Penulis: Muhammad Jauhari Sofi*, editor: Ika Amiliya Nurhidayah.
“Somewhere beyond muthola‘ah and gojekan, there is a garden. I will meet you there.” [Bukan Rumi]
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang umumnya tumbuh dari prakarsa masyarakat dan berbasis komunitas, meski banyak juga yang dikelola oleh keluarga. Ia membentuk karakter manusia melalui kedisiplinan, keikhlasan, dan kemandirian.
Kehidupan di pesantren berlangsung normal sebagaimana aktivitas keseharian yang sangat manusiawi. Aktivitas belajar santri berpadu dengan urusan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan kamar, berkebun, dan sejenisnya. Semua ruang menjadi bagian dari proses pendidikan yang menanamkan kesabaran, kesetaraan, dan tanggung jawab moral.
Pesantren utamanya mengajarkan teks-teks klasik keagamaan, yang dikenal dengan kitab kuning. Dari teks-teks inilah para santri belajar memahami ajaran Islam secara mendalam dan kontekstual. Namun sebetulnya, kehidupan pesantren tidak hanya berkutat di seputar kajian dan hafalan. Di sela-selanya, tumbuh budaya santai, canda, dan tawa. Di bilik-biliknya, pesantren membentuk nalar, kepribadian, dan yang jarang disadari, selera humor.
Baca juga: Pesantren dan Tantangan Kecerdasan Buatan
Humor dalam pesantren memiliki fungsi sosial yang mendalam. Ia menjadi perekat hubungan antarsantri sekaligus penyeimbang rutinitas yang padat. Di saat hafalan belum lancar atau pekerjaan menumpuk, lelucon lisan kerap menjaga suasana tetap ringan, menumbuhkan tawa, dan meneguhkan persaudaraan dalam keakraban.
Dari sekian tokoh humor yang dikenal di pesantren, Abu Nawas menempati posisi istimewa. Ia hidup di batas antara teks dan imajinasi. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai seorang penyair cerdas dan jenaka dari abad kedelapan. Namun dalam tradisi pesantren, ia bisa menjelma simbol kecerdikan dan perlawanan atau kritik yang halus.
Kisah Abu Nawas dirawat dalam ingatan dan berpindah dari mulut ke mulut di kalangan santri. Ia diceritakan di dapur, kamar, ruang kelas, serambi masjid, dan tempat ro’an (kerja bakti). Cerita-cerita itu menjadi ritus kebersamaan, ruang perjumpaan antara pengetahuan, humor, dan kehangatan sosial. Berikut ini salah satunya:
Alkisah, Abu Nawas meninggal di usia muda. Di akhirat, ia berdiri dalam barisan panjang bersama jutaan manusia lain yang menunggu giliran untuk dihitung amal perbuatannya.
Di depan sana, duduk seorang malaikat yang bertugas menimbang amal. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda. Si malaikat itu tidak bisa melihat. Karena itu, ia menggunakan cara lain untuk mengenali orang-orang yang datang kepadanya, yaitu dengan meraba wajah mereka.
Jika seseorang berjenggot, malaikat itu akan langsung memutuskan bahwa ia orang saleh, dan mengirimnya ke surga tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Sebaliknya, jika tidak berjenggot, ia akan disuruh ke pos berikutnya untuk ditimbang amalnya satu per satu.
Satu per satu nama dipanggil.
“Mukidi, maju ke depan,” kata malaikat sambil meraba wajahnya.
“Oh, kamu berjenggot. Silakan langsung ke surga.”
Lalu berikutnya.
“Mulyono, maju ke depan.”
“Hmmmn, kamu tidak berjenggot. Silakan menuju ke timbangan amal.”
Begitu terus, hingga tibalah giliran Abu Nawas. Namanya dipanggil.
“Abu Nawas, maju ke depan!”
Abu Nawas mulai gugup. Ia mati muda dan jenggotnya belum sempat tumbuh. Ia juga tidak yakin timbangan amal akan bisa mengantarnya ke surga. Semasa hidup, ia merasa belum banyak berbuat baik.
Sambil berjalan menuju si malaikat, ia berpikir keras mencari akal. Beberapa langkah sebelum tiba di depan malaikat, ia mendapat ide dan langsung menerapkannya.
Abu Nawas mulai diperiksa, dan segera si malaikat berkata, “Oh, silakan langsung ke surga.”
Abu Nawas menghela napas lega. Ia sangat bahagia. Tampaknya rencananya berhasil. Si malaikat benar-benar mengira ia telah meraba jenggotnya.
Namun, baru saja ia berdiri tegak setelah kelelahan berjalan salto (tangan di bawah, kaki di atas), terdengar suara si malaikat menegur, “Abu Nawas… di surga tidak boleh bawa rokok!”
Baca juga: Menjaga Bumi Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan
Di pesantren, kisah semacam ini tidak hanya memantik tawa, tetapi juga menyimpan refleksi. Ia menyiratkan kritik sosial terhadap kecenderungan menilai kesalehan dari tanda lahiriah, dari tampilan wajah dan balut busana. Dalam tawa itu, ada pesan moral bahwa kebaikan tidak selalu tampak di permukaan.
Dalam konteks pendidikan, humor seperti ini dapat berfungsi sebagai metode pengajaran yang efektif. Ia melatih santri berpikir analogis, membaca makna tersirat, dan memahami konteks sosial dengan jernih. Humor dapat menjadi jembatan antara teks dan realitas, antara nalar dan rasa secara seimbang.
Selain itu, humor menjadi ruang aman bagi ekspresi diri santri. Lewat cerita jenaka, mereka menyalurkan kegelisahan, mempertanyakan otoritas, atau menyentil hal-hal tabu. Semua dilakukan dengan bahasa jenaka dan pikiran yang merdeka. Di pesantren, kebebasan berpikir tidak dihapus, melainkan disublimasi melalui kelucuan. Santri tetap memiliki ruang untuk bersikap kritis, hanya saja ekspresinya disampaikan dengan cara yang tidak frontal dan tidak menantang otoritas.
Kisah-kisah Abu Nawas kiranya tetap relevan bagi dunia pesantren hingga sekarang ini. Kisah-kisah itu mengingatkan bahwa kecerdikan dan keberanian berpikir tidak harus selalu mewujud dalam bentuk perlawanan keras. Terkadang, sindiran melalui humor bisa lebih tajam daripada kritik keras.
Sosok santri yang terkenal humoris adalah KH. Abdurrahman Wahid, atau Gusdur. Dalam humor Gusdur, bahkan Tuhan pun dikisahkan sampai menangis tersedu saat ditanya perihal kapan Indonesia akan makmur. Dalam tradisi pesantren, humor sejenis itu dipahami sebagai manifestasi keakraban antara seorang hamba dengan Tuhannya, bukan penistaan agama. Humor Gusdur juga tercermin dalam kepemimpinan nasionalnya. “Gusdur mengucapkan politik secara humor dan mendengarkan humor secara politik,” demikian hadits yang diriwayatkan oleh Rocky Gerung.
Pada akhirnya, pesantren bukan sekadar lembaga transmisi ilmu agama. Ia adalah juga ruang pembentukan karakter manusia secara utuh: rasional, spiritual, dan kultural. Di pesantren, kitab kuning hidup berdampingan dengan kitab humor yang diwariskan turun-temurun. Di sana, tertawa adalah cara mengistirahatkan jiwa dari keseriusan hidup.
Selamat Hari Santri Nasional (HSN) 2025!
*Dosen di TBIG FTIK UIN KH. Abdurrahman Wahid; alumnus Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Demak
