biologis, psikologis, maupun sosial.

Baca juga : Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Padahal, WHO (2023) mendefinisikan kesehatan reproduksi bukan hanya sehat secara biologis, tetapi juga sejahtera mental, sosial, dan spiritual. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang menjunjung maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) dan ḥifẓ al-nasl (menjaga keturunan).

Sayangnya, minimnya ruang aman untuk berdiskusi menyebabkan santri lebih banyak mencari informasi dari internet tanpa pendampingan guru. Survei Komnas Perempuan (2022) menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan meningkat 15% per tahun, termasuk di lembaga berbasis keagamaan. Selain itu, studi BKKBN (2023) mencatat bahwa 1 dari 5 remaja Indonesia memiliki pemahaman keliru tentang menstruasi, mimpi basah, dan kesehatan reproduksi dasar.

Jika pesantren tidak hadir memberikan literasi yang benar, maka santri akan belajar dari sumber yang salah.

Kitab Kuning: Sumber Ilmu yang Harus Dikonstekstualisasi

Bicara tentang seksualitas bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam. Justru, kitab kuning memberikan landasan penting bagi penyusunan modul edukasi seksual berbasis pesantren.

Baca juga : Kulturnya Dianggap Kolot, Hormatnya Disebut Feodal: Segampang itukah Media Menghakimi Pesantren?

Beberapa rujukan kitab kuning yang menyinggung persoalan reproduksi, di antaranya:
  • Kitab Topik Reproduksi & Seksualitas
  • Uqūd al-Lujjayn Etika relasi suami-istri
  • Hāsyiyah al-Bājūrī & al-Bujayramī Pubertas, haid, ihtilam, mandi wajib
  • Kifāyatul Akhyār Nikah, hak dan kewajiban seksual
  • Ihyā’ Ulūmiddīn Adab menjaga kesucian diri dan nafsu

Namun, konteks sosial saat kitab ini ditulis berbeda dengan tantangan santri hari ini. Karena itu, perlu pendekatan hermeneutika pesantren—yakni membaca teks klasik secara kontekstual agar tetap relevan dengan realitas kesehatan modern.

Dalam Pesantren Studies, Ahmad Baso menyebut bahwa pesantren memiliki tradisi turats yang dinamis—yakni mentransformasikan teks klasik menjadi solusi kontekstual. Artinya, bicara kesehatan reproduksi bukan westernisasi, tapi bagian dari ngaji dan ‘amal.

Mengapa Santri Harus Melek Edukasi Seksual?
Ada tiga alasan mendasar:
  • Perlindungan Diri dan Pencegahan Kekerasan Seksual. Santri perlu tahu batas aurat, consent, dan adab pergaulan sesuai Islam. Edukasi seksual justru memperkuat akhlak dan kehormatan (ḥifẓ al-‘irdl).

  • Mempersiapkan Generasi Keluarga Sakinah. Suatu saat santri akan menjadi orang tua, pendidik, atau tokoh masyarakat. Pemahaman sejak dini akan mencegah kekerasan dalam rumah tangga, toxic marriage, dan ketidakharmonisan yang bersumber dari ketidaktahuan.

  • Perintah Agama untuk Menuntut Ilmu. Nabi SAW bersabda: “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim wa muslimah.” Termasuk ilmu menjaga kesehatan dan kehormatan diri.

Integrasi Ilmu Medis, Fikih, dan Sosial: Model Pendidikan Seksual Pesantren

Baca juga : Pendampingan SOP PPKS oleh PSGA LP2M, Membangun Pesantren Bebas Kekerasan Seksual

Jika pesantren ingin maju, pendekatan integratif harus dilakukan. Ada tiga pilar:

  • Medis – Dokter memberikan edukasi ilmiah tentang pubertas, organ reproduksi, menstruasi sehat, dan pencegahan penyakit.

  • Fikih – Kiai atau ustaz memberikan dasar hukum syariah agar edukasi tidak lepas dari adab dan aqidah.

  • Sosial – Pendekatan psikologi remaja, gender, dan perlindungan anak untuk membangun kesadaran etis.

Model integrasi ini sejalan dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, sehingga tidak bertentangan dengan agama—justru memperkuatnya.

Langkah-Langkah Strategis untuk Pesantren
Beberapa strategi yang bisa dilakukan pesantren antara lain:
  • Membuat kurikulum fiqih kesehatan reproduksi berbasis kitab kuning
  • Membentuk tim pendampingan tarbiyah jinsiyah yang aman dan beretika
  • Mengadakan kelas diskusi terpisah berdasarkan usia dan gender
  • Memanfaatkan media digital seperti video, podcast, dan Q&A anonim
  • Melibatkan dokter, psikolog, dan alumni kompeten sebagai pemateri

Cara ini telah diterapkan oleh beberapa pesantren modern di Jawa dan Madura dengan hasil signifikan: peningkatan literasi reproduksi mencapai 72% (Studi Rumah Kitab & Rutgers Indonesia, 2021).

Pesantren sejak dulu menjadi benteng akhlak, maka sangat pantas jika menjadi pelopor edukasi seksual yang bermartabat. Mengajarkan kesehatan reproduksi bukanlah membuka aib atau mendahulukan syahwat—melainkan bagian dari menjaga martabat manusia, sebagaimana Islam ajarkan.

Santri yang paham agama sekaligus melek kesehatan reproduksi akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh: berilmu, berakhlaq, dan siap menjadi pemimpin umat di masa depan.

Penulis : Intan Diana Fitriyani, M.Ag sebagai Dewan pengasuh pp. Al Masyhad Manbaul falah walisampang pekalongan

Meluruskan Framing Negatif tentang Pesantren: Tanggapan atas Tayangan Expose Uncensored Trans 7 (13 Oktober 2025)

Penulis : Nadhifatuz Zulfa, Editor : Amarul Hakim

Tayangan Expose Uncensored di Trans 7 pada Senin, 13 Oktober 2025 lalu, memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama komunitas pesantren. Dalam tayangan itu, beberapa tradisi pesantren seperti cara bersalaman santri dengan kiai, pemberian amplop, dan kegiatan kerja bakti (roan) ditampilkan dengan narasi yang menimbulkan kesan negatif.

Sayangnya, framing yang diambil tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan spiritual di balik tradisi tersebut. Padahal, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan tempat pembentukan karakter, adab, dan kebersamaan yang menjadi fondasi penting bagi kehidupan bangsa.

Salaman Ala Pesantren: Tanda Cinta dan Penghormatan, Bukan Eksploitasi

Adegan santri yang menunduk ketika bersalaman dengan kiai menjadi salah satu sorotan utama. Tayangan itu memaknainya sebagai bentuk ketundukan berlebihan, seolah santri kehilangan martabat. Padahal, bagi masyarakat pesantren, menundukkan badan bukan bentuk perendahan diri, melainkan simbol cinta, penghormatan, dan pengakuan atas keilmuan seorang guru.

Baca juga : Parodi Gus dan Habib di Media Sosial: Antara Kritik Sosial dan Etika Keagamaan

Tradisi ini berakar dari budaya Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh (tatakrama). Dalam pandangan Islam, menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Maka gerakan menunduk bisa dipahami sebagai bentuk pelatihan perilaku sopan santun — behavioral shaping — yang menumbuhkan sikap rendah hati.

Setiap pesantren memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa hormat terhadap guru. Ada yang menunduk, ada yang hanya mencium tangan. Semuanya lahir dari tradisi yang berbeda-beda, dipengaruhi adat istiadat dan budaya daerah setempat, namun memiliki semangat yang sama: membangun hubungan spiritual antara murid dan guru. Karena itu, tidak sepatutnya seseorang mencela tradisi tertentu hanya karena berbeda dengan kebiasaan di tempat lain.

Budaya Amplop: Ekspresi Kasih Sayang, Bukan Upaya Memperkaya Kiai

Tayangan tersebut juga menyoroti budaya memberi amplop kepada kiai saat bersalaman, dengan insinuasi bahwa praktik itu memperkaya kiai. Pandangan ini jelas menyederhanakan realitas pesantren yang sangat kompleks dan penuh nilai keikhlasan.

Dalam tradisi pesantren, pemberian amplop bukan transaksi ekonomi, melainkan ekspresi kasih sayang dan bentuk penghormatan santri kepada gurunya. Kiai tidak pernah meminta, dan santri tidak diwajibkan memberi amplop yang berisi uang. Amplop diberikan dengan kerelaan hati, sering kali sebagai bentuk tabarruk — mencari keberkahan dari guru yang mengajarkan ilmu dengan Ikhlas, dan ungkapan kasih sayang dan rasa terimakasih dari santri kepada sang murobbi-nya.

Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Perlu dipahami pula bahwa banyak pesantren menetapkan biaya yang sangat terjangkau, bahkan gratis untuk santri yatim dan dhuafa. Kiai hidup sederhana, mengajar tanpa bayaran, dan sering mengembalikan pemberian santri untuk kebutuhan pondok. Banyak pula kiai yang memiliki usaha pribadi untuk membiayai operasional pesantren.

Jika ada kiai yang hidup berkecukupan atau memiliki mobil bagus, jangan terburu menilai. Bisa jadi itu hadiah dari alumni yang telah sukses, atau hasil jerih payah usaha pribadi, bukan dari “amplopan santri” sebagaimana sering diasumsikan secara keliru.

Roan (Kerja Bakti): Pendidikan Nilai Gotong Royong, Bukan Eksploitasi Tenaga Santri

Bagian lain yang disorot negatif adalah kegiatan roan atau kerja bakti di pesantren. Dalam tayangan, aktivitas ini digambarkan seolah santri dieksploitasi untuk bekerja tanpa imbalan. Pandangan semacam ini sangat jauh dari realitas nilai yang hidup di pesantren.

Roan merupakan tradisi gotong royong yang menjadi bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren. Santri dengan sukarela membersihkan kamar, halaman, dapur, dan masjid pondok sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Tidak ada paksaan, karena setiap santri memahami bahwa kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman.

Baca juga : Citra Vs Realitas: Gen Z Berdarah-Darah Bangun Citra di Media Sosial?

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, roan mengajarkan santri arti kebersamaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial. Aktivitas ini menjadi latihan sosial yang membentuk solidaritas dan keikhlasan — nilai yang kini semakin jarang ditemukan di tengah budaya individualistik modern.

Media dan Etika Kultural: Belajar Memahami Sebelum Menilai

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, pemberitaan tentang pesantren seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian dan pemahaman yang mendalam. Tradisi pesantren tidak bisa dipahami hanya dari permukaan; ia lahir dari perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal yang telah hidup berabad-abad lamanya.

Pesantren adalah benteng moral bangsa. Di tempat inilah ribuan anak muda belajar kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan cinta ilmu. Menilai pesantren dengan kacamata modernitas sempit tanpa memahami konteks sosial dan spiritualnya sama saja dengan menilai samudra hanya dari buih di permukaan.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai ruang pembentukan karakter, moralitas, dan keikhlasan. Alih-alih dicurigai, pesantren semestinya dihargai sebagai warisan luhur yang terus menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan adab.

 

Tentang Penulis:

Nadhifatuz Zulfa, M.Pd., C.C.P. adalah dosen Bimbingan dan Konseling di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Aktif meneliti isu-isu psikososial, konseling, pendidikan Islam, dan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.

 

Kulturnya Dianggap Kolot, Hormatnya Disebut Feodal: Segampang itukah Media Menghakimi Pesantren?

Penulis : Rikzan Maulana. Editor : Amarul Hakim

Tagar #BoikotTrans7 langsung ramai membanjiri media sosial hanya dalam hitungan jam setelah muncul tayangan “Xpose Uncensored” pada 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Masalah yang muncul bukan terletak pada topik tayangan, melainkan pada cara media tersebut membingkai tradisi pesantren seolah-olah sebuah tontonan lucu atau eksotik. Judul provokatif seperti “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” memperkuat kesan bahwa pesantren diposisikan sebagai objek olok-olok, bukan ruang budaya yang patut dihargai dan dipahami secara kontekstual.

Sebagai seorang santri yang masih hidup dalam kultur pesantren tradisional, saya sering menyaksikan bagaimana tradisi dan nilai yang dijalankan sehari-hari kadang disalahpahami oleh masyarakat luar. Duduk rendah di hadapan pengasuh pesantren, berjalan jongkok saat keluar dari Ndalem, atau memberikan amplop sebagai bentuk penghormatan bukanlah praktik yang memalukan, melainkan simbol kerendahan hati dan penghormatan terhadap ilmu.

Namun bagi banyak kalangan di luar dunia pesantren, tindakan ini sering terlihat aneh dan kadang diplesetkan sebagai ritual yang eksentrik. Media yang menarasikan visual tradisi ini tanpa memberikan konteks, berisiko memperkuat stereotip negatif yang semakin lama seperti semakin melekat pada pondok pesantren. Narasi yang mengejek, walau tanpa maksud jahat, dapat menimbulkan persepsi yang salah dan merugikan reputasi institusi pendidikan yang telah lama berdiri ini.

Dalam tayangan itu, kehidupan santri dan sosok pengasuh pesantren disajikan secara tidak proporsional. Voice over yang menyertai visual cenderung menekankan hal-hal yang memancing tawa atau rasa heran, sementara nilai dan makna dari tradisi yang ditampilkan tidak dijelaskan sama sekali. Dampak dari penyajian dangkal ini bisa dibilang sangat signifikan; alumni dan kalangan pesantren menilai tayangan tersebut mencemarkan nama baik pondok pesantren di Indonesia yang telah dibangun susah payah oleh para pendiri. Aduan pun dilayangkan ke MUI dan KPI, yang kemudian meminta Trans7 untuk menyampaikan permohonan maaf resmi dan menghentikan program tersebut. Respon cepat ini menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar soal tayangan televisi, tetapi soal martabat sebuah tradisi yang seharusnya dihormati.

Baca juga : Media Sosial Sebagai Ruang Dialog untuk Meningkatkan Nilai Moderasi Beragama

Faktanya, praktik duduk rendah, berjalan jongkok, atau memberi sumbangan bukan bentuk perbudakan atau sistem feodal. Tradisi ini lahir dari kesadaran dan penghormatan terhadap ilmu. Banyak pesantren berdiri atas semangat gotong royong, dengan biaya pendidikan yang terjangkau bagi santri dari keluarga sederhana. Budaya memberi dan berbagi di lingkungan pesantren memungkinkan lembaga pendidikan ini bertahan sekaligus membuka akses bagi ribuan anak yang mungkin tidak mampu membayar biaya sekolah lain yang lebih mahal. Salah kaprah memahami tradisi ini bisa dibilang sebagai sesuatu yang memalukan dan menunjukkan kesenjangan pemahaman budaya antara masyarakat umum dan dunia pesantren.

Beberapa kalangan mungkin mempertanyakan keabsahan tradisi ini. Memang, tidak semua pesantren bebas dari masalah; ada praktik relasi kuasa yang perlu diawasi dan pengelolaan lembaga yang barangkali tidak selalu transparan. Kritik yang konstruktif sangat diperlukan agar pendidikan pesantren tetap sehat dan kredibel. Namun kritik yang efektif harus didasarkan pada riset, konteks budaya, dan empati. Menyajikan fakta tanpa konteks sambil menarasikannya dengan nada mengejek bukanlah kritik; itu sensasionalisme yang merugikan kedua belah pihak. Sebagai perbandingan, bayangkan seseorang menilai budaya Jepang yang membungkuk dengan narasi “Ih, aneh banget ya, harus nundukin kepala segala.” Orang Jepang tentu akan tersinggung, padahal membungkuk adalah simbol penghormatan. Demikian pula tradisi di pesantren: duduk rendah, jalan jongkok, atau memberi amplop kepada pengasuh bukan bentuk subordinasi, melainkan pendidikan moral yang menekankan kerendahan hati dan rasa hormat terhadap ilmu.

Kontroversi tayangan ini juga menimbulkan efek yang lebih luas bagi persepsi masyarakat terhadap pesantren secara umum. Kalangan pesantren menilai bahwa liputan yang menampilkan satu lembaga secara negatif dapat memperkuat stigma terhadap seluruh pesantren di Indonesia. Banyak pihak menilai bahwa tayangan ini tidak hanya merugikan Pondok Pesantren Lirboyo, tetapi juga menyudutkan identitas ribuan santri yang hidup dengan nilai yang sama. Persepsi publik yang keliru bisa memicu stereotip negatif, seolah-olah santri identik dengan praktik kuno atau kaku, padahal banyak yang telah beradaptasi dengan dinamika sosial dan teknologi modern.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi, Arina Jejaring Himpun Pengelola Media Keislaman se-Indonesia agar Dakwah Digital Maksimal

Media bisa belajar banyak dari peristiwa ini. Kebebasan pers bukan berarti bebas merendahkan atau menyederhanakan budaya orang lain demi rating. Jurnalisme yang baik menuntut riset, memahami konteks, dan kehati-hatian dalam memilih narasi. Sensasionalisme mungkin menarik perhatian sesaat, tapi bisa merusak kredibilitas dalam jangka panjang. Mengajak ahli seperti tokoh pesantren sebelum menarasikan tradisi yang kompleks bisa menjadi solusi agar tak terulang lagi kejadian salah tafsir seperti saat ini.

Bagi masyarakat, kontroversi ini mengingatkan agar tidak buru-buru menilai praktik yang berbeda dari kebiasaan umum. Apa yang terlihat aneh bagi sebagian orang terkadang justru menyimpan nilai moral dan sosial yang dalam. Maka, memahami konteks adalah bagian dari pluralisme budaya, bukan sekadar toleransi pasif belaka. Dengan begitu, praktik pesantren bisa dinilai secara adil, bukan hanya lewat tayangan dangkal media massa.

Sementara bagi pesantren, peristiwa ini bisa menjadi momentum untuk lebih terbuka dalam komunikasi publik. Menjelaskan nilai dan tradisi dengan jelas dapat membantu masyarakat lebih memahami budaya pesantren. Aktivitas sederhana seperti memberi konteks bisa mengurangi salah tafsir sekaligus membangun dialog sehat antara pesantren dan masyarakat.

Yang dibutuhkan saat ini bukanlah boikot permanen atau perang narasi tanpa akhir. Apa yang lebih penting adalah percakapan yang jujur, empati yang tulus, dan komitmen bersama untuk membangun masyarakat yang lebih melek budaya. Permintaan maaf Trans7 merupakan langkah awal yang sudah sangat baik, tetapi pencegahan agar kesalahan serupa tidak terulang bisa jadi jauh lebih penting. Pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas Bangsa Indonesia. Menghormatinya bukan berarti menutup akses untuk memberikan kritik, melainkan mengakui bahwa setiap tradisi pantas dibaca dengan hati dan akal yang jernih.

Di Pesantren, Santri juga Belajar Kitab Humor

Penulis: Muhammad Jauhari Sofi*, editor: Ika Amiliya Nurhidayah.

“Somewhere beyond muthola‘ah and gojekan, there is a garden. I will meet you there.” [Bukan Rumi]

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang umumnya tumbuh dari prakarsa masyarakat dan berbasis komunitas, meski banyak juga yang dikelola oleh keluarga. Ia membentuk karakter manusia melalui kedisiplinan, keikhlasan, dan kemandirian.

Kehidupan di pesantren berlangsung normal sebagaimana aktivitas keseharian yang sangat manusiawi. Aktivitas belajar santri berpadu dengan urusan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan kamar, berkebun, dan sejenisnya. Semua ruang menjadi bagian dari proses pendidikan yang menanamkan kesabaran, kesetaraan, dan tanggung jawab moral.

Pesantren utamanya mengajarkan teks-teks klasik keagamaan, yang dikenal dengan kitab kuning. Dari teks-teks inilah para santri belajar memahami ajaran Islam secara mendalam dan kontekstual. Namun sebetulnya, kehidupan pesantren tidak hanya berkutat di seputar kajian dan hafalan. Di sela-selanya, tumbuh budaya santai, canda, dan tawa. Di bilik-biliknya, pesantren membentuk nalar, kepribadian, dan yang jarang disadari, selera humor.

Baca juga: Pesantren dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Humor dalam pesantren memiliki fungsi sosial yang mendalam. Ia menjadi perekat hubungan antarsantri sekaligus penyeimbang rutinitas yang padat. Di saat hafalan belum lancar atau pekerjaan menumpuk, lelucon lisan kerap menjaga suasana tetap ringan, menumbuhkan tawa, dan meneguhkan persaudaraan dalam keakraban.

Dari sekian tokoh humor yang dikenal di pesantren, Abu Nawas menempati posisi istimewa. Ia hidup di batas antara teks dan imajinasi. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai seorang penyair cerdas dan jenaka dari abad kedelapan. Namun dalam tradisi pesantren, ia bisa menjelma simbol kecerdikan dan perlawanan atau kritik yang halus.

Kisah Abu Nawas dirawat dalam ingatan dan berpindah dari mulut ke mulut di kalangan santri. Ia diceritakan di dapur, kamar, ruang kelas, serambi masjid, dan tempat ro’an (kerja bakti). Cerita-cerita itu menjadi ritus kebersamaan, ruang perjumpaan antara pengetahuan, humor, dan kehangatan sosial. Berikut ini salah satunya:

Alkisah, Abu Nawas meninggal di usia muda. Di akhirat, ia berdiri dalam barisan panjang bersama jutaan manusia lain yang menunggu giliran untuk dihitung amal perbuatannya.

Di depan sana, duduk seorang malaikat yang bertugas menimbang amal. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda. Si malaikat itu tidak bisa melihat. Karena itu, ia menggunakan cara lain untuk mengenali orang-orang yang datang kepadanya, yaitu dengan meraba wajah mereka.

Jika seseorang berjenggot, malaikat itu akan langsung memutuskan bahwa ia orang saleh, dan mengirimnya ke surga tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Sebaliknya, jika tidak berjenggot, ia akan disuruh ke pos berikutnya untuk ditimbang amalnya satu per satu.

Satu per satu nama dipanggil.

“Mukidi, maju ke depan,” kata malaikat sambil meraba wajahnya.

“Oh, kamu berjenggot. Silakan langsung ke surga.”

Lalu berikutnya.

“Mulyono, maju ke depan.”

“Hmmmn, kamu tidak berjenggot. Silakan menuju ke timbangan amal.”

Begitu terus, hingga tibalah giliran Abu Nawas. Namanya dipanggil.

“Abu Nawas, maju ke depan!”

Abu Nawas mulai gugup. Ia mati muda dan jenggotnya belum sempat tumbuh. Ia juga tidak yakin timbangan amal akan bisa mengantarnya ke surga. Semasa hidup, ia merasa belum banyak berbuat baik.

Sambil berjalan menuju si malaikat, ia berpikir keras mencari akal. Beberapa langkah sebelum tiba di depan malaikat, ia mendapat ide dan langsung menerapkannya.

Abu Nawas mulai diperiksa, dan segera si malaikat berkata, “Oh, silakan langsung ke surga.”

Abu Nawas menghela napas lega. Ia sangat bahagia. Tampaknya rencananya berhasil. Si malaikat benar-benar mengira ia telah meraba jenggotnya.

Namun, baru saja ia berdiri tegak setelah kelelahan berjalan salto (tangan di bawah, kaki di atas), terdengar suara si malaikat menegur, “Abu Nawas… di surga tidak boleh bawa rokok!”

Baca juga: Menjaga Bumi Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Di pesantren, kisah semacam ini tidak hanya memantik tawa, tetapi juga menyimpan refleksi. Ia menyiratkan kritik sosial terhadap kecenderungan menilai kesalehan dari tanda lahiriah, dari tampilan wajah dan balut busana. Dalam tawa itu, ada pesan moral bahwa kebaikan tidak selalu tampak di permukaan.

Dalam konteks pendidikan, humor seperti ini dapat berfungsi sebagai metode pengajaran yang efektif. Ia melatih santri berpikir analogis, membaca makna tersirat, dan memahami konteks sosial dengan jernih. Humor dapat menjadi jembatan antara teks dan realitas, antara nalar dan rasa secara seimbang.

Selain itu, humor menjadi ruang aman bagi ekspresi diri santri. Lewat cerita jenaka, mereka menyalurkan kegelisahan, mempertanyakan otoritas, atau menyentil hal-hal tabu. Semua dilakukan dengan bahasa jenaka dan pikiran yang merdeka. Di pesantren, kebebasan berpikir tidak dihapus, melainkan disublimasi melalui kelucuan. Santri tetap memiliki ruang untuk bersikap kritis, hanya saja ekspresinya disampaikan dengan cara yang tidak frontal dan tidak menantang otoritas.

Kisah-kisah Abu Nawas kiranya tetap relevan bagi dunia pesantren hingga sekarang ini. Kisah-kisah itu mengingatkan bahwa kecerdikan dan keberanian berpikir tidak harus selalu mewujud dalam bentuk perlawanan keras. Terkadang, sindiran melalui humor bisa lebih tajam daripada kritik keras.

Sosok santri yang terkenal humoris adalah KH. Abdurrahman Wahid, atau Gusdur. Dalam humor Gusdur, bahkan Tuhan pun dikisahkan sampai menangis tersedu saat ditanya perihal kapan Indonesia akan makmur. Dalam tradisi pesantren, humor sejenis itu dipahami sebagai manifestasi keakraban antara seorang hamba dengan Tuhannya, bukan penistaan agama. Humor Gusdur juga tercermin dalam kepemimpinan nasionalnya. “Gusdur mengucapkan politik secara humor dan mendengarkan humor secara politik,” demikian hadits yang diriwayatkan oleh Rocky Gerung.

Pada akhirnya, pesantren bukan sekadar lembaga transmisi ilmu agama. Ia adalah juga ruang pembentukan karakter manusia secara utuh: rasional, spiritual, dan kultural. Di pesantren, kitab kuning hidup berdampingan dengan kitab humor yang diwariskan turun-temurun. Di sana, tertawa adalah cara mengistirahatkan jiwa dari keseriusan hidup.

Selamat Hari Santri Nasional (HSN) 2025!

*Dosen di TBIG FTIK UIN KH. Abdurrahman Wahid; alumnus Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Demak

Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Penulis: Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag*), Editor: Ika Amiliya Nurhidayah

Di tengah perubahan iklim dan krisis lingkungan global kian mengkhawatirkan, dunia pendidikan dituntut untuk menghadirkan solusi yang bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh akar spiritual dan etis manusia. Tokoh teolog Leonardo Boff, dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of the Poor, menyatakan bahwa “krisis ekologis sejatinya adalah krisis spiritual dan etika.” Menurut Boff, manusia telah memutus relasi suci dengan alam karena sistem pendidikan dan ekonomi yang terlalu antroposentris, memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.

Kerap kali trilogi dalam ajaran Islam yang ditekankan adalah rukun Iman dan Rukun Islam. Kedua aspek ini memang menjadi fondasi utama keislaman seorang Muslim. Namun, kita sering melupakan dimensi yang ketiga, yakni Ihsan. Padahal, Ihsan adalah puncak dari spiritualitas Islam, sebagaimana sabda Nabi: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ihsan menuntut kehadiran rasa cinta, kedalaman rohani, dan kesadaran etis dalam setiap tindakan manusia. Tanpa Ihsan, iman dan Islam berpotensi berhenti pada formalitas, sekadar keyakinan dan ritual, tanpa menyentuh makna terdalamnya. Ihsan inilah yang memberi ruh, menumbuhkan kepedulian, dan menjadikan agama hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Baca juga: Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Dalam konteks pelestarian lingkungan, Ihsan dapat dimaknai sebagai sikap menghadirkan Allah dalam relasi kita dengan alam. Menjaga kebersihan, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, hingga merawat bumi adalah bagian dari ibadah ihsaniyyah. Dengan demikian, tindakan merusak lingkungan bukan sekadar persoalan sosial yang tidak terpuji, melainkan juga cermin dari hilangnya kesadaran rohani dalam menjaga amanah Allah terhadap bumi.

Hal ini selaras dengan pesan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam pembukaan MTQ 2025. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an melalui ayat-ayatnya memberikan perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. “Sebagai umat Islam, kita harus membuktikan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sebagai sebuah keharusan,” ujarnya. Lebih lanjut Menag Nasaruddin mengungkapkan bahwa , Al-Qur’an sejak awal telah menjelaskan jika segala sesuatu yang ada di alam bertasbih dan memuji Allah. Dengan begitu tidak ada benda mati di alam ini.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Di sinilah letak relevansinya dengan Kurikulum Cinta. Kurikulum ini tidak sekadar menekankan aspek kecerdasan intelektual, melainkan juga menumbuhkan rasa, empati, dan kesadaran ekologis yang berlandaskan pada nilai-nilai Ihsan. Menurut Haidar Bagir Ihsan menuntun manusia untuk melihat kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya, sehingga hubungan dengan alam bukan lagi sebatas interaksi fungsional, melainkan wujud ibadah yang penuh kesadaran.

Cinta, dalam tradisi Islam, bukan hanya urusan rasa antar manusia, tetapi juga melibatkan dauq Rohani pengalaman batin yang menumbuhkan kesadaran holistik tentang keberadaan. Cinta adalah rasa, bukan semata pengetahuan. Karena itu, mengajarkan cinta tidak cukup melalui teori, melainkan harus melalui pengalaman langsung (dauq cinta) yang menumbuhkan kepekaan, empati, dan kepedulian.

Mengajarkan cinta dalam pendidikan berarti menuntun peserta didik untuk tidak hanya memahami teori ekologi di ruang kelas, tetapi juga mengalami langsung keindahan, kerapuhan, dan keterhubungan alam. Misalnya melalui kegiatan menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, merawat taman, atau melakukan riset kecil tentang keberlanjutan lingkungan. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses dauq cinta belajar dengan rasa, bukan sekadar dengan nalar.

Jika ilmu diibaratkan sebagai cahaya, maka cinta adalah panas yang menghangatkannya. Ilmu tanpa cinta berisiko menjadi kering, reduktif, bahkan eksploitatif. Sementara ilmu yang disertai cinta akan melahirkan kesadaran etis. Inilah yang dalam perspektif ilmu ushul Fiqh menjadi fondasi maqāṣid al-sharī‘ah menjaga kehidupan, akal, keturunan, harta, agama, dan pada akhirnya menjaga alam semesta sebagai amanah Allah. Ia adalah ekspresi dari dauq rohani yang menjadikan manusia bagian dari ekosistem kasih sayang Tuhan.

Dengan cara ini, cinta terhadap alam tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi kesadaran iman yang terinternalisasi. Cinta terhadap lingkungan harus ditanamkan lewat pengalaman merasakan keindahan alam, praktik peduli lingkungan, dan pembiasaan etika ekologis. Cinta berfungsi sebagai energi rohani yang menumbuhkan kesadaran peserta didik belajar bahwa mencintai dan melestarikan lingkungan adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta. Kurikulum Cinta, dengan demikian, hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, pengalaman spiritual, dan tanggung jawab ekologis, sehingga pendidikan benar-benar melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berihsan dalam menjaga bumi.

Maka, pendidikan berbasis cinta bukan hanya melahirkan manusia yang berempati pada sesama, tetapi juga manusia yang peduli pada kelestarian bumi. Sebab, tanpa cinta, lingkungan akan terus dieksploitasi. Namun dengan cinta, manusia melihat alam sebagai bagian dari dirinya, sehingga pelestarian lingkungan bukan kewajiban eksternal, melainkan kebutuhan ruhaniyah.

*) Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Menanam Nilai Kerukunan Melalui Peringatan Hari Koperasi: Refleksi KKN Nusantara Kelompok 22 di Kulon Progo

Penulis: Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Muslimah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya tentang pengabdian di desa, tetapi juga tentang membumikan nilai-nilai strategis kebangsaan. Salah satu refleksi nyata dari semangat tersebut tampak dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Koperasi Indonesia ke-78 yang diikuti oleh KKN Nusantara Kelompok 22 di Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, pada 17 Juli 2025. Mahasiswa KKN turut serta dalam kegiatan tersebut bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perangkat kecamatan setempat.

Baca juga: KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Kegiatan ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam ruang-ruang sosial yang lebih luas—bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen pembangun harmoni masyarakat. Selaku inspektur upacara, Camat Kalibawang, Bapak Tukidi, menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk mahasiswa, dalam menjaga kerukunan dan mendorong pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari arah pembangunan yang inklusif.

Pesan tersebut sejalan dengan Asta Protas, delapan program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 244 Tahun 2025. Dari delapan prioritas tersebut, yang paling relevan dengan konteks kegiatan ini adalah poin pertama, yaitu Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan serta poin keenam berbunyi Pemberdayaan Ekonomi Umat.

Koperasi dan Kerukunan sebagai Dua Pilar Saling Menguatkan

Koperasi tidak hanya diposisikan sebagai entitas ekonomi, melainkan juga sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Dalam ruang koperasi, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu tanpa membedakan agama, etnis, maupun status sosial. Inilah nilai-nilai kerukunan yang sesungguhnya, yang terwujud dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Mahasiswa KKN yang terlibat dalam peringatan Hari Koperasi diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat dikonkretkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi. Ini merupakan pelajaran kontekstual yang tidak bisa didapat di ruang kelas, tetapi sangat krusial dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa.

Arahan Camat sebagai Titik Tekan Misi Sosial KKN

Selain mengikuti upacara, Tim KKN Kelompok 22 juga mendapatkan arahan langsung dari Camat Kalibawang. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga kerukunan selama masa pengabdian berlangsung. Mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa program kerja teknis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Arahan ini menjadi penegas bahwa KKN bukan sekadar agenda tahunan akademik, melainkan bagian dari gerakan sosial berbasis kesadaran multikulturalisme dan inklusi. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mediator dialog dan harmoni sosial dalam lingkup lokal, yang akan berdampak nasional jika dilakukan secara kolektif.

Kerukunan dan Kemandirian sebagai Visi Bersama

Pengalaman KKN Nusantara Kelompok 22 dalam mengikuti peringatan Hari Koperasi menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh bersamaan. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga turut membentuk masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera.

Dengan membumikan Asta Protas dalam praktik nyata, KKN Nusantara tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi juga platform transformasi sosial yang berkelanjutan.

KKN Nusantara V tahun 2025 dan Semangat Gotong Royong Membangun Desa

Penulis:  Moh. Alwi Andiansyah Saputra, Editor: Nehayatul Najwa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara tahun 2025 bukan sekadar program pengabdian biasa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap Asta Protas Kementerian Agama, terutama dalam mendorong peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat. Pelaksanaan KKN Nusantara V yang dilaksanakan serentak se-Indonesia menjadi bagian dari narasi besar membangun Indonesia dari pinggiran.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Kelompok 22 KKN Nusantara yang diterjunkan di Dukuh Jurang Depok, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini, mahasiswa bergandengan tangan bersama warga dan pemerintah desa membangun jalan desa demi memperlancar akses dan mendorong mobilitas ekonomi.

Jalan Desa Jadi Jembatan Harapan.

Di tengah keterbatasan, pembangunan jalan desa menjadi proyek yang monumental. Jalan penghubung antar-RT yang sebelumnya hanya berupa jalan tanah berbatu kini mulai dicor dan diratakan. Jalan tersebut bukan hanya jalur transportasi, melainkan simbol kolaborasi antargenerasi.

Pak Sigit, Ketua Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, menyebutkan bahwa keterlibatan warga sejak tahap perencanaan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur desa.

“Kalau masyarakat ikut bangun, mereka akan ikut jaga. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.

Pembangunan jalan ini tak hanya menguntungkan petani dalam mengangkut hasil panen, tetapi juga memudahkan akses anak-anak menuju sekolah dan mempercepat perputaran ekonomi lokal.

Mahasiswa Belajar Hidup, Warga Menyuarakan Harapan

KKN Nusantara tidak hanya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran sosial. Erfan, Ketua KKN Kelompok 22, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek jalan ini memperluas wawasan dan kepekaan terhadap realitas kehidupan warga.

“Kami belajar langsung dari masyarakat, mengenali keresahan, kebutuhan, dan harapan mereka. Bukan hanya tentang bangunan fisik, tapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Erfan.

Menurutnya, infrastruktur desa merupakan jantung mobilitas dan distribusi hasil tani. Ketika akses menjadi lancar, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan pun ikut terangkat.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ini adalah semangat gotong royong. Warga dari berbagai usia turut serta: orang tua mengangkat semen, anak muda membantu pengecoran, dan ibu-ibu menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Tak ada sekat, semua menyatu dalam gerakan sosial yang harmonis.

Pak Kartowiyono, seorang petani setempat, menuturkan bahwa pembangunan jalan ini telah mengubah keseharian mereka. “Kalau dulu kami kesulitan saat panen, sekarang lebih mudah bawa hasil tani. Anak-anak juga lebih aman kalau hujan,” katanya.

Peran ibu-ibu seperti Bu Kusniati pun tak bisa diabaikan.

“Kami bantu dari dapur. Biar yang kerja tetap semangat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh pembangunan desa gotong royong bukan hanya tradisi, tetapi strategi pembangunan yang paling relevan dan berkelanjutan.

KKN Nusantara dan Masa Depan Pembangunan Inklusif

Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Nusantara dan warga Desa Banjarasri adalah gambaran kecil dari cita-cita besar Indonesia: membangun dari bawah, dari masyarakat sendiri. Ketika program pendidikan tinggi mampu bersinergi dengan semangat lokal, hasilnya bukan hanya jalan yang dicor, tetapi juga mimpi yang dikuatkan.

KKN Nusantara telah membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh langsung jantung persoalan. Bukan sekadar seremonial, tetapi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Harapan ke depan, program seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperkuat. Bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga inovasi desa berbasis teknologi dan digitalisasi.

Dari Jalan ke Harapan

Membangun jalan mungkin terlihat sederhana. Tapi ketika jalan itu dibangun dengan cinta, semangat, dan kolaborasi, maka ia menjadi jalan harapan-harapan akan masa depan desa yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih mandiri.

KKN Nusantara adalah potret Indonesia yang tidak menyerah oleh keterbatasan, tapi tumbuh karena gotong royong. Dari Dukuh Jurang Depok dan Ngaren, kita belajar bahwa perubahan itu mungkin — asal dikerjakan bersama.

Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

Penulis: Bambang Sri Hartono*; Editor: Azzam Nabil H.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan tantangan lingkungan yang semakin kompleks, peran santri sebagai agen perubahan (agent of change) menjadi semakin vital. Sebagai penuntut ilmu agama, santri tidak hanya dibekali dengan pemahaman keislaman yang mendalam, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah kesadaran akan pengelolaan sampah yang bijak, disertai dengan akhlak mulia berupa senyuman yang tulus. Ini selaras dengan falsafah Jawa “Memayu Hayuning Bawana” (memelihara keindahan dunia) yang mengandung makna kosmologis yang dalam. Prinsip ini menempatkan manusia sebagai pamong (penjaga) yang bertanggung jawab menjaga harmoni antara jagad gedhe (alam semesta) dan jagad cilik (diri manusia). Dan bagi santri, konsep ini juga selaras dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56).

Dalam hal ini, sampah adalah masalah besar yang membutuhkan solusi kecil. Sampah telah menjadi isu global yang mengancam ekosistem bumi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah per tahun, dengan sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan mengotori laut. Jika tidak ditangani, dampaknya akan merusak kesehatan, keindahan alam, dan keseimbangan ekologi. Sebagai santri, selalu diajarkan untuk tidak hanya fokus pada urusan ukhrawi (akhirat), tetapi juga duniawi. Rasulullah SAW bersabda: “Bersihkanlah halaman rumahmu, dan jangan menyerupai orang Yahudi (yang mengabaikan kebersihan).” (HR. At-Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan, termasuk pengelolaan sampah. Seorang santri harus menjadi contoh dalam: memilah sampah (organik, anorganik, dan B3), mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler, tas kain, atau kotak makan sendiri, mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai, seperti kompos dari sampah organik atau kerajinan dari plastic, menggalakkan program zero waste di lingkungan pesantren.

Baca juga: Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Disamping menjaga kebersihan lingkungan, seorang santri juga perlu bersikap murah senyum di segala aktivitas. Sebab, senyum merupakan sedekah yang menyempurnakan amal, yang mana setiap santri dapat menghiasi diri dengan akhlak mulia, yang salah satunya adalah dengan senyuman. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).

Melihat sabda Rasulullah saw. tersebut, ada beberapa keutamaan dari senyuman yang diberikan seseorang kepada orang lain. Pertama, senyum bisa meringankan Beban. Ketika membersihkan lingkungan bersama, senyuman bisa membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Kedua, menyalurkan energi positif. Senyum adalah bahasa universal yang bisa memecah kebekuan dan mempererat ukhuwah. Ketiga, senyum dapat mendatangkan pahala. Dalam Islam, senyum tulus dianggap sebagai ibadah sosial yang berpahala. Bayangkan jika setiap santri tersenyum saat mengingatkan temannya untuk membuang sampah pada tempatnya, niscaya teguran akan lebih diterima dengan hati yang lapang.

Integrasi kebersihan dan senyuman dalam kehidupan santri adalah miniatur masyarakat yang ideal untuk menerapkan konsep “Green and Happy Islamic Boarding School“. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan gerakan Jumat bersih, setiap hari Jumat, santri bergotong-royong membersihkan lingkungan pesantren sambil diiringi dzikir dan canda tawa. Membuat Bank Sampah di pesantern. Sampah yang terkumpul bisa dikelola menjadi tabungan amal untuk kegiatan sosial. Selajutnya memberikan senyum sapa salam (3S). Membudayakan senyum, sapa, dan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Serta yang terakhir dengan Eco-Jihad Program, Menggiatkan gerakan lingkungan sebagai bagian dari jihad bil-‘amal (perbuatan nyata).

Baca juga: Pohon Mangrove: Penjaga Lingkungan, Penguat Keimanan

Seorang santri sejati bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan penebar kebahagiaan. Kebersihan adalah cermin iman, senyuman adalah cermin hati. Dengan memadukan keduanya, santri bisa menjadi teladan bagi masyarakat dalam menjaga bumi sekaligus menyebarkan kedamaian. Mari kita buktikan bahwa “Santri Bisa, Bumi Lestari, Dunia Tersenyum!” Kecilkan volume sampahmu, besarkan senyumanmu, karena dunia butuh lebih banyak pahlawan lingkungan yang ramah terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap aktivitas kebersihan sebagai ibadah. Ketika memungut sampah, lakukan dengan ikhlas. Ketika melihat teman membuang sampah sembarangan, ingatkan dengan lembut dan senyuman. Jadilah santri yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga peduli lingkungan dan penuh keramahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

*Dosen FEBI UIN Gus Dur Pekalongan

Menguatkan Iman di Bulan Suci Muharram Lewat Puasa Tasu’a dan Asyura

Penulis: Azzam Nabil H.; Editor: Amarul Hakim

Bulan Muharram adalah salah satu waktu istimewa dalam Islam yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tahun ini 1 Muharram 1447 H jatuh pada hari Kamis, 26 Juni 2025. Muharram termasuk dalam deretan empat bulan mulia atau asyhurul hurum, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36. Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun, ada empat bulan yang dimuliakan—yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hal ini juga disebutkan dalam sebuah hadis,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia). Tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharram, lalu Rajab (yang selalu diagungkan) Bani Mudhar, yaitu antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa disebut “bulan haram” karena setiap bentuk maksiat di bulan tersebut akan dibalas lebih berat. Sebaliknya, amal ketaatan yang dilakukan juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Salah satu alasan utama Muharram dimuliakan adalah karena di dalamnya terdapat hari Asyura (10 Muharram). sebuah hari yang menyimpan jejak sejarah luar biasa, seperti kisah diselamatkannya Nabi Musa as dan kaumnya dari kejaran Firaun.

Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Yahudi yang memuliakan hari itu dengan berpuasa. Dalam catatan Imam Fakhruddin ar-Razi, puasa Asyura bahkan menjadi satu-satunya puasa tahunan bagi mereka, sebagaimana kaum Muslim memiliki puasa Ramadhan.

Menariknya, puasa Asyura juga dikenal oleh masyarakat Arab pra-Islam. Dalam pandangan Syekh Musa Lasyin, mereka kemungkinan besar melakukannya untuk menghormati tradisi Nabi Ibrahim as, atau sebagai ekspresi penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan selama masa Jahiliyah. Bahkan sebelum Rasulullah bertemu kaum Yahudi di Madinah, penduduk Makkah telah mengenal dan melaksanakan puasa ini.

Baca juga: Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Rasulullah SAW sendiri menunaikan puasa Asyura. Menurut beberapa ulama, salah satunya Imam al-Qurtubi yang dikutip oleh Syekh Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani, tindakan Nabi itu juga memiliki dimensi dakwah. Dengan berpuasa Asyura, beliau ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki titik temu dengan ajaran sebelumnya. Ini menjadi cara halus Nabi dalam meluluhkan hati Ahlul Kitab, khususnya Yahudi, agar melihat kesamaan dan akhirnya terbuka terhadap kebenaran risalah Islam.

Namun kemudian, untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu’a). Dengan demikian, puasa Asyura tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga identitas umat Islam.

Keutamaan Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Puasa Asyura sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, No. 1162)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura bisa menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa kecil yang dilakukan dalam setahun terakhir—selama tidak termasuk dosa besar, sebagaimana dijelaskan para ulama.

Di samping Asyura, Nabi juga sangat menganjurkan puasa pada hari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram atau puasa Tasu’a. Beliau bersabda:

ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

“Jika tahun depan masih ada kesempatan, insyaAllah aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, No. 1134)

Dengan berpuasa dua hari, yakni pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita tidak hanya mengikuti sunnah Rasulullah, tetapi juga menunjukkan identitas keislaman yang khas dan berbeda. Sehingga Puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan keutamaan ibadah di bulan Muharram ini.

Menyambut tanggal 4 dan 5 Juli 2025 sebagai momentum pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, mari kita siapkan diri dengan niat tulus, menjauhi hal-hal yang membatalkan pahala puasa, dan memperbanyak ibadah seperti zikir, doa, serta amal kebaikan lainnya.

Terlebih Kini, kita hidup di zaman yang tak kalah gaduh dari masa lalu. Beragam peristiwa silih berganti, kadang membingungkan, bahkan menyesakkan. Maka Asyura bisa menjadi jeda, waktu untuk menarik napas, menengok ke belakang, dan merencanakan langkah ke depan. Ia adalah momen untuk mengenang, merenung, dan memperbarui komitmen spiritual kita. Semoga Asyura tahun ini menjadi titik balik dari lalai menuju sadar, dari rutin menuju ikhlas, dari dosa menuju pengampunan.

New Year New Me: Refleksi Diri di Tahun Baru Islam

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Tegar Rifqi

Saat ini, kehidupan masyarakat muslim telah memasuki bulan Muharram. Bulan Muharram menjadi penanda bahwa tahun dalam kalender hijriah telah berganti. Di awal tahun baru Islam, pada bulan Muharram sering diwarnai dengan beragam tradisi Masyarakat muslim seperti pawai obor atau mubeng beteng di Jogja, ini dikarenakan bulan muharram berperan sebagai pembuka tahun baru islam. Sebagai seorang muslim, tentunya ini menjadi awal yang baru untuk merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Namun, mengapa setiap manusia perlu melakukan refleksi diri?

Sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah, tentunya kita tak bisa bebas dari yang namanya pertanggungjawaban, baik itu dari tindakan kecil, tindakan besar, tindakan yang baru dilakukan, dan tindakan yang sudah lama dilakukan. Meski begitu, bukan berarti kita dapat melepaskannya begitu saja karena apa yang kita perbuat akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Pernyataan ini juga dapat ditemui di Al-Qur’an yaitu Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 18 yang berbunyi.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٨

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menekankan pentingnya berintrospeksi, ini tidak hanyak berlaku bagi diri pribadi tetapi semua orang. Dengan berintrospeksi, setiap orang dapat menyadari segala kekurangan yang ada dan dapat memperbaikinya dengan bertahap. Ini dapat membantu setiap orang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Lantas, bagaimana cara melakukannya?

Karena sebelumnya kita diminta untuk berintrospeksi maka kita akan membahas dua cara yang dapat dilakukan.

Merenungi segala perbuatan

Ini adalah cara yang paling dasar dalam melakukan introspeksi diri. Kenapa begitu? Karena ini akan membantu seseorang untuk menilai sesuatu yang ada pada orang tersebut seperti kepribadian, sikap, dan lain-lain. Dengan renungan, pikiran seseorang akan lebih terbuka mengenai segala kejadian yang dialami.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Memaafkan diri sendiri

Ini merupakan langkah berikutnya setelah melakukan langkah pertama. Kenapa begitu? Karena ini merupakan bentuk kesadaran atas renungan yang telah dilakukan. Seperti sebelumnya, ketika pikiran lebih terbuka itu akan membantu seseorang untuk menilai segala apa yang sudah terjadi. Apabila orang tersebut merasa melakukan kesalahan, cukup memaafkan diri sendiri karena ini dapat membantu orang tersebut untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan.

Dengan cara ini, seseorang dapat berintrospeksi diri terhadap apa yang sudah berlalu dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah itu, kita dapat melakukan aksi untuk memperbaiki semuanya. Namun, pernahkah terpikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki segala kesalahan yang dilakukan?

Ini adalah pertanyaan utama karena untuk berintrospeksi dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik dibutuhkannya sebuah tindakan. Karena tanpa adanya tindakan semuanya tidak akan berjalan dengan sempurna dan hanya sebatas niat saja. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan.

Bertaubat

Langkah yang pertama yaitu dengan bertaubat. Sama seperti sebelumnya, langkah ini juga sebagai bentuk dari pengakuan kesalahan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan shalat taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Langkah ini dilakukan guna sebagai penetapan niat untuk memperbaiki kesalahan dan menghindarinya.

Mulailah dengan tindakan kecil

Langkah yang kedua yaitu dengan tindakan kecil. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengucapkan basmalah di setiap tindakan, bersedekah, dan lain-lain. Ini diperlukan guna sebagai pijakan pertama dalam perubahan hidup.

Baca juga: Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Melatih sikap waspada

Langkah yang ketiga yaitu dengan sikap waspada. Langkah ini dapat dilakukan dengan menganalisis situasi yang ada dan memprediksi apa yang akan terjadi. Ketika seseorang telah merasa akan kembali melakukan kesalahan, Ia dapat menghindarinya.

Mempertahankan aktivitas

Langkah terakhir yaitu mempertahankan aktivitas atau biasa disebut sebagai istiqomah. Langkah ini dapat dilakukan setelah beradaptasi dalam memulai hal baru. Langkah ini memerlukan konsistensi dan kedisiplinan dari seseorang karena ini menjadi penentu apakah seseorang dapat mengubah kehidupannya atau kembali ke kehidupan yang lama.

Setelah melakukan beberapa cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menjalani kehidupannya yang baru. Kehidupan manusia cenderung relatif yang mana selalu tidak pasti. Jadi, apabila seseorang melakukan kesalahan maka itu hal yang wajar. Tak masalah jika merasa salah sekali atau dua kali, tetapi yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita menyadari dan memperbaikinya. Selagi masih bulan muharrom, kita bisa memulainya dengan apa yang dipelajari sebelumnya.

*Sumber ilustrasi: Artur Aldyrkhanov on Unsplash