UIN Mataram Gandeng Jaringan Gusdurian Gelar Seminar Nasional: “Merawat Bumi, Merajut Harmoni”

Pewarta : Baidawi, Editor : Fajri Muarrikh

Mataram – Dalam rangka mempersiapkan Bali Interfaith Movement (BIM), Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar seminar nasional bertajuk “Merawat Bumi, Merajut Harmoni: Semangat Deklarasi Istiqlal Menuju Bali Interfaith Movement” di Auditorium Kampus II UIN Mataram, Kota Mataram, NTB, pada Senin ( 9/12).

Acara ini terselenggara atas kerja sama antara UIN Mataram, Jaringan GUSDURian, Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Mataram.

Seminar ini dihadiri oleh 500 orang peserta yg merupakan perwakilan Mahasiswa, Komunitas Gusdurian. Pondok Pesantren, dan tokoh lintas agama,

Acara ini menghadirkan Rektor UIN Mataram Prof. Dr. Masnun, M,Ag sebagai Keynote Speech dan juga menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Rektor IAHN Gde Pudja Mataram I Wayan Wirate, Pembina RMB UIN Mataram Prof. Suprapto, Dosen UIN Sunan Kajiaga Yogyakarta Dr. Fahruddin Faiz, dam Pengasuh Pesantren Budaya Daar Al-Mudhaffar Paox Iben Mudhaffar. Acara ini dipandu oleh Dosen UIN Mataram Erma Suriani sebagai moderator.

Baca juga : Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Dalam pidatonya, Masnun mengungkapkan bahwa “Merawat Bumi, Merajut Harmoni, semangat deklarasi istiqlal menuju Bali interfaith movement, merupaka tema seminar kita kali ini,” terang Rektor UIN Mataram tersebut.

Memasuki sesi talkshow, I Wayan Wirate menyebut bahwa ajaran kitab suci bertujuan untuk menyebarkan kedamaian kepada seluruh umat.

“Dalam konteks moderasi beragama, konflik sering terjadi akibat pemahaman agama kita yang belum sempurna, oleh sebab itu kita harus memiliki komitmen untuk memahami ajaran dan doktrin agama sehingga mampu mewujudkan sikap dan perilaku rendah hati,” papar Wayan.

Sejalan dengan itu, Fahruddin Faiz mengatakan bahwa sikap egoisme merupakan problem utama penyebab terjadinya ketidakharmonisan.

“problem kita sekarang ini adalah, banyak orang yang menganggap negara ini adalah beban, dan agama merupakan sumber masalah,” ungkapnya.

Baca juga : Rakerwil Gusdurian Jateng-DIY: Dorong Penggerak Komunitas dan Masyarakat Sipil guna Perkuat Kualitas Demokrasi

Sementara itu, Suprapto mengungkapkan bahwa problem kemanusiaan global berupa Konflik kekerasan dan perang harus bisa diselesaikan oleh Agama.

“stop dehumanisasi dan kerusakan alam, sehingga konservasi lingkungan harus menjadi topik-topik yang  digaungkan oleh seluruh pemuka agama,” terangnya.

Terakhir, Paox Iben Mudhaffar menyebut bahwa  “Bumi ini cukup untuk seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk satu manusia serakah.

“keserakahan bisa menggunakan tabir agama sehingga banyak menimbulkan konflik,” jelas pria yang akrab disapa Paox tersebut.

Acara ini dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan diakhiri dengan Doa. Pengunjung yang berjumlah Ratusan, dari kalangan mahasiswa, dosen, pegiat moderasi lintas agama juga terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dalam acara ini. Harapannya, acara ini dapat memberi sumbangsih pemikiran dan komitmen pada terciptanya harmoni manusia dan alam, serta menjadi langkah awal untuk menyambut Bali Interfaith Movement yang akan diadakan pada tanggal 14 dan 15 Desember 2024 mendatang.

Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Penulis: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan – Dalam rangka persiapan menuju acara ‘Bali Interfaith Movement’ yang akan diselenggarakan pada 13-15 Desember di Bali, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggandeng Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar PreEvent Bali Interfaith Movement dengan konsep focus group discussion (FGD) yang mengusung tema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan.’

Acara Pre-Event Bali Interfaith Movement (Pre-BIM) diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2024, yang bertempat di meeting room Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Gusdur Pekalongan. Kegiatan  ini diikuti sebanyak 30 peserta yang dihadiri oleh dosen atau akademisi, aktivis peduli lingkungan, berbagai tokoh agama, dan pihak pemerintahan, khususnya Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Pekalongan, serta komunitas Gusdurian.

Dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Maghfur, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN KH. Abdurrahman Wahid, Pdt. Dwi Argo Mursito, Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan, dan KH. Marzuki Wahid dari Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, kegiatan ini di isi dengan diskusi yang membahas mengenai bagaimana peran masyarakat, khusunya pemeluk agama dalam menanggapi isu dehumanisasi dan krisis lingkungan.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Gusdur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustakim menekankan kepada peserta agar mengeluarkan segala pemikirannya terkait kemanusiaan dan lingkungan.

“Kita diminta untuk membahasa kelanjutan Istiqlal Declaration, Saya berharap kita bisa memberikan kontribusi dan pemikiran terkait lingkungan,” ungkap Prof. Zaenal.

Selain itu, Prof. Zaenal juga menyampaikan bahwa kerusakan alam sudah terjadi semenjak 1998. Merusak alam sebenarnya tidak boleh, namun pada tahun tersebut mulai terjadi penebangan hutan yang masif.

“Saat ini semakin hari jumlah hutan semakin berkurang,” tambahnya.

Beliau mengajak para peserta FGD untuk mengkampanyekan pentingnya menanam pohon, bukan malah merusaknya.

“Saya melihat, di negara eropa, di negara-negara maju seperti Jepang sangat peduli lingkungan, tumbuhan, taman benar-benar disayang.” Oleh karena itu, beliau akan menerapkan gerakan satu mahasiswa, satu pohon di lingkungan kampus UIN Gusdur. “Kedepan saya ingin setiap mahasiswa menanam pohon dan ada data nama, prodi, fakultas dan untuk merawatnya samapai mereka lulus. Ini akan menjadi cara merawat bumi kita di lingkunagn UIN Gus Dur pekalongan,” imbuh Prof. Zaenal.

Prof. Zaenal juga berharap, dari pertemuan diskusi ini, bisa melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang baik terkait isu kemanusiaan dan lingkungan yang nantinya akan dibawa di BIM pada 13, 14, dan 15 Desember 2024 di Bali.

KKN Kelompok 40 Desa Kaligawe Gelar Lomba Duta Moderasi Beragama, Tingkatkan Toleransi Antar Agama

Pewarta : Ainnur khafidah, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) Kelompok 40 Angkatan 60 mengadakan kegiatan lomba duta moderasi beragama yang dilaksanakan di Balai Desa Kaligawe pada Minggu (24/11/2024).

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan dan memperdalam nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda di desa tersebut, khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat yang beragama.

Lomba ini diikuti oleh remaja desa yang menunjukkan antusiasme tinggi dengan mempersiapkan diri untuk tampil di depan umum. Mereka dengan semangat menyampaikan pidato yang bertemakan “Membangun Generasi Muda Yang Moderat, Toleran, dan Beragama”, sebuah tema yang sangat relevan untuk membangun kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman agama dan budaya. Dalam pidatonya, para peserta mengungkapkan pandangan mereka mengenai pentingnya prinsip moderasi beragama, yang tidak hanya menekankan sikap toleransi, tetapi juga pada saling pengertian, penghargaan terhadap perbedaan, serta menjaga keharmonisan antar umat beragama.

Baca juga : Peran Dosen dalam Transformasi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi Beragama

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Desa Kaligawe, yang penduduknya terdiri dari beragam latar belakang agama, baik Islam maupun Kristen, menjadi contoh yang baik bagi pentingnya penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat yang pluralistik seperti ini, penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa perbedaan bukanlah halangan, tetapi justru bisa menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.

Selama lomba berlangsung, peserta memberikan penampilan terbaik mereka dengan menunjukkan keahlian berbicara di depan umum. Mereka juga memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi pemikiran dan gagasan tentang bagaimana membangun kehidupan yang lebih inklusif dan penuh toleransi. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menggali potensi remaja dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan berbicara di depan publik, yang sangat penting bagi pembangunan karakter mereka di masa depan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh masyarakat setempat yang datang untuk menyaksikan acara ini secara langsung. Dalam sambutannya, Koordinator Desa Marwan Murtadho, mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman tentang bagaimana seharusnya umat beragama hidup berdampingan dalam kedamaian. Ia juga menekankan pentingnya menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama, apapun latar belakang agama dan kepercayaan mereka. Ia berharap, kegiatan ini bukan hanya menjadi acara sesaat, tetapi bisa berlanjut di masa depan untuk terus memperkuat semangat moderasi beragama di kalangan remaja desa Kaligawe.

Baca juga : Moderasi Beragama: Kunci Menjaga Kerukunan di Desa Pekiringan Ageng

Dewan juri yang terdiri dari mahasiswa KKN UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan bertugas untuk menilai peserta berdasarkan beberapa aspek, antara lain isi pidato, kemampuan berbicara, serta pemahaman mendalam terhadap konsep moderasi beragama. Penilaian ini tidak hanya bertujuan untuk memilih pemenang, tetapi juga untuk memberikan feedback konstruktif bagi para peserta, agar mereka semakin sadar akan pentingnya peran mereka dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Juri memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan para peserta dalam menyampaikan pesan-pesan yang positif mengenai kehidupan berdampingan antar umat beragama dengan saling menghargai dan mengedepankan nilai-nilai persaudaraan.

Dengan diselenggarakannya acara lomba duta moderasi beragama ini, diharapkan para remaja desa Kaligawe dapat menjadi duta-duta moderasi beragama yang tidak hanya memahami pentingnya toleransi, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih jauh lagi, diharapkan kegiatan semacam ini dapat menjadi model bagi desa-desa lain untuk menyelenggarakan acara serupa dalam rangka memperkuat kohesi sosial dan memperkokoh persatuan di tengah keberagaman yang ada.

Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sukses berkat kerjasama yang baik antara mahasiswa KKN, masyarakat desa Kaligawe, dan pihak-pihak terkait. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang moderat, toleran, dan damai.

Pihak Mitra Teken Kerjasama Sponsporship Program Labelisasi Halal UIN Gusdur Pekalongan

Pewarta: Izza, Editor: Sirli Amry

Sabtu, 16 November 2024 – Pihak Mitra Program Pemberdayaan Masyarakat Sertifikasi Halal di Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan yaitu LAZISNU Kecamatan Buaran telah menandatangani kerja sama Sponsporship. Kegiatan ini di wakili oleh Ketua LAZISNU, Bapak Midkholul Huda, S.E, Sekretaris LAZISNU, Bapak Bahrul Muttaqin dan disaksikan oleh Ketua Lembaga Perekonoman NU Kecamatan, Bapak Fatoni. Dalam sambutannya, Ketua LAZISNU Buaran menyambut baik kegiatan Sertifikasi Halal tersebut karena kegiatan ini sejalan dengan program pentasarufan LAZISNU kepada UMKM agar produk UMKM semakin berkualitas.

Ia menjelaskan sebetulnya masih banyak UMKM di kecamatan Buaran yang membutuhkan Sertifikasi Halal, Seperti desa di Daerah Kertijayan, Wonoyoso, dan Sapugarut yang memiliki cukup banyak UMKM terutama Desa Sapugarut yang dekat dengan pasar. Menurutnya kemitraan ini sebetulnya punya keterkaitan dengan pihak lain di lingkungan Nahdlatul Ulama Kecamatan Buaran yaitu keterkaitan dengan Lembaga Perekonomian  Nahdlatul Ulama termasuk dengan Induk organisasinya yakni Majlis Wakil Cabang (MWC). Agar semakin sinergi maka pihaknya mengumpulkan perwakilan dari Ketua Majlis Cabang dan Ketua Lembaga Perekonomian NU Buaran.

Baca Juga : Membentuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas: Tiga Universitas Islam Adakan Seminar dan Tanda Tangani MoU

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa jumlah peserta UMKM yang akan memperoleh sertifikasi Halal yaitu ada 16 UMKM. Seluruh UMKM tersebut saat ini masih dalam assessment oleh Pendamping yaitu Bapak Amru Faisal yang berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN Angkatan 60 Kelompok 42 di Simbangkulon. UMKM yang telah di assessment oleh Tim pada hari tersebut berjumlah 8 UMKM. Kemudian assessment dilanjutkan pada Hari Ahad yang juga sejumlah 8 UMKM. Kordinator Desa KKN  Simbangkulon, Nafid, mengaku siap melaksanakan assessment bersama kawan-kawannya dan akan mendampingi kegiatan hingga selesai Sertifikasi Halal turun.

Melalui musyawarah tersebut, disampaikan bahwa LAZISNU kecamatan Buaran bersedia memberikan kontribusi sponsporship kegiatan Sertifikasi Halal. LAZISNU ingin mengupayakan agar jumlah sponsporhip dapat maksimal sejumlah data UMKM yang telah di assessment. Namun, berhubung adanya berbagai hal serta memang harus berbagi dengan program sosial yang lain, maka LAZISNU akan memberi sponsporship yang proporsional. Hal ini karena ruang lingkup program LAZISNU idak hanya terbuka pada UMKM saja, melainkan program sosial dan lingkungan, ujar Ketua LAZISNU. Insya Allah pertemuan ini telah menjadi kesepahaman bersama bahwa kemitraan LAZISNU dengan program kegiatan KKN di Simbangkulon telah disepakati.

Baca Juga : Dialog Interaktif Membentuk Kesepakatan Toleransi Agama dan Kepercayaan: Menuju Kampung Moderasi Beragama di Desa Kutorojo

Sebagai akhir dalam pertemuan tersebut, masing-masing pihak menandatangani surat kesepahaman bersama dari LAIZSNU yang diwakili oleh Ust Midkholul Huda, S.E (Ketua) dan Bapak Bahrul Muttaqin (Sekretaris). Sementara dari Pihak Majlis Wakil Cabang (MWC) diwakili oleh Ketua Tanfidz, Ustadz Isbiq dan disaksikan oleh Petugas LAZISNU, Ust Sajidin serta Lembaga Perekonomian NU, Bapak  Ust. Fatoni. Sementara dari pihak UIN Gusdur di wakili oleh Muh Izza selaku Pembimbing KKN sekaligus pihak pelaksana kegiatan. Menurut kesepakatan serah terima hasil Sertifikasi Halal untuk UMKM ini akan dilaksanakan di Masjid Annur Desa Kertijayan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Terkait waktu dan pelaksanaannya menunggu informasi dari Pendamping BPJPH setelah sertifikat Sertifikasi Halal UMKM keluar.

Pelajari Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi: Mahasiswa KKN UIN Gus Dur kelompok 22 Kunjungi Paguyuban P4S Eka Muncul Baru

Pewarta : Rifa Aprila Durrotul Aisy, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kelompok 22 mengunjungi Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Eka Muncul Baru di Kelurahan Degayu Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan biogas dari kotoran sapi sebagai salah satu upaya pemanfaatan limbah peternakan yang ramah lingkungan.

Paguyuban Eka Muncul Baru digerakkan oleh kelompok masyarakat di Kelurahan Degayu yang di pimpinan oleh Bapak Gofar Setoyo. Dengan menggunakan kotoran sapi sebagai bahan utama, biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi salah satunya untuk kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut ini dinilai efektif untuk mengurangi polusi serta mengubah limbah ternak menjadi sumber energi yang murah.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN mendapatkan penjelasan langsung dari ketua paguyuban mengenai proses pembuatan biogas, mulai dari pengumpulan kotoran sapi dan proses fermentasi. Selain itu, mahasiswa KKN juga diberikan kesempatan untuk melihat dan praktek secara langsung beberapa tahapan dari proses pembuatan biogas tersebut.

Baca juga : Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

Gofar Setoyo mengungkapkan bahwa biogas memiliki manfaat diantaranya untuk kebutuhan rumah tangga dan pupuk organik, “Biogas dari kotoran sapi ini sangat membantu kami untuk mengurangi penggunaan gas LPG. Selain itu, sisa fermentasi biogas ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman,” ungkapnya.

Ketua KKN kelompok 22 menambahkan bahwa kunjungan ini sejalan dengan nilai-nilai islam. dengan konsep biogas ini mencerminkan ajaran Islam tentang menjaga keseimbangan alam, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia (QS. Ali Imran: 191).
“Kotoran sapi yang mungkin dianggap limbah, dengan teknik dan inovasi biogas ini, dapat menjadi manfaat besar bagi masyarakat sekitar,” ujar Gilang Sukma.

Dari kunjungan tersebut mahasiswa KKN mendapatkan banyak wawasan serta ilmu baru mengenai energi ramah lingkungan. Selain itu, mahasiswa KKN juga diajak berkontribusi dalam mensukseskan perlombaan yang akan diikuti oleh Paguyuban Eka Muncul Baru.

Pengenalan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Mahasiswa KKN 60 UIN Gusdur Ajak Anak PAUD KB Anggrek Landungsari untuk Belajar Mengolah Sampah

Pewarta : Shulkha Kamilia, Editor : Kharisma Shafrani

Pekalongan – Sebagai wujud kepedulian terhadap sampah, mahasiswa KKN 60 kelompok 14 UIN Gus Dur Pekalongan mengajak anak PAUD KB Anggrek Landungsari untuk belajar mengenali sampah. Mereka diajarkan bagaimana cara memilah sampah yang baik. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (15/10/24).

Kegiatan dengan tema “Cintai Kebersihan dan Kesehatan Sejak Dini” yang dihadiri kurang lebih 60 anak itu di sambut secara antusias. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak belajar mengelompokan sampah organik dan anorganik serta bagaimana pengolahan sampah menjadi kerajinan yang bermanfaat. Kerajinan yang dibuat yakni kotak pensil dan hiasan dinding dari sedotan bekas dan koran bekas.

Selain mengajarkan tentang sampah, mahasiswa KKN 60 UIN Gus Dur Pekalongan juga mengajak anak – anak untuk melakukan cuci tangan yang baik dan benar sesuai dengan 6 langkah.

Baca juga : Mahasiswa KKN 60 Kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam Kegiatan Sosialisasi Tong Sampah Organik dan An-Organik

Penerapan hidup bersih dan sehat juga tertuang dalam hadis tentang kebersihan yakni النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ yang artinya kebersihan adalah sebagian dari iman.

Adanya kegiatan tersebut juga mendapat sambutan hangat dari guru PAUD KB Anggrek.

“Alhamdulillah untuk kegiatan hari ini saya melihat antusias dari anak-anak ini banyak yang penasaran ya tentunya” ujar Bunda Yanti.

“Dari anak satu dan yang lainnya itu alhamdulillah jadi bisa membedakan mana yang harus masuk ke organik dan mana yang harus masuk anorganik. Hasil tadi, sampahnya sudah terkumpul, akhirnya bisa memunculkan suatu ide dari sampah untuk dibuat kerajinan yang mana kerajinan ini bermanfaat, satu bisa untuk keterampilan kemudian mengajari anak untuk sabar bisa mengantri satu satu untuk cuci tangan kemudian anak anak bisa berkreasi” lanjutnya.

Mahasiswa KKN berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat kepada anak-anak agar ke depannya dapat mengenal sampah dan cara cuci tangan yang baik dan benar sesuai dengan 6 langkah.

Tingkatkan Kesadaran Pola Makan Sehat: KKN 60 UIN Gus Dur kelompok 22 Gelar Sosialisasi Gizi Seimbang pada Anak

Pewarta : Rifa Aprila Durrotul Aisy, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pola makan sehat di kalangan anak-anak, mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kelompok 22 mengadakan kegiatan sosialisasi gizi seimbang di MI 02 Kelurahan Degayu. (13/11).

Kegiatan sosialisasi diikuti oleh siswa kelas satu MI 02 Degayu yang berjumlah 30 siswa. Sosialisasi ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti pemaparan materi gizi seimbang, menonton animasi terkait gizi seimbang, mengelompokkan jenis makanan menggunakan alat peraga, serta bernyanyi dan makan buah bersama. Dalam pemaparannya, mahasiswa KKN menjelaskan empat pilar gizi seimbang, yaitu pentingnya konsumsi beragam makanan, pola hidup bersih, aktivitas fisik yang cukup, dan menjaga berat badan secara berkala.

Diadakannya sosialisasi gizi seimbang pada anak ini, untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan mereka. Dengan memahami gizi seimbang, anak-anak dapat belajar memilih makanan yang baik untuk tubuh mereka, seperti makan sayur, buah, protein, dan karbohidrat dalam porsi yang tepat. Hal ini untuk membantu mencegah kekurangan gizi atau obesitas pada anak, sehingga tubuh mereka dapat berkembang dengan optimal.

Baca juga : Angka Harapan Hidup Tertinggi di Dunia Didominasi Negara-Negara Maju: Perspektif Islam dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kesehatan

Gilang Sukma selaku koordinator desa kelompok 22 Kelurahan Degayu mengungkapkan bahwa kegiatan ini sebagai wujud penerapan dari surat Al-A’raf ayat 31 yang mana Allah SWT memerintahkan kita untuk makan dan minum yang cukup dan juga tidak berlebihan. Hal ini juga sebagai langkah awal untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sejak dini mengenai pentingnya gizi seimbang.
“Kami melihat bahwa edukasi gizi seimbang untuk anak-anak sangat penting, khususnya di masa pertumbuhan. Anak-anak perlu dibiasakan sejak dini untuk memilih makanan sehat dan cukup agar pertumbuhannya maksimal,” ujarnya.

Mahasiswa KKN UIN Gus Dur kelompok 22 berharap dengan kegiatan sosialisasi ini, sebagai langkah awal untuk memahami pentingnya gizi seimbang pada tumbuh kembang anak. Anak-anak juga dapat lebih memahami pentingnya makanan sehat dan mulai menerapkan pola makan yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa KKN 60 Kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam Kegiatan Sosialisasi Tong Sampah Organik dan An-Organik

Penulis: Syifana Firda Adelia dan Nilna Farida; Editor : Ika Amiliya

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 60 kelompok 12 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) melakukan sosialisasi tong sampah organik dan an-organik. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis (07/11/2024).

Sosialisasi tong sampah ini merupakan rangkaian dari Lomba Kelurahan Pelangi. Target desa yang dipilih sebagai perwakilan Lomba Kelurahan Pelangi ini adalah RT 06 RW 06 Kelurahan Kuripan Yosorejo. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada warga setempat agar membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah organik dan an-organik guna menjaga kebersihan lingkungan.

Dalam Islam juga diajarkan, bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari iman dan pangkal kesehatan. Dalam al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 56 Allah berfirman “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa KKN angkatan 60 kelompok 12 UIN Gus Dur Pekalongan, yang dibuka oleh Asih, Ketua RW 06 sekaligus tuan rumah kegiatan sosialisasi. Asih membuka kegiatan dengan memberikan sambutan dan penjelasan mengenai konsep Lomba Kelurahan Pelangi.

“Kelurahan pelangi adalah perlombaan RT/RW dengan fokus pengelolaan sampah,” ucap bu Asih.

Lebih lanjut, Asih berterima kasih kepada mahasiswa KKN angkatan 60 kelompok 12 yang telah membantu dalam hal sarana dan prasarana untuk menghias tong sampah menjadi lebih kreatid. Ia juga berharap dapat menjalin kerja sama dengan warga RT 06 RW 06 dan seluruh mahasiswa KKN.

Acara selanjutnya diisi pemaparan materi oleh Ahmad Muttawakkil selaku Kordes (Koordinator Desa) dan Nur Fatin Lu’luatus Solikha selaku Bendahara, dengan indikator materi terkait perbedaan sampah organik dan an-organik, manfaat dan tujuan dari pemilahan kedua sampah tersebut, serta konsep pelaksanaan penilaian dari lomba kelurahan pelangi.

Tujuan adanya materi tersebut yaitu untuk memberikan pemahaman kepada seluruh warga RT 06 RW 06 agar bisa membedakan kedua jenis sampah tersebut, serta maksimal dalam melakukan pemilahan sampah guna menyukseskan lomba Kelurahan Pelangi. Di sesi ini beberapa warga antusias bertanya mengenai konsep dari lomba Kelurahan Pelangi.

Kemudian setelah pemaparan materi, Sri Haryati selaku penanggung jawab dari Program Kerja Lomba Kelurahan Pelangi menambahkan pembentukan struktur kepengurusan Bank Sampah. Program Kerja ini dinamai Bank Sampah Mewah (Mepet Sawah) yang diusulkan oleh warga. Kegiatan ini ditutup oleh Sri Haryati dan diakhiri dengan foto bersama

 

KKN-60 UIN Gus Dur Sosialisasikan Pemilahan Sampah sebagai Wujud Tanggung Jawab Khalifah Fil Ardh

Pewarta : Adi Masyali Saidil Arif, Dkk. Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 60, kelompok 2 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menyelenggarakan kegiatan Lampah Sigab “Pemilahan Sampah dan Sistem Gotong Royong dengan Ecobrick untuk Alam Bersih” di MSI 14 Medono, pada Sabtu (9/11/24) dan Rabu (13/11/24).

Sebagai wujud penerapan konsep khalifah fil ardh, yang mengajarkan tanggung jawab manusia dalam merawat bumi, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya memilah  dan memanfaatkan sampah sehingga bernilai guna pada siswa-siswi sejak dini.

Melibatkan 52 siswa-siswi kelas 3, pelaksanaan kegiatan ini terbagi menjadi dua pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Sabtu (9/11/2024) dengan mengusung materi sosialisasi tentang pentingnya pemilahan sampah yang baik. Dalam kesempatan ini, mahasiswa KKN memberikan pemahaman mengenai jenis-jenis sampah serta cara yang tepat dalam memilah sampah untuk memudahkan proses pengelolaannya dengan fokus utama yaitu mengurangi sampah plastik yang kian menumpuk di lingkungan sekitar.

Baca juga : Ajak Santri Melestarikan Tradisi, Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Adakan Permainan Tradisional Pada Anak-Anak TPQ

Adapun pertemuan kedua dilaksanakan pada Rabu (13/11/2024) berfokus pada praktik langsung, yaitu siswa-siswi diberi kesempatan untuk langsung terlibat dalam pembuatan ecobrick yang merupakan sebuah teknik pemanfaatan sampah plastik dengan cara memasukkannya ke dalam botol plastik hingga padat. Ecobrick ini kemudian dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk berbagai keperluan, misalnya bahan bangunan seperti dinding, pagar, meja, kursi, ataupun hiasan taman.

Para siswa tampak antusias dalam mengikuti pelatihan pengelolaan sampah ini. Dalam pelatihan tersebut, siswa-siswi MSI 14 diajarkan praktik pembuatan pot bunga dan hiasan taman dari ecobrick. “Kami membimbing siswa-siswi MSI 14 dalam praktik ecobrick untuk membuat tiga pot bunga dan hiasan taman, yang nantinya akan memperindah taman sekolah,” ujar Maryani, penanggung jawab kegiatan Lampah Sigab.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak madrasah karena sejalan dengan tema pembelajaran siswa tentang daur ulang sampah. Menurut Wali Kelas 3 MSI 14 Medono, pemanfaatan sampah melalui metode ecobrick ini selaras dengan materi yang telah diajarkan di kelas.

Baca juga : Perkuat Kolaborasi, Arina Jejaring Himpun Pengelola Media Keislaman se-Indonesia agar Dakwah Digital Maksimal

“Kebetulan kegiatan ecobrick itu kan istilahnya pemanfaatan sampah. Itu bisa nyambung dengan tema kita, karena tema pembelajaran kita yang kemarin itu juga salah satunya daur ulang sampah. Walaupun sudah kami sampaikan, praktiknya kebetulan dari KKN juga mengangkat ecobrick atau sampah yang dimanfaatkan kembali sehingga tidak menjadi sampah yang terbuang begitu saja,” ujar Izza Arifiyani, S.Ag.

Selain itu, tim 2 KKN-60 UIN Gus Dur juga memberikan tempat sampah organik dan anorganik bagi madrasah dengan memanfaatkan galon air bekas, sebagai upaya mendukung kebiasaan siswa dalam memilah sampah sejak dini. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta generasi penerus bangsa yang lebih peduli terhadap lingkungan dan memiliki keterampilan untuk mengelola sampah secara efektif.

Mahasiwa KKN UIN Gus Dur Salurkan Alat Permainan Edukatif Sederhana ke TPQ An-Nur

Pewarta : Kharisma Shafrani, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Gus Dur Angkatan 60 Kelompok 39 Desa Banjarejo memberikan Alat Permainan Edukatif (APE) sederhana kepada santri TPQ An-Nur, Perumahan GPI Kajen pada Kamis (07/11/24).

Alat Permainan Edukatif merupakan alat permainan yang dirancang khusus untuk menstimulasi perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, APE diberikan kepada TPQ An-Nur berupa lembar pengenalan harakat pada santri jilid dua.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi santri jilid dasar dengan menghadirkan sarana bermain sambil belajar yang dapat mendukung perkembangan kognitif, motorik, serta sosial emosional anak-anak. Dengan metode APE, anak-anak dapat lebih mudah dan cepat paham dengan materi yang diajarkan.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Pembelajaran yang dilakukan cukup menarik antusias santri dalam belajar mengenai harakat. Mereka aktif mendengarkan dan bermain bersama dalam menyusun puzzle huruf hijaiyah dan harakat. Kegiatan ini tidak hanya membuat proses belajar menjadi menyenangkan, tetapi juga membantu santri dalam memahami dan menghafal harakat dengan cara yang interaktif.

Praktik permainan dilakukan dengan menempel kertas origami yang sudah diberi tulisan huruf hijaiyah yang harus dipasangkan dengan harakat. Santri harus memasangkan huruf hijaiyah dengan harakat agar sesuai dengan bacaan yang sudah tertera. Jika mereka benar dengan jawabannya, mereka akan mendapat bintang yang bisa ditukar dengan reward yang diberikan oleh Tim KKN Desa Banjarejo.

Baca juga : Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Metode APE dalam mengenal harakat ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman santri TPQ An-Nur terhadap dasar-dasar bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan dan mudah diingat. Melalui pendekatan ini, diharapkan santri semakin semangat belajar serta mampu menguasai materi harakat dengan lebih mudah.