Gandeng BPIP RI, PC ISNU Kabupaten Pekalongan Ajak Masyarakat Perkuat Semangat Moderasi Beragama

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pekalongan bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia selenggarakan Seminar Nasional Pancasila di Gedung Student Centre UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada Rabu, (18/06).

Seminar ini mengusung tema “Aktualisasi Nilai Ketuhanan dalam Kebangsaan: Menjaga Moderasi Beragama di Indonesia” yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengintegrasikan nilai-nilai Ketuhanan dengan semangat kebangsaan melalui praktik moderasi beragama.

Ketua PC ISNU Kabupaten Pekalongan Nasrudin menjelaskan alasan diangkatnya tema moderasi agama dalam seminar ini. Menurutnya, saat ini isu keberagaman seringkali rentan terhadap polarisasi dan konflik. Maka dari itu moderasi beragama menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa.

“Kami menyadari bahwa di tengah kompleksitas persoalan bangsa saat ini, isu keberagaman seringkali menjadi rentan terhadap polarisasi dan konflik. Moderasi beragama menjadi sangat urgen sebagai garda terdepan penjaga persatuan dan pilar keutuhan bangsa,” jelasnya.

Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya, mulai dari Kepala BPIP RI Yudian Wahyudi sebagai pembicara utama, serta beberapa pembicara seminar yaitu Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP RI Moh. Agus Najib, Ketua PW ISNU Provinsi Jawa Tengah Fakhruddin Aziz, Plt. Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Pekalongan Sri Lestari, dan Wakil Rektor III UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Shinta Dewi Rismawati.

Baca juga: Hari Buruh: Memaknai Keadilan Sosial dalam Bingkai Moderasi

Antusiasme peserta cukup tinggi dalam acara ini, di mana 500 peserta hadir dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, akademisi, tokoh agama, perwakilan organisasi masyarakat, hingga masyarakat umum.

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh penting mulai dari Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP RI Prakoso, Perwakilan Forkopimda Kabupaten Pekalongan, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan Baihaqi Anwar, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan Muslih Khudlori, Kepala Kemenag Kabupaten Pekalongan, Ketua MUI Kabupaten Pekalongan, dan Ketua FKUB Kabupaten Pekalongan.

Foto bersama pasca kegiatan Seminar Nasional Pancasila, 18/6 2025 (Doc. Humas UIN)

Lebih lanjut, Nasrudin berharap nilai-nilai luhur Pancasila dapat dipahami, diinternalisasikan,dan diamalkan dengan baik, serta PC ISNU Kabupaten Pekalongan dapat menjadi agen Pancasila sejati.

“Pertama, kami berharap nilai-nilai luhur Pancasila dapat semakin dipahami, diinternalisasi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya di Kabupaten Pekalongan. Kedua, kami ingin PC ISNU Kabupaten Pekalongan dan seluruh pengurusnya, termasuk PAC ISNU yang baru dilantik, dapat menjadi duta-duta dan agen-agen Pancasila sejati, yang mampu hadir sebagai solusi di tengah kompleksitas persoalan bangsa,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya Seminar Nasional Pancasila ini, PC ISNU Kabupaten Pekalongan bersama BPIP RI menunjukkan komitmen nyata dalam merawat semangat kebangsaan melalui penguatan moderasi beragama. Kehadiran berbagai tokoh dan elemen masyarakat dalam acara ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Sirli Amry

Bersama-sama kurangi risiko dan dampak banjir rob, Tim Sindikasi Media Hijratunaa tanam 200 bibit mangrove di Mulyo Asri, Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan pada Sabtu, (14/06).

Sebelum penanaman 200 mangrove berjenis Rhizopora mucronata, tim Sindikasi Media Hijratunaa juga belajar sekaligus praktik pembibitan 3 jenis mangrove, yaitu api-api (Avicenia marina), bakau merah (Rhizopora mucronata), dan pidada merah (Bruguera casiolaris).

Koordinator bagian pelaksana kegiatan, Tugiyo mengungkapkan, dari 2020 hingga saat ini, terdapat 500.000 pohon mangrove yang tumbuh di lahan seluas 25 hektare.

Baca Juga:  Kredit Emisi Karbon Solusi Indonesia Atasi Krisis Iklim?

“Banyak banget dari tahun 2020 mungkin sekitar 500.000, dan wilayah penanaman kami total luasan sekitar 25 hektare,” ujar Tugiyo yang akrab dipanggil Tayo.

Lebih lanjut, Tayo mengungkapkan, penanaman mangrove di Mulyorejo yang merupakan daerah rawan banjir dan rob ini berperan signifikan dalam menangani banjir dan rob di wilayah pesisir utara.

Berkat peran tersebut, beberapa lembaga dan komunitas turut bekerja sama dengan wisata Mulyo Asri dalam upaya melestarikan mangrove.

“Mangrove Mulyo Asri bekerja sama dengan beberapa dinas dan komunitas salah satunya PLN dan Bank Mandiri yang membantu memfasilitasi penanganan rob dan banjir dengan cara bekerja sama di bidang sosial dan lingkungan seperti melakukan penanaman dan memberikan bantuan pompa dan fasilitas pengembangan wisata desa,” jelasnya.

Baca Juga:  Mengelola Sampah di Pekalongan: Solusi atau Sekadar Sanksi?

Tim Sindikasi Media Hijratunaa berharap, pohon-pohon mangrove tersebut dapat menjadi benteng penahan banjir dan rob di wilayah pesisir utara Pekalongan, dan Desa Mulyorejo itu sendiri.

Lima Tahun Vakum, Umat Konghucu Kota Pekalongan Kembali Menggelar Peh Cun

Pewarta: Ika Amiliya Nurhidayah

Pekalongan – Umat Konghucu Kota Pekalongan kembali menggelar tradisi Peh Cun setelah vakum sejak 2019. Tahun ini, Peh Cun dan sedekah laut diselenggarakan di Pantai Pasir Kencana, Kota Pekalongan pada hari Sabtu, 31 Mei 2025.

Sekretaris Majelis Agama Khonguchu Indonesia (MAKIN) Herman Mulyanto menyatakan, perayaan Peh Cun 2020 hingga 2024 tidak terlaksana karena beberapa kendala, mulai dari pandemi Covid-19 hingga Pemilu.

“Tahun 2019 itu terakhir, terus 2020 kan ada covid, terus pembangunan di daerah sini (Pantai Pasir Kencana), (dan) penanganan rob. Sebenarnya acara ini mau kita laksanakan 2024, tapi lagi-lagi ada kendala pemilu, setelah 5 tahun kita vakum, kita mulai lagi tahun ini,” ujarnya.

Terdapat berbagai rangkaian acara dalam tradisi ini, mulai dari ritual sembanhyang oleh MAKIN yang diikuti oleh umat Konghucu dan persembahan sesaji kepada Qu Yuan, lomba mendirikan telur, serta pembakaran replika kapal.

Hermanto kembali menjelaskan filosofi pembakaran replika kapal untuk peringatan Peh Cun dan sedekah laut di Kota Pekalongan. Menurutnya, kapal merupakan simbol khas Kota Pekalongan sebagai wilayah dengan penghasil ikan.

“Kota Pekalongan ini kan terkenalnya batik dan ikan. Di samping kita merayakan Peh Cun, kita juga melakukan sedekah laut, nah yang kita maksud sedekah laut itu supaya perikanan Pekalongan bisa tambah naik,” jelasnya.

Acara ini turut dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai, serta aneka stand UMKM. Tidak hanya umat Konghucu, masyarakat dari berbagai agama juga turut antusias menyaksikan acara ini. Perayaan Peh Cun ini menjadi bukti bahwa tradisi tersebut tetap relevan dan mampu menjadi perekat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk sebagai bentuk implementasi Moderasi Beragama.

Baca juga:Ngaji Budaya: Ruang Bertemunya Tradisi Dan Moderasi Beragama Di Desa Jetaklengkong

*Foto: Dok.hijratunaa (31/05)

Dari Vatikan untuk Dunia, Robert Francis Prevost Resmi Terpilih Menjadi Paus Baru

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Fajri Muarrikh

Vatikan, hijratunaa.com – Kardinal Robert Francis Prevost resmi terpilih menjadi Paus baru pada Kamis, (08/05/2025). Kabar tersebut diumumkan oleh Kardinal Protodiakon Dominique Mamberti dari balkon Kapel Sistina di Roma, Italia.

Robert Francis Prevort (69), Kardinal asal Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini terpilih menjadi Paus ke-267 dalam konklaf tertutup yang berlangsung tiga putaran sejak Rabu, (07/05/2025) di Kapel Sistina, Vatikan. Konklaf ini dihadiri oleh 133 Kardinal dari sejumlah negara.

Dilansir dari CNN Indonesia, Prevost pernah menduduki beberapa jabatan sebelum terpilih menjadi Paus baru. Di antaranya sebagai Uskup Chiclayo di Peru pada 2015 hingga 2023, menjabat sebagai Uskup Agung Chicago, dan pernah pula menjabat di Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.

Dilansir dari kompas.com, Prevost memilih nama Leo XIV. Makna nama tersebut diungkapkan oleh Pakar Vatikan, Francois Mabille, bahwa selama dedikasinya, kemungkinan besar Prevost akan kembali mengangkat isu-isu sosial, termasuk dalam konteks baru seperti dampak kecerdasan buatan dan globalisasi yang tidak merata.

Setelah resmi terpilih, Prevost secara perdana diperkenalkan kepada publik di balkon Basilika Santo Petrus. Ribuan umat Katolik yang hadir di halaman Basilika Santo Petrus waktu setempat menyambut Paus Leo XIV dengan penuh suka cita.

Untuk kali pertama, Paus Leo XIV menyampaikan pesan kepada umat Katolik seluruh dunia.

“Salam, saudara-saudari. Ini adalah salam pertama dari Kristus yang bangkit. Semoga damai menyertai kalian. Ini adalah kedamaian dari Kristus yang bangkit,” ujarnya.

Diperkenalkannya Prevost sebagai Paus baru juga turut memberikan kabar bahagia bagi umat Katolik di seluruh dunia, karena video perkenalannya di Balkon Basilika Santo Petrus beredar di media sosial.

Sumber gambar: kompas.com

Paus Fransiskus, Sang Pejuang Kemanusiaan itu Telah Wafat

Oleh: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam NH

Pekalongan – Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sekaligus Kepala Negara Vatikan wafat pada Senin, 21 April 2025 dalam usia 88 tahun. Ia meninggal dunia di kediamannya, Casa Santa Marta, Vatikan.

Kabar duka diumumkan langsung oleh Kardinal Kevin Farrell selaku camerlengo Vatikan.

“Saudara-saudari terkasih, dengan dukacita yang mendalam saya harus mengumumkan wafatnya Bapa Suci kita, Fransiskus. Pada pukul 7.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Ia mengajarkan kita untuk menghayati nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, khususnya demi mereka yang paling miskin dan paling terpinggirkan. Dengan rasa syukur yang tak terhingga atas teladannya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami serahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih yang tak terbatas dan penuh belas kasihan dari Allah Tritunggal Mahakudus.” ujar Farrel, dilansir dari Vatikan News.

Paus Fransiskus dikenal sebagai orang yang tak pernah lelah dalam membela kemanusiaan. Menurut Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam tulisannya di Harian Kompas (1/092024), Paus Fransiskus sangat gencar menyuarakan berbagai hal yang dia pandang penting untuk membangun peradaban yang lebih baik, dengan keberpihakan yang kuat kepada kelompok lemah dan terpinggirkan.

Pada khotbah Natal (25/12/2024) waktu setempat, Paus Fransiskus pernah menyerukan agar “senjata harus diredam” di seluruh dunia, dan ia pun mendoakan untuk kedamaian yang ada di Timur Tengah, Ukraina, dan Sudan.

Baca juga: Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

“Saya memikirkan komunitas Kristen di Israel dan Palestina, khususnya di Gaza, di mana situasi kemanusiaannya sangat buruk,” ucap Paus Fransiskus di hadapan ribuan jemaat yang berkumpul di depan Basilika Santo Petrus untuk mendengarkan khotbah “Urbi et Orbi” yang ditujukan untuk Vatikan dan dunia.

“Semoga ada gencatan senjata, semoga para sandera dibebaskan dan bantuan diberikan kepada orang-orang yang kelelahan karena kelaparan dan karena perang,” cetusnya.

Selain itu, sebelum meninggal, ketika kondisinya baru saja membaik, ia pun menyerukan untuk genjatan senjata di Gaza. Pesan itu disampaikan Paus Fransiskus saat muncul di hadapan publik pada perayaan Paskah di balkon utama Basilika Santo Petrus.

Dalam pesan Paskah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa situasi di Gaza “dramatis dan menyedihkan”.

“Saya menyatakan kedekatan saya dengan penderitaan .. seluruh rakyat Israel dan rakyat Palestina,” kata pesan itu.

“Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata, membebaskan para sandera dan membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai,” katanya (20/4/2025).

*dilansir dari berbagai sumber

UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) dan Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia Lakukan Diskusi dan Kunjungan di Desa Wisata Moderasi Beragama Linggoasri

Pekalongan, 12-13 Februari 2024 – UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) bersama Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia mengadakan diskusi dan kunjungan di Desa Wisata Moderasi Beragama Linggoasri. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama di kalangan masyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Pusat International Office, Isriani Hardini, P. hD.

Acara dimulai dengan diskusi yang melibatkan tokoh agama Islam, Bapak Mustajirin Toyib, dan tokoh agama Hindu, Bapak Taswono. Diskusi ini dipandu oleh Syamsul Bakhri, Dosen UIN Gus Dur sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Desa Wisata Linggoasri. Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas pentingnya moderasi beragama dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Bapak Mustajirin Toyib menekankan bahwa moderasi beragama bukan hanya sekadar konsep, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak masyarakat untuk saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada. Sementara itu, Bapak Taswono menambahkan bahwa kerjasama antarumat beragama sangat penting untuk membangun masyarakat yang harmonis.

Kegiatan ini juga diisi dengan kunjungan ke berbagai lokasi di Desa Wisata Linggoasri, yang dikenal sebagai contoh nyata penerapan moderasi beragama. Para peserta diajak untuk melihat langsung bagaimana masyarakat setempat hidup berdampingan dengan damai meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.

Kegiatan lainnya adalah memotivasi siswa di SDN Linggoasri untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengejar cita-cita setinggi-tingginya. Kegiatan berikutnya adalah belajar membuat wayang dengan Mas Rizal, penatah wayang termuda di Pekalongan. Setelah itu, peserta mengunjungi Pura Kalingga Setya Dharma Linggoasri yang dipandu oleh Peradah (Pengurus Perkumpulan Pemuda Hindu) dan Bapak Taswono (pemangku agama Hindu). Kegiatan diakhiri dengan mengunjungi Masjid Kayu Linggoasri.

Selanjutnya, peserta mengunjungi Masjid Kayu Linggoasri yang dipandu oleh Ketua Ikatan Remaja Masjid, Mas Dwi, dan Bapak Toyib. Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Kebun Gizi dan Tanaman Hias Linggoasri yang dipandu oleh Bapak Fadholi. Kegiatan terakhir adalah bermain paintball yang bertempat di Bumi Perkemahan Linggoasri, dipandu oleh Bapak Hari.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kerjasama yang lebih erat antara UIN Gus Dur dan USAS Malaysia, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Linggoasri dalam upaya memperkuat moderasi beragama.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama, serta menjadikan Desa Wisata Linggoasri sebagai contoh bagi daerah lain dalam menerapkan moderasi beragama.

Sahur Keliling 2025, Istri Gus Dur Ajak Masyarakat Kecil di Batang Tebarkan Kepedulian Sosial

Pewarta: Fajri Muarrikh, Editor: Najwa

Batang – Istri Gus Dur, Dr. (H.C.) Dra. Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum., atau yang akrab disapa Nyai Sinta, mengajak masyarakat kecil untuk tebarkan kepedulian sosial pada kesempatan sahur keliling tahun ini.

Acara sahur keliling yang diselenggarakan di masjid Darul Falah, Dusun Sidorejo, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, pada Kamis (6/03/2025) dini hari, disambut hangat oleh masyarakat sekitar. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 02.00 hingga 05.00 WIB ini diinisiasi oleh Yayasan Darul Falah yang bekerja sama dengan PCNU Batang dan Komunitas Gusdurian Batang/Pekalongan. Dengan dihadiri oleh berbagai tokoh agama, pejabat daerah, serta masyarakat sekitar, acara ini menjadi momentum kebersamaan lintas kalangan dalam suasana Ramadan yang penuh berkah.

Dalam moment ini, Nyai Sinta juga menyampaikan pentingnya memperkuat keimanan dan ketakwaan sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati. Ia juga menekankan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi dan menebarkan kepedulian sosial.

“Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mempererat silaturahim dan menebarkan kepedulian sosial,” ucapnya.

Baca juga: Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

Istri Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tersebut menjelaskan bahwa kegiatan sahur bersama telah rutin Beliau lakukan sejak masa hidup Gus Dur. “Kesempatan sahur seperti ini adalah saat yang tepat untuk mengetuk pintu langit karena kita berada di sepertiga malam terakhir,” ujarnya.

Saiful Huda Shodiq, selaku Pawang Jaringan GUSDURian sekaligus panitia pada acara ini, Ia menuturkan bahwa kesempatan sahur ini menjadi suatu kebetulan yang tak terduga.

“Jadwal kami pada 5 Maret berbuka puasa di Brebes dan 6 Maret di Semarang, sedangkan sahur 6 Maret masih kosong. Saat kami mengajukan kegiatan sahur keliling, ternyata diterima. Bagi kami, sahur keliling adalah bagian dari syiar Masjid Darul Falah yang baru aktif sejak Ramadan ini, setelah peletakan batu pertama pada Juni 2022,” Jelas Saiful.

Acara ini ditutup dengan pembacaan syiir Abu Nawas ‘Ilahilastulil Firdaus’ yang menjadi favorit Gus Dur, diikuti sesi foto bersama, dan diakhiri dengan salat Subuh berjamaah.

Baca juga: UIN Gus Dur Gelar Puncak Haul Gus Dur ke-15 Lewat Panggung Budaya

Munas IKA PMII: Nostalgia dan Langkah Menuju Kesuksesan

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E ( Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto), Editor: Sirli Amry

Jakarta – Ratusan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul dalam Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Alumni (IKA) PMII yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta. Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan sebagai mahasiswa dan merancang langkah menuju kesuksesan sebagai alumni. Selamat Munas, selamat bernostalgia, dan selamat menempuh fase-fase baru sebagai alumni yang sukses!

Munas IKA PMII kali ini mengingatkan kita pada masa-masa menjadi mahasiswa. Dulu, ada berbagai tipologi mahasiswa yang sering dibahas oleh pemateri kemahasiswaan. Salah satunya adalah mahasiswa “kupu-kupu”. Apa itu mahasiswa kupu-kupu? Kupu-kupu adalah singkatan dari “kuliah pulang-kuliah pulang”. Mahasiswa tipe ini hanya fokus pada aktivitas kuliah, datang ke kampus, duduk di kelas, mendengarkan dosen, lalu pulang. Begitu terus setiap hari selama empat tahun. Wah, pasti bosen, ya?

Selain mahasiswa kupu-kupu, ada juga mahasiswa akademis. Tipe mahasiswa ini sangat fokus pada nilai akademik. Baginya, yang penting adalah mendapatkan indeks prestasi (IP) setinggi mungkin. Padahal, nilai tertinggi hanya 4,0. Lucunya, saat ditanya orang tua, “Nak, kok nilaimu cuma 3,5?” Tentu kita semua berharap nilai mahasiswa selalu bagus. Namun, ada hal yang lebih penting dari sekadar IP/IPK tinggi, yaitu pengalaman di luar kelas.

Menjadi mahasiswa tidak hanya tentang duduk di kelas, mendapatkan nilai bagus, lalu pulang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar kelas, seperti mengikuti kegiatan organisasi. Organisasi mahasiswa terbagi menjadi dua, yaitu intra kampus (seperti BEM atau senat) dan ekstra kampus. Nah, mahasiswa yang aktif di organisasi ini disebut mahasiswa aktivis.

Potret Penulis, Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto
Potret Penulis, Dosen FEBI UIN Saizu Purwokerto

Mahasiswa aktivis adalah mereka yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif mengikuti kegiatan di luar kelas. Tujuannya adalah untuk menunjang progresivitas selama berkuliah. Dengan berorganisasi, mahasiswa bisa mengasah soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen waktu.

Salah satu organisasi ekstra kampus terbesar di Indonesia adalah PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). PMII adalah wadah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan diri, berkontribusi untuk masyarakat, dan memperdalam nilai-nilai keislaman. Bagi mahasiswa Gen Z yang ingin mencari pengalaman berharga, PMII adalah pilihan yang tepat.

PMII tidak hanya mengajarkan tentang keislaman, tetapi juga tentang kebangsaan dan keumatan. Organisasi ini telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Jadi, bagi yang penasaran, yuk gabung dengan PMII! Dijamin tidak akan menyesal.

Munas IKA PMII kali ini juga menjadi ajang untuk mengingatkan kembali pentingnya peran alumni dalam membina generasi penerus. Alumni PMII diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa saat ini, baik dalam hal akademik, organisasi, maupun pengabdian masyarakat.

Acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat jaringan antaralumni. Dengan semangat kebersamaan, alumni PMII diharapkan bisa saling mendukung dalam meraih kesuksesan, baik secara personal maupun kolektif.

Salam dari Munas IKA PMII, salam pergerakan! Mari terus bergerak, berkontribusi, dan menginspirasi. Untuk mahasiswa Gen Z, jangan ragu untuk bergabung dengan PMII. Bersama PMII, kita bisa menjadi generasi yang unggul, beriman, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

UIN Gus Dur Gelar Puncak Haul Gus Dur ke-15 Lewat Panggung Budaya

Pewarta : Ika Amiliya Nurhidayah, Editor : Amarul Hakim

Rangkaian peringatan Haul Gus Dur ke-15 telah mencapai puncaknya melalui pagelaran Panggung Budaya pada Kamis malam (13/02) di Student Center Kampus II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Haul kali ini bertajuk “Refleksi Jejak Pemikiran Gus Dur dalam Kebhinekaan” yang kemudian ditekankan oleh Rektor UIN Gus Dur Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag bahwa haul ini bukan sekedar untuk memperingati, namun juga meneladani sosok Gus Dur.

“Acara haul Gus Dur ini bukan hanya sebuah peringatan biasa untuk mengenang, tetapi lebih ke bagaimna nanti kita meneladani sosok yang luar biasa bernama K.H. Abdurrahman Wahid. Jangan hanya mengenang, tetapi harus bisa meneladaninya. Gus Dur itu bukan hanya tokoh, tetapi beliau adalah cahaya dalam kebhinekaan. Dengan kebijaksanaan dan keberanian nya beliau mengajarkan bahwa perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirayakan,” jelasnya.

Baca juga : Gus Dur: Pengaruh, Perspektif, dan Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Panggung Budaya ini turut dihadiri oleh putri sulung Gus Dur Alissa Wahid, sahabat Gus Dur Abah Kirun, murid Gus Dur Pdt. Martin Lukito Sinaga, imam Gereja Santo Yohanes Rasul Karanganyar Romo Fransiskus Asisi Teguh Santosa, pawang Jaringan Gusdurian Nasional Saiful Huda Shodiq, Rektor UIN Gus Dur Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dan Lintas Iman Pekalongan.

Acara dimulai dengan pertunjukan 150 pemain hadroh kolosal, dilanjut dengan pembacaan tahlil akbar yang dipimpin oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan K.H. Muslikh Khudlori, M.S.I., penampilan paduan suara kolaborasi UKM El-Fata dan Paduan Suara Gereja, tausiah kebangsaan oleh Alissa Wahid, dan wejangan oleh Kirun.

Alissa Wahid memulai tausiahnya dengan pembacaan puisi tentang Gus Dur yang bertajuk “Lelaki yang Tak Punya Mata.”

Lebih lanjut, Alissa menaruh harapan besar agar sosok Gus Dur tetap hidup di UIN Gus Dur sebagai universitas yang menyematkan nama ayahnya.

“Apalah arti tempat itu disematkan nama Gus Dur jika sosoknya tidak hidup di sana?” ujarnya.

Pendeta Dr. Martin Lukito Sinaga dalam sambutannya juga turut mengajak mahasiswa dan tokoh agama yang hadir saat itu untuk kembali kenang sosok Gus Dur.

Ia mengungkapkan bahwa Gus Dur layaknya jari-jemari Tuhan yang telah membuka hati dan pikirannya.

“Gus Dur itu seperti jari-jari Tuhan. Mengapa saya sebut begitu? Mengenang seorang K.H. Abdurrahman Wahid menurut saya seperti mengenang momen yang menentukan hidup saya, yang membuka hati saya, dan membuka pikiran saya,” ujarnya.

Baca juga : Toleransi Harmoni: Jejak Gus Dur dalam Merajut Kebhinekaan

Pendeta Martin juga berharap demokrasi yang sudah dibawa oleh Gus Dur tetap terjaga dan tidak akan pernah tumbang.

“Habibie dan Gus Dur yang membawa demokrasi kita take off, jangan sampai pesawat demokrasi kita nyusruk.”

Haul Gusdur ke-15, Gusdurian Pekalongan Usung Tema Agama untuk kemanusiaan dan Krisis Iklim

Pewarta: Ika Amiliya Nur Hidayah, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan, menggandeng para pegiat lingkungan, Komunitas GUSDURian Pekalongan mengadakan Haul Gus Dur ke-15 dengan tema “Agama untuk Kemanusiaan dan Krisis Iklim” di Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah pada Minggu, (26/01).

Acara ini dihadiri oleh berbagai pegiat lingkungan dari komunitas-komunitas di Pekalongan, termasuk Pimpinan Daerah Angkatan Muda Rifa’iyah Pekalongan, Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Pekalongan, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Pekalongan, Gerakan Peduli Anak Difabel (GPAD) Pekalongan, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Gus Dur Pekalongan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS NU Pekalongan, dan TPQ Assakinah Teman Tuli Kota Pekalongan.

Turut hadir juga tokoh agama Islam Gus Mahmud Mansur, budayawan Kota Pekalongan Ribut Achwandi, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pekalongan Nok Kholifah, perwakilan dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kota Pekalongan Faisal Latif, dan perwakilan dari Kolaborasi Aksi Gerakan Muda (Kobar) Pekalongan Bayu.

Baca juga: Sustainable Living: Tak Hanya Sebatas Tren

Acara dibuka dengan sambutan dari Fajri Muarrikh sebagai penggerak GUSDURian Pekalongan yang menyatakan tema kali ini muncul dari kekhawatiran masyarakat terhadap bencana yang belakangan ini melanda.

“Tema ini diangkat oleh jaringan GUSDURian pusat karena kekhawatiran bersama dan juga pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga alam, mengingat banyaknya bencana alam yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.

Pada acara inti, tiga narasumber membahas berbagai isu terkait krisis iklim. Menurut Kholifah, krisis iklim disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemanasan global, penumpukan sampah, emisi gas, dan pengelolaan sumber air tanah yang tidak bijak.

Narasumber Faisal menambahkan bahwa warga Kota Pekalongan perlu waspada setelah banjir bandang dan longsor melanda dataran tinggi Kabupaten Pekalongan, yang disebutnya sebagai Pekalongan lantai 2.

Baca juga: Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Perwakilan peserta, Fajar, turut menghidupkan diskusi dengan berbagi pengalamannya dalam mengelola maggot sebagai solusi cepat mengurai sampah organik dan bernilai jual sebagai pakan ternak.

Fajri berharap diskusi ini dapat meningkatkan kesadaran dan komitmen masyarakat untuk menjaga lingkungan.

“Harapan dari acara haul ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta komitmen bersama dan aksi nyata untuk merawat lingkungan, khususnya di Pekalongan.”