Refleksi Kirab 1 Suro: Lebih dari Sekadar Tradisi, Sebuah Perjalanan Spiritual di Malam Tahun Baru Islam

Penulis: Rosyita Annisni, Editor: Muhamad Nurul Fajri

Setiap tahun baru Islam, tepatnya 1 Muharram yang biasanya dikenal sebagai 1 Suro dalam kalender Jawa, warga Surakarta biasanya ada sebuah prosesi sakral yang justru mengajarkan ketenangan dan makna hidup. Namanya Kirab 1 Suro, tradisi keraton yang sudah turun-temurun dan tetap hidup sampai sekarang. Esensi utama dari peringatan kirab Malam 1 Suro yaitu untuk “mapak” yang berati memulai tahun yang baru dengan perenungan dan keselamatan. Kirab pusaka adalah sebuah tradisi masyarakat Jawa dimana harus merenungi kehidupan tahun kemarin dan menapaki tahun yang akan datang dengan baik.Tema yang diangkat dalam Kirab 1 Suro Mangkunegaran tahun 2025 yang dilaksanakan 26 Juni 2025 mulai pada pukul 19.00 WIB yaitu “Atita, Atiki, dan Anagata“.

Atiti dengan maksud melambangkan menghargai masalalu, Atiki melambangkan masa kini yang harus disadari dan Anagata melambangkan harapan untuk masa depan. Rangkaian acaranya meliputi Kirab Pusaka Dalem yaitu prosesi kirab mengelilingi area Mangkunegaran dengan membawa pusaka kerajaan, Tapa Bisu yaitu tradisi diam seribu bahasa serta Doa dan Harapan: Masyarakat umum dapat ikut serta berdoa untuk masa depan yang lebih baik.

Kirab Pusaka Dalem adalah prosesi mengelilingi benteng keraton dan membawa berbagai pusaka keramat milik keraton. Pusaka yang dibawa diyakini mempunyai kekuatan spiritual dan sejarah panjang. Prosesi ini di iringi oleh Abdi dalem, prajurit keraton dan biasanya ada Kebo Bule Kyai Slamet yaitu Kerbau Putih yang menjadi simbol keberuntungan dan keselamatan.

Baca juga: Suronan: Memelihara Tradisi dan Kebudayaan dalam Kearifan Lokal Jawa

Rute kirab ini dimulai dari Jalan Supit Urang, melewati Alun-Alun Utara, lalu berjalan ke arah utara melalui Jalan Pakoe Boewono hingga Gapura Gladhag, dan dilanjutkan ke Jalan Jenderal Sudirman. Rombongan kemudian belok ke timur melalui Jalan Mayor Kusmanto.

Selanjutnya, prosesi bergerak ke arah selatan menyusuri Jalan Kapten Mulyadi, lalu menuju barat lewat Jalan Veteran, dan terus ke utara melalui Jalan Yos Sudarso. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan melewati Jalan Slamet Riyadi ke arah timur, masuk ke Jalan Brigjen Slamet Riyadi, lalu berbelok ke selatan ke Jalan Pakoe Boewono, sebelum akhirnya kembali ke kompleks Keraton Surakarta.

Kirab ini menempuh jarak sekitar 7 hingga 8 kilometer dan dilaksanakan tanpa alas kaki dan juga tanpa percakapan sedikit pun di antara para peserta yang biasa dinamakan tapa bisu. Hal ini untuk mengendalikan diri, mengasah kepekaan batin, dan benar-benar meresapi momen.

Dengan menahan bicara, bisa lebih fokus pada diri sendiri dan merenungkan hidup, meminta ampun atas kesalahan di tahun sebelumnya dan membuat niat baik dan baru pada tahun yang akan datang.

Yang menarik juga adalah Sosok Kebo Bule Kyai Slamet selalu menjadi pusat perhatian. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa Khususnya di Surakarta, Kerbau melambangkan ketekunan, kekuatan, dan kesuburan. Biasanya si Kebo Bule selalu ditempatkan di barisan di depan sebagai petunjuk jalan. Mitosnya, siapa pun yang dapat menyentuhnya dipercaya akan mendapat berkas dan keberuntungan.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Selanjutnya masyarakat menulis harapan tujuannya seseorang tidak hanya merencanakan masa depan, tetapi juga melibatkan diri dalam proses introspeksi dan memperbaiki diri. Ini adalah cara untuk memulai tahun baru dalam kalender Jawa dengan semangat baru dan niat yang tulus.

Meskipun zaman sudah berubah, dan dunia makin digital, Kirab 1 Suro tetap punya tempat di hati masyarakat. Tradisi hidup yang terus dijaga oleh Keraton Surakarta sebagai pusat Kebudayaan Jawa. Bahkan kini kirab 1 Suro juga menjadi bagian dari agenda pariwisata nasional, didukung oleh program seperti Pesona Indonesia dan Agenda Solo.

Tahun baru Hijriah atau 1 Suro bukan hanya penanda waktu, tapi momen untuk memulai hidup yang lebih baik lagi. Momen seperti ini cocok menjadi refleksi pribadi. Sejauh apa kita melangkah ke depan? Apa yang perlu diperbaiki? Dan apa tujuan kita ke depan?

Dengan mengambil semangat dari Kirab 1 Suro yang menekankan pada ketenangan, penghormatan, dan spiritual kita dapat membuka lembaran baru dengan niat yang lebih baik dan hati yang lebih tenang serta memperbaiki apa yang kurang pada tahun lalu.

*Sumber gambar: cnnindonesia.com

New Year New Me: Refleksi Diri di Tahun Baru Islam

Penulis: Daffa Asysyakir, Editor: Tegar Rifqi

Saat ini, kehidupan masyarakat muslim telah memasuki bulan Muharram. Bulan Muharram menjadi penanda bahwa tahun dalam kalender hijriah telah berganti. Di awal tahun baru Islam, pada bulan Muharram sering diwarnai dengan beragam tradisi Masyarakat muslim seperti pawai obor atau mubeng beteng di Jogja, ini dikarenakan bulan muharram berperan sebagai pembuka tahun baru islam. Sebagai seorang muslim, tentunya ini menjadi awal yang baru untuk merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Namun, mengapa setiap manusia perlu melakukan refleksi diri?

Sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah, tentunya kita tak bisa bebas dari yang namanya pertanggungjawaban, baik itu dari tindakan kecil, tindakan besar, tindakan yang baru dilakukan, dan tindakan yang sudah lama dilakukan. Meski begitu, bukan berarti kita dapat melepaskannya begitu saja karena apa yang kita perbuat akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Pernyataan ini juga dapat ditemui di Al-Qur’an yaitu Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 18 yang berbunyi.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٨

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menekankan pentingnya berintrospeksi, ini tidak hanyak berlaku bagi diri pribadi tetapi semua orang. Dengan berintrospeksi, setiap orang dapat menyadari segala kekurangan yang ada dan dapat memperbaikinya dengan bertahap. Ini dapat membantu setiap orang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Lantas, bagaimana cara melakukannya?

Karena sebelumnya kita diminta untuk berintrospeksi maka kita akan membahas dua cara yang dapat dilakukan.

Merenungi segala perbuatan

Ini adalah cara yang paling dasar dalam melakukan introspeksi diri. Kenapa begitu? Karena ini akan membantu seseorang untuk menilai sesuatu yang ada pada orang tersebut seperti kepribadian, sikap, dan lain-lain. Dengan renungan, pikiran seseorang akan lebih terbuka mengenai segala kejadian yang dialami.

Baca juga: Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Memaafkan diri sendiri

Ini merupakan langkah berikutnya setelah melakukan langkah pertama. Kenapa begitu? Karena ini merupakan bentuk kesadaran atas renungan yang telah dilakukan. Seperti sebelumnya, ketika pikiran lebih terbuka itu akan membantu seseorang untuk menilai segala apa yang sudah terjadi. Apabila orang tersebut merasa melakukan kesalahan, cukup memaafkan diri sendiri karena ini dapat membantu orang tersebut untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan.

Dengan cara ini, seseorang dapat berintrospeksi diri terhadap apa yang sudah berlalu dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah itu, kita dapat melakukan aksi untuk memperbaiki semuanya. Namun, pernahkah terpikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki segala kesalahan yang dilakukan?

Ini adalah pertanyaan utama karena untuk berintrospeksi dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik dibutuhkannya sebuah tindakan. Karena tanpa adanya tindakan semuanya tidak akan berjalan dengan sempurna dan hanya sebatas niat saja. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan.

Bertaubat

Langkah yang pertama yaitu dengan bertaubat. Sama seperti sebelumnya, langkah ini juga sebagai bentuk dari pengakuan kesalahan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan shalat taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Langkah ini dilakukan guna sebagai penetapan niat untuk memperbaiki kesalahan dan menghindarinya.

Mulailah dengan tindakan kecil

Langkah yang kedua yaitu dengan tindakan kecil. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengucapkan basmalah di setiap tindakan, bersedekah, dan lain-lain. Ini diperlukan guna sebagai pijakan pertama dalam perubahan hidup.

Baca juga: Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Melatih sikap waspada

Langkah yang ketiga yaitu dengan sikap waspada. Langkah ini dapat dilakukan dengan menganalisis situasi yang ada dan memprediksi apa yang akan terjadi. Ketika seseorang telah merasa akan kembali melakukan kesalahan, Ia dapat menghindarinya.

Mempertahankan aktivitas

Langkah terakhir yaitu mempertahankan aktivitas atau biasa disebut sebagai istiqomah. Langkah ini dapat dilakukan setelah beradaptasi dalam memulai hal baru. Langkah ini memerlukan konsistensi dan kedisiplinan dari seseorang karena ini menjadi penentu apakah seseorang dapat mengubah kehidupannya atau kembali ke kehidupan yang lama.

Setelah melakukan beberapa cara tersebut, seseorang dapat menikmati dan menjalani kehidupannya yang baru. Kehidupan manusia cenderung relatif yang mana selalu tidak pasti. Jadi, apabila seseorang melakukan kesalahan maka itu hal yang wajar. Tak masalah jika merasa salah sekali atau dua kali, tetapi yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita menyadari dan memperbaikinya. Selagi masih bulan muharrom, kita bisa memulainya dengan apa yang dipelajari sebelumnya.

*Sumber ilustrasi: Artur Aldyrkhanov on Unsplash 

Pawai Obor Warnai Semarak Muharram Remaja Masjid Al Muttaqien Desa Sidorejo

Pewarta: Akhmad Dalil Rahman, Editor: Azzam Nabil H.

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Remaja Masjid Jami’ Al Muttaqien Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Batang, menyelenggarakan kegiatan bertajuk Semarak Muharram: Pawai Obor pada Kamis malam, 26 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan yang dikemas meriah dan penuh makna, dengan tema “Bersatu dalam Cahaya, Harmoni dalam Perbedaan”.

Suasana religius menyelimuti awal acara dengan pembacaan doa bersama oleh K.H. Abdul Ghofar dan K.H. Maftukhin. Setelahnya, peserta pawai dilepas untuk mengelilingi kampung dengan membawa obor yang menyala sebagai simbol harapan dan semangat baru. Kegiatan ini melibatkan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang datang dari Dukuh Jemawu, Tembelang, dan Madureso.

Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan Marching Band MI Salafiyah Sidorejo yang turut mengiringi barisan pawai. Selain itu, terdapat pula pertunjukan kembang api, iringan musik, serta arakan dua gunungan yang berisi jajanan dan sayuran. Setelah pawai selesai, gunungan dibagikan kepada warga sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.

Baca juga: Perpaduan Islam dan Tradisi Lokal: Sebuah Studi Kasus di Kuripan Kidul dan Kertoharjo dalam Peringatan Bulan Muharram

Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid, Bapak H. Susilo menyampaikan penghargaan kepada seluruh panitia dan remaja masjid atas kerja keras dan kreativitas mereka. Beliau menekankan pentingnya ruang-ruang positif seperti kegiatan pawai obor, terlebih di tengah era digital yang penuh distraksi, agar generasi muda tetap terarah dan dekat dengan lingkungan sosial serta nilai spiritual.

Agus Prasetiyo selaku ketua panitia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan warga dan seluruh elemen yang terlibat. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi tradisi tahunan yang tak hanya meriah, tetapi juga memberi makna lebih dalam tentang kebersamaan, toleransi, dan semangat perubahan di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar perayaan, pawai obor ini menjadi simbol persatuan dan optimisme. Sebuah pengingat bahwa dalam perbedaan, kita bisa tetap berjalan bersama, menyongsong tahun yang baru dengan cahaya harapan dan kebersamaan yang menyala.