Gus Dur Center UIN Pekalongan Ikuti Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian 2025 di Jakarta

Sebagai upaya membangun jejaring Gusdurian, Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berpartisipasi dalam acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari, yaitu tanggal 29-31 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Para Dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam jaringan Gusdurian UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan tersebut mulai dari konferensi pemikiran Gus Dur, Forum gerakan dan festival gerakan.

Ade Gunawan, sebagai salah satu dosen penggerak Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengatakan bahwa kegiatan TUNAS Gusdurian merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk membangun jejaring Gusdurian dan sebagai media untuk belajar dalam mengembangkan kualitas dan mutu dari Gusdurian yang ada di UIN Gus Dur.

Kegiatan TUNAS Gusdurian menjadi gerbang awal bagi Gus Dur Center UIN Gus Dur untuk bisa berdiri tegak dan maju sebagaimana Gusdurian yang lain. Apalagi kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari komunitas Gusdurian, akademisi, tokoh lintas agama dan kepercayaan, individu, dan juga masyarakat sipil.

Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa, selaku Direktur Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa TUNAS Gusdurian ini merupakan wadah bagi siapa saja yang mau meneladani Gus Dur dan Pemikirannya. Melalui forum ini, diharapkan semua kalangan mampu menjaga dan meneladani apa yang sudah digagas oleh Gus Dur.

Acara TUNAS Gusdurian dihadiri dan diisi oleh para tokoh penting negeri ini seperti Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Mahfud MD mengatakan bahwa “Gus Dur pernah bilang, kekuasaan itu bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Gus Dur tidak pernah mengorbankan rakyat demi mempertahankan jabatan”.

Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi tanpa hukum akan melahirkan anarki karena aturan kehilangan daya ikatnya. Sebaliknya, hukum tanpa demokrasi hanya akan memperkuat kesewenang-wenangan penguasa.

Dalam acara penutupan TUNAS Gusdurian, Alissa membacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia berharap supaya seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini dapat menjaga apa yang sudah diwariskan oleh Gus Dur dan melanjutkan pemikirannya.

 

Editor: Fajri Muarrikh

 

Gus Dur Center for Humanitarian Studies Persembahkan Buku Islam Garis Jenaka pada Acara Tunas Gusdurian 2025

Jakarta | Kehadiran buku Islam Garis Jenaka dalam gelaran Temu Nasional (TUNAS) Jaringan Gusdurian 2025 (31/08/2025) menjadi penanda penting bagi lahirnya kesadaran akademik untuk merawat dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Buku ini merupakan karya kolektif dosen-dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) yang sebelumnya mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang merupakan sekolah pemikiran pertama di Indonesia yang secara khusus diikuti para akademisi.

Kesadaran akademik tersebut lahir sebagai amanah: bahwa UIN Gus Dur sebagai kampus yang mengusung nama besar Gus Dur harus mampu menjaga, merawat, dan menghidupkan pemikiran serta perjuangannya di ranah pendidikan tinggi. Persembahan buku ini menjadi wujud konkret komitmen tersebut.

Proses lahirnya Islam Garis Jenaka tidaklah singkat. Ia berawal dari pendalaman intensif terhadap gagasan dan pemikiran Gus Dur yang didampingi langsung oleh tim dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian: Jay Akhmad, Aulia Abdurrahman Saleh (Leak), Sarjoko, serta Marzuki Wahid sebagai salah satu murid sekaligus senior intelektual Gus Dur. Setelah tahap pendalaman, proses penulisan buku ini didampingi oleh para mentor sekaligus penulis berpengalaman di media online nasional dan internasional, seperti Muhammad Pandu, Supriansyah, Autad Nasir, dan Suhairi.

Sampul buku "Islam Garis Jenaka"

Koordinator Sekolah Pemikiran Gus Dur, Dewi Anggraeni, menegaskan bahwa karya ini hadir bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kesungguhan dan semangat para dosen UIN Gus Dur. “Ada spirit besar dari para dosen untuk mengejawantahkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur di dunia kampus. Semangat itulah yang menjadikan karya ini bukan sekadar buku, tetapi juga bentuk nyata dedikasi akademisi dalam merawat warisan intelektual Gus Dur,” ungkapnya.

Buku ini kemudian mendapat pengantar dari Rektor UIN Gus Dur yang menegaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga dituliskan. “Tulisan-tulisan tentangnya menjadi jembatan untuk menghidupkan dan menginternalisasikan pemikiran serta perjuangannya. Dari goresan tinta lahir gagasan-gagasan yang menembus batas ruang dan waktu, kemudian membentuk kesadaran kolektif yang terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Nur Kholis, menambahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang melampaui zamannya. “Gus Dur adalah simbol kemerdekaan sekaligus keterhubungan. Lampauan yang dilakukan Gus Dur memerdekakan dirinya, sekaligus memberinya super connectivity yang mampu menjangkau lintas batas”, jelasnya.

Sebagai penutup, Maghfur menulis epilog yang menggarisbawahi peran humor dalam kepemimpinan Gus Dur. “Di tangan Gus Dur, humor menjadi instrumen kontrol politik, sarana menarik massa, sekaligus jalur diplomasi tingkat tinggi. Humor juga menjadi pintu masuk kajian Islam yang diharapkan dapat melahirkan pemikiran, pemahaman, dan tindakan keagamaan yang ramah, santai, menyegarkan, dan kerap tak terduga.”

Hadirnya buku Islam Garis Jenaka di Tunas Gusdurian 2025 adalah sumbangsih dosen-dosen UIN Gus Dur dalam menghidupkan nilai-nilai Gus Dur di dunia akademik yang menjadi inspirasi bahwa pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus dikaji, ditulis, dan diwariskan sebagai nafas dalam pengetahuan lintas generasi.

 

Penulis : Dewi Anggraeni

Editor: Fajri Muarrikh

GUSDURian Makassar dan PMII UIM Gelar Diskusi: Menyoal Ironi Keterlibatan Ormas dalam Konsesi Tambang

Penulis: Afrijal*

Editor: Fajri Muarrikh

MAKASSAR | Komunitas GUSDURian Makassar bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Makassar (UIM) Cabang Metro Makassar menggelar Roadshow Pojok GUSDURian Kampus pada Senin (28/07/2025). Diskusi kali ini mengangkat tema “Wahabi Lingkungan dan Konsesi Tambang: Ironi di Tubuh Ormas Keagamaan” yang bertujuan membedah keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dalam industri tambang, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

 

Kegiatan dibuka oleh Megawati, penggerak Komunitas GUSDURian Makassar. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa GUSDURian berfokus pada tiga isu utama: Demokrasi, Ekologi, dan Pendidikan Berkualitas. “Ekologi menjadi salah satu isu yang paling sering kami suarakan. Persoalan mendasar saat ini adalah kerusakan lingkungan, dan Pojok GUSDURian ini menjadi salah satu cara kami untuk terus menyuarakan keprihatinan itu,” jelasnya.

 

Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan mendalam mengenai sejarah dan kondisi pertambangan di Indonesia, keterlibatan organisasi keagamaan dalam konsesi sumber daya alam, serta kajian etis dan teologis dari perspektif Islam terhadap eksploitasi lingkungan.

 

Salah satu narasumber, Danial, menyatakan bahwa “Tambang pada hakikatnya pasti mengarah pada ketimpangan struktural.” Ia menekankan bahwa kegiatan ekstraktif bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial.

 

Sementara itu, Fahri Fajar dari Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam regional Makassar, menyoroti bahwa strategi kapitalisme menghancurkan ruang hidup masyarakat agar mereka terpaksa menjadi buruh tambang. “Tambang bukan hanya merusak alam, tetapi juga melumpuhkan komunitas lokal yang bergantung pada keberlanjutan ekologis,” tegasnya.

 

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang kampus dan organisasi. Mereka diharapkan mampu membangun kesadaran kritis dan refleksi kolektif sebagai bentuk advokasi moral berbasis agama terhadap isu eksploitasi lingkungan.

 

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Salah satu peserta, Apri mengungkapkan antusiasmenya, “Saya sangat senang bisa mendapatkan wawasan baru tentang isu lingkungan. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut agar mahasiswa terus mengawal isu-isu hangat di tengah masyarakat dan memberi perspektif baru.”

Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Pewarta: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan — Dalam rangka menyambut Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025, Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar Forum 17-an dengan mengangkat tema “Pekalongan Darurat Lingkungan: Agama sebagai Solusi atau Masalah?”

Forum yang digelar di Kedai Kopi Bumi Suja, Kota Pekalongan, pada Rabu (09/07/2025) ini diisi oleh Aulia Abdurrahman Soleh selaku Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian; Pdt. Dwi Argo Mursito, Pemimpin Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kota Pekalongan; dan Shinta Nurani, M.A., selaku dosen akademisi UIN Gus Dur Pekalongan. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas, lembaga, dan masyarakat sipil di Pekalongan.

Acara yang diikuti sekitar 40-an peserta ini bertujuan untuk menjawab isu lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Pekalongan.

Sebagai salah satu narasumber, Argo mengatakan bahwa dalam agama Kristen dijelaskan, menjaga lingkungan adalah wujud dari tanggung jawab sebagai pengelola ciptaan Tuhan dan ekspresi iman yang aktif.

“Alkitab, khususnya Kitab Kejadian, menekankan pentingnya memelihara dan mengurus bumi, bukan hanya menguasainya. Umat Kristen dipanggil untuk menjaga kelestarian alam sebagai bentuk penghargaan terhadap Tuhan dan sesama manusia, serta untuk memastikan keberlangsungan hidup bagi generasi mendatang,” ujar Argo.

Baca juga: Mengawal Kemerdekaan dengan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman Indonesia

Sepakat dengan Argo, akademisi UIN Gus Dur Pekalongan, Shinta Nurani, juga menyampaikan perihal darurat lingkungan yang terjadi di Pekalongan. Hampir setiap hari, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Pekalongan mendapat kiriman sampah sebanyak 220 ton per hari. Pengelolaan sampah yang tidak maksimal, rob, dan limbah pabrik sampai detik ini belum teratasi.

“Melihat latar belakang tersebut, penanganan masalah lingkungan perlu dilakukan oleh semua pihak. Dalam hal ini, peran agama menjadi penting. Agama jangan hanya mengedepankan doktrin ritualistik, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai ekologis,” jelas Shinta.

Aulia Abdurrahman Soleh, Seknas GUSDURian, menjelaskan tentang sembilan nilai utama Gus Dur. Memang, sembilan nilai utama Gus Dur tidak secara spesifik membahas pentingnya merawat lingkungan.

Baca juga: Menjaga Bumi, Menebar Senyum: Refleksi Akhlak Santri dalam Merawat Lingkungan

“Tetapi nilai-nilai tersebut, seperti kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan kearifan lokal, dapat diimplementasikan untuk mendukung pelestarian lingkungan,” ujar Aulia.

Menurut Ade Gunawan, salah satu peserta Forum 17-an ini, persoalan lingkungan, khususnya sampah, bisa disebut sampah ketika tercampur dan tidak dikelola dengan baik. Jika dipilah dan dikelola, maka disebut komoditas.

“Sampah, dalam sudut pandang ekonomi parsial, bisa kita manfaatkan. Karena di beberapa tempat yang kami berdayakan, masih banyak orang hidup dengan mencari sampah. Bahkan sampai impor (mengambil) dari desa lain, karena desanya sudah bersih dari sampah,” jelasnya.

Talkshow semakin hangat dengan dimoderatori oleh Dina Nur Amilah dan adanya sesi diskusi. Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” tiga stanza, pembacaan puisi oleh Fajri Muarrikh, dan ditutup dengan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” secara bersama-sama.

Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Penulis: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan – Dalam rangka persiapan menuju acara ‘Bali Interfaith Movement’ yang akan diselenggarakan pada 13-15 Desember di Bali, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggandeng Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar PreEvent Bali Interfaith Movement dengan konsep focus group discussion (FGD) yang mengusung tema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan.’

Acara Pre-Event Bali Interfaith Movement (Pre-BIM) diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2024, yang bertempat di meeting room Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Gusdur Pekalongan. Kegiatan  ini diikuti sebanyak 30 peserta yang dihadiri oleh dosen atau akademisi, aktivis peduli lingkungan, berbagai tokoh agama, dan pihak pemerintahan, khususnya Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Pekalongan, serta komunitas Gusdurian.

Dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Maghfur, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN KH. Abdurrahman Wahid, Pdt. Dwi Argo Mursito, Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan, dan KH. Marzuki Wahid dari Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, kegiatan ini di isi dengan diskusi yang membahas mengenai bagaimana peran masyarakat, khusunya pemeluk agama dalam menanggapi isu dehumanisasi dan krisis lingkungan.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Gusdur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustakim menekankan kepada peserta agar mengeluarkan segala pemikirannya terkait kemanusiaan dan lingkungan.

“Kita diminta untuk membahasa kelanjutan Istiqlal Declaration, Saya berharap kita bisa memberikan kontribusi dan pemikiran terkait lingkungan,” ungkap Prof. Zaenal.

Selain itu, Prof. Zaenal juga menyampaikan bahwa kerusakan alam sudah terjadi semenjak 1998. Merusak alam sebenarnya tidak boleh, namun pada tahun tersebut mulai terjadi penebangan hutan yang masif.

“Saat ini semakin hari jumlah hutan semakin berkurang,” tambahnya.

Beliau mengajak para peserta FGD untuk mengkampanyekan pentingnya menanam pohon, bukan malah merusaknya.

“Saya melihat, di negara eropa, di negara-negara maju seperti Jepang sangat peduli lingkungan, tumbuhan, taman benar-benar disayang.” Oleh karena itu, beliau akan menerapkan gerakan satu mahasiswa, satu pohon di lingkungan kampus UIN Gusdur. “Kedepan saya ingin setiap mahasiswa menanam pohon dan ada data nama, prodi, fakultas dan untuk merawatnya samapai mereka lulus. Ini akan menjadi cara merawat bumi kita di lingkunagn UIN Gus Dur pekalongan,” imbuh Prof. Zaenal.

Prof. Zaenal juga berharap, dari pertemuan diskusi ini, bisa melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang baik terkait isu kemanusiaan dan lingkungan yang nantinya akan dibawa di BIM pada 13, 14, dan 15 Desember 2024 di Bali.