Mahasiwa KKN UIN Gus Dur Salurkan Alat Permainan Edukatif Sederhana ke TPQ An-Nur

Pewarta : Kharisma Shafrani, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Gus Dur Angkatan 60 Kelompok 39 Desa Banjarejo memberikan Alat Permainan Edukatif (APE) sederhana kepada santri TPQ An-Nur, Perumahan GPI Kajen pada Kamis (07/11/24).

Alat Permainan Edukatif merupakan alat permainan yang dirancang khusus untuk menstimulasi perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, APE diberikan kepada TPQ An-Nur berupa lembar pengenalan harakat pada santri jilid dua.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi santri jilid dasar dengan menghadirkan sarana bermain sambil belajar yang dapat mendukung perkembangan kognitif, motorik, serta sosial emosional anak-anak. Dengan metode APE, anak-anak dapat lebih mudah dan cepat paham dengan materi yang diajarkan.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Pembelajaran yang dilakukan cukup menarik antusias santri dalam belajar mengenai harakat. Mereka aktif mendengarkan dan bermain bersama dalam menyusun puzzle huruf hijaiyah dan harakat. Kegiatan ini tidak hanya membuat proses belajar menjadi menyenangkan, tetapi juga membantu santri dalam memahami dan menghafal harakat dengan cara yang interaktif.

Praktik permainan dilakukan dengan menempel kertas origami yang sudah diberi tulisan huruf hijaiyah yang harus dipasangkan dengan harakat. Santri harus memasangkan huruf hijaiyah dengan harakat agar sesuai dengan bacaan yang sudah tertera. Jika mereka benar dengan jawabannya, mereka akan mendapat bintang yang bisa ditukar dengan reward yang diberikan oleh Tim KKN Desa Banjarejo.

Baca juga : Coretan Inspiratif: Langkah Awal Pengenalan Pendidikan Abad 21 Melalui Kegiatan KKN UIN Gusdur di SDN 01 Kutorojo

Metode APE dalam mengenal harakat ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman santri TPQ An-Nur terhadap dasar-dasar bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan dan mudah diingat. Melalui pendekatan ini, diharapkan santri semakin semangat belajar serta mampu menguasai materi harakat dengan lebih mudah.

Ajak Santri Melestarikan Tradisi, Mahasiswa KKN UIN Gus Dur Adakan Permainan Tradisional Pada Anak-Anak TPQ

Penulis : Kharisma Shafrani, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 60 Kelompok 39 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) memperkenalkan dan mengajari permainan tradisional kepada santri di TPQ An-Nur, Kajen pada Sabtu (9/11/24).

Kegiatan yang dilakukan di TPQ An-Nur, Perumahan GPI, Kajen, ini merupakan salah satu program kerja dari tim KKN Tematik Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) yang dilakukan oleh Kelompok 39 Desa Banjarejo.  Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi permainan tradisional yang hampir terlupakan karena kemajuan zaman yang serba digital.

Dalam rangka melestarikan budaya dan tradisi sebagai bentuk syiar Islam, tim KKN 60 Desa Banjarejo mengadakan kegiatan pengenalan dan praktik permainan tradisional. Kegiatan ini tidak hanya mengenalkan kembali permainan tradisional seperti cublak-cublak suweng, engklek, ular naga panjang, lompat karet, dan kucing-kucingan yang sudah mulai dilupakan, tetapi juga menamamkan nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, dan sportivitas yang sejalan dengan ajaran Islam.

Baca juga : Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Antusiasme peserta sangatlah tinggi, di mana mereka aktif berpartisipasi dalam setiap permainan yang diajarkan dan diikuti sekitar 120 santri.

Acara ini menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa KKN dalam upaya peduli anak dan mengenalkan serta mengajak anak-anak usia dini bermain permainan tradisional di tengah banyaknya gempuran gadget. Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya mendapatkan permainan dan hiburan saja, namun juga belajar nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan kreativitas.

Mahasiswa KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Memberikan Edukasi Stop Bullying Di MII Pringlangu Takhassus

Pewarta : Maylinda Islakhulia, Editor : Achmad Mafatikhul Huda

Pekalongan, 7 November 2024 – Kasus perundungan masih marak ditemukan di Kota Pekalongan, terutama pada kalangan anak – anak sekolah. Tindakan perundungan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari segi individu maupun lingkungan sekitar.  Menyikapi situasi ini, mahasiswa KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berinisiatif memberikan edukasi tentang Stop Bullying.

Bullying yang terjadi di lingkungan sekolah disebabkan salah satunya karena kurang pengawasan dari pihak sekolah. Selain itu, keberadaan budaya kekerasan dalam masyarakat turut mempengaruhi perilaku dan pola pikir siswa, mendorong mereka untuk menganggap kekerasan fisik maupun verbal sebagai hal yang biasa. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan nilai – nilai anti bullying sejak dini, yang dapat dimulai di lingkungan sekolah dengan mengajarkan serta menerapkan sopan santun serta etika yang baik.

Kegiatan edukasi dan pendampingan untuk meningkatkan kesadaran anti bullying melibatkan kepada siswa – siswa sekolah dasar. Materi pendampingan kesadaran anti bullying disampaikan oleh Tri Langga Lana dan Balgis Ainia di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Pringlangu Takhassus dari kelas I – IV. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 7 November 2024 di aula MII Pringlangu Takhassus pada pukul 10:00 WIB.

Baca juga : KKN 59 Kelompok 17 UIN Gusdur Adakan Lomba Bertema Keagamaan Untuk Meningkatkan Religiusitas Anak-anak Desa Karangdawa

Dalam kegiatan ini, para siswa – siswi mendapat pemahaman tentang definisi bullying, berbagai bentuk jenis bullying, faktor-faktor penyebab bullying dan dampak buruknya bagi diri mereka serta korban bullying. Selain itu, diselingi dengan penayangan video tentang stop bullying agar siswa–siswi tersebut lebih paham melalui visualisasi.

Selain sesi penjelasan dan tayangan video, acara dilengkapi dengan kuis tentang pertanyaan yang melibatkan para siswa – siswi untuk mengetahui seberapa jauh siswa – siswi memahami penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya tentang stop bullying. Dari kuis tersebut siswa – siswi sangat antusias dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini dan tim KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memberikan hadiah untuk yang berani menjawab kuis paling cepat.

Kegiatan edukasi stop bullying ini adalah upaya mahasiswa untuk memberikan kontribusi positif kepada anak – anak sekolah terutama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif bagi anak – anak. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk menyebarluaskan kesadaran, saling menghargai dan menanamkan nilai anti bullying sejak dini. Kami ingin membantu meningkatkan kesadaran anak – anak tentang bahaya bullying dan bagaimana cara mengatasinya. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi anak – anak dan juga menjadi pengalam berharga bagi kami sebagai mahasiswa KKN.

Baca juga : Pentingnya Edukasi pada Remaja, Mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Adakan Sosialisasi Perkembangan Remaja di SMP N 04 Bumijawa

Mahasiswa KKN 60 Kelompok 5 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan 2024 berharap dengan diadakanya edukasi ini dapat membantu mencegah perilaku bullying di kalangan siswa – siswi di MII Pringglangu Takhassus, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung  proses belajar mengajar. Inisiatif ini juga diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berperan serta dalam memajukan dunia pendidikan.

Prof. Quraish Shihab Bersama Mahasiswa UIN Gusdur Diskusikan Toleransi, Pendidikan Akhlak, dan Moderasi Beragama

Pewarta : Eka Rizqiani, Editor : Amarul Hakim

Jakarta (4/11), Mahasiswa Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan yang dilaksanakan di Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ) Jakarta.

Mahasiswa melakukan kunjungan dan mengikuti acara diskusi keislaman di Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) bersama Prof. Quraish Shihab. Tema yang diangkat dari acara tersebut adalah “Diskusi keislaman: Toleransi, pendidikan Akhlak dan penguatan moderasi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan  di Masjid Jami’ Bayt Al Qur’an Pondok Cabe Tangerang selatan, Banten. Dalam diskusi tersebut beliau Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A ditemani oleh Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB.

Acara dimulai dengan pemaparan materi oleh Abi Quraish Shihab mengenai pembahasan toleransi, pendidikan akhlaq, dan penguatan moderasi. Kemudian dilanjutkan diskusi bersama berupa tanya jawab. Beliau memaparkan mengenai perbedaan toleransi, moderasi, dan pluralisme. “Toleransi adalah menghargai tanpa mengorbankan prinsip. moderasi adalah cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, adil, dan tidak ekstrem, sedangkan pluralisme adalah mengakui kebebasan tanpa mengorbankan prinsip namun tidak mencampuradukkan,” terang Abi Quraish.

Salah satu mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid, Sokhifah Hidayah bertanya mengenai sejauh mana batasan seorang muslim dengan non-muslim dalam berinteraksi dan bagaimana cara agar akidah kita sebagaiman seorang muslim tidak tercampur aduk dengan akidah saudara kita yang non-muslim dalam berinteraksi, serta apakah membenarkan ajaran-ajaran yang berasal dari agama non Islam juga termasuk perbuatan yang mencampur adukkan agama?.

Baca juga : Membangun Harmoni: Kegiatan Monitoring Pendidikan Agama dan Anak Usia Dini Bersama Pemerintah Desa Kutorojo dan KKN UIN GusDur Pekalongan

Ustadz Drs. H. Muhammad Taufiq AB menjawab, “Boleh saja berinteraksi dengan non-muslim tapi kita harus pegang prinsip, yang terpenting adalah kita harus berakhlaq yang baik dengan orang diluar Islam, jangan sampai untuk menyenangkan hati non-muslim kita justru melewati batasan-batasan agama kita,” jawab Ustadz Taufiq.

Abi Quraish Shihab juga menambahkan jawaban, “Berulang-ulang Al-Qur’an menyampaikan pesan untuk jangan mencaci, jangan menghina orang-orang yang tidak menyembah Allah karena itu bisa mengundang mereka mencaci Tuhan, Nabi bersabda salah satu dosa yang paling besar adalah memaki orang tua, maksudnya bukan anak yang memaki secara langsung kepada orang tua, tapi anak yang memaki orang tua orang lain sehingga orang itu memaki orang tua kita.  Selain itu, terdapat ajaran-ajaran kebenaran yang semua sepakat yakni kebenaran yang diakui secara universal terlepas apapun agamanya,” tambah Abi Quraish.

Sesi diskusi tersebut ditutup dengan penyampaian Abi Quraish mengenai contoh toleransi dalam banyaknya karya tafsir yang muncul. Menurut beliau tafsir yang harus kita terima adalah yang berusaha menggapai kehendak Allah atas apa yang telah difirmankannya dalam Al-Qur’an, dengan semua piranti bahasa Arab beserta kaidah tafsirnya. Ketika ada karya tafsir yang muncul dan ditulis dengan melewati semua hal tersebut, namun nyatanya satu sama lain masih ada perbedaan, maka perbedaan tersebut bisa kita toleransi. Sedangkan apabila ada seseorang yang berusaha menafsirkan tanpa kaidah tafsir dan ilmu bahasa dalam bahasa Arab, maka hal tersebut yang kita tolak.

Baca juga : Menghayati Kekayaan Mozaik Nusantara Melalui Program KKN Moderasi Beragama se-Indonesia

Pada kegiatan diskusi keislaman ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman bagi mahasiswa mengenai toleransi, pendidikan akhlak dan penguatan moderasi. Begitu banyak pesan-pesan yang bisa diambil dari diskusi tersebut, yang akan menjadikan kita lebih mengerti apa arti dan sejauh mana batas serta toleransi dan moderasi beragama. sehingga menjadikan hidup kita lebih rukun dengan sesama dan tidak mengklaim bahwa kita paling benar dan yang lainnya salah.

Kasubdit Bimbingan Jamaah Haji Kemenag RI Soroti Peran Penting Pembimbing Manasik di Sertifikasi Profesional UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Pewarta : Adib, Editor : Tegar Rifqi

Pekalongan, 27 Oktober 2024 – Dr. H. Khalilurrahman, M.A., QIA., CRMO., Kasubdit Bimbingan Jemaah Haji dan Dirjen PHU , memaparkan peran strategis pembimbing manasik haji dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Dalam pemaparannya, Dr. Khalilurrahman menegaskan pentingnya tugas dan fungsi pembimbing manasik haji, dengan fokus pada peningkatan kualitas bimbingan serta pengalaman spiritual calon jemaah haji. Acara ini diselenggarakan pada 22-28 Oktober 2024 di Hotel Parkside Mandarin, Kota Pekalongan.

Dr. Khalilurrahman menekankan bahwa pembimbing manasik haji harus memiliki pemahaman mendalam tentang tata cara ibadah haji serta sikap empati yang tinggi dalam membimbing calon jemaah. “Pembimbing haji bukan hanya sekadar pemberi arahan teknis, namun juga harus mampu menguatkan aspek spiritualitas calon jemaah,” tuturnya. Ia juga menyampaikan pentingnya bagi seorang pembimbing untuk senantiasa meningkatkan kompetensi, guna mengantisipasi beragam situasi yang mungkin terjadi di Tanah Suci.

Baca juga : Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara sertifikasi ini dimoderatori oleh Dr. H. Muhandis Azzuhri, M.A., yang memfasilitasi diskusi interaktif antara Dr. Khalilurrahman dan peserta sertifikasi. Peserta yang terdiri dari calon pembimbing manasik haji dan umroh terlihat antusias dalam mengajukan berbagai pertanyaan seputar teknik pembinaan dan pendekatan yang efektif dalam mendampingi jemaah.

Sertifikasi ini bertujuan untuk mencetak pembimbing manasik haji yang profesional, tidak hanya memiliki pemahaman syariat, tetapi juga kemampuan komunikasi dan pendampingan yang optimal. Melalui kegiatan ini, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme pembimbing haji, demi tercapainya pengalaman haji yang aman dan berkesan bagi seluruh jamaah.

Dirjen PHU Tekankan Profesionalisme dan Pemahaman Perbedaan Fikih dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan

Pewarta: Adib;  Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diselenggarakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan menjadi ajang penting bagi peningkatan kompetensi para calon pembimbing haji dan umroh. Acara ini diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh 86 peserta dari berbagai wilayah. Pada kesempatan ini, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama untuk menyampaikan materi mengenai peran profesionalisme serta pemahaman perbedaan fikih dalam membimbing jemaah haji.

Acara ini dimoderatori oleh Prof. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., yang juga dekan FUAD UIN K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sam’ani mengelola diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Dalam sesi penyampaiannya, Prof. Hilman Latief menekankan bahwa seorang pembimbing haji dan umroh memiliki peran krusial dalam memastikan kelancaran ibadah jemaah. Beliau menyampaikan pentingnya memahami berbagai aspek dalam ibadah haji, baik secara teknis maupun spiritual, agar dapat memberikan bimbingan yang menyeluruh. “Pembimbing harus mampu menuntun jemaah, tidak hanya dalam hal teknis ibadah, tetapi juga mendampingi mereka secara spiritual,” ujar Prof. Hilman.

Baca juga: Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Dirjen PHU-Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Pekalongan, 24/10 2024

Lebih lanjut, Prof. Hilman menjelaskan bahwa profesionalisme dalam membimbing jemaah bukan hanya sekadar pemahaman tentang tata cara ibadah, tetapi juga mencakup pengetahuan mendalam tentang kebijakan perhajian di Indonesia dan Arab Saudi. Di samping itu, beliau menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perbedaan fikih dalam praktik ibadah haji, yang sering kali dipengaruhi oleh beragam mazhab. Hal ini, menurutnya, sangat penting agar pembimbing dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada jemaah yang mungkin memiliki latar belakang fikih yang berbeda, sehingga mengurangi kebingungan dan meningkatkan kenyamanan dalam beribadah.

Selain membahas kebijakan dan teknis ibadah, Prof. Hilman juga menjelaskan pentingnya aspek pelayanan dan keamanan bagi jemaah. Menurutnya, pembimbing yang baik harus mampu mengantisipasi dan menangani berbagai permasalahan yang mungkin muncul di lapangan. Sertifikasi ini diharapkan dapat membekali para calon pembimbing dengan pemahaman menyeluruh tentang sistem pelayanan haji yang diterapkan oleh Kementerian Agama, serta kompetensi dalam menghadapi perbedaan fikih yang mungkin muncul di kalangan jemaah.

Baca juga: Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta antusias menggali lebih dalam terkait peran mereka sebagai pembimbing, khususnya dalam menghadapi berbagai perbedaan fikih dalam ibadah haji. Prof. Hilman Latief berharap bahwa sertifikasi ini akan membekali para peserta dengan keterampilan yang memadai, sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan kompeten dan memberikan dukungan terbaik bagi jemaah haji dan umroh.

Dr. K.H. Saiful Mujab Bahas Manajemen Perhajian Indonesia dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Pewarta : Adib ‘Aunillah Fasya, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan, 24/10/2024 – Dr. K.H. Saiful Mujab, M.A., Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Kementerian Agama Republik Indonesia, menjadi pembicara utama dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan. Acara yang diadakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan ini dihadiri oleh calon pembimbing haji dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan ini, Dr. Saiful Mujab menyampaikan tema “Manajemen Perhajian Indonesia,” yang bertujuan memperkuat pemahaman para pembimbing mengenai tata kelola haji di dalam negeri.

Dr. Saiful Mujab menjelaskan pentingnya koordinasi yang erat antara pemerintah, para pembimbing, dan lembaga terkait dalam manajemen perhajian. Menurutnya, pemahaman yang jelas akan peran masing-masing pihak dapat mendukung kelancaran seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari proses pendaftaran hingga kepulangan jemaah. “Setiap elemen harus memahami fungsinya untuk memberikan pelayanan optimal kepada jemaah,” ungkap Dr. Saiful.

Baca juga : Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Dalam paparannya, Dr. Saiful juga menyoroti inovasi pelayanan yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Agama demi meningkatkan kenyamanan jemaah. Inovasi ini mencakup digitalisasi untuk mempermudah proses administrasi serta peningkatan standar pelayanan kesehatan dan keamanan bagi jemaah selama di tanah suci. Dengan pemahaman terhadap manajemen perhajian yang baik, calon pembimbing haji diharapkan dapat mendukung kelancaran dan kenyamanan ibadah jemaah.

Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta sertifikasi aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan haji. Dr. Saiful berharap bahwa sertifikasi ini mampu mencetak pembimbing yang profesional, terlatih, dan siap menghadapi berbagai situasi di lapangan, sehingga jemaah dapat melaksanakan ibadahnya dengan aman dan nyaman.

Dr. Arsad Hidayat Sampaikan Kebijakan Pembinaan dan Perlindungan Jemaah Haji dalam Sertifikasi Pembimbing Manasik di Pekalongan

Pewarta : Adib ‘Aunillah Fasya, Editor : Amarul Hakim

Pekalongan, 24/10/2024 – Dr. H. Arsad Hidayat, Lc., M.A., Direktur Bina Haji, DJPHU Kementerian Agama Republik Indonesia, hadir sebagai pembicara utama dalam acara Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang diadakan di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan. Acara ini diselenggarakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dihadiri oleh para calon pembimbing haji dan umroh dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan ini, Dr. Arsad Hidayat menyampaikan materi bertema “Kebijakan Pembinaan, Pelayanan, dan Perlindungan Jamaah Haji”, yang sangat relevan bagi para pembimbing yang akan terjun langsung melayani jemaah.

Dalam pemaparannya, Dr. Arsad Hidayat menyoroti pentingnya aspek pembinaan, mulai dari persiapan manasik hingga pemahaman mendalam tentang rangkaian ibadah haji dan umroh. Menurutnya, seorang pembimbing tidak hanya harus memahami teknis pelaksanaan haji, tetapi juga harus bisa membimbing jemaah dalam memahami makna spiritual di balik setiap ritual. Ia menekankan bahwa tujuan utama adalah membekali jemaah dengan pemahaman yang mendalam agar dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan lancar.

Baca juga : Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Selain pembinaan, Dr. Arsad juga membahas pentingnya pelayanan dan perlindungan yang memadai bagi jemaah. “Tugas kita adalah memastikan setiap jemaah merasa nyaman, aman, dan terlindungi selama perjalanan ibadah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kebijakan baru telah diterapkan oleh Kementerian Agama untuk memperkuat sistem perlindungan bagi jemaah, termasuk dalam hal kesehatan dan keamanan. Hal ini, menurutnya, menjadi salah satu prioritas utama yang harus diperhatikan oleh para pembimbing di lapangan.

Baca juga : Inovasi dan Kesuksesan Penyelenggaraan Haji 2024 oleh Pemerintah Indonesia

Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab interaktif, dimana para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang mungkin dihadapi saat melayani jemaah haji dan umroh. Dr. Arsad berharap agar sertifikasi ini dapat mencetak pembimbing yang kompeten dan berdedikasi tinggi, sehingga kualitas pelayanan terhadap jemaah haji semakin meningkat.

Petani Muslim Indonesia Sukses di Negara Maju Jepang

Penulis: Taufiqur Rohman, Editor: Sirli Amry

Mito, Jepang (26/10) – Yuanas, atau yang akrab disapa Cak Anas (43), petani asal Lumajang, Jawa Timur, berhasil meraih kesuksesan di Jepang sebagai seorang petani Muslim yang dibesarkan di lingkungan NU. Berangkat dari keluhan petani-petani Jepang yang sudah berusia lanjut dan kesulitan mendapatkan penerus muda, Cak Anas melihat peluang besar untuk mengembangkan pertanian modern di negara maju tersebut. Pengalamannya saat bekerja di perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat pertanian juga turut membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi pertanian.

Kini, Cak Anas mengelola lahan seluas 30 hektar untuk menanam padi dan ubi jalar di Global Organic Farm yang didirikannya di Kota Mito, Ibaraki, Jepang.

Baca Juga : Inovasi dan Kesuksesan Penyelenggaraan Haji 2024 oleh Pemerintah Indonesia

Bersama istrinya, Ichisawa Chikako, seorang mualaf asli Jepang, Cak Anas mengintegrasikan teknologi modern dalam pertaniannya. Mereka menggunakan sains dan inovasi seperti robotika, vertical farming, energi terbarukan berupa panel surya, turbin angin, dan energi panas. Proses penyemaian hingga panen dipantau menggunakan IoT (Internet of Things), sementara hasil panennya dipasarkan ke pabrik-pabrik lokal.

Walau menghadapi tantangan, termasuk kurangnya dukungan dari mertua di awal usahanya, Cak Anas terus berjuang dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah. Baginya, kunci sukses terletak pada kerja keras dan inovasi yang terus menerus, yang membawanya menjadi contoh nyata bahwa petani Muslim Indonesia bisa bersaing dan sukses di negara maju seperti Jepang.

Baca Juga : Perayaan Hari Pangan Sedunia, Masyarakat Desa Mendolo Kenalkan Komoditi Pangan Lokal.

Cak Anas, yang hanya berpendidikan hingga Sekolah Dasar (SD), telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu bergantung pada latar belakang pendidikan formal. Meskipun beliau tidak memiliki gelar tinggi, dedikasi dan ketekunannya dalam mempelajari teknologi pertanian modern membuatnya berhasil menguasai berbagai teknik canggih yang umumnya dipelajari di perguruan tinggi. Ia pun menjadi inspirasi bagi banyak akademisi dan praktisi pertanian di Jepang dan Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya, Cak Anas terus belajar secara mandiri dengan memanfaatkan pengalamannya di lapangan dan kemampuannya mengadaptasi teknologi modern. Saat bekerja di perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat pertanian, ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk memahami teknologi, inovasi, dan sistem pertanian maju yang diterapkan di Jepang. Keuletannya dalam belajar membawanya menguasai berbagai teknik pertanian, mulai dari penggunaan IoT (Internet of Things) untuk pemantauan proses tanam hingga penerapan energi terbarukan seperti panel surya dan alat berat dalam tekhnologi pertanian.

Kini, di bawah kepemimpinannya, Global Organic Farm bukan hanya menjadi ladang produksi yang sukses tetapi juga menjadi pusat inspirasi. Akademisi dan mahasiswa dari berbagai universitas kerap berkunjung ke lahannya di Mito Jepang untuk mempelajari pendekatan pertanian yang efisien dan ramah lingkungan. Bahkan, banyak di antara mereka kagum akan bagaimana seorang lulusan SD dari Indonesia mampu mengelola pertanian dengan teknologi mutakhir yang biasanya menjadi ranah penelitian tingkat tinggi.

Baca juga : Mengenal Islam di Singapura: Potret Kehidupan Beragama dengan Pendekatan Harmoni

Keberhasilan Cak Anas ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus menghalangi seseorang untuk berkembang. Ketekunan, kreativitas, dan semangat untuk terus belajar menjadi pilar utama yang membawanya sukses di dunia pertanian modern. Dalam setiap kesempatan, ia selalu berpesan kepada generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar dan berinovasi, serta memanfaatkan teknologi demi kemajuan pertanian. Baginya, tidak ada batasan bagi siapa saja yang memiliki kemauan kuat untuk belajar dan berkembang.

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umroh Profesional UIN Pekalongan: Tingkatkan Kompetensi Pembimbing Dengan Memahami Filosofi Ibadah Haji

Pewarta: Mahruz. Editor: Syam

Pekalongan, 24 Oktober 2024 – Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sukses menyelenggarakan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh Profesional yang digelar di Hotel Parkside Mandarin Pekalongan dari tanggal 22 hingga 28 Oktober 2024. Acara ini diikuti oleh 86 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah hingga Ogan Hilir, Sumatera Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. K.H. Sam’ani Sya’roni, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, sebagai salah satu pembicara utama. Dalam paparannya, Prof. Sam’ani menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pembimbing haji dan umroh untuk menjamin kualitas bimbingan manasik. Beliau juga menjelaskan filosofi dan hikmah ibadah haji, termasuk nilai-nilai ketaatan, kesabaran, dan persatuan yang tercermin dalam berbagai ritual haji.

“Sertifikasi ini merupakan upaya untuk memastikan para pembimbing haji dan umroh dapat memberikan pelayanan yang optimal dan sesuai standar, mengingat semakin meningkatnya jumlah jemaah setiap tahunnya,” ujar Prof. Sam’ani dalam sambutannya.

Baca juga : K.H. Subhan Cholid Isi Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umroh di Pekalongan: Bahas Kebijakan Penyelenggaraan Haji Indonesia

Acara sertifikasi ini dimoderatori oleh Syamsul Bakhri, M.Sos., yang juga Sekretaris Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Syamsul mengelola jalannya diskusi dengan lancar dan interaktif, melibatkan peserta dalam berbagai sesi tanya jawab terkait tantangan dan solusi dalam pembimbingan haji.

Menurut penyelenggara, sertifikasi ini diadakan untuk memberikan pembekalan yang menyeluruh kepada para pembimbing, termasuk dalam hal teknis manasik, manajemen penyelenggaraan haji, serta bimbingan spiritual. Salah satu peserta, Anisa, mengungkapkan apresiasinya terhadap program ini. “Ini adalah pengalaman berharga. Selain teori, kami juga mendapat praktik langsung tentang cara mengelola rombongan haji secara efektif dan memahami filosofi dan hikmah haji, selama ini kita lebih banyak focus mempelajari fikihnya saja,” ujarnya.

Acara ini akan ditutup pada 28 Oktober 2024 dengan post test kepada para peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan. Bagi peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini diharapkan menjadi pengakuan atas kompetensi profesional para pembimbing haji dan umroh di seluruh Indonesia.

Baca juga : Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan Buka Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Profesional 2024

Dengan adanya sertifikasi ini, diharapkan para pembimbing dapat memberikan layanan yang lebih baik dan profesional kepada para jemaah haji dan umroh di masa mendatang.