Satu Panggung, Beragam Logat: Wajah Moderasi Beragama di PORSI JAWARA II

Penulis: Nia Himatul Ulfa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 9-13 September akhirnya resmi ditutup. Lebih dari 1.495 mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura berkumpul untuk berkompetisi di berbagai cabang olahraga, seni, dan karya ilmiah. Di balik hitungan medali emas, perak, dan perunggu yang diperebutkan, kegiatan ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih substansial, yaitu perjumpaan lintas kampus, daerah, bahkan negara, yang sarat dengan nilai moderasi beragama.

Selama empat hari penyelenggaraan, lingkungan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjadi tuan rumah berubah menjadi ruang perjumpaan lintas kampus PTKIN se-Jawa dan Madura. Ribuan peserta yang hadir membawa logat bicara yang beragam: ada yang kental dengan dialek Jawa Tengah, ada yang membawa logat khas Madura, ada pula logat Sunda dari kontingen asal Bandung, hingga gaya bicara khas Jakarta Selatan yang bercampur istilah-istilah kekinian. Di antara keragaman tersebut, sesekali dijumpai pula peserta dari luar negeri yang kebetulan sedang menempuh studi di salah satu PTKIN peserta dan turut hadir bersama kontingen kampusnya, sehingga menambah warna dari perjumpaan lintas budaya ini.

Interaksi lintas logat dan bahasa semacam ini tidak selalu berjalan mulus. Terdapat momen ketika sebuah kalimat perlu diulang beberapa kali agar dapat dipahami lawan bicara. Sebaliknya, terdapat pula momen ketika seseorang harus menafsirkan maksud dari logat yang asing di telinganya. Kondisi ini menegaskan bahwa PORSI JAWARA tidak sekadar mempertemukan mahasiswa PTKIN se-Jawa dan Madura dalam pengertian administratif, tetapi juga menghadirkan keragaman bahasa dan budaya yang jauh lebih kaya dari yang semula dibayangkan.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Menariknya, di balik keragaman logat dan bahasa tersebut, terdapat satu benang merah yang menyatukan seluruh peserta, yaitu identitas bersama sebagai mahasiswa PTKIN. Identitas ini membawa nilai-nilai keislaman yang moderat sebagai muruah bersama. Dengan demikian, meskipun logat dan cara berbicara berbeda-beda, terdapat kerangka nilai yang relatif sama dalam memandang bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama. Kesamaan nilai inilah yang pada akhirnya mempermudah proses saling mengenal di antara peserta yang datang dari latar belakang kedaerahan yang berbeda-beda.

Dalam suasana kompetisi, perbedaan semacam itu berpotensi menimbulkan jarak apabila tidak disikapi dengan baik. Sejumlah momen menunjukkan bahwa semangat bertanding yang berlebihan dapat memunculkan sindiran atau ejekan antarkontingen. Hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian yang wajar dari dinamika kompetisi. Namun, apabila dibiarkan, kecenderungan tersebut berisiko mengaburkan esensi pertemuan yang sesungguhnya jauh lebih bernilai daripada sekadar hasil kalah-menang. Di sisi lain, terdapat fenomena yang berlawanan. Setelah pertandingan usai, pihak-pihak yang sebelumnya berhadapan sebagai lawan tanding tampak berbaur dan berbincang. Peserta dari kontingen yang berbeda-beda itu tampak akrab satu sama lain karena adanya rasa ingin tahu yang sama-sama muncul di antara mereka mengenai asal daerah, kebiasaan, hingga cara masing-masing menjalankan ibadah di tengah kesibukan kompetisi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan semata konsep normatif yang berhenti pada tataran wacana. Sikap menghargai pihak lain yang berbeda logat, bahasa, maupun kebiasaan; tidak berlebihan ketika meraih kemenangan; tidak merendahkan pihak yang kalah; serta tetap menjalin komunikasi meski baru saling mengenal dalam waktu singkat—semua itu tampak nyata dalam interaksi sehari-hari selama kegiatan berlangsung, bukan semata dalam forum seminar atau kajian keagamaan. Keragaman logat dan bahasa yang muncul dalam kegiatan yang secara administratif berlingkup “se-Jawa dan Madura” ini turut menegaskan bahwa perbedaan dapat hadir bahkan di antara daerah-daerah yang secara geografis relatif berdekatan. Selama terdapat kemauan untuk saling mengenal, jarak yang semula terasa jauh dapat dipersempit, dan hal yang semula asing dapat menjadi akrab.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah PORSI JAWARA II turut memberikan konteks yang relevan bagi keseluruhan gambaran ini. Nama besar yang disandang kampus tersebut, yang diambil dari sosok yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh toleransi di Indonesia, secara tidak langsung menjadi pengingat mengenai semangat apa yang seharusnya melandasi pertemuan lintas kampus semacam ini. Kompetisi yang berlangsung dengan sportif, tanpa menghilangkan sikap saling menghormati, sejatinya merupakan wujud paling sederhana dari nilai-nilai yang selama ini identik dengan nama tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan PORSI JAWARA II di kampus ini bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan dapat dibaca sebagai penegasan arah nilai yang ingin dihidupkan dalam kegiatan tersebut.

Keberhasilan PORSI JAWARA II sepatutnya tidak diukur semata dari jumlah medali yang diperoleh setiap kontingen, melainkan juga dari sejauh mana pihak-pihak yang bertemu dalam kegiatan tersebut tetap dapat menjalin komunikasi yang baik setelah kegiatan berakhir. Apabila perbedaan logat, bahasa, kampus, daerah, bahkan negara asal dapat dilalui tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh, kegiatan ini telah menjalankan fungsinya yang sesungguhnya, yaitu menumbuhkan generasi PTKIN yang memahami moderasi beragama bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sikap yang hidup dalam setiap pertemuan dengan mereka yang berbeda.

Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Penulis: Giyanti Rika Dwi Pratiwi, Editor: Dwi Selma Fitriani

Mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di tengah suasana perlombaan mungkin terlihat seperti hal yang biasa dalam sebuah kegiatan keislaman. Namun, bagi saya, lomba Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dalam PORSI JAWARA II 2026 memiliki makna yang lebih dari sekadar ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Di balik penampilan peserta, terdapat pesan tentang bagaimana ajaran Al-Qur’an dapat disampaikan dengan cara yang santun, bijak, dan dapat diterima oleh masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

MSQ bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafalkan ayat Al-Qur’an. Dalam perlombaan ini, peserta menyampaikan kandungan ayat melalui penjelasan yang dikemas secara terstruktur. Artinya, peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memahami materi keislaman, tetapi juga harus mampu menyampaikannya kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang tepat. Menurut saya, hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan moderasi beragama.

Salah satu nilai moderasi beragama yang dapat dilihat dari MSQ adalah tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah dan tidak berlebihan dalam memahami maupun menjalankan ajaran agama. Ketika menyampaikan pesan keagamaan, seseorang perlu menghindari cara penyampaian yang mudah menyalahkan atau merendahkan pihak lain. Pesan agama seharusnya disampaikan dengan bijaksana sehingga dapat menjadi jalan untuk memberikan pemahaman, bukan justru menimbulkan pertentangan.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Perbedaan pemahaman, budaya, dan kebiasaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan nilai-nilai agama dengan bahasa yang santun menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang harmonis. Dari panggung MSQ, kita dapat belajar bahwa menyampaikan kebenaran tidak harus dilakukan dengan cara yang keras.

Selain cara menyampaikan pesan, lomba MSQ juga mengajarkan tentang kerja sama. Penampilan MSQ dilakukan secara berkelompok sehingga setiap anggota mempunyai peran masing-masing. Mereka harus mampu menyatukan suara, memahami materi, mengatur penampilan, dan saling mendukung agar penampilan dapat berjalan dengan baik. Perbedaan kemampuan di antara anggota kelompok tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Menurut saya, kerja sama tersebut juga merupakan bentuk kecil dari penerapan moderasi beragama. Dalam kehidupan sosial, kita tidak mungkin selalu bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan, pemikiran, atau kebiasaan yang sama. Kita perlu belajar menyesuaikan diri dan menghargai peran orang lain. Seperti halnya dalam MSQ, keberhasilan sebuah kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan semua anggota untuk saling melengkapi.

Hal menarik lainnya adalah adanya persaingan dalam suasana yang tetap membawa nilai-nilai keagamaan. Setiap peserta tentu ingin memberikan penampilan terbaik dan memperoleh hasil yang maksimal. Namun, semangat untuk menjadi juara seharusnya tidak membuat peserta kehilangan sikap saling menghargai. Peserta dapat berkompetisi dengan serius, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada peserta lain.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II berbeda dari perlombaan biasa. Hal yang dipertandingkan memang kemampuan setiap peserta, tetapi nilai yang dibawa jauh lebih luas. Peserta belajar bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap kepada sesamanya.

MSQ juga mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menyebarkan pemahaman agama yang damai. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat dapat menjadi contoh bagaimana nilai keagamaan diterapkan tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap orang lain. Terlebih pada era media sosial seperti sekarang, sebuah pesan dapat tersebar dengan sangat cepat. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan pesan agama secara bijak menjadi semakin diperlukan.

Pada akhirnya, bagi saya, pengalaman menyaksikan lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II bukan hanya tentang melihat peserta tampil di atas panggung. Ada pelajaran yang dapat dibawa setelah perlombaan selesai: bahwa memahami agama juga harus diikuti dengan kemampuan menghargai manusia. Pesan Al-Qur’an akan menjadi lebih bermakna ketika disampaikan dengan sikap yang santun, tidak berlebihan, dan mampu merangkul perbedaan. Dari sebuah panggung perlombaan MSQ, kita dapat belajar bahwa menjadi moderat bukan berarti mengurangi nilai agama, melainkan justru menghadirkan nilai agama dalam kehidupan dengan cara yang bijaksana dan penuh penghormatan.

Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

PEKALONGAN — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggelar kegiatan doa bersama antarumat beragama. Kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus memperkuat persatuan dan kerukunan umat beragama di wilayah tersebut.

Kegiatan doa bersama ini diikuti oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Pekalongan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai agama. Acara berlangsung khidmat dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Pekalongan, Imam Teguh Wibowo, menuturkan bahwa kegiatan doa bersama ini merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus perjalanan panjang Kabupaten Pekalongan.

“Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia dan memperingati ke-404 Hari Jadi Kabupaten Pekalongan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai upaya untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama,” ujar Imam di Pekalongan, Senin (24/8/2026).

Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan

Ia menambahkan, keberagaman agama dan keyakinan di Kabupaten Pekalongan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, semangat saling menghormati dan menghargai perlu terus dijaga.

“Kami berharap melalui kegiatan ini semakin terjalin kebersamaan, persaudaraan, dan toleransi di antara masyarakat. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan agar semakin maju dan masyarakatnya makin sejahtera,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, doa disampaikan oleh perwakilan umat beragama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh penghormatan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur, doa bersama tersebut juga menjadi sarana untuk memanjatkan harapan bagi Kabupaten Pekalongan. Masyarakat berharap daerah ini senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, keberkahan, serta kelancaran dalam melaksanakan pembangunan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan semangat gotong royong dan toleransi, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan Kabupaten Pekalongan yang aman, harmonis, maju, dan sejahtera.

LP2M UIN Gus Dur Pekalongan Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama untuk Sivitas Akademika dalam Rangka Memperkuat Toleransi

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Muslimah

Pekalongan — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan menggelar Pelatihan Moderasi Beragama yang diikuti oleh sivitas akademika, mulai dari profesor, magister, sarjana, hingga tenaga pendidik. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 23-24 Juli 2026 di Aula Perpustakan UIN Gus Dur Lantai 3 dengan menghadirkan dua narasumber ahli di bidang moderasi beragama, Kamis (23/7).

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Alghiffary, M.Hum., menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menguatkan cara pandang tenaga pendidik dalam praktik kerja sama, sehingga ketika diimplementasikan kepada masyarakat dapat berjalan lebih moderat. “Pelatihan ini bukan untuk memoderasikan mereka agar moderat, tetapi untuk menguatkan,” ujarnya.

Baca Juga: Kuatkan Semangat Moderasi Beragama di Kalangan Dosen dan Tendik, LP2M UIN Gus Dur Adakan Pelatihan

Dua narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini, yakni Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag. dan Prof. Dr. Usep Dedi Rustandi, M.A., keduanya berasal dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kesempatan tersebut, para narasumber menyampaikan empat materi utama.

Materi pertama bertajuk Udar Asumsi dan Bangun Perspektif, materi kedua mengangkat Konsep Moderasi Beragama, dan materi ketiga membahas Analisis Sosial dengan Konsep Gunung Es, sementara materi keempat menyampaikan Sembilan Kata Kunci Moderasi Beragama.

Setiap materi yang disampaikan dilengkapi dengan sesi Forum Group Discussion (FGD), di mana peserta yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diminta menyampaikan pendapat melalui studi kasus yang telah disiapkan panitia. Studi kasus tersebut mengangkat topik-topik moderasi beragama yang masih marak terjadi di lingkungan sekitar, dengan tujuan FGD yang berbeda-beda pada setiap sesinya. Selain pemaparan materi dan diskusi kelompok juga menyisipkan sesi ice breaking guna memecah kejenuhan dan mengembalikan fokus peserta selama pelatihan berlangsung.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Usep Dedi Rustandi, M.A., menyebut bahwa moderasi beragama bukan untuk agama tertentu saja, melainkan perlu disosialisasikan dan dipahami. Sebagai umat yang baik jangan sampai melihat suatu kejadian dari dasarnya saja, tetapi melihat dari latar belakangnya juga.

“Bukan agama yang dimoderasi, melainkan umatnya,” ungkapnya dalam sesi pemaparan inti materi.

Selanjutnya Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag. menyebut bahwa dalam teori pendidikan dikenal dua pendekatan, yaitu pedagogis dan andragogis. Menurutnya, penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam pelatihan ini menggunakan metode andragogis, yakni metode pembelajaran bagi orang dewasa di mana setiap peserta didorong untuk mencari dan merumuskan sendiri pemahamannya.

“Semua peserta yang mengikuti sudah membawa ilmu masing-masing, tetapi ilmu-ilmu itu belum membentuk satu kesatuan. Yang merumuskan adalah diri sendiri, dan dari situlah akan terbangun kesadaran secara pribadi tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama,” Uelasnya.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Nasrudin Rahmat, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan yang diinisiasi oleh LP2M tersebut. Ia menegaskan bahwa esensi moderasi beragama bukan terletak pada upaya memoderatkan agama, melainkan memoderatkan cara pandang umatnya.

“Moderasi agama ini bukan kita memoderatkan agamanya, tetapi memoderatkan umatnya untuk menjaga kemoderatan terutama di UIN Gusdur. Harapannya acara ini tidak berhenti pada kegiatan saja, tetapi peserta juga bisa mengamalkan. Selanjutnya perlu adanya follow up praktik bagaimana moderasi beragama di masyarakat,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, pihak penyelenggara berharap nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar terinternalisasi dan diamalkan oleh sivitas akademika dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Menggagas Nilai Kemanusiaan sebagai Upaya Mencegah Konflik PWI-LS dan FPI di Pemalang

Penulis: Muhammad Jazim Nur, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Beberapa yang lalu, terjadi konflik antara dua organisasi Islam yaitu PWI-LS (Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah) dan FPI (Front Pembela Islam). Konflik ini terjadi pada tanggal 23 Juli 2025 di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Pemalang. Peristiwa ini berlangsung ketika pengajian yang dihadiri oleh Habib Rizieq Shihab sebagai pembicara.

Sekitar pukul sebelas malam, keributan mulai membuncah di area sekitar acara hingga menimbulkan kekerasan fisik. Akibatnya, belasan orang mengalami luka-luka, termasuk pihak kepolisian yang mencoba melerai kegaduhan. Konflik ini terjadi bukan tanpa sebab, tetapi ada beberapa hal yang memicu konflik yaitu ketegangan lama antara dua organisai tersebut.

Adanya penolakan dari pihak PWI-LS terhadap Habib Rizieq, dan timbulnya perbedaan pandangan terkait ideologi dan keagamaan antara dua organisasi tersebut. Faktor lain juga datang dari kesalahpahaman di lapangan dan komunikasi yang kurang terbuka dari pihak panitia. Hal itu membuat beberapa orang tersulut amarah yang kemudian memicu konflik yang lebih besar. Peristiwa tersebut sedikit melenceng dari krakteristik bangsa Indonesia di mana penduduknya bersifat majemuk (plural).

Baca juga: Mayoritarianisme: Akar Konflik Klasik Pendirian Rumah Ibadah di Indonesia

Bangsa yang di dalamnya memiliki bermacam pandangan dan cara beragama yang beragam, bagaimana bisa dengan adanya perbedaan itu justru sering berujung pada kebencian, padahal hal yang paling dasar dalam beragama adalah kasih sayang. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian terhadap sesama manusia. Maka dari itu, refleksi setiap pribadi sangat diperlukan, merenungi bahwa masih adakah rasa kemanusiaan di hati ketika kita terlalu sibuk untuk membela kelompok sendiri.

Nilai kemanusiaan bukan hanya tentang kita menolong orang lain, tetapi nilai kemanusiaan adalah bagaimana pandangan kita terhadap manusia itu sendiri. Jika kita masi memandang orang dari kelompok, pakaian, atau ideologinya, maka kita belum sepenuhnya manusiawi. Satu hal yang dikhawatirkan jika konflik ini semakin panjang tanpa adanya penyelesaian adalah hilangnya kemampuan untuk berempati kepada orang lain.

Sikap terbiasa membela orang dari pihak tertentu inilah yang menumbuhkan berbagai pembenaran agar tidak mendengarkan alasan pihak lain, padahal nilai kemanusiaan sendiri menuntut sesorang untuk memahami, bukan membenci. Banyak orang yang berbicara tentang kemanusiaan tanpa benar-benar mempraktikkannya. Ketika ada perbedaan pandangan maka mudah saja seseorang tersulut amarah, dan saat sebuah kelompok merasa paling benar maka disitulah lunturnya nilai kemanusiaaan.

Baca juga: Literasi Damai Generasi Alpha: Memutus Rantai Kekerasan Sejak Dini

Mencegah sebuah konflik bukan hanya peran dari aparat keamanan tetapi ini merupakan tanggung jawab semua orang sebagai bangsa yang beradab, jangan sampai membela kebenaran yang tidak pasti sehingga berbalik menodai nilai kemanusiaan itu sendiri. Sejatinya kebenaran tidak tumbuh di atas luka orang lain.

Sebagai bangsa yang mempunyai ragam perbedaan, seharusnya kita belajar dari setiap konflik yang terjadi di Indonesia. Konflik di Pemalang merupakan salah satu contoh kecil dari persoalan yang terjadi karena mengedepankan ego dan kurangnya komunikasi kedua belah pihak. Jika tidak mengatasi dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka berbagai konflik serupa akan terulang kembali.

Maka dari itu, perlunya membangun sikap mengalah dan menurunkan ego, sekaligus mengedepankan rasa empati sebagai upaya pencegahan akan adanya konflik yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi penting dalam setiap tindakan agar tidak ada kelompok yang merasa lebih tinggi daripada yang lainnya.

Baca juga: Memetik Pelajaran dari Konflik Pulau Rempang

Kemanusiaan menempatkan setiap orang pada posisi yang sama karena ia berhak didengar pendapatnya dan diperlakukan secara adil. Jika prinsip ini dijalankan, konflik dapat diredam bahkan sebelum membara. Kita juga perlu mengingat bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun, ia hanya akan menimbulkan kebencian baru.

Pentingnya nilai kemanusiaan adalah mengajarkan kita untuk saling memahami. Memahami lawan bukan berarti kalah, melainkan memilih jalan yang lebih bijak. Karena yang kita lawan adalah ego dan prasangka buruk, kita harus menghadapinya dengan cara menurunkan ego dan menyatukan pendapat. Masyarakat Pemalang dan seluruh Indonesia dapat belajar menyalurkan perbedaan pendapat tersebut dengan cara yang lebih beradab.