Perkuat Pemikiran Gus Dur, Para Dosen UIN Pekalongan Turut Serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025

Penulis: Aris Priyanto

Editor: Fajri Muarrikh

Pasca terselenggaranya Sekolah Pemikiran Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, pada tanggal 8-9 Juli 2025. Para dosen kemudian mengikuti acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari yaitu mulai 29-31 Agustus 2025 yang bertempat di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.500-2.000 peserta dari berbagai daerah dan bebagai kalangan mulai dari komunitas GUSDURian, individu, lembaga, jejaring tokoh agama, masyarakat sipil dan para akademisi.

Acara TUNAS GUS DURian tahun ini mengusung tema “Meneladani Gus Dur, Merawat Indonesia”. Kegiatan tersebut terdiri dari 3 agenda besar yaitu Konferensi Pemikiran Gus Dur, Forum Gerakan dan Festival Gerakan. Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG) dibuka langsung oleh Alissa Wahid selaku Direktur Jaringan GUS DURian. Sebelum membuka acara, Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa memulai dulu dengan orasi ilmiah untuk menambah semangat dan antusias peserta. KPG merupakan ruang untuk mendiskusikan dan memperdalam warisan intelektual Gus Dur dalam konteks pemikiran tentang keindonesiaan, keagamaan, sosial dan politik yang dikontekskan pada persoalan demokrasi dan ekologi yang saat ini masih menjadi isu nasional.

 

Konferensi Pemikiran Gus Dur (KPG)

Dewi Anggraeni atau biasa dipanggil Mbak Dewi, selaku koordinator dosen UIN K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan dalam mengikuti kegiatan TUNAS GUSDURian mengatakan bahwa konferensi ini dihadiri oleh Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Sebagai salah satu narasumber dari materi Demokrasi dan Supremasi Masyarakat Sipil. Mahfud MD menjelaskan bahwa persoalan besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia bukan hanya soal kualitas demokrasi, melainkan juga rapuhnya kedaulatan hukum. Ia menegaskan, demokrasi tidak boleh berjalan sendiri tanpa hukum, begitu juga sebaliknya. Bahkan menurutnya “Negara yang sehat itu memadukan demokrasi dan nomokrasi. Itulah yang dulu diperjuangkan Gus Dur”, Jelas Mahfud MD.

Forum Gerakan

Menurut Dewi, forum ini menjadi forum yang sangat luar biasa karena yang dibahas termasuk isu-isu nasional yang sedang terjadi di negeri ini yaitu Demokrasi Hukum dan HAM, Toleransi dan Perdamaian, Keadilan Teologi. Toleransi dan perdamaian mengkaji terkait regulasi diskriminatif berbasis agama dan keyakinan, penolakan beribadah dan tempat ibadah dengan kekerasan, ujaran kebencian, dan lembaga pendidikan yang mengajarkan paham monopoli kebenaran dan mengingkari pluralisme.

Festival Gerakan

Festival gerakan memiliki tujuan untuk mempromosikan dan merefleksikan gerakan yang telah dilakukan oleh para GUSDURian yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Indonesia yang tergabung dalam jaringan GUSDURian. Festival ini berupa community space (ruang bazar dan pameran gerakan), learning space (ruang untuk berbagi berbagai pengetahuan, skill para penggerak GUSDURian, lembaga dan jejaring GUSDURian, yang diperuntukkan untuk peserta TUNAS GUSDURian dan khalayak umum.

Penutupan dan Gusdurian Awards

Dalam acara penutupan dibacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Alissa mengatakan bahwa adanya para dosen yang merupakan akademisi mau mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur tentunya mereka mau menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus yang nantinya akan mereka sampaikan kepada para mahasiswa. Alissa juga berharap perguruan tinggi lain juga mau mengikuti jejak UIN Gus Dur dalam menjaga pemikiran Gus Dur di lingkungan kampus.

Gus Dur Center UIN Pekalongan Ikuti Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian 2025 di Jakarta

Sebagai upaya membangun jejaring Gusdurian, Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berpartisipasi dalam acara Temu Nasional (TUNAS) GUSDURian selama 3 hari, yaitu tanggal 29-31 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Para Dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam jaringan Gusdurian UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan tersebut mulai dari konferensi pemikiran Gus Dur, Forum gerakan dan festival gerakan.

Ade Gunawan, sebagai salah satu dosen penggerak Gus Dur Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengatakan bahwa kegiatan TUNAS Gusdurian merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk membangun jejaring Gusdurian dan sebagai media untuk belajar dalam mengembangkan kualitas dan mutu dari Gusdurian yang ada di UIN Gus Dur.

Kegiatan TUNAS Gusdurian menjadi gerbang awal bagi Gus Dur Center UIN Gus Dur untuk bisa berdiri tegak dan maju sebagaimana Gusdurian yang lain. Apalagi kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari komunitas Gusdurian, akademisi, tokoh lintas agama dan kepercayaan, individu, dan juga masyarakat sipil.

Alissa Qotrunnada Munawarah atau biasa dipanggil Mbak Alissa, selaku Direktur Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa TUNAS Gusdurian ini merupakan wadah bagi siapa saja yang mau meneladani Gus Dur dan Pemikirannya. Melalui forum ini, diharapkan semua kalangan mampu menjaga dan meneladani apa yang sudah digagas oleh Gus Dur.

Acara TUNAS Gusdurian dihadiri dan diisi oleh para tokoh penting negeri ini seperti Prof. Mahfud MD, Pakar Hukum dan Tata Negara. Mahfud MD mengatakan bahwa “Gus Dur pernah bilang, kekuasaan itu bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Gus Dur tidak pernah mengorbankan rakyat demi mempertahankan jabatan”.

Ia juga menjelaskan bahwa demokrasi tanpa hukum akan melahirkan anarki karena aturan kehilangan daya ikatnya. Sebaliknya, hukum tanpa demokrasi hanya akan memperkuat kesewenang-wenangan penguasa.

Dalam acara penutupan TUNAS Gusdurian, Alissa membacakan hasil rekomendasi dan Gusdurian Awards serta penyerahan sertifikat bagi para dosen yang mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang dilaksanakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia berharap supaya seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini dapat menjaga apa yang sudah diwariskan oleh Gus Dur dan melanjutkan pemikirannya.

 

Editor: Fajri Muarrikh

 

Gus Dur Center for Humanitarian Studies Persembahkan Buku Islam Garis Jenaka pada Acara Tunas Gusdurian 2025

Jakarta | Kehadiran buku Islam Garis Jenaka dalam gelaran Temu Nasional (TUNAS) Jaringan Gusdurian 2025 (31/08/2025) menjadi penanda penting bagi lahirnya kesadaran akademik untuk merawat dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Buku ini merupakan karya kolektif dosen-dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) yang sebelumnya mengikuti Sekolah Pemikiran Gus Dur yang merupakan sekolah pemikiran pertama di Indonesia yang secara khusus diikuti para akademisi.

Kesadaran akademik tersebut lahir sebagai amanah: bahwa UIN Gus Dur sebagai kampus yang mengusung nama besar Gus Dur harus mampu menjaga, merawat, dan menghidupkan pemikiran serta perjuangannya di ranah pendidikan tinggi. Persembahan buku ini menjadi wujud konkret komitmen tersebut.

Proses lahirnya Islam Garis Jenaka tidaklah singkat. Ia berawal dari pendalaman intensif terhadap gagasan dan pemikiran Gus Dur yang didampingi langsung oleh tim dari Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian: Jay Akhmad, Aulia Abdurrahman Saleh (Leak), Sarjoko, serta Marzuki Wahid sebagai salah satu murid sekaligus senior intelektual Gus Dur. Setelah tahap pendalaman, proses penulisan buku ini didampingi oleh para mentor sekaligus penulis berpengalaman di media online nasional dan internasional, seperti Muhammad Pandu, Supriansyah, Autad Nasir, dan Suhairi.

Sampul buku "Islam Garis Jenaka"

Koordinator Sekolah Pemikiran Gus Dur, Dewi Anggraeni, menegaskan bahwa karya ini hadir bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kesungguhan dan semangat para dosen UIN Gus Dur. “Ada spirit besar dari para dosen untuk mengejawantahkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur di dunia kampus. Semangat itulah yang menjadikan karya ini bukan sekadar buku, tetapi juga bentuk nyata dedikasi akademisi dalam merawat warisan intelektual Gus Dur,” ungkapnya.

Buku ini kemudian mendapat pengantar dari Rektor UIN Gus Dur yang menegaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya diperbincangkan, tetapi juga dituliskan. “Tulisan-tulisan tentangnya menjadi jembatan untuk menghidupkan dan menginternalisasikan pemikiran serta perjuangannya. Dari goresan tinta lahir gagasan-gagasan yang menembus batas ruang dan waktu, kemudian membentuk kesadaran kolektif yang terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Nur Kholis, menambahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang melampaui zamannya. “Gus Dur adalah simbol kemerdekaan sekaligus keterhubungan. Lampauan yang dilakukan Gus Dur memerdekakan dirinya, sekaligus memberinya super connectivity yang mampu menjangkau lintas batas”, jelasnya.

Sebagai penutup, Maghfur menulis epilog yang menggarisbawahi peran humor dalam kepemimpinan Gus Dur. “Di tangan Gus Dur, humor menjadi instrumen kontrol politik, sarana menarik massa, sekaligus jalur diplomasi tingkat tinggi. Humor juga menjadi pintu masuk kajian Islam yang diharapkan dapat melahirkan pemikiran, pemahaman, dan tindakan keagamaan yang ramah, santai, menyegarkan, dan kerap tak terduga.”

Hadirnya buku Islam Garis Jenaka di Tunas Gusdurian 2025 adalah sumbangsih dosen-dosen UIN Gus Dur dalam menghidupkan nilai-nilai Gus Dur di dunia akademik yang menjadi inspirasi bahwa pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus dikaji, ditulis, dan diwariskan sebagai nafas dalam pengetahuan lintas generasi.

 

Penulis : Dewi Anggraeni

Editor: Fajri Muarrikh

Bersama GUSDURian Pekalongan, UIN Gusdur Gelar Focus Group Discussion Bertema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’

Penulis: Fajri Muarrikh, Editor: Azzam Nabil H.

Pekalongan – Dalam rangka persiapan menuju acara ‘Bali Interfaith Movement’ yang akan diselenggarakan pada 13-15 Desember di Bali, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggandeng Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar PreEvent Bali Interfaith Movement dengan konsep focus group discussion (FGD) yang mengusung tema ‘Harmoni untuk Kemanusiaan dan Lingkungan.’

Acara Pre-Event Bali Interfaith Movement (Pre-BIM) diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2024, yang bertempat di meeting room Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Gusdur Pekalongan. Kegiatan  ini diikuti sebanyak 30 peserta yang dihadiri oleh dosen atau akademisi, aktivis peduli lingkungan, berbagai tokoh agama, dan pihak pemerintahan, khususnya Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Pekalongan, serta komunitas Gusdurian.

Dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Maghfur, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN KH. Abdurrahman Wahid, Pdt. Dwi Argo Mursito, Ketua Badan Kerja Sama Gereja Kristen (BKSGK) Pekalongan, dan KH. Marzuki Wahid dari Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, kegiatan ini di isi dengan diskusi yang membahas mengenai bagaimana peran masyarakat, khusunya pemeluk agama dalam menanggapi isu dehumanisasi dan krisis lingkungan.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Gusdur Pekalongan, Prof. Zaenal Mustakim menekankan kepada peserta agar mengeluarkan segala pemikirannya terkait kemanusiaan dan lingkungan.

“Kita diminta untuk membahasa kelanjutan Istiqlal Declaration, Saya berharap kita bisa memberikan kontribusi dan pemikiran terkait lingkungan,” ungkap Prof. Zaenal.

Selain itu, Prof. Zaenal juga menyampaikan bahwa kerusakan alam sudah terjadi semenjak 1998. Merusak alam sebenarnya tidak boleh, namun pada tahun tersebut mulai terjadi penebangan hutan yang masif.

“Saat ini semakin hari jumlah hutan semakin berkurang,” tambahnya.

Beliau mengajak para peserta FGD untuk mengkampanyekan pentingnya menanam pohon, bukan malah merusaknya.

“Saya melihat, di negara eropa, di negara-negara maju seperti Jepang sangat peduli lingkungan, tumbuhan, taman benar-benar disayang.” Oleh karena itu, beliau akan menerapkan gerakan satu mahasiswa, satu pohon di lingkungan kampus UIN Gusdur. “Kedepan saya ingin setiap mahasiswa menanam pohon dan ada data nama, prodi, fakultas dan untuk merawatnya samapai mereka lulus. Ini akan menjadi cara merawat bumi kita di lingkunagn UIN Gus Dur pekalongan,” imbuh Prof. Zaenal.

Prof. Zaenal juga berharap, dari pertemuan diskusi ini, bisa melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang baik terkait isu kemanusiaan dan lingkungan yang nantinya akan dibawa di BIM pada 13, 14, dan 15 Desember 2024 di Bali.